• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fenomena Migrasi dan Pergerakan Penduduk. kependudukan semester

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Fenomena Migrasi dan Pergerakan Penduduk. kependudukan semester"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Fenomena Migrasi

dan Pergerakan Penduduk

(2)

pokok bahasan

• Konsep dasar

• Migrasi dan pergerakan: jenis mobilitas penduduk

• Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas

penduduk – determinan mobilitas penduduk

• Relevansi dengan PWK

(3)

konsep dasar

Tiga komponen demografi (pertumbuhan penduduk):

• Fertilitas

• Mortalitas

• Migrasi dan pergerakan penduduk

Bagaimana pengaruh ketiganya terhadap pertumbuhan

penduduk? Ingat piramida penduduk!

Apa definisi migrasi?

Apa definisi pergerakan?

Apa unsur-unsur yang melibatkan migrasi dan

pergerakan penduduk?

(4)

konsep dasar

Fertilitas dan mortalitas punya pengaruh > migrasi dan

pergerakan penduduk

Migrasi:

perpindahan penduduk ke wilayah lain dengan tujuan

menetap

perpindahan penduduk yang relatif permanen dari

satu tempat ke tempat lain

Pergerakan:

perpindahan penduduk ke wilayah lain dengan tujuan

untuk tidak menetap

(5)

konsep dasar

Dimensi ruang motivasi Dimensi waktu

Unsur-unsur yang melibatkan migrasi dan pergerakan

penduduk:

Dimensi ruang: unit-unit administrasi dukuh, desa,

kabupaten/ kota/ propinsi atau unit-unit geografis

Dimensi waktu: periode gerak

perpindahan penduduk, dari hanya

beberapa jam sampai puluhan hari

Motivasi: tujuan penduduk untuk

melakukan migrasi dan

pergerakan, bisa berupa motif

ekonomi, sosial-budaya

(6)

konsep dasar

Beberapa catatan penting:

Belum ada kesepakatan antara para ahli tentang

batasan ruang dan waktu tentang mobilitas penduduk

Perbedaan skala unit/batas ruang akan menyebabkan

perbedaan jenis mobilitas

Semakin sempit batasan ruang dan waktu, semakin

banyak terjadi mobilitas penduduk

Jalan tengah: mobilitas penduduk dilihat berdasarkan

tujuannya (menetap atau tidak)

Dilema: banyak orang yang tidak bisa memutuskan

untuk menetap/tidak, sejak awal melakukan mobilitas

(7)

cerita

Parjo dan Lasmini tinggal di Desa Biting, Grobogan. Sehari-harinya Parjo bekerja sebagai buruh tani, sedangkan Lasmini hanya membantu orang tuanya bekerja di ladang. Merasa kehidupannya tidak berkembang,

Parjo dan Lasmini memutuskan untuk keluar dari desanya. Parjo pergi merantau ke Jakarta, sedangkan Lasmini memilih untuk pergi ke

Semarang.

Parjo memilih Jakarta sebagai tempat mengadu nasib karena adanya sanak saudara yang tinggal dan sukses di sana. Sesampainya di Jakarta, Parjo ikut menginap di rumah saudaranya tersebut sambil mencari

pekerjaan. Dengan bantuan saudaranya, setelah dua minggu pencarian dan penantian, Parjo berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai satpam di perusahaan tempat saudaranya bekerja.

(8)

cerita

Semenjak bekerja di perusahaan tersebut, kehidupan Parjo mulai

membaik. Enam bulan kemudian, merasa sudah mampu berdiri sendiri, Parjo memutuskan untuk keluar dari rumah saudaranya dan menyewa tempat tinggal sendiri. Dia pun memutuskan untuk mengganti nama panggilannya menjadi Bang Jo.

Bang Jo tidak lupa akan daerah asal dan kedua orang tua yang

membesarkannya. Mengingat jarak Jakarta - Grobogan yang relatif jauh dan belum terjangkaunya biaya perjalanan yang mengharuskannya

untuk sering pulang, Bang Jo hanya bisa pulang setahun sekali saat libur lebaran. Namun, dia selalu mengirimkan uang hasil jerih payahnya kepada kedua orang tuanya setiap bulan. Hasil kiriman Bang Jo ini

sedikit banyak bisa membantu kehidupan kedua orang tuanya di desa. Bang Jo menemukan tambatan hatinya di Jakarta, yang akhirnya

(9)

jenis–jenis dasar mobilitas penduduk

Mobilitas Penduduk (MP) MP Vertikal (perubahan status) MP Horisontal (MP geografis) MP permanen (migrasi) MP non permanen

