• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI ANALISIS DESAIN KAPAL PANCING TUNA DI KABUPATEN SINJAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI ANALISIS DESAIN KAPAL PANCING TUNA DI KABUPATEN SINJAI "

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

MUNZIR ARSYUDDIN L231 08 266

PROGRAM STUDI PEMANFAAT AN SUMBERDAYA PERIKANAN JURUSAN PERIKANAN

FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2012

(2)

STUDI ANALISIS DESAIN KAPAL PANCING TUNA DI KABUPATEN SINJAI

Oleh :

MUNZIR ARSYUDDIN

Skripsi

Sebagaisalahsatusyaratuntukmemperolehgelarsarjana pada

FakultasIlmuKelautandanPerikanan

PROGRAM STUDI PEMANFAAT AN SUMBERDAYA PERIKANAN JURUSAN PERIKANAN

FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2012

(3)

Judul Skripsi : Studi Analisis Desain Kapal Pancing Tuna di Kabupaten Sinjai

Nama Mahasiswa : MUNZIR ARSYUDDIN Nomor Pokok : L 231 08 266

Program Studi : Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Skripsi

telah diperiksa dan disetujui oleh:

Pembimbing Utama

Dr. Ir. St. Aisjah Farhum, M.Si NIP. 196906051993032002

Pembimbing Anggota

Ir. Ilham Jaya, MM NIP. 195912221991031001

Mengetahui,

Dekan

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan

Prof. Dr. Ir. A. Niartiningsih,MS.

NIP. 196112011987032002

Ketua Program Studi,

Dr. Ir. St. Aisjah Farhum, M.Si NIP. 196906051993032002

Tanggal Lulus: Desember 2012

(4)

ABSTRAK

MUNZIR ARSYUDDIN. L231 08 266. Studi Analisis Desain Kapal Pancing Tuna di Kabupaten Sinjai. DibawahbimbinganSt. AisyahFarhum (PembimbingUtama) danIlham Jaya (PembimbingAnggota).

PenelitianinidilaksanakanpadabulanJunisampaiJuli 2012 berlokasi di DesaPanaikangKecamatanSinjaiTimur,KabupatenSinjai.Tujuandaripenelitianinia dalahuntukmengetahuidanmenganalisisdesainkapalpancing tuna yang menyangkutspesifikasi teknis,kapasitas, sertamaterialnya.Metode yang digunakanpadapenelitianiniadalahstudikasusdenganpengamatandanpengukuran pada 3 (tiga) unit kapalsampel dengan klasifikasi kapal yang mempunyai ukuran besar, sedang dan kecil.Selanjutnya dilakukan pengukuran geometribentukkapal pada ketigakapal sampeluntukmemperoleh data offset kapal. Data offset kapalkemudiandianalisisuntukmemperolehnilaihidrostatisdanstabilitaskapal.

Hasilanalisismenunjukkanbahwa desainkapalpancing tuna yang

ditelitipadabagianhaluanberbentuk V bottom

danbagianburitanmemilikibentukkapal U bottom. Ukuran utama (principal dimension) kapal pancing tuna yang diteliti belum sesuai standar yang ada, terutama pada nilai rasio L/D dan B/D yang berakibat pada kekuatan memanjang dan stabilitas yang kurang baik.Gross tonnage (GT) kapal pancing tuna yang diteliti telah sesuai dengan nilai standar yang ditetapkan.Material kapal yang digunakan pada kapal pancing tuna yaitu kayu ulin (Eusydiroxylonsawageni), kayubitti/Gofasa (Vitexcoppassus) dankayujati (Tectonagrandis) sudah sesuai dengan fungsi yang ditempatkan pada masing-masing bagian kapal.

Kata kunci :KapalPancing tuna, AnalisisDesain,

(5)

ABSTRACT

Munzir ARSYUDDIN. L231 08 266.Study of Tuna Fishing Vessel Design Analysis in Sinjai Regency. Under the guidance of St. Aisyah Farhum (Main Supervisor) and Ilham Jaya (Supervising Member).

This research was implemented on June to July 2012 is located in the Panaikang Village, East Sinjai subdistrict Sinjai regency. The purpose of this study is to investigate and analyze the tuna fishing vessel design related technical specifications, capacity, and material. The method used in this research is a case study with the observation and measurement of the 3 (three) units of the sample vessels with ship classification that has the size, large, medium and small. We then measured the geometry of the vessel in the form of three ships samples to obtain data offset boats. Data offset the ship then analyzed to obtain the value of hydrostatic and stability of the ship.

The analysis showed that the design of tuna fishing vessels studied, the V- shaped bottom part of the bow and the stern of the ship has a U shape bottom.

The main measure (principal dimension) tuna fishing vessel under study does not meet standards, especially in the value of the ratio L / D and B / D that resulted in extending the power and stability is not good.

Gross tonnage (GT) tuna fishing vessel has been examined in accordance with the standards set value. Materials used on the ship tuna fishing vessels are ironwood (Eusydiroxylon sawageni), bitti wood / Gofasa (Vitex coppassus) and teak (Tectona grandis) is in accordance with the functions that are placed in each part of the ship.

Keywords: Tuna Fishing Vessel, Design Analysis

(6)

RIWAYAT HIDUP

MUNZIR ARSYUDDINbiasa dipanggil Munjie dilahirkan di Makassar, pada tanggal 28 Oktober 1990. Penulis merupakan anak kelima dari enam orang bersaudara dari pasangan Almarhum Ir. H. Arsyuddin Salam, M.Agr, Fish dan Hj. Yusni Yusuf. Pada tahun 2002 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Inpres Kampus Unhas Tamalanrea. Pada tahun 2005 penulis menyelesaikan pendidikannya di SMP Negeri 12 Makassar dan pada tahun 2008 penulis berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMU Negeri 21 Makassar.

Pada tahun 2008 penulis berhasil diterima di Universitas Hasanuddin melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB). Penulis terdaftar sebagai mahasiswa pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Jurusan Perikanan, Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP). Selama studi penulis aktif diberbagai berbagai kegiatan sosial, kewirausahaan, keilmuan dan penalaran serta organisasi Internal dan Eksternal. Penulis pernah menjabat Sebagai Kord.

Divisi Pengkaderan Himpunan Mahasiswa Profesi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (HMP-PSP) Periode 2010-2011, Sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Perikanan (BEM KEMAPI FIKP) Periode 2011- 2012 dan Ketua LDF Rohis Mushallah Al Muqarrabin Perikanan Periode 2009- 2011.

(7)

KAT A PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan berkah dan karunia-Nya kepada segenap makhluk ciptaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh rangkaian penelitian dengan judul “Studi Analisis Desain Kapal Pancing Tuna di Kabupaten Sinjai” hingga tahap penulisan skripsi ini.

Serta sholawat dan taslim kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW atas suri tauladan dan bimbingan kepada manusia di muka bumi ini.

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana pada jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar. Dengan selesainya skripsi ini penulis menyadari banyak kesulitan dan kendala yang penulis hadapi akan tetapi semua itu dapat penulis atasi karena adanya dukungan dari berbagai pihak baik secara moral maupun material kepada penulis. Oleh karena itu, lewat kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Kedua orang tuaku Almarhum Ir. H. Arsyuddin Salam, M.Agr Fish dan Hj.

Yusni Yusufyang menjadi motivasi kehidupan dan tak hentinya memberi nasihat disaat lalai dalam segala hal, membimbing dan mendoakan setiap waktu , beserta saudara-saudariku tersayang atas segala dukungannya baik secara materil maupun doanya untuk penulis sehingga memberi motivasi kepada penulis untuk terus belajar dan berusaha secara mandiri.

2. Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan ibu Prof. Dr. Ir. Hj. A.

Niartiningsih,MS. dan Ketua Jurusan Perikanan bapak Prof. Dr. Ir. H. Musbir, M.Sc. dan Ketua Program Studi ibu Dr. Ir. St. Aisjah Farhum, M.Si. atas dukungan dan kerja samanya selama ini.

(8)

3. Ibu Dr. Ir. St. Aisjah Farhum, M.Si. selaku pembimbing utama dan bapak Ir.Ilham Jaya, MM sebagai pembimbing anggota yang telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing, dan memberi masukan yang sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyusun skripsi ini.

4. Dosen penguji,Bapak Prof. Dr. Ir. Najamuddin, M.Sc,Ir. Mahfud Palo, M.Si danDr. Ir. Alfa Nelwan, M.Si yang telah memberikan saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi.

5. Ir. Mahfud Palo, M.Si selaku penasehat akademik yang telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing, mengarahkan, dan memberi saran- saran yang sangat bermanfaat bagi penulis dalam penyusunan laporan ini, 6. Staf dosen pengajar dan pegawai Jurusan Perikanan. UNHAS yang telah

mengajar dan membimbing serta membantu kami selama masa perkuliahan.

7. Seluruhteman-teman organisasi (BEM KEMAPI, HMP PSP FIKP, ROHIS Perikanan, LDK FKMKI, KAMMI, UKM KPI Unhas, LSPP FORSTAR, IKA SMADAS, RISMIT, Forum Indonesia Muda dll) yang selalu memberikan doa, dukungan dan motivasi selama penelitian hingga skripsi ini terselesaikan.

8. Teman seperjuangan selama penelitian A. Armynsyaah P dan Aulia Azhar dan tim penelitian kapal 08 lainnya Karliani, Lastri Pratiwi, Iqbal Quraysin, yang telah banyak membantu dan kerjasamanya selama penelitian.

