• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN TAHUN 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN TAHUN 2016"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

KESEHATAN PARU MASYARAKAT

BANDUNG

Jalan Cibadak No. 214 Bandung - 40241 Telp/Fax : 022 - 6011523

website: bbkpm-bandung.org

email: [email protected]

RENCANA BISNIS DAN

ANGGARAN TAHUN 2016

(2)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 ii

HALAMAN JUDUL i

DAFTAR ISI ii

DAFTAR TABEL iii

DAFTAR BAGAN vi

DAFTAR GRAFIK vii

KATA PENGANTAR viii

RINGKASAN EKSEKUTIF x

LEMBAR PENGESAHAN xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum 1

B. Visi dan Misi 11

C. Budaya Kerja 11

D. Susunan Pejabat Pengelola dan Dewan Pengawas 12 BAB II KINERJA BLU TAHUN 2015 DAN RBA TAHUN 2016

A. Gambaran Kondisi BLU

1. Faktor Internal 16

2. Faktor Eksternal 19

3. Asumsi Makro dan Mikto 24

B. Proses Penilaian Kinerja BLU

1. Capaian Kinerja BLU 29

2. Capaian Kinerja Pelayanan 34

3. Capaian Kinerja Keuangan 43

C. Pencapaian Kinerja dan Target Kinerja BLU 1. Capaian Kinerja dan Target Kinerja BLU 48 2. Target Kinerja Pelayanan Tahun 2016 51

3. Proyeksi Keuangan Tahun 2016 59

4. Rincian Pendapatan dan Belanja BLU 63

5. Ikhtisar RBA Tahun 2016 126

D. Informasi Lainnya 129

E. Ambang Batas Belanja BLU 129

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 131

B. Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian Pemilik 133

C. Hal-hal yang Perlu Rapat Pembahasan Bersama 133

(3)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 iii Tabel 2.1 Sumber Daya Manusia BBKPM Bandung Tahun 2015 18

Tabel 2.2 Asumsi Makro Tahun 2015 24

Tabel 2.3 Asumsi Mikro Tahun 2015 26

Tabel 2.4 Asumsi Makro Tahun 2016 27

Tabel 2.5 Asumsi Mikro Tahun 2016 28

Tabel 2.6 Capaian Kinerja Berdasarkan Revisi Perdirjen 54 30

Tabel 2.7 Capaian Kinerja berdasarkan RSB 33

Tabel 2.8 Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Umum 34

Tabel 2.9 Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Jalan 35 Tabel 2.10 Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Inap 36

Tabel 2.11 Capaian Kinerja Promosi Kesehatan 39

Tabel 2.12 Capaian Kinerja Pengembangan Sumber Daya 41

Tabel 2.13 Rincian Pendapatan Tahun 2015 43

Tabel 2.14 Rincian Belanja Tahun 2015 43

Tabel 2.15 Proyeksi Indikator Kinerja BLU Tahun 2016 48

Tabel 2.16 Proyeksi Indikator RSB Tahun 2016 50

Tabel 2.17 Target Kinerja PelayananPasien Umum 51

Tabel 2.18 Target Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Jalan 52 Tabel 2.19 Target Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Inap 53

Tabel 2.20 Target Promosi Kesehatan 55

Tabel 2.21 Target Pengembangan Sumber Daya 56

Tabel 2.22 Sasaran, Strategi, Kebijakan dan Program Kerja 56

(4)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 iii

Tabel 2.26 Rincian Pendapatan Tahun 2016 63

Tabel 2.27 Rincian Pendapatan Instalasi Rawat Jalan Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

64

Tabel 2.28 Rincian Pendapatan Instalasi Rawat Inap Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

64

Tabel 2.29 Rincian Pendapatan Instalasi Gawat Darurat Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

65

Tabel 2.30 Rincian Pendapatan Instalasi Laboratorium Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

66

Tabel 2.31 Rincian Pendapatan Instalasi Radiologi Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

66

Tabel 2.32 Rincian Pendapatan Instalasi Farmasi Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

67

Tabel 2.33 Rincian Pendapatan Instalasi Rehabilitasi Medik Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

68

Tabel 2.34 Rincian Pendapatan Instalasi Penyuluhan dan Konseling Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

68

Tabel 2.35 Rincian Belanja Tahun 2016 69

Tabel 2.36 Rincian Belanja Instalasi Rawat Jalan Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

74

Tabel 2.37 Rincian Belanja Instalasi Rawat Inap Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

81

Tabel 2.38 Rincian Belanja Instalasi Gawat Darurat Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

88

Tabel 2.39 Rincian Belanja Instalasi Laboratorium Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

94

Tabel 2.40 Rincian Belanja Instalasi Radiologi Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

100

(5)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 iii Proyeksi Tahun 2016

Tabel 2.43 Rincian Belanja Instalasi Penyuluhan dan Konseling Tahun 2015 dan Proyeksi Tahun 2016

119

Tabel 2.44 Rekapitulasi Pagu Belanja berdasarkan Sumber Dana Tahun 2016

125

Tabel 2.45 Anggaran Belanja Per Jenis Belanja dan Sumber Dana Tahun 2016

125

Tabel 2.46 Master Budget Tahun 2016 126

Tabel 2.47 Ikhtisar RBA Tahun 2016 127

Tabel 2.48 Belanja Penggunaan Saldo Awal 128

Tabel 2.49 Perhitungan Ambang Batas Belanja BLU 130

(6)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 vi Bagan 2.1 Struktur Organisasi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat

Bandung

24

(7)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 vii

Grafik 2.1 Matrix Grand Strategi 44

(8)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 viii Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia dan Hidayah Nya, maka dokumen Rencana Bisnis dan Anggaran Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung Tahun 2016 dapat diselesaikan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 yang diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU), maka salah satu kewajiban BBKPM Bandung sebagai PK-BLU adalah menyusun Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) tahunan dengan mengacu pada dokumen Rencana Strategi Bisnis BBKPM Bandung Tahun 2014-2019.

Rencana Bisnis dan Anggaran BBKPM Bandung Tahun 2016 mencakup seluruh pendapatan dan belanja, proyeksi arus kas, serta jumlah dan kualitas jasa dan atau barang yang akan di hasilkan oleh BBKPM Bandung.

Sejalan dengan tuntutan kinerja instansi PK-BLU,maka Rencana Bisnis

dan Anggaran BBKPM Bandung disusun berdasarkan basis kinerja dan

perhitungan akuntansi biaya menurut jenis layanan, kebutuhan dan kemampuan

pendapatan yang diperkirakan akan diterima dalam tahun 2015 serta Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2016, dengan menganut pola

fleksibel.

(9)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 viii Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dan kami mengucapkan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian dokumen Rencana Bisnis dan Anggaran BBKPM Bandung ini.

Bandung, 16 November 2015

Kepala

Dr. Edi Sampurno, Sp.P., MM

NIP. 196109211987121001

(10)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 x ditetapkan sebagai satuan kerja Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 58/MK.05/2011 tanggal 28 Februari 2011.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan target kinerja yang dilandasi pergeseran paradigma yaitu dengan lebih memperhatikan nilai-nilai kebutuhan dan kepuasan pelanggan sesuai dengan visi, misi dan motto BBKPM Bandung sebagai berikut:

Visi :

“Menjadi Pusat Unggulan Kesehatan Paru Masyarakat di tingkat Nasional Tahun 2019

Misi :

1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paru masyarakat yang bermutu, terjangkau, merata dan setara.

2. Meningkatkan kesehatan paru masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. (dilakukan melalui kerja sama institusi/ kelembagaan)

3. Melaksanakan dan mendukung kegiatan pendidikan, pelatihan dan penelitian kesehatan paru.

Motto :

Melayani dengan “Kualitas dan Empati”

Tata Nilai :

RAPI: “Responsif, Amanah, Profesional, Inovatif”

(11)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 x pelayanan rehabilitasi medik, pelayanan konseling kesehatan paru, konseling gizi, klinik berhenti merokok dan klinik VCT, penyelenggaraan diklat dan penelitian serta pelayanan ambulance.

Volume kegiatan pelayanan BBKPM Bandung cukup besar dan diharapkan mengalami peningkatan pada tahun ini sehingga dapat melampaui target yang telah ditetapkan. Diharapkan jumlah pendapatan yang dihasilkan lebih besar daripada tahun lalu dan dapat menanggulangi kebutuhan dana yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pelayanan.

