• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dilakukan oleh sejumlah peneliti dengan daerah dan periode waktu yang berbeda. Salah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dilakukan oleh sejumlah peneliti dengan daerah dan periode waktu yang berbeda. Salah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian tentang pendapatan perkapita di berbagai negara telah dilakukan oleh sejumlah peneliti dengan daerah dan periode waktu yang berbeda. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh dilakukan oleh Khadijah (2018), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap pendapatan per kapita Kabupaten Pandeglag. Dengan menggunakan metode analisis regresi linear berganda melalui bantuan Sofware SPSS 16.0. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Jumlah Penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan per kapita.

Penelitian lain dilakukan oleh Pernanda (2020), penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepadatan penduduk terhadap PDRB per kapita di Kabupaten Karimun tahun 2013-2017. Dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif melalui bantuan Software SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 19.0.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pendapatan Perkapita.

Penelitian lain dilakukan oleh Cahyono (2021), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh belanja modal, pendapatan asli daerah dan jumlah penduduk terhadap pendapatan per kapita (Studi Empiris Pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Eks Karasidenan Surakarta Tahun 2013-2019. Dengan menggunakan metode analisis regresi linear berganda melalui bantuan Sofware IBM SPSS Statistic 20. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah dan Jumlah Penduduk berpengaruh signifikan terhadap Pendapatan Per Kapita.

(2)

Penelitian lain dilakukan oleh Kurniawan (2017), penelitian ini bertujuan unruk mengetahui pengaruh investasi dan tingkat pengangguran terhadap pendapatan per kapita di Indonesia. Dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Investasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan perkapita di Indonesia.

Penelitian lain dilakukan oleh Masniadi (2012), penelitian ini bertujuan unruk mengetahui pengaruh jumlah penduduk, tabungan dan investasi terhadap tingkat pendapatan per kapita di Indonesia. Dengan menggunakan analisis regresi berganda melalui metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Jumlah penduduk berpengaruh negatif terhadap pendapatan perkapita atau bisa dikatakan bahwa pertumbuhan penduduk menyebabkan penurunan terhadap pendapatan perkapita di Indonesia. sedangkan variabel Tingkat Tabungan dan Investasi berpengaruh positif terhadap pendapatan perkapita di Indonesia.

Penelitian lain dilakukan oleh Ratih (2017), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh investasi, pengeluaran pemerintah dan tenaga kerja terhadap PDRB dan tingkat kemiskinan pada wilayah Sarbagita di Provinsi Bali. Hasil dari penilitian ini dengan menggunakan analisis jalur (Path Analisis) dengan Partial Least Square (PLS) dan dengan bantuan Software SPSS maupun Microsoft Excel. Diketahui

bahwa Investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB Perkapita pada wilayah Sarbagita di Provinsi Bali, Pengeluaran Pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pendapatan Perkapita pada wilayah Sarbagita di Provinsi Bali dan Tenaga Kerja berpengaruh positif dan tidak signifikan pada wilayah Sarbagita di Provinsi Bali..

(3)

Dalam Penelitian ini, peneliti memiliki perbedaan dan kebaruan dari penelitian sebelumnya dengan menggunakan variabel Jumlah Penduduk, Investasi dan Pengeluaran Pemerintah, sedangkan kesamaannya ialah sama-sama meneliti tentang Pendapatan Perkapita. Objek yang digunakan berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu di Kabupaten dan Kota di Provinsi Maluku Utara dengan kurun waktu 5 tahun yaitu dari 2016-2020.

B. Landasan Teori

1. Pendapatan Perkapita

Menurut Kuncoro (2006), Pendapatan perkapita adalah gambaran bagaimana pendapatan rata-rata yang diterima setiap penduduk di suatu wilayah atau daerah tertentu selama satu tahun. Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Pendapatan per kapita diperoleh dari hasil bagi antara Pendapatan daerah dengan jumlah penduduk, jadi besarnya pendapatan perkapita ditentukan oleh kedua variabel tersebut.

Menurut Sasana (2006) Pendapatan per kapita digunakan untuk menggambarkan standar hidup suatu negara dari tahun ke tahun. Pendapatan per kapita yang meningkat adalah salah satu tanda bahwa rata-rata standar hidup penduduk telah meningkat. Perbedaan tingkat pendapatan dapat mencerminkan perbedaan kualitas hidup. Negara yang memiliki pendapatan per kapita tertinggi memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan negara yang memiliki pendapatan per kapita yang rendah.

