• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain Supply chain mulai diperkenalkan pada tahun Menurut Ibrahim, Putri, and Utama supply chain merupakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain Supply chain mulai diperkenalkan pada tahun Menurut Ibrahim, Putri, and Utama supply chain merupakan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

4 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain

Supply chain mulai diperkenalkan pada tahun 1980. Menurut Ibrahim, Putri, and Utama supply chain merupakan strategi penting untuk keberlanjutan karena aktivitasnya berdampak pada lingkungan. Rantai pasok merupakan aktivitas yang terlibat langsung dalam arus hulu dan hilir produk dimana di dalamnya mencakup kegiatan layanan, informasi, serta keuangan dari sumbernya ke pelanggan akhir (Mentzer et al., 2001). Layanan konsumen merupakan hasil output dari semua fungsi dalam rantai pasok. Di dalamnya termasuk pada semua titik kontak antara konsumen dan sumber (source) dalam hal pemenuhan pesanan serta termasuk dalam layanan konsumen, layanan pra dan pasca penjualan, dukungan teknik, dan keuangan (Stevens, 1989). Menurut Stevens (1989) semua kegiatan dalam rantai pasok harus seimbang agar dapat memberikan tingkat layanan yang baik tanpa menimbulkan beban biaya yang tinggi. Salah satu aktivitas penting dalam supply chain adalah pemilihan pemasok (supplier selection) hal ini dikarenakan agar perusahaan memiliki keunggulan bersaing (Utama, Putri, & Amallynda, 2021).

Kegiatan dalam manajemen rantai pasok terfokus pada bagaimana perusahaan memanfaatkan proses, teknologi, serta kemampuan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif (Tan, 2001). Scott and Westbrook (1991) menggambarkan kegiatan rantai pasok sebagai rantai yang terhubung satu sama lain dari setiap elemen proses manufaktur dan pasokan material mentah hingga ke penggunaan akhir serta mencakup beberapa batasan organisasi.

Tujuan dari strategi rantai pasok yang terintegrasi adalah untuk mewujudkkan kegiatan manufaktur dan fungsi logistik dalam seluruh aliran rantai pasok sebagai pertahanan yang efektif serta kompetitif yang tidak dapat dengan mudah di duplikasi oleh kompetitor. Langkah utama yang harus dilakukan agar berhasil menjalankan kegiatan supply chain management adalah dengan mengidentifikasi pelanggan utama atau kelompok pelanggan. Tim layanan konsumen bekerja dengan konsumen untuk mengidentifikasi dan menghilangkan sumber variabilitas permintaan (Lambert & Cooper, 2000). Aktivitas rantai pasok meliputi pembelian

(2)

material dari suppliers, pengolahan menjadi produk jadi serta pendistribusian ke konsumen (Utama, Santoso, Hendrawan, & Dania, 2022). Menurut Lambert and Cooper (2000) mengidentifikasi proses utama dalam rantai pasok adalah mencakup pengelolaan hubungan dengan konsumen, manajemen hubungan dengan konsumen, pengelolaan demand, manajemen manufaktur, pengadaan dan pengembalian, serta pengembangan dan komersial produk. Selain itu menurut Utama, Widodo, Ibrahim, Hidayat, and Dewi dalam rantai pasok persediaan memiliki peranan penting karena hal tersebut merupakan faktor terpenting dalam proses manufaktur sebuah perusahaan.

Menurut Mentzer et al. (2001) kompleksitas dalam rantai pasok dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:

1. Direct supply chain, yaitu aliran rantai pasok yang terlibat dalam arus hulu dan hilir produk, informasi, layanan, serta keuangan. Dalam kegiatan ini terdiri dari perusahaan, pelanggan, dan pemasok.

2. Extended supply chain, yaitu aliran yang mencakup pemasok dari pemasok langsung dan dari pelanggan ke pelanggan langsung, semua terlibat dalam dalam arus hulu dan hilir produk, informasi, layanan, serta keuangan.

3. Ultimate supply chain, dalam rantai pasok ini termasuk dalam semua organisasi yang terlibat dalam semua aliran produk, informasi, layanan, serta keuangan hulu dan hilir dari supplier akhir ke konsumen akhir.

2.2 Halal Supply Chain

Halal Supply Chain adalah aliran produk mulai dari pemasok hingga produk sampai ke tangan konsumen dengan mengamati kehalalan pada setiap aktivitas Supply Chain produk (E. N. Omar, Jaafar, & Osman, 2019). Halal Supply Chain digunakan untuk mengontrol serta menjamin dalam bisnis logistik. Pada produk kosmetik dan pangan penting untuk mengetahui aktivitas HCSnya karena kedua produk tersebut digunakan dan dikonsumsi. Menurut Hashim and Shariff (2016) kemampuan manajemen dalam mengintegrasikan rantai pasok sesuai dengan aturan Islam merupakan tolak ukur keberhasilan bagi pemilik industri halal saat ini. Halal Supply Chain bertujuan untuk menjamin kehalalan suatu produk konsumsi seperti minuman, makanan, obat-obatan, serta kosmetik. Jaminan integritas halal

(3)

merupakan konsep holistik yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan, produksi, pengemasan, pelabelan, logistik, ritel serta konsumsi barang dan jasa (M. I. Khan, Haleem, & Khan).

Menurut Tieman (2011) konsep dasar dari kegiatan HSC adalah menghindarkan kontak langsung antara produk halal dengan non halal. Dengan dilakukannya identifikasi rantai pasok halal merupakan upaya untuk mengurangi kontaminasi.

