• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR-DASAR HUKUM MIGAS DAN PENGATURAN MIGAS DALAM UU & RUU MIGAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DASAR-DASAR HUKUM MIGAS DAN PENGATURAN MIGAS DALAM UU & RUU MIGAS"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PENGATURAN MIGAS DALAM UU & RUU MIGAS

Pelatihan Dasar Hukum Migas 2021 Pusat Studi Hukum Energi & Pertambangan (PUSHEP)

12 Agustus 2021 Disampaikan Oleh:

Bisman Bhaktiar, SH., MH., MM.

(2)

 Advocate & Legal Consultant di JLP Law Firm.

 Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP).

 Asesor Kompetensi Hukum Indonesia Lembaga Sertifikasi Profesi Hukum Indonesia (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).

 Tenaga Ahli Komisi VII DPR RI (Bidang ESDM, LH dan Ristek) (2009-2019).

 Ketua Tim Ahli/Penyusun RUU Pertambangan Mineral dan Batubara (2015-2019).

 Ketua Tim Ahli/Penyusun RUU Minyak dan Gas Bumi (2010-2019).

 Anggota Tim Ahli /Penyusun RUU Energi Baru & Terbarukan (2017-2019).

 Sekretaris Bidang Pertambangan, Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Tahun 2017-2022 dan Anggota Pokja Omnibus Law (2020).

 Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA), Tahun 2016-2021.

 Ketua Bidang Hukum & Advokasi, DPP Pengembang Indonesia, Tahun 2017-2022.

 Ketua Tim Hukum Koalisi Masyarakat Sipil Pengawal Konstitusi Sumber Daya Alam.

Bisman Bhaktiar, SH., MH., MM.

Perkenalan & Kompetensi

www.pushep.or.id

(3)

Sejarah Industri Migas Indonesia

(4)

www.pushep.or.id

(5)

NEGARA JUMLAH

PENDUDUK KONSUMSI BBM LIFTING KAPASITAS

KILANG CADANGAN BBM

SINGAPURA 4.701.069 1.255ribu

bph

- 1.395 ribu

bph

90 Hari

MALAYSIA 28.274.729 697 ribu

bph

657 ribu bph

722 ribu bph

25 Hari

CHINA 1.330.141.295 10.221ribu

bph

4.155 ribu bph

11.547 ribu bph

90 Hari

AMERIKA 310.232.863 18.555 ribu

bph

8.905 ribu bph

17.388 ribu bph

260 Hari

INDONESIA 242.968.342 1.865 ribu

bph

718 ribu bph

1.142 ribu bph

22 Hari*

MASALAH KETAHANAN BBM NASIONAL (perbandingan dengan negara lain)

* Milik PT Pertamina (Persero)

Sumber: bp statistical review

(6)

TANTANGAN INDUSTRI MIGAS NASIONAL

Hulu

Penurunan

produksi 2% per tahun

Kebutuhan akan teknologi,

kapabilitas, dan infrastruktur

Risiko menurunnya minat investasi dari investor asing

Kebutuhan investasi baru yang besar untuk eksplorasi &

eksploitasi hulu Migas

Indonesia memerlukan regulasi yang mendukung iklim investasi

berkelanjutan yang menawarkan kepastian regulasi dan ketentuan fiskal menarik untuk mendorong investasi baru guna memonetisasi sumber daya alam nya dengan tetap berlandaskan Pasal 33 UUD 1945

Hilir - Gas

Peningkatan share gas dalam bauran

energi, memerlukan akselerasi pemanfaatan gas bumi nasional

Kondisi negara kepulauan memerlukan manajemen yang inovatif

Kebutuhan untuk

memasikan ketersediaan gas bagi sektor-sektor utama seperti pupuk, listrik dan petrokimia pada harga optimal

Pemenuhan Kebutuhan investasi sektor hilir gas yang cukup besar

Hilir –Pemasaran&

Pengolahan

Kompleksitas & kapasitas pengolahan yang kurang memadai; impor saat ini lebih 50% dari kebutuhan.

