• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN DAN TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LA RVA UDANG VANAME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERKEMBANGAN DAN TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LA RVA UDANG VANAME"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN DAN TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LA RVA UDANG VANAME (Litopenaus vannamei Bonne)

DI PT. ESAPUTLii PRAKARSA UTAMA (BENUR KITA) KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN

TUGAS AKHIR

SALMA L.

1422010108

JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE KEPULAUAN

PANGKEP

2017

(2)

PERKEMBANGAN DAN TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LA RVA UDANG VANAME (Litopenaus vannamei Bonne)

DI PT. ESAPUTLII PRAKARSA UTAMA (BENUR KITA) KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN

TUGAS AKHIR

SALMA L.

1422010108

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Telah Diperiksa dan Disetujui oleh Pembimbing :

Dr.Ir. Hartinah, MS Suryati, S.Pi., M.Si Ketua Anggota

Diketahui Oleh :

Dr. Ir. Darmawan, MP Ir.Rimal Hamal, M.P

Direktur Ketua Jurusan

Tanggal Lulus : 14 AGUSTUS 2017

(3)

RINGKASAN

SALMA L, 1422010108. Perkembangan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Larva Udang Vaname (Litopenaeus vannamei Bonne ) di PT. Esaputlii Prakarsa Utama, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan dibimbing oleh Hartinah dan Suryati.

Masalah serius yang dihadapi dalam melakukan usaha pemeliharaan larva udang vaname adalah keterbatasan pengalaman dan teknologi pengelolaan hatchery yang salah satunya diyakini dapat menjamin kualitas benih yang dihasilkan akan lebih baik. Salah satu upaya guna untuk mendapatkan benur yang berkualitas baik, tingkat kelangsungan hidup yang tinggi adalah peningkatan kemampuan pengelola dalam mengupayakan agar media pemeliharaan, ketersediaan pakan selalu optimal untuk pemeliharaan larva, misalnya dengan melakukan pengelolaan air media larva, pengelolaan pakan dan pengendalian penyakit.

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah memperkuat penguasaan teknik perkembangan dan tingkat kelangsungan larva udang vaname (Lithopenaeus vannamei, Bonne), untuk meningkatkan kelangsungan hidupnya.

Tugas akhir ini disusun berdasarkan kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang telah dilaksanakan dari bulan Januari sampai April 2017 di PT. Esaputlii Prakarsa Utama, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan.

Hasil pengamatan terhadap perkembangan larva udang vaname mulai dari menetas sampai PL 6 berlangsung selama 13 hari. Sedangkan tingkat kelangsungan hidup 40%. Hasil yang diperoleh rendah disebabkan karna adanya sifat kanibalisme selain itu manajemen pemberian pakan yang diterapkan sering sekali tidak tepat waktu.

Hasil pemantauan kualitas air masih berada dalam kisaran optimal, suhu 31,5-33 ºC, pH 7,5-7,7, salinitas 30-31 ppt dan alkalinitas 108-156 mg/l CaCo3 untuk menunjang proses perkembangan dan tingkat kelangsungan hidup larva.

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil pengamatan yaitu lama waktu yang dibutuhkan larva udang vaname dari stadia naupli 6 memasuki stadia zoea yaitu 7 jam, stadia zoea sebelum memasuki stadia mysis yaitu 3 hari dan stadia mysis sebelum memasuki PL yaitu 3 hari. Tingkat kelangsungan hidup larva udang vaname pada stadia PL 6 mencapai 40% dari jumlah naupli yang ditebar 2.711.250 ekor dari hasil pemijahan 22 induk betina dan 200 induk jantan dan jumlah populasi yang diperoleh dari pemeliharaan larva udang vaname pada stadia PL 6 adalah 1.094.700 ekor.

Parameter kualitasa air berada pada kisaran optimum.

iii

(4)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-Nya berupa pikiran serta kesehatan lahir bathin, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas akhir ini yang berjudul perkembangan dan tingkat kelangsungan hidup larva udang vaname (Litopenaeus vannamei Bonne) di PT.

Esaputlii Prakarsa Utama, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Jurusan Budidaya Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

Tidak lupa pula kami kirimkan salawat dan taslim kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan pembawa rahmat segenap alam serta sebagai suriteladan yang terbaik bagi umat manusia.

Melalui kesempatan ini penulis menghaturkan ucapan terima kasih banyak kepada :

1. Ibu Dr.Ir. Hartinah, MS selaku Pembimbing ketua dan Ibu Suryati, S.Pi., M.Si selaku pembimbing anggota yang telah memberikan motivasi, arahan dan bimbingan mulai dari penyusunan proposal hingga penyelesaian laporan tugas akhir ini.

2. Bapak Drs. H. Eddy Baramuli selaku pemilik PT. Esaputlii Prakarsa Utama, Kabupaten. Barru, Provinsi Sulawesi Selatan atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk melaksanakan pengalaman kerja praktek mahasiswa pada perusahaan yang dipimpinnya.

3. Bapak Ir. Tuwuh Tamid selaku Pembimbing Lapangan pada PT. Esaputlii Prakarsa Utama, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan.

iv

(5)

4. Bapak Ir. Rimal Hamal, M.P selaku Ketua Jurusan Budidaya Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

5. Bapak Dr. Ir. Darmawan, MP. selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

Pada kesempatan ini juga saya menyampaikan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada kedua orang tua tercinta dan kepada segenap keluarga atas segala bimbingan dan pengorbanan yang disertai doa dan harapan untuk keberhasilan dan kesuksesan penulis dalam menuntut ilmu. Kepada rekan-rekan, saya juga menghaturkan ucapan terima kasih atas doa dan dukungannya.

Penulis menyadari akan ketidaksempurnaan dari tulisan ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca demi kesempurnaan tugas akhir ini. Penulis berharap semoga tugas akhir ini bermanfaat adanya. Amien.

