68 BAB V
ANALISA PEMBAHASAN 5.1 Analisa Variabel
Pada gambar 4.2 menunjukkan model Bayesian network yang dibangun sesuai dengan node yang terbentuk. Tujuh node tersebut merupakan variabel- variabel yang dapat mempengaruhi safety behavior. yaitu supporting environment, safety attitude, safety knowledge, participation, motivation, leadership dan management commitment.
5.1.1 Variabel Supporting Environment
Variabel supporting environment mempunyai 5 indikator yaitu : SE1, SE2, SE3, SE4, SE5 akan tetapi pada SE5 mempunyai hasil uji validitas kurang dari r tabel (0,012 < 0,355) sehingga dinyatakan tidak valid dan hasil uji reliabilitas lebih besar dari 0,6 (0,835 > 0,6) maka dapat dikatakan realiabel.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diinformasikan bahwa dari 31 pekerja PT Vektor Utama Indonesia, terdapat 96,77% responden menyatakan setuju bahwa adanya supporting environment yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja, sebesar 1,61% responden menyatakan netral bahwa adanya supporting environment yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja dan sebesar 1,61% responden menyatakan tidak setuju bahwa adanya supporting environment yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja.
Dalam penalaran Bayesian network diketahui bahwa probabilitas variabel supporting environment ‘good’ ditempat kerja sebesar 94,6%, sedangkan supporting environment ‘average’ sebesar 3,81% dan supporting environment
‘poor’ sebesar 2,91% sehingga probabilitas safety behavior ditempat kerja adalah sebesar 61,8%. Variabel supporting environment memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap safety behavior. Misalnya ketika supporting environment didukung penuh 100% kemungkinan pekerja yang melakukan safety behavior meningkat dari 61,8% menjadi 67%. Dengan menghargai keselamatan antar pekerja yang
didukung oleh supervisor serta menginformasikan pekerja tentang bagaimana melakukan pekerjaan dengan aman, dan pekerja saling menjaga satu sama lain tidak aman perilaku harus disediakan. (Mohammadfam et al., 2017) menyatakan bahwa ketika ada supporting environment yang baik, itu berarti karyawan mendukung perilaku safety behavior dalam keselamatan pekerja kegiatan terkait seperti penilaian risiko atau investigasi kecelakaan, kinerja departemen keselamatan memuaskan karyawan, dan manajemen menyediakan sumber daya yang cukup (waktu, personel, peralatan) untuk melakukan pekerjaan atau tugas, proporsi perilaku keselamatan di antara karyawan akan meningkat.
5.1.1 Variabel Safety Attitude
Variabel safety attitude mempunyai 4 indikator yaitu : SA1, SA2, SA3, SA4 akan tetapi pada SA1 mempunyai hasil uji validitas kurang dari r tabel (0,289
< 0,355) sehingga dinyatakan tidak valid dan hasil uji reliabilitas kurang dari 0,6 (0,016 < 0,6) maka dikatakan tidak realiabel, sehingga diperlukan perbaikan untuk menghapus salah satu item yang bernilai paling besar. Diketahui Cronbach's Alpha if Item Deleted yang paling besar yaitu 0,687 pada indicator SA2 sehingga dapat dilakukan penghapusan item. Hasil akhir setelah melakukan perbaikan uji reliabilitas untuk variebel safety attitude yaitu lebih besar dari 0,6 (0,687 > 0,6) maka dapat dikatakan realiabel. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diinformasikan bahwa dari 31 pekerja PT Vektor Utama Indonesia, terdapat 91,93% responden menyatakan setuju bahwa adanya safety attitude yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja, sebesar 6,45%
responden menyatakan netral bahwa adanya safety attitude yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja dan sebesar 1,61% responden menyatakan tidak setuju bahwa adanya safety attitude yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja.
