1. PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang Masalah
Penggelapan pajak atau yang sering disebut tax evasion secara umum merupakan suatu kegiatan meminimalkan kewajiban pajak secara ilegal atau bisa dibilang melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. Menurut Sutiono dan Mangoting (2014) dalam penelitian pengaruh pandangan sosial, usia, dan kepercayaan kepada pemerintah terhadap praktik penggelapan pajak di Surabaya, dinyatakan bahwa Penggelapan pajak (tax evasion) adalah tindak pidana karena merupakan rekayasa subyek (pelaku) dan obyek (transaksi) pajak untuk memperoleh penghematan pajak dengan cara melawan hukum (unlawfully).
Tax evasion merupakan kegiatan yang merugikan negara. Semakin banyak wajib pajak yang melakukan penggelapan pajak, maka dampak yang akan terjadi adalah tidak tercapainya target pendapatan negara. Seperti dalam penelitian tax evasion yang dilakukan Suminarsasi dan Supriyadi (2011), dinyatakan bahwa salah satu indikasi adanya tindakan penggelapan pajak mungkin dapat dilihat melalui tidak tercapainya target penerimaan pajak. Rosianti dan Mangoting (2014) berpendapat bahwa praktek penggelapan pajak ini telah dilakukan oleh para wajib pajak dari tahun ke tahun, para wajib pajak berusaha untuk meminimalkan beban pajak yang harus dibayarkan dengan cara yang ilegal.
Wajib pajak melakukan tindakan tersebut karena pajak dianggap sebagai beban seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Zirman (2015) mengenai pengaruh penegakan hukum dan gender terhadap penggelapan pajak dimediasi oleh moral pajak, Zirman (2015) berpendapat bahwa pajak adalah beban, sehingga wajar jika tidak ada satupun wajib pajak yang dengan senang hati dan suka rela membayar pajak. Karena pajak adalah iuran yang sifatnya wajib dan dipaksakan, maka negara juga tidak membutuhkan kerelaan wajib pajak. Negara hanya membutuhkan ketaatan wajib pajak. Suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, yang penting bagi negara adalah wajib pajak tersebut telah membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sandmo (2005) dalam penelitiannya mengenai teori penggelapan pajak yang dipandang dari sudut retrospektif, berasumsi bahwa semakin banyak orang yang menggelapkan pajak, maka tindakan penggelapan pajak tersebut akan semakin dinilai wajar. Salah satu bukti nyata tentang penggelapan ini dilakukan oleh seseorang bernama Gayus Tambunan. Seorang pegawai pajak dengan gaji yang relatif kecil, tetapi ingin kehidupan yang kaya. Karena permasalahan tersebut Gayus melakukan segala tindakan tidak etis mulai dari penyelewengan pajak, kemudian menggelapkan uang pajak, sampai dengan pencucian uang dan korupsi yang berakibat merugikan negara dan orang lain.
Dari fenomena dan permasalahan tentang penggelapan pajak tersebut, salah satu faktor yang diteliti oleh para ahli tentang penyebab wajib pajak melakukan penggelapan atas kewajiban pajaknya adalah kecintaan terhadap uang.
Menurut Furnham dan Argyle (2014) dalam penelitiannya The New Psychology of Money, menyatakan bahwa kecintaan terhadap uang atau the love of money adalah suatu rasa yang tidak terpuaskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang uang dan membuat seseorang menjadi terobsesi.
Dalam buku yang ditulis oleh Hulsmann (2008) yang berjudul The Ethics of Money Production, Jorg Guido Hulsmann berpendapat bahwa uang itu selalu ada di dalam kehidupan, tergantung dari perilaku moral apa yang dilakukan seseorang terhadap uang tersebut. Seperti menurut Tang dan Chiu (2003) dalam penelitiannya mengenai Income, Money Ethic, Pay Satisfaction, Commitment, and Unethical Behavior menyatakan bahwa akar dari kejahatan disebabkan oleh kecintaan terhadap uang, bukan disebabkan oleh uang. Tang (2002) melakukan penelitian tentang Is “The Love Of Money” The Root Of All Evil? Or Different Strokes For Different Folks menyimpulkan bahwa seseorang yang tingkat kecintaannya terhadap uang tergolong tinggi, maka seseorang tersebut selalu merasa tidak pernah puas terhadap uang yang didapatkannya dan dapat menimbulkan perilaku tidak etis.
