Medan Raya Tour (MRT) : Peranan Dan Perkembangan Sebagai Moda Transportasi Antar Kabupaten (1974-2002)
SKRIPSI SARJANA
Dikerjakan O
l e h
Poly Lumban Siantar Nim. 090706038
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
Medan Raya Tour (MRT) : Peranan dan Perkembangan sebagai Moda Transportasi antar Kabupaten (1974-2002)
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O l e h
Poly Lumban Siantar Nim. 090706038
Pembimbing
Drs. Samsul Tarigan Nip. 195811041986011002
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
Medan Raya Tour (MRT) : Peranan dan Perkembangan sebagai Moda Transportasi antar Kabupaten (1974-2002)
Yang diajukan oleh
Nama : Poly Lumban Siantar Nim : 090706038
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh Pembimbing
Drs. Samsul Tarigan Tanggal,
N.I.P :195811041986011002
Ketua Departeman Sejarah
Drs. Edi Sumarno, M.Hum. Tanggal,
N.I.P : 196409221989031001
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
Medan Raya Tour (MRT) : Peranan dan Perkembangan sebagai Moda Transportasi antar Kabupaten (1974-2002)
Skripsi Sarjana DIKERJAKAN O
l e h
Poly Lumban Siantar 090706038
Pembimbing
Drs. Samsul Tarigan NIP. 195811041986011002
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian
Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi Salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Dalam bidang Ilmu Sejarah.
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
Lembar Persetujuan Ketua Jurusan
DISETUJUI OLEH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
DEPARTEMEN SEJARAH
Ketua Departemen
Drs. Edi Sumarno M.hum NIP. 196409221989031001
Medan, Desember 2016
Lembar Pengesahan Skripsi oleh Dekan dan Panitia Ujian
Diterima oleh :
Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan
Pada : Hari : Tanggal :
Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan
Dr. Budi Agustono, M.S.
NIP. 196008051987031001
Panitia Ujian
No. Nama Tanda Tangan
1. Drs. Edi Sumarno, M.Hum (………)
2. Dra. Nurhabsyah, M.Si (………)
3. Drs. Samsul Tarigan (………)
4. Dra. Peninna Simanjuntak, M.S (………)
5. Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si (………)
UCAPAN TERIMA KASIH
Segala puji dan syukur penulis persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat serta rahmatnya yang tidak terhingga berupa bimbingan, kekuatan, dan pertolongan yang tiada hentinya diberikan kepada penulis.Atas berkat limpahannya sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan, meskipun banyak hambatan serta tantangan.
Lalu kepada Bapak Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Dr. Budi Agustono, M.S. yang telah memberikan segala bantuannya selama proses perkuliahan, beserta Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum. selaku ketua Departemen Imu Sejarah. Ibu Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si sebagai Dosen Wali penulis yang telah banyak memberikan dorongan, arahan, serta bimbingan yang bermakna kepada penulis, yang juga merupakan dosen yang mampu memupuk semangat para mahasiswa khususnya penulis dalam menjalani perkuliahan. Ibu Dra. Nurhabsyah, M.Si. sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Sejarah yang telah memberikan dukungan serta nasehat kepada penulis. Bapak Drs. Samsul Tarigan selaku dosen pembimbing penulis dalam penulisan skripsi yang telah banyak memberi semangat, masukan, serta meluangkan waktu untuk membimbing penulis, juga yang mengerti akan kekurangan penulis dalam penulisan skripsi ini guna memberi arahan yang sangat bermakna sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Seluruh Bapak dan Ibu dosen khususnya di Departemen Sejarah serta Abang Amperawira selaku Tata Usaha Departemen Sejarah.
Penulisan skripsi ini juga tidak akan terwujud tanpa bantuan, kerja sama dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis juga ingin mengungkapkan rasa terima kasih kepada: Yang tercinta orangtua penulis, Jhonderman lumbansiantar dan Rahel Situmorang yang telah mendidik, membesarkan, serta memberikan kasih sayang yang tidak terhingga dari penulis lahir hingga menapaki proses akhir perkuliahan. Orangtua yang selalu memberikan dukungan materil, moril, serta doa yang berkelimpahan yang tidak mungkin penulis dapat membalas semuanya, abang penulis Erwin Lumbansiantar, adik penulis, Genefith Lumbansiantar dan Allan Lumbansiantar, semoga lebih baik dari penulis dan selalu berusaha untuk dapat membahagiakan kedua orangtua kita.
Kepada para informan penulis Ibu Dra. Rayana Simanjuntak, staff pegawai Koperasi Pengangkutan Umum (KPUM), Bapak J. Purba, juga para Supir Medan Raya Tour (MRT) yang telah meluangkan waktunya untuk diwawancarai oleh penulis yang informasinya sangat membantu dalam penulisan skripsi ini.
Kepada Keluarga besar stambuk 2009 “stambuk paling istimewa” bagi penulis.Untuk Hunter Habeahan yang menjadi teman suka-duka penulis sejak awal masuk perkuliahan baik di dalam maupun di luar kampus.Untuk Rudi pariyadi, Muklis Tumanggor, Doli Insan Gunawan yang selalu bisa menghibur penulis dengan guyonan-guyonan dan cerita sedih yang mampu membuat penulis untuk tetap tegar.
Lalu kepada Alpha, Adi Nova, Saut, Dedi, Andi, Toti, Rona, Elisa, Nurlailisa, Ita, Suryania (Nia), Ratna, Swandi, Sigmer, Rizal, Mukhlis, Saddam A.T, Saddam Pulungan, serta abangda, kakanda dan adinda Departemen Sejarah, dalam kebersamaan kita selama menjalani perkuliahan yang tak akan pernah dilupakan oleh penulis dalam suka maupun duka, kalian selalu berada dalam ingatan penulis, kalian
merupakan teman terindah yang dikaruniakan oleh Tuhan, canda, keluh kesah serta tawa yang selalu kita kenang walaupun akhirnya kita berpisah dalam perkuliahan tetapi kalian sahabat terhebat bagi penulis.
Terima kasih untuk teman-teman organisasi Gemaprodem yang menjadi rumah serta kampus kedua dalam hal menimbah ilmu kehidupan.Kalian adalah keluarga yang paling nyata yang bisa mengajarkan untuk tetap bisa melawan dalam hal kebenaran. Kawan Resti, Sekjen, Markus, Budi, Goliath, dan yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terima kasih untuk loyalitas dan solidaritas tanpa batas dari kalian (demokrasi untuk rakyat).
Yang terakhir teristimewa untuk Putri Noni Sigiro Am.keb yang senantiasa mendukung dan memberikan motivasi kepada penulis untuk tetap memperjuangkan apa yang sudah dimulai oleh penulis.
Akhirnya untuk semua pihak-pihak yang telah membantu penulis yang tidak seluruhnya disebutkan dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih.Semoga Tuhan yang Maha Esa dapat membalas kebaikan yang telah diberikan dengan balasan yang berlimpah.Penulis juga mengharapkan semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca.
Medan, Desember 2016 Penulis
Poly R Lumbansiantar NIM : 090706038
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.Juga penulis ucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung baik dari segi moril dan materil.
Atas segala usaha dan bantuan dari berbagai pihak, skripsi dengan judul
“Medan Raya Tour (MRT) : Peranan dan Perkembangan sebagai Moda Transportasi antar Kabupaten (1974-2002)” ini telah selesai ditulis. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan pendidikan perkuliahan sekaligus untuk meraih gelar kesarjanaan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.Penulis juga menyadari bahwa hasil karya ilmiah ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna karena keterbatasan yang dimiliki oleh penulis.Maka dari itu, dengan kerendahan hati penulis meminta maaf serta mengharapkan segala kritik dan saran demi perbaikan serta menuju kesempurnaan penulisan skripsi ini.Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan dapat dinikmati bagi kita sekalian sebagai pemerhati sejarah.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih atas perhatian para pembaca dan pemerhati sejarah, kiranya Tuhan yang Maha Esa memberikan rahmat-Nya kepada kita semua.
Medan, Desember 2016 Penulis
Poly R Lumbansiantar NIM : 090706038 ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Medan Raya Tour (MRT) : Peranan dan Perkembangan sebagai Moda Transportasi antar Kabupaten (1974-2002).”. Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk menjelaskan bagaimana latar belakang berdirinya perusahaan bus angkutan umum Medan Raya Tour, menjelaskan bagaimana peranan angkutan umum bus Medan Raya Tour pada masyarakat Sumatera Utara, menjelaskan bagaimana perkembangan armada angkutan umum bus Medan Raya Tour dari tahun 1974 sampai dengan tahun 2002, serta menjelaskan faktor– faktor yang menyebabkan berkurangnya minat masyarakat Tapanuli Utara untuk menggunakan jasa bus Medan Raya Tour untuk perjalanan jarak jauh. Untuk mencapai tujuan penelitian, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yaitu, melalui proses heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Sumber diperoleh melalui studi kepustakaan dan studi lapangan.
Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa Perusahaan bus angkutan umum Medan Raya Tour, merupakan bus yang sempat menjadi bintang dalam dunia transportasi lintas Sumatra terutama Sumatra Utara.Armada–armada bus Medan Raya Tour dikenal masyarakat Sumatra Utara dengan ciri khas armada dan peranannya yang sangat membantu dalam kehidupan masyarakat.
Kini kejayaan perusahaan bus Medan Raya Tour tinggallah kenangan walau masih berusaha untuk bertahan dalam kerasnya persaingan bisnis jasa transportasi di lintas Sumatera. Setiap narasumber dalam penelitian ini punya kenangan–kenangan tersendiri dengan armada bus Medan Raya Tour. Namun pada masa kini kita hanya mendengar nama Medan Raya Tour yang hanya berlalu–lalang dilintas antar daerah kabupaten Tapanuli Utara.
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
1.4 Tinjauan Pustaka ... 8
1.5 Metode Penelitian... 10
BAB IIGAMBARAN UMUM TRANSPORTASI ... 13
2.1 Angkutan Umum ... 13
2.2 Tujuan Angkutan Umum... 16
2.3 Peranan Angkutan Umum ... 17
2.4 Pengendalian Lalu Lintas ... 17
2.5 Pengembangan Wilayah ... 18
2.6 Angkutan Umum Trayek Tetap dan Teratur ... 18
2.6.1 Angkutan Umum Trayek Tetap dan Teratur ... 19
2.6.2 Angkutan Umum Tidak Dalam Trayek... 20
2.7 Angkutan Perkotaan ... 20
2.8 Aksesibilitas ... 24
BAB IIISEJARAH PERUSAHAAN BUS MEDAN RAYA TOUR ... 27
3.1 Perkembangan KPUM 1963 – 1974 ... 27
3.2 Awal berdirinya Bus Medan Raya Tour ... 32
3.3 Armada Bus Medan Raya Tour 1974-2002 ... 37
3.4 Organisasi Manajemen Medan Raya Tour ... 39
3.5 Sistem pengupahan dan Fasilitas ... 47
BAB IVPengaruh Keberadaan Medan Raya Tour Pada Masyarakat (1974- 2002) ... 51
4.1 Keadaan Perekonomian Masyarakat ... 51
4.2 PerananTerhadap Pendidikan pada Masyarakat ... 54
4.3 Berkurangnya Minat Masyarakat Terhadap Medan Raya Tour ... 56
BAB V Kesimpulan ... 60
5.1 KESIMPULAN ... 60
5.2 SARAN ... 60 Daftar Pustaka
Lampiran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sejarah adalah peristiwa yang ada hubungannya dengan kegiatan manusia sehingga terjadi berbagai dimensi perubahan baik politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan pada waktu serta tempat tertentu.Kebudayaaan menurut Koentjaraningrat menyebutkan adanya tujuh unsur sosial budaya yaitu: bahasa, sistem ilmu pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup atau teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi dan kepercayaan hidup, serta sistem kesenian.Transportasi merupakan bagian dari sistem peralatan hidup atau teknologi yakni alat-alat untuk mengangkut benda atau barang-barang hasil produksi ke tempat pemasaran atau konsumen1.Pada zaman dahulu manusia menggunakan tenaga hewan untuk pengangkutan seperti gerobak sapi dan kereta lembu sebagai alat transportasi.Alat transportasi ini sangat vital karena membantu manusia mengangkut hasil perdagangan dan hasil bumi untuk dijual ke pasar.Alat transportasi gerobak sapi dan kereta lembu ini didominasi dan dikelola oleh masyarakat Tamil (India) sekitar tahun 1918.
1Yad Mulyadi, Antropologi, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999, hal.
34‐35
Transportasi mencakup berbagai bidang yang cukup luas, karena hampir seluruh aspek kehidupan manusia tidak terlepas dari pengangkutan (transportasi).Pengangkutan tumbuh dan berkembang sejalan dengan kemajuan tingkat budaya dan kehidupan manusia.Pengangkutan adalah salah satu sarana utama dalam mewujudkan segala aktivitas dan pengangkutan merupakan alat mobilitas seluruh lapisan masyarakat sehingga terjadinya interaksi sosial dalam masyarakat.Pengangkutan memberikan jasanya kepada masyarakat yang disebut jasa angkutan.Sebagaimana sifat jasa-jasa lainnya, jasa angkutan merupakan hasil perusahaan angkutan yang menyediakan beragam jenisnya sesuai dengan banyaknya jenis angkutan, baik itu jenis angkutan darat, perairan maupun udara.Sebaliknya jenis angkutan merupakan salah satu faktor masukan dari kegiatan budaya manusia2.
Pada prinsipnya angkutan bukan hanya berupa gerakan barang atau orang dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan cara dan kondisi tanpa adanya perubahan, akan tetapi angkutan sebaiknya harus selalu diusahakan perbaikan dan kemajuannya sesuai dengan perkembangan peradaban dan teknologi. Dengan demikian angkutan tersebut mengalami peningkatan sehingga akan tercapai efisiensi yang lebih baik pula dan ini menjadikan masyarakat akan selalu berusaha mencapai efisiensi angkutan.
Pengangkutan baik itu barang maupun orang akan membutuhkan waktu yang secepat mungkin dan dengan pengeluaran biaya yang sekecil mungkin.
Perkembangan ekonomi yang baik perlu dicapai dengan keseimbangan antara penyediaan dan permintaan jasa angkutan. Jika pada kondisinya penyediaan
2Rustian Kamaluddin, Ekonomi Transportasi, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986, hal 20‐21.
jasa angkutan lebih kecil daripada permintaannya, akan terjadi kemacetan arus barang yang dapat menimbulkan kegoncangan harga di pasaran. Sebaliknya jika penawaran jasa angkutan melebihi permintaan maka akan timbul persaingan yang tidak sehat yang menyebabkan banyak perusahaan angkutan yang rugi dan menghentikan kegiatan usahanya. Penawaran jasa angkutan berkurang yang selanjutnya menyebabkan ketidaklancaran arus barang dan kegoncangan harga di pasar3.Peranan pengangkutan tidak hanya untuk melancarkan arus angkutan barang atau orang, pengangkutan juga membantu tercapainya pengalokasian sumber-sumber ekonomi secara optimal untuk itu jasa angkutan harus cukup tersedia secara merata dan terjangkau daya beli masyarakat.
Transportasi angkutan umum kota Medan pada tahun 1950-an masih sangat sederhana dan tidak seperti zaman sekarang ini. Dahulu alat transportasi yang digunakan pada masa itu seperti Bus Chevrolet, Bus Nasional. Ada juga Bus Povri yang digunakan untuk pengangkutan antar kota. Dan ada juga angkutan yang cukup populer seperti Bus Nasional dan Kobun ( Koperasi Bus Nasional). Bus ini yang mayoritas hilir-mudik menjelajahi semua pelosok Kota Medan untuk melayani kebutuhan sarana transportasi masyarakat. Tidak hanya di Kota Medan tetapi juga transportasi penumpang antar kota Sumatera Utara. Bus ini mayoritas digunakan dan dikelola oleh orang-orang Karo untuk mengangkut hasil kebun seperti sayur-sayuran dan buah-buahan dari Berastagi menuju Kota Medan tepatnya ke Pusat Pasar (Sambu). Pada tahun 1960-an, alat transportasi di Kota Medan mengalami dinamika
3Muchataruddin Siregar, Beberapa Masalah Ekonomi dan Manajemen Pengangkutan, Jakarta: Fakultas Ekonomi UI, 1990, hal 3‐6.
perubahan hingga muncul kendaraan roda tiga yaitu berupa Bemo, Becak Dayung, Becak Mesin dan Becak Rex4 yang dalam penerapannya hanya mampu menjangkau jarak tempuh yang pendek dan daya angkut yang relatif sedikit. Adapun armada becak yang jumlahnya cukup banyak, juga belum dapat menjangkau kebutuhan transportasi masyarakat kota dan belum mempunyai jalur (rute) yang tetap. Hal ini menggambarkan belum adanya sistem transportasi terpadu di Medan saat itu.
Sementara itu menyikapi kondisi dinamis kota Medan, khususnya pertumbuhan penduduk dan pengembangan wilayah, yang diikuti pula dengan pertumbuhan jaringan transportasi yang meluas, tentu membutuhkan sarana pengangkutan umum dan sistem yang harus dapat menjawab masalah transportasi.
