MAKNA SIMBOLIK
PERAYAAN ULAMBANA
M
A
K
N
A
S
IM
B
O
L
IK
P
E
R
A
Y
A
A
N
U
L
A
M
B
A
N
A
is a R iz ky A m ali aDi
Vi
hara
Bahtera
Bhakti
Ancol
Serta
Pesan
Kerukunan
i
Tesis
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Agama
(M.Ag)
Oleh:
ANNISA RIZKY AMALIA (21180321000005)
Annisa Rizky Amalia
Makna Simbolik Perayaan Ulambana di Vihara Bahtera Bhakti Ancol Serta Pesan Kerukunan Antarpenganut Agama-Agama.
Sejahtera Kita, 2021
xii, 150 hlmn 17.6 x 25 cm
ISBN: 9-786239-386481
Makna Simbolik Perayaan Ulambana di Vihara Bahtera Bhakti Ancol Serta Pesan Kerukunan Antarpenganut Agama-Agama.
Penulis:
Annisa Rizky Amalia
Layout: Sejahtera Kita Dicetak: Sejahtera Kita Diterbitkan oleh: Sejahtera Kita, 2021
Jl. HOS Cokroaminoto No. 103 Larangan, Ciledug – Tangerang
E-mail: [email protected]
ii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Annisa Rizki Amalia
NIM : 21180321000005
Fakultas : Ushuluddin
Jurusan/Prodi : Magister Studi Agama-Agama
Judul Tesis : Makna Simbolik Perayaan Ulambana Di Vihara Bahtera Bhakti Ancol serta Pesan Kerukunan Antarpenganut Agama-agama.
Dengan ini menyatakan sesungguhnya bahwa:
1. Tesis ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah-satu persyaratan memperoleh gelar Magister Agama (M.Ag) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 21 Mei 2021
iii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
MAKNA SIMBOLIK PERAYAAN ULAMBANA DI
VIHARA BAHTERA BHAKTI ANCOL SERTA PESAN
KERUKUNAN ANTARPENGANUT AGAMA-AGAMA
Tesis
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Agama
(M.Ag)
Oleh:
Annisa Rizky Amalia NIM: 21180321000005
Dosen Pembimbing; Pembimbing I
Prof. Dr. M. Ikhsan Taggok, M.Si NIP: 19651129 1994103 1 002
Pembimbing II
Dr. M. Amin Nurdin, M.A NIP: 19550303 198703 1 003
PRODI MAGISTER STUDI AGAMA-AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
1442 H / 2021 M
iv
PENGESAHAN PANITIA UJIAN TERTUTUP
Tesis berjudul Makna Simbolik Perayaan Ulambana Di Vihara
Bahtera Bhakti Ancol Serta Pesan Antarpenganut Agama-Agama,
telah diujikan dalam sidang Munaqosyah Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 22 Juni 2021. Tesis ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Agama (M.Ag) pada Prodi Magister Studi Agama-Agama.
Jakarta, 22 Juni 2021
Sidang Munaqosyah
Ketua Merangkap Anggota,
Dr. Bustamin, S.E., M.Si NIP: 19630701 199803 1 003
Sekretaris Merangkap Anggota,
Dr. Ahmad Fudhaili, M.Ag NIP: 19740510 200501 1 009
Anggota, Penguji I
Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis, M.A
NIP: 19471019 197703 1 002
Penguji II
Dr. Hamid Nasuki, M.Ag NIP: 19630908 199001 1 001
Pembimbing, Pembimbing I
Prof. Dr. M. Ikhsan Taggok, M.Si NIP: 19651129 1994103 1 002
Pembimbing II
Dr. M. Amin Nurdin, M.A NIP: 19550303 198703 1 003
v
PENGESAHAN PANITIA UJIAN TERBUKA
Tesis berjudul Makna Simbolik Perayaan Ulambana Di Vihara
Bahtera Bhakti Ancol Serta Pesan Antarpenganut Agama-Agama,
telah diujikan dalam sidang Munaqosyah Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 9 Agustus 2021. Tesis ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Agama (M.Ag) pada Prodi Magister Studi Agama-Agama.
Jakarta, 9 Agustus 2021
Sidang Munaqosyah
Ketua Merangkap Anggota,
Dr. Bustamin, S.E., M.Si NIP: 19630701 199803 1 003
Sekretaris Merangkap Anggota,
Dr. Ahmad Fudhaili, M.Ag NIP: 19740510 200501 1 009
Anggota, Penguji I
Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis, M.A NIP: 19471019 197703 1 002
Penguji II
Dr. Hamid Nasuki, M.Ag NIP: 19630908 199001 1 001 Pembimbing,
Pembimbing I
Prof. Dr. M. Ikhsan Taggok, M.Si NIP: 19651129 1994103 1 002
Pembimbing II
Dr. M. Amin Nurdin, M.A NIP: 19550303 198703 1 003
vi
ABSTRAK
Tesis ini membahas mengenai Makna Simbolik Perayaan Ulambana Di Vihara Bahtera Bhakti Ancol Serta Pesan Antarpenganut Agama-agama. Metode yang digunakan ialah kualitatif-deskriptif, penelitian ini tergolong pada penelitian lapangan. Sumber penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Sumber tersebut digali dengan menggunakan teknik wawancara mendalam kepada informan di lapangan sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologis dan antropologis.
Tesis ini menjelaskan bahwa upacara Ulambana adalah salah satu dari berbagai macam upacara yang diselenggarakan di Vihara Bahtera Bhakti Ancol, Jakarta. Upacara ini diselenggarakan pada bulan 7 dari tanggal pertama hingga ke-15 penanggalan Imlek. Pada hari tersebut, para Bhikkhu sedang menjalankan masa Vassa. Banyak Bhikkhu yang mengalami peningkatan dalam kehidupan spritualnya sehingga menjadi kesempatan menanam kebajikan. Para umat Buddha yang memberikan persembahan kepada mereka akan memperoleh kama baik lebih besar daripada biasanya. Umat juga bisa melimpahkan jasa kebajikan yang diperoleh dari persembahan tersebut untuk roh leluhur mereka serta makhluk-makhluk yang menderita di alam peta (alam hantu kelaparan).
Temuan tesis ini berbeda dengan perayaan Ulambana di tempat lain, sebab upacaranya tidak direbutkan lagi, melainkan disedekahkan oleh penganut umat Tri Dharma dengan mengundang masyarakat menengah ke bawah. Para penganut ini percaya bahwa kehidupan dan kesuksesan mereka dalam bekerja, selain kerja keras juga karena ada sangkut pautnya dengan perlindungan yang dilakukan oleh roh-roh leluhur.
Kata Kunci: Ritual, Pemujaan Leluhur, Vihara, Ulambana, Sembahyang Rebutan
vii
ABSTRACT
This thesis discusses the Symbolic Meaning of the Ulambana Celebration at the Ancol Bahtera Bhakti Vihara and Messages Between Adherents of Religions. The method used is qualitative-descriptive, this research belongs to field research. The sources of this research are divided into two, namely primary and secondary. These sources were explored using in-depth interviews with informants in the field, while the approach used was a sociological and anthropological approach.
This thesis explains that the Ulambana ceremony is one of the various ceremonies held at Vihara Bahtera Bhakti Ancol, Jakarta. This ceremony is held on the 7th month from the first to the 15th day of the Chinese calendar. On that day, the monks were observing the Rains Retreat. Many Bhikkhus experience an increase in their spiritual life so that it becomes an opportunity to cultivate virtue. Buddhists who make offerings to them will gain more good kamma than usual. Devotees can also bestow the merits obtained from these offerings for the spirits of their ancestors and suffering beings in the map realm (the hungry ghost realm).
The findings of this thesis are different from the Ulambana celebrations in other places, because the ceremony is no longer contested, but is donated by Tri Dharma followers by inviting the middle and lower classes of society. These adherents believe that their life and success in work, in addition to hard work, also has something to do with the protection carried out by ancestral spirits
Keywords: Ritual, Ancestor Worship, Vihara, Ulambana, Conquest Prayer
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat serta hidayah-Nya penulis dapat merampungkan Tesis ini dengan judul Makna Simbolik Perayaan Ulambana Di Vihara Bahtera
Bhakti Ancol Serta Pesan Antarpenganut Agama-Agama. Salawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW., serta kepada keluarga dan para sahabatnya, tabiinnya, hingga pada umatnya kelak. Amin.
Terima Kasih Penulis sampaikan kepada Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A, selaku Rektor perempuan pertama di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Bapak Dr. Yusuf Rahman, M.A., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2019-2023.Terima kasih telah menginspirasi saya untuk terus maju dan tetap fokus pada masadepan pendidikan penulis.
