GAMBARAN RISIKO KEJADIAN NEUROPATI PERIFER PADA PENGENDARA GO-JEK COMMUNITY MEDAN
TAHUN 2018
SKRIPSI
Oleh
SUCI MASYITHAH NIM. 151000444
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
GAMBARAN RISIKO KEJADIAN NEUROPATI PERIFER PADA PENGENDARA GO-JEK COMMUNITY MEDAN
TAHUN 2018
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
SUCI MASYITHAH NIM. 151000444
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal: 16 Agustus 2019
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K.
Anggota : 1. dr. Mhd. Makmur Sinaga, M.S.
2. Ir. Kalsum, M. Kes.
Pernyataan Keaslian Skripsi
Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul
“Gambaran Risiko Kejadian Neuropati Perifer pada Pengendara Go-Jek Community Medan Tahun 2018” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya
sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, Agustus 2019
Suci Masyithah
Abstrak
Go-Jek merupakan salah satu jenis ojek online yang beroperasi di Indonesia. Go- Jek Community Medan merupakan komunitas Go-Jek pertama yang telah berhasil meraih predikat baik serta diakui oleh PT. GO-JEK INDONESIA wilayah Medan.
Pada saat bekerja pengendara Go-Jek melakukan gerakan menggenggam dan gerakan fleksi-ekstensi tangan secara terus menerus serta terpapar getaran dari mesin motor. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya neuropati perifer karena tangan mengalami trauma akibat gerakan fleksi-ekstensi dan getaran yang berulang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu mengenai gambaran risiko kejadian neuropati perifer pada pengendara Go-Jek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Dari 50 orang pengendara diketahui distribusi jenis neuropati pada pengendara Go-Jek Community Medan adalah 31 orang pengendara mengalami nyeri nosiseptif (62%) dan 19 orang pengendara mengalami nyeri neuropati (38%). Untuk mengurangi risiko terkena neuropati perifer sebaiknya pengendara Go-Jek Community Medan menggunakan sarung tangan yang dapat meredam getaran sepeda motor.
Kata kunci : Neuropati perifer, Go-Jek, karakteristik
Abstract
Go-Jek is online motorcycle that operates in Indonesia. Go-Jek Community Medan is the first Go-Jek community that has won a good title and recognized by PT. GO-JEK INDONESIA in Medan. Go-Jek rider do a hand movements (flexion- extension motion) continuously while riding and they are exposed to vibrations from the engine. This can cause peripheral neuropathy because the hands are traumatized by repeated flexion-extension movements and vibrations. This research was a descriptive study which is describing the risk of peripheral neuropathy on Go-Jek riders and the method used in this research is survey. The result of the research showed that there were 31 drivers have nociceptive pain (62%) and 19 riders have neuropathic pain (38%). It was recommended to Go-Jek Community Medan to use gloves to reduce vibration exposure.
Keywords : Peripheral neuropathic, Go-Jek, characteristic
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Risiko Kejadian Neoropati Perifer pada Pengendara Go- Jek Community Medan Tahun 2018”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang
ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes. selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
4. dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K. selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan petunjuk, saran dan bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
5. dr. Mhd. Makmur Sinaga, M.S. selaku dosen penguji I yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Ir. Kalsum, M.Kes. selaku dosen penguji II yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, M.P.H. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
8. Teristimewa untuk kedua orang tua tercinta, Ayahanda Isnul Bahar dan Ibunda Elizarni yang telah mendidik serta membesarkan penulis dengan kasih saying. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada adik penulis Miqdad Althoof Bahar.
9. Terima kasih penulis ucapkan kepada teman–teman penulis yang telah memberikan motivasi serta berbagi ilmu kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam penelitian ini, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata penelusi berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.
Medan, Agustus 2019
Suci Masyithah
Daftar Isi
Halaman
Halaman Persetujuan i
Halaman Penetapan Tim Penguji ii
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi viii
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xii
Daftar Lampiran xiii
Riwayat Hidup xiv
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 6
Tujuan Penelitian 6
Tujuan umum 6
Tujuan khusus 6
Manfaat Penelitian 7
Tinjauan Pustaka 8
Transportasi 8
Definisi transportasi 8
Pembagian fungsi transformasi 8
Sistem transportasi 9
Faktor ekstern yang mempengaruhi transportasi 10
Peranan transportasi 10
Ojek 11
PT. Go-Jek Indonesia 12
Definisi Go-Jek 12
Pilar Go-Jek 13
Layanan Go-Jek 13
Misi Go-Jek 15
Sistem kerja Go-Jek 15
Saraf 16
Pengertian saraf 16
Sistem saraf 16
Saraf perifer 17
Cedera saraf perifer 18
Neuropati Perifer 19
Definisi Neuropati Perifer 19
Klasifikasi Neuropati Perifer 20
Faktor risiko Neuropati Perifer 21
Gejala Neuropati Perifer 24
Diagnosis Neuropati Perifer 25
Pencegahan Neuropati Perifer 25
Landasan Teori 26
Kerangka Konsep 26
Metode Penelitian 27
Jenis Penelitian 27
Lokasi dan Waktu Penelitian 27
Populasi dan Sampel 27
Variabel dan Definisi Operasional 28
Metode Pengumpulan Data 29
Metode Pengukuran 29
Metode Analisis Data 31
Hasil Penelitian 32
Gambaran Umum Go-Jek Community Medan 32
Struktur Organisasi 32
Visi dan Misi Go-Jek Community Medan 33
Gambaran Umum Karakteristik Pengendara 34
Umur 34
Lama waktu kerja 34
Riwayat Diabetes Mellitus 35
Riwayat Rheumatoid Artritis 35
Merokok 36
Kategori Jenis Neuropati 36
Hubungan Karakteristik Individu dengan Jenis Neuropati
Pengendara Go-Jek Community Medan 37
Pembahasan 39
Gambaran Kejadian Neuropati Perifer pada Pengendara
Berdasarkan Umur 39
Gambaran Kejadian Neuropati Perifer pada Pengendara
Berdasarkan Lama Waktu Kerja 40
Gambaran Kejadian Neuropati Perifer pada Pengendara
Berdasarkan Riwayat Diabetes Mellitus 41
Gambaran Kejadian Neuropati Perifer pada Pengendara
Berdasarkan Riwayat Rheumatoid Artritis 42
Gambaran Kejadian Neuropati Perifer pada Pengendara
Berdasarkan Riwayat Merokok 43
Gambaran Kejadian Neuropati Perifer Berdasarkan Karakteristik
Pengendara Go-Jek Community Medan Tahun 2018 44
Keterbatasan Penelitian 45
Kesimpulan dan Saran 46
Kesimpulan 46
Saran 46
Daftar Pustaka 47
Lampiran 49
Daftar Tabel
No Judul Halaman
1 Distribusi Frekuensi Umur Pengendara Go-Jek Community Medan
34
2 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Kerja Pengendara Go-Jek Community Medan
34
3 Distribusi Frekuensi Riwayat Diabetes Mellitus Pengendara Go-Jek Community Medan
35
4 Distribusi Frekuensi Riwayat Rheumatoid Artritis Pengendara Go-Jek Community Medan
35
5 Distribusi Frekuensi Merokok pada Pengendara Go- Jek Community Medan
36
6 Distribusi Frekuensi Jenis Neuropati pada Pengendara Go-Jek Community Medan
36
7 Gambaran Karakteristik Individu dengan Jenis Neuropati Pengendara Go-Jek Community Medan
47
Daftar Gambar
No Judul Halaman
1 Kerangka konsep penelitian 26
Daftar Lampiran
Lampiran Judul Halaman
1 Kuesioner Penelitian 49
2.
