10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Usia Dini
1. Definisi Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah anak yang berada di usia 3-6 tahun (Augusta,2012). Namun beberapa peneliti telah menyimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun, Masa anak usia dini sering juga disebut dengan istilah “golden age” atau masa emas.
Pada masa ini anak sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan secara cepat . Meskipun setiap anak tidak sama karena setiap individu mempunyai perkembangan yang berbeda-beda (Hafina, 2009).
2. Karakteristik Anak Usia Dini
Menurut (Suryana, 2008) karakteristik anak usia dini sebagai berikut;
a. Anak Bersifat Egosentris
Seorang anak pada umumnya masih bersifat egosentri, ia melihat dunia dari kepentingannya sendiri. Hal ini dapat diamati ketika anak saling berebut mainan, atau menangis saat menginginkan sesuatu.
Karakteristik ini berhubungan dengan kognitif anak. Menurut Piaget anak usia 2-6 tahun masuk pada tahap praoperasional, dimana pada fase ini anak memiliki pola berfikir yang bersifat egosentris dan simbolis. Anak belum dapat bersikap sosial yang melibatkan orang yang ada disekitarnya, asyik dengan dunianya sendiri dan memuaskan diri sendiri.
11 b. Anak Memiliki Rasa Ingin Tahu (Curiosity)
Anak memiliki pandangan bahawa dunia ini dipenuhi dengan hal-hal yang menarik dan menakjubkan. Hal ini membuat rasa ingin tahu anak menjadi tinggi. Sebagai contoh, anak akan tertarik dengan warna yang mencolok, begitupun kontur bola dengan berbagai macam warna sehingga anak menjadi suka dengan bola. Semakin banyak pengetahuan yang didapat berdasarkan rasa ingin tahunya maka semakin tinggi pula daya pikir anak.
c. Anak Bersifat Unik
Anak memiliki keunikan tersendiri dalam gaya belajar, minat, dan latar belakang keluarga. Setiap anak akan memiliki keunikan masing-masing sesuai latar belakang budaya serta kehidupannya.
d. Anak Memiliki Imajinasi dan Fantasi
Anak akan memiliki dunia sendiri, berbeda dengan orang yang berada diatas usianya. Mereka memiliki ketertarikan dengan hal-hal yang bersifat imajinatif sehingga mereka kaya dengan fantasi.
Terkadang mereka akan menanyakan sesuatu hal yang tidak bisa ditebak oleh orang dewasa, untuk itu anak perlu diberikan pengalaman-pengalaman yang merangsang kemampuannya untuk berkembang.
e. Anak Memiliki Daya Konsentrasi Pendek
Pada umumnya anak memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi didalam suatu kegiatan dalam jangka waktu yang lama. Ia akan selalu cepat mengalihkan perhatian pada kegiatan lain, kecuali
12 memang kegiatan tersebut tidak membosankan bagi mereka. Rentang konsentrasi anak usia 5 tahun pada umumnya adalah 10 menit untuk dapat duduk dan memperhatikan secara nyaman.
3. Problematika Anak Usia Dini
Melihat dari perkembangan zaman dari dahulu hingga di zaman modern sekarang, problematika yang sering terjadi pada anak usia dini salah satunya yaitu keterlambatan dalam perkembangan motorik kasar maupun motorik halus, dalam pertumbuhan fisik anak maka akan mempengaruhi pula proses perkembangan motorik sang anak.
Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot-otot yang mengkoordinasi (Susanti,. et al 2016). Dalam hal ini, hambatan yang terjadi yaitu anak menjadi kurang percaya diri dalam menguasai keterampilan- keterampilan motorik. Padahal keterampilan motorik ini sangat mempengaruhi tubuh kembang sang anak karena mempunyai 2 fungsi, pertama untuk membentuk anak menjadi sosok yang mandiri, dan kedua untuk membantu mendapatkan penerimaan sosial.
13 B. Perkembangan Motorik
1. Pengertian Motorik
Motorik adalah gerakan yang dapat dilakukan oleh tubuh.