Tentu saja, orang paling berjasa adalah Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si, dan Dr. M. Amin Nurdin, M.A sebagai Pembimbing Tesis, kedua dosen ini memberi fasilitas tempat, tenaga, dan waktu untuk melakukan konsultasi yang intens untuk saya nikmati di rumahnya. Saran yang menyeluruh dan referensi yang diberikan, jam konsultasi yang berkala dan teman diskusi terbaik yang pernah ada, telah memperkaya horizon saya tentang sosial, keagamaan, dan budaya Indonesia.
Penulis harus berterima kasih kepada Bapak Dr. Bustamin, S.E., M.Si, dan Dr. Ahmad Fudhaili M.A, selaku ketua dan sekretaris Prodi Magister Studi Agama-Agama, yang telah bertugas dan mendampingi segala keperluan mahasiswa untuk menuntaskan segala keperluan prosedural kampus. Kepada penguji yang sudah banyak meluangkan waktu membaca dan mengoreksi, menelaah penelitian penulis sampai pada titik akhir penetapan sidang terbuka.
Saya perlu berterima kasih kepada informan saya di Vihara Bahtera Bakti Ancol: Bapak Aprianto, Bapak Susanto, Bapak Cung, Bapak Herman saya berutang rasa. Karena tenaga, pikiran, materi dan waktu yang mereka luangkan, akhirnya riset ini selesai. Meskipun tidak semua pihak dapat disebutkan satu persatu, setidaknya penulis perlu menyebutkan sejumlah nama yang membekas di hati penulis, yaitu:
Utamanya kepada orang tua, penulis yang tiada henti-hentinya memberikan semangat luar biasa serta doa yang selalu dipanjatkan, khususnya pada Mamah tercinta Evi Syafiiyah.
ix
Tentu saja, orang paling setia membantu penulis, Rudi Hermansyah suami tercinta dan buah hati kami, Muhammad Ghaisan Alfariz, terima kasih banyak suami dan anakku, kehadiran kalian melengkapi semangatku menyelesaikan penelitian ini.
Teruntuk kakak Arif, Budy Asyanto, Dinda Esta, Tri Wahyuni, Wahyu Ageng, Ambartyas, Nindy Febriani, Alfitiara, Radiansyah, adik Chairul Anam, Yusran Kamil, Rahma Nabila, Aulya Febrianti dan teman-teman angkatan S2 Tri Indah, Rayyan Adilla, Aulia Adibah, M. Sairi, Sahwin, Riswandi, Yasser, dan kepada teman-teman sekolah yang hingga saat ini selalu memberikan support kepada penulis Irda Sudistiani, Yayi Rista, Zuhria Nisa, Inesia Pratiwi, Alfianur Fidia, Ariska, Resty, Suci Alvia, Lisa Ardiana, Dea Modessa, Ika Hidayanti terima kasih banyak untuk semua yang sudah membantu sekaligus mendoakan kepada penulis, sehingga penulis pelan-pelan dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik.
Akhirnya, tidak ada manusia sempurna siapapun orangnya pastilah ia memiliki sifat bawaan salah dan lupa. Namun, semua tulisan yang ada di hadapan pembaca ini adalah tanggungjawab penulis. Untuk semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tesis ini penulis ucapkan terima kasih.
Ciputat, 9 Agustus 2021
x
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Pernyataan Keaslian Karya ... ii
Lembar Persetujuan Pembimbing ... iii
Lembar Pengesahan Ujian Tertutup ... iv
Lembar Pengesahan Ujian Terbuka ... vi
Abstrak ... viii
Abstract ... vx
Kata Pengantar ... xii
Daftar Isi ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Batasan Masalah ... 6
C. Rumusan Masalah ... 6
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
1. Manfaat Teoritis ... 6
2. Manfaat Praktis ... 6
E. Metodologi Penelitian ... 7
1. Jenis Penelitian ... 7
2. Sumber Data ... 7
3. Teknik Pengumpulan Data ... 7
4. Pendekatan Penelitian ... 9
F. Tinjauan Pustaka ... 10
G. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II AGAMA DAN KEBUDAYAAN SEBAGAI SISTEM SIMBOL A. Interaksionisme simbolik ... 13
B. Agama sebagai suatu sistem makna simbok ... 20
C. Kebudayaan sebagai suatu sistem makna simbolik ... 22
D. Agama dan kebudayaan sebagai suatu sistem simbolik ... 28
E. Pendekatan Makna Simbolik dalam Agama ... 36
G. Beberapa Teori Upacara dalam Kehidupan Manusia ... 37
BAB III DEMOGRAFIS DAN SEJARAH VIHARA BAHTERA BHAKTI ANCOL A. Demografis Vihara Bahtera Bhakti Ancol ... 39
B. Sejarah Keberadaan Vihara Bahtera Bhakti Ancol ... 40
C. Keadaan Bangunan Vihara Bahtera Bhakti Ancol ... 49
BAB IV RITUAL PERAYAAN ULAMBANA DI VIHARA BAHTERA BHAKTI ANCOL A. Permulaan Perayaan Ritual Ulambana... 52
1. Tujuan Perayaan Ulambana ... 57
B. Latar Belakang Ritual dan Tujuan Perayaan Ulambana ... 61
1. Persiapan ... 67
2. Perlengkapan ... 75
3. Pelaksanaan ... 79
C. Upacara Ulambana Menurut Ajaran Agama Tao Buddha dan Konghucu ... 84
D. Makna Simbolik Perayaan Ulambana ... 90
1. Toleransi ... 90
2. Integrasi Antar Umat Beragama ... 93
3. Solidaritas Sosial ... 98
4. Kekerabatan ... 100
5. Kerukunan Umat Beragama ... 101
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 112
B. Saran ... 114
Daftar Pustaka ... 116
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari orang tidak mungkin tidak berurusan
dengan hasil-hasil kebudayaan. Setiap hari orang melihat,
mempergunakan, dan kadang kala merusak kebudayaan. Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Walaupun secara teoritis dan untuk kepentingan analisis, kedua persoalan tersebut dapat dibedakan dan dipelajari secara terpisah.1
Membicarakan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari manusia. Karena kebudayaan selalu dipengaruhi oleh kedinamisan melalui karya, cipta, dan rasa. Kebudayaan itu sendiri merupakan sesuatu yang abstrak yang dapat memengaruhi system pengetahuan dan meliputi system gagasan yang ada dalam pikiran manusia. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soenardi, merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, cipta, dan rasa manusia yang dapat menghasilkan kebudayaan material yang dibutuhkan manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar hasilnya bisa diabadikan untuk kebutuhan atau keperluan manusia sebagai individu atau masyarakat.2
Menurut Keesing, kebudayaan adalah sebagai sistem simbol dan pemaknaan yang dimiliki bersama oleh masyarakat. Kebudayaan-kebudayaan tersebut tidak dimiliki oleh individu, namun dimiliki bersama oleh kelompok masyarakat. Simbol merupakan hubungan antara penanda atau petanda berdasarkan kesepakatan bersama. Misalnya lambang Garuda Pancasila itu tidak semata mata hanya gambar burung saja tetapi, memiliki makna, dari gambarnya, ada pohon beringin, padi dan kapas, bintang, dan yang lainnya. Lambang yang melekat itu memiliki arti dan makna berbeda-beda.3
1 Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, Sosiologi Suatu Pengantar,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 147.
2 Selo Soemardjan dan Soenardi Soelaeman. Setangkai Bunga Sosiologi.
(Jakarta: Yayasan Badan Penerbit FEUI, 1964). h. 113.
3 M. Roger Keesing. Jurnal Antropologi ―Teori-Teori Tentang Budaya‖ No.52.
Lambang Garuda Pancasila memiliki arti dan makna yang sangat sakral, tetapi untuk orang luar Indonesia itu belum tentu, karna mereka tidak mengetahui arti dari gambar tersebut. Dalam menyampaikan suatu konsep, simbol memiliki peranan yang sangat penting. Simbol sendiri dapat berupa kata, angka, sikap tubuh yang bermakna, dan lain sebagainya. Seperti layaknya kalimat, simbol dapat langsung dibaca maknanya, namun simbol tidak selalu berdiri sendiri sehingga maknanya dapat dibaca saat simbol tersebut muncul bersamaan dengan simbol-simbol yang lain.
Kemudian setelah membahas tentang makna simbol dan budaya, bisa dikaitkan pada sejarah orang-orang Tionghoa yang datang ke kawasan Asia Tenggara.4 Pada saat mereka datang tentu saja membawa beragam kepercayaan, dan kebudayaan. Agama yang mereka anut ketika itu umumnya ajaran Kong Hu Cu (Confucius), namun tak menutup kemungkinan beberapa di antara mereka ada juga yang beragama Islam.
