• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TEORI PENUNJANG. 8 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TEORI PENUNJANG. 8 Universitas Kristen Petra"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

2. TEORI PENUNJANG

2.1 Investasi

Banyak bisnis yang dapat dilakukan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan di kemudian hari. Orang membeli sebidang tanah dengan harapan harga tanah tersebut menjadi naik di masa mendatang. Orang menyimpan uangnya di Bank dengan harapan mendapatkan bunga dari simpanannya. Secara umum tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan investasi. Bagi masyarakat modern kata investasi tentu tidak asing lagi, karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin berniat untuk mengembangkan asetnya dan untuk mengembangkan aset tersebut maka diperlukan investasi. Berikut ini pengertian investasi menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut:

a. Investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan masa yang akan datang (Tandelilin, 2001).

b. Menurut Halim (2005), investasi adalah “penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang” (p. 4). Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan investasi adalah pengeluaran dana yang ditanamkan saat ini dengan harapan untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih besar di masa yang akan datang.

2.1.1 Jenis-jenis Investasi

Secara umum sektor yang dapat menjadi sarana investasi terbagi menjadi dua, yaitu pada sektor rill dan sektor finansial. Investasi di sektor rill yaitu menanamkan modal atau membeli aset produktif untuk menghasilkan suatu produk tertentu melalui proses produksi. Sedangkan investasi di sektor finansial yaitu suatu aktivitas jual beli aset keuangan atau surat-surat berharga dengan harapan dapat memperoleh keuntungan.

(2)

1. Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) dan Deposito.

a) Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)

Rahardjo (2004) menyatakan Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) didefinisikan sebagai reksadana yang melakukan investasi minimal 80% pada efek pasar uang, misalnya deposito, SBI, dan lainnya Reksadana pasar uang merupakan reksadana dengan tingkat risiko paling rendah. Di pihak lain, potensi imbal hasil reksadana ini juga relatif rendah. Reksadana pasar uang sangat cocok untuk investasi jangka pendek (kurang dari 1 tahun).

b) Deposito

Menurut Senduk (2004), deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah dengan pihak bank.

Deposito atau yang sering juga disebut deposito berjangka, merupakan produk bank sejenis jasa tabungan yang biasa ditawarkan bank kepada masyarakat. Dana deposito dijamin oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan persyaratan tertentu. Deposito biasanya memiliki jangka waktu tertentu di mana dana yang telah disimpan oleh bank tidak boleh ditarik nasabah sebelum jatuh tempo. Deposito baru dapat dicairkan sesuai pada saat tanggal jatuh temponya, biasanya deposito mempunyai jatuh tempo 1, 3, 6 atau 12 bulan. Bila deposito dicairkan sebelum tanggal jatuh tempo, maka akan dikenakan penalti. Bunga deposito lebih tinggi daripada bunga tabungan. Bunga dapat diambil setelah tanggal jatuh tempo atau digabungkan lagi ke pokok deposito untuk didepositokan lagi pada periode berikutnya (Automatic Rollover).

2. Obligasi, Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) dan Properti.

a) Obligasi

Senduk (2004), mendefinisikan obligasi atau sertifikat obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah

(3)

maupun perusahaan, baik untuk menambah modal perusahaan atau membiayai suatu proyek pemerintah. Karena obligasi merupakan surat utang jangka panjang, maka agar lebih menarik investor, suku bunga obligasi sedikit lebih tinggi dibanding suku bunga deposito (kupon). Selain itu seperti saham kepemilikan obligasi dapat juga dijual kepada pihak lain baik dengan harga yang lebih tinggi (premium) maupun lebih rendah (discount) daripada ketika membelinya.

b) Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)

Rahardjo (2004), mendefinisikan reksadana pendapatan tetap (RDPT) adalah reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat utang, misalnya obligasi, termasuk obligasi pemerintah dan obligasi korporasi. Reksadana pendapatan tetap memiliki karakteristik potensi hasil investasi yang lebih besar daripada reksadana pasar uang, sementara risiko reksadana pendapatan tetap lebih besar dari reksadana pasar uang. Reksadana pendapatan tetap cocok untuk tujuan investasi jangka menengah dan panjang (lebih dari 3 tahun).

c) Properti

Senduk (2004), mendefinisikan investasi pada properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau rumah. Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua yaitu :

a. Menyewakan properti tersebut ke pihak lain sehingga mendapatkan uang sewa.

b. Menjual properti tersebut dengan harga yang lebih tinggi.