9. Keluarga besar Baracuda (Perikanan 08) terkhusus PSP 08 yang kebersamaan kalian melakukan banyak banyak hal selama berada di perikanan memberi pelajaran tentang arti sebuah kesolidan.

10. Teman – teman KKN Reguler Gel. 81 Kec. Labakkang, terimakasih atas kebersamaan kalian dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu terima kasih atas motivasi dan dukungannya selama ini kepada penulis.

(9)

Penulis sangat mengharapkan skripsi hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk pengembangan ilmu dan teknologi perikanan tangkap.

Akhir kata hanya kepada Allah SWT segalanya dikembalikan.

Jazakumullahu khairan katsiran. Penulis sadar bahwa dalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan yang disebabkan oleh keterbatasan yang penulis miliki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk menjadi perbaikan di masa yang akan datang.

Makassar, November 2012

Penulis

(10)

DAFT AR ISI

DAFTAR TABEL……….ix

DAFTAR GAMBAR……….……...x

DAFTAR LAMPIRAN……….……xi

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………... 1

1.2 Tujuan dan Kegunaan……….. 3

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Kapal ………. 5

2.2 Dimensi Utama……… 6

2.3 Desain Kapal ………...……… 12

2.4 Parameter Hidrostatis ………...………... 13

2.5 Material Kapal………...……….. 14

2.6 Deskripsi Alat Tangkap Pancing Ulur ………... 17

3. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat……… 20

3.2 Alat dan Bahan……… 20

3.3 Metode Penelitian……… 20

3.4 Prosedur Penelitian ……… 21

3.5 Analisis Data……… 23

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Alat Penangkapan 4.1.1 Kapal Pancing Ulur ………...………...………...………... 27

4.1.2 Alat Tangkap………...………...………...………...……….... 27

4.1.3 Metode Pengoperasian………...………...………...……..… 28

(11)

4.2 Spesifikasi Kapal

4.2.1 Ukuran Utama (Principal Dimansion)………...………... 29 4.2.2 Kapasitas Kapal (tonnage)………...………...………... 31 4.2.3 Material Kapal ………...………...………...………...…..…… 32 4.3 Rancangan Umum (General Arrangement) ………..………...……… 34 4.4 Rencana Garis (Lines Plane) Kapal Cantrang………... 39 4.5 Parameter Hidrostatis Kapal ……….... 43 5. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan………... 52

2. Saran……….. 52 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFT AR TABEL

(12)

Nomor Teks Halaman 1. Nilai Ratio ukuran utama kapal untuk kapal static gear yang umum di

Indonesia …...………...………...…..… 6

2. Nilai Ratio Dimensi Untuk Kelompok Kapal Perikanan Dengan Metode Pengoprasian Alat Tangkap yang Ditarik (Towed/Dragger Gear), Alat Tangkap Yang Pasif (Static Gear) dan Alat Tangkap yang Dilingkarkan (Encircling Gear)………..……... 7

3. Nilai koefisien bentuk untuk kelompok kapal perikanan dengan metode pengoperasian alat tangkap yang ditarik (Towed/Dragged Gear), alat tangkap yang pasif (Static Gear) dan alat tangkap yang dilingkarkan (Encircling Gear)….………... .... 12

4. Kriteria kelas kuat kayu ………...… 15

5. Kriteria kelas awet kayu………... 15

6. Jenis, sifat, kegunaan dan daerah penyebaran beberapa kayu untuk industri perkapalan diindonesia……….……….16

7. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian………... 20

8. Spesifikasi kapal pancing tuna yang diteliti………... 29

9. Nilai rasio perbandingan ukuran utama kapal pancing tuna /pancing ulur…. 29 10. Perbandingan panjang (L) dan GT……….... 31

11. Kesesuaian penggunaan jenis kayu sebagai material pembuatan bagian- bagian kapal pancing tuna yang diteliti………... 33

12. Nilai parameter hidrostatis Kapal 1……… 44

13. Nilai parameter hidrostatis Kapal 2……….. 44

14. Nilai parameter hidrostatis kapal 3……… 45

15. Nilai perbandingan kapal sampel……….... 46

(13)

DAFT AR GAMBAR

Nomor Teks Halaman 1. Diagram Alur Penelitian

2. Rancangan UmumKapal 1………... 36

3. Rancangan Umum Kapal 2………... 37

4. Rancangan Umum Kapal 3……….. 38

5. Rencana Garis Kapal 1………..40

6. Rencana Garis Kapal 2………. 41

7. Rencana Garis Kapal 3………. 42

8. Kurva HidrostatisKapal 1………49

9. Kurva HidrostatisKapal 2………49

10. Kurva Hidrostatis kapal 3………50

(14)

DAFT AR LAMPIRAN

Nomor Teks Halaman

1. Data pengukuran Kapal 1 ... 55

2. Data pengukuran Kapal 2 ... 56

3. Data pengukuran Kapal 3 ... 57

4. Rancangan UmumKapal 1 ... 58

5. Rancangan UmumKapal 2 ... 59

6. Rancangan Umumkapal 3 ... 60

7. Rencana Garis Kapal 1... 61

8. Rencana Garis Kapal 2 ... 62

9. Rencana Garis kapal 3 ... 63

10. Perhitungan Hidrostatis Kapal 1... 64

11. Perhitungan Hidrostatis Kapal 2... 72

12. Perhitungan Hidrostatis Kapal 3 ... 80

13. Tabel offset GambarKapal 1 ... 88

14. Tabel offset GambarKapal 2 ... 88

15. Tabel offset Gambar kapal 3 ...89

16. Tabel Hidrostatis Kapal 1 ... 89

17. Tabel Hidrostatis Kapal 2 ... 90

18. Tabel Hidrostatis Kapal 3 ... 90

19. Gambar Kapal 1 ... 91

20. Gambar Kapal 2 ... 91

21. Gambar Kapal 3 ... 92

22. Gambar Alat Tangkap ... 92

(15)

1. PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang

KabupatenSinjaiterletak di Jazirah Selatan bagianTimurPropinsi Sulawesi Selatan denganIbukotanyaSinjai Utara.Beradapadaposisi 50o19' 30" sampai50 o 36' 47" Lintang Selatan dan 11,90o 48' 30" sampai 120o 0' 0" BujurTimur.

Disebelah Utara berbatasandenganKabupaten Bone, di sebelahTimurdenganTeluk Bone, di sebelah Selatan denganKabupatenBulukumba, dansebelah Barat denganKabupatenGowa.

Luaswilayahdaratan yang dimililkiolehKabupatenSinjaiadalah 819, 96 km2, garispantaisepanjang 28 km yang terdiriataswilayahpantaidaratanpanjang 17 km danwilayahkepulauandenganpanjanggarispantai 11 km.

Dalamsektorperikanandanperhubunganlaut, pusatpendaratanikan (PPI) danTempatPelelanganIkan (TPI) di Lappamerupakan PPI terbesar di Sulawesi Selatandalamjumlah volume ikandankapalikan yang mendarat. Kapalikan yang sandardanmenjualhasiltangkapannyaselaindariSinjaidansekitarnyajugaberasalda riGalesongTakalar,

LuwusertaBarru.SementarapembelidatangdariseluruhpelosokSulawesi Selatan.

(DKP Sinjai, 2012)

Kapalmerupakanalat yang digunakandalammelakukankegiatan di perairan.Kapalikanadalahkapal yang digunakanuntuktujuanperikananatauusaha-

usaha yang

berhubungandenganperikanansepertiaktivitaspenangkapandanmengangkuthasilt angkapan.Kapalikanterdiridarikapal-kapal yang memilikiukurandanbentuk yang sangatkecilsepertiperahusampaikapal-kapal yang berukuranbesar.

(16)

Beragamnyadesainkapaldariukurandanbentukkapalikansangatdipengaruhiole hpembangunankapal yang disesuaikandengantujuanusaha, keadaanperairandandaerahpenangkapanikan.

Sebagian besar kapal ikan di Indonesia dibangun secara tradisional, dengan mengandalkan keterampilan turun-temurun. Kapal tersebut dibangun tanpa menggunakan gambar-gambar desain seperti general arrangement, lines plan, deckprofile, profile construction dan lain-lain. Selain itu, kapal tersebut tidak dilengkapi dengan perhitungan hidrostatik, stabilitas, trim dan sebagainya (Pasaribu, 1985 dalam Mardiyono, 1995).

Tapi pada kenyataanya kapal-kapal ikan yang dibangun secara tradisional telah berjasa sebagai sarana yang dipakai dalam operasi penangkapan ikan.

Walaupun dari segi efisiensi pengoperasian dirasa masih belum optimal.

Kapal perikanan sangat beragam sehingga dilakukan pengelompokan kapal ikan ke dalam tiga kelompok berdasarkan metode operasi alat tangkap yang digunakan (Fyson,1985). Kapal-kapal yang masuk kedalam kelompok tersebut adalah kapal yang hanya mengoprasikan satu jenis alat tangkap saja, untuk kapal yang mengoprasikan labih dari satu alat tangkap dimasukkan ke dalam kelompok kapal ikan serbaguna (multipurpose). Sehingga total kelompok yang ada sebanyak empat kelompok yakni:

1. Alat tangkap yang dilingkarkan (encircling gear) meliputi : purse seine, dan payang.

2. Alat tangkap yang ditarik (towed/dragged gear), meliputi : Cantrang, pukat, jaring kantong, dogol, lampara dan tonda.

3. Alat tangkap yang pasif (Static gear), Meliputi : gillnet, rampus, jaring bawal, jaring klitik, jaring tembang, trammel net, pancing dan rawai.

