BAB III DEMOGRAFIS DAN SEJARAH VIHARA
B. Sejarah Keberadaan Vihara Bahtera Bhakti Ancol
Setelah memasuki kawasan vihara, pengunjung akan langsung melihat altar Thian Khong atau Tuhan, lilin-lilin berukuran besar, serta dupa-dupa yang telah dibakar. Hal lain yang akan temui di antaranya, altar Sang Buddha, altar Budha Empat Muka atau She Mian Fo, altar Dewi Kwan Im, Dewa Bumi, Dewa Langit, Dewa Rezeki, Dewa Kemurahan, dan banyak lagi.
Da Bo Gong (Tionghoa: 大伯公; Pinyin: Dàbó Gōng Hakka: Thai Phak Koong: Fujian/Hokkian: Tuā-Peh-Kong) merupakan Dewa Air yang dikenal di wilayah Malaya dan Indonesia. Dia dipuja semenjak zaman Dinasti Song oleh para pelaut demi keamanan pelayaran. Para imigran China yang bekerja di perkebunan lada di Semenanjung Malaya mulai memuja Da Bo Gong pada awal abad 19. Diyakini bahwa keberadaan Da Bo Gong di Penang adalah 40 tahun sebelum kedatangan Kapten Francis Light pada tahun 1746. Vihara Bahtera Bhakti Ancol dikenal dengan Klenteng Ancol, sebelum namanya berubah menjadi Vihara karena polemik politik tahun 1984. Dahulu Klenteng Bahtera Bhakti Ancol bernama Da Bo Gong, Dewa Air yang dipuja pelaut sejak zaman Dinasti Song untuk keamanan pelayaran. Namun karena bentuknya sama, maka orang menganggapnya Dewa Bumi. Klenteng ini berada di luar Taman
Impian Jaya Ancol (TIJA), Jarak dari pintu gerbang utama tempat wisata Ancol dengan Vihara Bahtera Bhakti kira-kira 2 kilometer ke arah Tanjung Priok.62 Vihara ini dimiliki bersama oleh umat beda agama yang dikenal dengan istilah rumah ibadah Tri Dharma.
Vihara atau Klenteng ini dibangun sejak ratusan tahun lalu, akan tetapi penulis kesulitan menemui bukti tertulis kapan Vihara atau Klenteng Ancol ini pertama kali dibangun, dan siapa yang membangunnya. Claudin Salmon dan D. Lombard (1985) menyebutkan bahwa Klenteng Ancol diperkirakan berdiri sekitar abad ke-17, namun dalam buku tersebut tidak menyebutkan tahun pendiriannya secara pasti. Jika benar Vihara atau Klenteng ini didirikan pada abad ke-17, maka ada kemungkinan bahwa pendiriannya berbarengan dengan kedatangan orang-orang Tionghoa dari Tiongkok di wilayah Kalimantan Barat.63
Menurut sejarah Vihara atau Klenteng ini juga dikaitkan dengan makam Muslim yang dianggap keramat dan sekaligus menjadi tempat pemujaan dan memohon sesuatu oleh sebagian orang Tionghoa maupun masyarakat non-Tionghoa (Muslim) sampai sekarang. Karena di dalam Klenteng ini ada makam Muslim, yang telah dijelaskan di bagian atas, maka Klenteng ini tidak hanya dikunjungi oleh orang-orang Tionghoa dari berbagai penjuru di Indonesia, tapi juga oleh sebagian umat Islam dari berbagai daerah.
Dalam sejarah tentang berdirinya Vihara atau Klenteng ini memiliki beberapa versi. Di antara ceritanya ada yang dimuat dalam Majalah Libertipada Juli 1940. Judul artikel dalam majalah tersebut adalah ‗Tuapekong Antjol, Menoeroet Tjeritanya Seorang jang Soedah Toea.‘ Menurut cerita Liem Poen Kie, asal mula pemujaan terhadap Juru Masak Cheng Ho. Pada zaman dahulu, daerah yang dikenal oleh masyarakat luas dengan daerah Ancol tersebut adalah sebuah pelabuhan yang cukup ramai dikunjungi oleh kapal-kapal, baik yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri, dan pelabuhan tersebut dikenal dengan sebutan Pelabuhan Bintang Mas.64
Menurut sejarahnya ketika Cheng Ho berlabuh di Pelabuhan Bintang Mas ini, juru masaknya turun ke darat untuk menyaksikan pertunjukan Topeng Betawi. Keinginannya untuk menyaksikan pertunjukan Topeng
62 Wawancara pribadi dengan Bapak Apriyanto Bismoko, Jakarta, 27 April
2020.