3
Surat Izin Penelitian 52
Surat Selesai Penelitian 53
4 Master Data 54
5 Output 59
6 Dokumentasi 64
Riwayat Hidup
Penulis bernama Suci Masyithah berumur 22 tahun, dilahirkan di Medan pada tanggal 31 Agustus 1997. Penulis beragama Islam, anak pertama dari dua bersaudara dari Bapak Isnul Bahar dan Ibu Elizarni.
Pendidikan formal dimulai di TK Jasa Ibu Tahun 2002. Pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 04 Salasa Tangah Tahun 2003-2009, sekolah menengah pertama di MTs Negeri Padang Tarab Tahun 2009-2012, sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Baso Tahun 2012-2015, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara..
Medan, Agustus 2019
Suci Masyithah
Pendahuluan
Latar Belakang
Ojek adalah salah satu moda transportasi yang mudah ditemui di Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ojek merupakan sepeda motor yang dikembangkan dengan cara membonceng penumpang atau penyewa. Sekarang ini terdapat dua jenis ojek yang dapat ditemui yaitu ojek konvensional dan ojek online. Ojek konvensional adalah ojek yang masih beroperasi dengan cara penumpang atau penyewa bertemu secara langsung tanpa ada perantara. Sedangkan ojek online adalah ojek yang beroperasi melalui perantara aplikasi.
Untuk peraturan mengenai angkutan umum berbasis online telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa perusahaan yang menyediakan angkutan umum berbasis teknologi informasi dapat dilakukan secara mandiri atau bekerjasama dengan perusahaan/lembaga penyedia aplikasi berbasis teknologi informasi yang berbadan hukum. Perusahaan juga harus mengikuti ketentuan di bidang informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perusahaan yang memfasilitasi dalam pemberian pelayanan angkutan orang wajib bekerjasama dengan perusahaan angkutan umum yang telah memiliki izin penyelenggaraan angkutan. Perusahaan juga tidak boleh bertindak sebagai penyelenggara angkutan umum.
Indonesia. Salah satu komunitas Go-Jek di Medan adalah Go-Jek Community Medan yang beralamat di Jalan Mojopahit, Jalan Setia Budi, Jalan S Parman, dan Jalan Thamrin Baru Kota Medan. Go-Jek Community Medan merupakan komunitas Go-Jek pertama yang telah berhasil meraih predikat baik serta diakui oleh PT. GO-JEK INDONESIA wilayah Medan.
Motor yang digunakan oleh pengendara Go-Jek mengeluarkan getaran.
Mesin dan peralatan kerja mekanis yang dijalankan oleh motor penggerak menimbulkan getaran yaitu gerakan yang teratur dari benda atau media dari arah bolak-balik dari kedudukan keseimbangannya. Getaran ini menyebar kepada lingkungan dan merupakan bagian dari tenaga kerja atau benda yang terdapat di tempat kerja dan lingkungan kerja dalam bentuk getaran mekanis. Pada umumnya getaran mekanis yang berasal dari suatu mesin atau benda yang bergerak merupakan sesuatu hal yang tidak disukai dan tidak dikehendaki. Efek mekanis menyebabkan sel-sel jaringan dapat rusak atau metabolisme terganggu. Pada rangsangan reseptor, gangguan terjadi dapat melalui saraf sentral atau langsung pada system saraf otonom. Kedua mekanisme ini terjadi secara bersama-sama.
Hal ini dapat menyebabkan gangguan kenyamanan kerja, dalam hal ini pengaruh getaran mekanis kepada tenaga kerja hanya terbatas pada tidak dimungkinkannya bekerja secara nyaman, kemudian terjadinya kelelahan, dan dapat menimbulkan bahaya kesehatan seperti terjadinya neuropati perifer (Suma’mur,2009).
Pada saat bekerja pengendara Go-Jek melakukan gerakan menggenggam dan gerakan fleksi-ekstensi tangan secara terus menerus. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya neuropati perifer karena tangan mengalami trauma akibat
gerakan fleksi-ekstensi yang berulang. Gerakan berulang merupakan salah satu risiko neuropati perifer (Mahadewa, 2013).
Neuropati perifer didefenisikan sebagai kerusakan dari sistem saraf perifer, jaringan saraf tepi yang mengirimkan informasi dari otak dan sum-sum tulang belakang (sistem saraf pusat) ke setiap bagian tubuh lainnya dan sebaliknya. Kerusakan sistem saraf perifer akan mengganggu koneksi yang vital tersebut. Insiden neuropati perifer pada penduduk Amerika diperkirakan di atas 20 juta. Kerusakan saraf perifer ini terjadi pada semua umur, tetapi lebih sering pada orang tua. Sebuah survey menemukan bahwa 8-9% penderita yang berobat ke fasilitas kesehatan di Amerika memiliki neuropati perifer baik sebagai diagnosis primer maupun sekunder. Biaya tahunan yang dikeluarkan pemerintah Amerika dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap kerusakan saraf ini mencapai 3,5 miliar dolar (Mahadewa, 2013).
Neuropati perifer dapat diturunkan (herediter) ataupun didapat (acquired).
Penyebab dari neuropati perifer yang didapat (acquired) termasuk di dalamnya cedera fisik (trauma) pada saraf, penyakit sistemik seperti diabetes, tumor, toksin, gangguan respons autoimun, kekurangan gizi, alkoholisme, dan kerusakan pembuluh darah dan metabolism. Sedangkan pada neuropati perifer yang diturunkan (herediter) penyebabnya adalah Charot-Maric-Tooth disease (CMT), Dejerine Sottas syndrome (Salah satu jenis CMT tetapi lebih berat dan progressivitasnya lebih cepat) (Mahadewa, 2013).
Saraf perifer memiliki fungsi yang sangat khusus pada bagian tertentu tubuh, hal ini menyebabkan timbulnya beragam gejala apabila terjadi kerusakan.
Beberapa penderita akan mengalami anesthesia temporal, kesemutan, paresthesia, sensitive terhadap sentuhan atau terjadi kelemahan otot. Penderita lainnya mungkin akan merasakan gejala yang lebih ekstrem seperti nyeri terbakar (terutama pada malam hari), atropi otot, paralisis atau disfungsi organ dan kelenjer. Penderita menjadi tidak mampu mencerna makanan dengan baik, menjaga tekanan darah dan pengeluaran keringat, dan abnormalitas fungsi seksual. Pada kasus yang sangat ekstrem akan terjadi gagal napas dan dan kerusakan organ. Neuropati dapat melibatkan kerusakan hanya satu saraf atau sering disebut mononeuropati, sedangkan yang melibatkan banyak saraf dan mengenai lebih dari satu ekstremitas sering disebut polineuropati. Pada Mononeuropati multiplex, dua atau lebih saraf perifer yang tidak berdekatan dalam bagian terpisah di tubuh terkena. Neuropati Perifer dapat membahayakan nyawa dan mengganggu kualitas hidup penderita. Diagnosis yang tepat dan penatalaksanaan yang efesien akan dapat meringankan penderitaan dan mengurangi biaya pengobatan yang dikeluarkan (Mahadewa, 2013).
Kesehatan adalah faktor sangat penting bagi produktivitas dan peningkatan produktivitas tenaga kerja selaku sumber daya manusia. Kondisi kesehatan yang baik merupakan potensi untuk meraih produktivitas kerja yang baik pula.
Pekerjaan yang menuntut produktivitas kerja tinggi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kerja dengan kondisi kesehatan yang prima. Sebaliknya keadaan sakit atau gangguan kesehatan menyebabkan tenaga kerja tidak atau kurang produktif dalam melakukan pekerjaannya. Tenaga kerja yang sakit dan tidak bekerja menyebabkan yang bersangkutan tidak produktif selama ia sakit dan tidak bekerja. Tenaga kerja
yang sakit atau terganggu kesehatannya yang masih melakukan pekerjaan biasanya tidak memperlihatkan hasil kerja sebagaimana halnya jika ia sehat atau tidak terganggu kesehatannya. Tenaga kerja yang sakit atau mengalami gangguan kesehatan menurun dalam kemampuan bekerja fisik, berfikir, atau melaksanakan pekerjaan sosial-kemasyarakatan sehingga hasil kerjanya berkurang. Sangat rendahnya produktivitas pada tenaga kerja yang secara klinis sakit adalah hal biasa, tetapi tidak jarang bahwa gangguan kesehatan yang tidak berarti pun dapat saja mengakibatkan sangat rendahnya produktivitas kerja (Suma’mur, 2009).