Perkembangan motorik adalah perkembangan dari kematangan dan pengendalian gerak tubuh yang berjalan dengan kematangan dari syaraf dan otot, dimana aktifitas anak terjadi dibawah kontrol otak (Sukamti, 2015).
2. Tahap Perkembangan Motorik Anak Usia Dini
Didalam buku Balita dan Masalah Perkembangannya (2011) (Sujiono, 2014) ada tiga tahap perkembangan motorik anak usia dini, yaitu;
a. Tahap Asosiatif
Anak banyak belajar dengan cara meralat suatu olahan pada penampilan maupun gerakan dan akan mengkoreksi agar tidak terjadi kesalahan dimasa yang akan datang, dari apa yang harus dilakukan menjadi bagaimana melakukannya
b. Tahap Kognitif
Anak akan berusaha memahami keterampilan motorik serta apa yang dilakukan untuk suatu gerakan tertentu. Dengan kesadaran mentalnya anak akan berusaha mengembangkan strategi tertentu untuk mengingat gerakan serupa yang pernah dilakukan.
14 c. Tahap Autonomous
Gerakan yang ditampilkan berupa respons yang lebih sedikit kesalahan dan efisien. Anak dapat melakukan gerakan secara otomatis.
3. Definisi Kemampuan Motorik Halus
Motorik halus adalah kemampuan gerakan yang memerlukan kontrol dari otot kecil dari tubuh untuk mencapai tujuan dari keterampilan. Maka dari itu gerakan didalam motorik halus tidak membutuhkan tenaga yang berat tetapi memerlukan koordinasi yang cermat dan teliti. Secara umum gerakan motorik halus meliputi koordinasi mata dan tangan. Contohnya; menulis, menggambar, mewarnai, mengancing baju, dan sebagainya (Depdiknas, 2007).
4. Faktor Perkembangan Motorik Halus
Menurut (Endang,. et al 2005) faktor yang mempengaruhi adalah;
a. Faktor Intern
Faktor intern merupakan faktor yang berasal dari individu yang meliputi potensi, pembawaan, psikologis, dan semangat belajar serta kemampuan yang khusus.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar lingkungan anak baik yang berupa kesehatan, lingkungan, maupun pengalaman teman sebaya.
15
5. Tingkat Perkembangan Motorik Halus
Menurut (Depdiknas, 2007), tingkatan perkembangan motorik halus anak yaitu;
a. Usia tiga tahun
Usia tiga tahun sang anak sudah bisa melakukan aktifitas bermain seperti menjumput barang ataupun menyusun permainan balok dengan menggunakan jempol dan telunjuknya, tetapi dalam hal ini anak masih terlihat sangat kaku.
b. Usia Empat Tahun
Memasuki usia empat tahun gerakan koordinasi motorik halus sang anak berkembang pesat secara substansial, bahkan nyaris sempurna
c. Usia Lima Tahun
Pada usia lima tahun koordinasi anak sudah lebih baik dan sempurna. Tangan dan tubuh bergerak sesuai koordinasi mata.
Anak juga sudah mampu dalam melaksanakan kegiatan seperti kegiatan proyek.
d. Akhir Masa Kanak-Kanak Usia Enam Tahun
Memasuki usia enam tahun anak sudah bisa menggunakan jari-jemari nya untuk memegang pensil dan mulai belajar menulis dengan kata-kata yang lebih sulit
16
6. Konsep Dasar Pengembangan Motorik Halus
Berdasarkan Permendikbud No.137 Tahun 2014 tentang standar pendidikan anak usia dini terhadap konsep pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu;
a. Pada pasal 7 dan pasal 8 Bab III mengenai “Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan anak”, isi peraturan yang sesuai dengan konsep pertumbuhan dan perkembangan anak. yaitu konsep dasar perkembangan dan pertumbuhan, aspek-aspek perkembangan, faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang, dan karakteristik perkembangan berdasarkan usia anak.
b. Pada Bab IV terkait “Standar Isi” tepatnya pada ayat(1) dan (3), membahas tentang perkembangan pada setiap aspet yang diharapkan berkembang secara rinci. Hal ini dijabarkan pada lampiran I tentang “Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Lingkup Fisik-Motor Usia 4-5 tahun.
