• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI FAKTOR KESERASIAN ( MATCH FACTOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI FAKTOR KESERASIAN ( MATCH FACTOR"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI FAKTOR KESERASIAN (MATCH FACTOR) ANTARA EXCAVATOR KOBELCO SK 330 DENGAN DUMP TRUCK

FUSSO 220 PS PADA KEGIATAN PENAMBANGAN BATUBARA DI PT. MINEMEX INDONESIA

Oleh:

MARDIYANTO

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN YAYASAN MUHAMMAD YAMIN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI (STTIND) PADANG

2017

(2)

EVALUASI FAKTOR KESERASIAN (MATCH FACTOR) ANTARA EXCAVATOR KOBELCO SK 330 DENGAN DUMP TRUCK

FUSSO 220 PS PADA KEGIATAN PENAMBANGAN BATUBARA DI PT. MINEMEX INDONESIA

SKRIPSI

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik

Oleh : MARDIYANTO

1110024427031

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN YAYASAN MUHAMMAD YAMIN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI (STTIND) PADANG

2017

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI

Judul : Evaluasi Faktor Keserasian (Match Factor) Antara Excavator Kobelco SK 330 Dengan Dump Truck Fusso 220 Ps Pada Kegiatan Penambangan Batubara Di PT.

Minemex Indonesia Nama : Mardiyanto

NPM : 1110024427031

Program Studi : Teknik Pertambangan

Padang, Desember 2017 Menyetujui :

Pembimbing I

Rusnoviadi Lubis, ST, MM NIDK 8824210016

Pembimbing II

Refki Adi Nata, ST. MT NIDN 1028099002

KA. PRODI

Drs.Murad, MS. MT NIDN 0077116308

Ketua STTIND

H. Riko Ervil, ST. MT NIDN 1014057501

(4)

i ABSTRAK

EVALUASI FAKTOR KESERASIAN (MATCH FACTOR) ANTARA EXCAVATOR KOBELCO SK 330 DENGAN DUMP TRUCK

FUSSO 220 PC PADA PENAMBANGAN BATUBARA DI PT. MINEMEX INDONESIA KECAMATAN

MANDIANGIN KABUPATEN SAROLANGUN PROVINSI JAMBI

Nama : Mardiyanto

NPM : 1110024427031

Pembimbing I : Rusnoviadi Lubis, ST, MM Pembimbing II : Refky Adi Nata, ST. MT

Dalam melakukan operasi produksi batubara PT. Minemex Indonesia menggunakan alat mekanis yang terdiri atas Excavator Kobelco SK 300 PC 1 unit, bulldozer D65 DX 1 unit, Grader G930 1 unit, Dump Truck Fusso 220 PC 5 unit.

Pada bulan Agustus tahun 2017 PT. Minemex Indonesia menetapkan target produksi batubara mencapai 100.000 ton/bulan dan pengupasan overburden mencapai 380.000 bcm bulan dengan stripping ratio sebesar 2. Maka sekiranya perlu diadakan analisa teknik terhadap kebutuhan alat muat Excavator Kobelco SK 330 dan alat angkut Dump Truck Fusso 220 PC pada penambangan batubara pada PT. MMI Indonesia.

Hal ini dikarenakan berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan masih sering terjadinya tidak keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut dikarenakan adanya peralatan yang tidak bekerja dengan efisien. Faktor keserasian alat yang tidak serasi (Macth Factor) lebih kecil dari 1 menyebabkan alat muat menunggu.

Berdasarkan perhitunganya, faktor keserasian eexcavator cobelco SK 330 dan dump truck fusso 220 PC untuk produksi batubara pada PT. Minemex Indonesia adalah sebesar 0,71. Jumlah alat muat dan alat angkut yang dibutuhkan untuk mencapai faktor keserasian adalah 1 unit untuk alat muat dan 7 unit untuk alat angkut. Produksi Dump Truck Fusso 220 PC sebesar 31.549,2 ton/bulan dengan jumlah alat angkut sebnayak 5 unit. Setelah dilakukan penambahan alat angkut menjadi 7 unit maka produksi menjadi 44.168,88 ton/bulan

Kata Kunci: Alat Muat dan Alat Angkut serta Faktor Keserasian

(5)

ii ABSTRACT

EVALUATION OF FERTILITY FACTOR (MATCH FACTOR) BETWEEN EXCAVATOR KOBELCO SK 330 WITH DUMP TRUCK FUSSO

220 PC ON COAL MINING IN PT. MINEMEX INDONESIA SUB DISTRICT MANDIANGIN DISTRICT

SAROLANGUN JAMBI PROVINCE

Nama : Mardiyanto

NPM : 1110024427031

Advisor I : Rusnoviadi Lubis, ST, MM Advisor II : Refky Adi Nata, ST. MT

In conducting coal production operations of PT. Minemex Indonesia uses mechanical tools consisting of Kobelco SK 300 PC 1 unit excavator, D65 DX 1 unit bulldozer, Grader G930 1 unit, Dump Truck Fusso 220 PC 5 units. In August of 2017 PT. Minemex Indonesia sets a coal production target of 100,000 tons / month and overburden stripping reaches 380,000 bcm month with stripping ratio of 2. Therefore, it is necessary to carry out technical analysis on the need for Kobelco SK 330 Excavator and Dump Truck Fusso 220 PC in coal mining at PT.

MMI Indonesia.

This is because based on the reality that is in the field is still often the occurrence of unreliability work between the loading equipment and the means of conveyance due to the equipment that does not work efficiently. The unsuitable matching factor (Macth Factor) factor is less than 1 causing the loader to wait.

Based on the calculation, the eelectrical factor eexcavator cobelco SK 330 and dump truck fusso 220 PC for coal production at PT. Minemex Indonesia is 0.71.

The number of cargo and conveyance equipment required to achieve the harmony factor is 1 unit for loading and 7 units for conveyance. Production of Dump Truck Fusso 220 PC amounted to 31,549.2 tons / month with the number of conveyances sebnayak 5 units. After the addition of conveyance to 7 units then the production becomes 44,168.88 tons / month

Keywords: Loading and Transmission Tools and Harmony Factors

(6)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat, rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian ini tepat pada waktunya.

Dalam penyelesaian proposal penelitian ini penulis telah dimotivasi dan dibantu oleh berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis dengan tulus hati mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Kedua orang tua dan keluarga yang selalu memberikan Doa dan dukungan baik moril maupun materil dalam menyelesaikan proposal penelitian ini.

2. Riko Ervil, MT. selaku ketua Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.

3. Bapak Drs. Murad, MS, MT. selaku ketua Prodi Teknik Pertambangan.

4. Bapak Rusnoviadi Lubis, ST, MM selaku pembimbing I dalam penelitian ini.

5. Bapak Refki Adi Nata, ST. selaku pembimbing II dalam penelitian ini.

6. Seluruh dosen dan karyawan/karyawati Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.

7. Teman-teman Mahasiswa/mahasiswi Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang, khususnya Mahasiswa/Mahasiswi dari jurusan Teknik Pertambangan.

(7)

iv

Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhir kata peneliti mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Padang, Desember 2017

Penulis

(8)

