71 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian Research and Development (R&D).
Menurut Sugiyono (2016: 407), Research and Development (R&D) merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2009: 164), Research and Development (R&D) merupakan suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian menurut Nusa Putra (2015: 67), Research and Development (R&D) merupakan metode penelitian secara sengaja,
sistematis, untuk menemukan, memerbaiki, mengembangkan, menghasilkan, maupun menguji keefektifan produk, model, maupun metode/ strategi/ cara yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka Research and Development (R&D) merupakan metode penelitan yang dilakukan secara
sengaja dan sistematis untuk menyempurnakan produk yang telah ada maupun mengembangkan suatu produk baru melalui pengujian, sehingga produk tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
72 B. Model Pengembangan
Model yang digunakan dalam pengembangan LKPD IPA berbasis guided inquiry ini adalah model 4-D. Menurut Sivasailam Thiagarajan dkk.
(1974: 5), model pengembangan 4-D terdiri dari empat tahap, yaitu define, design, develop, dan disseminate.
Gambar 16. Tahap Pengembangan Model 4-D Sumber: Sivasailam Thiagarajan pdf
Model 4-D tersebut diadaptasi oleh Trianto (2010: 93) menjadi model 4-P (Pendefinisian, Perancangan, Pegembangan, dan Penyebaran). Menurut Sivasailam Thiagarajan dkk. (1974: 6-9), tahap define terdiri dari analisis depan (front analysis), analisis tugas (task analysis), analisis konsep (concept analysis), dan spesifkasi objek (specification of object). Tahap design terdiri
dari penyusunan tes (test construction), pemilihan media (media selection), pemilihan format (format selection), dan desain awal (initial design). Tahap develop terdiri atas penilaian ahli (expert appraisal) dan uji pengembangan (developmental testing). Tahap disseminate terdiri dari uji validasi (validation
73 Spesifikasi Tujuan
Penyusunan Tes
Pemilihan Media
Pemilihan Format
Desain Awal (Draf I) LKPD
Analisis Siswa Analisis Konsep Analisis Tugas
DEFINE DISSEMINATEDESIGNDEVELOP
Gambar 17. Bagan Pengembangan 4-D (diadaptasi dari Trianto, 2010: 94)
Analisis Awal
revisi Validasi Ahli
Draf II
revisi Uji Produk
Produk Final
Penyebaran
testing), pengemasan (packaging), dan pengebaran (diffusion). Dengan demikian, maka dapat dibuat bagan pengembangan pengembangan LKPD model 4-D sebagai berikut:
74 1. Tahap Pendefinisian (Define)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat- syarat pembelajaran. Untuk menentukan syarat pembelajaran, terlebih dahulu dilakukan analisis tujuan dan batasan materi, yang terdiri dari lima langkah pokok, yaitu:
a. Analisis Awal
Bertujuan untuk menentukan permasalahan yang hendak ditanggulangi, sehingga dibutuhkan pengembangan bahan pembelajaran. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam analisis awal adalah teori belajar, tantangan, dan tuntutan masa depan. Pada tahap ini peneliti menyadari bahwa idealnya pembelajaran dilakukan secara student centered. Siswa hendaknya secara aktif melakukan kegiatan untuk membentuk pengetahuan, sehingga mendukung untuk dilakukan pembelajaran inquiry. Tantangan dan tuntutan masa depan adalah kecakapan/
keterampilan. Apabila pembelajaran dilakukan dengan pendekatan inquiry, maka keterampilan proses dan sikap sains peserta didik akan
meningkat, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan kompetensi setiap peserta didik dalam memenuhi tuntutan masa depan.
Berkenaan dengan belum adanya bahan ajar berupa LKPD berbasis inquiry, maka pengembangannya sangat diperlukan.
b. Analisis Peserta Didik
Analisis peserta didik merupakan kajian mengenai karakteristik peserta didik berkenaan dengan rancangan bahan ajar berupa LKPD yang akan
75
dikembangkan. Analisis ini meliputi keterampilan proses sains (observasi, mengukur, prediksi, hipotesis, dan mengkomunikasi) dan sikap ilmiah (sikap ingin tahu, respek terhadap fakta, berpikir kritis, berpikiran terbuka, dan kerja sama).
