48
SMK Batik 1 Surakarta merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terakreditasi A yang memiliki Program Keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) di Kota Surakarta. Sekolah ini berlokasi di Jl. Slamet Riyadi, Kleco, Pajang, Kec. Lawean, Kota Surakarta, Jawa Tengah, 57146. SMK Batik 1 Surakarta berdiri di tanah seluas 3.342 m2 dan luas bangunan 3.588 m2 dengan total 29 kelas. SMK Batik 1 Surakarta memiliki 5 Program Keahlian yaitu Teknologi Komputer Jaringan (TKJ), Desain Komunikasi Visual (DesKonVis), Administrasi Perkantoran (AP), Pemasaran, serta Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL). Total keseluruhan peserta didik tahun pelajaran 2020/2021 sebanyak 272 siswa dan 411 siswi. Data siswa SMK Batik 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2020/2021dicantumkan dalam tabel 16 sebagai berikut:
Tabel 16. Data Siswa SMK Batik 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2020/2021 Data Siswa
Kelas Jumlah
X 179
XI 178
XII 326
Jumlah 683
(Sumber: Data Siswa SMK Batik 1 Surakarta)
Berikut ini merupakan struktur organisasi SMK Batik 1 Surakarta:
Gambar 3. Struktur Organisasi SMK Batik 1 Surakarta Kepala
Sekolah
Wakasek 3 Humas
Wakasek 1 Kurikulum
Wakasek 2 Kesiswaan
Wakasek 4 Sarpras Koordinasi
Tata Usaha
Ketua Program
AKL
Ketua Program
AP
Ketua Program
PM
Ketua Program
TKJ
Ketua Program Deskonvis
Seksi
Seksi Seksi
Siswa
Berikut ini merupakan data pegawai SMK Batik 1 pada tahun pelajaran 2020/2021 yang tertera pada tabel 17:
Tabel 17. Data Pegawai SMK Batik 1 Surakarta Golongan Pegawai Pegawai
Sertifikasi
Pegawai non Sertifikasi
Jumlah
Guru PNS 10 0 10
Guru Honor 0 17 17
Guru Tetap Yayasan 8 0 18
(Sumber: Data Pendidik SMK Batik 1 Surakarta)
SMK Batik 1 Surakarta memiliki visi dan misi sebagai berikut:
a. Visi
“Menjadi lembaga diklat yang menghasilkan Sumber Daya Manusia unggul di bidang Bisnis Manajemen, Teknik Informatika dan Desain Visual Komunikasi yang berkarakter dan berakhlak mulia”
b. Misi
1) Mempersiapkan siswa yang berkarakter, cerdas dan berakhlak mulia, memiliki jiwa wirausaha menguasai IPTEK dan unggul dalam bahasa serta memiliki daya saing global.
2) Menyelenggarakan pendidikan profesional yang bernuansa kualitas dan berorientasi keunggulan sumber daya manusia
3) Mewujudkan pelayanan prima dan menjaga keharmonisan lingkungan dan selalu mengadakan inovasi.
2. Deskripsi Data Khusus
Data pada penelitian ini menunjukkan hasil dari pembagian angket. Penelitian ini memiliki satu variabel terikat yaitu kesiapan kerja dan tiga variabel bebas yaitu prakerin, motivasi memasuki dunia kerja dan pemahaman akuntansi. Data diperoleh dari pembagian angket kepada 62 siswa SMK Batik 1 Surakarta Program AKL.
3. Deskripsi Data
Data pada penelitian ini didapatkan dari hasil penyebaran angket/
kuisioner dan tes secara online kepada 62 responden, yaitu siswa kelas XI dan XII Program AKL SMK Batik 1 Surakarta. Tabel 18 berikut mengenai hasil analisis deskriptif, yaitu:
Tabel 18. Hasil Analisis Deskriptif
Descriptive Statistic
Variable N Range Min Max Mean Std.
Deviation
Varian ce
Y 62 25 53 78 61,78 5,409 29,260
X1 62 37 53 90 69,9 7,855 61,715
X2 62 32 41 73 53,3 5,932 35,194
X3 62 72 28 100 62,1 25,51 650,68
(Sumber: Data Primer yang Diolah 2021) a. Variabel Praktik Kerja Industri (X1)
Data pada penelitian ini diperoleh dari hasil pengisian angket yang berjumlah 18 pernyataan dengan menggunakan skala Likert 1-5.
