• Tidak ada hasil yang ditemukan

Match Factor (MF)

Dalam dokumen EVALUASI FAKTOR KESERASIAN ( MATCH FACTOR (Halaman 33-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.5 Match Factor (MF)

………(2.3) (Sumber: Prodjosumarto,1996)

Keterangan:

MF = Match Factor.

Na = Jumlah alat angkut, unit.

Nm = Jumlah alat muat, unit.

n = Banyaknya pengisian tiap satu alat angkut.

CTa = Waktu edar alat angkut, menit.

CTm = Waktu edar alat muat, menit.

Bila dari hasil perhitungan tersebut diatas didapatkan hasil sebagai berikut:

1) MF < 1, maka alat muat akan menunggu sedangkan alat angkut akan bekerja penuh

2) MF = 1, maka kedua alat tersebut sudah serasi (synchron), artinya kedua-duanya akan sama sibuknya dan tidak ada yang menunggu.

3) MF > 1, maka alat angkut akan menunggu sedangkan alat muat akan bekerja penuh.

2.2.6 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat 2.2.6.1 Ketersediaan Alat

Berikut akan dibahas mengenai perhitungan ketersediaan alat-alat tambang baik dari segi ketersediaan mekanik, fisik, penggunaan ketersediaan, penggunaan efektif dan penggunaan efektif yang optimal yang akan digunakan untuk perhitungan waktu kerja efektif dan waktu kerja optimum dalam perencanaan penggunaan peralatan dan perhitungan produksi dalam satu periode tertentu.

Berikut akan dibahas mengenai perhitungan ketersediaan alat-alat tambang baik dari segi ketersediaan mekanik, fisik, penggunaan ketersediaan, penggunaan efektif dan penggunaan efektif yang optimal yang akan digunakan untuk perhitungan waktu kerja efektif dan waktu kerja optimum dalam perencanaan penggunaan peralatan dan perhitungan produksi dalam satu periode tertentu.

a. Mechanical Availability (MA) atau kesiapan mekanik.

MA adalah angka yang menunjukan kesiapan alat atau kesatuan peralatan dalam kondisi tertentu untuk dapat dioperasikan, dinyatakan dalam persen. MA adalah perbandingan antara jam kerja efektif dengan jam kerja

Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005:90) Keterangan:

MA = Mechanical availability atau kesiapan mekanik.

W = Working hours atau jumlah jam kerja alat.

R = Repair hours atau jumlah jam untuk perbaikan.

b. Physical Avability (PA)

Physical Avability (PA) akan menunjukkan sejarah (catatan) alat dan menunjukkan apa yang sudah dilakukan selama waktu-waktu lampau. PA merupakan faktor avability yang penting untuk menyatakan unjuk kerja mechanical alat dan juga sebagai petunjuk efisiensi mesin dalam program penjadwalan. Nilai PA selalu lebih besar dari MA, tetapi nilai keduanya sama jika stand by = 0.

PA = Physical Availability atau kesiapan fisik peralatan.

W = Working hours atau jumlah jam kerja alat.

S = Stand by hours atau jumlah jam untuk Stand by.

c. Use of Avaibility (U.A) atau penggunaan ketersediaan

Yaitu angka yang menunjukan berapa persen waktu yang dipergunakan oleh suatu alat untuk beroperasi, pada saat alat tersebut dapat dipergunakan (available).

U.A= {(W) / (W+S)} x 100% ………(2.6) Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005:93)

Keterangan:

U.A = Use of availability atau penggunaan ketersediaan.

W = Working Hours atau jam kerja alat.

S = Jumlah jam standby.

d. Effective Utilization (E.U) atau penggunaan efektif (efesiensi kerja).

Yaitu menunjukan beberapa persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif. Effective utilization sebenarnya sama dengan pengertian efisiensi kerja. Perbandingan antara jam kerja sesunggunhnya (jam kerja produktif) dengan jam kerja yang dijadwalkan, dengan rumus sebagai berikut:

E.U = { }x 100% ………(2.7) Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005:93)

Keterangan:

E.U = Penggunaan efektif.

T = W + R + S Total hours availability atau schedule.

hours atau jumlah jam kerja yang tersedia.

W = Total hari atau jumlah jam kerja.

