DI PT. MNC SKY VISION (INDOVISION DIGITAL) KANTOR PERWAKILAN UTAMA CABANG MEDAN
T E S I S
Oleh
DEBBY GRACE IVONE HUTAJULU 117045009
M A G I S T E R I L M U K O M U N I K A S I FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
DI PT. MNC SKY VISION (INDOVISION DIGITAL) KANTOR PERWAKILAN UTAMA CABANG MEDAN
T E S I S
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Komunikasi dalam Program Magister Ilmu
Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh
DEBBY GRACE IVONE HUTAJULU 117045009
MAGISTER ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014
Judul Tesis : PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT.MNC SKY VISION (INDOVISION DIGITAL) KANTOR PERWAKILAN UTAMA CABANG MEDAN
Nama Mahasiswa : DEBBY GRACE IVONE HUTAJULU Nomor Pokok : 117045009
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Menyetujui, Komisi Pembimbing
Ketua, Anggota,
(Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si) NIP.196609031990031004
(Emilia Ramadhani, MA) NIP.197310212006042001
Ketua Program Studi, Dekan,
(Dra. Lusiana Andriani Lubis. MA, Ph.D) NIP.196704051990032002
(Prof.Dr. Badaruddin,M.Si) NIP.1960072819870322002
Tanggal Lulus : 29 Agustus 2014
Telah diuji pada
Tanggal : 29 Agustus 2014
__________________________________________________________________
PANITIA PENGUJI TESIS :
Ketua : Dra. Lusiana Andriani Lubis. MA, Ph.D Anggota : Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si
Emilia Ramadhani, MA
Rahmanita Ginting, MA, Ph.D
Drs. Hendra Harahap, M.Si
29
THE INFLUENCE OF ORGANIZATIONAL COMMUNICATION CLIMATE AND WORKING MOTIVATION TO THE EMPLOYEE
PERFORMANCE AT PT. MNC SKY VISION (INDOVISION DIGITAL) MEDAN
ABSTRACT
The title of the thesis is The Influence of Organizational Communication Climate and Working Motivation to the Employee Performance at MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. The purpose of there search is analyzing the influence of organizational communication climate and working motivation to the employee performance at PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. The method of the research is quantitative descriptive study using multiple linear regression analysis that aims to explain the influence of communication climate and working motivation to the employee performance. In this research, the population is the employee of PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan, for 120 people, while the sample is 30 people through sampling technique, Suharsimi 25% x 120 = 30, which consists of 20 men and 10 women. The location of the research is held in the company of PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. The technique of data collection uses the questionnaire distributing Indovision employees, Indovision Branch Representative Office in Medan. To support the data from the questionnaire, also pick up documentasion about the data needed to do the research. The questionnaire’s answeris scaledto the form of score by using Likert scale. The result shows that the organizational communication and working motivation has effect to the dependent variable of Y (employee performance). This is indicated by the value of F test simultaneously where the value of F-count (33 507)> F-table (3.15) and p-value (0.000) <sig-α (0:05). The simultaneously influence of X1 and X2 independent variables to dependent variable Y (employee performance) = 71.3%.
Keywords: Communication Climate, Organizational Communication, Working
Motivation, Employee Performance.
PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI
PT. MNC SKY VISION (INDOVISION DIGITAL) KANTOR PERWAKILAN UTAMA CABANG MEDAN
ABSTRAK
Tesis ini berjudul Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan di PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. Metode penelitian adalah studi deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linier berganda yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh iklim komunikasi dan motivasi kerja terhadap kinerja perusahaan. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah karyawan PT.
MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan yang berjumlah 120 orang, sedangkan sampel penelitian adalah sebanyak 30 orang melalui teknik penarikan sampel Suharsimi 25% x 120 = 30, yang terdiri dari 20 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Lokasi penelitian dilaksanakan di perusahaan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada karyawan Indovision Kantor Perwakilan Utama Cabang Medan. Untuk mendukung data hasil kuesioner, juga dilakukan dokumentasi untuk mengumpulkan data sekunder sebagai pendukung data primer yang diperlukan untuk melakukan penelitian. Jawaban kuesioner di skalakan dalam bentuk skor dengan menggunakan skala Likert. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja memiliki pengaruh terhadap variabel terikat Y (kinerja karyawan). Hal ini diindikasikan oleh nilai uji F secara serempak dimana nilai F-
hitung(33.507) > F-
tabel(3.15) dan p-value (0.000) < sig-α (0.05). Besar pengaruh serentak dari variabel bebas X1 dan X2 terhadap variabel terikat Y (kinerja karyawan) = 71.3%.
Kata kunci : Iklim Komunikasi, Komunikasi Organisasi, Motivasi Kerja, Kinerja
Karyawan.
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur dan terima kasih ke hadirat Allah Bapa Tuhan Yesus Kristus, yang telah memberikan kasih karunia, berkat, hikmat, kekuatan dan penyertaanNya selalu dalam kehidupan penulis, sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Terima kasihku tak terhingga kupersembahkan kepada kedua Orang Tuaku yang terkasih St.Drs.VSM Hutajulu dan M.Simatupang buat doa, supportnya serta cinta dan kasih sayangnya kepada Penulis serta keluarga besar Hutajulu Pomparan Op.Salomo; kakak, abang, eda, abang ipar serta keponakan-keponakanku, terima kasih juga sudah memberikan semangat, doa serta motivasi kepada Penulis hingga dapat menyelesaikan tesis ini.
Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, Penulis banyak memperoleh bantuan moril dan materi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof.Dr.dr.Syahril Pasaribu,DTM&H,M.Sc,(CTM),Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof.Dr.Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra.Lusiana Andriani Lubis, MA, Ph.D, selaku Ketua Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si, selaku Sekretaris Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Dr.Iskandar Zulkarnain, M.Si, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan tesis ini.
6. Ibu Emilia Ramadhani, MA, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan tesis ini.
7. Ibu Dra.Inon Beydha,M,Si,Ph.D dan Ibu Rahmanita Ginting, MA, Ph.D, selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.
8. Bapak dan Ibu Dosen di Lingkungan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan membekali Ilmu Komunikasi kepada penulis, dan juga staff Sri Handayani, S.Sos dan Nurhanifah Nasution, S.Sos.
9. Bapak Franky Napitupulu dan Ibu Hartati Sibuea, selaku Kacab dan Wakacab di PT.MNC Sky Vision Cabang Medan terdahulu, yang telah memberikan ijin kepada Penulis untuk melakukan penelitian di kantor Indovision Perwakilan Cabang Medan.
10. Bapak Elisha Wijaya dan Bapak Poetra Eka Wijaya, serta Bapak Yefrin
Sitorus selaku Kacab dan Wakacab yang baru terpilih sekarang di
PT.MNC Sky Vision Cabang Medan, untuk kerjasamanya di dalam
penelitian ini sebagai penerus Kepemimpinan yang sebelumnya.
