• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Konsumsi Omega 3 Dari Makanan Berbahan Ikan Pada Ibu Hamil di Kota Tarakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pola Konsumsi Omega 3 Dari Makanan Berbahan Ikan Pada Ibu Hamil di Kota Tarakan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Pola Konsumsi Omega 3 Dari Makanan Berbahan Ikan Pada Ibu Hamil di Kota Tarakan

Nurasmi, Susanti, dan Yuni Retnowati FIKES Universitas Borneo Tarakan

Phone: +62 551 5511158

Abstrak

Di Indonesia terjadi masalah gizi ganda yaitu gizi kurang pada balita dan gizi lebih terjadi pada orang dewasa. Penyebab tingginya angka kejadian gizi ganda di Indonesia salah satunya diduga karena kelebihan dan kekurangan konsumsi makanan omega 3, EPA, DHA yang secara alami terdapat pada ASI, ikan dan minyak ikan. Omega 3 merupakan asam lemak tak jenuh ganda yang mempunyai banyak manfaat diantaranya untuk optimal tumbuh kembang anak jika dikonsumsi sesuai anjuran yang telah ditentukan. Pertumbuhan sel otak manusia sangat tergantung pada kadar omega 3 secara cukup sejak bayi dalam kandungan sampai balita. Bila pada masa tersebut cukup tersedia omega 3 maka anak tersebut akan tumbuh dengan potensi kecerdasan maksimal. Karena alasan itu, sejak ibu hamil perlu mengonsumsi ikan dalam jumlah cukup sampai bayi yang dikandungnya lahir. Setelah bayi bisa makan nasi tim perkenalkan ikan sampai usia selanjutnya agar bayi menjadi sehat dan cerdas (Lamid,2007). Tujuan penelitian untuk mengetahui pola konsumsi omega 3 dari makanan berbahan ikan pada ibu hamil di kota Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan Cross sectional dengan jumlah data sampel 62 menggunakan metode total sampling. Subyek yang diteliti adalah 62 ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusif dan ekslusif. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuisioner tertutup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola konsumsi omega 3 dari makanan berbahan ikan pada ibu hamil di kota Tarakan termasuk kategori Cukup yaitu 50% ( 31 ibu).

(2)

A. PENDAHULUAN

Masalah gizi masih menjadi masalah kesehatan yang paling serius di dunia dan memberi kontribusi besar bagi angka kematian anak. Anak-anak di negara berkembang hampir sepertiganya menderita kekurangan gizi atau terhambat pertumbuhannya, dan lebih dari 30% dari populasi negara berkembang menderita kekurangan gizi mikro.

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi dalam tubuh melalui proses pencernaan, penyerapan, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pembuangan untuk pemeliharaan hidup, pertumbuhan dan fungsi organ tubuh serta untuk produksi energi. Status gizi dapat ditentukan dengan cara penilaian secara klinis, pemeriksaan laboratorium, penilaian konsumsi pangan dan pengukuran anthropometri. Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada balita, mengingat manfaat nutrisi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan balita. Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil (Diana,2009).

Terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada balita diharapkan dapat tumbuh dengan cepat sesuai dengan usia tumbuh kembang dan dapat meningkatkan kualitas hidup serta mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas. Salah satu nutrisi yang berperan dalam tumbuh kembang balita adalah asam lemak esensial, asam lemak esensial merupakan bagian dari asam lemak yang penting bagi tubuh manusia dan tidak dapat di buat dalam tubuh, melainkan harus diperoleh dari makanan (De-Regil, 2011).

Ikan merupakan salah satu gizi yang mengandung asam lemak yang kaya akan manfaat, karena mengandung sebagian kecil asam lemak jenuh dan sebagian besar asam lemak tak jenuh. Asam lemak essensial sangat diperlukan oleh balita untuk perkembangan otak dan daya tahan tubuh terhadap penyakit serta perkembangan indra penglihatan dan sistem kekebalan (Rasyid, 2008).

(3)

B. METODE

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi saja tanpa melakukan intervensi apapun terhadap subjek penelitian (Notoadmodjo, 2012).

Desain Penelitian

Desain pada penelitian yang dilakukan adalah dengan pendekatan cross sectional yaitu variable bebas dan variabel terikat pengumpulan data diambil dalam waktu yang hampir bersamaan.

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juni 2016 di wilayah kerja Puskesmas Gunung Lingkas, Kota Tarakan.

