7 A. Interprofesional education
1. Pengertian interprofessional education
Interprofessional education dipikirkan penting untuk mengembangkan hubungan pekerjaan baik di antara profesional berbeda dengan meningkatkan interprofessional sikap dan perilaku yang positif (Barr, 2002). Interprofessional education terjadi ketika dua atau lebih multidisiplin ilmu belajar tentang praktek kolaborasi untuk meningkatkan kerjasama dan mutu pelayananaan kesehatan dari kekhawatiran (Barr, 2002). Interprofessional education adalah kegiatan pendidikan yang menggunakan pendekatan pembelajaran interaktif antar profesional untuk mengembangkan praktik kolaboratif antar profesi pendidikan (Freeth, 2002).
Pendekatan penempatan berbasis praktek dapat menawarkan cara yang berguna untuk memajukan pendidikan antarprofesi. Melalui menyediakan siswa dengan berbagai kegiatan seperti mengamati dan membahas bagaimana para profesional bekerja sama, penempatan tersebut menawarkan suatu ideal pengaturan bagi siswa untuk mengembangkan sikap yang diperlukan, pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk kolaborasi antar profesi (Miller, 1999).
Interprofessional education mengajarkan untuk berkolaborasi dengan tim kesehatan yang lain dalam praktek dilapangan. Area penting dari pendidikan interprofesional adalah ketrampilan dari fasilisator, dan mempunyai wawasan tentang kolaborasi penting dikerjakan untuk pendidikan interprofesional (Gilbert, 2000). Gilbert menyimpulkan bahwa fasilisator perlu dilatih untuk memberikan ketrampilan dan wawasan sebagai pengalaman dan penasihat. Fasilisator terdiri dokter,
perawat, ahli gizi, radiologi, apoteker, laboran dan administrasi yang memahami tentang pentingnya kolaborasi dalam dunia kesehatan.
2. Tujuan dari interprofessional education
Tujuan Interprofessional education menurut Freeth & Reeves (2004) adalah untuk mempersiapkan mahasiswa profesi kesehatan dengan iilmu, ketrampilan, sikap dan perilaku profesional yang penting untuk praktek kolaborasi interprofesional.
3. Ciri khas interprofessional education
Ciri khas Interprofessional education menurut Freeth & Reeves (2004) adalah terjadinya perubahan mindset, pengetahuan dan perilaku peserta didik/atau mahasiswa:
a. Mahasiswa paham akan prinsip dasar, konsep dan kontribusi dari setiap bidang profesi.
b. Familier dengan bahasa atau istilah serta pola pikir dari berbagai jenis profesi.
c. Mahasiswa harus sudah menguasai dasar keilmuan dan ketrampilan spesifik masing-masing profesi.
d. Mahasiswa harus mengusai konsep tentang kolaborasi.
4. Faktor yang mempengaruhi Interprofessional education a. Faktor budaya
Dampak dari faktor budaya merupakan pertimbangan penting bagi individu untuk mengembangkan pendidikan interprofesional.
Banyak dari tim ahli yang menganggap bahwa pendidikan interprofesional tidak perlu digunakan dan sering menganggap tidak penting. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa staf yang berkomitmen dalam pentingnya kolaborasi di dunia kesehatan harus terlibat dengan kegiatan ini (Lary, 1997).
Tanpa dukungan dari para tim ahli yang menyadari pentingnya pendidikan interprofesional, menurut Lary (1997) ia berpendapat bahwa program antar profesi tidak mungkin dipertahankan jika para tim ahli kesehatan tidak menyadari tentang pentingnya kolaborasi dan pendidikan interprofesional. Sebagai contoh, Pryce dan Reeves (1997) menemukan bahwa siswa keperawatan dan mahasiswa kedokteran gigi mempunyai persepsi untuk bekerjasama dalam belajar kelompok profesional karena mereka mulai pada antar profesi. Persepsi tersebut dapat menyebabkan siswa untuk melihat sedikit menilai dalam belajar bersama. Hal ini dapat mempengaruhi motivasi mereka untuk belajar dan berinteraksi dengan siswa lainnya kelompok.