Kebutuhan investasi yang cukup besar untuk melakukan upgrade &

membangun kilang- kilang baru

• Demand BBM di Indonesia diperkirakan tumbuh ~ 3%

per tahun, sehingga akan terus defisit energi

www.pushep.or.id

(7)

Pada tahun 2025, tanpa penambahan kapasitas kilang dalam negeri, maka Indonesia harus mengimpor hampir ~80% kebutuhan BBM nya

536 536

536 536

536 536

536 536

2,489 2,112

1,787 1,385

2025

+6%

~80%

2021 2022 2023 2024

2020 2019

2017 2018

2016 2015

Kapasitas Eksisting Demand BBM

Proyeksi pertumbuhan demand BBM Indonesia Kbpd

(8)

Penguasaan Migas oleh Negara

Pengusahaan melalui kegiatan usaha hulu dan usaha hilir.

Kegiatan Usaha Hulu

Eksplorasi dan Eksploitasi Kelembagaan: SKK Migas

Untuk mengawasi Kegiatan Usaha Hulu.

Kegiatan Usaha Hilir

Pengolahan, Penyimpanan, Pengangkutan, dan Niaga Kelembagaan: Badan Pengatur (BPH Migas)

Untuk mengawasi Kegiatan Usaha Hilir.

PENGUASAAN DAN PENGUSAHAAN

www.pushep.or.id

(9)

PEMERINTAH SKK MIGAS* BPH MIGAS BUMN

MIGAS SWASTA

• Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan

• Pembinaan

 penyelenggaraan Pemerintah di bidang migas

 penetapan kebijakan kegiatan usaha migas

• Pengawasan terhadap ditaatinya ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku (KESDM beserta instansi terkait lainnya)

• Pengawasan kegiatan usaha hulu migas berdasarkan Kontrak Kerja Sama

• Pengendalian manajemen operasi kegiatan usaha hulu migas

• Pengaturan terhadap

pelaksanan penyediaan dan pendistribusian BBM dan gas bumi yang ditetapkan

Pemerintah

• Pengawasan terhadap

pelaksanan penyediaan dan pendistribusian BBM dan pengangkutan gas bumi melalui pipa pada kegiatan usaha hilir

• Pelaksana Usaha Hulu Migas dan Hilir Migas

• Usaha Hulu

• Usaha Hilir

• Usaha Penunjang

PELAKU & KELEMBAGAAN MIGAS

BERDASARKAN UU 22/2001

(10)

ATURAN-ATURAN POKOK KEGIATAN USAHA MIGAS

1. UU 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

2. PP 35 Tahun 2004 (jo PP 34/2005, jo PP 55/2009) tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi

3. PP 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi Yang Dapat Dikembalikan Dan Perlakuan Pajak Penghasilan Di Bidang Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi.

4. PP 67 Tahun 2002 tentang Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa

www.pushep.or.id

(11)

11

11

Aturan-aturan Pokok Kegiatan Usaha Hulu Migas sebelum UU 22/2001

1. PERPU 44 Tahun 1960 Pertambangan Minyak Dan Gas Bumi.

2. UU 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara.

3. PP 17 Tahun 1974 tentang Pengawasan Pelaksanaan Eksplorasi Dan Eksploitasi Minyak Dan Gas Bumi Di Daerah Lepas Pantai.

4. PP 35 Tahun 1994 tentang Syarat-Syarat Dan Pedoman Kerjasama

Kontrak Bagi Hasil Minyak Dan Gas Bumi.

(12)

UU MIGAS DAN RUU MIGAS

(13)

LANDASAN PEMIKIRAN

Landasan Filosofis:

Migas sebagai sumber daya alam strategis yang tidak terbarukan merupakan cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak yang pengelolaannya dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Landasan Sosiologis:

Tata kelola kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi kian waktu tidak dapat menjadi lebih baik, produksi kian menurun sedangkan kebutuhan semakin besar &

masalah semakin banyak, serta tidak cukup mampu menjamin ketahanan energi

& kesejahteraan masyarakat.

