THOIFAH AL-MANSHUROH
Bahts
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan Madrasah Diniyyah Islamiyah Lil Banat
Ishlahul Ummah Disusun oleh:
PIPIT MARETNO SISWI ARINA NIS: 001010
MADRASAH DINIYYAH ISLAMIYAH LIL BANAT ISHLAHUL UMMAH
SURAKARTA 1432 H/2011 M
PENGESAHAN
THOIFAH AL-MANSHUROH DISUSUN OLEH:
PIPIT MARETNO SISWI ARINA
Telah disahkan dan disetujui guna memenuhi persyaratan kelulusan Madrasah Diniyyah Lil Banat Ishlahul Ummah pada:
Hari : Ahad
Tanggal : 13 Februari 2011
Menyetujui,
Pembimbing Penguji
Ustadzah Hanif Zulaikhah Ustadz Abdurrohman
Mengetahui,
Mudir MDI Ishlahul Ummah
Ustadz Fahrur Mu’is, SPd.I
MOTTO
!$tBur
$uZù=y™ö‘r&
`ÏB
š•Î=ö6s%
`ÏB
@Aqß™§‘
žwÎ)
ûÓÇrqçR Ïmø‹s9Î)
¼çm¯Rr&
Iw
tm»s9Î) HwÎ)
O$tRr&
Èbr߉ç7ôã$$sù
“Dan kami tdk mengutus seorang rosul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwasanya tiada Illah (yang hak) melainkan Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian Aku.” ( QS. Al-Anbiya’:25)
¨br&ur
#x‹»yd
‘ÏÛºuŽÅÀ
$VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù
(
Ÿwur (#qãèÎ7-Fs?
Ÿ@ç6•¡9$#
s-§•xÿtGsù öNä3Î/
`tã
¾Ï&Î#‹Î7y™
4 öNä3Ï9ºsŒ
Nä38¢¹ur
¾ÏmÎ/
öNà6¯=yès9
tbqà)-Gs?
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia: dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).”
(QS. Al-An’am: 153)
ﻮﻬﻓ ﻪﻨ ﻣ ﺲﻴﻟ ﺎﻣ ﺬﻫ ﺎﻧﺮﻣ ﻲ ﻓ ﺪﺣ ﻦﻣ
“Barangsiapa yang membuat (sesuatu yeng baru) dalam urusan (agama) Kami ini, yang bukan darinya (Al-qur’an dan hadits) maka ia tertolak”
(H.R Bukhori dan Muslim)
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN. ... ii
MOTTO... iii
DAFTAR ISI ... iv
KATA PENGANTAR ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah ... 1
B. Rumusan masalah ... 2
C. Batasan masalah ... 3
D. Tujuan penulisan ... 3
BAB II PEMBAHASAN A. Ta’rif Thoifah Al-Manshuroh ... 5
B. Sifat dan karakter Thoifah Al-Manshuroh ... 8
C. Kaitan antara Thoifah Al-Manshuroh dengan Firqoh An-Najiyah ... 15
D. Thoifah Al-Manshuroh pada saat ini ... 19
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 22
B. Saran ... 24
DAFTAR PUSTAKA ... 25
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikm Warahmatullahi Wabarokatuh
Segala puji bagi Allah atas limpahan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Thoifah Al-Manshuroh”
meskipun masih jauh dari kata sempurna penulis berharap semoga makalh ini dapat bermanfaat bagi penulis, dan pembaca pada umumnya. Penulis mengucapkan Jazakumullah Kairon Katsiron kepada:
a. Ustadzah Hanif Zulaikhah sebagai pembimbing penulisan makalah.
b. Ustadz Fahrur Muiz sebagai Kepala Madrasah Diniyyah Ishlahul Ummah Surakarta.
c. Suami tercinta yang telah membantu penulisan makalah ini sampai selesai.
d. Ayahanda dan Ibunda yang telah mendidik ananda sejak kecil.
e. Ustadz serta Ustadzah MDI Ishlahul Ummah Surakarta.
f. Sahabat-sahabatku MDI Ishlahul Ummah Surakarta.
Penulis mengharap saran dan kritik yang membangun dari semua pihak demi perbaikan makalah ini.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Surakarta, Pebruari 2011 M Robi’ul Awal 1432 H
Penulis
Pipit Maretno Siswi Arina
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah SWT berfirman:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur
ÈûïÏe$#Ï9
$Zÿ‹ÏZym 4
|Nt•ôÜÏù
«!$#
ÓÉL©9$#
t•sÜsù
}¨$¨Z9$#
$pköŽn=tæ 4
Ÿw
Ÿ@ƒÏ‰ö7s?