Mengacu pada realisasi kinerja sampai bulan Juni 2015 serta prognosis sampai bulan Desember 2015, maka disusunlah Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) Tahun 2016 dengan gambaran sebagai berikut:

1. Berdasarkan analisa SWOT posisi organisasi berada pada kuadran 2 (Turn Around Strategy/stabilisasi).

2. Asumsi yang digunakan dalam penyusunan RBA tahun 2015 antara lain

Tingkat Inflasi 4,7%, Tingkat Pertumbuhan Ekonomi 5,5%, Nilai tukar rupiah

/ kurs 1 $ Rp. 12.400,-/dolar AS, Tingkat Bunga SPN 3 bulan 5,5%. Asumsi

mikro antara lain Pelayanan kesehatan paru masyarakat yang diselenggarakan

BBKPM Bandung semakin dipercaya masyarakat, pola jejaring dan kemitraan

dengan berbagai lembaga dan institusi semakin berkembang, peningkatan

mutu pelayanan berdampak pada peningkatan kunjungan, pengembangan

layanan unggulan, peningkatan jenis dan kualitas SDM melalui pendidikan

(12)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2016 x Rp. 8.521.953.000,- atau meningkat 33,13% dari target pendapatan tahun 2015 sebesar Rp 6.401.179.000,-.

4. Biaya operasional yang ditetapkan dalam RBA tahun 2016 sebesar Rp.

24.084.531.000,- meningkat 11,48% dari biaya operasional yang dianggarkan tahun 2015 yaitu sebesar Rp. 21.604.153.000,-.

5. Anggaran Belanja tahun 2016 direncanakan sebesar Rp. 50.360.387.000,- terdiri dari Belanja Pegawai Rp. 9.076.513.000,- Belanja Barang Rp.

15.008.018.000,- dan Belanja Modal Rp. 25.924.921.000,-.

6. Ambang batas diusulkan sebesar 20%. Prognosa nilai kinerja tahun 2015

sebesar 86,3% atau berada pada level AA, yang terdiri dari indikator kinerja

keuangan 22,9%, indikator kinerja operasional 31,5%, dan indikator kinerja

mutu pelayanan dan manfaat bagi masyarakat sebesar 31,9%, .

(13)

BBKPM Bandung | RBA Tahun 2015 xiii

RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN (RBA) TAHUN 2016

Disahkan di : Bandung

Pada Tanggal : 16 November 2015

Mengesahkan, Kepala BBKPM Bandung

Dr. Edi Sampurno, Sp.P., MM

NIP. 196109211987121001

(14)

BAB I Pendahuluan 1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum

1. Landasan Hukum dan Sejarah Perkembangan BLU

BBKPM Bandung didirikan pada Bulan November Tahun 1952, dengan nama BP5 (Balai Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Paru- Paru) dengan tujuan sebagai pusat pemberantasan penyakit tuberculosis (TB). BP5 Bandung menempati gedung di Jl. Ir. H. Juanda 45 kemudian pindah ke Jl. Pasir Kaliki 121. Gedung BBKPM yang saat ini menjadi lokasi BBKPM Bandung mulai ditempati pada bulan Juli tahun 1955.

Pada tahun 1974, BP5 berubah menjadi BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru) dan mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI No.144/Menkes/SK/IV/1978 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru yang di dalamnya mengatur tugas, fungsi, klasifikasi dan Susunan Organisasi BP4, maka tugas pokok dan fungsi BP4 tidak hanya mengobati tuberkulosis tetapi juga penyakit paru lainnya.

BP4 kemudian berubah menjadi BKPM (Balai Kesehatan Paru Masyarakat) dengan merujuk pada Keputusan Menteri PAN Nomor:

62/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana

Teknis di Lingkungan Departemen dan Lembaga Pemerintah Non

Departemen, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI

Nomor: 1352/MENKES/PER/IX/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja

(15)

BAB I Pendahuluan 2 Unit Pelaksana Teknis di Bidang Kesehatan Paru Masyarakat, yang menetapkan BP4 Bandung sebagai Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) eselon 3b.

Pada tahun 2007 Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 532/MENKES/PER/IV/2007 BKPM Bandung ditetapkan menjadi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) dengan Tugas Pokok dan Fungsi melaksanakan pelayanan kesehatan rujukan paru spesialistik dan atau subspesialistik yang berorientasi kesehatan masyarakat; pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan paru;

kemitraan dan pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat; pendidikan dan pelatihan teknis di bidang kesehatan paru;

serta penelitian dan pengembangan kesehatan paru. Di dalam surat keputusan tersebut juga dinyatakan bahwa wilayah kerja BBKPM Bandung meliputi 13 Provinsi yaitu seluruh Provinsi di Pulau Sumatera, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.

Lokasi BBKPM Bandung di Jalan Cibadak No 214 Bandung

menempati bangunan seluas 1.668 m2 yang berdiri di atas tanah seluas

3.330 m2. Lokasi ini sangat strategis karena sangat mudah diakses oleh

masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya. Sebagai sarana pelayanan

rujukan strata II, BBKPM Bandung menerima rujukan dari Puskesmas dan

Dokter umum serta Balai Pengobatan dan Klinik swasta, utamanya dalam

penegakan diagnostik Tuberkulosis, Asma dan PPOK.

(16)

BAB I Pendahuluan 3 BBKPM Bandung resmi menjadi Instansi Pemerintah di bawah Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI yang menjalankan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum melalui surat Kementerian Keuangan Nomor 58/MK.05/2011 tanggal 28 Februari 2011 tentang Penetapan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung Pada Kementerian Kesehatan RI sebagai Instansi Pemerintah yang menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.

Karena adanya perubahan struktur organisasi di tingkat Kementerian maka pada tanggal 22 November 2011 terjadi pengalihan dari UPT dibawah Direktorat Binkesmas menjadi dibawah Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan (BUK) dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2354/MENKES/PER/XI/2011 yang menetapkan kedudukan BBKPM Bandung sebagai Unit Pelaksana teknis dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Bina Upaya Kesehatan.

2. Karakteristik Bisnis Badan Layanan Umum

Dalam menjalankan tugas pokok BBKPM Bandung memiliki

karakteristik berbeda dari rumah sakit maupun layanan kesehatan lain,

selain merupakan layanan rujukan spesialistik paru BBKPM juga memiliki

program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yang antara lain terdiri dari

Promosi kesehatan, Pemberdayaan masyarakat, pendidikan, pelatihan dan

penelitian.

(17)

BAB I Pendahuluan 4 Mengingat adanya kecenderungan penurunan kunjungan untuk pasien umum rawat jalan maka perlu dibuat program pengembangan pelayanan untuk tahun 2016 dengan membuka layanan-layanan baru.

Pengembangan tersebut berupa pengembangan layanan unggulan Intervensi Paru yaitu tindakan paru yang dilakukan baik yang bersifat diagnostik maupun terapeutik. Disamping itu juga akan dikembangkan layanan IGD 24 jam dan rawat inap.

Pengembangan di pelayanan penunjang terutama dilaboratorium dan radiologi juga dilaksanakan antara lain pemeriksaan sitologi yaitu dengan adanya dokter spesialis Patologi Anatomi yang merupakan tenaga tetap di BBKPM. Selain itu dengan adanya dokter spesialis Patologi Klinik dan Radiologi saat ini maka diharapkan pelayanan lebih meningkat, demikian pula rujukan untuk pemeriksaan laboratorium maupun radiologi dari luar dapat dilaksanakan tanpa melalui alur pelayanan di instalasi rawat jalan.

Pengembangan layanan lainnya adalah dengan dibukanya Klinik MDR bekerja sama dengan Dinas Kesehatan propinsi dan Global Fund sebagai subrujukan pasien TB MDR. Layanan medical Check Up untuk pemeriksaan kesehatan perusahaan maupun instansi dan lembaga swasta.

Pemeriksaan kesehatan untuk jemaah Haji juga diharapkan meningkatkan

pendapatan, hal ini dilakukan dengan kerjasama yang baik dengan Dinas

Kesehatan Kabupaten Kota dan Propinsi.

