Fenomena Migrasi
dan Pergerakan Penduduk
pokok bahasan
• Konsep dasar
• Migrasi dan pergerakan: jenis mobilitas penduduk
• Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas
penduduk – determinan mobilitas penduduk
• Relevansi dengan PWK
konsep dasar
Tiga komponen demografi (pertumbuhan penduduk):
• Fertilitas
• Mortalitas
• Migrasi dan pergerakan penduduk
Bagaimana pengaruh ketiganya terhadap pertumbuhan
penduduk? Ingat piramida penduduk!
Apa definisi migrasi?
Apa definisi pergerakan?
Apa unsur-unsur yang melibatkan migrasi dan
pergerakan penduduk?
konsep dasar
Fertilitas dan mortalitas punya pengaruh > migrasi dan
pergerakan penduduk
Migrasi:
•
perpindahan penduduk ke wilayah lain dengan tujuan
menetap
•
perpindahan penduduk yang relatif permanen dari
satu tempat ke tempat lain
Pergerakan:
•
perpindahan penduduk ke wilayah lain dengan tujuan
untuk tidak menetap
konsep dasar
Dimensi ruang motivasi Dimensi waktuUnsur-unsur yang melibatkan migrasi dan pergerakan
penduduk:
Dimensi ruang: unit-unit administrasi dukuh, desa,
kabupaten/ kota/ propinsi atau unit-unit geografis
Dimensi waktu: periode gerak
perpindahan penduduk, dari hanya
beberapa jam sampai puluhan hari
Motivasi: tujuan penduduk untuk
melakukan migrasi dan
pergerakan, bisa berupa motif
ekonomi, sosial-budaya
konsep dasar
Beberapa catatan penting:
•
Belum ada kesepakatan antara para ahli tentang
batasan ruang dan waktu tentang mobilitas penduduk
•
Perbedaan skala unit/batas ruang akan menyebabkan
perbedaan jenis mobilitas
•
Semakin sempit batasan ruang dan waktu, semakin
banyak terjadi mobilitas penduduk
•
Jalan tengah: mobilitas penduduk dilihat berdasarkan
tujuannya (menetap atau tidak)
•
Dilema: banyak orang yang tidak bisa memutuskan
untuk menetap/tidak, sejak awal melakukan mobilitas
cerita
Parjo dan Lasmini tinggal di Desa Biting, Grobogan. Sehari-harinya Parjo bekerja sebagai buruh tani, sedangkan Lasmini hanya membantu orang tuanya bekerja di ladang. Merasa kehidupannya tidak berkembang,
Parjo dan Lasmini memutuskan untuk keluar dari desanya. Parjo pergi merantau ke Jakarta, sedangkan Lasmini memilih untuk pergi ke
Semarang.
Parjo memilih Jakarta sebagai tempat mengadu nasib karena adanya sanak saudara yang tinggal dan sukses di sana. Sesampainya di Jakarta, Parjo ikut menginap di rumah saudaranya tersebut sambil mencari
pekerjaan. Dengan bantuan saudaranya, setelah dua minggu pencarian dan penantian, Parjo berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai satpam di perusahaan tempat saudaranya bekerja.
cerita
Semenjak bekerja di perusahaan tersebut, kehidupan Parjo mulai
membaik. Enam bulan kemudian, merasa sudah mampu berdiri sendiri, Parjo memutuskan untuk keluar dari rumah saudaranya dan menyewa tempat tinggal sendiri. Dia pun memutuskan untuk mengganti nama panggilannya menjadi Bang Jo.
