• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Judul proyek perancangan tugas akhir perancang yaitu “Perancangan Interior Bike Center di Surabaya” yang memiliki pengertian proses atau cara merancang lantai, dinding dan plafon dengan permukaan datar pada ruang dalam suatu tempat yang menjadi pusat para penyuka kendaraan beroda dua yang memiliki setang, tempat duduk dan sepasang pengayuh di kota Surabaya.

Bersepeda merupakan kegiatan yang sehat, selain itu sepeda merupakan alat transportasi yang dapat mengurangi polusi udara di jalanan. Beberapa orang memiliki hobi bersepeda, entah itu dari kalangan bawah, menengah ataupun kalangan atas, seperti petinggi-petinggi perusahaan.

Jenis sepeda yang banyak diminati di Surabaya adalah sepeda balap dan fixie atau biasanya disebut dengan sebutan road bike dan fixed gear bike. Road bike dan fixed gear bike lebih sering digunakan sebagai alat olahraga, berbeda dengan sepeda pada umumnya yang digunakan hanya untuk alat transportasi jarak dekat. Pada umumnya orang-orang bersepeda menggunakan sepeda-sepeda jenis ini di jalanan, karena memiliki rute yang panjang dan dapat mengukur ketahanan tubuh sendiri, seberapa jauh sepeda yang dikayuh ini dapat melaju. Namun, ada juga wahana yang dirancang untuk balap sepeda, wahana yang luar biasa ini sering kita jumpai di Olympic Games, wahana atau arena ini biasa disebut Velodrome. Velodrome pun ada berbagai macam ukuran, dari yang paling besar (333,3 meter) sampai ke yang paling kecil (166 meter). Tetapi tidak hanya 166 meter sampai 333,3 meter, ada Mini-Velodrome dengan panjang lintasan 25 meter yang diciptakan oleh Velotrack German serta Mahasiswa Alumni Universitas Iowa State Amerika. Di Indonesia, khususnya di Surabaya belum ada arena ini, padahal orang-orang yang ingin mencoba arena ini tidaklah sedikit, karena tidak hanya jenis track bike atau fixed gear bike yang dapat menikmati arena ini.

Maka dari itu, “Perancangan Interior Bike Center di Surabaya” ini dibuat untuk para pesepeda, khususnya pengguna fixed gear bike untuk dapat menikmati

(2)

arena Mini-Velodrome dan yang paling penting dapat berkumpul dengan komunitas sepedanya dengan lebih santai di area Bike Center. Area Bike Center ini diharapkan dapat menjadi pusat berkumpulnya para pesepeda di Surabaya, dan bisa membangkitkan minat untuk bersepeda para penduduk sekitar yang nantinya akan berkunjung ke tempat ini. Ingat, bersepeda merupakan aktifitas yang menyehatkan tubuh.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang berhubungan dengan “Perancangan Interior Bike Center di Surabaya”, antara lain :

- Bagaimana merancang pusat sepeda dengan fasilitas Velodrome yang merupakan trek bersepeda outdoor menjadi fasilitas didalam ruang atau indoor?

- Bagaimana merancang pusat sepeda dengan fasilitas ruang yang lengkap yang dapat dinikmati para pecinta sepeda bersama komunitasnya?

1.3. Tujuan Perancangan

- Merancang pusat sepeda dengan fasilitas Velodrome yang merupakan trek bersepeda outdoor menjadi fasilitas didalam ruang atau indoor.

- Merancang pusat sepeda dengan fasilitas ruang yang lengkap yang dapat dinikmati para pecinta sepeda bersama komunitasnya.

1.4. Manfaat Perancangan

Manfaat dari “Perancangan Interior Bike Center di Surabaya” ini menguntungkan beberapa pihak, antara lain :

a. Pesepeda Surabaya

- Fasilitas yang lengkap membuat para pesepeda ingin mencoba datang ketempat ini, dan ditambah adanya area komersil seperti café dan toko.

- Trek Mini-Velodrome dengan dimensi yang tepat membuat sepeda yang mengitari trek lintasan dengan lebih aman dan nyaman.

