• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara semantis, setiap satuan lingual memiliki hubungan dengan satuan lingual lain. Hubungan tersebut berupa hubungan makna atau disebut juga relasi makna. Relasi makna merupakan hubungan antarsatuan leksikal secara paradigmatik yang berdasarkan identitasnya dapat berbentuk sinonimi, hiponimi, atau antonimi.

Cruse (1997:86) menguraikan bahwa relasi makna dapat berupa “identity, inclusion, overlap, and disjunction”. Identity „identitas‟ merupakan relasi antara satuan leksikal A dan B yang memiliki identitas atau keanggotaan yang sama, misalnya leksem burung dan ayam, yang keduanya merupakan anggota dari leksem unggas. Relasi tersebut berupa relasi yang menyamping di dalam hiponimi, misalnya A memiliki hiponim B dan C, B dan C itu terletak sejajar di bawah A. Inclusion „penyertaan‟ merupakan relasi ketika satuan leksikal B termasuk anggota dari satuan leksikal A. Relasi ini dapat berwujud hiponimi. Overlap „tumpang tindih‟ merupakan relasi ketika satuan leksikal A dan B memiliki keanggotaan bersama, tetapi ada beberapa yang salah satu satuan leksikalnya tidak dapat ditemukan dalam satuan yang lain. Overlap „tumpang tindih‟ dapat berbentuk relasi sinonimi. Disjunction „pemisahan‟, yaitu hubungan kedua satuan leksikal, baik A maupun B tidak memiliki kenggotaan bersama. Disjunction „pemisahan‟ dapat berbentuk antonimi. Jadi, menurutnya relasi makna

(2)

antarsatuan leksikal dikelompokkan berdasarkan kebersamaan keanggotaan salah satu satuan leksikal dengan satuan leksikal lain.

Berbeda dari pernyataan Cruse di atas, relasi makna dapat berbentuk sinonimi, antonimi, meronimi, dan sebagainya. Hal itu, seperti yang dinyatakan oleh Riemer (2010: 136) bahwa “relationships like synonymy, antonymy, meronymy, and so on all concern the paradigmatic relations of an expression: the relations which determine the choice of one lexical item over another” „hubungan seperti sinonimi, antonimi, meronimi, dan seterusnya yang semuanya mengenai relasi paradigmatik dari leksem: hubungan yang menentukan pilihan dari satuan leksikal dengan yang lain‟. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat ditentukan bahwa relasi makna merupakan hubungan antarleksem secara paradigmatik atau berhubungan dengan unsur bahasa tingkat tertentu dengan unsur bahasa tingkat lain yang dapat dipertukarkan.

Salah satu bentuk relasi makna yang memiliki kedudukan sentral di dalam semantik adalah relasi sinonimi. Menurut Cruse (1997: 267), “synonyms…, are lexical items whose senses are identical in respect of ‘central’ semantic traits, but differ, if at all, only in respect of what we may provisionally describe as ‘minor’ or ‘peripheral’ traits” „sinonim…, merupakan satuan leksikal yang identik di dalam hal makna sentral, tetapi berbeda mengenai apa yang sementara kita dapat deskripsikan sebagai makna tambahan atau periferal‟. Kesentralan makna dalam sinonimi mengacu pada pembedaan komponen makna antarsatuan leksikal berdasarkan persamaan maknanya. Hal itu tercermin pada satuan leksikal yang memiliki kesamaan makna di dalam suatu konteks kalimat, tetapi berbeda maknanya di dalam konteks kalimat yang lain. Sentral atau periferalnya makna

(3)

dalam sinonimi menentukan dapat atau tidaknya satuan leksikal yang bersinonim untuk saling menggantikan di dalam suatu konteks kalimat. Makna yang sentral dapat saling menggantikan dalam semua konteks kalimat. Sebaliknya, makna yang periferal tidak dapat saling menggantikan di dalam setiap konteks kalimat.

Saeed (2003:65) menyatakan bahwa “synonyms are different phonological words which have the same or very similar meanings” „sinonim merupakan kata-kata yang secara fonologis berbeda yang memiliki arti yang sama atau sangat mirip‟. Dengan kata lain, sinonimi merupakan relasi antara kata-kata yang berbeda fonem pembentuknya, tetapi memiliki arti yang sama atau sangat mirip, contohnya couch/sofa „sofa/sofa‟, boy/lad „anak laki-laki/anak laki-laki‟, lawyer/attorney „pengacara/pengacara‟, toilet/lavatory „WC/WC‟, large/big „besar/besar‟. Bentuk leksem-leksem tersebut berbeda secara fonologis, tetapi maknanya sama atau sangat mirip.