È,ù=yÜÏ9
«!$#
4
š•Ï9ºsŒ ÚúïÏe$!$#
ÞOÍhŠs)ø9$#
ÆÅ3»s9ur
uŽsYò2r&
Ĩ$¨Z9$#
Ÿw
tbqßJn=ôètƒ
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah ; (tetaplah atas) fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitroh itu . tidak ada peubah pada fitroh Allah. (itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak engetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
(#qßJÅÁtGôã$#ur È@ö7pt¿2
«!$#
$Yè‹ÏJy_
Ÿwur
(#qè%§•xÿs?
…
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imron: 103)
tA$s%
!$yJÎ6sù
‘ÏZoK÷ƒuqøîr&
¨by‰ãèø%V{
öNçlm;
y7sÛºuŽÅÀ
tLìÉ)tFó¡ãKø9$#
§NèO
.Oßg¨Yu‹Ï?Uy .`ÏiB
Èû÷üt/
öNÍk‰É‰÷ƒr&
ô`ÏBur
öNÎgÏÿù=yz
ô`tãur
öNÍkÈ]»yJ÷ƒr&
`tãur
öNÎgÎ=ͬ!$oÿw¬
…
Artinya: “Iblis (menjawab): “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya akan benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatang mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka…” (QS. Al-A’rof: 16-17)
Iblis beserta “kaki tangannya” selalu berusaha untuk membelokkan pemahaman seorang muslim dari aqidah yang lurus dengan memasukkan pemikiran-pemikiran dari luar Islam atau melalui argumen-argumen yang sebenarnya bertentangan dengan syariat islam namun dikemas sedemikian rupa sehingga tampak Islami dan syar’i.
Telah banyak berkembang di tengah masyarakat Islam kelompok- kelompok yang menganggap diri mereka di atas kebenaran. Padahal belum tentu demikian dan bisa jadi kebalikannya. Mereka sama sekali bukan di atas kebenaran, dan bukan pula menempuh jalan para Nabi dan salafus shalih.
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Bani Isroil telah terpecah menjadi 72 millah dan umatku (akan) terpecah menjadi 73 millah, semuanya di neraka kecuali satu millah. Para Shahabat bertanya : ‘siapakah itu wahai Rasulullah?’, beliau menjawab: yaitu (millah) yang aku dan shahabatku diatasnya.” (HR. Ahmad)
Thoifah Al-Manshuroh merupakan golongan yang mendapatkan pertolongan dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadist-hadist Rasulullah, yaitu golongan pejuan dari kalangan ahlu sunnah wal jama’ah.
Namun, ternyata tidak sedikit golongan yang mengklaim diri sebagai Thoifah Al-Manshuroh padahal ia dan karakter Thoifah Al-Manshuroh sangatlah jauh.
B. Rumusan Masalah
1. Definisi Thoifah Al-Manshuroh?
2. Bagaimana sifat dan karakter Thoifah Al-Manshuroh?
3. Bagaimana kaitan antara Thoifah Al-Manshuroh dengan Firqoh An- Najiyyah?
4. Bagaimana dan siapakah Thoifah Al-Manshuroh pada zaman sekarang?
C. Batasan Masalah
Thoifah Al-Manshuroh adalah golongan yang ditolong, yang keberadaannya tidak bisa tidak ada dari zaman dahulu (kenabian) sampai zaman sekarang. Allah menjanjikan kemenangan kepadanya yang selalu berjuang untuk menegakkan agama Allah. Begitu luas penjabaran tentang Thoifah Al-Manshuroh, namun dalam makalah ini penulis akan membatasi pembahasan agar mudah difahami dan lebih terarah, yaitu meliputi:
a. Pengertian Thoifah Al-Manshuroh.
b. Sifat dan karakter Thoifah Al-Manshuroh.
c. Kaitannya dengan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (Firqoh An-Najiyah).
d. Thoifah Al-Manshuroh pada zaman sekarang.
D. Tujuan Penulisan
Selain sebagai pemenuhan salah satu syarat kelulusan, dalam makalah ini penulis juga bertujuan agar dengan makalah ini pembaca dapat mengenal dan memahami tentang Thoifah Al-Manshuroh . Sehingga dapat membedakan antara Thoifah Al-Manshuroh sejati dengan Thoifah Al-Manshuroh gadungan.
Yang demikian kita dapat berhati-hati dengan firqoh-firqoh sesat yang mengaku-ngaku sebagai Thoifah Al-Manshuroh, dimana firqoh tersebut berpengaruh negatif terhadap kehidupan masyarakat.
BAB II PEMBAHASAN
A. Ta’rif Thoifah Al-Manshuroh
Thoifah Al-Manshuroh berasal dari dua suku kata: “Ath-thoifah”
bermakna kelompok, menurut Imam Al-Qurthubiy, ‘Thoifah’ juga bermakna
‘seseorang’ dan “al-manshuroh” bermakna yang ditolong. Sebagaimana sabda Rasulullah,“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang selalu ditolong (oleh Allah). Orang yang memusuhinya tidak bisa membahayakan mereka.
