BAB II AGAMA DAN KEBUDAYAAN SEBAGAI
D. Agama dan kebudayaan sebagai suatu sistem simbolik
Sebelum masuk pada pembahasan agama dan kebudayaan sebagai suatu sistem simbolik, penulis sajikan pengertian yang dikemukakan oleh beberapa ahli antropologi terhadap agama.
1. Edward Burnett Tylor (1832-1917)
Agama tidak akan lepas dari kehidupan manusia, begitu sebaliknya agama selalu dalam ruang lingkup manusia baik secara personal maupun impersonal. Definisi pertama dikemukakan oleh Edward Burnett Tylor. Ia memandang asal mula agama adalah berdasarkan keyakinan manusia kepada suatu wujud spiritual (a belief in spiritual being). Agama digambarkan sebagai kepercayaan kepada yang gaib, yang supernatural, yang tidak tampak oleh mata kepala normal, yang berpikir, bertindak dan merasakan sama dengan manusia.
Bagi Tylor esensi agama tentu dapat juga dilekatkan kepada agama besar dunia, seperti agama Islam, Kristen, Budha, dan Hindu. Esensi agama digambarkan sebagai sebuah kepercayaan kepada wujud spiritual dimaksud adalah mengerucut kepada (Tuhan), bukan hanya untuk satu agama tertentu, tetapi Tuhan semua manusia yang percaya agama. Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan yang di Tuhankan manusia. Tuhan yang disakralkan dan disembah disetiap saat.
46 M. Roger Keesing. Jurnal Antropologi ―Teori-Teori Tentang Budaya‖ No.52.
2. Lucien Levy-Bruhl (1857-1945)47
Agama bagi Bruhl adalah pandangan dan jalan hidup masyarakat primitif. Agama dipandangnya sebagaimana halnya magi, tidak logis dan tidak rasional, sehingga agama primitif tidak akan pernah mampu mengantarkan kehidupan berkemajuan.
Cara berpikir orang primitif terlalu tunduk kepada sesuatu yang mengandung unsur mistik, dan masih pralogis. Orang primitif punya cara pandang tersendiri bukan berarti orang primitif tidak mampu berpikir secara jelas, hanya saja kebanyakan kepercayaannya tidak dapat disejajarkan dengan pandangan yang ilmiah. Proses ruhani masyarakat primitif mudah menghubungkan sesuatu yang tampak dengan yang tidak tampak. Misalnya, menginjak bayangan seseorang dianggap sama dengan menginjak orangnya. Proses jiwa orang primitif belum berkembang seutuhnya. Bisa saja mereka menganggap sesuatu berada pada suatu tempat dan sesuatu itu berada di tempat yang lain pula, seperti ruh dan Tuhan dapat dipercayai berada pada bermacam tempat dan waktu. Namun tidak menutup kemungkinan masyarakat modern bisa saja pola pikirnya sama dengan masyarakat primitif tersebut, yaitu pola pikir yang belum sempurna, dalam tahap berpikir yang berkemajuan. Manusia menikmati proses berpikir primitif menuju logis.
3. Jamez George Frazer (1854-1941)48
Bagi Frazer agama dijelaskan secara umum bahwa masyarakat beragama masih percaya kepada hal-hal yang diluar nalar kemampuan mata normal, sedangkan bagi manusia modern sudah mulai berpikir secara logis. Frazer hanya menekankan kepada apa yang telah disampaikan oleh pemikir sebelumnya, yakni Tylor, bahwa masyarakat
47 Levy-Bruhl adalah ahli di bidang sejarah dan filsafat Prancis, ia terkenal
berkat karya-karyanya mengenai kelompok primitif. Ia membantah teori Tylor yang berpikir bahwa masyarakat primitif berpikir abstrak. Bagi Bruhl tidak mungkin manusia berpikir abstrak. Proses jiwa primitif dengan jiwa modern berbeda sekali, jiwa modern didominasi oleh pikiran positif, sebaliknya primitif didominasi oleh pikiran negatif.
48 Di awal karirnya, disaat masih menjadi mahasiswa pada sastra Yunani dan
Romawi Klasik di Universitas Cambridge, Frazer adalah murid sekaligus penganut dari teori-teori yang dikembangkan oleh Tylor. Kemudian setelah itu ia mengerahkan perhatiannya pada bidang antropologi hingga pada akhirnya mampu mengemukakan suatu teori tentang animistik dalam versinya sendiri. Frazer berasal dari keluarga Kristen Protestan yang dibesarkan dalam keluarga Presbyterian Skotlandia yang taat dan watak yang keras. Lihat Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2012), 29-30
primitif memiliki kepercayaan kepada yang gaib. Sejatinya Frazer adalah murid dari Tylor, ia hanya meneruskan pendapat dari gurunya tersebut.
