• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah Provinsi Lampung. Provinsi Lampung adalah penghasil jagung ketiga terbesar di Indonesia dan Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah yang menjadi sumber komoditas jagung berdasarkan kebijpertanian Indonesia tahun 2010-2014. Penentuan lokasi penelitian dari kabupaten-kabupaten terpilih hingga kelompok tani ditentukan dengan teknik sampel wilayah berstrata (Stratified area probability sample) (Arikunto, 2010).

Pertimbangan penentuan kabupaten hingga kelompok tani adalah berdasarkan strata wilayah yang memiliki produksi jagung tertinggi selama tahun 2013 dengan kontribusi produksi sebesar 98,07% dari total produksi jagung Provinsi Lampung (Soefian, 2012). Tiga kabupaten sebagai lokasi penelitian yaitu Lampung Timur, Lampung Tengah dan Lampung Selatan, dengan rincian produksi jagung:

(a) Kabupaten Lampung Timur sebesar 50,26 % atau 1.050.764,71 ton.

(b) Kabupaten Lampung Tengah sebesar 25,68 % atau 536.880,97 ton.

(c) Kabupaten Lampung Selatan sebesar 22,13 %. atau 462.662,62 ton.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2014 B. Jenis Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yaitu jenis penelitian yang dimaksudkan untuk menguji hubungan dan menguji pengaruh antar variabel yang dihipotesiskan sesuai rumusan sebelumnya. Fungsi dari penelitian kuantitatif ini untuk memberikan gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya (Sugiono, 2012). Faktor-faktor yang telah dirumuskan dalam penelitian ini adalah: Faktor pendidikan formal petani (X1).

Faktor pengalaman usahatani (X2). Faktor motivasi kerja (X3). Partisipasi petani dalam kegiatan sosial kemasyarakatan (X4) yang terdiri dari partisipasi petani jagung dalam kelembagaan sosial (X4.1), partisipasi petani kelompok tani (X4.2),

(2)

commit to user

dan partisipasi petani jagung dalam kelembagaan penyuluhan (X4.3). Akses informasi (X5) yang terdiri dari petani-petani lain (X5.1), tokoh masyarakat (X5.2), agen sarana produksi (X5.3.). Lingkungan usahatani (X6) terdiri dari penggunaan lahan (X6.1), dukungan modal usaha (X6.2). Kebijakan pemerintah (X7) yang dikaji melalui persepsi petani terhadap penentuan harga jual jagung (X7.1), penyediaan sarana produksi jagung (X7.2), dan membantu pemasaran jagung (X7.3). Proses pembelajaran dalam penyuluhan (X8) ditinjau melalui persepsi persepsi petani terhadap pencapaian tujuan penyuluhan (X8.1), persepsi terhadap materi penyuluhan (X8.2), persepsi terhadap metode penyuluhan (X8.3), persepsi terhadap media penyuluhan (X8.4), persepsi terhadap interaksi dengan penyuluh (X8.5), persepsi terhadap kemampuan penyuluh (X8.6), persepsi terhadap sarana dan prasarana (X8.7) dan persepsi terhadap evaluasi penyuluhan (X8.8).

Kompetensi kewirausahaan petani (Y) yang terdiri dari keterampilan teknis budidaya jagung (Y1), mampu membuat dan mengambil keputusan (Y2), mampu mengorganisasi orang lain (Y3), mampu mengelola pemasaran dan keuangan (Y4), berani mengambil resiko (Y5), mampu berkreasi dan berinovasi (Y6), berorientasi ke masa depan (Y7), mampu menangkap peluang (Y8), mampu mengelola personal (Y9), mampu memimpin (Y10) dan mampu berkomunikasi (Y11).

C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atau obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2012). Populasi penelitian ini adalah petani jagung (peasant) dengan ciri-ciri sudah menetap, ada ikatan nilai-nilai, intensitas hubungan dengan luar tinggi, semi spesialis atau campuran dan sudah ada sistem sewa tanah (Sahlins, 1960). Populasi penelitian ini meliputi petani jagung di Provinsi Lampung yang berada pada strata wilayah sebagai sentra produksi jagung di Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Lampung Selatan. Kecamatan terpilih sebagai lokasi penelitian adalah kecamatan-kecamatan sentra jagung di setiap kabupaten terpilih berdasarkan data

(3)

commit to user

dan penjelasan dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemerintah Provinsi Lampung dalam rapat koordinasi penentuan harga dasar komoditas Jagung tahun 2014, untuk lebih jelasnya diuraikan pada Tabel 3.1. di bawah ini:

Tabel 3.1. Nama Kabupaten dan Kecamatan Sentra Tanaman Jagung di Provinsi Lampung.

No Kabupaten Kecamatan sentra tanaman jagung

1 2 3

1 Lampung Timur Bandar sribawono Sekampung Udik Marga Sekampung

2 Lampung Tengah Bekri

Seputih Mataram,

3 Lampung Selatan Natar

Jati Agung

Sumber: Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemerintah Provinsi Lampung, 2014

2. Sampel

Menurut Singarimbun dan Effendi (1995), kunci dari teknik pengambilan sampel adalah keterwakilan populasi, maksudnya anggota/elemen dalam sampel dapat dianggap menggambarkan keadaan atau ciri populasinya. Penentuan lokasi penelitian dari kabupaten-kabupaten terpilih hingga kelompok tani ditentukan dengan teknik sampel wilayah berstrata (Stratified area probability sample) (Arikunto, 2010).

Penentuan kabupaten-kabupaten hingga kelompok tani terpilih berdasarkan pertimbangan sebagai wilayah dengan luas areal jagung terbesar dengan produksi tertinggi. Penentuan lokasi penelitian berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Dinas Pertanian kabupaten terpilih, Kepala Cabang Dinas Pertanian (KCD), Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) di setiap kecamatan terpilih, dan pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di setiap desa-desa terpilih.

Di setiap desa lokasi penelitian terdapat kelompok tani yang mayoritas anggotanya berusahatani jagung berjumlah antara 2 hingga 6 kelompok tani di setiap desa penelitian. Pertimbangan pemilihan kelompok tani adalah kelompok dengan luas tanam jagung terbesar di antara kelompok tani jagung yang ada di setiap desa. Penarikan atau penentuan jumlah sampel dari setiap populasi

(4)

commit to user

dilakukan dengan ukuran 15% dari populasi dengan cara pengambilan sampel acak sederhana. Hal ini dilakukan dengan alasan jumlah populasi sudah diketahui dan ukuran populasi sama dengan atau lebih dari 1.000 orang (Riduwan, 2008), sehingga sampel penelitian ini diperoleh sebesar 15% X 1.448 = 214 orang. Lebih rinci jumlah sampel per wilayah penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.2 di bawah ini:

Tabel 3.2. Matrik Kerangka Sampel Penelitian

No Kabupaten Kecamatan sentra tanaman

jagung

Desa sentra tanaman jagung

Jumlah kelompok

tani jagung

Jumlah anggota kelompok tani jagung

Sampel (15%) dari

populasi

1 Lampung

Timur

Bandar Sribawono

Bandar Agung 2 40 6

Sribahwono 2 40 6

Sri Menanti 3 60 9

Sekampung Udik Sidorejo 2 36 5

Brawijaya 2 40 6

Banjar Agung 3 54 8

Marga Sekampung

Purwosari 3 60 9

Giri Mulyo 4 75 11

Gunung Raya 5 85 12

2 Lampung

Tengah

Bekri Bangun Sari 4 72 11

Kesuma Dadi 4 70 10

Rengas 4 80 12

Seputih Mataram, Banjar Agung 5 96 14

Fajar Mataram 5 95 14

Trimulyo Mataram 4 76 11

3 Lampung Selatan

Natar Bumisari 4 80 12

Candi Mas 4 76 11

Banjarnegeri 3 54 8

Jati Agung Jatimulyo 5 100 15

Fajar Baru 4 85 13

Margodadi 4 74 11

Jumlah 7 21 76 1.448 214

Sumber: Kepala Dinas Pertanian kabupaten terpilih, Kepala Cabang Dinas Pertanian (KCD), Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) di setiap kecamatan terpilih, dan pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di setiap desa terpilih.