Analisis Data

Analisis data menggunakan Univariat dan Chi-square dengan menggunakan SPSS16.

C. PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia No Umur Frekuensi Persentase (%)

1 < 20 9 14,5

2 20 – 35 49 79,0

(4)

3 > 35 4 6,5

TOTAL 62 100 %

Berdasarkan tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa persentase umur ibu paling tinggi adalah antara 20-35 tahun yaitu sebesar 79,0 % (49 ibu), sedangkan persentase umur ibu yang paling rendah adalah lebih dari 35 tahun yaitu sebesar 6,5% (11 ibu).

Dari hasil penelitian umur responden sebagian besar berusia 20-35 tahun sebanyak 49 orang atau sebesar 79,0%. Semakin bertambah umur akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin membaik (Notoatmo djo, 2010).

Menurut asumsi penulis semakin tinggi umur seseorang maka semakin baik pula cara berpikir seseorang. Karena banyak pengalaman hidup yang diperoleh responden.

Sehingga akan semakin banyak ibu yang memahami pentingnya mengkonsumsi omega 3 dari makanan berbahan ikan selama masa kehamilan.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan No Pendidikan Frekuensi Persentase (%)

1 SD 7 11,3

2 SMP 11 17,3

3 SMA 38 61,3

4 Perguruan Tinggi

6 9,7

TOTAL 62 100 %

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan paling banyak adalah SMA dengan jumlah 61,3% (38 ibu), sedangkan tingkat pendidikan paling sedikit adalah Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 9,7% (6 ibu).

Pendidikan ibu yang tinggi akan membuat minat ibu yang tinggi untuk mengetahui secara dini macam-macam nutrisi yang dibutuhkan ibu saat hamil dan mempersiapkan kehamilan. Pendidikan ibu dibedakan atas SD dan SLTP, SLTA, Perguruan Tinggi.

(5)

Tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah SLTA 38 orang atau sebesar 61,3% dan sebagian kecil pendidikan Perguruan Tinggi 6 orang atau sebesar 9,7%.

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan seseorang, semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin tinggi juga pengetahuan yang dimiliki seseorang. Pendidikan ini masih cukup rendah yang dimiliki responden.

Pendidikan akan memberikan pencerahan pada seseorang terutama dalam pengetahuan tentang nutrisi pada ibu hamil (Hendra, 2008). Tetapi pendidikan seseorang bukanlah jaminan satu-satunya indikator dalam pengetahuan seseorang.

Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah mereka menerima informasi, dan akan makin banyak pengetahuan yang dimilikinya.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan No Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)

1 IRT 58 93,5

2 Swasta 4 6,5

TOTAL 62 100 %

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa tingkat pekerjaan paling banyak adalah IRT dengan jumlah 93,5% (58 ibu), sedangkan tingkat pekerjaan paling sedikit adalah Swata yaitu sebanyak 6,5% (4 ibu).

Tingkat pekerjaan responden sebagian besar adalah IRT sebanyak 58 orang atau sebesar 93.5% dan sebagian kecil ibu bekerja swasta 4 orang atau 6,5 %. Status ekonomi dan pendapatan seseorang menentukan tersedianya fasilitas yang dipengaruhi untuk kegiatan tertentu, sehingga pendapatan ini akan mempe ngaruhi pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2010).

Menurut asumsi peneliti jika seseorang memiliki tingkat pendapatan yang cukup akan dipergunakan untuk membeli makanan yang bergizi untuk pemenuhan gizi tubuh ibu, sehingga bila semakin tinggi pendapatan maka akan semakin baik pula pola konsumsi omega 3 dari makanan berbahan ikan pada ibu hamil.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Kehamilan

(6)

No Usia Kehamilan

(Bulan)

Frekuensi Persentase (%)

1 1-4 3 4,8

2 4-7 16 25,8

3 8-9 43 69,4

TOTAL 62 100 %

Berdasarkan tabel 4 diatas dapat diketahui bahwa persentase usia kehamilan paling tinggi adalah 8-9 bulan yaitu sebesar 69,4 % (43 ibu), sedangkan persentase usia kehamilan yang paling rendah adalah 1-4 bulan yaitu sebesar 4,8% (3 ibu).

Tingkat usia kehamilan responden sebagian besar adalah 8-9 bulan yaitu 43 orang atau sebesar 69,4 % dan sebagian usia kehamilan 1-4 bulan yaitu sebesar 4,8% (3 ibu).