Sedangkan menurut Manurung dan Lutfi (2009), investasi di bidang properti merupakan salah satu alternatif untuk penempatan dana. Ketika produk keuangan dan berkembang pesat seperti saat ini banyak orang yang menempatkan dana pada aset tetap (fixed asset) atau aset properti. Investasi pada aset tetap (fixed asset) atau properti di Indonesia sendiri terdiri dari dua

(4)

jenis, yaitu perumahan (residential property), dan perkantoran (commercial property).

3. Reksa Dana Saham (RDS) dan Saham a) Reksa Dana Saham (RDS)

Menurut Rahardjo (2004), Reksa Dana Saham (RDS) adalah reksa dana yang melakukan penempatan investasi sekurang- kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat ekuitas (saham). Dibandingkan dengan reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap, reksadana saham memberikan potensi pertumbuhan nilai investasi yang lebih besar, demikian juga risikonya. Reksadana saham merupakan instrumen yang sesuai untuk investasi jangka panjang.

b) Saham

Widoatmodjo (2012) menyatakan saham adalah tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik (berapapun porsinya) dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut, sesuai porsi kepemilikannya yang tertera pada saham.

2.2 Proses Keputusan Investasi

Proses keputusan investasi merupakan sebuah proses yang menunjukkan bagaimana seharusnya seorang investor melakukan investasi dalam aset, yaitu aset apa yang akan dipilih, seberapa besar investasi tersebut, dan kapan investasi tersebut akan dilakukan. Oleh karena itu, untuk mengambil sebuah keputusan investasi yang terbaik seorang investor perlu melalui beberapa tahapan proses investasi, Menurut Sharpe, Alexander, & Bailey (2005) ada lima prosedur yang menjadi dasar proses investasi bagi seorang investor yaitu :

1. Penentuan kebijakan investasi

Pada tahap pertama seorang investor harus menentukan apa tujuan dari investasinya dan seberapa besar harta maupun dana yang akan diinvestasikan. Seorang investor tidak bisa mengatakan akan mendapatkan

(5)

keuntungan yang sebesar-besarnya, karena dalam investasi antara return dan resiko mempunyai hubungan yang linear atau berbanding lurus, jadi bisa saja investor tersebut justru mengalami kerugian. Oleh karena itu seorang investor perlu menentukan tujuan investasinya dengan baik agar dapat terhindar dari kerugian dan mendapatkan keuntungan (return) yang diharapkan.

2. Melakukan analisis sekuritas

Analisis sekuritas berarti menilai sebuah sekuritas secara individual untuk mengidentifikasi baik buruknya sekuritas tersebut, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan 2 filosofi berbeda yaitu:

a. Orang-orang yang berpendapat bahwa harga sekuritas adalah harga yang wajar, kalaupun ada sekuritas yang mispriced (harga terlalu tinggi atau terlalu rendah) hal itu disebabkan karena pergerakan pasar yang tidak dapat terdeteksi.

b. Orang-orang yang berpendapat bahwa terdapat sekuritas yang mispriced namun dengan bantuan analisis kurang lebih dapat mengidentifikasi sekuritas tersebut. Analisis yang digunakan terbagi menjadi dua, yang pertama adalah analisis teknikal yang menggunakan data harga di masa lalu untuk memperkirakan harga dimasa yang akan datang dan yang kedua adalah analisis fundamental yang berusaha mengidentifikasi perusahaan melalui analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan tujuan untuk memperkirakan harga saham di masa yang akan datang.

3. Membentuk portofolio

Berdasarkan hasil evaluasi analisis dapat diidentifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. Pemilihan beberapa sekuritas dimaksudkan untuk mengurangi resiko yang ditanggung.

(6)

4. Merevisi portofolio

Revisi portofolio berarti merubah portofolio yang sudah ada dengan cara menambah atau mengurangi saham yang dianggap menarik atau tidak lagi menarik. Jika diperlukan, melalui pengulangan tiga tahap di atas.

5. Mengevaluasi kinerja portofolio

Dalam tahap ini investor melakukan penilaian terhadap kinerja atau performance portofolio, baik aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun tingkat resiko yang ditanggung dari portofolio tersebut.

2.3 Dasar Pengambilan Keputusan Investasi a. Return (tingkat pengembalian)

Menurut Tandelilin (2010), return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinteraksi dan imbalan atas keberanian investor dalam menanggung risiko atas investasi yang dilakukan. Menurut Mayo (2008), komponen return dapat dibagi menjadi dua, yaitu dividen dan capital gain. Dividen merupakan pembagian sebagian keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Capital gain merupakan selisih yang terjadi antara harga pembelian dan harga penjualan. Jogiyanto (2000), menyatakan return dapat berupa realized return dan expected return.

