• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

1 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

I. PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang

Akuntabilitas Kinerja adalah kewajiban untuk menjawab dari perorangan, badan hukum atau pimpinan kolektif secara transparan mengenai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan suatu misi organisasi kepada pihak-pihak yang berwenang menerima pelaporan akuntabilitas/pemberi amanah.

Sektor pertanian dan Peternakan mencakup aspek Akuntabilitas yang didefinisikan sebagai suatu perwujudan kewajiban untuk mempertanggung- jawabkan Ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani atau pengentasan kemiskinan dan menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan periode jangka menengah dan panjang ditambahkan Sektor peternakan, disamping sebagai sumber bahan makanan, bahan mentah bagi sektor industri, juga merupakan lapangan kerja bagi sebagian besar penduduk di Indonesia.

Tanpa mengabaikan sub sektor lainya, sub sektor peternakan ini mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara mempunyai kewajiban untuk menyusun dan menyampaikan Laporan Akuntabilitas Kinerja yang disusun sesuai ketentuan yang terkandung dalam Inpres Nomor 7 Tahun 1999 mengenai Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Keputusan Kepala LAN Nomor 239 Tahun 2003.

Beberapa hal yang mendasari penyusunan LKjIP SKPD ini adalah sebagai berikut :

1. TAP MPR No.XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme;

2. Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme;

(2)

2 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;

5. Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

6. Permenpan No 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata cara Review atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

7. Sistematika Penyajian LKjIP mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN-RB) Nomor 29 Tahun 2010 secara garis besar sebagai berikut :

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

IKHTISAR EKSEKUTIF BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan mengenai gambaran umum organisasi dan pengantar lainnya BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

Dalam bab ini diikhtisarkan/diuraikan beberapa hal penting dalam perencanaan dan perjanjian kinerja (dokumen penetapan kinerja)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

Dalam bab ini diuraikan pencapaian sasaran-sasaran organisasi, dengan pengungkapan dan penyajian dari hasil pengukuran kinerja

A. PENGUKURAN KINERJA TAHUN 2017

B. ANALISIS CAPAIAN KINERJA

C. AKUNTABILITAS KEUANGAN

BAB IV PENUTUP

(Mengemukakan tinjuan secara umum tentang keberhasilan dan kegagalan, permnasalahan dan kendala utama yang berkaiatan dengan kinerja instansi serta strategi pemecahan masalah yang akan dilaksanakan tahun mendatang)

Lampiran – lampiran

(3)

3 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

B. Core Area

Renstra Dinas Pertanian dan Peternakan Tahun 2016 - 2021 menetapkan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai adalah :

NO TUJUAN SASARAN

1 Meningkatkan kapasitas Dinas Pertanian dan Peternakan dari segi kelembagaan, profesionalisme sumber daya aparatur, dan keuangan daerah dalam rangka pelayanan public yang prima dan kondusif.

Meningkatkan tertib administrasi dan kualitas pelayanan publik Dinas Pertanian dan Peternakan

2 Meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat tani

1. Meningkatkan kesejahteraan keluarga tani melalui ketangan pangan dan pemasaran hasil TPH.

2. Meningkatkan masyarakat tani yang menggunakan paket teknologi dan terjadi peningkatan produksi TPH 3 Meningkatkan pengelolaan sumber daya

lahan, air dan teknologi dalam upaya optimalisasi produksi dan dan pelestarian agroekologi

1. Meningkatnya produksi jagung melalui pengelolaan sumber daya lahan dan air serta teknologi

2. Meningkatnya pengelolaan pelestarian agroekologi melalui pengembangan komoditas spesifik lokal

4 Meningkatkan Kinerja tenaga penyuluh dalam pengawalan dan pendampingan petani

Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal sebanyak 90 % dari paket rekomendasi.

(4)

4 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

5

Meningkatkan hasil Produk Peternakan beserta ikutannya

Penurunan Kasus penyakit Ternak dan hewan lainnya 6 Meningkatkan usaha budidaya

ternak sesuai potensi lokal/wilayah.

Optimalisasi penerapan teknologi tepat guna 7 Meningkatkan Derajat Kesehatan

Ternak Masyarakat

Ketersediaan Pangan asal ternak

C. Issue Strategis

Pelaksanaan tugas, fungsi dan peran Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara tidak terlepas dari dinamika lingkungan strategis baik regional, nasional maupun global, yang ditelaah melalui pendekatan identifikasi permasalahan berdasarkan tugas fungsi pelayanan SKPD, telaah Visi – Misi – Sasaran Program Gerakan Pengembangunan Rakyat Sejahtera II (GERBANG RAJA II) Bupati/Wakil Bupati Kutai Kartanegara terpilih; telaah Renstra K/L dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Kalimantan Timur dan telaah RTRW Kabupaten Kutai Kartanegara, sehingga dapat ditentukan isu-isu strategis sebagai berikut :

1. Kurangnya dukungan anggaran

2. Kurangnya dukungan Staf terhadap Komitmen Pimpinan 3. Keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki 4. Keterbatasan Benih Bermutu

5. Penggunaan pupuk dan pestisida belum optimal 6. Ketersediaan alat mesin pertanian belum cukup 7. Penanganan pengendalian serangan OPT masih minim 8. Pengolahan dan pemasaran hasil belum optimal

(5)

5 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

9. Intensitas pembinaan dan monitoring kegiatan lapangan belum optimal 10. Pemetaan wilayah komoditas prioritas belum jelas

11. Belum tersedia data dan informasi secara online

12. Masih Rendahnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutai Kartanegara.

13. Sistem irigasi pertanian dan infrastruktur jalan usaha tani belum mampu mendukung untuk berkembangnya produksi dan pemasaran hasil pertanian TPH secara memadai.

14. Kecenderungan meningkatnya alih fungsi lahan pertanian dan Peternakan khususnya lahan sawah ke sektor penggunaan lain.

15. Jalinan kerjasama kemitraan dan keterkaitan usaha di dalam internal sub sektor pertanian dan Peternakan maupun eksternal (dengan sub sektor/sektor lainnya) masih lemah serta pemasaran produk masih terbatas di tingkat lokal.