c. Analisis Tugas
Digunakan untuk menentukan isi/ materi pembelajaran. Sehingga dalam pengembangan LKPD didasarkan pada Kompetensi Dasar yang telah ditetapkan.
d. Analisis Konsep
Dilakukan untuk mengidentifikasi konsep-konsep pokok yang akan diajarkan berdasarkan materi melalui pengembangan LKPD. Selain mengidentifikasi, konsep-konsep tersebut juga dikaitkan melalui peta konsep pembelajaran.
e. Spesifikasi Tujuan
Dilakukan untuk membatasi penelitian supaya tidak menyimpang dan sesuai dengan kebutuhan (sesuai materi yang akan diajarkan). Dengan demikian spesifikasi tujuan ini dapat digunakan sebagai dasar dalam menyususn LKPD IPA yang akan dikembangkan, termasuk dalam penyusunan tes.
76 2. Tahap Perancangan (Design)
Dilakukan untuk menghasilkan prototipe LKPD yang akan digunakan dalam mengatasi permasalahan yang ada. Tahap perancangan terdiri dari empat langkah, yaitu:
a. Penyusunan Tes/ Instrumen Panilaian
Merupakan langkah awal penghubung tahap define dan design.
Penyusunan tes dilakukan berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat untuk melakukan penilaian pada keterampilan proses dan sikap sains.
Untuk mengetahui penguasaan keterampilan proses sains digunakan lembar observasi dan tes tulis. Untuk mengetahui penguasaan sikap ilmiah digunakan lembar observasi dan kuisioner.
b. Pemilihan Media
Media yang digunakan dalam pengembangan ini disesuaikan dengan karakteristik materi yang akan dibelajarkan. Karena tema materi yang akan dibelajarkan adalah “Transpor Nutrisi dan Fotosintesis”, maka media yang digunakan salah satunya berupa tumbuhan (real objek).
c. Pemilihan Format
Format yang digunakan pada penelitian pengembangan ini disesuaikan dengan komponen kelayakan bahan ajar LKPD IPA Guided Inquiry.
Sehingga dalam penyusunannya dilakukan dengan memerhatikan komponen kelayakan isi, komponen kelayakan konstruksi, komponen kelayakan teknis, dan komponen penyusun LKPD.
77 d. Desain/ Rancangan Awal
Merupakan rancangan awal LKPD IPA Guided Inquiry yang telah disusun sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah peserta didik.
3. Tahap Pengembangan (Develop)
Pada tahap pengembangan ini, dilakukan validasi ahli terhadap rancangan awal LKPD, untuk kemudian direvisi, sehingga menjadi LKPD yang layak diujicobakan. Tahap pengembangan terdiri dari dua langkah, yaitu:
a. Validasi Ahli
Tahap validasi ahli dilakukan oleh dosen ahli. Validasi ahli bertujuan untuk mengetahui kelayakan LKPD IPA yang dikembangkan terkait dengan isi, konstruksi, teknis, dan komponen penyusunnya.
b. Uji Coba Pengembangan
Uji coba pengembangan dilakukan setelah LKPD direvisi berdasarkan saran dan masukan dari guru IPA dan dosen ahli. Dalam penelitian ini, uji coba dilakukan pada peserta didik kelas VIII C SMPN 1 Mlati.
Setelah uji coba pengembangan, bagian yang tidak sesuai atau belum valid direvisi sehingga menjadi produk akhir LKPD.
4. Tahap Penyebaran (Disseminate)
Tahap ini merupakan tahap di mana penggunaan produk dilakukan pada skala yang lebih luas. Pada penelitian ini tahap penyebaran hanya dilakukan secara terbatas.
78 C. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian pada penelitian pengembangan ini adalah peserta didik kelas VIII C SMPN 1 Mlati.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian pada penelitian pengembangan ini adalah LKPD IPA berbasis Guided Inquiry dengan tema “Transpor Nutrisi dan Fotosintesis”.
D. Tempat dan Waktu Uji Coba Produk
Penelitian dilakukan di SMPN 1 Mlati pada semester genap tahun pelajaran 2016/ 2017 sesuai dengan jadwal materi tersebut akan diajarkan (Februari 2017).
E. Jenis Data
Jenis data yang akan diperoleh dari pengembangan ini adalah:
1. Data kualitatif dari tinjauan dan masukan guru IPA, dosen pembimbing, dan dosen ahli.
2. Data kuantitatif berupa keterampilan proses sains peserta didik sebelum dan setelah menggunakan LKPD melalui tes dan lembar observasi.