Menjaga integritas kehalalan suatu produk merupakan hal yang sangat penting untuk keberhasilan pasar halal yang sedang berkembang. Halal Supply Chain mencakup beberapa aktivitas, seperti transportasi, pergudangan, pengadaan, serta penanganan produk. kegiatan transportasi dan pergudangan merupakan kegiatan yang perlu diperhatiakan dalam proses kehalalannya. Pada kegiatan transportasi merupakan tahap dimana barang halal dapat terkontaminasi dengan barang non- halal. Sedangkan, pada aktivitas pergudangan produk halal dan non halal tidak dapat dipindahkan dan disimpan secara bersamaan (Ngah, Zainuddin, &

Thurasamy, 2014).

Tieman, Van der Vorst, and Ghazali (2012) mengusulkan model halal supply chain seperti pada gambar 2.1.

Halal Policy

Supply Chain Objectives

Logistic Control

Sc Business Processes Sc Business Processes Sc Business Processes

Halal SC Performance

M A R K E T P

R O D U C T

Gambar 2. 1 Model Halal Supply Chain

(4)

1. Kebiajakan Halal dan Tujuan Rantai Pasok

Berdasarkan model yang diusulkan oleh Tieman et al. (2012) dalam menjalankan rantai pasok halal membutuhkan komitmen dalam tingkat manajemen puncak dengan kebijakan halal yang digunakan sebagai dasar organisasi supply chain. Kebijakan halal membahas mengenai; tanggungjawab oganisasi dalam melindungi intregritas halal sepanjang aliran supply chain, ruang lingkup sertifikasi halal dalam perusahaan, jaminan kepada konsumen, serta metode penjaminan (mekanisme kontrol meliputi komite halal serta petugas inspeksi).

2. Kontrol logistik

Kontrol logistik merupakan bagian terpenting dari model halal supply chain, yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan manajemen rantai pasok yang efektif. Kegiatan rantai pasok terintegrasi dapat dioptimal ketika elemen- elemen dalam rantai pasok berfungsi bersama meningkatkan kegiatan supply chain.

Tieman et al. (2012) mendefinisikan pengendalian logistik sebagai sebuah organisasi, perencaan serta pengendalian arus barang, mulai dari pengembangan, pembelian melalui manufaktur dan distribusi ke konsumen akhir dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan biaya rendah serta penggunaan model yang terkendali.

3. Sumber daya rantai pasok

Sumberdaya rantai pasok menggambarkan kondisi organisasi dan manajemen informasi. Dalam organisasi yang memiliki sertifikat halal dibutuhkan komite halal yang bertanggung jawab atas kepatuhan manajemen dan kegiatan sesuai dengan standart halal. Komite halal bertugas menyusun kebijakan halal yang disahkan oleh direktur atau CEO perusahaan.

4. Struktur jaringan rantai pasok

Struktur jaringan rantai pasok merupakan jaringan organisasi yang saling terhubung dan bergantung satu sama lain serta bekerjasama dalam mengelola, mengontrol, dan meningkatkan aliran material dan informasi.

(5)

5. Proses bisinis rantai pasok

Proses bisnis pemenuhan pesanan konsumen, manajemen aliran manufaktur, serta pengadaan material merupakan faktor yang sangat penting dalam aliran kegiatan rantai pasok pada produk makanan halal.

6. Kinerja rantai pasok halal

Dalam mengukur kinerja halal suppl chain, sangat penting untuk mengukur perspektif efektivitas aliran rantai pasok dengan dua aspek penting yaitu kualitas proses dan pemborosan. Kualitas proses mencakup kekuatan dari suatu brand/merek, kredibilitas sertifikat halal serta keluhan konsumen yang diterima mengenai status kehalalan yang dimiliki suatu produk

2.3 Risk Dimensions dalam Halal Supply Chain

Dalam manajemen rantai pasok, risiko dapat menyebabkan masalah perubahan aliran yang tidak terduga karena gangguan dari faktor internal dan eksternal (S.

Khan et al., 2020). Menurut S. Khan, Haleem, and Khan (2021) dalam memetakan risiko dalam rantai pasok harus mempertimbangkan semua aspek manajemen rantai pasok mulai dari perencanaan sampai dengan pengiriman produk. Untuk mengidentifikasi risiko-risiko dalam rantai pasok dilakukan dengan memetakan aktivitas-aktivitas rantai pasok menggunakan risk dimension dan risk elements.

Dimensi risiko (risk dimension) merupakan suatu kelompok proses aktivitas dalam rantai pasok sedangkan elemen risiko (risk elements) adalah risiko-risiko yang terjadi dalam tahapan rantai pasok yang telah dipetakan dengan dimensi risiko (S.

Khan et al., 2021). Selain itu risk elemets adalah sebuah faktor yang berpotensi menjadi penyebab kerusakan, kecacatan, atau kecelakaan pada sebuah perusahaan pada masa kini atau masa yang yang akan datang. Berikut risk dimensions yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko dalam rantai pasok menurut S. Khan et al.

(2021) :

1. Planning, adalah aktivitas yang meliputi perencanaan produksi atau bahan baku yang dibutuhkan, penjadwalan, keuangan, serta rencana distribusi.

Planning merupakan aktivitas utama dalam rantai pasok.

(6)

2. Sourcing, kegiatan sourcing sangat berkaitan erat dengan supplier karena berhubungan dengan pengadaan bahan baku yang dibutuhkan untuk proses bisnis.

3. Production, merupakan tahap inti dalam kegiatan manufaktur dimana dalam kegiatan ini dilakukan beberapa kegiatan diantaranya; proses produksi, work- in progress hingga pemprosesan bahan baku mentah menjadi setengah jadi atau barang jadi.

4. Logistic and Outsourcing, adalah aktivitas perpindahan barang jadi (produk) dari titik awal sampai pada titik konsumsi.

5. Market, adalah kegiatan pemasaran produk dan penilaian dari pelanggan dengan melihat antusias terhadap produk yang dipasarkan.