63
M. Ikhsan Tanggok, dkk. Permata dari Surga: Potret Kehidupan Beragama
di Indonesia, (Jakarta: UIN Jakarta, 2016), h. 74.
Betawi tersebut, tidak semata-mata karena Topeng Betawi adalah kebudayaan asing bagi dia, tapi karena tertarik dengan penarinya yang cantik-cantik. Salah satu dari penari-penari tersebut adalah Siti Wati. Karena terpesona dengan kecantikannya, maka timbul keinginan Si Juru Masak Cheng Ho ini untuk memperistri Siti Wati. Usahanya untuk mendapatkan Siti Wati sangat luar biasa, dia sanggup meninggalkan teman-temannya yang sama-sama dalam satu kapal demi mewujudkan keinginannya.65
Topeng Betawi merupakan kesenian yang banyak diminati orang pada zaman dulu, sebab masih sedikitnya hiburan yang dapat dinikmati orang pada masa itu. Oleh karenanya, tidak hanya orang lokal yang senang menyaksikan kesenian tradisional Betawi, tapi juga orang-orang luar, termasuk orang Tionghoa yang berasal dari Tiongkok. Karena senangnya menyaksikan Topeng Betawi, Juru Masak Cheng Ho tersebut tidak menyadari bahwa dia sudah ditinggalkan oleh Cheng Ho bersama kapalnya yang berlayar meninggalkan Pelabuhan Bintang Mas. Karena merasa ditinggalkan oleh Cheng Ho dan anak buahnya yang lain, Juru Masak Cheng Ho ini akhirnya melanjutkan niatnya untuk memperistri Siti Wati dengan cara mendatangi orang tua Siti Wati untuk melamar anaknya. Menurut sejarah tersebut, ayah Siti Wati bernama Said Areli Dato Kembang, berasal dari Cirebon (sekarang masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Barat). Sedangkan ibunya bernama Enneng, yang diyakini berasal dari Burma.66
Cerita ini juga dapat dilihat dalam M. Ikhsan Tanggok (2006) dalam bukunya yang berjudul, Cheng Ho Dianggap Dewa Dagang dari China. Menurut ceritanya, Said Areli Dato Kembang merasa khawatir jika anaknya mendapat jodoh dengan orang asing yang berbeda agama. Agar menantunya nanti dapat melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya, Said Areli Dato Kembang mengajukan syarat untuk calon menantunya, antara lain tidak boleh makan babi seumur hidup. Syarat ini diajukannya terkait dengan keyakinan agama yang dia anut, yaitu Islam. Syarat yang diajukan oleh Said Areli Dato Kembang tersebut diterima oleh Juru Masak Cheng Ho sepenuhnya, dan akhirnya dia berhasil memperistri Siti Wati, gadis yang sangat diidam-idamkannya atau gadis yang sangat dia cintai.67
65 M. Ikhsan Tanggok, Praktik Islam Nusantara dalam beberapa Kelenteng di
Indonesia, (Jakarta, Ushul Press: 2015), h. 154-155.