2.2.6.2 Kondisi Cuaca

Keadaan cuaca sangat berpengaruh terhadap kerja alat-alat mekanis seperti:

a. Pada musim kemarau banyak debu beterbangan, sehingga dapat mengganggu operator peralatan mekanis, karena jarak pandang yang terbatas, akibatnya alat tidak leluasa dalam bergerak dan waktu edar menjadi lebih lama. Hal ini dapat menyebabkan efisiensi kerja menjadi berkurang.

b. Pada musim hujan tempat kerja menjadi berlumpur sehingga alat mekanis menjadi terhambat dalam pergerakannya. Jalan yang berlumpur

menyebabkan alat mekanis yang menggunakan ban karet sering mengalami selip atau terbenam dalam lumpur. Sehingga faktor cuaca dapat menurunkan efisiensi alat mekanis seperti mempertinggi tingkat kehausan ban mengakibatkan menurunnya tingkat produksi.

2.2.6.3 Kondisi Jalan Tambang

Dari hasil pengamatan keadaan permukaan jalan tambang terawat cukup baik dan cukup keras untuk dilewati alat angkut dimana jarak rata-rata dari blok B ke disposal area ± 900 Meter dengan kondisi jalan yang relatif datar.

2.2.6.4 Efisiensi Operator

Efisiensi operator merupakan faktor manusia yang menggerakkan alat-alat yang sangat sukar untuk ditentukan efisiensinya secara tepat karena selalu berubah-ubah dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam, tergantung dari keadaan jalan, cuaca dan keadaan alat yang dikemudikannya dan suasana kerja. Kadang-kadang suatu perangsang dalam bentuk upah tambahan (incentive) dapat mempertinggi efisiensi operator.

Sebenarnya efisiensi operator tidak hanya disebabkan karena kemalasan pekerja itu, tetapi juga karena hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindari seperti melumasi kendaraan, membersihkan bagian-bagian terpenting sesudah sekian jam dipakai serta menunggu perbaikan jalan.

2.2.6.5 Faktor Material

Lapisan Tanah Penutup (overburden) adalah semua lapisan tanah atau batuan yang berada di atas dan langsung menutupi lapisan bahan galian berharga sehingga perlu disingkirkan terlebih dahulu sebelum dapat menggali bahan galian

berharga tersebut. Lapisan tanah penutup (overburden) yang dapat ditemui umumnya dikelompokkan menjadi beberapa sifat dan karateristik material dengan perbedaan-perbedaan pada masing-masing material serta mempunyai ciri tersendiri pada setiap material (tabel 2.3) yaitu:

1. Material yang sangat mudah digali (sangat lunak)

a. material yang mengandung sedikit air, misalnya pasir, tanah biasa, kerikil, campuran pasir dengan tanah biasa.

b. material yang banyak mengandung air, misalnya pasir lempungan, lempung pasiran, lumpur dan pasir yang banyak mengandung air.

2. Material yang cukup keras (lunak)

Misalnya tanah biasa yang bercampur kerikil, pasir yang bercampur dengan kerikil, pasir yang kasar.

3. Material yang setengah keras (sedang)

Misalnya batubara, shale (clay yang sudah mulai kompak), batuan kerikil yang mengalami sementasi dan pengompakan, batuan beku yang sudah mulai lapuk, dan batuan-batuan beku yang mengalami banyak rekahan-rekahan.

4. Material yang keras

Misalnya sandstone, limestone, slate, vulcanic tuff, batuan beku yang mulai lapuk, mineral-mineral penyusun batuan yang telah mengalami sementasi dan pengompakan.

5. Material sangat keras

Misalnya batuan-batuan beku dan batuan-batuan metamorf, contohnya granit, andesit, slate, kwarsit dan sebagainya.

Tabel 2.4

Karakteristik Material

No Jenis Material Keterangan

1. Material Sangat Lunak - Pasir

- Pasir campur kerikil - Pasir kasar

- Tanah biasa campur

Digali menggunakan excavator atau power shovel

3. Material setengah keras (sedang) - Batubara

- Batu beku yang lapuk - Shale

- Kerikil yang mengalami sementasi

- Mineral penyusun batuan yang mengalami

pengompakan

Di ripping terlebih dahulu atau dengan peledakan

Tidak dapat digali dengan alat gali ataupun di-ripping, melainkan harus dengan peledakkan

6. Material Massive

- Batuan beku berbutir halus

Dengan peledakkan

Sumber: Ir Yanto Indonesianto, M.Sc (2005)