Penelitian yang dilakukan oleh Syahputra (2015) mengenai Hubungan Lama Kerja dan Masa Kerja dengan Neuropati Perifer pada Supir Angkutan Kota Trayek 95 Di Kota Medan Tahun 2015 menunjukkan bahwa dari 40 supir angkutan kota trayek 95, 14 supir mengalami nyeri nosiseptif dan 26 supir mengalami nyeri neuropati dengan intensitas nyeri yang terbanyak adalah nyeri sedang sebanyak 17 orang (42,5%).
Penelitian yang dilakukan oleh Candra (2015) mengenai Hubungan Lama Paparan Getaran Tangan dengan Keluhan Kesehatan pada Pekerja Cukur Rambut di Kelurahan Padang Bulan I Medan 2015 menunjukkan bahwa pekerja yang mengalami keluhan kesehatan berjumlah 47 orang (52,8%). Keluhan kesehatan berupa kesemutan berjumlah 13 orang (14,6%), penurunan kemampuan sensori panas berjumlah 15 orang (16,9%), penurunan kemampuan merasakan perbedaan nyeri sebanyak 11 orang (12,4%), dan penurunan kemampuan raba sebanyak 8 orang (9,0%).
Berdasarkan wawancara singkat yang dilakukan dengan pengendara Go-
Jek Community Medan didapat informasi bahwa rata-rata jam kerja mereka lebih dari 8 jam per hari. Pada pengendara Go-Jek, semakin lama mereka bekerja maka semakin lama pula mereka melakukan gerakan fleksi dan ekstensi pada saat menggenggam stang motor. Gerakan berulang yang berlebihan merupakan salah satu penyebab terjadinya Neuropati Perifer. Keluhan yang mereka rasakan diantaranya adalah perasaan mati rasa, kesemutan dan keram pada tangan. Melihat permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai kejadian Neuropati perifer pada pengendara Go-Jek Community Medan.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana Gambaran Risiko Kejadian Neuropati Perifer pada Pengendara Go-Jek Community Medan Tahun 2018?”
Tujuan Penelitian
Tujuan umum. Untuk mengetahui gambaran risiko kejadian neuropati perifer pada pengendara Go-Jek Community Medan Tahun 2018.
Tujuan khusus. Tujuan khusus penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui gambaran risiko kejadian neuropati perifer berdasarkan lama waktu kerja pada pengendara Go-jek Community Medan pada tahun 2018
2. Untuk mengetahui gambaran risiko kejadian neuropati perifer berdasarkan umur pada pengendara Go-jek Community Medan pada tahun 2018
3. Untuk mengetahui gambaran risiko kejadian neuropati perifer berdasarkan riwayat Diabetes mellitus pada pengendara Go-jek Community Medan pada tahun 2018
4. Untuk mengetahui gambaran risiko kejadian neuropati perifer berdasarkan riwayat Rheumatoid atritis pada pengendara Go-jek Community Medan pada tahun 2018
5. Untuk mengetahui gambaran risiko kejadian neuropati perifer berdasarkan riwayat merokok pada pengendara Go-jek Community Medan pada tahun 2018
Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan referensi mengenai faktor-faktor risiko kejadian neuropati perifer pada pengendara Go-Jek sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan sumber informasi, sumber referensi, dan tambahan studi pustaka bagi Universitas Sumatera Utara.
3. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai neuropati perifer.
4. Memberikan informasi kepada pekerja mengenai kejadian neuropati perifer sehingga upaya pencegahan dini dapa dilakukan.
Tinjauan Pustaka
Transportasi
DefInisi Transportasi. Transportasi sebagai dasar untuk pembangunan ekonomi dan perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industrialisasi.
Dengan adanya transportasi menyebabkan, adanya spesialisasi atau pembagian pekerjaan menurut keahlian sesuai dengan budaya, adat-istiadat, dan budaya suatu bangsa atau daerah. Pertumbuhan perekonomian suatu negara atau bangsa tergantung pada tersedianya pengangkutan dalam bangsa atau negara yang bersangkutan. Suatu barang atau komoditi mempunyai nilai menurut tempat dan waktu, jika barang tersebut dipindahkan ke tempat lain.
Dalam transportasi kita melihat dua kategori yaitu pemindahan bahan- bahan dan hasil-hasil produksi dengan menggunakan alat angkut dan mengangkut penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Transportasi adalah kegiatan pemindahan barang (muatan) dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lain.
Dalam transportasi terlihat ada dua unsur penting yaitu pemindahan/pergerakan (movement) dan secara fisik mengubah tempat dari barang (komoditi) dan penumpang ke tempat lain (Salim, H. A, 2006).
Pembagian Fungsi Transportasi. Transportasi dapat kita golongkan menjadi dua bagian yaitu:
1. Angkutan penumpang, yaitu menggunakan mobil/kendaraan pribadi dan alat angkut lainnya
2. Selain mobil pribadi yang digunakan untuk mengangkut penumpang, digunakan pula kendaraan untuk angkutan umum seperti, bis, pesawat
3. udara, kereta api, kapal laut, kapal penyeberangan dan pelayaran Samudera Luar Negeri.
Sistem Transportasi. Sistem transportasi terdiri atas angkutan muatan (barang) dan manajemen yang mengelola angkutan tersebut.
1. Angkutan Muatan
Sistem yang digunakan untuk mengangkut barang-barang menggunakan alat angkut tertentu dinamakan moda transportasi (mode of transformation). Dalam pemanfaatan transportasi ada tiga moda yang dapat digunakan yaitu pengankutan melalui laut (sea transportation), pengangkutan melalui darat (kereta api, bis, truk), dan pengangkutan melalui udara. Tiap moda transportasi mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda antara yang satu dan lainnya.
2. Manajemen
Manajemen sistem transportasi terdiri dari dua kategori:
a. Manajemen pemasaran dan penjualan jasa angkutan
Manajemen pemasaran bertanggung jawab terhadap pengoperasian dan pengusahaan di bidang pengangkutan. Selain itu bagian penjualan berusaha untuk mencari langganan sebanyak mungkin bagi kepentingan perusahaan.
b. Manajemen lalu lintas angkatan
Manajemen traffic bertanggung jawab untuk mengatur penyediaan jasa-jasa angkutan yang mengangkut dengan muatan, alat angkut dan biaya-biaya untuk operasi kendaraan.
Faktor ekstern yang mempengaruhi transportasi. Factor ekstern yang mempengaruhi transportasi ada 3.
1. Undang-undang / Peraturan Pemerintah
UU atau kebijakan pemerintah merupakan faktor yang dominan mempengaruhi terhadap pengelolaan usaha transportasi.
2. Kebijaksanaan / Pengaturan Pihak Pemerintah Pusat dan Daerah
Kebijaksanaan pemerintah yang ikut mempengaruhi atas usaha transportasi adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai pengadaan bis untuk umum (ada merek, jenis-jenis tertentu yang ditentukan oleh pemerintah yang bisa dipakai untuk umum) selain itu ada UU yang mengatur mengenai transportasi.
3. Pengaruh pemakai jasa (demand)
Perusahaan angkutan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa-jasa angkutan, agar memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada pengguna jasa. Bagi pemakai jasa yang diutamakan dalam soal pengankutan ialah aman, teratur, tertib, memuaskan, cepat serta menyenangkan. Tinggi rendahnya pendapatan (income) suatu perusahaan tergantung pada pelayanan yang diberikan pada masyarakat.
