• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konsep ketahanan pangan (food security) muncul pada tahun 1970 dengan fokus utama yaitu ketersediaan pangan di tingkat global maupun nasional (Muche

& Endalew, 2014). Sejak konferensi pangan dunia tahun 1974, istilah ketahanan pangan terus mengalami perkembangan dan diversifikasi oleh beberapa peneliti (Bedeke, 2012). Penelitian terdahulu mengenai ketahanan pangan sudah dilakukan Jonathan et al. (2020) di Nigeria; Abdullah et al. (2019) di Pakistan; Manlosa et al. (2019) di Ethiopia; Twongyirwe et al. (2019) di Uganda; Niragira, S., Ndimubandi, J., & Orshoven, J. Van. (2018) di Burundi; Widada et al. (2017) dan Yuniarti & Purwaningsih (2017) di Indonesia; Ali et al. (2016) di Bangladesh;

Sultana & Kiani (2011) di Pakistan. Studi terdahulu mengenai ketahanan pangan dikaji dari beberapa aspek yang multidimensi seperti ekonomi, sosial, alam, fisik, keuangan dan budaya. Pembahasan mengenai ketahanan pangan rumah tangga menjadi fokus utama dunia untuk mengatasi masalah kelaparan secara global.

Rumah tangga rawan pangan cenderung akan mengalami kelaparan karena akses pangan yang didapatkan sangat rendah sehingga mempengaruhi ketersediaan pangan (Damayanti, 2018).

Laporan FAO (2019) menunjukkan bahwa kerawanan pangan rumah tangga secara global terus mengalami peningkatan selama kurun waktu 2015-2018.

Gambar 1.1 menunjukkan persentase rumah tangga rawan pangan di Dunia, dimana rumah tangga rawan pangan di dunia tahun 2015 sebanyak 22,35%, kemudian mengalami peningkatan di tahun 2016 menjadi 23,24%, tahun 2017 mengalami peningkatan menjadi 24,83% dan di tahun 2018 meningkat menjadi 25,81%. Hal tersebut perlu menjadi perhatian penting semua negara untuk mengatasi kerawanan pangan salah satunya adalah Indonesia.

(2)

Gambar 1.1

Persentase Rumah Tangga Rawan Pangan di Dunia Sumber: FAO (2019)

Di Indonesia kondisi kerawanan pangan dapat dilihat berdasarkan laporan Badan Ketahanan Pangan (2020) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2019 sebanyak 76 kabupaten/kota mengalami kerawanan pangan yang dihitung dengan metode cut off point. Cut off point merupakan metode yang digunakan Badan Ketahanan Pangan untuk menentukan range sebaran data empiris dari masing- masing kabupaten yang terbagi menjadi enam prioritas. Skor cut off point yang semakin rendah mengindikasikan bahwa kabupaten/kota tersebut mengalami kerawanan pangan. Kabupaten/kota yang rawan pangan disebabkan karena perbandingan (rasio) antara konsumsi per kapita terhadap produksi bersih per kapita yang terus mengalami peningkatan. Selain itu peningkatan penduduk miskin dan balita stunting juga menyebabkan kabupaten/kota di Indonesia mengalami kerawanan pangan. Ketahanan pangan terwujud jika seseorang memiliki akses fisik, akses ekonomi dan akses mobilisasi yang tercukupi untuk kebutuhan makanan (Badan Ketahanan Pangan, 2020).

Rumah tangga disabilitas menghadapi kerawanan pangan yang jauh lebih besar daripada rumah tangga non disabilitas (Heflin et al., 2019; Sonik et al., 2016;

Coleman-Jensen & Nord, 2013). Keterbatasan mobilitas, keterbatasan penglihatan, keterbatasan berpikir, keterbatasan mendengar, keterbatasan melihat, keterbatasan fungsional, dan keterbatasan mengelola keuangan menjadikan rumah

22,35

23,24

24,83

25,81

2015 2016 2017 2018

(%)

(3)

tangga disabilitas mengalami kerawanan pangan (Heflin et al., 2019). Selain itu, diskriminasi, stigma dan guncangan (shock) di berbagai aspek seperti ekonomi, lingkungan dan sosial juga menjadi penyebab rumah tangga penyandang disabilitas menjadi rawan pangan (Coleman-Jensen & Nord, 2013). Kondisi penyandang disabilitas di Indonesia terus mengalami perkembangan setiap tahunnya. Gambar 1.2 menyajikan data proporsi orang yang diidentifikasi penyandang disabilitas di Indonesia dari berbagai survei.

