• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pada zaman modern ini muncul berbagai perkembangan teknologi yang telah mengubah cara masyarakat dalam mengakses dan menggunakan berbagai informasi untuk berhubungan sosial (Cabral, 2011). Keberadaan media sosial pun sudah menjadi hal yang tak terlepas dari kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat. Perkembangan teknologi dan zaman yang ada turut mendukung semakin majunya fitur-fitur unggulan media sosial. Dewing (2012) menyebutkan bahwa media sosial mengarah pada berbagai layanan berbasis internet di mana penggunanya dapat ikut serta dalam pertukaran informasi secara online, pembuatan konten, dan bergabung dalam komunitas online. Salah satu layanan media sosial yakni situs berbagi media (media-sharing sites) yang memberikan kebebasan bagi penggunanya untuk berbagi video maupun gambar. Instagram merupakan salah satu media sosial jenis situs berbagi media yang sudah tidak asing bagi para pengguna media sosial.

Instagram (Instagram.com, 2015) pertama kali diluncurkan oleh Kevin Systrom (Chief Excecutive Officer dan co-founder) dan Mike Kriefer (co-founder) pada tahun 2010. Media sosial ini mampu menarik perhatian pengguna media sosial dengan fitur-fitur unggulannya. Systrom membuat strategi perusahaan Instagram untuk fokus pada desain produk yang sederhana, kreatif, dan dapat memberikan inspirasi bagi orang lain. Berkat pemikiran Systrom tersebut Instagram telah menjadi media sosial yang membuat orang-orang bercerita tentang kisah hidupnya melalui gambar. Tercatat lebih dari tiga ratus juta pengguna Instagram yang berasal dari berbagai kalangan mengabadikan dan

(2)

membagikan momen kehidupannya melalui gambar setiap harinya (Instagram.com, 2014).

Instagram memiliki beberapa manfaat bagi kehidupan penggunanya. Instagram sebagai salah satu media sosial yang menarik, dapat memberikan tempat untuk berteman dan melepaskan tekanan bagi penggunanya (Wang, Chen, & Liang, 2011). Instagram juga memudahkan dalam melakukan interaksi dan komunikasi online pada penggunanya, khususnya mahasiswa (Oloo, 2013). Wally & Koshy (2014) mengungkapkan manfaat lain dari Instagram, yakni berguna dan efektif bagi bisnis para pengusaha. Strategi marketing dengan media sosial Instagram dapat digunakan pengusaha untuk mengenalkan produk dan menarik pelanggan. Pengusaha merasakan keuntungan dari penggunaan Instagram yang mudah dan tidak mahal, serta dapat meningkatkan pengenalan produknya. Selain itu, Instagram dapat pula berguna bagi program pengurangan berat badan (Kosek, 2015). Hasil menunjukkan bahwa orang yang mengikuti akun olahraga di Instagram lebih banyak melakukan olahraga dan bermanfaat bagi kesehatan mereka.

Jessica Winter (dalam www.slate.com, 2013) menulis artikel mengenai Instagram di balik keberhasilan dan manfaat media sosial ini di kalangan penggunanya. Winter (2013) menganggap media sosial Instagram lebih membuat depresi penggunanya dibandingkan media sosial populer pendahulunya, Facebook. Hal ini dikarenakan Instagram mengadopsi tiga aspek Facebook yang menimbulkan perasaan iri penggunanya. Ketiga aspek tersebut yakni melihat ratusan foto orang lain bahkan yang tidak dikenal, like-ing foto, mengharapkan like dan penerimaan dari teman, serta memperlihatkan kepada orang-orang tentang betapa luar biasa kehidupannya melalui foto. Selain itu sebuah foto dapat menjadi provokator yang kuat pada perbandingan sosial dan meningkatkan perasaan inferior yang timbul akibat rasa iri.

(3)

Pernyataan Winter sesuai dengan pernyataan Jordan & Chalder (2013) bahwa adanya Social Network Sites di mana Instagram termasuk di dalamnya memberikan kemudahan dan ketersediaan informasi untuk melakukan perbandingan sosial. Hal tersebut membuat individu dapat membandingkan dirinya dengan orang lainnya secara tidak terbatas. Banyaknya konten informasi di Social Network Sites yang dibagikan oleh orang-orang dijadikan bahan perbandingan sosial. Perbandingan sosial tersebut yang berpotensi memunculkan rasa iri bagi orang lainnya.

Van de ven, Zeelenberg, & Pieters (2011) mengartikan iri sebagai emosi frustasi yang muncul dari adanya perbandingan sosial. Van de ven, Zeelenberg, & Pieters (2009) membagi iri menjadi dua tipe, yakni yang membahayakan (malicious) dan yang tidak membahayakan (benign). Iri yang membahayakan membuat orang yang mengalaminya merasakan ketidakadilan bagi dirinya. Ketidakadilan yang dirasakan menghasilkan motivasi negatif dan keinginan untuk menghilangkan atau merusak superioritas yang dimiliki orang lain. Sementara iri yang tidak membahayakan menghasilkan rasa frustasi yang mampu menghasilkan motivasi positif dan bertujuan untuk meningkatkan derajat diri orang yang mengalaminya untuk menjadi lebih baik.