(Yang demikian) sampai tiba hari kiamat.” (HR. Tirmidzi, dishohihkan oleh Syeikh Al-albaniy).
Sejumlah ulama Salaf telah mencoba untuk menggambarkan sosok Thoifah Al-Manshuroh. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Imam Abdullah bin Mubarok berkata: “Menurut saya, mereka adalah ashabul hadist.”
2. Imam Yazid bin Harun (206 H) berkata: “Jika mereka bukan ashabul hadist, saya tidak tahu lagi siapakah mereka.”
3. Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Jika mereka bukan ashabul hadist, saya tidak tahu lagi siapa mereka.” Pada suatu kesempatan beliau berjalan melewati beberapa ahli hadist yang menunjukkan buku hadist mereka, maka beliau berkomentar,”Menurut pendapatku, mereka tidak lain adalah yang termasuk dalam golongan yang disabdakan oleh Rasulullah ‘akan senantiasa ada sekelompok umatku yang meraih kemenangan diatas kebenaran, sampai terjadinya kiamat.”
4. Imam Bukhori berkata, “Yaitu ashabul hadist.” Beliau juga berkata
“Mereka adalah ahlul ilmi (para ulama).”
Mayoritas ulama salaf mengatakan bahwa Thoifah Al-manshuroh adalah Ahlul Hadist. Namun ada sebuah kesulitan dalam pemahaman ketika mendapatkan hadist-hadist lain yang menyebutkan tentang salah satu sifat utama Thoifah Al-manshuroh adalah jihad fi sabilillah.
Sebagaimana hadist- hadist berikut ini:
5. Hadist Jabir bin Samurah:
“Agama ini akan senantiasa tegak selamanya, dimana satu kelompok dari kaum muslimin berperang (untuk menegakkan dan mendakwahkannya) sampai terjadinya kiamat.” (HR.Muslim: Kitabul Imaroh no. 3546)
6. Hadist Imran bin Husain:
Dari Imran bin Husain berkata: Rasulullah bersabsda: “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang diatas kebenaran.
Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka, sampai akhirnya kelompok terakhir mereka memerangi dajjal.” (HR.Abu Daud; Kitab Al-jihad no.2125, Ahmad no. 19073, Al-Hakim no. 2351 dan 8517)
7. Hadist Jabir bin Abdullah:
Dari Jabir bin Abdullah berkata; Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang diatas kebenaran sampai hari kiamat. Maka pada saat itu Nabi Isa bin Maryam turun (ke tengah mereka). Pemimpin kelompok tersebut berkata kepada Nabi Isa ‘Kemarilah, amdalah yang berhak mengimami kami sholat’. Namun Nabi Isa menjawab, “Tidak, Sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai bentuk pemuliaan Allah atas umat ini.” (HR. Muslim: Kitabul Iman no. 225 dan Kitabul Imaroh no. 3547)
8. Hadist Abu Hurairah:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah bersabda: “Urusan (agama) ini akan senantiasa diperjuangkan oleh satu kelompok umatku yang berada di atas kebenaran, orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan kecelakaan kepada mereka. Demikianlah keadaan mereka sampai datangnya urusan Allah.” (HR.Ahmad no.
7925 dan 8128.)
9. Hadist Salamah bin Nufail Al-Kindi:
Dari Salamah bin Nufail Al-Kindi berkata: Saya tengah duduk di sisi Rasulullah, tiba-tiba seorang sahabat berkata, “Wahai Rasululah, masyarakat telah meninggalkan kuda perang dan meletakkan senjata.
Mereka mengatakan “Tidak ada jihad lagi, perang telah selesai’.
Mendengar pengaduan tersebut, Rasulullah menghadapkan wajahnya dan bersabda, “Mereka telah berkata dusta!!! Sekarang ini, sekarang ini, justru saat perang tiba. Akan senantiasa ada dari umatku ini, satu
umat (kelompok) Yang berperang di atas kebenaran. Allah menyesatkan hati-hati sebagian manusia (orang-orang kafir) dan member rizki satu umat (kaum muslimin yang berjihad) dari mereka yang tersesat tersebut (yaitu harta ghanimah). Demikianlah yang akan terus terjadi sampai tegaknya kiamat, dan sampai datangnya urusan (ketetapan) Allah. Dan kebaikan akan senantiasa tertambat pada ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat…” (HR. An-Nasai: Kitabul khail no. 3505 dan At- Thabrani: dalam Mu’jam Al-Kabir no. 6231-6233. Dinyatakan shohih oleh Al-Albani dalam Shohih Sunan Nasa’I no. 3333 dan silsilah Al- hadist Shahihah no. 1991.)
Bahkan sebab disabdakannya hadist Rasulullah tentang Thoifah Al-Manshuroh adalah untuk menunjukkan tetap berlangsungnya jihad sampai hari kiamat dan bahwa islam akan menang melalui jihad.