Gambar 1.2

Proporsi Penyandang Disabilitas di Indonesia Sumber: Cameron & Suarez (2017)

Lebih lanjut mengenai kriteria pengidentifikasian penyandang disabilitas memiliki perbedaan antara survei Susenas, IFLS dan Sakernas. Survei Susenas mengidentifikasi disabilitas dengan cara menanyakan orang-orang yang hanya buta, tuli, bisu, dan cacat fisik, sedangkan survei kehidupan keluarga indonesia (IFLS) dan Sakernas mengidentifikasi disabilitas dengan cara yang lebih kompleks yaitu tidak hanya buta, tuli, bisu dan cacat, tetapi juga mempertimbangkan penyandang disabilitas yang menggunakan alat bantu.

Gambar 1.2 menjelaskan bahwa hasil survei Susenas pada tahun 2000 dan 2003 diperoleh hasil bahwa 0,70% populasi penduduk Indonesia merupakan penyandang disabilitas dan mengalami peningkatan di tahun 2006 sebesar 4,14%.

Data Sensus menunjukkan bahwa pada tahun 2010 sebanyak 4,30% penduduk di Indonesia mengalami disabilitas. Proporsi penyandang disabilitas mengalami

0,70 0,70

4,14 4,30

2,50

10,00

12,15

0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00

2000 Susenas

2003 Susenas

2006 Susenas

2010 Sensus

2012 Susenas

2014 IFLS

2016 Sakernas

%

(4)

penurunan di tahun 2012 menjadi 2,50%. Survei IFLS tahun 2014 memiliki proporsi disabilitas sebesar 10% dan Sakernas tahun 2016 sebesar 12,15%

(Cameron & Suarez., 2017).

Penyandang disabilitas di Indonesia menghadapi beberapa tantangan yang sangat besar. Keterbatasan akses mobilisasi, stigma dan diskriminasi menjadikan rumah tangga disabilitas menjadi rentan terhadap kelaparan dan kekurangan gizi sehingga mengakibatkan rumah tangga tersebut menjadi rawan pangan. Gambar 1.3 menyajikan presentasi kerawanan pangan rumah tangga dengan disabilitas dan non disabilitas di Indonesia. Data World Food Programme (2020) menunjukkan bahwa rumah tangga dengan disabilitas akan cenderung rentan terhadap kerawanan pangan jika dibandingkan rumah tangga non disabilitas.

Gambar 1.3

Kerawanan Pangan Rumah Tangga Disabilitas dan Non Disabilitas Sumber: World Food Programme (2020)

Kerawanan pangan rumah tangga disabilitas Indonesia menunjukkan proporsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan non disabilitas. Gambar 1.3 menunjukkan bahwa kerawanan pangan sebesar 86% terjadi pada rumah tangga disabilitas, sedangkan kerawanan pangan rumah tangga non disabilitas hanya sebesar 14%. Kerawanan pangan yang tinggi pada rumah tangga disabilitas menurut Yeo & Moore (2003) disebabkan diskriminasi kelembagaan, diskriminasi lingkungan dan diskriminasi sosial. Diskriminasi kelembagaan mengakibatkan penyandang disabilitas memiliki partisipasi yang rendah di pendidikan dan pasar

86%

14%

Disabilitas Tanpa Disabilitas

(5)

kerja. Laporan ILO (2017) menunjukkan pendidikan penyandang disabilitas jauh lebih rendah dibanding dengan non disabilitas. Gambar 1.4 menyajikan persentase perbandingan pendidikan penyandang disabilitas dan non disabilitas di Indonesia tahun 2017. Penyandang disabilitas memiliki tingkat pendidikan yang rendah jika dibanding dengan non disabilitas.

Gambar 1.4

Pendidikan Penyandang Disabilitas dan Non Disabilitas Sumber: ILO (2017)

Gambar 1.4 menjelaskan bahwa persentase pendidikan disabilitas didominasi oleh penyandang disabilitas yang berpendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 72,12%. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang ditempuh penyandang disabilitas hanya sebatas sekolah dasar dan tidak lulus sekolah dasar. Partisipasi pendidikan SMP, SMA dan perguruan tinggi penyandang disabilitas cenderung lebih rendah jika dibanding dengan non penyandang disabilitas. Pendidikan tingkat SMP penyandang disabilitas sebesar 10,64% yaitu lebih rendah jika dibanding dengan non disabilitas sebesar 23,39%. Kondisi yang sama terjadi pada tingkat SMA yang menunjukkan bahwa 12,41% penyandang disabilitas berada pada tingkat pendidikan SMA dan non disabilitas sebesar 28,29%. Pendidikan tingkat perguruan tinggi juga mengalami kondisi yang sama, presentasi pendidikan di perguruan tinggi penyandang disabilitas juga lebih lebih rendah yaitu hanya 4,83%, sedangkan non disabilitas sebesar 9,61%. Pendidikan mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga. Martin et al. (2004) menjelaskan