Orang Tionghoa yang paling terkenal sebagai penyebar sekaligus penganut agama Islam adalah Laksamana Cheng Ho (Zheng He).5 Di Indonesia nama beliau dikenal sebagai Laksamana Ceng Ho atau kalangan etnis Tionghoa yang datang dari daerah Hok-Kian (Fukien) Tiongkok Selatan, ia dipanggil Sam Po Toa Lang (Sam Po Thay Jin). Ia hidup dimasa kejayaan Kerajaan Beng (Ming) di bawah pimpinan Kaisar Eng Lok Kun (Yongle dalam dialek Pin-Yin), 1403-1424 Masehi.
4
Markus A.S, Hari Raya Tionghoa, (Jakarta: PT. Suara Harapan Bangsa, 2015), h. xi.
5 Cheng Ho (1371-1433) merupakan seorang kasim (pelayan) semenjak usianya
masih kanak-kanak. Ia menjadi ―Kasim San Bo‖ di Tiongkok (umumnya tidak begitu dikenal di negaranya pada masa silam), ia berasal dari Yunnan, Tiongkok. Pada kenyataannya riwayat hidup cheng ho banyak versi. Ayahnya bernama Ma Haji (1344-1382). Ia dilahirkan dari marga Ma, suku Hui mayoritas beragama Islam. Dan ia lahir di desa He Dai Kabupatennya bernama Kunyang, Profinsi Yunnan. Cheng Ho mempunyai lima saudara kandung. Sementara Cheng Ho anak ketiga. Karena salah satu jasa Cheng Ho begitu besar kepada Kaisar Zhu Di, kemudian ia diangkat menjadi kepala kasim. Asal abad lima belas Kaisar Zhu Di memerintahkan supaya melakukan pelayaran-pelayaran ke Samudra Hindia, guna memupuk persahabatan dan perdamaian antara Tiongkok dengan negara-negara asing. Lantas Kaisar Zhu Di langsung menunjuk Cheng Ho sebagai pemimpin pasukan pelayaran. Kepribadian Cheng Ho terbukti dengan sifat rendah hati dan tetap menanamkan rasa cinta kepada penduduk setempat yang berlainan keyakinan dengannya dibuktikan dengan menanamkan toleransi antaragama dan antarumat beragama. Baca bukunya Kong Yuanzhi, Cheng Ho Muslim Tionghoa:
Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor, 2011),
Laksamana Ceng Ho sejak di Tiongkok sudah memeluk agama islam, dan ia melakukan perjalanan ke Nusantara, bahkan sampai tujuh kali pelayaran. Di antara pengikut Cheng Ho yang juga Muslim ada yang menetap di Nusantara. Mereka menikah dengan penduduk setempat, berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Pantai Utara Pulau Jawa.6
Bangsa Tionghoa merupakan suatu bangsa yang memiliki beragam kebudayaan, mereka telah mengenal banyak peradaban sejak beberapa ribu tahun yang lalu sebelum masehi. Kebudayaan, kepercayaan, dan tradisi yang mereka punya tetap mereka pelihara dengan baik. Hal tersebut banyak ditemukan di Indonesia hingga sampai saat ini. Salah satu aspek kebudayaan orang Tionghoa yang ada di Indonesia yang masih bertahan dan berkembang sampai saat ini ialah menghormati leluhur atau
nenek moyang mereka.7
Bangsa Tionghoa adalah bangsa yang sangat memuja leluhurnya. Pemujaan leluhur dilakukan orang Tionghoa secara sederhana dalam rumahnya di Cina dan juga di Indonesia. Jika bertamu ke rumah seorang Tionghoa maka dapat melihat sebuah meja panjang yang tinggi, diapit oleh dua buah meja yang lebih pendek, dan ketiga meja tersebut berwarna merah. Di atas meja panjang itu diletakkan beberapa tempat untuk menancapkan dupa yang disebut ―hiou-lou‖. Hio-lou terbuat dari timah, berkaki empat dan berkuping di kiri dan kanannya, di bagian depannya terukir sebuah huruf Tionghoa berlafal Hok-Kian ―hi‖, yang memiliki arti ―bahagia‖. Disamping kiri dan kanan hio-lou itu diletakkan dua buah pelita. Dalam rumah keluarga yang modern, kedua pelita ini sering kali digantikan dengan lampu. Di ujung meja panjang itu terdapat kotak panjang yang berisikan batang dupa. Selain itu terdapat lilin-lilin berwarna merah melengkapi meja pemujaan tersebut. Perlengkapan yang sederhana itu melambangkan kesederhanaan orang Tionghoa dalam menyembah leluhur.8
Vihara Bahtera Bhakti dikenal dengan sebutan Klenteng Ancol. Klenteng Ancol merupakan tempat ibadah umat Tri Dharma, tetapi karena persoalan politik pada tahun 1984 tentang status keabsahan
6
Markus, Hari Raya Tionghoa, h. xii. Baca Kong Yuanzhi, Cheng Ho Muslim
Tionghoa: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor,
2011), cet.4. penyunting, M. Hembing Wijayakusuma, h. xxiii.
7 Mariana Makmur, Fungsi Rumah Abu Dalam Kehidupan Orang Tionghoa
(Jurnal Fakultas Sastra), (Jakarta: Perpustakaan UI, 1983), h. 1.
8 Nio Joe Lan, Peradaban Tionghoa Selayang Pandang, (Jakarta: Kepustakaan
Konghucu maka, Klenteng tersebut berubah nama menjadi Vihara. Sekalipun dalam praktik ibadahnya tetap menggunakan tradisi yang sama,
yaitu; dengan mengalihbahasakan upacara Ulambana menjadi
Sembahyang Rebutan. Tradisi ini sesungguhnya merupakan percampuran antara agama dan budaya yang menjadi suatu upacara yang telah berlangsung lama yang dilakukan oleh komunitas Cina yang beragama Konghucu, Buddha, dan Tao.9
Dalam Vihara Bahtera Bhakti terdapat 4 makam Muslim yang menurut sejarahnya makam tersebut merupakan makam satu keluarga orang Tionghoa yang beragama Islam. Makam itu kemudian sampai saat ini masih sering di kunjungi oleh para peziarah dari berbagai kalangan untuk berdoa di makam tersebut, utamanya mayoritas dari masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia.
Setiap tahun pada bulan ke-7 tanggal 15 (Cit Gwe Cap Go) penanggalan Lunar, Vihara-Vihara atau Kelenteng banyak mengadakan Upacara penghormatan terhadap leluhur. Dalam agama Buddha, penghormatan kepada leluhur dikenal dengan perayaan upacara Ulambana. Beda halnya dengan masyarakat Konghucu, pada umumnya mengenal dengan nama Sembahyang Rebutan. Berbeda dari keduanya, Agama Tao lebih menyebut dengan perayaan Cio Ko. Perayaan Ulambana atau Sembahyang Rebutan (Cio Ko) ini disebut juga sebagai Hari Raya Setan (Ghost Festival).10 Penamaan Sembahyang Rebutan yang berbeda ini dilatarbelakangi oleh bahasa dan budaya yang berlainan pula, dari ketiga agama tersebut.
Dari beberapa sembahyang terhadap leluhur, salah satunya dalam agama Buddha yaitu Ulambana. Ulambana merupakan salah satu hari suci umat Buddha yang diselenggarakan pada tanggal pertama hingga ke-15 penanggalan Imlek. Pada hari tersebut menurut catatan sejarah, semula orang-orang menyelanggarakan upacara ini dengan persembahan yang ditujukan kepada Buddha dan Sangha atas nama ketujuh generasi leluhur. Pada zaman dinasti Tang, seorang biksu Tantra, yaitu Amonghawajra menyesuaikannya dengan tradisi pemujaan leluhur dari leluhur. Para umat Buddha yang memberikan persembahan kepada mereka akan memperoleh karma baik lebih besar daripada biasanya. Umat juga bisa melimpahkan
9 Wawancara pribadi dengan Bapak Aprianto Bismoko, (pengurus Vihara
Bahtera Bhakti Ancol). Jakarta, 8 November 2019.