6. Information Technology, merupakan kegiatan penyebaran informasi mengenai bahan baku atau produk jadi dengan memanfaatkan teknologi.

7. Sustainability, yaitu analisis keberlanjutan dalam kegiatan industri, dimana setiap industri harus ramah lingkungan dan tidak memiliki dampak berlebihan terhadap lingkungan.

2.4 Manajemen Risiko 2.4.1 Identifikasi Risiko

Identifikasi risiko merupakan proses untuk mengidentifikasi permasalahan yang potensial dan signifikan yang berdampak negative terhadap probabilitas suatu perusahaan (Anugerah et al., 2021). Tujuan dilakukan identifikasi risiko adalah untuk menilai, mengurangi risiko yang terdapat dalam suatu aktivitas. Dalam melakukan identifikasi risiko, kegiatan dikelompokkan dalam beberapa kelompok seperti produksi, perencenaan, ataupun logistik hal ini dimaksudkan untuk dapat menilai risiko yang perlu ditindaklanjuti terlebih dahulu (S. Khan et al., 2020).

Menurut S. Khan et al. (2021) risiko-risiko yang umum diidentifikasi dalam rantai pasok adalah risiko perencanaan, produksi, dan permintaan, sedangkan dalam HSC memiliki beberapa risiko tambahan yang penting diidentifikasi. Lebih lanjut S.

Khan et al. (2021) menjelaskan bahwa fokus utama dalam HSC adalah menjaga kehalalan pada kegiatan pengadaan bahan baku/outsourcing hingga produk sampai ke konsumen.

(7)

2.4.2 Penilaian Risiko

Risiko halal produk adalah kejadian yang tidak terduga serta dapat mempengaruhi kehalalan produk dari asalnya hingga sampai ke konsumen.

Penilaian risiko dalam rantai pasok penting dilakukan untuk menentukan prioritas tindakan yang harus dilakukan. Menurut S. Khan et al. (2020) pada aktivitas rantai pasok, risiko dapat menyebabkan permasalahan sehingga menimbulkan efek tidak terduga karena gangguan yang ditimbulkan. Gangguan yang timbul dapat muncul dari internal atau eksternal serta bersifat jangka panjang dan jangka pendek.

Dalam pengendalian risiko terdapat dua fokus utama yaitu penilaian dan manajemen risiko. Menurut Aven (2016) kedua hal tersebut digunakan untuk menganalisis dan memitigasi risiko pada suatu aktivitas agar dapat meminimalisir dampak risiko yang ditimbulkan. Penilaian risiko berhubungan dengan terjadinya dampak yang ditimbulkan pada suatu kegiatan (Ho, Zheng, Yildiz, & Talluri, 2015). Dalam penilaian risiko penting untuk mempertimbangkan beberapa kriteria yang dapat menimbulkan dampak kerugian seperti; mengidentifikasi potensi risiko, menetapkan risiko yang harus dan perlu ditindaklanjuti dan dilakukan penilaian risiko secara keseluruhan (Ceryno, Scavarda, Klingebiel, & Yuzgulec, 2013).

2.4.2 Mitigasi Risiko

Mitigasi risiko adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan terjadinya risiko dalam perusahaan. Menurut Talluri, Kull, Yildiz, and Yoon (2013) mitigasi risiko rantai pasok adalah faktor penting dalam strategi manajemen risiko perusahaan. Selain itu keefektifan strategi mitigasi risiko bergantung pada lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Setiap aktivitas dalam rantai pasok berbeda agar strategi mitigasi yang dijalankan efektif maka mitigasi yang ditentukan harus disesuaikan dan pengendalian diterapkan dengan tepat (Musa, 2012). Ho et al. (2015) mengklasifikasikan mitigasi risiko menjadi 8 kategori yaitu; mitigasi risiko makro, mitigasi risiko permintaan, mitigasi risiko manufaktur, mitigasi risiko pasokan, mitigasi risiko transportasi, mitigasi risiko keuangan, mitigasi risiko informasi, mitigasi risiko general.

(8)

Dalam penelitian Saglam, Çankaya, and Sezen (2020) mengklasifikasikan strategi mitigasi menjadi dua kategori; proaktif dan reaktif. Strategi proaktif melibatkan pengembangan pemasok, manajemen, kontrak rantai pasok, manajemen produksi serta hubungan antar pemasok. Sedangkan strategi reaktif melibatkan manajemen permintaan, perencanaan kontijensi, serta manajemen bencana. Dalam menentukan tindakan mitigasi salah satunya dapat menggunakan metode House of Risk. Menurut Pujawan and Geraldin (2009) terdapat dua model penerapan dalam metode House of Risk yaitu HOR 1 digunakan untuk menentukan agen risiko yang harus diprioritaskan untuk menentukan tindakan mitigasi. Dan HOR 2 digunakan untuk menentukan prioritas tindakan yang efektif uang dan sumber daya yang wajar.

2.5 Metode Delphi

Penelitian mengenai pengembangan metode delphi dimulai sejak tahun 1950 oleh Rand Coporation. Tujuan metode delphi pada awalnya adalah untuk memperoleh kesepakatan para ahli melalui kuesioner dan mendapatkan masukan atas kesepakatan tersebut. Menurut tidak terdapat kesepakatan mutlak dan universal dalam mencapai konsensus dalam pengambilan keputusan delphi.

Selanjutnya disebutkan bahwa rata-rata jumlah partisipan (ahli) dalam delphi adalah minimal 8 orang dan maksimal 12 orang. Menurut Linstone and Turoff (1975) metode delphi merupakan metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang kompleks. Pengaplikasian metode delphi adalah dengan mengumpulkan pendapat, pemikiran serta pertimbangan para mentor dibidangnya (Widiasih, Karningsih, & Ciptomulyono). Selain itu menurut Rum and Heliati (2018) metode delphi adalah metode pengambilan keputusan dengan melibatkan ahli yang terkait melalui kuesioner.