D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Definisi operasional adalah suatu terminologi yang diberikan kepada suatu variabel (peubah) atau konstruk dengan cara memberikan arti, atau menspesifikan kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur konstruk atau variabel tersebut. Definisi operasional yang dibuat dapat berbentuk definisi operasional yang diukur (measured), ataupun definisi operasional eksperimental. Definisi operasional yang diukur memberikan gambaran bagaimana variabel atau konstruk tersebut diukur (Nazir, 2003).

(5)

commit to user

Pengukuran variabel pada penelitian ini menggunakan skala penilaian yang mengukur penampilan atau perilaku seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinuum atau suatu kategori yang bermakna nilai.

Pengukuran menggunakan skala ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2005) bahwa untuk mengukur penilaian hasil dan proses belajar dapat menggunakan skala penilaian dan sejalan dengan pendapat Sugiono (2012) bahwa skala penilaian dapat digunakan untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain. Titik atau kategori dalam skala penilaian ini diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai terendah. Rentangan ini bisa berbentuk huruf (A, B, C, D) atau angka (4, 3, 2, 1) sedangkan rentangan kategori bisa tinggi sekali, tinggi, sedang, rendah atau selalu, sering, kadang-kadang dan tidak pernah, sangat setuju, setuju, kurang setuju dan tidak setuju (Riduwan dan Sunarto, 2012). Selain itu, pengukuran terhadap psikologis termasuk perilaku pada dasarnya bersifat kualitatif yang dikuantifikasikan dengan keuntungan dapat mendiskripsikan data dengan jelas dan tepat sehingga dapat dianalisis dengan metode matematis (statistika (Suryabrata, 2005). Penetapan rentang 4 berdasarkan pendapat Husamah dan Yanur S., (2013) bahwa ada kecenderungan responden atau sampel akan memilih nilai yang di tengah bila terdapat pilihan ganjil dalam penilaian seperti pilihan 5, 7, 9 dan sebagainya, sehingga pada penelitian ini digunakan rentang nilai 4.

Definisi operasional, dan pengukuran dari beberapa variabel yang diteliti adalah:

1. Faktor Pendidikan Formal Petani (X1)

Faktor pendidikan formal petani adalah tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh petani untuk membedakan dirinya dengan orang lain. Dalam penelitian ini yang termasuk dalam faktor pendidikan petani adalah: (a) pendidikan formal petani adalah tingkat pendidikan formal yang pernah atau telah ditempuh, diukur dengan satuan tahun,

Tabel 3.3. Indikator dan Parameter Faktor Pendidikan Formal Petani (X1)

INDIKATOR PARAMETER

Pendidikan formal (a) Jumlah tahun pendidikan formal yang telah ditempuh petani.

(b) Keterkaitan pendidikan formal dengan usaha tani yang dilakukan. (c) Kesesuaian pendidikan formal dengan kebutuhan petani. (d) Tingkat manfaat yang diperoleh petani

(6)

commit to user

dari pendidikan formal

2. Pengalaman usahatani (X2)

Pengalaman usahatani adalah lamanya waktu dalam tahun yang telah dicurahkan oleh petani dalam berusahatani, diukur berdasarkan (a) jumlah tahun bekerja bidang usahatani jagung, (b) pengalaman usahatani bermanfaat untuk melaksanakan pekerjaan sebagai petani jagung.

Tabel 3.4. Indikator dan Parameter Pengalaman Usahatani (X2)

INDIKATOR PARAMETER

Pengalaman usahatani Diukur berdasarkan (a) jumlah tahun bekerja bidang usahatani jagung, (b) pengalaman usahatani bermanfaat untuk melaksanakan pekerjaan sebagai petani jagung

3. Motivasi kerja (X3)

Motivasi kerja adalah dorongan untuk mengembangkan usahatani baik terkait dengan kebutuhan atau harapan untuk mencapai tujuan tertentu, motivasi kerja diukur berdasarkan (a) tingkat keinginan petani untuk melakukan usahatani untuk memenuhi kebutuhan keluarga (b) tingkat keinginan petani untuk berusahatani karena melestarikan pekerjaan pertanian yang dilakukan keluarga, (c) tingkat keinginan petani untuk berinteraksi dengan sesama petani lainnya dan dapat diterima oleh masyarakat di sekitarnya, (d) tingkat keinginan petani untuk memperluas usahatani jagung, (e) kemauan petani untuk bekerja keras agar mendapatkan hasil produksi yang tinggi (f) tingkat keinginan petani terhadap taraf kehidupan yang lebih baik.

Tabel 3.5. Indikator dan Parameter Motivasi Kerja (X3)

INDIKATOR PARAMETER

Motivasi kerja Diukur berdasarkan (a) tingkat keinginan petani untuk melakukan usahatani untuk memenuhi kebutuhan keluarga (b) melestarikan pekerjaan pertanian yang dilakukan keluarga, (c) tingkat keinginan petani untuk berinteraksi dengan sesama petani lainnya dan dapat diterima oleh masyarakat di sekitarnya, (d) tingkat keinginan petani untuk memperluas usahatani jagung, (e) kemauan petani untuk bekerja keras agar mendapatkan hasil produksi yang tinggi (f) tingkat keinginan petani terhadap taraf kehidupan yang lebih baik

4. Partisipasi Petani dalam Kegiatan Sosial Kemasyarakatan (X4)

(7)

commit to user

a. Partisipasi petani dalam kegiatan sosial kemasyarakatan adalah besarnya tingkat keterlibatan petani di dalam kegiatan gotong royong yang ada dalam usaha tani jagung. Diukur berdasarkan intensitas keterlibatan petani dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan kegiatan gotong royong.

b. Partisipasi petani dalam kelompok tani adalah besarnya tingkat keterlibatan petani di dalam kegiatan yang diselenggarakan kelompok tani, diukur berdasarkan berdasarkan intensitas keterlibatan petani dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan kegiatan dalam kelompok tani.

c. Partisipasi petani dalam kelembagaan penyuluhan adalah besarnya tingkat keterlibatan petani di dalam kegiatan di lembaga penyuluhan. Diukur berdasarkan intensitas keterlibatan petani dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan kegiatan dalam kegiatan di lembaga penyuluhan.

Tabel 3.6. Indikator dan Parameter Partisipasi Petani dalam Kelembagaan di Masyarakat (X4)

INDIKATOR PARAMETER

X4.1. Partisipasi petani dalam

kegiatan sosial keasyarakatan

Diukur berdasarkan intensitas keterlibatan petani dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan kegiatan gotong royong.

X4.2. Partisipasi petani jagung

dalam kegiatan di kelompok tani

Diukur berdasarkan intensitas keterlibatan petani dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan kegiatan di kelompok tani.

X4.3. Partisipasi petani jagung

dalam kegiatan di lembaga penyuluhan

Diukur berdasarkan intensitas keterlibatan petani dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan kegiatan di lembaga penyuluhan.

