• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr wb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr wb"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

2 KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr wb

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kelebihan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Diatas seluruh makhluk, memuliakan umatnya di atas seluruh umat, dan meninggikan derajat mereka. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada keluarga dan para sahabat yang senantiasa mengikuti Jejak langkah beliau, serta orang-orang yang mengikuti be- liau dalam segala kondisi.

PMII lahir dengan identias yang jelas, sebagai jangkar perubahan sosial bagi masa de- oan bangsa. Perubahan adaah nyata pada setiap waktu. Tentunya PMII harus meningkatkan performa organisasi dengan melakukan redifinisi nilai dan reaktualisasi strategi pengembangan PMII. Upaya positif diwujudkan dengan terbitnya buku saku mahasiswa pendamping ini untuk mempermudah teman-teman dalam masa pengkaderan. Selain itu, dengan adanya buku saku ini, mahasiswa pendamping juga akan lebih mengenal PMII dan juga Rayon Ali Ahmad Bak- tsir.

Karena itu, buku saku ini diperlukan untuk dapat membantu penguatan kualitas kader PMII Rayon Ali Ahmad Baktsir. Sehingga PMII Rayon Ali Ahmad Baktsir dapat menjalankan salah satu agenda yang menjadi tonggak awal kaderisasi, yakni perekrutan. Kami sebagai De- partemen Keilmuan Rayon Ali Ahmad Baktsir berharap jika buku ini dapat dipergunakan dengan baik, meskipun banyak terjadi kekurangan di dalam pembuatan. Kami juga meminta izin untuk mencantumkan karya dari shabat0sahabati dari rayon lain guna pemenuhan materi PBAK. Semoga dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu yang bermanfaat. Kami berharap agar nantinya buku ini dapat diberbarui menjadi lebih baik lagi dikesempatan yang akan datang.

Tak lupa diucapkan terima kasih untuk sahabat terkasih yang sudah membantu pembuatan buku saku atau kitab biru kuning ini. Sekali lagi, terima kasih.

Salam Pergerakan !!

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamitthariq Wassalamu’alaikum Wr.wb

CO Departemen Keilmuan

Alif Nur Khayati

(3)

3 PROLOG

Assalamualaikum wr.wb Salam pergerakan!

Selamat pagi, siang sore dan malam, tergantung kapan sahabat dan sahabati membuka dan membaca tulisan yang tidak terlalu berguna ini. Sebelum ini saya ingin mengucapkan ter- imakasih kepada sahabat sahabati semua, yang teleh bertahan dan belajar di PMII RAAB hingga sampai saat ini. Tidak ada yang lebih berharga bagi saya selain melihat sahabat dan sahabati tumbuh bersama dalam wadah pergerakan ini. Sedikit kata, saya ingin menyampaikan kepada sahabat dan sahabti semua tentang bagaimana kaderisasi dan regenarasi begitu penting bagi kita. Bagaimana kaderisasi menjadi titik terpenting dan jantung dari organisasi besar di fakultas adab dan bahasa ini. Tanpa adanya kaderisasi, kita tidak akan mungkin melanjutkan langkah dan jalan dari organisasi ini. Kadang teman teman pasti merasa, kenapa harus begini , harus begitu, sudah lelah menghadapi dunia perkuliahan dan masih harus menangung tanggung jawab organisasi yang begitu besar. Tetapi sahabat dan sahabti tidak ada pemuda dan pemudi hebat di bangsa ini yang tumbuh dengan hanya rebahan dan foya foya belaka. Mereka tumbuh dengan proses dan upaya yang hebat. Sekian, kata kata yang tidak terlalu penting sebenarnya, tetapi yang harus sahabat dan sahabati ingat adalah kalian adalah penerus Rayon Ali Ahmad Baktsir pada waktunya, ujung tombak yang nantinya akan membawa fakultas adab dan bahasa dalam cengkraman PMII. Salam baik, tambah baik dan Tumbuh baik para ujung tombak kade- risasi Rayon Ali Ahmad Baktsir. Tetap “Teguh pada prinsip, Setia terhadap proses”-Mahbub Djunaidi.

Salam Pergerakan!

Wassalamu’alaikum wr wb

Ketua Rayon

Ayuk Latifah

(4)

4 PENTINGNYA KADERISASI

(Alif Nur K)

“Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit, untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”-Bung Hatta

Kaderisasi merupakan sebuah keniscayaan mutlak yang membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan disertai dengan beberpa minat bakat. Kaderisasi merupakan hal yang wajar ketika dalam suatu organisasi terjadi pergantian pengurus demi terjadinya suatu kesinambungan yang baik dalam suatu organisasi. Pada dasarnya pemikiran orang yang menganggap jika terjadi pergantian, orang-orang yang menggantikannya dianggap tidak layak, tidak mampu, terlalu muda, belum berpengalaman, dan sebagainya adalah pikiran orang-orang yang “feodalistik’ dan tidak mempunyai spirit berkemajuan.

Sedangkan, fungsi dari kaderisasi adalah menyiapkan embrio sebagai tonggak estafet yang siap untuk melanjutkan barisan juang dari sebuah organisasi. Masing-masing kader akan dilatih sedemikian rupa demi mempersiapkan diri dan akan mendapatkan keterampilan, ilmu dan bahkan bisa menjadi kemampuan diatas rata-rata orang pada umumnya.

Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kade- risasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.” Untuk itulah dalam melakukan kaderisasi perlu kita didik, arahkan, kita bimbing orang-orang yang akan dipersiapkan untuk mengganti- kan senior-seniornya yang pada saatnya nanti harus siap dan “legowo” untuk digantikan yunior-yuniornya.

Kaderisasi merupakan jantung dari organisasi, yang akan menjadikan organisasi men- jadi bergerak maju dan dinamis. Jadi, kaderisasi merupakan suatu kebutuhan yang dilang- sungkan demi adanya suatu siklus. Namun, semua hal ini harus diimbangi dengan pelaku yang komperhensif, demi memunculkan kader-kader yang tidak hanya memiliki kemampuan dibidang managemen organisasi, namun dapat memiliki mental dan dapat berlatih memegang komitmen sosial dengan segala dimensinya.

(5)

5

“Sukses dan tidaknya suatu organisasi dapat diukur dari kesuksesan proses kaderisasi.”- Anonim

BAB 1 MAPABA Ke-PMII-an

A. Latar Belakang

Sejak NU pisah dengan Partai MAKSUMI pada 1952, NU menjadi partai sendiri, sehingga pada pemilu 1955,partai NU mendapat 45 kursi dalam Parlemen. Ketika NU masih bergabung

dengan MAKSUMI, hanya mendapat 8 kursi.

Kader-kader NU berpotensi pada waktu itu masih sangat minim karena belum adanya wadah atau organisasi yang mengakomodir kaum intelektual NU, sehingga terbentuklah organ-organ pendukung NU seperti IPNU dan IPPNU yang ber anggotakan par pelajar dan mahasiswa dengan diiringi beberapa organ-organ pendukung seperti: muslimat, gerakan pemuda ansor.

Pada muktamar ke-II IPNU-IPPNU di Pekalongan sempat terlontar gagasan untuk membuat wadah sndiri bagi kaum mahasiswa Nahdlyin, tapi kurang mendapat respon dari pimpinan IPNU. Hal tersebut di karenakan IPNU masih butuh pembenahan (banyak anggota IPNU yang berstatus mahasiswa) sehingga dikhawatirkan mempengaruhi perjalanan IPNU yang baru saja terbentuk.

Pada Muktamar ke-III IPNU di Cirebon 27-31 Desember 1658, aspirasi mahasiswa Nahdli- yin tak terbentuk lagi, bahwa mereka menginginkan wadah tersendiri yang dapat menampung mahasiswa nahdlyin secara fungtional dan organisatoris masih di bawa organ departemen or- gan IPNU. Dalam konfensi besar IPNU di Kaliurang pada 14-17 Maret 1960di Jogjakarta, merekomondisikan terbentunya wadah atau organ mahasiswa Nahdlyin yang terpisah dalam struktural maupun fungsionaris dari IPNU dan IPPNU, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)dengan di bentuknya 13 panitia, yaitu: Kholid Mawardi (Jakarta), Said Bu- dairi (Jakarta), M. Shobih Ubaid (Jakarta), Muh. Makmun Syukri, BA (Bandung), Hilman (Bandung), H, Ismail Makky (Jogjakarta), Munif Nahrowi (Jogjakarta), Nuril Huda Suadi, HA (Surakarta), Laily Mansyur (Surakarta), Abdul Wahab Jailany (Semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Kholid Narbuka (Malang), Ahmad Husain (Makasar). Pada 19 Maret 1960 tiga

(6)

6 dari tiga belas orang yaitu Hisbullah Huda (Surabaya), M. Said Budairy (Jakarta), serta Mak- sum Syukri BA (Bandung) berangkat ke Jakarta untuk mengahadapi ketua umum partai NU K.H. Dr. Idam Kholid agar diberi nasehat sebagai bekal atau pegangan pokok dalam musya- warah mahasiswa Nahdyin yang akan di laksanakan di Surabay tanggal 25 maret 1960. Dalam pertemuan tersebut, beliau menekankan agarorgan yang di bentuk nantinya betul-betul dapat di andalkan sebagai kader partai NU dan menjadi Mahasiswa yang berperinsip ilmu agar dapat dapat di amalkan untuk kepentingan rakyat, buakan ilmu untuk ilmu, yang paling penting ada- lah menjadi manusia yang cakap serta bertaqwa kepada Allah SWT. Beliau menyatakan mer- estui musyawarahmahasiswa Nahdyin yang di adakan di Surabaya itu.