4. Kapal yang mengoprasikan lebih dari satu alat tangkap (multipurpose)

(17)

Keterkaitan antara alat tangkap dengan kapal ikan disini tercermin pada beberapa hal seperti dimensi kapal, pengaturan ruang-ruang yang ada di kapal baik di atas maupun di bawah dek (general arrangement).

Sedangkan kapal Pancing tuna yang beroprasi di Kabupaten Sinjai menggunakan alat tangkap pancing ulur sehingga masuk pada kategori kapal alat tangkap yang pasif (Static gear).

Kapal ikan pancing tuna yang dimiliki nelayan di Sinjai 90% dibuat di Provinsi Samarinda, Kalimantan Timur. Hanya ada sebagian kecil masyarakat yang melakukan pembuatan kapal sendiri di KabupatenSinjai, hal ini dikarenakan kualitas kayu di Sulawesi Selatan tidak lebih bagus dari kualitas kayu pembuatan kapal di Pulau Kalimantan.

Pembangunan kapalikankhususnyapadakapalikanpancing tuna di KabupatenSinjaijugatidakberdasarkanpadaperhitungan-

perhitunganteknissertatidakdilengkapigambarrencanaumum,

rencanagarisdangambarkonstruksidan lain halnyasepertiyang

dilakukanolehgalangankapal modern.

Namunpembangunankapalikantersebuthanyaberdasarkanpengalamandanketera mpilan.

Kapal pancing tuna di Kabupaten Sinjai memiliki daerah pengoperasian di wilayah laut flores yang memakan waktu minimal enam hari dalam satu kali trip.

Dalam pengoperasiannya, kapal pancing tuna membawa 3 – 4 buah peti penyimpanan hasil tangkapan yang diletakkan di bagian dek tengah kapal.

Kondisi kapal seperti ini akan berpengaruh pada stabilitas yang kurang baik maka perlu dilakukan penilaian performance pada kapal.

Berdasarkan haltersebut di

atasmakapentinguntukmelakukanpenelitiantentangdesainkapalpancing tuna di KabupatenSinjai Sulawesi Selatan.

(18)

1.2 TujuandanKegunaan

Tujuandaripenelitianiniadalahuntukmengetahuidanmenganalisisdesainkapalpanci ng tuna yang menyangkutspesifikasi teknis, kecepatankapal, kapasitas, sertamaterialnya.

Hasildaripenelitianinidiharapkanakanmenjadibahaninformasibaginelayandanp engusahaperikanandalammembuatdanmenentukandesainsertamodifikasikonstru

ksikapalperikananpancing tuna menjadilebihmaju,

efektifdanmemilikidayatahanlebih, dalamusahapengembanganbidangperikanan.

(19)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Kapal

Kapal ikan adalah jenis alat angkut diatas air yang dipergunakan dalam usaha menangkap, mengumpulkan, budidaya sumberdaya akuatik ataupun kegiatan penelitian dan pelatihan dalam bidang perikanan. Berdasarkan operasi penangkapan ikan ada beberapa tipe kapal seperti Trawler, Purse seine, Gill Net, Tuna Long Line dan lain-lain.Oleh karena itu kapal ikan yang berbeda memiliki karakteristik yang berbeda pula. Kapal- kapal penangkap ikan meliputi kapal- kapal perikanan yang digerakkan dengan tenaga manusia, dengan ukuran yang sangat kecil sampai kepada kapal induk yang mempunyai tonage sampai 20.000 GT (Ayodhyoa, 1972).

Kapal ikan mempunyai fungsi khusus yang berbeda dari kapal-kapal biasa seperti pekerjaan penangkapan ikan, persiapan pekerjaan penangkapan ikan, dan lain-lain. Karakteristik dari kapal ikan adalah kecepatan, ketahanan, jarak pelayaran, konstruksi permesinan, fasilitas penyimpanan ikan dan alat tangkap serta fasilitas-fasilitas penangkapan ikan (Tompo, 1990)

Menurut Nomura dan Yamazaki (1975), pengetahuan tentang kapal ikan serta penagkapannya penting untuk dipahami, baik perencanaan desain kapal yang dibuat atau dipesan sesuai karakteristik kapal ikan yang diinginkan.

Menurut Mulyanto dan Zyaki (1990) kapal perikanan menurut fungsi dan tujuan pengoperasiannya dapat dibedakan menjadi :

a. Kapal induk

b. Kapal pengangkut ikan

c. Kapal peneliti, pendidikan dan latihan d. Kapal penangkap ikan

(20)

Kapal penangkap ikan menurut jenis alat tangkap dan tujuan operasi penangkapan dapat dibedakan menjadi dua yaitu kapal jaring dan kapal pancing.

2.2 Dimensi Utama

Menurut Mulyanto dan Zyaki (1990) dalam Nurdin (2010) ukuran utama kapal terdiri dari, yaitu:

1. Panjang (L) 2. Lebar (B) 3. Dalam (D)

Ketiga ukuran ini mempunyai peranan penting dalam menentukan kapasitas serta dimensi lain yang berhubungan dengan stabilitas kapal seperti freeboard (F) dan draft (d).

Menurut Iskandar dan Pujianti (1995), nilai rasio L/B dan L/D untuk kapal kelompok static gear lebih besar dibandingkan kapal kelompok lainnya, sehingga membutuhkan stabilitas yang cukup tinggi. Untuj nilai kisaran rasio dimensi kapal kelompok static gear umumnya di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Nilai Ratio ukuran utama kapal untuk kapal static gear yang umum di Indonesia (Iskandar dan Pujianti ,1995)

L/B L/D B/D

2,83 – 11,12 4,58 - 17,28 0,96 – 4,68

(21)

Tabel 2. Nilai Ratio Dimensi Untuk Kelompok Kapal Perikanan Dengan Metode Pengoprasian Alat Tangkap yang Ditarik (Towed/Dragger Gear), Alat Tangkap Yang Pasif (Static Gear) dan Alat Tangkap yang Dilingkarkan (Encircling Gear) (Fyson,1985).

Kelompok Kapal Panjang Kapal (L) GT L/B L/D B/D Alat Tangkap yang

Ditarik

Alat Tangkap Pasif

Alat tangkap yang dilingkarkan

< 22 m

< 20 m

< 22 m

-

< 5 5 – 10 10 - 15

> 15 -

< 6.30

< 5.0 5.0 5.0 5.0 4.3

<11.50

> 11.0 11.0 10.5 10.0

<10.0

> 1.75

> 2.5 2.2 2.1 2.0

> 2.15

Selanjutnya Ayodhyoa (1972) mengatakan bahwa ukuran utama kapal menentukan ability (ketahanan) dari suatu kapal selama masa terpakai.Nilai dari L/B, L/D, B/D sangat penting karena dalam perhitungan L, B, D nilai-nilai tersebut perlu diperhitungkan baik dari segi perhitungan teori bangunan kapal, materi juga ketentuan-ketentuan peraturan yang berlaku. Jika nilai L/B mengecil akan berpengaruh buruk pada kecepatan. Nilai L/D membesar maka kekuatan memanjang akan berkurang. Nilai B/D membesar maka stabilitas akan naik, tetapi kemampuan dorong akan memburuk.

Ayodhyoa (1972) mengemukakan tentang dasar-dasar pertimbangan dalam menentukan ukuran utama dan kesanggupan kapal sebagai berikut :

a. Nilai L berhubungan erat dengan penempatan kamar mesin, tangki bahan bakar, tangki air tawar, palka ikan, ruang akomodasi, perlengkapan alat tangkap dan ruangan lainnya. Hal ini lebih dikenal dengan interior arrangement

b. Nilai B berhubungan erat dengan stabilitas dan daya dorong kapal

c. Nilai D berhubungan erat dengan tempat penyimpanan barang atau hasil tangkapan dan juga stabilitas.

(22)

Pertimbangan GT dan HP untuk kapal ikan berkisar antara 1 : 2,5 – 1 : 4,0 sesuai dengan kebutuhan dalam operasi penangkapan. Menurut Nomura dan Yamazaki (1975) perbandingan nilai kecapatan dan panjang (speed length ratio), dituliskan dengan persamaan :

V √L

dimana V : kecepatan kapal dalam knot L : panjang kapal dalam meter

Dengan batasan kecepatan sehubungan dengan nilai speed length ratio sebagai berikut :

 Untuk kecepatan normal, speed length ratio = 1,811

 Untuk kecepatan rendah , speed length ratio = 1,448

 Untuk kecepatan tinggi, speed length ratio = 2,173

 Bila menggunakan mesin dengan tenaga berlebih serta punya bentuk

khusus maka speed length ratio 2,71

Kecepatan dari suatu kapal penangkap ikan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dari operasi penangkapan. Kapal ikan dituntut untuk dapat bergerak sangat lincah saat bergerak dengan kecepatan tinggi maupun rendah. Kecepatan tersebut dibutuhkan untuk menuju daerah penangkapan atau kembali ke ke daerah pendaratan ikan, mengejar kelompok ikan yang menjadi sasaran, maupun pada saat mengoperasikan alat tangkap.

Hal ini yang menjadikan kapal ikan memiliki karakteristik yang berbeda dengan kapal yang lainnya (Anonim 2, 2011).