Peranan transportasi. Transportasi memiliki pengaruh yang besar terhadap perorangan, masyarakat, pembangunan ekonomi, dan sosial politik.
Pengangkutan merupakan sarana dan prasarana bagi pembangunan ekonomi negara yang bisa mendorong lajunya pertumbuhan ekonomi (Rate of Growth).
Transportasi bermanfaat bagi masyarakat, dalam arti hasil-hasil produksi
dan bahan-bahan baku suatu daerah dapat dipasarkan kepada perusahaan industri.
Hasil-hasil barang jadi yang diprosuksi oleh pabrik dijual produsen kepada masyarakat atau perusahaan–perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran.
Untuk mengangkut bahan-bahan baku dan barang dibutuhkan jasa-jasa transportasi (darat, laut, dan udara).
Selain itu transportasi melaksanakan penyebaran penduduk dan pemerataan pembangunan. Penyebaran penduduk ke seluruh pelosok tanah air di Indonesia menggunakan berbagai jenis moda transportasi.
Setiap daerah mempunyai kekhususan dalam arti spesialisasi yang berbeda pada masing-masing wilayah. Hasil-hasil suatu daerah yang dikarenakan spesialisasi geografis tersebut, akan dapat dijual atau dipasarkan, bilamana tersedia alat pengangkutan yang cukup serta memadai.
Selain peranan di atas, transportasi juga berperan dalam pebangunan nasional dan pembangunan seluruh wilayah Indonesia serta pertahanan dan Pertahanan dan Ketahanan bangsa Indonesia (Hankamnas). Di samping itu transportasi juga menciptakan dan meningkatkan standar kehidupan masyarakat secara menyekuruh (Salim, H. A,2006).
Ojek
Ojek termasuk ke dalam moda transportasi paratransit yaitu kendaraan penumpang kecil yang beroperasi secara tidak resmi dengan menarik ongkos dan melayani ke sejumlah tempat. Pada saat sekarang ini kita dapat menemui dua jenis ojek yang beroperasi di Indonesia yaitu ojek konvensional dan ojek online.
Ojek konvensional adalah ojek yang biasa kita temui di persimpangan
jalan atau di depan gang. Masing-masing pengendara ojek biasanya memiliki wilayah “mangkal” tertentu. Pengendara ojek dari wilayah lain tidak bisa dengan leluasa menerima penumpang yang bukan dari daerahnya. Sistem pembayaran ojek konvensional adalah dibayar secara langsung sesuai dengan kesepakatan harga. Tak jarang akan terjadi tawar-menawar antara pengendara ojek dengan penumpang.
Seiring dengan perkembangan zaman, ojek konvensional mulai digantikan dengan keberadaan ojek online. Ojek online memberikan pelayanan yang sama dengan ojek konvensional kepada penumpang yaitu mengantarkan mereka dengan selamat sampai di tujuan. Namun perbedaannya adalah pemesanan ojek dilakukan menggunakan aplikasi telepon genggam atau website. Untuk tarif yang dikenakan juga telah tertera di aplikasi sesuai dengan jarak yang akan di tempuh sehingga penumpang tidak bisa melakukan tawar-menawar.
Keberadaan ojek online bertujuan untuk mempermudah kehidupan masyarakat. Karena selain mengantarkan penumpang ke tujuan, ojek online juga menyediakan jasa pembelian makanan dan juga mengantarkan barang. Salah satu ojek online yang sedang berkembang di Indonesia terutama di kota Medan adalah Go-Jek.
PT. Go-jek Indonesia
Definisi Go-Jek. Go-Jek adalah perusahaan teknologi dengan misi sosial untuk meningkatkan kesejahteraan dan mata pencaharian di berbagai sektor informal di Indonesia. Go-Jek didirikan pada tahun 2010 oleh Nadiem Makarim sebagai layanan telepon untuk naik sepeda motor. Setelah 8 tahun beroperasi,
layanan Go-Jek telah mencangkup dalam layanan transportasi, logistik, pembayaran seluler, pengiriman makanan, dan juga layanan lainnya. Hingga saat ini, Go-Jek telah beroperasi di 50 kota di seluruh Indonesia yaitu Bali, Balikpapan, Banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Banjarmasin, Banyuwangi, Batam, Belitung, Bukittinggi, Cilacap, Cirebon, Garut, Gresik, Jakarta, Jambi, Jember, Karawang, Kediri, Madiun, Madura, Magelang, Makassar, Malang, Manado, Mataram, Medan, Mojokerto, Padang, Palembang, Pasuruan, Pekalongan, Pekanbaru, Pematang Siantar, Pontianak, Probolinggo, Purwakarta, Purwokerto, Salatiga, Samarinda, Semarang, Serang, Sidoarjo , Solo, Sukabumi, Sumedang, Surabaya, Tasikmalaya, Tegal, dan Yogyakarta. Untuk ke depannya Go-Jek akan terus berusaha agar layanannya dapat di akses di seluruh wilayah Indonesia.
Pilar Go-Jek. Ada 3 pilar pokok pada Go-Jek yaitu ; 1. Kecepatan
Go-Jek memberikan pelayanan yang cepat kepada konsumen. Bersama pengalaman Go-Jek akan terus tumbuh dan berkembang.
2. Inofasi
Go-Jek akan terus menawarkan teknologi terbaru dalam layanannya agar dapat membantu mempermudah kehidupan konsumen
3. Dampak Sosial
Go-Jek bekerja untuk menciptakan dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Layanan Go-Jek. Terdapat 16 layanan dalam aplikasi Go-Jek yang akan
membantu penggunanya, yaitu:
1. Go-Ride adalah layanan transportasi berupa ojek online yang dapat mengantarkan penumpang menuju tempat tujuan dengan aman
2. Go-Car adalah layanan Go-Jek berupa transportasi menggunakan mobil yang dapat mengantarkan penumpang dengan aman dan nyaman
3. Go-Bluebird adalah layanan transportasi menggunakan taksi online 4. Go-Food adalah layanan berupa pesan dan antar makanan secara online 5. Go-Send adalah layanan kurir yang dapat digunakan untuk mengirim
barang atau dokumen secara cepat dan mudah, tanpa ada batasan jarak di setiap wilayah
6. Go-Deal adalah layanan kurir yang dapat mengantarkan barang dengan ukuran yang besar menggunakan truk
7. Go-Pulsa adalah layanan untuk mengisi pulsa atau paket data secara online
8. Go-Bills adalah layanan pembayaran tagihan PLN, BPJS, Voucher Google Play, Multifinance, TV Kabel, dan Mobile Legends
9. Go-Box adalah layanan kurir untuk mengantaran barang dalam ukuran besar menggunakan truk
10. Go-Massage adalah layanan jasa pijat professional yang di prakarsai Go- Jek
11. Go-Daily adalah jasa pengantaran air mineral dalam kemasan
12. Go-Clean adalah layanan jasa membersihkan ruangan panggilan (on- demand)
13. Go-Glam adalah layanan kecantikan professional berupa salon rambut dan kuku yang akan datang ke lokasi yang ditentukan
14. Go-Tix adalah layanan untuk membeli tiket secara online, contohnya adalah tiket konser music, tiket bioskop, dan tiket lainnya
15. Go-Auto adalah layanan yang menyediakan jasa perawatan kendaraan 16. Go-Med adalah layanan untuk membeli obat maupun vitamin dari apotek
yang berlisensi.
Misi Go-Jek. Misi dari Go-Jek adalah menciptakan dampak sosial melalui teknologi. Go-Jek bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan sosial dengan memastikan efisiensi di pasar. Dampak positif yang berusaha disebarkan oleh Go- Jek dapat dilihat dari meningkatnya kesejahteraan pengendara Go-Jek baik dari segi pendapatan maupun standar hidup. Dengan bergabung dengan Go-Jek, pengendara juga mendapatkan santunan kesehatan dan kecelakaan. Selain itu, layanan utama Go-Jek seperti Go-Ride, Go-Car, dan Go-Food telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di perkotaan. Layanan ini sangat membantu dalam memudahkan urusahan masyarakat.