Ketika uang menjadi penting, maka seseorang akan merasa bahwa tindakan tidak etis yang dilakukan itu sebanding dengan kepentingan uangnya, seperti menurut Lau, Choe, dan Tan (2013) yang meneliti The Moderating Effect
of Religiosity in the Relationship between Money Ethics and Tax Evasion berpendapat bahwa semakin tinggi kecintaan seseorang terhadap uang dan menempatkan uang menjadi kepentingan utama. Maka dari itu, membuat seseorang tersebut cenderung sensitif dan tidak etis dibandingkan dengan orang yang tergolong rendah tingkat kecintaannya terhadap uang.
Dari dua permasalahan di atas, akhirnya timbul sebuah fenomena antara kecintaan terhadap uang oleh seseorang mengakibatkan muncul perilaku-perilaku yang tidak etis. Sedangkan tax evasion sendiri adalah sebuah perilaku yang melanggar hukum dan tidak etis. Seperti dalam penelitian yang dilakukan Suminarsasi dan Supriyadi (2011) tentang Pengaruh Keadilan, Sistem Perpajakan, dan Diskriminasi Terhadap Persepsi Wajib Pajak Mengenai Etika Penggelapan Pajak (Tax Evasion), mereka berpendapat bahwa tindakan tax evasion atau perilaku penggelapan pajak merupakan sebuah perilaku yang tidak etis dan tidak benar.
Penelitian pengaruh money ethics terhadap tax evasion yang telah diteliti oleh beberapa peneliti dengan mengaitkan kedua variabel tersebut menggunakan variabel moderating yaitu religiosity. Religiosity merupakan faktor agama yang dikaitkan dengan etika perilaku manusia. Penelitian Glover (1997) tentang religiosity menyatakan bahwa penalaran moral individu dan karakter seseorang ditempatkan pada keyakinan agama mereka. Sedangkan dalam penelitian Tax Planning (Tax Avoidance dan Tax Evasion) Dilihat dari Teori Etika yang dilakukan oleh Hutami (2012), berpendapat bahwa perilaku tax evasion merupakan perilaku yang tidak bermoral dan melanggar agama, karena telah menghindari sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban.
Seseorang yang memiliki iman yang kuat terhadap agamanya, membuat seseorang tersebut lebih memilih tindakan yang benar dan sesuai dengan ajaran agama. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Mohdali dan Pope (2014) dalam penelitiannya The influence of religiosity on taxpayers’ compliance attitudes Empirical evidence from a mixed-methods study in Malaysia yang menyatakan bahwa faktor religiosity sangat memotivasi wajib pajak untuk mematuhi undang- undang pajak.
Penelitian tentang pengaruh money ethics terhadap tax evasion dengan variabel moderating intrinsic religiosity dan extrinsic religiosity ini pernah diteliti sebelumnya oleh Lau, Choe, dan Tan pada tahun 2013 dengan judul The Moderating Effect of Religiosity in the Relationship between Money Ethics and Tax Evasion. Penelitian sejenis ini juga diteliti oleh Rosianti dan Mangoting pada tahun 2014 dengan judul Pengaruh Money Ethics terhadap Tax Evasion dengan Intrinsic dan Extrinsic Religiosity sebagai Variabel Moderating.
Penelitian mengenai tax evasion ini telah banyak diteliti dengan berbagai variabel, seperti variabel keadilan, sistem perpajakan, deskriminasi, usia, gender, pandangan sosial, kepercayaan terhadap pemerintah, dan sebagainya. Penelitian ini termotivasi untuk menggunakan variabel money ethics, karena penelitian ini beranggapan bahwa setiap orang di dunia ini pasti cinta dan butuh terhadap uang mereka, sehingga uang yang dimiliki akan digunakan untuk kepentingannya terlebih dahulu seperti menurut Furnham dan Argyle (2014), bahwa Dari rasa kecintaannya terhadap uang, membuat seseorang berani melakukan perilaku tidak etis demi melindungi uang yang dimilikinya.