(18)

BAB I Pendahuluan 5 Penguatan program promosi perlu dilakukan dimana hal ini tidak terlepas dari fungsi promotif dan preventif dan dapat diintegrasikan dengan kegiatan promosi kesehatan dan kegiatan peningkatan SDM kesehatan yang dilakukan melalui program workshop dan seminar.

3. Maksud dan Tujuan

Tujuan BBKPM menjadi BLU adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan paru yang berkualitas, melalui upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan paru masyarakat yang meliputi upaya pemberdayaan baik tenaga kesehatan maupun masyarakat, dengan melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan kesehatan paru, kemitraan dengan berbagai pihak, sehingga penyakit paru tidak lagi menjadi masalah utama, khususnya di wilayah kerja BBKPM Bandung.

Untuk dapat melaksanakan upaya-upaya tersebut maka tujuan umum dijabarkan dalam tujuan khusus sehingga memudahkan dalam penyusunan strategi maupun perencanaan program dan kegiatan serta dalam melakukan pengukuran indikator pencapaian kinerja.

Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah:

a. Peningkatan mutu institusi dalam bidang kesehatan paru masyarakat b. Pengembangan Program Penanggulangan Kesehatan Paru

Masyarakat berdasarkan peta masalah yang akan dibuat

c. Pemberdayaan masyarakat yang mandiri dalam meningkatkan derajat

kesehatan paru

(19)

BAB I Pendahuluan 6 d. Pengembangan jenis pelayanan dan penunjang kesehatan paru

e. Pembentukan kemitraan dalam mempercepat penanggulangan masalah kesehatan paru masyarakat

f. Peningkatan kuantitas dan kualitas Penelitian di BBKPM Bandung Tujuan di atas akan tercapai melalui pengembangan dan pelaksanaan program yang tepat dan spesifik, yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dengan mengembangkan koordinasi dan kemitraan yang efektif dan efisien dengan pengelola kesehatan paru di wilayah kerja. Selain itu, dukungan sistem penunjang yaitu administrasi kesehatan, baik administrasi umum maupun administrasi keuangan yang baik akan sangat mendukung tercapainya tujuan dengan memegang prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.

Prinsip pengelolaan keuangan yang baik pada dasarnya

mengandung nilai akuntabilitas, transparansi, kewajaran, kemandirian

dan responsibilitas, yang bila diterapkan dengan baik dapat menjadi

tolok ukur atau indikator pelaksanaan program dan kegiatan. Prinsip-

prinsip ini dapat dikembangkan dan dipraktekkan dalam rangka

mencapai tujuan pengelolaan Balai Kesehatan Masyarakat yang

menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU)

agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan efektif dan efisien.

(20)

BAB I Pendahuluan 7 4. Kegiatan

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 532 / Menkes / Per / IV / 2007 adalah sebagai berikut:

a. Tugas Pokok :

Melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kesehatan, penunjang kesehatan, promosi kesehatan, dan kemitraan serta pengembanagan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat

b. Fungsi :

1) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan rujukan paru spesialistik dan atau subspesialistik yang berorientasi kesehatan masyarakat

2) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan paru

3) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kemitraan dan pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat 4) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan dan pelatihan

teknis di bidang kesehatan paru

5) Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi penelitian dan pengembangan kesehatan paru

6) Pelaksanaan urusan tata usaha

Dalam mendukung tugas pokok dan fungsinya, maka BBKPM

Bandung mempunyai kegiatan sebagai berikut:

(21)

BAB I Pendahuluan 8 1) Kegiatan Pelayanan dan Penunjang Kesehatan

a) Pelayanan Kesehatan

 Klinik Spesialis; Paru, Anak, Penyakit Dalam

 Klinik DOTS

 Klinik Umum

 Klinik Anak

 Klinik Non TB

 Klinik Asma-PPOK

 Klinik MDR-TB

 Klinik PDP

 Instalasi Gawat Darurat

 Rawat Inap Sehari (One Day Care)

 Pelayanan Rawat Inap b) Penunjang Kesehatan

 Instalasi Laboratorium

 Instalasi Radiologi

 Instalasi Rehabilitasi Medik

 Instalasi Farmasi

 Instalasi Rekam Medik

 Instalasi Sanitasi dan K3

 Instalasi Pemeliharaan Alat Kesehatan

2) Kegiatan Promosi dan Pengembangan Sumber Daya

a) Kegiatan Promosi Kesehatan

(22)

BAB I Pendahuluan 9

 Kegiatan Promosi Kesehatan Masyarakat - Promosi Kesehatan paru

- Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kesehatan paru - Pemberdayaan penderita dan keluarga penderita penyakit paru - Pemberdayaan masyarakat dalam upaya kesehatan paru - Advokasi kesehatan paru

- Kemitraan dalam jejaring pelayanan kesehatan paru - Surveilans perilaku

- Screening kesehatan paru

 Pelayanan Konseling : - Konseling TB - Konseling Gizi

- Konseling Berhenti Merokok - Konseling HIV

- Konseling penyakit paru lainnya b) Kegiatan Pengembangan Sumber Daya

 Pendidikan dan pelatihan kesehatan paru terutama dalam penanggulangan masalah TB, Asma, PPOK dan PAL serta kesehatan masyarakat secara umumnya.

 Penelitian dan pengembangan kesehatan paru.

c) Kegiatan Kemitraan

 Kemitraan dalam pelayanan/rujukan kesehatan paru

(23)

BAB I Pendahuluan 10 Rumah Sakit Paru, Rumah Sakit Umum/Swasta, Puskesmas, Balai Laboratorium Kesehatan, Dokter praktek swasta, Lembaga Asuransi Kesehatan, PPTI, Organisasi Profesi, dan lain – lain.

 Kemitraan dalam program kesehatan paru

Program penanggulangan TB (DOTS): Dinas Kesehatan Propinsi/

Kabupaten/ Kota, Rumah Sakit, BKPM, Puskesmas, Swasta.

 Kemitraan dalam upaya promosi kesehatan paru

Pusat Promosi Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi/ Kabupaten/

Kota, Dinas Pendidikan, Organisasi profesi, Organisasi masyarakat, LSM, Yayasan Asma Indonesia, Media massa, dan lain – lain.

 Kemitraan dan kerjasama dalam Diklat dan penelitian kesehatan paru: Institusi Pendidikan, Badan Diklat dan Badan Litbangkes, dan lain – lain.

3) Ketatausahaan a) Umum

 Urusan Umum dan Kerumahtanggaan

 Urusan Kepegawaian

 Urusan Perencanaan, Pencatatan dan Laporan

 Urusan Perlengkapan

 Urusan Kehumasan

 Urusan Kearsipan

b) Keuangan

(24)

BAB I Pendahuluan 11

 Perbendaharaan

Bendahara Penerimaan, Bendahara Pengeluaran, Pejabat Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai (PPABP)

 Verifikasi dan Akuntansi

B. Visi dan Misi 1. Visi

“Menjadi Pusat Unggulan Kesehatan Paru Masyarakat di Tingkat Nasional Tahun 2019 ”.

2. Misi

a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paru masyarakat yang bermutu, terjangkau, merata dan setara;

b. Meningkatkan kesehatan paru masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat;

c. Melaksanakan dan mendukung kegiatan pendidikan, pelatihan dan penelitian kesehatan paru.

C. Budaya Badan Layanan Umum 1. TATA NILAI :

RAPI : Responsif, Amanah, Profesional, Inovatif.

2. MOTTO

Melayani dengan “Kualitas dan Empati”.

(25)

BAB I Pendahuluan 12 D. Susunan Pejabat Pengelola dan Dewan Pengawas BLU

1. Susunan Pejabat Pengelola BLU dan Dewan Pengawas

a. Susunan Pejabat Pengelola BLU

 Kepala : dr. Edi Sampurno, Sp.P., MM

 Kepala Bagian Tata Usaha : Sutaryana, SKM, M.Kes.

 Kepala Subbagian Umum : Rian Surahman, SKM

 Kepala Subbagian Keuangan : Sudaryanto, SE

 Plh.Kepala Bidang Pelayanan : dr. Yulianti Hadisoebroto, MM dan Penunjang Kesehatan

 Kepala Seksi Pelayanan : dr. Indria Yulita Kesehatan

 Kepala Seksi Penunjang : Endang Sri Mursinah, SKM, M.Kes Kesehatan

 Kepala Bidang Promosi dan : dr. Yulianti Hadisoebroto, MM Pengembangan Sumber Daya

 Kepala Seksi Promosi : dr. Dahlia Qadarsih Kesehatan

 Kepala Seksi Pengembangan : Rita Sri Rahayu, S.Si, M.KM Sumber Daya

b. Susunan Dewan Pengawas

Dengan Pendapatan BLU yang saat ini masih dibawah 15 Milyar maka BBKPM Bandung belum mempunyai Dewan Pengawas.