Angket ini sudah disesuaikan dengan pernyataan positif dan pernyataan negatif. Terdapat 16 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif. Diketahui skor maksimal angket prakerin yang bisa didapat adalah sejumlah 90 dan skor minimal sejumlah 18. Berdasarkan tabel 18. diketahui bahwa nilai maksimal variabel prakerin adalah 90, artinya siswa memberikan nilai lima pada setiap pernyataan pada indikator tersebut. Sementara itu, nilai minimum yang diperoleh berdasarkan tabel 18. adalah 53. Nilai standar deviasi menunjukkan keheterogenan suatu kelompok terhadap nilai rata-rata. Nilai standar deviasi dikatakan baik apabila menjauhi angka 0 yang artinya bersifat heterogen. Berdasarkan tabel 18. nilai standar deviasi yang diperoleh adalah 7,855 sehingga dapat dikatakan bahwa data penelitian ini bersifat heterogen. Berikut diagram lingkaran dari indikator variabel prakerin siswa AKL SMK Batik 1 Surakarta:
Pemahaman tentang prakerin;
27,49%
Kesesuaian tempat prakerin;
24,97%
Penerapan bidang keahlian;
21,60%
Pengalaman yang diperoleh;
25,94%
Indikator Praktik Kerja Industri
Gambar 4. Indikator Praktik Keja Industri (X1)
Tabel 19 berikut tentang distribusi frekuensi variabel prakerin adalah:
Tabel 19. Distribusi Frekuensi Data Variabel Praktik Kerja Industri (X1)
Interval Frekuensi Persentase
53-58 5 8,06%
59-64 9 14,51%
65-70 19 30,64%
71-76 19 30,64%
77-82 7 11,29%
83-88 1 1,61%
89-94 2 3,25%
Jumlah 62 100%
(Sumber: Data Primer yang Diolah 2021)
Berdasarkan dari tabel 19 terdapat 36 siswa yang mempunyai nilai prakerin di atas nilai rata-rata atau 58,06% dari seluruh responden SMK Batik 1 Surakarta. Siswa yang mempunyai nilai kurang dari atau sama dengan rata-rata berjumlah 26 siswa atau 41,94%. Berdasarkan data tersebut, tabel 20 distribusi kecenderungan skor pada variabel prakerin dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 20. Kecenderungan Skor Variabel Prakerin (X1) Interval Frekuensi Persentase Kategori
53-67 23 37% Rendah
68-82 36 58,06% Sedang
83-97 2 4,94% Tinggi
Jumlah 62 100%
(Sumber: Data Primer Diolah 2021)
Berdasarkan tabel 20. distribusi di atas, kecenderungan skor pada variabel prakerin dapat dikatakan bahwa prakerin siswa Program AKL SMK Batik 1 Surakarta termasuk dalam kategori sedang.
b. Variabel Motivasi Memasuki Dunia Kerja (X2)
Data pada penelitian ini diperoleh dari hasil pengisian angket yang berjumlah 16 pernyataan dengan menggunakan skala Likert 1-5.
Angket ini sudah disesuaikan dengan pernyataan positif dan pernyataan negatif. Terdapat 9 pernyataan positif dan 7 pernyataan negatif. Diketahui skor maksimal yang dapat diperoleh dari angket motivasi memasuki dunia kerja adalah sejumlah 80 dan skor minimal sejumlah 16. Berdasarkan tabel 18 diketahui bahwa nilai maksimal variabel motivasi memasuki dunia kerja adalah 73, artinya siswa memberikan nilai empat atau lima pada setiap pernyataan pada indikator tersebut. Sementara itu, nilai minimum yang diperoleh berdasarkan tabel 18 adalah 41. Nilai standar deviasi yang diperoleh adalah 5,932, sehingga dapat dikatakan bahwa data penelitian ini bersifat heterogen.
Berikut diagram lingkaran dari indikator variabel motivasi memasuki dunia kerja siswa AKL SMK Batik 1 Surakarta:
Gambar 5. Indikator Motivasi Memasuki Dunia Kerja (X2)
Berikut adalah tabel 21 mengenai distribusi frekuensi variabel motivasi memasuki dunia kerja:
Tabel 21. Distribusi Frekuensi Data Variabel Motivasi Memasuki Dunia Kerja (X2)
Interval Frekuensi Persentase
41-45 3 4,7%
46-50 18 29,03%
51-55 21 33,8%
56-60 16 25,8%
61-65 2 3,2%
66-70 0 0
71-75 2 3,2%
Desakan;
17,34%
Motif;
28,78%
Kebutuhan;
26,06%
Keinginan;
27,82%
Indikator Motivasi Memasuki Dunia Kerja
Jumlah 62 100%
(Sumber: Data Primer yang Diolah 2021)
Berdasarkan dari tabel 21 terdapat 25 siswa yang mempunyai motivasi memasuki dunia kerja di atas nilai rata-rata atau 40,32% dari seluruh responden SMK Batik 1 Surakarta. Siswa yang mempunyai nilai kurang dari atau sama dengan rata-rata berjumlah 37 siswa atau 59,67%. Berdasarkan data tersebut, tabel 22 menjelaskan tentang distribusi kecenderungan skor pada variabel motivasi memasuki dunia kerja dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 22. Kecenderungan Skor Variabel Motivasi Memasuki Dunia Kerja (X2)
Interval Frekuensi Persentase Kategori
41-52 35 56,45% Rendah
53-64 25 40,32% Sedang
65-76 2 3,23% Tinggi
Jumlah 62 100%
(Sumber: Data Primer Diolah 2021)
Berdasarkan tabel 22 kecenderungan skor pada variabel motivasi memasuki dunia kerja dapat dikatakan bahwa motivasi memasuki dunia kerja siswa program AKL SMK Batik 1 Surakarta termasuk dalam kategori rendah.