Dalam penalaran Bayesian network diketahui bahwa probabilitas variabel safety attitude ‘good’ ditempat kerja sebesar 86,6%, sedangkan safety attitude
‘average’ sebesar 8,25% dan safety attitude ‘poor’ sebesar 5,18% sehingga probabilitas safety behavior ditempat kerja adalah sebesar 61,8%. Variabel safety
attitude memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap safety behavior. Misalnya ketika safety attitude didukung penuh 100% kemungkinan pekerja yang melakukan safety behavior meningkat dari 61,8 menjadi 64,5% . dengan menggunakan pendekatan sistem dinamis menjelaskan bahwa mengkomunikasikan informasi yang diperoleh dari kecelakaan investigasi dapat meningkatkan sikap keselamatan karyawan dan dengan demikian mengubah perilaku keselamatan mereka secara positif. (Zhao, Zhang, Liu, & Mebarki, 2021) menyatakan bahwa safety attitude dapat secara positif pengenalan dampak bahaya dan persepsi risiko. Tiga aspek sikap keselamatan yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko: sikap afektif keselamatan, sikap kognitif keselamatan, perilaku keselamatan sikap. Oleh karena itu, manajer dapat meningkatkan pengenalan bahaya pekerja dan persepsi risiko dengan meningkatkan sikap keselamatan pekerja.
5.1.3 Variabel Safety Knowledge
Variabel safety knowledge mempunyai 4 indikator yaitu : SK1, SK2, SK3, SK4 semua indicator lebih besar dari r tabel (0,682 > 0,355) sehingga dinyatakan valid dan hasil uji reliabilitas lebih besar dari 0,6 (0,697 > 0,6) maka dapat dikatakan realiabel. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diinformasikan bahwa dari 31 pekerja PT Vektor Utama Indonesia, terdapat 87,09% responden menyatakan setuju bahwa adanya safety knowledge yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja, sebesar 12,09% responden menyatakan netral bahwa adanya safety knowledge yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja dan sebesar 0,80% responden menyatakan tidak setuju bahwa adanya safety knowledge yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja.
Dalam penalaran Bayesian network diketahui bahwa probabilitas variabel safety knowledge ‘good’ ditempat kerja sebesar 71,5%, sedangkan safety knowledge ‘average’ sebesar 24,1% dan safety knowledge ‘poor’ sebesar 4,34%
sehingga probabilitas safety behavior ditempat kerja adalah sebesar 61,8%.
Variabel safety knowledge memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap safety
behavior. Misalnya ketika safety knowledge didukung penuh 100% probabilitas pekerja yang melakukan safety behavior meningkat dari 61,8% menjadi 67,1%.
Dengan memberikan pelatihan tentang keselamatan dan membiasakan pekerja baru atau yang tidak berpengalaman dengan bahaya yang ditimbulkan oleh tugas mereka dapat mengurangi perilaku tidak aman. (Namian, Albert, Zuluaga, &
Behm, 2016) menyatakan bahwa pengetahuan dan praktik dalam pengenalan bahaya dan persepsi risiko keselamatan sangat penting. Dan berdasakan pengetahuan tacit (misalnya, pengalaman, dan paparan kecelakaan) merupakan praktisi dengan pengetahuan yang berorientasi pada tindakan yang diperoleh melalui pengalaman pribadi, jarang diungkapkan secara terbuka, dan sering intuisi (Hasanzadeh, Esmaeili, & Dodd, 2017)
5.1.4 Variabel Participation
Variabel participation mempunyai 5 indikator yaitu : P1, P2, P3, P4, P5 semua indicator lebih besar dari r tabel (0,888 > 0,355) sehingga dinyatakan valid dan hasil uji reliabilitas lebih besar dari 0,6 (0,834 > 0,6) maka dapat dikatakan realiabel. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diinformasikan bahwa dari 31 pekerja PT Vektor Utama Indonesia, terdapat 84,51% responden menyatakan setuju bahwa adanya participation yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja, sebesar 14,83% responden menyatakan netral bahwa adanya participation yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja dan sebesar 0,64% responden menyatakan tidak setuju bahwa adanya participation yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja.
