• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH:"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH:

SEJARAH, DINAMIKA, DAN PERKEMBANGANNYA

M. Abdul Fattah Santoso – MTT PP

(2)

PENGANTAR

(3)

KAJIAN SEJARAH TIDAKLAH MUDAH, TETAPI DIPERLUKAN

Keterbatasan data

Cara penyajian: periodesasi atau mengangkat tema Sumber data: intelektual atau formal organisasi

Diperlukan untuk memahami dinamika pemikiran dan gerakan Fak-

tor Pe- nye-

bab

(4)

CIRI DAN KETERBATASAN KAJIAN

Masih studi pendahuluan, bersifat wacana Cara penyajian: periodesasi

Tema penyerta (mendasar): Pemurnian Islam

Sumber data: intelektual dan formal organisasi

(5)

PERKEMBANGAN ISU

PEMURNIAN ISLAM

(6)

PERKEMBANGAN ISU PEMURNIAN ISLAM (Abdul Munir Mulkhan, 2000)

Fase 1:

Fase 2:

Fase 3:

 Slogan/jargon yang popuper:

Kembali ke Al- Qur’an dan Sunnah

( ا ى

لَ ِإ ُ

عْو ُج ُّرلا و ِنآْر ُ

ق ْ ل

ِة َّ

ن ُّسلا

) Spiritualisasi Syariah

Babak 1 (Masa Pendiri)

Formalisasi Syariah (Masa Dominasi Ahli Fikih)

Spiritualisasi Syariah Babak 2 (Masa Kepemimpinan Generasi

Berpendidikan Tinggi Modern)

(7)

FASE 1: SPIRITUALISASI SYARIAH BABAK SATU (Abdul Munir Mulkhan, 2000)

 Makna ‘pemurnian Islam’: penyadaran peran umat dalam kehidupan sosial

 Manifestasinya:

 Pendidikan sekolah;

 Bincang-bincang di majelis perkumpulan;

 Pendayagunaan sarana keagamaan;

 Pendayagunaan media cetak dan massa.

 Sikap terhadap tradisi TBC (Takhayul, Bid’ah, dan C/khu: terjadi karena kebodohan, kunci solusinya pendidikan.

Sumber: Dokumen Fachroddin (1921)

(8)

MENGAPA SPIRITUALISASI SYARIAH?

(Abdul Munir Mulkhan, 2000)

 Pentingnya peran hati yang suci (di samping pikiran yang sehat):

Hati suci menjadi dasar bagi daya ruh agama yang menggerakkan amal lahir (syariah).

Hati suci pangkal memahami Islam, akar ibadah, dasar hidup

sosial dan keagamaan, sehingga terbebas dari kebodohan, dan, karena itu, bebas dari ikatan tradisi.

 Sebagai konsekuensi: organisasi hanya instrumen

pengembangan kesalehan hati suci, dan fanatisme keagamaan dalam menerima kebenaran ditolak.

(9)

BUKTI-BUKTI SPIRITUALISASI SYARIAH (Kuntowijiyo, 2000)

 Tantangan Modernisme direspon Ahmad Dahlan dengan pendidikan sekolah dan kepanduan.

 Tantangan Tradisionalisme direspon Ahmad Dahlan dengan tablig

‘jemput bola’ yang menyiratkan perlawanan tidak langsung terhadap pemujaan ulama dan mistifikasi agama.

 Tantangan Jawaisme direspon Ahmad Dahlan dengan demitologisasi (menghapuskan mitos-mitos, seperti keberuntungan disebabkan

pesugihan—memelihara jimat, tuyul—atau minta-minta di kuburan keramat) melalui metode aksi positif (seperti shalat sunnah).

 Respon Ahmad Dahlan membangkitkan partisipasi banyak pihak, termasuk abangan & priyayi.

(10)

FASE 2: FORMALISASI SYARIAH (MAKNA

DAN PRODUK) (Abdul Munir Mulkhan, 2000)

 Momentumnya: pendirian Majelis Tarjih (1928)

 Makna ‘pemurnian Islam’: pemberantasan taqlid buta dan praktik TBC, dan ideologisasi syariah menjadi doktrin

perubahan sosial dan hubungan dengan negara.