Hasil Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin di Surabaya 14-16 April 1960 menelurkan:

• Berdirinya organ mahasiswa Nahdyin di beri nama PMII

• Penyusunan peraturan dasar PMII merupakan kelanjutan dari departemen perguruan tinggi IPNU dan IPPNU

Persidangan dalam musyawarah mahasiswa Nahdyin itu bertempat di gedung Madrasah Mu’alimin NU Wonokromo Surabaya. Sedangkan peraturan dasar PMII berlaku 21 Syawal 1379 H atau 17 April 1960 sebagai hari kelahiran PMII. Sekaligus membentuk tiga tim forma- tur H.Mahbub Junaidi sebagai ketua umum, A. Cholid Mawardi sebagia ketua I dan Muham-

mad SyaidBudairi sebagai sekertaris umum PB PMII.

Pada tanggal 14 Juni 1960 PMII diterima dan di sahkan oleh PB NU sekaligus sebagai keluarga besar sekaligus sebagai partai NU, oleh Ketua Umum PB NU K.H. Dr. Idham Kholid, dan Wakil Sekjen H. Amirudin Aziz. Perumusan anggaran rumah tangga diketahui oleh Muham- mad Said Buairi, anggotanya Cholid Marwadi dan Fatchurrozi.

B. Independensi PMII – NU

Salah satu momentum sejarah perjalanan PMII ynag membawa pada perubahan secara mendasar, yaitu di cetuskannya Idenpendensi PMII pada tanggal14 Juli 1972di Munarjati Lawang Malang Jawa Timuryang kemudian di sebut Deklarasi Munarjati.

Lahirnya deklarasi ini berkenaan dengan situasi politik nasional, ketika partai politik dikebiri bahkan partisipasi dalam pemerintahan pun sedikit demi sedikit di kurangi dan mulai dihapuskan. Ditambah lagi dengan digiringnya peran mahasiswa dengan komando back to campus. Maka PMII mencari alternative abru dengan tidak lagi dependen kepada partai politik manapun. Dengan latar belakan dan motivasi, maka tanggal 14 Juli 1972 secara formal PMII terpisah secara struktural dengan partai NU.

(7)

7 Hal-hal yang berkenaan dengan independensi dapat kita lihal dokumen historis PMII antara lain:

• Manivestasi kesadaran PMII yang meyakini sepenuhnya terhadap tutunan keterbukaan si- kap, kebebasan berfikir, dan membangun kreativitas yang dijiwai oleh nilai-nilai islam.

• Manivestasi kesadaran organisasi dalam tuntutan kemandirian, kepeloporan, kebebasan berfikir, dan berkreasi serta tanggung jawabsebagai kader umat.

Sejak di kumandangakanya Deklarasi Munarjati itulah PMII menjadi organ yang bebas menuntukan kehendak dan idealismenya tanpa harus berkonsultasi dengan organisasi manapun termasuk NU. Akan tetapi keter[isahan secara struktural tidak membatasi ikatan emosional antar kedua organisasi ini. Keduanya masih mempjunyai benang merah pema-

haman idiologisnya yaitu Ahlussunnah Wal-jama’ah.

C. Interindependen PMII-NU

Latar belakang PMII melakukan Interindependen dari Independen pada saat kongres X PMII Jakarta 1991 adalah:

• Ulama sebagai pewaris Nabi (Ulama Warosatul Ambiya’)

Maksudnya : keteladanan umat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

• Ikatan Historis, maksudnya: PMII lahir dari NU dan besar dari NU.

• Adanya kesamaan faham antar PMII-NU

Maksudnya: Aswaja bercirikan Tawassuth, Ta’adul, Tasamuh, Tawadzun serta Amar Ma’ruh Nahi Mungkar (Mabadi’ Khoirul Ummah) demikian di dalam pola berfikir, pola sikap, pola tindakan PMII-NU menganut opola selektif, akomodatif, intergratif sesuai dengan prinsip dasar Al-Mukhofadzatu Ala Qodimis Shalih Wal Akhdzu Bi Ijadi Al Ash- lah.

• Adanya persamaan kebangsaan. Maksudnya: bagi PMII keutuhan komitmen keislaman dan keindonesiaan merupakan perwujudan kesadaran beragama dan berbangsa bagi setiap in- san muslim di Indonesia dan atas hal dasar tersebut maka menjadi keharusan untuk mem- pertahankan Bangsa dan Negara Indonesia dengan segala tekat dan kemampuan, baik secara individu maupun bersama.

• Adanya kesamaan kelompok sasaran. Maksudnya: PMII-NU memiliki mayoritas anggota dari kalangan masyarakat kelas menengah bawah.

(8)

8 Sekurang-kurangnya terdapat lima perinsip yang semestinya di pegang bersama untuk me- realisasikan interindependensi PMII-NU yakni Ukhuwah Islamiyah, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Mabadi’ Khoirul Ummah, Al Musawah, Hidup berdampingan dan berdaulat secar penuh.

D. Implementasi Independensi

Implementasi independensi PMII-NU diwujutkan dengan berbagai bentuk pikiran kerkasama antara lain meliputi bidang:

• Pemikiran: kerjasama di bidang ini di rancang untuk pengembangan pemikiran keislamian dan kemasyarakatan

• Pelatihan: kerjasama di bidang ini di rancang untuk pengembangan sumber daya manusia baik PMII maupun NU

• Sumber Daya Manusia: Kerja sama di bidang ini di tekankan pada pemanfaatan secara maksimal manusia-manusia PMII untuk peningkatan kualitas Khidmat NU.

• Rintisan Progam: Kerja sama di bidang ini terbentuk pengolahan suatu progam secaara bersama-sama, seperti: progam pengembangan ekonomi, progam aksi sosial dan lain-lain

E. Deklarasi format profil PMII dalam kongres X 2008PMII di Batam, Riau.

Deklarasi ini merupakan kristalisasi dari tujuan pergerakan sebagai mana tercantum dalam AD/AR. Yaitu terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang berbudi luhur, berilmu, dan ber- taqwa kepada Allah SWT, cakap serta tanggung jawab dan mengamalkan ilmu penge- tahuannya.

• Motto PMII

Dzikir, Fikir, Amal sholeh

• Tri khidmah PMII

Taqwa, Intelektualitas, Profesionalitas

• Tri komitmen PMII

Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan

• Eka citradiri PMII

Ulul Albab: Citra diri Ulul Albab dengan Motto Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh Ulul Albab artinya seorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (olah pikir) dan ia pun tidak pula mengayun dzikir.

(9)

9 Seperti tedapat pada surah Al-Baqoroh:179 yang artinya: “dan dalam hokum Qishos itu ada (jaminan kelangsungan)hidup bagimu, hai Ulul Albab, Supaya kamu bertaqwa”

(QS. Al-Baqoroh:179) Cita Ulul Albab:

1. Berkesadaran Historisitas-Promodial atas relasi Tuhan-Manusia-Alam

2. Berjiwa optimis-transendental-atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan 3. Berfikir secara Dialektis

4. Bersikap kritis

5. Bertindak Transformatif

• Format Gerakan PMII Format Organ Kader Pergerakan: Kader atau basis

• Format Gerakan Sosial Transformatif

• Format Intelektual dan Pers

• Format Gerakan Ekstra Parlementer

• Format Kebijakan Publik

• Format Gerakan Kebudayaan

• Format Gerakan Profesional-Populis

F. Paradigma pendidikan kaderisasi

Girouxdan Amawitzsebagaimana di kutip oleh Mansyur Faqih terdapat aliran besar dalam idiologi pendidikan.

• Paradigma konservatif (mengapdi pada satu quo)

• Paradigma Liberal (perubahan yang moderat)

• Paradigma Fundamental/Kritis (perubahan undamentaltransformational bagi konstruksis- oial masyarakat)

G. Makna filosofi PMII

Dari makna “pergerakan” yang terkandung dalam PMII adalah dari hamba (yang senantiyasa bergerak menuju idealnya) memberikan rahmat bagi alam sekitarnya.

Dalam konteks individual, komunitas maupun organisatoris. Kiprah PMII harus senantiyasa mencermikan pergerakan menuju kondosi yang lebih baik sebagai perwujudan tanggung ja- wabnya member rahmat pada lingkungan.

“pergerakan” dalam hubungan dengan organisasi mahasiswa menurut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan potensi kemanusiaan agar gerak

(10)

10 dinamika menuju tujuannya selalu berada didalam kualitas kekholifahannya.

Pengertian “mahasiswa yang terkandung dalam PMII” adalah golongan generasi muda untuk membina dan mengembangkan potesi ketuhanan dan kemanusiaanagar gerak ilmu diperguruan tinggi yang mempunyai identitas diri.

Identitas mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religious, insan akademis, insan sosial dan insan mandiri serta identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keaga- maan, tanggung jawab intelektual, tanggung jawab sosial kemasyarakatan dan tanggung jawab individu baik sebagai hamba tuhan maupun sebagai bangsa dan Negara.

Pengertian islam yang terkandung dalam PMII adalah agama sebagai agama yang dipahami dengan paradigm “Ahlussunnah Waljama’ah” yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran islam secara profesional antara iman, islam dan ikhsan yang didalam pola pikir dan pola perilakunya tercermin sifat-sifat seliktif, akomodadis dan intergratif.

Pengertian “Indonesia” yang terkandung dalam PMII masyarakat, bangsa dan Negara Indone- sia yang mempuyai falsafah dan idiologi bangs (Pancasila) serta UUD1945 dengan kesadaran kesatuan dan ketuhanan bangsa dan negarayang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang

di ikat dengan kesadaran wawasan nusantara.

Serta totalitas PMII sebagai organissi merupakan suatu gerakan yang bertujuan melahiran kader-kader yang mempunyai integritas diri sebagai hamba yang bertaqwa kepada Allah SWT dan atas ketaqwaanya kiprah mewujudkan peran ketuhanan membangun masyarakat dan Negara Indonesia menuju suatu tatanan masyarat yang adil dan makmur dalam ampunan dari

ridho Allah SWT.

