43
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengujian Material
Pengujian material yang dilakukan meliputi pengujian agregat kasar dan agregat halus sesuai standart ASTM. Pengujian gregat tersebut dilakukan di Laboratorium Bahan Fakultas Teknik UNS Surakarta. Selain itu juga dilakukan pengujian material fly ash dilakukan oleh Laboratorium MIPA Terpadu Universitas Sebelas Maret. Data rinci akan disajikan dalam lampiran.
4.1.1 Hasil Pengujian Agregat Kasar
Hasil-hasil pengujian tersebut disajikan dalam Tabel 4.1. Penghitungan secara lengkap terkait pengujian agregat halus terdapat pada Lampiran.
Tabel 4.1 Hasil Pengujian Agregat Kasar
Jenis Pengujian Hasil Pengujian Standart Kesimpulan
Absorbtion 2.1 % - -
Apparent Specific Gravity
2.6478 gr/ cm3 - -
Bulk Specific Gravity
2.5084 gr/ cm3 - -
Bulk Specific SSD
2.5610 gr/ cm3 2.5 – 2.7 gr/ cm3 (ASTM C-128)
Memenuhi syarat
Abrasi 26.92 % <50%
(PBI 1971)
Memenuhi syarat
4.1.2. Hasil Pengujian Agregat Halus
Hasil-hasil pengujian tersebut disajikan dalam Tabel 4.2. Penghitungan secara lengkap terkait pengujian agregat halus terdapat pada Lampiran.
Tabel 4.2 Hasil Pengujian Agregat Halus
Jenis Pengujian Hasil Pengujian Standar Kesimpulan
Absorbtion 1.93% - -
Apparent Specific Gravity
2.627 gr/ cm3 - -
Bulk Specific Gravity
2.5 gr/ cm3 - -
Kandungan Zat Organik
Kuning Muda Kuning Muda (PBI 1971)
Memenuhi syarat Kandungan
Lumpur
4.5% Maksimal 5%
(PBI 1971)
Memenuhi syarat Bulk Specific
SSD
2.548 gr/cm3 2.5 – 2.7 gr/ cm3 (ASTM C-128)
Memenuhi syarat
4.1.3. Hasil Pengujian Fly Ash
Pengujian dilakukan di Laboratorium MIPA Terpadu Universitas Sebelas Maret untuk mengetahui kandungan kimia yang terdapat dalam fly ash dari PLTU.
Hasil pengujian fly ash berdasarkan parameter yang diteliti dapat dilihat secara lengkap pada lampiran.
Tabel 4.3. Persyaratan Kandungan Kimia Fly ash
Senyawa
Kelas Campuran Mineral
N F C
SiO2+Al2O3+Fe2O3. min. % 70 70 50
SO3. maks. % 4 5 5
Moisture content. maks. % 3 3 3
Loss of Ignition. maks. % 10 6 6
Berikut adalah grafik hubungan kadar Kalsium Dioksida (CaO) dengan SiO2+Al2O3+Fe2O3 terhadap kelas fly ash berdasarkan ASTM C618-03:
Gambar 4.1 Klasifikasi Fly Ash Berdasarkan Hubungan Presentase CaO dan Al2O3+ SiO2+Fe2O3
Jumlah kandungan Al2O3 + SiO2 +Fe2O3 adalah sebesar 64.17 % dengan kandungan Al2O3sebesar 11.29 %, SiO2sebesar 31.76 %, Fe2O3sebesar 21.12 %.
Sedangkan kadar SO3sebesar 1.67% dan CaO sebesar 15.02 %. Sehingga menurut ASTM C-618 fly ash yang digunakan termasuk kedalam fly ash kelas C sedangkan menurut CSA A3001 termasuk fly ash tipe Cl. seperti yang ditunjukkan belah ketupat merah pada gambar 4.1 diatas.