66 M. Ikhsan Tanggok, Praktik Islam Nusantara, h. 155.
Karena ingin melanjutkan perjalanannya ke negara-negara lain, Cheng Ho memerintahkan anak buahnya untuk melanjutkan perjalanan berlayarnya. Setelah lama berlayar, Cheng Ho baru menyadari bahwa juru masaknya yang minta izin turun ke darat ketika kapalnya berlabuh di Pelabuhan Bintang Mas, ternyata belum naik ke kapal. Oleh karena itu, dia memerintahkan pada juru mudi kapal agar kembali ke Pelabuhan Bintang Mas untuk menjemput juru masaknya. Setibanya di pelabuhan Bintang Mas, dia tidak lagi menjumpai juru masaknya, dan tak diketahui dia pergi ke mana. Demikian Cheng Ho memutuskan untuk meninggalkan juru masaknya dan meneruskan perjalanannya mengarungi laut bebas. Tidak ada data konkrit yang menjelaskan kelanjutan kisah dua pasangan ini, hanya saja disebutkan setelah puluhan tahun kisahnya melegenda, kemudian masyarakat Ancol menemukan empat buah makam Islam, yang salah satunya diyakini sebagai Makam Juru Masak Cheng Ho, dan yang lain diyakini sebagai makam istrinya (Siti Wati) serta orangtua istrinya.68
Pada saat Cheng Ho dan anak buahnya bersandar lagi ke Ancol, Cheng Ho mengetahuinya dan memerintahkan anak buahnya yang lain membangun sebuah Klenteng tempat orang memuja atau bersembahyang untuk mengenang jasa-jasa dan sekaligus menghormatinya. Makam Juru Masak Cheng Ho atau Sam Po Soei Soe dan istrinya, Siti Wati terletak di bagian depan Klenteng, sedangkan makam kedua orangtua istrinya terletak di bagian belakang Klenteng, atau sekitar 20 meter jaraknya dari
makam anak dan mantunya.69
Empat buah makam ini diduga kuat sebagai makam Muslim, karena di makam-makam tersebut terdapat tulisan berbahasa Arab. Begitu juga dengan nama Said Areli Dato Kembang, juga merupakan nama yang umumnya digunakan oleh orang-orang Islam. Untuk kasus ini, dapat dilihat dalam M. Ikhsan Tanggok (2006) dalam bukunya, Cheng Ho
Dianggap Dewa Dagang dari China. Nama Said Areli juga dapat diduga
bahwa orang tersebut keturunan Arab. Dugaan ini belum dapat dibuktikan kebenarannya, karena belum dijumpai tulisan-tulisan yang berhubungan dengan hal tersebut.70
Cerita sejarah diantaranya juga ada dalam sebuah buku yang juga menceritakan Klenteng Ancol. Buku tersebut berjudul Riwayat Klenteng,
Vihara, Lithang, Tempat Ibadah Tridharma Se-Jawa, yang disusun oleh
Moerthiko (1980). Dalam buku tersebut diceritakan, ketika Sam Po Kong
68
M. Ikhsan Tanggok, Praktik Islam Nusantara, h. 156.
69 M. Ikhsan Tanggok, dkk. Permata dari Surga, h. 77.
(Cheng Ho) yang makamnya terdapat di Klenteng Gedung Batu Semarang, singgah di pesisir Jakarta (sekarang daerah Ancol), salah seorang anak buahnya jatuh cinta kepada Siti Wati, anak dari Embah Said Areli dan cucu dari Dato Kembang. Tidak diketahui secara jelas apakah Siti Wati dijadikan istri oleh Cheng Ho atau tidak, namun Siti Wati menjadi amat sedih ketika ditinggal pergi Cheng Ho untuk melanjutkan perjalanan ke Siam. Atas dasar itu, Siti Wati berujar bahwa kalau dirinya tidak sampai bertemu lagi dengan Cheng Ho, yang diyakini sebagai suaminya sampai ia meninggal dunia, maka biarlah dirinya menjadi Toa Pekong atau keramat saja dan dihormati orang di dalam Klenteng. Ternyata, apa yang dia katakan itu benar, karena sampai akhir hayatnya dengan suaminya, Makam Siti Wati sebagaimana amanatnya telah dijadikan tempat keramat. Warga sekitar Klenteng telah menaruh kepercayaan pada Makam Siti Wati tersebut dengan sering berkunjung ke makamnya untuk memohon sesuatu kepadanya. Dibangunnya Vihara atau Klenteng tersebut adalah untuk mengenang jasa-jasa kedatangan Cheng Ho di wilayah Ancol.71
71 M. Ikhsan Tanggok, Praktik Islam Nusantara di Beberapa Kelenteng di
Foto (1) Makam Dato Kembang
(Sumber: Dokumen pribadi)
Ruang pemujaan Dato Kembang adalah sebuah ruangan yang sengaja di buat dan digunakan untuk memuja Dato Kembang. Sebagaimana ruangan-ruangan pemujaan untuk dewa-dewa yang lain, ruangan pemujaan Dato Kembang juga mempunyai altar sembahyang dan di atasnya diletakkan semua perlengkapan sembahyang. Makam Dato Kembang tampak seperti gambar di atas.