72,12

10,64 12,41

4,83 38,71

23,39 28,29

9,61

SD ke bawah SMP SMA Perguruan Tinggi

Disabilitas (%) Non Disabilitas (%)

(6)

bahwa pendidikan akan mempengaruhi rumah tangga untuk melakukan manajemen pembelian pangan serta pengolahan pangan yang efektif sehingga rumah tangga menjadi tahan pangan. Faktor lain penentu ketahanan pangan rumah tangga adalah partisipasi kerja. Partisipasi kerja mempengaruhi seseorang untuk memenuhi kebutuhan pangan dari hasil pendapatan yang diperoleh selama mereka bekerja (Ali et al., 2016; Coleman-Jensen & Nord, 2013; Huang et al., 2010;

Purwaningsih et al., 2015; Niragira, S., Ndimubandi, J., & Orshoven, J. Van., 2018; Twongyirwe et al., 2019; Akinoade et al., 2016; Purwaningsih et al., 2010;

Martin et al., 2004; Iram & Butt, 2004; Ramakrishna et al., 2014). Pendapatan berpengaruh untuk meningkatkan kemampuan rumah tangga untuk membeli pangan sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan (Coleman-Jensen &

Nord, 2013; Huang et al., 2010; Purwaningsih et al., 2015; Niragira, S., Ndimubandi, J., & Orshoven, J. Van. 2018; Twongyirwe et al., 2019; Akinoade et al., 2016). Gambar 1.5 menunjukkan partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia. Penyandang disabilitas di Indonesia memiliki tingkat partisipasi kerja yang rendah jika dibandingkan dengan tingkat partisipasi kerja non disabilitas.

Gambar 1.5

Partisipasi Kerja Penyandang Disabilitas dan Non Disabilitas Sumber: ILO (2017)

Gambar 1.5 menunjukkan bahwa partisipasi kerja penyandang disabilitas menurut data ILO (2017) sebesar 36% sedangkan partisipasi kerja non disabilitas

36%

64%

Disabilitas Non Disabilitas

(7)

sebesar 64%. Hal tersebut menunjukkan bahwa partisipasi kerja penyandang disabilitas lebih rendah jika dibanding dengan partisipasi kerja non penyandang disabilitas. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Brown & Emery (2008) yang menjelaskan bahwa partisipasi angkatan kerja akan menurun sebesar 30 persen akibat disabilitas sehingga rumah tangga disabilitas memiliki pendapatan yang rendah. Gambar 1.6 menjelaskan persentase sebaran pendapatan penyandang disabilitas dan non disabilitas di Indonesia tahun 2017.

Gambar 1.6

Sebaran Pendapatan Penyandang Disabilitas dan Non Disabilitas Sumber: ILO (2017)

Gambar 1.6 menunjukkan bahwa pendapatan penyandang disabilitas dan non disabilitas memiliki perbedaan. Data sebaran pendapatan penyandang disabilitas dan non disabilitas menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki sebaran pendapatan yang cenderung lebih rendah dibanding dengan non disabilitas.

Pendapatan yang rendah menyebabkan rumah tangga menjadi rawan pangan dikarenakan kebutuhan untuk pangan tidak tercukupi. Dengan demikian pemaparan mengenai tingkat partisipasi pendidikan, partisipasi kerja dan pendapatan penyandang disabilitas yang rendah menunjukkan bahwa diskriminasi terjadi terhadap penyandang disabilitas, hal tersebut ditandai dengan keterbatasan mobilitas serta akses penyandang disabilitas serta rendahnya permintaan kerja yang mengakomodir pekerja disabilitas. Selain itu stigma negatif terhadap

3.569.556 2.342.836

34.693.060

37.388.926

<1.500.000 >=1.500.000

Disabilitas Non disabilitas

(8)

penyandang disabilitas bahwa tidak dapat bekerja secara produktif juga menyebabkan rendahnya partisipasi pekerja disabilitas yang rendah. Wanita penyandang disabilitas bahkan lebih kecil kemungkinannya dipekerjakan daripada laki-laki penyandang disabilitas dan orang non disabilitas. Pendidikan, partisipasi kerja dan pendapatan penyandang disabilitas yang berpengaruh negatif mengakibatkan penyandang disabilitas berada dalam kondisi rawan pangan.