Menurut Linstone and Turoff (1975) terdapat 4 langkah dalam metode delphi yaitu:

1. Mengkaji subyek yang akan dibahas, selanjutnya setiap anggota harus memberikan informasi tambahan yang relevan mengenai permasalahan.

2. Mendiskusikan pemahaman mengenai permasalahan (apakah anggota kelompok setuju / tidak)

(9)

3. Jika pada tahap sebelumnya terdapat anggota kelompok yang tidak setuju atau sepaham, maka pada tahap ketiga ini dimunculkan penyelesaian.

4. Pada tahap terakhir yaitu memberikan masukan atas informasi terhadap permasalahan.

Menurut Al Hazza et al. untuk mencapai kesepakatan bersama (consensus) dalam studi delphi disepakati bahwa tidak ada kesepakatan mutlak dan universal yang dianggap cukup dalam delphi. Pelaksanaan survei delphi menurut Bowles (1999) terdiri dari minimal dua putaran atau dapat dilaksanakan sebanyak 3 putaran (iterasi), selebihnya penentuan jumlah putaran dalam delphi adalah paragmatis.

Tujuan adanya beberapa iterasi dalam survei delphi menurut Bowles (1999) adalah sebagai berikut:

1. Iterasi satu digunakan untuk mengidentifikasi masalah serta isu-isu terkait masaah yang akan dibahas. Kuesioner disebarkan ke dalam beberapa ahli dan forum. Tanggapan dari pertanyaan terbuka dianalisa secara kualitatif dan dengan memilah, mengkategori, serta mencari topik umum. Tanggapan yang diperoleh dari iterasi satu kemudian diedit dan digunakan untuk menyusun kuesioner iterasi kedua.

2. Iterasi dua dan berikutnya memuat pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik, menggunakan kuesioner untuk mencari peringkat dari berbagai item pada tingkat signifikansinya dan selanjutnya dianalisa secara kuantitatif dengan feed back (timbal balik) dari putaran sebelumnya.

Selanjutnya menurut Hartini, Ciptomulyono, and Anityasari (2020) setelah mendapatkan penilaian pada setiap indikator selanjutnya dilakukan analisis cut-off indikator menggunakan Weight Average (WA) > 4,0 dan Level of Consensus (LC) 0,7. Indikator yang memeliki kriteria sesuai digunakan untuk pengolahan data berikutnya. Sedangkan indikator yang tidak memenuhi kriteria di eliminasi. Rumus Weight Average (WA) dan Level of Consensus (LC) seperti pada persamaan 1 dan 2:

𝑊𝐴= 𝛴𝑆𝑅𝑖

𝑁𝑟 (1)

(10)

Dimana:

𝑊𝐴 = nilai weight average S = nilai data ke-𝑖

R = tingkat relevansi data ke- 𝑖 𝑁𝑟 = Total responden

LC = 𝐹𝑁𝑅

𝑁𝑟 (2)

Dimana:

LC = Level of Consensus

FNR = Jumlah responden yang setuju 𝑁𝑟 = Total responden

Untuk melakukan penilaian pada masing-masing indikator Hartini et al. (2020) menggunakan penilaian menggunakan skala likert seperti pada tabel 2.1.

Tabel 2. 1 Tingkat Relevansi

No Tingkat Relevansi Keterangan

1 5 Sangat Relevan

2 4 Relevan

3 3 Netral

4 2 Tidak relevan

5 1 Sangat Tidak Relevan

Sumber: Hartini et al. (2020) 2.6 Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah suatu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi potensi kegagalan serta mengurangi potensi dengan mengendalikan proses manufaktur (Mode, 2011). FMEA pertama kali diusulkan pada tahun 1963 oleh NASA untuk memenuhi persyaratan keandalan. Untuk melakukan analisis FMEA langkah pertama adalah mengumpulkan informasi mengenai proses kegiatan yang akan dianalisa serta melakukan indentifikasi pada setiap kegiatannya merupakan hal penting untuk dilakukan (Bahrami, Bazzaz, & Sajjadi, 2012). Menurut Mode (2011) FMEA bertujuan untuk:

(11)

1. Mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko kegagalan produk serta efek dari kegagalan tersebut.

2. Menentukan tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko kegagalan 3. Memetakan seluruh kegiatan proses.

Menurut Sharma and Srivastava (2018) FMEA diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:

1. Concept FMEA (CFMEA), yaitu analisa kegagalan konsep yang dilakukan pada tahap awal, tingkat sistem dan sub sistem.

2. Design FMEA (DFMEA), yaitu identifikasi kegagalan produk pada tahap desainnya, serta menentukan jenis desain yang yang optimal.

3. Process FMEA (PFMEA), yaitu analisis kegagalan yang dilakukan pada proses manufaktur atau perakitan.

FMEA digunakan untuk menentukan prioritas risiko dmenggunakan RPN (Risk Priority Number) dengan penilaian occurrence (O), severity (S), detection (D). Skala penilaian occurrence (O), severity (S), detection (D) ditunjukkan pada tabel 2.2 - 2.4. Nilai RPN dapat dicari dengan rumus seperti pada persamaan 3:

𝑅𝑃𝑁 = 𝑂 ∗ 𝑆 ∗ 𝐷 (3)

Tabel 2. 2 Severity

Rating Efek Kriteria

10 Berbahaya Efek kegagalan yang ditimbulkan berbahaya. Melibatkan ketidakpatuhan terhadap peraturan.

9 Serius

Kegagalan menghasilkan hasil yang berbahaya dan Berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya. Dapat menghentikan pemasaran produk tergantung kegagalan dan waktu. Melibatkan ketidakpatuhan terhadap peraturan pemerintah dengan adanya peringatan.