Berbeda dari pendefinisian sinonimi di atas, sinonimi didefinisikan oleh Subroto (2011: 62) sebagai “dua leksem atau dua satuan lingual lain itu dapat saling menggantikan dengan isi/informasi yang sama”. Artinya, dua leksem dapat disebut sebagai sinonimi jika dua leksem tersebut dapat dipertukarkan dalam kalimat yang sama tanpa mengubah maknanya. Menurut Subroto (2002: 120), dalam lingkup semantik leksikal, kesinoniman dapat terdapat dalam lingkup: nomina, verba, adjektiva, pronomina persona, numeralia, adverbia, dan preposisi. Dari pandangan di atas, sinonim dapat diuraikan sebagai dua leksem atau lebih yang memiliki kesamaan makna dan dapat menggantikan satu sama lain di dalam kalimat yang sama, serta tidak mengubah maknanya.

(4)

Relasi sinonimi antarsatuan leksikal tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Subroto (2002: 120–121) menyatakan bahwa motivasi yang mendorong timbulnya gejala sinonimi itu ternyata berbagai macam, antara lain: (1) diadopsinya butir leksikal dari bahasa daerah tertentu atau dari dialek tertentu (halus, mulus, daripada, ketimbang); (2) adanya kata serapan dari bahasa asing (iklan, adpertensi, reklame, karangan, artikel, paper, makalah); (3) untuk memenuhi kebutuhan akan laras atau gaya bahasa tertentu (rumah, wisma, istana, gubuk, tempat tinggal); (4) adanya kadar afektif tertentu (bodoh, tolol, goblok); dan (5) faktor kolokatif (gagah, tampan, cantik, molek, ayu).

Berdasarkan hal di atas, permasalahan kesinoniman kiranya layak untuk diulas. Dikatakan layak karena di balik kesamaan makna antarleksem di dalam pasangan sinonim, tersimpan perbedaan komponen makna. Komponen makna mengacu pada komponen pembentuk makna suatu leksem yang dapat membedakan makna antarleksem. Salah satu komponen makna, yakni perasaan intens, yang mengacu pada tingkat kedalaman perasaan saat leksem tersebut digunakan dalam kalimat. Sebagai contoh, leksem terka, sangka, tebak, dan duga yang memiliki kesamaan makna, yaitu „mengira-ngira‟, tetapi terdapat perbedaan komponen makna, yakni komponen perasaan intens sehingga dapat diketahui berdasarkan komponen makna perasaan intens, dari yang terdalam hingga yang kurang dalam adalah duga, tebak, sangka, dan terka. Contoh substitusinya di dalam kalimat sebagai berikut.

(1) *Duga/Tebak/*Sangka/Terka yang dia bawa!

(2) Permainan *duga/tebak/*sangka/*terka gambar di telepon genggam android merupakan permainan yang unik.

(5)

(3) Pertengkaran sepasang kekasih itu disebabkan oleh salah *duga/*tebak/sangka/*terka yang laki-laki terhadap kekasihnya. (4) Berbagai pertanyaan kuajukan untuk duga/tebak/*sangka/*terka isi

hatinya.

Relasi sinonimi banyak terdapat pada satuan leksikal yang berupa leksem (Subroto, 2011: 62). Leksem yang diteliti adalah verba karena kelas kata ini paling banyak digunakan dalam pemakaian bahasa. Hal ini bertolok dari pandangan Chafe (1970: 96) yang menyatakan “… that in every language a verb is present semantically in all but a few marginal utterances” „bahwa pada setiap bahasa, verba hadir secara semantik dalam semuanya, tetapi hanya beberapa pada tuturan kecil‟. Artinya, verba secara semantik wajib hadir, tetapi dalam tuturan hanya sebagian kecil yang hadir. Chafe (1970: 96) juga menyatakan bahwa verba banyak digunakan oleh penutur bahasa karena memiliki sifat kesentralan dalam bahasa dibandingkan dengan nomina dan adjektiva yang bersifat periferal. Menurut Chafe, kesentralan V (verba) itu di antaranya dapat ditunjukkan dengan kita dapat menentukan jenis N (nomina) atau FN (frasa nomina) sebagai konstituen dari V dan kita dapat menentukan sifat relasi antara V dengan N atau FN jika ciri-ciri semantik V itu telah dapat ditentukan. Selain itu, V harus selalu muncul kecuali dalam beberapa kasus pelesapan di mana V itu tak perlu disebutkan di permukaan (Chafe, 1970: 97). Kesentralan verba memiliki arti bahwa verba dapat menentukan jumlah argumen yang mendampinginya di dalam kalimat. Sebagai contoh, verba beli berargumen dua dan verba pergi berargumen satu di dalam kalimat. Selain itu, nomina dan adjektiva merupakan unsur yang bukan inti atau tidak wajib hadir di dalam klausa karena klausa dapat hanya