 Produk formalisasi syariah: kesalehan syariah (yang lebih bersifat lahiriah) lebih menonjol daripada kesalehan

spiritual a la Ahmad Dahlan, dan kebijakan-kebijakan

ideologis organisasi (Muqaddimah AD Muhammadiyah,

Kepribadian Muhammadiyah, MKCH Muhammadiyah, dan

Khittah Perjuangan Muhammadiyah)

(11)

EKSES FORMALISASI SYARIAH (Abdul Munir Mulkhan, 2000)

 Ekses pemberantasan TBC:

(1) Identifikasi Islam murni berubah menjadi ‘asal bukan NU’;

(2) Ketidak-berterimaan Muhammadiyah di kalangan petani dan umat yang melaksanakan TBC;

(3) Disintegrasi sosial; dan (4) Kering budaya spiritual.

 Ekses ideologisasi syariah menjadi doktrin perubahan

sosial: keterjebakan organisasi/aktivis dalam pendekatan

struktural/ kekuasaan.

(12)

FASE 3: SPIRITUALISASI SYARIAH BABAK DUA (Abdul Munir Mulkhan, 2000)

 Momentumnya adalah perubahan nomenklatur Majelis Tarjih

menjadi ‘Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam’ (MTPPI) pada 1995—walaupun sejak 2005 dimodifikasi menjadi ‘Majelis Tarjih dan Tajdid’ (MTT) tanpa menafikan fungsi dan peranan MTPPI.

 Makna ‘pemurnian Islam’: fungsionalisasi nilai-nilai spiritualitas ke- Tuhanan dalam aplikasi kehidupan konkret di muka bumi.

 Sikap terhadap TBC: substansi TBC era agraris (berdirinya Muhammadiyah) tidak sama dengan substansi TBC era

industri/pembangunan; munculnya pendekatan keilmuan sosial- budaya baru telah merubah definisi TBC era agraris.

 Manifestasi: perumusan pendekatan ijtihad dan perluasan ijtihad ke masalah sosial-budaya.

(13)

DINAMIKA DAN PERKEMBANGAN

MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH

(14)

KEMUNCULAN WACANA MANHAJ TARJIH DAN FASE PERKEMBANGANNYA

Fase 1: Pokok- pokok Manhaj

Tarjih (1989)

Fase 2:

Pendekatan Ijtihad (1995)

Fase 3: Sistem Ijtihad (2005) Wacana

tentang

manhaj tarjih baru muncul setelah

mempraktik- kan tarjih dan ijtihad selama lebih dari

setengah

abad.

(15)

KESELARASAN PERKEMBANGAN MANHAJ TARJIH DENGAN DINAMIKA MAKNA TARJIH

 Perkembangan Manhaj Tajdid selaras dengan dinamika makna ‘tarjih’

yang telah mengalami perluasan dari sekedar:

1) “memperbandingkan—dalam suatu permusyawaratan—

pendapat-pendapat dari ulama (baik dari dalam ataupun dari luar Muhamma-diyah termasuk pendapat imam-imam) untuk

kemudian mengambil mana yang dianggap mempunyai dasar dan alasan yang lebih kuat ” menjadi

2) “identik atau paling tidak hampir identik dengan kata ijtihad”

Tarjih yang identik dengan ijtihad dirumuskan menjadi “aktivitas intelektual untuk merespons berbagai masalah sosial kemasyara- katan dan kemanusiaan dari sudat pandang agama Islam.” (Syamsul Anwar, 2018)

(16)

FASE 1: (POKOK-POKOK) MANHAJ TARJIH

 Perumusan 16 butir pokok manhaj tarjih. Beberapa yang penting:

1. Sumber/dasar istidlal: al-Qur’an dan al-Sunnah al-Shahihah.

2. Ketidak-terkaitan pada satu mazhab tertentu.

3. Penggunaan akal dalam menyelesaikan masalah-masalah keduniaan.

4. Penetapan tiga metode ijtihad: bayani, qiyasi, dan istishlahi.

Metode bayânî dipakai dalam rangka mendapatkan hukum dari nash (صن, teks) dengan menggunakan dasar-dasar tafsir. Metode qiyâsî digunakan dalam rangka untuk menetapkan hukum yang belum ada dalam nash, dengan memperhatikan kesamaan `illatnya. Sementara itu, metode istishlâhî digunakan untuk menetapkan hukum yang sama sekali tidak diatur dalam nash (Fathurrahman Djamil, 2005).

