DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Daftar Tabel iv
Daftar Gambar v
Istilah dan Definisi ix
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang I-1
1.2 Deskripsi Singkat I-1
1.3 Kompetensi Dasar I-2
1.4 Indikator Keberhasilan I-2
1.5 Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan I-2
1.6 Petunjuk Penggunaan Modul I-2
1.7 Bahan Belajar I-3
Bab 2 Uraian Materi Pokok
2.1 Uraian Materi Tentang Abrasi dan Sedimentasi Pantai II-2 2.1.1 Proses Abrasi dan Sedimentasi Pantai II-2 2.1.2 Proses Litoral, Abrasi, dan Sedimentasi II-9
2.1.3 Penyebab Abrasi Pantai II-10
2.1.4 Dampak dan Penanggulangan Abrasi Pantai II-12 2.1.5 Jenis-Jenis Bangunan Pengaman Pantai II-13
2.1.6 Contoh Kasus II-16
2.2 Uraian Materi Tentang Muara Sungai II-33
2.2.1 Definisi Muara Sungai II-33
2.2.2 Fungsi Muara Sungai II-34
2.2.3 Karateristik Fisik Muara Sungai II-34
2.2.4 Parameter Desain Muara II-44
2.2.5 Kriteria Penanganan Muara Sungai II-45
2.2.6 Kriteria stabilitas muara sungai II-46
2.2.7 Strategi Penanganan muara sungai II-46
2.2.8 Contoh Kasus II-50
2.3 Uraian Materi Tentang Aspek Monitoring dan Evaluasi II-64 2.3.1 Kriteria Penilaian Kerusakan Pantai II-64
2.3.2 Tolok Ukur Kerusakan Pantai II-68 2.3.3 Pembobotan dan Prioritas Penanganan II-94
Bab 3 Penutup
3.1 Rangkuman III-1
3.2 Daftar Pustaka III-2
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Penilaian Kerusakan Pantai pada Permukiman dan
Fasilitas Umum II-72
Tabel 2 Penilaian Kerusakan Pantai pada Areal Pertanian II-74 Tabel 3 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Menurunnya
Kualitas Perlindungan Alami Kawasan Gumuk Pasir II-76 Tabel 4 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Pencemaran Kerusakan
Pantai II-78
Tabel 6 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Penebangan Hutan
(Tanaman) Mangrove II-82
Tabel 7 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Penambangan Terumbu
Karang II-84
Tabel 8 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Rob pada Kawasan Pesisir II-86 Tabel 9 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Perubahan Garis Pantai II-88 Tabel 10 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Kerusakan Bangunan II-90 Tabel 11 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Sedimentasi pada
Muara Sungai II-92
Tabel 12 Penilaian Kerusakan Pantai Karena Sedimentasi Muara Sungai II-94 Tabel 13 Koefisien Bobot Tiap Kepentingan II-95
Tabel 14 Bobot Tiap Kerusakan II-96
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Proses angkutan sedimen sejajar pantai . II-3 Gambar 2 Proses terjadinya longshore current . II-3 Gambar 3 Proses perubahan arah gelombang penyebab abrasi II-4 Gambar 4 Skema keseimbangan sedimen yang terjadi di pantai II-5 Gambar 5 Kondisi pantai yang terkena abrasi. II-6 Gambar 6 Kondisi pantai yang terkena pendangkalan akibat sedimentasi. II-6 Gambar 7 Proses littoral transport di area nearshore. II-7 Gambar 8 Abrasi dan sedimentasi akibat longshore current. II-8 Gambar 9 Contoh perlindungan abrasi dengan Groin. II-14 Gambar 10 Konfigurasi tipikal pantai yang dilindungi dengan sistem Groin. II-14 Gambar 11 Perlindungan pantai dengan sistem Breakwater. II-15 Gambar 12 Konfigurasi tipikal pantai yang dilindungi dengan