7. Manfaat Perkembangan Motorik Bagi Anak Usia Dini Manfaat perkembangan motorik (Endang,. et al, 2005) :
a. Anak akan memperoleh rasa senang dan dapat menghibur dirinya karena dapat mengembangkan keterampilan sambil bermain, seperti melempar bola, menyusun balok, menggambar, mewarnai, dan lain- lain
b. Anak akan memiliki rasa kepercayaan diri sehingga membuat anak tidak mudah bergantung pada orang lain
17 c. Dengan keterampilannya sang anak akan mudah menyesuaikan diri
sesuai lingkungan nya, baik dirumah maupun lingkungan sekolah.
Pada awal pra-sekolah anak sudah dapat dilatih menulis, mewarnai, dan menggambar
8. Resiko Dalam Perkembangan Motorik
Beberapa orang akan mengira bahwa bahaya yang serius didalam perkembangan keterampilan dan koordinasi motorik anak adalah kekakuan, namun ada hal lain yang dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius (Setiani, 2018) yaitu;
a. Terlambatnya Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik yang mengalami keterlambatan adalah perkembangan yang berada dibawah norma umur anak motorik yang terlambat akan mempengaruhi pembentukan kepribadian anak, akibatnya disaat memasuki usia tersebut sang anak tidak menguasai tugas perkembangan sesuai yang diharapkan oleh kelompok sosialnya, hal ini akan membuat seorang anak akan menyadari keterlambatannya, dan membuat anak merasa tidak percaya diri (Wulan, 2011).
b. Harapan Keterampilan yang Tidak Realistik
Seorang anak akan memiliki harapan keterampilan motorik yang tidak realistik bahkan ketika anak melihat seseorang yang memiliki keterampilan tertentu dengan cepat dan tepat, ia akan merasa bahwa memiliki keterampilan yang rumit adalah soal mudah. Karena mereka tidak tahu bagaimana rumitnya
18 keterampilan yang paling rumit membutuhkan waktu untuk menguasainya. Ketika anak mulai mencobanya, maka anak akan tahu bahwa melakukannya jauh lebih sulit dari yang terlihat.
c. Tidak Dapat Mmempelajari Keterampilan Motorik yang Penting Ketika terjadi kegagalan dalam mempelajari keterampilan motorik yang penting untuk anak, maka akan merugikan penyesuaian sosial dan pribadi sang anak. Sebagai contoh, ketika sang anak tidak bisa mandiri untuk melakukan kegiatannya, maka ia akan merasa rendah diri.
d. Landasan Keterampilan yang Jelek
Saat landasan yang baik belajar dengan cara meniru model yang tidak baik, maka tidak akan menghasilkan buah baik. Bahaya dalam menerima keyakinan tradisional ini timbul dari tekanan orang dewasa kepada sang anak untuk melakukan praktek tanpa memperhatikan jenis keterampilan yang sedang dipelajari.
e. Akrobatik
Ketika anak mempelajari suatu keterampilan, biasanya anak akan merasa mendapat perhatian, dan kepuasaan yang lebih besar dari biasanya. Mereka akan mulai berakrobat atau kelakukan sesuatu dengan cara yang tidak lazim. Meskipun secara temporer hal ini menimbulkan perasaan yang lebih unggul dan kepuasan pribadi, namun seringkali menimbulkan akibat fisik dan psikologis.
f. Pemakaian Tangan Kiri
19 Bahaya pemakaian tangan kiri merupakan bahaya potensial dalam penyesuaian sosial dan pribadi yang baik. Hal ini dapat menimbulkan bahaya dalam penyesuaian sosial dan pribadi yang baik.