(Sebagaimana yang telah disebutkan pada hadist-hadist tersebut diatas).
Jadi Thoifah Al-Manshuroh adalah kelompok ilmu dan jihad;
Kelompok yang berada di atas manhaj salafus sholih, berdasar ilmu yang shohih dan menegakkan Islam dengan jalan jihad fi sabilillah.
B. Sifat dan Karakter Thoifah Al-Manshuroh.
Menurut Abdul Mun’im Musthafa Halimah dalam At-Thoifah Al- Manshuroh Allati Tajibu an Tukatsiro sawadaha, Sifat dan karakter Thoifah Al-Manshuroh adalah sebagai berikut:
1. Ittiba’ tidak Ibtida’ (Mengikuti sunnah dan tidak berbuat bid’ah) dan mengikuti pemahaman salafus sholih dalam memahami Al-Kitab dan As- Sunnah.
Pandangan mereka tidak tunduk kepada hawa nafsu dan jalan yang bermacam-macam yang ditempuh oleh orang-orang musyrik dan ahli bid’ah. Mereka dalam setiap urusan dunia dan akhirat mengikuti Rasulullah dan para Shahabat. Sifat ini Nampak dari sabda Rasululah terhadap mereka. Bahwasanya mereka “di atas kebenaran” dan sesungguhnya mereka menegakkan perintah Allah.”
2. Menegakkan dan memperjuangkan agama Allah.
Hal ini sebagaimana makna yang disebutkan dalam hadist-hadist yang telah di sebutkan di atas. Mereka memperjuangkan agama dan syari’at Allah:
a. Mereka membawa panji dakwah.
Mereka mengajak umat manusia untuk hidup berdasarkan Al- Qur’an dan As-Sunnah serta membantah segala bid’ah dan syubhat (kerancuan) yang disebar luaskan oleh orang-orang kafir, murtad, munafik, fasik dan jahil.
b. Mereka melaksanakan kewajiban amar makruf nahi munkar.
Menentang dan meluruskan segala penyimpangan yang terjadi di tengah umat islam, baik kemungkaran di bidang agama, politik, sosial, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan.
c. Mereka melaksanakan jihad fi sabilillah dengan hati, lisan, harta dan nyawa mereka. Mereka memerangi kaum musyrik, kafir, murtad dan munafik.
Memperjuangkan agama dan syari’at Allah dengan jalan jihad fi sabilillah adalah sifat utama mereka dan karakter mereka yang sangat menonjol.
3. Loyalitas dan permusuhan karena Allah.
Termasuk dari sifat Thoifah Al-Manshuroh yang penting, Mereka berwali dan mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah. Mereka lembut terhadap orang-orang beriman, mengasihi sesama mereka, tetapi tegas dan keras terhadap orang-orang kafir. Sebagaimana firman Allah:
Ó‰£Jpt’C ãAqß™§‘
«!$#
4
tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB
âä!#£‰Ï©r&
’n?tã
Í‘$¤ÿä3ø9$#
âä!$uHxqâ‘
öNæhuZ÷•t/
...
Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
4. Memahami ilmu secara sempurna (syumul).
Mereka mengambil islam secara sempurna dan tidak berlebihan satu sisi dari sisi-sisi yang lain, atau perhatian dengan satu sudut tertentu tanpa sudut yang lain, lalu mereka menjaga fiqih prioritas dan keseimbangan. Mana saja yang pantas untuk diawalkan dan diakhirkan sesuai dengan tuntutan kemashlahatan syar’i. Mendahulukan yang lebih penting dari yang penting ketika adanya dua kepentingan dalam satu waktu tanpa meremehkan yang penting atau terlalu perhatian dengannya.
Mereka merupakan suatu jama’ah yang terkumpul di dalamnya semua unsur kebaikan, tanpa ada pemisah satu bagian ajaran dien dari bagian ajaran yang lain.
5. Bersifat tengah-tengah (wasaatiyah) dan adil.
Mereka tengah-tengah di semua permasalahan kehidupan agama dan dunia, tidak berlebihan atau keras.
y7Ï9ºx‹x.ur öNä3»oYù=yèy_
Zp¨Bé&
$VÜy™ur (#qçRqà6tGÏj9
uä!#y‰pkà-
’n?tã
Ĩ$¨Y9$#
tbqä3tƒur
ãAqß™§•9$#
öNä3ø‹n=tæ
#Y‰‹Îgx©
…
Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhamad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqoroh: 143)
Inilah yang termasuk dari kekhususan dan tuntunan sifat tengah- tengah:
a. Baik dan adil.
öNçGZä.
uŽö•yz
>p¨Bé&
ôMy_Ì•÷zé&
Ĩ$¨Y=Ï9
tbrâ•ßDù's?