b. Faktor pendidikan
Pendidikan antar profesi lebih diperparah oleh keberadaan dari sejumlah faktor pendidikan. Untuk misalnya, mengingat ketidakseimbangan sosial-politik sejarah yang telah ada antara profesi kesehatan (Hugman, 1991; Porter, 1995), sangat penting bahwa setiap antar profesi dilandasi dan secara eksplisit menekankan kesetaraan antara peserta. Disarankan bahwa jenis aktivitas harus dilakukan di profesional lingkungan belajar yang netral (Parsell, 1998), memastikan bahwa satu kelompok profesional tidak mengambil kesempatan untuk mendominasi kegiatan pembelajaran (Funnell, 1995). Penelitian telah menemukan bahwa di mana pendidikan antar profesi tidak memenuhi kebutuhan belajar siswa (khususnya dalam hal mengembangkan profesi-spesifik kompetensi) resistensi terhadap kegiatan kolaboratif dapat dihasilkan (Fallsberg dan Hammar, 2000; Reeves dan Freeth, 2002).
Fasilisator memfasilitasi kelompok antarprofesi merupakan tugas yang sulit. Serta memiliki baik pengetahuan teori-teori belajar
kelompok (Jaques, 1998) keterampilan praktis, pengalaman dan keyakinan untuk memenuhi tuntutan yang berbeda dari sebuah antarprofesi kelompok. Menurut Holland (2002) menguraikan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk pendidikan yang efektif fasilitator antarprofesi: Pengetahuan tentang profesi, isu-isu saat ini mereka hadapi dalam praktek, pengetahuan tentang fokus dari pembelajaran antarprofesi program. Tanpa berbagai pengetahuan dan keterampilan, fasilitasi kelompok antarprofesi telah ditemukan untuk tidak konsisten antara profesional berpartisipasi (Freeth dan Nicol, 1998; Reeves, 2000).
c. Faktor organisasi
Interprofessional education umumnya dianggap sebagian besar oleh pemerintah meragukan dan tidak berhasil. Halangan dari luar lebih banyak dibandingkan dengan hambatan dari dalam. Misalnya, institusi yang berbeda dan adanya kompetisi di antara institusi.
Tetapi masalah tersebut dapat diatasi dengan adanya perencanaan dan adanya koordinasi antar pendidikan kesehatan (Barber, 1997;
Mires., 2001; Reeves and Freeth, 2002).
5. Kompetensi yang diharapkan dari Interprofessional education
Menurut Freeth & Reeves (2004) kompetensi yang diharapkan dari Interprofessional education :
a. Pengetahuan
Paham otonomi tiap profesi danpaham peran masing-masing dalam keterpaduan.
b. Ketrampilan
Profesionalisme terjaga, bukan untuk berebut, bertentangan tetapi untuk bersinergi, saling melengkapi dan terpadu dalam pelayanan holistik, manusiawi, etis dan bermutu. Kemampuan komunikasi yang baik, mengutamakan keselamatan klien / pasien.
c. Sikap
Profesional, saling menghormati, keiklasan untuk bekerja sama dalam kesejajaran, saling percaya dengan profesi lain, keterbukaan disiplin jujur dan bertanggung jawab.
6. Ruang lingkup interproffesional education
a. Kolaborasi perawat dengan tim kesehatan yang lain 1) Pengertian kolaborasi
Kolaborasi tidak dapat didefinisikan atau dijelaskan dengan mudah. Kebanyakan definisi menggunakan prinsip perencanaan dan pengambilan keputusan bersama, berbagi saran, kebersamaan, tanggung gugat, keahlian, dan tujuan serta tanggung jawab bersama. American Nurses Association (ANA):
Baggs & Schmitt,1988; Evans & Carlson,1992; Shortridge, McLain, & Gillis1986, (dalam Siegler & Whitney,1994) menyebutkan kolaborasi sebagai hubungan timbal balik dimana pemberi pelayanan memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif mereka.