9. Cara Mengukur Motorik Halus
Motorik halus dapat diukur dengan menggunakan alat ukur tes Bender Gestalt. Tes ini biasa juga disebut dengan tes visual-motor yang dikembangkan oleh Laurenta Bender. Tes ini menggunakan 9 gambar dengan ukuran media/kertas 4x6 inchi. Kesembilan gambar diadaptasi dari gambar-gambar wertheimee, 1923 (Pratikno, 2003)
Sistem skoring pada Bender Gestalt telah dibuat oleh Koppitz dengan membuat suatu manual sistem skoring Developmental pada anak-anak . Berdasarkan the Developmental Bender Gestalt Scoring System, dapat dilakukan dengan melakukan skoring pada setiap figur
yang telah dibuat oleh subyek. Dengan skoring sebagai berikut ; a. Figur A : terdiri dari figur sebuah lingkaran dan persegi yang
saling bersentuhan, bangun persegi membentuk diamond. Desain ini ditentukan sebagai pendahuluan, karena dari figur ini akan dapat dilihat sebagai pemahaman Gestalt individu, bahwa bagian- bagian yang saling berdekatan, biasanya dipersepsi sebagai satu kesatuan.
b. Figur 1 : terdiri dari figur titik-titik yang disusun mendatar, dengan jarak yang berbeda. Pada umumnya titik-titik ini akan dipersepsi sebagai pasangan-pasangan titik dengan jarak yang paling dekat.
20 Hal ini menunjukkan proksimitas (kedekatan) dalam hukum Gestalt.
c. Figur 2 : terdiri dari figur tiga baris bulatan-bulatan kecil yang diawali dengan peletakan bulatan kecil yang berbeda pada setiap baris. Figur ini akan dipersepsi sebagai kelompok garis yang terdiri dari tiga bulatan kecil dari kiri atas ke bawah kanan. Hal ini juga menunjukkan tentang hukum kedekatan dalam Gestalt.
d. Figur 3 : terdiri dari figur titik-titik satu, tiga, lima, dan tujuh yang dirangkai sedemikian rupa sehingga titik yang berbeda ditengah berada pada level yang sama. Sementara titik-titik yang lain diatur membentuk sudut diamond.
e. Figur 4 : terdiri dari figur persegi yang terbuka kearah atas dengan sudut kanan bawah bersentuhan dengan bagian tengah garis berbentuk bel (bell-shaped). Bentuk ini menunjukkan prinsip keberlanjutan Gestalt (continuity principle).
f. Figur 5 : terdiri dari figur garis lengkung putus-putus terbuka ke bawah, bersentuhan dengan garis putus-putus serong ke kanan di bagian atas.
g. Figur 6 : terdiri dari figur dua garis bergelombang dengan panjang gelombang yang berbeda, saling bersilangan satu sama lain dalam sebuah tautan.
h. Figur 7 dan 8 : terdiri dari figur dua konfigurasi dari satuan bentuk yang sama, namun dengan peletakkan yang berbeda, sehingga akan dipersepsi berbeda pula.
21
Table 2.1 Bender Gestalt Scoring System (Sumber : Affandi, 2017)
The global scoring system
0 No resemblance, random drawing, scribbling, lack of design 1 Slight – vague resemblance
2 Some – moderate resemblance
3 Strong – close resemblance, accurate reproduction 4 Nearly perfect
C. Anatomi Motorik Halus
1. Sistem Saraf Pusat a. Otak
Otak merupakan komponen yang paling penting di dalam tubuh, dimana otak memiliki 100 milyar neuron, dan merupakan pusat pengendali fungsi tubuh untuk mengendalikan gerak secara sadar ataupun tidak. Otak manusia memiliki berat 2% dari keseluruhan berat tubuh dan mengkonsumsi 25% oksigen, otak memiliki lipatan-lipatan guna meningkatkan luas pada permukaan untuk korteks, Maka dari itu otak merupakan organ yang paling rumit (Nurmala, 2015). Otak di bagi menjadi empat bagian, yaitu: Cerebrum (Otak Besar), Cerebullum (Otak Kecil), Brainsteam (Batang Otak), Limbic System (Sistem Limbik).