5. Akses informasi (X5) adalah kemudahan dan ketersediaan informasi yang ada kaitannya dengan usahatani, yang meliputi ketersediaan informasi yang dapat diperoleh petani melalui petani-petani lain, tokoh masyarakat dan agen sarana produksi dengan jumlah dan kualitas tatap muka yang dilakukan dalam satu musim tanam jagung dan kesesuaian informasi dengan kebutuhan usahatani jagung yang dilakukan petani, tingkat manfaat informasi yang diperoleh dan tingkat kemudahan mendapatkan informasi.

Tabel 3.7. Indikator dan Parameter Akses Informasi (X5)

INDIKATOR PARAMETER

(8)

commit to user

X5.1 Petani-petani lain Diukur berdasarkan; jumlah tatap muka dengan petani lain yang dilakukan dalam satu musim tanam jagung, kemudahan dan kesesuaian informasi dengan kebutuhan usahatani jagung, tingkat manfaat informasi yang diperoleh dan tingkat kemudahan mendapatkan informasi

X5.2 Tokoh Masyarakat Diukur berdasarkan; jumlah tatap muka dengan tokoh masyarakat yang dilakukan dalam satu musim tanam jagung, kemudahan dan kesesuaian informasi dengan kebutuhan usahatani jagung, tingkat manfaat informasi yang diperoleh dan tingkat kemudahan mendapatkan informasi

X5.3 Agen Sarana Produksi Diukur berdasarkan; jumlah tatap muka dengan agen sarana produksi yang dilakukan dalam satu musim tanam

jagung,kemudahan dan kesesuaian informasi dengan kebutuhan usahatani jagung, tingkat manfaat informasi yang diperoleh dan tingkat kemudahan mendapatkan informasi

6. Lingkungan Usahatani (X6)

Lingkungan Usahatani adalah dukungan dari faktor-faktor di sekitar petani yang tidak dapat dikendalikan petani untuk kelancaran usahatani, yang meliputi:

a. Penggunaan lahan adalah luas lahan pertanian yang disiapkan/digunakan untuk usahatani jagung, diukur dengan luas lahan yang diusahakan untuk komoditas jagung, status kepemilikan lahan usahatani dan cara memperoleh kepemilikan lahan usahatani.

b. Dukungan modal usahatani adalah barang atau uang yang dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang baru yaitu produksi pertanian, diukur berdasarkan menentukan sumber modal yang baik, menentukan kebutuhan modal untuk setiap tahapan produksi, sumber modal yang digunakan untuk menghasilkan produk pertanian yang diusahakan (pribadi, bank pemerintah, bank swasta dan koperasi), kemudahan memperoleh kredit, keringanan pengembalian kredit, kemudahan birokrasi dan administrasi kredit.

Tabel 3.8. Indikator dan Parameter Lingkungan Usahatani (X6)

INDIKATOR PARAMETER

X6.1. Lahan pertanian Diukur dengan (a) luas lahan pertanian yang digunakan untuk

usahatani jagung dengan satuan hektar (ha), (b) status kepemilikan lahan usahatani, (c) cara memperoleh kepemilikan lahan usahatani

X6.3. Dukungan modal

usahatani

Diukur berdasarkan (a) Menentukan sumber modal yang baik, (b) Menentukan kebutuhan modal untuk setiap tahapan

produksi, (c) Sumber modal yang digunakan untuk

menghasilkan produk pertanian yang diusahakan (pribadi, bank pemerintah, bank swasta dan koperasi, (d) Kemudahan memperoleh kredit, (e) Keringanan pengembalian kredit, (f) Kemudahan birokrasi dan administrasi kredit

7. Kebijakan pemerintah (X7)

(9)

commit to user

Kebijakan pemerintah adalah kebijakan pemerintah dikaji melalui persepsi petani terhadap bantuan yang berupa besarnya dukungan peraturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh dinas-dinas terkait di daerah dan pusat kepada usahatani jagung diukur melalui: (a) tingkat persepsi petani terhadap bantuan kebijakan pemerintah dalam menentukan harga jual jagung, (b) tingkat persepsi petani terhadap bantuan pemerintah pada penyediaan sarana dan prasarana produksi jagung, (c) tingkat persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah dalam membantu pemasaran jagung.

Tabel 3.9. Indikator dan Parameter Persepsi Petani terhadap Kebijakan Pemerintah (X7)

INDIKATOR PARAMETER

X7.1. Tingkat persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah dalam menentukan harga jual jagung

Diukur berdasarkan (a) Penilaian responden terhadap bantuan pemerintah kepada petani, (b) Keterlibatan petani dalam penentuan harga jagung, (3) Kesesuaian harga jagung dengan keinginan petani, (4) Manfaat adanya harga dasar jagung bagi petani.

X7.2. Tingkat persepsi petani terhadap dukungan pemerintah pada penyediaan sarana dan prasarana produksi jagung

Diukur berdasarkan (a) Bantuan dan kemudahan dalam memperoleh sarana dan prasarana usahatani jagung, (b) Ketersediaan sarana dan prasarana usahatani jagung sesuai dengan kebutuhan petani, (c) ketepatan waktu penyediaan sarana dan prasarana usahatani jagung dengan kebutuhan tanaman, (d) Kemudahan secara administrasi pengurusan pupuk subsidi.

X7.3. Tingkat persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah dalam membantu pemasaran jagung

Diukur berdasarkan (a) penilaian responden terhadap bantuan pemerintah untuk pemasaran jagung petani, (b) pemerintah membantu petani untuk negoisasi dengan pabrik pakan ternak.

8. Proses Pembelajaran dalam Penyuluhan (X8)

Proses pembelajaran dalam penyuluhan dikaji melalui persepsi petani terhadap ketercapaian selama proses pembelajaran itu sendiri adalah persepsi petani terhadap pencaaian yang diperoleh selama proses pembelajaran yang berkaitan dengan usaha belajar atau aktivitas pembelajaran untuk memberikan informasi dengan usaha tani untuk meningkatkan kompetensi kewirausahaan yang meliputi:

a. Pencapaian tujuan penyuluhan adalah persepsi petani pada tingkat pencapaian tujuan pada proses pembelajaran dalam penyuluhan yaitu perubahan pada

(10)

commit to user

kompetensi kewirausahaan petani, diukur berdasarkan persepsi responden terhadap pencapaian tujuan penyuluhan selama proses pembelajaran dalam penyuluhan dan kesesuaian tujuan penyuluhan dengan tujuan petani, kesesuaian tujuan penyuluhan dengan tujuan individu petani, tingkat keterlibatan petani dalam proses pencapaian tujuan penyuluhan, adanya evaluasi dalam pencapaian tujuan penyuluhan.

b. Materi penyuluhan adalah persepsi petani pada segala sesuatu yang diinformasikan ke petani pada saat penyuluhan, diukur berdasarkan persepsi responden terhadap kesesuaian materi yang diajarkan oleh penyuluh dengan kebutuhan usahataninya, persepsi petani pada materi yang disampaikan sesuai dengan perkembangan mutakhir, persepsi petani pada kemudahan materi penyuluhan untuk dipraktekkan petani dalam kehidupan sehari-hari, persepsi petani pada kelengkapan materi penyuluhan sesuai dengan tingkat pengetahuan petani.

c. Metode penyuluhan adalah persepsi petani pada cara-cara penyampaian materi penyuluhan secara sistematis hingga materi penyuluhan dapat dimengerti dan diterima petani sasaran, diukur berdasarkan persepsi responden terhadap kesesuaian metode dengan materi yang disampaikan, persepsi petani pada metode penyuluhan yang digunakan sesuai dengan kemampuan petani, persepsi petani pada kemampuan metode penyuluhan yang digunakan dapat mengaktifkan petani dalam membangun pengetahuan sendiri, Persepsi petani pada metode penyuluhan yang menumbuhkan motivasi petani untuk berusahatani lebih baik lagi.

