i
STUDI KASUS MENGENAI KEBERMAKNAAN HIDUP
PASANGAN SUAMI-ISTRI YANG BELUM MEMBAYAR
BELIS
PADA MASYARAKAT FLORES TIMUR
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar sarjana pendidikan (S1)
Program studi bimbingan dan konseling
Oleh:
Wilhelmina Maran NIM: 081114050
PROGAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk :
1. Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karunianya saya dapat
menyeselesaikan skripsi ini
2. Orang tua saya Mikhael Mige Maran dan Ursula Sea Plue yang dengan
sabar membesarkan serta merawat dan tak henti-hentinya memberi suport
dalam menyelesaikan skripsi
3. Kakak dan adik saya Maria Wilhelmina Eleonora Maran dan Yosep Pedro
Maran yang selalu memberikan semangat dan dukungan
4. Seluruh sahabat dan teman-teman angkatan 2008 yang dari awal sampai
akhir selalu menemani keseharian dalam hidup saya
5. Para dosen dan karyawan Universitas Sanata Dharma khususnya pada
program studi Bimbingan Konseling
6. Almamater tercinta Universitas Sanata Dharma yang selalu menjadi
v
MOTTO
1. Dalam hidup yang serba krisis kita harus tetap berpikir kritis jangan
sampai pesimis namun harus tetap optimis
2. Jangan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, karena
waktu tidak akan pernah tepat bagi mereka yang menunggu, Dewakata.
3. Waktu benar-benar sangat pemaaf, Berapapun waktu yang anda buang di
masa lalu, anda masih bisa memiliki keseluruhan hari ini. Kesuksesan
tergantung pada penggunaan waktu yang bijaksana dengan cara membuat
rencana dan menempatkan prioritas. Denis Waitely.
4. Kesalahan adalah pengalaman hidup, belajarlah darinya jangan mencoba
untuk sempurna cobalah menjadi teladan bagi sesama, Dewakata
5. Kita tidak bisa mengubah situasi, kita di tantang untuk mengubah
viii
ABSTRAK
STUDI KASUS MENGENAI KEBERMAKNAAN HIDUP PASANGAN SUAMI-ISTRI YANG BELUM MEMBAYAR BELIS PADA
MASYARAKAT FLORES TIMUR
Wilhelmina Maran
Universitas Sanata Dharma
2014
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis gambaran kebermaknaan hidup pasangan suami istri yang belum membayar belis pada masyarakat Flores Timur. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini digolongkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian ini didasarkan pada teori yang relevan dengan permasalahan yang diteliti untuk menemukan solusi permasalahan tersebut. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini yaitu pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukan bahwa hutang belis dalam pernikahan adat Flores Timur adalah sebuah fenomena budaya yang kerap kali menjadi persoalan dalam kehidupan rumah tangga (suami dan istri). Apa yang telah dialami oleh pasangan dalam penelitian ini menjadi bukti adanya dampak dari hutang belis. Persoalan ini tidak hanya berdampak negatif terhadap kehidupan rumah tangga, namun dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi pasangan dalam melihat kebermaknaan hidup. Proses mencapai makna hidup adalah sebuah perjuangan panjang dari kondisi hidup yang kurang baik menjadi lebih baik, dalam hal ini mengubah kondisi hidup dan penghayatan tak bermakna menjadi bermakna. Upaya ini memerlukan niat dan komitmen yang kuat serta pemahaman mengenai potensi diri dan kesediaan untuk menghadapi berbagai kendala dan hambatan setiap masalah yang dihadapi. Pasangan suami dan istri dalam penelitian ini telah mengenal potensi diri mereka ketika berhadapan dengan permasalahan hutang belis. Potensi diri ini menjadi kunci atau jalan keluar yang tepat bagi pasangan tersebut untuk membangun sebuah kehidupan keluarga yang lebih baik. Pemahaman terhadap kelemahan dan kelebihan diri masing-masing pasangan telah membuka ruang selanjutnya dalam bertindak dan membangun hubungan dengan keluarga demi mencapai makna hidup mereka.
ix
ABSTRACT
CASE STUDY ABOUT THE MEANINGFULLNES OF LIFE OF HUSBAND AND WIFE WHO HAVE NOT PAID BELIS IN EAST FLORES
COMMUNITY
Wilhelmina Maran Sanata Dharma University
2014
The purpose of this study is to identify and analyze the meaningfulness of life portrait from the couples who have not paid belis on East Flores community. The method used in this study can be classified as a qualitative research. This research is based on the relevant theory which related to the problems analyzed to find the solution. This study used case study approach, and the techniques of data collection are observation and interviews.
The result of this research indicated that belis which have not paid yet in the marriage of East Flores community is a cultural phenomenon which often times become a problem in the family life (husband and wife). What was actually happen from the married couples in this research is the evidence from the impact of belis which have not paid yet. This problem not only brings negative impact on the marriage life, but can also be a lesson for the couples to see the meaningfulness of life. The process to find out the meaning of life is a long journey from the bad life condition into the better one, in this case is to change the condition of life and the reflection from something which has no meaning into something meaningful. This effort needs a strong intention and commitment, also understanding about self ability and willingness to face various kinds of obstacles from every problem that they should faced. The husband and wife in this research already know their self ability when they should face the problem of belis which have not paid yet. This self ability is the key or good solution for the couples to build the better life. Understanding of weakness and strength from the husband and wife already open up the next step to act and build a family relationship in order to reach the meaning of their life.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kemurahan kasih,
karunia dan penyertaanNya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik. Penyusunan skripsi ini sebagai wujud dari seluruh pengetahuan dan
pengalaman peneliti selama menjadi mahasiswa program studi Bimbingan dan
Konseling di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa penelitian skripsi ini tidak lepas
dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Untuk itu peneliti mengucapkan
terimakasih yang tulus kepada:
1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma.
2. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan
Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dalam penulisan
skripsi ini.
3. Dra.M.J.Retno Priyani,M.Si selaku dosen pembimbing yang dengan penuh
kesabaran meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan
pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Seluruh dosen Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata
Dharma yang telah membekali peneliti dengan berbagai ilmu pengetahuan
selama ini sehingga berguna bagi peneliti.
5. Mas St.Priyatmoko, yang selalu setia dan sabar membantu peneliti dalam hal
surat-menyurat dan administrasi lainnya.
6. Goris Suban dan Elisabet Benga yang bersedia menjadi subjek dalam
penelitian ini
7. Orangtua Mikhael Mige Maran dan Ursula Sea Plue yang selalu memberikan
semangat, mendoakan serta membiayai studi dari awal hingga akhir.
8. Kakak Maria Eleonora Wilhelmina, Emi Kurniawati dan Adik Yosep Pedro
Maran, Mario Kurniawan yang selalu memberikan motivasi selama penelitian
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah... 6
C. Tujuan Penulisan ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
1. Manfaat Teoritis ... 7
2. Manfaat Praktis ... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8
A.Kebermaknaan Hidup (Suami-Istri) ... 8
1. Pengertian Kebermaknaan Hidup... 8
2. Ciri Kebermaknaan Hidup ... 10
3. Aspek-Aspek Kebermaknaan Hidup ... 11
4. Menemukan Makna Hidup ... 12
5. Komponen Keberhasilan Kebermaknaan Hidup... 16
B.Belis Dalam Perkawinan Masyarakat Flores Timur ... 23
1. Pengertian Belis ... 23
2. Belis Dalam Masyarakat Flores Timur... 23
BAB III METODE PENELITIAN ... 28
A.Jenis Penelitian ... 28
B.Subjek Penelitian dan Objek Penelitian ... 30
xiv
D.Alat Pengumpulan Data……… 32
E.Teknik Analisis Data……… 33
F. Metode Keabsahan Data... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 36
A. Hasil Penelitian………... 36
1. Persiapan Penelitian ... 36
a. Pelaksanaan Wawancara... 37
b. Gambaran Umum Subjek... 39
B. Pembahasan ... 41
1. Pembahasan Kebermaknaan Hidup Pasangan ... 42
2. Makna dan Pengaruh Belis dalam Perkawinan ... 48
BAB V PENUTUP …… ... 65
A.Kesimpulan ... 65
B.Saran ... ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
xv
Daftar Lampiran
Lembar Pernyataan Penelitian ... 71
Lembar Persetujuan Partisipan Subjek 1 ... 72
Lembar Persetujuan Partisipan Subjek 2 ... 73
Lembar Persetujuan Partisipan Subjek 3 ... 74
Identitas Subjek 1 ... 75
Identitas Subjek 2 ... 76
Identitas Subjek 3 ... 77
Pedoman Wawancara ... 78
Verbatim Wawancara Subjek 1 ... 81
Verbatim Wawancara Subjek 2 ... 90
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar
pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan merupakan suatu
pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi.
Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara
pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk
membentuk keluarga. Kebahagiaan perkawinan dalam sebuah masyarakat
bisa juga ditentukan oleh budaya masyarakat, hal ini berhubungan dengan
adat istiadat masyarakat setempat. Dalam proses perkawinan adat Nusa
Tenggara Timur, biasanya melalui tahapan seperti menentukan calon,
menyiapkan hewan atau benda sebagai mas kawin, dan meminang yang
disertai dengan pembayaran mas kawin tersebut.
Masyarakat Flores Timur mayoritas beragama Katolik dan masih
memegang teguh adat istiadat setempat. Adat dan agama merupakan dua
hal yang sulit sekali dipisahkan dari budaya masyarakat Flores Timur.
Keduanya saling melengkapi, khususnya dalam hal pernikahan.
Pernikahan dalam budaya Flores Timur merupakan proses panjang yang
harus dilalui oleh setiap pasangan. Proses pernikahan dimulai dengan
upacara adat dan diakhiri dengan penerimaan sakramen perkawinan di
gereja. Pernikahan ideal dalam budaya masyarakat Flores Timur adalah
2
dalam adat ditandai dengan terbayarnya belis sebagai mas kawin dan
secara agama adalah pemberkatan nikah di gereja.
Pada masyarakat Flores Timur terdapat tradisi perkawinan dengan
menggunakan mas kawin yang lebih dikenal dengan istilah “belis”. Belis
adalah sebutan lain dari mas kawin. Belis dalam budaya Lamaholot adalah
gading gajah. Gading ini dipakai untuk menentukan nilai “Air Susu Ibu”
kepada pihak keluarga wanita yang akan menikah dan sebagai ungkapan
terima kasih kepada keluarga wanita. Air Susu Ibu dalam bahasa adat
Flores Timur melambangkan rasa hormat seorang anak terhadap
pengorbanan ibunya yang biasanya disimbolkan dengan gading.
Belis berupa gading gajah merupakan syarat utama dalam tradisi
pernikahan adat Flores Timur. Belis adalah simbol kehormatan dan harga
diri. Belis telah menjadi sebuah tuntutan adat turun-temurun yang tidak
bisa diabaikan begitu saja. Selain menjadi sebuah ukuran status sosial
seseorang, belis bisa menjadi sebuah beban yang harus dipenuhi demi
pengakuan sebuah pernikahan. Dalam budaya Flores Timur, yang berhak
menentukan belis adalah pihak keluarga wanita. Jumlah gading yang
diminta biasanya tiga sampai tujuh batang dengan ukuran yang tentukan.
Terkadang tuntutan belis yang besar mengakibatkan terjadinya utang belis
(Kornelis Kewa Ama, dalam kompas.com). Utang belis ini diartikan
sebagai penundaan belis yang dilakukan oleh keluarga laki-laki yang akan
3
Pernikahan bisa saja berlangsung walau pihak laki-laki masih ada
utang belis. Ini tergantung negosiasi antar keluarga. Namun utang belis ini
kadang menjadi persoalan dan pemicu ketidakharmonisan dalam
membangun kehidupan rumah tangga. Pasangan yang menikah kadang
hidup di bawah tekanan keluarga masing-masing.
Dampak hutang belis bagi isteri yaitu: mengalami tekanan dalam
keluarga dari pihak suami, merasa tidak dihargai sebagai isteri dari saudara
pihak suami serta tertekan batin dan perasaannya ketika diperlakukan
dengan semena-mena oleh keluarga suami (saudara dari pihak suami)
karena mereka tinggal serumah. Pasangan wanita yang belum mendapat
belis, dalam kehidupan keluarganya lebih banyak mengalami tekanan dari
pihak keluarganya sendiri. Dia akan menjadi sorotan dalam keluarganya
dan dianggap tidak mempunyai harga dalam keluarga.
Dampak hutang belis bagi suami yaitu: suami akan dianggap rendah
karena utang belis tersebut, suami dianggap kurang bertanggungjawab
karena belum memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga dalam
pelunasan belis, dan suami belum dapat memenuhi tuntutan adat yang
telah disepakati bersama baik dari pihak keluarga isteri maupun pihak
keluarga suami. Tekanan ini akan mempengaruhi hubungan kedua
pasangan dalam membangun rumah tangga. Realita yang ada pada
masyarakat Lamaholot saat ini, bahwa seseorang yang sudah di belis
belum tentu merasakan kebahagiaan dalam perkawinannya. Hal ini
4
menimbulkan beban bagi keluarga pria sehingga bisa saja pihak keluarga
pria memperlakukannya tidak adil. Karena belis belum dibayarkan
membuat pihak isteri selalu mendesak agar pihak suami segera membayar
belis, ini menyebabkan dari pihak keluarga suami merasa terdesak dan
sakit hati dan akhirnya melampiaskan emosi mereka dengan
memperlakukan isterinya dengan semena-mena. Di sinilah kebermaknaan
hidup dalam perkawinan dengan adanya belis sebagai mas kawin ini
dipertanyakan.
Jika suami yang sudah menikah namun belum membayar belis, maka
akan merasa belum memenuhi tuntutan dan harapan, maka dapat dikatakan
pasangan suami isteri tersebut belum merasakan terpenuhinya makna
hidup dalam perkawinan. Makna hidup merupakan sesuatu yang dianggap
penting dan berharga, serta memberikan nilai khusus bagi seseorang.
Makna hidup bila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan
kehidupan ini dirasakan demikian berarti dan berharga. Makna hidup
disini (Bastaman, 2007: 45) bila hal itu berhasil dipenuhi akan
menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada
akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness).
Dan makna hidup ternyata ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat
ditemukan dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tak
menyenangkan, keadaan bahagia, dan penderitaan (Bastaman,
2007:45-46). Pengertian mengenai makna hidup menunjukkan bahwa dalam makna
5
dipenuhi. Mengingat antara makna hidup dan tujuan hidup tak dapat
dipisahkan, maka untuk keperluan praktis pengertian “makna hidup” dan
“tujuan hidup” disamakan. (Bastaman, 2007:46).
Makna hidup ini benar-benar terdapat dalam kehidupan itu sendiri,
walaupun dalam kenyataannya tidak mudah ditemukan, karena sering
tersirat dan tersembunyi di dalamnya. Bila makna hidup ini berhasil
ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan dirasakan
bermakna dan berharga yang pada giliranya akan menimbulkan perasaan
bahagia. Kebahagiaan tersebut merupakan impian setiap pasangan yang
menikah. Dalam mengejar kebahagiaan ini, mereka tentunya akan
melewati banyak cobaan. Kebahagiaan bisa tepenuhi oleh materi, prestasi
hidup, ataukah cinta yang tertanam dalam diri pasangan tersebut. Belis
bisa menjadi salah satu faktor pemenuhan kebahagiaan itu dan bisa juga
menjadi penghalang kebahagiaan.
