• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

23 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Pengumpulan Sampel

Hasil dari pengumpulan sampel didapatkan 6 sampel yang memenuhi kriteria dengan kode sampel A, B, C, D, E, dan F dengan kriteria inklusi krim pemutih TIE tidak bermerk dan tidak mencantumkan nomor registrasi BPOM yang dijual di toko kosmetik rumahan di wilayah Kecamatan Prambanan, sedangkan untuk kriteria eksklusinya adalah krim pemutih yang bermerk dan memiliki nomor registrasi BPOM.

2. Uji Kualitatif dengan metode Kromatografi Lapis Tipis

Sebanyak 6 sampel yang diambil dari toko kosmetik rumahan dengan kode sampel A, B, C, D, E dan F. uji kualitatif dengan metode KLT. Hasil uji KLT yang diperoleh ditunjukkan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Identifikasi Kualitatif Asam Retinoat Sampel Lampu UV

254 nm

Lampu UV 366 nm

Harga Rf Ket.

Standar Asam Retinoat

Bercak kebiruan

Bercak biru 0,5

Sampel A Bercak

kebiruan

Bercak biru 0,50 (+)

Sampel B Bercak hitam - 0,43 (-)

Sampel C Bercak

kebiruan

Bercak biru 0,47 (+)

Sampel D Bercak hitam - 0,31 (-)

Sampel E Bercak hitam - 0,25 (-)

Sampel F Bercak

kebiruan

Bercak biru 0,47 (+)

(2)

Berdasarkan Tabel 4.1, menunjukkan bahwa sampel “A”, “C’, dan

“F” positif mengandung asam retinoat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bercak kebiruan pada plat KLT saat diberi sinar UV 254 nm dan 366 nm sama dengan standar asam retinoat. Nilai Rf yang didapat pada ketiga sampel tersebut sebesar 0,5 untuk sampel A dan 0,47 untuk sampel C dan F. Selanjutnya sampel dilakukan uji kuantitatif untuk menentukan kadar kadungan asam retinoat dengan metode spektrofotometri UV-Vis.

3. Uji Kuantitatif dengan metode Spektrofotometri UV – Vis a. Penentuan Panjang Gelombang

Uji kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis mula-mula dilakukan scanning panjang gelombang maksimum yang dilakukan pada rentang 300-400 nm.

Tabel 4.2 Panjang Gelombang Maksimum Panjang Gelombang (nm) Absorbansi

340 0,318

342 0,324

344 0,329

346 0,332

348 0,336

350 0,337

352 0,338

354 0,337

356 0,334

358 0,331

360 0,327

362 0,321

364 0,312

366 0,303

368 0,296

370 0,285

(3)

Berdasarkan Tabel 4.1 hasil scanning didapatkan panjang gelombang maksimum asam retinoat adalah 352 nm dengan nilai absorbansi sebesar 0,338.

b. Pembuatan Kurva Kalibrasi

Kurva kalibrasi asam retinoat mengukur absorbansi dari larutan standar asam retinoat dengan konsentrasi 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm pada panjang gelombang maksimum 352 nm.

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Kurva Kalibrasi Asam Retinoat

Konsentrasi (ppm) Absorbansi

1 0,201

2 0,307

3 0,437

4 0,547

5 0,677

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa semakin besar konsentrasi maka larutan standar akan memiliki nilai absorbansi yang semakin besar, kemudian dibuatkan kurva kalibrasi asam retinoat sebagai seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.1.

y = 0.1192x + 0.0762 R² = 0.9989

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8

0 1 2 3 4 5 6

Absorbansi

Konsentrasi (ppm)

Kurva Kalibrasi Asam Retinoat

(4)

Gambar 4.1 Kurva Kalibrasi Asam Retinoat

Pada kurva kalibrasi tersebut didapat persamaan regresi linier pada pengukuran absorbansi adalah y = 0,1192x + 0,0762 dengan nilai R2 = 0,998.

c. Penetapan Kadar Asam Retinoat pada Sampel

Penetapan kadar asam retinoat dilakukan pada sampel yang positif mengandung asam retinoat pada uji kualitatif sebelumnya.