10
Henry Wibowo Karsono, (ed), Albart Bong Jun That, ―Makna Hari Raya Buddha‖, Buku Pedoman Untuk Umat Buddha, (Jakarta: FKUB DKI Jakarta, 2007), h. 84.
jasa kebajikan yang diperoleh dari persembahan tersebut untuk roh leluhur mereka serta makhluk-makhluk yang menderita di alam preta (alam hantu kelaparan).11
Uniknya dalam tradisi Tionghoa, penghormatan terhadap leluhur yang dilakukan setahun sekali itu di sebut ―Sembahyang Rebutan,‖ dalam Konghucu dan juga dikalangan masyarakat Hok-Kian di Jawa disebut sembahyang ―Cio Ko, atau dalam agama Buddha dikenal dengan sebutan hari Ulambana‖. Sebutan di Indonesia lebih dikenalSembahyang Rebutan, karena setelah melakukan sembahyang atau pemujaan pada roh-roh yang tidak diurus anggota keluarga mereka di dunia, semua barang-barang berupa makanan yang dipersembahkan pada roh-roh tersebut direbutkan oleh para pemuja, sehingga setiap orang mendapatkan barang-barang atau makanan dari hasil rebutannya. Barang-barang-barang hasil rebutan ini dibawa pulang, dan merupakan simbol keberuntungan bagi orang tersebut di masa mendatang. Sembahyang Rebutan ini berasal dari tradisi
agama Tao dan Buddha.12
Berdasarkan paparan di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang pemujaan terhadap leluhur mereka yang dilakukan di salah satu Vihara di Jakarta utara yang dikemas dengan sebuah acara rutin tahunan yaitu perayaan Ulambana atau biasa disebut Sembahyang Rebutan yang dilaksanakan di Vihara Bahtera Bhakti Ancol. Vihara Bahtera Bhakti Ancol ini tidak hanya tempat ibadah umat Tri Dharma, akan tetapi memiliki sejarah panjang tentang makam Muslim yang berada di dalam Vihara. Tidak hanya itu, sebagian besar penjaga Vihara tersebut adalah orang Islam. Bahtera Bhakti Ancol merupakan rumah ibadah yang secara formal adalah Vihara, oleh karena itu menjadi milik rumah ibadah umat Buddha.
Oleh karena itu terdapat berbagai aspek yang menarik untuk dikaji sebagai sebuah tesis dengan melihat kenyataan sosial yaitu makna simbolik dalam perayaan Ulambana yang dilakukan di Vihara Bahtera Bhakti. Serta interaksi antar penganut agama yang berbeda memunculkan suatu sistem kekerabatan melalui simbol-simbol budaya.
11 Krishnanda Wijaya Mukti, Wacana Buddha Dharma, (Jakarta: Yayasan
Dharma Pembangunan & Ekayana Buddhist Center, 2003), h. 91.
12 M. Ikhsan Tanggok, Prakik Islam Nusantara di Beberapa Kelenteng di
B. Batasan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah yang sudah penulis paparkan diatas maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:
1. Apa makna simbol dalam perayaan Ulambana?
2. Bagaimana hubungan makam Muslim dengan Vihara Bahtera Bhakti Ancol?
3. Apa makna perayaan Ulambana bagi pembinaan kerukunan Umat Agama-agama?
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, penulis perlu melakukan perumusan masalahnya, yaitu: Bagaimanakah masyarakat sekitar Vihara Bahtera Bhakti Ancol memaknai perayaan Ulambana serta makna simboliknya?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana masyarakat sekitar memaknai perayaan Ulambana serta memahami makna simbolik dari tradisi Ulambana pada masyarakat penganut beda agama di Vihara Bahtera Bhakti Ancol.
Sedangkan Manfaat dari penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu, Teoritis dan Praktis.
1. Manfaat Teoritis
Dalam manfaat teoritis ini peneliti ingin mengetahui lebih dalam bahwa agama juga memiliki kawasan interpretasi, suatu dimensi ajaran yang dipahami manusia, sehingga akan terdapat perubahan dan memiliki makna simbol dari interpretasi manusia itu sendiri dan dikaitkan pula dengan teori Interaksionisme Simbolik.
2. Manfaat Praktis
Dalam manfaat praktis ini agar masyarakat bisa menjalankan kerukunan antar umat beragama dengan tujuan yang sama yaitu, menghormati para leluhur mereka.
E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitatif. Bogdan dan Taylor mendefinisikan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati13. Penelitian ini berusaha mengungkapkan informasi berupa data deskriptif mengenai upacara ulambana yang terjadi di Vihara Bahtera Bhakti Ancol.
2. Sumber Data
Sumber data penelitian tesis ini menggunakan sumber primer sebagai sumber otoritatif. Sedangkan sumber sekunder dijadikan sebagai sumber pelengkap data-data penelitian.
Sumber primer dimaksud berupa wawancara secara mendalam kepada informan di lapangan. Informan yang sudah ditentukan langsung oleh peneliti tertuju kepada ketua pelaksanaan acara ―upacara Ulambana‖, dan kepada pengurus Vihara Bahtera Bhakti Ancol. Sumber sekunder didapat melalui literatur kepustakaan (library research), seperti: buku, jurnal, arsip, majalah, dan sumber kepustakaan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3. Teknik Pengumpulan Data
Secara teknik pengumpulan data penelitian, peneliti menggunakan teknik lapangan dan data kepustakaan sebagai pendukung. Studi kepustakaan ialah mengumpulkan data dengan cara mencari buku-buku yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Data itu dapat berupa data primer dan data skunder. Sumber studi kepustakaan ini didapatkan dari buku, majalah, artikel, jurnal, dll.Selain data kepustakaan, data juga dapat dikumpulkan dari studi lapangan yang diambil melalui kegiatan perayaan Ulambanadi Vihara Bahtera Bhakti Ancol. Pengumpulan data lapangan dapat dibagi menjadi 4 cara yaitu:
13 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
a) Observasi
Observasi atau pengamatan langsung dilakukan untuk memperoleh fakta nyata tentang ritual perayaan Ulambana dan keadaan sosial antar umat beragama di Vihara Bahtera Bhakti Ancol.
b) Wawancara Mendalam (Depth Interview)
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan melakukan dialog atau percakapan terkait dengan tema penelitian kepada informan.14 Metode ini dimaksudkan untuk memperoleh data primer, karena data ini diperoleh langsung melalui wawancara dengan pemimpin upacara Ulambana dan para panitia ritual upacara Ulambana di Vihara Bahtera Bhakti Ancol.
c) Dokumentasi
Dalam penelitian ini penulis mengkaji bahan tertulis dan tidak tertulis yang bertujuan untuk mendapatkan data sekunder sebagai pelengkap dari kedua data diatas. Sumber tertulis tersebut berupa arsip-arsip yang ada relevansinya dengan penelitian, sedangkan sumber tidak tertulis berupa foto-foto dan video tentang praktik terjadinya perayaan Ulambana.
d) Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya perlu diolah dan dianalisis untuk menjawab masalah penelitian.Analisis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Penulis menggambarkan dan menjelaskan mengenai tentang situasi yang terjadi di tempat penelitian sehingga nantinya akan memperoleh deskripsi yang sistematis dan fakta-fakta di tempat penelitian secara kredibel dan dapat dipertanggung jawabkan.15
4. Pendekatan Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan sosiologis dan antropologis.
Pendekatan Sosiologis terhadap agama bermaksud mencari relevansi dan pengaruh agama terhadap fenomena sosial. Michael S. Northcott
14 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006), h. 186.
15 Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
menjelaskan bahwa pendekatan sosiologis dibedakan dari pendekatan lainnya karena fokusnya pada interaksi agama dan masyarakat. Pendekatan sosiologis dalam studi agama berfokus kepada masyarakat yang memahami dan mempraktikkan agama, bagaimana pengaruh masyarakat terhadap agama dan pengaruh agama terhadap masyarakat. Emile Durkheim misalnya, sosiolog agama yang paling berpengaruh, seperti dikutip oleh Daniel L. Pals, melihat arti yang sangat penting atas apa yang dinamakan masyarakat. Durkheim meyakini bahwa agama adalah sesuatu yang amat bersifat sosial.16 Sedangkan penulis menggunakan pendekatan ini untuk melihat fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Ancol Jakarta dalam melaksanakan upacara ulambana.
Pendekatan Antropologis berupaya memahami
kebudayaan-kebudayaan produk manusia yang berhubungan dengan agama. Sejauh mana agama memberi pengaruh terhadap budaya dan sebaliknya, sejauh mana kebudayaan suatu kelompok masyarakat memberi pengaruh terhadap agama. Dalam sejarah Studi Agama terdapat beberapa tokoh yang selalu menjadi rujukan atas pendekatan ini yang biasa dikenal dengan Antropologi Agama. Misalnya Edward Burnett Taylor (1832-1917) atau biasa dikenal dengan E.B. Tylor, seorang ilmuwan yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk mengarah perhatian kepada orang-orang primitif, khususnya pada suku Indian di Amerika Tengah. Atas pengamatannya yang serius, Ia banyak menghasilkan karya yang bermutu, salah satu karya puncaknya Ia adalah Primitive Culture (1871) yang ia tulis dalam dua jilid besar, telah mengantarkannya menjadi ahli Antropologi Inggris ternama. Setelah bergelut lama dengan kebudayaan kaum primitif, Tylor sampai pada kesimpulan bahwa agama adalah keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual. Menurutnya semua agama, besar atau kecil, primitif atau modern, selalu mendasarkan keyakinan kepada roh-roh yang berfikir, berperilaku dan berperasaan seperti manusia. Oleh karena itu esensi dari setiap agama adalah animisme, yaitu sebuah paham yang percaya terhadap suatu yang hidup, yang memiliki kekuatan yang berada di balik segala sesuatu. Animisme inilah yang menjadi titik perhatian Tylor.17 Dalam penelitian ini penulis memadukan pendekatan sosiologis dan antropologis guna mencari makna perayaan ulambana bagi masyarakat Ancol Jakarta.
