• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh SITTI AHYANA MURSAHA NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh SITTI AHYANA MURSAHA NIM"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

SITTI AHYANA MURSAHA NIM 10536 4698 13

UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2017

(2)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

SITTI AHYANA MURSAHA NIM 10536 4698 13

UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2017

(3)
(4)
(5)

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama : SITTI AHYANA MURSAHA

Stambuk : 10536 4698 13

Jurusan : Pendidikan Matematika

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui

Penerapan Model Kooperatif Tipe Snowball Throwing Pada Siswa Kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa.

Setelah diperiksa dan diteliti ulang, skripsi ini dinyatakan telah memenuhi persyaratan dan layak diujikan di hadapan Tim Penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendididkan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, September 2017 Disetujui Oleh

Pembimbing I

Prof. Dr. H. M. Arif Tiro, M.Pd., M.Sc., Ph.D

Pembimbing II

Kristiawati, S.Pd., M.Pd.

Mengetahui:

Dekan FKIP Unismuh Makassar

Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D NBM: 860 934

Ketua Prodi Pendidikan Matematika

Mukhlis, S.Pd., M.Pd.

NBM: 955 732

(6)

iv

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : SITTI AHYANA MURSAHA

Nim : 10536 4698 13

Jurusan : Pendidikan Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Snowball Throwing pada Siswa Kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa Dengan ini menyatakan bahwa:

Skripsi yang saya ajukan di depan TIM Penguji adalah ASLI hasil karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, September 2017 Yang membuat pernyataan

Sitti Ahyana Mursaha

(7)

v

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : N a m a : SITTI AHYANA MURSAHA N I M : 10536 4698 13

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi saya. Saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam penyusunan skripsi saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penciplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi saya.

4. Apabila saya melanggar perjanjian saya pada point 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, September 2017 Yang Membuat Perjanjian

Sitti Ahyana Mursaha

(8)

Motto:

Man jaddawajadah “Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan Berhasil”

Apa yang saya dapatkan hari ini karena keputusan saya di masa lalu, dan keputusan hari ini akan menentukan hasil di masa yang akan datang.

Persembahan:

Dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur kepada Allah SWT kupersembahkan Skripsi ini untuk:

Permata hatiku Ayah dan Ibu yang telah mencurahkan kasih sayang, pengorbanan dan doa restunya dengan penuh ketegaran serta kesabaran.

Adikku serta keluarga yang selalu mendoakan serta membantuku baik secara moril maupun spiritual.

Semua guru dan dosenku yang telah ikhlas membagikan ilmu padaku.

Teman-teman seperjuangan MTK2013G terima kasih atas segala bantuanya selama ini aku lalui waktu bersama kalian.

Almamaterku

vi

(9)

vii

SMP Negeri 2 Barpmbong Kabupaten Gowa. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh H. M. Arif Tiro sebagai Pembimbing I dan Kristiawati sebagai Pembimbing II.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Snowball Throwing pada Siswa Kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa tahun ajaran 2017/2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen tanpa adanya kelas kontrol dengan desain penelitian The One grup pretest-posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas IX H sebanyak 35 orang siswa yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan selama 6 kali pertemuan.

Instrumen dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar (THB) untuk melihat hasil belajar siswa, lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, serta lembar angket untuk mengetahui respons siswa terhadap pembelajaran melalui penerapan model kooperatif tipe Snowball Throwing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) skor rata-rata tes hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan kooperatif tipe Snowball Throwing adalah 89,25 dengan standar deviasi 7,48. Dari hasil tersebut diperoleh bahwa 34 siswa (92,59%) telah mencapai ketuntasan individu dan ini berarti bahwa ketuntasan secara klasikal telah tercapai. (2) Terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing dimana nilai rata-rata gain ternormalisasi yaitu 0,86 dan umumnya berada pada kategori tinggi. (3) Rata-rata persentase frekuensi aktivitas siswa untuk setiap indikator mencapai kriteria aktif, yaitu 75,44%. (4) Angket respon siswa menunjukkan bahwa respon siswa terhadap model kooperatif tipe Snowball Throwing positif yaitu 82,49%. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika efektif melalui penerapan model kooperatif tipe Snowball Throwing pada siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa.

Kata kunci: Model kooperatif tipe Snowbal Throwing, hasil belajar, aktivitas siswa, dan respons siswa.

(10)

viii

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sebagai tugas akhir guna memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW yang telah meyinari dunia ini dengan cahaya Islam.

Salah satu dari sekian banyak pertolongan-Nya yang penulis rasakan adalah uluran tangan dan bantuan dari berbagai pihak. Karena itu, suatu kewajiban bagi penulis untuk menghaturkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan selama penulis menempuh pendidikan.

Teristimewa penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada Ayahanda Drs. Mursaha dan Ibunda Nursyamsi, S.Ag yang senantiasa membesarkan penulis dengan keikhlasan, memberikan dorongan moral maupun materil, serta doa restunya yang selalu mengiringi penulis dalam setiap langkahnya. Dan saudaraku Mushaddiq Mursaha yang telah memberikan semangat, perhatian, dan dukungan hingga akhir studi ini. Seluruh keluarga besar atas segala keikhlasannya memberikan dukungan, pengorbanan, dan doa restunya demi

(11)

ix

Dengan penuh kerendahan hati, tak lupa pula penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, S.E, M.M., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Mukhlis, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Syekh Adi Wijaya S.Pd., M.Pd., sebagai Penasihat Akademik yang telah membimbing selama perkuliahan.

5. Prof. Drs. H. M. Arif Tiro, M.Pd., M.Sc., Ph.D sebagai pembimbing I yang telah meluangkan waktunya disela kesibukan beliau untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam upaya penyusunan skripsi ini sampai tahap penyelesaian.

6. Kristiawati, S.Pd., M.Pd., sebagai pembimbing II yang telah meluangkan waktunya disela kesibukan beliau untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam upaya penyusunan skripsi ini sampai tahap penyelesaian.

7. Mutmainnah, S.Pd., M.Pd. dan Wahyuddin, S.Pd., M.Pd., Validator yang telah meluangkan waktunya memvalidasi atau memeriksa dan memberikan saran terhadap perbaikan RPP, LKS dan instrumen penelitian.

(12)

x

9. Sahabat-sahabatku mahasiswa Mtk2013G yang telah setia menemani perjalananku baik suka maupun duka dan segala bantuan dan kerjasamanya selama penulis menjalani perkuliahan.