(3)

- Bisa mencoba trek Mini-Velodrome pertama yang ada di Indonesia.

b. Konsumen / Pengunjung

- Ada tempat baru yang dikunjungi dengan suasana sepeda.

- Ada café yang bisa digunakan untuk tempat bersantai yang baru, mengingat para remaja di Surabaya suka untuk bersantai di café.

c. Masyarakat Sekitar

- Ada lapangan pekerjaan yang baru.

- Berkembangnya area sekitar bangunan ini.

d. Perancang

- Menambah wawasan perancang untuk merancang bangunan interior sebagai pusat berkumpulnya para pecinta sepeda di Surabaya.

1.5. Target Perancangan

- Target Primer : Hasil Perancangan / Desain - Target Sekunder : Prototype Berskala

1.6. Ruang Lingkup Perancangan

Surabaya merupakan kota yang memiliki komunitas sepeda yang banyak besar, seperti SRBC, Rama Krakatau, Keepfix, Polygon Sweet Nice, dan masih banyak lagi. Perancang ingin merancang bangunan yang bisa mewadahi para pecinta sepeda di Surabaya. Namun tidak hanya komunitas road bike dan fixie saja, tetapi MTB dan sepeda lainnya pun boleh berkunjung, hanya memang fokus perancangan bangunan ini hanya kepada road bike dan fixie.

Bangunan ini akan beroperasional setiap hari, buka jam 11.00 sampai jam 18.00. Fasilitas – fasilitas yang ada di bangunan ini, antara lain :

a. Lobby b. Café

c. Mini-Velodrome d. Indoor Training / Gym e. Toko Sepeda

f. Bengkel / Workshop

(4)

g. Kantor Pengelola (Direktur, Manajer, Karyawan) h. Ruang Rapat

i. Locker Room j. Klinik

k. Toilet Pengelola l. Toilet

m. Gudang

n. Ruang Kontrol

1.7. Metode Perancangan

Gambar 1.1. Sumber Metode Perancang.

Sumber : http://www.chabsrok.com/

9 Maret 2014

Metode Perancangan diatas merupakan metode yang akan perancang gunakan, karena metode tersebut sesuai dengan metode yang biasanya perancang

(5)

gunakan dalam mendesain sesuatu. Mata kuliah Desain Interior I sampai dengan Desain Interior V semuanya menggunakan metode yang hampir sama dengan contoh metode di atas, sehingga perancang sudah nyaman dengan metode yang ada diatas ini.

Berikut adalah bagan metode perancangan yang digunakan oleh perancang, yang mengadaptasi dari sumber metode perancangan yang ada di atas :

Gambar 1.2. Metode Perancangan.

(6)

1.7.1. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan ini memiliki dua poin penting. Poin-poin penting tersebut antara lain :

a. Pencarian Data

Pencarian data perancang lakukan dengan beberapa alternatif agar mendapatkan data yang lengkap dan jitu. Data-data tersebut perancang peroleh dari :

• Studi Pustaka, yang dimana perancang mengumpulkan data untuk mendapatkan landasan teori mengenai objek yang akan dirancang, melalui literature, buku, majalah, internet, karya tugas akhir mahasiswa angkatan atas yang berkaitan dengan topik yang perancang ambil. Data tersebut meliputi trek lintasan balap sepeda (velodrome), toko sepeda, gym, café, klinik dan bengkel sepeda.

• Studi Lapangan, yang didapat dari wawancara kepada alumni mahasiswa Universitas Kristen Petra Jurusan Arsitektur angkatan tahun 2007 bernama Louis P.T. berkaitan dengan lokasi tempat akan didirikannya objek perancangan Bike Center di Surabaya ini.

• Studi Banding, yaitu dengan melakukan perbandingan dengan mengamati beberapa tempat yang memiliki fungsi yang hampir sama dengan objek perancangan yang akan dirancang ini, sehingga perancang dapat melihat langsung kelebihan dan kekurangan bangunan yang memiliki fungsi hampir sama. Objek pembanding yang didatangi oleh perancang yaitu Velodrome di Malang.

b. Analisa Data

Analisa data perancang memulai dari mengamati beberapa sudut pandang, antara lain :

• Pelaku, perancang mengamati pelaku dari aktifitas, dimensi, perilaku, dan gaya hidup.

• Lokasi atau Data Lapangan, diamati dari lokasi atau jalan apa bangunan ini berdiri, pengaruh bangunan di sekitarnya yang memiliki

(7)

peranan untuk bangunan objek perancangan ini, dan arah hadap bangunan ini bila dilihat menggunakan kompas.

• Keinginan atau ide yang pertama kali tercetus di kepala perancang, meskipun masih belum diuji kebenarannya, tetapi itu juga bisa menjadi bahan analisa perancang untuk tahap selanjutnya.

Pelaku, lokasi bangunan, dan keingin yang telah diamati oleh perancang memunculkan permasalahan – permasalahan yang harus dijawab pada tahap atau fase berikutnya oleh perancang.

1.7.2. Tahap Desain

Tahap dimana perancang mulai menyimpulkan dan menjawab permasalahan yang telah muncul pada tahap perencanaan, tepatnya pada saat menganalisa data sebelum ini. Perancang menjawab permasalahan itu dimulai dari merancang layout atau tatanan ruang yang baik. Setelah selesai melakukan proses layout, perancang melanjutkan dengan menggambar perspektif ruang – ruang yang telah di layout.

Tahap menggambar perspektif berarti sudah terlihat gaya desain apa yang digunakan, terlihat seperti apa suasana yang nantinya akan muncul, material apa yang digunakan dan lain – lain. Tetapi itu semua tidak keluar dari poin untuk menyelesaikan masalah yang muncul sebelumnya.

1.7.3. Tahap Pengembangan Desain

Pengembangan desain ini terjadi saat perancang selesai mendesain untuk pertama kalinya, lalu ada evaluasi pertama yang melibatkan antara perancang dan pembimbing yang menangani pada proses tugas akhir perancang. Setelah evaluasi, pembimbing memberikan saran untuk perbaikan dari ide yang muncul pertama kali. Tahap pengembangan bisa terjadi tidak hanya sekali, bisa saja dua kali atau mungkin 5 kali bila di dunia kerja, tetapi itu semua untuk terbentuknya desain yang lebih baik dari desain sebelumnya.

(8)

1.7.4. Tahap Desain Akhir

Tahap Desain Akhir baru bisa terlaksana apabila tahap pengembangan menemukan titik terang dimana perancang dan pembimbing yang berdiskusi telah sepakat desain mana yang paling baik untuk menjawab permasalahan yang ada.

Pada tahap ini perancang mulai menggunakan computer untuk rendering tampak perspektif ruangan sehingga terlihat lebih nyata. Selain tahap rendering perancang juga membuat prototype berupa maket berskala 1:50 untuk presentasi sidang akhir. Prototype ini memudahkan perancang untuk menjelaskan sirkulasi ruang yang terjadi pada desain akhir ini.

Referensi

Dokumen terkait

Hakim dalam hal ini, dapat memutuskan hukuman atau sanksi yang sesuai kadar dari seberapa besar dampak dan kerusakan yang terjadi agar supaya kejahatan pembakaran

Materi yang diberikan dalam e-learning UAN SMA ini mencakup empat mata pelajaran SMA yang termasuk dalam ujian nasional yaitu Matematika (untuk program jurusan IPA), Ekonomi

Metode analisis yang akan digunakan adalah uji beda t-test untuk menguji apakah ada perubahan tarif pajak penghasilan badan tahun 2008 terhadap praktik manajemen

Pertanggungjawaban ini dituangkan melalui laporan keuangan yang tidak hanya dapat diperoleh oleh DPRD tetapi juga oleh publik, dalam hal ini yaitu masyarakat, Lembaga Swadaya

Disisi lain persepsi mahasiswa atas harga pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian mahasiswa terhadap harga (biaya pendidikan) yang ditawarkan perguruan

Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata.DOM

Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi objek atau masalah umum dalam penelitian ini, “Bagaimana variasi bahasa yang digunakan pedagang kaki lima di

a. Program Pengalaman lapangan sebagai salah satu program wajib bagi mahasiswa UNY program studi pendidikan merupakan program yang sangat tepat dan memiliki fungsi