d. Media penyuluhan adalah persepsi petani pada alat bantu yang dapat memperjelas penyampaian materi penyuluhan, diukur berdasarkan persepsi responden terhadap kesesuaian media yang digunakan dengan materi yang disampaikan, persepsi petani pada penggunaan media untuk memperjelas materi penyuluhan, persepsi petani pada ketersediaan media pembelajaran yang cukup memadai (papan tulis, alat tulis, buku-buku, leaflet, pamflet, alat peraga dan lain-lain ), persepsi petani pada kemudahan bagi petani untuk menggunakan media penyuluhan yang tersedia, persepsi petani pada media pembelajaran yang ada masih dapat digunakan dengan baik, persepsi petani

(11)

commit to user

pada media pembelajaran mudah diatur sesuai dengan metode penyuluhan yang digunakan.

e. Interaksi antara petani dengan penyuluh dalam penelitian ini adalah persepsi petani pada tingkat intensitas bertemunya petani dengan penyuluh untuk mendapatkan informasi tentang usahataninya, diukur berdasarkan jumlah interaksi antara petani dengan penyuluh per musim tanam, tingkat kekompakkan diantara petani, petani terlibat aktif dan menyampaikan ide pada kegiatan penyuluhan, petani merasa senang mengikuti kegiatan penyuluhan.

f. Kemampuan penyuluh adalah persepsi petani pada kemampuan penyuluh dalam memfasilitasi dan meningkatkan kapasitas petani untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi petani, terutama berkaitan dengan pengelolaan, pengembangan usahatani dan pengembangan kelompok tani, yang diukur berdasarkan persepsi responden terhadap kemampuan penyuluh menguasai materi penyuluhan, persepsi petani pada tingkat kemampuan penyuluh mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, Persepsi petani pada kemampuan penyuluh menjawab pertanyaan petani dengan jelas, penyuluh mampu menyampaikan materi dengan menarik, penyuluh menggunakan dan memanfaatkan sumber materi di sekitar petani dalam penyuluhan.

g. Sarana dan prasarana adalah persepsi petani pada segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan, dan prasarana yang tersedia untuk menunjang proses pembelajaran dalam penyuluhan, diukur berdasarkan persepsi petani pada ketersediaan sarana dan prasarana untuk kegiatan penyuluhan, persepsi petani pada kesesuaian sarana dan prasarana dengan tujuan penyuluhan, persepsi petani pada jenis dan kondisi peralatan yang digunakan untuk penyuluhan.

h. Evaluasi penyuluhan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai penyuluhan yang telah dilakukan kemudian hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan program penyuluhan selanjutnya.

Tabel 3.10. Indikator dan Parameter Persepsi Petani pada Proses Pembelajaran dalam Penyuluhan (X8)

INDIKATOR PARAMETER

(12)

commit to user

X8.1. Persepsi terhadap

Tingkat Pencapaian Tujuan Penyuluhan

Diukur berdasarkan (a) persepsi petani pada tingkat pencapaian tujuan penyuluhan selama proses pembelajaran dalam penyuluhan, (b) persepsi petani pada kesesuaian tujuan penyuluhan dengan tujuan individu petani, (c) persepsi petani pada tingkat keterlibatan petani dalam proses

pencapaian tujuan penyuluhan, (d) persepsi petani pada adanya evaluasi dalam pencapaian tujuan penyuluhan

X8.2. Persepsi terhadap Materi Penyuluhan

Diukur berdasarkan (a) persepsi petani pada kesesuaian materi yang diajarkan oleh penyuluh dengan kebutuhan usahataninya, (b) persepsi petani pada materi yang disampaikan sesuai dengan perkembangan mutakhir, (c) persepsi petani pada kemudahan materi penyuluhan untuk dipraktekan petani dalam kehidupan sehari-hari, (d) persepsi petani pada kelengkapan materi penyuluhan sesuai dengan tingkat pengetahuan petani

X8.3. Persepsi terhadap

Metode Penyuluhan

Diukur berdasarkan (a) persepsi petani pada kesesuaian metode dengan materi yang disampaikan, (b) persepsi petani pada metode penyuluhan yang digunakan sesuai dengan kemampuan petani, (c) persepsi petani pada kemampuan metode penyuluhan yang digunakan mengaktifkan petani dalam membangun pengetahuan sendiri, (d) persepsi petani pada metode penyuluhan menumbuhkan motivasi petani untuk berusahatani lebih baik lagi.

Lanjutan Tabel 3.10

INDIKATOR PARAMETER

X8.4. Persepsi terhadap Media Penyuluhan

Diukur berdasarkan (a) persepsi petani pada kesesuaian media yang digunakan dengan materi yang disampaikan, (b) persepsi petani pada penggunaan media untuk memperjelas materi penyuluhan,(c) persepsi petani pada ketersediaan media pembelajaran yang cukup memadai (papan tulis, alat tulis, buku-buku, leaflet, pamflet, alat peraga dan lain-lain ), (d) persepsi petani pada petani diberi kemudahan untuk menggunakan media penyuluhan yang tersedia, (e) media pembelajaran yang ada masih dapat digunakan dengan baik, (f) persepsi petani pada media pembelajaran mudah diatur sesuai dengan metode penyuluhan yang digunakan

X8.5. Persepsi terhadap

Interaksi petani dan penyuluh

Diukur berdasarkan (a) persepsi petani pada jumlah interaksi antara petani dengan penyuluh per musim tanam, (b) persepsi petani pada tingkat kekompakan diantara petani, (c) persepsi petani pada keterlibatan aktif dan menyampaikan ide pada kegiatan penyuluhan, (d) persepsi petani pada perasaan petani untuk senang mengikuti kegiatan penyuluhan

X8.6 Persepsi terhadap

Kemampuan penyuluh

Diukur berdasarkan (a) persepsi petani pada kemampuan penyuluh menguasai materi penyuluhan, tingkat kemampuan penyuluh mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, (b) persepsi petani pada kemampuan penyuluh menjawab pertanyaan petani dengan jelas (c) persepsi petani pada kemampuan penyuluh menyampaikan materi dengan menarik, (d) persepsi petani pada kemampuan penyuluh menggunakan dan memanfaatkan sumber materi di sekitar petani dalam penyuluhan

X8.7. Persepsi terhadap Sarana dan prasarana

Diukur berdasarkan (a) persepsi petani pada ketersediaan sarana dan prasarana untuk kegiatan penyuluhan, (b) persepsi petani pada kesesuaian sarana dan prasarana dengan tujuan penyuluhan, (c ) persepsi petani pada jenis dan kondisi peralatan yang digunakan untuk penyuluhan.