Landasan Yuridis:

Terjadi kekosongan hukum akibat Putusan Mahkamah Konstitusi, tidak ada

kepastian hukum, UU Migas 2001 compang-camping, serta belum memenuhi

amanat Pasal 33 UUD Negara RI Tahun 1945.

(14)

REKOMENDASI PANITIA ANGKET BBM

DPR RI

(15)

Keputusan DPR RI Nomor 21A/DPR RI/I/2009-2010 tanggal 28 September 2009 tentang Persetujuan Hasil Panitia Angket DPR RI Terhadap Kebijakan Pemerintah Menaikkan Harga BBM

“…mendesak Pemerintah dan/atau DPR RI untuk segera mengajukan RUU Migas yang baru

menggantikan UU No. 22 tahun 2001 beserta peraturan pelaksanaannya...”

• Keputusan DPR Tanggal 1 Desember 2009 tentang

Prolegnas 2010 – 2014 dan Desember 2014 Juga Masuk

Prolegnas 2015-2019 (inisiatif DPR). Selama kurun waktu

tsb, tiap tahun masuk Prolegnas prioritas tahunan

(16)

PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI ATAS

UU MIGAS

(17)

Putusan Mahkamah Konstitusi

Nomor 002/PUU-I/2003 tanggal 21 Desember 2004

• Diajukan Oleh: APHI, PBHI dkk

• Putusan:

1. Pasal 12 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata “diberi wewenang”;

Menteri menetapkan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang diberi wewenang melakukan kegiatan usaha Eksplorasi dan Eksploitasi pada Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

2. Pasal 22 ayat (1) sepanjang mengenai kata-kata “paling banyak”;

Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap wajib menyerahkan paling banyak 25% (dua puluh lima persen) bagiannya dari hasil produksi Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

3. Pasal 28 ayat (2) dan (3) dicabut

(2) Harga Bahan Bakar Minyak dan harga Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar; (3) Pelaksanaan kebijaksanaan harga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak mengurangi tanggung jawab sosial Pemerintah terhadap golongan masyarakat tertentu”

Catatan: Tidak banyak mempunyai akibat/dampak signifikan pada tata kelola

migas

(18)

Putusan Mahkamah Konstitusi

Nomor 20/PUU-V/2007 Tanggal 13 Desember 2007

Diajukan oleh:

1) Zainal Arifin, 2) Sonny Keraf, 3) Alvin Lie dkk (Anggota DPR RI)

• Tentang:

Pasal 11 Ayat (2) “Setiap Kontrak Kerja Sama yang sudah ditandatangani harus

diberitahukan secara tertulis kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia”

• Putusan:

Menyatakan permohonan para Pemohon tidak dapat diterima (para Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum/legal standing dalam permohonan pengujian undang-undang)

Pendapat MK: “…sungguh janggal jika undang-undang yang dibuat oleh DPR dan

menjadi kekuasaan DPR untuk membentuknya dipersoalkan konstitusionalitasnya oleh DPR… padahal tidak terdapat halangan konstitusional apa pun bagi DPR untuk

melakukan perubahan terhadap undang-undang.”

www.pushep.or.id

(19)

Putusan Mahkamah Konstitusi

Nomor 36/PUU-X/2012 Tanggal 13 November 2012

Diajukan oleh : PP Muhammadiyah dkk

• Putusan:

Seluruh hal yang berkait dengan Badan Pelaksana dinyatakan bertentangan dengan UUD Negara RI tahun 1945

Fungsi dan tugas Badan Pelaksana Minyak dan Gas Bumi

dilaksanakan oleh Pemerintah, c.q. Kementerian terkait, sampai diundangkannya Undang-Undang yang baru yang mengatur hal tersebut

Catatan: mempunyai akibat/pengaruh yang cukup besar

pada tata kelola hulu migas

(20)

Putusan Mahkamah Konstitusi

Nomor 65/PUU-X/2012 Tanggal 28 Maret 2013

• Diajukan Oleh: Serikat Pekerja Pertamina

Putusan: ne bis in idem (pokok permohonan sama dengan perkara sebelumnya) & tidak beralasan menurut hukum

Catatan: Eksistensi BPH Migas Konstitusional

www.pushep.or.id

(21)

KENAPA BP MIGAS DIBUBARKAN?