11. Retnata Ofelia Sembiring, Hadilima Riduardi Manerep serta Hendra Gunawan Sitorus, selaku HRD dan Head Customer Service di PT.MNC Sky Vision Cabang Medan yang telah memberikan waktunya serta diskusi dalam memberikan informasi yang diperlukan.
12. Seluruh karyawan dan karyawati PT.MNC Sky Vision Cabang Medan yang telah memberikan waktu dan informasi dalam membantu penelitian.
13. Angkatan I Magister Ilmu Komunikasi, terima kasih untuk kebersamaan kita selama masa kuliah yang menyenangkan. Teman-teman Angkatan 2, Angkatan 3 dan Angkatan 4, Terima Kasih untuk waktu yang diluangkan sebagai peserta seminar proposal dan seminar hasil penelitian ini.
14. Sahabatku Lasmaida Napitupulu SH, Bertha Diana Sibarani ST, Elmi Frida Purba MA, Leny Pasaribu Amd.Par., terima kasih untuk dukungan doanya dan motivasi semangat dalam penulisan tesis ini.
Penulis menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Allah Bapa Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua. Amin.
Medan, 29 Agustus 2014 Penulis,
DEBBY G.I. HUTAJULU
DAFTAR ISI
Hal LEMBAR PENGESAHAN TESIS
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS PERNYATAAN
ABSTRACT...
iv
ABSTRAK... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah... 6
1.3 Batasan Masalah ... 7
1.4 Tujuan Penelitian ... 8
1.5 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA... 9
2.1 Penelitian Terdahulu ... 9
2.2 Teori Strukturisasi Tentang Iklim Komunikasi Organisasi 12 2.2.1 Pengertian Komunikasi Organisasi ... 16
2.2.2 Aliran informasi ... 17
2.2.3 Fungsi Komunikasi Organisasi ... 21
2.2.4 Hubungan Komunikasi Dalam Organisasi ... 23
2.2.5 Pengertian Iklim Komunikasi Organisasi ... 25
2.2.6 Indikator Iklim Komunikasi Organisasi ... 26
2.2.7 Karakteristik Iklim Komunikasi ... 28
2.3 Teori Tentang Motivasi Kerja ... 33
2.3.1. Pengertian ... 33
2.3.2. Asas-Asas Motivasi Kerja ... 35
2.3.3. Proses Motivasi Kerja ... 36
2.3.4. Teori-Teori Motivasi Kerja... 37
2.3.5. Klasifikasi Motivasi ... 39
2.3.6. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Motivasi 40 2.3.7. Tujuan Motivasi Kerja ... 42
2.3.8. Pengukuran Motivasi Kerja ... 42
2.4 Teori Tentang Kinerja ... 43
2.4.1 Pengertian Kinerja... 43
2.4.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja ... 44
2.4.3 Pengukuran Kinerja... 45
2.5 Kerangka Berpikir ... 48
2.6 Hipotesis Penelitian ... 50
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 51
3.1. Tempat Penelitian ... 51
3.2. Metode Penelitian ... 51
3.3. Metode Pengukuran ... 51
3.3.1 Identifikasi Variabel ... 51
3.3.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 51
3.4. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel ... 53
3.4.1 Populasi ... 53
3.4.2 Sampel ... 54
3.5. Metode Pengumpulan Data ... 54
3.6. Validitas dan Reliabilitas ... 56
3.6.1. Uji Validitas ... 56
3.6.2. Uji Reliabilitas ... 57
3.7. Metode Analisis Data... 59
3.7.1. Teknik Pengukuran Skor ... 59
3.7.2. Uji Serempak (Uji-F)... 61
3.7.3 Uji Pengaruh Parsial (Uji-t) ... 61
3.7.4. Koefisieni Determinasi (R
2)... 62
3.8. Pengujian Asumsi Klasik ... 62
3.8.1. Uji Normalitas... 62
3.8.2. Uji Multikolinieritas... 63
3.8.3. Uji Heterokedastisitas... 63
BAB IV TEMUAN PENELITIAN ... 65
4.1. Proses Penelitian... 65
4.1.1. Deskripsi Objek Penelitian ... 65
4.1.2. Analisis Deskriptif ... 73
4.2. Analisis Inferensial ... 81
4.3. Uji Hipotesis ... 84
4.3.1. Hasil Uji Hipotesis Pertama... 84
4.3.2. Hasil Uji Hipotesis Kedua ... 85
4.3.3. Hasil Uji Hipotesis Ketiga ... 86
4.3.4 Hasil Uji Determinasi R
2... 87
4.3.5 Persamaan Regresi ... 88
BAB V PEMBAHASAN... 89
5.1. Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Kinerja karyawan ... 89
5.2. Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja karyawan... 93
5.3. Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi dan Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja karyawan ... 95
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 98
5.1. Simpulan ... 98
5.2. S a r a n... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 100
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
1.1. Progress Kinerja Karyawan PT.Media Nusantara Citra Sky Vision
(Indovision Digital) Medan Periode 2008-2010 ... 6
2.1. Perbandingan Iklim Komunikasi Mendukung dan Bertahan ... 29
3.1. Defenisi Operasional Variabel Penelitian ... 52
3.2 Perhitungan Sampel Penelitian ... 54
3.3 Hasil Uji Validitas... 56
3.4 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Penelitian... 59
4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 74
4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... 74
4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir... 75
4.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Kerja Terakhir... 75
4.5. Distribusi Pendapat Responden Tentang Iklim Komunikasi Organisasi Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan tahun 2013 ... 76
4.6. Distribusi Pendapat Responden Tentang Motivasi kerja Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan Tahun 2013 ... 78
4.7. Distribusi Pendapat Responden Tentang Kinerja Karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan Tahun 2013... 79
4.8. Hasil Uji Normalitas Data Penelitian ... 82
4.9. Hasil Uji Multikolinieritas ... 83
4.10. Hasil Uji Heterokedastisitas ... 84
4.11. Hasil Uji Hipotesis Pertama (Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan) ... 85
4.12. Hasil Uji Hipotesis Kedua (Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan) ... 85
4.13. Hasil Uji Hipotesis Ketiga... 86
4.14. Hasil Uji Determinasi R
2... 87
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
2.1 Hirarki Kebutuhan Maslow ... 38
2.2 Kerangka Berpikir Penelitian ... 50
4.1 Indovision Star-1... 66
4.2 Indovision Star-2... 66
4.3 Struktur Org. PT. MNC Sky Vision (Indovision) Medan ... 69
4.4. Grafik Normalitas Data ... 82
DAFTAR LAMPIRAN
1. Kuesioner Penelitian
2. Master Data Penelitian
3. Hasil Pengolahan Data
4. Biodata Peneliti
THE INFLUENCE OF ORGANIZATIONAL COMMUNICATION CLIMATE AND WORKING MOTIVATION TO THE EMPLOYEE
PERFORMANCE AT PT. MNC SKY VISION (INDOVISION DIGITAL) MEDAN
ABSTRACT
The title of the thesis is The Influence of Organizational Communication Climate and Working Motivation to the Employee Performance at MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. The purpose of there search is analyzing the influence of organizational communication climate and working motivation to the employee performance at PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. The method of the research is quantitative descriptive study using multiple linear regression analysis that aims to explain the influence of communication climate and working motivation to the employee performance. In this research, the population is the employee of PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan, for 120 people, while the sample is 30 people through sampling technique, Suharsimi 25% x 120 = 30, which consists of 20 men and 10 women. The location of the research is held in the company of PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. The technique of data collection uses the questionnaire distributing Indovision employees, Indovision Branch Representative Office in Medan. To support the data from the questionnaire, also pick up documentasion about the data needed to do the research. The questionnaire’s answeris scaledto the form of score by using Likert scale. The result shows that the organizational communication and working motivation has effect to the dependent variable of Y (employee performance). This is indicated by the value of F test simultaneously where the value of F-count (33 507)> F-table (3.15) and p-value (0.000) <sig-α (0:05). The simultaneously influence of X1 and X2 independent variables to dependent variable Y (employee performance) = 71.3%.