Dalam penalaran Bayesian network diketahui bahwa probabilitas variabel participation ‘good’ ditempat kerja sebesar 61,9%, sedangkan participation
‘average’ sebesar 35,3% dan participation ‘poor’ sebesar 2,84% sehingga pribabilitas safety behavior ditempat kerja adalah sebesar 61,8%. Variabel participation memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap safety behavior.
Misalnya ketika participation didukung penuh 100% probabilitas pekerja yang melakukan safety behavior meningkat dari 61,8% menjadi 66% .(Saedi, Ab.
Majid, & Isa, 2020) menyatakan bahwa perlunya strategi partisipasi keselamatan pekerja dan juga pengakuan akan pentingnya mengatasi partisipasi untuk menciptakan sistem kerja aman yang tinggi. Partisipasi keselamatan karyawan dapat ditingkatkan melalui penentuan efektivitas pengetahuan dan sikap.
5.1.5 Variabel Motivation
Variabel motivation mempunyai 4 indikator yaitu : M1, M2, M3, M4 semua indicator lebih besar dari r tabel (0,888 > 0,355) sehingga dinyatakan valid dan hasil uji reliabilitas lebih besar dari 0,6 (0,796 > 0,6) maka dapat dikatakan realiabel. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diinformasikan bahwa dari 31 pekerja PT Vektor Utama Indonesia, terdapat 88,70% responden menyatakan setuju bahwa adanya motivation yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja, sebesar 10,48% responden menyatakan netral bahwa adanya motivation yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja dan sebesar 0,80% responden menyatakan tidak setuju bahwa adanya motivation yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja.
Dalam penalaran Bayesian network diketahui bahwa probabilitas variabel motivation ‘good’ ditempat kerja sebesar 71,1%, sedangkab motivation ‘average’
sebesar 26% dan motivation ‘poor’ sebesar 2,91% sehingga probabilitas safety behavior adalah sebesar 61,8%. Variabel motivation memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap safety behavior. Misalnya ketika motivation didukung penuh 100% probabilitas pekerja yang melakukan safety behavior meningkat dari 61,8%
menjadi 69%. Meningkatkan motivasi dengan selalu menggunakan APD dan mengikuti praktik kerja aman, melaporkan kondisi tidak aman, mengingatkan rekan-rekan kerja tentang bahaya pekerjaan mereka dan berusaha meningkatkan kondisi keselamatan kerja yang didukung penuh dari perusahaan. (Conchie &
Donald, 2009) menyatakan bahwa setelah kepercayaan antara karyawan dan supervisor dibangun, karyawan menjadi lebih menerima pengaruh supervisor yang mana akan memudahkan supervisor untuk menginspirasi motivasi karyawan untuk mematuhi aturan dan prosedur keselamatan.
5.1.6 Variabel Leadership
Variabel leadership mempunyai 5 indikator yaitu : L1, L2, L3, L4, L5 semua indicator lebih besar dari r tabel (0,727 > 0,355) sehingga dinyatakan valid dan hasil uji reliabilitas lebih besar dari 0,6 (0,884 > 0,6) maka dapat dikatakan realiabel. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diinformasikan bahwa dari 31 pekerja PT Vektor Utama Indonesia, terdapat 88,70% responden menyatakan setuju bahwa adanya leadership yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja, sebesar 10,48% responden menyatakan netral bahwa adanya leadership yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja dan sebesar 0,80% responden menyatakan tidak setuju bahwa adanya leadership yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja.
Dalam penalaran Bayesian network diketahui bahwa probabilitas variabel motivation ‘good’ ditempat kerja sebesar 71%, sedangkan leadership ‘average’
sebesar 26% dan motivation ‘poor’ sebesar 3% sehingga probabilitas safety behavior adalah sebesar 61,8%. Variabel leadership memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap safety behavior. Misalnya ketika leadership didukung penuh 100% probabilitas pekerja yang melakukan safety behavior meningkat dari 61,8%
menjadi 65,3%. Dengan memberikan pengaruh sosial dari pemimpin yang memiliki arah yang jelas dan dapat menginspirasi bawahan untuk mencapai potensi penuh mereka dapat meningkatkan standar keselamatan tingkat tinggi, pada umumnya seseorang mau dibimbing oleh individu yang mereka hormati, itulah yang mengembangkan kualitas kepemimpinan yang diperlukan.