16. Semakin meningkatnya harapan & tuntutan masyarakat akan reformasi birokrasi menunju terwujud-nya pelayanan bidang pertanian dan Peternakan yang mampu memuaskan masyarakat.

17. Lambatnya perkembangan, penyebaran, dan penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial, citra, dan daya terima.

18. faktor-faktor pengalaman usaha, modal usaha, jumlah ternak, jumlah tenaga kerja, pendidikan pengelola, ransum makanan dan pemberian obat-obatan baik secara bersama-sama maupun sendiri mempengaruhi keberhasilan peternakan.

(6)

6 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

D. Struktur Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN

KEPALA DINAS

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SEKRETARIS DINAS

BIDANG PRASARANA

DAN SARANA PERTANIAN

SUBBAG PROGRAM

DAN KEUANGAN SUBBAG

KEPEGAWAIAN

SUBBAG UMUM &

KETATALAKSANAAN

BIDANG TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

BIDANG PETERNAKAN DAN KESWAN BIDANG USAHA

DAN PENYULUHAN

SEKSI LAHAN DAN IRIGASI

SEKSI PUPUK DAN PESTISIDA

SEKSI ALAT , MESIN DAN SARANA

USAHA

SEKSI USAHA DAN KEMITRAAN

SEKSI PASCA PANEN , PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL

SEKSI PENYULUHAN

SEKSI PERBIBITAN

SEKSI BUDIDAYA

SEKSI KESEHATAN HEWAN DA KESEHATAN MASYARAKATVETERINER

SEKSI PRODUKSI TANAMAN PANGAN

SEKSI PRODUKSI HORTIKULTRA

SEKSI PERBENIHAN DAN PERLINDUNGAN

TANAMAN

(7)

7 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

II. PERENCANAAN KINERJA

Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, maka Kepala PD Dinas Pertanian dan Peternakan selaku pembantu Bupati Kutai Kartanegara bidang pertanian dan Peternakan telah melakukan kontrak perjanjian kinerja dengan Bupati Kutai Kartanegara untuk melaksanakan pembangunan tahun 2019.

Naskah perjanjian tentang pernyataan penetapan kinerja antara Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan dengan Plt. Bupati Kutai Kartanegara tahun anggaran 2019 terlampir dalam LKjIP ini.

Adapun sekilas tentang sasaran strategis, indikator target dan garis besar kegiatan program sebagai lampiran perjanjian penetapan kinerja dapat dilihat pada table berikut :

(8)

8 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

LAMPIRAN PENETAPAN KINERJA PD DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN

KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Tahun Anggaran : 2019

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Program/Kegiatan Anggaran

1 2 3 4 5

Pertumbuhan/Kontribusi PDRB sub sektor Pertanian Tanaman

Pangan dan Hortikultura 5.3

Program Pelayanan Administrasi

Perkantoran

Padi :

Penyediaan jasa surat menyurat

5.800.000,00

padi sawah 1,1

Penyediaan jasa

komunikasi, sumber daya air dan listrik

652.408.600,00

padi ladang 0,65

Penyediaan jasa

pemeliharaan dan perizinan kendaraan

dinas/operasional

130.000.000,00

Palawija :

Penyediaan jasa administrasi keuangan

662.520.000,00

jagung 1,4

Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja

60.000.000,00

kedelai 0,0003

Penyediaan alat tulis kantor 200.000.000,00

ubi kayu 0,002

Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor

102.660.000,00

ubi jalar 0,002

Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor

354.689.000,00

(9)

9 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang- undangan

49.997.400,00

Kacang Tanah 0,09

Penyediaan bahan logistik kantor

81.000.000,00

Hortikultura :

Penyediaan makanan dan minuman

150.000.000,00

Tanaman Buah 0,9

Penyediaan Jasa Administrasi Tekhnis Perkantoran

2.300.000.000,0 0

Sayuran 1,2

Penyediaan barang cetakan dan penggandaan

102.900.000,00

Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke dalam daerah dan ke luar daerah

942.165.826,00

Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya local

Persentase paket rekomendasi teknis yang diaplikasikan

75 % dari paket rekome

ndasi

Fasilitasi UPT Penyuluhan Pertanian dan Peternakan Kecamatan

780.000.000,00

Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur

Pengadaan Kendaraan Dinas/Operasional

2.357.863.000,0 0 Pemeliharaan rutin/berkala

mobil jabatan

80.000.000,00

Pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan

80.000.000,00

(10)

10 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan

dinas/operasional

317.000.000,00

Rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor

961.797.000,00

Meningkatnya Populasi dan Produktivitas ternak

Persentase Pertumbuhan

populasi Ternak

Perencanaan Pembangunan Gedung Kantor

174.128.000,00

- sapi potong

44.557 Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur

- Kerbau 4,706 Fasilitasi Tim Bekias RB 100.000.000,00

- Kambing

10,736 Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan

- Babi

6,103 Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Laporan Kinerja Serta Monev

575.000.000,00

- ayam ras pedaging

20,375 ,134

Inventarisasi Barang Milik Daerah

60.000.000,00

- ayam buras

1,631, 360

Manajemen absensi dan simpeg

75.000.000,00

- ayam ras petelur

413,18 5

Program Peningkatan Kesejahteraan Petani

- Itik

55,033 Verifikasi Kelompok dan Calon Penerima Ternak

Pemerintah 75.000.000,00

(11)

11 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi pertanian Pengembangan Kerjasama Kemitraan Usaha Agribisnis

100.000.000,00

Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian

Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian

4.060.000.000,0 0 Bimbingan Teknis

Pengembangan Teknologi Produksi Pupuk Organik dan Pestisida Nabati/Agens Hayati

225.000.000,00

Pengadaan pupuk kelompok Tani Desa Bukit pariaman dan Desa Bukit Raya

320.000.000,00

Pengelolaan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Tenggarong Seberang

500.000.000,00

Penerapan Teknologi Budidaya Padi Sawah

5.032.337.000,0 0 Program Peningkatan

Produksi Pertanian Pengembangan Perbenihan / Pembibitan Tanaman Pangan

1.058.431.000,0 0

Pengendalian OPT Pada Daerah Endemis Dan

100.000.000,00

(12)