BP MIG AS B UB AR hanya melakukan fungsi pengendalian dan

Pengawasan

(Tidak melakukan Fungsi Utama

Pengelolaan)

model hubungan (KKS) antara BP Migas sebagai representasi negara dengan BU/BUT dalam pengelolaan Migas mendegradasi makna penguasaan negara

Pemerintah tidak dapat secara langsung melakukan pengelolaan atau menunjuk secara langsung BUMN

setelah BP Migas menandatangani KKS, maka seketika itu pula negara terikat pada seluruh isi KKS, yang berarti, negara kehilangan

kebebasannya untuk melakukan regulasi atau kebijakan yang bertentangan dengan isi KKS

tidak maksimalnya keuntungan negara untuk

sebesar-besar kemakmuran rakyat, karena potensi penguasaan Migas keuntungan besar oleh BU/BUT

Menurut MK : hubungan antara negara dengan swasta dalam pengelolaan SDA tidak dapat

dilakukan dengan hubungan keperdataan, akan tetapi harus merupakan hubungan yang bersifat publik, yaitu berupa pemberian konsesi atau perizinan yang sepenuhnya di bawah kontrol dan

kekuasaan negara

(22)

KONSEP PENGUASAAN

OLEH NEGARA UUD NRI 1945

pengelolaan

(beheersdaad)

kebijakan (beleid)

pengurusan

(bestuurdaad)

PASAL 33

Penguasaan Negara Menurut Konstitusi

(Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi)

pengaturan

(regelendaad)

pengawasan

(toezichthoudensdaad)

UNTUK SEBESAR- BESAR

KEMAKMURAN RAKYAT

Menurut MK (Putusan Nomor 36/PUU-X/2012) :

“bentuk penguasaan negara peringkat pertama dan yang paling penting adalah negara melakukan pengelolaan secara langsung”

(pemilikan saham dan/atau keterlibatan langsung dalam manajemen)

www.pushep.or.id

(23)

PASAL-PASAL TERKAIT DENGAN BP MIGAS YANG DIPUTUS OLEH MK

NO PASAL AMAR PUTUSAN

1. Pasal 1 angka 23 Pasal 1 angka 23 bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

2. Pasal 4 ayat (3) Pasal 4 ayat (3) bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

3. Pasal 6 ayat (2) Pasal 6 ayat (2) huruf b, frasa ”pada Badan Pelaksana” bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

4. Pasal 11 ayat (1) Pasal 11 ayat (1) frasa “dengan Badan Pelaksana” bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

6. Pasal 20 ayat (3) Pasal 20 ayat (3) frasa “melalui Badan Pelaksana” bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

7. Pasal 21 ayat (1) Pasal 21 ayat (1) frasa “berdasarkan pertimbangan dari Badan Pelaksana dan” bertentangan dengan UUD.

8 Pasal 41 ayat (2) Pasal 41 ayat (2) bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

9. Pasal 44 Pasal 44 bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

10. Pasal 45 Pasal 45 bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

11. Pasal 48 ayat (1) Pasal 48 ayat (1) bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

12. Pasal 49 Pasal 49 frasa “Badan Pelaksana dan” bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

13. Pasal 59 huruf a Pasal 59 huruf a bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

14. Pasal 61 Pasal 61 bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

15. Pasal 63 Pasal 63 bertentangan dengan UUD Negara RI Tahun 1945.

(24)

RUU MIGAS

(25)

Apa Yang Diharapkan dari Tata Kelola Migas Baru

UU MIGAS BARU

Memenuhi Putusan Mahkamah Konstitusi

Kelembagaan/Perusahaan Negara Migas yang kuat

Pembangunan infrastruktur energi

Dampak multiplier effect  pertumbuhan ekonomi Memperkuat Ketahanan dan

kemandirian energi

Mengembalikan kedaulatan

negara sesuai UUD 45 Pasal 33

(26)

KONDISI PERUNDANG-UNDANGAN

UU MIGAS DIANTARA UU LAINNYA

UU MIGAS

UU Energi

UU Perpa- jakan

UU Perim- bangan Keuangan

UU Pemda

UU BUMN

Privilege?