H. Atribut gerakan PMII

Atribut geraknan PMII merupakan sebuah simbol yang memiliki kerahasiaan yang perlu di gali karena hal ini perlu kami ulas dan kami sampaikan kepada kader, agar nantinya kader mampu memhami atribut gerak PMII hanya sekedar embuh ora weruh? Ini merupakan pertan- yaan yang yang tidak mungkin kita aplikasikan, baik di sengaja maupun tidak di sengaja.

Adapun atribut PMII antara lain:

• Lambang PMII

• Lambing yang seperti digunakan pada bendera, jaket, bagdel, vandal, logo PMII dan benda atau tempat-tempat dengan tujuan menggunakan identitas PMII.

• Bendera PMII

(11)

11

• Mars PMII

I. Pilihan Gerakan PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan organisasi yang pengkaderannya bukan hanya sekedar organisasi masa seperti organisasi lainya. Meskipun PMII memiliki anggota atau kader yang sangat banyak tidak dapat disebut ORMAS (Organ- isasi Massa) karena tanah pijakan PMII melangkah kesana. Ternyata PMII memiliki kemam- puan yang lebih disbanding yang lain. Sama juga artinya ketika anda masuk dan mendaftarkan diri untuk menjadi kader atau anggota tentunya anda dihadapkan dengan beberapa pilihan-pili- han yang berbeda, sudah di singgung bahwa PMII memiliki nlai lebih yang mungkin tidak di miliki organisasi lain. Adapun nilai lebih yang dimiliki, antara lain:

• Aswaja (Ahlussunnah Waljama’ah) sebagai manhaj al lfiqr disamping sebagai pijakan ber- fikir, Aswaja merupakan atau pilihan yang sangat mengena di setiap kader, ha ini dikare- nakan Aswaja merupakan ikatan Kultural Idiologi NU buka secara Struktural.

• NDP (Nilai Dasar Pergerakan) menjadi sumber kekuatan ideal moral dari aktifitas perge- rakan, pusat argumentasi dan pengikat kebenaran dari kebebasan berfikir, berucap dan ber- tindak dalam aktifitas pegerakan. Adapun rumusan nilai-nilainya, antara lain: Tauhid, Hub- ungan manusia dengan Allah, Hubungan manusia dengan manusia dan Hubungan manusia dengan alam.

• Paradigma Kritis Transformatif

Paradigma dalam masyarakat PMII dapat dirumuskan sebagai titik pijak untuk menentukan cara pandang, meyusun sebuah teori, mennyusun sebuah pertanyaan dan membuat suatu rumusan mengenai suatu masalah melihat realitas yang ada di masyarakat dan sesuai dengan tuntunan kedaan masyarakat PMII baik secara Sosiologis, Politis dan Antropologis maka PMII menjadi paradigm Kritis Transformatif sebagai pijakan gerakan organisasi da- lam mewujutkan transformasi social PMII bukan hanya berpijak dengan paradigm kritis saja. Mengapa demikian? Karena pradigma kritis hanya mampu melakukan analisis tetepi tidak mampu melakukan organizing menjembatani dan melakukan perubahan social. Ka- renanya, paradigma kritis yang digunakan di PMII adalah kritik yang mampu mewujutkan perubahan sehingga menjadi paradigm Kritis Transformatif. Dalam hal ini paradigm Kritis Transformatif dituntut untuk memiliki instrument-instrumen gerak yang biasa digunakan oleh masyarakat PMII.

(12)

12 J. Struktur dan Proses pengkaderan PMII

Struktur PMII dari pusat atau wilayah sampai ruang terkecil, terdiri dari:

• PB (Pengurus Besar)

• Pengurus Kordianator cabang

• Pengurus Cabang

• Pengurus Komisariat

• Pengurus Rayon

Pendidikan/proses pengakaderan Formal PMII, antara lain:

a) MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) b) PKD (Pelatihan Kader Dasar)

c) PKL (Pelatihan Kader Lanjutan)

Untuk ketiga ini merupakan jenjang yang harus ditempuh sebai kader PMII karena ini nantinya berpengaruh pada struktural pengurus PMII, untuk dapat mencapai itu diper- lukan pendidikan informal dan nonformal.

K. Penutup

Salam pergekan terkepal dan maju kemuka, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi sa- habat-sahabati semua. Sehingga nantinya pasca MAPABA ini dapat memahami dan memang telah menjadi pilihan prioritas sahabat-sahabati semua untuk masuk PMII. Selamat bergabung di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

(13)

13 ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIQR

A. SKETSA SEJARAH

Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) lahir dari pergulatan intens antara doktrin dengan sejarah. Di wilayah doktrin, debat meliputi soal kalam mengenai status Alqur’an apakah ia mahluk atau bukan, kemudian debat antara sifat-sifat Allah antara ulama’ salafiyyun dengan golongan Mu’tazilah dan seterusnya.

Di wilayah sejarah, proses pembentukan ASWAJA terentang hingga zaman Khulafaur Rasyidin, yakni dimulai sejak terjadi perang shiffin yang melibatkan Kholifah Ali bin Abi Tholib RA dengan Muawiyyah. Bersamaan dengan kekalahan kholifah ke-empat tersebut, setelah dikelabui melalui taktik arbitrase (tahkim) oleh kubu muawiyyah, ummat islam mulailah islam terpecah kedalam berbagai golongan. Di antara mereka terdapat Syi’ah, Khowarij, Jabariyyah, Qadariyyah, Mu’tazilah, dll.

Indonesia merupakan salah satu penduduk dengan jumlah penganut faham ASWAJA terbesar di dunia. Mayoritas penduduk yang memeluk islam adalah penganut madzhab Syafi’i dan sebagian besarnya tergabung (baik tergabung secara sadar maupun tidak sadar) dalam Jam’iyyah Nahdlotul Ulama’ yang sejak awal berdiri menegaskan sebagi pengamal islam ala Ahlusunnah walJama’ah.

B. PENGERTIAN

Al-sunnah memilki arti jalan,disamping memiliki arti Al-Hadist. Disambungkan dengan ahl keduanya bermakna pengikut jalan Nabi, Para Sahabat, dan Tabi’in. Al-Jama’ah berarti sekumpulan orang yang memiliki tujuan. Bila dimaknai secara kebahasaan, Ahlussunnah wal Jama’ah berarti segolongan orang yang mengikuti jalan Nabi, Para Sahabat dan Tabi’in.

NU merupakan ORMAS islam pertama kali Indonesia yang menegaskan diri berfaham ASWAJA. Dalam konstitusi dasar yang dirumuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari juga tidak disebutkan definisi ASWAJA namun tertulis dalam konstitusi tersebut bahwa aswaja merupakan sebuah faham keagamaan dimana dalam bidang aqidah menganut pendapat dari Abu Hasan Al-Asy’ari dan Al- Maturidhi, dalam bidang fiqih menganut pada salah satu madzhab empat, dan dalam bidang tasawuf menganut pada Imam Junaid al Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghozali.

C. ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIKR

(14)

14 Kurang lebih sejak 1995/1997, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia meletakkan aswaja sebagai manhaj al fikr. Th 1997 diterbitkan sebuah buku saku tulisan sahabat Khotibul Umam Wiranu berjudul Membaca ulang Aswaja (PB PMII 1997). Konsep dasar yang dibawa dalam aswaja sebagai manhaj al fikr tidak dapat dilepas dari gagasan KH. Said Aqil Siraj yang mengundang kontroversi, mengenai perlunya aswaja ditafsir ulang dengan memberikan kebebasan lebih bagi para intelektual dan ulama’ untuk merujuk langsung kepada ulama’ dan pemikir utama yang tesebut dalam pengertian aswaja.

PMII memandang bahwa aswaja adalah orang-orang yang memiliki metode berfikir keaga- maan yang mencakup semua aspek kehidupan dengan berlandaskan atas dasar moderasi, men- jaga keseimbangan, dan toleran. Aswaja bukan sebuah madzhab melainkan sebuah metode dan prinsip berfikir dalam menghadapi persoalan-persoalan agama sekaligus urusan sosial ke- masyarakatan, inilah makna aswaja sebagai manhaj al fikr.

Sebagai manhaj alfikr, PMII berpegang pada prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan), dan tasamuh (toleran).

D. PRINSIP ASWAJA SEBAGAI MANHAJ

Berikut ini adalah prinsip-prinsip aswaja dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip-prinsip ter- sebut meliputi :

• AQIDAH

• BIDANG SOSIAL POLITIK a. Prinsip Syura (musyawarah) b. Prinsip Al-Adl (keadilan)

c. Prinsip Al-Hurriyyah (kebebasan) Khifdhu al-nafs (menjaga jiwa) Khifdhu al-din (menjag agama) Khifdhu al-mal (menjaga harta benda) Khifdhu al-nasl (menjaga keturunan) Khifdhu al-irdh (menjaga harga diri) d. Prinsip Al-Musawah (kesetaraan derajat)

• BIDANG ISTINBATH AL-HUKM (Pengambilan Hukum Syari’ah)

• TASAWUF

E. PENUTUP

(15)

15 Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai manhaj al fikr bersifat dinamis dan sangat terbuka bagi pembaruan-pembaruan. Sebagai sebuah metode pemahaman dan penghayatan dalam makna tertentu ia tidak dapat disamakan dengan metode akademis yang bersifat ilmiah. Dalam metode akademik, sisi teknikalitas pendekatan di atur sedemikian rupa sehingga menjadi prosedur yang teliti dan nyaris pasti. Namun demkian dalam ruang akademis pembaharuan atau perubahan sangat mungkin terjadi.