10. H. Muh. Ramli, S.Pd., M.Si., sebagai Kepala SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.

11. Hj. Lisnawati, S.Pd., M.Pd., sebagai guru matematika (guru pamong) SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa, yang telah membantu selama peneliti melakukan penelitian di sekolah.

12. Siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa atas kerjasama, motivasi dan semangatnya dalam mengikuti pelajaran.

Semoga bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi diri penulis. Dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritikan dari berbagai pihak yang sempat membaca demi menuju sempurnanya skripsi ini.

Makassar, September 2017

Penulis

(13)

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ………….. ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 7

A. Kajian Pustaka ... 7

1. Pengertian Efektivitas ... 7

2. Pembelajaran Matematika... 10

3. Pembelajaran Kooperatif ... 11

4. Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) ... 12

(14)

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

A. Jenis Penelitian ... 29

B. Variabel dan Desain Penelitian ... 29

C. Populasi dan Sampel ... 30

D. Definisi Operasional Variabel... 31

E. Prosedur Penelitian ... 32

F. Instrumen Penelitian ... 33

G. Teknik Pengumpulan Data... 35

H. Teknik Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Hasil Penelitian ... 44

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 58

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 65

A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 66 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(15)

2.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif ... 12

2.2 Langkah-langkah model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) ... 15

3.1 One Group Pretest-posttest Design ... 29

3.2 Populasi Siswa Kelas VII SMP Guppi Samata Kabupaten Gowa ... 30

3.3 Konversi nilai rata-rata keterlaksanaan pembelajaran... 37

3.4 Kategorisasi Standar Yang Di Tetapkan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan... 37

3.5 Kategorisasi Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Kelas VII SMP Guppi Samata ... 38

3.6 Kriteria tingkat Gain Ternormalisasi ... 39

4.1 Hasil Analisis Data Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran ... 45

4.2 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Guppi Samata Kabupaten Gowa Sebelum dan Setelah Diberikan Perlakuan (Pretest dan Posttest) . 47 4.3 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Guppi Samata Kabupaten Gowa Sebelum Diberikan Perlakuan ... 48

4.4 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Guppi Samata Kabupaten Gowa Setelah Diberikan Perlakuan ... 48

4.5 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika sebelum diberikan perlakuan ... 50

4.6 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Setelah Diberikan Perlakuan... 50

4.7 Deskripsi Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Setelah Diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) ... 51

4.8 Deskripsi Aktivitas Siswa Selama Penerapan Model Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) ... 52

4.9 Deskripsi Persentase Rata-Rata Respons Siswa ... 54

(16)

2.1 Skema Kerangka Pikir... 27

(17)
(18)

1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2 Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

3 Daftar Hadir Siswa

4 Daftar Nama-Nama Kelompok 5 Jadwal Pelaksanaan Penelitian LAMPIRAN B

1 Instrumen Tes Hasil Belajar

2 Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran 3 Kisi-Kisi Tes Hasil Belajar

LAMPIRAN C

1 Intrumen Keterlaksanaan Pembelajaran 2 Instrumen Lembar Observasi Aktivitas Siswa 3 Instrumen Angket Respons Siswa

LAMPIRAN D

1 Daftar Nilai Tes hasil Belajar Siswa

2 Hasil Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran 3 Hasil Analisis Data Aktifitas Siswa

4 Hasil Analisis Data Respons Siswa 5 Hasil Analisis Data Tes Hasil Belajar

6 Analisis Deskriptif dan Inferensial (SPSS. 20) LAMPIRAN E

1 Lembar Jawaban Tes Hasil Belajar Siswa

2 Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran 3 Lembar Observasi Aktivitas Siswa

4 Lembar Angket Respon Siswa LAMPIRAN F

1 Persuratan 2 Validasi 3 Dokumentasi

(19)
(20)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan.

Pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik di masa yang akan datang. Menurut Buchori (Trianto, 2007: 1), bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk suatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah adalah matematika.

Matematika merupakan ilmu yang universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. Matematika mempunyai peranan yang sangat penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan yang pesat dibidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika dibidang bilangan, aljabar, analisis, teori peluang.

Untuk dapat menguasai dan menciptakan teknologi dimasa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak usia dini. Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik sejak dari Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk membekali siswa kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kreatif, serta kemampuan bekerjasama.

Kompotensi tersebut diperlukan agar siswa memiliki kemampuan memperoleh,

1

(21)

mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, kompetitif dimasa mendatang (memasuki era globalisasi).

Akan tetapi sebagian orang menganggap bahwa matematika adalah momok yang sangat menakutkan, dan kebanyakan siswa tidak senang bahkan malas ke sekolah jika ada pelajaran matematika. Berbagai metode pembelajaran sudah diterapkan oleh guru, namun jika dilihat dari hasil belajar siswa masih kurang maksimal, karena itu diperlukan upaya atau perbaikan di dalam proses pembelajaran matematika.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru bidang studi matematika SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa, penulis memperoleh data nilai rata- rata Ujian Akhir Sekolah tahun pelajaran 2015/2016 masih rendah, yaitu nilai Matematika 70,00, bahasa Indonesia 70,70, bahasa Inggris 80,00, dan IPA 70,80.

Jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya hasil rata-rata matematika siswa masih tergolong rendah.

Dari hasil wawancara, diperoleh keterangan bahwa hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa khususnya kelas IX H di bawah rata-rata, yang hanya mencapai 60,35 dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75,00. Minat belajar siswa dalam pelajaran matematika merupakan hal yang perlu kita perhatikan sebagai bahan atau acuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa terhadap materi pelajaran sehingga dapat ditindak lanjuti oleh setiap tenaga pendidik kedepannya. Karena itu, guru diharapkan untuk mengupayakan agar siswa dapat menggunakan waktunya

(22)

dengan seefisien mungkin dalam belajar.

Rendahnya hasil belajar matematika pada setiap tingkatan sekolah tersebut disebabkan karena siswa kurang memahami setiap materi dalam pelajaran matematika. Selain itu, cara guru dalam menyajikan materi matematika masih bersifat monoton dan membosankan, sehingga siswa kurang tertarik untuk belajar matematika. Dalam situasi seperti ini siswa merasa bosan karena kurangnya dinamika inovasi, kekreatifan dan siswa belum dilibatkan secara aktif sehingga siswa sulit untuk mengembangkan atau meningkatkan pembelajaran agar benar- benar berkualitas.

Keanekaragaman model pembelajaran yang hendak disampaikan pada bahan ajar merupakan upaya bagaimana menyediakan berbagai alternatif dalam strategi pembelajaran matematika yang hendak disampaikan dan selaras dengan tingkat perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ini artinya tidak ada model pembelajaran yang paling baik, atau model pembelajaran yang satu lebih baik dengan yang lainnya (Widdiharto, 2004: 2).