Sepanjang penelusuran penulis belum ada penelitian yang khusus membahas masalah perkembangan Medan Raya Tour di Kota Medan, padahal masalah transportasi adalah hal yang cukup penting karena merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas kehidupan manusia.Membicarakan tentang transportasi dapat juga berpengaruh dalam segi ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Dari segi ekonomi, transportasi memegang peranan penting dalam kelancaran mobilitas orang dan barang.Dari segi sosial, transportasi adalah media yang sangat membantu kelancaran aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti: berangkat kerja, pergi ke sekolah, pergi ke pasar dan aktivitas lainnya.Dari segi politik, transportasi merupakan sarana publik yang memerlukan kebijakan dari pemerintah agar terciptanya pelayanan jasa angkutan yang efektif dan efisien bagi
4Dalam Kamus Bahasa Indonesia, Kata Becak didefenisikan sebagai kendaraan yang bentuknya seperti sepeda beroda tiga. W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
masyarakat.
Medan Raya Tour merupakan salah satu perusahaan jasa angkutan yang berada di bawah usaha PT. KPUM Berdasarkan dari fenomena historis perusahaan angkutan inilah, maka penulis berusaha menjelaskan tentang sejarah Medan Raya Tour sebagai perusahaan jasa angkutan dan peranannya dalam kehidupan masyarakat di Kota Tarutung sehingga memberikan judul Medan Raya Tour (MRT) : Peranan dan Perkembangan sebagai Moda Transportasi antar Kabupaten (1974-2002).
Dalampenelitian ini penulis membuat batasan waktu yang dimulai sejak tahun 1974 dimana pada tahun tersebut merupakan awal berdirinya Medan Raya Tour di Kota Medan. Dan tahun 2002 sebagai batas akhir penulisan karena penulis menilai Medan Raya Tour sudah menunjukkan peranan dan eksistensinya terhadap perkembangan transportasi di Tarutung serta mulai berkurangnya minat masyarakat Sumatera Utara khususnya Tapanuli Utara akan angkutan umum tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam melakukan sebuah penelitian, sudah seharusnya ada yang menjadi pokok permasalahan yang akan di bahas. Pokok permasalahan ini sangat penting karena pokok permasalahan inilah yang menjadi landasan dan dasar sebuah penelitian. Dengan adanya pokok permasalahan akan sangat membantu peneliti agar penelitian yang dilakukan menjadi terarah dan tepat sasaran sesuai dengan objek yang telah ditentukan.
Sesuai dengan judul Medan Raya Tour (MRT) : Peranan dan Perkembangan sebagai Moda Transportasi antar Kabupaten (1974-2002) maka ditetapkan beberapa
pokok pertanyaan yang bertujuan sebagai batasan dalam penelitian. Pokok permasalahan yang telah dimaksudkan untuk mempermudah pembahasan yaitu:
1. Bagaimana latar belakang berdirinya perusahaan angkutan umum Medan Raya Tour?
2. Bagaimana perkembangan armada angkutan umum Medan Raya Tour?
3. Bagaimana peranan angkutan umum Medan Raya Tour pada masyarakat Sumatera Utara?
2.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Pada dasarnya salah satu yang tak kalah penting dari suatu penulisan skripsi ini adalah penekanan pada tujuan dan manfaat yang tentunya dapat memberikan penjelasan seperti yang diharapkan baik oleh penulis sendiri maupun bagi pembaca skripsi agar dapat dikembangkan pada masyarakat luas.
Adapun tujuan penulisan skripsi ini antara lain:
1. Menjelaskan bagaimana latar belakang berdirinya perusahaan angkutan umum Medan Raya Tour.
2. Menjelaskan bagaimana perkembangan armada angkutan umum Medan Raya Tour dari tahun 1974 sampai dengan tahun 2002.
3. Menjelaskan bagaiamana peranan perusahaan angkutan umum Medan Raya Tour pada masyarakat Sumatera Utara.
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan skripsi ini antara lain:
1. Menambah literatur pengetahuan tentang penulisan sejarah perusahaan khususnya perusahaan angkutan umum Medan Raya tour.
2. Sebagai sumber informasi untuk meneliti bagi para akademisi, sejarawan, dan masyarakat.
3. Mendukung perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam penulisan sejarah transportasi.
4. Salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana.
2.4 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka dibuat untuk mendekatkan peneliti dengan informasi tertentu yang tentunya relevan dengan topik atau objek yang diteliti5.Pendapat yang berbeda-beda yang menyangkut sejauh mana suatu tinjauan pustaka perlu dilaksanakan.Adapun realisasi tindakan ini yaitu memberikan prioritas kepada sejumlah buku atau artikel yang memberikan gagasan representatif dengan objek yang diteliti. Adapun beberapa buku yang dikemukakan dalam mendukung penelitian ini yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:
Rustian Kamaluddin dalam “Ekonomi Transportasi”, mengemukakan bahwa angkutan merupakan suatu jasa yang diberikan guna menolong barang atau orang untuk dibawa dari suatu tempat ke tempat lainnya.Dengan demikian angkutan merupakan usaha mengangkut atau membawa barang atau penumpang yang selalu diusahakan perbaikan dan peningkaran pelayanannya sesuai dengan perkembangan peradaban dan teknologi.
5 Ralph W. Hidy, Sejarah Perusahaan, dalam Taufik Abdullah, Abdurachman Suryomihardjo (edt.), “Ilmu Sejarah dan Historiografi”, Jakarta: PT. Gramedia, 1985, hal. 192-193
Muchtarudin Siregar dalam“Beberapa Masalah Ekonomi dan Manajemen Pengangkutan”, menjelaskan bahwa pengangkutan merupakan salah satu prasarana yang menunjang pelaksanaan pembangunan ekonomi umumnya serta berperan dalam pengalokasian sumber dana dan kekayaan alam. Perusahaan pengangkutan yang memproduksi jasa angkutan untuk dijual dengan memperoleh keuntungan (output), dan pemakai jasa angkutan yang mengkomsumsi jasa angkutan (input). Sehingga tercipta mata rantai yang sifatnya saling membutuhkan dan saling menguntungkan.
Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto dalamPerkoperasian: Sejarah, Teori dan Praktek.Buku ini membahas tentang koperasi secara general namun kompleks.Kompleksitas tersebut terlihat dari isinya yang mencakup mulai dari sejarah terbentuknya koperasi sebagai konstruksi pemikiran ekonomi kerakyatan sampai kepada jenis-jenis serta manajemen kerja koperasi yang berkembang dalam menterjemahkan dan mempraktekkan konsep koperasi di negara-negara di dunia termasuk di Indonesia.
MRT yang berdiri pada Februari 1974 merupakan usaha diversifikasi dari KPUM di kota Medan. Sebelumnya KPUM “melahirkan” unit usaha berupa unit SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Usaha Perbengkelan yang berdiri tanggal 13 Desember 1973, usaha Medan Raya Ekspress tanggal 15 januari 1978, Unit Usaha Beca Bermotor/Toyoko berdiri tahun 1979, dan Unit Usaha Sparepart berdiri tanggal 10 Juli 1979.
Karya lain yang menjadi acuan penulis dalam penelitian terhadap pengangkutan massal adalah “Sejarah Perusahaan Bus Angkutan Umum Sibualbuali (1937-1986)” karya Humala Parlaungan Harahap. Dalam skripsi ini pembahasan
utamanya adalah perkembangan dan peranan dari pengangkutan massal dari masa kolonial Belanda hingga memasuki abad modern, dimana perkembangan teknologi ternyata mengurangi minat masyarakat terhadap layanan bus Sibualbuali. Dalam hal ini banyak dibahas bagaimana bus Sibualbuali menjadi salah satu primadona pengangkutan dari Tapanuli Selatan yang merambah hingga ke pulau Jawa. Juga ciri khas dari bus tersebut yang masih terekam indah dalam memory orang-orang yang hidup sezaman dengan kejayaan bus Sibualbuali tersebut.
kemudian skripsi Erik Manaor “SEJARAH KPUM MEDAN yang membantu penulis dalam menelusuri perjalanan KPUM yang menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan angkutan umum Medan Raya Tour. Didalam skripsi tersebut diterangkan bahwa Medan Raya Tour merupakan unit diversifikasi dari KPUM.
1.5 Metode Penelitian
Dalam penelitian sejarah yang ilmiah pemakaian metode sejarah sangatlah penting.Metode sejarah adalah suatu tahapan yang digunakan dalam penelitian sejarah.Dengan adanya metode penelitian dapat menjadi petunjuk untuk memperoleh sumber-sumber yang relevan terhadap pokok pembahasan sehingga dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.