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 3

1.3 Batasan Masalah... 4

1.4 Rumusan Masalah ... 4

1.5 Tujuan Penelitian ... 5

1.6 Manfaat Penelitiaan ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Perusahan ... 7

2.1.1 Profil Perusahaan ... . 7

2.1.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah ... 7

2.1.3 Geologi ... 10

2.1.4 Iklim dan Curah Hujan ... 11

2.1.5 Keadaan Geologi dan Stratigrafi ... 11

2.1.6 Aktivitas Dasar Penambangan ... 11

(9)

vi

2.2. Landasan Teori ... 13

2.2.1 Alat Berat ... 13

2.2.2 Pemuatan (loading) dan Pengangkutan (hauling) ... 14

2.2.3 Produktivitas Excavator ... 16

2.2.4 Produktivitas Dump Truck ... 18

2.2.5 Match Factor (MF) ... 19

2.2.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Alat ... 20

2.2.6.1 Ketersedian Alat ... 20

2.2.6.2 Kondisi Cuaca... 22

2.2.6.3 Kondisi Jalan Tambang ... 23

2.2.6.4 Efisiensi Operator ... 23

2.2.6.5 Faktor Material ... 23

2.2.6.6 Faktor Pengisian Mangkuk (Bucket) ... 26

2.2.7 Tenaga Kendaraan ... 27

2.2.8 Efisensi Kerja ... 27

2.2.9 Penelitian Relevan ... 27

2.2.10 Kerangka Konseptual... 34

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 37

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 37

3.2.1 Tempat Penelitian ... 37

3.2.2 waktu Penelitian ... 37

3.3 Variabel Penelitian ... 37

(10)

vii

3.4 Data dan Sumber Data ... 38

3.4.1 Data ... 38

3.4.2 Sumber Data ... 38

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 39

3.6 Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data ... 39

3.7 Diagram Alir Penelitian ... 41

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data ... 42

4.1.1 Data Primer ... 44

4.1.2 Data Sekunder ... 44

4.1.3 Jadwal Kerja Perusahaan ... 45

4.1.4 Alat Penambangan ... 46

4.1.5 Waktu Kerja Yang Tersedia (Wkt) ... 46

4.2 Pengolahan Data... 46

4.2.1 Perhitungan Efisiensi Alat ... 46

4.2.2 Produktivitas Alat Muat ... 47

4.2.3 Produktivitas Alat Angkut ... 49

4.2.4 Match Factor ... 50

4.2.5 Faktor Mempengaruhi Alat ... 52

BAB V ANALISA HASIL PENGOLAHAN DATA 5.1 Upaya Perbaikan Faktor Keserasian ... 54

5.2 Upaya Perbaikan Alat Angkut ... 55

5.3 Pengaruh Hambatan Alat ... 56

(11)

viii BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ... 59 6.2 Saran ... 59 DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN

(12)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Koordinat Peta Wilayah Eksploitasi PT. Minemex Indonesia….. 8

Tabel 2.2 Faktor Koreksi (S) Untuk Kedalaman dan Sudut Putar ... 17

Tabel 2.3 Faktor Koreksi (BFF) Untuk Alat Gali ... 18

Tabel 2.4 Karekteristik Material . ... 25

Tabel 2.5 Produksi Nyata Alat Angkut Oktober 2013 ... 31

Tabel 2.6 Keserasian Kerja dan Waktu Tunggu Alat ... 32

Tabel 4.1 Jam Kerja PT. Minemex Indonesia . ... 45

Tabel 4.2 Jam Kerja PT. Minemex Indonesia Hari Jum’at . ... 45

Tabel 4.3 Daftar Peralatan ... 46

Tabel 4.4 Efisiensi Kerja Alat. ... 47

Tabel 4.5 Rekaputasi Data . ... 53

Tabel 5.1 Rekaputasi Data . ... 58

(13)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Kesampaian Daerah ... 9

Gambar 2.2 Peta Geologi ... 10

Gambar 2.3 Kerangka Konseptual ... 36

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian ... 41

Gambar 4.1 Coal Getting ... 43

Gambar 4.2 Pemuatan Batubara ... 43

(14)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Spesifikasi Kobelco Sk 330

Lampiran II : Spesifikasi Dump Truck Mitsubishi Fuso 220 PC Lampiran III : Cycle Time Excavator Kobelco Sk 330

Lampiran IV : Cycle Time Dump Truk Fusso 220 Pc Lampiran V : Jam Kerja PT. Minemax Indonesia Lampiran VI : Tabel Tahap Penelitian

Lampiran VII : Dokumentasi Lapangan

(15)

1 1.1 Latar Belakang Masalah

Batubara merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable), maka dalam pengelolaannya harus menerapkan metode penambangan yang benar agar dapat memberikan keuntungan (profitable) dan manfaat (benefitable) yang sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dengan tidak mengabaikan kelestarian lingkungan hidup. PT. Minemex Indonesia (PT.

MMI) merupakan salah satu dari sekian banyak perusahaan swasta yang bergerak dibidang penambangan batubara, PT. Minemex Indonesia telah memperoleh Surat Keputusan Bupati Sarolangun Nomor 17 Tahun 2011 tentang Persetujuan Peningkatan Izin Usaha Pertambangan Explorasi menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (KW.86 KP.050109) dengan areal Kuasa Pertambangan Explorasi seluas 3.700 Hektar di Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun. Sistem penambangan yang dipakai pada blok B PT.

Minemex Indonesia adalah menggunakan tambang terbuka (Surface Mining), dengan menggunakan metode stripping mining yaitu menambang dengan mengikuti arah lurus (strike) batuabara. Pemilihan metode ini juga didasarkan pada keadaan endapan batubara yang relatif datar dan dekat dengan permukaan.

PT. Minemex Indonesia memiliki dua blok yaitu blok A dan blok B yang saat ini sedang dilakukan penambangan batubara. Kegiatan yang dilakukan PT.

Minemex Indonesia meliputi pembersihan lahan, pembuatan jalan, pengupasan overburden, penggalian dan pemuatan serta pengangkutan batubara dengan

(16)

mengunakan alat mekanis. Kegiatan penambangan pada PT. Minemex Indonesia ini terdiri dari (land clearing), pengupasan (overburden), pemuatan (loading), pengangkutan (hauling), serta kegiatan pendukung lainnya. Pada kegiatan pemindahan tanah mekanis, keserasian alat muat dan alat angkut merupakan faktor penting dalam kegiatan coal getting. Hal ini sangat berpengaruh kepada seberapa besar kita dapat mengetahui waktu kerja efektif dan produktifnya.

Namun demikian kenyataan yang terjadi dilapangan ketika dilapangan bisa lain, banyak kendala yang timbul yang dapat menyebabkan tidak serasinya alat muat dan alat angkut tersebut, sehingga waktu kerja tidak efektif dan produktif. Pada kegiatan penambangan keberadaan akan alat mekanis baik alat muat dan alat angkut sangat dibutuhkan guna menunjang keberhasilan penambangan itu sendiri disamping meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Walaupun demikian dalam penggunaan perlu dilakukan perhitungan secara tepat, agar kemampuan alat dapat digunakan secara optimal serta mempunyai tingkat efisiensi yang tinggi.

Dalam melakukan operasi produksi batubara PT. Minemex Indonesia menggunakan alat mekanis yang terdiri atas Excavator Kobelco SK 300 PC 1 unit, bulldozer D65 DX 1 unit, Grader G930 1 unit, Dump Truck Fusso 220 PC 5 unit.

Pada bulan Agustus tahun 2017 PT. Minemex Indonesia menetapkan target produksi batubara mencapai 100.000 ton/bulan dan pengupasan overburden mencapai 380.000 bcm bulan dengan stripping ratio sebesar 2, pada geometri jalan angkut masih terdapat penyempitan jalan sehingga mempengaruhi waktu edar alat. Maka sekiranya perlu diadakan analisa teknik terhadap kebutuhan alat muat Excavator Kobelco SK 330 dan alat angkut Dump Truck Fusso 220 PC pada

(17)

penambangan batubara pada PT. MMI Indonesia. Hal ini dikarenakan berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan masih sering terjadinya tidak keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut dikarenakan adanya peralatan yang tidak bekerja dengan efisien. Faktor keserasian alat yang tidak serasi (Macth Factor) lebih kecil dari 1 menyebabkan alat muat menunggu. Masalah yang dihadapi pada saat sekarang bagaimana mengupayakan agar penggunaan alat muat dan alat angkut dapat diserasikan sehingga penggunaannya dapat di optimalkan dengan berdasarkan pada jam operasi yang tersedia saat sekarang ini.

Dari latar belakang di atas perlu kiranya dibahas dan diteliti tentang faktor keserasian peralatan mekanis pada Excavator Kobelco SK 330 dengan Dump Truck Fusso 220 PC oleh PT. Minemex Indonesia (PT.MMI) dan mengoptimalkannya dalam bentuk penelitian tugas akhir dengan judul: “ Evaluasi Faktor Keserasian (Match Faktor) antara Excavator Kobelco SK 330 Dengan Dump Truck Fusso 220 PC Pada Penambangan Batubara di PT. MINEMEX INDONESIA Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi”.

1.2 Identifikasi masalah

1. Adanya penyempitan pada jalan angkut yang memiliki lebar 7,5 meter sehingga mengganggu kinerja alat angkut.

2. Waktu edar alat angkut terlalu lama sehingga mengakibatkan tidak tercapainya target produksi yang telah ditentukan oleh PT. Minemex Indonesia, dimana waktu edar rata-rata Dump Truck Fusso 220 PC 15,19 menit.