(Hoffmeister et al., 2014) menyatakan bahwa aspek atribut ideal dan perilaku ideal dalam kepemimpinan transformasional muncul secara konsisten sebagai prediksi penting dari berbagai hasil keselamatan dalam industri konstruksi dan aspek imbalan kontingen dalam kepemimpinan transaksional juga memiliki pengaruh terhadap iklim keselamatan dan perilaku keselamatan. Analisis (Clarke, 2013) menunjukkan hubungan yang dapat digeneralisasikan antara kepemimpinan keselamatan dan kinerja keselamatan lintas industri. Dua gaya kepemimpinan
yang paling banyak dipelajari dalam literatur kepemimpinan keselamatan era adalah kepemimpinan transaksional dan transformasional.
5.1.6 Variabel Management commitment
Variabel management commitment mempunyai 5 indikator yaitu : MC1, MC2, MC3, MC4, MC5 semua indicator lebih besar dari r tabel (0,831 > 0,355) sehingga dinyatakan valid dan hasil uji reliabilitas lebih besar dari 0,6 (0,896 >
0,6) maka dapat dikatakan realiabel. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diinformasikan bahwa dari 31 pekerja PT Vektor Utama Indonesia, terdapat 90,32% responden menyatakan setuju bahwa adanya management commitment yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja, sebesar 9,03% responden menyatakan netral bahwa adanya management commitment yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja dan sebesar 0,64% responden menyatakan tidak setuju bahwa adanya management commitment yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja.
Dalam penalaran Bayesian network diketahui bahwa probabilitas variabel management commitment ‘good’ sebesar 78,1%, sedangkan management commitment ‘average’ sebesar 19% dan management commitment ‘poor’ sebesar 2,91% sehingga probabilitas safety behavior adalah sebesar 61,8%. Variabel management commitment memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap safety behavior. Misalnya ketika management commitment didukung penuh 100%
probabilitas pekerja yang melakukan safety behavior meningkat dari 61,8%
menjadi 64,8%. Dengan aktif dalam keterlibatan manajemen melalui memimpin dengan memberi contoh dan mengadakan pertemuan bersama dengan pekerja untuk berkomunikasi dan berdiskusi kebijakan dan tujuan keselamatan dan kesehatan perusahaan. (Mullen, 2004) menyatakan bahwa keselamatan adalah penting bagi supervisor atau tidak tergantung pada kebijakan perusahaan yang terutama ditentukan dan dinyatakan oleh manajemen senior. Oleh karena itu, komitmen manajemen puncak untuk keselamatan sangat penting dalam membentuk sikap keselamatan karyawan, sehingga langkah pertama untuk
meningkatkan sikap keselamatan karyawan adalah dengan berkomitmen penuh terhadap keselamatan.
5.1.6 Variabel Safety Behavior
Variabel safety behavior mempunyai 4 indikator yaitu : SB1, SB2, SB3, SB4 akan tetapi pada SB4 mempunyai hasil uji validitas kurang dari r tabel (0,304
< 0,355) sehingga dinyatakan tidak valid dan hasil uji reliabilitas lebih besar dari 0,6 (0,751 > 0,6) maka dapat dikatakan realiabel. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diinformasikan bahwa dari 31 pekerja PT Vektor Utama Indonesia, terdapat 80,64% responden menyatakan setuju bahwa adanya safety behavior yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja, sebesar 7,52% responden menyatakan netral bahwa adanya safety behavior yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja dan sebesar 11,82% responden menyatakan tidak setuju bahwa adanya safety behavior yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja atau pun antar pekerja.