c. Variabel Pemahaman Akuntansi (X3)
Data variabel pemahaman akuntansi diperoleh dari hasil pengerjaan soal. Soal sudah disesuaikan dengan kompetensi dasar pemahaman akuntansi. Soal merupakan soal mata pelajaran akuntansi dasar berjumlah 20 soal dengan jawaban benar mendapat nilai skor 5 dan jika jawaban salah mendapatkan skor 1. Diketahui nilai maksimal tes soal pemahaman akuntansi yang bisa didapatkan adalah 100 dan nilai minimal adalah 20 Tes soal dibagikan kepada sampel dan diperoleh hasil dengan nilai paling tinggi yaitu 100 serta nilai paling rendah 20. Bersumber dari data yang didapatkan, diperoleh hasil
perhitungan yang menunjukkan nilai mean adalah 62,1; median sebesar 48, serta modus sebesar 40. Nilai standar deviasi yang diperoleh adalah 25,51 sehingga dapat dikatakan bahwa data penelitian ini bersifat heterogen.
Tabel distribusi frekuensi variabel pemahaman akuntansi adalah pada tabel 23 sebagai berikut:
Tabel 23. Distribusi Frekuensi Data Variabel Pemahaman Akuntansi (X3)
Interval Frekuensi Persentase
28-38 10 16,12%
39-49 24 38,70%
50-60 2 3,22%
61-71 0 0%
72-82 3 4,83%
83-93 13 21,01%
94-104 10 16,12%
Jumlah 62 100%
(Sumber: Data Primer yang Diolah 2021)
Berdasarkan dari tabel 23 terdapat 26 siswa yang mempunyai pemahaman akuntansi di atas nilai rata-rata atau 41,93% dari seluruh responden SMK Batik 1 Surakarta. Siswa yang mempunyai nilai kurang dari atau sama dengan rata-rata berjumlah 36 siswa atau 58,07%. Berdasarkan data tersebut, tabel 24 mengenai distribusi kecenderungan skor pada variabel pemahaman akuntansi dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 24. Kecenderungan Skor Variabel Pemahaman Akuntansi (X3) Interval Frekuensi Persentase Kategori
28-53 36 58,06% Rendah
54-79 1 1,61% Sedang
80-105 25 40,33% Tinggi
Jumlah 62 100%
(Sumber: Data Primer Diolah 2021)
Berdasarkan tabel 24 dikatakan bahwa pemahaman akuntansi siswa program AKL SMK Batik 1 Surakarta termasuk dalam kategori rendah.
Karakteristik Personal
23%
Kemampuan Organisasio
nal 24%
Kompetensi Kerja
26%
Kecerdasan Sosial
27%
Indikator Kesiapan Kerja d. Variabel Kesiapan Kerja (Y)
Data pada penelitian ini diperoleh dari hasil pengisian angket yang berjumlah 17 pernyataan dengan menggunakan skala Likert 1-5.
Angket ini sudah disesuaikan dengan pernyataan positif dan pernyataan negatif. Terdapat 12 pernyataan positif dan 5 pernyataan negatif. Diketahui skor maksimal yang dapat diperoleh dari angket kesiapan kerja adalah sejumlah 85 dan skor minimal sejumlah 17.
Berdasarkan tabel 18 diketahui bahwa nilai maksimal variabel kesiapan kerja adalah 78, artinya siswa memberikan nilai empat atau lima pada setiap pernyataan pada indikator tersebut. Sementara itu, nilai minimum yang diperoleh berdasarkan tabel 18 adalah 53. Nilai standar deviasi yang diperoleh adalah 5,409 sehingga dapat dikatakan bahwa data penelitian ini bersifat heterogen. Berikut diagram lingkaran dari indikator variabel kesiapan kerja siswa AKL SMK Batik 1 Surakarta:
Gambar 6. Indikator Kesiapan Kerja (Y)
Tabel distribusi frekuensi variabel kesiapan kerja adalah tercantum dalam tabel 25 sebagai berikut:
Tabel 25. Distribusi Frekuensi Data Variabel Kesiapan Kerja (Y) Interval Frekuensi Persentase
53-56 10 16,12%
57-60 19 30,64%
61-64 18 29,03%
65-68 8 13,3%
69-72 4 6,45%
73-76 2 3,22%
77-80 1 1,24%
Jumlah 62 100%
(Sumber: Data Primer yang Diolah 2021)
Berdasarkan dari tabel 25 terdapat 29 siswa yang mempunyai kesiapan kerja di atas nilai rata-rata atau 46,77% dari seluruh responden SMK Batik 1 Surakarta. Siswa yang mempunyai nilai kurang dari atau sama dengan rata-rata berjumlah 33 siswa atau 53,23%. Berdasarkan data tersebut, tabel 26 mengenai distribusi kecenderungan skor pada variabel kesiapan kerja dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 26. Kecenderungan Skor Variabel Kesiapan Kerja (Y) Interval Frekuensi Persentase Kategori
53-61 33 53,22% Rendah
62-70 23 37,18% Sedang
71-79 6 9,6% Tinggi
Jumlah 62 100%
(Sumber: Data Primer Diolah 2021)
Berdasarkan tabel 26 kecenderungan skor pada variabel kesiapan kerja dapat dikatakan bahwa kesiapan kerja siswa program AKL SMK Batik 1 Surakarta termasuk dalam kategori rendah.