Adapun tahap yang harus dilakukan dalam metode sejarah adalah:
1. Heuristik adalah tahap paling awal dalam metode sejarah. Pada tahapan ini penelitian berusaha mengumpulkan sumber atau data melalui dua metode, yaitu metode kepustakaan (library research) dan metode penelitian lapangan (field research)
Penelitian dengan metode kepustakaan bertujuan untuk memperoleh data tertulis melalui buku-buku, arsip, artikel, maupun sumber tertulis lainnya.
Sedangkan pengumpulan data dengan metode penelitian lapangan dilakukan dengan teknik wawancara terhadap beberapa informan khusunya yang mengetahui sejarah bus angkutan umum MRT ataupun masyarakat yang memiliki kenangan akan angkutan tersebut.
2. Kritik sumber adalah tahapan kedua dalam metode sejarah. Tahap ini peneliti bertugas untuk mengkritik terhadap sumber-sumber yang diteliti agar peneliti lebih dekat lagi dengan nilai kebenaran dan keaslian sumber yang diperoleh.
Dalam melakukan kritik terhadap sumber dapat dilakukan dengan cara menelaah kembali kebenaran isi atau fakta dari sumber buku, arsip, ataupun hasil wawancara dengan informan, dan kemudian diuji kembali keaslian sumber tersebut demi menjaga keobjektifan suatu data.
3. Interpretasi adalah tahap ketika dalam metode sejarah. Pada tahap ini peneliti menafsirkan data-data yang diperoleh agar menjadi suatu data yang objektif.
Dalam hal ini, peneliti menginterpretasikan pengumpulan data, mengkritik tentang obejek kajian bus angkutan umum Medan Raya Tour. Dengan adanya interpretasi ini diharapkan dapat menjadi data sementara sebelum peneliti menuangkannya dalam bentuk tulisan.
4. Historiografi adalah tahap terakhir dalam metode sejarah. Tahap ini dapat disebut juga sebagai penulisan laporan. Peneliti menjabarkan secara kronologis dan sistematis fakta-fakta yang diperoleh agar menghasilkan tulisan yang ilmiah dan bersifat objektif. Dengan adanya pendekatan ilmiah ini diharapkan dapat
memudahkan orang lain untuk memahami maksud dan pengetahuan bagi orang yang membacanya. Yang perlu diingat ialah hubungan antara bus angkutan umum Medan Raya Tour dengan zamannya, dengan dunia sekelilingnya dan terjalin erat dengan riwayat orang lain dalam zaman tersebut.
BAB II
GAMBARAN UMUM TRANSPORTASI
2.1 Angkutan Umum
Dalam sejarah perkembangan manusia terhadap perkembangan kota dapat kita lihat bahwa manusia selalu berhasrat untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain guna mendapatkan keperluan yang dibutuhkan. Dalam hal ini manusia sangat membutuhkan suatu sarana transportasi yang disebut moda atau angkutan.
Kebutuhan akan sarana transportasi dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan akibat semakin banyaknya kegiatan – kegiatan yang membutuhkan jasaefektifitas dan efisiensinya suatu pengoperasian angkutan umum. Penilaian kriteria efektif biasanya diberikan kepada moda angkutan sedangkan kriteria efisien diberikan kepada aspek penumpang.Segi efektifitas dapat dilihat dengan indikator aksesibilitas (kemudahan pengguna untuk mencapai rute kendaraan), kerapatan (jumlah kendaraan atau panjang rute), kecepatan perjalanan rata – rata dan headway frekuensi.Sedangkan dari segi efisiensi dilihat dari indikator keterjangkauan, kelayakan.
Kinerja adalah kemampuan atau potensi angkutan umum untuk melayani kebutuhan pergerakan pada suatu daerah, baik berupa transportasi barang maupun transportasi orang.Kinerja juga merupakan tingkat pencapaian atau hasil kerja perusahaan dari sasaran yang harus dicapai atau tugas yang harus dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu.
Peranan utama angkutan umum adalah melayani kepentingan mobilitas masyarakat dalam melakukan kegiatannya, baik dalam kegiatan sehari-hari yang berjarak pendek atau menengah (angkutan perkotaan/pedesaan dan angkutan antar kota dan propinsi) maupun kegiatan sewaktu-waktu antar propinsi (angkutan antar kota dalam propinsi dan antar kota antar propinsi). Aspek lain pelayanan angkutan umum adalah peranannya dalam pengendalian lalu lintas, penghematan energi dan pengembangan wilayah.
Dalam rangka pengendalian lalu lintas peranan layanan angkutan umum tidak bisa ditiadakan. Dengan ciri khas yang dimilikinya, yakni lintasan tetap dan mampu mengangkut banyak orang seketika, maka efisiensi penggunaan jaringan jalan menjadi lebih tinggi karena pada saat yang sama luasan jalan yang sama dimanfaatkan oleh banyak orang. Disamping itu, jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan dapat dikurangi, dengan demikian kelancaraan arus lalu lintas dapat ditingkatkan.
Berkaitan dengan pengembangan wilayah, angkutan umum juga sangat berperan dalam menunjang interaksi sosial budaya masyarakat.Pemanfaatan sumber daya alam maupun mobilitas sumber daya manusia serta pemerataan pembangunan daerah beserta hasil-hasilnya, didukung oleh sistem perangkutan yang memadai dan sesuai dengan tuntutan kondisi setempat.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada Bab I Ketentuan Umum mendefinisikan Kendaraan Bermotor Umum
adalah setiap kendaraan yang digunakan untuk angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.
PP No.41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan pada Bab I Ketentuan Umum mendefinisikan :
1. Mobil penumpang adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi sebanyak-banyaknya 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.
2. Mobil penumpang umum (MPU) adalah mobil penumpang yang digunakan sebagai kendaraan umum.
Adapun sistem angkutan penumpang dapat dikelompokkan menurut penggunaan dancara pengoperasiannya yaitu :
Angkutan umum, yaitu angkutan yang dimiliki oleh operator yang bisa
digunakan untuk umum dengan persyaratan tertentu. Sistem pemakaian angkutan umum yaitu :
a) Sistem sewa, yaitu kendaraan oleh operator maupun penyewa,dalam hal ini tidak ada rute dan jadwal tertentu yang harus diikuti oleh pemakai. Sistem ini sering disebut sebagai “demand responsive system” karena penggunaannya yang tergantung dengan adanya permintaan.
b) Sistem singgah, ini dikenal sebagai sistem penggunaan bersama (transit system). Terdapat 2 jenis transit system yaitu :
Jadwal yang pasti dan kendaraan dapat berhenti (menaikkan/menurunkan penumpang) di sepanjang rutenya. Contoh : angkutan kota
Jadwal dan tempat pemberhentiannya lebih pasti. Contoh : bus kota
2.2 Tujuan Angkutan Umum
Tujuan mendasar dari keberadaan angkutan umum adalah memberikan pelayanan yang aman, cepat, nyaman, dan murah pada masyarakat yang mobilitasnya semakin meningkat, terutama bagi para pekerja dalam menjalankan kegiatannya.Bagi angkutan perkotaan, keberadaan angkutan umum apalagi angkutan umum massal sangat membantu manajemen lalu lintas dan angkutan jalan karena tingginya tingkat efisiensi yang dimiliki sarana tersebut. Adapun tuntutan untuk mobilisasi dan memfungsikan angkutan umum dibagi pada dua hal, yaitu:
a) Memberikan kesempatan orang yang tidak menggunakan kendaran pribadi untuk kepuasan ekonomi dan keinginan sosial yang tidak terpenuhi dalam melakukan perjalanannya.
b) Memberikan alternatif kepada kendaraan pribadi, karena secara fisik ataupun ekonomi tidak terbatas penggunaannya tidak tercukupi dan tidak layak secara sosial atau alasan-alasan lingkungan.
Dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan meningkatnya daya beli untuk membeli kendaraan pribadi mengakibatkan tingkat kepemilikan kendaraan yang tinggi.Tetapi hal ini tidak mugkin diikuti terus dengan pembangunan jaringan
jalan, sehingga mendorong peran penggunaan angkutan umum penumpang yang semakin meningkat terutama di wilayah perkotaan.