Kapal ikan mempunyai keistimewaan pokok yang berbeda dengan kapal lain (Nomura dan Yamazaki, 1997 dalam Mardiyono, 1995) seperti :

(23)

a. Kecepatan kapal : membutuhkan kecepatan yang tinggi untuk mengamati dan mengejar kelompok ikan serta membawa hasil tangkapan ya ng segar dalam waktu yang pendek .

b. Kemampuan olah gerak kapal : membutuhkan olah gerak khusus yang baik pada saat pengoperasiannya seperti kemampuan steerability yang baik, radius putaran (turning circle) yang kecil dan daya dorong mesin (propulsion engine) yang dapat dengan mudah bergerak maju dan mundur.

c. Kelaik-lautan : laik (layak) digunakan untuk operasi penangkapan ikan dan cukup tahan untuk melawan kekuatan angin, gelombang, stabilitas yang tinggi dan daya apung yang cukup diperlukan untuk menjamin ke amanan dalam pelayaran.

d. Luas area pelayaran : area pelayaran kapal luas karena pelayarannya ditentukan oleh pergerakan kelompok ikan, daerah musim, perpindahan daerah penangkapan ikan, dan lain-lain.

e. Konstruksi yang kuat : konstruksi harus kuat karena dalam operasi penangkapan ikan akan menghadapi kondisi alam yang berubah-ubah dan tahan terhadap getaran yang disebabkan oleh kerja mesin.

f. Daya dorong mesin : membutuhkan daya dorong mesin yang cukup besar, dengan volume mesin yang kecil dan getaran yang kecil pula.

g. Fasilitas penyimpanan dan pengolahan ikan : penyimpanan hasil tangkapan dalam ruang tertentu dengan fasilitas ruang pendingin, ruang pembekuan atau dengan es untuk menghindari pengaruh luas yang akan menurunkan mutu ikan. Pengolahan ikan membutuhkan mesin-mesin untuk pengolahan (pengalengan, pengolahan tepung ikan) pada kapal.

h. Mesin-mesin penangkapan : umumnya dilengkapi dengan alat bantu penangkapan untuk membantu kelancaran operasi penangkapan ikan.

(24)

Dimensi utama kapal ditentukan oleh masukan dari kapal sejenis yang telah ada, jumlah dan jenis barang yang diangkut, rasio dimensi kapal, daerah pelayaran dan sebagainya sehingga tenaga penggerak dapat mencapai kecepatan tertentu yang diinginkan.Dimensi utama kapal diperhitungkan dengan seksama karena menentukan kemampuan suatu kapal. Rasio diantara dimensi utama kapal berpengaruh terhadap kemampuan laju, stabilitas dan kemampuan propulsi .Demikian juga pemilihan dan perhitungan yang memadai tentang bahan, kapasitas, metode penangkapan, instalasi ruang mesin dan rencana permesinan untuk penanganan sesuai dengan perkembangan teknologi akan berpengaruh terhadap perhitungan kekuatan dan kecepatan kapal. Dalam kaitan tersebut dapat ditentukan juga bentuk bagian bawah kapal yang berpengaruh terhadap tahanan, hidrodinamika dan karakteristik propeler yang berpengaruh terhadap propulsi (Anonim 2, 2011).

Menurut Tompo (1990) dalam Darmawati (2010) persyaratan umum yang harus dimiliki kapal penangkap ikan antara lain :

1. Bagian geladak haluan dan buritan lebih tinggi dari bagian geladak tengah, agar pintu-pintu bagian tengah lambung kapal lebih dekat kedudukannya dengan permukaan air sehingga dapat mempermudah proses penaikan alat beserta hasil tangkapan.

2. Bagian dasar kapal umumnya berbentuk V (V bottom) agar kapal dapat lebih laju bergerak membelah ombak.

Dalam mempelajari konstruksi serta desain dari suatu kapal sangat diperlukan mengenai koefisien bentuk kapal antara lain (Ayodhyoa, 1972) : a. Block coefficient merupakan perbandingan antara isi carene dengan isi suatu

bak dengan panjang L, lebar B, dan tinggi D. Dari harga Cb dapat dilihat apakah badan kapal mempunyai bentuk yang gemuk atau ramping . Kapal

(25)

yang mempunyai nilai Cb kecil mempunyai kecepatan yang tinggi, sedangkan kapal yang mempunyai Cb yang besar mempunyai kecepatan yang rendah.

b. Prismatic coefficient adalah perbandingan antara volume badan kapal yang berada dibawah permukaan air dengan volume sebuah prisma dengan luas penampang midshipA dan panjang L.

c. Midship coefficient adalah perbandingan luas antara penampangan gading besar yang terendam air dengan luas suatu penampang yang lebarnya B dan tinggi D. Penampang gading besar (midship) yang besar terutama dapat dijumpai pada kapal sungai dan kapal-kapal barang sesuai dengan keperluan ruangan, muatan yang besar sedangkan untuk penampang gading besar yang tajam pada umumnya digunakan pada kapal-kapal layar.

d. Coefficient waterplan (Cw) adalah Besarnya luas area penampang membujur tengah kapal dibanding dengan 4 persegi panjang yang mengelilingi luas area tersebut.

e. Coefficient vertikal prismatik (Cvp) adalah perbandingan kapasitas displacement kapal dengan volume yang dibentuk oleh luas area garis air dengan sarat air kapal.

Muckle (1975) menyatakan bahwa semakin besar nilai coefficient of block (Cb) dan coefficient of prismatic (Cp) pada kecepatan tertentu maka tahanan gerak yang dihasilkan juga akan semakin besar. Sedangkan menurut Saksono (2009), semakin besar nilai coefficient of midship (C⊗) maka tahanan gerak yang dihasilkan akan semakin besar.

Pada Tabel 3 dibawah ini disajikan tiga tabel yang berisikan nilai koefisien bentuk yang dikemukakan oleh Nomura dan Yamazaki (1977) dalam Iskandar dan Pujiati (1995) dan Ayodhoa (1972) dalam Erina (1999).

(26)

Tabel 3.Nilai koefisien bentuk untuk kelompok kapal perikanan dengan metode pengoperasian alat tangkap yang ditarik (Towed/Dragged Gear), alat tangkap yang pasif (Static Gear) dan alat tangkap yang dilingkarkan (Encircling Gear)

Kelompok Kapal Cb Cp Cm Cw

Alat Tagkap yang Ditarik

Alat Tangkap Pasif Alat Tangkap yang Dilingarkan

0.58 – 0.67 0.63 – 0.72 0.57 – 0.68

0.66 – 0.72 0.83 – 0.90 0.76 – 0.94

0.88 – 0.93 0.65 – 0.75 0.67 – 0.78

- 0.91– 0.97 0.91 – 0.95

Penentuan ukuran volume kapal ikan biasanya dinyatakan dengan gross tonnage (GT).GT adalah ukuran volume kapal yang meliputi ruang yang ada dibawah geladak atas dan ruang yang tertutup rapat di atas geladak.

2.3 Desain Kapal

Desain merupakan hal yang penting dalam pembangunan kapal ikan (Fyson, 1985).Sesuai dengan perbedaan jenis kapal ikan, maka desain dan konstruksi kapal dibuat berbeda-beda dengan memperhatikan persyaratan teknis pengoperasian setiap jenis kapal berdasarkan alat tangkap yang dioperasi-kan.

Desain dan konstruksi yang berbeda berdasarkan jenis kapal ikan ini, membuat bentuk badan kapal (kasko) menjadi berbeda-beda (Gillmer and Johnson, 1982 ; Fyson, 1985)

Husain (1983) dan Monintja dkk (1986) mengemukakan bahwa dalam perencanaan kapal yang utama adalah ukuran kapal, kapasitas ruang muat, lama operasi, jenis alat tangkap, daya mesin dan lain-lain.

Perencanaan pembangunan kapal memerlukan data antara lain jenis kapal, daerah pelayaran, muatan bersih yang dapat dimuat, kecepatan dan data lain yang dibutuhkan antara lain panjang kapal (L), lebar kapal (B), dalam kapal (D) dan beberapa koefisien badan kapal dibawah air ( Soekamto dan Soedarsono 1978 dalam Mardiyono 1995).

(27)

Selanjutnya menurut Fyson (1975) menyatakan bahwa kelengkapan dari perencanaan, desain dan konstruksi kapal ikan yaitu dengan adanya gambar- gambar rencana garis (lines plan), tabel offset, gambar perencanaan pengaturan ruang serta instalansinya (general arrangement) dan gambar konstruksi beserta spesifikasinya.

Rancangan umum (general arrangement) adalah gambar teknik yang menyajikan secara umum kelengkapan ruang kapal terlihat dari atas dan samping. Sedangkan rencana garis (lines plan) suatu kapal merupakan rencana garis yang dibuat pada masing-masing garis air dan ordinat (Nurdin, 2010).

Fyson (1985) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi desain suatu kapal yaitu :

a. Tujuan penangkapan

b. Alat dan metode penangkapan

c. Kelaik-lautan dari kapal dan keselamatan awak kapal

d. Peraturan-peraturan yang berhubungan dengan desain kapal ikan e. Pemilihan material yang tepat untuk konstruksi

f. Penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan g. Faktor ekonomi

2.4 Parameter Hidrostatis

Kapal-kapal yang besar cenderung mengalami kesulitan olah gerak dibandingkan kapal-kapal yang lebih kecil.Penyelidikan tentang karakteristik hidrodinamika kapal ini pada umumnya dilakukan dengan pendekatan teoritis- numerik dimana pada saat ini lebih populer dengan istilah dinamika fluida numerik (CFD). Teknik lain yang menjadi altematif adalah melalui pengujian model kapal menggunakan towing tank, manoeuvring ocean basin (MOB), wind tunnel, cavilaliontunnel, dan lain-lain. Meskipun lebih praktis dan tetap dengan akurasi tinggi, temyata penggunaan teknik ini memerlukan biaya yang cukup

(28)

tinggi terutama untuk kapal-kapal yang besar dan kapal khusus (Anonim 3, 2011).