Keywords: Communication Climate, Organizational Communication, Working
Motivation, Employee Performance.
PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI
PT. MNC SKY VISION (INDOVISION DIGITAL) KANTOR PERWAKILAN UTAMA CABANG MEDAN
ABSTRAK
Tesis ini berjudul Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan di PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. Metode penelitian adalah studi deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linier berganda yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh iklim komunikasi dan motivasi kerja terhadap kinerja perusahaan. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah karyawan PT.
MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan yang berjumlah 120 orang, sedangkan sampel penelitian adalah sebanyak 30 orang melalui teknik penarikan sampel Suharsimi 25% x 120 = 30, yang terdiri dari 20 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Lokasi penelitian dilaksanakan di perusahaan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada karyawan Indovision Kantor Perwakilan Utama Cabang Medan. Untuk mendukung data hasil kuesioner, juga dilakukan dokumentasi untuk mengumpulkan data sekunder sebagai pendukung data primer yang diperlukan untuk melakukan penelitian. Jawaban kuesioner di skalakan dalam bentuk skor dengan menggunakan skala Likert. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja memiliki pengaruh terhadap variabel terikat Y (kinerja karyawan). Hal ini diindikasikan oleh nilai uji F secara serempak dimana nilai F-
hitung(33.507) > F-
tabel(3.15) dan p-value (0.000) < sig-α (0.05). Besar pengaruh serentak dari variabel bebas X1 dan X2 terhadap variabel terikat Y (kinerja karyawan) = 71.3%.
Kata kunci : Iklim Komunikasi, Komunikasi Organisasi, Motivasi Kerja, Kinerja
Karyawan.
1.1. Latar Belakang Masalah
Komunikasi merupakan unsur terpenting dalam mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidup suatu organisasi. Komunikasi dalam suatu organisasi harus dapat berkesinambungan dan bekerjasama karena mereka saling bergantung agar tujuan organisasi tercapai. Keberhasilan suatu organisasi memerlukan komunikasi yang kondusif antara sesama anggota organisasi karena segala program yang direncanakan akan terlaksana dengan baik apabila semua anggota saling menjaga hubungan komunikasi agar tetap kondusif dan harmonis, baik untuk membicarakan program yang sedang dijalankan maupun program yang akan dijalankan maupun yang sudah dijalankan.
Komunikasi dalam organisasi juga berperan dalam menciptakan suasana yang harmonis agar tercipta suatu kesamaan tujuan dalam membangun perusahaan. Dalam suatu organisasi diperlukan suatu sistem yang dapat menunjang kinerja karyawan tersebut. Pencapaian tujuan organisasi memerlukan kerjasama yang baik antar komponen di dalamnya. Kerjasama terbentuk karena adanya kesatuan persepsi tentang apa yang akan dicapai. Untuk itu diperlukan sekali adanya komunikasi yang baik antar anggota di dalamnya. Komunikasi dapat memberikan keterangan tentang pekerjaan yang membuat karyawan dapat bertindak dengan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan pada waktu bersamaan dapat mengembangkan semangat kerja organisasi Wursanto (2003:60).
Organisasi sebagai suatu struktur yang kompleks memerlukan sistem
komunikasi yang terus menerus dan mekanistis untuk mempermudah pencapaian
tujuan organisasi. Hal ini ditekankan oleh Pace & Faules (2002:42) dimana keadaan yang terus menerus ini lama kelamaan akan membentuk sebuah iklim komunikasi organisasi. Komunikasi organisasi merupakan suatu proses dinamik yang berfungsi sebagai alat utama bagi sukses atau tidaknya organisasi dalam hubungannya dengan lingkungan tugas. Mitchel (1997:62) menemukan komunikasi berhubungan positif dengan kinerja, tetapi tidak sekuat hubungan antara komunikasi dengan kepuasan. Cameron (1998:102) menyatakan komunikasi organisasi dan motivasi berhubungan positif dengan komitmen organisasi dan kinerja dan berhubungan negatif dengan tekanan pekerjaan.
Redding dan Sanborn dalam Muhammad (2008:65) menyatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk dalam bidang ini adalah komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola, komunikasi downward atau komunikasi dari atasan kepada bawahan, komunikasi upward atau komunikasi dari bawahan kepada atasan, komunikasi horizontal atau komunikasi dari orang-orang yang sama tingkatnya dalam organisasi, keterampilan berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan, menulis dan komunikasi evaluasi program. Terciptanya budaya kerjasama dengan sebuah organisasi sangat dipengaruhi oleh adanya iklim komunikasi organisasi yang baik.
Iklim komunikasi organisasi sangat berperan dalam mempengaruhi
perilaku anggotanya karena dalam proses ini diperoleh suatu perilaku kepada
setiap berbicara, siapa yang disukai, bagaimana aktivitas pekerjaannya, bagaimana
perkembangannya, apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara beradaptasi. Hal
ini sesuai dengan pendapat Redding yang menyebutkan iklim komunikasi
organisasi jauh lebih penting daripada keterampilan atau teknik-teknik komunikasi semata-mata dalam menciptakan suatu organisasi yang efektif (Pace
& Faules, 2002:146).
Faktor terpenting bagi perkembangan iklim komunikasi menurut Pace &
Faules (2002:165) adalah interaksi karena melalui interaksi antara anggota- anggota organisasi, iklim komunikasi terbentuk. Melalui proses interaksi, para anggota organisasi memelihara eksistensi kepercayaan, dukungan, keterbukaan, penyuluhan, perhatian,dan keterusterangan. Interaksi dalam suatu hubungan manusiawi berperan dalam membentuk iklim komunikasi organisasi dan sikap hidup dalam suatu organisasi.