Religi dan magi cocok kepada masyarakat yang masih berpikiran pralogis. Sementara berpikir logis lebih cocok kepada manusia modern. Magi selalu dikembangkan oleh masyarakat primitif agar proses alam selalu berpihak kepada mereka dan lebih-lebih menguntungkan manusia. Untuk hidup lebih sempurna masyarakat primitif percaya penuh akan kekuatan doa. Mereka berdoa supaya keselamatan dan hambatan menyertai orang-orang beragama. Seperti berdoa agar gunung tidak meletus, tidak terjadi banjir, hujan tidak turun disaat masyarakat sedang melangsungkan perhelatan kebudayaan dan perhelatan lainnya. Semua harapan-harapan itu mereka tuangkan dalam bentuk doa, biasanya dipimpin oleh ahli magi dan kepala suku setempat.
4. Radcliffe-Brown (1881-1955)
Berdasarkan pemikiran diatas maka, bagi Radcliffe-Brown agama merupakan suatu ekpresi tentang kesadaran terhadap ketergantungan kepada kekuatan diluar kemampuan diri kita yang dapat disebut dengan kekuatan spiritual dan moral. Percaya kepada yang gaib dan maha gaib, jika dihayati dengan benar akan lebih meyakinkan kepada yang memercayainya lebih objektif dan lebih berorientasi kepada nilai kebenaran.
Berdasarkan apa yang telah dikemukanan oleh Radcliffe-Brown diatas, terlihat jelas perbedaan antara orang yang menjadikan pilihan hidupnya percaya kepada yang gaib sebagai tolok ukur kebenaran dengan orang yang tidak menggantungkan kepercayaan kepada yang gaib akan cenderung lebih konkret terhadap figur tertentu, organisasi, dan simbol keagamaan, sebagai tolok ukur kebenarannya. Sementara yang menggantungkan kepercayaannya kepada yang gaib akan lebih terbebas dari pengaruh organisasi atau masyarakat dari organisasi diluar kelompok mereka.
5. Mircea Eliade (1907-1986)49
Eliade merupakan anak dari seorang pegawai angakatan darat Rumania. Ia penulis produktif berpengetahuan luas, banyak pengalaman ilmiah luar negeri dan penulis fiksi. Di usianya yang mesih seumuran
49
Mircea Eliade dilahirkan di Bucharest pada tanggal 9 Maret 1907, anak seorang pegawai kemiliteran Rumania. Di masa kecilnya Eliade suka menyendiri, menyenangi sains, sejarah dan piawai dalam dunia kepenulisan.
jagung, yakni umur 18 tahun ia telah banyak menghasilkan puluhan karya, bahkan di hari istimewanya tersebut tak disangka ia telah membuat kerya tulis yang ke seratus. Merupakan pencapaian luar biasa di usianya yang begitu muda. Sangat produktif sekali dibidang tulis menulis. Hanya segelintir orang yang bisa membuat karya segitu banyaknya di usia remaja.
Dalam mengartikan makna atau definisi sebuah agama, titik tekan Eliade terhadap agama sebenarnya fokus kepada persoalan sakral dan profan. Lagi-lagi teori ini bukan semata dari Eliade, teori sakral dan profan ia pinjam dari teorinya Emile Durkheim, tapi esensinya bukan persoalan klan atau hubungan kekeluargaan dan sosial yang ia angkat, lebih dekat dan lebih setuju kepada teorinya Tylor dan Frazer, yaitu persoalan yang menyangkut hal-hal gaib, supernatural, dan suatu keabadian.
6. Edward E.E Evans-Pritchard (1902-1973)
Bagi Edward E. E. Evan-Pritchard bahwa agama dipandangnya sebagai sebuah kepercayaan kepada kekuatan alam. Ada satu ungkapan yang penulis tertarik dari pandangan Evan. Bahwa ia mengatakan ―perbedaan masyarakat primitif dan modern bukan terletak dari bodoh atau tidaknya, terbelakang dan majunya, tetapi terletak pada kebudayaan masing-masing yang berbeda.‖ Oleh karena itu, masyarakat primitif tidak dapat dikatakan lebih bodoh dari masyarakat modern atau lebih terbelakang. Keduanya sama-sekali berada dalam lautan kebudayaan yang berbeda. Bisa saja masyarakat modern lebih terbelakang dari masyarakat primitif.
