• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Bedah sesar adalah proses persalinan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Seksio sesarea terbagi menjadi dua yakni yang dilakukan secara elektif (terencana) maupun seksio sesarea yang dilakukan pada kondisi cito (segera). Ada beberapa alasan yang menyebabkan dilakukan tindakan seksio sesarea elektif (terencana) antara lain diameter pinggul tidak cukup untuk persalinan secara normal, bayi letak sungsang, placenta previa, bekas seksio sesarea sebelumnya dan juga atas permintaan pasien yang tanpa indikasi (Cunningham,.2010). Infeksi karena operasi berbeda menurut jenis luka operasinya. Klasifikasi jenis luka operasi terbagi menjadi luka operasi bersih, bersih terkontaminasi, dan kotor.

Klasifikasi ini menentukan jenis penggunaan antibiotik yaitu untuk tujuan profilaksis atau terapeutik (Sjamsuhidajat, R., dan De Jong., 2010). Bedah sesar termasuk dalam operasi bersih terkontaminasi yang mempunyai kemungkinan infeksi sebesar 5-15 %, karena luka operasi yang menembus respiratorius, traktus gastrointestinals dan traktus urogenitalis namun masih dalam kondisi yang terkendali dan tanpa kontaminasi yang bermakna (CDC, 2017).

World Health Organization (WHO) menetapkan standar rata-rata sectio caesarea di sebuah negara adalah sekitar 5-15% per 1000 kelahiran di dunia Tingkat caesarean section di Indonesia mencapai 15,3%. Data ini menunjukkan angka yang sudah melewati batas maksimal standar World Health Organization (WHO). WHO menetapkan indikator caesarean section 5-15% untuk setiap negara, jika tidak sesuai indikasi caesarean section dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi (Suryati T, 2012). Endometritis, infeksi saluran kemih, infeksi luka operasi, dan sepsis merupakan komplikasi yang sering menyertai caesarean section (Schalkwyk, 2010). menurut RISKESDAS tahun 2013 tingkat persalian sectio caesarea di Indonesia sudah melewati batas maksimal standar WHO dan peningkatan ini merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health). Tingkat persalinan section caesarea di

(2)

Indonesia 15,3% sampel dari 20.591 ibu yang melahirkan kurun waktu 5 tahun disurvey dari 33 provinsi. Gambaran adanya faktor resiko ibu saat melahirkan atau di operasi caesarea adalah 13,4% karena ketuban pecah dini, 5,49% karena Preeklampsia, 5,14% karena pendarahan, 4,40% kelainan letak janin, 4,25%

karena jalan tertutup, 2,3% karena rupture uterus (RIKESDAS, 2013).

Wanita yang melakukan bedah sesar memiliki risiko infeksi lebih besar 5- 20 kali lipat dibandingkan persalinan normal (Purnamaningrum, 2013). Infeksi bedah sesar yang umumnya terjadi, yaitu demam, endometritis, infeksi luka, infeksi saluran kemih (Smaill&Hofmeyr, 2007). Tanda infeksi pasca bedah dapat berupa purulent (nanah), peningkatan drainase (adanya cairan luka), nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih (Aryshire&Arran, 2012). Resiko infeksi dari tindakan bedah sesar tersebut dapat diturunkan dengan adanya pemberian antibiotik profilaksis. Pemberian antibiotik ini dapat menurunkan resiko endometritis sebesar 60-70% dan menurunkan resiko luka infeksi sebesar 30-65% (Prasetya, 2013).