Realized return merupakan return yang telah terjadi. Realized return dihitung berdasarkan data historis. Realized return penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi.

Expected return adalah return yang diharapkan akan oleh investor di masa mendatang, Berbeda dengan realized return yang memiliki sifat telah terjadi, expected return memiliki sifat belum terjadi.

b. Risk (risiko)

Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan penyimpangan actual return suatu investasi dengan expected return (Elton & Gruber, 1995).

Berdasarkan teori portofolio, risiko dapat dibagi menjadi dua, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Menurut Tandelilin (2010), risiko sistematis adalah risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi di pasar secara keseluruhan. Perubahan pasar tersebut akan mempengaruhi

(7)

variabilitas return suatu investasi. Risiko sistematis merupakan risiko yang tidak dapat didiversifikasi. Beberapa contoh dari risiko sistemastis yaitu inflasi, suku bunga, dan siklus ekonomi. Risiko tidak sistematis adalah risiko yang tidak terkait dengan perubahan pasar secara keselu ruhan.

Risiko ini lebih terkait pada perubahan kondisi mikro perusahaan penerbit sekuritas. Beberapa contoh dari risiko tidak sistematis yaitu struktur modal, struktur aset, dan tingkat likuiditas. Pada manajemen portofolio disebutkan bahwa risiko tidak sistematis dapat diminimalkan dengan melakukan diversifikasi aset dalam suatu portofolio. Menurut Tandelilin (2010), tujuan investor dalam berinvestasi adalah memaksimalkan return, namun tanpa melupakan faktor risiko investasi yang harus dihadapinya.

Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko investasi yang dilakukan. Hubungan tingkat risiko dan return yang diharapkan merupakan hubungan yang bersifat searah dan linier. Hal ini menunjukkan semakin besar risiko suatu aset, semakin besar pula return yang diharapkan atas aset tersebut.

2.4 Faktor Demografi

Demografi berasal dari kata demos, artinya rakyat atau penduduk dan graphien berarti mencitra, menulis, melukis atau gambaran tentang penduduk

pada suatu Negara atau wilayah. Istilah ini dipakai pertama kali oleh Guillard (1885). Demografi menurut Bogue (1973), adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.

2.4.1 Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)

(Siregar, 2006) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha dari semua kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa, baik dari belajar, pengalaman dan latihan dari sesuatu kegiatan. Cara untuk mengetahui hasil dari belajar ini

(8)

dibuat suatu alat pengukur atau tes prestasi (achievement test). Hasil pengukuran melalui tes hasil belajar dapat dinyatakan dalam bentuk nilai yang bersifat kuantitatif dalam angka 0 sampai 4 atau A, B, C, D, E. Tingkatan nilai test ini diatur menurut ranking dan diformulasikan dalam bentuk Indeks Prestasi (IP).

Indeks Prestasi (IP) yaitu Indeks Prestasi yang dihitung pada setiap akhir semester yang digunakan sebagai dasar untuk mengetahui keberhasilan belajar dari semua mata kuliah yang diikuti pada semester yang bersangkutan. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yaitu indeks prestasi yang dihitung pada akhir suatu program pendidikan lengkap atau pada akhir semester kedua dan seterusnya untuk seluruh mata kuliah yang diambilnya, yang dinyatakan dengan rentangan angka 0,00 – 4,00 (Siregar, 2006).

Indeks Prestasi Semester Dan Indeks Prestasi Kumulatif (Surat Keputusan:

198/Kept/Ukp/2011 Pasal 6 ) universitas menetapkan prestasi akademik mahasiswa dengan Indeks Prestasi Semester (IPS) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Indeks Prestasi Semester (IPS) merupakan ukuran prestasi akademik yang dicapai mahasiswa pada suatu semester. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) merupakan ukuran prestasi akademik yang dicapai mahasiswa dari awal semester hingga semester akhir yang telah ditempuh. IPK dihitung dari semua nilai mata kuliah yang pernah diambil, termasuk nilai suatu mata kuliah yang diambil kembali atau digantikan oleh mata kuliah lain pada semester-semester berikutnya.