Oleh karena itu, guru diharapkan untuk mengupayakan agar siswa dapat kreatif menggunakan waktunya seefisien mungkin dalam memahami pelajaran matematika. Pengaruh guru dalam dunia pendidikan sangat diperlukan. Guru dapat membantu siswanya untuk mendapatkan informasi, ide-ide, keterampilan- keterampilan, nilai-nilai dan cara-cara berpikir serta mengemukakan pendapat.

Namun tugas guru yang paling penting dan menentukan adalah membimbing para siswa tentang bagaimana belajar yang sesungguhnya dan belajar memecahkan

(23)

masalah sehingga hal-hal tersebut dapat mereka gunakan di masa depan.

Hampir semua sekolah mengalami masalah akan rendahnya hasil belajar siswa dan kurangnya minat belajar siswa. Banyaknya waktu siswa yang dipergunakan untuk bermain merupakan salah satu penyebab kurangnya minat siswa untuk belajar, sehingga berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa.

Perlunya peran guru dalam pemecahan masalah tersebut sangat diharapkan sehingga masalah tersebut dapat teratasi. Oleh karena itu, seorang guru haruslah mewujudkan tujuan pembelajaran dengan menggunakan komponen, pendekatan, dan berbagai metode pengajaran. Pemilihan model, metode, strategi, dan pendekatan dalam pembelajaran dikelas sangat penting.

Dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat dengan kondisi psikologis siswa, maka dapat membantu siswa untuk menggunakan waktunya dengan seefisien mungkin, sehingga siswa mudah memahami pelajaran matematika. Atas alasan di atas maka penulis mencoba untuk melakukan penelitian dengan menggunakan salah satu model pembelajaran matematika yaitu model kooperatif tipe Snowball Throwing merupakan model yang dapat menggali potensi kepemimpinan murid dalam kelompok dan keterampilan membuat- menjawab pertanyaan. Dengan judul “ Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Snowball Throwing pada siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa”

(24)

B. Rumusan Masalah

Dalam hal ini yang menjadi masalah dalam penelitian ini rendahnya hasil belajar siswa dan kurangnya minat belajar siswa. Selain itu, cara guru dalam menyajikan materi matematika masih bersifat monoton dan membosankan, sehingga siswa kurang tertarik untuk belajar Matematiaka. Dalam situasi ini siswa merasa bosan karena kurangnya dinamika inovasi, kekreatifan dan siswa belum dilibatkan secara aktif sehinggga siswa sulit untuk mengembangkan atau meninggatkan pembelajaran agar benar-benar berkualitas.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing yang diharap mampu mebuat siswa semangat belajar sehingga hasil belajar meningkat dan siswa dapat terlibat langsung dalam pembelajaran.

Berdasarkan Latar belakang yang telah dikemukakan maka pertanyaan penelitian yaitu :

Apakah pembelajaran matematika melalui penerapan Model kooperatif tipe Snowball Throwing efektif pada siswa Kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa ditinjau dari aspek berikut, antara lain:

1. Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa dengan menerapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing ?

2. Bagaimana aktivitas siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing ?

(25)

3. Bagaimana respon siswa IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing ?

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika pada siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa melalui Model kooperatif tipe Snowball Throwing ditinjau dari:

1. Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa dengan menerapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing ?

2. Bagaimana aktivitas siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing ?

3. Bagaimana respon siswa IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing ?

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

1. Bagi guru, sebagai masukan kepada guru bagaimana menggunakan model pembelajaran untuk menyajikan pelajaran matematika.

(26)

2. Bagi siswa;

a. Dapat meningkatkan hasil belajarnya.

b. Siswa dapat lebih aktif belajar baik secara berkelompok maupun secara mandiri. Serta dapat meningkatkan hubungan sosial sesama temannya sehingga timbul suasana kelas yang menyenangkan untuk belajar.

3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai perbandingan dari model pembelajaran yang sebelumnya digunakan untuk perbaikan pembelajaran, pada pelajaran matematika.

4. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian.

(27)

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

1. Efektivitas Pembelajaran

Dalam kamus bahasa Indonesia, efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti ada efeknya, manjur atau mujarab, dapat membawa hasil dan mulai berlaku.

Menurut Miarso (Syafrullah, 2013:7) memandang bahwa pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang dapat menghasilkan belajar yang bermanfaat dan terfokus pada siswa (student centered) melalui penggunaan prosedur yang tepat. Definisi itu mengandung arti bahwa pembelajaran yang efektif terdapat dua hal penting, yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang dilakukan oleh guru untuk membelajarkan siswanya.

Dari uraian di atas, maka pengertian efektivitas adalah suatu hasil yang berguna yang ingin dicapai atau dikehendaki terhadap siswa baik dalam proses pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran. Adapun indikator keefektifan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Ketuntasan hasil belajar siswa

Menurut Crow and Crow (Suyono & Hariyanto, 2011:12) menyatakan bahwa “belajar merupakan diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap baru”. Belajar dikatakan berhasil jika seseorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya, sehingga belajar semacam ini disebut

(28)

dengan rote learnin, belajar hafalan, belajar melalui ingatan, by heart, di luar kepala, tanpa memperdulikan makna. Rote learning merupakan lawan dari meaningful learning, pembelajaran bermakna.

Menurut Hilgard (Suyono & Hariyanto, 2011:12) menyatakan bahwa

“belajar adalah suatu proses di mana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap suatu situasi”. Sedangkan hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar, dimana hasil tersebut merupakan gambaran penguasaan pengetahuan dan keterampilan dari peserta didik.

Dengan beberapa pengertian tentang belajar dan hasil belajar, maka dapat disimpulkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa adalah istilah untuk menyatakan tingkat keberhasilan atau kemampuan seseorang setelah melakukan kegiatan belajar.

Ketuntasan hasil belajar siswa dalam penelitian ini didasarkan pada standar ketuntasan siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa yaitu seorang siswa dikatakan tuntas belajar secara individu jika mendapat skor ≥ 70 dari skor maksimum 100 dan suatu kelas dikatakan tuntas belajar secara klasikal jika ≥ 75% siswa telah mencapai ketuntasan secara individu.

b. Aktivitas Siswa

Menurut Mulyono aktivitas artinya “kegiatan atau keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktivitas (Damanik, 2013). Sedangkan menurut Sriyono aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani

(29)

atau rohani (Damanik, 2013). Jadi dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar.