Winter (2013) menyatakan rasa iri akibat media sosial dapat meningkatkan self-promotion dari individu yang mengalaminya. Self-self-promotion adalah salah satu strategi pengelolaan kesan (impression management) di mana individu berusaha menampilkan kepada orang lain bahwa dirinya seolah-olah memiliki atribut-atribut positif (Baron & Brascombe, 2012). Winter (2013) menambahkan bahwa self-promotion individu akan menjadi penyulut adanya self-promotion dari individu yang lainnya. Hasil dari fenomena tersebut adalah keadaan dunia media sosial menjadi semakin jauh dari yang ada di kehidupan nyata. Oleh karena itu terjadilah kesenjangan antara kehidupan individu di

(4)

media sosial dengan yang ada di dunia nyata akibat dari strategi pengelolaan kesan yang dilakukannya.

Goffman (dalam Newman & O’brien 2013) menyatakan bahwa pengelolaan kesan merupakan proses untuk mengontrol dan memanipulasi informasi mengenai diri yang akan disampaikan pada orang lain. Teknik pengelolaan kesan dilakukan untuk meningkatkan citra diri individu di pandangan orang lain. Proses pengelolaan kesan menghasilkan hubungan antara bagaimana individu memandang dirinya sendiri dengan bagaimana individu ingin dipandang oleh orang lain. Sementara Sinha (2009) juga mengungkapkan bahwa pengelolaan kesan merupakan upaya yang secara aktif dilakukan untuk meningkatkan kualitas dirinya di mata orang lain. Giddens (2005) memiliki pandangan yang serupa di mana setiap orang sangat sensitif terhadap bagaimana dirinya dilihat orang lain dan seringkali menggunakan berbagai bentuk pengelolaan kesan untuk membuat orang lain bereaksi sesuai dengan harapannya. Pada saat individu termotivasi untuk membuat kesan dirinya seperti yang diinginkan oleh orang lain, ternyata kecemasannya meningkat. Selain itu individu yang mengalami kecemasan sosial lebih memperhatikan pengelolaan kesan dirinya untuk dapat diterima di lingkungan sosial. Seringkali individu tersebut mengadopsi strategi pengelolaan kesan yang bertujuan untuk melindungi dirinya dari kegagalan dalam berhubungan sosial (Leary & Kowalski, dalam Heimberg, Liebowitz, Hope, & Scheier, 1995).

Toma (dalam Winter, 2013) turut mengungkapkan bahwa Instagram membuat orang lupa waktu dan mengalami distorsi pandangan. Hal ini terjadi karena orang menghabiskan banyak waktu ketika menggunakan Instagram. Orang dapat menghabiskan banyak waktunya untuk mengagumi, memperindah gambar dirinya, dan memilih satu gambar terbaik dari sekian banyak gambar yang ada. Hal tersebut menunjukkan adanya usaha individu untuk melakukan pengelolaan kesan demi

(5)

menampilkan presentasi diri yang terbaik di Instagram. Ketika melihat gambar teman lainnya, muncul perasaan bahwa foto tersebut menampilkan kehidupan yang lebih indah dibanding hidupnya. Hal ini yang memicu depresi karena adanya distorsi pandangan. Lup, Trub, & Rosental (2015) juga menyatakan bahwa penggunaan Instagram berasosiasi positif dengan simtom depresi dan membuat penggunanya melakukan perbandingan sosial yang sifatnya negatif.

Lazebna (2015) mengungkapkan bahwa saat ini perlu disadari adanya keadaan individu yang terlalu peduli dan khawatir dalam menggambarkan kehidupannya di Instagram. Individu seringkali membuat ilusi maupun memalsukan kehidupannya yang sempurna untuk mendapatkan timbal balik yang positif serta terlihat lebih baik di pandangan setiap orang. Individu tersebut mencoba menampilkan sisi terbaik dari dirinya untuk meningkatkan harga diri, kepuasan hidup, kesadaran diri, serta mengurangi kecemasan dalam berkomunikasi di Instagram. Mendapati fakta yang sama di lapangan, Shauna Niequist dalam artikelnya Instagram’s Envy Effect (www.relevantmagazine.com, 4 April 2013) mengungkapkan bahwa kehidupan orang lain memang terlihat lebih baik di media sosial, Instagram salah satunya. Hal ini tidak lain karena adanya filter dan keinginan untuk menampilkan kehidupan yang terbaik melalui foto-foto yang diunggah sebagai usaha untuk mengelola kesan dirinya. Pengelolaan kesan yang berlebihan akhirnya menampilkan kepalsuan di Instagram dan menipu orang-orang yang melihatnya. Hal tersebut akhirnya menjadi masalah di kehidupan yang dapat menimpa para pengguna Instagram.