(16)

16 NILAI DASAR PERGERAKAN (NDP) PMII

Berkat rahmat dan hidayah Allah SWT, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia berusaha menggali sumber nilai dan potensi insan warga pergerakan untuk dimodifikasi di dalam tatanan nilai baku yang kemudian menjadi citra diri yang diberi nama Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII. Hali ini dibutuhkan di dalam memberikan kerangka, arti dan motivasi dan wawasan pergerakan dan sekaligus memberikan dasar pembenar terhadap apa saja yang akan dan mesti dilakukan untuk mencapai cita-cita perjuangan sesuai dengan maksud didirikannya organisasi ini.

Insaf dan sadar bahwa semua itu adalah kejarusan bagi setiap fungsionaris maupun anggota PMII untuk memahami dan menginternalisasikan nilai dasar PMII itu, baik secara orang per- orang maupun bersama-sama.

BAB I

ARTI, FUNGSI, DAN KEDUDUKAN

Arti : Secara esensial Nilai Dasar Pergerakan ini adalah suatu sublimasi nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah dan mendorong serta penggerak kegiatan- kegiatan PMII. Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam mendasari dan menginspirasi Nilai Dasar Pergerakan ini meliputi cakupan aqidah, syari’ah dan akhlak dalam upaya kita memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Dalam upaya me- mahami, menghayati dan mengamalkan Islam tersebut, PMII menjadikan Ahlussunnah wal jama’ah sebagai pemahaman keagamaan yang paling benar.

Fungsi : Landasan berpijak: Bahwa NDP menjadi landasan setiap gerak langkah dan kebijakan yang harus dilakukan.

Landasan berpikir : Bahwa NDP menjadi landasan pendapat yang dikemukakan terhadap- persoalan-persoalan yang dihadapi.

Sumber motivasi : Bahwa NDP menjadi pendorong kepada anggota untuk berbuat dan bergerak sesuai dengan nilai yang terkandung di dalamnya.

Kedudukan : Rumusan nilai-nilai yang seharusnya dimuat dan menjadi aspek ideal dalam berbagai aturan dan kegiatan PMII.

(17)

17 Landasan dan dasar pembenar dalam berpikir, bersikap, dan berprilaku.

BAB II

RUMUSAN NILAI DASAR PERGERAKAN

1. TAUHID

Meng-Esakan Allah SWT, merupakan nilai paling asasi yang dalam sejarah agama samawi telah terkandung sejak awal keberadaan manusia.

Allah adalah Esa dalam segala totalitas, dzat, sifat-sifat, dan perbutan-perbuatan-Nya. Al- lah adalah dzat yang fungsional. Allah menciptakan, memberi petunjuk, memerintah, dan me- melihara alam semesta ini. Allah juga menanamkan pengetahuan, membimbing dan menolong manusia. Allah Maha Mengetahui, Maha Menolong, Maha Bijaksana, Hakim, Maha Adil, dan Maha Tunggal. Allah Maha Mendahului dan Maha Menerima segala bentuk pujaan dan peng- hambaan.

Keyakina seperti itu merupakan keyakinan terhadap sesuatu yang lebih tinggi dari pada alam semesta, serta merupakan kesadaran dan keyakinan kepada yang ghaib. Oleh karena itu, tauhid merupakan titik puncak, melandasi, memadu, dan menjadi sasaran keimanan yang men- cakup keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan, dan perwujudan dalam perbuatan. Maka konsekuensinya Pergerakan harus mampu melarutkan nilai-nilai Tauhid dalam berbagai ke- hidupan serta terkomunikasikan dan mermbah ke sekelilingnya. Dalam memahami dan mewujudkan itu, Pergerakan telah memiliki Ahlussunnah wal jama’ah sebagai metode pema- haman dan penghayatan keyakinan itu.

2. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH.

Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dia menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik kejadian dan menganugerahkan kedudukan terhormat kepada manusia di hadapan ciptaan-Nya yang lain.

Kedudukan seperti itu ditandai dengan pemberian daya fikir, kemampuan berkreasi dan kesadaran moral. Potensi itulah yang memungkinkan manusia memerankan fungsi sebagai khalifah dan hamba Allah. Dalam kehidupan sebagai khalifah, manusia memberanikan diri un- tuk mengemban amanat berat yang oleh Allah ditawarkan kepada makhluk-Nya. Sebagai hamba Allah, manusia harus melaksanakan ketentuan-ketentauan-Nya. Untuk itu, manusia

(18)

18 dilengkapi dengan kesadaran moral yang selalu harus dirawat, jika manusia tidak ingin terjatuh ke dalam kedudukan yang rendah.

Dengan demikian, dalam kehidupan manusia sebagai ciptaan Allah, terdapat dua pola hub- ungan manusia dengan Allah, yaitu pola yang didasarkan pada kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dan sebagai hamba Allah. Kedua pola ini dijalani secara seimbang, lurus dan teguh, dengan tidak menjalani yang satu sambil mengabaikan yang lain. Sebab memilih salah satu pola saja akan membawa manusia kepada kedudukan dan fungsi kemanusiaan yang tidak sempurna. Sebagai akibatnya manusia tidak akan dapat mengejawentahkan prinsip tauhid secara maksimal.

Pola hubungan dengan Allah juga harus dijalani dengan ikhlas, artinya pola ini dijalani dengan mengharapkan keridloan Allah. Sehingga pusat perhatian dalam menjalani dua pola ini adalah ikhtiar yang sungguh-sungguh. Sedangkan hasil optimal sepenuhnya kehendak Allah.

Dengan demikian, berarti diberikan penekanan menjadi insan yang mengembangkan dua pola hubungan dengan Allah. Dengan menyadari arti niat dan ikhtiar, sehingga muncul manusia- manusia yang berkesadaran tinggi, kreatif dan dinamik dalam berhubungan dengan Allah, na- mun tetap taqwa dan tidak pongah Kepada Allah.

Dengan karunia akal, manusia berfikir, merenungkan dan berfikir tentang ke-Maha-anNya, yakni ke-Mahaan yang tidak tertandingi oleh siapapun. Akan tetapi manusia yang dilengkapi dengan potensi-potensi positif memungkinkan dirinyas untuk menirukan fungsi ke-Maha- anNya itu, sebab dalam diri manusia terdapat fitrah uluhiyah – fitrah suci yang selalu memproyeksikan terntang kebaikan dan keindahan, sehingga tidak mustahil ketika manusia melakukan sujud dan dzikir kepadaNya, Manusia berarti tengah menjalankan fungsi Al Qud- dus. Ketika manusia berbelas kasih dan berbuat baik kepada tetangga dan sesamanya, maka ia telah memerankan fungsi Arrahman dan Arrahim. Ketikamanusia bekerja dengan kesungguhan dan ketabahan untuk mendapatkan rizki, maka manusia telah menjalankan fungsi Al Ghoniyyu.

Demikian pula dengan peran ke-Maha- an Allah yang lain, Assalam, Al Mukmin, dan lain sebagainya. Atau pendek kata, manusia dengan anugrah akal dan seperangkat potensi yang dimilikinya yang dikerjakan dengan niatyang sungguh-sungguh, akan memungkinkan manusia menggapai dan memerankan fungsi-fungsi Asma’ul Husna.

Di dalam melakukan pekerjaannya itu, manusia diberi kemerdekaan untuk memilih dan menentukan dengan cara yang paling disukai. 14) Dari semua pola tingkah lakunya manusia akan mendapatkan balasan yang setimpal dan sesuai yang diupayakan, karenanya manusia di- tuntut untuk selalu memfungsikan secara maksimal ke4merdekaan yang dimilikinya, baik secara perorangan maupun secara bersama-sama dalam konteks kehidupan di tengah-tengah

(19)

19 alam dan kerumunan masyarakat, sebab perubahan dan perkembangan hanyalah milikNya, oleh dan dari manusia itu sendiri.15)

Sekalipun di dalam diri manusia dikaruniai kemerdekaan sebagai esensi kemanusiaan un- tuk menentukan dirinya, namun kemerdekaan itu selalu dipagari oleh keterbatasan-keterbata- san, sebab prerputaran itu semata-mata tetap dikendalaikan oleh kepastian-kepastian yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana,yang semua alam ciptaanNya iniselalu tunduk pada sun- nahNya, pada keharusan universal atau takdir. 16 ) Jadi manusia bebas berbuat dan berusaha ( ikhtiar ) untuk menentukan nasibnya sendiri, apakah dia menjadi mukmin atau kafir, pandai atau bodoh, kaya atau miskin, manusia harus berlomba-lomba mencari kebaikan, tidak terlalu cepat puas dengan hasil karyanya. Tetapi harus sadar pula dengan keterbatasan- keterbatasannya, karaena semua itu terjadi sesuai sunnatullah, hukum alam dan sebab akibat yang selamanya tidak berubah, maka segala upaya harus diserrtai dengan tawakkal. Dari sini dapat dipahami bahwa manusia dalam hidup dan kehidupannya harus selalu dinamis, penuh dengan gerak dan semangat untuk berprestasi secara tidak fatalistis. Dan apabila usaha itu be- lum berhasil, maka harus ditanggapi dengan lapang dada, qona’ah (menerima) karena disitulah sunnatullah berlaku. Karenanya setiap usaha yang dilakukan harus disertai dengan sikap ta- wakkal kepadaNya. 17 )

3. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN MANUSIA

Kenyataan bahwa Allah meniupkan ruhNya kepada materi dasar manusia menunjukan , bahwa manusia berkedudukaan mulia diantara ciptaan-ciptaan Allah.

Memahami ketinggian eksistensi dan potensi yang dimiliki manusia, anak manusia mempunyai kedudukan yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai warga dunia manusia adalah satu dan sebagai warga negara manusia adalah sebangsa , sebagai mukmin manusia adalah bersaudara. 18)

Tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya , kecuali karena ketakwaannya.

Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, ada yang menonjol pada diri seseorang tentang potensi kebaikannya , tetapi ada pula yang terlalu menonjol potensi kelemahannya, agar antara satu dengan yang lainnya saling mengenal, selalu memadu kelebihan masing-mas- ing untuk saling kait mengkait atau setidaknya manusia harus berlomba dalam mencaridan- mencapai kebaikan, oleh karena itu manusia dituntut untuk saling menghormati, bekerjasama, totlong menolong, menasehati, dan saling mengajak kepada kebenaran demi kebaikan bersama.

Manusia telah dan harus selalu mengembangkan tanggapannya terhadap kehidupan. Tang- gapan tersebut pada umumnya merupakan usaha mengembangkan kehidupan berupa hasil

(20)

20 cipta, rasa, dan karsa manusia. Dengan demikian maka hasil itu merupakan budaya manusia, yang sebagian dilestarikan sebagai tradisi, dan sebagian diubah. Pelestarian dan perubahan selalu mewarnai kehidupan manusia. Inipun dilakukan dengan selalu memuat nilai-nilai yang telah disebut di bagian awal, sehingga budaya yang bersesuaian bahkan yang merupakan per- wujudan dari nilai-nilai tersebut dilestarikan, sedang budaya yang tidak bersesuaian diperba- harui.

Kerangka bersikap tersebut mengisyaratkan bergerak secara dinamik dan kreatif dalam ke- hidupan manusia. Manusia dituntut untuk memanfaatkan potensinya yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Melalui pemanfaatan potensi diri itu justru manusia menyadari asal mulanya, kejadian, dan makna kehadirannya di dunia.

Dengan demikian pengembangan berbagai aspek budaya dan tradisi dalam kehidupan manusia dilaksanakan sesuai dengan nilai dalam hubungan dengan Allah, manusia dan alam selaras dengan perekembangan kehidupandan mengingat perkembangan suasana. Memang manusia harus berusaha menegakan iman, taqwa dan amal shaleh guna mewujudkan kehidupan yang baik dan penuh rahmat di dunia. Di dalam kehidupan itu sesama manusia saling menghor- mati harkat dan martabat masing-masing , berderajat, berlaku adil dan mengusahakan keba- hagiaan bersama. Untuk diperlukan kerjasama yang harus didahului dengan sikap keterbukaan, komunikasi dan dialog antar sesama. Semua usaha dan perjuangan ini harus terus -menerus dilakukan sepanjang sejarah.

Melalui pandangan seperti ini pula kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara dikembangkan. Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan kerelaan dan kesepakatan untuk bekerja sama serta berdampingan setara dan saling pengertian. Bermasyara- kat, berbangsa dan bernegara dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita bersama : hidup dalam kemajuan, keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Tolok ukur bernegara adalah keadilan, persamaan hukum dan perintah serta adanya permusyawaratan.

Sedangkan hubungan antara muslim ddan non muslim dilakukan guna membina kehidupan manusia dengan tanpa mengorbankan keyakinan terhadap universalitas dan kebenaran Islam sebagai ajaran kehidupan paripurna. Dengan tetap berpegang pada keyakinan ini, dibina hub- ungan dan kerja sama secara damai dalam mencapai cita-cita kehidupan bersama ummat manu- sia.

Nilai -nilai yang dikembangkan dalam hubungan antar manusia tercakup dalam per- saudsaraan antar insan pergerakan , persaudaraan sesama Islam , persaudaraan sesama warga bangsa dan persaudaraan sesama ummat manusia . Perilaku persaudaraan ini , harusd

(21)

21 menempatkan insan pergerakan pada posisi yang dapatv memberikan kemanfaatan maksimal untuk diri dan lingkungan persaudaraan.

4. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM

Alam semesta adalah ciptaan Allah SWT. 19) Dia menentukan ukuran dan hukum- hukumnya.20) Alam juga menunjukan tanda-tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah. 21) Berarti juga nilai taiuhid melingkupi nilai hubungan manusia dengan alam .

Sebagai ciptaan Allah, alam berkedudukan sederajat dengan manusia. Namun Allah menun- dukan alam bagi manusia , 22) dan bukan sebaliknya . Jika sebaliknya yang terjadi, maka manusia akan terjebak dalam penghambaan terhadap alam , bukan penghambaan terhadap Al- lah. Karena itu sesungguhnya berkedudukan sebagai khalifah di bumi untuk menjadikan bumi maupun alam sebagai obyek dan wahana dalam bertauhid dan menegaskan dirinya. 23).

Perlakuan manusia terhadap alam tersebut dimaksudkan untuk memakmurkan kehidupan di dunia dan diarahkan kepada kebaikan di akhirat, 24) di sini berlaku upaya berkelanjutan untuk mentransendensikan segala aspek kehidupan manusia. 25) Sebab akhirat adalah masa masa depan eskatologis yang tak terelakan . 26) Kehidupan akhirat akan dicapai dengan sukses kalau kehidupan manusia benar-benar fungsional dan beramal shaleh. 27)

Kearah semua itulah hubungan manusia dengan alam ditujukan . Dengan sendirinya cara- cara memanfaatkan alam , memakmurkan bumi dan menyelenggarakan kehidupan pada umumnya juga harus bersesuaian dengan tujuan yang terdapat dalam hubungan antara manusia dengan alam tersebut. Cara-cara tersebut dilakukan untuk mencukupi kebutuhan dasar dalam kehidupan bersama. Melalui pandangan ini haruslah dijamin kebutuhan manusia terhadap pekerjaan ,nafkah dan masa depan. Maka jelaslah hubungan manusia dengan alam merupakan hubungan pemanfaatan alam untuk kemakmuran bersama. Hidup bersama antar manusia be- rarti hidup dalam kerja sama , tolong menolong dan tenggang rasa.

Salah satu hasil penting dari cipta, rasa, dan karsa manusia yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Manusia menciptakan itu untuk memudahkan dalam rangka memanfaatkan alam dan kemakmuran bumi atau memudahkan hubungan antar manusia . Dalam memanfaat- kan alam diperlukan iptek, karena alam memiliki ukuran, aturan, dan hukum tertentu; karena alam ciptaan Allah buykanlah sepenuhnya siap pakai, melainkan memerlukan pemahaman ter- hadap alam dan ikhtiar untuk mendayagunakannya.

Namun pada dasarnya ilmu pengetahuan bersumber dari Allah. Penguasaan dan pengem- bangannyadisandarkan pada pemahaman terhadap ayat-ayat Allah. Ayat-ayat tersebut berupa

(22)

22 wahyu dan seluruh ciptaanNya. Untuk memahami dan mengembangkan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah itulah manusia mengerahkan kesadaran moral, potensi kreatif berupa akal dan aktifitas intelektualnya. Di sini lalu diperlukan penalaran yang tinggi dan ijtihad yang utuh dan sistimatis terhadap ayat-ayat Allah, mengembangkan pemahaman tersebut menjadi iptek, men- ciptakan kebaruan iptek dalam koteks ke,manusiaan, maupun menentukan simpul-simpul penyelesaian terhadap masalah-masalah yang ditimbulkannya. Iptek meruipakan perwujudan fisik dari ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, terutama digunakan untuk memudahkan kehidupan praktis.

Penciptaan, pengembangan dan penguasaan atas iptek merupakan keniscayaan yang sulit dihindari. Jika manusia menginginkan kemudahan hidup, untuk kesejahteraan dan kemakmu- ran bersama bukan sebaliknya. Usaha untuk memanfaatkan iptek tersebut menuntut pengem- bangan semangat kebenaran, keadilan , kmanusiaan dan kedamaian. Semua hal tersebut dil- aksanakan sepanjang hayat, seiring perjalanan hidup manusia dan keluasan iptek. Sehingga, berbarengan dengan keteguhan iman-tauhid, manusia dapat menempatkan diri pada derajat yang tinggi.

(23)

23 BAB III

PENUTUP

Itulah Nilai Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang dipergunakan sebagai lan- dasan teologis normatif, etis dan motivatif dalam pola pikir, pola sikap dan pola perilaku warga PMII, baik secara perorangan maupun bersama-sama dan kelembagaan. Rumusan tersebut ha- rus selalu dikaji dan dipahami secara mendalam, dihayati secara utuh dan terpadu, dipegang secara teguh dan dilaksanakan secara bijaksana.

Dengan Nilai Dasar Pergerakan tersebut dituju pribadi muslim yang berbudi luhur , berilmu, bertaqwa, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya, yaitu sosok ulul albab Indonesia yang sadar akan kedudukan dan peranannya sebagai khalifah Allah di bumi dalam jaman yang selalu berubah dan berkembang , beradab, manusiwi, adil penuh rahmat dan berketuhanan.

(24)

24 STUDI GENDER DAN KELEMBAGAAN KOPRI

Citra bahwa laki-laki itu kuat dan rasional sementara perempuan lemah dan emosional merupakan konstruksi budaya. Citra tersebut bukanlah kodrat. Pembeda laki-laki dan per- empuan terletak pada biologisnya, itulah yang disebut kodrat.

Konstruksi budaya di atas seringkali disalahartikan sebagai kodrat sehingga menimbulkan rantai ketidakadilan yang cenderung menindas baik laki-laki dan khususnya perempuan. Ketid- akadilan tersebut telah berlangsung selama berabad-abad, setua peradaban manusia.

PMII memiliki komitmen terhadap keadilan gender, dan diwujudkan melalui pelembagaan gerakan perempuan bernama KOPRI. Dalam perjalanan, KOPRI melewati berbagai dinamika.

Sempat dibekukan kemudian dalam KONGRES di Kutai (2003) direkomendasikan untuk di- aktifkan kembali.