16
Daniel L. Pals, Eight Theories of Religion, (New York: Oxford University Press, 2006), Edisi Kedua, h. 85.
F. Tinjauan Pustaka
Kajian tentang perayaan Ulambana dan Vihara di Indonesia telah banyak dilakukan. Berikut ini adalah hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian yang sedang peneliti lakukan.
Pertama, Krishnanda Wijaya Mukti (2003) mengkaji tentang
penyelenggaraan upacara Ulambana yang ditunjukan kepasa Buddha dan Sangha atas nama ketujuh generasi leluhur. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, pada zaman dinasti Tang, seorang Biksu Tantra menjelaskan bahwa Upacara Ulambana itu sebagai wujud pelimpahan jasa, kemudian dikembangkan menjadi suatu bentuk solidaritas sosial. Hingga sekarang upacara Ulambana yang di lakukan di Indonesia disebut Sembahyang Rebutan atau cioko, diikuti pembagian derma bagi masyarakat. Lebih lanjut Krishnanda menjelaskan dalam bukunya, upacara Ulambana juga dilatarbelakangi oleh sebuah cerita seorang anak yang telah memiliki kesempurnaan yang mampu melihat ibunya yang sudah meninggal menjadi hantu yang kelaparan, kemudian Ia tidak mampu membantu ibunya dan atas petunjuk sang Buddha, barulah Ia mampu menolong ibunya.
Kedua, penelitian yang dilakukanHerfin (2017) dalam skripsinya
yang berjudul ―upacara Ulambana dalam agama Buddha di Vihara Dharmakirti Palembang‖. Ia mengkaji tentang upacara Ulambana yang dimulai dengan ritual pembuka pintu setan. Ritual ini diyakini bahwa jika pintu setan itu dibuka, maka setan-setan kelaparan akan keluar dan memakan persembahan-persembahan yang telah disiapkan. Setan-setan tersebut diyakini adalah arwah leluhur yang telah meninggal kemudian
tumimbal-lahir kedalam setan kelaparan. Setelah pintu setan dibuka,
setan-setan tersebut diyakini bergentayangan di persimpangan jalan. Setan-setan kelaparan tersebut diyakini adalah arwah leluhur yang terlahir kembali atau tumimbal-lahir menjadi setan karena karma buruk yang dilakukan semasa hidupnya. Umat Buddha memberikan persembahan untuk setan-setan kelaparan agar dapat menikmati persembahan-persembahan tersebut. Berbeda dengan penelitian yang penulis lakukan, penulis melakukan penelitian di Ancol, sementara Herfin melakukan penelitian di Palembang. Kemudian penulis menggunakan pendekatan sosiologis dan antropologis guna lebih memerinci pembahasan Sembahyang Rebutan secara utuh.
Ketiga, Hotmaria J Purba (2017) dalam skripsinya yang berjudul
―Struktur Upacara Sembahyang Ulambana pada Masyarakat Tionghoa di Kota Medan‖. Ia menjelaskan bahwa, menurut masyarakat Tionghoa yang
bersembahyang di Vihara tersebut, adalah sebuah kewajiban melakukan upacara ritual sembahyang Ulambana atau penyelamatan arwah. Ia menjelaskan hasil penelitiannya bahwa upacara Ulambana ini diyakini untuk menghormati saudara atau kerabat mereka yang sudah meninggal baik tua ataupun muda. Meski demikian, mayoritas yang di hormati dominan orang tua mereka yang sudah meninggal. para saudara atau kerabat yang masih hidup harus melakukan sembahyang ini untuk menyelamatkan para arwah dari kehidupan di neraka agar tidak tersiksa di alam baka.
Keempat, Khairiah (2018) dalam bukunya yang berjudul ―agama
Buddha‖. Khairiah (2018) mengakji tentang upacara Ulambana yang di kutip dalam salah satu bab dari buku ini yaitu, Ulambana adalah perwujudan rasa hormat umat Buddha kepada leluhur mereka dan cinta kasih mereka kepada semua makhluk yang menderita di alam sengsara. Tidak banyak yang berbeda karena pada umumnya. Seorang pengikut Buddha melalui kekuatan meditasinya menemukan bahwa ibunya dilahirkan kembalidi alam sengsara.
Kelima, Dalam jurnal Livia Margarita, Audelia Christina, Sugiato
Lim, membahas Ulambana yang mana dalam perayaan ini, para pemeluk Buddha melakukan ritual upacara yang bertujuan mempersembahkan makanan kepada makhluk-makhluk yang telah meninggal dunia dan menolong mereka, baik yang masih meiliki hubungan keluarga maupun yang tidak ada hubungan keluarga, agar makhluk-makhluk tersebut dapat memperoleh makanan yang telah diberkahi dan juga sebagai pelimpahan jasa. Upacara ini juga sebagai sarana untuk menyatakan cinta kasih dan kasih sayang Sang Buddha dalam menolong para makhluk dari alam sengsara. Makna dari perayaan Hari Ulambana adalah pelimpahan jasa dan membalas budi kepada orang tua serta leluhur yang telah meninggal dunia.
Dari hasil tinjauan peneitian di atas, yang menjadi titik tolak dari peneitian yang penulis lakukan adalah mengenai makna perayaan ulambana secara kultur budaya masyarakat setempat, disisis lain ada kesamaan pada ritual persembahan makanan kepada para leluhur yang telah meninggal. Penelitian yang penulis lakukan ini ingin mengetahui lebih dalam lagi makna dan ritual Hari Suci Ulambana dalam aliran Tri Dharma. Selain itu penulis juga ingin meluruskan makna Ulambana yang sebenarnya, yaitu sebagai hari bakti terhadap leluhur bukan sebagai ―bulan hantu‖.
G. Sistematika Penulisan
Agar mempermudah dalam pembahasan struktur tesis ini maka, dari itu disusun sistematika penulisan bab per bab.
Bab I Pendahuluan, pada bab ini terdiri dari sepuluh sub bab yang terdiri dari: Latar Belakang Masalah, Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Kerangka Teori, Tinjauan Pustaka, dan Sistematika Penulisan.
Bab II Kebudayaan Sebagai Sistem Simbolik, bagian ini akan menguraikan tentang hubungan antara agama dengan budaya dalam suatu sistem makna simbolik
Bab III Gambaran Umum Perayaan Ulambana Di Bahtera Bhakti Ancol. Bagian ini akan menguraikan tentang sejarah perayaan Ulambana yang dijabarkan melalui Definisi apa itu Ulambana, Ritual perayaannya dari mulai persiapan, perlengkapannya, sampai kepada pelaksanaan dan tujuan dari perayaan Ulambana yang terjadi di ViharaBahtera Bhakti Ancol. Dan juga menguraikan Sejarahberdirinya dan letak geografis Vihara Bahtera Bhakti Ancol
Bab IV Makna Simbolik Perayaan Ulambana Di Vihara Bahtera Bhakti Ancol. Pada Bab IV ini akan menguraikan tentang apa makna dari simbol agama, juga makna simbol dari perayaan Ulambana di Vihara Bahtera Bhakti Ancol.
13
BAB II
AGAMA DAN KEBUDAYAAN SEBAGAI SISTEM SIMBOL
Pembahasan pada bab ini memaparkan tentang makna simbol dan agama sebagai sitem simbol. Penulis meminjam teori interaksionisme-simbolik Geoge Herbert Mead. Teori interaksi sosial dipandang sebagai simbol kebudayaan yang terjadi di masyarakat. Melalui kajian simbolik ini, manusia selalu bersinggungan dengan simbol untuk mengungkapkan apa yang mereka maksud, dan untuk berkomunikasi satu sama lain. Interaksi simbolik melahirkan nilai kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Pembahasan ini penting dilakukan guna mencari makna terdalam pada simbol yang melekat pada perayaan Sembahyang Rebutan/ulambana.
Teori yang telah penulis paparkan di atas ini bisa dipakai sebagai pisau analisis untuk menjelaskan mengenai apa yang akan diteliti. Dengan itu penulis menggunakan teori interaksionisme simbolik, teori ini untuk melihat bagaimana suatu hubungan yang terjadi secara alami antara manusia dalam masyarakat dan hubungan manusia dengan individu. Interaksi yang terjadi antar-individu berkembang melalui simbol-simbol yang mereka ciptakan. Lebih lanjut, pembahasan dimaksud akan dijabarkan di bawah ini.