(6)

berupa verba jika nominanya dihilangkan, misalnya pada klausa sedang berenang yang merupakan jawaban dari pertanyaan Adikmu sedang apa?. Tambahan lagi, setiap klausa harus mengandung subjek dan predikat. Predikat sebagian besar berupa verba dan sebagian kecil berupa adjektiva yang bersifat periferal, sedangkan subjeknya berupa nomina yang juga bersifat periferal atau tidak inti menurut pandangan di atas.

Jika dilihat dari perilaku semantisnya, verba dapat dikelompokkan menjadi verba insani dan verba noninsani. Verba insani merupakan salah satu kesiapan pengelompokkan verba menurut perilaku semantisnya, seperti kelompok nomina noninsani yang penelitiannya telah dilakukan oleh Sutiman dan Ririen Ekoyanantiasih (2007). Verba insani merupakan verba yang secara semantis pelaku atau pengalamnya adalah insan. Dengan kata lain, verba insani mengacu pada verba yang berciri +INSAN. Hal itu diungkapkan oleh Leech (2003: 123) bahwa berdasarkan komponen makna terbesarnya, verba dapat dibedakan menjadi +HUMAN „MANUSIA/INSAN‟ dan -HUMAN „MANUSIA/INSAN‟. Artinya, komponen makna INSAN dapat menjadi dasar untuk mengelompokkan verba. Salah satu contoh verba insani adalah gugat, yang dapat dilihat penggunaannya pada kalimat berikut.

(5) Paman gugat orang yang telah mencuri di kantornya. (6) *Burung gugat orang yang telah mencuri di kantornya. (7) *Padi gugat orang yang telah mencuri di kantornya.

Kalimat (6) dan (7) di atas tidak berterima secara semantis karena gugat merupakan verba yang hanya dilakukan oleh insan, seperti dalam kalimat (1) di atas. Dengan kata lain, verba gugat tidak dilakukan oleh hewan dan tumbuhan.

(7)

Di satu sisi, secara semantis verba insani merupakan verba yang pelaku atau pengalamnya adalah insan. Di sisi lain, verba noninsani merupakan verba yang pelaku atau pengalamnya bukan insan. Salah satu contoh verba noninsani adalah hinggap, yang dapat dilihat penggunaannya pada kalimat berikut.

(8) Kupu-kupu itu hinggap di atas bunga mawar. (9) *Adik hinggap di atas bunga mawar.

(10) *Rumput hinggap di atas bunga mawar.

Kalimat (9) dan (10) di atas tidak berterima karena hinggap merupakan verba noninsani, yang hanya dilakukan atau dialami oleh hewan khususnya hewan yang bisa terbang, seperti pada kalimat (8) di atas. Oleh karena itu, verba noninsani tidak dapat dilakukan atau dialami oleh insan dan tidak dapat dilakukan atau dialami oleh tumbuhan untuk sementara.

Untuk mengetahui verba noninsani dapat dilakukan atau dialami oleh tumbuhan atau tidak, dapat dilihat pada contoh penggunaan verba tumbang dalam kalimat berikut.

(11) Pohon jati itu tumbang karena angin ribut. (12) *Anak itu tumbang karena angin ribut. (13) *Kucing itu tumbang karena angin ribut.

Berdasarkan contoh kalimat di atas, tampak bahwa verba tumbang tidak dapat dilakukan atau dialami oleh insan dan hewan seperti pada kalimat (12) dan (13). Dengan kata lain, verba tumbang hanya dapat dilakukan atau dialami oleh tumbuhan. Jadi, ada verba noninsani yang tidak hanya dilakukan atau dialami oleh hewan, tetapi dapat dilakukan atau dialami oleh tumbuhan.