4.2. Mix Design Adukan Beton
Perencanaan mix design didasarkan SNI-03-2384-2000 dan menyesuaikan EFNARC 2002 untuk ketentuan-ketentuan SCC. Setelah mix design dibuat dilakukan beberapa kali trial. Penghitungan secara lengkap rancang campur adukan beton atau mix design disajikan pada lampiran. Dari penghitungan tersebut diperoleh kebutuhan bahan adukan beton jenis High Volume Fly Ash - Self Compacting Concrete (HVFA- SCC) dan jenis Beton Normal untuk 1 m3 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.4
Kode Presentase Fly Ash
Semen (kg/m3)
Fly Ash (kg/m3)
Kerikil (kg/m3)
Pasir (kg/m3)
Air (lt/m3)
SP (lt/m3) HVFA
60%
60% 200 300 771.32 867.62 145 8
NC - 450 0 954.69 670.31 225 0
4.3. Hasil Pengujian Sampel 4.3.1. Hasil Pengujian Beton Segar
Pengujian High Volume Fly Ash – Self Compacting Concrete (HVFA-SCC) terdiri dari Flow Table Test. L-Box Test. dan V-funnel Test. Pada beton normal dilakukan pengujian slump.
Tabel 4.5 Hasil Pengujian Beton Segar HVFA-SCC
Pengujian
Hasil
Pengujian Syarat Kesimpulan Slump flow D1 : 700
D2 : 700
650-800
mm Memenuhi
T50 :3.11 sec 2-5 sec
V-funnel 9.57 sec 6-12 sec Memenuhi
L-box (h2/h1)
(9/8.5) = 0.94 0.8-1 Memenuhi
Nilai slump yang didapat pada pengujian beton normal adalah 12 cm. Berdasarkan PBI 1971 nilai slump yang disyaratkan untuk beton normal adalah 7.5-15 cm.
Sehingga nilai slump memenuhi syarat.
Rancang Campur Beton High Volume Fly Ash – Self Compacting Concrete (HVFA-SCC) dan Beton Normal
4.3.2. Hasil Pengujian Berat Volume
Berat volume didefinisikan sebagai massa suatu bahan per satuan volume bahan tersebut. Bentuk persamaan berat jenis dapat ditunjukkan sebagai berikut:
Dengan:
B = Berat volume (kg/m3) m = massa/ berat (kg) v = volume (m3)
pengujian berat volume beton untuk mengetahui berat masing-masing benda uji.
hasil pengujian disajikan dalam Tabel 4.6
Tabel 4.6 Hasil Pengujian Berat Volume Benda Uji
No. Benda Uji Volume (cm3)
(cm3 )
Berat (gr)
(gr)
Berat volume (kg/cm3)
(kg/m3 )
Rata-rata (kg/cm3)
(kg/m3) 1 HVFA28.60.A 5301.44 12785 2411.610012
2401.76 2 HVFA28.60.B 5301.44 12721 2399.537815
3 HVFA28.60.C 5301.44 12758 2406.517054 4 HVFA28.60.D 5301.44 12723 2399.915071 5 HVFA28.60.E 5301.44 12677 2391.238179
6 NC28.A 5301.44 12355 2330.499937
2357.09
7 NC28.B 5301.44 12407 2340.308597
8 NC28.C 5301.44 12726 2400.462092
4.3.3. Hasil Pengujian Kuat Desak Beton
Pengujian kuat desak silinder beton dilakukan menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM) pada Laboratorium Material Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta untuk mengetahui kurva hubungan antara tegangan dan regangan beton yang terjadi saat pembebanan sampai mengalami keruntuhan.
Hasil pengujian digunakan untuk membandingkan kurva tegangan-regangan beton pada beton HVFA-SCC dengan kadar fly ash 60% dan beton normal dengan ...(4.1)
menggunkan restraint teflon dan grease. Dengan beban maksimum dapat diperoleh kuat tekan beton dengan persamaan berikut:
Dengan : f’c = kuat tekan (N/mm2) P = beban (N)
A = luas penampang (mm2) hasil pengujian disajikan dalam Tabel 4.7 Tabel 4.7 Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton
No. Benda Uji Luas (mm2)
(cm3)
P Maks (N)
(gr)
Kuat Desak (MPa)
(kg/m3)
Rata-rata (MPa) (kg/m3)
1 HVFA28.60.A 17671.46 417.74 23.639
21.871
2 HVFA28.60.B 17671.46 373.93 21.160
3 HVFA28.60.C 17671.46 391.74 22.168
4 HVFA28.60.D 17671.46 365.92 20.707
5 HVFA28.60.E 17671.46 383.14 21.681
6 NC28.A 17671.46 461.54 26.118
24.070
7 NC28.B 17671.46 349.54 19.780
8 NC28.C 17671.46 464.94 26.310
4.3.4. Hasil Grafik Hubungan Tegangan dan Regangan
Berdasarkan ASTM C-39M kecepatan stress rate mesin UTM yang disyaratkan untuk membebani benda uji dengan diameter 150 mm adalah 0.25 MPa/s. Melalui percobaan trial and error, stress rate tersebut dikonversikan menjadi strain rate dan diperoleh nilai sebesar 1 mm/menit. Dari uji mesin UTM akan didapat data grafik hubungan kenaikan beban P (kN) terhadap kenaikan deformasi yang dialami oleh benda uji. Selanjutnya grafik tersebut diolah menjadi grafik hubungan tegangan-regangan beton, strain gauges dipasang pada arah horisontal untuk mendapatkan nilai regangan lateral.