Keadaan material yang akan digali sangat mempengaruhi suatu proses penambangan. Pada material yang sangat keras, tidak bisa dibongkar dengan menggunakan peralatan mekanis, sehingga harus dibongkar dengan bantuan peledakan. Misalnya material tanah penutup dijumpai dalam bentuk lapisan tanah

pucuk (top soil) yang mengandung humus, tanah penutup lunak, dan tanah penutup keras. Jenis material tersebut akan menentukan besarnya produksi alat dan cara pengoperasiannya, tentunya akan memperlambat aktivitas kegiatan maka akan muncul perhitungan kembali mengenai biaya produksi overburden, hal tersebut akan berhubungan dengan faktor pengembangan material dan faktor pengisian mangkuk (bucket) atau bilah (blade).

2.2.6.6 Faktor Pengisian Mangkuk (Bucket)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengisian mangkuk adalah:

1. Kandungan air

Semakin besar kandungan air maka faktor pengisian menjadi lebih kecil karena berat material yang diangkut setelah dikurangi berat air menjadi lebih kecil dari kapasitas baku.

2. Kelengketan material

Semakin besar kelengketan suatu material, faktor pengisiannya menjadi lebih besar karena material menjadi kohesif/lengket.

3. Ukuran material

Semakin besar ukuran material, faktor pengisiannya menjadi lebih kecil karena terdapat rongga kosong antar bongkahan material yang menyebabkan berat nyata menjadi lebih kecil dari pada berat baku.

4. Kecakapan operator

Operator yang terampil dapat mempertinggi faktor pengisian. Faktor ini dipengaruhi oleh berbagai jenis material.

2.2.7. Tenaga Kendaraan

Didalam memilih suatu alat untuk pekerjaan penggalian material, bijih atau overburden harus diperhitungkan tenaga kendaraan yang mampu mengatasi medan kerja yang dimaksud adalah kondisi jalan: minsalnya jalan kering mulus dan padat, becek dan lembek, lurus banyak tikungan, mendaki, menurun, dan lain-lain yang mempengaruhi laju kendaraan pada saat bermuatan atau kosong.

2.2.8. Efisiensi Kerja

Efisiensi kerja merupakan elemen produksi yang harus diperhitungkan didalam upaya mendapatkan harga produksi alat per satuan waktu, sebagian besar harga efisiensi kerja diharapkan terhadap operator, yaitu orang yang menjalankan atau mengoperasikan unit alat, walaupun demikian apabila ternyata efisiensi kerja rendah belum tentu penyebabnya adalah kemalasan operator yang bersangkutan, mungkin ada penyebab lain yang tidak dapat dihindari, antara lain cuaca, kerusakan alat tiba-tiba, kabut dan lain-lain. Dengan kata lain efisiensi adalah semua kegiatan diluar proses produksi yang mengganggu waktu kerja efektif dari suatu alat berat.

2.2.9. Penelitian Relevan

1. Rezky Anisari, Keserasian Alat Muat dan Angkut Untuk Kecapaian Target Produksi Pengupasan Batuan Penutup Pada PT. Unirich Mega Persada Site Hajak Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah, Politeknik Banjarmasin, Jurnal Intekna, Tahun XII, No. 1, Mei 2012.

Berdasarkan penelitian tersebut kegiatan penambangan di PT. Unirich Mega Persada menggunakan peralatan mekanis berupa kombinasi dari alat

gali muat Excavator Doosan 500 LCV dengan alat angkut Dump Truck Hino FM 260 Ti untuk melakukan pembongkaran dan pengangkutan tanah penutup (overburden). Di gunakan juga beberapa peralatan mekanis lain sebagai pendukung kelancaran kegiatan produksi maupun untuk memaksimalkan hasil target produksi seperti motor greder, bulldozer, water tank dan fuel tank. Untuk mencapai hasil produksi yang telah ditetapkan, kegiatan penambangan haruslah dilakukan dengan seoptimal mungkin.

Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui produktifitas alat muat, untuk mengetahui produktifitas alat angkut dan untuk mengetahui match factor (keserasian kerja) alat muat dan alat angkut. Dari hasil pengamatan dan perhitungan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Produktifitas alat muat Excavator Backhoe Doosan 500 LCV sebesar 176.093 bcm/jam. Produktifitas alat angkut DT Hino FM 60 Ti sebesar 32,39 bcm/jam. Keserasian alat muat Excavator Backhoe Doosan 500 LCV dengan alat angkut DT Hino FM 60 Ti adalah 1,10, artinya alat angkut masih ada yang antri. Dengan melihat Produktifitas alat muat dibutuhkan 5 unit alat angkut agar pengupasan batuan penutup berjalan secara optimal dengan nilai keserasian (MF) sebesar 0,92.