(8)

Selain pelaku dan pengalamnya benda bernyawa, seperti hewan dan tumbuhan yang terlihat pada contoh di atas, verba noninsani juga dialami oleh benda tak bernyawa, seperti verba roboh dan karam, yang terlihat pada kalimat berikut.

(14) Bangunan itu roboh karena gempa bumi. (15) Kapal itu karam akibat badai besar.

Dari beberapa contoh di atas, dapat ditentukan bahwa verba insani merupakan verba yang pelaku atau pengalamnya adalah insan. Di sisi lain, verba noninsani merupakan verba yang pelaku atau pengalamnya bukan insan. Tambahan lagi, selain hewan dan tumbuhan, verba noninsani juga mencakupi verba yang pengalamnya benda tak bernyawa.

Dijatuhkannya pilihan pada verba insani dalam penelitian ini didasarkan pada permasalahan yang terdapat di dalamnya, seperti yang akan diungkapkan di bawah ini, serta ketersediaan dana dan ketersediaan waktu yang terbatas. Pemilihan verba insani dalam penelitian ini bertolok dari berbagai permasalahan yang muncul pada verba insani, seperti penggunaan verba insani yang dianggap bersinonim mutlak dengan verba insani lain sehingga penggunaan verba tersebut tidak tepat. Dalam hal ini, ada dua atau lebih verba yang bersinonim, tetapi kurang tepat untuk dipertukarkan dalam kalimat yang sama. Artinya, verba-verba yang dianggap bersinonim tersebut memiliki makna yang berbeda. Contoh verba minta dan mohon pada kalimat berikut.

(16) Saya minta maaf tidak bisa menghadiri rapat. (17) Saya mohon maaf tidak bisa menghadiri rapat.

(9)

Penggunaan leksem minta dan mohon di atas jika disubstitusikan ke dalam konteks kalimat lain, ada yang kurang berterima, seperti berikut.

(16a) Dia minta minum kepada temannya. (17a) *Dia mohon minum kepada temannya.

Pada kalimat (16), (17), dan (16a), leksem mohon dan minta dapat berterima ketika dipertukarkan. Akan tetapi, penggunaan leksem mohon pada kalimat (17a) kurang berterima. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan keemotifan pengguna bahasa ketika menggunakannya di dalam kalimat. Leksem mohon digunakan untuk menyatakan permintaan yang sangat dan meminta hal besar sehingga tidak tepat untuk digunakan dalam kalimat (17a). Perbedaan keberterimaan leksem untuk dimasukkan dalam kalimat yang sama menunjukkan bahwa kedua leksem tersebut mungkin tidak bersinonim mutlak.

Untuk membuktikan bahwa leksem verba di atas berbeda maknanya, dapat dilihat komponen maknanya. Menurut Lyons, komponen makna dianalogikan seperti halnya dalam Matematika. Ia mengemukakan bahwa “sense relation… have deliberately used the multiplication-sign to emphasize the fact that are intended to be taken as mathematically precise equations, to which the term ‘product’ and ‘factor’…” (Lyons, 1996: 108) „komponen makna dinyatakannya dengan hati-hati menggunakan tanda perkalian untuk menekankan kenyataan bahwa hal itu dimaksudkan akan diambil sebagai persamaan matematis yang tepat yang disebut produk dan faktor‟. Hal itu menunjukkan bahwa komponen makna membangun atau menjadi faktor pembentuk makna leksemnya. Menurut Nida (1975: 32–67), komponen makna dibedakan menjadi komponen makna bersama, komponen makna diagnostik, dan komponen makna suplemen.

(10)

Berdasarkan komponen maknanya, dapat ditentukan bahwa ada leksem verba insani yang tidak bersinonim mutlak, misalnya leksem minta dan mohon di atas, yang tercermin pada tabel analisis komponen makna berikut.