Hasil pengujian diperoleh grafik hubungan tegangan-regangan ditampilkan sebagai berikut :
...(4.2)
Gambar 4.2 Grafik Tegangan-Regangan Beton Normal
Gambar 4.3 Grafik Tegangan-Regangan HVFA-SCC 60%
4.3.5. Pembahasan Hasil Pengujian Hubungan Tegangan-Regangan HVFA-SCC dan Beton Normal
Hasil grafik hubungan tegangan-regangan yang ditampilkan di atas dirata-rata perkenaikan beban (P) dengan menentukan batas regangan yang akan disajikan dalam Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 sebagai berikut :
Gambar 4.4 Perbandingan Hasil Rata-rata Kurva Tegangan-Regangan HVFA- SCC 60% dan Beton Normal
Dari grafik tersebut dapat diolah menjadi beberapa informasi data yaitu tegangan maksimum (maximum stress. f’c), regangan puncak (peak strain. ԑ0), maksimal regangan (maximum strain. ԑmax), daktilitas, serta modulus elastisitas beton (Ec) yang dapat ditentukan dari regangan pada saat tegangan 0.4 f‟c seperti pada peraturan ASTM C 469 “Standart Test Method for Static Modulus of Elasticity”.
Tabel 4.8
No Parameter
Sampel Beton Normal
HVFA 60%
1. Maximum stress (f'c) (Mpa) 24.070 21.871 2. Residual stress (fr) (Mpa) 1.731 1.362
3. Peak strain (ԑ0) 0.006 0.005
4. Maximum strain (ԑmax) 0.040 0.041
Perhitungan indeks toughness dilakukan dengan menghitung luas daerah dibawah grafik tegangan-regangan yang telah di normalisasi. Perhitungan batas toughness dilakuakan berdasarkan penelitian dari S.Kumar, dkk dan ACI 374.2R-13.
Berdasarkan penelitian S.Kumar dkk, toughness didapat dengan menghitung luas dibawah gafik hingga 0,4fc’ pada daerah descending branch sebagai batas perhitungannya. Sedangkan menurut ACI 374.2R-13 batas perhitungan luas grafik hingga 0,8f’c pada daerah descending branch.
Gambar 4.6 Perhitungan Indeks Toughness Berdasarkan Penelitian S.Kumar dkk Hasil Data dari Hubungan Tegangan-Regangan HVFA-SCC dan Beton Normal
Gambar 4.6 Perhitungan Indeks Toughness Berdasarkan ACI 374.2R-13 Dalam hal ini indeks toughness HVFA SCC 60% dibandingkan dengan beton normal, beton normal dianggap bernilai 1 sebagai kontrol pembanding sehingga nilai indeks toughness HVFA SCC dapat dihitung sebagai berikut.
Berdasar penelitian Kumar, dkk
Indeks toughness HVFA SCC 60%
Berdasar ACI 374.2R-13
Indeks toughness HVFA SCC 60%
Hasil perhitungan tersebut disajikan dalam Tabel 4.9 sebagai berikut
Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Indeks Toughness Parameter Menghitung
Indeks Toughness HVFA-SCC 60% Beton Normal Menurut Penelitian
S.Kumar, dkk. 1.0389 1
ACI 374.2R-13 1.0781 1
Sedangkan perhitungan daktilitas menggunakan rumus sebagai berikut:
dengan :
µ = faktor daktilitas δu = regangan maksimum δy = regangan saat leleh pertama
seperti halnya toughness, regangan maksimum pada perhitungan daktilitas didasarkan pada ketentuan regangan maksimum menurut penelitian dari S.Kumar, dkk dan ACI 374.2R-13.
Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Daktilitas Parameter Menghitung
Regangan Maksimum HVFA-SCC 60% Beton Normal Menurut Penelitian
S.Kumar, dkk. 4.955 4.191
ACI 374.2R-13 3.582 2.969
Hasil perhitungan daktilitas untuk HVFA-SCC 60% memiliki nilai daktilitas lebih besar 18,2% - 20,6% dari beton normal. Hasil perhitungan daktilitas dari penelitian Karina (2018) peningkatan daktilitas HVFA-SCC terhadap beton normal pada kadar fly ash 50% didapatkan peningkatan sebesar 24,42 %, pada ...(4.3)
kadar fly ash 60% peningkatan daktitas sebesar 15,14 %, dan pada kadar fly ash 70% peningkatan daktilitas sebesar 69,85%. Dari hasil tersebut dapat diketahui peningkatan daktilitas yang signifikan terjadi bila kadar fly ash yang digunakan sebesar 70%. Perhitungan modulus elastis dengan menggunakan rumus empiris didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.11 Hasil Hitungan Modulus Elastisitas HVFA-SCC dan Beton Normal
No
Parameter (Modulus Elastisitas)
Jenis Sampel Beton
Normal
HVFA 60%
1 ASTM C 469 4035.89 4564.45
2 FIP-CEB 31038.17 30013.78
3 ACI 363-10 23188.07 22388.40
4 SKSNI
2847:2013
24803.72 23585.97
Nilai modulus elastisitas dari beberapa persamaan di atas memiliki pola yang sama. Nilai dari modulus elastisitas beton dipengaruhi oleh modulus elastisitas pasta cementitious material dan modulus elastisitas material. Penggunaan fly ash dengan volume banyak dapat mempengaruhi nilai modulus elastis.
4.3.6. Analisis Regangan
Nilai regangan lateral didapatkan dari bacaan strain gauges lateral yang dihubungkan dengan alat P3 pada silinder beton diuji menggunakan UTM dan menggunakan restraint reflon dan grease. Selanjutnya nilai tersebut diplot pada grafik berdasarkan kenaikan tegangan. Berikut adalah grafik hubungan regangan lateral terhadap tegangan.
Gambar 4.7 Grafik Tegangan-Regangan Lateral Strain Gauges
Dari hasil grafik tegangan-regangan tersebut terlihat bahwa pembacaan regangan pada strain gauges masih berlangsung hingga post-peak. Pada hasil pembacaan regangan lateral tersebut regangan lateral pada atas dan tengah relatif sama, sedangkan pada bagian bawah terjadi lonjakan nilai regangan lateral setelah kuat tekan 3.67 Mpa.
Gambar 4.8 (a)ilustrasi uji beban uniaxial pada silinder beton (b) tekanan elemen di zona tengah (c) tekanan elemen pada zona ujung (d) perilaku tekanan-regangan
beton
Dari ilustrasi yang dijabarkan oleh S. Kumar, dkk dalam jurnalnya Effect of platen restraint on stress-strain behavior of concrete under uniaxial compression
digambarkan bahwa zona tengah silinder mengalami tekanan uniaksial yang hampir seragam digambarkan pada Gambar (b), sementara keadaan kompleks terjadi seperti Gambar (c) pada zona ujung karena pengaruh gesekan antara spesimen dan pelat baja, yaitu keadaan pengekangan ujung spesimen. Jika pengekangan plat dikurangi dari kedua ujung spesimen σc akan mendekati nol, sehingga regangannya cenderung merata pada zona tenah dan zona akhir.
Gambar 4.9 Grafik Perbandingan Tegangan-Regangan Lateral Strain Gauges HVFA-SCC dan beton normal
Dari Gambar 4.10 tersebut dapat dilihat bahwa regangan lateral HVFA-SCC dan beton normal sebelum peak relatif sama. Pada sampel HVFA-SCC 50% regangan lateral terus terbaca terjadi sampai regangan 0.019.