(18)

3. Terdapat pada suatu titik jalan angkut belum sesuai dengan ketentuan geometri jalan angkut pada penambangan batubara di PT. Minemex Indonesia.

4. Terlihat alat muat sering menunggu alat angkut pada penambangan batubara di PT.Minemex Indonesia.

1.3 Batasan Masalah

1. Penelitian hanya dilakukan pada lokasi Blok B PT. Minemex Idonesia.

2. Peralatan mekanis yang diteliti adalah Exavator Kobelco SK 330 dan Dump Truck Fusso 220 PC pada penambangan batubara di Blok B PT.

Minemex Indonesia.

3. Waktu penelitian hanya dilakukan pada bulan juli 2017 di Blok B PT.

Minemex Indonesia.

4. Penelitian ini hanya membahas tentang faktor keserasian antara Excavator Kobelco SK 330 dengan Dump Truck Fusso 220 PC pada penambangan batubara di Blok B PT. Minemex Indonesia.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah yang sudah dibahas di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Berapa nilai Faktor Keserasian antara Excavator Kobelco SK 330 dan Dump Truck Fusso 220 PC pada penambangan batubara di Blok B PT.

Minemex Indonesia?

(19)

2. Berapa jumlah alat muat dan alat angkut yang dibutuhkan supaya tercapai keserasian alat muat dan alat angkut pada penambangan batubara di Blok B pada PT. Minemex Indonesia?

3. Bagaimana produktivitas Dump truck Fusso 220 PC setelah tercipta keserasian alat muat dan alat angkut pada penambangan batubara di Blok B PT. Minemex Indonesia?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut ini.

1. Menganalisis nilai Faktor Keserasian antara Excavator Kobelco SK 330 dan Dump Truck Fusso 220 PC pada penambangan batubara di Blok B PT.

Minemex Indonesia.

2. Merancang jumlah alat muat dan alat angkut yang dibutuhkan supaya tercapai keserasian alat muat dan alat angkut pada penambangan batubara di Blok B PT. Minemex Indonesia.

3. Menganalisis produktivitas Excavator Kobelco SK 330 setelah tercipta keserasian alat muat dan alat angkut pada penambangan batubara di Blok B PT. Minemex Indonesia.

1.6 Manfaat Penelitian a. Bagi perusahaan

Hasil penelitian ini mencapai dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk mencapai keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut

(20)

dan mengoptimalkan produksi batubara sehingga mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

b. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dibangku perkuliahan ke dalam bentuk penelitian, dan meningkatkan kemampuan peneliti dalam menganalisa suatu permasalahan serta menambah wawasan peneliti khususnya dibidang keilmuan teknik pertambangan.

c. Bagi institusi STTIND Padang

Dapat dijadikan sebagai salah satu masukan untuk pembuatan jurnal dan dapat dijadikan sebagai referensi dan pedoman bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian.

(21)

7 2.1 Tinjauan Umum Perusahaan 2.1.1 Profil Perusahaan

PT. Minemex Indonesia adalah salah satu perusahaan batubara yang terletak di Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi, didirikan pada tahun 2010. Saat ini PT. Minemex Indonesia telah melakukan kegiatan operasi produksi pada wilayah IUP Operasi Produksi seluas 3.700 Hektar. Kegiatan operasi produksi ini didasarkan pada Surat Keputusan Bupati Sarolangun Nomor 17 Tahun 2011 tentang Persetujuan peningkatan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi Menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi kepada PT. Minemex (KW.86 KP.050109). Sejak mendapatkan surat keputusan tersebut, PT. Minemex Indonesia sampai sekarang telah melakukan kegiatan operasi penambangan batubara.

2.1.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah

Secara administratif Wilayah IUP Operasi Produksi PT. Minemex Indonesia berada di wilayah Kecamatan Mandiangin tepatnya di wilayah Desa Mandiangin, Desa Rangkiling, Desa Talang Serdang, Desa Taman Dewa, Desa Bukit Peranginan dan Desa Simpang Kertopati. Secara geografis Wilayah IUP Operasi Produksi PT. Minemex Indonesia terletak pada 103026’25,00–

103029’43,30” BT dan 02007’17,80”– 02007’17,80” LS.

Secara geografis wilayah konsesi KP. Eksploitasi PT. Minemex Indonesia terlihat pada tabel 2.1 di bawah ini.

(22)

Tabel 2.1

Koordinat Wilayah IUP PT. MMI Titik

Bujur Timur (BT) Lintang Selatan (LS)

o o

1 102 57 30 -1 58 30

2 102 59 30 -1 58 30

3 102 59 30 -1 59 20

4 102 59 50 -1 59 20

5 102 59 50 -2 1 30

6 102 58 50 -2 1 30

7 102 58 50 -2 2 40

8 102 58 0 -2 2 40

9 102 58 0 -2 3 20

10 102 56 0 -2 3 20

11 102 56 0 -2 1 50

12 102 57 30 -2 1 50

(Sumber: PT.Minemex Indonesia)

Untuk mencapai Wilayah IUP Operasi Produksi PT. Minemex Indonesia dari Jakarta dapat dilakukan dengan menggunakan pesawat udara ke Kota Jambi.

Perjalanan dengan jalan darat melalui jalan yang menghubungkan Kota Jambi dan Kota Sarolangun menempuh jarak sekitar 140 kilometer (4 jam perjalanan) dan berhenti di Desa Mandiangin ataupun desa-desa lainnya sebagaimana disebutkan

(23)

di atas yang termasuk Wilayah IUP Operasi Produksi PT. Minemex Indonesia.

Perjalanan darat dari Kota Jambi sampai ke desa-desa tersebut dapat menggunakan kendaraan roda empat biasa karena melalui aspal dengan kondisi cukup baik. Untuk dapat mencapai semua Wilayah IUP Eksplorasi, dapat menggunakan kendaraan roda empat ganda atau dengan sepeda motor mengingat jalan-jalan yang ada masih berupa jalan tanah berlumpur atau jalan setapak sehingga sangat licin. Namun demikian wilayah ini termasuk mudah dijangkau karena dibelah oleh Jalan Nasional di bagian timur untuk transportasi darat dan dibelah oleh Sungai Tembesi dibagian barat untuk transportasi. Wilayah PT.Minemex Indonesia bisa pada gambar 2.1

(Sumber: Laporan arsip PT minemex indonesia).

Gambar 2.1 Peta Lokasi Dan Kesampaian Daerah

(24)

2.1.3 Geologi

Lapisan batubara dalam Wilayah IUP Operasi Produksi PT. Minemex Indonesia menempati tepi barat bagian dari Cekungan Sumatera Tengah dan Cekungan Sumatera Selatan. Cekungan Sumatera Selatan memiliki luas mencapai 117.000 km2 (de Coster, 1974, dalam Asikin Sukendar 1990). Sedimentasi yang terjadi di cekungan ini berlangsung terus menerus selama Tersier yang disertai penurunan dasar cekungan.

Geologi daerah taman dewa dan sekitarnya tersusun oleh batuan–batuan sedimen yang terendapkan di atas batuan dasar granit berumur pratersier, satuan batuan yang berkembang didaerah tersebut yaitu satuan batu lempung dan satuan batu pasir.

(Sumber: PT. Minemex Indonesia)

Gambar 2.2 Kondisi Geologi Daerah

(25)

2.1.4 Iklim dan Curah Hujan

Seperti kebanyakan daerah di Indonesia, daerah penambangan batubara di Block B memiliki iklim tropis dengan kelembaban dan temperatur tinggi, yaitu berkisar antara 230 C sampai dengan 36,50 C. Pada umumnya daerah ini terdiri dari dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau.

2.1.5 Keadaan Geologi dan Stratigrafi

Lapisan batubara dalam Wilayah IUP Operasi Produksi PT.Minemex Indonesia menempati tepi barat bagian dari Cekungan Sumatra Tengah dan Cekungan Sumatra Selatan. Cekungan Sumatra Selatan memiliki luas mencapai 117.000 km2 (de Coster, 1974, dalam Asikin Sukendar 1990). Sedimentasi yang terjadi di cekungan ini berlangsung terus menerus selama Tersier yang disertai penurunan dasar cekungan.