Ruangan tempat pemujaan Embah Said Areli Datok Kembang dan Ibu Eneng. Ruangan ini berada dibagian belakang Klenteng Ancol. ruangan ini dihiasi dengan kain berwarna putih seperti makam wali pada umumnya, Makam ini berbentuk seperti menjadi satu, namun tidak menjadi satu hanya saja dua makam dibuatkan kotak lagi sehingga kelihatan menjadi satu. Diruangan ini umat Islam dan umat agama lain melakukan ritual ziarah dengan sejumlah motivasi ingin berkunjung dan mendoakannya. Ada tempat pemujaan yang juga banyak dikunjungi orang, terutama orang-orang Islam pada malam Jumat Kliwon, terdapat
sebuah ruangan khusus untuk melakukan pemujaan pada Dato Kembang. Jika kita menghadap kearah kelenteng, maka ruangan tempat pemujaan Dato Kembang ini berada di belakang Klenteng.
Ruangan tempat pemujaan Dato Kembang ini berukuran kira-kira 5 x 5 metter. Di dalam ruangan ini ada sebuah meja besar (altar) yang ukurannya kira-kira 2 x 2 metter. Meja ini digunakan untuk meletakkan perlengkapan sembahyang atau pemujaan, seperti hiolo (tempat hio) yang terbuat dari tembaga berwarna kuning, lilin, dan lain-lain. Meja ini dapat juga disebut sebagai altar tempat sembahyang atau pemujaan. Di dalam
hiolo ada tumpukan batang hio yang sedang terbakar, yang menunjukkan
bahwa ada orang yang telah melakukan sembahyang sehingga hio nya masih terlihat menyala. Dalam hiolo tersebut dipenuhi dengan abu bekas pembakaran hio. Oleh karena itu, diperlukan petugas kelenteng yang selalu memperhatikan hiolo tersebut, yaitu jika dia penuh dengan batangan hio yang sudah terbakar dan dipenuhi oleh abu hio, maka petugas dengan segera membersihkannya atau mengambil abu tersebut untuk dikurangi sehingga memudahkan para pemuja untuk menancapkan
hio. Demikian juga jika batangan hio yang sudah terbakar sudah
memenuhi tempat tersebut, maka petugas dengan segera mengambilnya untuk dibawa ke tempat sampah atau ke tempat khusus menampung batangan hio dengan abunya. Kadangkala abu hio ini dibuang ke laut agar tidak dibuang sembarang tempat, karena abu ini dianggap abu suci bekas orang-orang melakukan sembahyang.
Ruangan inilah yang menjadi tempat makam tua tersebut berada dan dikeramatkan banyak orang. Makam tersebut cukup sederhana, tidak seperti makam-makam kebanyakan di masa modern ini. Namun sekarang tempat keberadaan makam tersebut sudah diperbaiki berulang kali sehingga kelihatannya lebih moderen. Ruangan ini dijaga oleh dua orang juru kunci dengan cara bergiliran sebanyak 2 orang. Orang pertama bekerja dari pukul 08;00 sampai dengan pukul 16:00, dan orang kedua bekerja dari pukul 16:00 sampai dengan pukul 22:00. Dia bertugas sebagai perentara antara pemohon (orang yang datang untuk memohon sesuatu kepada Dato Kembang) dengan roh Dato Kembang yang diyakini keberadaannya di makam tersebut. Juru kunci ini seorang laki-laki yang usianya sekitar 50 sampai 60 tahun, memakai baju biasa, menggunakan celana hitam, kadangkala juga dia memakai peci dan kain sarung.
Di dalam ruangan ini tidak ada kursi dan para tamu yang datang cukup dengan duduk bersila atau bersimpuh di atas alas di depan makam. Hanya ada bangku yang disediakan untuk juru kunci makam. Jika tidak
ada pengunjung, juru kunci selalu duduk di bangku ini. Orang-orang yang akan memohon sesuatu tidak dibolehkan masuk dengan menggunakan sandal atau sepatu, tapi dilepas terlebih dahulu baru masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan ini hanya dapat diisi sekitar tiga sampai empat orang, lebih dari itu mereka akan mengalami kesulitan untuk duduk bersila karena ukuran ruangan terlalu kecil dekat makam. Orang yang tidak mempunyai keinginan untuk memohon sesuatu pada Dato Kembang dan kepada leluhur dan hanya sekedar ingin melihat-lihat makam atau ingin melihat bagaimana cara juru kunci memimpin upacara pada saat ada orang yang akan melakukan ritual, juga tidak dilarang untuk masuk asalkan minta izin kepada penjaga makam atau ikut serta dalam rombongan orang yang akan memohon sesuatu. Para pengunjung juga tidak dibolehkan untuk bicara keras di depan makam, karena makam itu dianggap suci dan kramat dan juga dapat mengganggu kekhusukan orang lain untuk berdoa di makam.72
Demikian, sejarah Klenteng Ancol masih ada kaitannya dengan kedatangan Cheng Ho bersama anak buahnya di Nusantara pada abad 15 M. Ini adalah versi lain dari cerita Cheng Ho dan juru masaknya. Kedua kisah ini berbeda satu sama lain. Kisah kedua agak berbeda dengan kisah pertama. Kisah kedua menceritakan bahwa Cheng Ho atau Sam Po Kong-lah yang tertarik dengan Ibu Siti Wati dan bukan Juru Masak Cheng Ho, sebagaimana diceritakan pada kisah pertama. Adanya dua cerita tentang latar belakang didirikannya Klenteng di wilayah Ancol tersebut, menunjukkan kepada kita adanya perbedaan pendapat di antara banyak orang mengenai sejarah Vihara atau Klenteng Ancol yang masih berdiri sampai sekarang, dan masih difungsikan oleh umat dari berbagai agama untuk melakukan ibadah dan kegiatan lainnya.