Untuk mata kuliah yang diulang, maka nilai yang diperhitungkan adalah nilai terakhir mata kuliah tersebut. IPS dan IPK dihitung dengan rumus sebagai berikut:

𝐼𝑃𝑆 = 𝐼𝑃𝐾 =∑𝑖=1𝑛 𝑁𝑖 𝐾𝑖

𝑖=1𝑛 𝐾𝑖 Keterangan:

n : Jumlah Mata Kuliah yang diambil pada semester yang ditempuh (IPS) Jumlah Mata kuliah kumulatif sampai dengan semester terakhit yang ditempuh (IPK) Ni : Nilai angka mata kuliah

KI : Bobot sks mata kuliah

Prestasi akademik mahasiswa dinyatakan dengan huruf dan angka sebagai berikut:

PROSENTASE PENGUASAAN

NILAI ANGKA

NILAI HURUF

KETERANGAN

(9)

86%-100% 4 A Istimewa

76%-85% 3,5 B+ Baik Sekali

69%-75% 3 B Baik

61%-68% 2,5 C+ Cukup Baik

56%-60% 2 C Cukup

41%-55% 1 D Kurang

0%-40% 0 E Buruk

Cude et al.,(2006) menyatakan bahwa mahasiswa yang memiliki indeks prestasi kumulatif yang lebih tinggi akan cenderung memiliki keuangan yang lebih sehat atau lebih baik dibandingkan dengan mahasiwa yang memiliki indeks prestasi kumulatif yang rendah. Nababan & Sadalia (2012) menemukan adanya dampak positif tingkat intelektual mahasiswa terhadap tingkat literasi keuangan mahasiwa. Sabri, et al.,(2008) menjelaskan bahwa mahasiswa yang memiliki IPK yang lebih tinggi memiliki permasalahan keuangan yang lebih sedikit dibandingkan mahasiswa yang memiliki IPK yang lebih rendah.

2.4.2 Pendidikan Orang Tua

Menurut Nababan & Sadalia (2012), tingkat pendidikan orang tua adalah jenjang pendidikan terakhir yang ditempuh oleh orang tua responden. Tingkat pendidikan orang tua adalah modal untuk merawat dan memperhatikan akan kebutuhan anak, diharapkan semakin tinggi pendidikan orang tuanya maka akan semakin banyak pengetahuan yang berguna dalam merawat anaknya (Saputro &

Nurhayati, 2014).

Bhandari & Deaves (2006) berpendapat, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin berhati-hati pula dalam mengambil keputusan disertai dengan pertimbangan atas langkah yang diambil. Pendidikan orang tua berperan penting guna untuk mengatur pemanfaatan uang yang dimiliki anak dan merupakan pondasi dasar untuk pendidikan anak selanjutnya yang nantinya akan diperoleh kelak ketika sudah berkeluarga.

2.4.3 Pendapatan Orang Tua

Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan masyarakat ini mencerminkan

(10)

kemajuan ekonomi suatu masyarakat (Lumintang & Fatmawati, 2013). Menurut Sukirno (2006), pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama suatu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan maupun tahunan.

Nababan & Sadalia (2012), menyatakan bahwa pendapatan orang tua adalah tingkat penghasilan yang diperoleh orang tua responden selama perbulan baik dari penerimaan gaji, upah, ataupun penerimaan dari hasil usaha. Selain itu Aizcorbe, Kennickeell, & Moore (2003) menemukan bahwa keluarga yang memiliki pendapatan yang lebih rendah memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menabung. Pendapatan orang tua memengaruhi pengeluaran mahasiswa.

Orang tua berpendapatan lebih tinggi cenderung lebih banyak memberikan kontribusi pada pembayaran kuliah maupun tabungan. Selain itu, terdapat kemungkinan yang lebih besar individu dengan sumber dana (income) yang tersedia akan menunjukkan perilaku manajemen keuangan yang lebih bertanggung jawab, mengingat dana (income) yang tersedia memberi mereka kesempatan untuk bertindak secara bertanggung jawab (Ida & Dwinta, 2010).

2.5 Financial Literacy

Financial literacy dideskripsikan sebagai kemampuan seseorang untuk

merencanakan keuangan dengan baik dengan cara memanfaatkan tabungan dan investasi untuk mengakumulasikan kekayaan, diikuti dengan tindakan-tindakan pencegahan yang tepat terhadap risiko kerugian dan pendistribusian keuangan yang tepat pada tahap akhir (Mahdzan & Victorian, 2013). Umumnya, individu yang memiliki financial literacy yang tinggi lebih mungkin untuk terlibat dalam perencanaan keuangan, termasuk investasi di unit trust dan membeli asuransi jiwa. Hal ini berlawanan dengan individu dengan tingkat financial literacy yang rendah.