Pangkep, Juni 2017

Penulis

v

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Manfaat ... 2

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Udang Vaname ... 3

2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Udang Vaname ... 3

2.1.2 Siklus Hidup ... 3

2.1.3 Reproduksi ... 4

2.1.4 Habitat dan Penyebaran... 5

2.1.5 Perkembangan Larva Udang Vaname ... 6

2.1.6 Kebutuhan Pakan Alami dan Buatan ... 10

2.1.7 Kualitas Air ... 12

2.1.8 Panen ... 13

vi

(7)

III METODE

3.1 Waktu dan Tempat ... 14

3.2 Alat dan Bahan ... 14

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 16

3.3.1 Data Primer ... 16

3.3.2 Data Sekunder ... 16

3.4 Metode Pelaksanaan ... 16

3.4.1 Persiapan ... 16

3.4.2 Pemeliharaan ... 24

3.4.3 Panen dan Pasca Panen ... 28

3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data ... 31

3.5.1 Parameter yang Diamati ... 31

3.5.2 Analisis Data ... 32

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perkembangan Larva ... 33

4.2 Tingkat Kelangsungan Hidup Larva Udang Vaname ... 36

4.3 Kualitas Air ... 37

V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 40

5.2 Saran ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41

LAMPIRAN ... 43 RIWAYAT HIDUP

vii

(8)

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Bahan yang Digunakan Selama Proses Pemeliharaan Larva Udang Vaname ... …….. 14 2 Alat yang Digunakan Selama Proses Pemeliharaan Larva Udang Vaname . 15 3 Manajemen Pemberian Pakan pada Pemeliharaan Larva Udang Vaname .. 27 4 Perkembangan Stadia, Tingkah Laku dan Lamanya Waktu Perkembangan

Larva Udang Vaname ... …. 34 5 Tingkat Kelangsungan Hidup(%) Larva Udang Vaname pada Stadia

Berbeda ... 36 6 Parameter Kualitas Air pada Pemeliharaan Udang Vaname ... 39

viii

(9)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Siklus Hidup Udang Vaname (Stewart, 2005) ... 4

2 Perkembanagan Stadia Naupli (Wahyuni 2011) ... 7

3 Perkembanagan Stadia Zoea (Wahyuni 2011) ... 8

4 Fase Perkembangan Stadia Mysis I s/d III (Wahyuni 2011)... 9

5 Persiapan Bak ... 18

6 Bak Pemeliharaan Larva ... 19

7 Filter Pasir dan Pressure Filter ... 21

8 Kultur Thalassiosira sp ... 23

9 Kultur Artemia sp dan Panen Artemia sp ... 24

10 Pemberian Pakan Alami dan Pakan Buatan Larva Udang Vaname ... 27

11 Proses Pemanenan Benur dan Proses Packing ... 31

ix

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1

Komposisi Pakan Larva Udang Vaname ... 44 2 Jenis Pakan yang Diberikan untuk Larva Udang Vaname ... 44 3 Hasil Pemantauan Kualitas Air ... 45

x

(11)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penurunan produksi udang windu akibat timbulnya penyakit White Spot Syndrom (WSS) dan vibriosis yang menyebabkan tingginya mortalitas, sehingga

menggerakkan para ahli budidaya mencari jalan keluar agar produksi budidaya udang kembali bangkit. Salah satu alternatif pengembangannya adalah budidaya dengan varietas baru yaitu udang vaname (Litopenaeus vanamei). Udang vaname merupakan udang introduksi yang secara resmi ditetapkan sebagai salah satu komoditas unggulan pada Tahun 2001. Atmomarsono et al (2014) menyatakan bahwa udang vaname (Litopenaeus vanamei) berasal dari daerah subtropis Pantai Barat Amerika, mulai dari Teluk California di Mexico bagian utara sampai ke Pantai Barat Guatemala, El Salvador, Nicaragua, Kosta Rika di Amerika Tengah hingga ke Peru di Amerika Selatan. Panjaitan et al (2014) menambahkan bahwa induk udang vaname yang diintroduksi ke Indonesia berasal dari Hawaii dan Florida. Upaya pemeliharaan spesies ini dilakukan di Asia karena adanya benur bebas penyakit (Specific Pathogen Free) yang masuk ke China dan Taiwan pada awal Tahun 1995. Keunggulan udang ini adalah pertumbuhannya yang cepat, nilai konsumsi pakan atau Food Convertion Ratio (FCR) rendah, toleransi terhadap salinitas tinggi, dan dapat dipelihara dengan densitas tinggi (Panjaitan et al 2014).

Ketersediaan benur yang bermutu merupakan satu diantara faktor penentu keberhasilan budidaya udang di tambak, dari alam hanya dapat memenuhi 20%

dari total kebutuhan tambak udang, sedangkan 80% kekurangannya diharapkan

`1

(12)

dari produksi benur hatchery. Selanjutnya Wahyuni (2011) menyatakan bahwa kendala dalam kegiatan pembenihan adalah kurangnya stok induk udang yang berkualitas, makanan yang kurang cocok, teknik pemeliharaan larva dan pengelolaan yang belum memadai, hal ini menyebabkan produksi benih yang berkualitas masih rendah. Salah satu upaya untuk mendapatkan benur berkualitas baik yaitu selalu mengupayakan agar ketersediaan pakan baik secara kuantitas maupun kualitas serta media pembenihan selalu optimal untuk menunjang perkembangan larva dan tingkat kelangsungan larva.

Perkembangan dan tingkat kelangsungan larva, merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan suatu keberhasilan usaha pembenihan.

Perkembangan dan tingkat kelangsungan hidup larva di pengaruhi oleh ketersediaan pakan dan pengelolaan kualitas air yang optimal. Dengan demikian keterampilan pengelola pembenihan dalam menyiapkan nutrisi dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk mencapai target produksi yang diharapkan.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk memperkuat penguasaan tentang perkembangan dan tingkat kelangsungan hidup larva udang vaname (Litopenaeus vanamei) di PT. Esaputlii Prakarsa Utama, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Manfaat penulisan tugas akhir ini adalah untuk memperluas wawasan, kompetensi keahlian mahasiswa dalam berkarya di masyarakat kelak khususnya mengenai perkembangan dan tingkat kelangsungan hidup larva udang vaname.

2

(13)

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Udang Vaname 2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi

Menurut Boone (1931), klasifikasi udang vaname adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Class : Malacostraca Order : Decapoda Superfamily : Penaeoidea Family : Penaeidae Genus : Litopenaeus

Species : Litopenaeus vannamei (Bonne 1991)

2.1.2 Siklus Hidup

Udang vaname banyak ditemukan di Perairan Samudera Pasifik, daerah Pantai Meksiko, Amerika Selatan sampai Amerika Tengah. Selanjutnya dinyatakan bahwa perairan daerah-daerah tersebut mempunyai temperatur air rata- rata 20oC setiap tahunnya dan memiliki salinitas rata-rata 35 ppt (Wyban dan Sweeney 1991).

Farchan (2006) menyatakan bahwa daerah pasang surut dan hutan bakau (mangrove) merupakan habitat hidup udang vaname. Hampir sama dengan habitat udang windu, pada saat dewasa udang ini berada di laut agak terbuka.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa udang vaname dewasa, hidup dan bertelur di

3

(14)

laut. Setelah telur menetas, menjadi larva tingkat pertama yang disebut nauplius.

Nauplius akan berkembang menjadi zoea setelah 45-60 jam. Lebih lanjut bahwa zoea berkembang menjadi mysis setelah lima hari. Mysis berkembang menjadi post larva setelah empat sampai lima hari. Selama stadia nauplius sampai dengan post larva, hidupnya mengikuti gerakan air dan arus laut. Selanjutnya dinyatakan bahwa post larva yang hidup di pantai-pantai berkembang menjadi udang muda (juvenile) di rawa-rawa air payau. Setelah dewasa, udang beruaya ke laut untuk

memijah seperti pada Gambar 1, selama proses pertumbuhannya udang vaname mengalami ganti kulit (moulting).

Gambar 1 Siklus Hidup Udang Vaname (Stewart, 2005)

2.1.3 Reproduksi

Organ reproduksi udang betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan thelicum. Thelicum sebagai organ reproduksi betina umumnya terdapat diantara pangkal kaki jalan ke 4 dan 5, yang berfungsi untuk menyimpan spermatophore pada saat terjadi proses pembuahan. Thelicum bersifat terbuka yaitu tidak tertutup oleh lempengan karapas yang keras. Lebih lanjut bahwa

4

(15)

organ.reproduksi betina terdiri dari sepasang ovari berbentuk tabular, simetrik bilateral, terletak pada bagian ventral sampai rongga dada dan berkembang ke arah posterior hingga hepatopankreas (WahyuDewantoro 2011). Petasma terletak di kaki renang pertama, berfungsi sebagai alat penyalur sperma. Gonad pada udang jantan akan berkembang menjadi testis yang menghasikan sperma (Wyban dan Sweeney 1991).

2.1.4 Habitat dan Penyebaran

Daerah pasang surut dan hutan bakau (mangrove) merupakan habitat udang vaname sebagai tempat berlindung dan mencari makan. Sifat hidup dari udang vaname adalah catadromus atau dua lingkungan, dimana udang dewasa akan memijah di laut terbuka. Selanjutnya dinyatakan bahwa setelah menetas, benur udang vaname akan bermigrasi ke daerah pesisir pantai atau mangrove yang biasa disebut daerah estuarine tempat nursery ground-nya, dan setelah dewasa akan kembali bermigrasi ke laut untuk melakukan kegiatan pemijahan seperti pematangan gonad (maturasi) dan perkawinan (Wyban dan Sweeney 1991; FAO 2011).

Erlangga (2012) Menyatakan bahwa Lautan Atlantik, Lautan Pasifik, dan Lautan India merupakan daerah yang paling disukai udang vaname ini, karena daerah tersebut merupakan daerah tropik dan suhu air mencapai 20⁰C dan menurut daerah distribusinya udang vaname dapat dibagi 3 yaitu : daerah lautan Atlantik sampai laut Tengah, daerah lautan Pasific (bagian Amerika) dan daerah lautan India sampai lautan Pasific Barat, daerah distribusi ini terutama dipengaruhi oleh suhu air, batas-batas suhu optimum (temperatur yang tak jauh

5

(16)

berbeda pada setiap pergantian musim) dan perubahan kadar garam.

2.1.5 Perkembangan Larva Udang Vaname

Secara alami udang vaname termasuk jenis katadromus (catadromous), dimana udang dewasa hidup di laut terbuka dan udang muda bermigrasi ke arah pantai (Wyban dan Sweeney 1991). Selanjutnya dinyatakan bahwa habitat aslinya, udang matang gonad, kawin dan bertelur berada pada perairan lepas pantai sampai dengan kedalaman sekitar 70 m pada suhu 26-28ºC dan salinitas sekitar 35 ppt. Menurut Sutaman (1993), perkembangan dan pertumbuhan udang vaname dari menetas sampai menjadi Post Larva (PL) ada 4 fase yang akan dipaparkan sebagai berikut :

Stadia Nauplius

Fase nauplius dimulai sejak telur mulai menetas dan berlangsung selama 46-50 jam atau 2-3 hari, larva belum memerlukan makanan dari luar karena masih terdapat persediaan makanan dari dalam kantong kuning telur (yolk eggs) itu sendiri. Dalam fase nauplius ini mengalami 6 kali pergantian bentuk, dengan tanda-tanda sebagai berikut :

Nauplius I : memiliki badan berbentuk bulat telur dan mempunyai anggota badan 3 pasang.

Nauplius II : pada ujung antenna pertama terdapat setae atau rambut yang satu panjang dan 2 lainnya pendek.

Nauplius III : memiliki furcal 2 buah mulai jelas terlihat masing-masing dengan 3 duri (spine), tunas maxilla dan maxilliped mulai tampak.

6

(17)

Nauplius IV : pada antenna ke-2 mulai tampak beruas-ruas dan pada setiap furcal terdapat 4 buah duri.

Nauplius V : organ pada bagian depan sudah mulai tampak jelas disertai dengan tumbuhnya tonjolan pada pangkal maxilla.

Nauplius VI : perkembangan bulu-bulu semakin sempurna dan duri pada furcal tumbuh makin panjang.

Perubahan stadia naupli dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Perkembanagan Stadia Nauplius (Wahyuni 2011) Stadia Zoea

Pada stadia zoea, larva mulai diberi pakan karena pada fase ini larva mulai nampak aktif mengambil makanan sendiri dari luar, terutama plankton. Fase zoea berlangsung selama 3-4 hari, dimana larva tersebut sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Seluruh kebutuhan biologi dan persyaratan media hidupnya harus selalu dijaga agar tidak terjadi perubahan yang drastis, sehingga dapat menyebabkan stress atau kematian.

7

(18)

Stadia zoea terdiri dari tingkatan-tingkatan yang mempunyai tanda-tanda yang berbeda sesuai dengan perkembangan dari tingkatannya, seperti diuraikan sebagai berikut :

Zoea I : Bentuk badan pipih, carapace dan mata mulai nampak, maxilla pertama dan kedua mulai berfungsi, alat pencernaan makanan nampak jelas.

Zoea II : Mata mulai bertangkai dan pada carapace sudah terlihat rostrum dan duri supraorbital yang bercabang.

Zoea III : Sepasang uropoda yang bercabang dua mulai berkembang duri pada ruas-ruas perut mulai tumbuh.

Perkembangan stadia zoea I, zoea II dan zoea III dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Perkembanagan Stadia Zoea (Wahyuni 2011) Stadia Mysis

Setelah stadia zoea selesai, maka stadia selanjutnya adalah stadia mysis yang berlangsung selam 4-5 hari. Larva pada stadia mysis bersifat planktonis dan mempunyai ciri-ciri khas yaitu cara bergeraknya mundur dan membengkokkan badannya. Makanan yang disukai pada stadia ini adalah dari golongan

8

(19)

zooplankton seperti copepod dan rotifer. Pada stadia mysis mengalami tiga kali perubahan yaitu :

Mysis I : Bentuk badan sudah seperti udang muda, tetapi kaki renang (pleopoda) masih belum nampak.

Mysis II : Tunas kaki ranang mulai nampak nyata, tetapi belum beruas-ruas.

Mysis III : Tunas kaki renang bertambah panjang dan beruas-ruas.

Adapun proses terjadinya perubahan bentuk mysis yang ditunjukan pada Gambar 4.

Gambar 4 Fase Perkembangan Stadia Mysis I s/d III (Wahyuni 2011) Stadia Post Larva (PL)

Pada stadia ini, udang sudah tampak seperti udang dewasa dan organ tubuh sudah berfungsi dengan baik, anggota gerak seperti antenna, antenula, maxiliped, chelae, pleopod dan telson serta uropod telah berkembang dengan sempurna.

Hitungan stadia yang digunakan sudah berdasarkan hari. Misalnya PL1 berarti udang tersebut sudah berumur satu hari dan begitu seterusnya. Pada stadia ini udang sudah mulai aktif bergerak lurus ke depan, umumnya petambak akan menebar pada PL10-PL15 yang sudah berukuran rata-rata 10 mm (Wahyuni 2001)

9

(20)

2.1.6 Kebutuhan Pakan Alami dan Buatan

Selama masa pemeliharaan, benur diberi pakan untuk menunjang kalansungan hidup dan pertumbuhannya. Jenis pakan yang diberikan pada benur udang vaname selama proses pemeliharaan ada dua jenis yaitu pakan alami dan pakan buatan.

Pakan Alami

Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemiliharaan pakan alami bagi benur udang vaname adalah kandungan gizi yang tinggi, dapat disediakan secara berkesinambungan, prosedur kultur yang tidak terlalu rumit dan biaya yang tidak mahal. Sehingga ketersediaan pakan alami sebagai pakan benur dapat terjamin kualitas, waktu, dan jumlah yang tepat (Panjaitan et al 2014).

Thalassiosira sp., merupakan salah satu jenis pakan yang direkomendasikan karena mempunyai beberapa keunggulan antara lain adalah nilai nutrisi yang dikandungnya memenuhi syarat bagi pertumbuhan larva udang vaname dan jenis crustacean lainnya. Menurut Wahyuni (2011), pakan alami yang baik digunakan untuk pemeliharaan larva ialah Skeletonema costatum kandungan gizi dari 100 gram Skeletonema costatum yaitu protein 33,30%, lemak 8,10%, karbohidrat 11,60% dan total abu 36%. Sedangkan kandungan nutrisi dalam pakan Thalassiosira sp., menurut Getha (1998) dalam Panjaitan (2014) memiliki kandungan protein sekitar 44,5% karbohidrat 26,1% dan lipid sekitar 11,8% dari berat keringnya. Thalassiosira sp., mempunyai diameter berukuran 4,32 µm yang cocok untuk dikonsumsi larva udang vaname stadia zoea (Rabekah 2009 dalam Panjaitan 2014).