Menurut bahasa, kata gender diartikan sebagai “the grouping of words into masculine, fem- inine, and neuter, according as they are regarded as male, female or without sex” yang artinya gender adalah kelompok kata yang mempunyai sifat, maskulin, feminin, atau tanpa keduanya (netral). Dapat dipahami bahwa gender adalah perbedaan yang bukan biologis dan juga bukan kodrat Tuhan. Konsep gender sendiri harus dibedakan antara kata gender dan kata seks (jenis kelamin).

Kata gender jika ditinjau secara terminologis merupakan kata serapan yang diambil dari bahasa Inggris. Kata Gender berasal dari bahasa Inggris berarti “jenis kelamin” (John M. Ech- ols dan Hassan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia, cet. XII, 1983, hlm. 265). Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku (Victoria Neufeldt (ed), Webster’s New World Dictionary, 1984, hlm. 561). Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan per- empuan yang berkembang dalam masyarakat (Helen Tierney (ed), Women’s Studies Encylo- pedia, vol. I, New York: Green Wood Press,, h.153.).

Karena istilah gender masih sangat baru dipergunakan dalam blantika perbendaharaan kata di Indonesia, maka kata tersebut tidak dijumpai dalam kamus-kamus bahasa Indonesia. Namun, kata ini terus melakukan proses asimilasi dengan bahasa Indonesia. Pengaruh kuat dari sosial- isasi dalam masyarakat maka kata tersebut tidak lagi ditulis dengan huruf italik karena sudah seakan-akan dianggap bagian dari bahasa Indonesia, demikian juga dalam penulisan sebagian telah menggunakan kata gender menjadi gender.

(25)

25 Kata gender ini jika dilihat posisinya dari segi struktur bahasa (gramatikal) adalah bentuk nom- ina (noun) yang menunjuk kepada arti jenis kelamin, sex (Peter Salim, Advance English-Indo- nesia Dictionary, edisi ketiga, Jakarta: Modern English Press, 1991, h. 384), atau disebut dengan al-jins dalam bahasa Arab Hans (Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, cet.

III, London: McDonald & Evans Ltd., 1980, h. 141. Lihat pula Munir Ba’albakiy, Al-Maurid:

Qāmūs Injilizīy Arabīy, Beirūt: Dār al- ‘Ilm li al-Malāyīn, 1985, h. 383). Sehingga jika seseorang menyebut atau bertanya tentang gender maka yang dimaksud adalah jenis kelamin–

–dengan menggunakan pendekatan bahasa. Kata ini masih terbilang kosa kata baru yang masuk ke dalam khazanah perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Istilah ini menjadi sangat lazim digunakan dalam beberapa dekade terakhir.

Pengertian gender secara terminologis cukup banyak dikemukakan oleh para feminis dan pemerhati perempuan. Julia Cleves Musse dalam bukunya Half the World, Half a Chance mendefinisikan gender sebagai sebuah peringkat peran yang bisa diibaratkan dengan kostum dan topeng pada sebuah acara pertunjukan agar orang lain bisa mengidentifikasi bahwa kita adalah feminim atau maskulin (Lihat Julia Cleves Mosse, Half the World, Half a Chance: an Introduction to Gender and Development, terjemahan Hartian Silawati dengan judul Gender dan Pembangunan, cet. I (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 3.)

Pengertian yang lebih kongkrit dan lebih operasioanal dikemukakan oleh Nasaruddin Umar bahwa gender adalah konsep kultural yang digunakan untuk memberi identifikasi perbedaan dalam hal peran, prilaku dan lain-lain antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di da- lam masyarakat yang didasarkan pada rekayasa sosial (Lihat Nasaruddin Umar, “Perspektif Gender dalam Islam”, jurnal Paramadina, Vol. I. No. 1, Juli–Desember 1998, h. 99).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gender adalah sebuah konsep yang dijadikan pa- rameter dalam pengidentifikasian peran laki-laki dan perempuan yang didasarkan pada pengaruh sosial budaya masyarakat (social contruction) dengan tidak melihat jenis biologis secara equality dan tidak menjadikannya sebagai alat pendiskriminasian salah satu pihak ka- rena pertimbangan yang sifatnya biologis.

Menurut D.R. Nasaruddin Umar dalam "Jurnal Pemikiran Islam tentang Pemberdayaan Perempuan" (2000) ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kesetaraan gen- der ada di dalam Qur’an, yakni:

• Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Sebagai Hamba

Menurut Q.S. al-Zariyat (51:56), (ditulis al-Qur’annya dalam buku argumen kesetaraan gender hal 248) Dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba

(26)

26 ideal. Hamba ideal dalam Qur’an biasa diistilahkan sebagai orang-orang yang bertaqwa (mutaqqun), dan untuk mencapai derajat mutaqqun ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al- Hujurat (49:13).

• Perempuan dan Laki-laki sebagai Khalifah di Bumi

Kapasitas manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al’ard) ditegaskan dalam Q.S. al-An’am(6:165), dan dalam Q.S. al-Baqarah (2:30) Dalam kedua ayat tersebut, kata

‘khalifah" tidak menunjuk pada salah satu jenis kelamin tertentu, artinya, baik perempuan maupun laki-laki mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan memper- tanggungjawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di bumi.

• Perempuan dan Laki-laki Menerima Perjanjian Awal dengan Tuhan

Perempuan dan laki-laki sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian awal dengan Tuhan, seperti dalam Q.S. al A’raf (7:172) yakni ikrar akan keberadaan Tuhan yang disaksikan oleh para malaikat. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Qur’an juga menegaskan bahwa Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaan jenis kelamin. (Q.S. al-Isra’/17:70)

• Adam dan Hawa Terlibat secara Aktif Dalam Drama Kosmis

Semua ayat yang menceritakan tentang drama kosmis, yakni cerita tentang keadaan Adam dan Hawa di surga sampai keluar ke bumi, selalu menekankan keterlibatan keduanya secara aktif, dengan penggunaan kata ganti untuk dua orang (huma), yakni kata ganti untuk Adam dan Hawa, yang terlihat dalam beberapa kasus berikut:

• Keduanya diciptakan di surga dan memanfaatkan fasilitas surga (Q.S.alBaqarah/2:35).

• Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (Q.S.al-A’raf/7:20)

• Sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan (Q.S.al A’raf/7:23)

• Setelah di bumi keduanya mengembangkanketurunan dan saling melengkapi dan saling membutuhkan (Q.S.al Baqarah/2:187)

• Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Berpotensi Meraih Prestasi

Peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara perempuan dan laki- laki ditegaskan secara khusus dalam 3 (tiga) ayat, yakni: Q.S. Ali Imran /3:195; Q.S.an- Nisa/4:124; Q.S.an-Nahl/16:97. Ketiganya mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang

(27)

27 ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual mau- pun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja.

• Gender sebagai Kerangka Analisis

Gender merupakan analisis yang digunakan dalam menempatkan posisi setara antara laki- laki dan perempuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat sosial yang lebih egaliter. Jadi, gender bisa dikategorikan sebagai perangkat operasional dalam melakukan measure (penguku- ran) terhadap persoalan laki-laki dan perempuan terutama yang terkait dengan pembagian peran dalam masyarakat yang dikonstruksi oleh masyarakat itu sendiri. Gender bukan hanya ditujukan kepada perempuan semata, tetapi juga kepada laki-laki. Hanya saja, yang dianggap mengalami posisi termarginalkan sekarang adalah pihak perempuan, maka perempuanlah yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan untuk mengejar kesetaraan gender yang telah diraih oleh laki-laki beberapa tingkat dalam peran sosial, terutama di bidang pendidikan karena bidang inilah diharapkan dapat mendorong perubahan kerangka berpikir, bertindak, dan berperan da- lam berbagai segmen kehidupan sosial.

• Gerakan Perempuan

Para aktivis politik feminis pada umumnya mengkampanyekan isu-isu seperti hak repro- duksi, (termasuk hak yang tidak terbatas untuk memilih aborsi, menghapus undang-undang yang membatasi aborsi dan mendapatkan akses kontrasepsi), kekerasan dalam rumah tangga, meninggalkan hal-hal yang berkaitan dengan keibuan (maternity leave), kesetaraan gaji, pelecehan seksual (sexual harassment), pelecehan di jalan, diskriminasi dan kekerasan seksual (sexual violence). Isu-isu ini dikaji dalam sudut pandang feminisme, termasuk isu-isu patri- arkhi dan penindasan.

Sekitar tahun 1960an dan 1970an, kebanyakan dari feminisme dan teori feminis telah disusun dan difokuskan pada permasalahan yang dihadapi oleh wanita-wanita Barat, ras kulit putih dan kelas menengah. Kemudian permasalahan-permasalahan tersebut diklaim sebagai persoalan universal mewakili seluruh wanita. Sejak itu, banyak teori-teori feminis yang me- nantang asumsi bahwa "perempuan" merupakan kelompok individu-individu yang serba sama dengan kepentingan yang serupa. Para aktivis feminis muncul dari beragam komunitas dan teori-teorinya mulai merambah kepada lintas gender dengan berbagai identitas sosial lainnya, seperti ras dan kelas (kasta). Banyak kalangan feminis saat ini berargumen bahwa feminisme adalah gerakan yang muncul dari lapisan bawah yang berusaha melampaui batasan-batasan

(28)

28 yang didasarkan pada kelas sosial, ras, budaya dan agama, yang secara kultural dikhususkan dan berbicara tentang isu-isu yang relevan dengan wanita dalam sebuah masyarakat.

PMII menyadari bahwa anggotanya perlu diberdayakan semaksimal mungkin. Selama ini kader putri PMII dirasa belum banyak yang diberi kesempatan untuk memaksimalkan poten- sinya, padahal jumlah anggota putri PMII terbilang banyak. Untuk itu, konstitusi PMII men- syaratkan keberadaan kader putri dalam setiap tingkatan kepengurusan PMII diberi kuota min- imal 1/3 (dari PB sampai Rayon).