Tabel 1

Komponen Makna Pasangan Sinonimi Leksem mohon dan minta

Dimensi P E L AK U ASP E K S IT UA S I T UJ UA N S ASAR AN OB JE K NADA Komponen Leksem INSAN S E DA NG B E R L AN GSUNG T E R KA B UL OR AN G L AI N AB S T R AK KO NK R E T E KSP R E S IF minta + + + + + + - mohon + + + + + - +

Dari tabel analisis komponen makna di atas, dapat diketahui bahwa leksem verba minta dan mohon memiliki kesamaan komponen yaitu +INSAN, +SEDANG BERLANGSUNG, +TERKABUL, +ORANG LAIN, +ABSTRAK dan memiliki perbedaan komponen makna yaitu minta berkomponen +KONKRET, -EKSPRESIF, sedangkan mohon berkomponen -KONKRET, +EKSPRESIF. Jadi, kedua leksem tidak bersinonim mutlak karena terdapat perbedaan komponen makna, yakni komponen KONKRET dan EKSPRESIF.

Pada kenyataannya, penutur bahasa sering menganggap bahwa verba, khususnya verba insani, bersinonim mutlak sehingga memperlakukan sama antara leksem-leksem yang bersinonim tersebut. Verba yang dianggap oleh pemakai

(11)

bahasa bersinonim mutlak disebabkan oleh kekurangtahuan mereka terhadap komponen makna suatu verba, misalnya komponen sasaran. Komponen sasaran mengacu pada objek yang menjadi target atau sasaran dari verba. Berkaitan dengan hal itu, seringkali bentuk verba yang berbeda-beda begitu saja dianggap bersinonim khususnya verba insani, seperti penggunaan dalam kalimat berikut.

(18) Cuci mukamu dengan air!

(19) Ibu baru saja membeli mesin cuci.

Penggunaan leksem cuci di atas jika disubstitusikan dengan leksem basuh menghasilkan kalimat seperti di bawah ini.

(18a) Basuh mukamu dengan air!

(19a) *Ibu baru saja membeli mesin basuh.

Penggunaan leksem yang bercetak miring di atas dianggap sama dalam kalimat, padahal masing-masing leksem memiliki makna yang berbeda. Hal ini tampak dari kedua leksem yang dapat dipertukarkan satu sama lain dalam suatu konteks kalimat, seperti pada kalimat (18), (18a), dan (19), tetapi dalam konteks kalimat lain tidak dapat dipertukarkan, seperti pada kalimat (19a). Oleh karena itu, meskipun memiliki makna yang sama, yaitu „membersihkan sesuatu dengan air‟, kedua leksem tidak bersinonim mutlak.

Leksem verba insani yang dianggap bersinonim mutlak juga disebabkan oleh pendefinisiannya di dalam kamus yang masih berputar-putar. Dengan kata lain, pendefinisiannya belum mengarah ke hal yang jelas, seperti berikut.

a. basuh v cuci (dengan air); kumbah (KBBI, 2013: 144)

(12)

Pendefinisian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) leksem yang dianggap bersinonim di atas dapat dikatakan masih berputar pada leksem-leksem yang dianggap bersinonim. Leksem basuh didefinisikan sebagai „cuci (dengan air); kumbah‟, padahal definisi itu merupakan leksem yang bersinonim dengan verba yang didefinisikan, yaitu basuh dan cuci. Selain itu, di dalam definisi terdapat kosakata cuci dalam bahasa Jawa, yakni kumbah yang tidak setiap pengguna bahasa mengetahui kosakata tersebut. Terakhir, leksem cuci didefinisikan sebagai „membersihkan dengan air dan sebagainya.‟ Pendefinisian leksem di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seperti di atas menunjukkan bahwa definisi leksem verba di dalam KBBI kurang memperhatikan komponen maknanya.

Penelitian tentang kesinoniman nomina noninsani dalam bahasa Indonesia telah dilakukan oleh Sutiman dan Ririen Ekoyanantiasih (2007) dalam buku yang berjudul “Kesinoniman Nomina Noninsani dalam Bahasa Indonesia” dengan dua simpulan. Pertama, pendefinisian leksem di dalam KBBI belum layak. Kedua, leksem yang tidak dapat disubstitusi bukan merupakan leksem sinonim, jika dapat disubstitusi itu merupakan leksem sinonim. Selain itu, Utami (2010) telah melakukan penelitian tentang kajian sinonim nomina dalam bahasa Indonesia dalam tesisnya dengan dua simpulan. Pertama, kebanyakan nomina dalam bahasa Indonesia bersinonim dekat disebabkan adanya beberapa ciri pembeda. Kedua, beberapa kata yang selama ini dikelompokkan ke dalam sinonim, sebenarnya merupakan anggota dari kehiponiman. Beberapa penelitian tersebut akan digunakan sebagai pijakan dalam melakukan penelitian ini, yang akan diuraikan pada bagian tinjauan pustaka pada bab dua.