12 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Pemasyarakatan PHT

Pengembangan budidaya tanaman buah-buahan unggul

250.000.000,00

Pengembangan budidaya tanaman sayuran, tanaman hias dan biofarmaka

882.780.000,00

Intensifikasi Pengembangan Padi sawah

4.936.720.000,0 0 Pendampingan UPSUS Padi,

Jagung, Bawang, dan Cabe

300.000.000,00

Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian Lapangan

Peningkatan Kemampuan Lembaga Petani-Nelayan

1.200.000.000,0 0 Mengikuti PEDA ( Pekan

Daerah) / PENAS

2.500.000.000,0 0 Kegiatan Penyuluh

Pertanian

1.547.950.000,0 0 Pertemuan Kelompok Tani

KTNA Kab.Kukar

250.000.000,00

Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak Pengadaan obat-obatan ternak

350.000.000,00

Pengadaan Perelatan Medis 227.220.000,00

(13)

13 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Peternakan Pencegahan dan

Pemberantasan Penyakit Ternak/Hewan

300.000.000,00

Program Peningkatan Produksi Hasil

Peternakan

Pembangunan Sarana dan Prasarana Ternak

65.000.000,00

Pengembangan Ternak Ruminansia

250.000.000,00

Pembangunan Pusat Kesehatan Hewan (DAK 2019)

500.000.000,00

Program peningkatan penerapan teknologi penyuluhan pertanian

Demplot Budidaya Jagung 150.000.000,00 Pembinaan dan Supervisi

Penyuluh

200.000.000,00

Program Revolusi Jagung

Pengembangan dan Penerapan Teknologi Budidaya Jagung

3.359.458.860,0 0

Pengembangan komoditi Jagung / Program Revolusi Jagung

1.089.400.000,0 0

Sosialisasi program 400.000.000,00

(14)

14 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

pengembangan "Revolusi"

Jagung

Penyediaan ALSINTAN budidaya dan pasca panen jagung

4.045.000.000,0 0

Fasilitasi pengolahan lahan budidaya jagung

(operasional traktor roda 4)

300.000.000,00

Pengumpulan/analisis harga pasar dan harga standar komoditas jagung

300.000.000,00

Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan

Pengembangan Inseminasi Buatan (IB)

200.000.000,00

Pendampingan UPSUS SIWAB

194.029.000,00

Pengadaan Alat Mesin Peternakan

250.000.000,00

Program penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana pertanian

Perencanaan Pembuatan / Peningkatan Prasarana dan Sarana Pertanian

200.000.000,00

Pembuatan/peningkatan prasarana irigasi pertanian tesier/JITUT

100.000.000,00

(15)

15 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Pembuatan/Peningkatan Jalan Pertanian

2.000.000.000,0 0 Pembinaan Pengelolaan

Sarana dan Prasarana Pertanian (pendampingan kegiatan DAK dan APBN)

250.000.000,00

Pembuatan Pintu saluran irigasi Kelompok tani Kelurahan Bukit Biru

180.000.000,00

Pembangunan DAM Parit (DAK 2019)

500.000.000,00

Pembangunan Pintu Air (DAK 2019)

239.065.000,00

Pembangunan Jalan Usaha Tani Tanaman Pangan (DAK 2019)

600.000.000,00

Pembangunan Jalan Produksi Hortikultura (DAK 2019)

400.000.000,00

Pembuatan Pintu Air,Irigasi Persawahan RT.05

Ds.Semangko

190.000.000,00

(16)

16 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

III. AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja Organisasi

Adapun indeks Pengukuran kinerja terdiri dari Pengukuran Kinerja Kegiatan dan Pengukuran Pencapaian Sasaran :

1. Pengukuran Kinerja Kegiatan ( PKK )

Untuk mengukur tingkat keberhasilan Dinas Pertanian dan Peternakan maka setiap aktivitas yang dilakukan harus dapat diukur yang dimulai dari input ( masukan ), output ( keluaran ), outcomes ( hasil ),benefits ( manfaat ) dan dampak ( impacts ) semua program yang bertujuan bagi kesejahteraan masyarakat.

Setelah tersusun aktivitas / program kemudian digunakan data tersebut untuk merancang indikator kinerja yang terdiri dari indikator masukan, indikator proses, indikator keluaran, indikator hasil, indikator manfaat dan indikator dampak. Identifikasi dan penetapan indikator-indikator tersebut adalah sebagai berikut :

a. Indikator Masukan ( Inputs ) : mengukur jumlah sumberdaya seperti : dana, SDM, peralatan,material,dan masukan lain yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan sehingga dapat dianalisa alokasi sumberdaya yang dimiliki telah sesuai dengan rencana strategis yang telah ditetapkan.

b. Indikator Keluaran ( Outputs ) : digunakan untuk mengukur keluaran yang dihasilkan dari suatu kegiatan. Dengan membandingkan keluaran dapat dianalisa sejauh mana kegiatan dapat terlaksana sesuai dengan rencana.

Indikator ini hanya dapat menjadi landasan untuk menilai kemajuan suatu

(17)

17 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

kegiatan apabila dikaitkan dengan sasaran-sasaran kegiatan yang terdefinisi dengan baik dan terukur.

c. Indikator Hasil ( Outcomes ) : menggambarkan hasil nyata dari keluaran suatu kegiatan. Pada umumnya para pembuat kebijaksanaan paling tertarik pada indikator ini dibandingkan dengan indikator lainnya.Namun informasi yang diperoleh untuk mengukur hasil seringkali tidak lengkap dan tidak mengukur hasil dari keluaran suatu kegiatan.

d. Indikator Manfaat ( Benefits ):menggambarkan manfaat yang diperoleh dari indikator hasil. Manfaat tersebut baru tampak setelah beberapa waktu kemudian, khususnya dalam jangka waktu menengah dan jangka panjang.

Indikator manfaat menunjukkan hal-hal yang diharapkan untuk dicapai bila keluaran dapat diselesaikan dan berfungsi dengan optimal (tepat waktu dan tepat lokasi ).

e. Indikator Dampak ( Impacts ):memperlihatkan pengaruh yang ditimbulkan dari manfaat yang diperoleh dari hasil kegiatan dan baru dapat diketahui dalam jangka waktu menengah atau jangka panjang. Indikator dampak menunjukkan dasar pemikiran dilaksanakannya kegiatan yang menggambarkan aspek makro pelaksanaan kegiatan, tujuan kegiatan secara sektoral,regional dan nasional.

2. Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS)

Untuk mengetahui gambaran mengenai tingkat Pencapaian Kinerja Sasaran dilakukan melalui media Rencana Kinerja yang kemudian dibandingkan dengan realisasinya berupa persentase hasil capaian, seperti berikut ini :

a. Sasaran Strategis menyajikan sejumlah Sasaran yang ingin dicapai, yaitu pada Rencana Strategis (Renstra) SKPD dan memiliki indikator yang terukur.

(18)

18 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

b. Indikator Kinerja menyajikan sejumlah alat ukur yang digunakan guna melihat sampai sejauh mana sasaran tersebut dicapai.

c. Target menyajikan sejumlah perumusan angka akhir kinerja suatu sasaran yang ingin dicapai.

d. Realisasi menyajikan realitas angka perolehan pada capaian akhir suatu kegiatan sebagai ukuran pencapaian target sasaran.

e. Persentase menyajikan perbandingan antara Target yang ingin dicapai dengan realisasi yang telah dicapai berupa satuan persen. Sehingga hasil persentase mampu menggambarkan predikat capaian sebagai berikut :

-

80 % – 100 % = baik - 50 % – 79 % = Cukup - < 50 % = Kurang

 Hasil Pengukuran Kinerja

RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN

Pengertian PDRB adalah jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan pekonomian diseluruh daerah dalam tahun tertentu atau perode tertentu dan biasanya satu tahun.

– penghitungan PDRB menggunakan dua macam harga yaitu harga berlaku dan harga konstan. PDRB harga atas harga berlaku merupakan nilai tmabah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada tahun yang bersangkutan sementasra atas harga konstan dihitung dengan menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar.

(19)

19 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Metode penghitungan

Penghitungan PDRB dapat dilakukan dengan empat cara pendekatan yaitu :

1. Pendekatan Produksi

Pendekatan Produksi dapat disebut juga pendekatan nilai tambah dimana nilai tambah bruto ( NTB) dengan cara mengurangkan nilai out put yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan biaya antara dari masing nilai produksi bruto tiap sektor ekonomi. Nilai tambah merupakan nilai yang ditambahkan pada barang dan jasa yang dipain oleh unit produksi sebagai input antara. Nilai yang ditambahkan sama dengan balas jasa faktor produksi atas ikutsertanya dalam proses produksi.

2. Pendekatan Pendapatan

Pada pendekatan ini, nilai tambah dari kegiatan – kegiatan ekonomi dihitung dengan cara menjumlahkan semua balas jasa faktor praoduksi yaitu upah dan gajih, surplus usaha, penyusutan danpajak tak langsung neto. Untuk sektor Pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari keuntunga, surplus usaha ( bunga neto, sewa tanah dan keuntungan ) tidak diperhitungkan.

3. Pendekatan Pengeluaran

Pendekatan ini digunakan untuk menghitung nilai barang dan jasa yang digunakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat untuk keperluan konsumsi rumah tangga, pemerintah dan yayasan sosial ; Pembentukan modal; dan ekspor.

Mengingat nilai barang dan jasa hanya berasal dari produksi domestik, total pengeluaran dari komponen – komponen di atas harus dikurangi nilai impor

(20)

20 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

sehingga nilai ekspor yang dimaksud adalah ekspor neto. Penjumlahan seluruh komponen pengeluaran akhir ini disebut PDRB atas dasar harga pasar.

4. Metode Alokasi

Metode ini digunakn jika data suatu unit produksi di suatu daerah tidak tersedia.

Nilai tambah suatu unit produksi di daerah tersebut dihitung dengsn menggunakan data yang telah dialokasikan dari sumber yang tingkatnya lebih tinggi, misalnya data suatu kabupaten diperoleh dari alokasi data Propinsi.

Beberapa alokator yang digunakan adalah nilai produksi bruto atau netto, jumlah produksi fisik, tenaga kerja,penduduk, dan alokator lainnya yang dianggap cocok untuk menghitung nilai suatu unit produksi.

Adapun variabel untuk Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal diukur melalui paket rekomendasi yang digunakan dilapangan oleh pelaku utama atas saran dan anjuran Petugas Penyuluh Lapangan , Sedangkan Pertumbuhan Ternak didapat dari jumlah populasi/ekor di kelompok peternak yang ada di kabupaten Kutai Kartanegara.

Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan distribusi pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional dan melalui pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik, disertai dengan tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

Pengukuran tingkat capaian kinerja Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara tahun Renstra (2016 – 2021) dilakukan dengan

(21)

21 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

cara membandingkan realisasi per tahun masing-masing indikator kinerja sasaran,dan untuk 2019 ada 3 (Tiga) Sasaran yang dapat diukur yaitu :

1. Pertumbuhan/Kontribusi PDRB sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura.

2. Meningkatnya Populasi ternak

3. Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal.

Adapun rincian tingkat capaian kinerja masing-masing indikator tersebut dapat diilustrasikan dalam Tabel realisasi capaian kinerja SKPD tahun Renstra 2016 2021 berikut :

I. Tabel realisasi capaian kinerja SKPD tahun Renstra 2016 – 2018 Realisasi Indikator Kinerja 2018

No SASARAN

STRATEGIS

INDIKATOR KINERJA TARGET (%) REALISASI (%) KETERANGAN

1 Meningkatnya kontribusi PDRB sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Pertumbuhan/kontribusi PDRB sub sektor

Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

5,2 0,85 Tidak Tercapai

Padi sawah 1.1 -0,18 Tidak Tercapai

Padi Ladang 0.65 0,12 Tidak Tercapai

Jagung 1.4 0,36 Tidak Tercapai

Kedelai 0.0003 -0,13 Tidak Tercapai

Ubi kayu 0.002 0,64 Tercapai

Ubi jalar 0.002 0,25 Tercapai

Kacang Tanah 0.09 -0,04 Tidak Tercapai

Tanaman Buah 0.9 -0,08 Tidak Tercapai

Tanaman Sayuran 1.2 -0,08 Tidak Tercapai

(22)