2. Uraian Tugas Pejabat Pengelola BLU

Pembagian tugas Pejabat Pengelola BLU mengacu pada Keputusan

Menteri Kesehatan RI Nomor: 532/Menkes/Per/IV/2007 tentang Susunan

(26)

BAB I Pendahuluan 13 dan Uraian Jabatan serta Tata Hubungan Kerja BBKPM. Adapun uraian tugas masing-masing Pengelola BLU adalah sebagai berikut :

a. Kepala

Tugas Pokok : Melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kesehatan, penunjang kesehatan, promosi kesehatan, dan kemitraan serta pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat.

Uraian Tugas :

 Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan rujukan paru spesialistik dan atau subspesialistik yang berorientasi kesehatan masyarakat;

 Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan paru masyarakat;

 Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kemitraan dan pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat;

 Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan dan pelatihan teknis di bidang kesehatan paru masyarakat;

 Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penelitian dan pengembangan kesehatan paru masyarakat;

 Menyusun pelaksanaan urusan tata usaha.

(27)

BAB I Pendahuluan 14 b. Kepala Bagian Tata Usaha

Tugas Pokok : Melaksanakan penyusunan program, pengelolaan informasi, evaluasi dan laporan, urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian, kerumahtanggaan, perlengkapan dan hubungan masyarakat.

Uraian Tugas :

 Menyusun rencana program dan anggaran, penyajian informasi, evaluasi dan laporan;

 Melaksanakan urusan kepegawaian, tata usaha, perlengkapan dan rumah tangga serta hubungan masyarakat;

 Melaksanakan urusan keuangan.

c. Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan

Tugas Pokok : Melaksanakan perencanaan dan evaluasi di bidang pemeriksaan, pengobatan, dan pelayanan rehabilitasi kesehatan paru spesialistik dan subspesialistik yang berorientasi masyarakat serta rujukan dengan sarana pelayanan kesehatan.

Uraian Tugas :

 Menyusun perencanaan dan evaluasi pemeriksaan dan pengobatan kesehatan paru masyarakat;

 Menyusun perencanaan dan evaluasi pelayanan rehabilitasi kesehatan paru masyarakat;

 Menyusun perencanaan dan evaluasi pelayanan rujukan;

(28)

BAB I Pendahuluan 15

 Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan penunjang kesehatan;

 Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan.

d. Kepala Bidang Promosi dan Pengembangan Sumber Daya

Tugas Pokok : Melaksanakan perencanaan dan evaluasi penyuluhan kesehatan dan konseling, pemberdayaan masyarakat, kerjasama, serta pengembangan sumberdaya di bidang kesehatan paru masyarakat.

Uraian Tugas :

 Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan penyuluhan kesehatan dan konseling;

 Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan pemberdayaan masyarakat;

 Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan kerjasama;

 Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan pengembangan

sumber daya.

(29)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 16 BAB II

KINERJA BLU TAHUN 2015

DAN RENCANA BISNIS ANGGARAN TAHUN 2016

A. Gambaran Kondisi BLU 1. Faktor Internal

a. Pelayanan

BBKPM telah memiliki sertifikasi ISO 9001:2008 sehingga mutu jasa yang diberikan kepada masyarakat terjamin kualitas mutunya dan menjadi salah satu keunggulan dalam menghadapi persaingan dengan penyedia jasa lain. Didukung pula dengan tersedianya clinical pathway dan Standar Prosedur Operasional dalam upaya memberikan pelayanan prima. Upaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan oleh BBKPM Bandung dalam meningkatkan kinerja dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki adalah dengan mengembangkan jenis pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan peminatan pelanggan/masyarakat salah satunya adalah layanan TB MDR sebagai sub rujukan. Akses pelayanan kesehatan paru masyarakat terjangkau (lokasi yang strategis). Namun demikian Izin Operasional BBKPM masih dalam proses.

b. Keuangan

BBKPM Bandung telah menjadi Badan Layanan Umum serta telah

melaksanakan pengelolaan keuangan dengan baik sesuai peraturan yang

berlaku sehingga pendapatan meningkat setiap tahunnya, Standar

Operasional dan Prosedur keuangan sudah tersusun, dan telah memiliki

(30)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 17 sistem informasi akuntansi yang mampu mendukung pelaporan keuangan sehingga laporan keuangan yang dihasilkan lebih akurat dan tepat waktu.

Namun demikian penyerapan anggaran dirasakan belum optimal, alokasi belanja modal untuk memenuhi pembangunan gedung pelayanan dan alat kesehatan kedokteran belum mencukupi, serta tarif yang telah dimiliki sudah sesuai namun masih memerlukan tambahan tarif untuk pengembangan pelayanan.

c. Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Struktur organisasi BBKPM Bandung telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 532/Menkes/Per/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat, sebagai berikut:

Bagan 2.1 : Struktur Organisasi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung

Didukung oleh Sumber Daya Manusia sebanyak 167 orang, terdiri

dari 137 orang berstatus PNS, 27 orang berstatus Non PNS dan 4 orang

(31)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 18 dengan perjanjian, rincian berdasarkan kelompok ketenagaan sebagai berikut :

Tabel 2.1 : Sumber Daya Manusia BBKPM Bandung Tahun 2015

No Jenis Ketenagaan PNS Tenaga

Honorer MoU Total

1. Pejabat Struktural 5 5

2. Dokter Spesialis Paru 2 2

3. Dokter Spesialis Radiologi 0 1 1

4. Dokter spesialis Anak 0 1 1

5. Dokter Spesialis Patologi Klinik 0 1 1

6. Dokter Spesialis Penyakit Dalam 0 1 1

7. Dokter Spesialis Patologi Anatomi 1 1

8. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medis 1 1

9. Dokter Umum 23 23

10. Perawat 33 33

11. Apoteker 1 1

12. Asisten Apoteker 4 4

13. Fisioterafis 2 2

14. Gizi 2 2

15. Pranata Laboratorium 12 12

16. Radiolografer 6 6

17. Fisikawan Medis 1 1

18. Sanitarian 2 2

19. Adminkes 2 2

20. Arsiparis 1 1

21. Auditor 1 1

22. Humas 1 1

23. Kepegawaian 2 2

24. Keuangan 3 3

25. Perencana 7 7

26. Satpam 2 2

27. Teknisi Elektromedis 1 1

28. Umum 11 11

29. Rekam Medis 4 3 7

30. Tenaga Farmasi 0 3 3

31. Tenaga Logistik/BMN 2 1 3

32. Tenaga Pengaman/Satpam 3 8 10

33. Tenaga Pengemudi 1 6 7

34. Tenaga Pramu 1 5 6

(32)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 19 35. Tenaga Verifikasi/Pencatatan Piutang 0 1 1

Jumlah 137 27 4 167

d. Sarana dan Prasarana

Tersedianya peralatan medik dan non medik yang memadai serta adanya program pemeliharaan alat dan kalibrasi untuk mendukung optimalisasi penggunaan sarpras yang handal. Pembangunan gedung rawat inap dan pengembangan sarana medik lainnya untuk memenuhi kebutuhan pelayanan masih dalam tahap penyelesaian. Sistem Manajemen informasi berbasis teknologi baru terintegrasi sebagian sehingga penerapan sistem informasi pelayanan kesehatan masih belum optimal.

2. Faktor Eksternal a. Pelayanan

Berkembangnya penyakit paru disertai dengan kepadatan penduduk yang semakin tinggi beresiko terhadap meningkatnya penyakit paru Begitupun dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi di sektor Industri, konstruksi dan perdagangan yang berpotensi menimbulkan penyakit paru.

Yang menjadi tantangan lainnya adalah berkembangnya persaingan dalam penyediaan layanan sejenis dari lembaga lain baik pemerintah maupun swasta. Ditambah pula adanya AFTA 2015 bidang kesehatan menuntut pelayanan prima.