pemecah gelombang. II-15
Gambar 13 Perlindungan pantai dengan Revetment. II-16
Gambar 14 Peta Pulau Wawoni. II-17
Gambar 15 Kondisi pantai Pulau Wawoni (1) II-17
Gambar 16 Kondisi pantai Pulau Wawoni (2). II-18
Gambar 17 Kondisi pantai Pulau Wawoni (3). II-18
Gambar 18 Kondisi pantai Pulau Wawoni (4) II-19
Gambar 19 Kondisi pantai Pulau Wawoni (5) II-19
Gambar 20 Identifikasi permasalahan pantai Pulau Wawoni. II-20 Gambar 21 Lokasi Pantai Kasipute dan Pantai Boepinang. II-23 Gambar 22 Lokasi Pantai Kasipute berdasarkan peta Dishidros. II-23 Gambar 23 Lokasi Pantai Boepinang berdasarkan peta Dishidros. II-24 Gambar 24 Sketsa lokasi Pantai Kasipute (1) II-24 Gambar 25 Sketsa lokasi Pantai Kasipute (2) II-25
Gambar 26 Data windrose. II-25
Gambar 27 Kondisi Pantai Kasipute (3) II-26
Gambar 28 Kondisi Pantai Kasipute (4) II-26
Gambar 29 Kondisi Pantai Kasipute (5) II-27
Gambar 30 Kondisi Pantai Kasipute (6) II-27
Gambar 31 Masterplan Pantai Kasipute. II-28
Gambar 32 Kondisi Pantai Kasipute (7) II-28
Gambar 34 Peta lokasi pekerjaan di Pulau Lembeh dari Peta Dishidros. II-30 Gambar 35 Kondisi pantai di Pulau Lembeh (1) II-31
Gambar 36 Kondisi pantai di Pulau Lembeh (2) II-31 Gambar 37 Profil salinitias muara (Castro dan Huber, 2007). II-35 Gambar 38 Proses progradasi dan transgresi pembentukan muara. II-35 Gambar 39 Diagram klasifikasi muara (Boyd dkk, 1992 dan Dalrymple dkk,
1992). II-37
Gambar 40 Tipe muara yang didominasi gelombang laut. II-38 Gambar 41 Contoh muara yang didominasi gelombang (arah laut). II-39 Gambar 42 Contoh muara yang didominasi gelombang (arah darat). II-39 Gambar 43 Contoh muara yang didominasi gelombang laut. II-40 Gambar 44 Tipe muara yang didominasi aliran sungai. II-41 Gambar 45 Contoh muara yang didominasi sungai (delta Bengawan Solo). II-41 Gambar 46 Tipe muara yang didominasi pasang surut. II-42 Gambar 47 Diagram alir tahapan penanganan muara sungai. II-48 Gambar 48 Alternatif penanganan muara sungai. II-49
Gambar 49 Peta rupa bumi Sungai Progo. II-50
Gambar 50 Peta Google Earth Sungai Progo. II-50
Gambar 28 Desain jetty Sungai Progo oleh BCEOM. II-51 Gambar 52 Desain jetty Sungai Progo oleh Arief Nuryanto &
Nur Yuwono, 2002. II-51
Gambar 53 Foto udara muara Progo 13 Januari 2001. II-52 Gambar 54 Foto udara muara Progo 7 April 2004. II-52 Gambar 55 Konstruksi yang dilaksanakan tahun 2005. II-53 Gambar 56 Konstruksi yang dilaksanakan tahun 2005. II-53 Gambar 57 Konstruksi rubble mound jetty sisi kanan dengan bobot batu
1-2 ton pada tahun 2006. II-54
Gambar 58 Konstruksi jetty sisi kiri pada tahun 2006. II-54 Gambar 59 Kondisi konstruksi jetty pada Maret 2006. II-55 Gambar 60 Kondisi konstruksi jetty pada Maret 2006. II-55 Gambar 61 Kondisi muara makin menyempit pada Mei 2006. II-56 Gambar 62 Kondisi muara makin menyempit pada Mei 2006. II-56 Gambar 63 Perbandingan kondisi muara pada Maret dan Mei 2006. II-57 Gambar 64 Lokasi pekerjaan di Muara Sungai Opak. II-57 Gambar 65 Lokasi foto pekerjaan di Muara Sungai Opak. II-58 Gambar 66 Foto-1: Muara Kali Opak ke arah Tenggara
