• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Perlintasan Sebidang

Menurut Peraturan Menteri Perhubungan nomor 94 tahun 2018 Pasal 1, Perlintasan sebidang adalah perpotongan antara jalan dengan jalur kereta. Dalam Peraturan Menreri nomor 94 pula disebutkan bahwasanya diperlintasan sebidang, kereta api mendapat prioritas berlalu lintas. Perlintasan sebidang harus dilengkapi dengan rambu, marka, alat pemberi isyarat lalu lintas dan petugas penjaga pintu perlintasan. Adanya pembagian ini diharuskan memiliki syarat bahwape ngguna jalan yang melintasi perlintasan kereta api harus memiliki pandangan yang baik dan tidak terhalang ke jalur masuk yang cukup untuk memungkinkan kontrol pada kendaraan (Farouq, 2018). Dalam sistem jalan raya, persimpangan merupakan titik terjadinya konflik antara moda transportasi, biasanya dari pertemuan anatara dua ruas jalan dengan arah yang berbeda. Dengan adanya persimpangan maka akan menimbulkan kemacetan, antrian, interaksi antar pengendara serta bertemunya bermacama-macam perilaku pengendara yang bisa jadi menimbulkan stress psikologi, ataupun human errors bagi pengendara (Parker, Lajunen, & Stradling, 1998).

2.2 Kebiasaan

Menurut Kamus besar bahasa Indonesia kebiasaan adalah sesuatu yang biasanya kita kerjakan, pola reflek yang dilakukan oleh seseorang terhadap situsi yang ada cenderung sama dan berulang. Kebiasaan adalah perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang untuk hal yang sama dan berlangsung tanpa proses berpikir lagi. Kebiasaan selalu didasrkan pada perilaku s, pengalaman yang dimilki seseorang dan interaksinya dengan sekitar dapat membentuk pengetahuan, sikap dan tindakannya. Perilaku merupakan respon yang merefleksikan tingkah laku hasil dari stimulus lingkungan luar maupun dalam terhadap individu

(2)

6 (Notoatmodjo, 2010). Pengertian ini dirumuskan dengan teori ‘S-O’R” atau

“Stimulus-Organisme-Respon” dimana respon terbagi dua bagian yaitu : 1. Reflektif / Respon dari respondent

Diartikan sebagai rangsangan – rangsangan yang menimbulkan tindakan oleh responden dimana biasanya bersifat relatif tetap atau elictiting stimuli. Semisal perilaku tetap emosional seseorang dimana respon tertawa terhadap sesuatu yang bersifat lucu dan bersedih terhadap sesuatu yang tidak diinginkan seperti kegagalan atau kehilangan.

2. Instrumental Respon

Instrumental respon atau Respon Operant yang berkembang dan timbul berupa penguatan dari stimulus lain. Dimana respon yang semakin kuat terbentuk ditimbulkan oleh perangsang yang memancing responden disebut reinforcing stimuli. Seperti dapat dianalogikan seperti hanya takut adanya polisi sehingga pengendara akan mengenakan helm saat berkendara dan lain sebagainya.

Adapun perilaku pengendara dalam melintasi perlintasan sebidang kereta api juga memiliki sumber simulus yang merangsang tindakan – tindakan yang dilakukannya. Dimana tindakannya dapat berupa perspekti pengendara, emosional, maupun tindakan secara langsung yang dapat terlihat oleh orang sekitar seperti tidak melihat kanan kiri sebelum melaju di perlintasan sebidang tersebut.

2.3 Keselamatan

Keselamatan jalan raya merupakan hal yang penting dan berdasarkan UU No.22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 1 ayat 31 yang menyatakan bahwa keselamatan Jalan Raya adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang dari resiko kecelakaan selama berlalu lintas dijalan raya yang disebabkan oleh manusia, kendaraan, jalan dan atau lingkungan.