Aktivitas siswa dalam pembelajaran bisa positif maupun negatif. Aktivitas siswa yang positif misalnya : mengajukan pendapat atau gagasan, mengerjakan tugas atau soal, komunikasi dengan guru secara aktif dalam pembelajaran dan komunikasi dengan sesama siswa sehingga dapat memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi sedangkan aktivitas siswa yang negatif, misalnya mengganggu sesama siswa pada saat proses belajar mengajar di kelas, melakukan kegiatan lain yang tidak sesuai dengan pelajaran yang sedang diajarkan oleh keberhasilan guru. Kriteria aktivitas siswa dalam penelitian ini ditunjukkan dengan sekurang-kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

c. Respons siswa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, respon dapat diartikan sebeagai suatu tanggapan, reaksi dan jawaban. Menurut Hamalik menyatakan bahwa respon merupakan gerakan-gerakan yang terkoordinasi oleh persepsi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa luar dalam lingkungan sekitar (Putraa, 2012).

Sedangkan menurut Marsiyah menyatakan bahwa untuk mengetahui respon seseorang terhadap sesuatu dapat melalui angket, karena angket pada umumnya meminta keterangan tentang fakta yang diketahui oleh responden/juga mengenai pendapat atau sikapnya (Putraa, 2012). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa respon merupakan tanggapan, reaksi dan jawaban individu terhadap sesuatu yang diketahui sebagai kesan yang dihasilkan dari pengamatan.

(30)

Respons siswa digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai pembelajaran yang digunakan. Respons siswa adalah tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing. Model pembelajaran yang baik dapat memberi respon yang positif bagi siswa setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran. Kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah minimal 70% Siswa yang memberikan respon positif terhadap jumlah aspek yang ditanyakan.

2. Pembelajaran Matematika

Menurut Djamarah pembelajaran adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan oleh guru membelajarkan siswa (Kajianteori, 2014). Suherman mengartikan pembelajaran sebagai upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal (Kajianteori, 2014). Menurut Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 (Hamzah & Muhlisrarini, 2013:42) bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Peserta didik yang dimaksud adalah siswa dan pendidik adalah guru. Ada terkandung lima komponen pembelajaran yaitu: interaksi, peserta didik, pendidik, sumber belajar, dan lingkungan belajar.

Matematika berasal dari akar kata mathema artinya pengetahuan, mathenain berpikir atau belajar. Menurut Suherman matematika adalah disiplin ilmu tentang tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif (Kajianteori, 2014). Menurut Johnson dan Myklebust matematika adalah bahasa simbiolis yang fungsi praktisnya untuk

(31)

mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir (Kajianteori, 2014).

Ismail dkk (Hamzah dan Muhlisrarini, 2013:48) dalam bukunya memberikan definisi hakikat matematika.

Matematika adalah ilmu yang membahas angka-angka dan perhitungannya, membahas masalah-masalah numerik, mengenai kuantitas dan besaran, mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur, sarana berpikir, kumpulan sistem, struktur dan alat.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu kondisi yang dengan disengaja diciptakan oleh guru yang melibatkan pengembangan pola berfikir, mengolah logika, membahas angka-angka dan perhitungannya, membahas masalah-masalah numerik, struktur dan alat untuk membelajarkan siswa.

3. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Artzt dan Newman (Trianto, 2009:56) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas- tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya. Adapun menurut Slavin (Rusman, 2011:201) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok.

Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok- kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu.

(32)

Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai suatu tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia.

Pembelajaran kooperatif melatih siswa menemukan dan memahami konsep-konsep yang dianggap sulit dengan cara bertukar pikiran (berdiskusi) dengan teman-temannya. Diskusi merupakan salah satu metode yang dapat mengaktifkan siswa dan memungkinkan siswa menguasai konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok yang heterogen, bekerja secara kolaboratif, berdiskusi satu sama lainnya untuk mencapai tujuan bersama.

Falsafah yang menjadi dasar dalam pembelajaran kooperatif (Riyanto, 2010:265) adalah:

a. Manusia sebagai makhluk sosial b. Gotong royong

c. Kerjasama merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan manusia.

(33)

4. Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif

a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.

b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

c. Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.

d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu.

5. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif

Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah itu ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

(34)

Tabel 2.1 Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru

Fase – 1

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa

Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa siap belajar.

Fase – 2

Menyajikan informasi

Mempresentasikan informasi kepada siswa secara verbal.

Fase – 3

Mengorganisir siswa kedalam tim-tim belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien.

Fase – 4

Membantu kerja tim dan belajar

Membantu tim-tim belajar selama siswa mengerjakan tugasnya.

Fase – 5 Evaluasi

Menguji pengetahuan siswa mengenai berbagai materi pembelajaran atau tim-tim belajar mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase – 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

( Sumber : Suprijono 2009: 65)

(35)

6. Pembelajaran Kooperatif tipe Snowball Throwing

Model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing merupakan model pembelajaran yang menggali potensi kepemimpinan siswa dalam kelompok dan keterampilan membuat-menjawab pertanyaan yang dipadukan melalui suatu permainan imajinatif membentuk dan melempar bola salju.

Adapun langkah-langkah dari model pembelajaran tipe snowball throwing adalah sebagai berikut:

a. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.

b. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.

c. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing- masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.

d. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.

e. Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama± 15 menit.

f. Setelah siswa mendapat satu bola/ satu pertanyaan lalu diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.

(36)

g. Evaluasi h. Penutup

Adapun kelebihan dan kelemahan model pembelajaran Snowball Throwing adalah sebagai berikut:

1. Kelebihan model pembelajaran Snowball Throwing adalah :

a) Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa seperti bermain dengan melempar bola kertas kepada siswa lain, b) Siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan

berfikir karena diberi kesempatan untuk membuat soal dan diberikan pada siswa lain,

c) Membuat siswa siap dengan berbagai kemungkinan karena siswa tidak tahu soal yang dibuat temannya seperti apa,

d) Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran,

e) Pendidik tidak terlalu repot membuat media karena siswa terjun langsung dalam praktek,

f) Pembelajaran jadi lebih efektif,

g) Ketiga aspek yaitu aspek koknitif, afektif dan psikomotor dapat tercapai.