Antibiotik yang digunakan meliputi antibiotik profilaksis dan antibiotik terapi. Antibiotik profilaksis merupakan antibiotik yang diberikan sebelum tindakan seksio sesarea. Sedangkan antibiotik terapi adalah antibiotik yang diberikan setelah tindakan seksio sesarea dilakukan. Menurut Goodman dan Gilman (2012), adapun antibiotik profilaksis yaitu: sefazolin, seftriakson, dan sefotaksim penggunaan secara iv, dan untuk pemberian antibiotik terapi yaitu:

sefotaksim dan seftriakson secara injeksi. beberapa faktor penting dalam penggunaan antibiotik yang efektif dan bijaksana untuk profilaksis pembedahan, yaitu: Harus ada aktivitas antimikroba pada lokasi luka saat penutupan, dengan demikian, obat sebaiknya diberikan tidak lama sebelum operasi untuk prosedur yang diperpanjang. Antibiotik harus aktif terhadap mikroorganisme yang memiliki kemungkinan terbesar untuk mengontaminasi. Oleh karena itu, sefalosporin adalah antibiotik pada bentuk kemoprofilaksis ini. Terdapat banyak bukti bahwa penggunaan obat-obat yang berlanjut setelah prosedur pembedahan tidak dibenarkan berpotensi membahayakan.

(3)

Antibiotik secara praktis umumnya diberikan pada saat induksi anestesi tetapi untuk menghindari masuknya antibiotik pada janin antibiotik dapat diberikan setelah penjepitan tali pusar dan mungkin perlu diberikan kembali untuk memelihara konsentrasi efektif obat dalam serum selama prosedur yang diperpanjang. Prosedur bedah sesar memiliki sifat operasi bersih terkontaminasi (tindakan bedah akan membuka saluran pernapasan dan saluran kemih), antibiotik yang disarankan adalah sefazolin yakni golongan sefalosporin generasi pertama dengan dosis 1 gram secara intravena (Goodman dan Gilman, 2012). Beberapa jenis antibiotik lainnya yang digunakan adalah golongan sefalosforin generasi satu sampai dengan generasi empat, sefalosforin yang sering digunakan untuk pemakaian bedah sesar antara lain yaitu: seftriakson, sefotaksim, sefazolin, dan sefuroxim. Akan tetapi dari semua golongan sefalosforin yang banyak digunakan yaitu: sefazolin, seftriakson, sefotaksim iv (Nurkusuma & Arlina Dewi,2017).

Pasien yang menggunakan terapi Antibiotik profilaksis pada bedah caesar sebaiknya diberikan pada saat tali pusat dijepit setelah bayi dilahirkan. Satu kali dosis pemberian antibiotik profilaksis sudah mencukupi dan kurang efektif dibandingkan dengan tiga dosis atau pemberian antibiotik selama 24 jam dalam mencegah infeksi. Jika tindakan berlangsung lebih dari 6 jam, atau kehilangan darah mencapai 1500 ml atau lebih, diberikan dosis antibiotik profilaksis yang kedua untuk menjaga kadarnya dalam darah selama tindakan berlangsung (WHO, 2007). Untuk pemberian dosis dengan dosis 1 gram setelah diberikan penjepitan pada tali pusar, lalu pemberiaan kembali 1 gram secara intramaskular, untuk intravena pada interval 6 jam dan 12 jam, sefotaksim dikelarifikasikan sebagai kategori kehamilan B. sefotaksim bekerja melintasi plasenta dan dapat ditemukan pada jaringan janin (DIH ed 17, 2009).

Berdasarkan hasil dari jurnal penelitian (Dika Prasetya, et al,2013). jenis antibiotik profilaksis dan antibiotik terapi yang paling banyak digunakan berturut- turut yakni sefotaksim. Secara prospektif dan Pemberian secara acak pada 70 wanita Dengan jumlah pemakaian sefotaksim yaitu 1 g/vial digunakan sebagai antibiotik profilaksis 1 kali pemakaian sedangkan untuk antibiotik terapinya digunakan 3 kali sehari. Dari data tersebut didapatkan hasil 66,21% untuk antibitotik profilaksis dan 64,86% antibiotik terapi dalam tingkat keberhasilan

(4)

dengan kriteria antara lain sembuh dengan luka oprasi yang baik dan kering. Data yang dianalisis meliputi kesesuaian jenis, dosis dan frekuensi antibiotik serta lama perawatan pasien dibandingkan dengan pedoman terapi dan jurnal.