Bang Jo tidak lupa akan daerah asal dan kedua orang tua yang
membesarkannya. Mengingat jarak Jakarta - Grobogan yang relatif jauh dan belum terjangkaunya biaya perjalanan yang mengharuskannya
untuk sering pulang, Bang Jo hanya bisa pulang setahun sekali saat libur lebaran. Namun, dia selalu mengirimkan uang hasil jerih payahnya kepada kedua orang tuanya setiap bulan. Hasil kiriman Bang Jo ini
sedikit banyak bisa membantu kehidupan kedua orang tuanya di desa. Bang Jo menemukan tambatan hatinya di Jakarta, yang akhirnya
jenis–jenis dasar mobilitas penduduk
Mobilitas Penduduk (MP) MP Vertikal (perubahan status) MP Horisontal (MP geografis) MP permanen (migrasi) MP non permanen(MP sirkuler) Ulang alik
(commuting) Menginap/
mondok
Bentuk mobilitas Batas waktu
ulang alik (commuting) Enam jam atau lebih dan kembali pada hari yang sama
menginap/ mondok Lebih dari satu hari, tapi kurang dari enam bulan
migrasi Enam bulan atau lebih, dan bertujuan untuk menetap di tempat tujuan
1
2
3
jenis–jenis dasar mobilitas penduduk
Sumber: Parnwell, 1993
determinan mobilitas penduduk
Mobilitas penduduk dalam
konteks motivasi dan faktor
individu terkait
pemenuhan kebutuhan
individu dan respon
terhadap tekanan
kebutuhan hidup
terpenuhi tidak terpenuhi dalam batas
toleransi di luar batas toleransi tidak pindah Pindah
(migrasi) tidak pindah
mobilitas non permanen ulang alik
(commuting) menginap/ mondok
Catatan: dalam hal ini mobilitas tidak dipengaruhi oleh orang lain atau keadaan tertentu, seperti bencana alam atau masalah politik
faktor determinan mobilitas penduduk
Menurut Everet Lee (1976),
terdapat 4 determinan
mobilitas penduduk
Faktor individu faktor utama
karena dia yang menjadi
penentu besaran ketiga faktor
lainnya, dan memutuskan
untuk melakukan mobilitas
atau tidak
Faktor di daerah asal Faktor di daerah tujuan Rintangan antara Faktor individuKesempatan antara
Daerah asal Daerah tujuan
Migrasi kembali Migrasi paksaan
rintangan antara
faktor determinan mobilitas penduduk
Penyempurnaan
model Lee oleh
Robert Norris,
ada 3 komponen
yang perlu
ditambahkan:
migrasi kembali,
kesempatan antara,
dan migrasi paksaan
Lebih lanjut, menurut Norris, faktor terpenting adalah daerah
asal: setiap orang mempunyai keterikatan yang sangat besar
dengan daerah asalnya ciri fenomena mobilitas penduduk di
negara berkembang
faktor determinan mobilitas penduduk
Bentuk keterikatan/hubungan:
•
diwujudkan dalam bentuk remittan (pengiriman uang
dan barang ke daerah asal) dan aliran informasi
tentang daerah tujuan ke daerah asal
•
Intensitas hubungan ditentukan oleh:
jarak
fasilitas transportasi
status perkawinan
lama merantau
faktor determinan mobilitas penduduk
Menurut Mitchel (1961), faktor pendorong dan faktor
penarik merupakan faktor penentu mobilitas penduduk.
Fenomena di negara berkembang: faktor pendorong dan
penarik relatif sama kuatnya penduduk dihadapkan
pada 2 pilihan sulit:
•
Tetap tinggal di daerah asal dengan segala
keterbatasan yang ada (ekonomi, fasilitas)
•
Pindah dengan meninggalkan keluarga dan sawah
yang dimiliki
Kompromi: mobilitas non permanen (commuting dan
menginap/mondok) ditentukan oleh faktor jarak,
kondisi sosial ekonomi, perbaikan infrastruktur
Tindak lanjut:
relevansi dengan PWK
Dalam kaitannya dengan mobilitas penduduk sirkuler
yang disertai dengan perbaikan infrastruktur
transportasi:
•
Mendekatkan hubungan antara daerah tujuan dan asal
mobilitas (ada replikasi gaya hidup masyarakat yang
dibawa oleh pelaku mobilitas) urbanisasi dalam arti
luas
•
Mengurangi masalah yang timbul di daerah tujuan
(karena tidak menetap), seperti masalah perumahan,
kepadatan penduduk
•
beban transportasi menjadi tinggi, apalagi jika daerah
tujuan hanya satu pusat, tidak menyebar
Tindak lanjut:
relevansi dengan PWK
Daerah tujuan para pelaku mobilitas adalah daerah
heterogen perlu kebijakan dan perencanaan yang
spesifik sesuai dengan kondisi lokal
Perbaikan infrastruktur transportasi antar daerah asal
dan tujuan
Untuk pemerataan pusat kegiatan penduduk perlu
antisipasi dengan pembangunan pusat-pusat
soal
Berdasarkan cerita di bawah ini, buatlah review singkat dengan
mengkaitkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan mobilitas
penduduk
Parjo dan Lasmini tinggal di Desa Biting, Grobogan. Sehari-harinya Parjo bekerja sebagai buruh tani, sedangkan Lasmini hanya membantu orang tuanya bekerja di ladang. Merasa kehidupannya tidak berkembang,
Parjo dan Lasmini memutuskan untuk keluar dari desanya. Parjo pergi merantau ke Jakarta, sedangkan Lasmini memilih untuk pergi ke
Semarang.