Adanya komunikasi dalam suatu organisasi akan membentuk suatu iklim komunikasi. Iklim komunikasi ada yang bersifat positif dan negatif. Iklim komunikasi yang bersifat positif atau kondusif dapat mendorong produktivitas kerja karyawan dalam suatu organisasi, sehingga lebih mempermudah tercapainya tujuan organisasi. Sebaliknya iklim komunikasi yang negatif, dapat menghambat tingkat produktivitas kerja karyawan dalam organisasi yang mengakibatkan tujuan perusahaan juga sulit untuk dicapai. Iklim komunikasi juga memberi pedoman bagi keputusan dan perilaku individu.
Iklim komunikasi yang penuh rasa persaudaraan mendorong para anggota
organisasi untuk berkomunikasi sercara terbuka, rileks, ramah dengan anggota
yang lain. Sedangkan iklim komunikasi yang negatif menjadikan anggota tidak
berani berkomunikasi secara terbuka dan penuh rasa persaudaraan. Jadi, iklim
komunikasi memainkan peranan sentral dalam mendorong anggota organisasi
untuk mencurahkan usaha kepada pekerjaan mereka dalam organisasi (Pace &
Faules, 2002:130).
Iklim komunikasi organisasi sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Iklim komunikasi dalam organisasi ada yang bersifat mendukung dan bertahan. Pada iklim komunikasi bertahan, atmosfernya terkesan “berat dan represif.” Kecenderungan iklim komunikasi bertahan membawa implikasi negatif kepada melemahnya budaya kerjasama sehingga sangat berpengaruh terhadap kinerja kerja karyawan. Sedangkan pada iklim mendukung, orang-orang merasa dihormati dan satu sama lain memberikan dorongan pada saat mereka berupaya menyelesaikan tugas (Curtis dalam Mulyana, 2001:89).
Iklim komunikasi yang baik juga mempengaruhi usaha anggota organisasi secara keseluruhan. Frantz dalam Pace (2002:130) mengelompokkan usaha tersebut ke dalam 4 (empat) unsur, yaitu: “(1) aktivitas yang merupakan pekerjaan tersebut; (2) langkah-langkah pelaksanaan kerja; (3) kualitas hasil dan (4) pola waktu kerja.”
Motivasi kerja selain iklim komunikasi organisasi juga berpengaruh
terhadap kinerja karyawan. Motivasi adalah suatu keahlian dalam mengarahkan
karyawan dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan
para karyawan dan tujuan organisasi sekaligus tercapai. Agar karyawan dapat
bekerja lebih optimal, maka pimpinan harus memberikan motivasi kepada
karyawannya, sehingga berdampak pada peningkatan kinerjanya. Hal ini sesuai
pernyataan Handoko (2003:44) bahwa motivasi merupakan salah satu yang dapat
mempengaruhi kinerja seseorang.
Motivasi mempunyai kekuatan kecenderungan seseorang/individu untuk melibatkan diri dalam kegiatan yang mengarah kepada sasaran dalam pekerjaan sebagai kepuasan, tetapi lebih lanjut merupakan perasaan senang atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan. Motivasi adalah suatu keadaan dalam diri seseorang yang mengaktifkan atau menggerakkan orang tersebut. Hal ini dapat diartikan bahwa dengan motivasi, maka seseorang tergerak atau terdorong untuk berbuat sesuatu. Motivasi dipandang sebagai motor yang menimbulkan energi dalam diri seseorang dan dengan energi tersebut seseorang dapat berbuat sesuatu.
Motivasi kerja adalah suatu dorongan jiwa yang membuat seseorang tergerak untuk melakukan tindakan produktif, baik yang berorientasi kerja menghasilkan uang maupun yang tidak. Motivasi kerja yang dimiliki seorang pekerja berbeda-beda tentunya, dan juga berfluktuasi. Ada pekerja yang selalu terlihat semangat bekerja karena menginginkan kenaikan gaji atau promosi jabatan, hal tersebut tentunya wajar-wajar saja. Tetapi, motivasi kerja bisa naik- turun dan tidak selamanya kegairahan dalam bekerja bisa terus berada pada titik maksimal.
Pemberian motivasi kepada karyawan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu adanya motivasi positif seperti pemberian hadiah, bonus, penghargaan maupun kenaikan pangkat; dan motivasi negatif seperti pemberian peringatan/hukuman bagi karyawan yang melakukan kesalahan dan sanksi dikeluarkan dari organisasi bila terbukti melakukan kesalahan yang fatal.
Berdasarkan pra-penelitian yang dilakukan pada PT.Media Nusantara
Citra Sky Vision (Indovision Digital) Medan, diketahui bahwa kinerja karyawan
menurun dalam 2 tahun terakhir (2008-2010). Setelah manajemen perusahaan
melakukan penelitian internal, terbukti bahwa ada 2 faktor yang menyebabkan penurunan kinerja karyawan tersebut, yakni iklim komunikasi organisasi yang bersifat bertahan sehingga komunikasi menjadi kaku dan lemahnya motivasi kerja sehingga kinerja karyawan cenderung menurun seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 1.1
Progress Kinerja Karyawan PT.Media Nusantara Citra Sky Vision (Indovision Digital) Medan Periode 2008-2010
Periode 2008-2010 Periode 2011-2013 Tahun Penjualan menurun Tahun Penjualan meningkat
Persentase kenaikan
2008 12240 unit 2011 13837 unit 11.30
2009 11687 unit 2012 14021 unit 12.70
2010 11235 unit 2013 15213 unit 19.54
Sumber : PT.Media Nusantara Citra Sky Vision (Indovision Digital) Medan, 2013
Tabel 1.1. memperlihatkan bahwa setelah dilakukan perbaikan iklim komunikasi organisasi dan peningkatan motivasi kerja, sejak tahun 2011 sampai sekarang terjadi peningkatan kinerja penjualan karyawan dibandingkan kinerja penjualan tahun 2008.
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pengaruh komunikasi organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul:
Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah yang telah dikemukakan
di atas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Seberapa besar pengaruh kondisi iklim komunikasi organisasi pada PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan ?
2. Seberapa besar pengaruh motivasi kerja karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan ?
3. Seberapa besar pengaruh iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PT.MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan ?
1.3. Batasan Masalah
Untuk membatasi dan memperjelas ruang lingkup suatu masalah dengan tujuan agar menghasilkan uraian yang sistematis serta analisa yang objektif, maka yang menjadi pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini bersifat korelasi asimatris (asymetric correlation) yakni hubungan antara dua variabel (Variabel Bebas dan Variabel Terikat) dimana variabel yang satu bersifat mempengaruhi variabel yang lain.