Selain itu, rumah tangga penyandang disabilitas sebagian besar mengalami masalah kemiskinan karena diperburuk oleh biaya yang terkait dengan disabilitas.

Rumah tangga dengan tingkat pendapatan yang sama belum tentu memiliki standar hidup yang sama dari biaya penyandang disabilitas termasuk transportasi, bantuan pribadi dan alat bantu.

Penelitian mengenai ketahanan pangan seringkali dikorelasikan dengan Sustainable livelihood di beberapa negara berkembang seperti Uganda, Malaysia dan Ethiopia untuk mengatasi masalah pangan (Ibrahim et al., 2018; Jessup- varnum, 2018; Manlosa et al., 2019). Jessup-varnum (2018) menjelaskan bahwa ketahanan pangan di Negara Uganda menjadi aspek penting dalam perspektif household livelihood. Rumah tangga yang menghadapi masalah ekonomi, lingkungan, sosial dan fisik maka kebutuhan makan rumah tangga tersebut mengalami kerawanan pangan. Sustainable livelihood (SL) merupakan perspektif pemikiran yang didasarkan pada cara rumah tangga untuk mengatur serta mengatasi masalah pangan (Singh & Hiremath, 2010). Perspektif Sustainable livelihood muncul pada pertengahan tahun 1980 oleh Robert Chamber yang kemudian dikembangkan pada tahun 1997 oleh British Department for International Development. Inti dari perspektif Sustainable livelihood yaitu menghubungkan aspek kerentanan untuk mengentaskan kemiskinan rumah tangga yang berfokus pada beberapa aspek meliputi human capital, financial capital, physical capital, natural capital dan social capital. Aspek-aspek tersebut memperoleh arti serta nilai dari kelembagaan, organisasi dan lingkungan sosial yang menjadi bagian dari transformasi struktur dan proses untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan (Kollmair & St. Gamper, 2002).

(9)

Studi terdahulu yang mengkaji ketahanan pangan rumah tangga dengan perspektif Sustainable livelihood menunjukkan bahwa tidak semua aspek dalam perspektif Sustainable livelihood mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga.

Aspek human capital menjadi variabel yang banyak berpengaruh terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Pendidikan ibu mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga (Yuniarti & Purwaningsih, 2017; Martin et al., 2004; Iram

& Butt, 2004). Peran ganda (dual roles) ibu sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir akan mempengaruhi rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Pendidikan ibu yang tinggi akan mempengaruhi manajemen pengaturan pangan rumah tangga. Selain ibu, peran kepala rumah tangga juga mempengaruhi ketahanan pangan. Pendidikan kepala rumah tangga mempengaruhi ketahanan pangan melalui akses pekerjaan yang dimiliki akibat tingkat pendidikan yang semakin tinggi (Akinoade et al., 2016; Purwaningsih et al., 2010; Ali et al., 2016;

Purwaningsih et al., 2015; Parker et al., 2010; Abdullah et al., 2019; Niragira, S., Ndimubandi, J., & Orshoven, J. Van., 2018; Ramakrishna et al., 2014; Jonathan et al, 2020).

Selain itu, jenis disabilitas berpengaruh terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Disabilitas yang mengganggu akses mobilitas mempengaruhi ketahanan pangan yang paling besar (Heflin et al., 2018). Variabel lain seperti natural capital, social capital juga berpengaruh terhadap ketahanan pangan rumah tangga.

Archambault et al. (2008) mendefinisikan natural capital sebagai ketersediaan ekosistem alami yang memberikan aliran pada ekosistem barang dan jasa.

Variabel natural capital dapat mempengaruhi ketahanan pangan dikarenakan natural capital secara langsung mempengaruhi produktivitas pertanian di suatu wilayah, selain itu natural capital juga dapat membatasi kemampuan penduduk untuk memperoleh pendapatan sehingga mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga (Archambault et al., 2008). Lebih lanjut mengenai variabel social capital, Lartey (2015) menjelaskan bahwa social capital merupakan manfaat yang diperoleh masyarakat dari interaksi antara kedua jaringan dan grup yang berbeda.

Variabel Social capital yang berisi tentang partisipasi rumah tangga di suatu lingkungan masyarakat mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga. Social capital dianggap dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan suatu rumah

(10)

tangga dikarenakan sinergi yang tercipta dari hubungan timbal balik antar anggota masyarakat mampu menciptakan rantai pasokan makanan (Nosratabadi et al., 2020). Selain perspektif Sustainable livelihood, karakteristik rumah tangga juga berpengaruh terhadap ketahanan pangan seperti umur, tempat tinggal dan anggota rumah tangga (Twongyirwe et al., 2019; Coleman-Jensen & Nord, 2013).