22
Gambar 2.1 Anatomi Otak (Sumber : Permana, 2019) . b. Medulla Spinalis
Medulla spinalis adalah jaringan saraf yang berbentuk silinder yang pipih, memanjang, dan membujur didalam ruas-ruas tulang belakang. Panjang rata-ratanya adalah 45 cm pada laki-laki dewasa dan 42 cm pada perempuan dewasa. Medulla spinalis berfungsi sebagai pengendali aktifitas refleks dalam tubuh.
Medulla spinalis dilindungi oleh selaput meninges dan didalam lapisan dalam dan tengah terdapat lapisan cerebrospinal sebagai bantalan dan memberi zat makanan. Didalam medulla spinalis terdapat 2 bagian utama, yaitu: 1. Substansi putih yang berfungsi sebagai penghantar impuls saraf dari atau ke otak, 2. Substansi kelabu sebagai pusat distribusi jalur sensor dan motor. Saraf-saraf pada saraf motor dan saraf sensor kemudian keluar melalui bagian ventral medulla spinalis
Sumsum tulang belakang terdiri dari 31 pasang saraf spinalis yang terdiri dari, 7 pasang segmen cervical, 12 pasang segmen
23 thorakal, 5 pasang segmen lumbalis, 5 pasang segmen sacralis, dan 1 pasang segmen coxigeus (Nurmala, 2015).
Gambar 2.2 Medulla Spinalis (Sumber : Nurmella, 2015) 2. Mekanisme Gerak Tubuh
Terdapat 2 mekanisme gerak tubuh (Nurmala, 2015), yaitu:
a. Gerak Dasar
Gerakan yang berlangsung dengan kita sadari disebut dengan gerak sadar. Otak akan terlebih dahulu mengolah rangsangan untuk gerak sadar, setelah itu impuls atau rangsangan akan melalui jalur yang panjang dan akan diterima oleh reseptor. Reseptor ini dapat berupa otot maupun alat indera. Lalu neuron sensorik akan mengirimkan impuls menuju otak. Kemudian, otak akan mengolah impuls menjadi sebuah pesan atau tanggapan dan pesan akan diteruskan menuju neuron motorik melalui interneuron, neuron motorik akan membawa impuls yang berisi tanggapan menuju efektor, dimana efektor tersebut dapat berupa alat indera atau otot.
24
Gambar 2.3 Proses Gerak Sadar (Sumber : Nurmala, 2015)
b. Gerak Refleks
Gerak yang dilakukan tanpa disadari disebut dengan gerak refleks. Gerak ini berlangsung dengan sangat cepat dan rangsangan akan terjadi secara otomatis. Mekanisme respon dari gerak refleks akan terjadi apabila menghindari suatu rangsangan yang bisa membahayakan tubuh. Medulla spinalis akan mengolah impuls, dan reseptor sebagai penerima rangsangan atau impuls. Reseptor ini bisa berupa otot maupun alat indera, dan impuls akan dikirmkan oleh neuron sensorik menuju medulla spinalis untuk diolah. Setelah itu, neuron motorik akan meneruskan pesan tersebut melalui
interneuron. Kemudian, neuron motorik akan membawa menuju efektor yang dapat berupa otot ataupun alat indera .
25
Gambar 2.4 Gerak Refleks (Sumber : Nurmala, 2015) D. Hand therapy exercise
1. Definisi Hand Therapy Exercise
Hand Therapy Exercise merupakan sebuah proses terapeutik yang
dianggap sebagai bentuk perawatan atau rehabilitatif yang efektif untuk bayi hingga dewasa ketika membutuhkan bantuan dalam keseimbangan, kontrol otot, dan milestone (Setiawan, 2019). Terapi latihan ini dapat dilakukan dengan menggunakan permainan sebagai media terapi agar mudah melihat ekspresi alami dari seorang anak yang tidak bisa diungkapkannya dalam bahasa verbal, karena permainan merupakan pintu masuk menuju dunia anak-anak (Hatningsih, 2013). Tujuan dari terapi ini ialah untuk mencegah terjadinya keterlambatan/kerusakan dalam perkembangan motorik anak sekaligus dapat membantu dalam permasalahan belajar. Dengan terapi, anak mampu diubah perilakunya melalui cara yang menyenangkan. Dalam penelitian ini, terapi bermain dilakukan dengan alat permainan edukatif yaitu playdough. Alat ini sebagai media untuk membantu dalam menstimulus otot-otot tangan
26 anak yang digunakan sebagai suatu latihan pengembangan motorik pada anak (Difatiguna,. et al 2015) Karena memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ditujukan kepada anak usia dini.