Penelitian oleh A S Berkeley, et al.2015, sefotaksim termasuk dalam terapi morbiditas demam yang terkait dengan bedah sesar darurat. Secara prospektif dan secara acak 100 perempuan menerima 2 g sefotaksim di 1000 ml normal saline dengan lavage protocol atau 1g sefotaksim intravena setelah penjepitan tali pusar diikuti oleh 1-g dosis 6 dan 12 jam kemudian. 48 dari 55 wanita yang menerima sefotaksim mengalami komplikasi ketuban pecah dini, standart morbiditas demam terutama terkait dengan endometritis dan infeksi luka operasi dengan pemberian sefotaksim mendapatkan kriteria keberhasilan sembuh dengan luka kering dan efektif dalam mengurangi morbiditas demam pada pasien bedah sesar.

Berdasarkan data dan uraian diatas, maka akan dilakukan penelitian mengenai pola penggunaan Sefotaksim pada pasien bedah sesar. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSU) Sidoarjo karena merupakan rumah sakit terbesar di kota Sidoarjo dengan berbagai kelas sosial ekonomi pasien yang menjalani pengobatan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagimana pola pemakaiaan Antibiotik Sefotaksim pada pasien bedah sesar berdasarkan data klinik dan data laboratorium di RSUD Sidoarjo?

1.3. Tujuan penelitian 1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui pola penggunaan Sefotaksim untuk mendapatkan pola pengobatan yang rasional dan tepat pada periode 1 Januari 2018 – 30 Juni 2019

1.3.2. Tujuan Khusus

Mengetahui pola penggunaan Sefotaksim pada pasien bedah sesar terkait dosis, rute, dan lama pemberian pada pasien bedah sesar yang digunakan di RSUD Sidoarjo.

(5)

1.4. Manfaat penelitian 1.4.1. Bagi peneliti

Mengetahui penatalaksanaan dan menjadi acuan untuk penelitian dengan variabel yang berbeda

1.4.2. Bagi rumah sakit

Memberikan gambaran tentang pola penggunaan obat terhadap pasien bedah sesar pada instalasi farmasi rumah sakit dan sebagai pertimbangan pemilihan obat terhadap pelayanan farmasi klinis. Sebagai sumber informasi bagi RSUD Sidarjo

Referensi

Dokumen terkait

NO NAMA TEMPAT/TGL LAHIR NOMOR UJIAN JABATAN YANG DILAMAR. 108

Berbagi linkmelalui note dapat dilakukan oleh guru Anda, kawan-kawan Anda, maupun Anda sendiri. Apabila Anda ingin berdiskusi atau menanyakan sesuatu melalui

7.4.1 Laksana pelepasan, rujuk buku Panduan Ternakan Ikan Air Tawar (OPR/TPU/BP/TERNAKAN/Ikan Air Tawar) atau Modul AFS2001 Siri 6 – Penternakan Hidupan Akuatik dan rekodkan

Perbedaan muatan kurikulum di SMA dan MA, masalah-masalah yang dihadapi remaja pada jenjang sekolah menengah serta perbedaan hasil penelitian dari Rosemary (2008) yang menyebutkan

Berikut merupakan salah satu contoh pengujian yang dilakukan pada aplikasi ARMIPA yaitu pengujian ketepatan titik lokasi pada peta dan kamera dengan markerless

Komunikasi dan Informatika, yang mencakup audit kinerja atas pengelolaan keuangan negara dan audit kinerja atas pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Komunikasi dan

dimana analisis mutu dilakukan pengujian dilaboratorium yang meliputi uji kuat tarik untuk material baja ringan benda uji dibuat menjadi spesimen berdasarkan standar ASTM

Pada Ruang Baca Pascasarjan perlu dilakukan pemebersihan debu baik pada koleksi yang sering dipakai pengguna maupun