(MP sirkuler) Ulang alik

(commuting) Menginap/

mondok

Bentuk mobilitas Batas waktu

ulang alik (commuting) Enam jam atau lebih dan kembali pada hari yang sama

menginap/ mondok Lebih dari satu hari, tapi kurang dari enam bulan

migrasi Enam bulan atau lebih, dan bertujuan untuk menetap di tempat tujuan

1

2

3

(10)

jenis–jenis dasar mobilitas penduduk

Sumber: Parnwell, 1993

(11)

determinan mobilitas penduduk

Mobilitas penduduk dalam

konteks motivasi dan faktor

individu  terkait

pemenuhan kebutuhan

individu dan respon

terhadap tekanan

kebutuhan hidup

terpenuhi tidak terpenuhi dalam batas

toleransi di luar batas toleransi tidak pindah Pindah

(migrasi) tidak pindah

mobilitas non permanen ulang alik

(commuting) menginap/ mondok

Catatan: dalam hal ini mobilitas tidak dipengaruhi oleh orang lain atau keadaan tertentu, seperti bencana alam atau masalah politik

(12)

faktor determinan mobilitas penduduk

Menurut Everet Lee (1976),

terdapat 4 determinan

mobilitas penduduk

Faktor individu  faktor utama

karena dia yang menjadi

penentu besaran ketiga faktor

lainnya, dan memutuskan

untuk melakukan mobilitas

atau tidak

Faktor di daerah asal Faktor di daerah tujuan Rintangan antara Faktor individu

(13)

Kesempatan antara

Daerah asal Daerah tujuan

Migrasi kembali Migrasi paksaan

rintangan antara

faktor determinan mobilitas penduduk

Penyempurnaan

model Lee oleh

Robert Norris,

ada 3 komponen

yang perlu

ditambahkan:

migrasi kembali,

kesempatan antara,

dan migrasi paksaan

Lebih lanjut, menurut Norris, faktor terpenting adalah daerah

asal: setiap orang mempunyai keterikatan yang sangat besar

dengan daerah asalnya  ciri fenomena mobilitas penduduk di

negara berkembang

(14)

faktor determinan mobilitas penduduk

Bentuk keterikatan/hubungan:

diwujudkan dalam bentuk remittan (pengiriman uang

dan barang ke daerah asal) dan aliran informasi

tentang daerah tujuan ke daerah asal

Intensitas hubungan ditentukan oleh:

jarak

fasilitas transportasi

status perkawinan

lama merantau

(15)

faktor determinan mobilitas penduduk

Menurut Mitchel (1961), faktor pendorong dan faktor

penarik merupakan faktor penentu mobilitas penduduk.

Fenomena di negara berkembang: faktor pendorong dan

penarik relatif sama kuatnya  penduduk dihadapkan

pada 2 pilihan sulit:

Tetap tinggal di daerah asal dengan segala

keterbatasan yang ada (ekonomi, fasilitas)

Pindah dengan meninggalkan keluarga dan sawah

yang dimiliki

Kompromi: mobilitas non permanen (commuting dan

menginap/mondok)  ditentukan oleh faktor jarak,

kondisi sosial ekonomi, perbaikan infrastruktur

(16)

Tindak lanjut:

relevansi dengan PWK

Dalam kaitannya dengan mobilitas penduduk sirkuler

yang disertai dengan perbaikan infrastruktur

transportasi:

Mendekatkan hubungan antara daerah tujuan dan asal

mobilitas (ada replikasi gaya hidup masyarakat yang

dibawa oleh pelaku mobilitas)  urbanisasi dalam arti

luas

Mengurangi masalah yang timbul di daerah tujuan

(karena tidak menetap), seperti masalah perumahan,

kepadatan penduduk

beban transportasi menjadi tinggi, apalagi jika daerah

tujuan hanya satu pusat, tidak menyebar

(17)

Tindak lanjut:

relevansi dengan PWK

Daerah tujuan para pelaku mobilitas adalah daerah

heterogen  perlu kebijakan dan perencanaan yang

spesifik sesuai dengan kondisi lokal

Perbaikan infrastruktur transportasi antar daerah asal

dan tujuan

Untuk pemerataan pusat kegiatan penduduk  perlu

antisipasi dengan pembangunan pusat-pusat

(18)

soal

Berdasarkan cerita di bawah ini, buatlah review singkat dengan

mengkaitkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan mobilitas

penduduk

Parjo dan Lasmini tinggal di Desa Biting, Grobogan. Sehari-harinya Parjo bekerja sebagai buruh tani, sedangkan Lasmini hanya membantu orang tuanya bekerja di ladang. Merasa kehidupannya tidak berkembang,

Parjo dan Lasmini memutuskan untuk keluar dari desanya. Parjo pergi merantau ke Jakarta, sedangkan Lasmini memilih untuk pergi ke

Semarang.