Geologi daerah taman Dewa dan sekitarnya tersusun oleh batuan – batuan sedimen yang terendapkan di atas batuan dasar granit berumur pratersier, satuan batuan yang berkembang didaerah tersebut yaitu satuan batu lempung dan satuan batu pasir.

2.1.6 Aktivitas Dasar Penambangan

Lapisan (seam) endapan batubara di daerah studi, secara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop. Kemiringan (dip) seam rata-rata antara 9 - 12° dengan ketebalan rata-rata berkisar antara 10-15 meter. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan endapan batubara yang akan ditambang, letaknya relatip dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan relatip datar. Mengacu kepada hasil perhitungan dengan metode BESR, ditetapkan bahwa nisbah

(26)

pengupasan yang diterapkan dalam operasi penambangan adalah 1:2. Secara ekonomi nilai SR tersebut memberikan keuntungan pada kegiatan penambangan.

Oleh sebab itu, kegiatan penambangan di daerah studi, apabila dilakukan dengan cara mengupas lapisan penutup, secara ekonomi masih dapat dilakukan.

Berdasarkan pertimbangan faktor-faktor diatas maka sistem penambangan batubara yang di terapkan PT. Minemex Indonesia adalah sistem tambang terbuka (open pit). Alat mekanis yang digunakan adalah kombinasi Excavator dan dump truck dibantu dengan bulldozer sebagai alat garu-dorong dan grader untuk perawatan jalan. Arah penambangannya menyesuaikan dengan arah dip dan strike batubara. Secara umum aktifitas penambangan Batubara PT. Minemex Indonesia melalui beberapa tahap, yaitu:

a. Pembersihan Lahan (Land Clearing)

Kegiatan ini mutlak dilakukan sebelum operasi pembongkaran lapisan tanah penutup dilakukan. Tujuan dari pembersihan lahan ini adalah untuk membersihkan area dari vegetasi yang berada di atasnya maupun bongkahan batuan. Untuk pohon yang > 20 cm bulldozer adalah alat berat yang biasa dipakai untuk melakukan kegiatan ini, namun jika < 20 cm digunakan cara manual, yaitu menggunakan peralatan chainsaw.

b. Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil)

Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan-bahan organik hasil pelapukan yang menyuburkan tanah, dilakukan setelah pembersihan lahan penambangan. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan bulldozer. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu

(27)

dekat dengan daerah operasi bulldozer, kemudian dimuat menggunakan excavator dan diangkut dengan dump truck ke tempat penyimpanan tanah pucuk. Timbunan tanah subur ini, nantinya dimanfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi.

Penambangan dimulai dengan menggali tanah pucuk (top soil) yang kemudian disimpan ditempat tertentu apabila sudah ada daerah untuk

“back filling” maka diisi oleh tanah penutup terlebih dahulu sebelum dilakukan penyebaran tanah pucuk (top soil) pada bagian atasnya dengan ketebalan sekitar 20 – 30 cm.

c. Pengupasan Tanah Penutup

Kegiatan pembongkaran lapisan tanah penutup baik overburden maupun interburden dilakukan dengan menggunakan excavator dibantu dengan bulldozer sedangkan untuk material lemah sampai sedang, langsung dilakukan penggalian dan pemuatan.

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Alat Berat

Menurut Susy Fatena Rostiyanti alat berat merupakan faktor penting di dalam proyek, terutama proyek-proyek konstruksi dengan skala yang besar.

Tujuan penggunaan alat-alat berat tersebut untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan pekerjaannya sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah pada waktu yang relatif lebih singkat.

(28)

2.2.2 Pemuatan (Loading) dan Pengangkutan (Hauling)

Produksi alat muat dan alat angkut dapat dilihat dari kemampuan alat tersebut dalam penggunaannya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alat muat dan alat angkut adalah:

1. Pencatatan waktu siklus alat muat Excavator

Waktu siklus adalah waktu yang diperlukan dalam melakukan kegiatan mulai dari awal hingga akhir dan kembali lagi ke awal.

Gerakan yang dilakukan oleh excavator dalam satu siklus adalah:

a. Waktu gali (tb).

Waktu yang dipakai untuk mengisi bucket.

b. Waktu Swing Isi (ts1).

Lama gerakan untuk membawa bucket yang berisi material ke alat angkut.

c. Waktu Tumpah (td).

Lama gerakan untuk membongkar material ke alat angkut d. Waktu Swing Kosong (ts2).

Lama gerakan mengayun kembali untuk penggalian berikutnya.

2. Pencatatan waktu siklus alat angkut Dump Truck.

Alat angkut yang diambil datanya adalah Dump Truck Fusso 220 PC.

Gerakan yang dilakukan Dump Truck dalam satu siklus adalah:

a. Waktu Manuver 1.

Lama waktu dari gerakan membelok hingga kemudian mundur untuk diisi oleh alat muat.

(29)

b. Waktu Muat (tb).

Lama waktu pemuatan material ke dump truck.

c. Waktu Angkut.

Lama waktu angkut dari front penambangan.

d. Waktu Manufer 2.

Lama gerakan untuk membelok dan dumping.

e. Waktu Tumpah.

Lama waktu Dump Truck menumpahkan material.

f. Waktu Balik.

Lama Dump Truck kembali ke front penambangan.

3. Pencatatan waktu yang hilang pada alat muat dan alat angkut.

a. Alat Muat.

Data yang diambil untuk menghitung lama waktu yang hilang dari alat muat adalah:

1) Waktu terlambat memulai pekerjaan.

2) Waktu terlambat memulai pekerjaan setelah istirahat.

3) Waktu cepatnya selesai pekerjaan.

4) Waktu cepatnya istirahat dalam melakukan pekerjaan.

b. Alat Angkut.

Data yang diambil untuk menghitung lama waktu yang hilang dari alat angkut adalah:

1) Waktu terlambat memulai pekerjaan.

2) Waktu terlambat memulai pekerjaan setelah istirahat.

(30)

3) Waktu cepatnya selesai pekerjaan.

4) Waktu cepatnya istirahat dalam melakukan pekerjaan.

4. Pencatatan Aktual jam kerja

Langkah-langkah yang dilakukan adalah:

a. Menentukan alat muat dan alat angkut yang akan diambil datanya, alat muat yang akan diambil datanya adalah Excavator Kobelco SK 330 dan alat angkut Dump Truck Fusso 220 PC.

b. Menentukan rencana jam kerja dan alat angkut dan alat muat, rencana jam kerja alat angkut dan alat muat tersebut adalah 8 jam / hari.

c. Menentukan aktual jam kerja alat muat dan alat angkut.

Langkah-langkahnya adalah:

1) Menghitung waktu jam rusak dari alat muat dan alat angkut.

2) Menghitung waktu standby alat muat dan alat angkut.

3) Waktu aktual bisa dikatakan rencana jam kerja dikurangi dengan jam rusak dan jam standby alat muat dan alat angkut.

Waktu standby bisa juga dikatakan dengan:

a. Standby hujan.

b. Standby no fuel.

c. Standby operator.

2.2.3 Produktifitas Excavator

Alat yang digunakan sebagai alat gali-muat pada kegiatan penambangan di PT.Minemex adalah Excavator Kobelco SK 330. Produksi Excavator per jam dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

(31)

………(2.1)

Keterangan:

Q = Produktivitas Alat (lcm/jam).

E = Effisiensi kerja Excavator sebelum perbaikan.

Kb = Kapasitas Bucket (m3).

S = Faktor Koreksi untuk kedalaman dan sudut putar.

BFF = Faktor Koreksi untuk Alat Gali/Muat.

CTm = Cycle Time Alat Muat (detik).