2.4 Kecelakaan Lalu lintas

(3)

7 Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009, kecelakaan lalu lintas adalah suatu kejadian dijalan raya yang tidak diduga dan disengaja melibatkan kendaraan atau tanpa melibatkan pengendara lain yang dapat mengakibatkan korban maupun kerugian materiil. Menurut Saputra (2018) kecelakaan lalu lintas merupakan keajdian yang sulit untuk diprediksi kapan dan dimana akan terjadi. Dalam sistem pelaporan kecelakaan lalu lintas jalan, KNKT dalam hal ini sub-sub komite investigasi kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan memperoleh laporan atau berita kecelakaan dari berbagai sumber, yaitu Dinas Perhubungan, Kepolisian, Media, Instansi terkait lainnya. Menurut Suma’mur (1984) kecelakaan terjadi disebabkan oleh dua faktor yaitu:

1. Faktor manusia adalah penyebab kecelakaan yang meliputi aturan kerja, kemampuan pekerja, lambat dalam mengambil keputusan, kurang sehat fisik seperti adanya cacat, kelelahan dan penyakit dan juga faktor mental.

2. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan APD, alat-alat kerja yang telah rusak. Lingkungan kerja berpengaruh besar terhadap moral pekerja.

Meningkatnya volume kendaraan, kemacetan, akses jalan raya yang tidak memadai adalah salah satu penyebab dari tingginya kasus kecelakaan dijalan raya.

Kondisi lalu lintas yang semakin kompleks memang sangatlah beresiko menyebabkan terjadinya kecelakaan, selain itu pula ditambah dengan masih banyaknya perlintasan sebidang yang akan menambah resiko bagi pengendara dijalan raya.

2.5 Regresi Logistik Multinomial

Analisis regresi merupakan metode yang digunakan untuk menginvestigasi hubungan secara fungsional yang terjadi antar dua atau lebih variabel (Chatterjee

& Hadi, 2015). Hubungan tersebut dapat dinyatakan dengan sebuah persamaan yang menghubungkan variabel independen X atau disebut sebagai regressors dan variabel dependen atau variabel respon Y. Regresi logistik merupakan metode

(4)

8 yang digunakan untuk kasus dengan variabel respon atau dependen bersifat kategorik dan variabel prediktor atau independen bersifat kontinyu atau kategorik.

Sementara itu, regresi logistik multinomial digunakan pada suatu kondisi di mana variabel dependen memiliki skala yang bersifat multinomial, yaitu variabel dependen yang memiliki lebih dari dua kategori (Hosmer, Lemeshow, &

Sturdivant, 2000). Cumulative Logit Menurut Subekti (2014) model ialah pola dari sesuatu yang yang akan dibuat. Model yang disusun termasuk kedalam model simbolis dimana model yang menggambarkan sistem. Models digunakan dengan membandingkan peluang secara kumulatif antara peluang yang nilainya kurang dari atau sama dengan kategori respon pada variabel prediktor dengan nilai peluang sisanya atau nilai peluang yang lebih besar dari kategori respon. Sebagai contoh jika variabel respon memiliki tiga kategori, maka akan terbentuk dua persamaan logit yang akan membentuk regresi logistik multinomial yang bertujuan untuk membandingkan setiap kategori dengan pembandingnya. Pada regresi logistik multinomial ini, peneliti bisa menggunakan alat olah yaitu software SPSS untuk input data dan menghasilkan data output (Fávero & Belfiore, 2019).

Berikut langkah-langkah uji regresi logistik multinomial menggunakan software SPSS :

1. Untuk pengisian data pada SPSS, maka klik terlebih dahulu Variabel View, kemudian isikan variabel yang akan diapakai

2. Setelah data pada variabel view ditambahkan kemudian isi data view berdasarkan data pengamatan

3. Kemudain klik menu analyze>regression>multinomial logistic, muncul jendela multinomial logistic kemudin masukan variabel dependen dan faktornya

4. Pada button statistics kemudian tambahkan centang pada pilihan goodness of fit dan classification table

5. Setelah itu tekan continue lalu keluar hasil output datanya

(5)

9 2.6 Beban Mental (Psikologis)

aktivitas mental merupakan suatu jenis pekerjaan ringan yang mengharuskan mengeluarkan kebutuhan kalori untuk aktivitas mental yang rendah pula.

Meskipun jenis pekerjaan yang di miliki bersifat tanggung jawab moral , aktivitas ini memiliki beban yang berat apabila dibandingkan dengan sebuah pekerjaan fisik karena akan melibatkan kerja otak (Tarwaka & Sudiajeng, 2004). Menurut Grandjean and Kroemer (1997) setiap aktivitas mental akan selalu melibatkan unsur persepsi, interpretasi, dan prosessmental dari suatu informasi yang diterima oleh organ sensoris untuk diambil suatu keputusan atau proses mengingat informasi yang lampau.