Pelayanan kesehatan sangat terbantu dengan adanya program

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), diikuti dengan meningkatnya jumlah

(33)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 20 peserta BPJS. Hal ini memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan optimal.

b. Keuangan

Dengan adanya situasi ekonomi yang kurang baik maka daya beli masyarakat menurun yang berakibat akses terhadap pelayanan kesehatan masyarakat pun menurun. Namun demikian dengan adanya kebijakan baru pemerintah tentang kebijakan ekonomi diharapkan situasi ekonomi di semester 2 dan tahun yang akan datang semakin membaik. Salah satunya adalah adanya kebijakan pemerintah tentang program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dimana seluruh masyarakat diwajibkan mengikuti asuransi JKN dengan premi yang terjangkau.

Kebijakan program JKN memberi keuntungan terhadap institusi pemberi pelayanan kesehatan dengan adanya fleksibilitas pengelolaan keuangan dan kebijakan pembayaran klaim sebelum tanggal 15 pada setiap bulannya.

c. Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Kebutuhan organisasi telah didukung oleh adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2011 tentang Kriteria dan Ukuran Keberhasilan Reformasi Birokrasi, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN dan Permenkes Nomor 20 Tahun 2014 tentang Pegawai Non PNS pada satker BLU Kementerian Kesehatan.

Beragamnya ancaman tuntutan hukum atas pelayanan kesehatan,

meningkatnya kompleksitas regulasi kesehatan, birokrasi pemberi

(34)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 21 pelayanan kesehatan lain yang lebih fleksibel memberikan tantangan untuk bekerja lebih bermutu, transparan, dan akuntabel.

d. Sarana dan Prasarana

Transportasi yang semakin mudah dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat memberikan peluang pemanfaatan institusi pemberi pelayanan kesehatan oleh masyarakat. Namun hal tersebut perlu didukung oleh ketersediaan alat kesehatan kedokteran dan bangunan fisik yang memadai.

Dengan berlandaskan pada aspirasi stakeholder, tantangan strategis, benchmarking, dan dengan mempertimbangkan hasil analisa kinerja baik dalam

lingkungan eksternal maupun internal rumah sakit, maka dilaksanakan analisa atas kekuatan (strength/S), kelemahan/kekurangan (weaknes), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Berikut rangkuman hasil identifikasi faktor S W O T yang diperkirakan akan dihadapi RSST dalam kurun waktu RSB, serta dilanjutkan dengan analisanya.

Peluang

1) Berkembangnya kasus penyakit paru di masyarakat

2) Kerjasama lintas Program dan lintas sektor dalam bidang kesehatan paru masyarakat

3) Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan paru

4) Penanggulangan penyakit menular (TB) termasuk dalam sasaran MDGs

5) Berkembangnya ilmu pegetahuan dan teknologi penyakit paru

(35)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 22 6) Kurangnya lembaga yang menyelenggarakan pendidikan dan

pelatihan kesehatan paru

7) Luasnya wilayah kerja yang harus dibina Tantangan

1) Belum optimalnya dukungan dari Pusat pada BBKPM tentang pengembangan UKP dan UKM

2) Belum terstandarisasinya Balai dan belum adanya ijin operasional pelayanan

3) Belum jelasnya strata Balai Besar dalam program SJSN

4) Berkembangnya persaingan dalam penyediaan layanan sejenis oleh lembaga lain

5) Tidak jelasnya pembagian kewenangan penanganan program kesehatan paru masyarakat oleh Pusat di wilayah kerja

6) Belum ada kejelasan mengenai kegiatan dengan wilayah kerja sampai dengan 13 Provinsi

7) Belum tersertifikasinya BBKPM sebagai lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan

Kekuatan

1) Dukungan dan Komitmen Pimpinan dan jajaran manajerial BBKPM ke arah upaya kesehatan paru masyarakat

2) Adanya motivasi yang kuat dari SDM yang ada untuk

mengembangkan diri

(36)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 23 3) Terdapat 3 tempat Pelayanan BBKPM yaitu di Bandung, Garut dan

Cianjur

4) Menangani Pelayanan Spesialistik Paru 5) BBKPM telah tersertifikasi ISO 9001 (2008)

6) Akses pelayanan kesehatan paru masyarakat terjangkau (Lokasi yang strategis, Tarif pelayanan murah)

7) Pengelolaan keuangan sudah berbentuk Badan Layanan Umum Kelemahan

1) Belum terpenuhinya SDM dari segi kuantitas maupun kualitas 2) Masih terbatasnya sarana dan prasarana

3) Belum adanya pengukuhan terhadap satelit BBKPM Bandung 4) Kurangnya promosi tentang keberadaan dan pelayanan BBKPM 5) Belum diterapkannya insentif berbasis kinerja

6) Belum optimalnya penerapan sistem informasi di lingkungan BBKPM 7) Kurangnya minat penelitian paru bagi tenaga kesehatan

Berdasarkan Matrix Grand Strategi dibawah ini terlihat keunggulan

bersaing BBKPM Bandung belum signifikan dibandingkan peluang bisnis yang

tersedia, sehingga perbaikan mutu internal kelembagaan masih dibutuhkan. Selain

itu karena berada pada kuadran II, BBKPM Bandung dalam pemenuhan

kebutuhan operasional masih memerlukan dukungan dari unit utama yaitu Ditjen

Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

(37)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 24

PENGEMBANGAN STRATEGI TERPILIH

1,0 2,0 3,0 4,0 5,0

5,0 4,0 3,0 2,0 1,0

1,0 2,0 3,0 4,0 5,0

1,0 2,0 3,0 5,0 4,0

Aggressive Strategy Turn Around Strategy

Diversivication Strategy Defensive Strategy

OPPORTUNITY

THREAT

ST RE NG TH W

EA KN ES S

- Backward, Forward, Horizontal Integration - Market Penetration

- Market Development - Product Development

- Diversification (related or unrelated) - Market Penetration

- Market Development - Product Development - Related Diversification

- Divestiture - Liquidation

- Backward, Forward, Horizntal Integration - Market Penetration

- Market Development - Product Development (-0,11 : 0,36)

Bagan 2.1 : Matrix Grand Strategi

3. Asumsi Makro dan Mikro a. Asumsi Makro 2015

Asumsi makro yang digunakan pada penyusunan RBA 2015 dibandingkan dengan realisasinya adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2 : Asumsi Makro Tahun 2015

No. Parameter Asumsi 2015 Realisasi 2015

1 Tingkat Inflasi 4,4% 5,7%

2 Tingkat Pertumbuhan

Ekonomi 5,6% 5%

3 Nilai tukar rupiah / kurs 1 $ Rp. 11.900,- /per dollar AS

Rp. 14.200,- /per dollar AS

4 Tingkat Bunga SPN 3 bulan 6,2% 6,2%

Sumber : Salinan Pidato Presiden RI pada Penyampaian RUU APBN 2015 beserta Nota Keuangan

(38)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 25 Dalam perkembangan global saat ini dengan laju pertumbuhan ekonomi yang rendah, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mengalami pelemahan diperkirakan akan berdampak terhadap kunjungan pasien ke BBKPM akan menurun sehingga mengakibatkan penerimaan pendapatan BBKPM Bandung juga menurun.

Asumsi Makro jelas akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi global baik langsung maupun tak langsung yaitu :

a. Berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, semakin rendah PDB, daya beli masyarakat menurun sehingga kemampuan untuk memeriksakan kesehatannya/berobat semakin rendah.

b. Pertumbuhan Ekonomi : semakin rendah pertumbuhan ekonomi tingkat kesadaran masyarakat untuk hidup sehat semakin susah dan berkurang. Hal ini berpengaruh negatif pada pemanfaatan BBKPM sebagai sarana pelayanan kesehatan paru.

c. Tingkat Inflasi: semakin rendah inflasi berpengaruh langsung pada belanja modal/investasi, harga obat, alat dan bahan habis pakai lainnya semakin mahal. sehingga pemenuhan kebutuhan investasi, obat, alat dan bahan habis pakai lainnya semakin sulit.

b. Asumsi Mikro 2015

Asumsi mikro yang dipergunakan pada penyusunan RBA tahun 2015

dibandingkan dengan realisasinya adalah sebagai berikut :

(39)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 26 Tabel 2.3 : Asumsi Mikro Tahun 2015

No. Parameter Asumsi 2015 Realisasi

2015

1 Anggaran Gaji PNS sebesar 20 % dari total anggaran 20%

2 Anggaran Biaya

operasional sebesar 31 % dari total anggaran 31%

3 Anggaran Biaya

Investasi sebesar 49 % dari total anggaran 49%

4 Tarip pelayanan berdasarkan Unit Cost 100%, 90%

5 Kebutuhan

Pengembangan SDM terpenuhi 100% 80%

6 Alat medik berfungsi sebesar 96,88 % berfungsi sebesar 93%

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Anggaran Gaji PNS sebesar 20 % dari total anggaran sehingga masih terdapat kekurangan dalam menutupi biaya operasional.