8 Ekstrim Pelanggan sangat tidak puas. Produk aman tetapi tidak bekerja dengan baik. Sistem tidak beroperasi.

7 Tinggi Pelanggan tidak puas. Kinerja produk sangat terpengaruhi, tetapi aman untuk digunakan. Sistem terganggu.

(12)

6 Significant

Pelanggan tidak nyaman. Permorfansi sistem menurun, tetapi masih dapat digunakan dan aman. Kegagalan sebagian dan dapat dioperasikan.

5 Sedang Pelanggan tidak puas dengan beberapa kinerja produk.

Efek sedang terhadap kinerja produk dan sistem.

4 Rendah Pelanggan sedikit tidak puas dengan beberapa kinerja produk. Efek minor terhadap kinerja produk dan sistem.

3 Sedikit Pelanggan sedikit kesal terhadap kinerja produk / sistem.

2 Sangat

sedikit

Pelanggan tidak terganggu, karena sangat sedikit efek pada kinerja produk / sistem.

1 Tidak ada Tidak ada efek.

Sumber: Franceschini and Galetto (2001)

Tabel 2. 3 Occurence

Rating Probabilitas kegagalan Kemungkinan Tingkat Kegagalan

10 Hamper pasti Kegagalan hampir pasti. Kegagalan timbul dari awal desain.

9 Sangat tinggi Kemungkinan jumlah terjadinya

kegagalan sangat tinggi

8 Tinggi Kemungkinan jumlah terjadinya

kegagalan tinggi

7 Cukup tinggi Kemungkinan jumlah terjadinya

kegagalan cukup tinggi

6 Sedang Kemungkinan jumlah terjadinya

kegagalan sedang

5 Rendah Kemungkinan jumlah terjadinya

kegagalan sesekali/ jarang terjadi

4 Sedikit Kemungkinan terjadinya kegagalan

kecil

3 Sangat sedikit Kemungkinan terjadinya kegagalan sangat kecil

2 Remote Kemungkinan terjadinya kegagalan

sangat langka

(13)

1 Hampir tidak mungkin Kegagalan hampir tidak mungkin.

Awal desain tidak menunjukkan kegagalan.

Sumber: Franceschini and Galetto (2001)

Tabel 2. 4 Detection

Rating Description Definition

10 Hampir tidak mungkin Tidak terdapat kontrol untuk mendeteksi kegagalan.

9 Remote Kemungkinan kontrol mendeteksi penyebab

kegagalan sangat langka.

8 Sangat sedikit Sangat sedikit kemungkinan penyebab kegagalan dapat terdeteksi.

7 Sedikit Sedikit kemungkinan penyebab kegagalan dapat terdeteksi.

6 Rendah Kemungkinan rendah penyebab kegagalan

dapat terdeteksi.

5 Sedang Kemungkinan penyebab kegagalan dapat

terdeteksi sedang.

4 Cukup tinggi

Penyebab kegagalan dapat terdeteksi memiliki peluang kemungkinan yang cukup

tinggi.

3 Tinggi Kemungkinan besar penyebab kegagalan

dapat terdeteksi.

2 Sangat tinggi Kemungkinan penyebab kegagalan dapat terdeteksi lebih besar.

1 Hampir pasti Penyebab kegagalan hampir pasti terdeteksi.

Sumber:Franceschini and Galetto (2001) 2.7 Analytical Hierarchy Process (AHP)

Metode AHP pertama kali dikembangkan pada tahun 1970 oleh Thomas L.

Saaty. Metode AHP adalah metode penyelesaian matematika objective yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan multikriteria yang kompleks menjadi model hierarki (Saaty, 2001). Menurut Saaty (2004) himpunan objek yang

(14)

dibandingkan menggunakan AHP harus bersifat homogen. Dalam menyelesaikan permasalahan AHP terdapat beberapa prinsip dasar yaitu:

1. Decomposition, membagi atau memecah suatu permasalahan yang utuh menjadi bentuk hierarki. Dengan tingkat teratas menunjukkan tujuan, tingkat menegah adalah kriteria-kriteria, dan tingkat terendah adalah alternatif – alternatif.

2. Comparative Judgement, memberikan penilaian terhadap kepentingan relatif antar kriteria dalam sebuah matriks pairwise comparison. Matriks parwise comparison ditunjukkan pada tabel 2.5.

3. Synthesis of Priority, yaitu matriks keputusan yang telah dibentuk selanjutnya dilakukan pembobotan pada masing-masing kriteria, sehingga didapatkan prioritas antar kriteria.

Berikut langkah-langkah dalam menyelesaikan Analysis Hierarchy Process menurut Saaty (2002):

1. Menentukan skala prioritas menggunakan perbandingan berpasangan. Skala penilaian ditunjukkan pada tabel 2.5.

Tabel 2. 5 Pairwise Comparisons

Skala Definisi

1 Sama penting

3 Sedikit lebih penting

5 Lebih Penting

7 Sangat penting

9 Mutlak penting

2,4,6,8 Rata-rata

Reciprocals Nilai kebalikan

Sumber: Saaty (2002)

2. Menghitung Priority Weight atau Eigen Vector. Eigen vector digunakan untuk menentukan matriks perbandingan berpasangan yang konsisten. Terdapat dua cara yaitu dengan membagi nilai sel dengan total dari setiap kolom, lalu di rata- rata atau menjumlahkan entri pada setiap baris serta menormalkan nilai kolom yang dihasilkan. Rumus untuk menghitung Eigen Vector ditunjukkan pada

(15)

persamaan 4. Menurut Bahmani, Javalgi, and Blumburg rumus untuk perhitungan normalisasi matriks seperti disajikan pada persamaan 5-8:

Perhitungan Eigen Vector:

λ maks = ΣAij (4)

Perhitungan normalisasi matriks:

Aij = 𝑊𝑖

𝑊𝑗, 1, j = 1, 2, ……, n (5) Aij = 𝐴𝑖𝑗

𝑚𝑎 𝑥 𝐴𝑖𝑗 (6)

Aij = ΣjAij (7)

Aij = 𝐴𝑖𝑗

𝑛 (8)

Dimana:

Wij = Nilai pembobotan Aij = Matriks normalisasi

3. Menghitung Consistency Ratio. Menurut Bahmani et al. menghitung Consistency Ratio dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

a. Mengalikan hasil eigen vector dengan entri pada kolom matriks awal.

b. Menghitung nilai relative pada setiap entri dengan menjumlahkan setiap baris kemuadian membagi masing-masing entri dengan total entri pada kolom.

c. Menghitung indeks konsistensi dengan rumus yang ditunjukkan pada persamaan 9:

𝐶𝐼 = (𝜆𝑚𝑎𝑘𝑠−𝑛)

(𝑛−1) (9)

Dimana:

𝐶𝐼 = Consistency Index 𝜆𝑚𝑎𝑘𝑠 = nilai eigen 𝑛 = jumlah kriteria

d. Selanjutnya menghitung rasio konsistensi dengan rumus seperti pada persamaan 10, apabila nilai konsistensi ≤ 0,1 maka hasil perhitungan dikatakan benar dan konsisten. Pada tabel 2.6 ditunjukkan nilai random indeks.

(16)

𝐶𝑅 =𝐶𝐼

𝐼𝑅 (10)

Dimana:

𝐶𝐼 = Consistency Index 𝐼𝑅 = Nilai random indeks

Tabel 2. 6 Nilai Random Indeks

N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

RC 0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49 Sumber: Saaty (2002)

2.8 Modified Failure Mode and Effect Analysis (M-FMEA)

FMEA digunakan untuk mengurangi dan mencegah kegagalan yang terjadi pada sistem dengan menentukan nilai RPN. Selain itu FMEA digunakan untuk mengidentifikasi penyebab kegagalan dan efek terjadinya (Senthilmurugan &

Perarasu, 2014). Namun metode FMEA memiliki titik kelemahan yang menyebabkan kurang akurat dalam informasinya. Menurut Anugerah et al. (2021) ada 3 kelemahan pada FMEA konvensional yaitu:

1. Probabilitas ternjadinya nilai yang sama pada S, O, D.

2. Memiliki tingkat kemiripan atau duplikasi yang tinggi.

3. FMEA konvensional dianggap gagal dalam mengatasi analisis hierarki.

Selanjutnya diusulkan metode M-FMEA dengan tujuan untuk mengatasi kekurangan pada FMEA konvensional. M-FMEA merupakan gabungan dari metode FMEA dengan metode AHP. Menurut Anugerah et al. (2021) metode AHP adalah metode yang baik untuk menyelesaikan masalah prioritas antar kriteria.

MFMEA adalah penyempurna untuk metode FMEA konvensional, dimana nilai severity, occurrence, dan detectability di bobot dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) (Anugerah et al., 2021). lasan lain penggunaan metode AHP menurut Anugerah et al. (2021) adalah:

1. AHP merupakan satu-satunya metode yang menggunakan uji konsistensi.

2. AHP memungkinkan peneliti untuk menggunakan unti pengukuran yang berbeda dengan normalisasi proses.

(17)

3. Hasil dari AHP lebih akurat dan reliabel karena metode ini membandingkan dua elemen keputusan dalam sekali waktu.

Menurut Anugerah et al. (2021) berikut adalah tahapan dalam metode Modified- Failure Mode Effect Analysis (M-FMEA):

1. Para ahli diminta untuk menilai pada setiap risiko menurut kriteria severity, occurrence, detection dengan skala 1-10, seperti pada tabel 2.1–2.3.

2. Kriteria severity, occurrence, detection di bobot menggunakan perbandingan berpasangan AHP.

3. Selanjutnya bobot hasil AHP dikalikan dengan skor hasil penilaian FMEA.

Ditunjukkan pada persamaan 11 merupakan rumus menentukan M-RPN.

𝑀𝑅𝑃𝑁𝑗 = 𝑊𝑠 ∗ 𝑠 + 𝑊𝑜 ∗ 𝑜 + 𝑊𝑑 ∗ 𝑑 (11) 𝑊𝑠 = nilai severity setelah pembobotan

𝑠 = nilai severity

𝑊𝑜 = nilai occurence setelah pembobotan 𝑜 = nilai occurrence

𝑊𝑑 = nilai detection setelah pembobotan 𝑑 = nilai detection

2.9 House of Risk

House of Risk adalah metode yang digunakan untuk menganalisa risiko rantai pasok dengan menggunakan konsep House of Quality & Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) (Pujawan & Geraldin, 2009). Metode HOR digunakan dalam analisis risiko rantai pasok yang bertujuan untuk mengetahui, mengukur, menganalisa, serta memberikan usulan mitigasi pada permasalahan yang ada.

Menururt Pujawan and Geraldin (2009) metode House of Risk terdiri dua tahap yaitu :

1. HOR Fase 1

HOR fase 1 digunakan untuk menentukan risk agent dan risk event, kemudian risk agent dikelompokkan sesuai dengan nilai prioritas menggunakan Aggregate Risk Potential. Derajat korelasi yang digunakan adalah: tidak ada hubungan (0), rendah (1), sedang (3), serta tinggi (9). Berdasarkan hal tersebut HOR fase 1 dikerjakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

(18)

a. Melakukan identifikasi kejadian risiko (risk event). Identifikasi dilakukan dengan memetakan aktivitas supply chain, dapat digunakan pendekatan SCOR.

b. Melakukan penilaian dampak (Severity) atas kejadian risiko (risk event).