10

(21)

Pakan alami hewan air Artemia sp., merupakan plankton yang biasa hidup di air, artemia sp., ini merupakan zooplankton. Artemia sp., sangat baik dijadikan sebagai pakan hewan air terutama bagi pembudidaya udang. Artemia sp., ini sangat baik dijadikan sebagai pakan udang karena Artemia sp., mempunyai kandungan protein yang tinggi yang berguna untuk pertumbuhan terutama untuk pertumbuhan benih/anak ikan maupun udang. Artemia sp., merupakan jenis crustaceae tingkat rendah dari phylum arthropoda yang memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi seperti karbohidrat, lemak, protein dan asam-asam amino.

Larva udang pada stadium awal mempunyai saluran pencernaan yang masih sangat sederhana sehingga memerlukan nutrisi pakan jasad renik yang mengandung nilai gizi tinggi. Nauplius Artemia sp., mempunyai kandungan protein hingga 63% dari berat keringnya.

Pakan Buatan

Pakan buatan yang diberikan pada benur berperan sebagai pakan tambahan, yang diberikan pada benur mulai stadia zoea sampai post larva.

Terdapat beberapa hal yang penting dalam memilih pakan buatan, antara lain memiliki nilai gizi yang tinggi dan sesuai dengan kebutuhannya, ukurannya harus sesuai dengan bukaan mulut benur atau post larva dan memiliki kualitas fisik yang baik (tidak menurunkan kualitas air). Selain itu tujuan dari pemberian pakan buatan yaitu untuk menjaga nilai nutrisi makanan yang cukup saat pemeliharaan benur dilihat dari komposisi gizinya seperti kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan kadar air (Haliman dan Adijaya 2006 dalam Panjaitan 2014).

11

(22)

2.1.7 Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air pada masa pemeliharaan benur udang vaname dilakukan dengan beberapa cara, yaitu monitoring, pengecekan kualitas air, water exchange, dan penyiponan. Menurut Suastika (2013), monitoring kualitas air dilakukan setiap hari, yaitu pagi dan sore hari. Adapun kualitas air yang dimonitor meliputi salinitas, suhu, pH, dan alkalinitas.

Pada umumnya pH air yang netral nilainya 7, bagi udang vaname kisaran pH yang ideal adalah 6,5-9 pH dibawah 6,5 menyebabkan pertumbuhan udang terhambat dan sensitive terhadap penyakit, pH dibawah 4 dapat bersifat racun sedangkan untuk pH diatas 9 dapat menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat karena pesatnya pertumbuhan plankton (blooming) (Kordi dan Tanjung 2007).

Turunnya pH pada air pemeliharaan dapat berakibat tidak baik terhadap budidaya, karena dapat mempengaruhi proses metabolisme, udang tidak mau makan, pertumbuhannya lambat yang akhirnya akan menurunkan derajat sintasan.

Beberapa aspek sebagai penyebab turunnya pH menyebabkan air bersifat asam adalah kurangnya pergantian air pemeliharaan, disatu sisi terjadi penumpukan sisa pakan berakibat kematian pada ikan pemeliharaan (Suastika 2013).

Suhu air dapat mempengaruhi kehidupan biota air secara tidak langsung, yaitu melalui pengaruhnya terhadap kelarutan oksigen dalam air. Semakin tinggi suhu air, semakin rendah daya larut oksigen di dalam air dan sebaliknya.

Pengaruh suhu secara tidak langsung yang lain adalah mempengaruhi metabolisme, daya larut gas-gas, termasuk oksigen serta berbagai reaksi kimia di dalam air. Semakin tinggi suhu air, semakin tinggi pula laju metabolisme udang

12

(23)

yang berarti semakin besar konsumsi oksigennya (Kordi dan Tanjung 2007).

Salinitas merupakan gambaran jumlah kelarutan garam atau konsentrasi ion- ion dalam air yang dinyatakan dalam satuan g/l. Salinitas air berpengaruh terhadap tekanan osmotik air. Semakin tinggi salinitas, akan semakin besar pula tekanan osmotiknya. Lebih lanjut dinyatakan bahwa biota yang hidup di air asin harus mampu menyesuaikan dirinya terhadap tekanan osmotik dari lingkungannya. Penyesuaian ini memerlukan banyak energi yang diperoleh dari makanan dan digunakan untuk keperluan tersebut (Kordi dan Tancung 2007).

2.1.8 Panen

FAO (2011) mengatakan bahwa pemanenan benur dilakukan pada saat udang mulai memasuki stadia PL 10 ukuran PL mencapai 1 cm. Dari penetasan, dibutuhkan sekitar 21 hari untuk mencapai panen pada PL 10-PL 12. Selanjutnya dinyatakan bahwa waktu pemanenan sangat ditentukan oleh jarak dan waktu akan dilakukan penebaran udang. Pemanenan lebih baik dilakukan waktu malam hingga pagi hari atau pada suhu rendah dengan tujuan untuk mengurangi resiko kerusakan mutu udang. Selain itu pemanenan malam hari juga dapat menghindari terik matahari dan mengurangi resiko udang ganti kulit selama panen akibat stres sehingga dapat mengurangi kematian.

13

(24)

III METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang telah dilaksanakan dari bulan Januari sampai April 2017 di PT. Esaputlii Prakarsa Utama Barru, Sulawesi Selatan.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan dalam pemeliharaan larva udang vaname disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1 Bahan yang Digunakan Selama Pemeliharaan Larva Udang Vaname