Financial literacy penting dalam pengambilan keputusan keuangan yang

sehat (Lusardi, Mitchell, & Curto, 2010). Financial literacy yang rendah merupakan persoalan yang serius karena bisa memberi dampak negatif terhadap perilaku keuangan. Seseorang atau keluarga yang tidak literate cenderung tidak merencanakan program pensiun, meminjam uang dengan tingkat suku bunga yang tinggi, memiliki sedikit aset, kurang terlibat dengan sistem keuangan formal,

(11)

diversifikasi risiko yang rendah, alokasi portofolio yang tidak efisien dan jumlah tabungan yang sedikit. Financial literacy yang rendah juga dapat menimbulkan praktek penipuan keuangan dan persaingan yang tidak sehat di pasar keuangan yang pada akhirnya dapat menjadi penghalang bagi intermediasi keuangan yang efektif (Hidajat, 2015).

Financial literacy meningkatkan kemampuan seseorang dalam menangani

masalah keuangan dan akan mengurangi konsekuensi negatif dari keputusan keuangan yang buruk yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya (Delafrooz & Paim, 2011). Shafi, Abiddin, & Ahmad (2011) menyimpulkan bahwa peningkatan financial literacy membawa dampak yang lebih tinggi dalam kegiatan perencanaan keuangan investasi tersebut di saham, properti dan asuransi jiwa.

Bhushan & Medury (2013) menjelaskan financial literacy telah menjadi semakin kompleks selama beberapa tahun terakhir dengan pengenalan banyak produk keuangan baru. Dalam rangka untuk memahami risiko dan keuntungan yang terkait dengan produk keuangan, financial literacy sudah menjadi suatu keharusan. Individu yang memiliki financial literacy dapat membuat penggunaan yang efektif dari produk dan jasa keuangan sehingga individu tidak akan mudah ditipu oleh orang-orang yang menjual produk-produk keuangan yang tidak sesuai dengan individu tersebut. Financial literacy membantu untuk meningkatkan kualitas pelayanan keuangan, memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan suatu negara. Semakin meningkatnya kompleksitas ekonomi, kebutuhan individu dan produk keuangan, individu harus memiliki financial literacy untuk mengatur keuangan pribadinya.

2.5.1 Aspek dalam Financial Literacy

Dalam mengukur financial literacy seseorang, menurut Chen dan Volpe (1998) terdapat empat kategori pengetahuan keungan, yaitu:

1. Aspek pengetahuan umum keuangan

Pengetahuan umum keuangan merupakan pemahaman terhadap beberapa hal yang umum atau dasar dalam mengatur keuangan. Pengetahuan ini meliputi pengetahuan tentang manfaat pengetahuan umum keuangan,

(12)

likuiditas suatu aset, dan pengetahuan terkait pembelanjaan uang dan penerimaan uang (Mendari dan Kewal, 2013).

2. Aspek tabungan dan pinjaman

Aspek ini merupakan pengukuran individu terhadap pengetahuan yang berkaitan dengan tabungan dan pinjaman seperti penggunaan kartu kredit.

Tabungan adalah pendapatan masyarakat yang tidak digunakan untuk konsumsi namun disimpan di lembaga keuangan tertentu. Aspek ini meliputi pengetahuan mengenai tingkat suku bunga, pengetahuan mengenai time value of money, dan kartu kredit.

3. Aspek investasi

Aspek ini meliputi pengetahuan tentang definisi investasi, produk investasi, dan resiko investasi. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana terhadap sumber daya tertentu, yang dilakukan pada saat ini dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa mendatang. Keputusan investasi dapat dilakukan oleh individu yang sedang kelebihan dana (Tandelilin, 2010).

4. Aspek asuransi

Aspek ini meliputi pengetahuan dasar asuransi, produk-produk asuransi, dan manfaat asuransi. Produk asuransi ada banyak mengikuti tujuan proteksi tiap individu. Aspek ini meliputi pengetahuan mengenai manfaat asuransi, jenis asuransi, dan premi asuransi.

2.6 Personal Atitude

Personal Attitude mulai menjadi fokus pembahasan dalam ilmu sosial semenjak awal abad 19. Dalam oxford Advanced Learner Dictionary menjelaskan bahwa personal attitude, berasal dari bahasa Italia attitudine yaitu "Manner placing or holding the body, dan way of feeling, thinking or behaving" yang artinya sikap individu adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku. Mekanisme mental membentuk pandangan, mempengaruhi perasaan dan ikut menentukan kecenderungan perilaku individu terhadap manusia lainnya disebut fenomena sikap. Fenomena sikap yang timbul tidak saja ditentukan oleh keadaan objek yang sedang dihadapi tetapi juga

(13)

dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu, situasi sekarang, dan oleh harapan-harapan untuk masa yang akan datang.