3. Data kuantitatif berupa sikap ilmiah sebelum dan setelah menggunakan LKPD melalui angket dan lembar observasi.
79 F. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Lembar Penilaian Produk (LKPD)
Lembar penilaian ini ditujukan kepada guru IPA dan dosen ahli supaya memberikan penilaian untuk mengetahui kualitas LKS hasil pengembangan. Hasil penilaian ini dijadikan dasar untuk memerbaiki produk sebelum diujicobakan. Penyusunan lembar penilaian ini didasarkan pada kisi-kisi instrumen penilaian LKPD Guided Inquiry yang dapat dilihat pada lampiran 2.1.
2. Lembar Observasi
Lembar ini digunakan untuk melihat keterampilan proses sains dan sikap ilmiah selama pembelajaran menggunakan LKPD. Lembar observasi ini diisi oleh observer dengan cara memberikan skor pada setiap aspek sesuai dengan jumlah indikator yang muncul. Lembar observasi keterampilan proses sains disusun berdasarkan kisi-kisi yang dapat dilihat pada lampiran 2.2., sedangkan lembar observasi sikap ilmiah disusun berdasarkan kisi-kisi seperti pada lampiran 2.4.
3. Lembar Angket/ Kuisioner
Lembar angket/ kuisioner yang berisi pernyataan positif maupun negatif ini diisi oleh peserta didik dengan memberikan tanda check list pada kolom yang sesuai dengan jawaban mereka. Adapun jawaban yang ada disusun dengan menggunakan skala likert (SS untuk jawaban Sangat Setuju, S untuk jawaban Setuju, R untuk jawaban Ragu-Ragu, TS untuk
80
jawaban Tidak Setuju, dan STS untuk jawaban Sangat Tidak Setuju).
Adapun kisi-kisi angket dapat dilihat pada lampiran 2.3.
4. Lembar Tes Keterampilan Proses Sains
Lembar ini digunakan untuk melihat keterampilan proses sains yang diwujudkan melalui soal tes tulis berupa pilihan ganda berkaitan dengan materi “Transpor Nutrisi dan Fotosintesis” pada tumbuhan. Adapun kisi- kisi tes keterampilan proses sains dapat dilihat pada lampiran 2.6.
G. Teknik Analisis Data
1. Analisis Kelayakan LKPD
a. Analisis Reliabilitas Instrumen Validasi
Untuk melakukan analisis realibilitas instrumen validasi, harus terlebih dahulu dilakukan tabulasi data setiap aspek maupun indikator penilaian LKPD dari setiap penilai. Menurut Borich (1994: 385) dalam Ade Eman Sulaeman (2012: 38-39), realibilitas dapat dianalisis menggunakan rumus Emmer dan Millet sebagai berikut:
R = (1 – A−B
A+B ) x 100%
Keterangan:
R = precentage of agreement
A = frekuensi tinggi (dalam hal ini merupakan skor yang lebih tinggi) B = frekuensi rendah (dalam hal ini merupakan skor yang lebih
rendah)
instrumen dikatakan baik apabila memiliki nilai percentage of agreement lebih besar atau sama dengan 75%.