22 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

2 Meningkatnya Populasi ternak

Persentase

Pertumbuhan populasi Ternak

Ekor (%)

- sapi potong 39085 54 Tidak Tercapai

- Kerbau 4,278 51 Tidak Tercapai

- Kambing 9,760 102 Tercapai

- Babi 5,548 60 Tidak Tercapai

- ayam ras

pedaging 18,522,849

17 Tidak Tercapai - ayam buras 1,483,055 23 Tidak Tercapai - ayam ras petelur 375,623 44 Tidak Tercapai - Itik

50,030

121

Tercapai 3 Peningkatan

pengaplikasian paket

rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal

Persentase paket rekomendasi teknis yang diaplikasikan

75 % dari paket

rekomendasi

47 % dari paket

rekomendasi

Tidak Tercapai

(23)

23 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Evaluasi dan Analisis Kinerja Sasaran

Analisis dan evaluasi capaian kinerja tahun 2018 dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Tabel realisasi capaian kinerja SKPD tahun Renstra 2016 - 2021 dapat dijelaskan sebagai berikut :

Sasaran : 1 Meningkatnya kontribusi PDRB sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Sasaran : 2 Meningkatnya Populasi ternak

Sasaran : 3 Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya local

Tabel perbandingan laju pertumbuhan (Menunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dalam selang waktu tertentu)

No. Komoditi PDRB 2019 PDRB 2018 Laju Pertumbuhan 1 Padi sawah

-0,18 -0.02 -0,17

2 Padi ladang

0,12 0.42 -0,29

3 Jagung

0,36 -0.04 0,40

4 Kacang Kedelai

-0,13 -0.80 0,67

5 Ubi kayu

0,64 -0.25 0,89

6 Ubi rambat

0,25 0.03 0,22

7 Kacang tanah

-0,04 0.04 -0,08

8 Buah

-0,08 1.18 -1,26

9 Sayur

-0,08 2.49 -2,58

(24)

24 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Berdasarkan rencana strategis indikator keberhasilan pencapaian kinerja produksi tanaman pangan tahun 2018 dengan pencapaian masing-masing komoditas tanaman pangan mencakup usaha penajaman program dan kegiatan yang diharapkan berbanding lurus terhadap hasil ;

Adapun hasil realisasi ini di evaluasi dengan ;

merunut tabel perbandingan laju pertumbuhan menunjukan pelambatan apabila dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi daerah. Untuk mengukur kemajuan perekonomian daerah dengan mengamati seberapa besar laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai daerah tersebut yang tercermin dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Laju Pertumbuhan ini mengalami Pelambatan karena banyak yang mempengaruhinya, seperti: Tabungan, Kredit, PAD dan Belanja Daerah.

Kebijakan pemerintah dapat diambil secara tepat apabila berdasar pada informasi statistik yang akurat dan tepat waktu. Informasi tersebut selain menunjukkan perkembangan hasil pembangunan juga memperoleh masalah dan tantangan yang harus dihadapi. Tujuan pembangunan daerah secara umum adalah untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Di dalam pembangunan ekonomi selalu muncul polemik dalam menentukan strategi dasar pembangunannya, yaitu memprioritaskan pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi itu sendiri artinya adalah suatu tingkat perubahan ekonomi yang berlangsung dari tahun ke tahun. Ini berarti bahwa untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah, harus membandingkan pendapatan rill daerah yang bersangkutan dari tahun ke tahun.

(25)

25 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu negara yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non-residen. Penyusunan PDRB dapat dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan yaitu pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan yang disajikan atas dasar harga berlaku dan harga konstan (riil). PDRB atas dasar harga berlaku atau dikenal dengan PDRB nominal disusun berdasarkan harga yang berlaku pada periode penghitungan, dan bertujuan untuk melihat struktur perekonomian.

Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan (riil) disusun berdasarkan harga pada tahun dasar dan bertujuan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi.

Laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto diperoleh dari perhitungan PDRB atas dasar harga konstan. Laju pertumbuhan tersebut dihitung dengan cara mengurangi nilai PDRB pada tahun ke-n terhadap nilai pada tahun ke n-1 (tahun sebelumnya), dibagi dengan nilai pada tahun ke n1, kemudian dikalikan dengan 100 persen. Laju pertumbuhan menunjukkan perkembangan agregat pendapatan dari satu waktu tertentu terhadap waktu sebelumnya.

Harga Berlaku adalah penilaian yang dilakukan terhadap produk barang dan jasa yang dihasilkan ataupun yang dikonsumsi pada harga tahun sedang berjalan.

Harga Konstan adalah penilaian yang dilakukan terhadap produk barang dan jasa yang dihasilkan ataupun yang dikonsumsi pada harga tetap di satu tahun dasar.

(26)

26 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Tahun Dasar adalah tahun terpilih sebagai referensi statistik, yang digunakan sebagai dasar penghitungan tahun-tahun yang lain. Dengan tahun dasar tersebut dapat digambarkan seri data dengan indikator rinci mengenai perubahan/pergerakan yang terjadi.

Kegunaan/manfaat Produk Domestik Regional Bruto ;

1. PDRB harga berlaku (nominal) menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah. Nilai PDRB yang besar menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang besar, begitu juga sebaliknya.

2. PDRB harga konstan (riil) dapat digunakan untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap kategori dari tahun ke tahun.

Perbandingan Perubahan Konsep dan Metode Perhitungan PDRB

Sumber BPS Kutai Kertanegara

Terkait dengan tugas dan fungsi Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara, kondisi realisasi dari variable yang diukur banyak dipengaruhi antara lain :

1. Kurangnya dukungan anggaran

2. Kurangnya dukungan Staf terhadap Komitmen Pimpinan 3. Keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki

Variabel Konsep Lama Konsep Baru

Output Pertanian Hanya mencakup output pada saat panen

Output pada saat panen ditambah nilai hewan dan tumbuhan yang belum menghasilkan

(27)

27 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

4. Keterbatasan Benih Bermutu

5. Penggunaan pupuk dan pestisida belum optimal 6. Ketersediaan alat mesin pertanian belum cukup 7. Penanganan pengendalian serangan OPT masih minim 8. Pengolahan dan pemasaran hasil belum optimal

9. Intensitas pembinaan dan monitoring kegiatan lapangan belum optimal 10. Pemetaan wilayah komoditas prioritas belum jelas

11. Belum tersedia data dan informasi secara online

12. Masih Rendahnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutai Kartanegara.

13. Sistem irigasi pertanian dan infrastruktur jalan usaha tani belum mampu mendukung untuk berkembangnya produksi dan pemasaran hasil pertanian dan Peternakan secara memadai.

