• Tidak ada hasil yang ditemukan

NASKAH PUBLIKASI Implementasi Contextual Teaching And Learning (CTL) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Menengah Pertama Al-Azhar Syifa Budi Solo Manahan Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "NASKAH PUBLIKASI Implementasi Contextual Teaching And Learning (CTL) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Menengah Pertama Al-Azhar Syifa Budi Solo Manahan Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

NASKAH PUBLIKASI

IMPLEMENTASI CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

AL-AZHAR SYIFA BUDI SOLOMANAHAN KECAMATAN LAWEYAN KOTA SURAKARTA

Diajukan Kepada

Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Salah satu Syarat Guna Memperoleh

Gelar Magister Pemikiran Islam (Manajemen Pandidikan Islam )

Oleh :

MUSTAGHFIRIN NIM. O 000 080 051

(2)
(3)

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo. dan dampaknya dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran pendidikan agama Islam.

Bentuk penelitian adalah penelitian kualitatif yang merupakan studi kasus (Case study) atau penelitian lapangan. Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan pencatatan isi dokumen. Data yang telah terkumpul dianalisa dengan menggunakan analisa model interaktif. Keabsahan data menggunakan metode Trianggulasi sumber.

Pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo sudah sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), yaitu : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi ( reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment). Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Al-azhar Syifa Solo menerapkan pendekatan CTL yang dapat dilihat dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran yang dilakukan guru.

Pembelajaran pendidikan agama Islam yang menerapkan prinsip-prinsip CTL di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo memberikan dampak yang positif dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran, baik dalam kegiatan awal, kegiatan inti maupun kegiatan akhir pembelajaran.

(4)

ABSTRACT

The right education is to free some one from confinement, intimidation, and exploitation. This is equal to the mean of pedagigic wich is freeing human confrehensively from the binds of human freedom. One role” of the factors that determine the education quality is “the teacher’s

This research aim to give views about the Islamic study in SMP Al-Azhar Syifa budi Solo and the effect in increasing quality study’s learning.

This reserch is in a from of qualitative method or a case study. The informants are headmaster, teacher and studedent. The data are collected using interview, observasion, and document notes. The data are analyzed using intractive model’s analysis and legimating data using source triangulation’s method.

The Islamic study in SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo are Al-Qur’an Hadis, Fiqih, Akidah Akhlak, sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab. Ist application had already appro to the contextual Teaching and Learning (CTL) approach, there are 1) Constructivism, 2) Inquiri, 3) Questioning, 4) Learning Community, 5) Modelling, 6) Reflection, dan 7) Authentic Assessment. but not all of subjects can apply the CTL approach. The applying of CTL approach in SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo can be seen from the teaching plans, the teaching learning process and the assesment from the teachers.

The Islamic study’s learning in SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo wich appiles the CTL gives a good effect in creasing the quality of learning process in the opening activity, central activity and the closing activity.

(5)

I. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (UU Nomor 20 Tahun 2003).

Fungsi pendidikan nasional dijelaskan dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional tersebut.

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Uraian di atas menjelaskan bahwa pada hakekatnya pendidikan di Indonesia ditujukan untuk membentuk manusia Indonesia yang bermutu. Sampai saat ini, mutu pendidikan kita tergolong rendah dalam konteks nasional, regional maupun internasional. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai persoalan yang menyangkut sistem maupun manajemen pendidikan, termasuk SDM yang rendah

Mutu pendidikan sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia sangat penting maknanya bagi pembangunan nasional. Masa depan bangsa terletak pada keberadaan pendidikan yang bermutu pada masa kini. Karena itu, upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan hal mutlak yang harus dilaksanakan dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas. Kebijakan pemerintah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan terus diupayakan. Upaya tersebut antara lain dengan pembaruan sistem pendidikan dengan strategi tertentu.