Å$rã•÷èyJø9$$Î/
šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã
Ì•x6ZßJø9$#
tbqãZÏB÷sè?ur
«!$$Î/
…
“Kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron : 110)
Ibnu Katsir berkata: “Kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnaasi”
yaitu sebaik-baik manusia bagi manusia, maksudnya; mereka adalah sebaik-baik umat yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia.
Sifat adil bagi Thoifah Al-Manshuroh adalah mereka manusia yang paling tengah-tengah sikapnya ,walaupun mereka adalah musuh. dan menempatkan pada tempatnya sebagaimana haknya tanpa memberikan kecintaan kepada seseorang karena seseorang. Maka mereka menyaksikan kepada yang baik itu adalah baik dan kepada yang buruk itu adalah buruk bagaimanapun dan seperti apapun, dan tidak berlebihan atau mengurangi.
$pkš‰r'¯»tƒ šúïÏ%©!$#
(#qãYtB#uä (#qçRqä.
šúüÏBº§qs%
¬!
uä!#y‰pkà-
ÅÝó¡É)ø9$$Î/
( Ÿwur
öNà6¨ZtBÌ•ôftƒ ãb$t«oYx©
BQöqs%
#’n?tã žwr&
(#qä9ω÷ès?
4 (#qä9ωôã$#
uqèd Ü>t•ø%r&
3“uqø)-G=Ï9 (
(#qà)¨?$#ur
©!$#
4 žcÎ)
©!$#
7Ž•Î6yz
$yJÎ/
šcqè=yJ÷ès?
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8)
b. Istiqomah dalam menempuh jalan nubuwah; yaitu jalan Allah yang lurus.
c. Mempermudah, menjauhi dari berlebih-lebihan dalam dien.
d. Tengah-tengah antara dua masalah yang keduanya tercela dan buruk.
6. Beramal dengan ilmu.
Mereka menjadi ulama dalam urusan dien dan kehidupan mereka, karena termasuk dari tuntutan sifat-sifat mereka yang lain yang telah disebutkan yaitu menjadi orang-orang yang berilmu. Namun tidak mesti semua personal Thoifah Al-Manshuroh adalah ulama dan berlomba-lomba dalam tholabul ‘ilmi serta mereka memiliki kesamaan tingkat dalam berilmu. Akan tetapi mereka tidak boleh kosong dari seorang ulama robbani dan ‘amilin.
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB
×p¨Bé&
tbqããô‰tƒ
’n<Î) ÎŽö•sƒø:$#
tbrã•ãBù'tƒur
Å$rã•÷èpRùQ$$Î/
tböqyg÷Ztƒur Ç`tã
Ì•s3YßJø9$#
4
y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd
šcqßsÎ=øÿßJø9$#
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS.Ali Imron:
104)
• Adh-Dhohaq menyebutkan tentang tafsir dari “al-ummatu”, mereka
adalah kelompok shahabat dan para perawi Yaitu mujahid dan ulama.
(Tafsir Ibnu Katsir: 1/398)
• Qurthubi berkata dalam tafsirnya :artinya, bahwa kedua pesuruh tadi
harus dari seorang ulama dan tidaklah setiap manusia itu ulama.
(Tafsir Ibnu Katsir: 4/165)
Maka dapat disimpulkan bahwa termasuk dari kekhususan sifat- sifat Ath-Thoifah Al-Manshuroh adalah berilmu, terutama berilmu dengan kalimat tauhid yang terkumpul dalam kalimat syahadat. Walau ada kemungkinan bahwa individu Thoifah Al-Manshuroh itu bodoh dengan sebagian masalah-masalah dien. Akan tetapi hal itu tidak mungkin terjadi atas mereka. bodoh dengan “Laa Ilaaha Illallah”, Tuntutan dan syarat- syaratnya, lalu kemudian kita menunjuknya bahwa dia termasuk dari Thoifah Al-Manshuroh.
7. Sabar dan teguh.
Rasulullah telah menyebutkan bahwa hari-hari sepeninggal zaman shahabat adalah hari-hari yang menuntut kesabaran ekstra. Hanya orang-orang yang sabar dan meneguhkan kesabarannya semata yang dapat beramal secara istiqomah dalam memperjuangkan agama Allah.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di belakang kalian kelak aka nada masa-masa yang menuntut kesabaran ekstra. Orang yang berpegang teguh dengan agamanya pada masa itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mati syahid dari kalangan kalian (shahabat Nabi).”
(HR. At-Thabrani, sanadnya shohih dan semua perawinya adalah perawi imam muslim. Shohih Al-Jami’ Ash-Shogir no. 2234).
Berpegang teguh dalam hadist ini adalah berpegang teguh dengan ajaran Islam yang benar (Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman dan pengamalan generasi shahabat).
Thoifah Al-Manshuroh adalah barisan terdepan umat Islam dalam menghadapi segala makar dan permusuhan kaum musyrik, kafir, murtad dan munafik. Dan mereka adalah orang-orang yang yakin dengan ayat- ayat Allah dan sabda Rasulullah, dan bersabar dalam mengamalkan dan memperjuangkannya.