Beban mental yang dirancang kurang baik bisa menyebabkan efek buruk, seperti rasa lelah serta berkurangnya rasa kehati-hatian dan kesadaran ketika bekerja. Efek buruk yang lain ialah lupa ketika menjalankan sktivitas kritis atau telat menyelasaikan pekerjaan, yang pada akhirnya akan berdampak pada keselamatan dalam aktivitas bekerja atau berkendara. (Iridiastadi, MSIE, &

Yassierli, 2014).

2.7 Metode NASA-TLX

Metode NASA-TLX (National Aeronautics And Space Administration Task Load Index) adalah metode untuk mengevaluasi beban mental yang bersifat subjektif, dimana pekerja diminta untuk memberikan pendapatnya tentang kondisi yang tengah dilakukan. Pada metode NASA-TLX ini pengendara diminta untuk menilai antara 0 sampai 100 pada 6 aspek sebuah pekerjaan (Iridiastadi et al., 2014). Metode NASA-TLX dikembangkan Sandra dari NASA-Ames Research Center dan Lowell E. Staveland dari San Jose State University pada tahun 1981 (Hart & Staveland, 1988). Metode yang dikembangkan ini ada karena kebutuhan pengukuran yang terdiri dari skala faktor yaitu tekanan waktu, kesulitan tugas, jenis aktivitas, usaha fisik, usaha mental, stress, performansi, frustasi, dan kelelahan. Menurut Friswell and Williamson (2008) faktor kelelahan dan stress

(6)

10 adalah bahaya dari pekerjaan pada transportasi, hal ini ditandai dengan berkurangnya kewaspadaan terhadap lingkungan yang terkait dengan faktor paparan terus menerus oleh tugas, keadaan emosional dan penyakit.

Dari sembilan faktor ini disederhanakan lagi menjadi 6 faktor, yaitu Kebutuhan Fisik (KF), Kebutuhan Mental (KM), Kebutuhan Waktu (KW), Performansi Kerja (PK), Usaha (U), dan Tingkat Frustasi (TF). Penyederhanaan ini berdasarkan pertimbangan praktis NASA-TLX pembuatan skala rating beban kerja (Hart &

Staveland, 1988). Penjelasan dari setiap aspek pengendara adalah sebagai berikut:

a. Kebutuhan fisik : seberapa besar faktor lelah pada pengendara dalam mempengaruhi tingkat kesadaran akan keamanan melewati perlintasan sebidang.

b. Kebutuhan mental : seberapa besar faktor emosional pengendara dalam kesabaran menunggu dan mengantri dengan pengendara lain saat hendak melewati perlintasan sebidang.

c. Kebutuhan waktu : seberapa besar pentingnya waktu dibanding keselamatan diri saat tidak sabarnya menunggu untuk melintasi perlintasan sebidang saat kereta hendak lewat.

d. Performansi : Tingkat kepiawaian pengendara saat melintasi perlintasan sebidang rel kereta api.

e. Usaha : seberapa besar tingkat usaha pengendara dalam mematuhi aturan lalu lintas saat melewati perlintasan sebidang rel kereta api.

f. Tingkat frustasi : seberapa besar tingkat frustasi terkait dengan kondisi pengendara saat melintasi perlintasan sebidang rel kereta api.

2.7.1 Pengukuran beban mental menggunakan NASA-TLX

Dalam pengukuran beban mental yang menggunakan metode NASA TLX, berikut merupakan langkah-langkah pengerjaannya :

1. Perbandingan antar Indikator

(7)

11 Pada bagian ini responden diminta untuk memilih salah satu dari dua pilihan indikator yang menurutnya lebih dominan untuk mempengaruhi beban mental ketika melakukan aktivitas berkendara. Kuesioner yang akan diberikan merupakan perbandingan antar indikator yang terdiri dari 15 perbandingan berpasangan. Kuesioner ini kemudian dihitung jumlah dari tiap indikator yang dipilih oleh responden.