Magi atau sihir itu didasarkan kepada kepercayaan bahwa kegagalan itu karena adanya kekuatan lain yang memengaruhi kekuatan hukum alam sehingga hukum alam tidak berpihak kepada masyarakat primitif. Sebagai contoh kenapa hanya saya yang terserang penyakit? Biasanya mereka mencari jawaban karena ada pihak lain atau ada kekuatan magi yang mengontrolnya. Untuk mengatasinya mereka datang ke tukang sihir, dukun atau ahli magis lain meminta bantuan. Jika gagal, tandanya kekuatan magi yang ingin dikalahkan lebih besar kekuatannya dari dukun yang diminta bantuan. Karena itu, Evan-Pritchard mengatakan bahwa logika magi itu sangat cerdas dan tepat untuk menghadapi masalah sehari-hari bagi kaum primitif. Sedangkan manusia modern ketika menghadapi persoalan yang menimpa dirinya ia akan pergi ke dokter yang sama-sama melihat keadaan secara rasional.
7. Clifford Geertz (1926-2006)
Sebagaimana pendapat pakar di atas mengenai agama, penulis perlu memadukan semua pendapat untuk adanya perbandingan dengan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya, salah satunya dapat memperngaruhi pikiran Geertz sekaligus berstatus sebagai gurunya semasa aktif kuliyah di
Harvard University, berangkat dari Tylor seorang Geertz
mengembangkan kerangka berpikirnya mengenai agama dan budaya. Dari kesekian pendapat yang telah diuraikan di atas, Geertz memandang orang beragama berdasarkan pengalaman pribadi pemeluk agamanya, bukan melihat dari kacamata dirinya. Orang Jawa meyakini agama sesuai kemampuan nalar berpikir dan oleh tuntutan dari misi agama tersebut. Lahirlah tiga konsep keberagamaan orang Jawa (1) abangan, yang merepresentasikan pada aspek animisme, dalam perspektif Geetz melingkupi elemen petani; (2) santri, mewakili penekanan pada aspek sinkretisme dan umumnya Geertz menghubungkan dengan elemen pedagang; dan (3) priyayi, menekankan pada aspek Hinduisme, oleh Geertz dilogongkan dalam elemen birokrat. Tentu semua elemen yang terkategorikan itu berdasarkan terapan yang diciptakan sendiri oleh orang Jawa. Ketiga unsur elemen mencerminkan cara orang Mojokuto (Pare) memahami situasi yang ada. Agama dijelaskan dengan kalimat panjang, padat dan jelas. Geertz mengatakan dalam bukunya Thick Description, agama merupakan sistem simbol yang bertujuan untuk melahirkan motivasi kuat, dengan membentuk tatanan eksistensi umum yang berdasarkan fakta dan pada akhirnya perasaan dan motivasi itu akan terlihat sebagai realitas yang unik.
Clifford Geertz yang ia bandingkan studinya tentang Islam di Jawa dan Maroko, karena studinya cukup kompleks, maka ia melihat agama sebagai
―(1) sebuah sistem simbol berlaku untuk (2) menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, meresap dan tahan lama dalam diri manusia dengan (3) merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi dan (4) membingkai konsep-konsep secara faktual, sehingga (5) suasana hati tampak khas dan realistik‖.
Dengan demikian Geertz mampu menangkap makna yang dalam di kalangan masyarakat yang ditelitinya. Tampak definisi Geertz tentang agama berbeda sekali dengan definisi Comte, Frazer maupun Karl Marx. Ia memang tidak mendefinisikan agama secara umum tetapi ia
mendefinisikan agama berdasarkan apa yang dihayati oleh masyarakat penganut agama yang bersangkutan.
Geertz membandingkan Islam di Indonesia dan di Maroko. Secara syariat Islam di Indonesia dan Maroko sama. Di Indonesia Islam berkembang secara gradual, liberal, dan akomodatif. Di Maroko Islam berkembang lebih perfeksionis, puritan dan tak kenal kompromi. Di Indonesia ada kebatinan, ketenangan, kesabaran, keseimbangan, peniadaan diri, elitisme, dan sensibilitas. Di Maroko ada aktifisme, semangat, keberanian, moralisme, dan penegasan diri.