Dalam penalaran Bayesian network diketahui bahwa probabilits variabel safety behavior ‘good’ ditempat kerja sebesar 61,8%, sedangkan safety behavior
‘average’ sebesar 13,2% dan safety behavior ‘poor’ sebesar 25% sehingga probabilitas safety behavior adalah sebesar 61,8%. Variabel management commitment memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap safety behavior.
Misalnya ketika management commitment didukung penuh 100% probabilitas pekerja meningkat menjadi 64,8% , supporting environment didukung penuh 100% probabilitas pekerja meningkat menjadi 67%, participation didukung penuh 100% probabilitas pekerja meningkat menjadi 66%, leadership didukung penuh 100% probabilitas pekerja meningkat menjadi 65,3%, safety knowledge didukung penuh 100% probabilitas pekerja meningkat menjadi 67,1%, safety attitude didukung penuh 100% probabilitas pekerja meningkat menjadi 64,5%, motivation didukung penuh 100% probabilitas pekerja meningkat menjadi 69%. Dari pernyataan diatas diketahui bahwa variabel yang paling utama dari node yang menyebabkan perubahan signifikan dalam safety behavior dapat diidentifikasi dan keamanan yang efektif menjadi strategi manajemen kemudian dapat diterapkan
untuk meningkatkan safety behavior. Efek dominan dari sikap keselamatan terhadap keselamatan perilaku telah ditekankan oleh banyak penelitian. Dengan menganalisis sikap keselamatan sangat berguna dalam memprediksi niat dan perilaku karyawan yang dinyatakan dalam penelitian (Shin, Lee, Park, Moon, &
Han, 2014).
5.2 Mengetahui Strategi Terbaik
Analisis sensitivitas digunakan untuk mengetahui pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lainnya serta terhadap perilaku keselamatan secara keseluruhan. Analisis sensitivitas yang dilakukan adalah menghitung probabilitas masing-masing variabel apabila dilakukan penambahan masing-masing sebanyak 100%. Penambahan tersebut dilakukan untuk mengetahui variabel dengan pengaruh tertinggi terhadap safety behavior.
5.2.1 Simple strategies
Berdasarkan hasil analisis simple strategies, untuk meningkatkan safety behavior menunjukkan bahwa scenario terbaik dari perubahan satu variabel ketika variabel <management commitment = 100% ‘good’> adalah 64,8%, <supporting environment = 100% ‘average’> adalah 67%, <participation = 100% ‘good’>
adalah 66%, <leadership = 100% ‘good’> adalah 65,3%, <safety knowledge = 100% ‘good’> adalah 67,1%, <safety attitude = 100% ‘good’> adalah 64,5%,
<motivation = 100% ‘average’> adalah 69%. Sehingga dengan meningkatkan motivasi pekerja merupakan scenario terbaik dalam simple strategies. Namun, jika standar keselamatan yang lebih tinggi diperlukan, strategi sederhana untuk mengendalikan factor individu tidak memadai. Salah satu cara yang mungkin untuk lebih meningkatkan safety behavior adalah dengan menerapkan strategi yang mengendalikan beberapa variabel secara bersamaan yang disebut joint strategy khususnya dengan mempertimbangkan pengendalian variabel safety knowledge dan variabel motivation dapat dilihat pada gambar 5.1 dibawah ini :
Gambar 5. 1 Skenario terbaik untuk meningkatkan safety behavior menggunakan simple strategies
Berdasarkan gambar 5.1, ketika ada motivasi penuh berarti pekerja mendukung safety behavior yang baik dengan selalu menggunakan APD dan mengikuti praktik kerja aman, melaporkan kondisi tidak aman, mengingatkan rekan-rekan kerja tentang bahaya pekerjaan mereka dan berusaha meningkatkan kondisi keselamatan kerja yang didukung penuh dari perusahaan.
5.2.2 Joint strategies
Dengan mengendalikan lebih dari satu variebel secara bersamaan dapat digunakan untuk meningkatkan safety behavior (Mohammadfam et al., 2017).