Tabel 2.2

Faktor Koreksi (S) untuk Kedalaman dan Sudut Putar

Kedalaman Penggalian (% dari

Maks)

Sudut Putar (o)

45 60 75 90 120 180

30 1,33 1,26 1,21 1,15 1,08 0,95 50 1,28 1,21 1,16 1,10 1,03 0,91 70 1,16 1,10 1,05 1,00 0,94 0,83 90 1,04 1,00 0,95 0,90 0,85 0,75 Sumber: Rostiyanti (2008:94)

Sumber: Rostiyanti

Q=Kbx 3600 xSxBFFxE

CTm

(32)

Tabel 2.3

Faktor Koreksi (BFF) untuk Alat Gali

No Material BFF (%)

1 Tanah dan tanah organik 80 – 110

2 Pasir dan kerikil 90 – 100

3 Lempung keras 65 – 95

4 Lempung basah 50 – 90

5 Batuan dengan peledakan buruk 40 – 70 6 Batuan dengan pelefakan baik 70 – 90

2.2.4. Produktifitas Dump Truck

Produksi perjam dump truck dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

………(2.2)

(Rochmanhadi 1992; 65)

Kapasitasi bucket/cycle time adalah:

Dimana:

Q = Produksi/jam (Bcm/jam) Q = Produktivitas/cycle time (Bcm) K = Efesiensi bucket excavator E = Efesiensi kerja Excavator (%) Ctm = Cycle time (Detik)

q1 = Kapasitas excavator bucket (Bcm) n = 5 bucket

(Sumber: Pengamatan Lapangan).

Sumber: Rostiyanti (2008:94)

(33)

2.2.5 Match Factor (MF)

………(2.3) (Sumber: Prodjosumarto,1996)

Keterangan:

MF = Match Factor.

Na = Jumlah alat angkut, unit.

Nm = Jumlah alat muat, unit.

n = Banyaknya pengisian tiap satu alat angkut.

CTa = Waktu edar alat angkut, menit.

CTm = Waktu edar alat muat, menit.

Bila dari hasil perhitungan tersebut diatas didapatkan hasil sebagai berikut:

1) MF < 1, maka alat muat akan menunggu sedangkan alat angkut akan bekerja penuh

2) MF = 1, maka kedua alat tersebut sudah serasi (synchron), artinya kedua- duanya akan sama sibuknya dan tidak ada yang menunggu.

3) MF > 1, maka alat angkut akan menunggu sedangkan alat muat akan bekerja penuh.

(34)

2.2.6 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat 2.2.6.1 Ketersediaan Alat

Berikut akan dibahas mengenai perhitungan ketersediaan alat-alat tambang baik dari segi ketersediaan mekanik, fisik, penggunaan ketersediaan, penggunaan efektif dan penggunaan efektif yang optimal yang akan digunakan untuk perhitungan waktu kerja efektif dan waktu kerja optimum dalam perencanaan penggunaan peralatan dan perhitungan produksi dalam satu periode tertentu.

Berikut akan dibahas mengenai perhitungan ketersediaan alat-alat tambang baik dari segi ketersediaan mekanik, fisik, penggunaan ketersediaan, penggunaan efektif dan penggunaan efektif yang optimal yang akan digunakan untuk perhitungan waktu kerja efektif dan waktu kerja optimum dalam perencanaan penggunaan peralatan dan perhitungan produksi dalam satu periode tertentu.

a. Mechanical Availability (MA) atau kesiapan mekanik.

MA adalah angka yang menunjukan kesiapan alat atau kesatuan peralatan dalam kondisi tertentu untuk dapat dioperasikan, dinyatakan dalam persen. MA adalah perbandingan antara jam kerja efektif dengan jam kerja yang tersedia.

MA =

R W

W

 x 100 % ………(2.4)

Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005:90) Keterangan:

MA = Mechanical availability atau kesiapan mekanik.

W = Working hours atau jumlah jam kerja alat.

R = Repair hours atau jumlah jam untuk perbaikan.

(35)

b. Physical Avability (PA)

Physical Avability (PA) akan menunjukkan sejarah (catatan) alat dan menunjukkan apa yang sudah dilakukan selama waktu-waktu lampau. PA merupakan faktor avability yang penting untuk menyatakan unjuk kerja mechanical alat dan juga sebagai petunjuk efisiensi mesin dalam program penjadwalan. Nilai PA selalu lebih besar dari MA, tetapi nilai keduanya sama jika stand by = 0.

PA =

MOHH S W

……….(2.5)

Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005:93) Keterangan:

PA = Physical Availability atau kesiapan fisik peralatan.

W = Working hours atau jumlah jam kerja alat.

S = Stand by hours atau jumlah jam untuk Stand by.

c. Use of Avaibility (U.A) atau penggunaan ketersediaan

Yaitu angka yang menunjukan berapa persen waktu yang dipergunakan oleh suatu alat untuk beroperasi, pada saat alat tersebut dapat dipergunakan (available).

U.A= {(W) / (W+S)} x 100% ………(2.6) Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005:93)

Keterangan:

U.A = Use of availability atau penggunaan ketersediaan.

W = Working Hours atau jam kerja alat.

S = Jumlah jam standby.

(36)

d. Effective Utilization (E.U) atau penggunaan efektif (efesiensi kerja).

Yaitu menunjukan beberapa persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif. Effective utilization sebenarnya sama dengan pengertian efisiensi kerja. Perbandingan antara jam kerja sesunggunhnya (jam kerja produktif) dengan jam kerja yang dijadwalkan, dengan rumus sebagai berikut:

E.U = { }x 100% ………(2.7) Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005:93)

Keterangan:

E.U = Penggunaan efektif.

T = W + R + S Total hours availability atau schedule.

hours atau jumlah jam kerja yang tersedia.

W = Total hari atau jumlah jam kerja.

2.2.6.2 Kondisi Cuaca

Keadaan cuaca sangat berpengaruh terhadap kerja alat-alat mekanis seperti:

a. Pada musim kemarau banyak debu beterbangan, sehingga dapat mengganggu operator peralatan mekanis, karena jarak pandang yang terbatas, akibatnya alat tidak leluasa dalam bergerak dan waktu edar menjadi lebih lama. Hal ini dapat menyebabkan efisiensi kerja menjadi berkurang.

b. Pada musim hujan tempat kerja menjadi berlumpur sehingga alat mekanis menjadi terhambat dalam pergerakannya. Jalan yang berlumpur

(37)

menyebabkan alat mekanis yang menggunakan ban karet sering mengalami selip atau terbenam dalam lumpur. Sehingga faktor cuaca dapat menurunkan efisiensi alat mekanis seperti mempertinggi tingkat kehausan ban mengakibatkan menurunnya tingkat produksi.

2.2.6.3 Kondisi Jalan Tambang

Dari hasil pengamatan keadaan permukaan jalan tambang terawat cukup baik dan cukup keras untuk dilewati alat angkut dimana jarak rata-rata dari blok B ke disposal area ± 900 Meter dengan kondisi jalan yang relatif datar.

2.2.6.4 Efisiensi Operator

Efisiensi operator merupakan faktor manusia yang menggerakkan alat-alat yang sangat sukar untuk ditentukan efisiensinya secara tepat karena selalu berubah-ubah dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam, tergantung dari keadaan jalan, cuaca dan keadaan alat yang dikemudikannya dan suasana kerja. Kadang- kadang suatu perangsang dalam bentuk upah tambahan (incentive) dapat mempertinggi efisiensi operator.

Sebenarnya efisiensi operator tidak hanya disebabkan karena kemalasan pekerja itu, tetapi juga karena hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindari seperti melumasi kendaraan, membersihkan bagian-bagian terpenting sesudah sekian jam dipakai serta menunggu perbaikan jalan.

2.2.6.5 Faktor Material

Lapisan Tanah Penutup (overburden) adalah semua lapisan tanah atau batuan yang berada di atas dan langsung menutupi lapisan bahan galian berharga sehingga perlu disingkirkan terlebih dahulu sebelum dapat menggali bahan galian

(38)

berharga tersebut. Lapisan tanah penutup (overburden) yang dapat ditemui umumnya dikelompokkan menjadi beberapa sifat dan karateristik material dengan perbedaan-perbedaan pada masing-masing material serta mempunyai ciri tersendiri pada setiap material (tabel 2.3) yaitu:

1. Material yang sangat mudah digali (sangat lunak)

a. material yang mengandung sedikit air, misalnya pasir, tanah biasa, kerikil, campuran pasir dengan tanah biasa.

b. material yang banyak mengandung air, misalnya pasir lempungan, lempung pasiran, lumpur dan pasir yang banyak mengandung air.

2. Material yang cukup keras (lunak)

Misalnya tanah biasa yang bercampur kerikil, pasir yang bercampur dengan kerikil, pasir yang kasar.

3. Material yang setengah keras (sedang)

Misalnya batubara, shale (clay yang sudah mulai kompak), batuan kerikil yang mengalami sementasi dan pengompakan, batuan beku yang sudah mulai lapuk, dan batuan-batuan beku yang mengalami banyak rekahan-rekahan.