Penelitian ini juga menggunakan variabel moderating intrinsic religiosity dan extrinsic religiosity yang dapat memperkuat maupun juga memperlemah hubungan pengaruh antara kecintaan uang oleh wajib pajak dengan tindakan penggelapan pajak yang dilakukan oleh wajib pajak. Alasan kedua atas penelitian ini termotivasi akan topik pengaruh money ethics terhadap tax evasion dengan variabel moderating intrinsic religiosity dan extrinsic religiosity adalah karena masih sedikitnya penelitian tentang pengaruh money ethics terhadap tax evasion dengan variabel moderating intrinsic reliogisity dan extrinsic religiosity di Indonesia.
Penelitian ini juga menjadikan intrinsic religiosity dan extrinsic religiosity sebagai variabel moderating karena unsur religiosity merupakan unsur yang berkaitan dengan moral, etika, dan kebenaran dari suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang dalam aspek hidupnya. Maka dari itu variabel religiosity menjadi variabel moderating yang cocok antara pengaruh money ethics dan tax evasion.
1. 2. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah intrinsic religiosity memoderasi hubungan antara money ethics dengan tax evasion ?
2. Apakah extrinsic religiosity memoderasi hubungan antara money ethics dengan tax evasion ?
1. 3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui apakah intrinsic religiosity memoderasi hubungan antara money ethics dengan tax evasion.
2. Untuk mengetahui apakah extrinsic religiosity memoderasi hubungan antara money ethics dengan tax evasion.
1. 4. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan tentang apakah money ethics berpengaruh terhadap tax evasion dengan variabel moderating intrinsic reliogisity dan extrinsic religiosity.
2. Bagi DJP
Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan sistem perpajakan.
3. Bagi Bidang Akademik dan Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan, pandangan, wawasan yang lebih, dan dapat dijadikan informasi dan bahan pendukung untuk penelitian yang lebih lanjut di bidang yang sama.
1. 5. Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini, masalah yang diteliti memiliki batasan pada hal-hal berikut:
1. Responden penelitian ini ditujukan kepada wajib pajak orang pribadi yang memiliki penghasilan dari kegiatan usaha.
2. Pengambilan data dengan pembagian kuesioner hanya kepada wajib pajak orang pribadi di Surabaya.
1. 6. Sistematika Penulisan
Penelitian ini dibagi menjadi 5 (lima) bab yaitu pendahuluan, landasan teori, metode penelitian, analisa dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran.
Berikut adalah penjabaran dari lima bab tersebut:
1. PENDAHULUAN
Bab pendahuluan berisi tentang uraian latar belakang masalah yang diteliti, rumusan masalah yang harus diselesaikan, tujuan dilakukannya penelitian ini, manfaat penelitian bagi pihak-pihak yang berhubungan, batasan masalah yang diteliti oleh penulis, dan sistematika penulisan dari penelitian ini.
2. LANDASAN TEORI
Bab landasan teori berisi tentang uraian teori-teori yang relevan untuk dijadikan sebagai landasan dan pendukung untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Selain itu, pada bab ini menjabarkan kajian penelitian terdahulu dan hipotesis atas penelitian yang akan dilakukan
3. METODE PENELITIAN
Bab metode penelitian berisi mengenai metode penelitian yang akan digunakan dan meliputi: model analisis, definisi operasional variabel, skala pengukuran yang digunakan, jenis dan sumber data, instrumen dan metode penggumpulan data, populasi, sampel dan teknik sampling, unit analisis, serta teknik analisis data.
4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
Bab analisa dan pembahasan berisi tentang penjabaran dari hasil penelitian dan analisis. Hal-hal yang diuraikan meliputi hasil analisa serta pembahasan penelitian.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
Bab kesimpulan dan saran berisi kesimpulan, keterbatasan, dan saran yang ditujukan kepada penelitian selanjutnya.