Secara historis, istilah ‘sikap’ digunakan pertama kali oleh Herbert Spenser di tahun 1862 yang pada saat itu diartikan sebagai sikap mental seseorang (Allen, Guy & Edgley, 1980). Berikut ini adalah pengertian sikap individu dari beberapa para ahli antara lain (Azwar, 2007, p.4-7) :

1. Thurstone mendefinisikan sikap individu adalah suatu bentuk eveluasi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) atau tidak memihak (unfavorable).

Maka disimpulkan bahwa sikap individu sebagai derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis.

2. LaPierre (1934), Mead (1934), on Allport (935) sikap individu merupakan suatu pola perilaku, kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial. Secara sederhana disimpulkan bahwa sikap individu adalah respon terhadap stimuli yang telah dikondisikan.

3. Secord & Backman (1964) sikap individu merupakan keteraturan dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.

4. Petty & Cacioppo secara lengkap mengatakan sikap individu adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan objek tertentu.

5. Dalam penelitian Ajzen (1988) sikap individu harus didasarkan pada suatu fenomena yang diamati. Fenomena ini berupa respon terhadap objek sikap dalam berbagai bentuk.

Tabel 2.1 Tabel penelitian azjen Tipe Respon Kategori Respon

Kognitif Afektif Konatif

Verbal Pernyataan keyakinan mengenai objek sikap

Pernyataan perasaan terhadap objek sikap

Pernyataan intens perilaku

Non Verbal Reaksi konseptual terhadap objek sikap

Reaksi psikologis terhadap objek sikap

Perilaku tampak pada objek sikap

(14)

2.6.1 Komponen Personal Attitude

Dalam Azwar (2007, p.24-25) menyatakan bahwa personal attitude yang dimiliki individu memiliki 3 komponen yaitu :

a. Komponen kognitif

Komponen kognitif merupakan komponen yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang menurut seseorang.

Kepercayaan datang dari apa yang dilihat atau dari yang diketahui oleh seseorang. Sekali kepercayaan telah terbentuk, maka akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tertentu

b. Komponen afektif

Komponen afektif merupakan komponen yang menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.

Pada umumnya, reaksi emosional yang merupakan komponen afektif ini banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang dipercayai seseorang sebagai benar atau salah. Contohnya area wilayah kumuh dianggap oleh kebanyakan orang sebagai tempat yang kotor dan ancaman terhadap tindakan kriminal, maka akan terbentuk perasaan tidak suka atau afeksi yang non favorable terhadap area yang kumuh.

c. Komponen perilaku

Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada di dalam diri seseorang berkaitan dengan objek yang dihadapinya. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan seseorang banyak mempengaruhi perilaku. Bagaimana seseorang berperilaku dalam situasi tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana perasaan dan kepercayaannya. Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Karena itu, merupakan suatu hal yang logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang akan dicerminkan dalam bentuk objek. Apabila seseorang

(15)

percaya bahwa daging kuda tidak enak rasanya, maka wajar jika orang itu tidak akan mau makan daging kuda.

2.6.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Attitude

Azwar (2007, p.30-38) menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap individu, yakni :

1. Pengalaman pribadi

Tidak adanya pengalaman yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu objek psikologis, cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Sikap yang lebih mudah terbentuk jika seseorang melibatkan faktor emosional dalam situasi tertentu.

2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, seorang individu cenderung untuk memiliki sikap yang sama/searah terhadap orang yang dianggapnya penting.

3. Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan memiliki peran penting dalam membentuk pribadi seseorang.

Kebudayaan memberikan corak pengalaman bagi individu dalam suatu masyarakat. Kebudayaan berperan sebagai pengarah bagi setiap individu dalam menyikapi suatu masalah.

4. Media massa

Berbagai bentuk media massa, seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan individu. Media massa memberikan pesan-pesan yang mengarahkan opini seseorang. Pesan-pesan tersebut cenderung akan membentuk sikap tertentu didalam diri seseorang.

5. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Kedua lembaga ini mempengaruhi pembentukan konsep moral dalam diri seseorang. Pemahaman terhadap yang baik dan buruk, boleh dan tidak boleh dilakukan, pada umumnya diperoleh dari edukasi yang diberikan oleh lembaga pendidikan dan lembaga agama. Selain itu konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaan sehingga berperan dalam menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu hal.