 Anggaran Biaya Operasional sebesar 31 % dari total anggaran untuk menutup biaya operasional rumah sakit agar pelayanan berjalan maksimal.

 Anggaran Biaya Investasi sebesar 49 % dari total anggaran belanja agar kebutuhan pembangunan gedung, alat medik dan non medik terpenuhi sehingga pendapatan meningkat.

 Tarip pelayanan Rumah Sakit berdasarkan Unit Cost 100%, sehingga mampu meningkatkan pendapatan sesuai cost atau biaya yang dikeluarkan rumah sakit.

 Pemenuhan kebutuhan SDM 100% diharapkan dapat mendukung

pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi.

(40)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 27

 Alat medik berfungsi sebesar 96,88 % sehingga bisa mendukung pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi.

c. Asumsi Makro 2016

Asumsi mikro yang dipergunakan pada penyusunan RBA tahun 2016 terdiri dari :

Tabel 2.4 : Asumsi Mikro Tahun 2016

No. Parameter Asumsi 2016

1 Anggaran Gaji PNS sebesar 17 % dari total anggaran 2 Anggaran Biaya operasional sebesar 28% dari total anggaran 3 Anggaran Biaya Investasi sebesar 55% dari total anggaran 4 Tarip pelayanan berdasarkan Unit Cost 100%, 5 Kebutuhan Pengembangan SDM terpenuhi 100%

6 Alat medik berfungsi sebesar 96,88 %

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Anggaran Gaji PNS sebesar 17% dari total anggaran sehingga masih terdapat kekurangan dalam menutupi biaya operasional.

 Anggaran Biaya Operasional sebesar 28% dari total anggaran untuk menutup biaya operasional agar pelayanan berjalan maksimal.

 Anggaran Biaya Investasi sebesar 55% dari total anggaran belanja agar

kebutuhan pembangunan gedung, alat medik dan non medik terpenuhi

sehingga pendapatan meningkat.

(41)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 28

Tarip pelayanan berdasarkan Unit Cost 100%, sehingga mampu meningkatkan pendapatan sesuai biaya yang dikeluarkan.

 Pemenuhan kebutuhan SDM 100% diharapkan dapat mendukung pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi.

 Alat medik berfungsi sebesar 96,88 % sehingga bisa mendukung pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi.

d. Asumsi Mikro 2016

Asumsi mikro yang dipergunakan pada penyusunan RBA tahun 2016 terdiri dari :

Tabel 2.5 : Asumsi Mikro Tahun 2016

No. Parameter Asumsi 2016

1 Anggaran Gaji PNS sebesar 17 % dari total anggaran 2 Anggaran Biaya operasional sebesar 28% dari total anggaran 3 Anggaran Biaya Investasi sebesar 55% dari total anggaran 4 Tarip pelayanan berdasarkan Unit Cost 100%, 5 Kebutuhan Pengembangan SDM terpenuhi 100%

6 Alat medik berfungsi sebesar 96,88 %

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Anggaran Gaji PNS sebesar 17% dari total anggaran sehingga masih

terdapat kekurangan dalam menutupi biaya operasional.

(42)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 29

 Anggaran Biaya Operasional sebesar 28% dari total anggaran untuk menutup biaya operasional agar pelayanan berjalan maksimal.

 Anggaran Biaya Investasi sebesar 55% dari total anggaran belanja agar kebutuhan pembangunan gedung, alat medik dan non medik terpenuhi sehingga pendapatan meningkat.

Tarip pelayanan berdasarkan Unit Cost 100%, sehingga mampu meningkatkan pendapatan sesuai biaya yang dikeluarkan.

 Pemenuhan kebutuhan SDM 100% diharapkan dapat mendukung pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi.

 Alat medik berfungsi sebesar 96,88 % sehingga bisa mendukung pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi.

B. Proses Penilaian Kinerja BLU 1. Capaian Kinerja BLU

Penialaian Kinerja BLU terdiri dari indikator kinerja keuangan (30%), indikator kinerja operasional (35%) dan indikator kinerja mutu pelayanan dan manfaat bagi masyarakat (35%). Prognosa Tingkat kinerja/kesehatan BBKPM Bandung pada tahun 2015 adalah 86,3%, atau berada pada level AA. Hal tersebut berdasarkan hasil perhitungan indikator kinerja keuangan sebesar 22,9%, hasil perhitungan indikator kinerja operasional sebesar 31,5%, dan hasil perhitungan indikator kinerja mutu pelayanan dan manfaat bagi masyarakat sebesar 31,9%.

Capaian Kinerja BLU Tahun 2015 tertuang dalam tabel berikut.

(43)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 30 Tabel 2.6 : Capaian Kinerja Berdasarkan Perdirjen 34/2014

No Sub Aspek / Kelompok Indikator / Indikator / Sub Indikator

Skor Standar

Capaian SMT I

Capaian Skor SMT I

Prognosa 2015

Prognosa Skor 2015 I. Keuangan

1. Rasio Kas 2 448,70 0,50 2267,18 0,25

2. Rasio Lancar 2,5 740,47 2,50 3682,19 2,5

3. Periode Penagihan Piutang 2 63,34 0,5 15,78 2

4. Perputaran Aset Tetap 2 55,81 0,5 10,69 1

5. Imbalan Atas Aset Tetap 2 -8,78 0 10,77 2

6. Imbalan Ekuitas 2 -2,08 0 9,70 2

7. Perputaran Persediaan 2 240,79 0 19,32 1

8. Rasio Pendapatan PNBP terhadap

Biaya Operasional 2,5 31,51 1,25 36,44 1,5

9. Rasio Subsidi Biaya Pasien 2 0 0 0 0

10. Rencana Bisnis dan Anggaran

(RBA) Definitif 2 2 2

11. Laporan Keuangan Berdasarkan

Standar Akuntansi Keuangan 2 1,9 1,85

12. Surat Perintah Pengesahan

Pendapatan dan Belanja BLU 2 2 2

13. Tarif Layanan 1 1 1

14. Sistem Akuntansi 1 0,8 0,8

15. Persetujuan Rekening 0,5 0,5 0,5

16. SOP Pengelolaan Kas 0,5 0,5 0,5

17. SOP Pengelolaan Piutang 0,5 0,5 0,5

18. SOP Pengelolaan Utang 0,5 0,5 0,5

19. SOP Pengadaan Barang dan Jasa 0,5 0,5 0,5

20. SOP Pengelolaan Barang Inventaris 0,5 0,5 0,5

TOTAL ASPEK Keuangan 30 15,95 22,9

No Sub Aspek / Kelompok Indikator / Indikator / Sub Indikator

Skor Standar

Capaian SMT I

Capaian Skor SMT I

Prognosa 2015

Prognosa Skor 2015 II. Operasional

a. Pertumbuhan Produktivitas 16 14,5 14,5

1.

Perumbuhan Rata-rata

Kunjungan Rawat Jalan 2 0,97 1,5 0,98 1,5

2.

Pertumbuhan Rata-rata

Kunjungan Rawat Darurat 2 4,5 2 4,5 2

3.

Pertumbuhan Rata-rata Pemeriksaan Penunjang Diagnostik

-- -- -- -- --

4.

Pertumbuhan Kunjungan

One Day Care 2 5 2 5 2

5.

Pertumbuhan Pemeriksaan

Radiologi 2 0,94 1,5 1,00 1,5

6.

Pertumbuhan Jumlah

Operasi Mata -- -- -- -- --

(44)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 31

No Sub Aspek / Kelompok Indikator / Indikator / Sub Indikator

Skor Standar

Capaian SMT I

Capaian Skor SMT I

Prognosa 2015

Prognosa Skor 2015

7.