2. Ardyan Febrianto, dkk. Kajian Teknis Produksi Alat Gali Muat Dan Alat Angkut Pada Pengupasan Overburden Di Tambang Batubara PT. Rian Pratama Mandiri Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan, Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: September 2015.

PT. Rian Pratama Mandiri (RPM) adalah salah satu perusahaan kontraktor pertambangan yang bergerak dalam penambangan batubara.

PT. Rian Pratama Mandiri melaksanakan kegiatan penambangan di lokasi izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) site Asam-Asam Timur milik PT. Arutmin Indonesia dengan luas area 2.498 Ha di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Sistem penambangan yang dipakai adalah open pit mining. Pit RPM adalah salah satu pit yang ada di PT. Rian Pratama Mandiri. Kegiatan penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan overburden sebelum melakukan coal getting. Dalam melakukan pengupasan overburden di pit RPM, peralatan yang digunakan adalah backhoe Doosan S500LC-V dengan kapasitas bucket 3,2 m3 yang menggunakan metode pemuatan single back-up dan top loading. Alat angkut yang digunakan adalah truk jungkit Hino 700ZS 4141 dengan kapasitas bak 18 m3. Pit RPM akan meningkatkan nilai stripping ratio sehingga target produksi pengupasan overburden yang harus dicapai adalah 515 BCM/jam.

Perhitungan produksi pengupasan menggunakan simulasi teori antrian yang memasukkan parameter waktu tunggu alat angkut pada waktu edar alat angkut. Setelah dilakukan perhitungan dengan simulasi teori antrian diketahui produksi pengupasan saat ini yaitu 385,00 BCM/jam dengan angka keserasian kerja alat pada fleet 1 0,64; fleet 2 0,81 dan fleet 3 0,68. Faktor teknis yang mempengaruhi produksi adalah

kondisi kerja, volume penggalian serta pemuatan, efisiensi operasi dan keserasian kerja alat. Rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan produksi yaitu perbaikan geometri jalan dan area pemuatan yang tidak sesuai standar, penambahan jumlah curah bucket pada material claystone dari 4 curah menjadi 5 curah, mengurangi hambatan kerja mekanis dan operasi, dan penambahan jumlah alat angkut masing-masing satu unit pada fleet 1 dan fleet 3. Produksi pengupasan berdasarkan simulasi dengan teori antrian akan meningkat menjadi 520,38 BCM/jam dengan angka keserasian kerja alat pada fleet 1 1,01; fleet 2 0,97 dan fleet 3 0,91.

3. Syarifudin, dkk. Analisa Kemampuan Kerja Alat Angkut Untuk Mencapai Target Produksi Overburden 240.000 Bcm Perbulan Di Site Project Darmo PT. Ulima Nitra Tanjung Enim Sumatera Selatan, Tahun 2013.

PT. Ulima Nitra site project Darmo melakukan proses penambangan untuk pengambilan lapisan penutup menggunakan kombinasi dua alat mekanis yaitu, excavator backhoe untuk penggalian dan pemuatan sedangkan pengangkutan dilakukan oleh alat mekanis dump truck.

Berdasarkan hasil pengolahan data pada bulan Oktober 2013, pengupasan lapisan penutup hanya mencapai 225.125,99 bcm/bulan, terjadi penurunan ketercapaian produksi sebesar 25.682,23 bcm/bulan dari target yang telah ditetapkan sebesar 240.000 bcm/bulan. Dapat dilihat produktifitas nyata alat angkut. Peningkatan produksi alat angkut dan alat muat dapat dilakukan dengan penentuan alokasi alat angkut yang sesuai pada tiap loading point,

sehingga waktu tunggu alat dapat di minimalisasi. Selain itu alokasi alat angkut yang sesuai dapat meminimalisasi kehilangan waste (BCM).

Berdasarkan hasil perhitungan faktor keserasian alat muat dan alat angkut, dapat diketahui kecendrungan alat muat dan alat angkut untuk menunggu.

Besarnya waktu tunggu dapat diperhitungkan berdasarkan nilai match factor yang telah di dapatkan. Hasil perhitungan match factor dan waktu tunggu alat.