Tabel 4.4 Penetapan Kadar pada Sampel

Sampel Penimbangan

(g) Absorbansi

Kadar Asam Retinoat

(%)

Rat-rata Kadar

(%)

A

3,000 0,302 0,631

0,632% ± 0,0045

3,000 0,304 0,637

3,000 0,301 0,628

C

3,000 0,383 0,857

0,859% ± 0,0017

3,000 0,384 0,860

3,000 0,384 0,860

F

3,000 0,296 0,614

0,612% ± 0,0017

3,000 0,295 0,611

3,000 0,295 0,611

Berdasarkan Tabel 4.4 diperoleh kadar asam retinoat dari sampel A sebesar 0,632% ± 0,0045, sampel C 0,859% ± 0,0017, dan sampel F sebesar 0,612% ± 0,0017. Masing – masing sampel diukur sebanyak tiga kali dengan tujuan agar mendapatkan hasil yang akurat.

B. Pembahasan

Sebanyak enam sampel yag diambil di toko kosmetik rumahan dengan kode “A”, “B”, “C”, “D”, “E” dan “F”. sampel tersebut diambil dari beberapa tempat di wilayah Kecamatan Prambanan, Klaten. Analisis

(5)

kualitatif dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis.

Metode Kromatogafi Lapis Tipis (KLT) digunakan untuk memisahkan campuran senyawa secara cepat dan sederhana, sedangkan metode Spektrofotometri UV-Vis digunakan untuk mengukur absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang (Day, 2002).

Pada metode KLT, sebelum digunakan lempeng KLT diaktifkan dahulu dengan cara dipanaskan di dalam oven dengan suhu 105 0C selama 30 menit untuk melepaskan molekul-molekul air yang ada di lempeng, sehingga proses elusi lempeng dapat menyerap dengan baik. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menotolkan sampel sebanyak 5 µL ke plat KLT kemudian dielusi dengan pengembang n-heksan : aseton (6:4). Sebelum dilakukan pengelusian, eluen dijenuhkan terlebih dahulu dengan tujuan untuk menyamaratakan tekanan uap dari fase gerak yang digunakan sehingga pemisahan dapat berjalan dengan baik (Kusmardiyani dan Nawawi, 1992).

Suatu senyawa yang mengandung asam retinoat akan mudah diamati. Dibawah penyinaran lampu UV 254 nm dan 366 nm akan berfluoresensi memberikan bercak kebiruan dan memiliki nilai Rf sebesar 0,5 (BPOM, 2011).

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa ada 3 sampel yang memberikan hasil positif jika diamati dibawah penyinaran lampu UV 254 dan 366 nm. Ini berarti sampel tersebut mengandung asam retinoat. Untuk

(6)

mengidentifkasi suatu senyawa dapat kita lakukan dengan melihat harga Rf – nya. Identifikasi benar dilakukan jika senyawa yang dianalisis dibandingkan dengan senyawa pembanding pada lapisan yang sama (Gritter dan James, 1991).

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa ada 3 sampel yang memberikan harga Rf yang berdekatan dengan harga Rf pembanding yaitu sampel “A”, “C” dan sampel “F”. Harga Rf pada pembanding adalah 0,5, Rf sampel “A” adalah 0,5, sampel “B” sebesar 0,43, sampel “C” sebesar 0,47, sampel “D” sebesar 0,31, sampel “E” sebesar 0,25 dan sampel “F”

sebesar 0,47. Dari keenam sampel tersebut hanya sampel “A”, “C” dan “F”

yang memiliki nilai Rf mendekati dengan nilai Rf sampel pembanding.

Akan tetapi untuk lebih memastikan keberadaan asam reinoat pada setiap sampel, maka dilanjutkan dengan analisis kuantitatif menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis. Nilai Rf sampel positif yang diperoleh hampir sama dengan nilai Rf dari penelitian yang telah dilakukan oleh Husni dkk (2015) dengan rata – rata Rf sebesar 0,47.

Berdasakan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa hasil scanning panjang gelombang maksimum asam retinoat menggunakan konsentrasi larutan 3 ppm memberikan absorbansi paling tinggi di daerah 352 nm yaitu sebesar 0,338. Hal ini sesuai dengan pernyataan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV (1995) bahwa asam retinoat akan memberikan serapan pada panjang gelombang 352 nm. Panjang gelombang maksimum yang didapat pada penelitian ini juga sama dengan panjang gelombang maksimum dari

(7)

penelitain yang telah dilakukan oleh Suhartini dkk. (2013) dan Husni dkk.

(2015). Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan untuk mengetahui pada panjang gelombang berapa menghasilkan nilai serapan paling maksimum pada sampel, sehingga pengukuran pun akurat.