2. Kelemahan model pembelajaran Snowball Throwing adalah :

a) Sangat bergantung pada kemampuan siswa dalam memahami materi sehingga apa yang dikuasai siswa hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari soal yang dibuat siswa biasanya hanya seputar materi yang sudah dijelaskan atau seperti contoh soal yang

(37)

diberikan,

b) Ketua kelompok yang tidak mampu menjelaskan dengan baik tentu menjadi penghambat bagi anggota lain untuk memahami materi sehingga diperlukan waktu yang tidak sedikit untuk siswa mendiskusikan materi pelajaran,

c) Tidak ada kuis individu maupun penghargaan kelompok sehingga siswa saat berkelompok kurang termotivasi untuk bekerja sama. Tapi tidak menutup kemungkinan bagi guru untuk menambahkan pemberian kuis individu dan penghargaan kelompok,

d) Memerlukan waktu yang panjang,

e) Murid yang nakal cenderung untuk berbuat onar,

f) Kelas sering kali gaduh karena kelompok dibuat oleh murid.

7. Penelitian yang relevan

1. Alfiyah Yuli (2015) yang melakukan penelitian terhadapa siswa VII SMP N 11 Yogyakarta untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika efektif melalui penerapan model kooperatif tipe snowball throwing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:

a. pengunaan model pembelajaran pelemparan bola salju (snowball throwing) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik yang ditunjukkan dengan perolehan nilai rata-rata 72,74 pada siklus I meningkat menjadi 86,66 pada siklus II. Ketuntasan belajar secara

(38)

klasikal juga mengalami peningkatan dengan nilai 74% pada siklus I meningkat menjadi 96% pada siklus II.

b. Aktivitas siswa telah memenuhi kriteria aktif sesuai dengan indikator aktivitas siswa bahwa aktifitas siswa dikatakan efektif apabila presentasi frekuensi setiap indikator aktifitas positif siswa meningkat dari pertemuan 1 sampai 4 dengan penggunaan model pembelajaran pelemparan bola salju (snowball throwing)

c. pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe snowball throwing mendapat respon yang positif dengan rata presentasi siswa yang memberi respon positif 85,70 %.

2. Selpa wiwit kurniawati (2016) yang melakukan penelitian terhadapa siswa kelas VIII-B SMP Budi Mulia Minggir Sleman untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika efektif melalui penerapan model kooperatif tipe snowball throwing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:

a. pengunaan model pembelajaran pelemparan bola salju (snowball throwing) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik yang ditunjukkan dengan perolehan nilai rata-rata siswa meningkat 10%

dari siklus I dan meningkat sebesar 65% di siklus II sehingga hasil belajar siswa tercapai 75% hingga 100%.

b. Aktivitas siswa telah memenuhi kriteria aktif sesuai dengan indikator aktivitas siswa bahwa aktivitas siswa dikatakan efektif apabila presentasi frekuensi setiap indikator aktivitas positif siswa

(39)

meningkat dari pertemuan 1 sampai 4 dengan penggunaan model pembelajaran pelemparan bola salju (snowball throwing)

c. pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe snowball throwing mendapat respon yang positif dengan rata presentasi siswa yang memberi respon positif 85,70 %.

3. Yulianti (2015) yang melakukan penelitian terhadap siswa kelas XI-IS- 2 SMA Negeri 7 Banda Aceh untuk mengetahui Efektivitas penggunaan model kooperatif tipe snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi system pertidaksamaan linear. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa :

a. Hasil belajar matematika yang dicapai siswa kelas XI-IS-2 SMA Negeri 7 Banda Aceh Berdasarkan hasil post test siswa yang tuntas pada siklus I sebanyak 12 siswa (40%) danterjadi peningkatan pada siklus ke II yaitu sebanyak 28 siswa (93%). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan sebanyak 53%.

b. Aktivitas siswa telah memenuhi kriteria aktif sesuai dengan indikator aktivitas siswa bahwa aktivitas siswa dikatakan efektif apabila presentasi frekuensi setiap indikator aktivitas positif siswa meningkat dari pertemuan 1 sampai 4 dengan penggunaan model pembelajaran pelemparan bola salju (snowball throwing).

c. pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe snowball throwing mendapat respon yang positif dengan rata presentasi siswa yang memberi respon positif 85,70 %.

(40)

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran metematika di kelas masih bersifat konvensional yang mengakibatkan siswa kurang tertarik untuk belajar matematika. Dari pandangan ini dapat dikatakan bahwa salah satu penyebab dari permasalahan ini adalah model pembelajaran yang kurang tepat untuk diterapkan. Model pembelajaran yang tepat sangat diperlukan guna meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Salah satu model pembelajaran yang dianjurkan oleh para ahli adalah model pembelajaran kooperatif. Ciri khas dari pembelajaran kooperatif adalah siswa ditempatkan pada kelompok-kelompok kerja yang memiliki tingkat kemampuan berbeda.

Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran guna untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Disamping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, kompetensi sosial siswa juga unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Model pembelajaran yang baik dengan melibatkan siswa secara intensif dan cara belajar yang baik akan menentukan hasil belajar siswa.

(41)

Bagan Kerangka Pikir

Gambar 2.1 Skema kerangka Pikir Kondisi Awal

1. rendahnya hasil belajar siswa 2. kurangnya minat belajar siswa

3. cara guru dalam menyajikan materi matematika masih bersifat monoton dan membosankan

Pre test

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing

Respon Siswa Hasil

Belajar

Aktivitas Siswa

Tercapai Baik Positif

Analisis

Tidak efektif Efektif

Post test

(42)

C. Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdiri dari hipotesis mayor dan hipotesis minor.

1. Hipotesis Mayor

Pembelajaran matematika efektif melalui penerapan model kooperatif tipe snowball throwing pada siswa kelas IX H SMP 2 Negeri Barombong Kabupaten Gowa.

2. Hipotesis Minor

a. Hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing lebih dari 69,99 (KKM 70).

H0 : µ ≤ 69,99 melawan H1 : µ > 69,99 Dimana:

µ = Parameter hasil belajar matematika setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing.

b. Proporsi ketuntasan klasikal setelah diterapkan model kooperatif tipe snowball Throwing lebih dari 74,99%.

H0 : π ≤ 74,99% melawan H1 : π > 74,99%

Dimana :

π = Proporsi ketuntasan klasikal hasil belajar matematika

c. Peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model kooperatif tipe snowbal Throwing lebih besar dari 0,29

H0: µg ≤ 0,29 melawan H1: µg > 0,29

Dimana : µg = Parameter peningkatan (Gain) hasil belajar matematika

(43)

22 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pre-experiment yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika melalui model Pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing pada siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa.

B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel adalah segala faktor, kondisi, situasi, perlakuan (treatment) dan semua tindakan yang bisa dipakai untuk memengaruhi hasil eksperimen (Sanjaya, 2013:95).