(17)

FASE 2: PENDEKATAN IJTIHAD (TARJIH DALAM MAKNA LUAS)

 Pendekatan tarjih/ijtihad lebih luas dari tiga metode ijtihad pada fase 1 terdahulu yang lebih berorientasi pada nash.

1. Pendekatan bayani: menggunakan nash syariah sebagai sumber kebenaran dan sumber norma untuk bertindak, akal menempati kedudukan sekunder dan berfungsi menjelaskan dan

menjustifikasi nash.

2. Pendekatan burhani: menempatkan rasio dan pengalaman empiris sebagai sumber kebenaran dan sumber norma untuk bertindak, jadi bersifat rasio-nal dan argumentatif, merujuk kepada teks dan konteks; secara praksis pendekatan ini

menggunakan ilmu pengetahuan yang berkembang.

(18)

FASE 2: PENDEKATAN IJTIHAD (TARJIH DALAM MAKNA LUAS)

3. Pendekatan irfani: pemahaman yang bertumpu pada peningkatan kepekaan nurani dan ketajaman intuisi batin, sehingga suatu kepu- tusan tidak hanya didasarkan kepada kecanggihan otak belaka, tetapi juga didasarkan kepada adanya kepekaan nurani untuk menginsafi berbagai masalah dan keputusan yang diambil mengenainya dan mendapatkan petunjuk dariYang Maha Tinggi.

Dalam konteks pengembangan ilmu, intuisi dapat menjadi sumber awal bagi pengetahuan, setidaknya menjadi sumber inspirasi pencarian

hipotesis. Pembuktian akhir terletak pada bukti-bukti bayani dan burhani. Dalam pengalaman agama dan mengembangkan sikap terhadap orang lain, kalbu dapat menjadi sumber bagi kedalaman penghayatan agama, kekayaan rohani, dan kepekaan batin.

(Syamsul Anwar, 2018; Keputusan Munas Tarjih XXV, 2000).

(19)

FASE 3: SISTEM IJTIHAD (TARJIH DALAM MAKNA LUAS)

 Dalam perspektif filsafat ilmu, bangunan sistem mencakup dimensi- dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

 Secara ontologis, objek ijtihad Muhammadiyah dapat dirujuk pada objek dan makna tajdid. Tajdid dalam pemahaman Muhammadiyah memiliki dua makna:

a. pemurnian;

b. peningkatan, pengembangan, modernisasi dan yang semakna

dengannya—makna kedua ini sering disingkat dinamisasi. (Keputusan Muktamar/Munas Tarjih XXII, 1989).

 Sementara objek tajdid/ijtihad mencakup bidang-bidang akidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalat dunyawiyat.

(20)

MAKNA AKIDAH, IBADAH, AKHLAK, DAN MU‘AMALAT DUNIAWIYAT

a. Akidah: ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan/keimanan.

b. Ibadah (mahdlah): ajaran yang berhubungan dengan peraturan dan tatacara hubungan manusia dan Tuhan.

c. Akhlak: ajaran yang berhubungan dengan pembentukan mental.

d. Mu‘amalat duniawiyat: ajaran yang berhubungan dengan pengelolaan dunia dan pembinaan masyarakat.

(Keputusan Muktamar/Munas Tarjih XXII, 1989).