4. Hasil Uji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan terhadap keempat variabel, yaitu prakerin (X1), motivasi memasuki dunia kerja (X2), pemahaman akuntansi (X3) dan kesiapan kerja (Y). Uji normalitas dilakukan untuk
mengetahui normal atau tidaknya data sampel penelitian. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program Software IBM SPSS for Windows Version 26.0.
Windows dengan teknik One Sample Kolmogorov Smirnov Tes.
Berikut adalah tabel 27 tentang hasil dari uji normalitas keempat variabel:
Tabel 27. Uji Normalitas
N Assym. Sig (2-tailed)
62 0,200
(Sumber: Data Primer yang Diolah tahun 2021)
Tabel 27 memperlihatkan bahwa hasil perolehan nilai signifikansi Asymp.sig (2-tailed) dari uji normalitas dengan uji One Sample Kolmogorov Smirnov Tes adalah 0,200. Nilai signifikansi tersebut menunjukkan bahwa nilai 0,200 > 0,05 yang memiliki arti bahwa data yang diperoleh telah berdistribusi normal.
b. Uji Linearitas
Uji linearitas data dilakukan untuk mengetahui apakah data mempunyai hubungan yang linear atau tidak. Dikatakan linear apabila nilai Sig. Deviation from Linearity > 0.05. Berikut merupakan hasil uji linearitas yang tercantum dalam tabel 28:
Tabel 28. Hasil Uji Linearitas
Sig. Deviation For linearity
Keterangan
Kesiapan Kerja* Prakerin 0,639 Linear
Kesiapan Kerja* Motivasi Memasuki Dunia Kerja
0,338 Linear
Kesiapan Kerja* Pemahaman Akuntansi
0,246 Linear
(Sumber: Data primer yang Diolah Tahun 2021
Berdasarkan hasil uji linearitas dikatakan bahwa nilai Sig.
Deviation from Linearity antara variabel X1 dengan Y sebesar 0,639 ; variabel X2 dengan Y sebesar 0,338 ; variabel X3 dengan Y sebesar
0,246 yang artinya semua nilai variabel bebas terhadap variabel terikat
> 0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang linear antara masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat.
c. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui bahwa hubungan di antara variabel bebas tidak memiliki masalah multikolinearitas atau ada korelasi yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Uji multikolinearitas yang digunakan pada penelitian ini dengan melihat nilai VIF dan nilai tolerance. Apabila nilai VIF <10 dan nilai tolerance > 0,10 maka tingkat kolinearitas dapat ditoleransi.
Berikut hasil uji multikolinearitas yang dijelaskan dalam tabel 29:
Tabel 29. Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa
Model Collinearity Statistic
Tolerance VIF
Prakerin 0,961 1,040
Motivasi Kerja 0,718 1,393
Kompetensi Akuntansi
0,707 1,415
(Sumber: Data Primer yang Diolah Tahun 2021)
Berdasarkan hasil uji di atas, nilai tolerance prakerin sebesar 0,961; motivasi memasuki dunia kerja sebesar 0,718; pemahaman akuntansi sebesar 0,707; sementara untuk nilai VIF prakerin sebesar 1,040; motivasi memasuki dunia kerja sebesar 1,393; pemahaman akuntansi sebesar 1,415 sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas.
d. Uji Hetereroskedastisitas
Uji Hetereroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model korelasi terjadi ketidaksamaan varian dari nilai residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Uji heteroskedastisitas pada penelitian ini menggunakan metode Glejser dengan hasil pada tabel 30 sebagai berikut:
Tabel 30. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Variabel Sig
X1 0,256
X2 0,080
X3 0,791
(Sumber: Data Primer yang Diolah Tahun 2021)
Berdasarkan hasil uji tersebut, dapat dilihat bahwa nilai sig dari variabel prakerin 0,256 > 0,05 ; variabel motivasi memasuki dunia kerja 0,080 > 0,05 ; dan variabel pemahaman akuntansi 0,791 >
0,05. Ketiga hasil di atas menunjukkan bahwa tidak terjadinya heteroskedastisitas.