Efektivitas pengoperasian kapal penangkap ikan di laut pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kemampuan kapal untuk tetap selamat (seaworthiness) dan karakteristik yang menekankan pada respon kapal terhadap kondisi operasional di laut (seakindliness), kedua hal tersebut merupakan kriteria utama yang harus dipenuhi oleh suatu kapal, yang berkaitan erat dengan karakteristik gerakan kapal (Anonim 3, 2011).

Isi carene ( ) adalah bentuk badan kapal yang ada dibawah permukaan air dengan catatan bahwa tebal kulit, tebal lunas sayap, tebal daun kemudi baling- baling dan lain-lain.Perlengkapan kapal yang terendam air tidak termasuk carene.Isi carene adalah volume badan kapal yang ada dibawah permukaan (tidak termasuk kulit dan lain-lain) (Ayodhyoa, 1972).

2.5 Material Kapal

Dalam pemilihan atau penentuan bahan dalam pembuatan kapal harus diutamakan bahan yang tersedia dilokasi dan mudah didapat di pasaran produk dalam negeri. Material yang umumnya digunakan adalah kayu, baja dan lain-lain.

Material yang digunakan memilki kelebihan dan kekurangan sehingga perlu dicari perimbangan-perimbangan dalam rangka pengembangan kapal ikan pada masa yang akan datang (Fyson, 1985).

Jenis kayu yang dipilih untuk pembuatan kapal pada umumnya terbatas pada berbagai jenis kayu dan telah terbukti ketahanannya untuk perkapalan. Jenis kayu tersebut antara lain kayu Jati (Tectona gradis, L.F), kayu Ulin (Eusideroxylon swageni), kayu Merbau (Instia spp) (Pasaribu dkk, 1984).

Kriteria kelas awet kayu, kriteria kelas kuat kayu untuk industri perkapalan di indonesia dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5.

(29)

Tabel 4. Kriteria kelas kuat kayu (Pasaribu dkk, 1984)

Kelas Kuat Berat Jenis Keteguhan Lentur Mutlak

Keteguhan Tekan Mutlak I Lebih dari 0,9 Lebih dari 1100 Lebih dari 650

II 0,6 – 0,9 725 – 1100 425 – 650

III 0,4 – 0,6 500 – 725 300 – 425

IV 0,3 – 0,4 360 – 500 215 – 300

V Kurang dari 0,3 Kurang dari 360 Kurang dari 215 Tabel 5. Kriteria kelas awet kayu (Pasaribu dkk, 1984)

No Keadaan Kelas awet

I II III IV V

1

Selalu berhubungan dengan tanah lembab

5 tahun 5 tahun 3 tahun Sangat pendek

Sangat pendek

2

Hanya dipengaruhi cuaca tetapi dijaga supaya tidak terendam air dan tidak kekurangan udara

20 tahun 15 tahun 10 tahun Beberapa tahun

Beberapa tahun

3

Di bawah atap, tidak berhubungan

dengan tanah lembab dan tidak kekurangan udara

Tidak Terbatas

Tidak terbatas

Sangat lama

Beberapa tahun

beberapa tahun

4

Seperti di atas tetapi dipelihara dengan baik dan dicat dengan teratur

Tidak Terbatas

Tidak terbatas

Tidak tahun terbatas

20 tahun

20

5 Serangan rayap tanah

Tidak Jarang Cepat Sangat Cepat

Sangat Cepat 6 Serangan butuk

kayu kering

Tidak Tidak Hampir Tidak

Tidak berarti

Sangat cepat

Berdasarkan perbandingan perhitungan berat kapal sejenis, umumnya kayu lebih ringan dari besi tetapi diperlukan badan kapal yang lebih besar untuk kapasitas yang sama dibandingkan besi karena kayu mempunyai ketebalan lebih untuk konstruksi. Tetapi hal tersebut dipengaruhi oleh sifat mekanis kayu yang akan mempengaruhi fisik kayu meliputi penyusutan dan berat jenis (Anonim 4, 2011).

(30)

Tabel 6.Jenis ,sifat, kegunaan dan daerah penyebaran beberapa kayu untuk industri perkapalan di Indonesia (Pasaribu dkk, 1984).

No Jenis Kayu Sifat Kayu Kegunaan Daerah Penyebaran 1. Bintangur

(Calopyhllum spp)

KA II-IV, KK II-III, BJ 0,54 – 0,77, agak keras, calopyhllum inopyhllum sukar dikerjakan tetapi jenis yang lain umumnya mudah

Gading, tiang layar, dayung

Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Palembang, Lambung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur

2. Gafosa (Vitax cofassus Reinw)

KA II-III, KK II-III,BJ 0,74 (0,57-0,93), keras, agak sukar di gergaji.

Gading, lunas

Seluruh Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya

3. Keruing (Dipterocarp us spp)

KA II-IV, KK I-III, BJ 0,66-0,92, keras sampai sangat keras, sifat pengerjaan tergantung pada kadar silika dan damar yang dikandung

Dek,badan kapal

Seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan

4. Merbau (Instia spp)

KA IV, KK I-III, BJ 0,79-0,84, agak keras sampai keras, agak mudah

dikerjakan

Lunas, gading, dan dek

Seluruh Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Irian Jaya

Ferrocement (15% lebih berat dibandingkan kayu) lebih berat dari besi memiliki berat keseluruhan yang lebih besar meskipun dimensi badan kapal dapat lebih kecil untuk kapasitas sama. Contoh lain adalah aluminium (25-32%) lebih ringan dari kayu) yang dapat menghemat berat 30% dibandingkan besi, sehingga keuntungan ini dapat meningkatkan kapasitas dan operasional (Anonim 4, 2011).

(31)

Menurut Fyson (1985) menyatakan bahwa dalam memilih kayu harus mempertimbangkan :

a. Kekuatan dan daya tahan kayu b. Ketahanan terhadap pembusukan

c. Kualitas, jumlah dan ukuran yang diperlukan.

2.6 Deskripsi Alat Tangkap Pancing Ulur a. Spesifikasi teknis

Pancing ulur (tomba’) merupakan salah satu alat tangkap yang masuk kedalam klasifikasi alat tangkap pancing. Jenis-jenis penangkapan ikan yang menggunakan pancing biasa disebut Line Fishing. Istilah lain biasa juga disebut dengan Hook and line atau angling yaitu alat penangkap ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing. Umumnya pada mata pancingnya dipasang umpan, baik umpan asli maupun umpan buatan yang berfungsi untuk menarik perhatian ikan (Sudirman dan Achamar, 2000)

Menurut Von Brand (1984) dalam Sudirman dan Achmar (2000), pada garis besarnya line fishing banyak jenisnya, tetapi dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok yaitu:

1. Handlines, yaitu pancing yang paling sederhana. Biasanya hanya terdiri dari pancing, tali pancing dan pemberat serta dioprasikan oleh satu orang dan tali langsung ditangan.

2. Pole and line, yaitu pancing yang digunakan khusus menangkap ikan-ikan cakalang, tuna dan tongkol. Pancing ini terdiri dari joran, tali pancing dan umpan. Dioprasikan secara bersama di atas kapal.

3. Set lines, yaitu pancing yang dipasangsecara menetap dalam jangka waktu tertentu. Pancing ini terdiri dari tali pancing, pancing dan umpan kemudian dipasang secara tetap disuatu perairan.

(32)

4. Bottom long lines,yaitu pancing yang dipasang di dasar perairan, biasanya khusus menangkap ikan-ikan demersal.

5. Drift lines,yaitu pancing yang dipasang di permukaan atau di pertengahan air dan dihanyutkan sampai jangka waktu tertentu.

6. Troll lines, yaitu pancing yang dalam operasinya ditarik dengan perahu.

Alat tangkap pancing ulur masuk kedalam kelompok pancing jenis Handlines Handlines dan merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan dalam penangkapan ikan tuna. Alat pancing ini paling sederhana karena hanya terdiri dari pelampung tanda, tali pancing, mata pancing, kili-kili, umpan dan pemberat. Umpan yang digunakan dalam alat tangkap ini menggunakan umpan hidup.

b. Klasifikasi alat

Pancing ulur terdiri atas beberapa komponen, yaitu 1)gulungan tali; 2)tali pancing (Nylon monofilament no. 50-150) sebagai tali utama;3) satu buah mata pancing (no.5-8); 4) Kili-kili yang berfungsi membuat tali tidak terbelit ketika target ikan memakan umpan dan 4)pemberat 1 Kg.

c. Metode pengoprasian

Operasi penangkapan dimulai dengan menentukan daerah atau lokasi pemancingan (fishing ground). Fishing ground beradadi sekitar rumpon, karena jenis-jenis ikan baik yang berukuran kecil maupun besar pada saat-saat tertentu berkumpul disekitar rumpon untuk berlindung dan mencari makan. Sehingga menghemat waktu dan memudahkan nelayan pancing ulur untuk menemui gerombolan ikan dan menangkap. Dengan demikian maka penangkapan dapat dilakukan secara efektif dan efisien serta menghemat biaya operasi penangkapan.