(Pantai Parangtritis). II-59
Gambar 67 Foto-2: Muara Kali Opak ke arah Selatan (Samudera Hindia). II-59 Gambar 68 Foto-3: Muara Kali Opak ke arah Barat Daya (Pantai Samas). II-60 Gambar 69 Foto-4: Laguna Muara Kali Opak ke arah Barat Daya
(Pantai Samas). II-60 Gambar 70 Foto-5: Laguna Muara Kali Opak ke arah Utara. II-61 Gambar 71 Foto-6: Laguna Muara Kali Opak ke arah Barat Daya
(Pantai Samas). II-61
Gambar 72 Identifikasi arah gelombang di Muara Sungai Opak. II-63 Gambar 73 Identifikasi permasalahan di Muara Sungai Opak. II-63 Gambar 74 Bagan alir penilaian kerusakan pantai. II-64
ISTILAH DAN DEFINISI
Abrasi : adalah proses dimana terjadi pengikisan pantai yang disebabkan oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak Backshore : daerah yang dibatasi oleh foreshore dan garis pantai yang
terbentuk pada saat terjadi gelombang badai bersamaan dengan muka air tinggi
Barrier island : gundukan pasir (atau spit) yang membentuk pulau sempit yang memanjang sejajar dengan daratan
Breaker zone : daerah di mana gelombang yang datang dari laut (lepas pantai) mencapai ketidak-stabilan dan akhirnya pecah.
Berm : Daerah plateau pada pantai yang mendekati datar di muka pantai atau backshore, dibentuk oleh deposisi material pantai oleh aksi gelombang atau karena pembentukan secara mekanis dalam proyek pengisian pasir
breakwater : bangunan pengaman pantai yang dibangun melintang atau relatif sejajar garis pantai dengan tujuan mereduksi energi gelombang sehingga akan terbentuk perairan yang tenang di belakang
pemecah gelombang
Daratan : daerah yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan dimulai dari batas garis pasang tertinggi
Estuari : daerah semi tertutup di pesisir pantai yang mempunyai akses menuju laut lepas dimana terjadi pencampuran antara air laut dengan air tawar yang mengalir dari darat melalui sungai Foreshore : daerah yang terbentang dari garis pantai pada saat muka air rendah sampai batas atas dari uprush pada saat air pasang
tinggi.
Garis pantai : garis batas pertemuan antara daratan dan air laut, dimana
posisinya tidak tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi.
groin : bangunan yang dibuat relatif tegaklurus garis pantai untuk mengendalikan erosi pantai pada bagian updrift dengan cara menahan transpor sedimen sejajar pada bagian downdrift Inshore : daerah yang membentang ke arah laut dari foreshore sampai tepat di luar breaker zone.
Inlet : celah sempit yang menghubungkan lagoon dengan laut jeti : bangunan yang dibuat di muara sungai untuk mengarahkan
aliran dan menjaga muara sungai tersebut dari pendangkalan akibat sedimentasi
Lautan : daerah yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut pada garis surut terendah, termasuk dasar laut dan bagian bumi dibawahnya.
Longshore bar : gumuk pasir yang memanjang dan kira-kira sejajar dengan garis pantai. Longshore bar terbentuk karena proses gelombang pecah di daerah inshore.
Lagoon : adalah perairan dangkal yang memisahkan barrier beach dari
daratan
Longshore transport :adalah perpindahan sedimen yang mempunyai arah rata-rata sejajar garis pantai.
Offshore : daerah dari garis gelombang pecah ke arah laut
Pantai : daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan air surut terendah
revetmen : struktur bangunan pengaman pantai yang dibuat relatif menempel dan mengikuti garis pantai dengan tujuan untuk melindungi pantai yang tererosi
Sempadan : daratan sepanjang tepian yang lebarnya sesuai dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah daratan.
Surf zone : daerah yang terbentang antara bagian dalam dari gelombang pecah dan batas naik-turunnya gelombang di pantai.
Swash zone : daerah yang dibatasi oleh garis batas tertinggi naiknya gelombang dan batas terendah turunya gelombang di pantai.
Spit : terbentuk ketika gelombang dominan dan arus meng-endapkan sedimen membentuk dataran yang memanjang, menjauhi headland yang tererosi (atau sumber sedimen lain)
Tombolo : bentuk deposisi pasir di belakang pulau atau obyek yang berada di hadapan pantai (offshore)
Tanjung : permukaan yang tegak yang memanjang masuk kedalam badan
air
tembok laut : bangunan yang berfungsi mengamankan bagian darat pantai terhadap erosi akibat gelombang dan sekaligus sebagai dinding
penahan tanah.
tanggul laut : bangunan pantai yang dibuat untuk memisahkan dataran pantai rendah dengan perairan laut agar terhindar dari banjir akibat
pasang air laut
nearshore zone : daerah tempat energi dari laut beraksi ke arah darat
Sedimentasi : adalah masuknya muatan sedimen ke dalam suatu lingkungan perairan tertentu melalui media air dan diendapkan di dalam lingkungan tersebut
Bab 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam rangka pelaksanaan operasi dan pemeliharaan bangunan pantai maka, perlu dipersiapkan aparatur sipil negara yang memiliki integritas dan profesional.
Tuntutan untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan memiliki aparatur sipil negara yang memiliki integritas dan profesional tentunya membutuhkan kesungguhan dan kesiapan sumber daya manusia yang baik melalui penyaringan penerimaan aparatur sipil negara yang baik dan selektif. Juga tidak bisa diabaikan adalah pentingnya pembinaan, pendidikan dan pelatihan sumber daya aparatur sipil negara untuk membentuk dan mengkader aparatur yang berintegritas dan profesional.
Kesiapan sumber daya aparatur yang baik dan berkualitas tentunya akan memudahkan berlangsungnya proses reformasi birokrasi yang sedang dijalankan.
Sehubungan dengan hal tersebut faktor kesiapan dan kemauan untuk merubah pola pikir, sikap dan perilaku sebagai pegawa negeri sipil yang berintegritas dan profesional menjadi pondasi dan esensi strategis yang ikut menentukan keberhasilan pelaksanaan OP bangunan pantai.
Salah satu upaya untuk menciptakan aparatur pelaksana OP bangunan pantai yang profesional adalah dengan mengikuti diklat OP bangunan pantai khususnya dengan mengikuti materi pembelajaran tentang modul sikap dan perilaku kerja PNS. Dari keikutsertaan pada diklat tersebut maka diharapkan seorang PNS akan mampu untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dengan sebaik-baiknya khususnya PNS yang akan menjalankan kegiatan OP bangunan pantai
1.2 Deskripsi Singkat
Lingkungan pantai merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan, karena daerah tersebut menjadi tempat bertemunya dua kekuatan, yaitu berasal dari daratan dan lautan. Perubahan lingkungan pantai dapat terjadi secara lambat hingga sangat cepat, tergantung pada imbang daya antara topografi, batuan dan sifat-sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan angin. Perubahan pantai terjadi apabila proses geomorfologi yang terjadi pada suatu segmen pantai melebihi proses yang biasa terjadi. Perubahan proses geomorfologi tersebut sebagai akibat dari sejumlah faktor lingkungan seperti faktor geologi,
geomorfologi, iklim, biotik, pasang surut, gelombang, arus laut dan salinitas (Sutikno, 1993). Salah satu jenis bencana di lingkungan pantai yang sering terjadi di Indonesia adalah abrasi pantai.