14. Kecenderungan meningkatnya alih fungsi lahan pertanian dan Peternakan khususnya lahan sawah ke sektor penggunaan lain.

15. Jalinan kerjasama kemitraan dan keterkaitan usaha di dalam internal sub sektor pertanian dan Peternakan maupun eksternal (dengan sub sektor/sektor lainnya) masih lemah serta pemasaran produk masih terbatas di tingkat lokal.

16. Semakin meningkatnya harapan & tuntutan masyarakat akan reformasi birokrasi menuju terwujud-nya pelayanan bidang pertanian dan Peternakan yang mampu memuaskan masyarakat.

17. Lambatnya perkembangan, penyebaran, dan penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial, citra, dan daya terima.

(28)

28 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

18. Faktor-faktor pengalaman usaha, modal usaha, jumlah ternak, jumlah tenaga kerja, pendidikan pengelola, ransum makanan dan pemberian obat-obatan baik secara bersama-sama maupun sendiri mempengaruhi keberhasilan peternakan.

Kesuburan Tanah dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya ;

Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.

Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Dari segi klimatologi, tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan menekan erosi, meskipun tanah sendiri juga dapat tererosi. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain.

Air dan udara merupakan bagian dari tanah.

Kesuburan tanah tergantung pada keseimbangan empat faktor yaitu air, oksigen, unsur hara, kondisi fisik dan unsur toksik (zat penghambat). Kelima factor ini tidak boleh bertindak sebagai factor pembatas yang keterlaluan, karna akan mengakibatkan ‘ke-optimuman’ faktor-faktor yang lain jadi tidak bermanfaat lagi.

(29)

29 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

a. Air

Sekitar 500 gram air diperlukan untuk menghasilkan 1 gram bahan tumbuhan kering. Sekitar 5 gram atau 1 persen air ini menjadi bagian terpadu dari tumbuhan. Sisanya hilang melalui stomata pada daun selama penyerapan karbondioksida. Keadaan atmosfer seperti kelembaban dan suhu nisbi memainkan peran utama dalam menentukan seberapa cepat air itu hilang dan jumlah air yang diperlukan tumbuhan.

Karena pada hakikatnya pertumbuhan semua tanaman pertanian akan dibatasi bila terjadi kekurangan air. Meskipun keadaannya mungkin sementara dan tanaman tidak dalam bahaya kematian, kemampuan tanah untuk menahan air terhadap gaya tarik bumi menjadi sangat penting kecuali jika air hujan atau irigasi mencukupi. Keperluan akan pembuangan kelebihan air dari tanah berkaitan dengan keperluan untuk oksigen.

Tanah yang subur akan memberikan kecukupan air yang seimbang bagi tanaman.

Karena kekurangan maupun kelebihan, keduanya akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

b. Oksigen

Oksigen mutlak di butuhkan untuk proses pembakaran fisiologis atau respirasi.

Jika dalam pertumbuhannya akar kekurangan oksigen maka respirasi akan terganggu dan penyerapan bahan-bahan organik yang berasal dari tanah yang digunakan sebagai bahan dasar fotosintesis akan berkurang sehingga kesehatan tanaman pun akan menurun. Akar mempunyai lubang-lubang yang disebut lentisel yang memungkinkan pertukaran gas. Oksigen berdifusi ke dalam sel-sel akar dan digunakan untuk pernafasan, sedangkan karbondioksida berdifusi ke dalam tanah. Pernafasan melepaskan energy yang diperlukan tanaman untuk

(30)

30 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

sintesa dan translokasi senyawa-senyawa organic dan pengumpulan aktif ion-ion hara untuk melawan gradient konsentrasi.

Alat Pengukur Kadar Air Tanah

Beberapa tanaman, misalnya padi, dapat tumbuh dalam air tergenang karena tanaman ini mempunyai struktur morfologi yang memungkinkan difusi intern oksigen atmosfer ke dalam jarring-jaring akar. Produksi yang berhasil pada kebanyakan tanaman dalam kultur air memerlukan adanya aerasi pada larutan tersebut. Perbedaan besar yang terdapat diantara tumbuhan-tumbuhan adalah dalam hal kemampuannya untuk toleran terhadap kadar oksigen yang rendah.

Tumbuhan yang peka mungkin layu atau mati karena penjenuhan tanah air dengan air selama sehari. Kelayuan ini diperkirakan terjadi karena pengurangan permiabilitas sel-sel akar terhadap air, sebagai akibat dari gangguan proses metabolism karena kekurangan oksigen.

Mikroorganisme aerob, bakteri, aktinomicetes, dan fungi memanfaatkan oksigen dari atmosfer tanah dan sangat bertanggungjawab terhadap perubahan hara dari bahan organic menjadi bentuk larut yang dapat digunakan kembali oleh tumbuhan.

c. Unsur - unsur hara yang Esensial

Unsur-unsur hara dalam tanah pun ikut berperan dalam menentukan kesuburan tanah. Paling sedikit ada 16 unsur yang kini dianggap perlu untuk pertumuhan tanaman berpembuluh. Karbon, hydrogen dan oksigen yang digabungkan dalam rekasi fotosintesis, diperoleh dari udara dan air. Unsure- unsur ini menyusun 90 persen atau lebih bahan kering. 13 unsur sisanya, sebagian besar diperoleh dari tanah. Nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium dan belerang diperlukan dalam jumlah besar dan disebut unsure- unsur makro. Hara yang diperlukan dalam jumlah cukup kecil disebut unsure

(31)

31 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

mikro atau perunut (trace element) dan meliputi mangan, besi, boron, seng, tembaga, molybdenum, dan klor.