4. Material yang keras

Misalnya sandstone, limestone, slate, vulcanic tuff, batuan beku yang mulai lapuk, mineral-mineral penyusun batuan yang telah mengalami sementasi dan pengompakan.

5. Material sangat keras

Misalnya batuan-batuan beku dan batuan-batuan metamorf, contohnya granit, andesit, slate, kwarsit dan sebagainya.

(39)

Tabel 2.4

Karakteristik Material

No Jenis Material Keterangan

1. Material Sangat Lunak - Pasir

- Tanah biasa - Kerikil

Mudah digali, dapat menggunakan excavator 2. Material Lunak

- Pasir campur kerikil - Pasir kasar

- Tanah biasa campur

Digali menggunakan excavator atau power shovel

3. Material setengah keras (sedang) - Batubara

- Batu beku yang lapuk - Shale

- Kerikil yang mengalami sementasi

Agak sulit menggunakan excavator sehingga harus di ripping terlebih dahulu

4. Material Keras - Sandstone - Limestone - Slate

- Vulcanic tuff

- Mineral penyusun batuan yang mengalami

pengompakan

Di ripping terlebih dahulu atau dengan peledakan

5. Material Sangat Keras - Batuan beku - Batuan metamorf - Slate

- Kwarsit

Tidak dapat digali dengan alat gali ataupun di-ripping, melainkan harus dengan peledakkan

6. Material Massive

- Batuan beku berbutir halus

Dengan peledakkan

Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005)

Keadaan material yang akan digali sangat mempengaruhi suatu proses penambangan. Pada material yang sangat keras, tidak bisa dibongkar dengan menggunakan peralatan mekanis, sehingga harus dibongkar dengan bantuan peledakan. Misalnya material tanah penutup dijumpai dalam bentuk lapisan tanah

(40)

pucuk (top soil) yang mengandung humus, tanah penutup lunak, dan tanah penutup keras. Jenis material tersebut akan menentukan besarnya produksi alat dan cara pengoperasiannya, tentunya akan memperlambat aktivitas kegiatan maka akan muncul perhitungan kembali mengenai biaya produksi overburden, hal tersebut akan berhubungan dengan faktor pengembangan material dan faktor pengisian mangkuk (bucket) atau bilah (blade).

2.2.6.6 Faktor Pengisian Mangkuk (Bucket)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengisian mangkuk adalah:

1. Kandungan air

Semakin besar kandungan air maka faktor pengisian menjadi lebih kecil karena berat material yang diangkut setelah dikurangi berat air menjadi lebih kecil dari kapasitas baku.

2. Kelengketan material

Semakin besar kelengketan suatu material, faktor pengisiannya menjadi lebih besar karena material menjadi kohesif/lengket.

3. Ukuran material

Semakin besar ukuran material, faktor pengisiannya menjadi lebih kecil karena terdapat rongga kosong antar bongkahan material yang menyebabkan berat nyata menjadi lebih kecil dari pada berat baku.

4. Kecakapan operator

Operator yang terampil dapat mempertinggi faktor pengisian. Faktor ini dipengaruhi oleh berbagai jenis material.

(41)

2.2.7. Tenaga Kendaraan

Didalam memilih suatu alat untuk pekerjaan penggalian material, bijih atau overburden harus diperhitungkan tenaga kendaraan yang mampu mengatasi medan kerja yang dimaksud adalah kondisi jalan: minsalnya jalan kering mulus dan padat, becek dan lembek, lurus banyak tikungan, mendaki, menurun, dan lain- lain yang mempengaruhi laju kendaraan pada saat bermuatan atau kosong.

2.2.8. Efisiensi Kerja

Efisiensi kerja merupakan elemen produksi yang harus diperhitungkan didalam upaya mendapatkan harga produksi alat per satuan waktu, sebagian besar harga efisiensi kerja diharapkan terhadap operator, yaitu orang yang menjalankan atau mengoperasikan unit alat, walaupun demikian apabila ternyata efisiensi kerja rendah belum tentu penyebabnya adalah kemalasan operator yang bersangkutan, mungkin ada penyebab lain yang tidak dapat dihindari, antara lain cuaca, kerusakan alat tiba-tiba, kabut dan lain-lain. Dengan kata lain efisiensi adalah semua kegiatan diluar proses produksi yang mengganggu waktu kerja efektif dari suatu alat berat.

2.2.9. Penelitian Relevan

1. Rezky Anisari, Keserasian Alat Muat dan Angkut Untuk Kecapaian Target Produksi Pengupasan Batuan Penutup Pada PT. Unirich Mega Persada Site Hajak Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah, Politeknik Banjarmasin, Jurnal Intekna, Tahun XII, No. 1, Mei 2012.

Berdasarkan penelitian tersebut kegiatan penambangan di PT. Unirich Mega Persada menggunakan peralatan mekanis berupa kombinasi dari alat

(42)

gali muat Excavator Doosan 500 LCV dengan alat angkut Dump Truck Hino FM 260 Ti untuk melakukan pembongkaran dan pengangkutan tanah penutup (overburden). Di gunakan juga beberapa peralatan mekanis lain sebagai pendukung kelancaran kegiatan produksi maupun untuk memaksimalkan hasil target produksi seperti motor greder, bulldozer, water tank dan fuel tank. Untuk mencapai hasil produksi yang telah ditetapkan, kegiatan penambangan haruslah dilakukan dengan seoptimal mungkin.

Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui produktifitas alat muat, untuk mengetahui produktifitas alat angkut dan untuk mengetahui match factor (keserasian kerja) alat muat dan alat angkut. Dari hasil pengamatan dan perhitungan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Produktifitas alat muat Excavator Backhoe Doosan 500 LCV sebesar 176.093 bcm/jam. Produktifitas alat angkut DT Hino FM 60 Ti sebesar 32,39 bcm/jam. Keserasian alat muat Excavator Backhoe Doosan 500 LCV dengan alat angkut DT Hino FM 60 Ti adalah 1,10, artinya alat angkut masih ada yang antri. Dengan melihat Produktifitas alat muat dibutuhkan 5 unit alat angkut agar pengupasan batuan penutup berjalan secara optimal dengan nilai keserasian (MF) sebesar 0,92.

2. Ardyan Febrianto, dkk. Kajian Teknis Produksi Alat Gali Muat Dan Alat Angkut Pada Pengupasan Overburden Di Tambang Batubara PT. Rian Pratama Mandiri Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan, Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: September 2015.

(43)

PT. Rian Pratama Mandiri (RPM) adalah salah satu perusahaan kontraktor pertambangan yang bergerak dalam penambangan batubara.

PT. Rian Pratama Mandiri melaksanakan kegiatan penambangan di lokasi izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) site Asam-Asam Timur milik PT. Arutmin Indonesia dengan luas area 2.498 Ha di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Sistem penambangan yang dipakai adalah open pit mining. Pit RPM adalah salah satu pit yang ada di PT. Rian Pratama Mandiri. Kegiatan penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan overburden sebelum melakukan coal getting. Dalam melakukan pengupasan overburden di pit RPM, peralatan yang digunakan adalah backhoe Doosan S500LC-V dengan kapasitas bucket 3,2 m3 yang menggunakan metode pemuatan single back-up dan top loading. Alat angkut yang digunakan adalah truk jungkit Hino 700ZS 4141 dengan kapasitas bak 18 m3. Pit RPM akan meningkatkan nilai stripping ratio sehingga target produksi pengupasan overburden yang harus dicapai adalah 515 BCM/jam.

Perhitungan produksi pengupasan menggunakan simulasi teori antrian yang memasukkan parameter waktu tunggu alat angkut pada waktu edar alat angkut. Setelah dilakukan perhitungan dengan simulasi teori antrian diketahui produksi pengupasan saat ini yaitu 385,00 BCM/jam dengan angka keserasian kerja alat pada fleet 1 0,64; fleet 2 0,81 dan fleet 3 0,68. Faktor teknis yang mempengaruhi produksi adalah

(44)

kondisi kerja, volume penggalian serta pemuatan, efisiensi operasi dan keserasian kerja alat. Rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan produksi yaitu perbaikan geometri jalan dan area pemuatan yang tidak sesuai standar, penambahan jumlah curah bucket pada material claystone dari 4 curah menjadi 5 curah, mengurangi hambatan kerja mekanis dan operasi, dan penambahan jumlah alat angkut masing-masing satu unit pada fleet 1 dan fleet 3. Produksi pengupasan berdasarkan simulasi dengan teori antrian akan meningkat menjadi 520,38 BCM/jam dengan angka keserasian kerja alat pada fleet 1 1,01; fleet 2 0,97 dan fleet 3 0,91.