5. Hasil Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis yang sudah ditentukan mengalami penerimaan atau penolakan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi sederhana dan analisis korelasi ganda.
a. Analisis Korelasi Sederhana
Korelasi sederhana dilakukan untuk mengetahui hubungan secara parsial antara variabel terikat yakni kesiapan kerja (Y) dengan tiap-tiap variabel bebas yakni prakerin (X1), motivasi memasuki dunia kerja (X2), dan pemahaman akuntansi (X3). Pengujian ini yang menjadi hipotesis pertama yaitu terdapat hubungan positif dan signifikan antara prakerin dengan kesiapan kerja. Hipotesis kedua adalah terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi memasuki dunia kerja dengan kesiapan kerja, serta hipotesis ketiga yaitu, terdapat hubungan positif dan signifikan antara pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja. Tabel 31 berikut adalah hasil pengolahan data analisis korelasi sederana dengan alat bantu SPSS:
Tabel 31. Hasil Uji Analisis Korelasi Sederhana Correlation
Kesiapan Kerja
Prakerin Pearson Correlation 0,251*
Sig. (2-Tailed) 0,049
N 62
Motivasi Memasuki Dunia Kerja
Pearson Correlation 0,578**
Sig. (2-Tailed) 0,000
N 62
Pemahaman Akuntansi Pearson Correlation 0,413**
Sig. (2-Tailed) 0,001
N 62
(Sumber: Data Primer yang Diolah Tahun 2021) 1) Hubungan Prakerin (X1) dengan Kesiapan Kerja (Y)
Berdasarkan tabel 31 Diketahui nilai koefisien antara prakerin dengan kesiapan kerja adalah 0,251 dengan signifikansi 0,049 < 0,05. Menurut Sugiyono (2019) nilai koefisien korelasi yang berkisar antara 0,41 – 0,60 termasuk dalam derajat hubungan yang lemah. Nilai signifikansi dan koefisien korelasi tersebut memperlihatkan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara prakerin dengan kesiapan kerja, namun derajat hubungan antar variabel lemah.
2) Hubungan Motivasi Memasuki Dunia Kerja (X2) dengan Kesiapan Kerja (Y)
Berdasarkan tabel 31 Diketahui nilai koefisien antara motivasi memasuki dunia kerja dengan kesiapan kerja adalah 0,578 dengan signifikansi 0,000< 0,05. Nilai signifikansi dan koefisien korelasi tersebut memperlihatkan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara motivasi memasuki dunia kerja dengan kesiapan kerja, namun derajat hubungan antar variabel sedang karena nilai korelasi berada diantara 0,41 – 0,60.
3) Hubungan Pemahaman Akuntansi (X3) dengan Kesiapan Kerja (Y)
Berdasarkan tabel 31 Diketahui nilai koefisien antara pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja adalah 0,413 dengan signifikansi 0,001 < 0,05. Nilai signifikansi dan koefisien korelasi tersebut memperlihatkan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja, namun derajat hubungan antar variabel dalam kategori sedang.
b. Analisis Korelasi Ganda
Analisis korelasi berganda digunakan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara tiga variabel atau lebih, serta mengetahui kontribusi yang diberikan secara simultan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisis ini dilakukan untuk menguji hipotesis keempat yaitu terdapat hubungan positif dan signifikan secara bersama-sama antara prakerin, motivasi memasuki dunia kerja dan pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja. Berikut hasil dari pengolahan data analisis korelasi ganda dengan bantuan program SPSS yang dicantumkan dalam tabel 32:
Tabel 32. Hasil Uji Analisis Korelasi Ganda (Sumber: Data Primer yang Diolah Tahun 2021)
Informasi yang dapat diambil dari tabel 32 di atas adalah nilai koefisien relasi prakerin, motivasi memasuki dunia kerja dan pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja sebesar rhitung > r tabel (0,612 > 0,254). Besarnya nilai rhitung 0,612 memperlihatkan jika terdapat hubungan positif antara tiga variabel bebas secara simultan dengan satu variabel terikat. Nilai korelasi positif memiliki arti adanya hubungan yang positif. tabel 32 juga menunjukkan Fhitung senilai 11,548. Nilai Ftabel diketahui dengan melihat tabel statistik dengan tingkat signifikansi 5% atau 0,05 dengan nilai derajat kebebasan 58.