Praktik kolaborasi menekankan tanggung jawab bersama dalam menajemen perawatan pasien, dengan proses pembuatan keputusan bilateral didasarkan pada masing-masing pendidikan dan kemampuan praktisi. Meskipun definisi ini termasuk yang terbaik, tapi belum dapat menyampaikan sekian ragam variasi dan kompleksnya kolaborasi dalam perawatan kesehatan National Joint Practice Commission (Siegler & Whitney, 1994).
Kolaborasi adalah hubungan timbal balik dimana pemberi pelayanan memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan dalam kerangka kerja bidang respektif mereka. Praktik kolaboratif menekankan tanggung jawab bersama dalam manajemen perawatan pasien, dengan proses pembuatan
keputusan bilateral didasarkan pada pendidikan dan kemampuan praktisi (Shortridge, 1986).
b. Model/pola praktik kolaborasi
Model praktek kolaborasi menurut Burchell, R.C., Thomas D.A., dan Smith H.I.,(dalam Siegler & Whitney, 1994) ada 3 yaitu Model Praktek Hirarkis tipe I, tipe II, tipe III.
1) Model praktik Hirarkis tipe I menekankan komunikasi satu arah, kontak terbatas antara pasien dan dokter. Dokter merupakan tokoh yang dominan
Dokter
Registered Nurse
Pemberi Pelayanan Lain
Pasien
Skema 2.1, Model Praktik Hirarkis,Tipe I
Burchell, R.C., Thomas D.A., dan Smith H.I.,(Siegler & Whitney, 1994)
2) Model Praktik Hirarkis tipe II menekankan komunikasi dua arah, tapi tetap menempatkan dokter pada posisi utama dan membatasi hubungan antara dokter dan pasien
dokter
perawat pemberi pelayanan lain
pasien
skema 2.2, Model Praktik Kolaboratif, Tipe II Burchell, R.C., Thomas D.A., dan Smith H.I.,
(dalam Siegler & Whitney, 1994).
3) Model Praktik Hirarkis tipe III lebih berpusat pada pasien, dan semua pemberi pelayanan harus saling bekerja sama dengan pasien. Model ini tetap melingkar, menekankan kontinuitas, kondisi timbal balik satu dengan yang lain dan tidak ada satu pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus menerus.
Kolaborasi yang dilakukan dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya semuanya berorientasi kepada pasien. Dalam situasi apapun, praktik kolaborasi yang baik harus dapat menyesuaikan diri secara sdekuat pada setiap lingkungan yang dihadapi sehingga anggota kelompok dapat mengenal masalah yang dihadapi pasien, sampai terbentuknya diskusi dan pengambilan keputusan.
Dokter Perawat
Pasien
Pemberi Pelayanan lain
Skema 2.3, Pola Praktik Kolaborasi, Tipe III
Burchell,R.C., Thomas D.A., dan Smith H.I.,(dalam Siegler & Whitney, 1994)
Kolaborasi menurut Hoffart dan Wood (1996), Will Jhonson dan Sailer (1998) (dalam Paryanto, 2006) menekankan sikap saling menghargai antar tenaga kesehatan dan saling memberikan informasi tentang kondisi klien demi mencapai tujuan bersama.