Variabel yang diselidiki dalam penelitian ini adalah indikator efektivitas pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing, yaitu:(1) hasil belajar matematika siswa, (2) aktivitas siswa saat mengikuti pembelajaran, (3) respon siswa terhadap pembelajaran.

2. Desain Penelitian

Desain eksperimen adalah rancangan yang sistematis yang disusun terlebih dahulu yang dapat digunakan oleh peneliti sebagai pedoman dalam melaksanakan eksperimen itu sendiri sehingga data yng diperoleh benar-benar meyakinkan untuk dapat dijadikan bahan untuk merumuskan suatu generalisasi (Sanjaya,2013:100).

24

(44)

Desain pada penelitian ini adalah The one group pretest-posttest design yang termasuk dalam penelitian pre-eksperimental designs. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel Desain The One group pretest-posttest design

Pretest Treatment Post-test

O1 X O2

Sumber: Sugiyono (2013: 111)

keterangan:

O1: Nilai pretest sebelum dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing

X: Perlakuan berupa pembelajaran matematika melalui penerapan model Kooperatif tipe Snowball Throwing

O2: Nilai posttest setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing

C. Satuan Eksperimen dan Perlakuan 1. Satuan Eksperimen

Satuan Ekperimen dalam penelitian ini memilih satu kelas yaitu kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa.

2. Perlakuan

Perlakuan dalam penelitian ini mengajar dengan menggunakan model kooperatif tipe Snowball Throwing.

(45)

D. Definisi Operasional Variabel

Definisi Operasional adalah definisi yang dirumuskan oleh peneliti tentang istilah-istilah yang ada pada masalah peneliti dengan maksud untuk menyamakan persepsi antara peneliti dengan orang-orang yang terkait dengan penelitian (Sanjaya,2013:287).

Variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini secara operasional didefinisikan sebagai berikut:

1. Ketuntasan hasil belajar siswa adalah prestasi atau skor hasil belajar yang di capai siswa melalui pemberian post-test;

2. Aktivitas siswa adalah perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran matematika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing yang akan diamati dengan menggunakan lembar observasi;

3. Respon siswa setelah mengikuti pembelajaran adalah ukuran yang menyatakan perasaan suka, minat, ketertarikan atau tanggapan siswa tentang proses pembelajaran matematika setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing.

E. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yakni tahap persiapan, pelaksanaan dan analisis.

1. Tahap Persiapan

Adapun persiapan yang dilakukan sebelum penelitian yaitu:

a. Observasi pada sekolah yang akan diteliti.

(46)

b. Konsultasi dengan pembimbing, guru dan kepala sekolah untuk memohon agar peneliti diberi izin untuk melakukan penelitian di sekolah.

c. Membuat dan menyusun perangkat pembelajaran yakni Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

d. Membuat dan menyusun instrumen penelitian dalam bentuk tes hasil belajar matematika siswa, lembar observasi keterlaksanaan, dan lembar angket respons siswa kemudian divalidasi oleh tim validator.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan eksperimen dilaksanakan sebagai berikut:

a. Melakukan proses pembelajaran dengan menerapkan model Kooperatif tipe Snowball Throwing.

b. Observasi terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di setiap pertemuan.

c. Mengisi lembar observasi siswa untuk melihat aktivitas siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

d. Memberikan angket respon siswa mengenai tanggapan siswa tentang kegiatan pembelajaran dengan model Kooperatif tipe Snowball Throwing.

e. Memberikan tes dalam bentuk essay untuk melakukan evaluasi (post test).

3. Tahap Analisis

a. Menganalisis dan mendeskripsikan data yang telah diperoleh sesuai dengan variabel yang diteliti.

b. Menyusun laporan pelaksanaan dan hasil penelitian dalam bentuk skripsi.

(47)

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematik sehingga lebih mudah diolah (Sujarweni,2014:76).

Adapun instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tes hasil belajar

Untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa setelah diterapkannya model Kooperatif tipe Snowball Throwing maka instrumen yang digunakan adalah tes yang berdasarkan tujuan pembelajaran. Tes yang diberikan kepada siswa berbentuk soal essay. Namun terlebih dahulu dibuatkan kisi-kisi agar masing- masing bagian dalam materi dapat terwakilkan. Penskoran hasil tes siswa menggunakan skala bebas yang tergantung dari bobot butir soal tersebut.

2. Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran

Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran adalah instrumen penelitian yang digunakan untuk mengetahui seberapa baik keterlaksanaan pembelajaran di kelas. Butir-butir instrumen ini mengacu pada langkah-langkah pembelajaran dengan model Kooperatif tipe Snowball Throwing yang diadaptasikan kedalam RPP.

3. Lembar observasi aktivitas siswa

Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung mapun tidak tentang hal-hal yang diamati dan mencatatnya pada alat

(48)

observasi (Sanjaya,2013:270).

Lembar observasi aktivitas siswa merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa saat mengikuti pembelajaran di kelas melalui penerapan model kooperatif tipe snowball throwing.

4. Angket respon siswa

Angket respon siswa digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Angket tersebut berisi komponen pertanyaan seputar pembelajaran matematika melalui model kooperatif tipe snowball throwing. Jawaban pada setiap komponen pertanyaan dapat di peroleh dengan memberikan tanda cek list (√) pada kolom tersedia.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Data tentang ketuntasan hasil belajar siswa di peroleh melalui tes hasil belajar (post-tes);

2. Data tentang aktivitas siswa di peroleh melalui lembar observasi aktivitas siswa pada setiap pertemuan;

3. Data tentang aktivitas guru di peroleh melalui lembar observasi aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran pada setiap pertemuan;

4. Data tentang respon siswa di peroleh melalui angket yang dibagikan pada setiap siswa setelah menerapkan model pembelajaran tersebut.

(49)

H. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul selanjutnya diolah dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan Analisis statistik Inferensial.

1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran umum data yang diperoleh.

a. Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran

Data tentang keterlaksanaan pembelajaran diperoleh dari hasil pengamatan aktivitas guru pada saat pembelajaran, apakah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prosedur pembelajaran. Untuk menghitung keterlaksanaan pembelajaran diambil dari nilai rata-rata skor penilaian aspek keterlaksanaan pembelajaran sebagai berikut:

n RSP x

Keterangan:

RSP = rata-rata skor penilaian x = skor penilaian

n = banyaknya aspek penilaian

Tabel 3.2 Konversi nilai rata-rata keterlaksanaan pembelajaran

Nilai rata-rata Kategori

1,00 – 1,49 1,50 – 2,49 2,50 – 3,49 3,50 – 4,00

Kurang Aktif Cukup Aktif Aktif

Sangant Aktif

Sumber: Khomriyah (Misrukiah S, 2015:33)

(50)

b. Analisis Data Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan pemahaman materi matematika siswa setelah diterapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing. Data mengenai hasil belajar matematika siswa digambarkan mengenai nilai rata-rata, nilai maksimum, nilai minimum dan standar deviasi.