Dalam Bab VII Anggaran Rumah Tangga (ART) PMII tentang Kuota Kepengurusan, Pasal 20 dinyatakan, ayat (1) Kepengurusan di setiap tingkat harus menempatkan anggota perempuan minimal 1/3 keseluruhan anggota pengurus; dan ayat (2) Setiap kegiatan PMII harus menem- patkan anggota perempuan minimal 1/3 dari keseluruhan anggota.

Penjelasan soal pemberdayaan anggota perempuan PMII ada dalam bab VIII Pasal 21 ayat (1) Pemberdayaan Perempuan PMII diwujudkan dengan pembentukan wadah perempuan yaitu KOPRI (Korp PMII Putri), dan ayat (2) Wadah Perempuan tersebut diatas selanjutnya diataur dalam Peraturan Organisasi (PO).

Adapun wadah pemberdayaan anggota putri PMII ditegaskan dengan pembentukan lem- baga khusus bernama Korp PMII Putri (KOPRI) sebagaimana dalam Bab IX tentang Wadah Perempuan. Dalam Pasal 22, ayat (1): Wadah perempuan bernama KOPRI; ayat (2) KOPRI adalah wadah perempuan yang didirikan oleh kader-kader Putri PMII melalui Kelompok Kerja sebagai keputusan Kongres PMII XIV; ayat (3) KOPRI didirikan pada 29 September 2003 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta dan merupakan kelanjutan sejarah dari KOPRI yang didiri- kan pada 26 November 1967; dan ayat (4) KOPRI bersifat semi otonom dalam hubungannya dengan PMII.

Struktur KOPRI sebagaimana struktur PMII, terdiri dari : PB KOPRI, PKC KOPRI dan PC KOPRI.

Visi KOPRI adalah Terciptanya masyarakat yang berkeadilan berlandaskan kesetaraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Sedangkan Misi KOPRI adalah Mengideologisasikan nilai keadilan gender dan mengkonsoli- dasikan gerakan perempuan di PMII untuk membangun masyarakat berkeadilan gender.

http://materimapaba.blogspot.com/2015/07/studi-gender-dan-kelembagaan-kopri.html

(29)

29 PMII DAN PERJALANAN

A. Cikal Bakal Proses Kelahiran PMII

Berdirinya organisasi Pergerakan Isslam Indonesia (PMII) dilator belakangi oleh kemauan keras mahasiswa Nahdliyyin untuk membentuk wadah organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusunnah Wal Jamaah. Hal ini tidak terlepas dari eksistensi IPNU-IPPNU. Karena secara historis, PMII merupakan mata rantai dari departemen perguruan tinggi IPPNU yang di bentuk pada muktamar III IPNU di Cirebon pada tanggal 27-31 Desember 1958. Wacana mendirikan wadah yang dapat mengakomodir kebutuhan mahasiswa Nahdliyah sudah ada ketika muktamar II IPNU di Pekalongan, karena keberadaan IPNU yang masih muda berdiri pada tahun 1954, wacana itu tak dipanggil secara serius, masih banyak pekerjaan lain yang lebih urgent. Seiring dengan perkembangan kebutuhan mahasiswa untuk mengaktualisikan diri, mereka terus ber- juang untuk mewujudkannya.

Puncak dari perjuangan mendirikan organisasi mahasiswa Nahdliyah adalah ketika IPNU mengadakan konferensi besar di Kaliurang Yogyakarta pada Tanggal 14-17 Maret 1960. Kon- ferensi ini akhirnya membuahkan hasil, sehingga pada akhirnya terbentuk tim husus yang terdiri dari 13 perintis untuk mengadakan musyawarah mahasiswa NU di Surabaya pada tang- gal 14-16 April 1960 dengan limit waktu satu bulan setengah setelah keputusan Kaliurang.

Adapun ke-13 orangsponsor pendiri PMII adalah :

1. Cholid Mawardi 2. Sa’id Budairy (Alm) 3. M. Shobic Ubaid (Alm) 4. M. Makmun Syukri BA (Alm) 5. Hilman (Alm)

6. H. Ismail Makky (Alm) 7. Munsif Nahrawi 8. Nuril Huda Suaidy 9. Laily Mansur (Alm) 10. Abd. Wahab Jailani (Alm) 11. Hisbullah Huda (Alm) 12. M. Cholid Narbuko (Alm) 13. Ahmad Husain (Alm)

(30)

30 Dalam musyawarah di kota pahlawan ini banyak tawaran nama yang diusulkan untuk nama organisasi lain, yakni IMAN ( Ikatan Mahasiswa Nahdatul Ulama) usulan delegasi dari Jakarta, Persatuan Mahasiswa Sunni dari Yogyakarta, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari Bandung dan Surabaya. Dari ketiga usulan nama tersebut, PMII lah yang disetujui ole forum sebagai nama organisasi, tepat pada tanggal 17 April 1960 (21 Syawal 1379) yang kemufian di tetapkan sebagai hari lahir PMII.

“Jangan tanyakan apa yang telah kau beri untuk PMII, tanyakan apa yang telah kau beri untuk PMII”

(31)

31

BAB II

REFERENSI MATERI PBAK 2021

MENGAPA IAIN SURAKARTA BERGANTI NAMA MENJADI UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA?

Oleh : Ahmad Zuhdy Alkhariri Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir,

Fakultas usuluddin dan Dakwah

Berbicara mengenai perguruan tinggi tak lepas dari peran serta pemikiran dalam membangun keilmuan terbesar di seluruh Indonesia maupun dunia. Berbagai ragam yang berbeda-beda membuatnya menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa untuk menggapai tujuan masing-masing. Dengan begitu, perkembangannya telah di buktik- kan berkat peran fakultas-fakultas mengenai ranah jurusan atau biasa disebut prodi ( program studi). Sebab itulah perguruan tinggi menjadi suatu yang di pertanyakan men- gapa setiap mahasiswa penting mengkajinya?. Apakah hanya sekedar eksistensi kam- pusnya? Atau sebagai salah satu kampus favorit bagi mahasiswa?.

Perguruan tinggi memiliki arti lembaga pendidikan yang secara formal diserahi tugas tanggung jawab mempersiapkan mahasiswa sesuai dengan tujuan pendidikan tinggi. Tujuannya ialah tridarma perguruan tinggi telaksana. Antara lain : pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakat. 3 point tersebut, mempunyai jalan menuju im- plementasi pola pikir mahasiswa pada umumnya. membentuk mahasiswa yang terdidik atau dalam lembaga disebut pendidikan. Ki Hajar Dewantoro mengartikan pendidikan ada 3 hal dalam penerapannya. Pertama Tetep, atep, mantep yakni pendidikan harus membentuk keteta- pan pikiran dan batin.kedua Ngandel, kandel, kendel, dan bandel memiliki arti seorang pen- didik itu harus berpendirian yang tegak. Ketiga, neng, ning, nung, nang yaitu seorang pendidik harus memiliki tataran becorak religious ( agama )

Inilah yang seharusnya di pertanyakan oleh berbagai perguruan tinggi yang ingin menguatkan keilmuannya sesuai apa yang di inginkan kampusnya. Mungkin saja perguruan tinggi menyiap- kan hal-hal agar para mahasiswa siap menghadapi tantangan zaman. Mengingat memajukannya itu tidak mudah butuh proses pembelajaran. Fenomena-fenomena marak dibicarakan adalah

(32)

32 perubahan nama perguran tinggi. Sehingga terlihat bagus di mata cendekiwan-cendikiawan tekemuka.

Apalagi berbagai perguruan tinggi melakukan perubahan besar-besaran demi terwujudnya intlektual yang bermutu, maju, dan terpecaya sesuai ekspetansi para mahasiswa. Salah satunya yakni antara iain menjadi uin, sekolah tinggi menjadi universitas dan seterusnya. Hal itu pernah di ungkapkan ichwan prasetyo mengatakan “penerapan universitas harus dilakukan secara komprehensif sampai pada tercapainya puncak kulminasi kemajuan dan peradapan”.Menurut- nya perubahan keilmuan dibentuk atas apa yang di realisasikan mahasiswa terhadap ilmu dan pengetahuan.

Melihat kondisi tersebut, bukan tidak mungkin khas universitas hilang melalui nilai-nilai perguruan tinggi. Dan itu sangat tidak mudah sekali proses di kaji selama bertahun-tahun telah di perjuangkan. Ditambah paradigma berbeda-beda mahasiswa, pegawai, dosen, ataupun pe- jabat-pejabat kampus mengenai gerak intlektualnya. Maka pembelajaran perguruan tinggi di bangun fondasi yang kuat supaya tridarma bisa dilakukan di daerah masing-masing. Ting- katannya juga di dasarkan peran desen kepada mahasiswa semisal : nilai ipk, keaktifan maha- siswa, presentasi dan seterusnya.

Dalam kurun waktu setahun penilain dosen sangat berpengaruh sepak terjangnya dalam mengajar. Ingat, dosen tak luput kerjasama sesamannya meraih kapasitasnya mengajar yang di terapkan kurikulum kampus. Sebagai terlaksanannya peningkatkan wawasan keilmuan dan pengetahuan perguruan tinggi. Yang juga merupakan prestasi akademik tersendiri jika dilihat melalui perkembangannya.

Ilmu yang dikuasai melalui proses pendidikan wajib diimplementasikan dan diterapkan. Salah satunya penelitian ilmiah menuju jalan pengembangan diri mahasiswa. Sudah dibentuk mem- berikan kemanfaatan bagi nusa dan bangsa. Mahasiswa pun wajib mempunyai sofkill serta kedewasaan diri menyelesaikan masalah yang ada. Sepeti halnya melihat fenomena-fenomena dalam bentuk pola pikir yang kritis.