(6)

peningkatan mutu proses pembelajaran berkaitan erat dengan mutu guru selaku pendidik dan pengajar, karena guru adalah ujung tombak pendidikan. Menurut Rahman (2005), peningkatan mutu guru di Indonesia berfokus pada dua hal : Pertama, peningkatan martabat guru secara sosial, budaya dan ekonomi, dan kedua, peningkatan profesionalisme guru melalui program yang terintegrasi, sesuai dengan hasil pemetaan mutu guru yang jelas dan penguasaan guru terhadap teknologi informasi dan metode pembelajaran. Kemampuan guru, terutama dalam mengelola kegiatan belajar mengajar harus terus ditingkatkan. Untuk itu guru perlu menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang dapat mendorong keaktifan atau potensi siswa, antara lain dengan penerapan pendekatan CTL. (Setiaji dan Rufman: http://www.suara merdeka.com/ harian/0601/12/opi04.htm).

II. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Pendidikan Agama Islam berarti "usaha-usaha secara sistematis dan

pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran

Islam". (Zuhairani, 1983 : 27). Syariat Islam tidak akan dihayati dan diamalkan

orang kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan nabi

sesuai ajaran Islam dengan berbagai metode dan pendekatan dari satu segi kita lihat

bahwa pendidikan islam itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental

yang akan terwujud dalam amal perbuatan baik bagi keperluan diri sendiri maupun

orang lain. Dari segi lainnya, pendidikan Islam tidak bersifat teoritis saja, tetapi juga

praktis. Ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan amal shaleh, oleh karena

itu, pendidikan Islam adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal dan

juga karena ajaran islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi

masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan

(7)

mendidik adalah para Nabi dan Rasul selanjutnya para ulama, dan cerdik pandailah

sebagai penerus tugas, dan kewajiban mereka (Drajat, 1992 : 25-28).

III. POLA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah penggunaan model pembelajaran dalam penyampaian materi pelajaran secara tepat, yang memenuhi muatan tatanan nilai agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa serta mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari belum memenuhi harapan yang diinginkan

Materi pelajaran pembelajaran pendidikan Agama Islam dalam proses pembelajarannya terkesan sangat kaku, kurang fleksibel, kurang demokratis dan guru cenderung lebih dominant one way method. Guru pendidikan Agama Islamdalam mengajar lebih banyak berorientasi pada aspek kognitif di samping masih menggunakan model konvensional yang monoton, aktifitas guru lebih dominan, akibatnya guru seringkali mengabaikan proses pembinaan tatanan nilai, sikap, dan tindakan, sehingga pembelajaran pendidikan Agama Islam tidak dianggap sebagai mata pelajaran pembinaan karakter yang baik dan mampu menjadikan output yang religius serta menyenangkan. Tetapi lebih cenderung dianggap mata pelajaran yang menjenuhkan dan membosankan

Sehubungan dengan itu perlu diterapkan suatu model pendekatan

pembelajaran yang efektif dan efisien. Sebagai alternatif, yaitu implementasi

pendekatan CTL dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yang

diharapkan mampu melibatkan siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran

dan dapat melibatkan seluruh aspek, yaitu kognitif, afektif dan

psikomotorik siswa, serta secara fisik dan mental melibatkan semua pihak

dalam pembelajaran sehingga siswa mempunyai kebebasan berpikir,

(8)

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang pola pembelajaran pendidikan Agama Islammelalui penelitian dengan judul “Implementasi CTL dalam Pembelajaran pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Al-Azhar Syifa Budi Manahan Banjarsari Surakarta

IV. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual mengenai pola pembelajaran pendidikan Agama Islam di SMP, baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan maupun penilaian pembelajaran. 2. Manfaat praktis yang penulis kemukakan dari penelitian ini ada dua, yaitu

a. Sebagai bahan masukan atau informasi bagi guru SMP, kepala sekolah maupun para stakeholder dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Indonesia pada umumnya, dan secara khusus pada peningkatan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam

b. Sebagai bahan masukan atau informasi bagi guru SMP mengenai pola pembelajaran pendidikan Agama Islam di SMP, khususnya di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo Manahan Kecamatan Banjarsari Kota surakarta.