(13)

Berpijak dari berbagai hal di atas, permasalahan tentang bentuk kesinoniman dan komponen makna verba insani dalam bahasa Indonesia layak untuk diulas. Melalui penelitian ini, bentuk kesinoniman dan komponen makna verba insani dalam bahasa Indonesia akan dikupas.

B. Pembatasan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada bidang semantik, khususnya kesinoniman verba insani yang berupa verba dasar dalam bahasa Indonesia. Penelitan ini merupakan penelitian tataran verba dengan melihat aspek semantis verba insani bahasa Indonesia yang bersinonim. Selanjutnya, pasangan sinonim verba insani yang dianalisis disempitkan lagi pada leksem-leksem yang bersinonim paling dekat dan bermakna denotatif yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat.

C. Perumusan Masalah

Masalah dalam penelitian terhadap semantik yang memfokuskan pada kajian kesinoniman verba insani ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut.

1. Bagaimana bentuk kesinoniman verba insani dalam bahasa Indonesia?

2. Bagaimana komponen makna verba insani yang bersinonim dalam bahasa Indonesia?

(14)

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini meliputi dua hal sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan bentuk kesinoniman verba insani dalam bahasa Indonesia. 2. Mendeskripsikan komponen makna verba insani yang bersinonim dalam

bahasa Indonesia.

E. Manfaat Penelitian

Hasil temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoretis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pengembang ilmu bahasa tentang verba insani yang bersinonim, khususnya pembedaan sinonim berdasarkan bentuk dan komponen maknanya. Selain itu, penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih mendalam tentang verba insani yang bersinonim dalam bahasa Indonesia, khususnya pada bentuk dan komponen maknanya.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh penyusun kamus untuk memperbaiki pendefinisian leksem di dalam kamus yang belum jelas. Hal ini dimaksudkan agar pendefinisian leksem di dalam kamus dapat sesuai dengan makna dalam penggunaannya sehingga pendefinisiannya lebih jelas dan tidak lagi menyulitkan pengguna kamus. Selain itu, hasil penelitian dapat bermanfaat

(15)

bagi peneliti agar lebih cermat dalam menggunakan verba yang bersinonim ketika berkomunikasi.

F. Sistematika Penulisan

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesinoniman verba insani dalam bahasa Indonesia beserta komponen maknanya. Agar tujuan tersebut tercapai, sistematika penulisan laporan hasil penelitian ini dibagi menjadi lima bab, yaitu Bab I berisi pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II adalah kajian pustaka dan kerangka pikir. Bab ini berisi uraian tinjauan studi terdahulu, landasan teori, dan kerangka pikir. Bab III, yakni uraian mengenai metode penelitian yang melingkupi jenis penelitian, data dan sumber data, bentuk penelitian, metode dan teknik pengumpulan data, klasifikasi data, metode analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data. Bab IV berisi analisis data yang memuat pembahasan bentuk verba insani yang bersinonim dalam bahasa Indonesia dan komponen makna verba insani dalam bahasa Indonesia. Bab V merupakan penutup yang berisi simpulan dan saran penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Dari 58 responden yang memiliki sikap positif terhadap karies gigi diperoleh data responden yang memiliki sikap yang positif baik sebelum maupun sesudah diberikan

[r]

The result of this research shows that using picture dictation activities in teaching listening at second year of MAS Terpadu Tunas Cendikia Ciwaringin-Cirebon

antara waktu ke n-2 dan n-3| / 2 + data pada waktu n-1) atau (data pada waktu n-1 - |selisih data antara waktu ke n-1 dan n-2 serta antara waktu ke n-2 dan n-3| / 2)

Uraian tugas kepala ruangan yang ditentukan oleh Depkes (1994) dalam melaksanakan fungsi perencanaan adalah (1) Merencanakan jumlah dan kategori tenaga keperawatan serta tenaga

1) Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hadwere (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba

Hal ini disebabkan tidak dilakukannya pembuatan kurva baku menggunakan kadar terendah sesuai nilai LLOQ yang diperoleh diawal penelitian, selain itu tidak

Narkotika yang ditangkap tetapi tanpa barang bukti narkotika dan positif menggunakan Narkotika sesuai dengan hasil tes urine, darah atau rambut dapat