Pada pekerjaan pengupasan tanah penutup, meskipun nilai match factor telah mendekati ideal (MF=1), masih terdapat beberapa kendala yang menyebabkan kinerja sistem alat muat dan alat angkut tidak optimal. Dari pengamatan langsung dilapangan kendala-kendala tersebut adalah alokasi alat angkut kesuatu lokasi pekerjaan yang tidak sesuai, sehingga sistem kinerja alat tidak optimal dan alat angkut yang sedang bekerja di suatu lokasi pada gilir kerja tertentu, seringkali di pindahkan ke lokasi kerja yang lain pada gilir kerja tersebut.

Tabel 2.5

Produksi Nyata Alat Angkut Oktober 2013

Tabel 2.6

Keserasian Kerja dan Waktu Tunggu Alat

Alat Muat Alat Metode Kapasitas Produksi Dan Teori Antrian Di Lokasi Pertambangan Batubara (Studi Pada Salah Satu Kontraktor Pertambangan Area Samarinda, Kalimantan Timur), Teknik Industri Universitas Mercu Buana, Jurnal OE, Volume VI, Maret No. 1, 2014.

Peralatan merupakan faktor yang sangat penting dalam menjamin keberlangsungan produksi pertambangan. Jumlah armada yang berlebih akan mengakibatkan biaya pengeluaran operasi membengkak, sementara jumlah armada yang sedikit akan mengurangi jumlah produksi tambang.

Kondisi ideal dalam proses pemuatan dan pengangkutan material sangat sulit dicapai. Akan tetapi, hal tersebut dapat diupayakan dengan melakukan efisiensi tehadap jumlah dump truck utama tambang. Salah satu metode simulasi yang dapat digunakan untuk mengoptimasi produksi alat muat dump truck utama adalah dengan menggunakan metode kapasitas produksi dan teori antrian. Simulasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh jumlah truk yang optimum dengan waktu antrian truck yang paling minimum dan

menghindari alat muat menunggu kedatangan dump truck. Alat muat yang digunakan adalah Excavator Backhoe PC 400 Komatsu berjumlah 5 unit.

Dump truck yang digunakan adalah Truck Volvo FM 440 yang berjumlah 35 unit. Berdasarkan hasil simulasi dengan pendekatan simulasi kapasitas produksi dump truck yang dibutuhkan 30 unit sedangkan berdasarkan teori antrian dump truck yang dibutuhkan 20 unit. Dimana secara aktual dump truck yang digunakan adalah 32 unit.

5. Hariz Subhan, dkk. Analisa Kemampuan Kerja Alat Angkut Untuk Mencapai Target Produksi Overburden 240.000 Bcm Perbulan Di Site Project Darmo PT. Ulima Nitra Tanjung Enim Sumatera Selatan,

Pengupasan lapisan tanah penutup di site project Darmo PT. Ulima Nitra, dilakukan pada lapisan overburden berupa lempung dan disertai dengan material tanah biasa. PT. Ulima Nitra bekerjasama dengan PT.

Menambang Muara Enim sebagai pihak kontraktor untuk melakukan proses stripping overburden dan coal getting. Target pengupasan overburden adalah sebesar 240.000 bcm/bulan, dengan jumlah alat gali-muat dan alat angkut yang ada serta waktu kerja yang ada yaitu 19,86 jam perhari. Berdasarkan hasil pengolahan data pada bulan Oktober 2013, pengupasan overburden hanya mencapai 225.252,99 bcm/bulan, terjadi penurunan ketercapaian produksi dari target yang telah ditetapkan. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu evaluasi kinerja alat gali muat dan alat angkut guna mengetahui penyebab terjadinya ketidak tercapaian volume pengupasan overburden di PT. Ulima Nitra. Untuk mencapai target produksi perbulannya, dilakukan

kajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan kerja dari alat angkut, seperti waktu kerja efektif, kesediaan kerja alat angkut, kondisi jalan angkut produksi (geometri jalan), dan sistem antrian yang digunakan pada produksi overburden serta kondisi permukaan kerja. Setelah dilakukan evaluasi dan perhitungan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dump truck. Didapatkan peningkatan produksi dan dapat memenuhi target perbulan perusahan yaitu sebesar 286.796,59 bcm/bulan yang berarti naik 61.643,60 bcm/bulan dari produksi aktual pada bulan Oktober sebesar 225.252,99 bcm/bulan.