2. Objek penelitian ini adalah karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan.
3. Iklim komunikasi organisasi yang dimaksud adalah kepercayaan terhadap informasi yang disampaikan, keterlibatan dalam pembuatan keputusan bersama, kejujuran, keterbukaan, kepekaan mendengar atasan, dan perhatian terhadap kinerja tinggi.
4. Motivasi yang dimaksud adalah kebutuhan fisiologis, keamanan, kepemilikan sosial, harga diri, dan aktualisasi diri.
5. Kinerja yang dimaksudkan adalah kesetiaan, kehadiran, kejujuran,
kedisiplinan, kreativitas, kerjasama, kepemimpinan, kepribadian,
prakarsa, kecakapan dan tanggung jawab.
1.4. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh iklim organisasi terhadap kinerja karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan.
2. Untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan.
3. Untuk mengetahui pengaruh iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PT. MNC Sky Vision (Indovision Digital) Medan.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1) Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan memperkaya sumber bacaan atau referensi yang berhubungan dengan pengaruh iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan.
2) Diharapkan dapat memberikan kontribusi khususnya berkaitan dengan kajian studi Ilmu Komunikasi, khususnya mengenai kajian iklim komunikasi organisasi.
3) Melalui penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan
bagi peneliti serta menjadi masukan untuk seluruh karyawan PT. MNC
Sky Vision (Indovision Digital) Medan.
2.1. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu tentang pengaruh komunikasi organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan telah banyak dilakukan oleh kalangan akademis maupun mahasiswa. Meskipun memiliki ruang lingkup dan kedalaman penelitian yang berbeda, namun pada prinsipnya tujuan penelitian adalah sama.
Mardilis Ronny (2010) dalam penelitian tesisnya berjudul Analisis Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi dan Motivasi Kerja Terhadap Produktifitas Kerja Karyawan (Studi kasus karyawan Kantor Penjualan PT. Sinar Sosro Wilayah Jakarta). Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode kuesioner dan wawancara. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Sinar Sosro Wilayah Jakarta.
Penelitian sekarang persamaannya dimana kedua penelitian memiliki 2 (dua) variabel bebas yakni iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja sedangkan perbedaannya adalah penelitian terdahulu dengan variabel terikat produktifitas kerja sedangkan penelitian sekarang dengan variabel terikat kinerja karyawan.
Yesrin Kadoena (2011) dalam penelitian tesisnya berjudul Pengaruh Iklim
Komunikasi Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Produktifitas Kerja
Karyawan PT. Graha Yogyakarta, membuktikan bahwa kedua variabel bebas
(iklim komunikasi organisasi dan kepemimpinan) berpengaruh terhadap produktifitas kerja karyawan.
Dengan penelitian sekarang ini terdapat persamaannya, dimana kedua penelitian sama-sama menyelidiki iklim komnikasi organisasi sebagai salah satu variabel bebas sedangkan perbedaannya adalah penelitian terdahulu menyelidiki pengaruh kepemimpinan terhadap produktifitas kerja sedangkan penelitian sekarang menyelidiki pengaruh motivasi kerja (X2) terhadap variabel terikat Y (kinerja karyawan).
Jojor Sitorus (2005) dalam penelitian tesisnya berjudul Pengaruh Komunikasi Efektif Terhadap Kinerja Karyawan Pada Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Propinsi Sumatera Utara. Analisis data dilakukan dengan regresi linier sederhana yang meliputi 46 sampel penelitian. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode kuesioner dan wawancara. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa faktor keahlian berkomunikasi dan faktor sarana komunikasi menunjukkan pengaruh terhadap kinerja karyawan pada Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah.
Dalam penelitian sekarang ini terdapat persamaannya adalah kedua penelitian menganalisis tentang pengaruh komunikasi terhadap kinerja dan membuktikan bahwa komunikasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan.
Sedangkan perbedaannya adalah penelitian terdahulu hanya mengkaji tentang
komunikasi dan kinerja sementara penelitian sekarang mengkaji tentang iklim
komunikasi dan motivasi kerja.
Nur Fitri Kusumaningtias (2011) dalam penelitian tesisnya berjudul Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang. Penelitian menggunakan analisis regresi linier berganda terhadap 47 sampel penelitian dan membuktikan bahwa iklim komunikasi organisasi dan kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja karyawan RS.Roemani Muhammadiyah Semarang.
Dibandingkan dengan penelitian sekarang, dimana persamannya adalah kedua penelitian menganalisis tentang pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap kinerja dan membuktikan bahwa iklim komunikasi organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian terdahulu mengkaji tentang iklim komunikasi organisasi dan kepemimpinan sementara penelitian sekarang mengkaji tentang iklim komunikasi organisasi dan motivasi kerja.
Sadarta Bukit (2004) dalam penelitian tesisnya berjudul Pengaruh
Komunikasi Antarpribadi Terhadap Peningkatan Motivasi Kerja Karyawan di
Dinas Perhubungan Karo. Analisis data dilakukan dengan regresi linier sederhana
yang meliputi 35 sampel penelitian. Metode pengumpulan data dilakukan dengan
metode kuesioner dan wawancara. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
pelaksanaan komunikasi antarpribadi oleh pimpinan Dinas Perhubungan
Kabupaten Karo dapat dikatakan baik. Hal ini disebabkan intensitas komunikasi
pimpinan sering dilakukan dengan karyawan, ditambah kepercayaan karyawan
terhadap isi pesan pimpinan, pelaksanaan komunikasi sering dilakukan dengan
pertemuan atau rapat pimpinan sering terlibat begitu juga karyawan. Kredibilitas
pimpinan yang dapat membuat komunikasi semakin baik adalah diterimanya saran
pimpinan oleh karyawan dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan pekerjaan.
Untuk itu terdapat persamaannya dengan penelitian sekarang dimana kedua penelitian menganalisis tentang pengaruh komunikasi terhadap kinerja dan membuktikan bahwa komunikasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan.
Sedangkan perbedaannya adalah penelitian terdahulu hanya mengkaji tentang komunikasi dan kinerja sementara penelitian sekarang mengkaji tentang iklim komunikasi dan motivasi kerja.
Hasil penelitian terdahulu sebagaimana dikemukakan di atas pada umumnya memperlihatkan pengaruh antara komunikasi atau iklim komunikasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan.
2.2. Teori Strukturisasi Tentang Iklim Komunikasi Organisasi
Salah satu teori yang mendukung iklim komunikasi organisasi adalah teori strukturisasi adaptif Poole, yakni pakar komunikasi pada Texas A&M University yang mengembangkan Teori Strukturasi Adaptif (Adaptive Structuration Theory).
Gagasan Poole berangkat dari teori strukturasi yang dikemukakan Anthony Giddens (West and Turner, 2007:206).