X8.8. Persepsi terhadap Evaluasi Penyuluhan

Diukur berdaarkan (a) persepsi petani pada dilakukan kegiatan evaluasi setelah penyuluhan dilaksanakan, (b) persepsi petani pada adanya perbaikan program penyuluhan setelah dilakukan evaluasi.

i. Kompetensi kewirausahaan petani Jagung (Y)

(13)

commit to user

Kompetensi kewirausahaan petani adalah karakteristik mendalam atau kemampuan terukur yang dimiliki petani berupa tindakan cerdas penuh tanggung jawab pada bidang tugasnya dan dengan tindakan tersebut dia dianggap mampu oleh masyarakat. Bidang kompetensi kewirausahaan petani terdiri dari:

a. Terampil dalam teknis budidaya jagung adalah kemampuan yang dimiliki petani untuk mengelola usaha tani jagung yang sesuai dengan pedoman dan anjuran penyuluh. Diukur berdasarkan kemampuan melakukan usahatani jagung yang meliputi: (a) persiapan lahan, (b) penanaman, (c) pemeliharaan, (d) pemberantasan hama penyakit, (e) pemanenan, (f) penanganan pasca panen dan (g) pemasaran.

b. Mampu membuat dan mengambil keputusan adalah kemampuan petani untuk membuat dan mengambil keputusan berdasarkan situasi terkini serta mengetahui dampak dari pengambilan keputusan tersebut. Diukur berdasarkan (a) kemampuan membuat keputusan berdasarkan situasi dan kondisi saat ini, (b) kemampuan memperkirakan dampak keputusan yang dibuat pada masa datang, (c) menilai suatu keputusan berdasarkan pertimbangan yang strategis, (d) kemampuan membuat keputusan dalam waktu yang singkat, (e) memandang suatu masalah dari berbagai sudut, (f) bertanggungjawab terhadap semua keputusan yang diambil.

c. Mampu mengorganisasi orang lain yaitu kemampuan untuk menentukan tugas-tugas yang diperlukan agar mencapai tujuan, pendelegasian wewenang dan perencanaan kerja. Diukur berdasarkan kemampuan (a) melimpahkan tugas kepada orang lain untuk urusan usahatani, (b) membagi tugas secara efektif, (c) memantau kemajuan rencana kerja, (d) memperbaiki rencana kerja sesuai informasi yang terbaru yang diperoleh, (e) melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan usahatani, (f) mengatur dan mengurus aktivitas pekerja dalam usahatani, (g) mengawasi pencapaian tujuan terutama untuk pekerjaan yang beresiko.

d. Mampu mengelola pemasaran dan keuangan adalah kemampuan petani untuk menentukan pasar dan mengelola laporan keuangan. Diukur berdasarkan (a) kemampuan menentukan dimana produk usahatani akan dijual, (b) menjual hasil usahatani dengan harga tertinggi, (c) menentukan saat yang tepat untuk

(14)

commit to user

menjual hasil usahatani, (d) menentukan berapa banyak hasil usahatani yang akan dijual, (e) menjual produk usahatani sesuai permintaan konsumen, (f) menentukan kepada siapa hasil usahatani dijual, (g) pembuatan laporan keuangan usahatani jagung, (h) menghitung keuntungan usahatani, (i) menggunakan modal untuk keperluan operasional usahatani, (j) mengatur modal tetap dan modal tidak tetap usahatani, (k) mengatur semua biaya produksi usahatani.

e. Berani mengambil resiko yaitu kompetensi untuk melakukan pekerjaan sesuai realita dan risiko yang ada mempunyai alternatif atau cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuan. Diukur berdasarkan (a) keberanian mengambil resiko dari suatu usahatani, (b) kemampuan untuk menyadari bahwa ada resiko yang negatif dari suatu pekerjaan dan (c) memantau kemajuan pekerjaan agar tercapai tujuan yang ditetapkan.

f. Mampu berkreasi dan berinovasi adalah kemampuan petani untuk selalu berubah dan beradaptasi dengan kondisi yang terbaru dan mempunyai gagasan baru yang diikuti oleh petani lain, diukur berdasarkan (a) menggunakan sumberdaya yang tidak terpakai untuk cabang usahatani lain, (b) menjalankan usahatani jagung sambil mengusahakan ternak , (c) penanganan dan pemanfaatan limbah usahatani jagung, (d) tingkat keinginan petani untuk melakukan uji coba inovasi secara individu maupun kelompok, (e) bersikap proaktif dan responsif terhadap perubahan di dalam usahatani, (f) kemampuan menyampaikan ide-ide baru, (g) berkemampuan untuk berinovasi dengan menggunakan pendekatan baru.

g. Berorientasi ke masa depan diukur berdasarkan kemampuan petani untuk: (a) memilih cabang usahatani yang dapat memelihara produktivitas lahan dan menguntungkan, (b) membuat kombinasi cabang usaha lain yang berkaitan dengan komoditas jagung, (c) menjalin hubungan dengan pihak lain yang penting bagi perkembangan usaha petani, (d) menjaga hubungan jangka panjang dengan berbagai pihak.

h. Mampu menangkap peluang adalah kemampuan yang dimiliki petani untuk melihat peluang usaha yang ada dihadapannya, diukur dengan (a) mencari peluang untuk pengembangan usahatani dengan memanfaatkan sumber daya

(15)

commit to user

alam yang ada, (b) menghasilkan produk-produk lain yang berbahan baku jagung sebagai usaha yang lain, (c) aktif mencari informasi tentang produk yang diinginkan oleh konsumen, (d) memandang suatu masalah sebagai sebuah peluang, (e) memberikan suatu peluang usaha kepada masyarakat di sekitarnya.

i. Mampu mengelola personal adalah kemampuan untuk mengelola sikap diri, percaya diri dan kemampuan menanggapi kritik, diukur berdasarkan (a) kemampuan menjaga tingkat energi yang tinggi, (b) percaya diri sendiri untuk selalu pada kinerja yang optimal, (c) menjaga sikap positif, (d) mampu bekerja mandiri, (e) belajar sebanyak mungkin dalam bidang yang dijalani, (f) mengenali kekurangan diri dan berusaha mengatasinya.

j. Mampu memimpin yaitu kemampuan petani untuk melakukan tugas-tugas seorang pemimpin, diukur berdasarkan (a) kompetensi untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada orang lain, (b) mendelegasikan tugas-tugas pekerjaan untuk rekan-rekan dan bawahan secara efektif, (c) memotivasi orang lain untuk melakukan yang terbaik, (d) bersedia dan terbuka menerima kritik dan saran dari pihak lain, (e) menetapkan hubungan tugas yang jelas antara satu orang dengan orang yang lain, (f) mengajak anggota untuk berpartisipasi dalam menetapkan dan memutuskan suatu tujuan.

k. Mampu berkomunikasi adalah kemampuan untuk menyajikan informasi secara perorangan di dalam kelompok, menanggapi dan mendengarkan orang lain, diukur berdasarkan (a) kompetensi untuk menyajikan informasi secara perorangan di dalam kelompok, (b) menanggapi komentar orang lain secara efektif selama percakapan, (c) kompetensi untuk mendengarkan dengan penuh perhatian ketika orang lain sedang berbicara, (d) menjalin komunikasi yang baik dengan pihak-pihak lain.

Tabel 3.11. Indikator dan Parameter Kompetensi Kewirausahaan Petani (Y)

INDIKATOR PARAMETER

Y1. Terampil dalam teknis budidaya jagung

Diukur berdasarkan kemampuan melakukan usahatani jagung yang meliputi: (a) persiapan lahan, (b) penanaman, (c) pemeliharaan, (d) pemberantasan hama penyakit, (e) pemanenan, (f) penanganan pasca panen dan (g) pemasaran

Y2. Mampu membuat dan

mengambil keputusan

Diukur berdasarkan (a) kemampuan membuat keputusan berdasarkan situasi dan kondisi saat ini, (b) kemampuan memperkirakan dampak keputusan yang dibuat pada masa datang, (c) menilai suatu keputusan berdasarkan pertimbangan yang strategis, (d) kemampuan membuat keputusan dalam

(16)

commit to user

waktu yang singkat, (e) memandang suatu masalah dari berbagai sudut, (f) bertanggungjawab terhadap semua keputusan yang diambil

Y3. Mampu mengorganisasi orang lain

Diukur berdasarkan kemampuan (a) melimpahkan tugas kepada orang lain untuk urusan usahatani, (b) membagi tugas secar efektif, (c) memantau kemajuan rencana kerja, (d) memperbaiki rencana kerja sesuai informasi yang terbaru yang diperoleh, (e) melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan usahatani, (f) mengatur dan mengurus aktivitas pekerja dalam usahatani, (g) mengawasi pencapaian tujuan terutama untuk pekerjaan yang beresiko