Sistem kerja Go-Jek. Waktu kerja pengendara Go-Jek adalah fleksibel.
Pengendara dapat menyesuaikannya sesuai dengan kebutuhan. Meski begitu banyak pengendara Go-Jek yang bekerja melebihi 8 jam sehari demi mengejai poin. Mulai tanggal 17 November 2018, Go-Jek telah memberlakukan skema poin dan bonus baru berdasarkan riwayat pencapaian poin pengendara selama 2 minggu terakhir. Semakin besar poin yang didapat, maka semakin besar pula bonus gaji yang diterima pengendara.
Peneliti Kebijakan Sosial Perkumpulan Prakarsa merilis hasil survey kondisi pengendara ojek daring pada tahun 2017. Hasil survey tersebut dilakukan kepada 213 orang pengendara ojek yang terdiri dari 176 pengendara ojek daring dan 37 ojek pangkalan di Jakarta. Hasil survei tersebut ialah 39% pengendara ojek daring bekerja selama satu minggu penuh tampa libur dan juga 30% pengendara ojek daring bekerja lebih dari 8 jam sehari.
Saraf
Pengertian saraf. Saraf adalah serat-serat yang menghubungkan organ- organ tubuh dengan sistem saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang dan antar bagian sistem saraf lainnya. Saraf membawa impuls dari dan ke otak atau pusat saraf. Neuron kadang disebut sebagai sel-sel saraf, meski istilah ini sebenarnya kurang tepat karena banyak sekali neuron yang tidak membentuk saraf.
Saraf adalah bagian dari sistem saraf peripheral. Saraf aferen membawa sinyal sensorik ke sistem saraf pusat, sedangkan saraf aferen membawa sinyal dari sistem saraf pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelenjar. Sinyal tersebut seringkali disebut impuls saraf, atau disebut potensial akson.
Sistem saraf. Sistem saraf merupakan serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan yang memiliki fungsi untuk memantau dan merespon perubahan yang terjadi di dalam maupun di luar tubuh atau lingkungan. Selain itu sistem saraf juga berfungsi untuk mengirim sinyal dari satu sel ke sel lainnya.
Sistem persarafan terdiri dari neuron dan neuroglia yang tersusun membentuk sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Susunan saraf pusat terdiri
dari otak dan sumsum tulang belakang. Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput meninges.
Sedangkan sistem saraf perifer merupakan sitem saraf di luar sistem saraf pusat yang terdiri dari sel saraf sensorik dan sel saraf motorik. Sel-sel sistem saraf sensorik mengirimkan informasi ke sistem saraf pusat dari organ-organ internal atau dari rangsangan eksternal sel-sel sistem saraf motoric tersebut membawa informasi dari sistem saraf pusat ke organ, otot, dan kelenjar. Tidak seperti sistem saraf pusat, sistem saraf perifer tidak dilindungi tulang, sehingga rentan terhadap trauma.
Saraf perifer. Saraf perifer terdiri dari saraf kranial dan spinal yang menghubungkan otak dan medula spinalis yang menghubungkan otak dan medula spinalis ke jaringan perifer. Medula spinalis terdiri dari 31 pasang saraf spinal yang mengandung campuran serabut-serabut sensorik dan motorik. Dalam saraf perifer, serabut disusun dalam berkas terpisah yang dikenal dengan fascikel.
Kurang dari setengah saraf dilapisi oleh lapisan myelin. Serabut-serabut yang tak bermyelin berjalan sepanjang permukaan sel-sel Schwann. Tiap sel Schwann dikelilingi jaringan serabut-serabut kolagen reticular, yaitu endoneurium. (Eser dkk, 2009).
Sistem saraf perifer terbagi menjadi sistem saraf somatik dan sistem saraf otonomik. Saraf-saraf tersebut mengandung serabut saraf aferen dan eferen. Pada umumnya serabut eferen terlibat dalam fungsi motorik, seperti kontraksi otot atau sekresi kelenjar sedangkan serabut aferen biasanya menghantarkan rangsang
sensorik dan kulit, selaput lender dan struktur yang lebih dalam (Groot, 1997).
Stimulasi diterima oleh reseptor sistem saraf perifer yang selanjutnya akan dihantarkan oleh sistem saraf sensoris dalam bentuk impuls listrik ke system saraf pusat. Pada sistem saraf pusat impuls diolah dan diinterpretasi untuk kemudian jawaban atau respon diteruskan kembali melalui sistem saraf perifer menuju efektor yang berfungsi sebagai pencetus jawaban akhir. Sistem saraf yang yang membawa jawaban atau respon adalah sistem saraf motorik. Jawaban yang terjadi dapat berupa jawaban yang dipengaruhi oleh kemauan (volunter) dan jawaban yang tidak dipengaruhi oleh kemauan (involunter). Jawaban volunter melibatkan sistem saraf somatik sedangkan yang involunter melibatkan sistem saraf otonom.
Efektor dari sistem saraf somatic adalah otot rangka sedangkan untuk sistem saraf otonom, efektornya adalah otot polos, otot jantung, dan kelenjer sebasea (Ganing, 2003).
Cedera saraf perifer. Cedera saraf perifer biasanya terjadi sebagai akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor, laserasi oleh benda tajam, penetrasi trauma, trauma peregangan dan penekanan dan fraktur, dan luka tembak. Cedera saraf terjadi pada laki-laki muda dan sebagian besar kelompok umur produktif. Cedera saraf sebagian besar terjadi pada ekstremitas atas dan sebagian besar mengenai saraf ulnar, radial dan digital. Pada negara yang berkembang kecelakaan kendaraan bermotor adalah penyebab tersering cedera saraf perifer, cedera saraf yang disebabkan oleh injeksi intramuscular yang kurang aman juga masih sering terjadi (Eser, 2009).
Kerusakan saraf akibat trauma tergantung pada jenis, letak serta besarnya
cedera pada saraf yang bersangkutan. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya cedera saraf perifer, namun tiga penyebab yang paling sering menimbulkan cedera adalah luka terbuka, traksi, patah tulang serta cedera sendi. Lebih jarang lagi adalah kerusakan yang disebabkan oleh jepitan atau tekanan pada saraf karena pemasangan bidai yang terlalu kencang, torniket atau keadaan yang menimbulkan iskemik. Kadang bisa terjadi kerusakan akibat penyuntikan yang masuk di dalam jaringan saraf, misalnya neuropati suntikan.
(Eser dkk, 2009).
Studi pada 983 pasien di Turki dengan cedera saraf dan distribusi cedera saraf menunjukkan bahwa cedera saraf perifer sebesar 1165; cedera Pleksus Lumbalis sebesar 7. Umur rata-rata yang terkena adalah 31.8 tahun (terentang dari 2-81 tahun) dan ratio laki-laki terhadap perempuan sebesar 2,4:1. Cedera saraf yang paling sering adalah cedera saraf ulnar pada ekstremitas atas dan cedera saraf ishkhiadikus pada ekstremitas bawah (Eser dkk, 2009).
Neuropati Perifer
DefInisi Neuropati Perifer. Neuropati perifer didefenisikan sebagai kerusakan pada sistem saraf perifer yang berperan sebagai pengantar informasi dari otak dan sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh dan sebaliknya.
Kerusakan ini umumnya bersifat neurologis dengan berbagai macam bentuk dan penyebabnya. Defenisi secara luas dari neuropati perifer meliputi semua tipe penyakit yang dihubungkan dengan sistem sel saraf perifer dan pendekatan klinis harus dilakukan secara bertahap dan logis, karena berhubungan dengan pemanfaatan biaya yang efektif.