Skema 2.4 Hoffart dan Wood (1996), Will Jhonson dan Sailer (1998) (dalam Paryanto, 2006)
Ahli gizi
Lab
Radiologi
Pasien
Dokter Rehab&
Medik
Perawat IGD
Bidan
c. Proses kolaborasi perawat – dokter
Sifat interaksi antara perawat – dokter menentukan kualitas praktik kolaborasi ANA (1980) menjabarkan kolaborasi sebagai ”hubungan rekanan sejati, dimana masing-masing pihak menghargai kekuasaan pihak lain, dengan mengenal dan menerima lingkup kegiatan dan tanggung jawab masing-masing yang terpisah maupun bersama, saling melindungi kepentingan masing-masing dan adanya tujuan bersama yang diketahui kedua pihak”
B. Persepsi
1. Pengertian persepsi
Terdapat berbagai penelitian mengenai persepsi yang dikemukaan oleh para ahli. Menurut Rokhmat (2000), persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya. Persepsi merupakan suatu proses yang dilakukan oleh penginderaan yaitu merupakan proses diterimanya stimulasi oleh individu melalui responnya. Stimulasi dilanjutkan ke susunan saraf otak dan terjadilah proses kognitif sehingga individu mengalami persepsi (Walgito, 1994).
Menurut Sunaryo (2004) persepsi dapat diartikan sebagai proses diterimanya ransangan melalui panca indera dengan didahului oleh perhatian sehingga individu mampu mengetahui, mengartikan, dan menghayati tentang hal yang di amati, baik yang ada diluar maupun didalam diri individu.
2. Tahapan proses persepsi
Menurut Sunaryo (2004), persepsi ada dua macam yakni :
a. Eksternal Perseption yaitu persepsi yang terjadi karena adanya ransangan yang datang dari luar individu.
b. Self Perseption yaitu persepsi yang terjadi karena adanya ransangan yang datang dari dalam diri individu. Dalam hal ini menjadi obyek adalah dirinya sendiri.
3. Syarat terjadinya persepsi
Syarat terjadinya persepsi menurut Walgito (1994) dan Sunaryo (2004) agar individu dapat mengandalkan persepsi yaitu dengan :
a. Adanya obyek yang dipersepsi, obyek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.
b. Adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan persepsi.
c. Adanya alat indera atau reseptor sebagai penerima stimulus.
d. Sebagai reseptor untuk meneruskan stimulus yang diterima ke pusat susunan syaraf otak sebagai pusat kesadaran.
4. Proses terjadinya persepsi
Menurut Walgito (1994) proses terjadinya persepsi terdiri dari beberapa proses diantaranya :
a. Proses Fisik, dimana proses ransangan mengenahi alat indera.
b. Proses Fisiologis, merupakan ransangan yang diterima oleh alat indera kemudian diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak.
c. Proses Psikologis adalah proses yang terjadi di dalam otak dalam pusat kesadaran.
5. Pengaruh persepsi dalam membuat penilaian tentang orang lain
Menurut Tjiptono (2003, dalam Winarsih, S) ada tiga hal yang dapat mempengaruhi persepsi dalam membuat penilaian tentang orang-orang lain yaitu:
a. Perbedaan
Menjelaskan apakah seseorang itu memeperlihatkan prilaku yang berbeda pada situasi yang berbeda pula.
b. Konsensus
Apabila setiap orang dihadapkan pada situasi yang sama merespon dengan cara yang sama.
c. Konsisitensi
Apakah seseorang merespon dengan cara yang sama secara terus menerus.
6. Persepsi dan pengukuranya
Mengukur pesepsi hampir sama dengan mengukur sikap (Azzahy, 2008).
Sikap (attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seorang terhadap sesuatu (Sarwono, 2009: 201). Sesuatu itu bisa benda, kejadian situasi, orang-orang atau kelompok. Walaupun materi yang diukur bersifat abstrak, tetapi secara ilmiah sikap dan persepsi dapat diukur, dimana sikap terhadap objek diterjemahkan dalam system angka. Dua metode pengukuran sikap terdiri dari metode self report dan pengukuran involuntary behaviour (Azzahy, 2008).
