1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Selama ini pendidikan menjadi tantangan berat bagi bangsa indonesia, karena masih tertinggal dari Negara-negara lain dalam sisi mutu pengetahuan. Pendidikan harus terus-menerus melakukan adaptasi perkembangan, karena pendidikan adalah unsur utama yang penting dalam kehidupan, pendidikan di sekolah berperan dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dan taraf hidup bangsa, namun masih dirasa kurang, hal ini dapat dilihat dari pencapaian Indonesia dalam kompetisi sains internasional yang dilakukan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), tes PISA (Programme For International Student Assessment) bahwa pendidikan Indonesia belum bisa meningkatkan siswa secara optimal di bidang literasi sains.
Literasi sains merupakan studi dari Programme For International Student Assessment (PISA), Indonesia merupakan salah satu Negara yang mengikuti penyelenggaraan PISA, PISA mengukur seberapa baik peserta didik usia 15 tahun atau mendekati akhir wajib belajar, dan menurut data Programme For International Student Assessment (PISA) tahun 2000 (keikutsertaan Indonesia dalam PISA) Indonesia berada diurutan ke-38 dari 41 negara peserta, pada periode ke dua yaitu tahun 2003 peringkat literasi sains siswa Indonesia yaitu peringkat ke-38 dari 40 negara peserta PISA, di tahun 2009 peringkat literasi sains siswa Indonesia yaitu peringkat ke-60 dari 65 negara peserta PISA, sedangkan di tahun 2012 mengalami kemunduran yaitu peringkat ke-64 dari 65 negara peserta PISA, hal tersebut menunjukan bahwa peserta didik indonesia untuk literasi sains sangat kurang (Shofiyah, 2015).
Hasil PISA tahun 2015 yang dirilis oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) tertanggal 6 Desember 2016 peringkat literasi sains indonesia menempati urutan ke-62 dari 70 negara peserta (OECD, 2016). Salah satu penyebab rendahnya skor dan peringkat literasi sains Indonesia adalah sumber belajar yang kurang mendukung dalam meningkatkan kemampuan literasi sains siswa.
Perlu disadari bahwa salah satu faktor penentu dalam peningkatan pendidikan adalah dengan meningkatkan kualitas sumber belajar tersebut. Buku ajar merupakan salah satu sumber pengetahuan bagi siswa di sekolah yang merupakan sarana yang sangat menunjang proses kegiatan belajar mengajar. Buku ajar sangat menentukan keberhasilan pendidikan para siswa dalam menuntut pelajaran di sekolah. Oleh karena itu, buku ajar yang baik dan bermutu
selain menjadi sumber pengetahuan yang dapat menunjang keberhasilan belajar siswa juga dapat membimbing dan mengarahkan proses belajar mengajar di kelas ke arah proses pembelajaran yang bermutu pula. Buku pelajaran yang baik adalah buku yang menjadi sumber ilmu pengetahuan, sehingga dapat menjadi media yang baik dan akan membantu mengoptimalkan proses belajar mengajar seperti yang diharapkan di atas. Jenis buku yang demikian diharapkan dapat membantu proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan khususnya pendidikan Sains (Depdiknas, 2002).
Buku–buku ajar yang ada selama ini lebih menekankan kepada dimensi konten dari pada dimensi proses dan konteks sebagaimana dituntut oleh PISA, sehingga diduga hal tersebut merupakan faktor utama yang menyebabkan rendahnya tingkat kemampuan literasi sains anak Indonesia dalam PISA (Firman, 2007). Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD, 2003) literasi sains (scientific literacy) didefinisikan sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta untuk memahami alam semesta dan membuat keputusan dari perubahan yang terjadi karena aktivitas manusia. Literasi sains penting untuk dikuasai oleh siswa dalam kaitannya dengan bagaimana siswa dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan (Yusuf, 2003).