Model Summary
Model R
R Square
Std. Error of the Estimate
Change Statistics F
Change df
1 df
2
Sig. F Change 1 0,612a 0,374 4,389 11,548 3 58 0,000
Hasil yang diperoleh pada Ftabel 2,76. Hal ini menunjukkan Fhitung >
Ftabel, yaitu 11,548 > 2,76 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 kesimpulan dari analisis ini yaitu terdapat hubungan yang positif dan signifikan secara bersamaan antara prakerin, motivasi memasuki dunia kerja, dan pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja.
c. Koefisien Determinasi
Tabel 33 berikut hasil pengukuran koefisien determinasi yang diperoleh melalui tabel Model Summary:
Tabel 33. Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summary
Model R R Square
1 0,612a 0,374
(Sumber: Data Primer yang Diolah tahun 2021)
Bersumber dari tabel 33 nilai koefisien determinasi di atas, bahwa nilai koefisien determinasi atau R-square mempunyai nilai sebesar 0,374. Hasil itu menunjukkan bahwa besarnya kontribusi variabel prakerin, motivasi memasuki dunia kerja, dan pemahaman akuntansi sebesar 0,374 atau 37,4% terhadap variabel terikat kesiapan kerja dan selebihnya 62,6% adalah andil dari faktor variabel lain yang tidak diteliti.
B. Pembahasan
1. Hubungan Praktik Kerja Industri dengan Kesiapan Kerja siswa SMK Batik 1 Surakarta
Stevani (2015:187) menjelaskan bahwa kesiapan kerja merupakan keselarasan yang terjadi antara kematangan fisik, mental, dan pengalaman belajar untuk melakukan seluruh pekerjaan. Keterampilan siswa SMK dapat diperoleh melalui kegiatan prakerin yang dilaksanakan dikelas XI.
Pelaksaan prakerin selama tiga bulan akan membuat siswa memiliki banyak keterampilan baru yang berasal dari kegiatan pekerjaan yang mereka lakukan.
Teori koneksionisme menyatakan apabila menginginkan respon yang baik, maka siswa harus diberikan stimulus yang maksimal. Hal ini
didukung oleh hukum latihan (law of exercise) dari teori koneksionisme, yaitu semakin sering suatu tingkah laku diulang atau dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat, artinya apabila siswa sering dilatih dengan melakukan magang di tempat industri maka akan memiliki profesionalitas dalam bekerja.
Hasil dari uji hipotesis yang pertama telah membuktikan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara prakerin dengan kesiapan kerja siswa. Pernyataan tersebut ditunjukkan melalui hasil perhitungan dari analisis korelasi sederhana dengan nilai rhitung yakni 0,251 dengan signifikansi 0,049. Nilai rhitung 0,251 menjelaskan bahwa prakerin memiliki hubungan positif dengan kesiapan kerja dengan derajat hubungan yang lemah, hal ini menandai pihak sekolah memberikan stimulus yang kurang maksimal terbukti dengan banyak siswa mengeluh masalah penempatan dan jobdesk prakerin yang tidak tepat. Pihak sekolah harus memperhatikan dan meningkatkan kualitas program prakerinnya, meningkatkan kerjasamanya dengan pihak industri agar siswa yang melaksanakan program prkerin ditempatkan serta diberikan jobdesk yang sesuai dengan program kejuruannya disekolah.
Nilai signifikansi yang didapatkan yaitu 0,049 < 0,05 maka disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara variabel prakerin dengan variabel kesiapan kerja, akan tetapi dengan nilai signifikansi yang sangat mendekati 0,05 menandai bahwa program prakerin yang diadakan pihak sekolah belum terlalu signifikan untuk meningkatkan kesiapan kerja siwa, hal ini berarti pihak sekolah harus memperbaiki kualitias program prakerin agar lebih maksial untuk meningkatkan kesiapan kerja siswa khususnya siswa program AKL SMK Batik 1 Surakarta. Indikator dalam variabel prakerin dengan distribusi skor yang paling lemah yaitu indikator penerapan bidang keahlian sebesar 21,6%, artinya siswa belum mampu mengaplikasian teori yang mereka dapatkan dari sekolah untuk diterapkan di tempat prakerin.
Hasil penelitian Pratama, Daryati, dan Artur (2018) menyatakan terdapat hubungan positif dan signifikan antara pengalaman prakerin dengan kesiapan kerja. Apabila nilai prakerin siswa tinggi maka kesiapan kerja siswa tersebut juga akan semakin tinggi. Siswa akan lebih yakin dan siap untuk terjun kedalam dunia kerja setelah memiliki pengalaman yang didapat saat melaksanakan prakerin, akan tetapi ketika pengalaman yang didapat kurang bermakna maka siswa akan tetap merasa kurang memiliki kesiapan kerja.
Walaupun prakerin bukan satu-satunya faktor yang memiliki hubungan dengan kesiapan kerja, namun guru maupun siswa diharapkan untuk selalu meningkatkan kualitas penyelenggaraan prakerin agar dapat meningkatkan keterampilan siswanya. Berdasarkan hasil penelitian dan penjabaran di atas, prakerin memiliki hubungan positif secara parsial dan signifikan dengan kesiapan kerja siswa program AKL SMK Batik 1 Surakarta.