Dengan menggunakan skala 1-10, dimana skala 10 menunjukkan dampak yang sangat tinggi.

c. Melakukan identifikasi agen risiko dan menilai kemungkinan (Occurrence) terjadinya risiko. Skala penilaian yang digunakan adalah 1- 10, dimana 1 menunjukkan tidak pernah terjadi dan 10 menunjukkan pasti terjadi.

d. Menentukan hubungan antara agen resiko dan kejadian resiko dengan matriks, Rij (0,1,3,9). Skala penilaian untuk menilai hubungan antara agen risiko dan kejadian risiko dapat dilihat pada tabel 2.7.

Tabel 2. 7 Nilai Hubungan

Rank Kriteria

0 Tidak ada hubungan

1 Rendah

3 Sedang

9 Tinggi

Sumber: Pujawan and Geraldin (2009)

e. Menghitung Aggregate Risk Potential terhadap agen j (ARPj). ARPj ditentukan dengan rumus pada persamaan (12). Dimana Oj adalah nilai potensi resiko pada agen J. Sj menunjukkan nilai keparahan pada kejadian risiko j, serta Rij adalah nilai korelasi dari agen resiko dan kejadian resiko.

𝐴𝑃𝑅𝑗 = 𝑂𝑗 ∑ 𝑆𝑗 + 𝑅𝑖𝑗 (12)

f. Menentukan peringkat risk agent berdasakan nilai ARP, dengan matriks seperti pada tabel 2.8.

(19)

Tabel 2. 8 House of Risk Tahap 1

Bussines Process

Risk Event

(Ei)

Risk Agent (Aj)

Severity of Risk Event i (Si) A1 A2 A3 A4 A5

Plan E1 R11 R12 R13 S1

Source E2 R21 S2

Make E3 R31 S3

Occurrence of Agent

j O1 O2 O3 O4 O5

Aggregate Risk Potential j

ARP

1

ARP

2

ARP

3

ARP

4

Priority Rank of Agent j

Sumber: Pujawan and Geraldin (2009) 2. HOR Fase 2

HOR fase 2 bertujuan untuk menentukan strategi mitigasi. Hasil dari output fase 1 digunakan sebagai input fase 2, dimana strategi mitigasi yang diberikan sesuai untuk penanganan risk agent prioritas. Langkah-langkah HOR fase 2 sebagai berikut:

a. Memilih risk agent dengan peringkat tertinggi dari nilai pareto APRj pada HOR fase 1. Hasil yang didapatkan ditempatkan pada sisi kiri dalam tabel (what).

b. Mengidentifikasi usulan perbaikan yang tepat untuk mencegah risk agent.

Usulan perbaikan ditempatkan pada sisi atas dalam tabel (How).

c. Menetukan korelasi antara usulan pencegahan dengan risk agent, Ejk.

Hubungan (Ejk) menunjukkan keefektifak usulan pencegahan K untuk mengurangi risk agent. Skala penilaian untuk menetukan korelasi antar usulan mitigasi ditunjukkan pada tabel 2.9.

Tabel 2. 9 Nilai Hubungan Ejk

Nilai Keterangan

0 Tidak ada hubungan

1 Hubungan rendah

3 Hubungan sedang

9 Hubungan korelasi tinggi

Sumber: Pujawan and Geraldin (2009)

(20)

d. Menghitung total keefektifak dari setiap usulan pencegahan, dengan rumus seperti pada persamaan 13.

𝑇𝐸𝑘 = ∑(𝐴𝑅𝑃𝑗 ∗ 𝐸𝐽𝑘) (13)

e. Menilai tingkat kesulitan dalam menerapkan usulan dengan skala penilaian seperti pada tabel 2.10. Menghitung total keefektifan pada rasio kesulitan dengan rumus seperti pada persamaan 14:

Tabel 2. 10 Skala Effectiveness to Difficulty Ratio

Nilai Keterangan

3 Mitigasi mudah untuk diterapkan (Low) 4 Mitigasi cukup sulit untuk diterapkan (Medium) 5 Mitigasi sulit untuk diterapkan (High)

𝐸𝑇𝐷𝑘 = 𝑇𝐸𝑘/𝐷𝑘 (14)

f. Menetapkan peringkat prioritas pada setiap tindakan (RK), seperti pada matriks 2.11. Peringkat 1 menunjukkan ETDk tertinggi.

Tabel 2. 11 House of Risk Tahap 2

To be Treated Risk Agent (Aj)

Preventive Action (PAi) Aggregate Risk Potentials

(ARPi)

PA1 PA2 PA3

A1 E11 ARP1

A2 E21 ARP2

A3 ARP3

Total effectiveness of

Action k TE1 TE2 TE3

Degree of Difficulty

Performing Action k D1 D2 D3

Effectiveness to

Difficulty Ratio ETD1 ETD2 ETD3

Rank of Priority R1 R2 R3

Sumber: Pujawan and Geraldin (2009) 2.10 Pareto Chart

Pareto atau biasa disebut dengan aturan 80/20 menyatakan bahwa 20% dari penyebab bertanggungjawab atas 80% dampak yang ditimbulkan (Lipovetsky, 2009). Menurut Kenett (1991) pareto merupakan alat dasar yang digunakan untuk melakukan uji statistik dengan menggunakan grafik. Analisis pareto digunakan untuk menemukan penyebab dari sebuah kejadian seperti risiko, kegagalan, atau

(21)

kecacatan. Pareto chart merupakan alat analisis yang digunakan untuk menemukan masalah terpenting yang harus segera mendapatkan solusi dan membrikan usulan alokasi sumber daya untuk menyelesaikan permasalahan, serta menemukan masalah mana yang dapat ditunda penyelesaiannya. Salah satu keunggulan dari pareto adalah lebih mudah di baca karena pareto menggunakan grafik atau diagram batang. Selain itu dengan pareto, perusahaan dapat dengan mudah untuk mengidentifikasi permasalahan. Dalam pareto biasanya grafik menunjukkan urutan permasalahan yang paling sering terjadi hingga permasalahan yang jarang terjadi.