Insiden neuropati perifer pada penduduk Amerika diperkirakan di atas 20 juta. Kerusakan saraf perifer ini terjadi pada semua umur, tetapi lebih sering pada orang tua. Sebuah survey menemukan bahwa 8-9% penderita yang berobat ke fasilitas kesehatan di Amerika memiliki neuropati perifer baik sebagai diagnosis primer maupun sekunder. Biaya tahunan yang dikeluarkan pemerintah Amerika dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap kerusakan saraf ini mencapai 3,5 miliar dolar (Mahadewa, 2013).
Klasifikasi Neuropati Perifer. Terdapat 3 macam klasifikasi Neuropati Perifer.
1. Klasifikasi menurut pola dan distribusi nyeri a. Mono Neuropati
Merupakan salah satu tipe neuropati yang hanya melibatkan satu saraf.
Kelainan ini dapat terjadi akibat dari penjeratan saraf yang merupakan penyebab utama terjadinya mononeuropati atau penjeratan pada saraf ulnaris. Penyebab lainnya dari neuropati ini adalah trauma atau infeksi.
Salah satu contoh dari mononeuropati adalah Carpal Tunnel Syndrome (Sindrom Terowongan Karpal).
b. Mononeuropati Multipleks
Merupakan tipe neuropati yang melibatkan dua atau lebih saraf perifer yang tidak berdekatan dalam bagian terpisah di tubuh terkena. Pola perlibatan saraf ini bisa secara acak, multifokal dan khas berevolusi secara cepat. Mononeuropati multipleks dapat dihubungkan dengan inflamasi
pada system vascular yang diinversi oleh saraf yang terkena, sarkoidosis, penyakit lyme, lymphoma, dan HIV.
c. Polineuropati
Polineuropati memengaruhi saraf multipel dan mungkin mengenai lebih dari satu ekstremitas-umumnya pada kedua sisi dari tubuh (simetris).
Gejala yang terjadi lebih sering terjadi pada bagian kaki daripada tangan dan biasanya keluhan awalnya dirasakan pada jari kaki dan telapak kaki.
Polineuropati merupakan tipe neuropati perifer yang paling sering terjadi dan biasanya dihubungkan dengan diabetes, penyalahgunaan alcohol, defesiensi vitamin B atau HIV.
2. Menurut Berat ringannya
a. Ringan : Jika hanya ada keluhan sensorik subjektif saja
b. Sedang : Jika ada keluhan sensorik, motorik, dan penurunan refleks c. Berat : Jika ada keluhan sensorik, motorik, penurunan refleks, dan
atrofi otot
3. Berdasarkan Patofisiologi a. Nyeri Nosiseptif
Nyeri Nosiseptif adalah nyeri yang disebabkan oleh adanya stimulus noksius (trauma, penyakit atau radang).
b. Nyeri neuropatik
Nyeri neuropatik adalah nyeri dengan impuls yang berasal dari adanya kerusakan atau disfungsi dari sistem saraf baik perifer atau pusat.
Faktor risiko Neuropati Perifer. Terdapat beberapa factor risiko
Neuropati Perifer.
1. Lama waktu kerja
Lama waktu kerja adalah lama waktu yang digunakan pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam satu hari. Pada umumnya, lama waktu bekerja adalah 6-8 jam dalam sehari. Sisa waktu lainnya akan digunakan pekerja untuk beristirahat, tidur, dan melakukan aktivitas sehari-hari lainnya. Memperpanjang waktu kerja lebih dari kemampuan tersebut biasanya tidak disertai efisiensi yang tinggi, bahkan biasanya terlihat penurunan produktivitas serta kecenderungan timbulnya kelelahan, penyakit, dan kecelakaan. Dalam seminggu, seseorang dapat bekerja dengan baik selama 40-50 jam. Lebih dari itu, terlihat kecenderungan timbulnya hal negatif. Makin lama kerja seseorang, makin besar kemungkinan terjadinya hal-hal yang tak diinginkan (Suma’mur, 2009).
Waktu kerja pada pengendara Go-Jek pada dasarnyanya adalah fleksibel.
Pengendara Go-Jek dapat menyesuaikannya dengan keinginan sendiri.
Namun, banyak pekerja yang bekerja lebih dari 8 jam per hari demi memenuhi target harian yang harus di capai. Pada pengendara Go-Jek, semakin lama mereka bekerja maka semakin lama pula mereka melakukan gerakan fleksi dan ekstensi pada saat menggenggam stang motor. Gerakan berulang yang berlebihan merupakan salah satu penyebab terjadinya Neuropati Perifer.
Kriteria objektif
Kelompok pertama ≤8 jam/hari
Kelompok kedua >8 jam/hari 2. Umur pengendara
Umur sangat berpengaruh terhadap kesehatan pekerja. Menurut pakar ilmu saraf dari Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin Makasar dr. H. Abdul Muis Sp. S, penuaan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya neuropati atau kondisi yang mempengaruhi sistem saraf, di mana serat-serat saraf menjadi rusak sebagai akibat dari cedera atau penyakit.
Kriteria objektif
Dewasa awal ≤ 35 tahun Dewasa tengah > 35 tahun 3. Diabetes mellitus
Diabetes mellitus adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kurangnya insulin atau ketidakmampuan tubuh untuk memanfaatkan insulin (Insulin resistence). Neuropati perifer terjadi pada 60% pasien dengan diabetes baik tipe 1 atau 2. Risiko neuropati perifer dapat meningkat pada pre-diabetes terutama pada seorang yang sulit mengontrol kadar gula darah (Mahadewa, 2013).
4. Merokok
Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat merokok mempengaruhi pembuluh darah karena menyebabkan aterosklerosis dalam pembuluh darah. Akibat dari ateroskorosis tersebut akan meningkatkan tekanan sistolik yang akan berkontribusi besar terhadap nilai ABI (Ankle Brachial
Indeks) (Jung, Chu, Bhan, 2011). Hasil penilitian lainnya juga menunjukkan bahwa merokok mampu meningkatkan risiko pasien DM mengalami neuropati perifer (Clair et al, 2015).
5. Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid arthritis merupakan salah satu penyakit autoimun yang sering menyebabkan terjadinya neuropati perifer. Rheumatoid arthritis terjadi pada saat tubuh diserang oleh system kekebalan tubuhnya sendiri sehingga mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki (Mahadewa, 2013).
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 prevalensi penderita penyakit sendi berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia adalah usia 15-24 tahun 1,2%, usia 25-34 tahun 3,1%, usia 35-44 tahun 6,3%, usia 45-54 tahun 11,1%, usia 55-64 tahun 15,5%, usia 65-74 tahun 18,6%, dan usia diatas 75 tahun 18,9%. Oleh sebab itu dapat kita lihat bahwa penderita radang sendi banyak terjadi pada usia dewasa tengah dan lansia.
Gejala Neuropati Perifer. Gejala neuropati perifer sebagai berikut : 1. Gangguan Sensorik
Berkurangnya kemampuan untuk merasakan getaran dan sentuhan, perasaan kaku, dingin, gatal, pedas dan kebas-kebas terutama pada tangan dan kaki. Hilangnya rasa posisi (position sense) sehingga pasien kesulitan untuk berjalan atau menekan tombol, atau menjaga keseimbangan saat menutup mata.
2. Gangguan Motorik
Terjadinya kelemahan otot merupakan gejala umum yang terjadi. Gejala lainnya yaitu kram yang menyakitkan dan fasikulasi, atropi otot, degenarasi tulang, dan perubahan pada kulit, rambut dan kuku. Dalam kehidupan sehari-hari gejala ini diawali dengan pasien mengalami kesulitan memutar pintu kunci, memasang kancing baju, memutar tutup botol, dan gerakan tangkas lainnya.