Masalah belis dalam pernikahan terkadang menimbulkan perselisihan
dan dendam dalam keluarga yang nampak dalam rendahnya penghargaan
terhadap pasangan dan perlakuan yang tidak adil dalam keluarga. Di
sinilah letak kepekaan pasangan (suami dan istri) dalam melihat dan
menemukan makna hidup sesungguhnya dari pernikahan mereka. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa kebahagiaan adalah ganjaran atau akibat
dari keberhasilan seseorang menemukan makna hidup.
Belis sejauh ini menjadi pemicu konflik dalam keluarga. Makna
6
belum terbayarnya belis. Dalam persoalan ini komunikasi menjadi solusi
yang ditawarkan dalam membina hubungan antara suami dan istri, ketika
relasi keduanya kurang harmonis yang mungkin diakibatkan oleh
banyaknya persoalan ataupun tekanan-tekanan hidup yang dirasakan.
Komunikasi dalam keluarga adalah hal yang penting dalam membangun
komitmen bersama. Belis dan permasalahan yang terjadi di dalamnya
membuat peneliti tertarik dalam meneliti studi kasus mengenai
kebermaknaan hidup pasangan suami isteri yang belum membayar belis
pada masyarakat Flores Timur.
A. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti :
Bagaimana gambaran kebermaknaan hidup pasangan suami istri yang
belum membayar belis pada masyarakat Flores Timur?
B. Tujuan Penulisan
Mengetahui dan menganalisis gambaran kebermaknaan hidup pasangan
suami istri yang belum membayar belis pada masyarakat Flores Timur.
C. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis, yaitu:
7
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui kebermaknaan
hidup pasangan suami istri yang belum membayar belis pada
masyarakat Flores Timur.
2. Manfaat praktis :
a. Peneliti
Penelitian ini bermanfaat dalam proses berlatih di bidang penelitian
sehingga dapat mengembangkan pengetahuan peneliti mengenai
kebermaknaan hidup pasangan suami istri pada masyarakat Flores
Timur dan masalah belis.
b. Pembaca
Dapat memberi informasi yang berguna bagi para pembaca dalam
memaknai kebermaknaan hidup dalam pasangan suami istri
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kebermaknaan Hidup (Suami – Istri) 1. Pengertian kebermaknaan hidup
Kebermaknaan hidup menurut Ancok (dalam Aisyah, 2007) adalah
seberapa tinggi individu menilai hidupnya bermaksud atau berarti. Arti
kebermaknaan hidup adalah sebuah motivasi yang kuat dan mendorong
orang untuk melakukan suatu kegiatan yang berguna. Hidup yang
berguna adalah hidup yang terus memberi makna pada diri sendiri dan
orang lain. Kebermaknaan hidup akan di miliki seseorang jika dia dapat
mengetahui apa makna hidup dan tujuan hidupnya.
Makna hidup menurut Bastaman (2007: 45) adalah hal-hal yang
dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus
bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the
purpose in life). Makna hidup mengandung tujuan hidup yang
menyangkut hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi, setiap orang
memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda apabila tujuan hidup ini
terpenuhi maka akan menyebabkan seseorang ataupun pasangan
merasakan kehidupan yang berarti dan akhirnya akan menimbulkan
perasaan bahagia. Makna hidup ada dalam kehidupan itu sendiri dan
dapat ditemukan dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tidak
Individu bebas menentukan caranya sendiri dalam menemukan dan
menciptakan makna hidupnya. Penemuan dan penciptaan makna hidup
menjadi tanggung jawab individu itu sendiri dan tidak dapat diserahkan
kepada orang lain. Hanya individu itu sendirilah yang mampu merasakan
dan mengalami makna hidupnya. Makna hidup dapat ditemukan dalam
setiap keadaan, tidak saja dalam keadaan normal dan menyenangkan tetapi
juga dalam penderitaan. Apabila hasrat makna hidup ini dapat terpenuhi,
maka kehidupan akan dirasakan berguna, berharga dan berarti. Namun
sebaliknya bila hasrat ini tidak terpenuhi akan menyebabkan kehidupan
dirasakan tidak bermakna. Harapan sebagai makna hidup. Menurut Victor
Frankl hidup ini menjadi bermakna, yaitu harapan (hope). Harapan adalah
keyakinan akan terjadiya hal-hal yang baik atau perubahan yang
menguntungkan di kemudian hari (Bastaman, 2007:50). Harapan itu belum
tentu menjadi nyata tapi harapan bisa menjadi sebuah peluang atau solusi
yang dapat menimbulkan semangat dan optimisme.
Menurut Frankl (Bastaman, 2007:14) makna hidup dapat ditemukan
dalam setiap keadaan, tidak saja dalam keadaan normal dan menyenangkan,
tetapi juga dalam penderitaan, seperti dalam keadaan sakit, bersalah, dan
kematian. Hidup sebagai sebuah kesadaran akan adanya satu kesempatan
atau kemungkinan yang dilatarbelakangi faktor realitas atau menyadari apa
yang bisa dilakukan dalam situasi tertentu. Seorang individu dapat
dalam hidupnya secara sadar. Ini membuat individu belajar memahami
realita sebenarnya dari kehidupannya dengan kualitas penghayatan individu
terhadap seberapa besar dirinya dapat mengembangkan potensi yang
dimilikinya dan seberapa jauh individu telah berhasil mencapai tujuan-tujuan
hidupnya untuk memberi arti terhadap kehidupannya.
1. Ciri Kebermaknaan hidup
Frankl (Bastaman, 2005) menyebutkan ciri-ciri orang yang dapat
memaknai hidupnya adalah sebagai berikut :
a. Kehidupannya penuh semangat atau optimis
b. Memiliki tujuan hidup jelas yang berorientasi pada masa depan
c. Memiliki kebebasan memilih
d. Bertanggungjawab terhadap tingkah lakunya dan kontrol diri yang sadar
e. Kegiatan yang di lakukan lebih terarah
f. Tidak di tentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya
g. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
h. Luwes dalam bergaul tetapi tidak sampai terbawa-bawa atau kehilangan
identitas diri
i. Dapat menemukan arti kehidupan yang cocok
j. Tabah apabila dihadapkan pada suatu pederitaan dan menyadari ada
hikmah di balik penderitan
k. Komitmen pada pekerjaan
m. Mampu mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, nilai-nilai pengalaman
atau nilai-nilai sikap
2. Aspek- Aspek kebermaknaan hidup
Menurut Frankl (Safaria, 2005: 147-149), terdapat tiga aspek dari
kebermaknaan hidup yang saling terkait satu sama lainnya yaitu :
a. Kebebasan berkehendak (Freedom of will)
Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan sikap ketika
berhadapan dengan berbagai situasi. Kebebasan ini bukan berarti bahwa
manusia mampu membebaskan diri dari kondisi-kondisi biologis,
psikologis maupun sosiologis, akan tetapi manusia mempunyai
kebebasan untuk menentukan sikapnya terhadap suatu hal. Kebebasan
ini membuat manusia mampu mengambil jarak bagi dirinya sendiri dan
membuat manusia mampu menentukan apa yang diinginkannya untuk
kehidupannya. Kebebasan ini menuntut manusia untuk mampu
mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri, sehingga mencegahnya
dari kebebasan yang bersifat kesewenangan.
b. Kehendak hidup bermakna (Will to meaning)
Kehendak hidup bermakna merupakan motivasi utama manusia. Hasrat
inilah yang memotivasi setiap orang untuk bekerja, berkarya dan
melakukan kegiatan-kegiatan penting lainnya. Manusia selalu mencari
hidup bermakna ini selalu mendorong setiap manusia untuk memenuhi
makna tersebut.
c. Makna hidup (Meaning of life)
Makna hidup akan menjadikan manusia mampu memenuhi
kebermaknaan hidupnya. Manusia akan kehilangan arti dalam
kehidupannya sehari-hari jika tanpa makna hidup. Dalam makna hidup
terkandung pula tujuan hidup manusia, sehingga antara keduanya
(makna hidup dan tujuan hidup) tidak bisa dibedakan.