Pertumbuhan Pemeriksaan

Laboratorium 2 0,92 1,5 0,94 1,5

8.

Pertumbuhan Pemeriksaan

Penunjang Pelayanan -- -- -- -- --

9.

Pertumbuhan Rehab Medik 2 1,29 2 1,19 2

10.

Pertumbuhan Tindakan

Spesialistik 2 1,49 2 1,49 2

11.

Pertumbuhan Jumlah

Penyuluhan 2 1,12 2 1,12 2

b. Efisiensi Pelayanan 14 12,5 12,5

1.

Rasio Pasien Rawat Jalan

dengan Dokter 1 14,56 0,75 14,56 0,75

2.

Rasio Pasien Rawat Jalan

dengan Perawat 1 7,57 0,75 7,57 0,75

3.

Rasio Jumlah Pemeriksaaan Laboratorium dengan Analis Laboratorium

1 19,17 0,5 18,10 0,5

4.

Rasio Jumlah Pemeriksaan Penunjang Diagnostik dengan Dokter

-- -- -- -- --

5.

Rasio Jumlah Pemeriksaaan Radiologi dengan Petugas Radiographer

1 9,91 0,5 9,50 0,5

6.

Rasio Pasien Penunjang

Diagnostik dengan Perawat -- -- -- -- --

7.

Angka Kegagalan Hasil

Radiologi 2 0,51 2 0,66 2

8.

Angka Kegagalan Refraksi (Rehabilitasi Visus Pasca Operasi)

-- -- -- -- --

9.

Persentase Nilai Obat

Kadaluarsa 2 0,43 2 0,53 2

10.

Angka Pengulangan

Pemeriksaan Laboratorium 2 0,00 2 0,00 2

11.

Pengembalian Rekam Medik 2 100 2 100 2

12.

Rasio Penyuluhan dan

Petugas Penyuluhan 2 4,49 2 4,49 2

c. Perspektif Pertumbuhan

Pembelajaran 5 3,5 4,5

1.

Program Pendidikan dan

Pelatihan 2

Ada program dilaksanakan sebagian

1,5

Ada program dilaksanakan semuanya

2

2.

Penelitian 1

Ada program sedang dilaksanakan

0,5

Ada program dilaksanakan semuanya

1

3.

Program Reward dan

Punihisment 2

Ada program dilaksanakan sebagian

1,5

Ada program dilaksanakan sebagian

1,5

TOTAL ASPEK Operasional 35 30,5 31,5

(45)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 32

No Sub Aspek / Kelompok Indikator / Indikator / Sub Indikator

Skor Standar

Capaian SMT I

Capaian Skor SMT I

Prognosa 2015

Prognosa Skor 2015 III Mutu Pelayanan dan Manfaat Bagi Masyarakat

a. Mutu Pelayanan 12,5 12,5 12,5

1.

Emergency Response Time 2 0,46 2 0,46 2

2.

Waktu Tunggu Rawat Jalan 2 14,15 2 14,15 2

3.

Kecepatan Pelayanan Resep

Obat Jadi 1,5 15,17 1,5 15,45 1,5

4.

Waktu Tunggu Hasil

Laboratorium 1,5 0,68 1,5 0,65 1,5

5.

Waktu Tunggu Hasil

Radiologi 1,5 0,23 1,5 0,21 1,5

6.

Waktu Tunggu Sebelum

Tindakan 2 1,02 2 1,02 2

7.

Waktu Tunggu

Penyuluhan/Konseling 2 <45 menit 2 <45 menit 2

b. Mutu Klinik 10 9 9

1.

Angka Kematian di Gawat

Darurat 2 0 2 0 2

2.

Angka Kebutaan - - - - -

3.

Angka Kesalahan

Laboratorium 2 0 2 0 2

4.

Angka Infeksi Pasca Operasi - - - - -

5.

Proporsi Pasien TB BTA

Positif diantara Suspect 2 16,8 1,5 16,8 1,5

6.

Angka Kecacatan Mata - - - - -

7.

Angka Kesembuhan Pasien 2 74,2 1,5 74,2 1,5

8.

Angka Pasien yang Dirujuk - - - - -

9.

Kesalahan Pelayanan Obat 2 0 2 0 2

c. Kepedulian Kepada Masyarakat 8 6 7,5

1.

Pembinaan kepada Puskesmas dan Sarana Kesehatan Lain

2

Ada program dilaksanakan

sebagian

1,5

Ada program dilaksanakan

semuanya 2

2.

Penyuluhan Kesehatan 2

Ada program dilaksanakan

sebagian

1,5

Ada program dilaksanakan

semuanya 2

3.

Pelayanan Pasien Tidak

Mampu 2 24,5% 1,5 24,5% 1,5

4.

Pemberdayaan Masyarakat 2

Ada program dilaksanakan

sebagian

1,5

Ada program dilaksanakan semuanya

2

d. Kepuasan Pelanggan 2 1,8 1,9

1.

Penanganan Pengaduan 1 100 % 1 100 % 1

2.

Kepuasan Pelanggan 1 80,4 % 0,8 86,4 % 0,9

e. Kepedulian Terhadap

Lingkungan 2,5 1 1

1.

Program Balai Besar Berseri 1,5

Ada dan dilaksanakan

sebagian

0,5

Ada dan dilaksanakan

sebagian

0,5

(46)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 33

No Sub Aspek / Kelompok Indikator / Indikator / Sub Indikator

Skor Standar

Capaian SMT I

Capaian Skor SMT I

Prognosa 2015

Prognosa Skor 2015

2.

Proper Lingkungan (KLH) 1

Ada dan dilaksanakan

sebagian

0,5

Ada dan dilaksanakan

sebagian

0,5 TOTAL ASPEK Mutu Pelayanan Dan

Manfaat bagi Masyarakat 35 30,3 31,9

TOTAL 100 76,75 86,3

Tabel 2.7 : Capaian Kinerja berdasarkan RSB

NO SASARAN PROGRAM/

KEGIATAN INDIKATOR KINERJA TARGET

REALI SASI SEMES

TER I 2015

PROG NOSA

2015

I Financial Perspective

A

Terwujudnya optimalisasi pendapatan dari Pelayanan Kesehatan Paru

1 Jumlah pendapatan (Rp) 6,3 M 3,28 6,43 II Stakeholder

A Terwujudnya Kepuasan Stakeholder

2 % kepuasan pasien pelayanan

kesehatan paru 65% 80,4 80,4

3 % kepuasan lembaga/institusi >60 87,33 87,33 4 % kepuasan peserta peneliti

dan diklat 45% 91,26 91,26

5 % kepuasan pegawai BBKPM

Bandung 75% 79 79

III Internal Bussines Process

A

Terwujudnya kualitas dan kuantitas penelitian dan diklat kesehatan paru

6 % Penelitian kesehatan paru

terimplementasi 45% 50 50

7 % Terlaksananya Pendidikan

dan Pelatihan Kesehatan Paru 45% 50 50

B

Terwujudnya Pelayanan Prima Kesehatan Paru Masyarakat dengan Unggulan Asma-PPOK

8

Akreditasi Kelembagaan BBKPM (Akreditasi Dasar: 4 Mayor dan 11 minor ;

Akreditasi Madya: 8 Mayor dan 7 minor ; Akreditasi Utama: 12 Mayor dan 3 Minor)

6% 30 50

9 % Tindak lanjut hasil temuan

Audit Sistem Manajemen 80% 50 80

10 % Tindak lanjut hasil temuan

Audit Keuangan 75% 50 75

11 % Layanan pasien Asma dan

PPOK 70% 94,6 94,6

C

Terwujudnya kerjasama lintas sektor dan lintas program dibidang kesehatan paru masyarakat

12

% tersusun dan

terimplementasinya program pembinaan wilayah kerja BBKPM Bandung di 13 provinsi

2 propinsi 1 2

13 MOU/kejasama

terimplementasi >3 12 12

(47)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 34

NO SASARAN PROGRAM/

KEGIATAN INDIKATOR KINERJA TARGET

REALI SASI SEMES

TER I 2015

PROG NOSA

2015

Terwujudnya Efisiensi Pelayanan Kesehatan Paru BBKPM Bandung

14 % Waktu layanan 65% 69,5 70

D 15 % Utilisasi sumber daya

manusia 80% 83,8 85

16 % Utilisasi peralatan layanan

kesehatan paru 45% 93 93

IV Learn & Growth Perspective

A

Terpenuhinya sarana dan prasarana yang sesuai dengan kebutuhan baik kualitas maupun kuantitas dalam pelayanan kesehatan paru masyarakat