4.3.7. Perbandingan Hubungan Tegangan-Regangan HVFA-SCC dan Beton Normal
Dalam membandingkan HVFA-SCC dengan beton normal harus pada tegangan dan regangan yang sama. Oleh karena itu peneliti menggunakan metode mengkonversi hasil eksperimen hubungan tegangan-regangan dalam bentuk persentase. Grafik hasil plotting nilai persentase ini biasa disebut grafik non-
dimensional. Data tegangan regangan maksimum masing-masing benda uji digunakan sebagai pembanding pada kondisi 100%. Berikut adalah grafik non- dimensional hubungan tegangan-regangan HVFA-SCC dengan beton normal:
Gambar 4.10 Grafik Non-dimensional Beton HVFA-SCC dan Beton Normal Terlihat pada grafik diatas. pada kondisi pre-peak dan post-peak karakteristik garis relatif sama.
4.4. Analisis Hubungan Tegangan-Regangan HVFA-SCC dan Beton Normal
4.4.1. Pemodelan Berdasarkan Rumus Empiris
Untuk menguji validitas data. diperlukan pemodelan berdasarkan rumus empiris.
Berikut adalah beberapa pemodelan hubungan tegangan-regangan : 1. Equation Domingo J. Carreira
Contoh perhitungan pada sampel HVFA-SCC kadar 60% sebagai berikut:
Diketahui:
F’c = 21.764 Mpa ε’c = 0.00509 ε = 0.0003
a. β dari nilai f’c atau kuat tekan beton
Karena f’c ≤ 34.4 Mpa, β dapat dihitung menggunakan hubungan β dan f’c dengan rumus sebagai berikut.
b. menentukan nilai f’c
Jadi di dapatkan fc = 2.767 Mpa
Perhitungan diatas diulang sesuai nilai regangan pada data hingga membentuk suatu grafik tegangan-regangan beton.
2. Equation CEB Model
Contoh perhitungan pada sampel HVFA-SCC kadar 60% sebagai berikut:
Diketahui:
F’c = 21.764 Mpa ε’c = 0.00509 ε = 0.0003
a. Menentukan modulus elastis initial (Eit) dan modulus elastisitas secant (Eo) Berdasarkan persamaan CEB Model sebagai berikut.
Eit
...(4.4)
...(4.5)
...(4.6)
= 27790.2 E0
= 4273.018
b. Menentukan fc
Berdasarkan Eit prediksi
fc = 6.529 Mpa
Perhitungan diatas diulang sesuai nilai regangan pada data hingga membentuk suatu grafik tegangan-regangan beton.
3. Equation Ali Khajeh Samani
Contoh perhitungan pada sampel HVFA-SCC kadar 60% sebagai berikut:
Diketahui:
f’c = 21.764 Mpa fr = 1.361 Mpa ε’c = 0.00509 ε = 0.0003
a. Menentukan modulus elastis (Ec) Berdasarkan ACI 318-63
...(4.7)
...(4.8)
...(4.9)
b. Menentukan nilai A dan B
c. Menentukan fc pada pre-peak dan post-peak softening 1. Fungsi pre-peak
Dengan
Sehingga perhitungan menjadi seperti berikut:
Mpa 2. Fungsi post-peak
. dengan ε ≥ εo Menentukan fic
...(4.10)
...(4.11)
...(4.13) ...(4.12)
...(4.14)
Sumber : A.K Samani. M.M. Attard / Engineering Structure 41 (2012) 335-349
Gambar 4.11
Untuk beton Untuk beton dengan f‟c 20-50 MPa didapat nilai dari Mander et al sebesar 1.81 sehingga.
Menentukan f pada saat εi post peak
Dari ketiga pemodelan diatas dihasilkan tegangan prediksi saat regangan yang sama. Berikut adalah grafik dari ketiga pemodelan diatas.