b. Berfungsi sebagai pengembangan aspek-aspek perkembangan anak usia dini.
c. Dirancang sebagai pendorong aktifitas dan kreatifitas anak.
d. Dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk, dan untuk bermacam tujuan aspek pengembangan atau bermanfaat multiguna.
e. Aman dan juga tidak berbahaya untuk anak.
Playdough ialah suatu bahan yang lembut yang dapat membuat anak-anak terdiam cukup lama ketika mengerjakannya, warnanya pun bermacam-macam seperti warna pelangi (Haryaningsih, 2011).
Permainan ini merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk menstimulasi kemampuan motorik halus, karena terdapat aktifitas yang melibatkan otot-otot halus yang ada pada telapak tangan (Rahmawati, 2014).
Gambar 2.5 Playdough (Sumber : Haryaningsih, 2011)
2. Teknik Hand Therapy exercise
27 a. Lakukan pemanasan terlebih dahulu, dengan cara meremas
playdough dengan kedua tangan, menggerakkan semua jari tangan secara bersamaan, menekan, dan mendorong secara bersamaan.
Gambar 2.6 Teknik Hand Therapy Exercise (Sumber Erikson, 2016)
b. Gulung playdough menjadi bentuk batang kayu dan lakukan gerakan memutar pada bagian permukaan atasnya. Lakukan sebanyak 15 kali, setelah itu lakukan gerakan dengan tangan satunya secara bergantian.
Gambar 2.7 Teknik Hand Therapy Exercise (Sumber Erikson, 2016)
28 c. Bentuk playdough seperti bola, lalu dorongkan jari-jari ke dalamnya,
ada dua gerakan dalam melakukannya, pertama mulai dengan jari- jari yang ditekuk, setelah itu dilanjutkan dengan gerakan jari-jari diluruskan dan kemudian direntangkan.
Gambar 2.8 Teknik Hand Therapy Exercise (Sumber Erikson, 2016)
d. Bentuk playdough seperti ular panjang, lalu jepit rata diantara ibu jari dan setiap jari. Bentuk lagi menjadi bentuk semula dan lakukan dengan sisi satunya.
Gambar 2.9 Teknik Hand Therapy Exercise (Sumber Erikson, 2016)
29 e. Bentuk lagi playdough seperti torpedo/ular, tetapi lebih besar dari
sebelumnya dengan diameter ½ hingga ¾. Letakkan lipatan terakhir dari jari dan lakukan gerakan menekan kearah telapak tangan.
Gambar 2.10 Teknik Hand Therapy Exercise (Sumber Erikson, 2016)
f. Gulung playdough membentuk tabung panjang dan pegang sehingga menggantung kebawah. Lakukan gerakan mejepit dengan menggunakan sela-sela jari. Lakukan dengan sisi lain secara bergantian.
Gambar 2.11 Teknik Hand Therapy Exercise (Sumber Erikson, 2016)
3. Manfaat Hand therapy exercise
30 Menurut (Rahmi, 2014) ada beberapa manfaat dalam Hand therapy exercise , yaitu:
a. Dapat meningkatkan atau mengembalikan fungsi fisik.
b. Sebagai sarana untuk mengembangkan kepribadian anak.
c. Sebagai penyesuaian diri dalam berkelompok
d. Dapat membantu meningkatkan otot dengan koordinasi tangan dan mata.
4. Durasi Hand therapy exercise
Latihan ini dilakukan selama 10 menit pada setiap sesi pertemuan.