(16)

Apabila terdapat sesuatu hal yang bersifat kontroversial, maka akan dicari rujukan lain memperkuat keyakinan seseorang.

6. Faktor Emosional

Suatu bentuk sikap yang didasari oleh emosi, yang berfungsi sebagai penyaluran ego. Sikap demikian timbul saat seseorang sedang mengalami stress atau sedang menghadapi masalah yang berat. Tetapi emosi merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu saat stress telah hilang, tetapi bisa juga bersifat menetap jika stress terjadi dalam jangka waktu yang lama.

2.7 Hubungan Antar Konsep

2.7.1 Pengaruh Faktor Demografi terhadap Keputusan investasi

Faktor Demografi dalam penelitian ini, terdiri dari IPK (Cude et al., 2006), pendidikan orang tua (Valina Puby, 2015), dan pendapatan orang tua (Kusumawati, 2013).

Mahasiswa yang memiliki IPK lebih tinggi pada umumnya mampu memahami setiap materi perkuliahan dan cenderung memiliki konsep keuangan yang lebih baik sehingga menyebabkan pengetahuan keuangan mereka berbeda dengan mahasiswa yang IPKnya lebih rendah. Pengetahuan tentang konsep keuangan akan membantu mahasiswa dalam memilih dan melakukan keputusan investasi. Ketika mahasiswa sudah sadar akan pentingnya melakukan keputusan investasi yang benar maka akan mengurangi kesempatan terjebak dalam penipuan investasi. Cude et al., (2006) menyatakan bahwa semakin tinggi nilai IPK, maka literasi keuangannya juga akan lebih sehat atau lebih baik, sehingga mempengaruhi dalam berinvestasi. Penelitian yang dilakukan oleh Margaretha dan Pambudhi (2015) menyimpulkan bahwa IPK mahasiswa mempengaruhi pengetahuan keuangan mahasiswa, semakin tinggi IPK, maka mahasiswa akan semakin baik dalam mengelola keuangan pribadinya (literasi keuangan).

Tingkat Pendidikan orang tua berhubungan dengan jenjang pendidikan yang pernah ditempuh dan berpengaruh terhadap pola pemikiran dan wawasan yang dimiliki. Orang Tua dengan tingkat pendidikan lebih tinggi biasanya akan mentransfer wawasan atau pemahaman kepada mahasiswa seperti pengetahuan akan investasi. Pengetahuan tentang investasi tersebut akan membantu mahasiswa

(17)

untuk dapat memutuskan investasi mana yang baik untuk menunjang kebutuhan di masa depan dan akan memperbaiki kondisi keuangan yang dikelola sehingga mahasiswa tidak menjadi korban penipuan investasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Carolina (2015) menyatakan bahwa tingginya tingkat pendidikan akan membantu seseorang dalam mengumpulkan kekayaan pribadi dan paham akan cara mengelola kekayaan tersebut. Jika seseorang tersebut berpendidikan tinggi, maka se-seorang tersebut akan dapat mengelola kekayaannya sebagai sumber untuk berinvestasi. Selain itu, investasi akan membantu seseorang dalam menjalankan usaha dan menutup hutang.

Pendapatan orang tua sangat berpengaruh terhadap keputusan berinvestasi, karena investasi dapat diukur melalui seberapa besar atau berapa banyak pendapatan yang dimilikinya. Pendapatan orang tua yang besar dapat mempengaruhi pemberian uang saku kepada mahasiswa. Mahasiswa dengan uang saku lebih besar memiliki kesempatan lebih dalam berinvestasi dan menentukan keputusan investasinya. Mahasiswa yang mulai berinvestasi akan mempertimbangkan seberapa besar pendapatan yang diperoleh dan berapa persen pendapatan yang akan dialokasikan dalam pemilihan jenis investasi. Pendapatan yang besar pastinya akan membantu dan mempengaruhi mahasiswa dalam menentukan jenis investasi, baik itu yang berisiko tinggi maupun yang berisiko rendah, dengan keuntungan yang sesuai dengan risiko yang diambil. Pendapatan orang tua mempunyai pengaruh terhadap pengelolaan keuangan, semakin banyak pendapatannya maka semakin besar pertimbangan untuk melakukan keputusan berinvestasi (Kusumawati, 2013).