Y4. Mampu mengelola

pemasaran dan keuangan

Diukur berdasarkan (a) kemampuan menentukan dimana produk usahatani akan dijual, (b) menjual hasil usahatani dengan harga tertinggi, (c) menentukan saat yang tepat untuk menjual hasil usahatani, (d) menentukan berapa banyak hasil usahatani yang akan dijual, (e) menjual produk usahatani sesuai permintaan konsumen, (f) menentukan kepada siapa hasil usahatani dijual, (g) pembuatan laporan keuangan usahatani jagung, (h) menghitung keuntungan usahatani, (i) menggunakan modal untuk keperluan operasional usahatani, (j) mengatur modal tetap dan modal tidak tetap usahatani, (k) mengatur semua biaya produksi usahatani

Y5. Berani mengambil resiko Diukur berdasarkan (a) keberanian mengambil resiko dari suatu usahatani, (b) kemampuan untuk menyadari bahwa ada resiko yang negatif dari suatu pekerjaan dan (c) memantau kemajuan pekerjaan agar tercapai tujuan yang ditetapkan Y6. Mampu berkresi dan

berinovasi

Diukur berdasarkan (a) menggunakan sumberdaya yang tidak terpakai untuk cabang usahatani lain, (b) mengusahakan ternak sambil menjalankan usahatani jagung, (c) penanganan dan pemanfaatan limbah usahatani jagung, (d) tingkat keinginan petani untuk melakukan uji coba inovasi secara individu maupun kelompok, (e) bersikap proaktif dan responsif terhadap perubahan di dalam usahatani, (f) kemampuan menyampaikan ide-ide baru, (g) berkemampuan untuk berinovasi dengan menggunakan pendekatan baru

Lanjutan Tabel 3.11.

INDIKATOR PARAMETER

Y7. Berorientasi ke masa depan Diukur berdasarkan (a) memilih cabang usahatani yang dapat memelihara produktivitas lahan dan menguntungkan, (b) membuat kombinasi cabang usaha lain yang berkaitan dengan komoditas jagung, (c) menjalin hubungan dengan pihak lain yang penting bagi perkembangan usaha petani, (d) menjaga hubungan jangka panjang dengan berbagai pihak

Y8. Mampu menangkap peluang Diukur dengan (a) mencari peluang untuk pengembangan usahatani dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, (b) menghasilkan produk-produk lain yang berbahan baku jagung sebagai usaha yang lain, (c) aktif mencari informasi tentang produk yang diinginkan oleh konsumen, (d) memandang suatu masalah sebagai sebuah peluang, (e) memberikan suatu peluang usaha kepada masyarakat di sekitarnya

Y9. Mampu mengelola personal Diukur berdasarkan (a) kemampuan menjaga tingkat energi

yang tinggi, (b) percaya diri sendiri untuk selalu pada kinerja yang optimal, (c) menjaga sikap positif, (d) mampu bekerja mandiri, (e) belajar sebanyak mungkin dalam bidang yang dijalani, (f) mengenali kekurangan diri dan berusaha mengatasinya

Y10. Mampu memimpi Diukur berdasarkan (a) kompetensi untuk memberikan arahan

dan bimbingan kepada orang lain, (b) mendelegasikan tugas- tugas pekerjaan untuk rekan-rekan dan bawahan secara efektif, (c) memotivasi orang lain untuk melakukan yang terbaik, (d) bersedia dan terbuka menerima kritik dan saran dari pihak lain,(e) menetapkan hubungan tugas yang jelas antara satu

(17)

commit to user

orang dengan orang yang lain, (f) mengajak anggota untuk berpartisipasi dalam menetapkan dan memutuskan suatu tujuan Y11 Mampu berkomunikasi Diukur berdasarkan (a) kompetensi untuk menyajikan informasi secara perorangan di dalam kelompok, (b) menjalin komunikasi yang baik dengan pihak-pihak lain

Penilaian terhadap kompetensi kewirausahaan petani berdasarkan parameter yang digunakan pada penelitian ini yaitu:

- Kompetensi kewirausahaan tinggi:

Bila petani sudah memiliki kemampuan yang tinggi dalam melakukan teknis budidaya jagung, sudah melakukan teknis budidaya jagung dengan luasan > 7 hektar namun baru menghasilkan produktivitas jagung sebesar 7- 8 ton/ha, sudah mampu membuat dan mengambil keputusan, sudah mampu melakukan pengorganisasian dengan baik, sudah melakukan manajemen pemasaran dan keuangan yang tertib dan teratur, sudah memiliki keberanian mengambil resiko, sudah mampu berkreasi dan berinovasi, sudah berorientasi ke masa depan, sudah mampu menangkap peluang, sudah memiliki kemampuan personal, memiliki sifat kepemimpinan dan sudah memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.

- Kompetensi kewirausahaan sedang:

Bila petani sudah memiliki kemampuan yang sedang adalah sudah melakukan teknis budidaya jagung dengan luasan 2-6 hektar namun baru menghasilkan produktivitas jagung sebesar 5-6 ton/ha, sudah mampu membuat dan mengambil keputusan, belum sepenuhnya mampu melakukan pengorganisasian dengan baik, sudah melakukan manajemen pemasaran dan keuangan namun belum tertib dan teratur, sudah memiliki keberanian mengambil resiko, kurang mampu berkreasi dan berinovasi, belum berorientasi ke masa depan, sudah mampu menangkap peluang, sudah memiliki kemampuan personal, memiliki sifat kepemimpinan dan sudah memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.

- Kompetensi kewirausahaan rendah:

Bila petani kurang memiliki kemampuan dalam melakukan teknis budidaya jagung, sudah melakukan teknis budidaya jagung dengan luasan <

2 hektar namun baru menghasilkan produktivitas jagung sebesar <5 ton/ha, belum mampu membuat dan mengambil keputusan, tidak mampu

(18)

commit to user

melakukan pengorganisasian dengan baik, manajemen pemasaran dan keuangan, tidak berani mengambil resiko, belum memiliki kreatifitas dan inovatif, belum berorientasi ke masa depan, belum memiliki kemampuan menangkap peluang, belum memiliki kemampuan personal, belum melakukan kepemimpinan yang efektif dan kurang mampu dalam berkomunikasi dengan pihak lain.

E. Data dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden, dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Data primer tersebut meliputi: Faktor Pendidikan Formal petani (X1), pengalaman berusaha tani (X2), motivasi kerja (X3), partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat (X2) yang terdiri dari partisipasi petani dalam kelembagaan sosial (X2.1), partisipasi petani kelompok tani (X2.2), dan partisipasi petani dalam kelembagaan penyuluhan (X2.3). Akses Informasi (X3) yang terdiri dari petani-petani lain (X3.1), tokoh masyarakat (X3.2), Agen sarana produksi (X3.3.). Lingkungan usahatani (X4) terdiri dari penggunaan lahan (X4.1), dukungan modal usahatani (X4.2). Kebijakan pemerintah (X7) yang dikaji melalui persepsi petani dalam penentuan harga jual jagung (X7.1), penyediaan sarana produksi jagung (X7.2), dan membantu pemasaran jagung (X7.3). Proses pembelajaran dalam penyuluhan (X8) yang ditinjau melalui persepsi petani terhadap pencapaian tujuan penyuluhan (X8.1), persepsi terhadap materi penyuluhan (X8.2), persepsi terhadap metode penyuluhan (X8.3), persepsi terhadap media penyuluhan (X8.4), persepsi terhadap interaksi dengan penyuluh (X8.5), kemampuan penyuluh (X8.6), persepsi terhadap sarana dan prasarana (X8.7)dan persepsi terhadap evaluasi penyuluhan (X8.8). Kompetensi kewirausahaan petani (Y) yang terdiri dari terampil teknis budidaya jagung (Y1), mampu membuat dan mengambil keputusan (Y2), mampu mengorganisasi orang lain (Y3), mampu mengelola pemasaran dan keuangan (Y4), berani mengambil resiko (Y5), mampu berkreasi dan berinovasi (Y6), berorientasi ke masa depan (Y7), mampu menangkap peluang (Y8), mampu mengelola personal (Y9), mampu memimpin (Y10) dan mampu berkomunikasi (Y11).