V. PENDEKATAN CTL

Pembelajaran kontekstual atau CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara materi yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yaitu: konstruktivisme (Contructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modelling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment) (Depdiknas, 2006:2).

7 Komponen pokok CTL yaitu :

a. Konstruktivisme (Contructivism)

(9)

hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan : (1). Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, (2). Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan (3). Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam pembelajaran.

b. Menemukan (Inquiri)

Inquiri merupakan komponen inti dari pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkannya

Langkah-langkah dalam kegiatan inquiri adalah : (1) merumuskan masalah, (2) mengamati atau melakukan observasi, (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audiens yang lain.

c. Bertanya (Questioning)

Pengetahuan seseorang selalu dimulai dengan “bertanya”. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Dengan bertanya siswa dapat menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui. Dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.

(10)

akademis, (2) mengecek pemahaman siswa, (3) membangkitkan respon siswa, (4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, (6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, (7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, dan (8) menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

d. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari “sharing” dengan teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.

“Masyarakat belajar” bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Kalau setiap orang belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar, artinya setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Prakteknya dalam pembelajaran dapat terwujud dalam pembentukan kelompok, mendatangkan “ahli” ke kelas, bekerja dengan kelas sederajad, bekerja kelompok dengan kelas di atasnya, dan bekerja dengan masyarakat.

e. Pemodelan (Modeling)

(11)

f. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan dimiliki siswa, diperoleh melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.

g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)

Assasment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.

Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak. Pembelajaran CTL lebih mengutamakan proses belajara daripada hanya sekedar hasil belajar, oleh karena itu, penilaian dilakukan terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan dilakukan secara terintegrasi

1. Perencanaan

(12)

1) Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, kompetensi dasar, Materi pokok, dan Pencapaian hasil belajar

2) Nyatakan tujuan umum pembelajarannya 3) Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu 4) Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa

5) Nyatakan authentic assessment-nya (Depdiknas, 2006:6).

Seorang guru CTL yang berkompeten harus mampu menyusun rencana pembelajaran yang berkualitas. Karena dengan rencana pembelajaran yang berkualitas akan menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas pula. Dengan demikian maka tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik

2. Pelaksanaan Meliputi

Pelaksanan pembelajaran berbasis CTL pada hakekatnya sama dengan prinsip penerapannya, yaitu yaitu dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual yang biasa disebut dengan tujuh pilar pembelajaran kontekstual.

1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna. 2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic. 3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

4) Ciptakan masyarakat belajar.

5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (Depdiknas 2006:5

3. Penilaian Meliputi

Prosedur untuk merancang penilaian autentik dalam pembelajaran berbasis CTL adalah sebagai berikut (Lewin & Shoemaker, dalam Johnson, 2002:304).

1) Jelaskan dengan tepat apa yang harus diketahui dan dikerjakan oleh para siswa.

(13)

3) Tugaskan para siswa untuk menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang mereka ketahui.

4) Putuskan tingkat penguasaan yang harus dicapai.

5) Tampilkan tingkat penguasaan tersebut dalam sebuah rubrik. 6) Biasakan para siswa dengan rubrik tersebut.

7) Libatkan sekelompok orang selain guru untuk menanggapi penilaian ini.

VI. METODE PENELITIAN 1. Jenis dan Pendekatan

Penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian Kualitatif lapangan (field research). Penelitian yang prosedurnya menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diambil (Robert dan Steven J, yang dikutip Lexy Moleong, 1993: 3).

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus (Casus Study). Penelitian ini dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan dan posisi saat ini serta interaksi lingkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given). Subyek penelitian dapat berupa individu, kelompok, atau masyarakat. Studi kasus di sini bertujuan untuk memahami secara menyeluruh mengenai penerapan CTL dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo dan dampaknya terhadap peningkatan mutu proses pembelajaran.