No Nama Bahan Spesifikasi Kegunaan

1 Kista Artemia sp 425 g Pakan alami

2 Frippak Car 1000 g Pakan buatan

3 Frippak CD 625 g Pakan buatan

4 Frippak PL+150 1250 g Pakan buatan

5 Lanzy ZM 1250 g Pakan buatan

6 Lanzy MPL 1250 g Pakan buatan

7 Mackay MPZ 4 kg Pakan buatan

8 Mackay MP 1 4 kg Pakan buatan

9 Flake 10kg Pakan buatan

10 Spirulina 500 g Pakan buatan

11 BP Eguchi 500 g Pakan buatan

12 PL 1 625 g Pakan buatan

13 VIT S 500 g Suplemen Pakan

14 PRO 2 500 g Probiotik

15 BIO W 500 g Probiotik

16 BK (WR 505) 500 g Suplemen Pakan

17 Vitamin C 1000 g Suplemen Pakan

18 P 1 500 g Suplemen Pakan

19 Sodium Bicaronate 25 kg Sterilisasi air

20 EDTA 25 kg Sterilisasi Ar

21 Gula 1 kg Kultur probiotik

22 Sunlight 500 g Desinfektan

23 HCL - Desinfektan

24 Clorin cair - Desinfektan

25 Kapas 1000 g Filter bag

26 NPK 50 g Pupuk alga

28 KNO3 25 kg Pupuk alga

30 Silikat 50 kg Pupuk alga

Sumber : Data PKPM PT. Esaputlii Prakarsa Utama

14

(25)

Tabel 2 Alat yang Digunakan Selama Proses Pemeliharaan Larva Udang Vaname

No Nama Alat Spesifikasi Kegunaan 1 Bak Beton Bentuk persegi panjang,

ukuran 3,5 x 3,5 x 1,5

Pemeliharaan Larva 2 Bak Kultur Semi

missal

Bak Fiber, diameter 1,8 m bervolume 2,5 m3

Kultur alga intermediated (semi massal)

3 Bak Kultur Massal Bak beton ukuran 2,7 x 4,5 x 1,5, volume 18 m3

Kultur alga skala missal 4 Bak Konical Tank Fiber, berbentuk kerucut,

volume 250 liter

Kultur artemia

5 Bak Sterilisasi Fiber, volume 1 m3 Mensterilkan plastik penutup Bak

6 Kran, Batu, Pemberat, Selang Aerasi

- Suplay oksigen

7 Plastik Penutup bak

Berwarna bening Menutup permukaan bak 8 Timbangan

analitik

Ketelitian 1 gram Menimbang pakan, pupuk, dll 9 Ember Pakan Volume 20 liter Wadah pakan

10 Gayung Pakan Plastik, Volume 2 liter Memudahkan dalam pemberian pakan

11 Gelas Pakan Volume 500 ml Wadah pakan 12 Seser Artemia Berbentuk bulat, dia

meter 30 cm, panjang gangang 18 cm

Panen artemia

13 Kerangka seser Artemia

Terbuat dari Besi Dudukan seser saat panen 14 Saringan Mesh size 150 Saringan pakan

15 Filter Bag 90 x 30 cm Filter air

16 Beaker Glass Volume 500 ml Pengamatan larva secara visual

17 Heater - Menaikkan suhu air dalam bak

18 Pompa Celup 1 inci Transfer air, alga

19 Selang spiral Generic Spiral 2 inci Memudahkan dalam transfer air dan alga

20 Jerigen Volume 50 liter Penampungan bibit alga dari skala lab.

21 Kelambu panen Ukuran 0,7 x 0,7 x 0,5 m Panen larva 22 Air conditioner

(AC)

Panasonik 1,5 PK Menjaga suhu pakan Sumber : Data PKPM PT. Esaputlii Prakarsa Utama

15

(26)

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah observasi dan partisipasi aktif untuk mengumpulkan data primer dan data sekunder.

3.3.1 Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh dari kegiatan praktik dengan mengikuti dan mengerjakan secara langsung semua rangkaian kegiatan pada pemeliharaan larva udang vaname.

3.3.2 Data Sekunder

Data Sekunder yaitu data yanag diperoleh dari hasil wawancara dengan pembimbing lapangan (teknisi) dosen pembimbing, serta berbagai sumber literatur pendukung yang relavan khususnya perkembangan dan kelangsungan hidup larva udang vaname.

3.4 Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan meliputi semua kegiatan yang berkaitan dengan perkembangan dan tingkat kelangsungan udang vaname yang dilakukan sesuai dengan standar kegiataan di PT. Esaputlii Prakarsa Utama. Kegiatan tersebut meliputi:

3.4.1 Persiapan Wadah

Persiapan bak pemeliharaan merupakan kegiatan yang mutlak dilakukan sebelum memulai siklus produksi udang karena akan berpengaruh terhadap keberhasilan dalam kegiatan pemeliharaan. Terdapat beberapa tahapan kegiatan

16

(27)

yang dilakukan dalam persiapan bak yaitu meliputi pencucian bak, sterilisasi aerasi dan komponen peralatan yang digunakan dalam pemeliharaan. Sebelum bak digunakan untuk kegiatan produksi selanjutnya, terlebih dahulu dilakukan pencucian bak, dengan membersihkan dinding, dasar bak dan selang aerasi untuk menghilangkan segala bentuk kehidupan organisme yang kemungkinan dapat membawa penyakit dan akan berpengaruh terhadap larva udang vaname.

Bak pemeliharaan dibersihkan dan dicuci menggunakan detergen.

Dinding, dasar bak dan selang aerasi digosok menggunakan spon hingga bersih lalu bak dibilas dengan air tawar hingga bak yang akan digunakan tidak berbusa dan tidak berbau detergen. Selanjutnya bak dikeringkan, setelah dikeringkan bak disterilkan dengan menggunakan chlorin dengan dosis 20 ppm yang dilarutkan dengan air tawar dalam wadah berkapasitas 500 liter dengan menggunakan pompa celup, seluruh permukaan bak disiram dengan menggunakan larutan chlorin tersebut kemudian bak dibiarkan kering. Seluruh komponen aerasi dilepaskan dan dipisah atau masing-masing komponen, batu aerasi dan timah pemberat, diletakkan pada ember yang berbeda kemudian dibersihkan dengan air tawar dan direndam dengan larutan HCL 20 ppm selama 24 jam, kemudian dibilas lagi menggunakan air tawar setelah itu dikeringkan.