A. Interaksionisme Simbolik
Menurut Mead, lingkungan akan membentuk diri dari tingkah laku manusia. Alam menyediakan pengalaman sosial bagi individu dan kelompok. Misalnya; Isyarat dalam sebuah ritual keagamaan, tepuk tangan, atau pun kata-kata, dapat dimengerti oleh masyarakat sebagai konfirmasi interaksi satu sama lain. Pemaknaan atas isyarat-isyarat itulah yang memunculkan tingkah laku tertentu dan akhirnya membentuk budaya komunal bagi kehidupan masyarakat.18
Lebih lanjut Mead memusatkan perhatiannya terhadap interaksi antara individu dan kelompok. Ia menemukan bahwa, orang-orang berinteraksi salah satunya menggunakan simbol-simbol yang mencakup benda, isyarat, dan yang paling penting ialah melalui kata-kata secara tertulis dan lisan. Manusia bereaksi terhadap dunia sekitar secara
18 Pip Jones, dkk alih Bahasa: Achmad Fedyani Saifuddin. Ed. Kedua,
langsung, mereka bereaksi terhadap makna yang mereka hubungkan dengan benda-benda dan kejadian-kejadian disekitar mereka.19
Melalui paradigma Interaksionisme-Simbolik yang dipelopori oleh George Herbert Mead (1863-1931), tentang pembentukkan self (diri). Ia berpandangan bahwa, manusia sebagai individu yang unik serta beragam, terbangun dari interaksi luar diri mereka. Misalnya, melalui interaksi sosial, anggota masyarakat terhubung satu sama lain, menciptakan pemahaman yang sama atas suatu kejadian, sehingga terbentuklah komunitas, keteraturan sosial, dan kebudayaan.
Mead terpengaruh oleh Max Weber dan Charles Darwin, kedua tokoh penting yang membentuk pribadinya dapat memahami kebudayaan melalui simbol-simbol sosial yang berlaku di masyarakat. Max Weber adalah seorang Sosiolog Jerman yang menekankan pada pentingnya situasi dari sudut pandang orang yang berada dalam situasi tersebut. Sedangkan Charles Darwin berpandangan bahwa organisme mampu melakukan komunikasi simbolik dan bekerja sama unutk memelihara pola-pola yang telah terbentuk dalam organisasi sosial di tempat mereka hidup. Berbeda dengan hewan, bahwa manusia dapat memaknai simbol-simbol, mengalami kesadaran tentang diri, mengambil peran atau sudut pandang orang lain, dan mengantisipasi reaksi orang lain.20
George Herbert Mead adalah salah satu pemikir yang turut berjasa dalam mengembangkan teori sosial. Ia mengabdikan diri mengajar di Universitas Chicago. Mead menulis banyak artikel yang dimuat di berbagai media, kemudian hasil dari tulisan artikelnya dibukukan dengan judul Mind, Self, Society. Buku ini merupakan kumpulan bahan kuliah yang diajarkan di Universitas Chicago.21
Lebih lanjut Mead mengatakan simbol-simbol yang mempunyai arti bisa berbentuk fisik, tetapi bisa juga dalam bentuk bahasa. Kemampuan untuk menciptakan dan menggunakan bahasa merupakan hal yang
membedakan manusia dari binatang. Guna mempertahankan
keberlangsungan suatu kehidupan masyarakat sosial, maka diperlukan keseragaman makna dan keseragaman bahasa. Proses-proses berfikir,
19
Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama, (Jakarta: Ghalia Indonesia dan UMM Press, 2002), h. 13-14.
20 Eko A. Meinarno, dkk, Ed. Kedua, Manusia dalam Kebudayaan dan
Masyarakat: Pandangan Antropologi dan Sosiologi, (Jakarta: Salemba Humanika,
2011), h. 267.
21 Bernard Raho, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher,
beraksi, dan berinteraksi menjadi mungkin karena simbol-simbol yang penting dalam kelompok sosial itu mempunyai arti yang sama dan membangkitkan reaksi yang sama pula.22
Tentang diri (Self), George melihatnya pada dualisme makna; diri sebagai subjek sekaligus diri sebagai objek. Diri sebagai subjek ditandai oleh George dengan huruf ―I‖, sedangkan diri sebagai objek adalah ―Me‖. ―I‖ merupakan aspek diri yang bersifat non-reflektif. Dia merupakan respon terhadap suatu perilaku aktual tanpa refleksi atau pertimbangan. Jadi, jika ada semacam aksi, dia langsung bereaksi tanpa melibatkan pikiran atau pertimbangan. Tetapi apabila di antara aksi dan reaksi itu ada sedikit pertimbangan, pikiran, atau refleksi, maka pada waktu itu ―I‖ telah menjadi ―Me‖.23
Argumentasi Mead kemudian ditelaah lebih lanjut oleh Herbert Blumer hingga kemudian muncul istilah Interaksionisme-Simbolik. Terdapat tiga premis mendasar dari interaksionisme-simbolik. Pertama, manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki
sesuatu tersebut. Kedua, sesuatu memperoleh makna dan
memunculkannya melalui interaksi sosial. Ketiga, makna dipahami dan dimodifikasi melalui proses interpretatif yang digunakan manusia ketika berhadapan dengan objek.24
Kemudian teori interaksi simbolik digunakan pertama kalinya oleh Herbert Blumer, yang pada dasarnya merupakan satu perspektif psikologi sosial. Perspektif ini memusatkan perhatiannya pada analisis hubungan antar-pribadi. Individu dipandang sebagai pelaku yang menafsirkan, menilai, mendefinisikan, dan bertindak. Dengan demikian, istilah ini digunakan pertama kalinya oleh Blumer, dan dalam kenyataannya, beberapa pemikir sebelum dia telah memberikan sumbangan penting bagi perkembangan perspektif ini. Karena itu sedikit diuraikan pemikiran teori ini sebelum Blumer.25
Herbert Blumer lebih menjabarkan pemikirannya Mead, menurutnya inti dari interaksionisme-simbolik ada tiga, yaitu manusia bertindak (act), terhadap sesuatu (thing), berdasarkan makna (meaning) yang dimiliki oleh sesuatu (Sunarto, 2004). Penganut Tri Dharma (Buddha, Konghucu, Tao) memandang perayaan Ulambana merupakan sebuah acara sakral dan
22 Bernard Raho, Teori Sosiologi Modern, h. 99-101. 23 Bernard Raho, Teori Sosiologi Modern, h. 102-104. 24
Eko A. Meinarno, dkk, Ed. Kedua, Manusia dalam Kebudayaan, h. 269.
25 Bernard Raho, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher,
sangat penting bagi agama mereka, akan berbeda menurut pandangan agama atau aliran lain seperti agama Yahudi atau Buddha Theravada.26 Agama-agama memiliki tradisi berbeda-beda meski secara kebudayaan sama, namun penamaan ritual saja yang berbeda.
Menurut Blumer, inti dari interaksionisme simbolik yang kedua ialah makna terbentuk, dipertukarkan, dan dipelihara melalui interaksi sosial antarindividu. Dengan demikian, makna yang dipahami seseorang tentang sesuatu akan membuat orang tersebut bertingkah laku tertentu. Orang yang berbeda dapat memberi makna yang berbeda terhadap sesuatu yang sama, tergantung pula interaksi sosial yang dialami selama ini terhadap sesuatu itu, atau orang yang sama dapat memberi makna yang berbeda pada sesuatu yang sama namun pada situasi berbeda, tergantung interaksi sosial yang biasa terjadi pada situasi tersebut. Betapa pentingnya interaksi sosial dalam membentuk tingkah laku individu. Yang ketiga, makna diberlakukan atau diubah melalui proses penafsiran (interpretasi) oleh individu dalam setiap situasi. Jadi, makna yang muncul dari interaksi tidak selalu diterima individu, namun diinterpretasi dahulu. Misalnya, seseorang yang sedang melakukan penelitian tidak akan langsung menerima makna yang dilihatnya, akan tetapi menafsirkan terlebih dahulu sesuatu yang sedang dilihatnya.27
Interaksionisme-Simbolik merupakan kerangka teori mikro yang berada dan menjadi salah satu teori dalam sosiologi. Sebagai suatu perspektif tingkat mikro, Interaksionisme-Simbolik memfokuskan diri pada pola interaksi individu. Interaksionisme-Simbolik ini juga di pengaruhi oleh William James (seorang Psikolog Amerika) yang
mengembangkan konsep “Self” diri secara jelas. Menurut
Interaksionisme-Simbolik, konsep “Self” pada diri manusia sangat berbeda dengan binatang, manusia tidak hanya merespon secara pasif rangsangan di lingkungannya, namun secara aktif menciptakan dunia sosialnya. Kehidupan sehari-hari terdiri atas ―tindakan-tindakan sosial‖ yang dipertunjukkan individu sebagaimana mereka mengartikan dan menghubungkan makna simbolik pada ―objek sosial‖ di sekitarnya yang meliputi orang lain.28
Dinamika tersebut bisa dilihat secara utuh dalam tataran konsep komunikasi, yang secara sederhana dapat dilihat bahwa komunikasi pada
26 Eko A. Meinarno, dkk, Ed. Kedua, Manusia dalam Kebudayaan, h. 175. 27
Eko A. Meinarno, dkk, Ed. Kedua, Manusia dalam Kebudayaan, h. 176.