Ketiga aspek kebermaknaan hidup di atas saling berkaitan yaitu
kebebasan berkehendak (Freedom of will) tidak akan lepas dengan kehendak
hidup bermakna (Will to meaning) dan makna hidup (Meaning of life).
Artinya bahwa setiap orang mempunyai kehendak untuk memotivasi dirinya
untuk melakukan segala hal dalam kehidupannya agar dapat memenuhi
kebermaknaan hidupnya. Jadi ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan
karena saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
3. Menemukan Makna Hidup
Ada banyak cara menemukan makna hidup, sehingga kita mampu meraih
hidup bermakna meskipun pada penderitaan dan musibah. Bastaman (dalam
Safaria,2005: 152-162) menjelaskan lima langkah untuk menemukan makna
a. Evaluasi Diri (Self Evaluation).
Langkah pertama ini membantu individu memperluas dan memahami
beberapa aspek kepribadian serta corak kehidupan. Pada langkah awal,
individu harus mengenali kelemahan-kelemahan diri dan berusaha
mengurangi kelemahan-kelemahan tersebut. Setelah itu, individu
memusatkan energi untuk meningkatkan kelebihan-kelebihan yang
dimiliki dan mengoptimalkan potensi diri, sehingga mampu mencapai
kesuksesan. Dengan mengenali dan memahami berbagai aspek dalam
hidup, maka individu akan lebih mampu menyesuaikan diri ketika
menghadapi masalah-masalah, baik yang berhubungan dengan diri sendiri
maupun dengan orang lain.
b. Bertindak positif.
Langkah kedua ini berorientasi pada tindakan nyata untuk mencapai
kebermaknaan hidup. Individu tidak lagi hanya sekedar berpikir positif,
tetapi diwujudkan dalam bentuk perilaku yang positif. Jika pada berpikir
positif ditanamkan hal-hal yang baik dan bermanfaat dengan harapan
akan terungkap dalam perilaku nyata, maka bertindak positif adalah
mencoba menerapkan hal-hal yang baik tersebut dalam perilaku dan
tindakan nyata sehari-hari.Tindakan-tindakan positif ini jika dilakukan
c. Pengakraban hubungan (Personal encounter).
Hubungan individu dengan orang lain merupakan sumber nilai-nilai dan
makna hidup. Inilah yang melandasi metode pengakraban hubungan.
Hubungan akrab yang dimaksud adalah hubungan antara satu individu
dengan individu lain, sehingga dihayati sebagai hubungan yang dekat,
mendalam, saling percaya dan saling memahami. Untuk mengembangkan
hubungan yang positif dengan orang lain, individu perlu menerapkan 2
prinsip pengakraban hubungan. Prinsip yang pertama adalah prinsip
pelayanan, yaitu berusaha mengetahui apa yang diperlukan orang lain,
dan kemudian berusaha untuk memenuhinya. Prinsip kedua adalah
prinsip memberi dan menerima, artinya lebih dahulu berbuat jasa pada
orang lain, yang kemudian orang lain akan dengan sukarela membalas
kebaikan itu.
d. Pendalaman nilai (Exploring human values).
Makna hidup dapat ditemukan dengan pendalaman nilai-nilai hidup
seperti yang dikemukakan Bastaman (2007: 47-49), yaitu:
1) Nilai-nilai kreatif (creative values): kegiatan berkarya, bekerja,
mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya
2) Nilai-nilai penghayatan (experiental values): yaitu keyakinan dan
penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan,
keimanan dan keagamaan, serta cinta kasih.
3) Nilai-nilai bersikap (attitudinal values): yaitu menerima dengan
penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk
penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi, seperti sakit yang tak
dapat disembuhkan, kematian dan menjelang kematian setelah segala
upaya dan ikhtiar dilakukan secara maksimal.
e. Ibadah (Spiritual encounter).
Dengan pendekatan kepada Tuhan, individu akan menemukan
berbagai makna hidup yang dibutuhkan. Dengan beribadah, individu akan
mendapatkan kedamaian, ketenangan dan pemenuhan harapan. Karena
individu juga perlu mengembangkan kebermaknaan spiritual sehingga
dapat memperoleh makna yang lebih mendalam dalam hidup.
Dalam kehidupan sehari-hari baik secara sadar maupun tidak sadar,
individu akan melewati atau mengalami ke lima langkah tersebut, tetapi
semua hal tersebut kembali lagi kepada setiap individu dalam menghayati
kelima langkah tersebut agar dapat menemukan makna hidupnya. Pada
pribadi yang telah dewasa mereka dapat melihat setiap langkah tersebut
sebagai penunjang kehidupannya dalam bermasyarakat dan dapat berguna
bagi dirinya sendiri untuk menemukan makna hidupnya karena apa yang
4. Komponen keberhasilan kebermaknaan hidup
Menurut Bastaman (1996:132), ada 6 (enam) komponen yang menentukan
hidup tak bermakna menjadi hidup bermakna. Keenam komponen tersebut
antara lain yaitu:
a. Pemahaman diri (self insight), yakni meningkatnya kesadaran atas
buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan
perubahan ke arah kondisi yang lebih baik. Individu memiliki kemampuan
untuk mengambil sikap yang tepat terhadap segala peristiwa, baik yang
tragis maupun yang sempurna.
b. Makna hidup (The meaning of life), yakni nilai-nilai penting dan sangat
berarti bagi kehidupan pribadi yang berfungi sebagai tujuan yang harus
dipenuhi dan pengarah kegiatan-kegiatannya.
c. Pengubahan sikap (Changing attitude), yakni pengubahan sikap dari yang
semula bersikap negatif dan tidak tepat menjadi mampu bersikap positif
dan lebih tepat dalam menghadapi masalah, kondisi hidup dan musibah
yang tak terelakkan. Seringkali bukan peristiwanya yang membuat individu
merasa sedih dan terluka, namun karena sikap negatif dalam menghadapi
peristiwa tersebut.
d. Keikatan diri (Self commitment), yakni komitmen individu terhadap makna
kuat akan membawa individu pada pencapaian makna hidup yang lebih
mendalam.
e. Kegiatan terarah (Directed activities), yakni upaya-upaya yang dilakukan
secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensi-potensi (bakat,
kemampuan dan keterampilan) yang positif serta pemanfaatan relasi antar
pribadi untuk menunjang tercapainya makna dan tujuan hidup.
f. Dukungan sosial (Social support), yakni hadirnya seseorang atau
sejumlah orang yang akrab, dapat dipercaya dan selalu bersedia memberi
bantuan pada saat-saat diperlukan.
Kebermaknaan hidup pasangan suami istri dapat di artikan sebagai
seberapa tinggi individu menilai dirinya bermakna atau berarti di dalam
persekutuan hidup yang di bangun bersama pasangannya. Kebermaknaan
hidup dalam suatu perkawinan menjadi hal yang wajib di perhatikan oleh
pasangan suami istri, sehingga tujuan untuk membangun keluarga yang
bahagia bisa tercapai. Sudah seharusnnya pasangan suami istri menyadari
bahwa hidupnya harus memiliki makna, baik bagi dirinya maupun bagi
pasangannya.
Kebermaknaan hidup dalam perkawinan menurut Gilarso (1996: 23-27)
1) Komunikasi dalam keluarga
Komunikasi adalah suatu proses timbal- balik antara dua orang, yang
seorang memberi informasi, isyarat dan yang lain menerima informasi.
meresponnya maka hal ini dikatakan melakukan komunikasi. Syarat
mutlak komunikasi adalah yang satu mau bicara, membuka hati dan
secara jujur berani mengungkapkan keinginan-keinginan dan isi
hatinya sedangkan yang lain mau mendengarkan, mau menerima dan
mau mengerti.
Dalam persekutuan perkawinan, dua pribadi dengan segala
kekhususannya bergabung menjadi satu dan saling melengkapi dengan
saling memahami dan menghormati, dengan demikian dengan adanya
komunikasi mereka justru saling memperkaya. Agar komunikasi dapat
berlangsung yang perlu diusahakan adalah suasana yang
mendukung.Hal ini dapat dilihat dari hal-hal berikut
a) Relasi dengan istri atau suami di nomor satukan di atas
segala-galanya
b) Salah satu tugas penting istri adalah menciptakan suasana yang
menyenangkan di rumah, sehingga suami dan anak-anak bisa
betah bila berada di rumah.
c) Masalah-masalah yang menyangkut kepentingan keluarga
sebaiknya di rundingkan bersama, sampai tercapai mufakat atau
paling tidak saling pengertian.
d) Kunci dan syarat mutlak komunikasi adalah kerelaan dan
kemampuan untuk mendengarkan, bila yang satu bicara yang lain
e) Untuk komunikasi yang baik hendaknya harus bisa melihat
dengan keadaan yaitu memilih waktu dan kesempatan serta tempat
yang sesuai.
2) Tugas Dan Harapan Suami – Istri
Tugas dan harapan suami-istri terbentuk sebelum dan sesudah
perkawinan. Dalam perkawinan secara Kristiani telah diberi hak dan
kewajiban tertentu kepada pasangan setelah menikah, di mana itu
menjadi tugas suci yang harus dijaga dan dilaksanakan. Gilarso pun
(1996:23-27) melanjutkan bahwa terdapat harapan atau impian yang
indah dari pasangan suami-istri baik yang telah direncanakan sebelum
dan sesudah perkawinan.
a) Tugas Suami – Istri
Tugas suami- istri adalah hak dan kewajiban dalam pernikahan
yang mencakup beberapa hal sebagai berikut;
(1) Membangun keluarga penuh cinta kasih
Melalui pernikahan, suami-istri membangun suatu
persekutuan cinta yang kita sebut keluarga kristiani.Cinta itu
pertama-tama harus diusahakan antara mereka berdua sendiri,
kemudian kepada anak-anak, dan juga kepada sanak
saudara,tetangga, lingkungan dan akhirnya kepada semua
orang.
Anak-anak membutuhkan bantuan orang dewasa agar dapat
berkembang dengan baik. Suami-istri diharapkan dapat
mendidik generasi muda terutama anak-anak mereka sendiri.
(3) Ikut membangun masyarakat
Masyarakat terbentuk dari keluarga-keluarga. Keluarga adalah
sel terkecil masyarakat. Keluarga juga terpanggil untuk hidup
bermasyarakat dengan sebaik-baiknya dan ikut membangun
masyarakat, dengan membentuk pribadi-pribadi yang baik,
jujur dan adil sesuai dengan aturan-aturan yang ada di
masyarakat setempat dan sesuai dengan apa yang di harapkan
bersama.
b) Harapan Antar Pasangan
(1) Harapan pria terhadap istrinya
Pria mengharapkan cinta istri terungkap antara lain dalam hal:
(a) Istri memelihara, mengurus keperluan pribadi suami
seperti pakaian, makanan, penampilan.
(b) Istri pandai mengurus rumah tangga sehingga rumah
menjadi tempat yang bersih dan menyenangkan bagi
suami dan anak-anak.
(c) Istri mendukung pekerjaan suami, tetapi juga
memberikan kebebasan kepada suami dalam bekerja,
(d) Istri sebagai mitra sejajar dalam membangun keluarga,
yang penuh pengertian dan dapat menjadi teman berbagi
rasa dalam suka dan duka.
(e) Istri menunjukan dengan tanda-tanda dan sikapnya bahwa
ia memerlukan suaminya, membutuhkan dukungan,
perhatian dan cinta kasihnya tanpa menuntut seluruh
perhatian suami untuk dirinya dan kepentingannya sendiri
(2) Harapan wanita terhadap suaminya
Wanita mengharapkan suaminya menyatakan cintanya
tidak hanya secara intelektual saja tetapi juga secara
emosional, serta mau mengerti, menghargai, dan menerima
dirinya sebagaimana adanya. Hal ini akan terungkap dalam
hal:
(a) Suami bersikap sebagai ayah, kekasih dan sahabat
terhadap istrinya, sehingga istri merasa aman di samping
suami dan bebas menjadi dirinya sendiri.
(b) memperhatikan kebutuhan dan kebahagiaan istri, tidak
bertindak kasar dan tidak melukai hatinya. Suami
menunjukan dengan sikap, kata-kata dan perbuatan
bahwa ia sungguh menyayangi istrinya, serta
(c) Suami memberikan kebebasan kepada istri dalam hal
mengurus rumah tangga.
(d) Kesetiaan suami terjamin, yang juga tampak dari
keterbukaan, sikap jujur dan dapat di percaya.
(e) Suami mau memahami perasaan istrinya, sekaligus dapat
mengendalikan dan memberi arah pada perasaan istri,
dengan sikap yang rasional dan berpendirian tegas dalam
komunikasi dari hati ke hati.
(f) Suami menghargai, membantu, mendorong dan
mendukung karir istri (bila istri juga bekerja) serta
keterlibatannya dalam lingkungan masyarakat.
(3) Harapan Sosial
Harapan sosial antara lain menyangkut peranan/status,
dulu statusnya sebagai sebagai anak dari orang tuanya,
sekarang berubah statusnya menjadi suami atau istri. Dahulu
bujangan, masih bebas bergerak, sekarang masuk kelompok
“bapak atau ibu”. Biasanya suami sebagai kepala keluarga
bertanggung jawab keluar, sedang urusan rumah tangga
menjadi tugas ibu.
Pendidikan anak merupakan hak dan tanggung jawab
orang tua bersama. Untuk mewujudkan harapan-harapan
bersama sebagai pasangan. Bila mereka berhasil dalam
memenuhi harapan tersebut, mereka akan mengalami kepuasan
dan kebahagiaan dari kebermaknaan hidup dari sebuah
perkawinanyang luar biasa. Suami istri sama-sama
bertanggungjawab terhadap masa depan anak-anak mereka.
Pendidikan yang terbaik bermula di dalam keluarga.
B. Belis Dalam Perkawinan Masyarakat Flores Timur
1. Pengertian Belis
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, belis merupakan sebutan lain
untuk maskawin yang digunakan didaerah Nusa Tenggara Timur. Belis juga
sering disebut mahar atau harga pengantin perempuan. Orang suku Lamaholot
menyebut belis dengan Weling Elang yang merupakan pemberian dari
mempelai laki-laki kepada pengantin perempuan. Pemberian wajib berupa
uang atau barang tertentu dari mempelai laki-laki kepada mempelai
perempuan ketika dilakukan angkat nikah. Belis pun membawa arti bahwa
seorang wanita telah keluar dari suku asalnya dan sebagai alat mempererat
hubungan kekeluargaan (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, 2003: 59).
2. Belis Dalam Masyarakat Flores Timur
Belis menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan UPTD Arkeologi,
Kajian Sejarah dan nilai tradisional Propinsi NTT (2003:114-115) merupakan
dalam belis ini mengandung nilai-nilai penghargaan terhadap generasi tua.