17 % pengembangan sarana

gedung Layanan kesehatan paru 70% 40 70 18

% peralatan utama dan penunjang kesehatan paru sesuai best practice

60% 100 100

19

% kelengkapan peralatan &

sarana kesehatan paru untuk aktivitas di luar gedung

80% 100 100

B Terwujudnya manajemen SDM excellent

20 % Penilaian Kinerja dan

Insentif Pegawai 60% 60 65

21 % SDM sesuai dengan

kebutuhan 65% 60 70

C

Terwujudnya sistem informasi Kesehatan yang terpadu dan berdaya guna di BBKPM Bandung

22

% Tersusunnya dan terimplementasinya roadmap pengembangan Sistem Informasi BBKPM terintegrasi

70% 50 70

23

% Terkoneksinya Sistem Informasi BBKPM dengan sistem rujukan antar rumah sakit se Bandung Raya (SPGDT)

50% 30 50

D Terwujudnya Budaya

Berkinerja 24 %Personil yang kompeten 65% 65 65

2. Capaian Kinerja Pelayanan

Tabel 2.8 : Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Umum

No Uraian Target

Realisasi sd Juni

2015

% Prognosa 2015

1 Pendaftaran 26,500 11435 43 22,869

2 Kunjungan Rawat Jalan 26,500 11435 43 22,869

3 Hari Perawatan Rawat Inap kls III 0 0 0 0

4 Hari Perawatan Rawat Inap kls II 0 0 0 0

5 Hari Perawatan Rawat Inap kls I 0 0 0 0

6 Hari Perawatan Rawat Inap VIP 0 0 0 0

7 Pemeriksaan Radiologi 9,083 4457 49 8,914

8 Pemeriksaan Laboratorium 33,887 15,067 44 30,134

(48)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 35

No Uraian Target

Realisasi sd Juni

2015

% Prognosa 2015

9 Tindakan ringan 125 85 68 179

10 Tindakan Sedang 512 306 60 612

11 Tindakan Paru

a. Tindakan Kecil 1196 852 71 1,722

b. Tindakan Sedang 20 11 55 39

c. Tindakan Besar 2 0 0 1

d. Bronkoskopi 6 0 0 2

e. EKG 428 409 96 818

12 Farmasi 17,667 7836 44 15672

13 Kunjungan Rehab Medik 1,967 766 39 1532

14 Penyuluhan dan konseling 1729 812 47 1,624

15 Penelitian 4 4 100 4

16 Diklat 0 0 0 0

17 Magang 2 2 100 2

Tabel 2.9 : Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Jalan

No Kode Deskripsi Target Realisasi

Sd Juni % Prognosa 2015 1 F-5-14-0 PSIKOTHERAPI INDIVIDU

DEWASA BUKAN AKUT 2

1 50

2

2 J-2-32-0 PROSEDUR DADA

INTERMEDIATE 10

5 50 10

3 J-3-13-0 PROSEDUR TERAPI SALURAN

PERNAFASAN 384

192 50 384

4 J-3-16-0 PROSEDUR UJI FUNGSI PARU 698

349 50 698

5 M-3-11-0

PROSEDUR DIAGNOSTIK DAN TERAPEUTIK MUSKULOSKELETAL

74

37 50

74

6 M-3-16-0

PROSEDUR THERAPI FISIK DAN PROSEDUR KECIL MUSKULOSKLETAL

244

122 50

244

7 Q-5-12-0 GIGI 2 1 50 2

8 Q-5-18-0 KONSULTASI ATAU

PEMERIKSAAN LAIN-LAIN 6560

3280 50

6560

9 Q-5-19-0 KONTAK PELAYANAN

KESEHATAN LAIN-LAIN 230

115 50 230

10 Q-5-25-0 GASTROINTESTINAL AKUT 12

6 50 12

11 Q-5-26-0 BRONKIAL AKUT 1166 583 50 1166

(49)

BAB II Kinerja Tahun 2015 dan RBA Tahun 2016 36

No Kode Deskripsi Target Realisasi

Sd Juni % Prognosa 2015

12 Q-5-29-0

GAGAL JANTUNG

KONGESTIF DAN KONDISI JANTUNG LAIN-LAIN

40 20 50 40

13 Q-5-32-0 SALURAN KEMIH AKUT 4 2 50 4

14 Q-5-33-0 HEMATOLOGI AKUT 14 7 50 14

15 Q-5-34-0 INFEKSI VIRUS HIV 2 1 50 2

16 Q-5-35-0 INFEKSI AKUT 12 6 50 12

17 Q-5-38-0 PARU AKUT 372 186 50 372

18 Q-5-40-0 INFEKSI SALURAN KEMIH

AKUT 6

3 50 6

19 Q-5-41-0 PENYAKIT AKUT BESAR

LAIN-LAIN 18

9 50 18

20 Q-5-42-0 PENYAKIT AKUT KECIL

LAIN-LAIN 460

230 50 460

21 Q-5-43-0 PENYAKIT KRONIS BESAR

LAIN-LAIN 816

408 50 816

22 Q-5-44-0 PENYAKIT KRONIS KECIL

LAIN-LAIN 10360

5180 50 10360

23 Z-3-12-0 PROSEDUR REHABILITASI 426

213 50 426

24 J-3-15-0 PROSEDUR BRONKOSKOPI 3

1.5 50 3

TOTAL 21915 10957.5 21915

Tabel 2.10 : Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Inap

No Kode Deskripsi Target Realisasi

Sd Juni % Prognosa 2015 1 J-4-15-I PERADANGAN DAN INFEKSI

PERNAFASAN RINGAN 0 0 0 0

2 J-4-15-II PERADANGAN DAN INFEKSI

PERNAFASAN SEDANG 0 0 0 0

3 J-4-15-III PERADANGAN DAN INFEKSI

PERNAFASAN BERAT 0 0 0 0

4 J-4-16-I SIMPLE PNEUMONIA &

WHOOPING COUGH RINGAN 2 0 0 2

5 J-4-16-II SIMPLE PNEUMONIA &

WHOOPING COUGH SEDANG 2 0 0 2

6 J-4-16-III SIMPLE PNEUMONIA &

WHOOPING COUGH BERAT 0 0 0 0

7 J-4-17-I PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF

KRONIS RINGAN 2 0 0 2

8 J-4-17-II PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF

KRONIS SEDANG 2 0 0 2

9 J-4-17-III PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF

KRONIS BERAT 0 0 0 0

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sistem akuntansi penjualan kredit pada Perusahaan Pertenunan Santa Maria belum baik, terlihat dari dari adanya perangkapan tugas

Tujuan Kegiatan : Melalui kegiatan demonstrasi, peserta didik mampu membuat kolase bentuk ikan menggunakan biji-bijian dengan baik. Langkah-langkah :

Firman Tuhan dalam Alkitab mengajarkan kepada kita, bagaimana harus menempatkan diri sebagai orang yang percaya, sehingga kehidupan kita benar-benar dituntun dengan hikmat

Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi BAP 1 ppm + IAA 3 ppm memberikan pengaruh lebih baik pada diameter batang planlet pisang raja bulu dibandingkan dengan penelitian sebelumnya

a) 2 buah benda uji untuk uji kuat tarik badan dan perpanjangan putus yang dipotong dari bagian badan ban dalam pada kedua sisi yang berlawanan; dan.. Lakukan

4. Menentukan prosedur pengolahan data-data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, kemudian dianalisa. Untuk pemetaan bangunan bersejarah akan.. menetapkan posisi

Sampai saat ini belum diketahui faktor-faktor yang me- nyebabkan penyakit ini menjadi berat, karena tidak ada perbedaan klinis dan laboratoris antara pasien yang jatuh ke dalam

Mallaby atau yang mempunyai nama lengkap Aubertin Walter Sothern Mallaby yang lahir lahir di Britania Raya, 12 Desember 1899 adalah jendral yang membawa