• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Makna dan Pengaruh Belis dalam Perkawinan

Pengertian belis seperti yang diutarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT (2003: 59), adalah sebuah alat dalam mempererat hubungan kekeluargaan.Belis dapat menyatukan keluarga dari pasangan yang telah menikah dan juga dapat pula mempererat hubungan pasangan yang telah menikah. Belis yang diberikan kepada pihak keluarga wanita merupakan suatu kewajiban yang menandakan

perempuan akan memberikan sarung adat dan gelang gading kepada pilhak laki-laki. Ini ada sebuah gambaran bagaimana hubungan dalam keluarga itu mulai dibangun.

Permasalahan yang dihadapi oleh subjek adalah adanya utang belis. Utang belis dalam pernikahan ternyata merupakan sebuah hal yang dapat berakibat pada retaknya hubungan antara ke dua belah pihak yaitu antara keluarga laki-laki dan perempuan. Hal ini juga akan terbawa dalam hubungan keluarga pasangan yang telah menikah. Utang belis dari keluarga pria dapat dilunasi sebagiannya dengan gading dari saudari mempelai laki-laki yang telah menikah sebelumnya.

“Jadi mereka menutupi hutang adat tersebut dengan memberikan belis dari

saudari wanita kepada keluarga istri”.(Subjek 1, W1: Line 83-84).

Di satu sisi, utang belis yang tadinya dibayar oleh keluarga laki-laki dengan menggunakan belis saudari dari pasangan laki-laki tersebut, ternyata berimplikasi pada sebuah tuntutan tanggung jawab terhadap pasangan perempuan dalam keluarga. Pasangan perempuan dituntut untuk bertanggungjawab terhadap urusan adat atau suku dalam keluarga pihak laki-laki.

“ Dalam kehidupan sekarang ini, kita banyak dituntut. Jika kita sudah di belis maka perempuan dituntut harus memenuhi aturan suku dari laki-laki.Jadi otomatis perempuan harus berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan biaya atau uang untuk memenuhi kebutuhan yang nanti dituntut dari pilhak laki-laki. Seandainya tidak bisa memenuhi kebutuhan itu, maka kita diperlakukan seenaknya oleh pihak laki-laki”.(Subjek 2, W1: Line 17-24).

Subjek 2 pun kembali menegaskan bagaimana pengaruh belis dalam kehidupan rumah tangganya setelah ia menikah.

Kalau dalam kehidupan rumah tangga saya, belis itu punya pengaruh yang besar.Karena saya sendiri harus berusaha untuk bagaimana caranya untuk memenuhi segala tuntutan dari pihak laki-laki.Misalnya ketika ada orang yang

belum memiliki uang, saya harus mencari pinjaman agar membeli apa yang

menjadi bagian tanggungan saya dalam acara duka tersebut”.(Subjek 2, W1: Line 27-34)

Persoalan utang belis ini ternyata membawa tekanan psikologis Subjek 2. Ia merasa adanya ketidakadilan dalam hal ini menyangkut perlakuan keluarga terhadapnya.

“……,saya merasa terlalu tertekan. Karena di satu sisi saya sudah menikah,

tetapi belis untuk saya belum diberikan.Sedangkan dalam kehidupan

sehari-hari saya dituntut untuk memenuhi kebutuhan dalam suku”.(Subjek 2, W1: Line 65-68).

Dari pernyataan subjek di atas, lahirlah sebuah pandangan berbeda tentang belis dalam sebuah pernikahan. Makna belis yang awalnya adalah sebuah alat pemersatu dalam keluarga, telah kehilangan arahnya menjadi sebuah simbol pemaksaan tanggungjawab yang harus jalani oleh sang istri atau pasangan perempuan. Pasangan perempuan menjadi korban dalam masalah utang belis. Utang belis berdampak negatif terhadap perlakuan keluarga kepada pasangan perempuan yang akhrinya memberi tekanan psikologis bagi pasangan tersebut. Belis yang terkesan bersifat wajib, tidak berbanding lurus dengan pengakuan terhadap hak seseorang dalam mendapat kebahagiaan dalam pernikahannya.

Makna perkawinan seperti yang dikatakan Gilarso (1996: 9-12) dapat dilihat dari bagaimana pasangan membangun hakikat, tujuan, dan juga komunikasi dalam perkawinan tersebut. Subjek dalam wawancaranya memberikan pandangan masing-masing mengenai makna pernikahannya.