$oYù=yèy_ur öNåk÷]ÏB
Zp£Jͬr&
šcr߉öku‰
$tRÍ•öDr'Î/
$£Js9
(#rçŽy9|¹ (
(#qçR%Ÿ2ur
$uZÏG»tƒ$t«Î/
tbqãZÏ%qãƒ
Artinya: “Dan Kami jadikan sebagian mereka sebagai para pemimpin yang member petunjuk dengan urusan Kami, disebabkan karena mereka bersabardan mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajadah:
24)
C. Kaitan antara Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (Firqoh An-Najiyyah) dengan Thoifah Al-Manshuroh.
Sebelum penulis membahas tentang kaitan antara Ahlu Sunnah wal Jama’ah atau yang sering juga disebut dengan nama Firqoh An-Najiyyah, penulis akan membahas dengan singkat pengertian dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
Istilah Ahlu Sunnah wal Jama’ah merupakan frase (gabungan kata) yang terdiri dari tiga kata utama yaitu: ahlu, sunnah dan jama’ah. Ahlu artinya pengikut, Ahlu Sunnah berarti pengikut sunnah, sementara jama’ah berarti pengikut jama’ah.
1. Pengertian Sunnah
Kata As-sunnah mempunyai bentuk jamak sunan. Secara bahasa berarti sejarah (perjalanan hidup) dan jalan (metode yang ditempuh). Yang dimaksud dengan As-Sunnah menutut istilah ilmu tauhid adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para Shahabat beliau.
2. Pengertian Jama’ah
Definisi Jama’ah secara bahasa, berarti kelompok dan bersatu.
Sedangkan definisi Jama’ah secara syar’i, para ulama berbeda pendapat.
Secara global pendapat mereka adalah sebagai berikut:
a. Jama’ah adalah generasi shahabat (menurut pendapat Kholifah Umar bin Abdul Aziz).
b. Jama’ah adalah para ulama mujtahidin dari kalangan ilmu hadist dan ulama fiqh. (Menurut pendapat Imam Abdullah bin Mubarok, Ishaq bin Rohawaih, Imam Tirmidzi, Para ulama Ushul Fiqh dan sekelompok ulama salaf.)
c. Ijmak, Yaitu kesepakatan umat Islam dalam suatu masalah tertentu.
d. Kelompok mayoritas umat Islam.
e. Jama’ah adalah pemerintahan Negara Islam (Khilafah Islamiyah) dibawah kepemimpinan seorang Imam.
Sebagai kesimpulan dari kelima pendapat tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa makna jama’ah pada dasarnya berkisar pada dua makna pokok, yaitu:
1. Aspek Ilmiyah/Aspek Manhaj dan Aqidah. Yaitu bersepakat atas satu aqidah dan satu manhaj yang benar, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah serta memahaminya sebagaimana pemahaman generasi Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in dan ulama mujtahidin sesudahnya yang terpercaya memahami kedua sumber islam ini. Ibnu Mas’ud berkata,
“Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran meski engkau sendirian.”
2. Aspek Hissi/Fisik. Berjam’ah artinya berkumpul dan hidup di bawah seorang imam atau kholifah yang sah secara syar’i.
Dengan demikian, Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah generasi Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in dan seluruh umat islam yang mendasarkan hidupnya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi Shahabat serta menjadikan keduanya sebagai pedoman hidupnya.
Salah satu sebutan dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah Firqotun Najiyyah/Firqoh An-Najiyyah (selain Ahlus Sunnah, Ahlul Hadist, Ahlul Atsar dan Salaf). Firqoh An-Najiyyah Artinya golongan yang selamat.
Didasarkan pada hadist yang menerangkan tentang akan pecahnya umat islam menjadi 73 golongan dimana 72 golongan akan tersesat, dan yang selamat adalah (najiyyah) hanya satu saja yaitu ‘Ma ana ‘alaihi wa ash- habi’, apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya- Jama’ah dengan artian ilmu (mengikuti kebenaran) atau Ahlu Sunnah dan dalam lafadz lain disebutkan ‘jama’ah’. (Ma’alim Al-Inthilaqatil Kubro, hal 58- 62).
Pada dasarnya antara Thoifah Al-Manshuroh dan Firqoh An- Najiyyah adalah nama lain (sebutan) dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
Namun untuk membedakan antara Thoifah Al-Manshuroh dari kaum muslimin secara umum, Abdul Karim Al-Aql dalam Mujmal Ushul Aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah menyebutkan Firqoh An-Najiyyah adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Mereka juga disebut Ahlul Atsar, Ahlu Hadits, Ahlul Ittiba’ atau juga disebut dengan Thoifah Al-Manshuroh.