Perbandingan Hasil Eksperimen dengan Pemodelan Prediksi untuk Rasio Regangan Infleksi
Gambar 4.12
4.4.2 Pengujian Keakuratan Data
Data yang digunakan dalam perhitungan keakuratan data adalah grafik perbandingan hubungan tegangan-regangan eksperimen dengan teoritis berdasarkan Ec eksperimen prediksi. Dalam penelitian ini digunakan metode
Grafik Perbandingan Hubungan Tegangan-Regangan Eksperimen dengan Teoritis Beton HVFA-SCC dan Beton Normal
statistic Coefficient of Variation of Error (COV). Perhitungan dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
Dimana.
fr prediksi = rerata tegangan prediksi
f prediksi = tegangan prediksi pada tinjauan titik f measurement = tegangan eksperimen pada tinjauan titik
Menggunakan persamaan diatas maka dapat dihasilkan COV sebagai berikut:
Tabel 4.12 Rekapitulasi Coffcient of Variation of Error (COV)
No Persamaan Model
Coffcient of Variation of Error (COV) (%)
HVFA 60% Beton Normal 1 Eq. Domingo
(fc)
Pre-peak 31.34 30.90
Post-peak 78.11 62.54
2 Eq. CEB
Model
Pre-peak 46.66 44.72
Post-peak 80.49 67.62
3 Eq. Samani Pre-peak 53.00 50.34
Post-peak 82.39 61.10
Berdasarkan rekapitulasi diatas. pada kondisi pre-peak dan post-peak pemodelan menggunakan Eq. Domingo memiliki COV yang lebih kecil dan lebih mendekati dengan eksperimen dibandingkan dengan persamaan lainnya. COV yang dihasilkan >30% dikarenakan penggunaan kekangan teflon dan grease yang mempengaruhi perilaku tegangan regangan beton. COV beton normal lebih kecil hasilnya dibandingkan dengan HVFA-SCC hal ini karena penambahan fly ash juga mempengaruhi perilaku tegangan regangan beton pada kondisi strain-softening.
...(4.15)
4.4.3. Persamaan Garis Beton Normal dan HVFA-SCC 60%
Grafik Tegangan- Regangan menghasilkan persamaan untuk hubungan stress strain sebagai berikut:
Tabel 4.13 Persamaan Garis Beton Normal dan HVFA-SCC 60%
Benda Uji Persamaan
Beton Normal
Pre-peak σ = 135169 ε2+ 3670.7 ε + 0.1053 Peak σ = -2.106ε2+ 28176 ε - 57.803
Post-peak σ = -2.1010ε5+ 2.109ε4– 8.107 ε3+ 2.106ε2 – 15905 ε + 74.162
HVFA-SCC 60%
Pre-peak σ = 183650 ε2+ 4191.1 ε + 0.0882 Peak σ = -1.106ε2+ 9933.6 ε - 4.3143 Post-peak σ = 28929 ε2- 1247.5 ε + 14.96
Pada persamaan berikut dengan tegangan (σ) sebagai nilai y dan regangan (ε) sebagai nilai x akan membentuk grafik tegangan-regangan beton.
4.4.4. Pengaruh Penggunaan Restraint Pereduksi Friksi Terhadap Perilaku Tegangan-Regangan Beton
Dalam aplikasi struktural beton dirancang untuk menahan kuat tekan lebih besar dibandingkan dengan tarik. Parameter untuk mengukur kekuatan beton yaitu pengujian pembebangan uniaksial sehingga dapat diketahui perilaku tegangan regangannya. Dari segi keamanan dan ekonomis, cara ini dinilai tepat untuk memehami peilaku tegangan-regangan beton secara benar. Hasil dari penelitian dikemukakan bahwa selama tes kuat tekan terjadi kontak antara plat mesin uji sengan spesimen benda uji menciptakan resistensi gesekan pada ujung spesimen yang mempengaruhi perilaku tegangan-regangan pada beton. Dari pengujian kuat tekan sampel HVFA-SCC dengan beragam kekangan didapatkan hasil sebagai berikut:
Gambar 4.13 Grafik Perbandingan Tegangan-Regangan HVFA-SCC dengan Berbagai Kekangan
Dari pengujian kuat tekan menggunakan teflon dan grease tersebut terjadi penggunaan kekangan teflon dan grease paling efektif untuk mereduksi friksi yang terjadi. Ditandai dengan menurunnya kuat tekan dan grafik yang curam, menandakan bahwa keruntuhan yang terjadi merata tidak tertahan gaya friksi, sehingga keruntuhan menjadi lebih cepat.