(4)

2. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk adalah sekumpulan orang yang bertempat tinggal atau berdomisili disuatu wilayah selama jangka waktu tertentu dan sudah memenuhi syarat-syarat yang berlaku di wilayah tersebut. Penduduk merupakan semua orang yang berdomisili disuatu wilayah selama 6 (enam) bulan atau lebih dan mereka yang berdomisili kurang dari 6 (enam) bulan tetapi bertujuan untuk menetap (Badan Pusat Statistik, 2021).

Mankiw dalam Oktavia (2005) juga menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk akan mempengaruhi standard of living suatu wilayah atau negara yang dicerminkan dalam pendapatan per kapita. Negara-negara dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memiliki tingkat pendapatan per kapita yang rendah dan sebaliknya.

Penduduk sendiri mempunyai jumlah yang sangat besar. Dengan jumlah penduduk yang besar akan memberikan suatu keuntungan dalam pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi harus diimbangi dengan kemampuan dan kualitas penduduk yang mumpuni. Akan tetapi, jika denga jumlah penduduk yang besar dan kemampuan serta kualitas sumber daya manusianya tidak mumpuni maka bisa menjadi penyebab terhambatnya pembangunan ekonomi.

Terhambatnya pembangunan ekonomi, memberikan pengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

3. Investasi

Investasi merupakan sebuah aktivitas menyimpan atau menempatkan modal baik berupa uang atau aset berharga lainnya kepada suatu lembaga atau suatu pihak pada periode tertentu dengan harapan penyimpanan tersebut dapat

(5)

menimbulkan keuntungan atau peningkatan nilai investasi. Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan produksi) dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi dimasa yang akan datang (barang produksi). Seseorang yang berinvestasi biasa disebut sebagai investor atau penanam modal.

Teori Harrod-Domar memandang bahwa pembentukan modal dianggap sebagai pengeluaran yang akan menambah kemampuan suatu perekonomian untuk menghasilkan barang dan jasa, maupun sebagai pengeluaran yang akan menambah permintaan efektif seluruh masyarakat. Dimana apabila pada suatu masa tertentu dilakukan sejumlah pembentukan modal, maka pada masa berikutnya atau masa yang akan datang perekonomian tersebut mempunyai kemampuan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa yang lebih besar (Sukirno, 2006).

Klasik menekankan pentingnya tabungan sebagai sumber investasi.

Investasi dipandang sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Makin cepat perkembangan investasi ketimbang laju pertumbuhan penduduk, makin cepat perkembangan

Menurut Jogiyanto, investasi dapat didefinisikan sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan dalam produksi yang efisien selama periode tertentu. Sedangkan menurut Sukirno, kegiatan investasi yang dilakukan oleh masyarakat secara terus-menerus akan meningkatkan kegiatan ekonomi, kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meingkatkan taraf kemakmuran masyarakat.

(6)

4. Pengeluaran Pemerintah

Pengeluaran pemerintah adalah seperangkat produk yang dihasilkan yang memuat pilihan atau keputusan yang dibuat oleh pemerintah untuk menyediakan barang-barang publik dan fasilitas pelayanan kepada masyarakat.

Pengeluaran pemerintah merupakan suatu kewajiban yang harus dibayar oleh pemerintah Kabupaten/Kota, baik oleh pemerintah pusat melalui APBN maupun pemerintah daerah melalui APBD. Pengeluaran pemerintah digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintah dalam jangka waktu satu tahun anggaran.

Distribusi pengeluaran pemerintah yang tepat sasaran dan ketepatan arah investasi ke daerah-daerah yang dapat menciptakan kesempatan kerja mungkin akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita (Gatot, 2013). Pengeluaran Pemerintah adalah konsumsi barang dan jasa yang dilakukan pemerintah dan pembiayaan yang dilakukan pemerintah utuk keperluan administrasi pemerintahan serta kegiatan-kegiatan pembangunan.