2.3 Peranan Angkutan Umum
Suatu kota merupakan wadah sekaligus menjadi pusat kegiatan manusia yang terdiri dari berbagai jenis kegiatan dan menyebabkan pergerakan penduduk sehingga diperlukan sarana transportasi yang memadai. Tujuan transportasi adalah untuk mewujudkan penyelenggaraan transportasi yang selamat, aman, cepat, lancar, tertibdan nyaman. Dalam perencanaan wilayah atau pun perencanaan kota, masalah transportasi kota tidak dapat diabaikan karena memiliki peran yang penting yaitu, melayani kepentingan mobilitas masyarakat.
Peranan utama angkutan umum adalah melayani kepentingan mobilitas masyarakat dalam melakukan kegiatannya, baik kegiatan sehari-hari yang berjarak pendek atau menengah (angkutan perkotaan/pedesaan dan angkutan antar kota dan propinsi) maupun kegiatan sewaktu-waktu antar propinsi (angkutan antar kota dalam propinsi dan antar kota antar propinsi). Aspek lain pelayanan angkutan umum adalah peranannya dalam pengendalian lalu lintas, penghematan energi dan pengembangan wilayah.
2.4 Pengendalian lalu lintas
Dalam rangka pengendalian lalu lintas, peranan layanan angkutan umum tidak dapat ditiadakan. Dengan ciri lintasan tetap dan mampu mengangkut banyak orang seketika, maka efisiensi penggunaan jalan menjadi lebih tinggi karena pada saat yang
sama luasan jalan yang sama dimanfaatkan oleh lebih banyak orang. Selain itu, jumlah kendaraan yang melintas dapat dikurangi, sehingga kelancaran arus lalu lintas dapat ditingkatkan.Oleh karena itu, pengelolaan yang baik mampu menarik orang untuk lebih menggunakan angkutan umum daripada menggunakan kendaraan pribadi menjadi salah satu andalan dalam pengelolaan lalu lintas.
2.5 Pengembangan wilayah
Berkaitan dengan pengembangan wilayah ,angkutan umum juga berperan dalam menunjang interaksi sosial budaya masyarakat. Pemanfaatan sumber daya alam maupun mobilitas sumber daya manusia serta pemerataan pembangunan daerah beserta hasil-hasilnya, didukung oleh sistem perangkutan yang memadai dan sesuai dengan tuntutan kondisi setempat.
2.6 Jenis Kinerja Angkutan Umum
Pengangkutan orang dengan kendaraan umum dilakukan dengan menggunakan mobil bus atau penumpang. Pengangkutan orang dengan kendaraan umum dilayani dengan :
a) Trayek tetap dan teratur
Adalah pelayanan angkutan yang dilakukan dalam jaringan trayek secara teratur dengan penjadwalan tetap atau tidak terjadwal untuk pelayanan angkutan orang dengan kendaraan umum dalam trayek tetap dan tertentu, dilakukan dalam jaringan trayek.
b) Tidak dalam trayek
Pengangkutan orang dengan angkutan umum tidak dalam trayek terdiri dari Pengangkutan dengan menggunakan taksi.
c) Pengangkutan dengan cara sewa.
d) Pengangkutan untuk keperluan wisata.
e) Angkutan penumpang umum.
2.6.1 Angkutan Umum Trayek Tetap dan Teratur
Berdasarkan Keputusan Menteri No. 35 tahun 20031 tentang penyelenggaraan angkutan orang di jalan dengan kendaraan angkutan umum ditetapkan bahwa untuk pelayanan angkutan orang dengan kendaraan angkutan umum dalam trayek tetap dan teratur, dilaksanakan dalam jaringan trayek.
Jaringan trayek adalah kumpulan dari trayek yang menjadi satu kesatuan pelayanan angkutan orang. Jaringan trayek ditetapkan dengan memperhatikan :
a) Kebutuhan angkutan.
b) Kelas jalan yang sama dan yang atau lebih tinggi.
c) Tingkat pelayanan jalan.
d) Jenis pelayanan jalan.
e) Rencana umum tata ruang.
1 PUU : KM 35 tahun 2003 tentang penyelenggaraan angkutan orang dijalan dengan kendaraan umum
f) Kelestarian lingkungan.
2.6.2 Angkutan Tidak dalam Trayek
Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM 35 tahun 2003 tentang penyelenggaraan angkutan orang di jalan dengan kendaraan umum, angkutan orang dengan kendaraan umum tidak dalam trayek terdiri dari :
1.Angkutan dengan menggunakan taksi2.
2.Angkutan dengan sewa.
3.Angkutan dengan keperluan wisata.
4.Angkutan penumpang khusus
2.7 Angkutan Perkotaan
Menurut PP No.41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan pada Bab I Ketentuan Umum mendefinisikan angkutan perkotaan adalah angkutan dari suatu tempat ke tempat lain dalam wilayah kota dengan mempergunakan mobil bus umum dan/atau mobil penumpang umum yang terikat dalam trayek tetap dan teratur yang mempunyai sifat perjalanan ulang-alik (komuter). Berikut ini adalah penjelasan dari istilah-istilah dasar tentang angkutan perkotaaan:
2Angkutan dengan menggunakan mobil penumpang umum yang diberi tanda khusus, memenuhi syarat-syarat teknis, dilengkapi dengan argometer, untuk melayani angkutan dari pintu ke pintu dalam wilayah operasi tertentu.
Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. Adapun pembagian jenis angkutan berdasarkan wilayah yaitu;
a) Wilayah pengoperasian adalah wilayah atau daerah untuk pelayanan angkutan kota yang dilaksanakan dalam jaringan trayek.
b) Wilayah pelayanan angkutan kota adalah yang di dalamnya bekerja satu sistem pelayanan angkutan penumpang umum karena adanya kebutuhan pergerakan penduduk dalam kota.
Armada adalah aset berupa kendaraan mobil bus/MPU yang dipertanggungjawabkan perusahaan baik yang dalam keadaan siap guna maupun dalam konservasi.
Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi;
Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus,yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak terjadwal.Adapun pembagian dari jenis – jenis trayek adalah :
a) Trayek utama yang diselenggarakan dengan ciri-ciri pelayanan : 1. Mempunyai jadwal tetap.
2. Melayani angkutan antar kawasan utama, antara kawasan utama dan kawasan pendukung dengan ciri melakukan perjalanan ulang-alik secara tetap dengan pengangkutan yang bersifat massal.
3. Dilayani oleh mobil bus umum.
4. Pelayanan cepat dan/atau lambat.
5. Jarak pendek.
6. Melalui tempat-tempat yang ditetapkan hanya untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
b) Trayek cabang yang diselenggarakan dengan ciri-ciri pelayanan : 1) Mempunyai jadwal tetap.
2) Melayani angkutan antar kawasan pendukung, antar kawasan pendukung dan kawasan pemukiman.
3) Dilayani dengan mobil bus umum.
4) Pelayanan cepat dan/atau lambat.
5) Jarak pendek.
6) Melalui tempat-tempat yang telah ditetapkan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
c) Trayek ranting yang diselenggarakan dengan ciri-ciri pelayanan : 1) melayani angkutan dalam kawasan pemukiman;
2) dilayani dengan mobil bus umum dan/atau mobil penumpang umum;
3) pelayanan lambat;
4) jarak pendek;
5) melalui tempat-tempat yang telah ditetapkan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
d) Trayek langsung diselenggarakan dengan ciri-ciri pelayanan : 1) Mempunyai jadwal tetap;
2) Melayani angkutan antar kawasan secara tetap yang bersifat massal dan langsung;
3) Dilayani oleh mobil bus umum;
4) Pelayanan cepat;
5) Jarak pendek;
6) Melalui tempat-tempat yang ditetapkan hanya untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 142 . Angkutan Perkotaan adalah angkutan dari satu tempat ke tempat lain dalam kawasan perkotaan yang terikat dalam trayek.
Adapun kawasan perkotaan yang dimaksud berupa :
a) Kota sebagai daerah otonom
b) Bagian daerah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan.
c) Kawasan yang berada dalam bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan langsung dan memiliki ciri perkotaan.
2.8 Aksesibilitas.
Aksesibilitas merupakan suatu konsep yang menggabungkan sistem pengaturan tata guna lahan secara geografis dengan sistem jaringan transportasi yang menghubungkannya. Aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi dengan yang lainnya dan mudah atau susahnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi. Ada yang menyatakan aksesibilitas dengan jarak.Jika jarak dua tempatberdekatan maka dikatakan aksesibilitas kedua tempat itu tinggi begitu juga sebaliknya. Aktivitas tata guna lahan yang tidak sama (heterogen) dan tersebar mengakibatkan aksesibilitasnya berbeda. Pengukuran aksesibilitas dengan parameter jarak ternyata kurang dapat diterima.Ini terjadi karena ketersediaan jaringan jalan yang baik mengakibatkan perjalanan dapat ditempuh dengan kecepatan tinggi sehingga jarak bukan merupakan parameter dari aksesibilitas, kemudian mulai ditinggalkan yang kemudian digantikan dengan waktu tempuh.