Plastik penutup bak disterilkan dengan melakukan perendaman pada wadah atau bak fiber berkapasitas 500 literkemudian dicampurkan dengan larutan chlorine dengan dosis 20 ppm atau 20 ml/Liter, lalu diangkat dan dijemur di dalam ruangan bak pemeliharaan larva.

17

(28)

Alat-alat pendukung produksi yang akan digunakan dalam pemeliharaan seperti ember, gayung, filter bag, saringan pakan, dan gelas dibilas dengan air tawar hingga bersih, selanjutnya di tiriskan pada tempat yang telah disediakan.

Pencucian bak, sterilisasi aerasi dan plastik dapat dilihat pada Gambar 5.

(1) (2) (3) Gambar 5 Persiapan Bak

Keterangan : (1) Pencucian Bak

(2) Sterilisasi Aerasi dan (3) Sterilisasi Plastik

Bak pemeliharaan larva yang digunakan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3,6x3,6x1,6 m terbuat dari semen (bak beton). Untuk mempermudah sirkulasi air dan menghindari penumpukan dan penempelan kotoran setiap sudut bak di buat tumpul. Hal ini sesuai dengan standar SNI 7311-2009, bak pemeliharaan benur yang digunakan berbentuk tumpul, terbuat dari semen, dengan volume air minimal 10 m3 dengan ketinggian 1,5 m.

Bak pemeliharaan larva berada dalam ruangan tertutup dan sebagian atapnya terbuat dari fiber glass, hal ini bertujuan agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan. Bak pemeliharaan larva dilengkapi dengan pipa

18

(29)

pembuangan pada dasar bak yang menghubungkan langsung dengan bak panen dengan ukuran pipa outlet 3 inci. Bak panen dapat menghubungkan dua pipa outlet bak pemeliharaan dengan ukuran bak panen 1,5X1 m.

Dasar bak dibuat miring sekitar 3%. Hal ini digunakan untuk mempermudah pengeluaran air dan panen. Bak pemeliharaan juga dilengkapi dengan penutup yang berupa plastik untuk menjaga kestabilan suhu di dalam bak pemeliharaan. Dinding dan dasar bak dilapisi dengan menggunakan cat epoxy untuk menutupi pori-pori dari bak semen. Bak dicat dengan warna kebiruan, hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam pengontrolan larva udang vaname. Setiap bak pemeliharaan dilengkapi dengan 132 titik aerasi. Jarak setiap aerasi ialah 40 cm. Jarak aerasi dengan dasar bak 5 cm agar sisa pakan dan kotoran tidak teraduk. Hal ini sesuai dengan SNI 7311:2009 produksi benih udang vaname kelas benih sebar. Adapun bak pemeliharaan yang sajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 Bak Pemeliharaan Larva Persiapan Air

Proses penyediaan air laut, di PT. Esaputlii Prakarsa Utama dilakukan 19

(30)

dengan cara memompa air laut yang bersumber dari laut. Proses pengambilan air laut dibantu menggunakan dua pompa mesin diesel dengan merek EBARA 1 phase 4 inci, pompa tersebut ditempatkan dalam rumah pompa. Jarak suplai air laut dari bak reservoir adalah 100 m. Pada ujung pipa yang menghubungkan ke perairan di bungkus dengan waring hitam, kedalaman pipa penyedot adalah 7 m. Suplai air laut dilakukan pada saat terjadi pasang air laut ataupun surut air laut yaitu pada siang maupun malam hari. Air laut yang digunakan mempunyai salinitas 30–33 ppt.

Dalam pendistribusiannya, air laut disalurkan melalui pipa PVC berukuran 4 inci yang dirangkai memanjang hingga mencapai jarak 100 m. Air laut hasil penyedotan kemudian dialirkan ke dalam pressure filter yang berisi pasir kuarsa yang bertujuan untuk menyaring kotoran dari laut. Lalu, air dialirkan ke bak pengendapan yang bervolume 200 m3. Bak pengendapan yang terdapat di PT. Esaputlii Prakarsa Utama sebanyak empat buah dan ditempatkan pada ruangan tertutup agar tidak terjadi kontaminasi dari luar. Setelah tertampung dalam bak pengendapan, dilakukan treatment terhadap air untuk membunuh mikroorganisme yang berpotensi menjadi bibit penyakit.

Treatment air dilakukan dengan cara memberikan larutan kaporit sebanyak

10–15 ppm selama 8 jam dan diberi aerasi kuat. Untuk menetralkan air terhadap kaporit diberikan Natrium thiosulfat sebanyak 3–5 ppm dan diendapkan selama 1-2 jam. Setelah mencapai waktu yang telah ditentukan, dilakukan pengujian untuk mengetahui tingkat kenetralan air terhadap kaporit menggunakan ortolidine.

Pengujian tersebut dilakukan dengan cara mengambil sampel air sebanyak 5 ml 20

(31)

kemudian diberi 3 tetes ortolidine. Apabila warna air berubah menjadi kekuning- kuningan hal tersebut menandakan bahwa dalam air masih terkandung kaporit, apabila berwarna bening menandakan bahwa air tersebut telah netral.

Apabila air tersebut telah netral selanjutnya di pompa menuju filter pasir menggunakan pompa EBARA 4 inci. Filter pasir yang digunakan terdiri dari beberapa material tersusun dari bawah ke atas yaitu waring, kerikil, arang dan pasir kuarsa. Setiap material filter mekanis dilapisi kantong yang terbuat dari bahan waring, Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pencucian material sehingga air media yang digunakan jernih dan bebas dari bakteri pathogen setelah difilter. Air yang telah difilter dialirkan menuju bak distribusi dengan metode gravitasi. Bak distribusi bervolume 200 m3 sebanyak 2 buah, untuk pendistribusian ke bagian benur dengan menggunakan 2 pompa EBARA masing- masing 1 inci. filter pasir dan Pressure filter dipaparkan pada Gambar 7.