2.11 Penelitian Terdahulu

Pada tabel 2.12 disajikan data penelitian terdahulu mengenai Halal Supply Chain seperti; Ali et al. (2013) meneliti mengenai mitigasi risiko pada bidang makanan halal. Pada penelitian W. M. W. Omar and Rahman (2015) menentukan critical factors pada bidang makanan halal menggunakan AHP. Pada penelitian S.

Khan, Khan, Haleem, and Jami (2019) menentukan risiko prioritas pada makanan halal. S. Khan et al. (2020) melakukan penelitian bada bidang makanan mengenai manajemen risiko. Penelitian Wahyuni (2020) meneliti mengenai risiko rantai pasok halal pada bidang makanan dalam perspektif teknologi. Penelitian Amalia, Handayani, Apriza, and Kusrini (2021) meneliti mengenai risiko pada halal fast food. Penelitian F. Azmi, Musa, Chew, and Jagiripu (2021) meneliti risko-risko rantai pasok makanan halal di Malaysia. Pada penelitian S. Khan et al. (2021) meneliti manajemen rantai pasok halal pada pasar global. Penelitian Lestari, Mas’ari, Meilani, Riandika, and Hamid (2021) melakukan penelitian mengenai menentukan tindakan mitigasi pada perusahaan makanan. Penelitian Munawir, Astuti, Setiawan, and Sufa (2021) meneliti mengenai tindakan mitigasi yang tepat halal risk pada proses produksinya.

Pada penelitian Sarwar, Zafar, and Qadir (2021) melakukan penelitian dan analisis serta menentukan prioritas mengenai risiko rantai pasok halal pada pasar global. Penelitian Wahyuni, Putra, Handayani, and Maulidah (2021) meneliti mengenai identifikasi risiko dan menentukan tindakan yang tepat pada rantai pasok halal bidang makanan selana pandemic covid 19. Kekurangan pada penelitian terdahulu adalah jarang yang melakukan penilaian risiko serta menentukan mitigasi

(22)

risiko. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode Delphi, M-FMEA, serta HOR dalam menyelesaikan permasalahan. Metode Delphi digunakan untuk menentukan risiko yang relevan dengan perusahaan, metode M-FMEA digunakan untuk menentukan risiko prioritas yang memerlukan tindakan segera. Serta metode HOR fase 2 digunakan untuk menentukan mitigasi pada setiap risk elements. Selain itu juga penelitian mengenai Halal Supply Chain pada industri jamu masih sangat minim.

Tabel 2. 12 Daftar Penelitian Terdahulu HSC Author Risk

Assesment Mitigation Method Risk Dimensions Aplikasi

Ali et al.

(2013) - Farm to

Fork

Production, Raw Material, Food Security, Service,

Logistic and outsourcing practices.

Food

W. M. W.

Omar and Rahman

(2015)

- AHP

Physical attributes, Process Capability,

Ethical Issues, Management

Capability

Food

S. Khan et

al. (2019) - Fuzzy AHP

Supply, Demand, Production, Outsourcing, Govermental &

Organisational

Food

S. Khan et

al. (2020) -

Fuzzy Delphi &

Dematel

Plann, Source, Production, Logistic and outsourcing,

Market, Information Technology, Sustainability

Food

Amalia et

al. (2021) Risk Map

Method

Procurement, Delivery, Inventory,

Production, Consumer

Fast Food

F. Azmi et al.

(2021)

- Exploratory

Factor

Price and Cost Risk, Quality Risk,

Delivery Risk

Food

(23)

Analysis (EFA)

S. Khan et

al. (2021) - Fuzzy BWM

Method

Plann, Source, Production,

Logistic, Market, Information Technology, Sustainability.

-

Lestari et

al. (2021)

House of Risk, Probability

Matrix Index

Plan, Source, Make, Deliver,

Return

Food

Munawir et al.

(2021)

-

AHP, Failure Mode and

Effect Analysis

Plan, Source, Make, Deliver,

Return

Food

Sarwar et

al. (2021) -

Fuzzy Best- Worst Method

Plan, source, production, logistic

& outsourcing, market, information

technology, sustainability

-

Wahyuni et al.

(2021)

Failure Mode and

Effect Analysis,

SWOT

Supplier, Process,

Distributor/Retail Food

Penelitian

ini

Delphi, MFMEA,

HOR

Planning, Sourcing, Production,

Logistic, Market, Sustainability

Food

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Penanganan Pengaduan

Tanggung jawab PR dalam melayani organisasi dan publik mencakup berbagai hal antara lain: membuat program PR secara terencana dan berkelanjutan di dalam organsasi;

Differensiasi adalah terkait dengan cara membangun strategi pemasaran di berbagai aspek dalam perusahaan.. dilakukan untuk membedakan strategi pemasaran perusahaan

Apabila dibandingkan dengan jumlah produksi ikan budidaya menggunakan karamba pada saat ini yaitu sebesar 2,4 ton ikan per tahun x 452 unit karamba = 1.084,80

Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kelayakan multimedia interaktif berbasis blended learning yang dikembangkan pada materi larutan elektrolit dan non

Metode pembelajaran di Sekolah Alam tidak terpatok dengan metode ceramah atau metode klasikal tetapi lebih banyak dengan metode bergerak, anak berkebutuhan khusus tidak

a) Evaluasi kinerja guru dalam adalah penilaian validasi terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) buatan guru sesuai Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG)

Penyakit belang pada tanaman lada pada awalnya diduga disebabkan oleh mikoplasma, namun hasil penelitian di beberapa negara menunjukka n bahwa penyakit ini disebabkan oleh dua