Tabel 2.1 Perbandingan Berpasangan Untuk Indikator

No Indikator Kode Indikator Kode

1 Kebutuhan Mental MD Kebutuhan Fisik PD

2 Kebutuhan Mental MD Kebutuhan Waktu TD

3 Kebutuhan Mental MD Performansi P

4 Kebutuhan Mental MD Tingkat Usaha E

5 Kebutuhan Mental MD Tingkat Frustasi FR

6 Kebutuhan Fisik PD Kebutuhan Waktu TD

7 Kebutuhan Fisik PD Performansi P

8 Kebutuhan Fisik PD Tingkat Usaha E

9 Kebutuhan Fisik PD Tingkat Frustasi FR

10 Kebutuhan Waktu TD Performansi P

11 Kebutuhan Waktu TD Tingkat Usaha E

12 Kebutuhan Waktu TD Tingkat Frustasi FR

13 Performansi P Tingkat Usaha E

14 Performansi P Tingkat Frustasi FR

15 Tingkat Usaha E Tingkat Frustasi FR

2. Pemberian Rate

Pada bagian kedua ini responden diminta memberi penilaian terhadap dimensi beban mental dengan range 0 – 100. Berikut merupakan indikatornya :

Tabel 2.2 Indikator Dalam Metode NASA-TLX

Indikator Keterangan

(8)

12 Mental Demand (MD)

seberapa besar aktivitas mental yang digunakan dalam berkendara, seperti berfikir, memutuskan,

menghitung, mengingat, melihat, atau mencari.

Physical Demand (PD)

seberapa banyak aktivitas fisik yang digunakan dalam pekerjaannya, seperti mengontrol,

mengoperasikan.

Temporal Demand (TD)

seberapa banyak waktu yang digunakan selama menyelesaikan pekerjaanya, apakah dalam berkendara dilakukan dengan terburu-buru atau dilakukan secara hati-hati dan tidak dipaksakan.

Performace (P)

seberapa besar tingkat keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuan atau pekerjaannya.

Effort (EF)

seberapa keras usaha mental dan fisik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan sebuah

unit/kendaraan

Frustation Level (FR)

seberapa tidak aman, putus asa, tersinggung, terganggu, dibandingkan dengan perasaan aman,

puas, nyaman.

Berdasarkan penjelasan Hart and Staveland (1988) dalam teori NASA-TLX, skor yang diperoleh oleh elemen beban mental terbagi sebagai beriku:

Tabel 2.3 Klasifikasi Rating Nilai Beban Kerja

(9)

13

No Nilai Tingkat Beban

1 0 - 20 Rendah

2 21 – 40 Sedang

3 41 – 60 Agak tinggi

4 61 – 80 Tinggi

5 81 – 100 Tinggi sekali

3. Menghitung Nilai Indikator

Menghitung nilai untuk tiap-tiap indikator dengan cara mengalikan rating dengan bobot faktor. Dengan demikiann dihasilkan 6 nilai indikator untuk 6 indikator (MD,PD,TD,P,FR,E).

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟 = 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑥 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 4. Perhitungan Weighted Workload (WWL)

WWL diperoleh dengan cara menjumlahkan ke enam nilai indikator.

𝑊𝑊𝐿 = ∑ 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟

5. Rata-rata WWL.

Menghitung rata-rata. Rata-rata WWL ini diperoleh dengan cara sebagai berikut:

𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑊𝑊𝐿 =𝑊𝑊𝐿 15 2.8 Metode Driver Behaviour Questionaire (DBQ)

Menurut Reason, Manstead, Stradling, Baxter, and Campbell (1990), DBQ adalah sebuah cara yang didalamnya teradapat perilaku pengemudi yang dapat di evaluasi dan dikategorikan dibawah kerangka kerja yang teoritis, yang didasarkan pada perbedaan utama antara kesalahan dan pelanggaran yang memiliki asal mula dari faktor psikologis yang berbeda sehingga menuntut penanganan yang berbeda pula. Awal mula digunakannya metode DBQ ialah menggunakan 50 item pertanyaan yang awal mula dikenalkan oleh Reason et al. (1990), namun dengan

(10)

14 seiring perkembangan tingkat keamanan dijalan raya memungkinkan varian dari item semakin berkurang. Hal ini seperti yang di kemukakan oleh Parker et al.

(1998) bahwa varians yang memiliki skor kecil kemudian akan dihapus dikarenakan penggunaannya dalam analisis faktor atau regresi dapat secara serius mempengaruh hasil.