28John Scott (Edit.), Sosiologi: The Key Concept, Peterj.: Tim Penerjemah
hakikatnya merupakan suatu proses interaksi simbolik antara pelaku komunikasi (antara komunikan dan komunikator), proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan non-verbal.29 Terjadi pertukaran pesan (yang pada dasarnya terdiri dari simbol-simbol tertentu) dari komunikator kepada pihak lain yang diajak berkomunikasi melalui media tertentu yang menimbulkan efek. Efek tersebut akan dapat diketahui ketika simbol-simbol tersebut telah dipadukan penggunaannya yang meliputi unsur pikiran dan perasaan individu tersebut. Oleh karena itu, pertukaran pesan tidak hanya dilihat dalam rangka transmisi pesan, tetapi juga dilihat dalam pertukaran cara berfikir, dan tercapainya suatu proses pemaknaan. Komunikasi pada konteks ini merupakan proses interaksi simbolik dalam bahasa (language) tertentu dengan perasaan dan cara berfikir untuk pencapaian pemaknaan tertentu, di mana semua aspek tersebut terkonstruksikan secara sosial.30
Jadi sisi faktual yang ada adalah interaksi pertukaran simbol dengan perasaan dan cara berfikir yang terkonstruksi secara sosial tersebut tidak bisa dipisahkan dari peran bahasa sebagai mediumnya. Bahkan dalam komunikasi tidak hanya meliputi proses penghamburan simbol dan transmisi budaya, namun ia juga mampu untuk membangun keintiman hubungan, seperti dialog, sosialisasi, dan penciptaan komunitas.
Karena itu, interaksionisme simbolik merupakan salah satu di antara beberapa perspektif atau teori sosial yang memiliki akar teori dalam berbagai disiplin ilmu. Dari diskursus tersebut, jelas bahwa interaksionisme simbolik tidak hanya terpancar pada satu disiplin ilmu, yaitu; sosiologi tetap. Ia juga memiliki akar teori pada beberapa disiplin ilmu seperti, psikologi dan ilmu komunikasi. Hal ini dapat dilihat esensi dari interaksionisme simbolik yang mempelajari aktifitas (interaksi) yang diberi makna melalui proses “penerjemahan” dan “pendefinisian” dalam diri masing-masing komunikator dan komunikan. Proses interaksi sosial yang dilakukan tersebut didefinisikan dengan berlandaskan pada tiga acuan, yaitu: tindakan sosial bersama, bersifat simbolik, dan melibatkan pengambilan peran. Maksudnya, dalam proses ini memiliki ruang yang
29 Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif: suatu pendekatan lintasbudaya,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), h. 3.
30 Uchjana Effendy Onong, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktik, (Bandung:
sangat besar bagi manusia untuk mengkonstruksi seluruh realitas kehidupannya.31
Interaksionisme simbolik memfokuskan pada interaksi sosial manusia (perilaku manusia) yang dilihat sebagai suatu proses pada diri manusia
untuk membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan
mempertimbangkan ekspresi orang lain yang menjadi mitra interaksinya. Definisi yang dikontruksi oleh mereka dan diberikan kepada orang lain, situasi, objek, atau bahkan kepada diri mereka sendiri yang menentukan perilaku mereka. Karena itu, perilaku manusia tidak dapat digolongkan sebagai bentuk kebutuhan, dorongan simpul, tuntutan budaya, atau tuntutan peran, melainkan tindakan mereka hanya didasarkan pada definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka sendiri. Frame ini yang akan memunculkan kerangka referensi untuk memahami manusia sebagai individu, manusia bersama dengan orang lain atau manusia sebagai makhluk sosial, ketika manusia menciptakan dunia simbolik, dan cara faktual dalam membentuk perilaku manusia itu sendiri. Secara garis besarnya bahwa interaksionisme simbolik berusaha untuk memahami kehidupan bermasyarakat yang terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antara individu dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahaminya. Tindakan individu dalam proses interaksi yang dipahami maksudnya bukan hanya sebagai tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus yang datang dari lingkungan luar, akan tetapi tindakan individu dipahami sebagai hasil dari penerjemahan dan pendefinisian terhadap simbol-simbol yang muncul.32
Esensi interaksionisme simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol (lambang) yang diberi makna. Simbol (lambang) dan makna merupakan dua entitas yang sama-sama tidak bisa dipisahkan. Dua entitas ini telah menjadi varian penting ketika diri (Self) sang aktor melakukan interaksi dengan aktor lain. Oleh karena itu, simbol yang ada dalam bahasa menghasilkan tanda yang maknanya sama, kalaupun itu tidak terjadi dalam menunjuk satu hal maka akan menunjuk makna lain yang hanya bisa diwujudkan oleh dan dari internal organisasinya sendiri. 33
Simbol (lambang) merupakan media yang digunakan oleh seseorang untuk menyampaikan pikiran atau perasaannya kepada orang lain. Simbol
31 Umiarso dan Elbadiansyah, Interaksionisme Simbolik: Dari Era Klasik
Hingga Modern, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 7.
32 Umiarso dan Elbadiansyah, Interaksionisme Simbolik., h. 8-9. 33 Umiarso dan Elbadiansyah, Interaksionisme Simbolik., h. 186-187.
dalam perspektif ini didefinisikan sebagai objek sosial yang digunakan untuk mempresentasikan apapun yang disepakati untuk dipresentasikan. Dengan demikian, simbol merupakan media primer dalam proses komunikasi dapat berupa, bahasa, isyarat, gambar, warna, dan lainnya. Namun simbol dalam bentuk bahasalah yang paling banyak dipergunakan dalam proses komunikasi. Karena hanya bahasalah yang hanya mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain. Simbol bisa dikatakan sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain oleh asosiasi, kemiripan, atau konvensi, terutama objek materiil yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang tak terlihat yang didalamnya ada beberapa konsep-konsep yang mengekspresikan sesuatu yang lain. Tetapi simbol tidak sama dengan tanda, simbol merupakan ekspresi terbatas dengan banyak makna, menunjuk ke sesuatu yang tidak mudah didefinisikan dan karena itu tidak sepenuhnya diketahui. Tapi tanda selalu memiliki arti tetap, karena merupakan singkatan konvensional untuk, atau indikasi yang diterima secara umum, sesuatu yang diketahui.34
Menurut Geertz (1973:88) Simbol-simbol yang dimiliki manusia terdapat suatu golongan yang merupakan suatu sistem tersendiri yang dinamakan sebagai simbol-simbol suci yang bersifat normatif dan mempunyai kekuatan yang besar dalam pelaksanaan sanksi-sanksinya disebabkan simbol-simbol suci tersebut merupakan etos (ethos) dan pandangan hidup (world view). Unsur hakiki bagi eksistensi manusia dan juga karena simbol-simbol suci terjalin dalam simbol-simbol lainnya yang digunakan dalam kehidupan sehari-harinya yang nyata.
Lebih lanjut Geertz, melakukan kajian mengenai agama, mitos dan upacara sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kehidupan sosial di masyarakat, dimana simbol menjadi kendaraan yang mengantarkan kepada pemahaman seseorang (the vehicle of meaning). Menurut Geertz (dalam Saifudin, 2004 :288) Memandang simbol-simbol adalah garis-garis penghubung antara pemikiran manusia dengan kenyataan yang ada di luar, dengan pemikiran harus selalu berhubungan atau berhadapan; ada dalam hal ini pemikiran manusia dapat dilihat sebagai ―suatu bentuk sistem lalu lintas dalam bentuk simbol-simbol yang signifikan‖. Dengan demikian sumber dari simbol-simbol itu ada dua, yaitu; (1) yang berasal dari kenyataan luar yang terwujud sebagai kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi; dan (2) yang berasal dari dalam dan yang terwujud melalui konsepsi-konsepsi dan
struktur-struktur sosial. Dalam hal ini simbol-simbol menjadi dasar bagi perwujudan model bagian dari sistem-sistem konsep dalam suatu cara yang sama dengan bagaimana agama atau keyakinan mencerminkan dan mewujudkan bentuk-bentuk sistem sosial.
Interaksi yang dilakukan antar-individu itu berlangsung secara sadar. Interaksi simbolik juga berkaitan dengan gerak tubuh, antara lain suara atau vocal, gerakan fisik, ekspresi tubuh, yang semuanya itu mempunyai maksud dan disebut dengan ―simbol‖. Dari simbol yang muncul dari individu merupakan cara mereka berinteraksi sesama individu ataupun masyarakat yang nantinya akan terjadi interaksi sosial. Dan dalam interaksi sosial yang terjadi dalam perayaan Ulambana di Vihara Bahtera Bhakti ini menimbulkan sikap toleransi terhadap umat yang berbeda agama, sehingga memunculkan solidaritas individu yang berbeda agama tersebut yang menjadikan mereka menjadi kerabat dekat karena setiap tahun mereka mengikuti perayaan Ulambana, bahkan setiapkali ibadah bagi mereka yang melakukannya secara rutin.