Dalam penelitiannya, Gidden (West and Turner, 2007:206)
mendeskripsikan bagaimana institusi sosial misalnya kelompok dan organisasi,
diproduksi, direproduksi, dan ditransformasi melalui penggunaan aturan-aturan
sosial. Aturan itu dibuat sebagai panduan perilaku anggotanya, sebagaimana cetak
biru yang digunakan untuk mengarahkan seorang kontraktor dalam membangun
struktur bangunan.
Teori ini mengambil nama ‘Strukturasi Adaptif’, karena anggota kelompok secara sengaja meyesuaikan aturan dan sumber daya untuk mencapai tujuan.
Poole meyakini bahwa nilai dari pembuatan teori keputusan kelompok bergantung pada seberapa baik ia mengalamatkan kekomplitan interaksi yang ada dalam sebuah kelompok. Menurut teori ini, kunci dari memahami komunikasi yang terjadi dalam sebuah kelompok atau organisasi adalah dengan mempelajari struktur yang menjadi fondasi mereka. Gidden (West and Turner, 2007:207) membedakan pengertian sistem dan struktur. Sistem adalah kelompok itu sendiri, termasuk juga perilaku yang dilaksanakannya, sementara struktur adalah aturan- aturan yang mereka sepakati.
West dan Turner (2007:299) menggarisbawahi 3 (tiga) asumsi pokok teori strukturasi adaptif, yaitu:
1) Kelompok dan organisasi diproduksi dan direproduksi melalui penggunaan aturan dan sumber daya.
2) Aturan komunikasi berfungsi baik sebagai sebagai medium maupun hasil akhir dari interaksi.
3) Strukturasi kekuasaan ada di dalam organisasi dan menuntut proses pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi mengenai bagaimana cara untuk mencapai tujuan kita dengan cara yang terbaik.
Poole dalam West and Turner (2007:301) menekankan pentingnya
memahami bahwa individu menciptakan dan membentuk kelompok sebagaimana
mereka berperilaku di dalamnya. Perilaku anggota kelompok, seperti dikatakan
Giddens, dipengaruhi oleh tiga elemen tindakan yaitu interpretasi, moralitas, dan
kekuasaan. Interpretasi dilakukan melalui bahasa, moralitas didirikan melalui
norma kelompok, dan kekuasaan diraih melalui struktur kekuasaan interpersonal yang timbul dalam kelompok. Menurut Poole, interaksi selalu menyangkut ketiga hal tersebut. Poole mengasumsikan bahwa anggota kelompok adalah faktor yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang secara refleksif mengontrol aktivitas mereka. Moralitas, interpretasi, dan kekuasan selalu dikombinasikan dalam setiap tindakan kelompok. Konstribusi tiga elemen tindakan tersebut sangat menarik sebagai awal bagi kita memahami proses yag dilalui oleh kelompok saat mereka membuat suatu keputusan.
Menurut Poole dalam West and Turner (2007:304) dinamika kelompok merupakan hal yang sangat rumit dan tidak dapat disederhanakan ke dalam satu rangkaian proposisi atau rangkaian peristiwa tunggal terprediksi. Pembuatan keputusan kelompok adalah proses dimana anggota-anggota kelompok berusaha untuk mencapai persetujuan pada keputusan terakhir. Individu mengeluarkan opini dan preferensi dan dengannya memproduksi atau mereproduksi aturan tertentu dimana persetujuan bisa dicapai atau dihadang. Dalam membuat keputusan tersebut, menurutnya kelompok-kelompok terkadang mengikuti prosedur terprediksi, namun terkadang mereka tidak sistematik, dan terkadang juga mereka mengembangkan suatu jalur atau urutan sendiri dalam rangka merespon suatu kebutuhan unik yang mereka hadapi. Hal Ini tidak dapat terlepas dari tiga variabel yang mempengaruhi bagaimana kelompok beroperasi, yaitu :
1) Objective task characteristics; yakni menyangkut jenis permasalahan,
kejelasan masalah, jenis keahlian yang diperlukan, dampak dari
permasalahan, dan nilai-nilai yang terkandung dalam permasalahan
tersebut.
2) Group task characteristics; yakni menyangkut pengalaman terdahulu kelompok terhadap masalah tersebut, dan tingkat urgensi keputusan.
3) Group structural characteristic; yakni menyangkut kohesivitas kelompok, ukuran kelompok, serta distribusi kekuasaan.
Sesuai dengan tesis Giddens, Poole dalam West and Turner (2007:298) menegaskan bahwa anggota kelompok adalah agen aktif. Strukturasi adalah produksi dan reproduksi sistem sosial melalui penggunaan aturan-aturan dan sumber daya oleh anggota dalam interaksi. Interaksi dalam teori tersebut itu adalah tindakan yang didasarkan pada kehendak bebas. Sedangkan aturan adalah proposisi yang membuat keputusan bernilai atau menunjukkan bagaimana sesuatu seharusnya dilakukan. Sementara sumber daya adalah material-material, barang milik, dan karakter yang dapat digunakan untuk mempengaruhi atau mengendalikan tindakan kelompok atau anggotanya. Produksi terjadi ketika anggota kelompok menggunakan aturan-aturan dan sumber daya dalam interaksi, sementara itu reproduksi terjadi ketika fitur penguatan tindakan dari sistem sudah ada di tempat.
Poole dan McPhee (Morissan, 2009:65) juga mengatakan bahwa struktur organisasi merupakan manifestasi dan produk komunikasi dalam organisasi.
Struktur organisasi memungkinkan adanya 2 (dua) tipe komunikasi yakni langsung dan tidak langsung. Komunikasi langsung berarti terbukanya peluang bagi karyawan untuk membicarakan mengenai perusahaan dalam perusahaan.
Komunikasi tidak langsung, berarti memberitahu kepada karyawan secara tidak
langsung mengenai perusahaan, misalnya mengenai nilai-nilai, prosedur dan
metode yang dijalankan perusahaan.
Mikkel (2007:121) juga mengatakan bahwa strukturisasi juga menimbulkan apa yang disebut iklim komunikasi. Iklim komunikasi dipandang sebagai salah satu variabel penting yang mempengaruhi komunikasi, yang selanjutnya mempengaruhi produktifitas dan kepuasan karyawan. Bagi Poole dan McPhee, iklim komunikasi adalah gambaran kolektif dari kinerja organisasi yang membentuk harapan dan perasaan anggota dan karenanya juga mempengaruhi kinerja organisasi.
2.2.1. Pengertian Komunikasi Organisasi
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, fakta, pikiran dan perasaan, dari satu orang ke orang lain. Dalam kehidupan organisasi, komunikasi menjadi sesuatu yang sangat penting karena komunikasi dapat meningkatkan saling pengertian antara karyawan dan atasan, dan meningkatkan koordinasi dari berbagai macam kegiatan/tugas yang berbeda. Komunikasi diperlukan agar karyawan mengetahui kewajiban dan tanggung jawabnya, hal ini berarti karyawan mengetahui posisinya dalam organisasi.