Alat uji Kadar Air Tanah

Lebih dari 40 unsur tambahan telah ditemukan dalam tumbuhan. Beberapa tumbuhan mengumpulkan unsure-unsur yang tidak penting tetapi mempunyai pengaruh yang menguntungkan. Contohnya, penyerapan natrium oleh seledri, dan hasilnya, dalam hal ini, adalah perbaikan dalam rasa.

Kebanyakan hara terdapat dalam mineral dan bahan organic, dan dalam keadaan demikian tidak larut dan tidak tersedia bagi tumbuhan. Hara menjadi tersedia melalui pelapukan mineral dan penguraian bahan organic. Memang jarang tanah yang mampu menyediakan semua unsure penting selama jangka waktu yang panjang dalam jumlah yang diperlukan untuk menghasilkan produk yang tinggi.

Namun tanah yang subur akan memiliki sebagian besar unsure hara yang diperlukan oleh tanaman.

Lambatnya perkembangan, penyebaran, dan penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial, citra, dan daya terima. Serta Kurangnya pengalaman usaha, modal usaha, jumlah ternak, jumlah tenaga kerja, pendidikan pengelola, ransum makanan dan pemberian obat-obatan baik secara bersama- sama maupun sendiri mempengaruhi keberhasilan peternakan.

 Selain narasi di atas, Indikasi yang dapat dianalisa terhadap kondisi komoditas yang diukur tersebut antara lain :

1. Peningkatan kesuburan tanah belum maksimal.

2. Penurunan luas tanam .

3. Alih fungsi lahan/konversi lahan.

4. Penurunan daya dukung tenaga kerja.

(32)

32 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

5. Anomali iklim.

6. Penurunan luas panen.

7. Teknologi budidaya yang tidak berubah.

8. Kurangnya Pengawasan yang berkualitas.

9. Trend permintaan pasar.

10. Khusus komoditi jagung pengaruh terbesarnya yaitu panen muda.

11. Keragaman agroklimat (terapan iklim dan topograpi).

12. Penyediaan dan penyaluran ALSINTAN yang kurang tepat.

13. Optimalisasi lahan yang kurang.

14. Fasilitas penunjang pertanian (jalan usaha tani,irigasi) yang kurang.

15. Fasilitas pengolahan pasca panen yang kurang berkembang/pemanfaatannya masih rendah.

16. Belum meratanya penggunaan varietas unggul.

17. Bertambahnya keragaman komoditi yang dibudidayakan.

18. Tren pasar yang tinggi terhadap komoditi yang dibudidayakan.

19. Kurangnya pengalaman usaha, modal usaha jumlah ternak, jumlah tenaga kerja, pendidikan pengelola, ransum makanan dan pemberian obat-obatan baik secara bersama-sama maupun sendiri mempengaruhi keberhasilan peternakan.

20. tata ruang daerah untuk pengembangan komoditas peternakan yang difokuskan pada suatu lokasi atau wilayah secara terpadu belum sesuai dengan peruntukan.

21. Pembangunan Peternakan masih terkotak – kotak serta kurangnya koordinasi masyarakat (peternak, koperasi dan swasta) ke pemerintah kabupaten dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah

(33)

33 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

22. Belum fokusnya pembangunan Peternakan yang diarahkan untuk menumbuh-kembangkan ekonomi perdesaan yang mandiri.

23. Kurangnya pendayagunaan aparatur yang berkompeten, PPL dan/atau tenaga ahli dalam mengawal dan memfasilitasi pengembangan budidaya tanaman dan peternakan.

24. Masih rendahnya penerapan dan pengembangan paket teknologi yang sesuai dalam intensifikasi budidaya tanaman pangan dan hortikul-tura yang didukung dengan pengembangan kemapuan SDM petani.

(34)

34 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

II. Realisasi Kinerja Tahun Anggaran 2019

NO PROGRAM KEGIATAN PAGU (Rp) REALISASI (Rp) %

1 2 3 4 5

I Program Pelayanan Administrasi Perkantoran

1 Penyediaan jasa surat menyurat 5.800.000,00 4.347.000,00 74,95%

2 Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik

652.408.600,00 418.076.679,00 64,08%

3 Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional

130.000.000,00 41.501.200,00 31,92%

4 Penyediaan jasa administrasi keuangan

662.520.000,00 618.190.000,00 93,31%

5 Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja

60.000.000,00 34.411.000,00 57,35%

6 Penyediaan alat tulis kantor 200.000.000,00 197.358.300,00 98,68%

7 Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor

102.660.000,00 97.377.950,00 94,85%

8 Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor

354.689.000,00 291.785.450,00 82,27%

9 Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan

49.997.400,00 49.980.000,00 99,97%

10 Penyediaan bahan logistik kantor 81.000.000,00 62.251.000,00 76,85%

11 Penyediaan makanan dan minuman

150.000.000,00 79.737.500,00 53,16%

Penyediaan Jasa Administrasi 2.300.000.000,00 2.146.904.160,00 93,34%

(35)

35 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Tekhnis Perkantoran

12 Penyediaan barang cetakan dan penggandaan

102.900.000,00 98.820.000,00 96,03%

13 Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke dalam daerah dan ke luar daerah

942.165.826,00 941.938.711,00 99,98%

14 Fasilitasi UPT Penyuluhan Pertanian dan Peternakan Kecamatan

780.000.000,00 779.250.000,00 99,90%

II Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur

15 Pengadaan Kendaraan Dinas/Operasional

2.357.863.000,00 0,00 0,00%

16 Pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan

80.000.000,00 76.646.256,00 95,81%

17 Pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan

80.000.000,00 79.242.499,00 99,05%

18 Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional

317.000.000,00 311.946.989,00 98,41%

19 Rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor

961.797.000,00 877.702.258,00 91,26%

20 Perencanaan Pembangunan Gedung Kantor

174.128.000,00 150.418.500,00 86,38%

III Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur

21 Fasilitasi Tim Bekias RB 100.000.000,00 48.617.000,00 48,62%

Program Peningkatan Pengembangan Sistem

(36)