Namun Abdul Mun’im Musthofa Halimah dalam Ath-Thoifah Al- Manshuroh Allati Tajibu an Tukatsiro sawadaha menyebutkan bahwa setiap Thoifah Al-Manshuroh adalah Firqoh An-Najiyyah akan tetapi tidak semua Firqoh An-Najiyyah adalah Thoifah Al-Manshuroh. Dengan kata lain Firqoh An-Najiyyah adalah umat yang lebih besar, sedangkan Thoifah Al-Manshuroh adalah kelompok yang lebih kecil. Hal ini didasarkan pada surat Ali Imron ayat 104:
$oYù=yèy_ur öNåk÷]ÏB
Zp£Jͬr&
šcr߉öku‰
$tRÍ•öDr'Î/
$£Js9
(#rçŽy9|¹ (
(#qçR%Ÿ2ur
$uZÏG»tƒ$t«Î/
tbqãZÏ%qãƒ
Artinya: “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang yang beruntung.”
Adapun Thoifah Al-Manshuroh bila dinisbatkan kepada Firqoh An-Najiyyah diibaratkan sebagai pasukan depan atau pelopor yang memiliki tugas yang penting dan menjadi pemimpin umat dalam membela hak-hak dan kehormatan.
Firqoh An-Najiyyah bila dinisbatkan kepada Thoifah Al- Manshuroh di ibaratkan sebagai bangunan sebuah kaum yang darinya muncul benih-benih Ath-Thoifah Al-Manshuroh.
D. Thoifah Al-Manshuroh pada Zaman Sekarang
Sudah menjadi ketetapan, bahwa Thoifah Al-Manshuroh akan senantiasa muncul hingga hari kiamat, sampai Allah mendatangkan ketetapan dengan tugas-tugas jihad pada sebagian besar perjalanannya hingga ketika mereka memerangi dajjal. Kemudian, apakah peran yang harus diemban Thoifah Al-Manshuroh ketika tidak adanya Daulah Islamiyah di muka bumi?
Jihad Thoifah Al-Manshuroh terkadang berupa jihad ofensif (menyerang), tetapi terkadang jihad defensive (bertahan). Jihad ofensif ini dilakukan jika daulah islamiyah sudah tegak serta kekuatan dan eksistensi yang ada sudah kuat sehingga mampu mengangkat bendera jihad fi sabilillah dan memerangi musuh-musuh Allah.
Adapun jihad defensive dilakukan ketika daulah islamiyah lemah dan berpotensi mudah diserang oleh musuh-musuh yang senantiasa mengintai.
Dalam kondisi seperti ini, Thoifah Al-Manshuroh berperan melindungi akidah kaum muslimin, akhlaq mereka, kehormatan, darah dan negeri mereka dengan mengangkat pedang dan senjata. Di samping itu, peran Thoifah Al-Manshuroh lainnya adalah berusaha sungguh-sungguh dalam menegakkan daulah islamiyah yang selalu mengumumkan genderang jihad dan menjaga keberlangsungan syari’at jihad yang sudah ditingalkan.
Apabila Islam tidak memiliki daulah ataupun kekuasaan, maka Thoifah Al-Manshuroh berjihad untuk melindungi kaum muslimin, baik dalam hal agama, maupun jiwa raga. Pada satu sisi mereka melindungi kaum muslimin, tapi pada sisi lain mereka menghalau kendala-kendala yan
menghambat penegakkan daulah islamiyah dan upaya mensosialisasikan jihad.
Kebanyakan dari Thoifah Al-Manshuroh itu beramal dengan bentuk organisasi yang rapih dan teratur. hanya saja tidak mesti semua personel dari Thoifah Al-Manshuroh harus berkumpul dalam satu kelompok dan di satu tempat, yang akibatnya setiap orang yang di luar kelompok ini bukan Thoifah Al-Manshuroh.
Thoifah Al-Manshuroh mempunyai sifat-sifat tertentu yang dengannya mereka dapat diketahui. Maka siapapun yang memiliki sifat-sifat ini semua (sebagaimana yang telah disebutkan), ia termasuk dari golongan ini. Baik dengan penamaan dirinya sebagai Thoifah Al-Manshuroh atau tidak dan juga di manapun mereka berada.
An-Nawawi berkata: “bisa jadi kelompok ini berpisah di antara keberagaman orang-orang mukmin, di antara mereka ada orang-orang pemberani dan suka berperang, di antara mereka ada Muhaddits, di antara mereka ada orang-orang yang zuhud dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, tidak harus mereka berkumpul. Bahkan bisa jadi mereka berpencar di semua penjuru dunia.” (Syarah Shohih Muslim :13/67).
Dan pada hari ini kita dapati orang-orang yang berjuang dengan jalan khas kelompok ini, dengan jihad difensif maupun ofensif, diantaranya:
1. Para Mujahid, mereka yang mempertahankan umat Islam di medan-medan jihad di berbagai belahan bumi (Afghanistan, Chechnya, Irak, Kashmir, Moro, dan tempat-tempat lainnya).
