1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata. Pariwisata Indonesia merupakan salah satu sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi negara semenjak Presiden Joko Widodo menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan pembangunan nasional. Adanya peningkatan minat masyarakat terhadap kegiatan wisata juga menjadi salah satu faktor pendorong dalam perkembangan industri pariwisata. Berwisata perlahan-lahan sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi hanya keinginan semata (Susanti, 2017).
Sejak tahun 2016, Kementerian Pariwisata mencatat ada sekitar 46 penghargaan bergengsi telah diterima oleh Indonesia dalam sektor pariwisata.
Penghargaan-penghargaan tersebut antara lain People's Choice Award UNWTO, Destination of The Year di TTG Travel Awards 2017, Best Destination, Dive's Magazine Travel Award, 30th ASEANTA Awards, dan masih banyak lagi (Adiakurnia, 2017).
Indonesia memiliki banyak pilihan destinasi dalam berwisata, seperti Jakarta, Yogjakarta, Bali, dan masih banyak lagi. Dalam Travellers' Choice Awards 2017, Bali dinobatkan sebagai destinasi terbaik di dunia. Bali memang mempunyai banyak sekali daya tarik bagi wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Selain alamnya, Bali juga memiliki budaya dan kuliner yang patut dibanggakan (Nursastri, 2017).
Pada awal masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, pemerintah sepakat untuk berfokus pada percepatan pertumbuhan destinasi wisata “10 Bali baru”.
Pemerintah memutuskan ada 10 destinasi wisata yang akan dikembangkan agar dapat menarik minat wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, dan menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia. Dari 10 destinasi, pemerintah fokus mengembangkan 4 destinasi terlebih dahulu. Keempat destinasi tersebut yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo (Prodjo,2017). Kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika telah dibangun selama 29 tahun dan dipersiapkan sebagai kawasan pariwisata unggulan di Pulau Lombok, Nusa
Tenggara Barat. KEK Mandalika memiliki lahan seluas 1.034 hektar yang digarap oleh PT Indonesia Tourism Development Corporate (ITDC), BUMN yang sukses membangun kawasan pariwisata Nusa Dua di Bali (Agmasari,2017). Peluang menarik wisatawan untuk datang ke Lombok semakin terbuka dikarenakan ada peran dari pemerintah daerah, pemerintah kabupaten, kementrian pariwisata Indonesia.
Masyarakat semakin aktif berpartisipasi dalam melakukan pembenahan dan perawatan fasilitas terhadap tempat wisata agar nyaman dan aman dikunjungi oleh wisatawan. Komunitas peduli pariwisata banyak dibentuk di beberapa tempat wisata di pulau Lombok untuk mengeksplorasi tempat wisata, melakukan perbaikan dan perawatan fasilitas tempat wisata. Usaha yang dilakukan meliputi bersatunya komunitas-komunitas yang berada di Lombok dan Sumbawa menjadi komunitas Genpi (Generasi Pesona Indonesia) untuk pemberdayaan akun media sosial, pelaksanaan even, mengedukasi masyarakat, dan promosi wisata kepada siswa agar sadar dengan pariwisata. Masyarakat juga sering mengadakan acara budaya dan acara yang berkaitan tentang pariwisata di Lombok. Dengan adanya kesadaran masyarakat, maka peluang untuk mendatangkan wisatawan ke Lombok akan semakin meningkat (Tour, 2018).
Menurut data dari Kemenparekraf (2017) jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan dari tahun 2013-2017. Di mulai dari tahun 2013 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara hanya sebesar 8.802.129 orang dan kenaikan yang terjadi pada tahun 2014 sebesar 633.282 orang yang berarti kedatangan wisatawan mancanegara tahun 2014 hanya sebesar 9.435.411 orang. Pada tahun 2015 kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 10.433.355 orang. Untuk 3 tahun awal, penulis melihat peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara cukup signifikan. Puncak kenaikan terjadi pada tahun 2016 dan 2017 jumlah turis yang berkunjung sebesar 12.023.971 orang dan 14.039.799 orang, penulis melihat lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara yang tinggi dengan jumlah kenaikan sekitar 1,5 juta jiwa hingga 2 juta jiwa.
Gambar 1.1 (Badan Pusat Statistik, 2016) merupakan kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun nusantara ke wilayah Nusa Tenggara Barat.