Beberapa jenis tata guna lahan mungkin tersebar secara meluas (perumahan) dan jenis lainnya mungkin berkelompok (pusat pertokoan). Beberapa jenis tata guna lahan mungkin ada di satu atau dua lokasi saja dalam suatu kota seperti rumah sakitdan bandara. Dari sisi jaringan transportasi, kualitas pelayanan transportasi akan berbeda pula. Sistem jaringan transportasi suatu daerah yang terdapat di pusat kota
biasanya lebih baik daripada di pinggir kota. Apabila tata guna lahan saling berdekatan dan hubungan transportasi antar tata guna lahan mempunyai kondisi yang baik, maka aksesibilitas tinggi.Sebaliknya, jika aktivitas tersebut saling terpisah jauh dan hubungan transportasinya tidak baik maka aksesibilitasnya rendah.
Jalan Medan – Tarutung merupakan bagian dari jalur transportasi darat Trans- Sumatera. Oleh karenanya berstatus jalan nasional dengan fungsi jalan 2 arah mencoba mencari beberapa rute alternatif yang akhirnya berakhir pada suatu pola rute yang stabil setelah beberapa kali mencoba-coba. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan diperoleh jalur gerak (rute) angkutan umum Medan – Tarutung sebagai berikut :
1. Rute angkutan umum bus trayek kota Medan ke Tarutung. Lintasan yang dilalui angkutan umum trayek kota Medan ke Tarutung meliputi : Stasiun Medan – Tanjung Morawa – Lubuk Pakam – Perbaungan – Sei Rampah – Tebing Tinggi – Pematangsiantar – Prapat – Porsea – Balige – Siborong-borong – Tarutung.
2. Rute angkutan umum bus trayek kota Tarutung ke Medan. Lintasan yang dilalui angkutan umum trayek kota Tarutung ke Kota Medan meliputi : Tarutung – Siborong-borong – Balige – Porsea – Parapat – Pematang siantar – Tebing tinggi – Sei Rampah – Perbaungan – Lubuk Pakam – Tanjung Morawa – Medan.
BAB III
SEJARAH PERUSAHAAN BUS MEDAN RAYA TOUR
3.1 Perkembangan KPUM 1963 - 1974
Perkembangan bus Medan Raya Tour tidak lengkap apabila kita tidak mengetahui perkembangan KPUM. Pada tahun 1963, merupakan hari lahir Koperasi Pengangkutan Bemo (KPB), yang merupakan cikal bakal dari Koperasi Pengangkutan Umum Medan ( KPUM). Pada saat itu angkutan bemo telah mencapai 42 unit, yang berarti memiliki 42 orang anggota.Penggagas pendirian KPB ini terdiri dari empat orang. Mereka memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda namun memiliki keinginan yang sama dalam memajukan angkutan umum di kota Medan yang pada saat itu masih sangat minim. Mereka mencoba mengalihfungsikan para tukang becak menjadi pengemudi bemo. Keempat orang itu antara lain :
1. J. Purba
2. Mangiring Simangunsong 3. Kumpul Hutabarat (+) 4. Panusunan Hutagalung
. Kantor awal berkedudukan di jalan pemuda no.184 medan dengan meminjam/menumpang di CV. Barisan Medan. Akta pendirian KPB3 ini adalah 17 April 1963 dan kurang dari setahun kemudian memperoleh Badan Hukum dengan badan Hukum No.2381/BH/III tanggal 10 Pebruari 1964.
3Arsip KPUM 1974-1978
Konsep pendirian koperasi angkutan umum ini bertujuan untuk menjalin kerjasama antara anggota berdasarkan atas azas gotong royong menurut ajaran Pancasila, juga ingin meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan kemajuan daerah bekerja pada umumnya.
Pada proses perjalanan transportasi KPB yang awalnya memiliki 1 trayek yaitu (Sambu-Pulo Brayan), pada masa itu trayek ini tidak berjalan lancar dikarenakan kurangnya penumpang. Pengemudi menolak mangkal di sambu4, mengingat keadaan penumpang saat itu tidak memadai sebab para bekas pengemudi beca ini belum terbiasa dengan system keteraturan trayek. Pengemudi bemo masih larut dalam kebiasaannya yaitu mencari penumpang mangkal di stasiun kereta api.
Hal ini membuat pengurus melakukan dorongan dan motivasi kepada para pengemudi bemo agar tetap system keteraturan trayek, karena pada awalnya masyarakat belum mengenal betul anggkutan ini dan akhirnya usaha pengurus berhasil, animo masyarakat terhadap angkutan ini cukup banyak, dan pada tahun 1965 armada bemo trayek sambu - pulobrayan cukup padat. Hal ini membuat masalah baru yaitu kelebihan armada pada trayek ini.Kondisi ini dicarikan jalan keluarnya, ada pendapat operasi armada dibagi dua, untuk armada bernomor ganjil operasi pada hari yang bertanggal ganjil, dan armada bernomor genap beroperasi pada tanggal genap.Hal ini tidak memecahkan masalah, namun pada perkembangannya merujuk pada AD/ART koperasi yang menetapkan wilayah operasi armada adalah untuk semua wilayah Kotamadya Medan.Maka penetapan hari ganjil dan genap pun tidak
4 Wawancara dengan bapak J. purba (nene-nene)
berlangsung lagi, dengan memilih alternative mengajukan trayek baru untuk jurusan Sei Sikambing, Simpang Limun dan Perjuangan.Menguatkan izin trayek, dilakukan upaya merintis trayek baru dengan maksud melonggarkan operasi armada, sekaligus untuk mempengaruhi pemerintah agar segera mengeluarkan izin trayek yang diminta.
Berbagai persoalan baru pun dihadapi pada saat perintisan trayek ini, diantaranya tindakan dan sikap bersaing yang dilakukan oknum pengemudi dari usaha angkutan umum lain saat itu. Para pesaing pada arah trayek Pulo Berayan, diantaranya armada bus Setia dan KOPOM. Pada wilayah arah Sei Sikambing ada armada KOBUN dari arah Simpang Limun.Mengantisipasi pengamanan armada yang beroperasi saat itu, diadakan berbagai pendekatan kerjasama dan bantuan kepada asrama tentara di Sei Sikambing dan organisasi Pemuda Pancasila di Simpang Limun5.Kendati begitu, ada juga armada yang diganggu dan dirusak oleh orang yang tak dikenal.Peristiwa itu dialami pengemudi pada arah trayek Perjuangan.Berduyun – duyun para pengemudi bemo mendatangi tempat kejadian, sehingga mengejutkan penduduk setempat dan salut pada aksi perkumpulan ini, karena menilai kekompakan pengemudi yang tergabung pada KPB ini.Dukungan masyarakat pun menguat, membuat pemerintah menilai positif dan akhirnya menerbitkan izin trayek Sei Sikambing, Simpang Limun dan Perjuangan.Bersamaan dengan itu pula upaya importir lainnya mendatangkan bemo bekas dari Bangkok dan Taiwan, sehingga membuat banyaknya perkumpulan Angkutan Bemo.
5Wawancara dengan bapak N Simanjuntak: kerjasama trayek dan juga keamanan pengguna layanan transportasi dijalanan.
Satu diantaranya Kumpulan Bemo Tanjung Morawa (TAMORA) karena manajemennya kurang baik sehingga tidak bertahan lama, pada tahun 1972 membuat anggotanya bergabung dengan KPB dan memunculkan persoalan perlunya penambahan trayek. Terhitung sejak 17 April 1963 sebagai tonggak awal berdirinya KPB hingga tahun 1970, tidak diketahui jelas bagaimana perkembangan dikarenakan, arsip dan dokumen KPB saat itu tidak dapat diperoleh secara lengkap6. Pengurus pada masa ini tidak aktif, sehingga pemenuhan kewajiban dan hak anggota belum berjalan.
Hal ini terjadi karena keterbatasan pemahaman dalam menjalankan koperasi, dan juga oleh kondisi kantor yang selalu berpindah-pindah atau tidak punya kantor yang menetap, sehingga untuk melakukan rapat pertemuan selalu berpindah-pindah tempat.
Pada saat yang sama, anggota lebih mengutamakan kepentingan hidupnya sehari-hari, sehingga kesibukan menjalankan armada untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi cicilan armada bemonya, membuat kurang peduli dalam memikirkan jalannya koperasi, segala sesuatu tentang koperasi, mereka limpahkan kepada pengurus.