Untuk mengukur tingkat kepatuhan kebiasaan pengendara saat melintasi perlintasan sebidang rel kereta api maka perlu dilakukannya menganalisa kebiasaan tersebut dengan menggunakan kuisioner driver behavior quisioner (DBQ) dimana pengendara diminta untuk menilai frekuensi pengendara dalam melakukan berbagai jenis kesalahan dan pelanggaran dalam berkendara khususnya saat hendak melintasi perlintasan sebidang rel kereta api. Menurut Reason et al.

(1990) dalam jurnalnya, ada 50 item yang bisa dipakai untuk mencari tahu kebiasaan buruk dari pengendara seperti pada tabel 2.4 :

Tabel 2.4 Metode DBQ dengan 50 item kuesioner

Item pertanyaan

Jenis perilaku

1 Mencoba berkendara Di Jalur perlintasan Langsung dengan gigi 3

L

2

Sering memeriksa speedometer dan Berkendara melampaui batas kecepatan ketika melintasi Jalur

perlintasan Langsung

V

3 Terkunci dari mobil saat keluar dengan kunci masih didalam

L

4

Menjadi tidak sabar dengan pengendara lain yang lambat di jalur luar dan menyalip ketika memasuki

JPL

V

(11)

15 5 menyalakan full beam dimalam hari ketika

melintasi Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

E

6 Mencoba mengendarakan tanpa menyalakannya (ditarik,melaju diturunan)

L

7

Mengedipkan lampu kepada pengendara didepan ketika berkendara lebih cepat atau mengalau laju

anda

V

8 Lupa di mana Anda meninggalkan mobil Anda di tempat parkir

L

9

terlambat menyadari bahwa kendaraan depan telah melambat karena memasuki JPL, dan anda harus

membanting rem untuk menghindari tabrakan

L

10 Berniat untuk menghidupkan wiper kaca depan, tapi salah menekan tombol yang lain

L

11

Belok kekiri ke jalan utama secara bersamaan tidak melihat kendaraan lain datangt, atau terlalu cepat

saat masuk kejalan utama.

E

12 Salah menilai jarak saat berhenti di JPL dan hampir (atau benar-benar) menabrak kendaraan lain.

E

13 Lupa sampai mana anda telah berpergian L

14 Melewatkan jalur keluar di jalan bebas hambatan dan harus membuat jalan memutar yang panjang.

L

15

Lupa dengan gigi perseneling anda saat ini dan harus memeriksa dengan tangan Anda atau

menengok ke layar

L

16

Terjebak di belakang mobil yang bergerak lambat ketika memasuki JPL, Anda dipacu oleh rasa frustrasi untuk mencoba menyalip dalam keadaan

berisiko.

V

(12)

16 17 Tidak familiar atau tidak ingat dengan jalan yang

telah ditempuh

L

18 Menerobos palang pintu ketika di Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

V

19 Marah dengan perilaku pengemudi lain , Anda mengejar dengan maksud memarahinya

V

20

mencoba untuk menyalip tanpa cek spion Anda, dan kemudian mendapatkan teriakan/klakson dari

mobil di belakang anda karen sudah siap untuk menyalip

L

21 Sengaja mengabaikan batas kecepatan ketika di Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

V

22

Lupa bahwa SIM atau Pajak kendaraan anda mati/tidak memiliki dan menemukan bahwa Anda

mengemudi secara ilegal

V

23

Lupa mematikan full beam dimalam hari hingga mendapatkan kedipan dari kendaraan lain ketika

melintasi Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

L

24

Ketika berbelok memasuki jalan utama, anda hampir menabrak kendaraan lain yang berada

dijalur dalam

L

25 Dalam antrian melintasi Jalur Perlintasan Langsung (JPL), hampir tertabrak mobil dari arah sebaliknya

L

26 Mengemudikan kendaraan di Jalur Perlintasan Langsung (JPL) dalam keadaan mabuk

V

27

Memiliki keengganan untuk toleransi dengan pengguna jalan lain ketika palang pintu Jalur

Perlintasan Langsung (JPL) baru dibuka (memenuhi jalur sebaliknya).