Abrasi merupakan permasalahan yang sering muncul di daerah pesisir yang diakibatkan oleh aktivitas gelombang. Abrasi atau pengikisan pada pantai antara lain disebabkan karena berkurangnya atau hilangnya struktur penahan gelombang alami, seperti bukit pasir (sand dunes), terumbu karang dan vegetasi pantai.
Gelombang laut yang memiliki energi besar, yang seharusnya pecah atau direfleksikan kembali ke laut oleh penahan gelombang alami, menggempur bibir pantai, lalu membawa material pantai ke laut lepas. Akibatnya adalah garis pantai dari tahun ke tahun akan berkurang dan pada akhirnya akan mengancam prasarana di pesisir. Apabila abrasi seperti ini tidak ditangani secara efektif, kedepan akan merusak prasarana yang ada seperti jalan dan pemukiman yang dapat membahayakan masyarakat di sepanjang pantai.
Selain abrasi jenis bencana pesisir yang sering terjadi dan menimbulkan dampak cukup besar adalah sedimentasi di daerah muara sungai. Untuk di beberapa tempat sedimentasi memberikan dampak yang positif karena bisa memberikan lahan daratan tambahan namun jika terjadi di muara sungai maka dampak yang ditimbulkan adalah mulai dari penyempitan alur pelayaran sampai menimbulkan banjir akibat terhalangnya jalan air.
1.3 Kompetensi Dasar
Setelah peserta diklat mengikuti materi ini maka diharapkan peserta mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan memahami jenis kerusakan yang berpotensi dan sering terjadi di lingkungan pantai serta bagaimana cara untuk menanggulangi akibat dari kerusakan itu sendiri.
1.4 Indikator Keberhasilan
1. Mengetahui dan memahami proses terjadinya abrasi dan sedimentasi pantai 2. Mengetahui dan memahami aspek teknis muara sungai
3. Mampu untuk melakukan identifikasi dan penilaian kerusakan beserta prioritas penanganannya
1.5 Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan
Modul ini akan menyampaikan beberapa pokok bahasan dan sub pokok bahasan sebagai berikut:
1. Uraian definisi abrasi dan sedimentasi pantai (90 menit)
a. Uraian tentang proses dan penyebab terjadinya abrasi dan sedimentasi pantai.
2. Uraian Materi Tentang Muara Sungai (90 menit)
3. Uraian tentang aspek monitoring dan evaluasi (90 menit) a. Uraian kriteria kerusakan
b. Uraian tolok ukur kerusakan
c. Prosedur pembobotan dan penentuan prioritas penanganan
1.6 Petunjuk Penggunaan Modul 1. Petunjuk bagi peserta diklat
a. Mempelajari modul mulai dari awal hingga akhir secara berurutan dan kerjakan tugas yang telah disediakan.
b. Menyiapkan peralatan-peralatan yang dibutuhkan pada masing-masing kegiatan berlatih.
c. Gunakan selalu baju lapangan (lengan panjang dan topi) ketika melakukan kegiatan berlatih di lapangan (praktik).
d. Siswa berhak bertanya kepada pelatih jika menghadapi hal-hal yang tidak dimengerti dari modul ini.
2. Petunjuk bagi pelatih
a. Memahami secara baik isi modul yang akan diajarkan, dapat dilakukan melalui kaji widya.
b. Sebagai fasilitator peserta dalam proses berlatih, tidak mendominasi proses berlatih.
1.7 Bahan Belajar
Sebagai bahan belajar maka setiap pemberi materi akan memberikan bahan belajar melalui bahan tayang (slide ppt), LCD, komputer/ laptop dan modul.
1.8 Metode Pembelajaran Ceramah, tanya jawab dan diskusi