2. Sumber Data

(14)

Ada tiga sumber data dalam penelitian ini, yaitu informan kunci (key informan), tempat dan peristiwa dan dokumen.

1. Informan kunci (key informan), informan awal dipilih secara purposive (purposive sampling). Sedangkan informan selanjutnya ditentukan dengan cara “snow-ball sampling”, yaitu dipilih secara bergulir sampai menunjukkan tingkat kejenuhan informasi. Bertindak sebagai informan awal (sumber informasi) adalah kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam. Sedangkan informan selanjutnya siswa.

2. Tempat dan peristiwa, yang meliputi pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), lingkungan kerja guru, serta lingkungan belajar siswa di sekolah.

3. Dokumen, antara lain perangkat mengajar, termasuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, fasilitas pendukung, dan dokumen model penilaian siswa. Data ini dipergunakan untuk melengkapi hasil wawancara dan pengamatan terhadap tempat dan peristiwa. Hal ini mengacu pada penjelasan Moleong (2004: 12) tentang jenis data, yaitu jenis data dikelompokkan menjadi kata-kata dan tindakan dan sumber datanya dapat berupa bentuk tulisan, foto, dan statistik

3. Metode Pengumpulan Data

Untuk dapat memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu :

a. Metode Observasi

(15)

mengajar/proses pembelajaran pendidikan Agama Islam di kelas, seperti kegiatan siswa, kegiatan guru, media pembelajaran, dan lingkungan belajar.

Ketika peneliti melakukan observasi, peneliti telah memastikan data apa yang akan digali.

b. Metode Interview

Dalam melaksanakan wawancara dapat secara terbuka dan semakin lama semakin lengkap dan mendalam, serta dalam suasana yang informal sehingga hubungan antara pewawancara dengan yang diwawancarai adalah dalam suasana biasa atau wajar (Moleong, 2004: 136). Wawancara dilakukan dengan pertanyaan yang bersifat open-ended dan mengarah pada kedalaman informasi, sehingga wawancara dalam suasana tidak formal guna menggali informasi secara lebih jauh dan mendalam (Sutopo, 2002: 58-59).

Teknik wawancara dalam penelitian ini berusaha menggali pendapat beberapa warga sekolah secara mendalam tentang pembelajaran pendidikan Agama Islam dan dampaknya dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo yang dalam hal ini dilakukan dengan kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam dan siswa

c. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah pengumpulan data yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan transkrip, surat kabar, majalah dan buku-buku prestasi belajar anak (Anas Sudijono, 1986: 188) Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang sejarah berdirinya SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo, struktur organisasi, keadaan karyawan dan guru, keadaan siswa, sarana prasarana dan sebagainya.

d. Metode Analisis Data

(16)

data, penyajian data dan penarikan kesimpulan verifikasi (Miles & Haberman, 1992: 16). Pertama, setelah pengumpulan data selesai melakukan reduksi data yaitu menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilah-pilah. Kedua, data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi. Ketiga, adalah penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua dengan mengambil kesimpulan.

VII. HASIL PENELITIAN

1. Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Al-Azhar

Syifa Budi Solo telah menerapkan CTL sebagai Pendekatan dalam

pembelajaran. Adapun dalam pelaksanaanya ada tiga hal yang dilakukan

oleh guru pendidikan Agama Islam dalam pembelajaran pendidikan

Agama Islam yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran

yang merupakan satu kesatuan dalam proses pembelajaran.

a. Perencanaan pembelajaran yang dibuat guru telah memuat kegiatan

pertama pembelajaran, tujuan umum pembelajaran, media untuk

mendukung pembelajaran, skenario pembelajaran serta authentic

assessment. Penyusunan rencana pembelajaran dilakukan oleh guru

pendidikan Agama Islam secara rutin pada tiap awal semester.

b. Pelaksanaan pembelajaran telah mengembangkan pemikiran bahwa

anak akan belajar lebih bermakna, melaksanakan kegiatan inkuiri,

mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan cara bertanya, berusaha

(17)

pembelajaran, melakukan refleksi di akhir pertemuan, dan melakukan

penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) dengan berbagai

cara. Metode yang digunakan dalam pembelajaran pendidikan Agama

Islam di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo cukup bagus karena sudah

mencakup beberapa aspek, baik kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta

hubungan sosial kekeluargaan yang terjalin antara siswa dan guru.