Teknik kategorisasi hasil belajar siswa menurut Departemen Pendidikan Nasional dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3.4 Teknik Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan Depdiknas

NO Interval Dalam Skor Kategori

1 89 < × ≤ 100 Sangat Tinggi

2 79 < × ≤ 89 Tinggi

3 64 < × ≤ 79 Sedang

4 54 < × ≤ 64 Rendah

5 0 ≤ × ≤ 54 Sangat Rendah

Sumber: kategorisasi hasil belajar siswa menurut Departemen Pendidikan Nasional (Anwar, 2012:29)

Ketuntasan hasil belajar siswa (ketuntasan individual) ditandai dengan nilai hasil belajar siswa ≥ KKM yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah yakni 75,00.

(51)

Tabel 3.5 Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa

Sumber:Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Kelas IX H SMP Negeri 1 Barombong Kabupaten Gowa

Ketuntasan belajar suatu kelas (ketuntasan klasikal) tercapai apabila≥ 85% siswa di kelas tersebut mencapai nilai KKM.

Ketuntasan belajar klasikal = x 100%

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui gain (peningkatan) hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen. Gain diperoleh dengan cara membandingkan hasil pretest dengan hasil posttest. Gain yang digunakan untuk menghitung peningkatan hasil belajar matematika siswa adalah gain ternormalisasi (normalisasi gain). Adapun rumus dari gai ternormalisasi adalah:

g =

Keterangan:

g = gain ternormalisasi spost : Rata-rata skor tes akhir spre : Rata-rata skor tes awal

smaks : Skor maksimum yang mungkin dicapai

Untuk klasifikasi gain ternormalisasi terlihat pada tabel berikut:

Nilai Kriteria

75 ≤ x ≤100 Tuntas

0 ≤ x< 75 TidakTuntas

(52)

Tabel 3.6 Kriteria tingkat Gain Ternormalisasi Nilai Gain Ternormalisasi Kategori

g < 0,30 Rendah

0,30 ≤ g < 0,70 Sedang

g ≥ 0,70 Tinggi

Sumber: Fitriana (Basmal, 2015: 45)

Indikator keberhasilan dari ketuntasan hasil belajar ditunjukkan dengan terpenuhinya kriteria ketuntasan klasikal yang telah ditentukan.

c. Analisis Data Aktivitas Siswa

Analisis data aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Menentukan persentase jumlah siswa yang terlibat aktif dalam setiap aktivitas yang diamati selama n pertemuan dengan menggunakan persamaan:

= × 100%

Keterangan:

=Persentase jumlah siswa yang terlibat aktif pada aktivitas ke- selama n pertemuan.

X =Rata-rata jumlah siswa yang melakukan aktivitas ke- selama n pertemuan.

N =Jumlah seluruh siswa pada kelas eksperimen.

= 1, 2, 3, … (sebanyak aktivitas yang diamati)

(53)

b) Menentukan persentase jumlah siswa yang terlibat aktif dalam semua aktivitas yang diamati dengan menggunakan rumus:

%

100

 

T Pta Ta

Keterangan:

Pta = Persentase jumlah siswa yang terlibat aktif dalam semua aktivitas yang diamati.

Ta = Jumlah dari setiap aktivitas yang diamati.

T = Banyaknya seluruh aktivitas yang diamati setiap pertemuan

Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini dikatakan baik apabila minimal 75% siswa yang terlibat aktif dalam aktivitas positif selama pembelajaran. (Borich dalam Riswang, 2016: 9).

Dalam penelitian ini, indikator keberhasilan dari aktivitas siswa ditunjukkan dengan lebih banyaknya komponen aktivitas siswa dapat terlaksana secara efektif dibandingkan dengan yang tidak terlaksana secara efektif.

d. Analisis Data Respon Siswa

Data respon siswa setelah mengikuti pembelajaran dianalisis dengan melihat persentase dari respon siswa. Persentase ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

P = 100%

(54)

keterangan:

P : persentase rata-rata jumlah siswa yang memberi respon f : banyaknya siswa yang menjawab ya.

N : banyaknya siswa yang mengisi angket.

Indikator keberhasilan dari respon siswa ditunjukkan dengan lebih banyaknya siswa yang memberi respon positif dari pada negatif terhadap proses pembelajaran.

2. Analisis Statistik Inferensial

Sebelum melakukan uji statistik inferensial yaitu dengan menggunakan statistik Uji-t, maka terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan analisis sebagai berikut:

a. Pengujian Normalitas

Pengujian normalitas bertujuan untuk melihat apakah data tentang posttest dan data indeks gain berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Untuk keperluan pengujian normalitas populasi digunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan hipotesis sebagai berikut:

H0: Data berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1: Data berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

Kriteria yang digunakan yaitu diterima H0 apabila P > α, dan H1 ditolak jika P < α dimana α = 0,05. Apabila P > α maka H0 diterima, artinya data hasil belajar matematika setelah perlakuan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

(55)

b. Pengujian Hipotesis Penelitian

1) Pengujian hipotesis berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) menggunakan uji kesamaan rata-rata yaitu dengan menerapkan teknik uji t satu sampel (One sample t-test).

One sample t-test merupakan teknik analisis untuk membandingkan satu

variabel bebas. Teknik ini digunakan untuk menguji apakah nilai tertentu berbeda secara signifikan atau tidak dengan rata-rata sebuah sampel. Pada uji hipotesis ini, diambil satu sampel yang kemudian dianalisis apakah ada perbedaan rata-rata dari sampel tersebut. Uji hipotesis dibuat dalam situasi ini, yaitu:

H0 : µ ≤ 74,99 melawan H1 : µ > 74,99 Keterangan:

µ : Parameter skor rata-rata hasil belajar siswa

Kriteria pengambilan keputusan adalah:

Hoditolak jika P-Value> α dan H1diterima jika P-Value≤ α, dimana α = 5%.

Jika P-Value< α berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai KKM 75.

2. Pengujian hipotesis berdasarkan Ketuntasan Klasikal menggunakan uji proporsi.

Pengujian hipotesis proporsi adalah pengujian hipotesis mengenai proporsi populasi yang didasarkan atas informasi sampelnya.

Dalam pengujian hipotesis ini menggunakan pengujian hipotesis satu populasi.