(19)

commit to user

Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari pencatatan data yang telah tersedia di kantor-kantor Pemerintah Provinsi Lampung seperti Kantor Statistik, Kantor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, Badan Koordinasi Penyuluh Provinsi Lampung, Kantor Kecamatan, Kantor Desa, laporan hasil penelitian, dan instansi terkait lainnya.

Jenis data sekunder ini meliputi data:

(1) Keadaan umum daerah penelitian seperti keadaan geografis, iklim, kependudukan, tata guna lahan, pemilikan lahan, pola pemanfaatan lahan, mata pencaharian, angkatan kerja dan sebagainya.

(2) Kebijakan penyuluhan pertanian setelah adanya otonomi daerah di Provinsi Lampung.

(3) Materi penyuluhan yang diberikan kepada petani.

(4) Peta wilayah.

Setelah data diperoleh dari responden yang berupa data ordinal ditransformasi menjadi data interval. Riduan dan Sunarto (2012) menyatakan bahwa proses transformasi berguna untuk memenuhi sebagian dari syarat analisis parametrik yang mana data setidak-tidaknya berskala interval. Teknik transformasi yang dilakukan menggunakan MSI (Method of Successive Interval) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Pertama memperhatikan setiap butir jawaban responden dari angket yang disebarkan.

b. Pada setiap butir ditentukan berapa orang yang mendapat skor 1,2,3 dan 4 yang disebut sebagai frekuensi.

c. Setiap frekuensi dibagi dengan banyaknya responden dan hasilnya disebut proporsi.

d. Tentukan nilai proporsi kumulatif dengan jalan menjumlahkan nilai proporsi secara berurutan per kolom skor.

e. Gunakan tabel distribusi normal, hitung nilai Z untuk setiap nilai proporsi kumulatif yang diperoleh.

f. Tentukan nilai tinggi densitas untuk setiap nilai Z yang diperoleh (dengan menggunakan tabel Tinggi Densitas)

g. Tentukan nilai skala dengan menggunakan rumus:

(20)

commit to user

NS = (𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 𝑎𝑡 𝐿𝑜𝑤𝑒𝑟 𝐿𝑖𝑚𝑖𝑡) − (𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 𝑎𝑡 𝑈𝑝𝑝𝑒𝑟 𝐿𝑖𝑚𝑖𝑡) (𝐴𝑟𝑒𝑎 𝐵𝑒𝑙𝑜𝑤 𝑈𝑝𝑝𝑒𝑟 𝐿𝑖𝑚𝑖𝑡) − (𝐴𝑟𝑒𝑎 𝐵𝑒𝑙𝑜𝑤 𝐿𝑜𝑤𝑒𝑟 𝐿𝑖𝑚𝑖𝑡)

h. Tentukan nilai transformasi dengan rumus: Y = NS + [1+|NSmin|]

Jenis data yang dikumpulkan, baik primer maupun sekunder, kuantitatif maupun kualitatif pada penelitian ini serta sumber datanya dapat dilihat pada Tabel 3.12. berikut ini:

Tabel 3.12. Data yang Diperlukan, Sifat Data dan Sumber Data

Data yang diperlukan

Sifat Data Sumber Data

1 2 3

Data Pokok Primer Sekunder Interval Rasio

(1) Pendidikan Petani Responden

(2) Pengalaman usahatani

Responden

(3) Motivasi Responden

(4) Partisipasi Petani dalam

Kelembagaan di Masyarakat

Responden

(5) Ketersediaan Informasi

Responden

(6) Lingkungan Usahatani

Responden

(7) Proses Pembelajaran dalam Penyuluhan

Responden

(8) Kompetensi Kewirausahaan petani

Responden

Lanjutan Tabel 3.12.

Data yang diperlukan

Sifat Data Sumber Data

1 2 3

Data Pokok Primer Sekunder Interval Rasio Data pendukung

(1) Keadaan umum daerah

(2) Kebijakan penyuluhan pertanian setelah otonomi daerah

(3) Materi penyuluhan

(4) Peta wilayah

Kantor Statistik, Badan

Koordinator Penyuluh Provinsi Lampung Penyuluh Penyuluh Kantor Statistik,

F. Pengumpulan Data

(21)

commit to user

Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, digunakan teknik sebagai berikut:

(1) Kuesioner yaitu alat untuk mengambil data dan informasi yang diperlukan pada penelitian ini.

(2) Dokumentasi yaitu mengumpukan data yang sudah tersedia di kantor- kantor atau instansi-instansi yang terkait dengan penelitian.

G. Instrumen Penelitian (Alat Pengumpul Data)

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2012). Alat tersebut harus merupakan indikator yang tepat mengenai apa yang menjadi kepentingan untuk diukur, alat tersebut harus mudah dan efisien. Instrumen atau alat yang dipakai pada penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang berhubungan dengan variabel dalam penelitian.

Daftar pertanyaan yang berhubungan dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dan variabel-variabel yang mempengaruhinya antara lain:

pendidikan formal petani, pengalaman usahatani, partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat, akses informasi, lingkungan usahatani, persepsi petani terhadapkebijakan pemerintah. Daftar pertanyaan variabel intervening yaitu proses pembelajaran dalam penyuluhan serta variabel terikat yakni kompetensi kewirausahaan petani jagung.

H. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Validitas Instrumen

Validitas berasal dari kata valid yang mempunyai arti ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur/instrumen dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut menjalankan fungsi ukurnya sesuai dengan maksud dilakukan pengukuran tersebut.

Ancok (1989) dan Suryabrata (2000), menyatakan bahwa validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur itu mengukur apa yang ingin diukur, misalnya peneliti menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian,

(22)

commit to user

maka kuesioner yang disusun tersebut mengukur apa yang ingin diukurnya.

Dalam prakteknya, data yang valid selain ditentukan oleh alat ukur yang digunakan, juga ditentukan oleh si pewawancara dan responden.

Untuk mengkaji validitas alat ukur, secara konvensional dapat dilihat dari:

(1) Validitas isi (content validity)

Validitas isi menunjuk kepada sejauh mana tes yang merupakan seperangkat pertanyaan-pertanyaan, dilihat dari isinya memang mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur. Ukuran sejauh mana ini ditentukan berdasarkan derajat representatifnya isi tes itu bagi hal yang diukur, apakah pertanyaan-pertanyaan yang telah dikembangkan memang representatif (mengukur) bagi apa yang dimaksudkan untuk diukur.