“Makna dari pernikahan itu adalah bagaimana cinta yang sudah sekian lama

dijalin, membuahkan suatu hasil yang mana dikatakan menjadi suami

sebuah keluarga atau rumah tangga untuk mendidik anak dikala kita memiliki

keturunan” (Subjek 2,W2:Line 8-11).

Kedua pendapat di atas memperjelas apa yang dimaksudkan Gilarso mengenai makna perkawinan. Subjek 1 telah menjelaskan bahwa hakikat perkawinan itu adalah cinta yang terjalin antara pasangan sampai pada sebuah pernikahan. Sedangkan subjek 2 lebih menekankan pada tujuan dari perkawinan itu sendiri yaitu memiliki keturunan, mendidik anak, serta alasan-alasan lain seperti jaminan perlindungan dan rasa aman.

“Tujuan pernikahan itu mungkin yang pertama adalah kebahagiaan” (Subjek 1,W2:Line 28).

“Tujuan perkawinan itu supaya membangun sebuah keluarga atau rumah tangga yang harmonis, keluarga yang utuh, keluarga yang baik dan harus ada rasa aman supaya kalau memiliki anak atau keturunan kita bisa mendidik mereka di dalam suatu keluarga yang baik (Subjek 2,W2:Line 43-46).

Makna perkawinan dapat dilihat juga dalam komunikasi yang dibangun keluarga. Komunikasi merupakan hal yang penting dalam membangun keutuhan sebuah rumah tangga. Gilarso (1996:44) mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses timbal balik. Untuk membangun komunikasi dalam keluarga, harus ada seorang yang berani membuka hati, jujur dan berani mengungkapkan isi hatinya dan yang lain mau mendengar, menerima, dan mengerti. Inilah yang dinamakan Gilarso sebagai sebuah proses komunikasi timbal balik.

Oh dia tidak langsung ngomong atau mengungkapkan emosinya, dia akan memberi tahu saya kira-kira harus bagaimana, begini atau begitu. Nanti saya yang akan menyelesaikannya(Subjek 1,W3:Line 41-43).

suami dan istri dalam menyelesaikan sebuah konflik atau masalah yang sedang dihadapi dalam keluarga. Istri membuka diri, lebih jujur, dan meminta pertimbangan kepada suami. Di sini komunikasi lebih pada sikap yang diambil oleh masing-masing pasangan. Suami memposisikan diri sebagai pendengar dan pengambil keputusan.

Relasi yang terbangun baik antara ke dua pasangan menandakan telah adanya komunikasi yang baik pula.Komunikasi yang baik dibangun oleh sikap masing-masing pasangan dalam menghadapi masalah dalam sebuah rumah tangga.Salah satu sikap yang dibangun adalah rasa percaya terhadap pasangan. Sikap ini yang akan memberi ruang agar setiap pasangan dapat membuka diri dan saling menjaga keutuhan keluarga.

“Saya tetap berprinsip bahwa walau ada sesuatu yang terjadi dalam rumah saya, saya atau anak saya sakit misalnya, orang pertama adalah istri saya, bukan saudari saya. Kadang saya jujur, tapi kalau mereka megganggap istri

saya jika secara adat dia harus di bawah, saya tidak begitu menerima”

(Subjek 1,W3:Line 15-19).

Pernyataan di atas mengungkapkan adanya sikap percaya dalam keluarga. Suami mengandalkan istri dalam situasi apapun. Dalam konflik yang sedang mereka hadapi sekarang tidak membuat mereka saling tidak percaya, meski di satu sisi pengaruh keluarga laki-laki sangatlah besar dalam mengatur kehidupan mereka. Ini adalah modal kuat yang dimiliki pasangan tersebut dalam membangun hubungan yang kuat ke depannya.

Dalam analisis mengenai hubungan dalam keluarga, peneliti mengacu pada tugas pasangan suami istri dalam rumah tangga, harapan mereka, dan penyelesaian konflik dalam keluarga.

pasangan.Tugas tersebut menyangkut kewajiban mereka dalam keluarga inti maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan berumahtangga, subjek 1 telah membagi tugasnya dan telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami yang mempunyai tugas besar sebagai kepala keluarga. Begitu halnya dengan subjek 2, dia selaku istri telah melaksanakan tugas dan kewajiban untuk melayani suami dan mendidik anak-anak mereka. Terlepas masing-masing mereka memiliki pekerjaan di luar rumah, namun kewajiban sebagai suami istri tetap menjadi prioritas utama mereka. Latar belakang pekerjaan masing-masing subjek menjadi solusi yang diambil untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti biaya sekolah anak maupun pemenuhan tuntutan dalam urusan adat atau suku.