Penghormatan terhadap generasi yang lebih tua menunjukkan adanya tata
sopan santun yang tinggi dan sangat penting artinya bagi kelanjutan generasi.
Adat serta upacara perkawinan juga merupakan suatu proses pembinaan dan
pewaris nilai budaya kepada generasi ke generasi. Dengan demikian generasi
baru tetap mempunyai akar yang kokoh dan tidak hilang kepribadiannya
dengan adanya pengaruh-pengaruh dari luar. Dari upacara perkawinan dan
dengan adanya belis nampak adanya nilai-nilai sosial yang di junjung tinggi
dan bukanlah nilai-nilai individu yang di tonjolkan individu sebagai anggota
keluarga suku bangsa, bukanlah berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari
ikatan yang lebih luas dan terdapat nilai tertentu yang perlu ditaati,
nilai-nilai kegotong-royongan dalam melaksanakan peristiwa-peristiwa penting
adalah cukup menonjol. Ikatan perkawinan dengan adanya belis mempunyai
nilai penting dalam rangka pemantapan dan pengekalan ikatan secara lahir
batin dari suami istri dan keluarga kedua belah pihak. Dalam masyarakat
Flores Timur yang menentukan besar kecilnya belis adalah saudara laki-laki
dari ibu atau saudara laki-laki wanita tersebut. Walaupun besar kecilnya belis
ditentukan oleh keluarga wanita, tetapi dalam pelaksanannya selalu
berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Adat perkawinan Lamaholot
pada umumnya selalu ditandai dengan belis dan hantaran lain seperti binatang
Lamaholot, dalam adat perkawinannya memiliki berbagai macam dan ragam
jenis perkawinan.
Wanita dalam masyarakat Lamaholot sangat dijunjung tinggi.Ini dapat
dilihat lewat pemberian belis memakai gading yang dalam masyarakat
Lamaholot merupakan barang yang mahal. Flores dikenal sebagai daerah yang
tidak menjadi tempat berkembang biak gajah, namun di daerah tersebut
khususnya Flores Timur masih ditemui gading-gading gajah. Perkawinan
menjadi sesuatu yang sakral dan menjadi pesta besar dalam peristiwa adat.
Kehidupan wanita dalam adat istiadat Lamaholot sangat tinggi
nilainya. Wanita merupakan pusat kehidupan masyarakat karena itu harus
diperhatikan oleh yang mengelilinginya. Nilai seorang wanita pada mas kawin
yang dikonkritkan dalam jumlah dan ukuran gading gajah yang sulit
diperoleh, besar kecilnya gading yang diberikan kepada keluarga wanita
ditentukan bersama sesuai kesepakatan keluarga wanita dan keluarga laki-laki.
Orang Lamaholot memandang perempuan sebagai Ibu Kehidupan, sosok yang
menyerahkan diri untuk kehidupan bahkan sebagai sumber kehidupan itu
sendiri. Pantaslah apabila seorang wanita Lamaholot yang mana sebagai
sumber kehidupan dan sosok yang rela berkorban demi kehidupan harus diberi
penghargaan dan penghormatan. Salah satu ungkapan penghormatan dan
penghargaan terhadap perempuan sebagai ibu kehidupan dan sosok yang rela
Jasa leluhur seorang wanita Lamaholot tidak dapat dibeli dengan uang.
Perempuan hanya dapat dihormati, dihargai dan dikenang, sehingga bagi
masyarakat Lamaholot, belis yang diberikan keluarga pria kepada keluarga
wanita tidak dilihat sebagai harga wanita tersebut melainkan sebuah bentuk
penghargaan, penghormatan terhadap wanita dan sebagai bentuk pemersatu
ikatan persaudaraan antara pemberi gadis (Opu Lake) dan (Opu Bine). Belis
berupa gading yang diberikan oleh pihak keluarga laki-laki kepada pihak
keluarga perempuan tidak diberikan secara gratis. Pihak keluarga laki-laki
juga akan mendapatkan balasan dari pihak keluarga perempuan berupa sarung
adat (Kwatek/Kriok), gelang gading (Kala Bala) dan pakaian lainnya yang
disebut owe waak.
Adat perkawinan Lika Telo, dalam urusan adat proses penyelesaian
belis dapat dilakukan dengan dua cara yakni: pembayaran secara langsung
berupa gading dan pembayaran dengan cara putar (Geuk), Dalam pembayaran
belis secara langsung dilakukan dengan memberi belis berupa gading, hal ini
dapat dilakukan secara sekaligus, tetapi ada juga yang harus diutang dan akan
dibayar pada kemudian hari setelah upacara perkawinan. Pembayaran dengan
cara putar (Geuk) dilakukan dengan memberi belis berupa gading dari saudari
kandungnya yang sudah menikah.
Apabila belis belum dilunasi maka tergantung pada perjanjian keluarga
kedua belah pihak. Namun secara adat perkawinan Lamaholot, jika belis
Artinya, suami masuk atau tinggal dalam lingkungan keluarga wanita (Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan NTT, 2003: 60). Dalam pelunasan belis ini pun
dapat saling membantu baik dalam keluarga maupun suku, tergantung sejauh
mana sikap hidup sosial kolektif dalam masyarakat. Orang Lamaholot
berpendapat bahwa urusan seorang anggota suku merupakan urusan suku,
28
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini digolongkan dalam penelitian kualitatif. Pendekatan
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif,
di mana proses penelitiannya didasarkan pada teori yang relevan dengan
permasalahan yang diteliti untuk menemukan solusi dalam permasalahan
tersebut. Alasan peneliti memilih pendekatan kualitatif, karena ini berkaitan
dengan konsep judul dan rumusan masalah yang dikemukakan pada
pendahuluan. (Abdurahman 2003:51) menambahkan bahwa melalui metode
pendekatan kualitatif ini, peneliti akan melakukan penelitian secara intensif,
terinci, dan mendalam terhadap organisasi, kelompok atau lembaga, dan
gejala tertentu dalam masyarakat.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus
karena pendekataan ini dianggap mampu mengeksplorasi suatu masalah
dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam dan
menyertakan berbagai sumber . Studi kasus menjadi berguna terutama ketika
orang perlu memahami suatu problem atau situasi tertentu, dan di mana orang
dapat mengidentifikasi kasus yang kaya dengan informasi.
Metode penelitian studi kasus menurut Jasa Ungguh Muliawan (2014:
85) adalah metode penelitian yang berusaha meneliti, mengurai dan mencari
solusi atau jalan keluar terbaik mengatasi masalah yang dihadapi. Sedangkan
menyatakan bahwa studi kasus adalah suatu kajian yang rinci tentang satu
latar, atau, subjek tunggal, atau satu tempat penyimpanan dokumen atau suatu
peristiwa tertentu. Definisi lain dalam Rulam Ahmadi (2014:69)
mengetengahkan bahwa studi kasus adalah kasus khusus yang dibatasi secara
jelas (atau serangkaian kasus), suatu kasus itu bisa berupa individu, keluarga,
pusat kesehatan masyarakat, rumah perawat, atau suatu organisasi. Masih
menurut Rulam Ahmadi (2014: 77) mengemukakan pendapat dari Patton
yang menyatakan bahwa studi kasus adalah perlakuan deskriptik, analitik,
interpretatif, dan evaluatif yang lebih komprehensif yang ada dalam rekaman
kasus.
Dari beberapa pendapat mengenai Studi kasus di atas dapat
disimpulkan bahwa Studi Kasus adalah Metode penelitian yang meneliti
tentang kasus khusus mengenai keluarga, dalam hal ini tentang studi kasus
kebermaknaan hidup pasangan suami istri yang belum membayar belis pada
masyarakat Flores Timur. Dengan studi kasus ini dimungkinkan untuk
melakukan studi secara lebih dalam dan detail.