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh para ahli yang melihat agama sebagai bagian dari sistem kebudayaan, tampak adanya beberapa tipologi kajian yang digunakan, salah satunya adalah tipologi dari pemikiran Geertz lebih kepada memandang hubungan antara tradisi Islam dan lokal bernuansa sinkretisme. Di mana fokus pemikiran Geertz lebih kepada penduduk pedalaman. Yang mana dalam bukunya, The Religion of Java menggambarkan mengenai sinkretisme antara budaya Jawa, Islam, Hindu dan Budha yang dikonsepsikan sebagai agama Jawa.
Pembahasan mengenai agama oleh para ahli di atas kiranya masih belum tuntas bila tidak disandingkan dengan simbol-simbol yang melingkupinya. Penggunaan simbol terlihat sangat jelas dalam tradisi dan adat istiadat orang Indonesia. Bahkan, menurut sebagian intelektual, penggunaan simbol merupakan salah satu ciri yang menonjol dalam kebudayaan seseorang. Ini barang kali karena simbol menyimpan daya magis lewat kekuatan abstraknya untuk membentuk dunia melalui pancaran makna. Kekuatan simbol mampu menggiring siapapun untuk mempercayai, mengakui, melestarikan atau mengubah persepsi hingga tingkah laku orang dalam bersentuhan dengan realitas. Daya magis simbol tidak hanya terletak pada kemampuannya merepresentasikan kenyataan, tetapi realitas juga direpresentasikan lewat penggunaan logika simbol.50
Simbol-simbol religius, misalnya sebuah salib, bulan sabit atau seekor ulat berbulu, yang dipentaskan dalam ritus-ritus atau yang dikaitkan dengan mitos-mitos, entah dirasakan, bagi mereka yang tergetar oleh simbol-simbol itu, meringkas apa yang diketahui tentang dunia apa adanya. Simbol-simbol sakral lalu menghubungkan sebuah ontologi dan sebuah kosmologi dengan sebuah estetika—moralitas. Kekuatan khas simbol-simbol itu berasal dari kemampuan mereka yang dikira ada untuk
50 Fauzi Fashri, Penyingkapan Kuasa Simbol, Apropriasi Reflektif Pemikiran
mengidentifikasi fakta dengan nilai pada taraf yang paling fundamental, untuk memberikan sesuatu yang bagaimanapun juga bersifat faktual murni, suatu muatan normatif yang komprehensif.51 Bahasa simbol mempunyai peranan penting dalam kehidupan keseharian masyarakat dan dalam kehidupan beragama. Bahkan, seperti diungkapkan Ernest Cassier, bahwa manusia dalam segala tingkah lakunya banyak dipengaruhi oleh simbol, sehingga manusia disebut sebagai hewan yang bersimbol (animal
simbolicum).52
Apabila kita berbicara tentang kebudayaan maka kita akan langsung berhadapan dengan makna dan arti tentang budaya itu sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak para ilmuwan yang sudah menfokuskan kajiannya untuk mempelajari fenomena kebudayaan yang ada di masyarakat, salah satunya Clifford Geertz. Secara umum kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.53 Clifford Geertz dalam bukunya, Mojokuto: Dinamika Sosial Sebuah Kota di Jawa, mengatakan bahwa budaya adalah suatu sistem makna dan simbol yang disusun dalam pengertian dimana individu-individu mendefinisikan dunianya, menyatakan perasaannya dan memberikan penilaian-penilaiannya. Suatu pola makna yang ditransmisikan secara historis, diwujudkan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui sarana dimana
orang-orang mengkomunikasikan, mengabdikan, dan mengembangkan
pengetahuan, karena kebudayaan merupakan suatu sistem simbolik maka haruslah dibaca, diterjemahkan dan diinterpretasikan.54
Sedangkan konsepsi tentang agama dan budaya lebih mendalam dikemukakan oleh Clifford Geertz. Ia menyatakan bahwa agama, sebagai sistem kebudayaan, tidak terpisah dengan masyarakat. Agama tidak hanya seperangkat nilai yang tempatnya diluar manusia tetapi agama juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem simbol yang mungkin terjadinya pemaknaan.55 Dari berbagai bidang yang merupakan lahan
51 Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, terj. Francisco Budi Hardiman
(Yogyakarta: Kanisius, 1992), h. 50.
52
Ernest Cassier, Manusia dan Kebudayaan, terj. Alois A. Nugroho (Jakarta: Gramedia, 1990), h. 41.
53 Koentjaraningrat. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 9.
54
Tasmuji, dkk. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, h.154.
kajian Clifford Geertz (mulai dari agrikultur, ekonomi, ekologi, pola-pola hubungan kekerabatan, sejarah, politik negara-negara berkembang, dan lain-lain), agama merupakan bidang yang paling menarik perhatian Clifford Geertz, yang menurutnya salah satu elemen terpenting dalam kebudayaan.