Kurang respon anggota, terbatasnya fasilitas pengurus, juga anggota mengalami keterbatasan dalam berkoperasi menyebabkan terjadinya kemelut dalam kepengurusan KPB.Untuk melakukan rapat saja pada masa itu, karena kebetulan di dekat terminal sambu ada gedung nasional, maka rapat berlangsung di tempat itu.Kemudian karena ada persoalan yang mendesak, rapat dilakukan di rumah anggota dan berlangsung tanpa jadwal tertentu, sehingga kerapkali tidak
6Hasil wawancara dengan Ibu Dra. Rayana R Simannjutak selaku kepala arsip KPUM, 3 Februari 2016
menghasilkan hasil rapat yang maksimal. Berkas dan dokumen KPB dibawa dan disimpan masing-masing oleh pengurus di rumahnya, hal inilah yang menyebabkan berkas dan dokumen KPB periode 1963 hingga 1970 banyak yang hilang. Hingga tidak dapat diketahui dengan jelas kepengurusan dari tahun 1963 hingga 1968.7
Pada tahun 1974 dominasi armada pengangkutan diluar bemo, membuat pemikiran para anggota KPB, untuk menggantikan nama Koperasi Pengangkutan Bemo, mengingat armada KPB ini tidak hanya bemo. Maka perubahan nama KPB kepada RAT 1974, seraya membentuk tim untuk merubah Anggaran Dasar yang semula, pada tanggal 15 Juli 1974 melalui RAT8, Perubahan Koperasi Pengangkutan Bemo disetujui menjadi Koperasi Pengangkutan Umum Medan (KPUM), sekaligus dilakukan penetapan badan hukum No.2381.A/BH/III tanggal 8 Maret 1975 dan berikut perubahan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga. Alasan memilih nama KPUM saat itu dilandasi pemikiran spesifikasi umum tentang angkutan yang objeknya diperuntukan masyarakat luas. Spesifikasi ini juga berarti segala jenis kendaraan dapat menjadi armada koperasi ini.Heterogenitas jenis armada yang dimiliki serta penambahan kuantitas dari armada itu sendiri membuka peluang bertambahnya jumlah anggota.Luas pengoperasian juga mengalami perluasan.Bukan hanya untuk wilayah domisili kota medan saja, namun jaringan operasi diperluas untuk pengangkutan diluar kota.
Sejak perubahan nama ini, KPUM berkembang semakin pesat. Ini terlihat dari
7Wawancara dengan bapak J.purba tanggal 12 februari 2016 di desa Siualuompu kecamatan Tarutung.
8Arsip KPUM RAT( Rapat Anggota Tahunan) 1974.
bertambahnya jumlah anggota, meningkatnya permodalan, seiring dengan jumlah armada dan pertumbuhan unit – unit usaha yang menunjang usaha pengangkutan.
Terhitung masa ini, pengangkutan unit – unit usaha pun ditata sesuai kelompok usahanya, seperti angkutan kota menjadi Mobil Pengangkutan Umum (MPU), dan antara lain mengklasifikasikan Medan Raya Tour (MRT) sebagai armada Angkutan luar kota, dan lainnya, hal ini untuk membedakan kelembagaan usaha dengan unit usaha.
3.2 Awal berdirinya Bus Medan Raya Tour
Perusahaan bus angkutan umum Medan Raya Tour, merupakan bus yang sempat menjadi bintang dalam dunia transportasi Sumatera dari Medan menuju Tapanuli Utara. Armada–armada bus Medan Raya Tour dikenal masyarakat Sumatera Utara dengan ciri khas dan peranannya yang sangat membantu dalam kehidupan masyarakat. Pada tulisan di badan armada bus Medan Raya Tour tercantum tahun berdirinya perusahaan bus ini, yakni tercantum tahun 1974. Namun masih terdapat masyarakat Sumatera Utara yang tidak mengetahui awal mula berdirinya perusahaan ini. Masyarakat Sumatera Utara masih terkenang akan hadirnya perusahaan bus ini pada masa–masa kejayaannya di tahun delapan puluhan sampai dengan tahun sembilan puluhan. Berikut penjelasan sejarah, ciri khas armada dan loket atau stasiun perusahaan Medan Raya Tour yang masih menjadi kenangan masyarakat..
Sebelum berdirinya perusahan bus angkutan umum Medan Raya Tour, di daerah Tapanuli Utara sudah berdiri beberapa perusahaan-perusahaan angkutan
umum.Namun kesulitan–kesulitan yang dialami oleh pengusaha–pengusaha maupun karyawan–karyawan angkutan umum pada masa sebelum berdirinya perusahaan bus Medan Raya Tour tersebut disebabkan tidak adanya peraturan ataupun tata–tertib dari perusahaan–perusahaan angkutan umum itu sendiri9, sehingga oleh karenanya setiap saat diliputi kerusuhan dan keributan serta untuk mendapatkan penumpang pun sesama pengusaha selalu kejar–mengejar, yang mengakibatkan sering terjadinya perkelahian10. Pada saat keadaan yang memburuk inilah timbul suatu ide dari J. Purba untuk menggembleng para pengusaha–pengusaha maupun karyawan–karyawan dari perusahaan angkutan, supaya dibentuk suatu badan atau organisasi angkutan yang modern, yakni dengan waktu pemberangkatan ditetapkan dengan jam yang tertentu, seperti ada atau tidaknya penumpang, kendaraan harus diberangkatkan pada waktu yang telah di tentukan.
Walaupun resiko kerugian harus dihadapi, tetapi dengan peraturan demikian pengusaha–pengusaha atau karyawan–karyawan pengangkutan serta masyarakat pada umumnya agar menghargai akan pentingnya waktu, maka cara–cara inilah yang menjadi contoh (peraturan pengangkutan) bagi pemerintah Belanda. Sehingga setiap perusahaan otobis (pengangkutan) harus mempunyai izin trayek (jalur) dan jam keberangkatan ke setiap jurusan yang akan dilalui. Peraturan tersebut masih berlaku sampai saat ini.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi inilah J. Purba memperjuangkannya
9Wawancara dengan bapak mangiring simangunsong selaku anggota KPUM tahun 1974-1978 di Medan 15 maret 2016.
10Wawancara dengan bapak st. P Situmorang, Supir Medan Raya Tour Tahun 1974-1990 di Tarutung 17 maret 2016.
kepada Pemerintah Kota Medan, pemerintah Tingkat II Kota Medan memberikan izin berdirinya Organisasi Angkutan KPUM unit Medan Raya Tour. Pada tahun 1974 pemerintah resmi menyetujui berdirinya KPUM unit Medan Raya Tour yang berkedudukan di Sambu Pusat Pasar berdekatan dengan kantor Pusat KPUM dengan nama awal perusahaannya, “MEDAN RAYA TOUR”, yang disingkat MRT11. Usaha ini memiliki badan hukum no. 2381/B.H/III – 12/67.Perusahaanini adalah pengangkutan umum yang berbentuk bus berukuran kecil, dengan muatan penumpang sebanyak 14 orang.
Trayek awal yang telah ditentukan pertama kali yakni : 1. Medan – Tebing Tinggi (pulang – pergi)
2. Medan – Siantar (pulang – pergi) 3. Medan – Parapat (pulang – pergi) 4. Medan – Balige (pulang – pergi) 5. Medan – Kisaran (pulang – pergi) 6. Medan – Tanjung Balai (pulang – pergi) 7. Medan – Pangkalan Berandan (pulang – pergi) 8. Medan – Langsa (pulang – pergi)
Tetapi karena alasan biaya perjalanan yang sangat mahal pada masa itu maka trayek Medan Raya Tour tujuan Tanjung Balai, Pangkalan Berandan, Langsa dihentikan12.Belum lagi persaingan di perjalanan yang secara fisik terus bersaing di lapangan.Namun demikian perusahaan ini masih tetap menjalankan misi dibidang
11Arsip KPUM 1974-1978
12Arsip KPUM 1974-1978
pengangkutan manusia.
Kemudian di tahun 1974 mulailah di buka trayek yang menghubungkan antara Medan-Tarutung.Penambahan ini dikarenakan sulitnya akomodasi pengangkutan yang melayani masyarakat Tapanuli Utara menuju Medan.
Adapun pimpinan perusahaan yang mengawali perusahaan yaitu:
Pimpinan KPUM : Ramli Lubis
Pimpinan Unit MRT : T. Ferdinand Simangunsong
Pada tahun 1973 armada MRT memilik 11 buah, pada tahun 1974 armada bertambah menjadi 54 buah Sampai dengan tahun 1976 perusahaan Medan Raya Tour memiliki jumlah kendaraan sebanyak 82 buah. Dengan jumlah kendaraan yang begitu banyak, sedangkan trayek yang ada begitu panjang, maka ada penambahan trayek ke Muara Nauli.