3. Syarifudin, dkk. Analisa Kemampuan Kerja Alat Angkut Untuk Mencapai Target Produksi Overburden 240.000 Bcm Perbulan Di Site Project Darmo PT. Ulima Nitra Tanjung Enim Sumatera Selatan, Tahun 2013.

PT. Ulima Nitra site project Darmo melakukan proses penambangan untuk pengambilan lapisan penutup menggunakan kombinasi dua alat mekanis yaitu, excavator backhoe untuk penggalian dan pemuatan sedangkan pengangkutan dilakukan oleh alat mekanis dump truck.

Berdasarkan hasil pengolahan data pada bulan Oktober 2013, pengupasan lapisan penutup hanya mencapai 225.125,99 bcm/bulan, terjadi penurunan ketercapaian produksi sebesar 25.682,23 bcm/bulan dari target yang telah ditetapkan sebesar 240.000 bcm/bulan. Dapat dilihat produktifitas nyata alat angkut. Peningkatan produksi alat angkut dan alat muat dapat dilakukan dengan penentuan alokasi alat angkut yang sesuai pada tiap loading point,

(45)

sehingga waktu tunggu alat dapat di minimalisasi. Selain itu alokasi alat angkut yang sesuai dapat meminimalisasi kehilangan waste (BCM).

Berdasarkan hasil perhitungan faktor keserasian alat muat dan alat angkut, dapat diketahui kecendrungan alat muat dan alat angkut untuk menunggu.

Besarnya waktu tunggu dapat diperhitungkan berdasarkan nilai match factor yang telah di dapatkan. Hasil perhitungan match factor dan waktu tunggu alat.

Pada pekerjaan pengupasan tanah penutup, meskipun nilai match factor telah mendekati ideal (MF=1), masih terdapat beberapa kendala yang menyebabkan kinerja sistem alat muat dan alat angkut tidak optimal. Dari pengamatan langsung dilapangan kendala-kendala tersebut adalah alokasi alat angkut kesuatu lokasi pekerjaan yang tidak sesuai, sehingga sistem kinerja alat tidak optimal dan alat angkut yang sedang bekerja di suatu lokasi pada gilir kerja tertentu, seringkali di pindahkan ke lokasi kerja yang lain pada gilir kerja tersebut.

Tabel 2.5

Produksi Nyata Alat Angkut Oktober 2013

Excavator vs Dump truck

Jumlah Unit

Produktivit as

(BCM/Jam )

Produksi perhari(BCM)

Produksi Perbulan(BC M) SCANIA vs PC 400

(UN AB-19)

4 25,62 420,96 72.691,49

IVECO vs PC 300 (UN 194)

5 31,64 496,53 74.849,14

SCANIA vs PC 300 (UN 016)

5 32,81 427,10 77.612,35

Jumlah 225.125,99

(46)

Tabel 2.6

Keserasian Kerja dan Waktu Tunggu Alat

Alat Muat Alat

angkut

Jumlah

Aalat angkut MF

Waktu Tunggu Alat Muat

PC 400 (UN AB-19) Scania 6 0,80 180,93

PC 300 (UN 194) Iveco 5 0,89 87,28

PC 300 (UN AB-16) Scania 5 0,91 72,54

Sumber: Pengolahan Data.

4. Vendhi Prasmoro, Optimasi Produksi Dump Truck Volvo Fm 440 Dengan Metode Kapasitas Produksi Dan Teori Antrian Di Lokasi Pertambangan Batubara (Studi Pada Salah Satu Kontraktor Pertambangan Area Samarinda, Kalimantan Timur), Teknik Industri Universitas Mercu Buana, Jurnal OE, Volume VI, Maret No. 1, 2014.

Peralatan merupakan faktor yang sangat penting dalam menjamin keberlangsungan produksi pertambangan. Jumlah armada yang berlebih akan mengakibatkan biaya pengeluaran operasi membengkak, sementara jumlah armada yang sedikit akan mengurangi jumlah produksi tambang.

Kondisi ideal dalam proses pemuatan dan pengangkutan material sangat sulit dicapai. Akan tetapi, hal tersebut dapat diupayakan dengan melakukan efisiensi tehadap jumlah dump truck utama tambang. Salah satu metode simulasi yang dapat digunakan untuk mengoptimasi produksi alat muat dump truck utama adalah dengan menggunakan metode kapasitas produksi dan teori antrian. Simulasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh jumlah truk yang optimum dengan waktu antrian truck yang paling minimum dan

(47)

menghindari alat muat menunggu kedatangan dump truck. Alat muat yang digunakan adalah Excavator Backhoe PC 400 Komatsu berjumlah 5 unit.

Dump truck yang digunakan adalah Truck Volvo FM 440 yang berjumlah 35 unit. Berdasarkan hasil simulasi dengan pendekatan simulasi kapasitas produksi dump truck yang dibutuhkan 30 unit sedangkan berdasarkan teori antrian dump truck yang dibutuhkan 20 unit. Dimana secara aktual dump truck yang digunakan adalah 32 unit.

5. Hariz Subhan, dkk. Analisa Kemampuan Kerja Alat Angkut Untuk Mencapai Target Produksi Overburden 240.000 Bcm Perbulan Di Site Project Darmo PT. Ulima Nitra Tanjung Enim Sumatera Selatan,

Pengupasan lapisan tanah penutup di site project Darmo PT. Ulima Nitra, dilakukan pada lapisan overburden berupa lempung dan disertai dengan material tanah biasa. PT. Ulima Nitra bekerjasama dengan PT.

Menambang Muara Enim sebagai pihak kontraktor untuk melakukan proses stripping overburden dan coal getting. Target pengupasan overburden adalah sebesar 240.000 bcm/bulan, dengan jumlah alat gali-muat dan alat angkut yang ada serta waktu kerja yang ada yaitu 19,86 jam perhari. Berdasarkan hasil pengolahan data pada bulan Oktober 2013, pengupasan overburden hanya mencapai 225.252,99 bcm/bulan, terjadi penurunan ketercapaian produksi dari target yang telah ditetapkan. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu evaluasi kinerja alat gali muat dan alat angkut guna mengetahui penyebab terjadinya ketidak tercapaian volume pengupasan overburden di PT. Ulima Nitra. Untuk mencapai target produksi perbulannya, dilakukan

(48)

kajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan kerja dari alat angkut, seperti waktu kerja efektif, kesediaan kerja alat angkut, kondisi jalan angkut produksi (geometri jalan), dan sistem antrian yang digunakan pada produksi overburden serta kondisi permukaan kerja. Setelah dilakukan evaluasi dan perhitungan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dump truck. Didapatkan peningkatan produksi dan dapat memenuhi target perbulan perusahan yaitu sebesar 286.796,59 bcm/bulan yang berarti naik 61.643,60 bcm/bulan dari produksi aktual pada bulan Oktober sebesar 225.252,99 bcm/bulan.

2.2.10. Kerangka Konseptual

Dalam penelitian ini terdapat kerangka konseptual yang akan membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian yang terdiri atas:

1. Input

Input bersumber dari data primer dan data Sekunder. Data primer diambil dari kegiatan lapangan yang bersumber dari pengamatan langsung, wawancara dan observasi.

a. Data primer merupakan data langsung yang diambil dari lapangan. Adapun data primer meliputi:

1) Waktu siklus Excavator Kobelco SK 330.

2) Waktu siklus Dump Truck Fusso 220 PC.

3) Jam kerja PT. Minemex Indonesia.

(49)

b. Dan data sekunder berasal dari perusahaan dan literatur-literatur yang mendukung, data sekunder adalah data-data yang diperoleh dari PT. Minemex Indonesia dan literatur-literatur yang mendukung, data-data tersebut meliputi:

1) Spesifikasi Alat Berat.

2) Lokasi dan Topografi.

3) Lokasi Topografi.

4) Iklim dan Cuaca.

5) Keadaan Geologi dan Stratigrafi.

6) Efisiensi Kerja Alat.