Parjo memilih Jakarta sebagai tempat mengadu nasib karena adanya sanak saudara yang tinggal dan sukses di sana. Sesampainya di Jakarta, Parjo ikut menginap di rumah saudaranya tersebut sambil mencari

pekerjaan. Dengan bantuan saudaranya, setelah dua minggu pencarian dan penantian, Parjo berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai satpam di perusahaan tempat saudaranya bekerja.

(19)

soal

Semenjak bekerja di perusahaan tersebut, kehidupan Parjo mulai

membaik. Enam bulan kemudian, merasa sudah mampu berdiri sendiri, Parjo memutuskan untuk keluar dari rumah saudaranya dan menyewa tempat tinggal sendiri. Dia pun memutuskan untuk mengganti nama panggilannya menjadi Bang Jo.

Bang Jo tidak lupa akan daerah asal dan kedua orang tua yang

membesarkannya. Mengingat jarak Jakarta - Grobogan yang relatif jauh dan belum terjangkaunya biaya perjalanan yang mengharuskannya

untuk sering pulang, Bang Jo hanya bisa pulang setahun sekali saat libur lebaran. Namun, dia selalu mengirimkan uang hasil jerih payahnya kepada kedua orang tuanya setiap bulan. Hasil kiriman Bang Jo ini

sedikit banyak bisa membantu kehidupan kedua orang tuanya di desa. Bang Jo menemukan tambatan hatinya di Jakarta, yang akhirnya

(20)

soal

Lasmini mengadu nasib di Semarang karena adanya informasi

kesempatan kerja yang lebih baik dari tetangganya yang sekarang

tinggal di Semarang. Berbekal informasi tersebut, Lasmini nekad untuk pergi ke Semarang.

Di hari-hari pertamanya di Semarang, dia masih menumpang di rumah tetangganya untuk kemudian pulang ke Grobogan setelah urusannya selesai. Setelah menunggu 1 bulan lamanya, dengan berbekal ijazah SMK, Lasmini berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan di sebuah toko franchise. Merasa sudah menjadi orang kota, Lasmini pun meminta teman-teman kerjanya untuk memanggilnya dengan nama: Mini.

Pekerjaannya sebagai karyawan membuat kehidupan Mini semakin baik. Dia memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan kebaikan tetangganya dan memilih untuk menyewa sebuah kamar di dekat tempatnya bekerja.

(21)

soal

Relatif dekatnya jarak antara Semarang-Grobogan, memungkinkan Mini untuk bisa pulang sebulan sekali naik bus. Setiap pulang kampung, Mini selalu memberikan sebagian gajinya kepada kedua orang tuanya.

Seiring berjalannya waktu, prasarana jalan antara Semarang – Grobogan semakin membaik. Begitu pula dengan perkembangan karir Mini. Mini berhasil menyisihkan gajinya yang membuatnya mampu untuk membeli sebuah motor dengan cara kredit. Hal tersebut mendorong Mini untuk pulang ke Grobogan lebih sering daripada sebelumnya, yaitu seminggu sekali.

Beberapa tahun kemudian, kondisi kesehatan orang tua Mini

memburuk. Mengingat Mini adalah anak terakhir di keluarganya, Mini memutuskan untuk kembali ke desanya untuk merawat orang tuanya sambil membangun dan mengelola sebuah toko dengan uang hasil jerih payahnya selama ini.

Referensi

Dokumen terkait

Islam tersebar di Indonesia atau Nusantara didukung oleh beberapa faktor yaitu ajaran Islam yang menekankan prinsip ketauhidan dalam sistem

Tugas Menyelesaikan masalah tentang pelbagai jenis perulangan dan percabangan dalam program Observasi Mengamati kegiatan/aktivitas siswa secara individu dan dalam diskusi

jamak taksir ٌ ةَوْخِإ , digunakan dalam konteks persaudaraan seketurunan, karena memang saudara-saudara yang dilahirkan dari satu ibu, jumlahnya tidak banyak, jarang

Penelitian yang dilakukan oleh Min Dong Choi pada wanita usia lanjut lebih dari 60 tahun berjumlah 160 orang yang dibagi menjadi kelompok latihan dan kelompok

berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pengajaran yang demikian pada hakekatnya adalah pengajaran yang dimaksudkan untuk membentuk kompetensi

Briggs mengidentifikasikan tiga macam media yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain: objek, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pelajaran

7. mempersiapkan lingkungan yang aman pada saat anak makan seperti menghilangkan bau- bau yang dapat menghilangkan nafsu makan anak 8. Memantau anak mual muntah

Maka dari itu dipilihlah Museum Seni Kontemporer di Yogyakarta sebagai wujud untuk dapat memenuhi wadah akan karya-karya seni kontemporer di Yogyakarta yang terus