Self report merupakan suatu metode dimana jawaban diberikan dapat menjadi indikator sikap seseorang. Namun kelemahanya adalah bila individu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan maka tidak dapat mengetahui pendapat atau sikapnya. Pengukuran involuntary behaviour dilakukan jika memang diinginkan atau dapat dilakukan oleh responden, dalam banyak situasi akurasi pengukuran sikap dipengaruhi kerelaan responden. Pendekatan ini merupakan pendekatan observasi terhadap reaksi-reaksi psikologis tanpa didasari oleh individu yang bersangkutan. Observer dapat menginterprestasikan sikap/persepsi individu mulai dari facial reaction, foice tones, body gesture, keringat, dilatasi pupil mata, detak jantung, dan beberapa aspek fisiologis lainya (Azzahy, 2008).
Skala sikap disusun untuk mengungkap sikap pro dan kontra, positif dan negatife, setuju dan tidak setuju terhadap suatu objek sosial. Pernyataan sikap teridiri dari dua macam yaitu pernyataan favourable (mendukung atau memihak) dan unfavourable (tidak mendukung atau tidak memihak) pada objek sikap (Anwar dalam Azzahy, 2008).
C. Program pendidikan Ners
Di Indonesia, keperawatan sebagai suatu profesi telah disepakati pada lokakarya nasional tahun 1983. Keperawatan didefinisikan sebagai suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Hasil lokakarya nasional dalam bidang keperawatan tahun 1983 telah menghasilkan kesepakatan nasional secara koseptual yang mengakui keperawatan di Indonesia sebagai profesi, mencakup pengertian, pelayanan keperawatan sebagai professional dan pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi. Sesuai dengan hakikatnya sebagai pendidikan profesi, maka kurikulum pendidikan tinggi keperawatan disusun berdasarkan pada kerangka konsep pendidikan yang kokoh, yang mencakup : penguasaan IPTEK keperawatan, menyelesaikan masalah secara alamiah, sikap tingkah laku dan kemampuan professional, belajar mandiri serta belajar masyarakat (Shortiridge, 1983).
AIPNI dan PPNI (2006) telah menyepakati Standar Kompetensi Ners dan penetapan kurikulum inti. Kurikulum inti yang disepakati dan berlaku secara nasional adalah 60% (87 SKS) dari 144 SKS untuk program akademik dan 25 SKS untuk program profesi. Program alih jenjang (dari D-III ke Ners) untuk akademik antara 60-70 SKS dan profesi 25 SKS (DIKTI, 2006).
Program pendidikan Ners menghasilkan Sarjana keperawatan dan profesional dengan sikap, tingkah laku, kemampuan profesional, serta akuntabel untuk melaksanakan asuhan atau praktik keperawatan dasar secara mandiri. Program pendidikan Ners memiliki landasan keilmuan yang kokoh dan landasan keprofesian yang mantap sesuai dengan sifatnya sebagai pendidikan profesi (Nursalam, 2008).
Program pendidikan tahap profesi di Indonesia dikenal dengan pengajaran klinik dan lapangan, yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan ilmu yang dipelajari di kelas (pada tahap akademik) ke praktik klinik. Pengalaman belajar klinik dan pengalaman belajar lapangan adalah suatu proses transformasi mahasiswa menjadi seorang perawat profesional yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk beradaptasi dengan perannya sebagai perawat professional dalam melakasanakan praktik keperawatan profesional di situasi nyata pada pelayanan kesehatan klinik atau komunitas dengan melaksanakan asuhan keperawatan dengan benar, menerapkan ketrampilan professional (Nursalam, 2008).
Metode pembelajaran klinik / lapangan menurut Nursalam (2008) yang digunakan adalah eksprensial, konferensi, observasi, ronde keperawatan dan bed side teaching.
a. Metode Eksprensial
1) Membantu menganalisa situasi klinik melalui proses identifikasi masalah.
2) Menentukan tindakan yang akan diambil.
3) Mengimplementasikan pengetahuan kedalam masalah klinik.