Beberapa definisi komunikasi organisasi yang dikemukakan oleh para ahli adalah :
- Komunikasi organisasi merupakan suatu prospek komunikasi yang menyangkut jaringan kerjasama secara luas di dalam berbagai aspek organisasi termasuk di dalamnya komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok. Pendekatan dari teori ini adalah mengkaji tentang masalah struktur komunikasi hubungan manusia (human relations communication) dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi (Lubis, 2007:32).
- Komunikasi organisasi adalah suatu sistem yang mapan dari mereka
yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang
kepangkatan dan pembagian tugas (Everet M. Rogers, 2005:87).
- Komunikasi organisasi adalah sarana dimana manajemen mengkoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang (Robert Bonnington, 2005:69).
- Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005:38).
Goldhaber dalam Muhammad (2008:38) komunikasi organisasi adalah proses saling menciptakan dan menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang sering berubah-ubah. Komunikasi organisasi mempunyai peranan penting dalam memadukan fungsi-fungsi manajemen dalam suatu perusahaan, yaitu :
1) Menetapkan dan menyebarluaskan tujuan perusahaan.
2) Menyusun rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3) Melakukan pengorganisasian terhadap sumber daya manusia dan sumber daya lainnya dengan cara efektif.
4) Mengadakan seleksi, pengembangan dan penilaian anggota organisasi.
5) Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan iklim yang menimbulkan keinginan orang untuk memberi konstribusi.
6) Mengendalikan prestasi (Purba, 2006:112-113).
Komunikasi organisasi dalam pengertian yang lain adalah suatu perilaku pengorganisasian yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu (berinteraksi dan memberi makna) atas apa yang sedang terjadi atau proses penciptaan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi (Pace & Faules, 2002:33).
2.2.2. Aliran Komunikasi
Hasibuan (2007:174) dalam bukunya Organisasi dan Motivasi
mengemukakan aliran dapat pula diartikan sebagai saluran komunikasi. Ibarat
sebuah aliran air menurut gravitasi, saluran air selalu mengalir dari hulu ke hilir.
Dalam konteks ilmu komunikasi, aliran terdapat lebih banyak variasi. Arah aliran komunikasi terdapat beberapa bentuk, yaitu : secara horizontal, vertikal.
2.2.2.1. Komunikasi ke bawah
Komunikasi ke bawah dalam organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada mereka yang berotoritasi lebih rendah.
Jenis informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan kepada bawahan antara lain, Mulyana (2003:47) :
1) Informasi mengenai bagaimana melakukan pekerjaan.
2) Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan pekerjaan.
3) Informasi mengenai kebijakan dan praktek-praktek organisasi.
4) Informasi mengenai kinerja karyawan.
5) Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas.
Informasi yang disampaikan dari seorang atasan kepada bawahan tidak begitu saja disampaikan, utamanya mereka harus melewati pemilihan metode dan media informasi. Ada enam kriteria yang sering digunakan untuk memilih metode penyampaian informasi kepada para karyawan, antara lain : 1) Ketersediaan, 2) Biaya, 3) Pengaruh, 4) Relevansi, 5) Respons, 6) Keahlian.
Metode yang sering digunakan para atasan untuk menyampaikan informasi kepada bawahannya antara lain : 1) Tulisan saja, 2) Lisan saja, 3) Tulisan diikuti lisan, 4) Lisan diikuti tulisan.
2.2.2.2. Komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi berarti informasi mengalir
dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Beberapa alasan
pentingnya arus komunikasi ke atas didasarkan pada :
1) Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan keputusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi dan mengawasi kegiatan orang-orang lainnya.
2) Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyedia kapan bawahan mereka siap menerima apa yang dikatakan kepada mereka.
3) Komunikasi ke atas memungkinkan – bahkan mendorong – omelan dan keluh kesah muncul kepermukaan sehingga penyedia tahu apa yang mengganggu mereka yang paling dekat dengan operasi sebenarnya.
4) Komunikasi ke atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas kepada organisasi dengan memberi kesempatan kepada karyawan untuk menentukan apakah bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah.
5) Komunikasi ke atas membantu karyawan mengatasi masalah pekerjaan mereka dengan organisasi tersebut.
6) Komunikasi ke atas mengizinkan penyedia untuk menentukan apakah bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah (Mulyana, 2003:48).
Kebanyakan analisis dan penelitian dalam komunikasi ke atas menyatakan bahwa penyedia dan manajer harus menerima informasi berupa; informasi yang memberitahukan apa yang dilakukan bawahan, menjelaskan persoalan-persoalan kerja, memberi saran atau gagasan untuk perbaikan dalam unit-unit mereka, dan mengungkapkan bagaimana pikiran dan perasaan bawahan tentang pekerjaan mereka, rekan kerja mereka, dan organisasi.
Komunikasi ke atas dapat menjadi terlalu rumit dan menyita waktu dan mungkin hanya segelintir manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh informasi dari bawah. Sedarmayanti (2000:41) dalam bukunya berjudul Restrukriasi dan Pemberdayaan Organisasi menguraikan mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit:
1) Kecenderungan bagi karyawan untuk menyembunyikan pikiran mereka.
2) Perasaan bahwa penyedia dan manajer tidak tertarik kepada masalah karyawan.
3) Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan karyawan.
4) Peranan bahwa penyedia dan manajer tidak dapat dihubungi dan tidak
tanggap pada apa yang disampaikan karyawan.
Tujuh prinsip sebagai pedoman program komunikasi ke atas. Prinsip- prinsip tersebut adalah:
1) Program komunikasi ke atas yang efektif harus direncanakan.
2) Program komunikasi ke atas yang efektif berlangsung secara berkesinambungan.
3) Program komunikasi ke atas yang efektif menggunakan saluran rutin.
4) Program komunikasi ke atas yang efektif menitikberatkan kepekaan dan penerimaan dalam pemasukan gagasan dari tingkat yang lebih rendah.
Komunikasi horizontal terdiri dari penyampaian informasi diantara rekan sejawat dalam unit kerja yang sama. Unit kerja meliputi individu-individu yang ditempatkan pada tingkat otoritas yang sama dalam organisasi dan mempunyai atasan yang sama. Mukhyi (2001:44) dalam bukunya berjudul Pengantar Manajemen Umum mengemukakan, tujuan dari komunikasi horizontal adalah :
1) Untuk mengkoordinasikan penugasan kerja.
2) Berbagai informasi mengenai rencana dan kegiatan.
3) Untuk memecahkan masalah.
4) Untuk memperoleh pemahaman bersama.
5) Untuk mendamaikan, berunding, dan menengahi perbedaan.