Berdasarkan penjelasan di atas maka penelitian ini menganalisis mengenai

―Determinan ketahanan pangan rumah tangga melalui Perspektif Sustainable livelihood‖ dengan mengambil Indonesia sebagai daerah penelitian.

B. Perumusan Masalah

Berdasar pada hasil penelitian yang menunjukkan faktor penentu ketahanan pangan rumah tangga (Endale, Fiseha & Tolossa, Degefa, 2017; Huang et al., 2010), serta pengaruh jenis disabilitas terhadap ketahanan pangan rumah tangga (Heflin et al., 2018), maka penelitian ini mengestimasi dan menganalisis ketahanan pangan rumah tangga dengan perspektif Sustainable livelihood.

Perspektif Sustainable livelihood memberikan suatu kerangka untuk mengatasi masalah ketahanan pangan dalam konteks pembangunan maupun kemanusian (Yuniarti & Purwaningsih, 2017). Hal ini dikarenakan rumah tangga disabilitas di Indonesia mayoritas hidup dalam kemiskinan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018).

Ketahanan pangan dapat ditingkatkan dengan transformasi struktur dan proses (Kollmair & St. Gamper, 2002). Transformasi struktur dan proses dilakukan dengan menukarkan aset rumah tangga meliputi human capital, financial capital, physical capital, natural capital dan social capital untuk memperoleh tambahan nilai dan arti melalui organisasi, lembaga dan lingkungan sosial. Transformasi tersebut mempengaruhi strategi penghidupan seseorang untuk memperoleh manfaat bagi diri mereka sendiri berupa livelihood outcome. Outcome tersebut berupa peningkatan kesejahteraan, pendapatan yang lebih besar, perbaikan ketahanan pangan serta penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan (Kollmair & St. Gamper, 2002). Untuk mengetahui pengaruh rumah tangga terhadap ketahanan pangan, maka perlu ditambahkan pembahasan terkait

(11)

karakteristik rumah tangga yang meliputi umur, jenis kelamin, dan status pernikahan. Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Apakah terdapat perbedaan ketahanan pangan rumah tangga disabilitas dan rumah tangga tanpa disabilitas?

b. Apakah terdapat pengaruh aset rumah tangga yang meliputi human capital, financial capital, physical capital, natural capital, social capital dan karakteristik rumah tangga yang meliputi umur, tempat tinggal dan jumlah anggota keluarga terhadap ketahanan pangan rumah tangga?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui perbedaan ketahanan pangan rumah tangga disabilitas dan rumah tangga tanpa disabilitas.

b. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh aset rumah tangga yang meliputi human capital, financial capital, physical capital, natural capital, social capital dan karakteristik rumah tangga yang meliputi umur, tempat tinggal dan jumlah anggota keluarga terhadap ketahanan pangan rumah tangga.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai pertimbangan dalam menyusun kebijakan terkait ketahanan pangan rumah tangga berdasarkan hasil empiris penelitian. Bagi pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi dan referensi untuk melakukan penelitian lanjutan sesuai paradigma yang berkembang.

Referensi

Dokumen terkait

Inti dari perda tersebut adalah suatu keadilan di segala bidang mengingat kaum penyandang disabilitas merupakan warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang

Beberapa indikator seperti Ketimpangan pendapatan/gini ratio, tingkat pengangguran terbuka, tingkat Pendidikan yang rendah dan, alokasi belanja modal selalu menjadi masalah

Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pendapatan bulanan, tinggal di rumah sendiri, hidup dengan anggota keluarga,

Derajat partisipasi perempuan dalam perencanaan dan penganggaran daerah adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkat partisipasi perempuan dari

SKRIPSI RESPON INFLASI PANGAN… VERONICHA RAHMAHWATI penting dijaga dikarenakan negara dengan tingkat pendapatan perkapita yang tergolong rendah ketika terjadi

Bagaimana rancangan prototipe untuk online marketplace penyandang disabilitas berdasarkan hasil analisis proses bisnis yang sesuai dengan kebutuhan.. 1.3

didalamnya terdapat pusat rehabilitasi para penyandang disabilitas untuk membantu mental dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam bersosialisasi, terdapat

Penelitian sebelumnya memang pernah ada yang membahas tentang Adversity Quotient terhadap penyandang tuna daksa tetapi lebih menitik beratkan pada Diskriminasi