Uji hipotesis dibuat dalam situasi ini, yaitu:

H0 : π ≤ 74,99% melawan H1 : π > 74,99%

(56)

Kriteria pengambilan keputusan adalah:

Ho ditolak jika z > z(0,5-α) dan H1 diterima jika z ≤ z(0,5-α)dimana α = 5%.

Jika z < z(0,5-α) berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai 75%.

2) Pengujian hipotesis berdasarkan Gain (peningkatan) menggunakan uji t satu sampel.

Pengujian Gain digunakan untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar matematika yang terjadi pada siswa kelas eksperimen, diperoleh dengan membandingkan skor rata-rata pretest dan posttest.

Uji hipotesis dibuat dalam situasi ini, yaitu:

H0: µg ≤ 0,29 melawan H1: µg > 0,29 Kriteria pengambilan keputusan adalah:

H0ditolak jika P > α dan H1diterima jika P ≤ α dimana α = 5%. Jika P ≤ α berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai 0,30.

I. Kriteria Efektivitas Pembelajaran Matematika

Kriteria efektivitas pembelajaran matematika dalam penelitian ini, terdiri dari tiga hal yang menjadi fokus utama yaitu ketuntasan hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran, aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan respon siswa setelah mengikuti pembelajaran.

Pemaparan dari kriteria efektivitas pembelajaran matematika tersebut dapat di lihat pada tabel berikut.

(57)

Tabel Kriteria Efektivitas Pembelajaran Matematika

No.

Kriteria Efektivitas Pembelajaran Matematika

Indikator Keberhasilannya

1. Ketuntasan hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika

Terpenuhinya kriteria ketuntasan klasikal yang telah ditentukan yakni

≥ 85% siswa di kelas tersebut telah mencapai nilai KKM yang telah

ditetapkan oleh pihak sekolah yakni 75.

2. Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika

Lebih banyaknya komponen aktivitas siswa dapat terlaksana secara efektif dibandingkan dengan yang tidak terlaksana secara efektif

3. Respon siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika

Lebih banyaknya siswa yang

memberi respon positif dari pada negatif terhadap proses pembelajaran

(58)
(59)

39 A. Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini menguji dua variabel utama yaitu: variabel pretest yaitu data hasil belajar matematika siswa sebelum diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing dan variabel posstesst yaitu data hasil belajar matematika siswa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing. Selain itu peneliti juga memberikan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi aktivitas siswa dan lembar angket respon siswa selama penerapan model pembelajaran koopertif tipe Snowball Throwing (treatmen) yang kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Sedangkan untuk mengukur variabel pretest dan posttest tersebut, respon penelitian diberikan tes hasil belajar pada materi Kesebangunan.

Dari hasil tes ini diperoleh data berupa skor hasil belajar pada materi kesebangunan yang kemudian data ini dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial.

1. Hasil Analisis Deskriptif

Hasil analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar matematika yang diperoleh oleh siswa. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil belajar matematika siswa maka dilakukan pengelompokan. Pengelompokan tersebut dilakukan dalam 5 kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.

(60)

a. Deskriptif Variabel Hasil Belajar sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing.

Data hasil belajar siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupatn Gowa yang diperoleh terdapat pada lampiran C dan perhitungannya pada lampiran D. Sedangkan hasil analisis statistik diterangkan dalam tabel berikut ini:

Tabel 4.1 Rangkuman Skor hasil belajar dari 35 siswa sebelum diterapkan model kooperatif tipe Snowball Throwing.

Statistik Nilai statistic

Skor Ideal Skor Maksimum

Skor Minimum Rentang Skor

Rata-Rata Median

Modus Standar Deviasi

Variansi

100,00 60,00 20,00 40,00 39,88 37,00 35,00 11,51 132,69

Sumber: Data diolah (lampiran D) Tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa sebelum proses pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe Snowball Throwing adalah 39,88 dari skor ideal 100 yang mungkin dicapai siswa dengan standar deviasi 11,51. Skor yang dicapai siswa tersebar dari skor terendah 20,00 sampai dengan skor tertinggi 60,00 dengan rentang skor 40,00. Jika hasil belajar

(61)

matematika siswa dikelompokkan kedalam 5 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut:

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi dan persentase skor hasil belajar Matematika siswa sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing (Pretest)

NO Interval Dalam Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 89 < × ≤ 100 Sangat Tinggi 0 0

2 79 < × ≤ 89 Tinggi 0 0

3 64 < × ≤ 79 Sedang 0 0

4 54 < × ≤ 64 Rendah 0 0

5 0 ≤ × ≤ 54 Sangat Rendah 35 100

Jumlah 35 100

Data table 4.2 menunjukan bahwa dari 35 siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa yang menjadi sampel penelitian tidak terdapat skor hasil belajar siswa yang termasuk dalam kategori rendah, sedang, tinggi, maupun sangat tinggi. Dari 35 siswa yang menjadi sampel penelitian, skor hasil belajar sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing semuanya dalam kategori sangat rendah.

Referensi

Dokumen terkait

match. Peneliti tidak melanjutkan pada siklus berikutnya karena permalasahan yang terjadi pada siklus sebelumnya telah dapat diselesaikan. Begitu juga dengan hasil

The final results showed that the profitability and the size of the company does not affect the disclosure of corporate social responsibility, while the effect on the

1) Untuk memperbaiki terms of trade (TOT). 2) Untuk melindungi industri yang baru tumbuh ( infant industry ) terhadap persaingan industri luar negeri yang lebih besar dan

Beberapa ciri cyberculture yang berkembang di Indonesia dapat diketahui sebagai berikut : komunikasi global berkembang sangat cepat, meretas batasan jarak dan waktu, dapat dilihat

Asumsi dapat berupa teori, evidensi-evidensi dan dapat pula pemikiran peneliti sendiri. Adapun materinya, asumsi tersebut harus sudah merupakan sesuatu yang tidak

1) Metode AHP dapat digunakan untuk penyeleksian penerimaan asisten laboratorium pada AMIK-STIKOM Tunas Bangsa Pematangsiantar. Dengan perhitungan menggunakan metode

Hal ini dapat terjadi karena meskipun tingkat pengetahuan ibu baik ada faktor lain yang mempengaruhi ibu dalam memberikan MPASI pada bayinya, yaitu faktor budaya setempat,

Di Malaysia cerita kancil dipertahankan melalui film animasi berjudul “Pada Zaman Dahulu” yang dapat dinikmati oleh anak-anak Malaysia-Indonesia sebagai sebuah hiburan