Diagnosis Neuropati Perifer. Pendekatan diagnosis awal dalam neuropati perifer adalah menentukan adanya tanda atau gejala yang ada hubungannya dengan disfungsi saraf perifer. Durasi gejala sangat penting dalam menggolongkan neuropati dimana fase akut berjalan kurang dari 4 minggu, sub akut 4-12 minggu dan kronis lebih dari 12 minggu. Pemeriksaan fisik umum dan penunjang yang terkait dapat mengungkapkan adanya penyakit sistemik penyebab kerusakan saraf. Pemeriksaan kekuatan otot, serta bukti adanya kram atau fasikulasi, mengindikasikan keterlibatan saraf motorik. Tindakan evaluasi kemampuan pasien untuk merasakan adanya getaran, sentuhan ringan, posisi tubuh, suhu, dan nyeri akan mengungkapkan jenis serabut saraf sensorik yang terlibatapakah besar atau kecil.
Berdasarkan hasil pemeriksaan neurologis, pemeriksaan fisik, riwayat pasien, dan setiap pemeriksaan atau pengujian awal sebelumnya, pemeriksaan penunjang mungkin dapat diusulkan untuk membantu dalam menentukan sifat dan tingkat neuropati.pemeriksaan darah dapat mendeteksi adanya diabetes, defesiensi vitamin, disfungsi hati atau ginjal, kerusakan metabolik lainnya atau adanya
abnormalitas aktivitas sistem imun tubuh (Mahadewa, 2013).
Pencegahan Neoropati Perifer. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan latihan aktif atau pasif yang dapat mengurangi keram, meningkatkan kekuatan otot, dan mencegah kelelahan pada tangan dan kaki.
Selain itu dengan menerapkan pola hidup yang sehat seperti menjaga berat badan optimal, memakan makanan yang seimbang, memperbaiki kekurangan vitamin, menghindari rokok dan alkohol juga dapat mengurangi efek dari neuropati perifer (Mahadewa, 2013).
Landasan Teori
Neuropati perifer didefenisikan sebagai kerusakan dari system saraf perifer, jaringan saraf tepi yang mengirimkan informasi dari otak dan sumsum tulang belakang ke bagian tubuh lainnya (Mahadewa, 2013). Faktor risiko neuropati perifer diantaranya adalah riwayat diabetes mellitus, rheumatoid artritis, merokok, faktor usia, dan lama waktu kerja. Neuropati perifer merupakan salah satu komplikasi mikrovaskular pada persarafan yang disebabkan kenaikan kadar gula darah secara persisten. Seseorang yang mengalami neuropati akan mengalami kerusakan fungsi saraf terutama bagian perifer. Kerusakan tersebut dapat menyerang fungsi saraf baik otonom, sensorik, dan motorik. (Rosyida, 2016).
Kerangka Konsep
Gambar 1. Kerangka konsep Faktor Risiko Neuropati
Perifer
Lama waktu kerja Usia pengendara Riwayat Diabetes mellitus
Riwayat merokok Riwayat Rheumatoid
arthritis
Kejadian Neuropati Perifer
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu mengenai gambaran risiko kejadian neuropati perifer pada pengendara Go-Jek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Menurut Priyono (2016) penelitian survei yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Kuesioner merupakan lembaran yang berisi beberapa pertanyaan dengan struktur yang baku. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan informasi secara sistematis dengan tujuan mengetahui karakteristik responden atau mengetahui hubungan sebab-akibat antar variabel tanpa adanya intervensi peneliti.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian. Penelitian ini akan dilakukan di pangkalan Go-Jek Community Medan yang berasa di Jalan Mojopahit, Jalan S Parman, dan Jalan Thamrin Baru.
Waktu penelitian. Waktu penelitian ini adalah pada bulan Januari 2019 sampai dengan selesai.
Populasi dan Sampel
Populasi. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah 50 orang pengendara Go-Jek yang tergabung dalam Go-Jek Community Medan.
Sampel. Pada penelitian ini, pengabilan sampel dilakukan dengan cara total sampel dimana seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Hal ini dikarenakan seluruh pengendara Go-Jek Community Medan memiliki
kemungkinan yang sama untuk terkena neuropati perifer.
Variable Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel penelitian. Variabel penelitian ini ada 2.
Variabel independen, variabel independen dari penelitian ini adalah faktor
risiko kejadian neuropati perifer, yaitu lama waktu kerja, umur, riwayat diabetes mellitus, riwayat merokok, dan riwayat rheumatoid atritis.
Variabel dependen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah
neuropati perifer.
Definisi Operasional
Defenisi operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Neuropati perifer adalah adanya risiko yang mengindikasikan kerusakan saraf perifer pada pengendara Go-Jek Community Medan.
2. Lama waktu kerja adalah lamanya waktu pengendara Go-Jek Community Medan bekerja dalam satu hari dihitung dalam jam.
3. Usia adalah waktu pengendara Go-Jek Community Medan yang dihitung semenjak dilahirkan hingga ulang tahun terakhir dihitung dalam tahun.
4. Diabetes mellitus adalah kondisi diabetes mellitus yang dimiliki pengendara Go-Jek Community Medan.
5. Riwayat merokok adalah keadaan pengendara Go-Jek Community Medan merokok atau tidak.
6. Rheumatoid artritis adalah kondisi pengendara Go-Jek Community Medan memiliki riwayat rheumatoid atritis atau tidak.
Metode pengumpulan data
Data primer. Data primer diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh pengendara Go-Jek Community Medan secara langsung. Kuesioner yang digunakan adalah Douleur Neurophatique (DN4). DN4 ini memiliki sensitivitas 84% dan spesitifitas 90% dalam menentukan suatu nyeri neuropati.
Data sekunder. Data sekunder dari penelitian ini adalah data yang diperoleh dari dokumen Go-Jek Community Medan, literature ilmiah, serta penelitian sebelumnya mengenai neuropati perifer.
Cara pengukuran
Kuesioner. Kuesioner yang digunakan adalah Douleur Neurophatique en 4 question (DN4), yaitu salah satu alat bantu diagnostik untuk menentukan adanya nyeri neuropati, yang menggunakan gabungan antara wawancara dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik ini relatif sederhana dan mudah untuk dikerjakan. DN4 terdiri dari 7 item deskripsi sensoris dan 3 item pemeriksaan disfungsi sensoris. Nilai empat atau lebih menunjukkan suatu nyeri neuropati.
Penelitian ini dilakukan pada saat pekerja sedang beristirahat dengan sekali pengukuran. Cara kerja dan peralatan :
1. Lama kerja dan Masa kerja didapatkan dari wawancara dengan pekerja.
2. Wawancara dengan pekerja mengenai gejala nyeri yang dirasakan.
3. Mengukur penurunan rasa raba (hipestesi) dengan menggunakan kuas halus yang biasanya digunakan untuk kosmetik.
a. Pekerja diminta untuk menutup mata pada saat pemeriksaan berlangsung.
b. Ujung kuas disapukan pada permukaan tangan dan kaki pekerja.
c. Pekerja diminta untuk merespon apakah terasa sentuhan tersebut atau tidak.
4. Mengukur penurunan rasa nyeri tekan / tusuk dengan menggunakan jarum pentol.
a. Pekerja diminta untuk menutup mata pada saat pemeriksaan berlangsung.
b. Rangsangan berganti-ganti antara ujung yang tajam dan ujung yang tumpul.
c. Mintalah responden untuk membedakan bermacam-macam rangsangan tersebut.
d. Mulailah dari daerah yang paling terganggu dan bergerak kearah yang normal.
5. Kemudian responden diminta untuk menunjukkan kapan mulai merasakan ketajaman yang lebih jelas, yang perlu dicatat adalah perubahan sensasi. Sensasi ini paling baik dalam menentukan batas gangguan sensorik dibandingkan dengan sensasi yang lain.