Setelah mendapatkan fishing ground kemudian mata pancing diberi ikan umpan hidup. Mata pancing yang digunakan nomor 5-8 dengan disesuaikan

(33)

dengan ukuran ikan target tangkapan. Setelah itu umpan diturunkan ke dalam air dan tali diulur hingga kedalaman 30-200 meter.

Apabila ikan target memakan ikan umpan, selanjutnya tali ditarik dengan teknik penarikan sedemikian rupa sehingga tidak melukai tangan. Tali nylon diusahakan tidak mengendur agar ikan yang telah memakan pancing tidak lepas kembali .

(34)

3. METODE PENELITIAN

3.1 WaktudanTempat

PenelitianinidilaksanakanpadabulanJunisampaiJuli 2012 berlokasi di DesaPanaikangKecamatanSinjaiTimur,KabupatenSinjai.

3.2 AlatdanBahan

Alatdan bahan yang digunakan dalam penelitian ini dijelaskan pada Tabel 7.

Tabel 7.Alatdan bahan yang digunakandalampenelitian

3.3 MetodePenelitian

Metode yang

digunakanpadapenelitianiniadalahstudikasusdenganpengamatandanpengukuran pada 3 (tiga) unit kapalsampel dengan klasifikasi kapal yang mempunyai ukuran besar, sedang dan kecil. Data diperoleh dengan melakukan pengukuran secara

langsung terhadap geometri bentuk kapal,

sertamelakukanwawancarakepadanelayan ataupun pemilikkapalpancing tuna yang adadilokasipenelitian .

3.4 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang dilakukan tergambar dalam diagram alir pada Gambar 1.

AlatdanBahan Kegunaan

Tiga Unit Kapalpancing tuna Kapal sampeldalampenelitian Penggariskayu 1 meter dan Roll Meter Mengukur dimensi kapal

Water pass Mengetahui ketelitian keseimbangan

pengukuran

Pakukecil, Talinilon, pendulum Alat bantu untuk pengukuran geometri bentuk kapal

Peralatan gambar (Flexibel Curve,

penggaris 30 cm, pensil 0.5 mm) Untuk membuat gambar desain kapal

(35)

Gambar 1. Diagram Alur Penelitian

3.4.1 Pengukurangeometri bentuk kapal dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :

a. Lunaskapal di tempatkanpadaposisi horizontal denganmenggunakanwaterpass.Garislunasdianggapsebagaibase

linedenganposisibadankapaltegakdan horizontal.

b. Mengukur LOA (Length Over All) atau L,

yaitupanjangkeseluruhandarikapal yang

diukurdariujungburitansampaikeujunghaluan.

c. Mengukur LWL (Length Water Line), yaitupanjanggaris air yang diukurdariperpotongangarisakhirpadagaristegakburitan.

- Dimensi Utama Kapal - Data Geometri Bentuk Kapal

Parameter Hidrostatis : LCB (m), ∇ (m3), ∆ (ton), Aw (m2) A⊗(m3), Cw, Cp, C⊗, Cb Tabel Ofset dat a penguk uran

Membuat Gambar:

- Ranc anganumum(general arrangement) - Renc anagaris (Lines Plan)

Pembuatan tabel Ofset Gambar MULA I

Perolehan Data Kapal

Tabulasi Data

Gambar Desain Kapal

Tabulasi Data

Perhitungan Hidrostatis

SELESAI

Analisis hasil perhitungan

(36)

d. Mengukur LBP (Length BetweenPerpendicullars), yaitupanjangantaragaristegakdepan (FP) dengangaristegakbelakang (AP) padagaris air (LWL).

e. Mengukur BOA (Breadth Over All) atau B, yaitulebarterbesardarikapal

yang diukurdarikulitlambungkapal di

sampingkirisampaikulitlambungkapalsebelahkanan.

f. Mengukur D (Depth), yaitujaraktegakdarigarisdasarsampaigarisgeladak yang terendahpadabagiantengahkapal.

g. Mengukur d (draft), yaitujarak vertical antaragaris air (load water line) ataspadagaris air muatdengangarisdasar (base line).

3.4.2 Tabulasi data kedalam tabel offset

Setelah diperoleh data setiap ordinat dari keseluruhan panjang kapal selanjutnya dimasukkan kedalam tabel offset.

3.4.3 Gambar desain kapal

Data dari tabel ofset selanjutnya dibuatkan gambar berupa Rancanganumum (general arrangement). danrencana garis (Lines Plane). Gambarrencanagariskapalpadasetiapgaris air danordinat yang tertuangkedalamtigabuahgambaryaknigambarkapaltampaksamping (profil plan), tampakatas (half breadth plan) dantampakdepan (body plan) 3.4.4 Tabel offset gambar

Data dari geometri bentuk kapal pada gambar lines plan akan ditabulasi kedalam bentuk tabel offset gambar yang selanjutnya akan digunakan untuk perhitungan parameter hidrostats kapal.

3.4.5 Perhitungan Parameter Hidrostatis

Parameter hidrostatik kapal dianalisis secara numerik berdasarkan data pada tabel offset gambar dengan menggunakan perhitungan naval achitecture (Fyson, 1985) .

(37)

Berdasarkan nilai parameter hidrostatis yang diperoleh dari hasil analisis akan dituangkan dalam bentuk kurva hidrostatis.

3.5 Analisis Data

Analisis data yang digunakandalampenelitianiniadalahsebagaiberikut:

3.5.1 Ratio ukuranutamakapal (principal dimension)

Rasio ukuran utama yang dianalisis adalah LOA/BOA, LOA/D, BOA/d dan D/d.Berdasarkan rasio kapal sampel kemudian akan dibandingkan dengan nilai rasio standar kapal pancing tuna (pancing ulur).

3.5.2 Kapasitaskapal

Estimasibesarnyakapasitaskapal (GT), Nomura dan Yamazaki (1975) :

Dimana a = volume ruang di atasdek (m3) b = volume ruangan di bawahdek (m3)

Dimana : p = panjangruangan di atasdek (m) l = lebarruangan di atasdek (m) t = tinggiruangan di atasdek (m)

Dimana :

p =

panjangdekkapalyaitujarakmendatarsepanjangdekdarihalua nhinggaburitan.

l =

lebarkapalbagiandalamyaitujarakmendatarantarakeduasisid alamkulitlambungpadabagiankapal yang lebar (m)

Cb = nilaikoefisienbalok D = depth

GT =(a+b) x 0,353

a = p x l x t

b = p x l x D x Cb

(38)

3.5.3 Parameter Hidrostatis

Untukmengetahui parameter hidrostatikkapal, data hasilpengukurandianalisisdenganmenggunakanperhitungan-perhitungannaval architectur. Formula yang digunakanuntukperhitunganadalah (Fyson, 1985):

a. Luasgaris air (Aw) dengan formula Simpson I:

Dimana h = tinggitiapordinat Y = jarakantaratiapordinat

b. Volume Displacementdengan formula Simpson I :

c. Ton Displacement :

Dimana δ adalahdensitas air laut(1,025 ton/m 3) d. Koefisienblok (Cb)

Dimana L =panjangkapalkeseluruhan (m) B = lebarkapalkeseluruhan (m)

d =draftkapal (m) e. KoefisienMidship (Cm)

Dimana A⊗ = luaspenampanggadingbesar (m3) Bwl =lebargaris air (m)

Aw = h / 3 (Y0 + 4 Y1 + 2Y2 + ….4Yn + Yn + 1)

∇ = h / 3 (A0 + 4A1 + 2A2 + 4An + An+1)

∆ = ∇ x σ

Cb = ∇

(L x B x d)

Cm = A⊗

(Bwl x d)

(39)

d = draft (m)

f. Koefisienprismatikmemanjang (Cp)

Dimana= Volume displacement (m3) A⊗ =Luaspenampanggadingbesar (m2) Lwl =Panjanggaris air (m)

g. Koefisienprismatik vertical (Cvp)

Dimana = Volume displacement (m3) A⊗ =luaspenampanggadingbesar (m2) d = draft (m)

h. Koefisiengaris air (Cw)

Dimana :

Aw = water plan

L = panjangkapalkeseluruhan B = lebarkapalkeseluruhan

i. Ton per Centimeter Immersion (TPC)

Dimana : Aw = water plane j. Jaraktitikapung (KB)

Dimana : = Volume Displacement Aw = water plan

Cp = ∇

(A⊗ x Lwl) = 𝐶𝑏 𝐶𝑚

Cvp = ∇

(A⊗ x d)

Cw = 𝐴𝑤 B x L

TPC =𝐴𝑤

100 1,025

KB =1

3 x (2,5 d − ∇ 𝐴𝑤)

(40)

k. JarakTitikApung (KB) – Metacenter (BM)

Dimana :𝐼 = Moment Inertia

= Volume Displacement l. JarakMetacenter (KM)

Dimana : KB = jaraktitikapung BM = metacenter

m. JarakTitikApung – Metacenter Longitudinal (BML)

Dimana :𝐼L =Inertial Longitudinal =Volume Displacement

n. JarakMetacenter Longitudinaldiperolehdengan (KML)

Dimana : KB = jaraktitikapung

BML = metacenter longitudinal 3.5.4 Analisis terhadap material kapal

Dilakukan melalui perbandingan antara kriteria kelas kuat dan awet kayu dengan material yang digunakan untuk membangun kapal. Kriteria kelas kuat dan awet kayu dapat di lihat di Tabel 4 dan 5.