Istri tidak hanya mengambil peran sebagai ibu rumah tangga, tetapi membantu suami dalam mencari nafkah demi memenuhi tuntutan hidup. Salah satu alasan yang mendasari subjek 2 (istri) memilih mencari pekerjaan adalah karena merasa terbeban dengan tuntutan-tuntutan adat, sedangkan kebutuhan ekonomi keluarga mereka masih kurang.

Iya, tekanan itu sendiri ada. Ada dari beberapa sisi, baik itu tekanan dari keluarga besar untuk kita bisa memenuhi adat istiadat dan tekanan dari dalam keluarga sendiri karena masalah ekonomi sebab kita harus berbagi, jadi saya memutuskan untuk mencari pekerjaan(Subjek 2,W3:Line 72-76).

Tuntutan adat menjadi alasan utama bagi subjek 2 dalam mencari pekerjaan. Namun harus ada kesepakatan bersama atau persetujuan dari pasangan, apalagi hal ini menyangkut masalah ekonomi dan nama baik keluarga, seperti yang dikatakan subjek 2 dalam wawancaranya.

remeh. Suami saya juga mendukung saya” (Subjek 2,W3:Line 79-82).

Gilarso (1996:14-23), membagi tugas suami istri dalam beberapa hal yaitu, membangun keluarga penuh cinta kasih, mendidik anak, dan membangun masyarakat. Tugas ini secara garis besar telah dipenuhi oleh pasangan, seperti yang diungkapkan oleh masing-masing subjek. Terpenuhinya tugas ini menandakan adanya kerjasama yang baik yang dibangun dalam keluarga. Penilaian antar pasangan menyangkut tugas mereka suami dan istri, berawal dari pengalaman mereka selama hidup bersama.

“Sejauh ini saya merasa tugas saya sebagai seorang ibu sudah saya jalankan dengan baik. Sebagai contohnya saya memperhatikan perkembangan dan pendidikan anak-anak saya dan selalu berusaha menjaga keutuhan rumah tangga saya, saya selalu berusaha untuk dapat memenuhi segala kebutuhan dalam rumah tangga, seperti pendidikan anak-anak dan segala keperluan rumah tangga lainnya(Subjek 2, W3: Line 203-208).

Sejauh ini saya melihat suami saya sudah bisa menjalankan tugas dengan baik sebagai seorang suami maupun bapak buat anak-anak, dia bertanggungjawab dalam hal memperhatikan kebutuhan istri dan anak-anaknya, serta mau membantu, mendorong serta mendukung pekerjaan saya, yang paling penting dia tidak pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Saya berharap dia akan tetap seperti sekarang menjadi suami dan bapak yang baik buat anak-anak. Sedangkan kalau di dalam masyarakat, berhubung suami saya berprofesi sebagai seorang polisi sehingga dia sering terlibat dalam urusan bermasyarakat seperti memberikan penyuluhan ke desa -desa tentang masalah yang sedang dihadapi oleh -desa tersebut(Subjek 2,W3:Line 227-238).

Dalam keluarga saya dan istri bekerja sama dalam mengurus anak- anak kami, baik dalam menjaga keutuhan rumah tangga maupun memenuhi semua kebutuhan yang ada di dalamnya, pendidikan anak-anak kami adalah sesuatu hal yang sangat penting buat saya pribadi maupun istri saya” (Subjek 1,W3:Line 123-127).

harus ada kesepakatan bersama antara suami istri.Suami sebagai kepala rumah tangga, harus bijaksana dalam membuat keputusan, agar seimbang dan tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaanya. Peneliti mengamati dan menilai bahwa pembagian tugas yang lakukan oleh subjek sebagai suami dan istri telah berjalan dengan baik.