36 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

IV Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan

22 Penyusunan Dokumen

Perencanaan dan Laporan Kinerja Serta Monev

575.000.000,00 558.143.330,00 97,07%

23 Inventarisasi Barang Milik Daerah 60.000.000,00 38.142.000,00 63,57%

24 Manajemen absensi dan simpeg 75.000.000,00 74.446.400,00 99,26%

V Program Peningkatan Kesejahteraan Petani

25 Verifikasi Kelompok dan Calon Penerima Ternak Pemerintah

75.000.000,00 75.000.000,00 100,00%

VI Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi pertanian

26 Pengembangan Kerjasama Kemitraan Usaha Agribisnis

100.000.000,00 97.785.000,00 97,79%

VII Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian

27 Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian

4.060.000.000,00 3.418.721.700,00 84,20%

28 Bimbingan Teknis

Pengembangan Teknologi Produksi Pupuk Organik dan Pestisida Nabati/Agens Hayati

225.000.000,00 188.105.000,00

83,60%

29 Pengadaan pupuk kelompok Tani Desa Bukit pariaman dan Desa

320.000.000,00 287.729.250,00 89,92%

(37)

37 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

Bukit Raya

30 Pengelolaan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Tenggarong Seberang

500.000.000,00 493.086.252,00 98,62%

31

Penerapan Teknologi Budidaya Padi Sawah

5.032.337.000,00 0,00 0,00%

VIII Program Peningkatan Produksi Pertanian

32 Pengembangan Perbenihan / Pembibitan Tanaman Pangan

1.058.431.000,00 918.885.300,00 86,82%

33 Pengendalian OPT Pada Daerah Endemis Dan Pemasyarakatan PHT

100.000.000,00 99.682.000,00 99,68%

34 Pengembangan budidaya tanaman buah-buahan unggul

250.000.000,00 229.596.000,00 91,84%

35 Pengembangan budidaya

tanaman sayuran, tanaman hias dan biofarmaka

882.780.000,00 599.380.600,00 67,90%

36 Intensifikasi Pengembangan Padi sawah

4.936.720.000,00 4.407.277.990,00 89,28%

37 Pendampingan UPSUS Padi, Jagung, Bawang, dan Cabe

300.000.000,00 283.709.202,00 94,57%

IX Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian Lapangan

(38)

38 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

38 Peningkatan Kemampuan Lembaga Petani-Nelayan

1.200.000.000,00 915.034.000,00 76,25%

39 Mengikuti PEDA ( Pekan Daerah) / PENAS

2.500.000.000,00 2.246.243.000,00 89,85%

40 Kegiatan Penyuluh Pertanian 1.547.950.000,00 1.016.554.500,00 65,67%

41 Pertemuan Kelompok Tani KTNA Kab.Kukar

250.000.000,00 193.441.600,00 77,38%

X Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak

42 Pengadaan obat-obatan ternak 350.000.000,00 342.282.300,00 97,79%

43 Pengadaan Perelatan Medis Peternakan

227.220.000,00 224.479.450,00 98,79%

44 Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Ternak/Hewan

300.000.000,00 274.299.500,00 91,43%

XI Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan

45 Pembangunan Sarana dan Prasarana Ternak

65.000.000,00 64.647.800,00 99,46%

46 Pengembangan Ternak Ruminansia

250.000.000,00 197.224.600,00 78,89%

47 Pembangunan Pusat Kesehatan Hewan (DAK 2019)

500.000.000,00 488.310.100,00 97,66%

XII Program peningkatan penerapan teknologi penyuluhan pertanian

(39)

39 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) 2019

48 Demplot Budidaya Jagung 150.000.000,00 118.314.000,00 78,88%

49 Pembinaan dan Supervisi Penyuluh

200.000.000,00 162.470.000,00 81,24%

XIII Program Revolusi Jagung

50 Pengembangan dan Penerapan Teknologi Budidaya Jagung

3.359.458.860,00 3.201.667.920,00 95,30%

51 Pengembangan komoditi Jagung / Program Revolusi Jagung

1.089.400.000,00 915.875.762,00 84,07%

52 Sosialisasi program

pengembangan "Revolusi"

Jagung

400.000.000,00 349.946.120,00 87,49%

53 Penyediaan ALSINTAN budidaya dan pasca panen jagung

4.045.000.000,00 2.683.006.600,00 66,33%

54 Fasilitasi pengolahan lahan budidaya jagung (operasional traktor roda 4)

300.000.000,00 129.765.000,00 43,26%

55 Pengumpulan/analisis harga pasar dan harga standar komoditas jagung

300.000.000,00 298.000.000,00 99,33%

XIV Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan

56 Pengembangan Inseminasi Buatan (IB)

200.000.000,00 191.381.100,00 95,69%

57 Pendampingan UPSUS SIWAB 194.029.000,00 170.753.900,00 88,00%

58 Pengadaan Alat Mesin Peternakan

250.000.000,00 238.816.500,00 95,53%

Gambar

Tabel    perbandingan  laju  pertumbuhan  (Menunjukkan  pertumbuhan  produksi  barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dalam selang waktu tertentu)

Referensi

Dokumen terkait

digunakan dalam pengkajian penggemukan sapi di Desa Satra, sapi-sapi yang mendapatkan perlakuan pakan tambahan (baik dedak padi maupun dedak kopi) memberikan pengaruh yang

Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi di berbagai bidang maka dunia pendidikan juga harus menyesuaikan diri mengikuti perkembangannya, terutama Guru dan

Komponen RPP mata pelajaran tepadu sama dengan komponen RPP kurikulum 2006 yaitu; (A) Identitas sekolah, terdiri dari nama sekolah, Tema pelajaran, kelas, alokasi waktu,

2.4.1 Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sukabumi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor : KEP- 443/KMK.01/2001 tanggal 23

3. Beberapa manfaat perencanaan usaha adalah pekerjaan atau aktivitas dapat dilakukan secara teratur dan dengan tujuan yang jelas, menghindari pekerjaan atau aktivitas yang

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji lebih dalam dan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan yang berbentuk skripsi

Analisis data dilakukan secara kualitatif yakni menjelaskan dan menguraikan teori-teori, asas-asas, norma-norma, doktrin, dan kaidah-kaidah yang terkandung dalam

Tentukanlah gaya tarik grafitasi yang dialami oleh bola bermassa 5 kg yang terletak pada jarak 2 meter dari kedua massa tersebut.. Sebuah bola bermassa 3 kg terletak pada