V

(13)

17 28

Fatique, sehingga anda tidak sadar bahwa palang pintu tertutup atau tidak sadar dengan situasi

didepan anda

V

29 Parkir pada tempat yang dialarang parkir (di sekitar Jalur Perlintasan Langsung )

V

30

Salah menilai kecepatan saat menyalip ketika mendekati Jalur Perlintasan Langsung , baik kendaraan yang di salip ataupun di arah sebaliknya

L

31 Menabrak sesuatu saat mundur karena tidak terlihat E

32 Tidak mengetahui orang saat berjalan atau keluar dari balik bus sehingga terlambat mengerem

L

33 Mendapatkan rute yang salah sehingga tidak bisa menghindari jalan yang crowded

E

34

Menyalip kendaraan yang berbaris karena menunggu kereta lewat , namun anda menyalip dan

memenuhi jalur untuk kendaraan dari arah berlawanan

E

35

Menyalip kendaraan yang bergerak lambat di dalam jalur atau bahu jalan disekitar Jalur

Perlintasan Langsung (JPL)

V

36 Memotong jalur di sekitar Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

V

37

Masuk ke jalur yang salah di bundaran atau mendekati persimpangan (Jalur Perlintasan

Langsung (JPL))

E

38

Gagal membaca tanda-tanda dengan benar, sehingga melanggar rambu di Jalur Perlintasan

Langsung (JPL)

L

39 Gagal memberi jalan kepada kendaraan lain yang melintas

V

(14)

18 40 Mengabaikan tanda-tanda 'memberi jalan', dan

pada jalan sempit untuk menghindari bertabrakan

V

41

Gagal untuk memeriksa cermin Anda sebelum menarik keluar, mengubah jalur, memutar, melintasi perlintasan tanpa palang pintu dll

L

42 Tidak memperhatikan saat hendak menyalip ketika kendaraan lain akan berbelok kekanan

L

43 Sengaja menambah kecepatan di Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

V

44 Mengabaikan rambu di Jalur Perlintasan Langsung (JPL) saat malam hari dimana kondisi sepi

V

45 Membagi fokus saat berkendara ketika melintasi Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

L

46

tidak melihat rambu/palang pintu kereta saat menyala/tertutup sehingga harus mengerem

mendadak

L

47 Terlibat balapan illegal dengan kendaraan lain saat melintasi Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

V

48 Balapan dijalan yang sempit V

49 Rem terlalu cepat ketika melintasi rel di Jalur Perlintasan Langsung (JPL)

E

50 Salah menilai Interval crossing Anda saat berbelok ke kanan dan hampir menabrak

E

Dari kuisioner tersebut akan dianalisa kecondongan perilaku apa yang sering dilakukan oleh pengendara yang dapat menyebabkan kecelakaan berkendara

khusunya saat hendak elintasi perlintasan sebidang rel kereta api. Dengan melakukan wawancara serta penyebaran quisioner dan menghitung nilai yang paling tinggi/

dominan dalam tiap tiap asing kategori, apakah yang palin tinggi merupakan faktor human error/penyimpangan/pelanggaran. Skala pembobotan yang digunakan ialah menggunakan skala likert dengan range 1-5 dengan penjabarannya nilai 1 = Never, 2

= Hardly Ever, 3 = Occasionally, 4 = Frequently , 5 = Nearly All the Time (Reason et al., 1990)

Gambar

Tabel 2.1 Perbandingan Berpasangan Untuk Indikator
Tabel 2.3 Klasifikasi Rating Nilai Beban Kerja
Tabel 2.4 Metode DBQ dengan 50 item kuesioner

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis menunjukkan: (1) Investasi jalan dan jembatan di Sumatera dan Jawa-Bali paling dinikmati oleh sektor perdagangan, restoran dan hotel, dan sektor industri

Uraian dimulai dengan membahas distribusi variabel acak kontinu, diantaranya distribusi normal, distribusi chi kuadrat, distribusi beta, distribusi sampling yang

Kolesisttitis akut adalah suatu reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu yang disertai dengan keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan, dan demama. Kolesistitis kronik

Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan atau mengembangkan variabel lain selain dari variabel yang digunakan pada penelitian ini yang diduga mempengaruhi

Bahwa meskipun ketentuan Pasal 8 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menerangkan bahwa Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan

Dengan demikian besarnya pengaruh yang diberikan oleh variabel Self Assessment System , Pemeriksaan Pajak dan Sanksi Perpajakan terhadap Penerimaan Pajak pada Kantor

Proses perubahan energi pada turbin ulir yaitu energi tekanan dan kinetik dalam air yang menumbuk blade (sudu ulir) akan menimbulkan gaya-gaya hidrodinamis pada blade