Tidak ditemukan adanya konflik dalam pembagian tugas tersebut. Meskipun dalam pembagian tugasnya, subjek 2 atau istri juga mengambil peran ganda dalam sebagai ibu rumah tangga dan mencari nafkah lewat bekerja sebagai seorang guru, namum hal tersebut tidak menghilangkan tanggungjawab utama subjek 1 sebagai kepala rumah tangga dalam mencari nafkah.

b. Harapan suami istri

Suami istri yang telah mengarungi bahtera keluarga tentunya banyak harapan dan tujuan dalam mahligai pernikahan mereka. Setiap pasangan menginginkan keluarga yang harmonis, bahagia dn sejahtera. Mereka bisa bekerjasama dalam membina rumahtangganya, mendidik anak bersama-sama dan mensejahterakan kehidupan keluarganya bersama-sama. Dalam melaksanakan kehidupan rumahtangga tentunya selalu ada suka dan duka yang harus dijalani dan dihadapi bersama pula. Oleh karena itu masing-masing harus paham akan tugas dan kewajibannya.

Harapan suami istri yang menginginkan kebahaumahtangga akan tercapai dan terwujud jika perkawinan itu bermakna. Perkawinan merupakan persekutuan hidup dan cinta. (Gilarso, 1996:9) menyebutkan bahwa perkawinan pertama-tama

wanita dalam kesatuan lahir batin yang mencakup seluruh hidup.

Harapan suami istri dalam perkawinannya menginginkan cinta sejati yaitu cinta yang saling setia dalam keadaan apapun, suka maupun duka. Dalam sebuah keluarga dalam hal ini pasangan suami istri juga menginginkan kehadiran buah hati, bila Tuhan memberikannya, dan bila telah mendapatkanya seharusnya dirawat, dididik dan dibesarkan agar menjadi pribadi yang baik, bertanggungjawab dan mandiri. Dalam keluarga juga mengharapkan keluarga yang mempunyai iman yang selalu menjaga suasana pada sikap atau penghayatan agama menuju kedamaian, kerjasama dan kerukunan dalam keluarga. Dalam keluarga pasangan suami istri juga diwajibkan membangun masyarakat dan mendidik generasi muda, terutama anak-anak mereka.

Setiap orang memiliki berbagai harapan tentang perkawinan. Ada yang diutarakan kepada pasangan, ada juga yang tidak. Harapan itu bisa sedikit, bisa juga banyak.Ada yang bisa tercapai, juga ada yang tidak. Tapi semua bermuara pada satu hal, yaitu kebahagiaan. Formulasinya juga bisa berbagai bentuk, mulai dari pencapaian yang bersifat materi seperti memiliki rumah impian, hingga pada hal- hal yang bersifat non materi seperti harapan memiliki pasangan romantis dan perhatian. Semua pasti bisa diraih asal dihadapi berdua dengan menanamkan rasa pengertian. Itu keyakinan yang lazimnya dipahami setiap pasangan yang akan dan sudah menikah sekalipun.

Masing-masing subjek memiliki harapan terhadap pasangan mereka sewaktu belum menikah. Harapan tersebut lebih pada keinginan mereka untuk sesuatu yang lebih baik di saat pernikahan mereka. Pertimbangan-pertimbangan subjek 2 terhadap

sebagai sebuah harapan. Harapan akan masa depan yang lebih baik inilah yang mendorong subjek untuk menikah.

Tanta ibu memilih om sebagai pendamping hidup karena waktu itu om sudah memiliki pekerjaan tetap itu salah satu faktor utama dan yang ke dua seperti yang telah saya sampaikan tadi karena kita berasal dari satu daerah dan setelah melihat keseriusan om bisa melindungi kedepanya(Subjek 2,W2:Line 35-36).

Pasangan yang menikah ini pun memiliki harapan yang lebih pada sikap dan tindakan masing-masing pasangan.Harapan ini muncul setelah mereka menikah. Namun ada harapan yang belum terpenuhi, seperti harapan istri terhadap suaminya agar berhenti mengkonsumsi minuman keras. Sedangkan suami lebih mengharapkan agar istri tetap sabar dalam menghadapi segala keadaan atau persoalan yang terjadi dalam keluarga.

Oooo ada nona. Tanta ingin om berhenti minum, sudah semakin umur jadi seharusnya sudah berhenti minum apalagi anak-anak sudah besar(Subjek 2,W3:Line 240-242).

“Harapan saya semoga dia tetap sabar dan kuat. Namun intinya kami berdua

selalu berdoa kepada Tuhan agar membimbing kami dan menjaga keluarga

kami tetap harmonis” (Subjek 1,W3:Line 129-131). c. Penyelesaian Konflik

Konflik dapat terjadi dalam sebuah keluarga. Konflik tersebut bisa terjadi akibat kurangnya komunikasi, kepercayaan, dan penghargaan terhadap individu dalam keluarga. Hal ini pun dialami juga oleh subjek dalam membangun kehidupan berkeluarga. Subjek yang pernah tinggal dalam keluarga besar (keluarga pihak laki-laki), mengalami konflik yang berawal dari masalah belis.

Dengan adanya belis ini, kita keluarga baru menikah di bawah kendali dari pilhakkeluarga laki-laki.Mereka memantau seluruh kehidupan kita apakah ini

bentrok" (Subjek 2,W1:Line 43-47).

“Dari keluarga suami, mereka melihat saya kurang mempunyai potensi yang memberikan hasil untuk memenuhi kebutuhan dalam suku” (Subjek 2,W1:Line 61-62).

Masalah belis ini berujung pada tidak adanya kepercayaan dan penghargaan terhadap status subjek sebagai saudara dan pasangan suami istri dalam keluarga laki-laki.

”Misalnya pilhak saudari dari suami menuntut agar saya membayar apa yang dituntut dari suku.sedangkan saya belum mampu untuk membayar. Jika saya membayar, mereka akan menanyakannya dan jika belum mereka akan langsung menghina dengan mengeluarkan kata -kata yang tidak sopan dan kasar. Kadang saya melawan mereka dengan mengatakan bahwa saat ini saya belum punya uang namun mereka tidak mau tahu.Pokoknya harus ada. Itu yang membuat beban saya” (Subjek 2,W1:Line 49-55).

Dalam mengatasi konflik ini, subjek 2 bersikap sabar sehingga lebih berkonsentrasi atau fokus pada penyelesaian konflik yang tepat. Tindakan yang di ambil adalah mencari pekerjaan agar tidak lagi merasa direndahkan atau dihina dalam keluarga seperti yang dikatakannya dalam wawancara pertama (Line, 78-82). Sikap yang diambil oleh subjek satu merupakan penyelesaian konflik yang baik dalam rumah tangga sesuai dengan karakteristik subjek yang tenang dan murah senyum tersebut. Solusi ini dapat meredam munculnya situasi atau konflik yang lebih serius.

Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Gilarso menyangkut pengambilan tindakan dalam komunikasi di mana seseorang harus bisa memposisikan diri sebagai pendengar yang baik. Sedangkan subjek 1 memposisikan dirinya sebagi seorang suami dan saudara yang netral dalam keluarga. Namun

sikap berani yang timbul dari rasa cinta yang dalam.

“Saya lebih banyak dia m dan mengalah, yang di dalam banyak mengalah ini saya merasa tekanan batin yang sangat luar biasa karena kita tidak bisa memberikan perlawanan(Subjek 2,W3,Line:63-65).

“Saya tidak bisa menyembunyikan itu, saya melarang mereka.

Sejelek-jeleknya, dia istri saya, orang yang paling dekat adalah dia bukan mereka”

(Subjek 1,W3:Line 23-25).

Konflik lainnya pun pernah terjadi dalam hubungan antara suami dan istri dalam keluarga kecil mereka. Konflik berawal dari ketidakpercayaan terhadap pasangan. Subjek 1 merasa bahwa istrinya kurang menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya, yang berujung pada timbulnya rasa cemburu. Subjek 2 pun membenarkan hal itu, bahwa ia sempat merasa cemburu. Namun ia menganggap hal itu biasa dan wajar.

Saya melihat istri saya tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja saya.Kita sering ribut juga soal ini.Dalam kerja saya sebagai polisi, sering ada tugas ke luar daerah.Di situ istri saya merasa kuatir yang berlebihan jangan sampai saya ada main serong di luar nanti.’ (Subjek 1,W3,line:56-60).

“Persoalan yang muncul sebelum pernikahan pada waktu itu persoalan yang

muncul tidak terlalu besar misalnya cemburu itu masalah-masalah yang biasa

dan kecil”(Subjek 2,W2: Line 69-71).

Menurut subjek 1, apa yang dikatakan oleh istri adalah hal yang wajar saja. Penyelesaian konflik yang dilakukan subjek 1 adalah dengan menegur sang istri. Sikap yang diambil subjek 1 dapat dinilai sebagai langkah yang tepat dalam penyelesaian sebuah masalah dalam keluarga. Adanya kontrol terhadap emosi yang baik oleh subjek 1 membuat hubungan antara pasangan akan semakin harmonis.

Dalam penyelesaian masalah rumah tangga, saya tidak pernah kasar seperti memukul istri, menegur saja saya rasa sudah cukup.Namun ada beberapa kali

Kesimpulannya bahwa penyelesaian konflik dalam rumah tangga tergantung sejauh mana subjek bisa mengendalikan dirinya dengan harapan-harapan tertentu agar terhindar dari perselisihan ataupun hal lainnya yang dapat merusak suasana dalam hubungan keluarga. Sikap yang baik menurut subjek dalam mengatasi konflik dalam keluarga adalah sikap sabar dan saling percaya antara pasangan.

Subjek pernelitian telah mempunyai masalah atau konflik dalam soal utang belis yang berimplikasi pada perlakuan yang kurang adil dalam hidup rumah tangganya. Dalam hasil wawancara dengan subjek, belum ditemukan secara jelas pernyataan yang mengungkapkan adanya upaya rekonsiliasi dalam keluarga, sehingga dapat dikatakan bahwa ada kemungkinan masalah ini belum terselesaikan atau sengaja disimpan masing-masing pihak, untuk meredam atau menghindari konflik berkelanjutan. Masalah masa lalu yang belum terselesaikan ini, dapat dimanifestasikan dengan munculnya kemarahan, tersiksa, dendam, sakit hati, atau pun rasa bersalah.

“….Kadang saya melawan mereka dengan mengatakan bahwa saat ini saya belum punya uang namun mereka tidak mau tahu. Pokoknya harus ada. Itu yang membuat beban saya dan sakit hati (Subjek 2,W1:Line 52-55).

“Sekian tahun dalam keadaan yang tersiksa, saya mengambil keputusan untuk

bekerja agar saya dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan tersebut” (Subjek 2,W1:Line70-72).

Pernyataan subjek 2 di atas merupakan manifestasi dari masalah masa lalu. Masalah tersebut mungkin bisa membawa trauma di masa kini yang bisa mempengaruhi perubahan sikap atau pandangan tentang sebuah masalah atau situasi

hari akan menikah.

Kebermaknaan hidup yang didapat oleh pasangan atau subyek penelitian dalam permasalahan hutang belis ini dapat dilihat dari pernyataan masing-masing subyek sebagai berikut:

Sekian tahun dalam keadaan yang tersiksa, saya mengambil keputusan untuk bekerja agar saya dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan tersebut.Saya lakukan itu, sehingga pada akhirnya saya mendapat pekerjaan tetap sebagi guru SD sehingga sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Saya merasa kehidupan saya semakin ringan(Subyek 2, W1:70-74).

Kalau menurut saya sudah, contohnya seperti sudah adanya rumah atau tempat yang layak untuk dihuni merupakan suatu gambaran wujud nyata suatu kebahagiaan(Subyek 1, W2 42-44).

Pernyataan subyek 2 merupakan gambaran bahwa subyek telah menemukan makna hidup dalam permasalahan yang ia hadapi. Subyek telah mengenal potensi dalam dirinya dan mencoba untuk bangkit dari keterpurukan dalam himpitan ekonomi dan konflik yang dialami keluarganya.

Pengenalan akan potensi diri inilah yang membawa keluarga subyek menemukan kebahagiaan yang telah terealisasi dalam terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga dan mempunyai rumah atau tempat tinggal yang layak untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis. Jadi kebahagiaan inilah yang menjadi hasil dari segala upaya kerja keras dan kesabaran pasangan selama menghadapi segala permasalahan dalam pernikahan mereka.

Meskipun bentuk dari kebahagiaan pasangan bersifat material, namun proses pencapaian itulah yang paling penting. Ini merupakan bukti bahwa kebermaknaan hidup itu pun ada meski dalam persoalan atau pun kesulitan serumit apapun.

sabar dalam menjalani kehidupan dalam rumahtangganya. Kesabaran dan keikhlasan

Dokumen terkait