Sistem saraf pusat dan otak merupakan organ vital yang pertama dibentuk. Proses pertumbuhan sel neuron otak terjadi pada minggu ke-20 hingga ke-36 kehamilan, dan disempurnakan hingga balita berusia dua tahun. Meskipun massa otak janin hanya sekitar 16% dari tubuhnya, namun dibandingkan dengan organ tubuh lain, otak paling banyak memerlukan energi (lebih dari 70%) untuk proses tumbuh kembangnya. Energi itu terutama berasal dari deposit zat gizi dan asam lemak esensial tubuh ibunya (Astawan, 2007).

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola Konsumsi No Pola

Konsumsi

Frekuensi Persentase (%)

1 Baik 23 31,7

2 Cukup 31 50

3 Kurang 8 12,9

TOTAL 62 100 %

(7)

Berdasarkan tabel 5 diatas dapat diketahui bahwa persentase pola konsumsi paling tinggi adalah kategori cukup yaitu sebesar 50 % (31 ibu), sedangkan persentase pola konsumsi yang paling rendah adalah kategori kurang yaitu sebesar 12,9% (8 ibu).

Tingkat pola konsumsi paling tinggi adalah kategori cukup yaitu sebesar 50 % (31 ibu), sedangkan persentase pola konsumsi yang paling rendah adalah kategori kurang yaitu sebesar 12,9% (8 ibu). Kita ketahui bahwa yang paling berhubungan dengan perkembangan dan pertumbuhan sel‐sel otak adalah lemak. Lemak yang berperan dalam proses tumbuh kembang otak adalah asam lemak omega‐3 (Khomsan,2004).

Pertumbuhan sel otak manusia sangat tergantung pada kadar omega 3 secara cukup sejak bayi dalam kandungan sampai balita. Bila pada masa tersebut cukup tersedia omega 3 maka anak tersebut akan tumbuh dengan potensi kecerdasan maksimal.

Karena alasan itu, sejak ibu hamil perlu mengonsumsi ikan dalam jumlah cukup sampai bayi yang dikandungnya lahir. Setelah bayi bisa makan nasi tim perkenalkan ikan sampai usia selanjutnya agar bayi menjadi sehat dan cerdas (Lamid,2007). Bagi ibu hamil, Omega 3 sangat diperlukan pada trimester ketiga, Karena pada masa inilah berat otak bayi di dalam rahim berkembang pesat menjadi 2 ½ kali lipat dari sebelumnya. Setelah bayi lahir, otak akan terus berkembang menjadi 1 ¾ kali lipat ketika memasuki usia 1 tahun, dan perkembangan terus berlanjut hingga usia 2 tahun.

Jadi, konsumsi Omega 3 secara rutin sangat penting dilakukan sejak trimester ketiga hingga bayi berusia 2 tahun.

Pengaruh asupan zat gizi terhadap ganguan perkembangan anak menurut Brown dan Pollit (1996) melalui terlebih dahulu menurunnya status gizi. Status gizi yang kurang tersebut akan menimbulkan kerusakan otak, letargi, sakit, dan penurunan pertumbuhan fisik. Keempat keadaan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan intelektual.

Peningkatan tumbuh kembang anak Jepang dalam beberapa dekade terakhir diasumsikan karena perpindahan dari konsumsi sumber hidrat arang ke arah konsumsi ikan dan sumber laut lain yang dikaitkan dengan berbagai zat gizi essensial tersebut.

Budaya makan ikan yang tinggi dalam masyarakat Jepang telah membuktikan terjadinya peningkatan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak anak di Jepang (Wahyuni, 2001).

(8)

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Cara Penyajian No Cara

Penyajian

Frekuensi Persentase (%)

1 Direbus 16 25,8

2 Digoreng 12 19,4

3 Dibakar 34 54,8

TOTAL 62 100 %

Berdasarkan tabel 6 diatas dapat diketahui bahwa persentase cara penyajian paling tinggi adalah dengan cara dibakar yaitu sebesar 54,8 % (34 ibu), sedangkan persentase cara penyajian yang paling rendah adalah dengan cara digoreng yaitu sebesar 19,4% (12 ibu).