2. Hubungan Motivasi Memasuki Dunia Kerja dengan Kesiapan Kerja siswa SMK Batik 1 Surakarta
Salah satu faktor terpenting dalam kesiapan kerja menurut Slameto (2013) selain pengalaman yaitu motivasi. Motivasi merupakan pendorong atau kekuatan baik dari dalam maupun luar diri seseorang sehingga seseorang tersebut bersedia melakukan suatu tindakan yang berorientasi untuk mencapai tujuan. Motivasi memasuki dunia kerja sangat dibutuhkan bagi seseorang terutama dalam mempersiapkan diri untuk bekerja. Siagian dalam Dalimunte (2018:1) mengemukakan bahwa dalam kehidupan berorganisasi, termasuk kehidupan berkarya dalam organisasi bisnis, aspek motivasi memasuki dunia kerja mutlak mendapat perhatian serius dari para manajer. Motivasi dibutuhkan untuk menjelaskan dan mengontrol tingkah laku serta mendorong timbulnya perbuatan, sebagai pengarah, dan sebagai penggerak.
Teori koneksionisme menyatakan apabila menginginkan respon yang baik, maka siswa harus diberikan stimulus yang maksimal. Hal ini
didukung oleh hukum yang ada dalam Teori koneksionisme yaitu hukum akibat, artinya ketika seseorang siswa senantiasa diberikan dorongan untuk memasuki dunia kerja, serta siswa diberikan pengetahuan akibat positif dari memasuki dunia kerja maka siswa akan memiliki kesiapan kerja yang baik. Motivasi dibutuhkan untuk menjelaskan dan mengontrol tingkah laku serta mendorong timbulnya perbuatan, sebagai pengarah, dan sebagai penggerak.
Hasil dari uji hipotesis yang kedua telah membuktikan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi memasuki dunia kerja dengan kesiapan kerja siswa. Pernyataan tersebut ditunjukkan melalui hasil perhitungan dari analisis korelasi sederhana dengan nilai rhitung 0,578 serta nilai signifikansi 0,000. Nilai rhitung positif, dapat dinyatakan terdapat hubungan positif antar keduanya, yang memiliki arti jika motivasi memasuki dunia kerja meningkat maka nilai kesiapan kerja dari siswa akan meningkat.
Nilai rhitung sebesar0,578menjelaskan bahwa motivasi memasuki dunia kerja mempunyai hubungan dengan kesiapan kerja dengan derajat hubungan yang sedang, hal ini berarti pihak sekolah sudah memberikan stimulus yang cukup baik. Pihak sekolah harus mampu lebih maksimal meningkatkan motivasi memasuki dunia kerja siswa agar siswa memiliki gambaran yang baik mengenai dunia kerja serta memiliki ketertarikan untuk segera terjun kedalam dunia kerja.
Nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka kedua variabel mempunyai hubungan yang signifikan, hal ini berarti stimulus motivasi memasuki dunia kerja siswa dari pihak SMK Batik 1 surakarta sudah cukup baik, ditandai dengan peningkatan secara signifikan pada kesiapan kerja siswa AKL SMK Batik 1 Surakarta. Desakan merupakan indikator dalam variabel motivasi memasuki dunia kerja yang paling lemah, yaitu sebesar 17,34% yang berarti siswa kurang memiliki desakan yang besar baik dari dalam diri siswa maupu dari luar untuk segera terjun kedalam dunia kerja, siswa dituntut untuk memiliki tujuan yang sama dengan pihak sekolah
yaitu menciptakan calon tenaga kerja profesional yang siap memasuki dunia kerja.
Hasil analisis data dalam penelitian ini juga selaras dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yuyun Kusnaeni dan Martono (2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Persepsi tentang Praktik Kerja Lapangan, Motivasi Memasuki Dunia Kerja terhadap Kesiapan Kerja Siswa SMK”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, terdapat hubungan positif motivasi memasuki dunia kerja terhadap kesiapan kerja di SMK Bhakti Kendal. Hasil analisis data dalam penelitian ini mendukung hasil penelitian yang relevan dan hipotesis penelitian bahwa motivasi memasuki dunia kerja memiliki hubungan yang positif dan signnifikan terhadap kesiapan kerja siswa program AKL SMK Batik 1 Surakarta.
Bersumber dari hasil penelitian dan penjabaran tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan untuk hipotesis kedua, yaitu terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi memasuki dunia kerja dengan kesiapan kerja siswa progam AKL SMK Batik 1 Surakarta.
3. Hubungan Pemahaman Akuntansi dengan Kesiapan Kerja siswa SMK Batik 1 Surakarta
Cahyasari (2018) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi kesiapan kerja siswa SMK jurusan akuntansi adalah pemahaman akuntansinya. Caballero, Walker, & Fuller (2011:50) menyebutkan aspek kesiapan kerja terdiri dari karakteristik personal, kompetensi, dan kecerdasan sosial. Peserta didik harus memiliki pemahaman akuntansi yang baik agar memiliki dasar untuk mengerjakan segala yang berhubungan akuntansi dan dapat menjadi calon tenaga kerja yang siap dan profesional.