Pada malam hari, makam ini tidak disinari lampu yang cukup terang, hanya diterangi bola lampu sekitar 9 wat, sehingga terlihat dari jauh dalam keadaan redup. Pada dua tahun belakangan ini semenjak pandemic Covid-19 sekarang ada peraturan pembatasan ritual untuk rumah ibadah bahwa kelenteng hanya buka dari pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam. Sehingga pada malam hari ruangan makam tersebut tampak hanya sekedar remang-remang yang agak menyeramkan bagi orang yang belum terbiasa masuk ke ruangan ini. Tapi bagi juru kunci yang sudah tiap hari bertugas di sini, ruanan ini sudah seperti rumah mereka sendiri dan tidak ada perasaan menakutkan atau menyeramkan. Bahkan mereka dapat tidur
dengan nyenyak di sini sampai keesokkan harinya. Meskipun makam ini berada di dalam lokasi kelenteng Bahtera Bhakti, namun suasananya tidak menakutkan, mungkin karena banyak para pengunjung sebelumnya yang datang ke sini sehingga lokasi makam berubah menjadi lokasi rekreasi dan membuat nyaman bagi setiap pengunjung untuk melepaskan lelahnya di lokasi ini.
Demikian, penjelasan makam dan seputar kelenteng telah mendapatkan banyak informasi mengenai sejarah berdirinya Klenteng Ancol yang sampai sekarang banyak dikunjungi masyarakat demi mendapatkan sesuatu yang diingini oleh masyarakat. Sebelum mereka mencoba datang ke tempat ini, mereka penasaran dengan cerita-cerita tentang Klenteng Ancol ini, karena di dalamnya ada perdamaian dan saling kerja sama antarumat beragama. Itulah salah satu sebab alasan banyak orang mengunjungi Klenteng ini.73
Vihara atau Klenteng ini dibangun di lokasi tempat wisata Ancol Jakarta Utara. Klenteng atau Vihara ini dibangun sejak ratusan tahun yang lalu, akan tetapi sampai saat ini masih berdiri kokoh dan tidak luput dari kunjungan masyarakat non Islam dan Islam. Klenteng atau Vihara ini merupakan tempat ibadah orang Tionghoa yang menganut agama Tao, Khonghucu dan Buddha. Vihara atau Klenteng ini mempunyai corak yang berbeda dengan Vihara atau Klenteng lainnya di Indonesia dan khususnya di Jakarta, karena yang berkunjung untuk melakukan ritual di Vihara ini bukan saja orang-orang yang menganut agama Tao, Khonghucu dan Buddha, tapi juga sebagian kecil umat Islam ikut melakukan ritual di tempat ini. Tujuan mereka untuk datang ke tempat ibadah ini tidak sama, sesuai dengan keinginannya masing-masing.74
Vihara atau Klenteng ini dulunya dibangun di tengah hutan terpencil dan menghadap ke laut kira-kira 500 tahun yang lalu, atas perintah Kapitan Lim Teng Tjauw. Kini Klenteng ini tidak lagi dikelilingi hutan, tetapi oleh rumah-rumah bagus yang merupakan milik orang Tionghoa, sehingga keberadaan Vihara ini berada di tengah-tengah komplek perumahan elite yang dengan mudah dijangkau oleh siapa saja yang
hendak mengunjungi Klenteng tersebut. Keadaan Ruangan Vihara
Bahtera Bhakti Ancol.
73 M. Ikhsan Tanggok, dkk. Permata dari Surga, h. 78.