Pengeluaran Pemerintah merupakan salah satu alat intervensi pemerintah terhadap perekonomian yang dianggap paling efektif. Kapasitas keuangan daerah ditunjukkan dalam bentuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pengeluaran Pemerintah dapat diartikan juga sebagai penggunaan uang dan sumberdaya suatu wilayah untuk membiayai suatu kegiatan yang baik ditujukkan untuk pembangunan wilayah atau kegiatan pemerintah dalam rangka mewujudkan fungsinya dalam melakukan kesejahteraan kepada masyarakat.

(7)

a. Belanja tidak langsung

Belanja tidak langsung merupakan belanja yang tidak digunakan secara langsung oleh adanya program atau kegiatan. Jenis belanja tidak langsung terdiri dari:

1) Belanja pegawai, merupakan dana yang dikeluarakan sebagai bentuk kompensasi dalam bentuk uang (gaji) yang diberikan kepada pegawai pemerintah sebagai bentuk imbalan jasa atas pekerjaan yang telah dikerjakan.

2) Belanja bunga, merupakan belanja yang digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang, sesuai dengan perjanjian pinjaman 19 berjangka yang terdiri dari jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.

3) Belanja subsidi, merupakan belanja yang digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan atau lembaga tertentu agar harga jual produksi dan jasa yang dihasilkan, dapat terjangkau oleh masyarakat luas.

4) Belanja hibah, merupakan belanja yang digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan jasa kepada pemerintah maupun pemerintah daerah lainnya, dan kelompok masyarakat serta perorangan yang secara spesifik telah memiliki peruntukan yang jelas.

5) Belanja bantuan sosial, merupakan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan barang kepada masyarakat, dengan tujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

(8)

6) Belanja bagi hasil, merupakan anggaran dana yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

7) Belanja bantuan keuangan, merupakan belanja yang digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah 20 desa, dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan atau peningkatan kemampuan keuangan daerah.

8) Belanja tidak terduga, merupakan tindakan belanja yang bertujuan untuk kegiatan yang bersifat tidak biasa atau tidak diharapkan akan terjadi seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun sebelumnya, yang telah ditutup.

b. Belanja Langsung

Belanja langsung merupakan belanja yang digunakan oleh adanya program dan kegiatan yang sudah direncanakan. Jenis belanja langsung terdiri dari:

1) Belanja pegawai (langsung), biasanya digunakan sebagai pengeluaran upah dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah.

2) Belanja barang dan jasa (langsung), digunakan untuk pengeluaran dalam bentuk pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya

(9)

kurang dari satu tahun serta pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah.

3) Belanja modal, merupakan belanja yang digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari satu tahun untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti tanah, bangunan, mesin, irigasi, jalan, dan aset tetap lainnya.

C. Hubungan Variabel

1. Jumlah Penduduk dan Pendapatan Per Kapita

Mankiw dalam Oktavia (2005) juga menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk akan mempengaruhi standard of living suatu wilayah atau negara yang dicerminkan dalam pendapatan per kapita. Negara-negara dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memiliki tingkat pendapatan per kapita yang rendah dan sebaliknya.

Setiap kenaikan jumlah penduduk maka akan membuat pendapatan per kapita menjadi rendah, dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teori Solow yang mengasumsikan bahwa wilayah atau negara dengan pertumbuhan populasi yang lebih tinggi akan memiliki tingkat pendapatan perkapita yang lebih rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Masniadi, 2012).

2. Investasi dan Pendapatan Per Kapita

Teori ekonomi mengartikan atau mendefinisikan investasi sebagai pengeluaran-pengeluaran untuk membeli barang-barang modal dan peralatan- peralatan produksi dengan tujuan untuk menganti dan terutama menambah

(10)

barang-barang modal dalam perekonomian yang akan digunakan untuk memproduksi barang dan jasa di masa yang akan datang. Dengan kata lain, investasi berarti kegiatan pembelanjaan untuk meningkatkan kapasitas produksi suatu perekonomian.

Setiap kenaikan investasi maka akan menyerap tenaga kerja sehingga akan meningkat pula pendapatan per kapita. Hal ini sejalan dengan model pertumbuhan Solow-Swan, yang mengasumsikan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat pendapatan per kapita dengan tingkat investasi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Masniadi, 2012).