(2) Validitas berdasar kriteria (creterion-related validity)

Validitas berdasar kriteria validitas alat ukur itu dilihat dari sejauh mana hasil pengukuran dengan alat yang dipersoalkan itu sama atau mirip dengan hasil pengukuran dengan alat lain yang dijadikan kriteria. Hasil yang dijadikan kriteria itu biasanya adalah hasil pengukuran atribut yang sama dengan alat lain yang diakui merupakan alat ukur yang baik. Dalam validitas berdasar kriteria validitas ukur itu dikaji dengan cara membandingkan skor tes atau skala dengan satu atau lebih variabel eksternal atau kriteria yang diketahui atau diyakini merupakan pengukur atribut yang sedang dikaji (Kerlinger, 2004). Validitas berdasar kriteria ini ditunjukkan dengan uji korelasi antara skor pada alat yang dipersoalkan dengan skor pada alat yang dijadikan kriteria. Koefisien korelasi antara dua perangkat skor itu disebut koefisien validitas. Kemudian koefisien validitas harus ditafsirkan dengan melalui koefisien determinasi, yaitu koefisien korelasi kuadrat. Jadi, misalnya diperoleh koefisien validitas rxy = 0,50, maka koefisien determinasinya adalah rxy2

= 0,25. Angka ini menunjukkan proporsi (%) varians suatu variabel, misalnya y, yang dapat diramalkan dari variabel x atau sebaliknya. Makin tinggi angka ini berarti kecermatan prediksi makin tinggi pula.

(3) Validitas konstruksi teoritis (construct validity)

Validiti konstruksi teoritis mempersoalkan sejauh mana skor-skor hasil pengukuran dengan instrumen yang dipersoalkan itu merefleksikan konstruksi

(23)

commit to user

teoritis yang mendasari penyusunan alat ukur tersebut. Validitas berdasarkan konstruksi teoritis ini merupakan proses yang kompleks, yang memerlukan analisis logis dan dukungan data empiris.

Konstruk (construct) adalah kerangka dari suatu konsep. Misalkan seorang peneliti ingin mengukur kerangka dari konsep ‘pemupukan’, pertama- tama yang harus dilakukan adalah mencari kerangka dari konsep tersebut.

Dengan diketahuinya kerangka tersebut, seorang peneliti dapat menyusun tolok ukur operasional konsep tersebut.

Untuk mencari kerangka konsep tersebut dapat dilakukan dengan cara berikut:

a. Mencari definisi-definisi konsep yang dikemukakan para ahli yang tertulis di dalam literatur.

b. Jika definisi yang diperlukan tidak diperoleh dari literatur, maka peneliti harus mendefinisikan sendiri konsep itu.

c. Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden, atau orang-orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden.

Bila terdapat konsistensi antara komponen-komponen konstruk yang satu dengan yang lainnya, maka konstruk tersebut memiliki validitas. Misalnya hasil pengukuran menunjukkan bahwa orang yang melakukan pemupukan terhadap tanamannya, mereka akan teratur melakukan pemupukan tersebut, mereka juga rajin menambah pengetahuan tentang pemupukan, mereka percaya bahwa tanaman yang dipupuk akan tumbuh subur. Bila tidak semua komponen tersebut konsisten antara satu dengan lainnya, maka komponen yang tidak konsisten tersebut bukan merupakan komponen yang valid dari suatu konsep. Bila semua komponen tersebut valid, maka hasil pengukuran dengan masing-masing komponen akan berkorelasi satu sama lain.

(4) Vaiditas Item

Proses konstruksi atau penyusunan tes, perlu dilakukan terlebih dahulu prosedur pengujian dan seleksi validitas terhadap item dengan cara menguji karakteristik masing-masing item yang menjadi bagian tes bersangkutan. Item- item yang tidak memenuhi syarat kualitas tidak boleh diikutkan menjadi bagian tes.

(24)

commit to user

Item dalam tes yang sedang disusun yang tidak memperlihatkan kualitas yang baik harus disingkirkan atau direvisi lebih dahulu sebelum menjadi bagian dari tes. Hanya item yang memiliki kualitas tinggi saja yang boleh digunakan dalam tes. Salah satu kualitas yang dimaksudkan dalam hal ini adalah keselarasan atau konsistensi antara item dengan tes secara keseluruhan atau yang disebut juga dengan konsistensi item total. Dasar kerja yang digunakan dalam selesi item dalam hal ini adalah memilih item-item yang fungsi ukurannya selaras atau sesuai dengan fungsi ukuran tes seperti dikehendaki penyusunnya. Dengan kata lain, dasarnya adalah memilih item yang mengukur hal yang sama dengan apa yang diukur oleh tes sebagai keseluruhan (Azwar, S. 2006)

Pengujian validitas item pada penelitian ini akan diuji dan dianalisis sesuai dengan pendapat Riduan, Rusiana dan Enas (2013) dan Gozali, I. (2011) yaitu memperhatikan angka pada Corrected Item-Total Correlation yang merupakan korelasi antara skor item dengan skor total item (nilai r hitung dibandingkan dengan r tabel) jika diperoleh hasil r hitung > r tabel (untuk degree of freedom (df) = n – 2 dengan jumlah sampel untuk uji sebesar 30 responden diperoleh angka r tabel = 0, 3610) maka item tersebut valid. Hasil uji validitas kuesioner penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.13 di bawah ini:

Tabel 3.13. Hasil Uji Validitas Instrumen

Penelitian

Jumlah Item Keputusan

Valid Tidak Valid

Motivasi 15 12 3

Partisipasi Petani dalam Kelembagaan di Masyarakat

14 11 3

Akses Informasi 12 11 1

Lingkungan Usahatani

8 8 0

Lanjutan Tabel 3.13 Instrumen

Penelitian

Jumlah Item Keputusan

Valid Tidak Valid Persepsi Petani

terhadap Kebijakan Pemerintah

11 10 1

Persepsi Petani pada Proses

Pembelajaran dalam Penyuluhan

33 26 7

(25)

commit to user Kompetensi

Kewirausahaan Petani

65 58 7

Sumber: Hasil Analisis Penelitian 2. Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai kata asal rely dan ability sering disebut juga sebagai keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan dan konsistensi (Azwar, S., 2006). Menurut Suryabrata (2000), reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hal ini ditunjukkan oleh taraf keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh oleh para subjek yang diukur dengan alat yang sama, atau diukur dengan alat yang setara pada kondisi yang berbeda.

Artinya yang paling luas reliabilitas alat ukur itu, menunjuk kepada sejauh mana perbedaan-perbedaan skor itu mencerminkan perbedaan-perbedaan atribut yang sebenarnya.

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Bila suatu alat pengukur dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperolah relatif konsisten, maka alat pengukur tersebut reliabel. Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang konsisten (Ancok, 1989).

Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal dan internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalen dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan analisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu (Sugiono, 2012). Penelitian ini menggunakan uji reliabilitas dengan one shot atau pengukuran sekali saja berdasarkan pendapat Ghozali, I. (2011) yaitu pengukuran hanya dilakukan satu kali dan hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,70 (Nunally dan Bernstein, 1994), secara rinci nilai reliabilitas berdasarkan nilai Cronbach Alpha adalah

Referensi

Dokumen terkait

“Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar dan berfungsi untuk memperjelas

Bila kita mencermati pola pada Tari Gambyong secara keseluruhan, kita akan mendapatkan bahwa dalam pola Tari Gambyong terdapat unsur matematika yaitu di antaranya

Untuk menggunakan dan melihat sarana pembelajaran mengenai sejarah Mesir kuno maka user dapat mengklik pada teks keterangan yang terdapat pada tampilan menu..

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, untuk menggambarkan dan mengungkapkan mengenai penggunaan media dan strategi yang digunakan dalam

- Peserta kategori Mahasiswa adalah mahasiswa aktif dan memiliki Kartu Mahasiswa yang berasal dari satu universitas serta surat keterangan resmi dari

Terkait dengan kelestarian sosial perusahaan memiliki kebijakan pembangunan sosial masyarakat yang tertuang dalam program kelola sosial, berupa program pemberdayaan

Bahaya ini disebabkan oleh operator baru yang mengoperasikan mesin, hilangnya konsentrasi operator, dan tidak terdapat informasi yang jelas mengenai prosedur dalam