Dapat dilihat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dari tahun 2011-2016 masih di bawah wisatawan nusantara. Akan tetapi kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara mengalami peningkatan tiap tahunnya (BPS, 2016). Hasil ini didukung dengan penelitian tentang persepsi wisatawan terhadap komponen pariwisata di pantai Kuta Lombok yang dilakukan oleh Angjelina dan Goenawan (2013). Peneliti menyatakan responden yang berkunjung ke pantai Kuta Lombok puas dengan fasilitas wisata seperti hotel bintang 4 dan 5 serta restoran masakan khas Indonesia. Namun, peneliti juga memaparkan bahwa responden merasa kurang puas dengan fasilitas olahraga air dan kebersihan toilet umum. Hal ini menunjukkan bahwa Lombok merupakan destinasi wisata yang berpotensi.
Gambar 1.1 Kunjungan Wisatawan ke Nusa Tenggara Barat Sumber: Badan Pusat Statistik (2016)
Harapan hidup manusia sekarang semakin panjang, khususnya untuk masyarakat yang berada di negara-negara maju. Menurut Foret dan Keller (1992, dalam Patterson, 2006), harapan hidup di Inggris meningkat 23,5 tahun untuk perempuan dan 22 tahun untuk laki-laki bagi individu yang lahir antara tahun 1910 sampai dengan 1992 (dalam Patterson, 2006). Harapan hidup juga meningkat di beberapa negara maju lainnya, di Swedia harapan hidupnya menjadi 78,1 tahun, di Amerika Utara harapan hidupnya menjadi 76,2 tahun, di Jepang harapan hidupnya menjadi 79,5 tahun, dan di negara-negara Eropa harapan
2011 2012 2013 2014 2015 2016 wisatawan
mancanegara 364196 471706 565944 752306 10612921404328 wisatawan
nusantara 522684 691436 791658 876816 11492351690109 0
500000 1000000 1500000 2000000
jumlah kunjungan (Jiwa)
Kunjungan Propinsi Nusa Tenggara
Barat
hidupnya menjadi 76,7 tahun (Smith dan Jenner, 1997). Menurut Kohane,1998;
Smart and Petholoulis (2001) dalam Patterson wisatawan lanjut usia memiliki keuangan yang baik dan pendapatannya di atas rerata, bahkan keuangannya dapat digunakan untuk berwisata secara langsung.
Meningkatnya harapan hidup dan adanya waktu serta materi mendorong para usia lanjut untuk mengisi waktu luang dengan berwisata. Banyak faktor yang memotivasi seseorang untuk melakukan kegiatan wisata. Teori yang mengukur motivasi wisatawan telah banyak dikembangkan oleh para peneliti. Misalnya, Dann (1981) menjelaskan bahwa dalam berwisata, ada 2 faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan, yaitu faktor pendorong (push factors) dan faktor penarik (pull factors).
Faktor pendorong (push factor) adalah dorongan motivasi secara sosio- psikologi yang mendorong seorang individu untuk melakukan perjalanan. Faktor penarik (pull factor) adalah motif dari luar yang menarik seseorang untuk berkunjung ke suatu destinasi wisata tertentu (dalam Patterson, 2006, p. 28). Teori ini merupakan teori motivasi yang sangat sering diadopsi oleh para peneliti.
Contoh penelitian pertama yang dilakukan oleh Aswin (2008) mengukur tentang motivasi wisatawan senior Jepang yang berwisata ke Thailand. Peneliti menemukan bahwa faktor pendorong yang memotivasi lanjut usia Jepang untuk berwisata ke Thailand adalah novelty and knowledge-seeking, rest and relaxation dan ego-enhancement. Sedangkan untuk faktor penariknya adalah cultural and historical attractions, travel arrangements and facilities, safety.
Kemudian Rifa’i (2015) melakukan penelitian tentang motivasi kelompok lanjut usia di kota Bandung dalam memanfaatkan waktu luang untuk rekreasi.
Peneliti mengungkapkan motivasi lanjut usia di kota Bandung seperti keinginan untuk berelaksasi (relaxation), selain itu wisatawan juga ingin memperkuat ikatan dengan keluarga (strengthening family bonds), melakukan interaksi sosial dengan sesama (social interaction), serta mempererat hubungan dengan orang lain (relationship).
Selanjutnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Utama (2011) dijelaskan bahwa wisatawan lanjut usia lebih memilih kegiatan yang pasif seperti penyaluran bakat yang berhubungan dengan kerajinan, city tour (berkeliling kota),
mengunjungi tempat bersejarah, menikmati kuliner lokal, dan kegiatan yang berhubungan dengan hobi. Lebih lanjut, Lianto (2017) melakukan penelitian tentang motivasi wisatawan lanjut usia yang berwisata di Bali. Peneliti menyatakan bahwa ada banyak faktor pendorong maupun penarik yang mendukung wisatawan lanjut usia untuk melakukan kegiatan berwisata. Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak sekali alasan yang dapat mempengaruhi wisatawan lanjut usia untuk melakukan kegiatan berwisata di Bali. Peneliti menjelaskan bahwa faktor pendorong yang mempengaruhi adalah explore and increase knowledge about new the local culture, quality time and visiting nostalgic with close accompanies, dan relaxation and having fun. Sedangkan peneliti juga mendapatkan hasil untuk faktor penarik yaitu hospitality services and tourism, local culture, dan quite rest area. Menurut Utama (2011), perilaku wisatawan lanjut usia dalam berwisata antara lain mendengar radio, makan-makan di restoran, dan bersantai di tempat yang nyaman serta jauh dari keramaian.
Selain beberapa studi yang mengukur motivasi menggunakan teori motivasi push-pull factors di atas, motivasi wisatawan juga dapat diukur menurut teori hirarki kebutuhan yang dikembangkan oleh Maslow (1943). Menurut Maslow (1943), motivasi dibagi menjadi 5 tingkatan, yaitu physiological, safety, social, esteem, dan self-actualization. Dalam ilmu pariwisata, teori Maslow ini diadopsi oleh Pearce (1988) yang mengungkapkan teorinya, yaitu “Travel Career Ladder” (TCL). Pearce (1988) menjelaskan bahwa ada 5 tingkatan motivasi wisatawan dalam melakukan kegiatan wisata, yaitu relaxation (kebutuhan untuk merelaksasi diri), stimulation (keamanan diri), relationship (kebutuhan menjaga relasi), self-esteem and development (pengembangan ketrampilan), dan fulfillment (pengenalan diri sendiri). Teori TCL menjelaskan bahwa seorang wisatawan dapat memiliki lebih dari satu motivasi untuk berwisata. Selain itu, seorang wisatawan memiliki motivasi yang dominan di dalam satu tingkatan (Filep dan Greenacre, 2007).
Dengan adanya faktor-faktor pendukung wisatawan lanjut usia dalam melakukan kegiatan wisata serta adanya potensi Lombok sebagai destinasi wisata unggulan, maka penulis ingin meneliti motivasi wisatawan mancanegara lanjut usia dan wisatawan nusantara yang melakukan kegiatan wisata di Lombok.
Seperti yang telah dijelaskan oleh penulis, karena banyaknya penelitian yang mengadopsi teori faktor pendorong (push factors) dan faktor penarik (pull factors), maka dalam penelitian ini penulis mengadopsi teori Travel Career Ladder (TCL) untuk mengidentifikasi motivasi wisatawan lanjut usia yang berwisata ke Lombok, Nusa Tenggara Barat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan penelitian ini sebagai berikut:
1. Faktor-faktor apa yang memotivasi wisatawan lanjut usia nusantara dalam berwisata ke Lombok?
2. Faktor-faktor apa yang memotivasi wisatawan lanjut usia mancanegara dalam berwisata ke Lombok?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Menganalisa faktor-faktor yang memotivasi wisatawan lanjut usia nusantara dalam berwisata ke Lombok.
2. Menganalisa faktor-faktor yang memotivasi wisatawan lanjut usia mancanegara dalam berwisata ke Lombok.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat akademis
Menambah referensi mengenai motivasi wisatawan lanjut usia Mancanegara dan Nusantara saat berkunjung ke Indonesia, khususnya ke Lombok, dengan mengadopsi teori TCL. Memahami potensi wisatawan mancanegara dan nusantara dengan kelompok lanjut usia sebagai segmen yang berpotensi memajukan pariwisata di Lombok. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada peningkatan pemahaman terhadap perilaku wisatawan lanjut usia untuk dibidik.
1.4.2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi penyedia jasa wisata dalam melahirkan produk atau jasa baru yang cocok untuk ditawarkan ke segmen wisatawan lanjut usia. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat membuka peluang bisnis baru bagi penyedia jasa pariwisata serta dapat memenuhi kebutuhan wisatawan lanjut usia dalam berwisata di Lombok.