BM =𝐼

KM = KB + BM

BML =𝐼𝐿

KML = KB + BML

(41)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi unit penangkapan 4.1.1 Kapal pancing ulur

Kapal pancing ulur atau masyarakat menyebutnya kapal penangkap tuna di kabupaten Sinjai berjumlah ratusan unit. Terdapat waktu-waktu tertentu kapan kapal melaut dan kapan waktu kapal dock. Waktu ini disesuaikan denga musim tangkap tuna di wilayah perairan yang menjadi daerah penangkapan. Kapal akan mulai menumpuk di wilayah pesisir untuk dock pada bulan tiga dan empat setelah itu akan kembali melaut.

Kapal-kapal yang digunakan oleh nelayan penangkap tuna di Kabupaten Sinjai 90% lebih berasal dari daerah Panajang, Kalimantan Timur. Walaupun pembuatan kapal dilakukan di Pulau Kalimantan, terdapat beberapa orang yang melakukan pemembuatan kapal tetapi bahan baku tetap didatangkan dari Kalimantan.

4.1.2 Alat tangkap

Pada kapal yang diteliti menggunakan satu jenis alat tangkap yaitu pancing ulur (hand line) yang disebut masyarakat setempat alat tangkap tomba’.

Spesifikasi alat tangkap meliputi pelampung yang terbuat dari jerigen 10 liter, tali pancing (Nylon monofilament no. 50-150) sebagai tali utama sebanyak 15 gulungan untuk 15 unit alat tangkap (satu gulungan = 100 depa = ±170 m), mata pancing nomor 5-8, kili-kili, pemberat dan umpan hidup.

Alat tangkap ini menggunakan alat bantu rumpon yang sudah dipasang di daerah-daerah tertentu di wilayah perairan laut flores. Selain rumpon, nelayan juga sering menggunakan layang-layang sebagai alat bantu penangkapan.

(42)

4.1.3 Metode pengoperasian

Operasi penangkapan dimulai dengan menentukan daerah atau lokasi pemancingan (fishing ground). Fishing ground beradadi sekitar rumpon, karena jenis-jenis ikan baik yang berukuran kecil maupun besar pada saat-saat tertentu berkumpul disekitar rumpon untuk berlindung dan mencari makan. Sehingga menghemat waktu dan memudahkan nelayan pancing ulur untuk menemui gerombolan ikan dan menangkap. Dengan demikian maka penangkapan dapat dilakukan secara efektif dan efisien serta menghemat biaya operasi penangkapan.

Setelah sampai pada daerah fishing ground kemudian mata pancing dikaitkan ikan sebagai umpan hidup dibagian sirip atasnya. Mata pancing yang digunakan nomor 5-8 dengan disesuaikan dengan ukuran ikan target tangkapan.

Setelah itu umpan diturunkan ke dalam air beserta pelampung, tali pancing diulur hingga kedalaman 30-200 meter dan sisanya masih tergulung di pelampung.

Apabila ikan target memakan ikan umpan, pelampung tanda akan terputar dengan keras yang memberi signal pada nelayan untuk melakukan hauling.Selanjutnya tali ditarik dengan teknik penarikan sedemikian rupa sehingga tidak melukai tangan. Tali nylon diusahakan tidak mengendur agar ikan yang telah memakan pancing tidak lepas kembali .

Proses penangkapan dalam satu kali trip membutuhkan waktu minimal enam hari dan maksimal 15 hari. Kapal – kapal akan kembali ketika peti penyimpanan hasil tangkapan sudah penuh atau dirasa sudah cukup.

Hasil tangkapan pada alat tangkap ini adalah Ikan tuna, tongkol dan cakalang.

(43)

4.2 Spesifikasi kapal

4.2.1 Ukuran utama kapal (Principal Dimension) Kapal yang diteliti

Data ukuran utama kapal yang diukur pada lokasi penelititan memiliki nilai yang bervariasi seperti yang dapat dilihat pada Tabel8.

Tabel8 . Spesifikasi Kapal Pancing Tuna yang Diteliti

Kapal Sampel L (m) B (m) D (m) d (m) GT Kapal Halilintar 03

(Sampel 1) 16,1 3 1,5 0,76 8.48

Kapal Resky Amanda 01

(Sampel 2) 16,68 3,5 1,5 0,8 9.51

Kapal Setia Jaya 03

(Sampel 3) 16,2 3,1 1,4 0,75 10.29

Dari data utama kapal dapat ditentukan rasio perbandingan ukuran utama kapal pancing tuna yang diteliti. Rasio perbandingan ukuran utama kapal pancing tuna / pancing ulur yang diteliti dapat dilihat pada Tabel9.

Tabel 9. Nilai rasio perbandingan ukuran utama kapal pancing tuna /pancing ulur

Kapal Sampel L/B (m) L/D (m) B/D (m)

Kapal Halilintar 03

(Sampel 1) 5,37 10,73 2

Kapal Resky Amanda 01

(Sampel 2) 4,77 11,12 2,33

Kapal Setia Jaya 03

(Sampel 3) 5,23 11,57 2,21

Ayodhyoa (1972) 4,65 – 4,80 9,90 - ,10,00 2,05 – 2,10

Nilai rasio ukuran utama kapal pancing ulur yang ditelit yaitu untuk L/B berkisar antara 4,77-5,37 ; L/D berkisar antara 10,73-11,57 ; B/D berkisar antara 2-2,33. Menurut Ayodhyoa (1972), rasio ukuran utama kapal ideal untuk jenis kapal Pancing yang diklasifikasikan masuk dalam jenis Mackerel Fishing Boat yaitu memiliki nilai rasio L/B berkisar 4,65 – 4,80; L/D berkisar 9,90 - ,10,00 dan ; B/D berkisar 2,05 – 2,10.

(44)

Pada kapal pancing ulur yang diteliti menunjukkan bahwa nilai L/B yang sesuai dengan pernyataan Ayodhyoa (1927) hanya dipenuhi oleh satu kapal sampel yaitu kapal sampel 2. Sedangkan kedua kapal sampel yaitu kapal sampel 1 dan 3 mempunyai nilai rasio yang lebih besar dari nilai standar.

Maka sesuai pernyataan (Ayodhyoa, 1972) bahwa jika L/B mengecil maka akan berpengaruh buruk pada kecepatan kapal sehingga jika nilai L/B membesar maka dapat menambah kecepatan kapal. Untuk penyesuaian terhadap rasio standar, perlu dilakukan pengurangan nilai L atau penambahan nilai B dengan tetap memperhatikan nilai L untuk memberikan stabilitas yang baik pada kapal.

Hal ini sesuai pernyataan Ayodhyoa (1972), yaitu nilai B erat hubungannya dengan stability dan propulsive ability, jika nilai B diperbesar, maka kita peroleh hal-hal positif antara lain initial abality akan membesar atau dengan kata lain nilai metacentre height membesar dan nilai period of oscillation mengecil.

Untuk rasio L/D, dari ketiga kapal sampel yang diteliti tidak ada yang sesuai pernyataan (Ayodhyoa ,1972). Hanya kapal sampel 1 yang mendekati rasio standar yang disarankan. Ketiga kapal sampel memiliki nilai rasio L/D lebih besar dari yang disarankan yaitu 9,90 - 10,00. Menurut (Ayodhyoa, 1972) bahwa jika nilai L/D membesar maka kekuatan memanjang kapal akan melemah. Nilai L/D membesar disebabkan nilai depth (D) ketiga kapal lebih rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan penambahan depth (D) pada kapal dengan tetap memperhatikan nilai L untuk penyesuaian terhadap nilai standar rasio L/D agar kapal memiliki kekuatan memanjang (longitudinal strenght) yang baik. Seperti yang dikatakan (Ayodhyoa, 1972) bahwa, jika nilai depth (D) diperbesar maka diperoleh hal-hal positif antara lainkekuatan memanjang (longitudinal strenght) akan membaik sehingga kapal akan lebih kuat terhadap gerakan bending (lengkung) yang berarah keatas kebawah.

(45)

Nilai ratio B/D dari ketiga kapal sampel yang diteliti, hanya kapal sampel 1 yang memenuhi standar rasio yang disarankan Ayodhyoa (1972). Sedangkan kapal sampel 2 dan kapal sampel 3 lebih besar dari yang disarankan (Ayodhyoa,1972) dimana nilai B/D lebih besar dari yang disarankan. Hal ini terjadi dikarenakan nilai depth (D) terlalu rendah sehingga tidak sesuai dengan lebar kapal. Pada kapal sampel yang diteliti stabilitasya akan naik namun kekuatan memanjang (longitudinal strenght) kapal akan melemah, dimana hal ini sesuai dengan pernyataan (Ayodhyoa, 1972) bahwa jika nilai B/D membesar maka stabilitas akan membaik namun kekuatan memanjang (longitudinal strenght) akan memburuk. Untuk penyesuaian terhadap nilai standar rasio B/D maka perlu dilakukan penambahan nilai depth (D) dengan penyesuaian terhadap nilai B untuk mendapatkan kekuatan memanjang (longitudinal strenght) kapal yang baik dengan stabilitas yang baik. Sesuai dengan pernyataan (Ayodhyoa, 1972) bahwa jika nilai depth (D) diperbesar maka akan diperoleh hal-hal positif antara lain kekuatan memanjang (longitudinal strenght) akan membaik sehingga kapal akan lebih kuat terhadap gerakan bending (lengkung) yangberarah keatas kebawah.

4.2.2 Kapasitas kapal (tonnage)

Nilai GT kapal sampel yang diteliti yaitu berkisar antara 8,48– 10,29 ton.