6) Untuk menambahkan dukungan antar pesona.
Bentuk komunikasi horizontal yang paling umum mencakup semua jenis kontak antarpersonal. Bahkan bentuk komunikasi horizontal tertulis cenderung menjadi lebih lazim. Komunikasi horizontal paling sering terjadi dalam rapat komisi, interaksi pribadi, selama waktu istirahat, obrolan di telepon, memo dan catatan, kegiatan sosial dan lingkaran kualitas.
2.2.2.3. Komunikasi Lintas Saluran
Penyampaian informasi rekan sejawat yang melewati batas-batas
fungsional dengan individu yang tidak menduduki posisi atasan maupun bawahan
mereka. Mereka melintas jalur fungsional dan berkomunikasi dengan orang-orang
yang diawasi dan yang mengawasi tetapi bukan atasan maupun bawahan mereka.
Mereka tidak melewati otoritas lini untuk mengarahkan orang-orang yang berkomunikasi dengan mereka dan terutama harus mempromosikan gagasan- gagasan mereka. Namun mereka memiliki mobilitas tinggi dalam organisasi, mereka mengunjungi bagian lain atau meninggalkan kantor mereka hanya untuk terlibat dalam komunikasi informal.
2.2.2.4. Komunikasi Informal/Pribadi
Informasi informal/personal ini muncul dari interaksi di antara orang- orang, informasi ini tampaknya mengalir dengan arah yang tidak dapat diduga, dan jaringannya digolongkan sebagai selentingan. Informasi yang mengalir sepanjang jaringan kerja selentingan terlihat berubah-ubah dan tersembunyi.
Dalam istilah komunikasi selintingan digambarkan sebagai metode penyampaian laporan rahasia tentang orang-orang dan peristiwa yang tidak mengalir melalui saluran perusahaan yang formal. Informasi yang diperoleh melalui saluran perusahaan yang formal. Informasi yang diperoleh melalui selentingan lebih memperhatikan apa yang dikatakan atau didengar oleh seseorang daripada apa yang dikeluarkan oleh pemegang kekuasaan.
2.2.3. Fungsi Komunikasi Organisasi
Sendjaja dalam Bungin (2006:165) menyatakan bahwa organisasi baik yang berorientasi untuk mencari keuntungan (profit) maupun nirlaba (non-profit), memiliki empat fungsi organisasi, yaitu: fungsi normatif, regulatif, persuasif, dan integratif. Keempat fungsi tersebut dijelaskan sebagai berikut :
- Fungsi informatif. Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem
pemerosesan informasi. Orang-orang dalam tataran manajemen
membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi
ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi.
Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, disamping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan sebagainya.
- Fungsi regulatif. Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Yaitu: a). Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan.
Juga memberi perintah atau instruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. b). Berkaitan dengan pesan.
Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
- Fungsi persuasif. Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan.
- Fungsi integratif. Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu: a). Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, surat kabar) dan laporan kemajuan organisasi. b). Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata.
Pace dalam Mulyana (2003:38) mengatakan fungsi komunikasi dalam organisasi sangat menentukan efektivitas dan efisiensi organisasi dalam mencapai tujuannya, karena fungsi :
1) Proaksi dan regulasi.
2) Menentukan tujuan organisasi.
3) Menentukan area permasalahan.
4) Mengevaluasi performa.
5) Memberikan komando, instruksi, memimpin dan mempengaruhi inovasi.
6) Mendapatkan informasi baru.
7) Cara mengkomunikasikan suatu yang baru dalam sosialisasi dan perbaikan 8) Harga diri anggota.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat dipahami bahwa fungsi komunikasi
dalam organisasi adalah sangat penting, karena menguasai seluruh aspek dari
aktivitas yang berkaitan dengan interaksi anggota organisasi.
2.2.4. Hubungan Komunikasi Dalam Organisasi
Berlo dalam Rakhmat (2002:42) dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyarankan bahwa komunikasi berhubungan dengan Organisasi Sosial dengan tiga cara:
Pertama, sistem sosial dihasilkan lewat komunikasi. Keseragaman
perilaku dan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma dihasilkan lewat komunikasi diantara anggota-anggota kelompok.
Kedua, bila suatu sistem sosial telah berkembang, ia menentukan komunikasi anggota-anggotanya. Sistem sosial mempengaruhi bagaimana, ke, dan dari siapa, dan dengan pengaruh bagaimana komunikasi terjadi di antara anggota-anggota sistem.
Ketiga, pengetahuan mengenai suatu sistem sosial dapat membantu kita
membuat prediksi yang akurat mengenai orang-orang tanpa mengetahui lebih banyak daripada peranan-peranan yang mereka duduki dalam sistem.
Organisasi sosial dapat dibagi ke dalam organisasi formal dan nonformal.
Perbedaan antara kedua organisasi ini secara prinsip dibedakan oleh perbedaan struktur dan hirarki. Organisasi formal, atau lebih dikenal dengan birokrasi sebagaimana dianut dalam Rakhmat (2002:43) dengan sepuluh ciri birokrasinya, yaitu:
Satu, Suatu organisasi terdiri dari hubungan-hubungan yang ditetapkan
antara jabatan-jabatan. Blok-blok bangunan dasar dari organisasi formal adalah jabatan-jabatan.
Dua, Tujuan atau rencana organisasi terbagi kedalam tugas-tugas, tugas-
tugas organisasi disalurkan diantara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmi.
Tiga, Kewenangan untuk melaksanakan kewajiban diberikan kepada
jabatan. Yakni, satu-satunya saat bahwa seorang diberi kewenangan untuk melakukan tugas-tugas jabatan adalah ketika ia secara sah menduduki jabatannya.
Empat, Garis-garis kewenangan dan jabatan menurut suatu tatanan
hirarkis. Hirarkinya mengambil bentuk umum suatu piramida, yang
menunjukkan setiap karyawan bertanggung jawab kepada atasannya atas
keputusan-keputusan bawahannya serta keputusan-keputusannya sendiri.
Lima, Suatu sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas, yang
ditetapkan secara formal, mengatur tindakan-tindakan dan fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi.
Enam, Prosedur dalam organisasi bersifat formal dan impersonal – yakni,
peraturan-peraturan organisasi berlaku bagi setiap orang. Jabatan diharapkan memiliki varitas yang impersonal dalam hubungan mereka dengan langganan dan pejabat lainnya.
Tujuh, Suatu sikap prosedur untuk menerapkan suatu sistem disiplin
merupakan bagian dari organisasi.
Delapan, Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan
kehidupan organisasi.
Sembilan, Karyawan dipilih untuk bekerja dalam organisasi berdasarkan
kualifikasi teknis, alih-alih koneksi politis, koneksi keluarga, atau koneksi lainnya.
Sepuluh, Meskipun pekerjaan dalam birokrasi berdasarkan kecakapan