81
b. Mengubah Skor Menjadi Nilai dan Kategori
Karena terdapat dua validator, maka sebelum mengubah skor menjadi nilai dan kategori, perlu dicari skor rata-rata setiap komponen penilaian dengan perumusan:
𝑥 = ΣX
𝑛
Keterangan:
𝑥 = rata-rata skor ΣX = jumlah skor 𝑛 = jumlah reviewer
Menurut Sukardjo (2009: 84), skor dapat diubah menjadi nilai dan kategori seperti pada tabel berikut:
Tabel 12. Konversi Skor Menjadi Nilai dan Kriteria
No. Rentang Skor Nilai Kriteria Kualitatif
1 X > (𝑥 + 1,80 SBi) A Sangat Baik
2 (𝑥 + 0,60 SBi) < X ≤ (𝑥 + 1,80 SBi) B Baik 3 (𝑥 - 0,60 SBi) < X ≤ (𝑥 + 0,60 SBi) C Cukup 4 (𝑥 - 1,80 SBi) < X ≤ (𝑥 – 0,60 SBi) D Kurang
5 X ≤ (𝑥 - 1,80 SBi) E Sangat Kurang
Keterangan:
X = rata-rata skor aktual
= ΣX
𝑛
𝑥 = rata-rata ideal
= 1
2 x (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) SBi = simpangan baku ideal
82
= 1
6 x (skor maksimal ideal – skor minimal ideal)
Untuk mencari skor maksimal dan skor minimal ideal digunakan perumusan sebagai berikut:
Skor maksimal ideal = Σ butir kriteria x skor tertinggi Skor minimal ideal = Σ butir kriteria x skor terendah
Berikut merupakan tabel konversi skor penilaian LKPD menjadi nilai dan kriteria:
Tabel 13. Konversi Skor Penilaian LKPD Menjadi Nilai dan Kriteria No. Rentang Skor Nilai Kriteria Kualitatif
1 X > 79,9 A Sangat Baik
2 64,6 < X ≤ 79,9 B Baik
3 49,4 < X ≤ 64,6 C Cukup
4 24,1 < X ≤ 49,4 D Kurang
5 X ≤ 24,1 E Sangat Kurang
2. Analisis Keterampilan Proses Sains (Science Process Skills)
Untuk mengubah skor (keterampilan proses sains) ke dalam nilai, menurut Suharsimi Arikunto (2006: 236), dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut:
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑥 100%
Untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains dilakukan dengan cara mencari gap/ gain skor. Menurut Lie Bao (2006: 917), gap- closing measure dapat dicari melalui analisis pretest dan posttest dengan
perumusan sebagai berikut:
G = 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 − 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 𝑚𝑎𝑥𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 −𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒
83
Dalam pendidikan fisika, gap-closing measure diasosiasikan sebagai normalized gain. Oleh Richard Hake, normalized gain dalam suatu
kelompok dirumuskan sebagai berikut:
<g> = 𝑋 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 − 𝑋 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 𝑋 𝑚𝑎𝑥𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 −𝑋 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒
Keterangan:
𝑋 posttest score = nilai rata-rata posttest 𝑋 pretest score = nilai rata-rata pretest 𝑋 maximum score = nilai maksimum rata-rata
Menurut Richard R. Hake (1999: 1), kriteria peningkatan hasil tes dapat dituliskan ke dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 14. Kriteria Peningkatan Tes
Nilai gain (<g>) Kriteria
<g> ≥ 0,7 Tinggi 0,3 ≤ <g> < 0,7 Sedang
<g> < 0,3 Rendah 3. Analisis Sikap Ilmiah (Scientific Attitude)
Penskoran sikap ilmiah berdasarkan angket dilakukan menggunakan skala likert. Sesuai dengan pendapat Sugiyono (2016: 134), skala likert dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang. Skala likert yang dipakai mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Pada penelitian ini, angket disusun menggunakan skala likert berskala 5. Berdasarkan Nana Syaodih Sukmadinata (2009: 240), pernyataan positif dan negatif pada skala likert memiliki skor yang berbeda seperti pada tabel berikut:
84
Tabel 15. Skor Pernyataan Positif dan Negatif
Pernyataan Jawaban
SS S R TS STS
Positif 5 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4 5
Untuk menghitung sikap rata-rata dalam kelompok, jumlah setiap jawaban pada ceklist dikalikan dengan skor masing-masing. Misalnya dari 36 siswa 17 siswa memilih SS, maka 17 dikalikan dengan 5. Begitu pula jumlah siswa yang memilih S, R, TS, maupun STS dikalikan dengan skor masing-masing, kemudian skor perolehan dari semua jawaban dijumlahkan. Penjumlahan skor perolehan lalu dibandingkan dengan skor perolehan maksimal dari semua item. Apabila ada 10 item pertanyaan, maka skor maksimal semua item adalah 50 karena point tertinggi pada setiap jawaban adalah 5.
Pengubahan skor sikap ilmiah (berdasarkan hasil observasi maupun hasil pengisian angket) menjadi nilai dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut:
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑥 100%
Kemudian, sama seperti peningkatan keterampilan proses sains, kriteria peningkatan sikap ilmiah dicari menggunakan gain skor dengan rumus perhitungan sebagai berikut:
<g> = 𝑋 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 − 𝑋 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 𝑋 𝑚𝑎𝑥𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 −𝑋 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