Dari ketiga kapal sampel yang diteliti, kapal sampel 3 mempunyai nilai GT terbesar dari kapal lainnya yaitu sebesar 10,29 ton. Kapal sampel 1 sebesar 8,48 ton dan ; kapal sampel 2 sebesar 9,51. Nilai GT kapal sampel yang diteliti berdasarkan ukuran utama kapal dapat dilihat pada Tabel10.

Tabel10 . Perbandingan panjang (L) dan GT

Kapal Sampel L (m) GT

Pembanding (Ayodhyoa,1972) Panjang (L) GT Kapal Halilintar 03 (Sampel 1) 16,1 8.48 L < 20 Meter 5 - 50 GT

(46)

Kapal Resky Amanda 01 (Sampel 2) 16,68 9.51 L < 20 Meter 5 - 50 GT Kapal Setia Jaya 03 (Sampel 3) 16,2 10.29 L < 20 Meter 5 - 50 GT

Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa ketiga kapal sampel yang diteliti memiliki nilai GT telah memenuhi nilai standar yang ada. Hal ini sesuai dengan nilai standar yang disarankan oleh (Ayodhyoa,1972) yaitu kapal yang memiliki nilai L (panjang) kurang dari 20 meter nilainya berkisar antara 5-50 GT.

4.2.3 Material kapal

Dari hasil wawancara dengan nelayan, menunjukkan bahwa kapal-kapal sampel yang diteliti merupakan kapal yang terbuat dari bahan kayu ulin (Eusydiroxylon sawageni), kayu bitti/Gofasa (Vitex coppassus) dan kayu jati (Tectona grandis).

Pada kapal pancing tuna di Kabupaten Sinjai yang digunakan sebagai lunas, sheer, lambung kapal serta papan/lantai dasar kapal adalah jenis kayu ulin (Eusydiroxylon sawageni). Sedangkan dek dan bangunan kapal menggunakan jenis kayu jati (Tectona grandis). Sementara untuk gading kapal menggunakan jenis kayu bitti/Gofasa (Vitex coppassus).

Pada kapal sampel yang diteliti terbuat dari material kayu dengan kombinasi beberapa jenis kayu pada masing-masing bagian kapal. Kapal sampel yang diteliti rata-rata memiliki kapasitas dibawah 70 ton sehingga pembuatannya menggunakan material kayu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ayodhyoa (1972), yakni kapal-kapal ikan yang lebih besar dari 70-80 ton akan menggunakan steel atau meterial besi sedangkan yang lebih kecil dari 70 ton menggunakan material kayu.

Dari ketiga jenis kayu yang digunakan jenis kayu jati (Tectona grandis) dan jenis kayu ulin (Eusydiroxylon sawageni) yang umum digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kapal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pasaribu dkk

(47)

(1984) bahwa jenis kayu yang dipilih untuk pembuatan kapal pada umumnya terbatas pada berbagai jenis kayu yang sudah dikenal dalam praktik dan telah terbukti ketahanannya untuk perkapalan. Jenis kayu diantaranya adalah kayu jati (Tectona grandis), kayu ulin (Eusydiroxylon sawageni) dan kayu merbau (Instia spp).

Kesesuaian penggunaan kayu sebagai material pembuatan bagian- bagian kapal dapat kita lihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Kesesuaian penggunaan jenis kayu sebagai material pembuatan bagian-bagian kapal pancing tuna yang diteliti

Jenis Kayu

Penggunaannya

Kapal Sampel yang diteliti Pasaribu dkk, (1984) Kayu ulin (Eusydiroxylon

sawageni)

Lunas, sheer, lambung kapal serta papan/lantai dasar kapal

Dek, lunas dan gading Kayu bitti/Gofasa (Vitex

coppassus) Gading kapal Gading

Kayu jati (Tectona grandis) Dek dan bangunan kapal Seluruh bagian kapal

Penggunaan kayu ulin (Eusydiroxylon sawageni) sebagai material utama pembuatan kapal tidak lepas dari keadaan kayu yang sering terendam atau bersentuhan dengan air (lunas, lambung dan papan dasar kapal). Kayu ulin (Eusydiroxylon sawageni) sengaja dipilih karena termasuk jenis kayu yang awet, kuat dan tahan air. Hal ini agar bagian kapal yang sering terendam/bersentuhan dengan air memiliki ketahanan yang lebih.

Penggunaan jenis kayu ulin (Eusydiroxylon sawageni) sebagai material pembuatan lunas sudah sesuai dengan penggunaanya. Hal ini sesuai dengan jenis, sifat dan kegunaan beberapa kayu industri perikanan yaitu kayu ulin (Eusydiroxylon sawageni) tergolong KA I, KK I BJ 1,04, sangat keras dan agak sukar dikerjakan serta kegunaanya yaitu sebagai material pembuatan dek, lunas dan gading (Pasaribu dkk, 1984)

(48)

Pada dek dan bangunan kapal menggunakan jenis kayu jati (Tectona grandis). Hal ini karena kayu jati berada dibagian atas yang tidak terkena langsung dengan air dan perose pengerjaan kayu ini tidak begitu rumit. Ini sesuai pernyataan (Nurdin, 2010), bahwa pada bagian dek dan bangunan kapal tidak terlalu sering bersentuhan/terendam dengan air sehingga cukup menggunakan jenis kayu jati (Tectona grandis).

Penggunaan kayu jati (Tectona grandis) sebagai material pembuatan dek dan bangunan kapal sudah sesuai dengan penggunaannya dimana kayu jati (Tectona grandis) dapat digunakan sebagai material pembuatan seluruh bagian kapal. Hal ini sesuai dengan jenis sifat dan kegunaan beberapa kayu untuk industri perikanan yaitu kayu jati (Tectona grandis) tergolong KA II, KK II, BJ 0.67, agak keras dan mudah dikerjakan serta kegunaanya yaitu dapat digunakan sebagai material pembuatan seluruh bagian kapal (Pasaribu dkk, 1984)

Pada gading digunakan jenis kayu bitti/gavosa (Vitex coppassus) selain kuat juga mudah untuk dikerjakan. Pembuatan gading yang cukup rumit dan harus dibentuk sedemikian rupa sesuai bentuk lambung kapal memerlukan jenis kayu yang kuat dan mudah dikerjakan maka penggunaan kayu bitti (Vitex coppassus) sangat tepat dalam pembuatan gading.

4.3 Rancangan Umum (General Arrangement)

Rancangan umum (general arrangement) adalah gambar teknik yang menyajikan secara umum kelengkapan ruang kapal yang dapat dilihat dari atas dan samping atau dengan kata lain didefinisikan sebagai perancangan di dalam penentuan atau penandaan dari semua ruangan yang dibutuhkan, ruangan yang dimaksud seperti ruang muat, ruang kamar mesin dan akomodasi, dalam hal ini disebut superstructure (bangunan atas). Disamping itu juga direncanakan penempatan peralatan-peralatan dan letak jalan-jalan dan beberapa sistem dan perlengkapan lainnya.

(49)

. Rancangan umum (general arrangement) kapal pancing tuna dibuat dengan pertimbangan efektifitas proses penangkapan, tujuan penangkapan dan penyimpanan hasil tangkapan. Rancangan umum (general arrangement) kapal penangkap tuna di Kabupaten Sinjai secara umum terdiri dari bangunan atas kapal, palka-palka/peti hasil tangkapan dan bangunan di bawah dek. Bangunan di atas kapal terdiri dari ruang kemudi, palka/peti hasil tangkapan dan ruang akomodasi. Palka/peti yang terdapat pada kapal berada di tengah kapal yang berjumlah tiga buah sedangkan bangunan di bawah dek terdiri dari kamar mesin dan bahan bakar. Rancangan umum kapal pancing tuna / pancing ulur yang di teliti dapat dilihatpada Gambar 2,3 dan 4.

Dapat dilihat pada gambar rancangan umum (general arrangement) kapal sampel, dibagian tengah kapal terdapat tiga buah peti penyimpanan hasil tangkapan. Peti penyimpanan hasil tangkapan ini sebagian dimasukkan kedalam dek dan sebagian berada di atas dek.

(50)

Gambar 2. Rancangan Umum Kapal Sampel 1 (Halilintar 03)

(51)

Gambar 3. Rancangan Umum Kapal Sampel 2 (Resky Amanda 01)

Referensi

Dokumen terkait

Pidana Penjara yang dijatuhkan kepada anak dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, paling lama ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.ketentuan

Ternyata setelah dikurangi revenue hasil pengiriman kendaraan, Nias Selatan memperoleh biaya paling tinggi pada satu bulan durasi bencana, karena saat bencana

‘ikatan’ yang menghubungkan satu titik ke titik lain dalam jaringan adalah hubungan sosial.. Berpijak pada jenis ikatan ini, maka secara langsung atau tidak

1. Pajak daerah, yaitu iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan

Berdasarkan teori di atas dapat diambil asumsi bahwa dengan mengikuti pengajian orang akan bertemu langsung dengan orang lain serta memperhatikan tingkah laku antara

Saluran tataniaga satu merupakan saluran tataniaga yang terdiri dari petani, pedagang pengecer dan konsumen. Jenis saluran tataniaga ini dilakukan oleh 13 orang

Sedangkan untuk perwadahan komunal yaitu dengan menggunakan gerobak sampah yang diopersikan secara manual dari rumah ke rumah dengan operator rata-rata satu orang

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) Faktor yang menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah adalah kurang telitinya pihak manajemen dalam menganalisis,