Kemampuan literasi sains siswa dapat ditingkatkan, salah satu caranya yaitu dengan menyajikan materi ajar sains di sekolah hendaknya selalu dikaitkan dan disepadankan dengan isu-isu sosial dan teknologi masyarakat. Bahan ajar memiliki peranan penting untuk meningkatkan proses pemahaman siswa terhadap pembelajaran sains, dan keberhasilan suatu proses pembelajaran ditentukan oleh seberapa banyak siswa yang dapat menguasai materi kurikulum (Sanjaya, 2010).
Berdasarkan pengamatan peneliti di lokasi penelitian didapatkan bahwa penggunaan bahan ajar dalam proses pembelajaran di sekolah tersebut masih kurang maksimal. Pada umumnya guru hanya memanfaatkan bahan ajar yang telah disediakan oleh sekolah seperti buku paket atau lembar kerja siswa dan tidak bersusah membuat bahan ajar yang lebih menarik sehingga peserta didik tidak jarang merasa bosan atau jenuh dalam proses pembelajaran. Pengembangan bahan ajar penting dilakukan oleh guru, karena dengan mengembangkan bahan ajar dapat membantu siswa. Siswa tidak hanya menggunakan buku paket sebagai bahan ajar dan hal tersebut dapat membantu siswa untuk mengembangkan
wawasannya serta mempermudah mereka memperoleh informasi.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, peneliti tertarik untuk membahas dan mengangkat permasalahan tersebut menjadi sebuah penelitian dengan judul "Penerapan Bahan Ajar Modul Berbasis Literasi Sains Pada Pokok Bahasan Perubahan Lingkungan Untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Sains Siswa Kelas X Sma Negeri 1 Beber". Dengan harapan, dapat meningkatkan kemampuan literasi sains siswa dan semua tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan yang telah disampaikan dalam latar belakang, maka dapat diidentifikasi dan dirumuskan beberapa permasalahan, berikut batasan-batasan yang dijadikan objek penelitian:
1. Identifikasi Masalah
Permasalahan yang dapat diidentifikasi dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas yaitu:
a. Rendahnya tingkat kemampuan literasi sains siswa Indonesia yang dinilai oleh PISA pada tahun 2015, Indonesia menempati urutan ke 62 dari 70 negara peserta PISA.
b. Buku teks yang digunakan di sekolah lebih banyak menyajikan konsep dan pengetahuan yang bersifat hafalan bagi siswa.
c. Siswa membutuhkan buku ajar yang sesuai dalam pembelajaran materi perubahan lingkungan.
2. Batasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya permasalahan, maka penelitian ini dibatasi pada hal- hal berikut:
a. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah peningkatan kemampuan literasi sains siswa dengan menerapkan modul berbasis literasi sains pada pokok bahasan perubahan lingkungan.
b. Kemampuan literasi sains yang diukur dalam penelitian ini yaitu meliputi dimensi pengetahuan, dimensi kompetensi, dan dimensi konteks.
c. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA 2 dan kelas X MIPA 3 SMA N 1 Beber.
d. Penelitian dilakukan hanya pada pokok bahasan perubahan lingkungan di SMA N 1 Beber.
3. Pertanyaan penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana aktivitas siswa yang belajar dengan menggunakan modul berbasis literasi sains pada materi perubahan lingkungan?
b. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan literasi sains siswa antara siswa yang belajar dengan menggunakan modul berbasis literasi sains dengan siswa yang belajar tidak menggunakan modul berbasis literasi sains pada materi perubahan lingkungan?
c. Bagaimana respon siswa terhadap penerapan modul berbasis literasi sains pada materi perubahan lingkungan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengkaji aktivitas belajar siswa antara siswa yang belajar dengan menggunakan modul berbasis literasi sains pada materi perubahan lingkungan.
2. Mengkaji perbedaan peningkatan kemampuan literasi sains siswa antara siswa yang belajar dengan menggunakan modul berbasis literasi sains dengan siswa yang belajar tidak menggunakan modul berbasis literasi sains pada materi perubahan lingkungan.
3. Mengkaji respon siswa terhadap penerapan modul berbasis literasi sains pada materi perubahan lingkungan.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain:
1. Untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya yang berkaitan dengan penerapan bahan ajar berupa modul berbasis literasi sains.
