1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pemikiran
Pendidikan sepanjang sejarah umat manusia, tidak bisa terlepas dari pertentangan antara pendidikan yang dijalankan secara demokratis dengan pendidikan dijalankan secara otoriter. Pada kenyataannya pendidikan dalam kategori demokratis lebih banyak berkembang di masyarakat Barat, sedangkan pendidikan bercorak otoriter lebih banyak berkembang di dunia Timur. Meskipun di Barat juga ada praktek-praktek pendidikan otoriter, begitu juga sebaliknya di dunia Timur juga banyak praktek-praktek pendidikan yang demokratis, namun kenyataan tersebut menunjukan kecenderungan umum.1Dalam hal ini tidaklah heran kalau kemudian progressivisme, sebuah aliran filsafat pendidikan yang menekankan pada pentingnya pendidikan demokratis, dengan tokohnya John Dewey, tumbuh dan berkembang di masyarakat Barat.
Secara historis, progressivisme berkembang dari filsafat Pragmatisme yang dipelopori oleh Charles S. Peirce, William James dan John Dewey.
Meskipun pada realitanya prinsip-prinsip umum aliran ini hanya dibangun dari hasil pemikiran pendidikan yang dikemukakan oleh John Dewey. Dewey mencoba melakukan terobosan dari pendidikan otoriter, menuju pendidikan yang menekankan pada asas demokratis.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan dalam dirinya sendiri mengandung makna ganda, seakan pedang bermata dua. Satu sisi, pendidikan memang memiliki daya dorong terhadap perubahan, mampu melahirkan orang-orang kritis dan kreatif. Sisi lain, pendidikan memiliki fungsi untuk memperkuat dan melestarikan fungsi masyarakat yang timpang, yakni masyarakat menerima apa adanya dari pemerintah tanpa ada perlawanan. Disini
1 Imam Barnadib, Dalam kata Pengantar Pendidikan Partisipatif Menimbang Konsep Fitrah dan Progressivisme John Dewey, (Yogyakarta, Safiria Insani Press. 2004), hlm. xi
2
kemudian terjadi tarik menarik antara kekuatan yang mendorong pada perubahan dengan kekuatan yang mempertahankan status quo.2
Pendidikan merupakan sebuah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrah-nya.3 Hal ini berguna untuk mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Sementara itu pendidikan dalam perkembangan dewasa ini berfungsi untuk memberikan kaitan antara anak didik dan lingkungan sosial-kulturalnya yang terus berubah-ubah.4
Dari hal itu, perlu dikaji ulang konsep pendidikan dari para pemikir pendidikan yang sekiranya mampu untuk menyelesaikan permasalahan rumit dalam dunia pendidikan. Progressivisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang sangat berpengaruh dalam abad ke-20, mencoba mulai mendobrak kemapanan pendidikan konvensional (otoriter) menuju tatanan modern yang lebih demokratis. Pengaruh yang disebarkan progressivisme sangat terasa dibelahan dunia, terlebih di Amerika Serikat yang merupakan embrio aliran pendidikan ini.
Usaha pembaharuan yang dilakukan dalam pendidikan umumnya terdorong oleh aliran progressivisme.
Pandangan-pandangan progressivisme dianggap sebagai "the liberal road to culture" dalam arti liberal dimaksudkan sebagai fleksibel, berani, toleran dan bersikap terbuka. Dan liberal dalam arti lainya ialah bahwa pribadi-pribadi penganutnya tidak hanya memegang sikap di atas, melainkan juga selalu bersifat
2 Dialog tentang pendidikan dan kekuasaan dapat didalami dari pikiran Paulo Freire, lihat M. Escobar, dkk. Dialog Bareng Paulo Freire; Sekolah Kapitalisme Yang Licik, terj. Muhdi Rahayu, (Yogyakarta: LKis, 1998), hlm. 29-67
3 Suwadi, "Memahami Hubungan Interplay Antara Sekolah Dengan Masyarakat Dalam Perspektif Progressivisme", Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, Vol. 4 No 2, Juli 2003
4 Fungsi dan tugas pendidikan didasarkan pada acuan dasar dalam memandang pendidikan sebagai; 1) pengembangan potensi, lembaga sekolah bertugas merealisasikan pendidikan Islami yang didasarkan atas asas fikri, aqidah dan tasyri'i; 2) pewarisan budaya, tugas lembaga sekolah adalah optimalisasi kematangan dan kedewasaan sehingga menjadi mujtahid baru; 3) interaksi antara potensi dan budaya, tugas lembaga pendidikan adalah membersihkan keterikatan anak didik terhadap pengetahuan sekuder dan memberikan peluang untuk mengalami sendiri. Disamping itu lembaga pendidikan juga tetap memelihara keutuhan dan kesatuan anak didik agar tetap survival dalam tatanan masyarakat dan perdaban. Bandingkan dengan Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988), hlm. 305
3
penjelajah, peneliti secara kontinue demi pengembangan pengalaman.5Mereka mempunyai jiwa dan semangat untuk selalu menyelidiki sesuatu dengan sifat terbuka dan ulet. Selain itu, mereka juga memiliki kemauan untuk mendengarkan kritik dan ide-ide yang berbeda serta memberi kesempatan pada orang lain untuk membuktikan kebenaran.
Progressivisme menganggap pendidikan sebagai culture transition, ini berarti bahwa pendidikan dianggap mampu merubah dalam arti membina kebudayaaan baru yang dapat menyelamatkan manusia dalam menghadapi hari esok yang semakin komplek dan penuh tantangan. Pendidikan adalah lembaga yang mampu membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan kebudayaan dan tantangan zaman, demi survivenya manusia.
Progressivisme percaya bahwa pendidikan dapat mendorong manusia dalam menghadapi periode transisi antara zaman tradisional yang akan segera berakhir, untuk siap memasuki zaman progresiv (modern).6
Ciri lain dari progressivisme adalah konsep pendidikan yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan- kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi, mengatasi masalah-masalah yang menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri.7Dengan adanya konsep ini, progressivisme berbeda dengan pendidikan yang bercorak otoriter, karena sistem otoriter memandulkan pikiran manusia untuk berkembang lebih maju.
Progressivisme menawarkan demokrasi dalam pendidikan yang merupakan cara berfikir liberal, memberi kemungkinan dan prasyarat bagi perkembangan tiap individu dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki.
Ciri selanjutnya adalah bahwa progressivisme merupakan filsafat transisi antar dua konfigurasi kebudayaan yang besar.8 Progressivisme merupakan rasionalisasi mayor dari pada kebudayaan, yakni perubahan yang cepat dan pola- pola kebudayaan masyarakat Barat yang diwarisi dan dicapai pada masa silam. Di
5 Mohammad Noor Syam, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, (Surabaya : Usaha Nasional, 1986), .hlm.226
6 Ibid., hlm. 227
7 Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, Cet. Ke-8, (Yogyakarta : Andi Offset, 1994). hlm. 28
8 Mohammad Noor Syam. Op. Cit. hlm.228
4
samping itu, progressivisme juga melakukan perubahan yang cepat menuju pola- pola kebudayaan yang sedang dalam proses perubahan untuk masa depan.
Oleh karena itu, kemajuan atau progress menjadi perhatian progressivisme. Maka ada beberapa ilmu pengetahuan yang oleh progressivisme dianggap mampu menumbuhkan kemajuan dan merupakan bagian utama dari kebudayaan. Yakni ; ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.9
Progressivisme sangat memperhatikan lingkungan dan pengalaman manusia dalam kehidupan untuk melakukan perubahan, disamping kemajuan atau progress itu sendiri. Dalam pengisian pengalaman ini manusia mempunyai peranan penting jauh di atas mahluk-mahluk lain, karena manusia mempunyai kecerdasan, ingatan, kemampuan membuat simbol-simbol, mempunyai gambaran tentang masa depan dan lain sebagainya. Selain itu, semuanya memberikan kemungkinan pada manusia untuk dapat berhubungan dengan orang lain dan lingkungan yang lebih luas, dalam mengalirnya pengalaman seseorang memberi isi dan kemungkinan untuk berbuat. Berarti bahwa jiwa adalah sumber sebab dan pendorong yang amat penting bagi adanya perbuatan. Sedangkan yang ada adalah yang berbuat.10Sehubungan dengan hal itu, menurut progressivisme, ide-ide, teori-teori atau cita-cita tidaklah cukup, hanya diakui sebagai hal-hal yang ada.
Akan tetapi yang ada di sini haruslah dicari artinya bagi suatu kemajaun atau maksud-maksud baik yang lain.11 Disamping itu manusia harus dapat memfungsikan jiwanya untuk membina hidup yang mempunyai banyak persoalan yang datang silih berganti.
9 Ilmu-ilmu ini dipandang telah mengembangkan hal-hal yang hakiki bagi kemajuan kebudayaan pada umumnya, dan pragmatisme pada khususnya, bahwa ilmu hayat menunjukan bahwa manusia adalah mahluk yang berjuang untuk mempertahankan kehidupan dengan mengatasi rintangan-rintangan yang dihadapi dan melewati jalan yang terbuka baginya.
Antropologi menunjukan bahwa manusia telah mempunyai sejarah yang lama, mencipta kebudayaan, yang karenanya dapat mencari dan menemukan jalan yang perlu bagimya. Psikologi dapat dipelajari bahwa manusia adalah mahluk yang berfikir yang mempunyai faham mengenai diri sendiri, lingkungan dan penglaman-pengalamannya. Sedangkan ilmu alam dan ilmu-ilmu lain yang sejenis menunjukan bahwa dengan penguasaan limu-imu tersebut manusia mampu mengetahui sifat-sifat alam, menguasai dan mengatur sebagian dari padanya. Lihat Barnadib. Op.
Cit, hlm. 28
10 Ibid., hlm.30
11 Ibid., hlm.29
5
Progressivisme boleh dikatakan telah banyak memberikan kontribusi untuk mengadakan perubahan di bidang pendidikan modern dalam abad ke duapuluh. Di dalam dunia pendidikan, progressivisme banyak meletakkan tekanan dalam masalah kebebasan dan kemerdekaan kepada anak didik. Hal ini tercemin pada setiap lembaga pendidikan (sekolah) progressivisme, perihal kemerdekaan untuk anak didik sangat diutamakan. Anak didik didorong untuk mempunyai keberanian dan bertindak dalam melaksanakan kebebasan berekspresi baik secara fisik maupun cara berfikir. Setiap anak didik diberi kemerdekaan untuk berinisiatif dan percaya pada diri sendiri. Sehingga setiap anak didik dapat berkembang dengan wajar, serta mengembangkan watak dan bakat yang terpendam dalam dirinya tanpa ada hambatan dan rintangan dari orang lain.
Kebebasan yang demikian, merupakan cara untuk menerima kenyataan adanya perbedaan watak dan bakat masing-masing anak didik, memberikan corak dan ciri bagi setiap anak didik. Menurut Rumtini bahwa kebebasan yang dikembangkan John Dewey adalah kebebasan inteligensi, dimana kebebasan observasi dan justifikasi dilakukan atas dasar keinginan yang memiliki arti secara instrinsik, yaitu bagian yang dimainkan pikiran dalam belajar.12
Kebebasan anak didik dalam pendidikan juga dikembangkan oleh Paulo Freire, untuk melawan pendidikan penindasan dan naratif. Pendidikan gaya bank dan narasi mengandaikan anak didik laksana bejana-bejana kosong yang perlu diisi oleh guru, semakin penuh semakin baik. Anak didik tak lebih sebagai manusia mandul yang perlu dikasihani dan disuapi pelbagai pengetahuan sesuai selera guru tanpa ada hak untuk menolak.13Implikasiya, sistem pendidikan demikian hanya tertumpu pada pengusaan materi dan aspek hafalan, bukan pada kemampuan analisis. Akibatnya pendidikan kurang humanis, tidak kritis dan tidak membebaskan serta menjadikan anak didik sebagai penonton setia gejolak situasi zaman.14
12 Rumtini Iksan, "Pemikiran Pendidikan John Dewey (1859-1952), Perspektif Filosofis", Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 046, Tahun ke-10. Januari 2004
13 Imam Tholkah dan Ahmad Barizi, Membuka Jendela Pendidikan, Mengurai Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm.
126
14 Ibid.,
6
Dengan demikian, aliran pragmatisme yang merupakan dasar dari progressivisme. Telah meletakan pandangan mendasar untuk melaksanakan pendidikan lebih maju dari sebelumnya. Pemikiran metafisik tersebut merupakan landasan untuk berfikir dan bertindak. Maka tidaklah heran kalau pendidikan progressivisme selalu menekankan tumbuh dan berkembangnya sikap mental dan pemikiran dalam memecahkan permasalahan dan menumbuhkan kepercayaan anak didik. Perlu difahami bahwa, dalam setiap kemajuan atau progress, selalu menumbuhkan perubahan dan pembaharuan yang menghendaki keaslian dan kewajaran, dan bukanlah semata-mata penjelmaan dari realitas yang sudah ada dengan lingkup yang sempurna seperti dulu.15
Kemajuan itu sendiri berasal dari sebuah kata yang mengandung nilai, menurut pandangan pragmatis, nilai-nilai itu adalah instrumen atau alat.16Nilai- nilai itu mendorong seseorang untuk mencapai tujuan. Dalam perspektif progressivisme tujuan sebagai syarat untuk mencapai kemajuan. Akan tetapi dalam pemikiran yang lebih hidup, selalu timbul pertanyaan dan rasa ingin tahu, apakah tujuan itu lebih baik atau buruk. Akan tetapi perlu dipahami bahwa kriteria dari kemajuan atau progresiv itu selalu khusus (spesifik), dari sini terlihat bahwa progressivisme tidak mempunyai formula umum karena tidak memiliki nilai-nilai yang final atau tetap.
Dari sudut pandang tersebut, dapat dilihat mengapa seorang pendidik progresiv selalu banyak menaruh perhatian terhadap anak didik, hal itu pada hakekatnya merupakan inti dari teori nilai yang dikembangkan progressivisme.
Dan hal itu merupakan petunjuk untuk memiliki materi-materi kurikulum dan sebagai penggerak yang paling baik untuk mendorong anak didik lebih maju. Dari hal ini terdapat sisi negatif dari teori ini, sebab kepentingan disamakan dengan kemajuan, yang hanya memiliki masa penerapan atau waktu yang sangat terbatas.
Sebagai contoh yang terjadi pada anak didik, dengan sifat mereka yang penurut tetapi kurang dorongan, dalam hal ini bukanlah cacat yang fatal, tapi anak didik harus diarahkan dan dijaga jangan sampai sifat yang jelek berkembang di
15 H.B. Hamdani Ali, Fisafat Pendidikan, (Yogyakarta : Kota Kembang, 1987), hlm.143
16 Ibid.,
7
kemudian hari. Jadi nilai dalam pandangan progressivisme hanya dilihat dari kegunaan atau bersandar pada materi atau dunia.
Perlu dipahami bahwa progressivisme dalam masalah pendidikan tidaklah memiliki nilai-nilai atau tujuan yang ditetapkan lebih dulu.17Tetapi melihat dari hasil atau kegunaan yang bersifat materi. Tujuan pendidikan betapapun sempurna dan telah dibuktikan kebenarannya di masa lampau, tetapi tidak akan dapat diterapkan pada masa mendatang. Pendidikan dapat dikatakan progresiv, apabila menciptakan kemajuan untuk menuju pada tujuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi tujuan pendidikan tersebut dimaksimalkan untuk mencapai perkembangan dan kemajuan pada anak didik.
Progressivime menganggap pengalaman sebagai sarana utama bagi manusia untuk mengetahui realita. Karena manusia mempunyai kemampuan- kemampuan yang lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain. Dengan adanya pengalaman inilah pengetahuan dapat dihimpun, dengan kecerdasan manusia dapat menggunakan metode yang tepat.18
Pandangan tersebut, selaras dengan pandangan Dewey mengenai pendidikan, bahwa pendidikan tidak seluruhnya harus bersatu dengan masyarakat dalam arti ada batas-batas tetentu.19 Hal ini dikarenakan selain pendidikan harus mengubah orang bersikap kritis terhadap situasi masyarakat, juga mampu membuat perubahan terhadap kebiasaan masyarakat yang bersifat menindas. Jadi, pendidikan harus dilaksanakan dalam kebudayaan, tetapi kebudayaan itu sendiri juga yang menjadi tujuan sekaligus objeknya.20Maka perhatian progressivisme banyak ditujukan terhadap sekolah yang melibatkan keaktifan anak didik dalam proses belajar mengajar. Menekankan kurikulum yang mengutamakan aktivitas, agar anak didik lebih aktif dalam menemukan gagasan dan penelitian secara mandiri.
17 Ibid., hlm. 147
18 Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Pengantar Mengenai Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan FIP IKIP Yogyakarta), hlm. 20
19 Martin Sardy, Mencari Identitas Pendidikan, (Kumpulan Karangan), (Bandung, Alumni, 1981), hlm. 87
20 Ibid.,
8
Sedangkan prinsip dasar progressivisme mengenai pendidikan, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Pendidikan harus merupakan kehidupan itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup.
2. Belajar harus dikaitkan secara langsung dengan minat anak
3. Belajar melalui problem solving harus didahulukan daripada pengalaman pelajaran secara ketat.
4. Peranan guru bukan untuk menunjukan tetapi sebagai pembimbing.
5. Sekolah adalah upaya meningkatkan kerjasama bukan untuk bersaing.
6. Secara demokratis, peranan ide dan personalitas anak secara bebas diperlukan untuk pertumbuhan anak yang benar.21
Berdasarkan pemikiran di atas, progressivisme menghendaki agar pendidikan dilaksanakan secara integral dengan melibatkan seluruh komponen pendidikan (anak didik, pendidik, lingkungan dan pengalaman), agar anak didik pada akhirnya mampu mengahadapi perkembangan zaman. Hal inilah yang merupakan segi positif dari progressivisme yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Sementara segi negatif dari progressivisme adalah kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoritas dan absolut dalam bentuk apapun, seperti dalam agama, politik dan moral.
Pendidikan Islam diharapkan dapat membangun kembali nilai-nilai kemanusiaan yang telah luntur. Dengan demikian pendidikan kembali pada peran sentralnya sebagai institusi pematangan humanisasi. Karena itu, pendidkan Islam sebagai manifestasi ajaran Islam harus dipacu ke arah pembebasan. Praktek pendidikan Islam tidak mengenal diskriminasi apapun termasuk di dalamnya hegemoni dan pengkultusan terhadap guru, sebaliknya harus tercipta demokratisasi pendidikan.22Athiyah al-Abrasyi menambahkah, sesungguhnya
21 Arthur Kneller Ellis dalam Husniyatus Salamah Zainiyati,” Filsafat Pendidikan Barat dan Islam: Perspektif Perbandingan”, Wacana. Vol. IV. No.2, Agustus 2004, hlm.22
22 Imam Tholkah dan Ahmad Barizi, Op. Cit., hlm. 123
9
dalam pendidikan Islam terwujud prinsip-prinsip demokrasi, kemerdekaan, persamaan dan kesempatan yang sama untuk belajar.23
Pendidikan Islam sebagai instrumen penting orientasi pembebasan diharapkan mampu menyadarkan manusia ke arah eksistensinya sebagai agen yang bebas. Proses pendidikan yang dijalankan bagaimana menciptakan manusia kritis, reflektif, dan integratif.24
Untuk mewujudkan konsep pendidikan tersebut, pendidikan Islam harus kembali pada filsafat pendidikan Islam yang bersumber dari wahyu Allah swt, yang mengandung kebenaran mutlak. Karena kebenaran dalam Islam sesungguhnya bukan kebenaran yang bersifat relatif dan spekulatif, tergantung ruang dan waktu, seperti yang dihasilkan oleh pemikiran filsafat rasionalis dan empiris.25
Dalam pendidikan Islam nilai ditransferkan kedalam aktifitas pendidikan adalah iman dan taqwa, bukan kebudayaan atau warisan sejarah, sebab keduanya belum tentu baik atau buruk. Maka nilai yang ditransfer bukan bersifat free value seperti progressivisme, tetapi unfree value. Di samping iman, nilai yang ditransfer dalam pendidikan adalah akhlak.26
Dengan demikian, bentuk nilai yang hendak ditransfer dan dilestarikan dalam pendidikan Islam, berbeda dengan nilai dalam pendidikan progressivisme.
Maka pandangan Islam mengenai anak didik bukan lawan atau saingan dari progressivisme, tetapi keterpaduan antara keduanya. Hal ini terlihat bahwa pendidikan hendaklah memperhatikan perbedaan individu anak didik serta bahan yang erat hubungannya dengan fungsi sekolah, disamping pendidikan kemasyarakatan, fisik, mental, moral agar mampu mencapai kehidupan mandiri.
23 Muhammad Athiyyah Al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, terj.Abdullah Zakiy Al-Kaaf, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm. 22
24 Manusia kritis adalah manusia cerdas di dalam mengidentifikasi dan mencari solusi terbaik bagi problematika kehidupan yang ada. Manusia reflektif adalah manusia cerdas di dalam membangun keikutsertaan kerja/kinerja yang baik. Manusia intergratif adalah manusia cerdas yang mampu membangun relasi dengan seluruh elemen-elemen kehidupan secara menyeluruh baik dengan sesama manusia maupun dengan lingkungannya. Lihat Imam Tholkah dan Ahmad Barizi, Op. Cit., hlm.124
25 Husniyatus Salamah Zainiyati, Op.Cit., hlm.27
26 Muhammad Athiyyah Al-Abrasyi, Op. Cit. hlm.23
10
Pandangan pendidikan Islam tentang Anak didik adalah bahwa anak didik merupakan mahluk suci yang dibekali bakat dan potensi yang harus dikembangkan.27 Sehingga bakat dan potensi itu bermanfaat di kemudian hari atau setelah dewasa, bimbingan orang tua, sekolah dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, berbunyi :
ﺓﺮﻳﺮﻫ ﰊﺍ ﻦﻋ :
ﻥﺎﻛ ﻪﻧﺍ :
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ ,
ﺪﻟﻮﻳ ﻻﺍ ﺩﻮﻟ ﻮﻣ ﻦﻣﺎﻣ
ﻰﻠﻋ ﻪﻧﺎﺴﺠﳝ ﻭﺍ ﻪﻧﺍﺮﺼﻨﻳ ﻭﺍ ﻪﻧﺍﺩﻮﻬﻳ ﻩﺍﻮﺑﺎﻓ ﺓﺮﻄﻔﻟﺍ )ﺭ
ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭ
28
(
Tidaklah anak yang dilahirkan itu kecuali telah membawa fitrah (kecenderungan untuk percaya pada Allah swt), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani, Majusi. (H.R Muslim)
Selain pandangan mengenai anak didik, nilai yang dibangun dalam pendidikan Islam berdasarkan pada dua unsur. Yakni nilai ilahi dan nilai insani, nilai ilahi mempunyai watak mutlak bersifat abadi. Sedangkan nilai insani bersifat temporer dan relatif kebenarannya. Mengenai tujuan pendidikan Islam bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan Islam adalah untuk merealisasikan penghambaan kepada Allah swt. dalam kehidupan manusia baik secara individu maupun sosial, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah;
ِﻥﻭﺪﺒﻌﻴِﻟ ﺎﱠﻟِﺇ ﺲﻧِﺈﹾﻟﺍﻭ ﻦِﺠﹾﻟﺍ ﺖﹾﻘﹶﻠﺧ ﺎﻣﻭ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S. al-Dzariyat: 56)29
27 Dalam pendidikan potensi ini biasanya disebut fitrah, yakni fitrah manusia adalah subjek atau menjadi pelaku, bukan objek atau penderita. Karena panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, bertindak mengatasi realitas yang menindas atau mungkin menindasnya. Lihat, Jamali, "Pendidikan Partisipatoris, Arah Baru Menuju Paradigma Pembebasan", LEKTUR, Seri XVIII/2002, hlm.498
28 Al Imam Abi Husain Muslim Ibn Hajaj Al Qusayairi An Nasaburi, Shahih Muslim, (Bairut : Darul Kutab Al Amiyah, 260-261 H), hlm. 2047
29 Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur'an dan Terjemahnya, (Semarang:
Tanjung Mas Inti, 1992), hlm. 862
11
Harus ditekankan bahwa "menyembah" pada ayat tersebut tidak dimaksudkan sebagai upacara sembahyang yang biasa difahami. Akan tetapi jauh lebih luas dari itu. Pendeknya meliputi segala tingkah laku manusia.30Dalam penciptaan manusia berarti mengarah bahwa manusia itu memiliki tanggung jawab. Mengenai tanggung jawab, manusia bisa lebih mulia dibandingkan mahluk hidup lain sebab, manusia diberi tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi dan sekaligus dibekali dengan akal untuk menunjang kemampuan berfikirnya.
Berpijak dari pemikiran tersebut, bahwa sasaran pokok pendidikan Islam adalah mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Dari sini terlihat jelas sistem pendidikan Islam dirancang untuk dapat merangkum tujuan hidup manusia sebagai mahluk ciptaan Allah swt. Yakni. Pertama, tujuan pendidikan Islam bersifat membimbing perkembangan manusia sejalan dengan fitrah kejadiannya.
Kedua, merentang dua dimensi yaitu akhir bagi keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Ketiga, mengandung nilai yang bersifat universal yang tidak terbatas oleh ruang lingkup geografis dan paham-paham tertentu.31
Berdasarkan pemikiran di atas, dapat diraba secara explisit antar aliran progressivisme dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Meskipun ada perbedaan mendasar antara keduanya dalam landasan filosofis, nilai yang dibangun dan tujuan akhir dari pendidikan. Akan tetapi dalam memandang anak didik dalam pendidikan ada persamaan bahwa anak didik membutuhkan kebebasan untuk mengembangkan kreatifitas dan kecerdasan, sesuai dengan fitrahnya. Berdasarkan pemikiran tersebut, peneliti terdorong untuk mengadakan kajian secara mendalam tentang arti pentingnya anak didik dalam pendidikan. Dalam bentuk karya skripsi yang berjudul: "Konsepsi Anak Didik Menurut Progressivisme dan Pendidikan Islam (Studi Perbandingan)".
30 As'aril Muhajir, Konsep Pendidikan Manusia Seutuhnya, Jurnal Ilmiah Tarbiyah, vol.
23 No. 8 Juni, 2002. hlm.306
31 Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 29
12
B. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalapahaman dan kekeliruan dalam penulisan skripsi ini. Maka penulis akan mengemukakan beberapa istilah pokok, yakni:
1. Konsepsi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia konsepsi berarti, "pengertian, pendapat (paham), rancangan yang telah ada dalam pikiran".32
2. Anak Didik
Anak didik dalam bahasa Arab dikenal tiga istilah yang sering digunakan untuk menunjukan pada anak didik. Tiga istilah tersebut adalah murid yang secara harfiyah berarti orang ynag menginginkan atau
membutuhkan sesuatu; (ﺬﻴﻤﻠﺗ) tilmidz jamaknya (ﺬﻴﻣ ﻼﺗ ) talamidz yang berarti murid, dan ( ﻢـﻠﻌﻟﺍ ﺐـﻟ ﺎـﻃ) thalib al-ilm yang menutut ilmu, pelajar, atau mahasiswa.33
Abuddin Nata mengatakan, bahwa anak didik adalah orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.34 Sedangkan anak didik dalam pendidikan Islam adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikologis untuk mencapai tujuan pendidikannya dalam lembaga pendidikan.35
Dalam pandangan yang lebih modern, anak didik tidak hanya dianggap sebagai obyek atau sasaran pendidikan sebagaimana disebutkan di atas, melainkan harus diperlakukan sebagai subjek pendidikan.
3. Progressivisme
Arti Prgressivisme dari beberapa sumber diartikan sebagai kemampuan berpolitik yang mencerminkan sikap tindak liberalistis, yang
32 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1993), hlm.520
33 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta : Hidakarya Agung, 1990), hlm.79 dan 283
34 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm.80
35 Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasimya, ( Bandung : Trigenda Karya, 1993), hlm.177
13
selalu berkeinginan melakukan aksi-aksi yang spontan atau segera.36Progres sendiri berarti "kemajuan".37
Dalam kamus filsafat dan psikologi, Progresive berarti usaha untuk menemukan ikatan-ikatan yang sempurna.38 Aliran ini berkembang pada abad 20 terutama di Amerika Serikat, progressvisme lahir sebagai pembaharuan dalam dunia filsafat pendidikan terutama sebagai lawan terhadap kebijakasaan-kebijaksanaan konvensional yang diwarisi dari abad ke-19.
Progressivisme sebagai faham filsafat mempunyai watak yang dapat digolongkan sebagai; (1). Negative and diagnostic yang berarti bersikap anti terhadap otoritarianisme dan absolutisme dalam segala bentuk, baik yang kuno maupun modern, meliputi semua bidang kehidupan terutama; agama, moral, sosial, politik, dan ilmu pengetahuan. (2). Positive and remedial yakni, suatu pernyataan dan kepercayaan atas kemampuan manusia sebagai subjek yang memiliki potensi alamiah. Terutama kekuatan untuk berkembang dalam menghadapi dan mengatasi semua problem hidupnya.
Progressivisme juga disebut dengan istilah, Pragmatisme, Instrumentalisme, Experimentalisme dan Environmentalisme. Masing-masing istilah penamaan tersebut, merupakan perwujudan ide yang mendasarinya yakni :39
a. Disebut Progressivisme, karena aliran ini mengakui dan berusaha mengembangkan progersivitas dalam semua realita, terutama dalam diri manusia sebagai subjek.
b. Disebut Pragmatis, sebab asas utama dalam kehidupan manusia ialah untuk survive terhadap semua tantangan-tantangan hidup manusia, menuntut harus serba praktis dan melihat segala sesuatu dari kegunaanya.
Pragmatisme dianggap filsafat yang asli dan typis bangsa Amerika, mendasari pada filsafat logika dan epistemologi.
36 Hartini dan Karta Sapoetra, Kamus Sosiologi dan Kependudukan, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), hlm. 329
37 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengambangan Bahasa, Op. Cit. hlm.790
38 Sudarsono, Kamus Filsafat dan Psikologi, (Jakarta : Rineka Cipta, 1993), hlm. 208 39 Mohammad Noor Syam, Op. Cit., hlm. 228-229
14
c. Instrumentalisme, karena aliran ini menganggap bahwa potensi inteligensi manusia sebagai kekuatan utama manusia haruslah dianggap sebagai alat (instrumen) untuk menghadapi semua tantangan dan problem dalam kehidupannya. Inteligensi bukanlah tujuan, melainkan alat untuk hidup dan untuk mencapai kesejahteraan dan mengembangkan kepribadian manusia.
d. Experimentalisme, aliran ini menyadari dan mempraktekkan bahwa asas eksperimen (percobaan ilmiah) adalah alat utama untuk menguji kebenaran teori. Percobaan-percobaan tersebut memberi pembuktian apakah suatu ide, teori ataupun pandangan benar atau tidak. Percobaan- percobaan tersebut memberi pengalaman nyata kepada subyek untuk mengerti suatu teori, suatu ilmu pengetahuan.
e. Environmentalisme, karena aliran ini menganggap lingkungan hidup dan tantangan-tantangan di dalamnya, mendorong manusia untuk berjuang, berkembang demi hidupnya. Lingkungan adalah medan tempat berlangsungnya proses interaksi, observasi manusia secara empiris terlibat dalam satu proses antaraksi dengan alam sekitar, bagi lingkungan pisik, maupun lingkungan sosial. Manusia melakukan antaraksi secara aktif sesamanya dalam suatu bentuk dan pola kebudayaan tertentu.
Seberapa jauh manusia mampu menghadapi realita dan perubahan tersebut, merupakan problem utama dalam ajaran filsafat Progressivisme.
Manusia sebagai subjek dalam alam ini, dituntut untuk mampu menghadapi realita yang dinamis, mengatasi semua perubahan yang terjadi sekarang dan akan datang
4. Pendidikan Islam
Pendidikan Islam berasal dari dua kata, pendidikan dan Islam.
Pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya).40 Pendidikan merupakan suatu bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap
40 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka.
1976), hlm. 230
15
perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terciptanya kepribadian yang utama.41
Pendidikan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.42
Menurut Azyumardi Azra, pendidikan adalah suatu proses belajar dan penyesuaian individu-individu secara terus menerus terhadap nilai-nilai budaya dan cita-cita masyarakat.43
Sedangkan kata “Islam” dalam “pendidikan Islam” menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, pendidikan yang Islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam.44
Hasan Langgulung mendefinisikan pendidikan Islam sebagai suatu proses spiritual, akhlak, intelektual, dan sosialnya yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai, prinsip-prinsip dan teladan ideal dalam kehidupan yang bertujuan mempersiapkan kehidupan di dunia dan akhirat.45
Achmadi menambahkan bahwa pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumberdaya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (Insan Kamil) sesuai dengan norma Islam.46
Jadi pendidikan Islam yang dimaksud adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang (pendidik) terhadap orang lain (anak didik) agar dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran-ajaran Islam,
41 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 69
42 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I Pasal 1, Op. Cit. hlm.3
43 Azyumardi Azra, Esai-esai Intelektual dan Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1998), hlm.4
44 Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1992). hlm. 24
45 Hasan Langgulung, Op. Cit., hlm.62
46 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, Paradigma Humanisme Teosentris, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 28-29
16
menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yang siap menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
5. Studi Perbandingan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, studi berarti kajian, telaah, penelitian, penyelidikan ilmiah. 47Sedangkan perbandingan, berasal dari kata banding yang berarti; persamaan, tara, imbangan. Kemudian mendapat tambahan awalan per- dan akhiran –an mengandung arti perbedaan (selisih) kesamaan.48
Jadi, studi perbandingan dalam skripsi ini, merupakan penyelidikan ilimiah untuk memperoleh perbedaan antara dua hal, Dalam hal ini progressivisme dan pendidikan Islam dalam memandang anak didik dalam pendidikan.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dapat ditemukan beberapa pokok rumusan masalah yaitu :
1. Bagaimana konsepsi anak didik menurut Progressivisme ? 2. Bagimana konsepsi Pendidikan Islam tentang anak didik ?
3. Bagimana perbedaan dan persamaan antara konsepsi anak didik menurut progressivisme dan pendidikan Islam?
D. Tujuan Penulisan Skripsi
Berpijak pada permasalahan diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini antara lain:
1. Untuk mengetahui gambaran secara jelas tentang konsepsi anak didik menurut aliran filsafat pendidikan progressivisme.
2. Untuk mengetahui konsepsi pendidikan Islam tentang anak didik
3. Untuk membandingkan antara konsepsi anak didik menurut Progressivisme dengan pendidikan Islam, kemudian menarik relevansi antara keduanya.
47 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Op.Cit., hlm. 860
48 Ibid., hlm. 75
17
E. Tinjauan Pustaka
Progressivisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang sudah mapan, bahkan pengaruhnya sudah tersebar diseluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Meskipun tidak pesat perkembangannya, akan tetapi dari tahun ke- tahun menunjukkan identitasnya dalam pendidikan yang demokratis.
Pembahasan mengenai progressivisme belum banyak ditemukan dalam pergumulan pendidikan, kebanyakan digunakan sebagai acuan untuk dipraktekkan dalam pendidikan, tanpa adanya kajian yang mendalam tentang itu. Dari survai kepustakaan, karya-karya ilmiah yang berkaitan dengan progressivisme masih sedikit. Salah satu tulisan yang membahas progressivisme adalah karya Muis Sad Iman, dengan judul "pendidikan partisipatif, menimbang konsep fitrah dalam Islam dan progressivisme John Dewey".49 Tulisan ini merupakan tesis yang disusun untuk menyelesaikan pendidikan S-2 dalam ilmu pendidikan Islam, semula tesis ini diberi judul konsep fitrah dalam Islam dan progressivisme John Dewey (sebuah kajian komparatif).
Salah satu butir penting dari progressivisme adalah pentingnya mempertimbangkan pengalaman sebagai dasar pendidikan. Dengan pengalaman pendidikan diarahkan, sehingga tujuan pendidikan antara anak didik yang satu dengan lainnya memungkinkan untuk saling berbeda. Sehingga peran dan partisipatif anak didik menjadi suatu keharusan, disitulah konsep pendidikan partisipaitf menempati ruang. Sedangkan konsep fitrah, lebih ditekankan pada proses pendidikan yang berjalan sesuai dengan fitrah manusia, salah satunya adalah fitrah untuk ber-Tuhan.
Islam menyakini bahwa manusia dilahirkan terlebih dahulu telah membuat perjanjian primordial dengan Tuhannya. Oleh karena itu, proses pendidikan diarahkan pada upaya untuk mengembalikan dan mengingatkan manusia pada perjanjian primordial. Sehingga salah satu tujuan pendidikan Islam adalah mengenal Tuhan. Sehingga ilmu apapun, baik ilmu tentang manusia, alam
49 Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif, Menimbang Konsep Fitrah Dan Progressivisme John Dewey, (Yogyakarta: Safiria Insani Press Bekerjasama Dengan MSI UII, 2004)
18
dan sebagainya harus diarahkan pada satu maura, yaitu mengenal Allah swt sebagai Tuhannya, konsep inilah yang tidak dimiliki oleh progressivisme.
Penelitian mengenai anak didik banyak dibahas, tapi pembahasan mengenai progressivisme masih belum bisa dijumpai untuk tidak mengatakan - tidak ada sama sekali- dalam fakultas Tarbiyah. Adapun penelitian yang berhubungan dengan skripsi ini meliputi;
Konsep pendidikan anak menurut DR. Imawan Prayitno di tinjau dari pendidikan Islam.50 Ditulis oleh Ariestha Anggraeni (NIM 3100079). Pandangan DR Imawan mengenai pendidikan yang tepat bagi anak, harus dapat menyentuh setiap potensi baik kognitif, fisik, sosial, mental dan psikomotor. Mendasarkan pada nilai-nilai yang sesuai dengan fitrah anak yaitu pendidikan berdasarkan nilai- nilai Islam, hal ini disebabkan karena dalam Islam pendidikan dimulai sejak anak masih berupa janin sampai mati.
Kemudian skripsi yang di tulis Ummu Aiman (NIM 3197072), judul konsep anak didik menurut Al Ghazali dalam perspektif pendidikan Islam.51 Anak didik dalam pemikiran al Ghazali dikenal dengan 3 istilah yaitu, al-shoby, al- muta'lim dan tholabul ilmi. Pandangan mengenai anak didik harus diarahkan pada perubahan tingkah laku sesuai dengan ajaran Islam, dan didasarkan pada fitrah anak yang dibawa sejak lahir berupa keimanan pada Allah swt. Sedangkan mengenai hubungan guru-murid dititik beratkan pada etika murid pada gurunya, dengan aturan normatif tentang perlunya kesucian jiwa bagi seorang yang sedang menuntut ilmu, karena anak didik sedang mengharapkan ilmu yang merupakan anugrah Allah swt.
Skripsi yang ditulis Siti Azizah (NIM 3100251). Dengan judul konsep pendidikan anak dalam keluarga menurut John Gray dan relevansinya dengan pendidikan Islam.52 Penulis mengelaborasi pemikiran Gray tentang anak didik, bahwa anak boleh berbeda, membuat kesalahan, mempunyai emosi negatif dan
50 Ariestha Anggraeni (NIM: 3100079), Konsep Pendidikan Anak Menurut Dr. Imawan Prayitno Di Tinjau Dari Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
51 Ummu Aiman NIM: 3197027, Konsep Anak Didik Menurut al-Ghazali Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
52 Siti Azizah (NIM: 3100251), Pendidikan Anak Dalam Keluarga Menurut John Gray dan relevansinya Dengan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
19
berkata tidak. Tetapi ayah dan ibunya adalah tetap menjadi bos dalam keluarga.
Gray menginginkan konsep mendidik anak secara positif, tidak harus baik tetapi mengerti komunikasi dan kooperatif antara anak, orang tua serta dengan lainnya.
Hasil penelitian saudari Atik Zuliatul Qoriah (NIM 3198177), judul konsep Conny R Semiawan tentang pendidikan anak berbakat dalam perspektif pendidikaan Islam.53 Conny mengtakan, bahwa anak berbakat mempunyai kemampuan akselarasi otak di atas anak rata-rata, sehingga membutuhkan pendidikan yang berbeda dengan anak rata-rata. Untuk menjawab persoalan itu Conny mengembangkan kurikulum yang differensial. Dalam pendidikan Islam penulis mengemukakan bahwa anak berbakat sebagai fitrah Tuhan yang memerlukan lingkungan untuk menstimulus perwujudan dan perkembangan anak.
Kemudian skripsi karya Nur Solikhin, (NIM; 3198192), judul konsep pendidikan pembebasan Paulo freire, relevasinya dengan pendidikan Islam.54 Menurut Paulo freire pendidikan adalah sebagai aksi dialogis, bukan banking concept of education (pendidikan gaya menabung). Dimana anak didik sebagai obyek yang tidak tahu apa-apa dan guru adalah mahluk yang serba tahu, sedangkan pendidikan Islam dikontekstualisasikan sebagai upaya pembebasan (berfikir, berkehendak dan berbuat secara bebas). Dari sini dapat difahami bahwa anak didik adalah partner dalam kegiatan belajar. Skripsi karya Bambang Setyabudi, judul konsep kebebasan manusia dalam pendidikan Islam, menurut Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-attas.55 Dikatakan bahwa kebebasan anak didik dalam pendidikan adalah untuk mencari guru yang baik, kurikulum yang integratif dan kritis, merupakan cara cepat untuk menumbuhkan kecerdasan anak didik secara menyeluruh.
Kemudian penelitian yang ditulis oleh Nahar Bustanul Arifin (NIM 3100271), judul pemikiran tentang pendidikan pemerdekaan Y.B. Mangun
53 Atik Zuliyatul Qoriah (NIM: 3198177), Konsep Conny R. Semiawan Tentang Pendidikan Anak Berbakat Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
54 Nur Solikhin (NIM: 3198192), Konsep Pendidikan Paulo Freire, Relevansinya Dengan Pendidikan Islam. Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
55 Bambang Setyabudi, Konsep Kebebasan Manusia Dalam Pendidikan Islam Menurut Prof. Dr. Syed Naquib Al-attas, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
20
Wijaya (study komparatif Y.B Mangun Wijaya dengan Pendidikan Islam).56 Y.B Mangun Wijaya mengatakan, bahwa pendidikan harus menekankan siswa untuk memahami pentingnya persamaan, persaudaraan, keadilan, demokrasi dan kebebasan. Sehingga pendidikan membumi dengan koteks sosial yang ada.
F. Metode Penulisan Skripsi
Dalam suatu penelitian selalu dihadapkan pada permasalahan yang akan di pecahkan. Untuk pemecahan permasalahan tersebut penulis menggunakan beberapa metode, yakni metode pengumpulan data dan analisis data. Adapun penjelasan secara rinci mengenai metode-metode tersebut. Sebagai berikut:
1. Pendekatan penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, pendekatan ini digunakan karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata, dan bukan angka-angka.57
Dengan demikian laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan secara jelas. Dalam hal ini penulis mencoba untuk mengkaji buku-buku yang berhubungan dengan aliran filsafat pendidikan Progerssivisme dan pendidikan Islam, difokuskan tentang anak didik.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk memperoleh data dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode library research, yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.58 Baik yang sudah dipublikasikan atau belum.
56 Nahar Bustanul Arifin (NIM; 3100271), Pemikiran Tentang Pendidikan Pemerdekaan Y.B Mangun Wijaya, (Study Komparatif Y.B Mangun Wijaya dan Pendidikan Islam), Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
57 Lexy J. Moleong, Metodologi penelitian kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 6
58 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), hlm. 3
21
3. Sumber-sumber Data
Penulis membagi sumber data menjadi dua bagian, yaitu:
a. Sumber Data Utama
Merupakan sumber pokok yang memuat ide-ide awal tentang suatu bahan kajian, dalam hal ini mengenai progressivisme. Sumber utama dalam penulisan skripsi ini adalah buku karya John Dewey, Democracy and Education, An Introduction to The Philosophy of Education, (New York: The Macmillan Company, 1964). Sumber utama juga disebut dengan sumber primer, yang merupakan data otentik atau data langsung dari tangan pertama tentang masalah yang diungkapkan, disebut juga data asli.59
b. Sumber Data Pendukung
Sumber data pendukung merupakan data-data yang digunakan untuk memperkuat sumber utama. Sehingga penelitian akan lebih valid dalam menemukan kesimpulan. Data pendukung dalam penelitian lazim disebut dengan sumber sekunder yaitu data yang mengutip dari sumber lain. Sehingga tidak bersifat autentik karena diperoleh dari tangan kedua, ketiga dan selanjutnya.60 Sumber pendukung dalam penulisan skripsi ini meliputi;
Buku Filsafat Pendidikan Sistem dan Metode, karya Prof. Dr Imam Barnadib, (Yogyakarta: Andi Offset, 1994). Buku Al Tarbiyah Al- Islamiyah wa falasifatuha, karya Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, terj.
Abdullah Al-Kaaf, (Bandung: Pustaka Setia, 2003). Buku filsafat pendidikan, karya H.B. Hamdani Ali M.Ed., (Yogyakarta: Kota Kembang, 1986). Dan buku Pengantar Ilmu Mendidik Anak-Anak, karya. Dra. Sutari Imam Barnadib, (Yogyakarta: Institute Press IKIP Yogyakarta, 1976) 4. Metode Analisis Data
Sebagai tindak lanjut pengumpulan data, maka data tersebut disusun secara sistematis dan dianalisis secara kualitatif dengan
59 Wirnano Surahmad, Dasar-dasar Tehnik Research, (Bandung: Tarsito, 1972), hlm. 156
60 Ibid.
22
menggunakan metode komparatif. Metode Komparatif merupakan suatu cara untuk membandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain guna mendapatkan kesimpulan yang jelas.61 Metode ini digunakan untuk menganalisa antara dua konsep yang berbeda, kemudian ditarik kesimpulan, sehingga mendapat perbedaan dan persamaan antara dua sumber.
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk menghindari adanya pelebaran dan kerancuan pembahasan mengingat wilayah-wilayah yang luas dalam pembahasan skripsi ini. Maka penulis membagi skripsi ini dalam tiga bagian. yakni :
1. Bagian muka terdiri dari halaman judul, nota pembimbing, abstraksi, pernyataan, pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar dan daftar isi.
2. Bagian isi, terdiri dari :
Bab I : Pendahuluan, meliputi; latar belakang pemikiran, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penulisan skripsi, telaah pustaka, metode penulisan, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II : Konsepsi anak didik menurut aliran pendidikan progressivisme berisi tiga pokok bahasan, yakni: Pertama, Perkembangan progressivisme, Kedua. Pandangan-pandangan progressivisme dan Ketiga, Konsepsi progressivisme tentang anak didik. Meliputi:
Pengertian anak didik menurut progressivisme, perbedaan individual dan anak didik sebagai subjek aktif dalam pendidikan.
Bab III : Konsepsi anak didik dalam pendidikan Islam, meliputi dua pokok bahasan, Pertama. Landasan filosofis dan tujuan pendidikan Islam, meliputi; 1. Landasan filosofis, didalamnya membahas, hakekat manusia, hakekat alam raya dan hakekat Tuhan dalam pendidikan Islam., 2. Tujuan pendidikan Islam. Kedua. Konsepsi pendidikan Islam tentang anak didik, meliputi tiga hal; Pengertian anak didik
61 Ibid., hlm.135
23
dalam pendidikan Islam, pembawaan dan lingkungan anak didik, dan peranan anak didik dalam pendidikan Islam.
Bab IV : Analisis konsepsi anak didik menurut progressivisme dan pendidikan Islam. Pembahasan tersebut meliputi: Pertama.
Analisis filsafat pendidikan progressivisme dan pendidikan Islam, meliputi tiga bagian yaitu; ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Kedua, Analisis konsepsi progressivisme dan pendidikan Islam tentang anak didik dalam interaksi pendidikan, meliputi; A.
Pandangan filosofis anak didik, meliputi; ontologi anak didik, epistemologi anak didik dan aksiologi anak didik. B. Perbedaan konsepsi anak didik menurut progressivisme dan pendidikan Islam, meliputi dua pembahasan; pengalaman dan lingkungan anak didik dalam interaksi pendidikan. C. Persamaan konsepsi anak didik menurut progressivisme dan pendidikan Islam, meliputi: anak didik dalam interaksi pendidikan, perbedaan individual dan pembawaan anak didik. D. Peran guru dalam interaksi pendidikan.
Bab V : Bab ini berisi : Simpulan, saran-saran dan penutup.
3. Bagian penutup yang terdiri dari daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.