(2)

Filter Pasir Pressure Filter Gambar 7 Filter Pasir dan Pressure Filter

21

(32)

Pakan

Selama masa pemeliharaan, benur diberi pakan untuk menunjang keberhasilan dan pertumbuhannya.

Jenis pakan yang diberikan pada benur udang vaname selama proses pemeliharaan di PT. Esaputlii Prakarsa Utama terdapat dua jenis yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami berupa Thalassiosira sp., dan Artemia sp.

Kultur Thalassiosira sp Kultur Skala Laboratorium

Kultur murni dilakukan di dalam ruangan laboratorium yang terisolasi dari lingkungan luar, dilengkapi dengan air conditioner (AC) agar suhu ruangan selalu terkendali, sebagai sumber pencahayaan untuk berlansungnya proses fotosintesis digunakan lampu neon TL dengan intensitas cahaya 2000 lux. Untuk sumber pengudaraan menggunakan mini blower tersendiri yang untuk menghindari kontaminasi. Kultur Thalassiosira sp., di media 10 liter dengan menggunakan pupuk epyzim AGP 1 ml, silikat 10 ml dan vitamin 10 ml di kultur selama tiga hari sebelum dipindahkan ke Intermediated.

Kultur Semi Massal (Intermediated)

Kultur semi massal dilakukan pada bak fiber berbentuk bulat dengan volume 1 ton, dengan menggunakan pupuk NPK 50 g, KNO3 20 g, Silikat 3 ml dan biocarbonat 5 g. Kultur semi massal dilakukan setiap pagi hari pukul 06.00 yang dikultur selama 2 hari sebelum dipindahkan ke kultur massal. Kultur intermediated dilakukan di outdoor atau diluar ruangan.

22

(33)

Kultur massal

Kultur skala massal dilakukan pada bak beton dengan ukuran 2,7x4,5x1,5 m, dengan volume air 18 m3 dilengkapi dengan 15 titik aerasi, jarak antar aerasi ialah 1 m, jarak aerasi ke dasar bak ialah 5–10 cm. Sebelum dilakukan kultur terlebih dahulu dilakukan sterilisasi dengan mencuci seluruh dasar dan dinding bak menggunakan detergen dan digosok dengan spon untuk menghilangkan kotoran atau lumut yang menempel dari kultur algae sebelumnya, lalu dibilas dengan air tawar hingga bersih.

Setelah bak disterilkan, dilakukan pengisian air, bibit algae dari kultur skala intermediate ditransfer bak kultur massal menggunakan pompa axial 1 inci, dan ditambahkan pupuk yang telah dilarutkan sebelumnya dengan dosis NPK 150 g, KNO3 50 g, Silikat 5 ml dan Biocarbonat 20 g. Kultur skala laboratorium, kultur intermedit dan kultur massal dapat dilihat pada Gambar 8.

.

(1) (2) (3) Gambar 8 Kultur Thalassiosira sp

Keterangan : (1) Kultur Skala Laboratorium (2) Kultur Intermedit

(3) Kultur Massal

23

(34)

Kultur Artemia sp

Kultur cyste Artemia sp., dilakukan pada tangki yang berbentuk kerucut dengan kapasitas 300 liter. Penetasan Artemia sp., dilakukan secara langsung dengan cara menuang cyste Artemia sp., ke dalam tangki yang berisi air laut dan dipasangi aerasi. Waktu yang dibutuhkan untuk menetas sekitar 24 jam dengan bantuan aerasi kuat. Kultur dan panen Artemia sp., disajikan pada Gambar 9.

Kultur Artemia sp Panen Artemia sp Gambar 9 Kultur Artemia sp dan Panen Artemia sp

Pakan Buatan

Pakan buatan yang diberikan pada benur berperan sebagai pakan tambahan, yang diberikan pada benur mulai stadia zoea sampai panen. Terdapat beberapa hal yang penting dalam memilih pakan buatan, antara lain memiliki nilai gizi yang tinggi dan sesuai dengan kebutuhannya, ukurannya harus sesuai dengan bukaan mulut benur atau post larva dan memiliki kualitas fisik yang baik (tidak

24

Referensi

Dokumen terkait

KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN JUVENIL UDANG GALAH (Macrobrachiurn rosenbergii de Man) PADA.. BERBAGAI TINGKAT

Sehubungan dengan masalah tersebut, maka dipertimbangkan perlu dilakukan pengkajian pengaruh beban kerja osmotik terhadap kelangsungan hidup, perkembangan dan pertumbuhan larva

Pengaruh Tingkat Ketinggian Air Media Budidaya Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius).. (Dibawah bimbingan Dr.Ir.D.Djokosetiyanto

KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN JUVENIL UDANG GALAH (Macrobrachiurn rosenbergii de Man) PADA. BERBAGAI TINGKAT

sistem I, perlakuan dengan salinitas 13 ppt, ter- nyata memberikan beban osmotik terkecil (⊄ i- sosmotik) dengan waktu perkembangan stadia tercepat dan kelangsungan hidup tertinggi;

Sehubungan dengan masalah tersebut, maka dipertimbangkan perlu dilakukan pengkajian pengaruh beban kerja osmotik terhadap kelangsungan hidup, perkembangan dan pertumbuhan larva

sistem I, perlakuan dengan salinitas 13 ppt, ter- nyata memberikan beban osmotik terkecil (⊄ i- sosmotik) dengan waktu perkembangan stadia tercepat dan kelangsungan hidup tertinggi;

PENGARUH BEBAN KERJA OSMOTIK TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP, LAMA WAKTU PERKEMBANGAN LARVA DAN POTENSI TUMBUH PASCALARVA UDANG GALAH.. LENNY