Berdasarkan hasil analisis joint strategies diketahui bahwa pengendalian dua variabel yang menghasilkan dua scenario terbaik yaitu : Pertama, <safety behavior = ‘good’> adalah 75% ketika <safety knowledge = 100% ‘average’>
dan <motivation = 100% ‘average’> kedua, <safety behavior = ‘good’> adalah
70,2% ketika <participation = 100% ‘average’> dan <motivation = 100%
‘average’>. Dengan meningkatan safety knowledge dan motivation pekerja merupakan scenario terbaik dalam joint strategies seperti pada gambar dibawah ini :
Gambar 5. 2 Skenario terbaik untuk meningkatkan safety behavior menggunakan joint strategies
Berdasarkan gambar 5.2, ketika pengetahuan tentang keselamatan secara penuh dipahami dengan mengetahui aturan dan prosedur keselamatan, memahami cara menggunakan APD, menyadari bahaya umum ditempat kerja, memiliki pengetahuan yang baik tentang konsep perilaku tidak aman, kondisi tidak aman, nyaris kecelakaan, dan kecelakaan kecil oleh pekerja dapat mendukung safety behavior yang baik. Dan ada motivasi penuh dengan selalu menggunakan APD dan mengikuti praktik kerja aman, melaporkan kondisi tidak aman, mengingatkan rekan-rekan kerja tentang bahaya pekerjaan mereka dan berusaha meningkatkan kondisi keselamatan kerja yang didukung penuh dari perusahaan. Dengan
demikian meningkatkan safety knowledge dan motivation pekerja adalah scenario terbaik pada joint strategies.
Menurut (Mullen, 2004) dalam (Mohammadfam et al., 2017) langkah pertama untuk meningkatkan safety behavior adalah dengan berkomitmen penuh terhadap keselamatan perusahaan. Pengetahuan keselamatan memiliki pengaruh pada safety behavior, pengetahuan yang buruk menunjukkan ketidakefektifan pelatihan keselamatan yang diselenggarakan oleh perusahaan, karena tujuan utama diadakannya pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan pekerja tentang bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja dan manfaat dari mengikuti keselamatan praktik kerja atau penggunaan APD. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan keselamatan pekerja, subjek pelatihan tersebut harus diverifikasi. Pelatihan keselamatan yang dirancang dengan baik efektif dalam meningkatkan pengetahuan keselamatan karyawan, mengurangi perilaku tidak aman, dan akibatnya mengurangi kecelakaan kerja (Burke et al., 2006).
Selain itu supervisor dapat membantu dalam membiasakan pekerja baru atau yang tidak berpengalaman dengan bahaya yang ditimbulkan oleh tugas mereka.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Pengetahuan et al., 2022) diketahui bahwa pengetahuan keselamatan berpengaruh terhadap kecelakaan kerja, 50%
responden yang memiliki pengetahuan keselamatan cukup pernah mengalami kecelakaan kerja.
Menurut (Ghasemi et al., 2015), menggunakan sistem instensif baru dan inovatif telah terbukti efektif untuk meningkatkan kinerja keselamatan pekerja.
Motivasi memiliki pengaruh terhadap safety behavior, menurut teori motivasi Herzberg kekurangan motivasi dalam bekerja dapat menyebabkan hygiene factor (faktor kesehatan) dan motivation factor (faktor pemuas) tidak baik. Factor yang termasuk hygiene factor adalah gaji, hubungan antar pribadi, kualitas supervise, kebijaksanaan dan administarsi perusahaan. Sedangkan motivation factor adalah pengakuan, pekerjaan menantang, keberhasilan dan sebagainya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Panjaitan, Ayu, & Anggraeni, 2020) diketahui bahwa factor yang dapat memicu peningkatakan motivasi adalah program
keselamatan dan kesehatan, hubungan baik antar pekerja dan tanggung jawab terhadap pekerjaan.