Parjo memilih Jakarta sebagai tempat mengadu nasib karena adanya sanak saudara yang tinggal dan sukses di sana. Sesampainya di Jakarta, Parjo ikut menginap di rumah saudaranya tersebut sambil mencari
pekerjaan. Dengan bantuan saudaranya, setelah dua minggu pencarian dan penantian, Parjo berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai satpam di perusahaan tempat saudaranya bekerja.
soal
Semenjak bekerja di perusahaan tersebut, kehidupan Parjo mulai
membaik. Enam bulan kemudian, merasa sudah mampu berdiri sendiri, Parjo memutuskan untuk keluar dari rumah saudaranya dan menyewa tempat tinggal sendiri. Dia pun memutuskan untuk mengganti nama panggilannya menjadi Bang Jo.
Bang Jo tidak lupa akan daerah asal dan kedua orang tua yang
membesarkannya. Mengingat jarak Jakarta - Grobogan yang relatif jauh dan belum terjangkaunya biaya perjalanan yang mengharuskannya
untuk sering pulang, Bang Jo hanya bisa pulang setahun sekali saat libur lebaran. Namun, dia selalu mengirimkan uang hasil jerih payahnya kepada kedua orang tuanya setiap bulan. Hasil kiriman Bang Jo ini
sedikit banyak bisa membantu kehidupan kedua orang tuanya di desa. Bang Jo menemukan tambatan hatinya di Jakarta, yang akhirnya
soal
Lasmini mengadu nasib di Semarang karena adanya informasi
kesempatan kerja yang lebih baik dari tetangganya yang sekarang
tinggal di Semarang. Berbekal informasi tersebut, Lasmini nekad untuk pergi ke Semarang.
Di hari-hari pertamanya di Semarang, dia masih menumpang di rumah tetangganya untuk kemudian pulang ke Grobogan setelah urusannya selesai. Setelah menunggu 1 bulan lamanya, dengan berbekal ijazah SMK, Lasmini berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan di sebuah toko franchise. Merasa sudah menjadi orang kota, Lasmini pun meminta teman-teman kerjanya untuk memanggilnya dengan nama: Mini.
Pekerjaannya sebagai karyawan membuat kehidupan Mini semakin baik. Dia memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan kebaikan tetangganya dan memilih untuk menyewa sebuah kamar di dekat tempatnya bekerja.
soal
Relatif dekatnya jarak antara Semarang-Grobogan, memungkinkan Mini untuk bisa pulang sebulan sekali naik bus. Setiap pulang kampung, Mini selalu memberikan sebagian gajinya kepada kedua orang tuanya.
Seiring berjalannya waktu, prasarana jalan antara Semarang – Grobogan semakin membaik. Begitu pula dengan perkembangan karir Mini. Mini berhasil menyisihkan gajinya yang membuatnya mampu untuk membeli sebuah motor dengan cara kredit. Hal tersebut mendorong Mini untuk pulang ke Grobogan lebih sering daripada sebelumnya, yaitu seminggu sekali.
Beberapa tahun kemudian, kondisi kesehatan orang tua Mini
memburuk. Mengingat Mini adalah anak terakhir di keluarganya, Mini memutuskan untuk kembali ke desanya untuk merawat orang tuanya sambil membangun dan mengelola sebuah toko dengan uang hasil jerih payahnya selama ini.