Prinsip-prinsip pendekatan kontekstual yang diterapkan dalam

pembelajaran pendidikan Agama Islam juga sudah berjalan dengan

baik, hanya saja dalam Learning Community masih ada beberapa siswa

yang kurang aktif dalam kelompoknya serta masih ada beberapa

kelompok yang tidak mendapatkan kesempatan untuk

mempresentasikan hasil diskusi keompoknya, karena banyaknya jumlah

kelompok yang ada serta terbatasnya waktu yang tersedia. Proses

pembelajaran akan berjalan lebih baik bila penggunaan waktu

direncanakan seefesien mungkin serta disesuaikan dengan jumlah

kelompok yang akan presentasi.

c. Penilaian pembelajaran yang dilakukan guru sudah memuat

aspek-aspek penilaian yang sudah sesuai dengan standar penilaian yaitu

meliputi aspek kognitif atau pembelajaran yang bersifat akademik

maupun aspek afektif atau penilaian terhadap sikap dan tingkah laku

siswa selama proses pembelajaran di kelas. Penilaian dilaksanakan

secara terus menerus dan berkesinambungan. Guru selalu memberi

(18)

mengikuti remedial hingga dua kali. Sedangkan bagi siswa yang sudah

mencapai batas tuntas diberi kegiatan pengayaan. Materi yang dinilai

bukan hanya hafalan dari seperangkat fakta melainkan pemahaman

terhadap materi akademik yang dikaitkan dengan konteks dunia nyata

yang ada dalam kehidupan anak sehari-hari, guru juga melibatkan

sekelompok orang selain guru dalam proses penilaian.

2. Kegiatan Penunjang Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Sekolah juga mengadakan kegiatan-kegiatan di luar jam pelajaran

sebagai pendukung keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam,

hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam

memahami pendidikan Agama Islam serta mengaplikasikanya dalam dunia

nyata, kegiatan yang di maksud yaitu: Standar Kecakapan Umum (SKU),

Praktik baik ibadah maupun membaca dan menghafal Al-Qur’an,

Riyadhah Ramadhan 561 (peslat), peringatan hari besar Islam, dan

beberapa kegiatan sosial masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan

kegiatan aplikatf/praktik sehingga siswa tidak hanya mempelajari

pendidikan Agama Islam dalam bentuk teori saja . namun siswa juga

dituntut mengaplikasikan pembelajaran pendidikan Agama Islam dalam

bentuk praktik. melalui kegiatan tersebut akan terlihat sejauh mana siswa

mampu menguasai tata pendidikan Agama Islam dengan detail baik dalam

(19)

Secara keseluruhan implementasi pendekatan CTL pada

pembelajaran pendidikan Agama Islam sudah berjalan sesuai dengan

prinsip-prinsip pembelajaran CTL yang meliputi Konstruktivisme

(Contructivism), menemukan (Inquiri), bertanya (Questioning),

masyarakat belajar (Learning Comunnity), pemodelan (Modelling),

refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

namun ada beberapa hal yang perlu pembenahan.

1) Perlunya optimalisasi dalam penggunaan media pembelajaran sehingga

pembelajaran dapat berjalan lebih efektif

2) Prinsip Learning community akan lebih nampak apabila posisi tempat

duduk siswa dalam kelompok-kelompok kecil tidak monoton akan

tetapi perlu dilakukan variasi dalam penempatan tempat duduk atau

bahkan pembelajaran di luar kelas.