5.3 Managerial Implication
Bagian ini akan menguraikan terkait implikasi manajerial dan hasil analisis yang bertujuan untuk memberikan andil terhadap praktik manajemen perusahaan. Implikasi manajerial disusun berdasarkan variebel yang memiliki nilai probabilitas terbesar pada masing-masing strategi yaitu simple strategies dan joint strategies seperti yang telah dijelaskan pada sub-bab 5.2. Nilai probabilitas yang dihasilkan dari model Bayesian network dengan menggunakan software netica tersebut dapat memberikan pandangan mengenai suatu variabel yang memiliki pengaruh terhadap safety behavior di tempat kerja, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap perusahaan. Berikut ini merupakan beberapa saran yang diberikan oleh penulis kepada perusahaan :
1. Meningkatkan motivasi dengan selalu menggunakan APD dan mengikuti praktik kerja aman, melaporkan kondisi tidak aman, mengingatkan rekan-rekan kerja tentang bahaya pekerjaan mereka dan berusaha meningkatkan kondisi keselamatan kerja yang didukung penuh dari perusahaan. Safety behavior didasarkan pada motivasi keselamatan, upaya harus dilakukan untuk meningkatkan motivasi dengan mempertimbangkan tingkat partisipasi, jumlah kejadian, target utama pada grup tertentu, dan keputusan manajemen keselamatan (Hedlund, Gummesson, Rydell, & Andersson, 2016). Didukung oleh (PEKER, DOĞRU, & MEŞE, 2022) menyatakan bahwa integritas perilaku supervisor dikendalikan dengan hubungan yang dimediasi antar safety climate dan safety behavior melalui motivation. Menurut (Ju, 2020) menggunakan pendekatan yang berpusat pada orang untuk memeriksa pekerjaan motivasi. Motivasi untuk berpartisipasi aktif bergantung pada proses pemahaman yang dipengaruhi oleh cara program diperkenalkan, konten spesifik program dan memperluas konteks batasan pada mekanisme secara internal. Salah satu
mekanismenya adalah cara perusahaan menjadi sadar akan program dan insentif untuk memperbaiki kondisi kerja (Kvorning, Hasle, &
Christensen, 2015). Dan dalam penelitian tentang motivasi dari dalam disiplin ilmu seperti sosiologi dan psikologi telah menekankan bahwa motivasi manusia itu kompleks, termasuk: tidak hanya keinginan untuk uang tetapi juga status, kepuasan kerja, penghargaan oleh orang lain dan keadilan, untuk menyebutkan beberapa saja. Namun, ini tidak berarti bahwa insentif tidak efektif. Insentif diberikan dalam konteks evaluasi kinerja dan kesimpulan kami adalah bahwa evaluasi ini jauh lebih penting sebagai motivator daripada uang yang mungkin menyertainya (Maslen & Hopkins, 2014).
2. Dengan melakukan pembaharuan dan peningkatan pada pengetahuan keselamatan untuk meningkatkan pengetahuan pekerja tentang bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja dan manfaat dari mengikuti keselamatan praktik kerja atau penggunaan APD. Pengetahuan tentang keselamatan secara penuh dipahami dengan mengetahui aturan dan prosedur keselamatan, memahami cara menggunakan APD, menyadari bahaya umum ditempat kerja, memiliki pengetahuan yang baik tentang konsep perilaku tidak aman, kondisi tidak aman, nyaris kecelakaan, dan kecelakaan kecil oleh pekerja dapat mendukung safety behavior yang baik. Pengetahuan ditemukan dan strategi yang diusulkan dalam penelitian ini dapat membantu praktisi menargetkan upaya mereka untuk mengurangi risiko cedera di tempat kerja dan mencegah insiden dari terjadi (Xu & Zou, 2021). Menurut (Grytnes, Nielsen, Jørgensen,
& Dyreborg, 2021) melalui peningkatan safety knowledge dapat meningkatkan persepsi terhadap risiko pekerja, agar para pekerja memiliki sikap kognitif keselamatan yang baik, pelatihan keselamatan juga harus mencakup beberapa pendidikan dasar tentang kognisi keselamatan.