(21)

OBJEK IJTIHAD/TARJIH DAN MAKNANYA

Akidah/pemurnian Ibadah/pemurnian

Akhlak/dinamisasi Mu’amalat

Duniawiyat/dinamisasi

(22)

PRINSIP-PRINSIP EPISTEMOLOGI DALAM SISTEM IJTIHAD MUHAMMADIYAH

 Landasan epistemologi sistem ijtihad Muhammadiyah: tauhid (inti pengalaman agama dan pandangan hidup Islami)

 Secara metodologis, tauhid mengandung empat prinsip:

1. Kesatuan kebenaran )

ِة ِقْي ِقـ حْلا ُة يِن د ْح و

( 2. Optimisme

ُل ُ

(

ؤا فـ َّ

تل ى

)

ا

3. Keragaman manifestasi

ِتا يـ ِّ

(

لـ ج َّ

تلا ُ

عُّو نـ ت

) 4. Keterbukaan

ُحا ت ِفـ ْ

(

ن ِ ْ لْ ى

)

ا

dan toleransi

ح ُما سـ ُ َّ

(

تل ى

)

ا

(Syamsul Anwar, 2005)

(23)

PRINSIP TAUHID SECARA EPISTEMOLOGIS

 Kesatuan kebenaran: kebenaran dari berbagai sumber, al- bayan (wahyu), al-burhan (empiri), dan al-irfan (pengalaman batin), adalah satu dan tidak ada pertentangan di antaranya.

 Optimisme: keyakinan bahwa tidak kontradiksi yang abadi dan bahwa manusia mampu mencapai kebenaran.

 Keragaman manifestasi: karena keterbatasan manusia, manifestasi pengalaman agama dapat beragam, terutama dalam aspek muamalat duniawiah, bahkan dalam wilayah ibadah sepanjang dimungkinkan oleh normanya.

(24)

PRINSIP TAUHID SECARA EPISTEMOLOGIS

 Toleransi: kelapangan dan kemudahan, yang berarti bahwa kita dapat mempertahankan/meneruskan apa yang selama ini kita anggap benar/ baik sampai ditemukan bukti baru. Toleransi melindungi seseorang dari ketertutupan terhadap dunia, keragu-raguan dan kehati-hatian yang berlebihan yang menghambat pembaruan.

 Keterbukaan: keyakinan bahwa Tuhan tidak membiarkan manusia tanpa petunjuk dan melengkapinya dengan sensus

numinis yang memungkinkannya menangkap intisari kebenaran agama. Keterbukaan mendorong pencarian dan pencerapan

pengalaman baru yang konstruktif.

(25)

PRINSIP AKSIOLOGI DALAM MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH

1. Prinsip maqâshid al-syarî`ah (ةعيرشلا دصاقم, tujuan-tujuan syariah) dan

2. Prinsip maslahat (M.A. Fattah Santoso, 2014)

(26)

ASUMSI-ASUMSI METODOLOGIS MANHAJ

TARJIH (MELENGKAPI PRINSIP EPISTEMOLOGI)

 Asumsi menyangkut metode:

(1) asumsi integralistik: asumsi yang memandang adanya keabsahan koroboratif dan saling mendukung di antara

berbagai elemen sumber untuk melahirkan norma; tingkat

keabsahan pada kasus tertentu dapat mencapai derajat qaṭʻī, seperti hukum wajibnya shalat, zakat, dan puasa.

(2) asumsi hirarkis: asumsi yang memandang bahwa norma itu berjenjang dari norma yang paling bawah ke norma yang

paling atas atau sebaliknya.

(Syamsul Anwar, 2018)

(27)

ASUMSI-ASUMSI METODOLOGIS MANHAJ

TARJIH (MELENGKAPI PRINSIP EPISTEMOLOGI)

 Bila dilihat dari atas ke bawah, maka jenjang norma itu adalah:

(1) nilai-nilai dasar (al-qiyam al-asasiyah), diambil dari nilai-nilai universal Islam, memayungi norma di bawahnya; (2) prinsip-

prinsip umum (al-ushul al-kulliyah) yang di satu sisi hasil deduksi dari nilai-nilai dasar dan di sisi lain merupakan abstraksi dari

norma konkret; prinsip-prinsip umum ini pada gilirannya

memayungi norma konkret; (3) norma-norma konkret, yaitu

ketentuan-ketentuan syar’i yang bersifat far’i (cabang) (al-ahkam al-furu’iyyah).