Tingkat cara penyajian paling tinggi adalah dengan cara dibakar yaitu sebesar 54,8 % (34 ibu), sedangkan persentase cara penyajian yang paling rendah adalah dengan cara digoreng yaitu sebesar 19,4% (12 ibu). Manfaat konsumsi ikan sangat tergantung pada cara pemilihan dan proses pengolahan, pilihlah ikan yang segar dan jika memungkinkan yang masih hidup. Ikan yang masih segar memiliki nilai gizi dan kandungan omega 3 yang lebih banyak. Pengolahan ikan dengan cara direbus dapat menyebabkan kehilangan gizi yang lebih besar hal ini disebabkan luas permukaan bahan, konsentrasi zat terlarut dalam air perebusan dan adanya pengadukan air.

Pengolahan dengan cara digoreng dapat menurunkan kandungan lemak dan merusak vitamin dan mineral. Pengolahan dengan dipanggang dapat menyebabkan terbentuknya PAC ( polisiklik aromatic carbon ). Pengolahan ikan yag paling baik untuk mempertahankan nilai gizi adalah dengan cara pengukusan.

D. KESIMPULAN

Pola konsumsi omega 3 dari makanan berbahan ikan pada ibu hamil di kota Tarakan termasuk kategori Cukup yaitu 50% ( 31 ibu).

(9)

E. DAFTAR PUSTAKA

Astawan.M., 2007. Teknik Ekstraksi dan Pemanfaatan Minyak Ikan Untuk Kesehatan, Jurnal Ilmiah Teknol dan Industri Pangan. Vol IX No 1.

Brown, Jl & I, Pollit 1996, Malnutrition Poverty and Intelectual Development, Sci.An, p.

26‐31.

Diana, Fivi melva. 2009. Hubungan Konsumsi Asam Lemak dengan Perkembangan Anak Usia 2 – 5 tahun di Kecamatan Nanggalo Kota Padang (Tesis) UNAND, Padang.

De-Regil LM SP, Vist GE, Walleser S, Peña-Rosas JP. Home fortification of foods with multiple micronutrient powders for health and nutrition in children under two years of age (Review). Cochrane Database of Systematic Reviews. 2011:(9).

Khomsan, A., 2004, Peranan Pangan Dan Gizi untuk Kualitas Hidup PT. Gramedia.

Jakarta. Hal.22‐34, 41‐49,75‐80, 87‐ 94.

Lamid, Astuti dkk., 2007. Pengaruh Docosahexaenoic Acid (DHA) pada Tumbuh Kembang Anak Balita Gizi Buruk yang di Rawat Jalan. Jurnal Teknologi dan Pangan.

Notoadmodjo., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta.

Rasyid.A., 2008. Asam Lemak Omega 3 dari Minyak Ikan. Jurnal Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI-Jakarta. Volume XXVIII, Nomor 3,2003:11-16.

Wahyuni, M., 2001, Ikan untuk perbaikan anak Indonesia, Dikutip tanggal 12 Desember 2017 dari http://www.gizi.net.

Referensi

Dokumen terkait

Pengelolaan sampah di bank sampah mempunyai tujuan yang tidak lain adalah untuk menumbuhkan suatu pemahaman baru kepada masyarakat bahwa sampah bukanlah suatu

Mengacu pada sebuah tatanan ruang istana kerajaan yang apabila dilihat dari segi fungsinya memiliki tahapan-tahapan ruang tertentu untuk menuju ruang inti. Pola yang ada

dampak negatif, antara lain adalah: (i) program pengampunan pajak sering dianggap oleh para wajib pajak patuh merupakan program yang memberi- kan perlakuan diskriminasi terhadap

2 Pada prokariot, sekuen yang diinginkan (DNA target) jumlahnya kecil sekali (kurang 0,02%) dari total DNA kromosom sehingga untuk mengklon dan memilih DNA target, DNA

Hasil penelitian yang menerapkan reciprocal teaching ini telah berhasil meningkatkan prestasi belajar yang rendah (Palincsar, Slavin, dan Brown dalam Ibrahim,

Sesuai dengan tabel interprestasi nilai koefisien korelasi maka hasil dari R besar berada dalam tingkat hubungan „cukup kuat”, dalam tabel interpretasi koefisien

1) Sifat basa zeolit disebabkan oleh adanya kation-kation dalam pori dimana kekuatan basa meningkat dengan meningkatnya sifat elektropositif kation yang dapat dipertukarkan.

3.2.2 Analisis Kekonvergenan Kekonvergenan metode beda hingga skema implisit FTCS dapat dicari dengan menggunakan ekspansi deret Taylor yang disubstitusikan ke dalam