Berdasarkan kuesioner DN4 penilaian dikategorikan menjadi 2 yaitu:
a. Ya = 1 b. Tidak = 0
Kemudian nilai total yang didapatkan dari jawaban responden dikategorikan menjadi 2 yaitu:
0-3 = Nyeri Nosiseptif
≥4 = Nyeri Neuropati Metode Analisis Data
Hasil penelitian ini akan diolah dengan langkah sebagai berikut :
a. Editing, adalah melakukan pengecekan termasuk kelengkapan dan kejelasan isi data
b. Coding, adalah kegiatan untuk mengklarifikasikan data dan jawaban menurut kategori masing-masing sehingga memudahkan pengolahan data.
c. Entry, adalah kegiatan memasukan data yang telah didapat ke dalam program computer yang telah ditetapkan
d. Cleaning, adalah pengecekan kembali apakah terdapat kesalahan dalam analisis data.
Analisis Univariat. Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variable penelitian (Notoadmodjo,2012).
Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variable. Pada penelitian ini analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan variable independen meliputi lama waktu kerja, umur, riwayat diabetes mellitus, riwayat merokok, dan riwayat rheumatoid artritis serta variable
dependen yaitu neuropati perifer.
Hasil Penelitian
Gambaran Umum Go-Jek Community Medan
Go-Jek Community Medan adalah komunitas para pengendara ojek online Go-Jek yang telah terbentuk sejak 12 Februari 2017. Komunitas ini berada di Jalan Mojopahit, Jalan S. Parman, dan Jalan Thamrin Baru. Berbeda dengan ojek konvensional yang bekerja dengan sistem menunggu penumpang secara langsung di posko atau persimpangan, pengendara Go-Jek bekerja dengan bantuan aplikasi.
Pengendara Go-Jek harus terus bergerak agar bisa mendapatkan penumpang yang berada di titik terdekat. Biasanya pengendara Go-Jek sudah mengetahui posisi yang memiliki banyak penumpang.
Waktu kerja pengendara di Go-Jek Community Medan dapat ditentukan oleh pengendara itu sendiri. Hal ini disebabkan karena PT. GO-JEK INDONESIA memberikan keluasan bagi pengedara untuk mengatur jam kerja sendiri.
Meskipun demikian, pengendara Go-Jek tetap memiliki target poin yang harus dicapai setiap harinya. Oleh sebab itu, jika pengendara ingin mendapatkan pengahasilan yang tinggi maka ia harus giat untuk mencari penumpang sebanyak mungkin tiap harinya. PT. GO-JEK INDONESIA wilayah Medan telah mengakui bahwa Go-Jek Community Medan sebagai komunitas pertama yang bepredikat baik di Kota Medan.
Struktur Organisasi
Struktur organisasi Go-Jek Community Medan terdiri dari ketua, wakil ketua I, wakil ketua II, sekretaris, bendahara, humas internal, humas eksternal, dan keanggotaan, perlengkapan, pubdok dan kerohanian.
Visi dan Misi Go-Jek Community Medan.
Visi. Visi dari Go-Jek Community Medan yakni:
a) Menjunjung solidaritas, kekeluargaan, dan persatuan pada khususnya antar sesama pengendara ojek online medan.
b) Menjadi organisasi yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi.
Mempererat tali persaudaraan antara kumpulan-kumpulan ojek online medan.
c) Menjadikan komunitas sebagai wadah yang bermuatan positif.
Diharapakan untuk bisa menjadi contoh bagi masyarakat dalam etika berkendara yang baik dan benar sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Misi. Misi dari Go-Jek Community Medan yakni:
a) Menjadi wadah komunikasi dan aspirasi
b) Menjalin tali silaturahmi di masyarakat umum dan Go-Jek Community Medan khususnya. Menjaga tali persaudaraan antar sesama komunitas dan masyarakat pada umumnya. Menghimpun dan mempersatuakan semua jenis pengendara ojek online pada umumnya.
c) Menjadikan wadah untuk berkumpulnya para pengguna motor Honda Verza, sehingga akan terjalin tali silahturahmi dan hubungan persahabatan serta kekeluargaan di antara para anggotanya. Dan menjadi wadah penyaluran jiwa kreatifitas para
anggotanya seperti modifikasi, balap dan mengadakan kegiatan- kegiatan yang bersifat positif.
Gambaran Umum Karakteristik Pengendara
Beberapa karakteristik pengendara yang akan digambarkan dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, lama masa kerja, dan lama waktu kerja yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Umur. Karakteristik pengendara berdasarkan umur adalah sebagai berikut.
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Umur Pengendara Go-Jek Community Medan
Karakteristik (n) (%)
≤ 35 tahun 24 48
> 35 tahun 26 52
Total 50 100
Berdasarkan tabel 1 di atas diketahui gambaran karakteristik umur pengendara Go-Jek Community Medan yaitu sebanyak 24 orang pengendara berada di kisaran umur ≤ 35 tahun tahun (48%) dan 26 orang pengendara berada di kisaran umur > 35 tahun (52%).
Lama Waktu Kerja. Karakteristik pengendara berdasarkan lama waktu kerja adalah sebagai berikut.
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Lama Waktu Kerja Pengendara Go-Jek Community Medan
Karakteristik (n) (%)
≤8 jam 9 18
>8 jam 41 82
Total 50 100
Berdasarkan tabel 2 di atas diketahui gambaran karakteristik lama waku
kerja pengendara Go-Jek Community Medan yaitu sebanyak 9 orang pengendara bekerja selama kurang dari 8 jam per hari (18%) dan 41 orang pengendara bekerja lebih dari 8 jam per hari (82%).
Riwayat Diabetes Mellitus. Karakteristik pengendara berdasarkan riwayat Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut.
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Riwayat Diabetes Mellitus Pengendara Go-Jek Community Medan
Karakteristik (n) (%)
Tidak Ada 42 84
Ada 8 16
Total 50 100
Berdasarkan tabel 3 di atas diketahui gambaran riwayat Diabetes Mellitus pada pengendara Go-Jek Community Medan adalah 42 orang pengendara tidak memiliki riwayat Diabetes Mellitus (84%) dan 8 orang memiliki riwayat Diabetes Mellitus (16%).
Riwayat Rheumatoid Artritis. Karakteristik pengendara berdasarkan
riwayat Rheumatoid Artritis adalah sebagai berikut.
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Riwayat Rheumatoid Artritis Pengendara Go-Jek Community Medan
Karakteristik (n) (%)
Tidak Ada 40 80
Ada 10 20
Total 50 100
Berdasarkan tabel 4 di atas diketahui gambaran riwayat Rheumatoid
Artritis pada pengendara Go-Jek Community Medan adalah 40 orang pengendara tidak memiliki riwayat Rheumatoid Artritis (80%) dan 10 orang memiliki riwayat Rheumatoid Artritis (20%).
Merokok. Karakteristik pengendara berdasarkan riwayat merokok adalah sebagai berikut.
Tabel 5
Distribusi Frekuensi Merokok pada Pengendara Go-Jek Community Medan
Karakteristik (n) (%)
Tidak 20 40
Ya 30 60
Total 50 100
Berdasarkan tabel 5 di atas diketahui distribusi frekuensi merokok pada pengendara Go-Jek Community Medan adalah 20 pengendara bukan merupakan seorang perokok aktif (40%) dan 30 orang pengendara merupakan seorang perokok aktif (60).
Kategori Jenis Neuropati. Kategori jenis neuropati pengendara adalah sebagai berikut.
Tabel 6
Distribusi Frekuensi Jenis Neuropati pada Pengendara Go-Jek Community Medan
Karakteristik (n) (%)
Nyeri Nosiseptif 31 62
Nyeri Neuropati 19 38
Total 50 100
Berdasarkan tabel 6 di atas diketahui distribusi jenis neuropati pada pengendara Go-Jek Community Medan adalah 31 orang pengendara mengalami