(Syamsul Anwar, 2018)

(28)

BAGAN 1. PERBANDINGAN CORAK PERKEMBANGAN

MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH DAN ISU DASARNYA

= Fase (Pokok) Manhaj Tarjih

= Fase Pendekatan Ijtihad

= Fase Sistem Ijtihad Siklus pada Pemurnian Islam Linear pada Manhaj Ijtihad

Pemikiran Intelektual Pemikiran

Organisasi

Spiritualisasi Syariah

Spiritualisasi Syariah Formalisasi

Syariah

(29)

BAGAN 2. PERBANDINGAN KOHERENSI FASE

PERKEMBANGAN MANHAJ TARJIH DAN ISU DASARNYA

Fase 3: Spritualisasi Sya- riah Babak Dua

ISU PEMURNIAN ISLAM

Fase 1: Manhaj Tarjih

Fase 2: Pendekatan Ijtihad Fase 3: Sistem Ijtihad

PERKEM. MANHAJ TARJIH

1980-an 1990-an 2000-an

Fase 4: ?

Fase 1: Spritualisasi Sya-

riah Babak Satu 1910-an

Fase 2: Formalisasi Syariah

1930-an

(30)

DAFTAR PUSTAKA

 Anwar, Syamsul (2005), “Manhaj Ijtihad/Tajdid dalam Muhammadiyah”, dalam Mifedwil Jandra dan M. Safar Nasir (ed.), Tajdid Muhammadiyah untuk Pencerahan Peradaban. Yogyakarta: MT-PPI PP Muhammadiyah bekerja sama dengan UAD Press, h. 63-81.

 Anwar, Syamsul (2018), ManhajTarjih Muhammadiyah. Yogyakarta:

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 Djamil, Fathurrahman (2005), “Tajdid Muhammadiyah pada Seratus

Tahun Pertama”, dalam Mifedwil Jandra dan M. Safar Nasir (ed.), Tajdid Muhammadiyah untuk Pencerahan Peradaban. Yogyakarta: MT-PPI PP Muhammadiyah bekerja sama dengan UAD Press, h. 83-106.

(31)

DAFTAR PUSTAKA

 Keputusan Muktamar/Munas Tarjih XXII, 1989.

 Keputusan Munas Tarjih XXV, 2000.

 Kuntowijoyo (2000), “Pengantar: Jalan Baru Muhammadiyah”, dalam

Abdul Munir Mulkhan, Islam Murni dalam Masyarakat Petani.Yogyakarta:

Bentang.

 Mulkhan, Abdul Munir (2000), Islam Murni dalam Masyarakat Petani.

Yogyakarta: Bentang.

 Santoso, M. Abdul Fattah (2016). “Internasionalisasi Konsep Purifikasi dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah”, dalam Jurnal Muhammadiyah

.Studies, Vol. 1, No. 1, h. 30-43. https://doi.org/10.22219/jms.v1i1.11407.

(32)

TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN PEMIRSA.

SEMOGA BERMANFAAT.

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan kurikulum pendidikan nasional terus diupayakan yang bertujuan meningkatkan kualitas dan kompetensi dasar dalam pembelajaran, mulai dari kurikulum berbasis

Seperti yang telah diketahui bahwa Masjid Raya Mujahidin memiliki struktur bangunan yang cukup tinggi (62 meter) di wilayah Kota Pontianak dan berdasarkan data dari SNI

Kelebihan katalis heterogen dibandingkan dengan katalis homogen adalah proses pemisahannya dengan produk yang dihasilkan lebih mudah, diperlukan dalam jumlah yang

Secara umum dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa sistem identifikasi citra jenis jahe menunjukkan akurasi yang paling tinggi yaitu 81,67% pada ukuran citra yaitu

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan analisis pada PT XY terkait dengan TPM, mengetahui nilai OEE, mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab

Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 pasal 1 ayat 14 menegaskan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang

Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak- haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal

a) Kontraktor cepat, baik dan berkompeten dalam pemeliharaan produk konstruksi bangunan gedung. b) Pengendalian proyek bangunan gedung secara teratur/terjadwal. c) Kerapihan