Proses mengonstruksi studi kasus ini melalui tiga tahapan,
sebagaimana dikemukakan oleh Patton dalam Rulam Ahmadi (2014:78)
sebagai berikut: pertama adalah tahap mengumpulkan data mentah. Kedua
adalah tahap mengonstruk rekaman kasus. Ketiga adalah tahap terakhir
adalah Tahap menulis narasi studi kasus.
Dengan menggunakan pendekatan Studi kasus, lebih menekankan
dunia konseptual para subjek yang diteliti sedemikian rupa, sehingga mereka
mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh
mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Peneliti
menggunakan pendekatan ini untuk mengetahui makna hidup dengan
menggali penghayatan subjek terhadap usahanya sendiri agar memperoleh
makna hidupnya.
A. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memilih pasangan yang sudah menikah
namun belum membayar belis. Serta seseorang yang dekat dengan pasangan
tersebut. Berikut identitas dari subjek penelitian:
a. Subjek 1 adalah suami berinisial GS. Umur 52 tahun dan berprofesi
sebagai polisi.
b. Subjek 2 adalah istri GS berinisial EB. Umur 48 tahun dan berprofesi
sebagai guru.
c. Subjek 3 adalah orang terdekat dari pasangan tersbut berinisial MM.
Umur 60 tahun dan seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
2. Objek Penelitian
Objek penelitian yang diangkat dalam penelitian ini adalah
kebermaknaan hidup pasangan suami isteri yang belum membayar “Belis”
B. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan pada tahap pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah metode observasi dan wawancara. Observasi merupakan
metode pengamatan dan pencatatan secara sistematis tentang
fenomena-fenomena yang diteliti (Sutrisno, 1990:136). Observasi dilakukan penulis di
lapangan sampai dianggap cukup mengetahui fenomena yang diteliti. Sutrino
menambahkan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks,
suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua
diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan proses ingatan.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian
berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila
responden yang diamati tidak terlalu besar. Dalam penelitian digunakan
observasi terus terang (Sugiyono, 2011:132), di mana sumber data atau
subjek yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir aktivitas peneliti.
Wawancara merupakan kegiatan menghimpun data dengan jalan
melakukan tanya jawab lisan secara tatap muka dengan siapa saja yang
diperlukan atau dikehendaki (Sutrisno, 1990:136). Wawancara merupakan
pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya.
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah
wawancara mendalam. Wawancara mendalam adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap
muka antara pewawancara dengan informan atau tanpa menggunakan
C. Alat Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan lembar pengamatan,
pedoman wawancara, tape recorder, lembar riwayat hidup, lembar observasi
dan alat tulis.
1. Lembar Pengamatan
Lembar pengamatan mencangkup berbagai informasi umum seputar
prosedur dan tujuan dari suatu penelitian. Kemudian pada lembar
pengamatan ini juga dijabarkan bahwa (1) alat perekam suara
dipergunakan semata-mata untuk kelancaran sesi tanya jawab, (2) identitas
diri subjek akan tetap terjamin kerahasiaannya. Semua hal ini
dimaksudkan agar para subjek merasa lebih nyaman dalam proses
wawancara.
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara ini digunakan agar penulis dapat mengajukan
pertanyaan yang fokus pada masalah yang ingin diteliti (terlampir).
3. Tape Recorder
Untuk memperoleh data secermat dan selengkap mungkin, peneliti
menggunakan tape recorder agar dapat berkonsentrasi penuh terhadap
informasi yang diberikan responden dan data yang penulis peroleh juga
lengkap sehingga penulis lebih leluasa untuk merumuskan temuannya.
Tentusaja harus meminta izin terlebih dahulu pada subjek sebelum
4. Lembar Riwayat Hidup
Lembar ini dipergunakan agar sebelum melakukan wawancara, penulis
sudah mengetahui sedikit informasi tentang subjeknya. Di dalam lembar
riwayat hidup terdapat beberapa hal yang harus diisi oleh subjek seperti:
nama, alamat, usia, nomor telepon, suku, dan lain-lain. Hal ini
dimaksudkan untuk mempermudah penulis untuk menghubungi subjek
jika sewaktu waktu ada data yang masih kurang jelas atau kurang lengkap.
5. Lembar Observasi
Lembar ini berguna untuk mencatat perilaku-perilaku yang ditampilkan
oleh subjek selama proses wawancara, seperti nada bicara, ekspresi wajah,
bahasa tubuh, dan sebagainya.
6. Alat Tulis
Alat tulis digunakan untuk membantu pencatatan saat melakukan
observasi.
D. Teknik Analisis Data
Data yang sudah terkumpul akan di analisis dengan menggunakan
metode kualitatif. Menurut Patton (Poerwandari, 2007:163) penelitian
kualitatif tidak memiliki aturan-aturan absolute untuk mengolah dan
menganalisis data. Peneliti harus memonitor, melaporkan proses dan
prosedur-prosedur analisis secara jujur dan selengkap mungkin. Oleh karena
itu, setelah melakukan wawancara terhadap subjek maka peneliti melakukan
1. Verbatim
Data mentah berupa catatan lapangan dan kaset hasil rekaman, diproses
secara verbatim atau kata demi kata.
2. Melakukan analisis awal
Dengan memperhatikan apakah ada hal-hal yang terlewatkan, kurang jelas
atau perlu digali lebih dalam, Bila ditemukan hal-halyang memerlukan
penjelasan lebih lanjut,penulis kembali menghubungi Subjek dan meminta
kesediaan untuk diwawancarai sekali lagi sampai data yang dibutuhkan
sudah berhasil terkumpul seluruhnya.
3. Kategori
Peneliti mengelompokan data ke dalam kategori-kategori. Peneliti
menjabarkan kode-kode secara luas melalui skema. Setelah itu, peneliti
menyusun catatan pencarian dan penemuan untuk memudahkan pencarian
berbagai kategori data.
4. Analisis dengan teori
(Patton, 2009) menjelaskan bahwa proses analisis dapat melibatkan
konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata-kata responden sendiri
(indigeneous concepts) maupun konsep-konsep yang dikembangkan atau
dipilih peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis (sensitizing
concepts). Peneliti melakukan intepretasi pemahaman teoritis yaitu upaya
memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam dengan
E. Metode Keabsahan Data
Penelitian ini metode menggunakan metode pemerikasaan data
dengan teknik yang digunakan adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain.
Penelitian ini menggunakan triangulasi metode, yaitu peneliti
membandingkan temuan data yang diperoleh dengan menggunakan suatu
metode tertentu yaitu data hasil pengamatan di lapangan (observasi) dengan
data hasil perolehan wawancara (Pawito, 2007:99).
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data dan sumber data yang telah ada ( Sugiono, 2011:330).
Triangulasi data berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang
berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti
menggunakan observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi untuk
sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk
mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.
Keabsahan data dalam penelitian ini dengan mendapatkan informasi
data dari subjek 1 yaitu suami berinisial GS dan subjek 2 yaitu istri berinisial
EB serta orang terdekat mereka yakni om dari pasangan tersebut berinisial
menyatakan bahwa studi kasus adalah suatu kajian yang rinci tentang satu
latar, atau, subjek tunggal, atau satu tempat penyimpanan dokumen atau suatu
peristiwa tertentu. Definisi lain dalam Rulam Ahmadi (2014:69)
mengetengahkan bahwa studi kasus adalah kasus khusus yang dibatasi secara
jelas (atau serangkaian kasus), suatu kasus itu bisa berupa individu, keluarga,
pusat kesehatan masyarakat, rumah perawat, atau suatu organisasi. Masih
menurut Rulam Ahmadi (2014: 77) mengemukakan pendapat dari Patton
yang menyatakan bahwa studi kasus adalah perlakuan deskriptik, analitik,
interpretatif, dan evaluatif yang lebih komprehensif yang ada dalam rekaman
kasus.