4) Menekankan hubungan antara pengalaman belajar yang lalu dengan pengalaman terhadap masa lalu.
5) Berasal dari kognitif yang dipadukan dengan teori proses informasi dan teori pengambilan keputusan.
6) Kegiatan pada metode ini meliputi: situasi penyelesaian masalah, membantu peserta didik meningkatkan sikap profesional dan mampu menerapkan konseptual keperawatan dalam kurikulum berdasarkan masalah aktual. Peserta didik melakukan pengujian data, mengidentifikasi alternatife tindakan, penentuan prioritas tindakan pembuatan keputusan
b. Konferensi
1) Dirancang melalui diskusi kelompok.
2) Memberi kesempatan mengemukakan pendapat dalam menyelesaikan masalah.
3) Memberi umpan balik dari kelompok atau pengajar.
4) Member kesempatan terjadinya pre review, diskusi kepedulian, isu, dan penyelesaian masalah oleh disiplin ilmu yang lain.
5) Berinteraksi dan menggunakan orang lain sebagai nara sumber.
6) Meningkatkan kemampuan memformulasikan ide.
c. Observasi
Manfaat metode ini adalah memberikan pengalaman/ contoh nyata dan mengembangkan perilaku baru untuk pembelajaran masa mendatang.
Untuk kegiatannya meliputi: observasi lapangan, demonstrasi dan ronde keperawatan.
d. Ronde keperawatan
Karakteristik metode ini adalah : klien dilibatkan langsung, klien merupakan fokus kegiatan peserta didik, peserta didik dan pembimbing melakukan diskusi, pembimbing memfasilitasi kreativitas peserta didik serta pembimbing klinik membantu mengembangkan kemampuan peserta didik untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.
e. Bed side teaching
Merupakan metode mengajar peserta didik yang dilakukan disamping tempat tidur klien, meliputi kegiatan mempelajari kondisi klien dan asuhan keperawatan yang dibutuhakan oleh klien.
Pembelajaran klinik merupakan wadah untuk mahasiswadalam mengplikasikan asuhan keperawatan terhadap klien, sesuai dengan ilmu yang diperoleh dikelas dan memodifikasi kondisi situasional dilapangan dan menganalisa kritis sehingga mendapatkan perpaduan yang sempurna dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien di rumah sakit sesuai sumber daya saran dan prasarana.
Tujuan dari pembelajaran profesi adalah mahasiswa mendapatkan pengalaman yang nyata dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap klien sehat dan sakit sesuai tujuan, mengaplikasikan bentuk asuhan keperawatan dengan critical thinking yang sesuai denga sumber daya, sarana dan prasarana yang ada dilahan praktek sesuai dengan tujuan mata ajar, dan megaplikasikan tampilan sosok dan sikap perawat professional.
Mahasiswa yang diperkenankan mengikuti program profesi adalah mahasiswa semester IX Program Studi Sarjana Keperawatan Fikkes Unimus yang telah menyelesaika program sarjana (S.Kep) yang telah menempuh beban studi selama tujuh / delapan semester dan telah menyelesaikan SKS sarjana keperawatan.
Pelaksanaan program studi ditempuh selama 1 tahun dengan total SKS kelas regular sebesar 27 SKS. Mahasiswa tetap dinas meskipun libur nasional dan melakukan praktek selama 7-8 jam setip hari, serta pengaturan shif putaran dinas diatur oleh Clinical Instructure atau pihak yang berwenang sesuai aturan yang berlaku dilahan praktek.
Adapun mata ajar yang terpadu dalam program profesi adalah ketrampilan dasar profesi dengan beban 2 SKS, keperwatan medikal bedah denga beban 5 SKS, keperawatan anak dengan beban 3 SKS, keperawatan maternitas dengan beban 3 SKS, keperawatan jiwa dengan beban 3 SKS, keperawatan gerontik dengan beban 2 SKS, keperawatan gawat darurat dengan beban 3 SKS, keperawatan keluarga dengan beban 2 SKS, keperawatan komuitas dengan beban 2 SKS, dan management keperawatan dengan beban 2 SKS, serta kuliah elektif.