Teori koneksionisme menyatakan apabila menginginkan respon yang baik, maka siswa harus diberikan stimulus yang maksimal. Hal ini didukung oleh hukum yang ada dalam teori koneksionisme yaitu hukum kesiapan, artinya ketika seseorang siswa senantiasa disiapkan untuk
mampu mengerjakan soal mengenai akuntansi didunia kerja siswa akan memiliki kesiapan kerja yang baik.
Hasil dari uji hipotesis yang ketiga telah membuktikan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja siswa. Pernyataan tersebut ditunjukkan melalui hasil perhitungan dari analisis korelasi sederhana dengan nilai rhitung yakni 0,413 dengan signifikansi 0,001. Nilai rhitung 0,413 menjelaskan bahwa pemahaman akuntansi memiliki hubungan positif dengan kesiapan kerja dengan derajat hubungan yang sedang, artinya stimulus yang diberikan pihak sekolah yaitu berupa pemahaman akuntansi sudah cukup baik.
Nilai signifikansi 0,001 < 0,05 maka dua variabel ini memiliki hubungan yang signifikan, hal ini berarti stimulus pemahaman akuntansi dari pihak SMK Batik 1 surakarta sudah cukup baik ditandai siswa sudah memiliki bekal teori akuntansi yang baik, hal tersebut membuat kesiapan kerja siswa AKL SMK Batik 1 Surakarta semakin meningkat. Siswa dengan pemahaman akuntansi yang tinggi menjadi lebih percaya diri dengan penguasaan teori akuntansi yang dimiliki, sehingga membuat siswa merasa yakin dapat melakukan tugas sesuai bidang keahliannya di dunia kerja nanti. Rasa percaya diri saat menguasai pemahaman akuntansi akan membuat siswa lebih siap dalam mengatasi masalah didunia kerja, hal ini dikarenakan siswa mengetahui bagaimana menangani masalah yang dihadapi saat bekerja sesuai dengan teori yang didapatkan di sekolah.
Hasil penelitian Nifah (2015) menyatakan terdapat hubungan positif dan signifikan antara pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja.
Hal ini didukung oleh penelitian Rahmawati (2020) menyatakan prestasi akademik akuntansi memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kesiapan kerja siswa.
Bersumber dari hasil penelitian dan penjabaran tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan untuk hipotesis ketiga, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja siswa progam AKL SMK Batik 1 Surakarta.
4. Hubungan Praktik Kerja Industri, Motivasi Memasuki Dunia Kerja, dan Pemahaman Akuntansi Dengan Kesiapan Kerja Siswa SMK 1 Batik Surakarta
Berdasarkan teori koneksionisme yang dipelopori oleh Edward Lee Thorndike (1874-1949) menjabarkan bahwa respon positif didapatkan melalui konstruksi berbagai stimulus yang baik, begitupula sebaliknya (Pamungkas, 2021:1). Kesiapan kerja siswa maksimal apabila siswa diberikan stimulus yang baik, Sekolah telah memberikan beberapa program untuk menunjang hal tersebut, yaitu prakerin, pemberian motivasi memasuki dunia kerja, dan pelatihan pemahaman jurusan.
Hasil dari uji analisis korelasi berganda membuktikan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara prakerin, motivasi memasuki dunia kerja dan pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja siswa.
Pernyataan ini ditunjukkan melalui hasil dari perhitungan analisis korelasi ganda dengan nilai rhitung 0,612 > rtabel 0,254, artinya ketika prakerin, motivasi memasuki dunia kerja dan pemahaman akuntansi meningkat maka kesiapan kerja juga meningkat, sedangkan signifikansinya 0,000<
0,05 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara prakerin, motivasi memasuki dunia kerja dan pemahaman akuntansi dengan kesiapan kerja.
Didukung dengan nilai dari koefisien determinasi (R2) sebesar 0,374 yang berarti kontribusi dari pengaruh variabel bebas kepada variabel terikat sebanyak 37,4%, artinya usaha dari pihak sekolah dengan memberikan program prakerin, motivasi memasuki dunia kerja dan pemahaman akuntansi kurang maksimal, ketika stimulus diberikan lebih maksimal maka pengaruh daripada stimulus tersebut akan lebih besar, akan tetapi dalam penelitian ini membuktikan konstribusi yang diberikan dari stimulus program prakerin, motivasi memasuki dunia kerja dan pemahaman akuntansi secara bersama-sama relatif rendah. Hal ini berarti pihak sekolah harus lebih memaksimalkan program-programnya untuk menyiapkan calon tenaga kerja yang profesional.
Variabel prakerin merupakan variabel yang tingkat hubungannya paling rendah dengan variabel kesiapan kerja, untuk itu pihak sekolah harus lebih memperhatikan dan meningkatkan program prakerin agar hasilnya lebih maksimal, pihak sekolah dituntut untuk mampu mengevaluasi prakerin agar prakerin memberikan kontribusi yang lebih baik dalam hal meningkatkan kesiapan kerja siswa