Dari beberapa pendapat mengenai Studi kasus di atas dapat
disimpulkan bahwa Studi Kasus adalah Metode penelitian yang meneliti
tentang kasus khusus mengenai keluarga, dalam hal ini tentang studi kasus
kebermaknaan hidup pasangan suami istri yang belum membayar belis pada
masyarakat Flores Timur. Dengan studi kasus ini dimungkinkan untuk
melakukan studi secara lebih dalam dan detail.
Proses mengonstruksi studi kasus ini melalui tiga tahapan,
sebagaimana dikemukakan oleh Patton dalam Rulam Ahmadi (2014:78)
sebagai berikut: pertama adalah tahap mengumpulkan data mentah. Kedua
adalah tahap mengonstruk rekaman kasus. Ketiga adalah tahap terakhir
adalah Tahap menulis narasi studi kasus.
Dengan menggunakan pendekatan Studi kasus, lebih menekankan
dunia konseptual para subjek yang diteliti sedemikian rupa, sehingga mereka
mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh
mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Peneliti
menggunakan pendekatan ini untuk mengetahui makna hidup dengan
menggali penghayatan subjek terhadap usahanya sendiri agar memperoleh
makna hidupnya.
A. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memilih pasangan yang sudah menikah
namun belum membayar belis. Serta seseorang yang dekat dengan pasangan
tersebut. Berikut identitas dari subjek penelitian:
a. Subjek 1 adalah suami berinisial GS. Umur 52 tahun dan berprofesi
sebagai polisi.
b. Subjek 2 adalah istri GS berinisial EB. Umur 48 tahun dan berprofesi
sebagai guru.
c. Subjek 3 adalah orang terdekat dari pasangan tersbut berinisial MM.
Umur 60 tahun dan seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
2. Objek Penelitian
Objek penelitian yang diangkat dalam penelitian ini adalah
kebermaknaan hidup pasangan suami isteri yang belum membayar “Belis”
B. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan pada tahap pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah metode observasi dan wawancara. Observasi merupakan
metode pengamatan dan pencatatan secara sistematis tentang
fenomena-fenomena yang diteliti (Sutrisno, 1990:136). Observasi dilakukan penulis di
lapangan sampai dianggap cukup mengetahui fenomena yang diteliti. Sutrino
menambahkan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks,
suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua
diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan proses ingatan.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian
berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila
responden yang diamati tidak terlalu besar. Dalam penelitian digunakan
observasi terus terang (Sugiyono, 2011:132), di mana sumber data atau
subjek yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir aktivitas peneliti.
Wawancara merupakan kegiatan menghimpun data dengan jalan
melakukan tanya jawab lisan secara tatap muka dengan siapa saja yang
diperlukan atau dikehendaki (Sutrisno, 1990:136). Wawancara merupakan
pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya.
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah
wawancara mendalam. Wawancara mendalam adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap
muka antara pewawancara dengan informan atau tanpa menggunakan
C. Alat Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan lembar pengamatan,
pedoman wawancara, tape recorder, lembar riwayat hidup, lembar observasi
dan alat tulis.
1. Lembar Pengamatan
Lembar pengamatan mencangkup berbagai informasi umum seputar
prosedur dan tujuan dari suatu penelitian. Kemudian pada lembar
pengamatan ini juga dijabarkan bahwa (1) alat perekam suara
dipergunakan semata-mata untuk kelancaran sesi tanya jawab, (2) identitas
diri subjek akan tetap terjamin kerahasiaannya. Semua hal ini
dimaksudkan agar para subjek merasa lebih nyaman dalam proses
wawancara.
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara ini digunakan agar penulis dapat mengajukan
pertanyaan yang fokus pada masalah yang ingin diteliti (terlampir).
3. Tape Recorder
Untuk memperoleh data secermat dan selengkap mungkin, peneliti
menggunakan tape recorder agar dapat berkonsentrasi penuh terhadap
informasi yang diberikan responden dan data yang penulis peroleh juga
lengkap sehingga penulis lebih leluasa untuk merumuskan temuannya.
Tentusaja harus meminta izin terlebih dahulu pada subjek sebelum
4. Lembar Riwayat Hidup
Lembar ini dipergunakan agar sebelum melakukan wawancara, penulis
sudah mengetahui sedikit informasi tentang subjeknya. Di dalam lembar
riwayat hidup terdapat beberapa hal yang harus diisi oleh subjek seperti:
nama, alamat, usia, nomor telepon, suku, dan lain-lain. Hal ini
dimaksudkan untuk mempermudah penulis untuk menghubungi subjek
jika sewaktu waktu ada data yang masih kurang jelas atau kurang lengkap.
5. Lembar Observasi
Lembar ini berguna untuk mencatat perilaku-perilaku yang ditampilkan
oleh subjek selama proses wawancara, seperti nada bicara, ekspresi wajah,
bahasa tubuh, dan sebagainya.
6. Alat Tulis
Alat tulis digunakan untuk membantu pencatatan saat melakukan
observasi.
D. Teknik Analisis Data
Data yang sudah terkumpul akan di analisis dengan menggunakan
metode kualitatif. Menurut Patton (Poerwandari, 2007:163) penelitian
kualitatif tidak memiliki aturan-aturan absolute untuk mengolah dan
menganalisis data. Peneliti harus memonitor, melaporkan proses dan
prosedur-prosedur analisis secara jujur dan selengkap mungkin. Oleh karena
itu, setelah melakukan wawancara terhadap subjek maka peneliti melakukan
1. Verbatim
Data mentah berupa catatan lapangan dan kaset hasil rekaman, diproses
secara verbatim atau kata demi kata.
2. Melakukan analisis awal
Dengan memperhatikan apakah ada hal-hal yang terlewatkan, kurang jelas
atau perlu digali lebih dalam, Bila ditemukan hal-halyang memerlukan
penjelasan lebih lanjut,penulis kembali menghubungi Subjek dan meminta
kesediaan untuk diwawancarai sekali lagi sampai data yang dibutuhkan
sudah berhasil terkumpul seluruhnya.
3. Kategori
Peneliti mengelompokan data ke dalam kategori-kategori. Peneliti
menjabarkan kode-kode secara luas melalui skema. Setelah itu, peneliti
menyusun catatan pencarian dan penemuan untuk memudahkan pencarian
berbagai kategori data.
4. Analisis dengan teori
(Patton, 2009) menjelaskan bahwa proses analisis dapat melibatkan
konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata-kata responden sendiri
(indigeneous concepts) maupun konsep-konsep yang dikembangkan atau
dipilih peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis (sensitizing
concepts). Peneliti melakukan intepretasi pemahaman teoritis yaitu upaya
memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam dengan
E. Metode Keabsahan Data
Penelitian ini metode menggunakan metode pemerikasaan data
dengan teknik yang digunakan adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain.
Penelitian ini menggunakan triangulasi metode, yaitu peneliti
membandingkan temuan data yang diperoleh dengan menggunakan suatu
metode tertentu yaitu data hasil pengamatan di lapangan (observasi) dengan
data hasil perolehan wawancara (Pawito, 2007:99).
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data dan sumber data yang telah ada ( Sugiono, 2011:330).
Triangulasi data berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang
berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti
menggunakan observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi untuk
sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk
mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.
Keabsahan data dalam penelitian ini dengan mendapatkan informasi
data dari subjek 1 yaitu suami berinisial GS dan subjek 2 yaitu istri berinisial
EB serta orang terdekat mereka yakni om dari pasangan tersebut berinisial