Sepak Terjang Iain Surakarta

Perjalanan proses pembelajaran sebuah perguruan tinggi sangatlah membutuhkan proses yang panjang dalam keberlangsungan pendidikan akademika. Yang melibatkan para cendikiawan- cendikiawan tokoh berperan penting di balik sejarahnya. Hal itulah yang sedang dialami iain Surakarta awalnya stain. Maka peran cendikiawanlah membawa dampak kualitas mutu

(33)

33 mahasiswa dengan tingkatannya. Untuk lebih mengkulas napak tilas perjalanan stain, ada berbagai era perubahannya perlu kita kupas tuntas mengenai hal itu.

Dulunya iain Surakarta merupakan lulusan madrasah Aliyah khusus (MAN PK) yang terletak di semarang bernama iain walisongo. Bahkan lulusannya dari seluruh Indonesia yang memiliki potensi akadimik unggul. Pada tahun 1997 pemerintah mengubah semua fakultas yang berada di luar kampus induknya menjadi stain. Berlaku untuk semua iain, termasuk iain walisonggo yang jauh di solo.

Karena sudah pernah diungkap wakil rektor bidang kemahasiswaan syamsul bakri yang pernah menceritakannya “Tahun 1997 dua fakultas IAIN Walisongo yang di Solo ini menjadi STAIN Surakarta, lalu 2011 menjadi institut yaitu IAIN Surakarta” imbunya. Dengan begitu, peru- bahan siknifikat iain begitu memberikan gerak keintlektualan menjadi luas. Dan bersifat ke- menag otomatis memiliki alasan tersendiri yang dikemudian saksi sejarah perjalanannya.

Kilas Balik pengubahan Iain Surakarta menjadi UIN Raden Mas Said

Perjalanan iain tidak sampai di penghujung iain saja, tetapi hingga berkembang menjadi UIN Raden Mas Said sesuai keputusan presiden joko widido pada 11 Mei 2021. Dengan bertambah enam yang sekarang di total menjadi 23 UIN seluruh indonesia. Sekaligus sebagai pembuktian majunya kualitas keintlektualan indonesia yang mampu bersaing di dalam negeri maupun luar negeri. Menjawab keraguan yang ada dalam benak hati mahasiswa. Dan justru terbentuknya enam perguruan tinggi islam negeri nasional yakni : UIN Sayyid Ali Rahmatulloh Tulunga- gung, UIN Profesor Kyai Haji Saifuddin Zuhri puwokerto, UIN

Raden Mas Said Surakarta, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, UIN Kyai Achmad Siddiq Jember, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.

Kualitas ini juga ajang pembuktian mendukung sepenuh penyelenggaran program pendidikan tinggi ilmu agama islam dalam pasal 2. Inilah sebabnya kemajuan perguruan tinggi khususnya keislaman demi kemajuan bangsa dan negara. Serta menjawab keraguan mahasiswa iain sura- karta “mengapa iain surakarta berganti nama UIN Raden Mas Said”?. Bukankah kualitas kepe- karan kentlektulan tidak harus berganti namanya saja?. Semoga pertanyaanperntanyaan inilah bisa memberikan solusi dalam kemajuan dunia intlektual mahasiswa.

(34)

34 Sang Pewaris Bangsa, Sang Agen Perubahan

Bagas Nur Muhamad Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Adab dan Bahasa

Bangun pemudi-pemuda Indonesia ……….

Tangan bajumu singsingkan untuk negara…………

Alunan lembut nada indah yang sering didengungkan ketika memperingati ke- merdekaan Negara republik Indonesia. Dibumbui makna yang dalam oleh sang penulis, Alfred Simanjuntak menjadikannnya serat makna bagi para penerus bangsa yang harus siap dan di- nanti-nanti sebagai tonggak api pergerakan dalam menjalani setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Para pemuda dan pemudi memang dipersiapkan untuk menggantikan sang Tua, seman- gat dalam darahnya masih terpancar dan kian menggebu. Peristiwa yang terjadi di Rengasdengklok menjadi saksi betapa jiwa semangat dan api pergerakan serta perjuangan para pemuda itu semakin menyeruak. Terjadinya proses perdebatan dengan golongan tua yang membahas tentang keinginan mempercepat kemerdekaan menjadi bukti bahwa golongan muda/pemuda ini memang memiliki jiwa nasionalisme dan semangat yang kental. Di za- man/era para generasi Z ini api semangat telah sampailah di tangan para mahasiswa, sang seorang akademisi yang dituntut oleh tri dharma perguruan tinggi untuk mendidik lewat Pen- didikan, meneliti lewat Penelitian dan mengabdi lewat pengabdian.

Menjadi Mahasiswa maka akan menjadi seorang Fighter/pejuang sejati, menjadi ma- hasiswa haruslah siap berkeringat, siap berjuang dalam hujan derasnya air dan teriknya sang surya. Posisi mahasiswa adalah posisi sentral ataupun garda terdepan dalam membela setiap bentuk krisis. Menjadi mahasiswa merupakan tugas yang anggun serta mulia, dan menjadi ma- hasiswa tentu sebagai tombak perubahan atau yang sering disebut (agent of change). Sofyan (2014) definisi agent of change ialah sebuah kata yang memiliki makna bergerak kearah yang lebih baik, Ayu

(35)

35 Luluhan (2014) agent of change adalah sekelompok yang mendapatkan perhatian dan diharap- kan oleh masyarakat sebagai pemimpin yang memimpin serta menjalankan system sosial. Jadi agent of change sendiri ialah seorang/sekelompok yang ada untuk melakukan gerakan peru- bahan ke arah yang lebih baik.

Dalam memasuki dunia yang serba digital dan terus berkembang, arus peran dan fungsi menjadi seorang mahasiswa mulai tumbuh semakin luas. Dalam merangkai sebuah gam- baran/kerangka menjadi mahasiswa sendiri memiliki peran dan fungsi yang vital dan Peran serta fungsi mahasiswa dijelaskan sebagai berikut: Pertama, Mahasiswa sebagai Iron Stock, Kedua, Mahasiswa sebagai Guardian of Value, Ketiga, Mahasiswa sebagai Moral Force, Keempat, Mahasiswa sebagai Social Control, dan yang Kelima, Mahasiswa sebagai Agent of Change.

Pada zaman ini mahasiswa layaknya seorang ayah dari sebuah rakyat manakala rakyat terluka maka mahasiswa siap dan sigap untuk membela, hal itu tercermin ketika banyak ke- bijakan pemerintah yang dinilai menyengsarakan rakyat seperti polemik UU Omnibus Law yang menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran oleh para mahasiswa di berbagai dae- rah. Dengan melihat kenyataan ini barangkali dapat dikerucutkan bahwa mahasiswa mampu untuk menjadi sebuah oposisi dalam menentang kediktatoran para penguasa dan mampu meru- bah sebuah keputusan dari penguasa yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Sejalan dengan perannya sebagai agen perubahan seyogyanya mahasiswa juga mampu dalam mengemban tu- gas untuk merubah masa depan negara ke arah yang lebih baik. Namun dengan berbekal peran sebagai Agent of Change tak serta merta menjadikan mahasiswa sebagai aktor dalam merubah masa depan negara ke arah yang lebih baik, karena dalam menjadi seorang mahasiswa maka diibaratkan sebagai gelas yang diisi air, ketika airnya jernih maka hasilnya pun akan baik na- mun ketika airnya tercampur air keruh maka hasilnya pun buruk, salah satu masalah yang kian mengancam para generasi emas bangsa ini ialah masalah tentang radikalisme, yang mana seringkali mahasiswa dengan mudahnya dicuci otaknya dan mau untuk melakukan tindakan keji seperti yang dulu terjadi di pos polisi didekat Tugu Kartasura.

Pada saat itu telah terjadi peristiwa bom bunuh diri yang sayangnya tidak menewaskan namun hanya memberikan luka yang fatal pada pelaku. Dalam kenyataannya maka peran ma- hasiswa sebagai Agent of Change juga akan berubah sedikit dan akan menjadi boomerang untuk memiliki sifat yang anti pemerintah serta menganggap bahwa pemerintahan yang ada di Indo- nesia tidak baik oleh karena itu diatas saya jelaskan potensi mahasiswa yang bilamana

Referensi

Dokumen terkait

Penyampaian LPPD kepada Pemerintah pada dasarnya mengetengahkan gambaran kinerja Pemerintah Daerah secara utuh sepanjang tahun 2016, berdasarkan tolok ukur kinerja

Selanjutnya Universitas Muhammadiyah Surabaya menjamin terselenggaranya kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan dengan memperhatikan hak atas

Oleh karena itu, penulis menyusun buku ajar untuk mata kuliah Pengantar Dasar Matematika yang bertujuan untuk memberikan bekal pada mahasiswa tentang konsep

sebanyak tiga kali yaitu sebelum pengambilan mata kuliah, menjelang ujian tengah semseter dan ujian akhir semester serta dapat melakukan pembimbingan diluar waktu

Rencana Induk Penelitian dan Pengabdian Universitas Krisnadwipayana 2016- 2020 adalah sebuah pedoman dan arahan kebijakan bagi pelaksanaan penelitian dan pengabdian

Barang impor yang didatangkan ke daerah yang memiliki fasilitas pelabuhan besar (Jakarta dan Surabaya) kini dapat mendistribusikan barangnya langsung ke konsumen tanpa

Tetapi apabila dilihat dari tingkat capaian 2 (dua) program urusan wajib bidang penanaman modal yang dicanangkan dalam dokumen RPJMD Provinsi Banten Tahun 2012-2017, yaitu

Setelah mempelajari modul gatal pada penyakit tropis, mahasiswa sistem kedokteran tropis mampu memahami penyakit-penyakit tropis dengan gejala gatal pada kulit, patomekanisme,