2.2.10. Kerangka Konseptual

Dalam penelitian ini terdapat kerangka konseptual yang akan membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian yang terdiri atas:

1. Input

Input bersumber dari data primer dan data Sekunder. Data primer diambil dari kegiatan lapangan yang bersumber dari pengamatan langsung, wawancara dan observasi.

a. Data primer merupakan data langsung yang diambil dari lapangan. Adapun data primer meliputi:

1) Waktu siklus Excavator Kobelco SK 330.

2) Waktu siklus Dump Truck Fusso 220 PC.

3) Jam kerja PT. Minemex Indonesia.

b. Dan data sekunder berasal dari perusahaan dan literatur-literatur yang mendukung, data sekunder adalah data-data yang diperoleh dari PT. Minemex Indonesia dan literatur-literatur yang mendukung, data-data tersebut meliputi:

1) Spesifikasi Alat Berat.

2) Lokasi dan Topografi.

3) Lokasi Topografi.

4) Iklim dan Cuaca.

5) Keadaan Geologi dan Stratigrafi.

6) Efisiensi Kerja Alat.

2. Proses

Proses yang dilakukan pada kegiatan ini adalah untuk menghitung nilai match factor pada perusahaan tempat dimana penulis mengadakan penelitian.

3. Output

Output atau hasil dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai match factor dengan mengevaluasi kebutuhan alat muat dan alat angkut. Dalam penelitian ini terdapat kerangka konseptual yang akan membantu penulis dalam menyelesaiakan penelitian ini, yang terdiri atas:

1. Faktor keserasian Excavator Kobelco SK 330 dan Dump truck Fusso 220 PC.

2. Jumlah alat muat dan angkut dalam

37 3.1 Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metodologi penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2012:7), penelitian kuantitatif adalah sebagain dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di PT. Minemex Indonesia yang secara administrasi berada diwilayah Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2015–September 2015 adapun tahap penelitian dapat dilihat pada tabel lampiran vi.

3.3 Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan suatu atribut dari sekelompok objek yang diteliti yang mempunyai variasi satu dengan yang lain dalam kelompok tersebut.

Sesuai dengan permasalahan yang diteliti maka variable penelitian meliputi kegiatan produksi pada PT. Minemex Indonesia.

3.4 Data dan Sumber Data 3.4.1 Data

Data yang di butuhkan pada penelitian ini adalah:

1. Data primer

Adapun data primer dalam penelitian ini yaitu:

a. Waktu siklus alat yang digunakan.

b. Waktu siklus Dump Truck Fusso 220 PC.

c. Jam kerja PT. Minemex Indonesia.

2. Data sekunder.

Adapun data primer dalam penelitian ini yaitu:

a. Spesifikasi Alat Berat.

b. Pembagian Waktu Kerja.

c. Lokasi dan Topografi.

d. Iklim dan Cuaca.

e. Keadaan Geologi dan Stratigrafi.

f. Efisiensi Kerja Alat.

Teknik yang dilakukan yaitu dengan membaca atau studi pustaka di perusahaan.

3.4.2 Sumber Data

Sumber data yang penelitian dapatkan berasal dari pengamatan langsung, arsip-arsip dan dokumentasi dari PT. Minemex Indonesia dan studi keperputakaan.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data di lakukan dengan dua cara yaitu:

a. Daftar pustaka, yaitu mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan membaca buku literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam penelitian sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam pemecahan masalah.

b. Studi lapangan, yaitu mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan.

3.6 Teknik Pengolahan dan Analisa Data

Teknik analisis data adalah teknik yang dibutuhkan untuk mengolah data yang telah dikumpulkan untuk kebutuhan penelitian agar mendapatkan suatu kesimpulan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan 2 tahapan untuk analisis dan pengolahan data:

1. Perhitungan nilai match factor dan produksi masing-masing alat berat Data-data cycle time kapasitas bucket, efisiensi kerja alat dan lainnya dikumpulkan dan dikalkulasikan sehingga didapatkan besaran produktivitas masing-masing alat berat untuk kemudian dihitung besaran produksinya.

2. Analisis Pemilihan Alternatif Terbaik

Setelah didapatkan beberapa alternatif yang layak secara ekonomis, maka

Setelah didapatkan beberapa alternatif yang layak secara ekonomis, maka

Dalam dokumen EVALUASI FAKTOR KESERASIAN ( MATCH FACTOR (Halaman 33-0)

Dokumen terkait