3. Pengeluaran Pemerintah dan Pendapatan Per Kapita

Pengeluaran Pemerintah dapat diartikan juga sebagai penggunaan uang dan sumberdaya suatu wilayah untuk membiayai suatu kegiatan yang baik ditujukkan untuk pembangunan wilayah atau kegiatan pemerintah dalam rangka mewujudkan fungsinya dalam melakukan kesejahteraan kepada masyarakat.

Setiap kenaikan pengeluaran pemerintah atau semakin besar pengeluaran pemerintah maka akan menciptakan pembangunan infrastruktur sehingga akan terjadi penyerapan tenaga kerja yang dapat meningkatkan pendapatan per kapita. Hal ini sesuai dengan teori yang diasumsikan (Gatot, 2013) bahwa distribusi pengeluaran pemerintah yang tepat sasaran dan ketepatan arah investasi ke daerah-daerah yang dapat menciptakan kesempatan kerja mungkin akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita. Sehingga penelitian ini sejalan dengan (Ratih, 2017)

(11)

D. Kerangka Pemikiran

Setiap tambahan atau peningkatan jumlah penduduk dan merupakan jumlah penduduk yang berkualitas atau produktif maka setiap tambahan penduduk dapat meningkatkan pendapatan per kapita. Akan tetapi, apabila jumlah penduduk yang meningkat bukan merupakan penduduk yang produktif maka dapat membuat pendapatan per kapita menjadi rendah atau menurun.

Setiap tambahan investasi yang ada dapat menciptakan lapangan pekerjaan diberbagai sektor-sektor ekonomi yang dapat memberikan kesempatan yang luas pada masyarakat untuk dapat mengakses pekerjaan dan mendapat penghasilan yang layak sehingga dengan penghasilan tersebut dapat meningkatkan pendapatan per kapita.Sebaliknya, jika investasi yang dilakukan tidak tepat sasaran dapat mengakibatkan pendapatan per kapita menjadi rendah.

Semakin besar pengeluaran pemerintah maka semakin banyak juga pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan misalnya seperti jalan, jembatan dan pembangunan prasarana sektor-sektor ekonomi lainnya. Pembangunan infrastruktur yang baik dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga akan menyerap tenaga kerja dan dengan bekerja atau produktif maka pendapatan per kapita juga dapat mengalami peningkatan.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

(12)

Gambar 2. 2 Kerangka Pemikiran

(13)

E. Perumusan Hipotesis

Dalam kajian teoritis, seperti yang diuraikan dalam Teori Pertumbuhan Solow-Swan. Jumlah penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan per kapita, tabungan dan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan per kapita. Dalam hukum Wagner & Weber menyatakan bahwa apabila pendapatan per kapita meningkat, maka secara relatif pengeluaran pemerintah juga meningkat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan. Berdasarkan teori tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Variabel jumlah penduduk diduga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan per kapita.

2. Variabel investasi diduga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan per kapita.

3. Variabel pengeluaran pemerintah diduga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan per kapita.

Referensi

Dokumen terkait

Sisi positif ini juga nampak dalam konflik yang menjadi objek penelitian penulis yaitu berdasarkan penuturan beberapa responden, memang telah ada situasi awal konflik sebab adanya

Pemimpin Redaksi adalah orang yang pertama bertanggung jawab terhadap semua isi dari penerbitan surat kabar. Selain itu juga bertanggung jawab jika terdapat tuntutan hukum

Untuk menjaga kesinambungan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara, telah disusun rencana kegiatan oleh 6 (enam)

Penanganan fisioterapi yang dapat dilakukan pada pasien yang mengalami inkontinensia urin meliputi kegel exercise dan core stability exercise, kegel exercise adalah latihan

Rata-rata hasil belajar pengetahuan IPA siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan Saintifik menggunakan pertanyaan produktif pada siswa kelas IV SDN 14 Kesiman tahun

Benih coating dan kontroldapat mempertahankan viabilitas benih padi hibrida varietas DG-1, SL-8 dan INTANI-2 selama periode penyimpanan 15 minggu berdasarkan tolok

Penataan PKL adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah melalui penetapan lokasi binaan untuk melakukan penetapan, pemindahan, penertiban dan penghapusan

Sedangkan untuk hasil uji f diperoleh nilai F hitung 26,247 > F tabel 3,08 dengan tingkat signifikan 0,000 < 0,05, yang berarti bahwa variabel gaya kepemimpinan dan