2. Proses

Proses yang dilakukan pada kegiatan ini adalah untuk menghitung nilai match factor pada perusahaan tempat dimana penulis mengadakan penelitian.

3. Output

Output atau hasil dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai match factor dengan mengevaluasi kebutuhan alat muat dan alat angkut. Dalam penelitian ini terdapat kerangka konseptual yang akan membantu penulis dalam menyelesaiakan penelitian ini, yang terdiri atas:

(50)

1. Faktor keserasian Excavator Kobelco SK 330 dan Dump truck Fusso 220 PC.

2. Jumlah alat muat dan angkut dalam

mencapai faktor keserasian.

3. Produktivitas dump truck setelah tercapai faktor keserasian.

Input Proses Output

Gambar 2.3 Kerangka Konseptual Data Primer:

1. Waktu siklus

Excavator Kobelco SK 330.

2. Waktu siklus Dump truck fusso 220 PC.

3. Jam kerja.

Data Sekunder:

1. Spesifikasi alat berat.

2. Lokasi dan topografi.

3. Lokasi Dan Topografi.

4. Iklim dan cuaca.

5. Keadaan geologi.

6. Efisiensi kerja alat.

1. Menghitung berapa nilai keserasian alat muat dan angkut . 2. Menganalisis berapa

jumlah alat yang dibutuhkan dalam dalam mencapai keserasian alat.

3. Menganalisis produktivitas dump truck setelah mencapai keserasian.

(51)

37 3.1 Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metodologi penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2012:7), penelitian kuantitatif adalah sebagain dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di PT. Minemex Indonesia yang secara administrasi berada diwilayah Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2015–September 2015 adapun tahap penelitian dapat dilihat pada tabel lampiran vi.

3.3 Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan suatu atribut dari sekelompok objek yang diteliti yang mempunyai variasi satu dengan yang lain dalam kelompok tersebut.

Sesuai dengan permasalahan yang diteliti maka variable penelitian meliputi kegiatan produksi pada PT. Minemex Indonesia.

(52)

3.4 Data dan Sumber Data 3.4.1 Data

Data yang di butuhkan pada penelitian ini adalah:

1. Data primer

Adapun data primer dalam penelitian ini yaitu:

a. Waktu siklus alat yang digunakan.

b. Waktu siklus Dump Truck Fusso 220 PC.

c. Jam kerja PT. Minemex Indonesia.

2. Data sekunder.

Adapun data primer dalam penelitian ini yaitu:

a. Spesifikasi Alat Berat.

b. Pembagian Waktu Kerja.

c. Lokasi dan Topografi.

d. Iklim dan Cuaca.

e. Keadaan Geologi dan Stratigrafi.

f. Efisiensi Kerja Alat.

Teknik yang dilakukan yaitu dengan membaca atau studi pustaka di perusahaan.

3.4.2 Sumber Data

Sumber data yang penelitian dapatkan berasal dari pengamatan langsung, arsip-arsip dan dokumentasi dari PT. Minemex Indonesia dan studi keperputakaan.

(53)

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data di lakukan dengan dua cara yaitu:

a. Daftar pustaka, yaitu mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan membaca buku literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam penelitian sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam pemecahan masalah.

b. Studi lapangan, yaitu mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan.

3.6 Teknik Pengolahan dan Analisa Data

Teknik analisis data adalah teknik yang dibutuhkan untuk mengolah data yang telah dikumpulkan untuk kebutuhan penelitian agar mendapatkan suatu kesimpulan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan 2 tahapan untuk analisis dan pengolahan data:

1. Perhitungan nilai match factor dan produksi masing-masing alat berat Data-data cycle time kapasitas bucket, efisiensi kerja alat dan lainnya dikumpulkan dan dikalkulasikan sehingga didapatkan besaran produktivitas masing-masing alat berat untuk kemudian dihitung besaran produksinya.

2. Analisis Pemilihan Alternatif Terbaik

Setelah didapatkan beberapa alternatif yang layak secara ekonomis, maka harus dilakukan pemilihan alternatif terbaik yang menguntungkan untuk perusahaan.

3. Produktivitas Dump Truck Setelah Tercipta Keserasian Alat

(54)

Produksi perjam dump truck dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

(Rochmanhadi 1992; 65)

(55)

3.7. Diagram Alir Penelitian

Langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian:

Produktivitas Alat Angkut Dan Alat Muat Pada Kegiatan Penambangan Batubara PT. Minemex Indonesia Kecamatan Mandiangin Kabupaten

Sarolangun Provinsi Jambi.

Identifikasi Masalah

1. Pengaruh waktu siklus terhadap produksi alat muat (excavator).

2. Pengaruh Effisiensi waktu kerja terhadap produksi alat angkut (dump truck).

3. Keserasian kerja (match factor) antara Excavator dan dump truck.

4. Jumlah excavator dan dump truck yang efektif digunakan untuk kegiatan produksi.

5. Karna terjadinya tidak keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut sehinggah perlatan bekerja dengan tidak effisen.

Pengumpulan Data

Data Primer

1) Cycle time Excavator Kobelco SK 330

2) Cycle time Dump Truck Fusso 220 PC

3) Jam Kerja PT. Minemex Indonesia

Data Sekunder

1. Spesifikasi Alat Berat.

2. Pembagian Waktu Kerja.

3. Lokasi dan Topografi.

4. Iklim dan Cuaca.

5. Keadaan Geologi dan Stratigrafi.

6. Efisiensi Kerja Alat

nilai match factor antara alat muat dan alat angkut

Pengolahan Data

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

(56)

42

diperlukan dalam penelitian mengenai evaluasi faktor keserasian (match factor) antara Excavator Kobelco SK 330 dengan Dump Truck Fusso 220 PC pada penambangan batubara pada PT. Minemex Indonesia dilanjutkan dengan analisis data dan pembahasan.

4.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui dua tahapan yaitu dengan mengumpulkan dokumen perusahaan yang berkenaan dengan produktivitas dan keserasian dari alat gali muat dan alat angkut serta data langsung di lapangan untuk mengamati hambatan-hambatan yang terjadi di setiap produktivitas alat.

Data inilah yang akan dibandingkan antara data perusahaan dengan kenyataan di lapangan.

1. Proses Penambangan

Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui tentang sistem penambangan di PT. Minemax Indonesia, mulai dari awal penambangan sampai keakhir penambangannya. Kegiatan ini berupa pengamatan dari pengupasan lahan (pioneering), pengupasan tanah penutup (overburden), coal getting, pemuatan (loading) dan pengangkutan (hauling).

(57)

Gambar 4.1 Coal Getting

Gambar 4.2 Pemuatan Batubara

2. Hambatan-hambatan Penambangan

Dari pengamatan di lapangan ditemukan bahwa hambatan-hambatan bisa menyebabkan target produksi menjadi tidak tercapai. Jadi dengan mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi diharapkan kedepannya bisa diperbaiki untuk meningkatkan jumlah produksi.

Gambar

Gambar  2.1 Peta Lokasi Dan Kesampaian Daerah
Gambar 2.3 Kerangka Konseptual Data Primer:
Gambar 3.1           Diagram Alir Penelitian
Gambar 4.2  Pemuatan Batubara
+5

Referensi

Dokumen terkait

Tugas akhir dengan judul “Perbaikan Faktor Daya Listrik Di PT Kusumaputra Santosa Karanganyar” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik di Jurusan

menyelesaikan penulisan Tugas Akhir dengan judul EVALUASI SISTEM PIUTANG ASURANSI KENDARAAN BODY REPAIR PADA PT ASTRA INTERNATIONAL TBK- DAIHATSU CABANG SOLO BARU..

Tugas Akhir dengan judul, “ EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PT ADHI KARYA (PERSERO) TBK DENGAN RASIO KEUANGAN TAHUN 2013-2015 ” telah disetujui oleh Dosen Pembimbing

Judul Laporan Akhir : Evaluasi Kelayakan Pemberian Kredit Untuk Mencegah Kredit Bermasalah di Produk Kredit Usaha Mikro (KUM) Pada PT Bank Perkreditan Rakyat Sumatera

Program Studi : PSD III Teknik Mesin Kerjasama FT UNDIP – PT PLN Judul Tugas Akhir : Evaluasi Unjuk Kerja Air Preheater Unit 2 PLTU 1 Jawa3.