Selanjutnya dilakukan pengukuran kurva kalibrasi asam retinoat.

Penentuan kurva kalibrasi pada asam retinoat dilakukan menggunakan 5 seri konsentrasi 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm di daerah panjang gelombang maksimum yang diperoleh yaitu 352 nm. Variasi konsentrasi digunakan untuk mengetahui perbedaan absorbansi, dimana semakin tinggi konsentrasi maka nilai absorbansi semakin tinggi pula. Berdasarkan Hukum Lambert-Beer, absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi dengan nilai koefisien korelasi yaitu 0,2 – 0,8 (Wardhani, 2019).

Berdasarkan Gambar 4.1 diperoleh persamaan garis Y = 0,1192x + 0,0762 dengan koefisien korelasi (R2) sebesar 0,9989. Menurut Harmita (2006) hasil pennetuan yang telah dilakukan dapat dinyatakan baik karena hampir mendekati 1. Menurut Rohman (2007) penentuan kadar sampel metode regresi linier yaitu metode parametrik dengan variabel bebas (konsentrasi sampel) dan variabel terikat (absorban sampel) menggunakan persamaan garis regresi linier. Konsentrasi sampel dapat dihitung dengan persamaan kurva kalibrasi asam retinoat tersebut.

Penetapan kadar sampel krim pemutih TIE “A”, “C” dan “F” yang positif mengandung asam retinoat dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis pada daerah panjang gelombang 352 nm.

(8)

Berdasarkan Tabel 4.4 diperoleh rata – rata nilai absorbansi pengujian sampel “A”, “C” dan “F” yaitu 0,302; 0,383 dan 0,295. Dari nilai absorbansi tersebut didapat nilai kadar asam retinoat dari masing – masing sampel berturut – turut sebesar 0,632% ± 0,0045; 0,859% ± 0,0017 dan 0,612% ± 0,0017.

Hasil penelitian didapat dari keenam sampel uji, yang positif mengandung asam retinoat adalah sampel “A”, “C” dan “F” dengan kadar sebesar 0,632% ± 0,0045; 0,859% ± 0,0017 dan 0,6112% ± 0,0017. Dengan demikian ketiga sampel tersebut sangat berbahaya untuk digunakan karena menurut BPOM RI (2008) melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

445/MENKES/PER/V/1998, asam retinoat termasuk bahan yang telah dilarang penggunaannya sejak tahun 1998. Asam retinoat juga merupakan obat keras yang hanya boleh dibeli dengan resep dokter (Badan POM, 2006). Penggunaan asam retinoat yang berlebih dapat menyebabkan berbagai dampal pada kesehatan seperti menjadikan kulit keing, kulit terbakar dan kecacatan janin pada ibu hamil (Ikawati, 2010).

Penggunaan asam retinoat dalam krim pemutih wajah bisa diganti menggunakan bahan – bahan aktif yang lebih aman seperti alpha arbutin, niacinamide, glycolicid, salicylic acid, kojic acid, dan masih banyak lagi bahan aktif yang aman digunakan untuk mencerahkan kulit dan tidak dilarang penggunaannya.

Gambar

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Kurva Kalibrasi Asam Retinoat

Referensi

Dokumen terkait

Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber

Larutan hasil ekstraksi dibaca absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang, kemudian konsentrasi asam benzoat dalam sampel

Penelitian tentang penetapan kadar hidrokuinon dalam krim kosmetik dan penyegar muka menggunakan KCKT dan Spektrofotometri UV-Vis pernah dilakukan oleh Wihdah dkk.(2015)

Untuk mengetahui kadar hidrokuinon dalam krim pemutih wajah racikan dokter digunakan spektrofotometri UV-Vis, dan masing ± masing sampel diukur sebanyak tiga

Analisis Data Hasil Identifikasi Struktu dengan Spekrofotometer UV-Vis Hasil yang diperoleh dari identifikasi struktur dengan spektrofotometer UV-Vis adalah berupa data

Isolat murni diidentifkasi dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk mengetahui panjang gelombang maksimum isolat murni dan spektrofotometri

Dengan metode Spektrofotometri Uv-Vis yang pertama sekali dilakukan Panjang gelombang maksimum dapat diperoleh dengan pengukuran absorbansi yang dilakukan pada rentang panjang gelombang

Pergeseran panjang gelombang dan absorbansi pada spektrum UV- Vis Pada penentuan kadar menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu