HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Pembahasan Kebermaknan Hidup Pasangan
Untuk menemukan kebermaknaan hidup pasangan, peneliti beranjak dari analisis di atas. Kebermaknaan hidup merupakan buah dari perjalanan hidup pasangan setelah melewati fase-fase tertentu. Makna hidup dalam pernikahan merupakan suatu hal yang dianggap penting dan berharga oleh setiap pasangan yang mempunyai nilai khusus yang pada akhirnya dijadikan tujuan hidup.
Pasangan atau Subjek dalam penelitian ini, telah melewati fase atau tahapan dalam mencapai sebuah makna hidup, yang dilalui dari pemaknaan mereka mengenai belis dalam pernikahan, hubungan dan menyelesaikan konflik dalam keluarga, serta menyangkut harapan-harapan mereka. Semua ini adalah tahapan pembelajaran sebagai sebuah kesadaran bagi subjek akan realitas adanya suatu kesempatan untuk memahami dan menemukan makna hidup yang dijalani dan akan terus didapatkan selama kehidupannya dalam mengarungi bahtera keluarga.
Jika lebih lanjut, fase-fase di atas merupakan representasi dari langkah subjek dalam menemukan makna hidup, yang menurut Bastaman (dalam Safaria, 2005:152-162) telah digolongkan dalam lima langkah penting dalam menemukan makna hidup tersebut.
hubungan, pendalaman nilai, dan ibadah. a. Pemahaman pribadi
Dalam proses pemahaman pribadi, subjek 1 dan 2 telah mengenali kelemahan diri masing-masing pasangan dan berusaha memahami kelemahan-kelemahan tersebut dengan memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka. Kelemahan-kelemahan itu menyangkut belum terpenuhinya kebutuhan hidup dan tuntutan adat dalam rumah tangga. Dengan memahami kelemahan tersebut, subjek 1 dan 2 berusaha bangkit dengan memanfaatkan potensi diri mereka dalam mencari tambahan penghasilan agar dapat keluar dari persoalan yang dihadapi tersebut.
Potensi diri yang dimiliki pasangan, dalam hal ini subjek 2 atau istri, menumbuhkan kepercayaan diri yang luar biasa untuknya dalam mencari pekerjaan. Rasa cintanya terhadap sang suami dan kesadaraan akan tanggungjawabnya dalam keluarga, mendorong subjek bekerja sebagai seorang guru. Subjek selalu fokus atau berkonsentrasi terhadap keluarganya. Ia memahami rahasia terbesar itu, bahwa keluarga adalah sumber kekuatannya yang dapat mencairkan kelemahan dalam dirinya dan menimbulkan keberanian yang luar biasa untuk maju.
b. Bertindak positif
Dalam menemukan makna hidup diperlukan juga tindakan nyata yang terbentuk dari sebuah pikiran yang positif. Subjek 1 dan 2 dalam menjalani hidup tentu melewati berbagai situasi, yang mana akan dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dalam situasi tersebut pikiran mengambil peranan penting. Dalam konflik yang terjadi dalam keluarga, subjek 1 memposisikan diri sebagai
saudarinya. Namun tentu saja harus memilih satu di antaranya dan itu dilakukannya. Subjek 1 memilih membela istrinya sebagai bukti cinta. Tindakan tersebut berdasarkan pikiran yang positif di mana subjek 1 memandang istrinya adalah seorang paling dekat dalam hidupnya ketika ada masalah apapun.
c. Pengakraban hubungan
Pengakraban hubungan menyangkut relasi antara suami istri yang dihayati sebagai sebuah hubungan yang dekat dan mendalam, yang dilandasi oleh sikap saling percaya dan saling memahami. Dalam tahapan ini, subjek 1 dan 2 yaitu suami dan istri terlihat akrab dalam menjalani hubungan sebagai sebuah pasangan. Mereka memahami satu sama lainnya meski masing-masing pribadi memiliki sifat yang berbeda. Subjek 1 memiliki sifat keras kepala dan subjek 2 yang memiliki sifat cemburu. Namun dengan sikap yang sabar, saling percaya, dan saling memahami, pasangan ini dapat menyatukan segala bentuk perbedaan mereka. Sikap yang diambil oleh pasangan akhirnya mengikat mereka dalam sebuah hubungan yang harmonis hingga saat ini.
Pengakraban hubungan ini pun menyangkut dua prinsip penting yaitu prinsip pelayanan dan prinsip memberi dan menerima. Peneliti melihat bahwa ke dua prinsip ini telah dijalani oleh subjek 1 dan 2. Dalam prinsip pelayanan, telah ditunjukan oleh subjek 2 yang ketika tinggal dalam keluarga suaminya. Ia berusaha untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan keluarga dan berusaha untuk memenuhinya.
Subjek 2 tahu tentang tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan menantu yang baik bagi keluarga suaminya. Meskipun kadang tanggungjawab yang diberikan
tuntutan tersebut. Tindakan yang dilakukannya membuktikan adanya prinsip pelayanan dalam menjalin keakraban hubungan dalam keluarga.
Subjek 2 mengetahui bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas hati walau dengan berbagai tekanan yang ada, akan membuahkan hasil yang baik di kemudian hari. Inilah prinsip memberi dan menerima. Dia tanpa memperdulikan tekanan yang di dapatkan dari pihak saudara dari suaminya tetap melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang isti yang baik bagi suaminya. Waktu dan tenaga yang dikorbankan untuk kepentingan orang lain akan memberikan penilaian tentang siapa dirinya dan akan mampu merubah pandangan miring dari saudara suaminya mengenai dirinya. Ini akan memberi kekuatan untuknya dalam menjalankan kehidupannya dalam rumah tangga yang dijalaninya.
Subjek 2 dalam menjalankan kehidupan keluarga tetap optimis dan berusaha tegar agar kehidupan yang dijalaninya agar mendapatkan kebahagiaan yang dicita-citakan oleh setiap keluarga.
d. Pendalaman nilai
Ini berkaitan dengan sejauh mana subjek menghargai pekerjaan, serta tanggungjawab mereka dalam tugas dan kewajibanya sebagai suami dan istri. Pemahaman nilai pun berkaitan dengan nilai-nilai akan keimanan, kesabaran, keberanian, kebenaran, dan cinta kasih dalam keluarga.
Subjek 1 dan 2 sejauh ini sangat menghargai pekerjaannya baik sebagai polisi dan guru. Pekerjaan inilah yang membantu mereka dalam memperbaiki ekonomi keluarganya. Masing-masing mereka bertanggungjawab dalam tugasnya sebagai
pasangan di atas. Segala persoalan yang mereka hadapi bersama dalam pernikahan, baik itu menyangkut utang belis, perlakuan yang tidak adil dalam keluarga, maupun persoalan-persoalan, sebenarnya melatih pasangan dalam pencapaian nilai-nilai hidup seperti kesabaran dan keberanian.
e. Ibadah
Pencapaian nilai hidup seperti kesabaran dan ketabahan merupakan gambaran keimanan pasangan dalam memaknai dengan tenang dan bijaksana segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Pendekatan diri subjek terhadap Tuhan akan mendewasakan diri dan iman mereka agar lebih bijaksana memaknai hidup.
“Namun intinya kami berdua selalu berdoa kepada Tuhan agar membimbing kami dan menjaga keluarga kami tetap harmonis” (Subjek 1,W3:121-123). Pendekatan diri pun secara nyata seperti yang telah peneliti gambarkan dalam gambaran umum subjek, bahwa subjek ada pasangan suami dan istri yang beriman dan taat akan ajaran agama. Subjek 1 dan 2 setiap harinya akan menyempatkan diri ke kapel untuk berdoa bersama anak-anaknya. Dengan beribadat kedua pasangan suami tersebut akan diberi ketenangan rohaninya.
Kelima langkah pemenuhan makna hidup telah dijalankan oleh kedua subjek. Subjek telah menemukan komponen-komponen pemenuhan makna hidup seperti pemahaman diri, perubahan sikap, dan penanaman nilai-nilai hidup. Komponen-komponen ini menjadi indikator yang menentukan adanya kebermaknaan hidup pasangan ini.
Komponen-komponen ini mengantar dan menuntun subjek atau pasangan dari keadaan yang penuh dengan konflik maupun kesulitan hidup, yang sempat membuat
hidup. Hadirnya kedua orang anak, menjadi motivasi pasangan dalam membangun rumah tangga yang lebih baik, hingga mereka akhirnya membangun rumah tangga kecil yang bersahaja, jauh dari tekanan dan konflik yang telah dirasakan sebelumnya. Makna kehidupan pasangan diperjelas oleh subjek 3 dari kalimat dalam wawancara sebagai berikut :
“O iya.., mereka adalah orang-orang yang mempunyai pendidikan dan sudah dewasa jadi mereka bisa berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah mereka sendiri, saya sangat yakin bila mereka bisa menyelesaikan masalah rumah tangga mereka walaupun mungkin mereka terkadang membutuhkan masukan dari orang lain, saya rasa itu manusiawi sekali” ( Subjek 3,Line :31-35)
Dari kalimat ini menjelaskan bahwa masing-masing subjek adalah pribadi yang dewasa dan mandiri.
“Ya, tentu saja hal itu dapat terlihat dari mereka mengambil keputusan untuk tinggal di rumah sendiri tanpa harus tinggal di rumah keluarga. Selain itu sang istri memutuskan untuk bekerja agar dapat membantu membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Kedua hal ini mungkin terlihat biasa saja namun dengan adanya kedua hal ini bisa membuat kehidupan keduanya menjadi lebih baik”( Subjek 3, Line :39-43)
Subjek 1 dan subjek 2 dalam menjalani kehidupannya telah bisa menyelesaikan masalah dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan kehidupan keduanya menjadi lebih baik.