2. Sumbangan pemikiran dan referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin menerapkan secara lebih mendalam tentang penerapan bahan ajar modul berbasis literasi sains.
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain, yaitu:
1. Manfaat bagi siswa
a. Memberikan suasana belajar yang berbeda.
b. Mempermudah siswa dalam menerima dan menguasai materi biologi, khususnya materi perubahan lingkungan dan mampu meningkatkan kemampuan literasi sains siswa.
c. Memberikan motivasi kepada siswa untuk aktif dalam belajar dan mengembangkan kemampuan siswa.
2. Manfaat bagi guru
a. Mempermudah guru dalam menyampaikan materi perubahan lingkungan dan meningkatkan keterampilan guru dalam mengembangkan serta menyusun bahan ajar modul.
b. Bahan ajar modul berbasis literasi sains sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar yang memberikan kontribusi dalam pelaksanaan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
c. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru mengenai literasi sains.
E. Definisi Operasional 1. Pembelajaran
Bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau sub kompetensi dengan segala kompleksitasnya, (Widodo., Jasmadi, 2008).
2. Modul
modul adalah satuan program pembelajaran yang terkecil dan dapat dipelajari oleh siswa sendiri secara perseorangan (self-instructional) setelah siswa menyelesaikan satu- satuan dalam modul, selanjutnya siswa dapat melangkah maju dan dapat mempelajari satuan module berikutnya. Adapun modul pembelajaran, sebagaimana yang dikembangkan di Indonesia, merupakan suatu paket bahan pembelajaran (learning materials) yang memuat deskripsi tentang tujuan pembelajaran, lembaran petunjuk pengajar atau instruktur yang menjelaskan cara mengajar yang efisien, bahan bacaan bagi peserta, lembar kerja peserta dan alat-alat evaluasi pembelajaran (Prastowo, 2012)
3. Literasi sains
Literasi sains juga didefinisikan sebagai keterampilan yang sangat paling dan dibutuhkan dalam era digital saat ini. Pentingnya literasi sains karena permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan dan teknologi, selain itu literasi sains juga dapat memberdayakan masyarakat untuk membuat keputusan pribadi dan dapat berpartisifasi
dalam perumusan kebijakan public yang berdampak pada kehidupan mereka (Kusuma, 2016).
F. Kerangka Berpikir
Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar : 1.1 Bagan Kerangka Berpikir
Gambar 1.1 menjelaskan tentang skema kerangka berpikir dalam penelitian yang dilakukan, dalam hal ini masalah yang ditemukan pada penelitian ini yaitu masih rendahnya kemampuan literasi sains siswa ditinjau dari dimensi literasi sains yakni aspek pengetahuan, aspek kompetensi, aspek konteks, dan aspek sikap. Dalam aspek pengetahuan ditemukan masalah seperti kriteria ketuntasan minimal (KKM) belum sepenuhnya tercapai oleh seluruh siswa dilihat dari hasil UTS yang telah dilakukan, kemudian dilihat dari aspek kompetensi ditemukan masalah seperti siswa belum terampil dalam mengidentifikasi pertanyaan, menginterpretasikan data dan bukti ilmiah, juga belum dapat menyimpulkan pembelajaran,
Siswa
Literasi sains siswa rendah
Guru solusi
Kegiatan belajar mengajar (KBM)
Pengetahuan
Kemampuan literasi sains siswa meningkat
Penerapan modul berbasis literasi sains
Terjadi interaksi
Kompetensi Konteks Sikap
kemudian ditinjau dari aspek konteks dan sikap sebagian siswa belum bisa mengambil keputusan dengan benar dalam segala tindakan yang dilakukan seperti buang sampah sembarangan padahal tempat sampah sudah disediakan di setiap kelas. Rendahnya literasi sains juga dapat ditinjau dari hasil PISA dari tahun ketahun bahwa literasi sains siswa di Indonesia masih tergolong rendah dan literasi sains itu sendiri merupakan tuntutan bagi siswa pada era globalisasi yang berguna untuk mendapatkan peluang dari tantangan global di masa depan. Untuk mewujudkan masyarakat yang melek sains salah satunya adalah melalui kurikulum dan pembelajaran. Dari masalah-masalah di atas ditemukanlah solusi dalam pembelajaran yakni dengan menerapkan bahan ajar modul berbasis literasi sains. Pada proses pembelajaran siswa dituntut untuk bersikap aktif dan melatih siswa untuk memecahkan suatu permasalahan. Melalui penerapan modul berbasis literasi sains dalam materi pembelajaran perubahan lingkungan ini siswa diharapkan mampu memahami aspek literasi sains diantaranya aspek pengetahuan, aspek kompetensi, aspek konteks dan aspek sikap dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan kemampuan literasi sains siswa.
G. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Kemampuan literasi sains siswa Indonesia perlu ditingkatkan, sebagaimana hasil PISA (2015) bahwa Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara, hal ini diperkuat oleh penelitian yang pernah dilakukan Zhasda (2018) dengan judul "Analysis of Biological Science Literacy a Program for International Student Assessment (PISA) Class IX Junior High School Students at Solok Town". Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa kemampuan literasi sains siswa di kota solok masih sangat rendah dengan persentase 6,93%. Skor tersebut menunjukkan rendahnya kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan literasi sains biologi PISA.
Penelitian lain yang menunjukan rendahnya kemampuan literasi sains siswa Indonesia yaitu penelitian yang dilakukan oleh Huryah (2017) dengan judul "Analisis Capaian Literasi Sains Biologi Siswa SMA Kelas X Di Kota Padang". Hasil penelitian menunjukan capaian literasi sains biologi siswa kelas X SMA Negeri sekota Padang memperoleh nilai tes rata-rata sebesar 47,82 dengan kategori rendah. Berdasarkan penelitian tersebut maka perlu adanya inovasi dalam pengembangan bahan ajar yang mampu meningkatkan literasi sains siswa, seperti pengembangan bahan ajar modul.
Modul berbasis literasi sains ini diyakini dapat meningkatkan kemampuan literasi sains siswa seperti dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yaitu penelitian oleh Sunandar (2013) yang berjudul "Pengembangan Bahan Ajar Modul Berbasis Literasi
Sains Model Addie Pada Pokok Bahasan Ekosistem Kelas X Di SMA N 1 Plumbon Kabupaten Cirebon". Hasil penelitian tersebut menunjukan persentase aktivitas belajar siswa pada setiap dimensi literasi sainsnya mengalami peningkatan yang signifikan, begitu pula respon siswa terhadap penerapan modul tersebut menunjukan respon yang kuat sehingga mampu meningkatkan literasi sains siswa.
Penelitian yang keempat yaitu jurnal penelitian Budiningsih (2015) dengan judul
"Pengembangan Buku Ajar IPA Terpadu Berorientasi Literasi Sains Materi Energi dan suhu". Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa bahan ajar yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan hasil belajar literasi sains siswa ditandai dengan peningkatan hasil belajar pada kategori sedang.
Penelitian yang kelima yaitu jurnal penelitian Fatkhurrohman (2017) dengan judul
"pengembangan modul fisika dasar I berbasis literasi sains". berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa modul tersebut efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi sains mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA UPS Tegal.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang relevan di atas penulis mengajukan judul
"Penerapan Bahan Ajar Modul Berbasis Literasi Sains Untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa Pada Pokok Bahasan Perubahan Lingkungan Kelas X Sma N 1 Beber". Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat literasi sains pada siswa jenjang sekolah menengah atas (SMA).
H. Hipotesis
Sugiyono (2017) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data. Demikian juga Ridwan (2008) mengatakan bahwa hipotesis yaitu jawaban sementara yang harus diujikan lagi kebenarannya.
Berdasarkan beberapa pernyataan di atas, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara seorang peneliti terhadap rumusan masalah yang harus diujikan lagi kebenarannya. Adapun hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ha: Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan literasi sains siswa antara siswa yang
belajar menggunakan modul berbasis literasi sains dengan siswa yang belajar tidak menggunakan modul berbasis literasi sains pada pembelajaran biologi materi perubahan lingkungan di SMA N 1 Beber.