2. Para Da’i dan Da’iyah, mereka yang mendakwahkan syari’at islam, agar agama ini tetap tegak di muka bumi ini.
3. Orang-orang yang zuhud dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kepada kebaikan dan berusaha menumpas kemungkaran).
4. Ulama dan orang-orang yang senantiasa berdakwah kepada Islam, orang- orang yang tidak pernah berhenti untuk belajar dan mengajarkan ulumud diin (dalam segala aspek) demi kejayaan Islam.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini, penulis menyimpulkan:
1. Thoifah Al-Manshuroh adalah kelompok ilmu dan jihad: kelompok yang berada di atas manhaj Salafus Sholih, berasar ilmu yang shohih dan menegakkan Islan dengan jalan jihad fi sabilillah.
2. Sifat dan karakter Thoifah Al-Manshuroh adalah:
a. Ittiba’ (mengikuti sunnah) dan bukan Ibtida’ (berbuat bid’ah).
b. Menegakkan dan memperjuangkan agama Allah.
c. Ber-wala’ (loyal) dan Baro’ (memusuhi) karena Allah.
d. Memahami Islam secara sempurna (syumul) bukan parsial.
e. Bersifat tengah-tengah (wasatiyah).
f. Beramal dengan ilmu.
g. Sabar dan teguh di atas manhaj Rasulullah.
3. Kaitan antara Thoifah Al-Manshuroh dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah (Firqoh An-Najiyyah) adalah:
Setiap personel dari Ath-Thoifah Al-Manshuroh termasuk bagian dari Firqoh An-Najiyyah (yaitu Ahlu Sunnah wal Jama’ah), tapi tidak bisa sebaliknya; karena tidak mungkin keberadaan sifat Ath-Thoifah Al-
Manshuroh di setiap personel Firqoh An-Najiyyah. Maka keduanya mesti dibedakan.
Adapun Thoifah Al-Manshuroh bila dinisbatkan kepada Firqoh An- Najiyyah diibaratkan sebagai pasukan depan atau pelopor yang memiliki tugas yang penting dan menjadi pemimpin umat dalam membela hak-hak dan kehormatan.
Firqoh An-Najiyyah bila dinisbatkan kepada Ath-Thoifah Al- Manshuroh diibaratkan sebagai bangunan sebuah kaum yang darinya muncul benih-benih Thoifah Al-Manshuroh.
4. Thoifah Al-Manshuroh pada zaman sekarang:
a. Para mujahid (orang-orang pemberani yang berperang di jalan Allah), yang pada hari ini kita dapati di berbagai belahan bumi (Afghanistan, Chechnya, Irak, Moro, Kashmir dan tempat-tempat lainnya).
b. Orang-orang zuhud dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
c. Para da’i, ulama, orang-orang yang senantiasa berdakwah kepada Islam dan orang-orang yang tidak pernah berhenti untuk belajar dan mengajarkan ulumud diin (dalam segala aspek) demi kejayaan Islam.
B. SARAN
1. Hendaklah kita senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As- Sunnah.
2. Pastikan kita mengenal bagaimana sifat dan karakter Thoifah Al- Manshuroh yang mengharuskan kita bergabung di dalamnya, memperbanyak jumlahnya, tegar di atas kebenaran dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela.
3. Pada makalah ini penulis hanya membahas tentang bagaimana kita dapat mengenal sosok Thoifah Al-Manshuroh dengan sifat dan karakternya secara singkat, namun pembaca dapat mengembangkan pembahasan ini pada hal-hal yang lain tentangnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mun`ìm Musthofa Halimah, 2005. Tarjamah Ath-Thoifah Al-Mansyuroh Alali Tajibu An-Nukatsiru Sawadaha. Sukoharjo : Darul Ilmi.
Al-Audah, Syeikh Salman Bin Fahd. 2007. Tarjamah Min Wasa`il Daf Il Ghurbah. Solo : Aljazera.
Al-Buraikan, Dr. Ibrahim Bin Muhammad. Pengantar Studi Ahlus Sunnah Wal jama`ah. Pustaka Amanah Aqidah.
Al Qur`an Al Karim dan Terjmahannya. (Bandung: CV. Jumanatul `Ali-Art, 2005.
Kelompok Telaah Ar-Risalah. Buku Pintar Aqidah . Sukoharjo : Roemah Buku.
Kelompok Telaah Ar-Risalah. 2008. Misteri Pasukan Panji Hitam (Ashabul Raayati Suud). Surakarta : Granada Mediatama.
Majalah An-Najah. Edisi 53: 2010.
Tim Ulin Nuha, 2007. Potret Salafi Sejati. Solo: Al Qowam.
Tim Ulin Nuha, 2010. Dirasatul Firaq. Sukoharjo: CV. Arafah.