UU Sektor Lainnya

www.pushep.or.id

(27)

A.Perubahan Pasal-Pasal sesuai dengan amanat Putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

B.Perubahan ketentuan sesuai hasil evaluasi dan kebutuhan perkembangan keadaan saat ini dan dimasa yang akan datang.

C.Penambahan materi dan substansi baru untuk penyempurnaan UU.

Jangkauan dan Arah Pengaturan RUU Migas

Meliputi:

(28)

POKOK-POKOK ISU RUU MIGAS

1. Konsep Penguasaan

2. Kelembagaan Hulu (Bentuk, Kedudukan, Struktur, & Kewenangan) 3. Kelembagaan Hilir (Bentuk, Kedudukan, Struktur, & Kewenangan)

4. Pengelolaan & Pengusahaan (WK, BU & BUT, Sistem KS, Jangka Waktu) 5. Domestic Market Obligation (DMO)

6. Peran Daerah (PI) 7. Perizinan

8. Keuangan & Perpajakan 9. Petroleum Fund

10. Lingkungan Hidup & Sosial 11. Tanah/Lahan

12. Harga BBM 13. Tata Niaga Gas 14. Infrastruktur

15. Usaha Penunjang 16. Pidana

www.pushep.or.id

(29)

BUKMIGAS

BADAN USAHA KHUSUS MINYAK DAN GAS BUMI

Kelembagaan Migas Dalam RUU Migas & UU Cipta Kerja

BUMNK

BADAN USAHA MILIK NEGARA

KHUSUS

(30)

Tahapan Pembentukan Undang-Undang

Perencanaan

Penyusunan

Pembahasan

Penetapan

Pengesahan &

Pengundangan

Prolegnas (5 & 1 tahunan &

Kumulatif Terbuka)

Perumusan NA & RUU

Oleh DPR – Pemerintah – (DPD)

Pengambilan Keputusan dalam Rapat Paripurna DPR

Disahkan oleh Presiden dan diundangkan oleh Menkumham dalam LN & BN www.pushep.or.id

(31)

Bisman Bhaktiar, SH., MH., MM.

[email protected]

 0813 1515 1123

T erima Kasih

www.pushep.or.id

Pusat Studi Hukum Energi & Pertambangan

“untuk energi & pertambangan yang berlandaskan hukum dan keadilan”

Hukum Energi Dan Pertambangan

Pushep Hukum Energi dan Pertambangan Pushep -Pusat Studi Hukum Energi & Pertambangan

@hukumenergi

bisman bhaktiar

Referensi

Dokumen terkait

(1) Pencabutan SIP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) disampaikan kepada Penghuni oleh Menteri melalui Pejabat yang diberi wewenang

Oleh karena kepolisi khusus adalah pegawai negeri sipil atau pegawai tetap pada badan usaha milik negara yang oleh atau atas kuasa undang-undang diberi wewenang untuk

(7) Apabila dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak tersedia atau tidak mencukupi, maka Menteri dapat menetapkan proyek tetap dilanjutkan apabila hasil evaluasi

Oleh karena kepolisi khusus adalah pegawai negeri sipil atau pegawai tetap pada badan usaha milik negara yang oleh atau atas kuasa undang-undang diberi wewenang untuk

Perusahaan Pembiayaan tetap tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka Menteri menetapkan sanksi pembekuan kegiatan usaha Perusahaan Pembiayaan

Pada Pasal 48 ayat (1) dinyatakan bahwa dalam hal suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara diberi wewenang oleh atau berdasarkan peraturan perundang- undangan untuk

a. Setiap perusahaan jasa penunjang yang akan melaksanakan kegiatan pada badan usaha atau bentuk usaha tetap melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi

Berdasarkan penjelasan di atas maka bila individu diberi wewenang untuk bertindak atas nama dan selama menjalankan usaha korporasi atau badan usaha tersebut, maka unsur “mens rea” yang