2.7.2 Pengaruh Financial Literacy terhadap Keputusan investasi

Financial literacy memiliki peran yang penting dalam menetapkan tujuan keuangan tidak hanya bagi individu tapi juga keluarga, oleh karena itu pemahaman keuangan seseorang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan investasi. Melihat kenyataan banyaknya kasus penipuan investasi saat ini, karena mahasiswa masih memiliki edukasi yang minim tentang pengetahuan investasi sehingga tidak mengetahui resiko dan bahaya dari produk yang ditawarkan. Semakin baiknya pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan investasi maka akan semakin meningkatkan minat mahasiswa untuk melakukan

(18)

keputusan investasi yang baik. Menurut Lusardi (2010) rendahnya financial literacy berpengaruh terhadap perencanaan keuangan masa depan, sedangkan ketidaktahuan tentang konsep dasar keuangan dapat berhubungan dengan rendahnya perencanaan keputusan investasi.

2.7.3 Pengaruh Personal Attitude terhadap Keputusan investasi

Personal attitude merupakan sikap individu yang menyatakan tanggapan seseorang terhadap suatu obyek, baik dalam bentuk tanggapan positif, sedang, maupun negatif. Individu yang memiliki personal attitude positif cenderung mengambil tindakan yang bijak. Sebaliknya, personal attitude negatif cenderung mendorong seseorang untuk mengambil tindakan yang tidak bijak. Sikap individu pada kategori sedang berarti responden bersikap netral. Ketiga jenis sikap tersebut dapat dilihat dari perilaku keputusan investasi. Sikap positif berarti sikap yang memandang setiap orang perlu berinvestasi agar memiliki persediaan uang yang memadai untuk membiayai kehidupan di masa depan, sedangkan sikap negatif berarti sikap memandang keputusan investasi sebagai kegiatan yang berat, rumit, beresiko dan hanya cocok bagi yang memiliki uang dalam jumlah besar. Sikap sedang berarti individu memandang keputusan investasi biasa saja/netral.

Dalam penelitian Budiono dan Wibisono (2015), sikap keuangan yang baik menunjukan pengelolahan keuangan, penganggaran keuangan pribadi, dan berbagai keputusan individu dalam hal keuangan yang baik pula. Individu yang merasa perlu melakukan pengelolahan keuangan dan melakukan penganggaran keuangan akan cenderung memiliki perilaku keuangan baik dibandingkan individu yang merasa tidak perlu melakukannya. Hal tersebut yang mendorong seseorang untuk mengelola keuangannya dengan baik termasuk dalam hal keputusan investasi

(19)

2.8 Kerangka Berpikir

Berdasarkan hubungan antar konsep, maka kerangka berpikir penelitian ini adalah:

2.9 Hipotesa Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka peneliti membuat hipotesa penelitian sebagai berikut:

1. Faktor Demografi (IPK, pendidikan orang tua, pendapatan orang tua) berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi mahasiswa KTI yang menempuh kuliah di Universitas Kristen Petra Surabaya.

2. Financial Literacy berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi mahasiswa KTI yang menempuh kuliah di Universitas Kristen Petra Surabaya.

3. Personal Attitude berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi mahasiswa KTI yang menempuh kuliah di Universitas Kristen Petra Surabaya.

Faktor Demografi

Financial literacy

Personal Attitude

Keputusan Investasi Mahasiswa Kawasan

Timur Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Pengembangan obyek wisata Pantai Labuhan Jukung telah memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat di Kawasan Pantai Labuhan Jukung, yakni dampak terhadap

Organ ini terdiri atas lapisan otot dan serat kolagen yang berfungsi dalam proses penelanan makanan dan membantu membuang kelebihan air pada makanan yang dimakan, juga sangat

Dalam usaha forwarding, selain usaha-usaha pe- masaran logisik di luar kawasan perseroan, juga dilakukan upaya untuk meningkatkan pangsa pa- sar dengan pendekatan kepada investor

Kekhawatiran terhadap potensi semakin tidak berpihaknya kebijakan publik terhadap perempuan di tengah kondisi meningkatnya kemampuan anggaran desa, akibat kurang aktifnya

Sifat-sifat tanah yang berpengaruh nyata terhadap peubah ketersediaan P adalah kadar liat, C-organik, dan Mgdd tanah pada Inceptisols; kadar liat dan C-organik tanah pada Vertisols;

Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menyebutkan lima benar cara minum obat, keuntungan minum obat, dan akibat tidak patuh minum obat.. Beri tanda (√) jika klien

Jenis penelitian yang dipilih penulis dalam penelitian ini adalah penilitian empiris. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah yuridis sosiologis dengan teknik

1) Untuk SD: Holistik berbasis Sains (alam, sosial, dan budaya. Jumlah Jam pelajaran berubah menjadi 4 jam/minggu akibat dari perubahan pendekatan