Sebagaimana Clifford Geertz menganjurkan pendekatan interpretatif terhadap studi-studi ilmu sosial umumnya (termasuk studi kebudayaan), Clifford Geertz juga menganjurkan pendekatan ini untuk meneliti agama, dan merupakan pelopor penerapannya. Pada waktu kita melihat dan memperlakukan agama sebagai kebudayaan maka yang kita lihat adalah agama sebagai keyakinan yang hidup yang ada dalam masyarakat manusia, dan bukan agama yang ada dalam teks suci, yaitu dalam kitab suci al-Qur‘an dan Hadis Nabi. Sebagai sebuah keyakinan yang hidup dalam masyarakat, maka agama menjadi bercorak local, sesuai dengan kebudayaan dari masyarakat tersebut.
Dengan demikian, bahasa simbol memang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia. Karena, kehidupan beragama atau keyakinan religius adalah kenyataannya hidup manusia yang ditemukan sepanjang sejarah masyarakat dan kehidupan pribadinya. Ketergantungan individu kepada kekuatan gaib ditemukan dari zaman purba sampai ke zaman modern ini. Bahasa simbol adalah sarana untuk mengenal yang kudus dan yang transenden.56
Dari uraian tersebut, jelas bagaimana kedudukan simbol dalam agama (religi), yaitu sebagai alat atau perbuatan untuk melakukan upacara keagamaan (religius). Kedudukan simbol dan tindakan simbolis dalam religi merupakan penghubung antara komunikasi human-kosmis dan komunikasi religius lahir dan batin. Simbol merupakan unsur penting karena agama adalah media hubungan dengan suprabeing yang membutuhkan usaha manusia setinggi tingginya. Seperti definisi agama yang dicetuskan oleh Max Muller yang mengatakan usaha untuk memahami apa apa yang tak dapat dipahami dan untuk mengungkapkan apa yang tak dapat diungkapkan, sebuah keinginan kepada sesuatu yang tidak terbatas.
Dibalik irasionalitasnya itu, simbol dapat dilihat pada banyak ritus keagamaan, karena dengan memaknai hal-hal simbolik maka aspek aksidentalis dalam agama akan terpenuhi sehingga tujuan keagamaan akan mudah tercapai. Pembentukan simbol dalam agama ini adalah kunci
56 Bustanuddin Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia: Pengantar
yang membuka pintu pertemuan antara kebudayaan dan agama, karena jika kebudayaan diartikan sebagai sistem simbol maka ia akan mempunyai makna yang sangat luas. Semua objek apapun tentang hasil kebudayaan yang memiliki makna dapat disebut simbol.
Karena agama tidak mungkin dipikirkan tanpa simbol, misalnya simbol dalam liturgi yang dimaknai bukan sebagai simbol yang kosong atau sekedar penunjuk jalan saja, tetapi merupakan simbol suci, yang berdaya guna, yakni simbol yang melaksanakan dan menghadirkan secara efektif apa yang dilambangkan itu. Yang artinya semua unsur yang dilaksanakan dan diwujudkan dalam segala aktivitas dalam ibadah bercorak simbolis.
Biasanya sesuatu yang sakral adakalanya tidak berbentuk pada bendabenda yang kongret seperti dewa-dewa, malaikat, roh-roh dan lain-lain. Yang sakral pada umumnya dijadikan sebagai objek atau sarana penyembahan dari upacara-upacara keagamaan dan diabadikan dalam ajaran kepercayaan. Dalam ajaran kepercayaan inilah kemudian muncul adanya ritual-ritual yang diatur oleh aturan tertentu sesuai kepercayaan dan keyakinan agama manusia, atau adat tertentu suatu masyarakat. Aturan-aturan inilah yang kemudian mengikat mereka, sehingga sesuai keyakinan suatu masyarakat jika ingin selamat dari bencana dan malapetaka, maka harus melakukan aturan-aturan tersebut. Dengan demikian, mitos ini kemudian berubah menjadi ritus dan ritus menjadi simbol dan simbol menjadi norma yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kalau sudah menjadi norma, maka harus ditepati, jika tidak sanksinya adalah malapetaka dan dijauhi oleh masyarakat setempat di mana ia tinggal.
Contoh-contoh seperti ini berlaku dalam masyarakat yang terbentuk didalamnya berbagai macam slametan, dengan berbagai macam pula simbolnya misalnya nasi tumpeng, sego golong, buceng, apem, bubur abang, jenang procot dan seterusnya.