B. Agama Sebagai Suatu Sistem Makna Simbolik
Ketika berbicara tentang makna, kebanyakan menganggap bahwa hal itu sesuatu yang bersifat pribadi, satu ide yang terdapat dalam diri seseorang. Tapi bila dipikirkan lebih dalam lagi akan nampak jelas bahwa ternyata makna juga tidak selalu seperti itu. Menurut Daniel L. Pals,
“Saya tidak bisa mengedipkan mata kepada anda hanya sebatas privasi saya, kecuali terdapat sesuatu yang publik, sebuah konteks makna yang sama-sama kita miliki yang menyebabkan anda bisa memahami arti kedipan yang saya lakukan kepada anda”. Oleh karena itu, dapat disadari
bahwa kebudayaan masyarakat tertentu saling berbagi konteks makna ini. Atau ungkapan Greetz ―kebudayaan itu secara sosial terdiri dari struktur-struktur makna dalam term-term berupa sekumpulan tanda yang dengannya masyarakat melakukan satu tindakan, mereka dapat hidup di dalamnya atau pun menerima celaan atas makna tersebut dan kemudian menghilangkannya.35
Dalam hubungan agama dengan budaya, doktrin agama yang merupakan konsepsi tentang realitas, harus berhadapan dengan realitas, bahkan berurusan dengan perubahan sosial. Dalam perspektif sosiologis, agama dilihat dari fungsinya dalam masyarakat. Salah satu fungsi itu ialah
35 Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, penerjemah, Inyiak Ridwan Muzir
memelihara dan menumbuhkan sikap solidaritas di antara sesama individu atau kelompok. Solidaritas merupakan bagian dari kehidupan sosial keagamaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat beragama. Atau solidaritas merupakan ekspresi dari tingkah laku manusia beragama. Banyak penulis mengikuti kembali pandangan Durkheim yang menyatakan bahwa fungsi sosial agama adalah dukungan dan melestarikan masyarakat yang sudah ada. Agama bersifat fungsional terhadap persatuandansolidaritas sosial. Oleh karena itu, masyarakat memerlukan agama untuk menopang persatuan dan solidaritasnya.36
Demikian pula, agama dipandang sebagai sistem yang mengatur makna dan nilai-nilai dalam kehidupan manusia yang digunakan sebagai titik referensi bagi seluruh realitas. Dengan demikian baik dalam konteks budaya maupun dinamika kehidupan masyarakat, peran agama sangat menonjol. Oleh karena itu Geertz orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah sistem budaya. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu sistem yang mampu mengubah suatu sistem tatanan masyarakat. Geertz berkeyakinan bahwa agama adalah sistem budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat. Ia mendefinisikan agama sebagai simbol untuk suatu kendaraan dalam menyampaikan suatu konsepsi tertentu. Norma atau nilai keagamaan harusnya diinterpretasikan sebagai sebuah simbol yang menyimpan konsepsi tertentu.
Dalam menyampaikan suatu konsepsi, simbol memiliki peranan yang sangat penting. Simbol sendiri dapat berupa kata, angka, gestur tubuh yang bermakna, dan lain sebagainya. Seperti layaknya kalimat, suatu simbol dapat langsung dibaca maknanya, namun simbol tidak selalu berdiri sendiri sehingga maknanya dapat dibaca saat simbol tersebut muncul bersamaan dengan simbol-simbol yang lain. Geertz dengan jelas telah mendefinisikan bahwa kebudayaan merupakan suatu sistem makna dan simbol yang disusun di mana individu-individu mendefinisikan dunianya, menyatakan perasaannya, dan memberikan penilaian-penilaiannya.37
Suatu pola makna yang ditransmisikan secara historik yang diwujudkan kedalam bentuk-bentuk simbolik melalui sarana di mana orang-orang mengomunikasikan, mengabadikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikap-sikapnya kearah kehidupan. Karena kebudayaan
36
Adeng Muchtar Ghazali, Antropologi Agama: Upaya Memahami
Keragaman, Kepercayaan, Keyakinan, dan Agama, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 33.
merupakan suatu sistem simbolik, maka dari itu proses budaya haruslah dibaca, diterjemahkan, dimaknai, dan diinterpretasikan. Asumsi dari kebudayaan sebagai sistem simbolik yaitu, budaya terdiri atas simbol-simbol yang dimiliki dan telah disepakati bersama oleh anggota suatu masyarakat, tergantung pada persepsi seseorang dalam mengartikan atau menginterpretasikan makna dari simbol-simbol tersebut.
C. Kebudayaan Sebagai Suatu Sistem Makna Simbol
Terlalu sering kita mendengar kalimat atau kata budaya yang sudah barang tentu hampir semua peneliti baik kebudayaan suku tertentu maupun peneliti antropologis dan sosiologis menyinggung bahkan memberikan definisi tentang budaya. Untuk lebih jelasnya penulis sajikan makna budaya oleh para pakar budaya yang ahli di bidangnya. kata budaya berdasarkan makna umumnya berasal dari bahasa sanskerta yaitu ―buddayah‖ bentuk jamak dari ―buddhi‖ atau ―akal‖, jadi secara gambaran umum budaya merupakan cerminan dari perilaku dan akal manusia.
Sebagaimana pendapat Koentjaraningrat, kata budaya atau
kebudayaan itu paling sedikit mempunyai tiga unsur pokok diantaranya (1) ide atau gagasan, (2) interaksi atau aktifitas, dan (3) karya manusia.
Kesimpulannya bahwa budaya atau kebudayaan dalam opini
Koentjaraningrat merupakan keseluruhan gagasan, cipta, rasa dan karya manusia. Tentu cipta rasa dan karya manusia itu dibutuhkan pembelajaran supaya menghasilkan karya. Ide atau gagasan sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Bertempat dalam otak manusia lebih dalam lagi berada dalam alam pikiran manusia dimana kebudayaan itu hidup. Manusia tidak luput dari singgungan yang sifatnya gotong royong dengan masyarakat lainnya. Aktivitas-aktivitas yang dibangun dari detik ke detik, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun mengikuti pola berdasarkan adat-istiadat setempat. Sistem itu kongkret, terjadi di sekeliling kita. Hasil dari sebuah ide atau gagasan yang melahirkan interaksi, aktifitas sedemikian terpola dapat menghasilkan karya yang luar biasa pula.
Ketiga wujud dari kebudayaan tersebut tentu tidak terpisah satu dengan lainnya. Definisi diatas hanya sebagian dari definisi-definisi yang pernah disampaikan oleh para pakar diatas kertas. Dari saking luasnya penggambaran dari kebudayaan sehingga seolah-olah tidak dapat dibatasi arti dari kebudayaan. Disebutkan oleh Koentjaraningrat dari 179 definisi yang pernah dirumuskan diatas kertas tentang konsep kebudyaan itu, tidak hanya oleh ahli antropologi, sosiologi, sejarah atau disiplin ilmu
lainnya, tetapi juga oleh ahli filsafat dan pengarang terkenal, A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn pernah mengumpulkan ke-179 definisi tersebut dan mereka mengklasifikasi lagi ke dalam tipe-tipe tertentu disertai dengan komentar dan kritik, yang mereka terbitkan dalam sebuah buku berjudul Culture, a Critical Review of Concepts and Definitions.
Kata ―Kebudayaan‖ buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari ―buddhi‖ yang berarti budi atau akal ini dapat pula diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Adapun istilah culture yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, mengolah tanah atau bertani. Dari asal arti tersebut, yaitu colere kemudian culture, diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.38 Seorang antropolog lain, yaitu E. B. Taylor (1871), memberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai berikut:
“Kebudayaan ialah kompleks yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.”39
Dengan kata lain, kebudayaan mencangkup semuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normativ. Artinya, mencangkup segala cara-cara dari pola-pola berfikir, merasakan, dan bertindak. Seorang yang meneliti kebudayaan tertentu akan sangat tertarik pada objek-objek kebudayaan seperti rumah, sandang, jembatan, alat-alat komunikasi, dan sebagainya. Seorang sosiolog akan menaruh perhatiannya pada hal tersebut. Namun, dia juga akan menaruh perhatian pada perilaku sosial, yaitu; pola-pola perilaku yang membentuk struktur sosial masyarakat. Jelas bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh peralatan yang dihasilkannya serta ilmu pengetahuan yang dimilikinya atau didapatkannya. Namun seorang sosiolog akan lebih menaruh perhatian pada perilaku sosialnya.40
38 Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Jakarta: Penerbit Universitas,
1965), h. 77-78.
39
EB Tylor, (1871), Primitive Culture, London. Haslam, Andrew, (2006)
40 Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, Sosiologi Suatu Pengan, h.