3) Pengorganisasian waktu dalam pembelajaran harus lebih diperhatiakan

agar pembelajaran dapat berjalan lebih efisien

4) Upaya guru untuk memberi motivasi siswa dalam pembelajaran perlu

ditingkatkan.

5) Upaya pengawasan guru dalam pembelajaran luar kelas perlu

ditingkatan agar program yang telah diprogramkan sekolah dapat

(20)

3. Dampak Dampak Implementasi CTL dalam Pembelajaran pendidikan Agama Islam terhadap peningkatan mutu proses pembelajaran di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo

Pola pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pendekatan

CTL yang didukung oleh kemampuan atau kompetensi guru dalam

menyusun rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran serta evaluasi

pembelajaran dengan tepat, tampak sekali dapat meningkatkan mutu

proses pembelajaran. Hal itu dapat dilihat dari proses pembelajaran yang

berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,

memotivasi peserta didik untuk bepartisipasi aktif, serta memberikan

ruang yang cukup bagi siswa untuk berkreatifitas sesuai dengan bakat,

minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL yang

ditunjang dengan guru yang kreatif dan menyenangkan akan

membangkitkan motivasi belajar siswa, Sehingga mata pelajaran

pendidikan Agama Islam yang dirasa menjenuhkan, membosankan,

kurang diminati oleh siswa, dan tidak menumbuhkan motivasi dan minat

siswa untuk belajar, menjadi mata pelajaran yang disukai dan diminati

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Ari. 2005. Belajar dan pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Bungin, B. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Chang. Eunjung. 2006. Interactive Experiences and Contextual Learning in Museums.

Journal of Issues an Research. Vol. 47, No. 2

Dafa Redaksi. 2006. Profil SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo yayasan Amal Sahabat : Surakarta.

Daulay Putera Haidar, 2003, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, Jakarta: Rienika Cipta.

Darojat. Zakiyah. 2004. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta : Bumi Aksara Depdiknas .2003. Indikator Pendidikan di Indonesia. Jakarta : Balitbang Pusat Data dan

Informasi Pendidikan.

______________ 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi. Jakarta: Pusker DIT PTKSD. Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Djamarah, S.B dan Zain, A. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Erickson and Bern. 2001.”Contextual Teaching and Learning”. Journal of Economy. No. 2. Fathurrohman, P dan Sutikno, S. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. http://www.cew.wise.edu/technet/ctl/. What is Contextual Teaching and Learning?. http://www.malang.ac.id/jurnal/fs/sej/2001a.htm. Contextual Teaching and Learning:

Sebuah Model Pembelajaran

http://www.suara merdeka.com/ harian/0601/12/opi04.htm. KBK Konsep dan Implementasinya.

Imel, Susan. 2000. “Contextual Teaching and Learning adult Education”. Journal of Educational Research. Vol. 99, No. 12.

Johnson, E.B. Penerjemah: Ibnu Setiawan. 2007. Contextual Teaching and Learning. Menjadikan kegiatan belajar-mengajar mengasyikkan dan bermakna. Bandung : Penerbit MLC.

(22)

Kokom. 2009.”The Effec of Contextual Learning in Civic Education on Student Civic Competence”. Journal of Social Seinces:. Vol.5.No.4.pp.262

Miles, M.B dan Huberman, M. Tanpa tahun. Analisis Data Kualitatif Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta : UI Press.

(23)

Biodata

Nama : Mustaghfirin Tempat tanggal lahir : Demak, 13 Juni 1977

Alamat rumah : Makam Bergolo Rt 01 Rw 08 kelurahan Serengan Kecamatan Serengan Surakarta

Alamat Kantor : TA,TK dan SD Al-Azhar Syifa Budi Solo Jl. Haryo panular No. 64 panularan Laweyan Surakarta Telp /Fax (0271) 725306,736760. Hp. 081329148291

Pekerjaan : Guru

Referensi

Dokumen terkait