Pengguna Instagram dapat berasal dari berbagai usia dan kalangan. Melihat secara lebih spesifik, berdasarkan survei Perrin (2015) Pew Research Center mengenai penggunaan media sosial dari tahun 2005-2015 menunjukkan bahwa usia berkorelasi dengan penggunaan media sosial. Kebanyakan (90%) pengguna media sosial adalah

(6)

kalangan dewasa muda yang berada di usia 19-29 tahun. Duggan (2015) juga dalam surveinya di Pew Research Center mengenai Mobile Messaging and Social Media di dunia melansir bahwa 28% orang dewasa pengguna internet di seluruh dunia menggunakan media sosial Instagram. Hasil survei tersebut menunjukkan banyaknya pengguna media sosial berada pada rentang usia dewasa awal dan menggunakan Instagram. Arnett (2007) mengemukakan bahwa dewasa awal merupakan periode dari masa akhir remaja hingga pertengahan usia dua puluh yakni terjadi pada usia 18 hingga 25 tahun. Rentang usia dewasa awal tersebut banyak ditemukan pada mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Atrill (2015) mengungkapkan bahwa pengelolaan kesan di media sosial dapat terjadi karena adanya peran intensi penggunaan media sosial tersebut oleh penggunanya. Individu akan mengelola kesan dirinya sesuai dengan norma-norma sosial yang ada di media sosial tersebut. Sementara itu terkait peran intensi penggunaan Instagram, Fishbein & Ajzen (1975) mengartikan intensi sebagai kecenderungan subjektif individu untuk melakukan perilaku. Intensi tersebut akan tetap menjadi kecenderungan perilaku hingga adanya usaha untuk menjadikannya sebagai perilaku. Shafie, Nayan, & Osman (2012) melakukan penelitian terhadap perilaku pengelolaan kesan mahasiswa di media sosial pendahulu Instagram, yakni Facebook. Hasil menunjukkan bahwa pengguna perempuan lebih mengelola kesan mereka dibandingkan dengan pengguna laki-laki. Perbedaan perilaku di media sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut dapat pula terjadi di Instagram sehingga perlu untuk diteliti.

Fenomena pengelolaan kesan di Instagram yang membuat semakin jauhnya presentasi diri di dunia maya dengan di dunia nyata dapat terjadi pada berbagai kalangan. Sementara intensi penggunaan Instagram di berbagai kalangan tersebut juga dapat dilihat. Mahasiswa di Universitas Gadjah Mada merupakan bagian dari kalangan pengguna aktif

(7)

media sosial Instagram. Fenomena pengelolaan kesan di Instagram pada mahasiswa Universitas Gadjah Mada dapat terjadi dengan adanya intensi penggunaan Instagram. Peran intensi penggunaan Instagram terhadap pengelolaan kesan di Instagram antara mahasiswa laki-laki dan perempuan pun dapat berbeda. Oleh karena itu, peneliti tertarik dengan topik tersebut dan ingin melakukan penelitian “Peran Intensi Penggunaan Instagram terhadap Pengelolaan Kesan di Instagram pada Mahasiswa dengan Jenis Kelamin sebagai Moderator”.

B. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui peran intensi penggunaan Instagram terhadap pengelolaan kesan di Instagram pada mahasiswa.

2. Untuk mengetahui apakah peran intensi penggunaan Instagram terhadap pengelolaan kesan di Instagram tersebut berbeda pada mahasiswa laki-laki dan perempuan.

C. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara akademis, penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu Psikologi. Penelitian ini dapat dijadikan bahan bacaan dan referensi bagi penelitian serupa selanjutnya di masa yang akan datang.

2. Secara teroritis, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengetahuan di bidang Psikologi Sosial yang berkaitan dengan topik penelitian. Hal tersebut mengingat penggunaan berbagai media yang semakin berkembang, oleh karena itu penelitian-penelitian terkait penggunaan media tersebut penting untuk diketahui.

(8)

3. Secara praktis, penelitian ini dapat digunakan oleh organisasi maupun kalangan yang berhubungan dengan media sosial Instagram untuk bahan pertimbangan bagi kebijakan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang secara khusus membahas fenomena narsisme di kalangan siswi SMK Ma’arif Tunjungan Blora dan solusi penanganannya dengan bimbingan dan konseling

"Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa untuk

Dari perjalanan sejarah Jawa Barat khususnya Bandung Utara pada kurun waktu 1945-1948 ini tak lepas dari adanya peranan berbagai kalangan baik dari kalangan militer

Kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat

Berdasarkan fenomena-fenomena di atas, peneliti berasumsi bahwa kemungkinan ada berbagai macam penggunaan kalimat yang lain yang tidak sesuai dengan ciri-ciri kalimat efektif

Melihat fenomena pentingnya pengelolaan corporate image yang dilakukan salah satunya melalui kegiatan Corporate Social Responsibility yang terjadi tersebut, mendorong

Simplisia biji jinten hitam bisa didapat dari berbagai belahan dunia termasuk dari India dan Indonesia, tetapi yang paling populer digunakan adalah jinten hitam yang berasal

Yang dijelaskan dengan di dukung dari berbagai sumber dan kondisi nyata maka merasa untuk melakukan penelitian terhadap permasalahan tersebut mengenai kontribusi