Proses evaluasi yang wajib dilalui oleh mahasiswa program profesi adalah melalui penilaian presensi (5%), kepanitraan umum (5%), ujian stase (50%), laporan dan seminar kelompok (20%), dan laporan individu (20%).
Ketentuan umum bagi mahasiswa program profesi kelas regular adalah mahasiswa wajib mengikuti kepanitraan umum sesuai jadwal yang telah ditetapkan, mahasiswa wajib mengikuti ujian Kepanitraan Umum dengan metode ujian OSCA, presensi mahasiswa wajib hadir 100%, dengan ketentuan bila absen tanpa keterangan wajib mengganti 2x jam yang ditinggalkan. Bila ijin mengganti sesuai dengan hari yang ditinggalkan, mahasiswa wajib mengikuti penugasan mata ajar profesi yang terkait, dengan mendapatkan sanksi bila tidak menyelesaikan. Sanksi sesuai dengan mata ajar terkait. Seragam mahasiswa menggunakan seragam sesuai surat edaran resmi dari akademik, yaitu: seragam klinik/RS putih- putih dengan sepatu putih, seragam dikomunitas/lapangan atas putih bawah coklat sepatu hitam. Mengenakan atribut lengkap nama dan kartu tanda praktikan yang dikeluarkan resmi sesuai lahan praktek (panduan praktek profesi Unimus 2009).
D. Peran perawat dalam pendidikan interprofesional
Peran perawat dalam interproffesional education adalah peran perawat dalam berkolaborasi ada 2 yaitu sebagai advokat dan juga sebagai koordinasi (Doheny, 1982).
1. Sebagai advokat
Perawat berfungsi sebagai penghubung antara tim kesehatan yang lain.
Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator.
2. Sebagai koordinasi
Perawat sebagai penghubung antar profesi, karena perawat yang berhubungan langsung dengan klien.
E. KERANGKA TEORI
Pertanda Proses Hasil
Skema 2.5 kerangka teori Sumber adaptasi dari Freeth dan Reeves (2004) Konteks
1. Kebijakan 2. Peraturan 3. Pembiayaan
4. Geografi dan demografi 5. Jumlah mahasiswa 6. Ruang dan waktu yang
digunakan
7. Kebutuhan kurikulum 8. Dukungan Institusi 9. Stakeholder
10.
11. kesehatan yang lain.
12.
karakteristik pengajar 1. Konsep belajar
mengajar
2. Persepsi mahasiswa 3. Konsep kerja sama /
kolaborasi
4. Keahlian pengajar 5. Minat
Karakteristik Pelajar 1. Pengetahuan
ketrampilan, dan sikap 2. Konsep belajar dengan
menggunakan pendekatan 3. Konsep kerja
sama/kolaborasi 4. Kebutuhan belajar
pendekatan belajar dan mengajar
1. Uni profesional, multiprofessional atau interprofessional 2. Pelajaran formal atau
informal
3. Kelas atau penempatan mendasarkan aktivitas 4. Waktu belajar
5. Teori pendukung 6. Pengalaman
7. Kunjungan pengajar 8. tim pengajar
kompetensi kolaborasi 1. Sikap
2. Pengetahuan 3. Ketrampilan Tindakan kolaborasi 1. Praktek
2. kepedulian terhadap pasien
G. Kerangka Konsep
Skema 2.6 kerangka konsep
H. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan variabel tunggal adalah persepsi mahasiswa profesi ners Unimus tentang Interprofessional Education.
Persepsi mahasiswa profesi ners tentang IPE
Kompetensi kolaborasi 1. Sikap
2. Pengetahuan 3. Ketrampilan
Tindakan kolaborasi 1. Praktek 2. Kepedulian
terhadap pasien