Jalan lintas yang menjadi trayek pertama armada bus Medan Raya Tour merupakan Jalan Raya Sumatra lintas barat yang pertama dirancang pada 1916, tetapi jembatan terakhir yang menghubungkan jaringan selatan dengan jaringan utara dan jaringan tengah baru selesai pada 1938.13Bila dilihat dari peta koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia dengan kode KIT SUMUT 987/61, jalan lintas tersebut merupakan jaringan tengah dari “Jalan Raya Sumatra”. Karena pada peta tersebut merupakan perlintasan jalan raya dari kota Padang sampai dengan pelabuhan Belawan di kota Medan yang letaknya berada di tengah Pulau Sumatera.
Jadi jalur perjalanan armada bus Medan Raya Tour pada masa awal berdiri
13Anthony Reid, Menuju Sejarah Sumatra : Antara Indonesia Dan Dunia, Jakarta : KITLV- Jakarta – Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011, hal. 29.
lebih dekat dibandingkan masa sekarang. Dari sumber yang didapatkan dari narasumber, bahwasanya sebelum dibangunnya “Jalan Lintas Sumatera”, jalan–jalan yang ada pada saat itu masih beralaskan tanah, masih banyak jalan yang belum di aspal kecuali jalan menuju sebuah kota, yang apabila hujan layaknya kubangan kerbau, karena jalan tanah yang dibasahi hujan menjadi tanah liat dan di genangi air sehingga sulit untuk dilalui14. Perusahaan bus Medan Raya Tour memiliki jumlah loket yang banyak tiap kota dan dengan rute-rute yang dituju oleh tiap armada bus Medan Raya Tour. Namun terdapat dua loket penting bagi perusahaan Medan Raya Tour dibanding loket–loket yang lainnya, yakni loket bus Medan Raya Tour di Kota Pematang siantar dan loket di Kota Medan. Letak kedua loket tersebut berada dekat dengan pusat pasar di kedua kota tersebut. Kedua loket tersebut memiliki beberapa kekhususan yang tidak dimiliki oleh loket–loket bus Medan Raya Tour yang lainnya.
Loket Kota Pematang Siantar merupakan loket yang memiliki ciri khusus yang berada di jalan Siantar Medan dekat dengan pajak Parluasan, loket tersebut merupakan loket Sentral selain loket yang berada di kota Medan. Hal ini dikarenakan kota Pematang Siantar merupakan salah satu kota terbesar bila dibandingkan dengan kota sekitarnya.
Loket ini pada masa keemasan perusahaan bus Medan Raya Tour terletak di Pasar Parluasan. Loket tersebut berada tidak jauh dari kota Pematang Siantar. Loket bus Medan Raya Tour di kota Pematang Siantar lumayan besar, digunakan sebagai loket untuk jual–beli tiket maupun jasa pengiriman barang. Loket armada Bus Medan
14. Wawancara dengan Bapak Parlindungan Purba (supir MRT tahun 1974-1984), 14 februari 2016, desa saitnihuta kecamatan Tarutung.
Raya Tour di kota Medan terletak di jalan Sisimangaraja. Loket atau stasiun bus ini merupakan loket sentral Perusahaan bus angkutan umum Medan Raya Tour. Jalan Sisingamangaraja tersebut merupakan jalur lintas dari dan ke kota Medan. Selain loket bus Medan Raya Tour, terdapat juga loket– loket bus–bus angkutan umum antar provinsi dan antar kabupaten dari perusahaan yang lain di empat penjuru mata angin Sentral Pasar kota Pematang Siantar. Karena basis perdagangan kota Medan berpusat di Sentral Pasar tersebut. Loket Medan Raya Tour dapat menampung sampai 20 buah armada, keistimewaan loket ini dikarenakan sebagai pintu masuk menuju kota Medan.
3.3 Armada Bus Medan Raya Tour 1974-2002
Pada awal pendiriannya, perusahaan bus Medan Raya Tour menggunakan jenis mobil L300 T120 dengan merk Mitshubishi15.Mobil tersebut dibuat pada tahun 1972. L300 T120 merupakan produk dari pabrikan Mitshubishi yang paling lama menggunakan nama tersebut. Secara terus–menerus dalam produksinya di dunia, produk ini diproduksi pada tahun antara 1972-1974, dan secara tradisional menjadi salah satu kendaraan General Motor yang paling menguntungkan. L300 T120 telah diproduksi oleh Mitshubishi, sampai pada versi L300 T200 tersebut berubah nama menjadi versi Colt Diesel. Untuk bagi sebagian besar hasil sejarah, L300 T120 telah berubah bentuk menjadi versi truk pick up Mitshubishi yang nantinya menjadi cikal bakal Mitshubishi tipe Colt Diesel.Pada dasarnya mobil Mitshubishi L300 T120 tersebut merupakan mobil pada umumnya, namun dimodifikasi oleh para pengusaha transportasi, yakni karoseri dari mobil ini diubah menjadi otoprah (truk) maupun bus.
15Arsip KPUM 1974-1978
Dapat dikatakan pada masa tahun–tahun ini, merupakan masa keemasan perusahaan bus angkutan umum Medan Raya Tour . Dalam tahun 1979 perusahaan bus Medan Raya Tour merencanakan untuk memperluas trayek ke Langsa. Perencanaan trayek tersebut ditetapkan pada bulan September 1979.Dan pada tahun 1980 trayek menuju ke Aceh Peurelak dibuka.
Pada tahun 1980 sampai 1990-an bus Medan Raya Tour mencapai masa keemasannya. Hal ini dibuktikan dengan diperluasnya trayek Medan – Langsa – Aceh– Peurelak, sehingga dapat menghubungkan antar provinsi di pulau Sumatera, yakni provinsi: D.I. Aceh – Sumatera Utara. Dalam melayani trayek ini, perusahaan bus Medan Raya Tour memiliki armada sebanyak 82 unit, yang keseluruhan menggunakan L300 T120. Pada masa emasnya inilah perusahaan bus Medan Raya Tour telah berhasil menghubungkan Sumatera Utara dengan Provinsi
Daerah Istimewa Aceh16.
3.4 Organisasi Manajemen Medan Raya Tour
Struktur organisasi merupakan gambaran mengenai pembagian tugas serta tanggungjawab kepada individu maupun bagian tertentu dari organisasi.Penentuan struktur organisasi sangat berperan penting dalam memperlancar jalannya roda perusahaan. Pengalokasian tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab, serta hubungan satu sama lain dapat digambarkan pada struktur organisasi perusahaan,sehingga para pegawai dan karyawan akan mengetahui dengan jelas apa
16Wawancara dengan bapak st. P situmorang selaku supir Medan Raya Tour tahun 1980-1990 di Tarutung 17 februari 2016.
tugas nya dari mana ia mendapatkan perintah dan kepada siapa ia harus bertanggung jawab17.
Sebuah usaha yang berada di bawah naungan unit KPUM, umumnya ditangani dalam bentuk patungan (Penanaman saham oleh lebih dari satu orang).Begitu juga dengan Medan Raya Tour, yang diawal berdirinya perusahaan ini dirintis oleh 2 orang pemegang saham, dan salah satunya adalah Bapak Ramli Lubis.
Strategi dalam penetapan manajemen juga merupakan faktor utama dalam menetapkan strategi pelayanan sehingga para konsumen dapat terlayani dengan baik.Dengan manajemen yang baik maka dapat meningkatkan harga jual tiket dan melambungkan perusahaan yang dalam hal ini adalah perusahaan pengangkutan Medan Raya Tour. Semua kegiatan bisnis akan dihadapkan dengan kemampuan finansial. Hal tersebut dikarenakan kemandirian finansial dalam aspek milik sendiri maupun pinjaman dari pihak bank atau pihak lain, merupakan kekuatan dalam kompetisi dan persaingan pasar. Kemampuan finansial dari perusahaan sangat dipengaruhi oleh kekuatan/potensi dari sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan serta faktor biaya yang dikeluarkan ketika melakukan proses produksi barang dan jasa.
Medan Raya Tour merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa pengangkutan penumpang dan barang dimana armada perusahaan ini melayani penumpang dengan trayek Medan – Tarutung.Medan Raya Tour mempunyai 20 armada kendaraan bus.Medan Raya Tour tentunya juga harus mengukur kemampuan finansial perusahaan dilihat dimana posisi perusahaan dan pihak manajemen.
17Rustian Kamaludin, Ekonomi Transportasi, Jakarta: Ghalia Indonesia, hal 50.