• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PADA MATERI DEMOKRASI PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI BUNGIE PIDIE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PADA MATERI DEMOKRASI PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI BUNGIE PIDIE"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PADA MATERI

DEMOKRASI PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI BUNGIE PIDIE

Oleh : Muhar Ramiati, S.Pd.I., MA

(Guru SDN Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie) ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa setelah penerapan metode pembelajaran cooperative learning pada materi demokrasi pada siswa kelas VI SDN Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Pelaksanaanya dilakukan dalam tiga siklus. Subjek penelitian sebanyak 28 siswa yang dipilih secara heterogen dengan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data melalui observasi dan hasil tes belajar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan persentase dan rumus rata-rata. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan dengan ketuntasan secara klasikal yang mana diperoleh hasil pada siklus I bahwa sebanyak 65,51% yang dapat menuntaskan belajarnya dari 28 siswa, pada siklus II sebanyak 82,14% yang dapat menuntaskan hasil belajarnya dari 28 siswa, dan pada siklus III sebanyak 93,14% yang dapat menuntaskan hasil belajarnya dari 28 siswa, dan keaktifan siswa pada materi perkalian mengalami peningkatan dengan hasil pada siklus I sebanyak 2,27, pada siklus ke II mengalami peningkatan sebanyak 3,09 dan pada siklus ke III menjadi 3,73. Dengan demikian, kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SDN Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie Tahun Ajaran 2019/2020 pada materi demokrasi dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning tercapai, begitu juga aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning adalah sangat baik.

Kata Kunci: Cooperative Learning, pemahaman siswa, materi demokrasi.

(2)

A. PENDAHULUAN

Dunia pendidikan pendidikan Indonesia saat ini, peningkatan kualitas pembelajaran baik dalam penguasaan materi maupun metode pembelajaran selalu diupayakan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru dalam peningkatan kualitas pembelajaran yaitu dengan menyusun berbagai macam skenario kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan pembelajaran, terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, interaksi antara guru dan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Diharapkan dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta dapat memotivasi siswa sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan1.

Berkaitan dengan hal tersebut apabila diaplikasikan dalam proses belajar mengajar di sekolah, peserta diarahkan ke suasana demokrasi agar potensi siswa dapat berkembang dengan baik. Menurut Dewey dan Thelan dalam Trianto menyatakan

“sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi”. Suasana demokrasi yaitu suasana yang memungkinkan untuk tumbuhkembangnya potensi-potensi siswa yang positif dan bermanfaat bagi pembangunan bangsa, seperti halnya mengembangkan kreativitas siswa, mengembangkan kemampuan berfikir, dan mengembangkan ketrampilan berinteraksi dengan lingkungan2.

Hal ini dalam pembelajaran di sekolah sangat cocok dengan pembelajaran cooperative learning, yang mana siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan untuk beberapa pertemuan mereka tetap dalam kelompoknya kemudian mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat berkerjasama dengan baik.

Ketrampilan-ketrampilan itu di antaranya kemampuan menyelesaikan masalah,

1 Widyantini. 2008. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif. Yogyakarta: Depdiknas.

2 Trianto, 2007. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:

Kencana Prenada Group. hal 45.

(3)

kecakapan mengemukakan pendapat, kecakapan menyikapi pendapat temannya, dan membantu teman yang memiliki kemampuan yang kurang.

Pada dasarnya Pembelajaran cooperative learning ini adalah untuk menciptakan susana belajar yang lebih hidup dan nyaman. Hidup dalam pengertian, siswa yang lebih aktif di bandingkan cuma mendengarkan penjelasan materi dari guru. Nyaman maksudnya adalah suasana belajar yang tidak kaku karena dengan metode ini sesama siswa lebih leluasa memberikan pendapat ataupun pertanyaan bahkan bisa memberikan ide di bandingkan berkomunikasi dengan gurunya.

Dari paparan di atas sangatlah jelas untuk bekerjasama perlu adanya hubungan yang baik walaupun mereka memiliki latar belakang yang berbeda. Perbedaan di sini bisa karena jenis kelamin laki-laki atau perempuan, faktor kemampuan pandai atau kurang pandai, faktor lingkungan keluarga, agama, suku adat budaya dan yang lainnya.

Perbedaan ini, di kelas pun ada dan ini sangat terlihat jelas antara kelompok siswa laki- laki dan kelompok siswa perempuan dan ada juga siswa yang mau berbaur dengan teman sesama jenisnya ada juga yang tidak, bahkan seperti ada diskriminasi sehingga menurut peneliti metode cooperative learning cocok untuk diterapkan agar kebersamaan lebih meningkat dalam pembelajaran. Menurut peneliti jika perbedaan- perbedaan ini dibiarkan maka akan terjadi pengelompokan-pengelompokan yang kurang positif dan dikhawatirkan akan lahir prilaku-prilaku yang kurang baik. Untuk itu perlu adanya pembelajaran cooperative learning.

Apabila sejak dini siswa dikenalkan dengan sikap demokrasi, mudah- mudahan di masa yang akan datang kekerasan atau diskriminasi tidak akan terjadi.

Itu adalah salah satu ketertarikan peneliti mengambil topik ini dan juga menurut peneliti pembelajaran cooperative learning di samping banyak sekali manfaatnya juga metode ini oleh peneliti dianggap lebih efektif untuk mengatasi permasalahan.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti mencoba mengadakan pengkajian lebih dalam terhadap peningkatan pemahaman siswa pada materi demokrasi tersebut melalui penerapan pembelajaran cooperative learning, diharapkan hasil belajar dan keaktifan siswa dapat ditingkatkan.

(4)

B. PEMBAHASAN

Pendidikan memegang peran penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut bisa tercapai apabila siswa dapat menyelesaikan pendidikan tepat pada waktunya dengan proses dan hasil belajar yang baik sehingga menghasilkan pembelajaran yang lebih baik.

Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran3. Djamarah, dkk menyatakan, “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”4.

Berdasarkan definisi/pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan.

Dari pengertian tersebut dapat dijabarkan bahwa metode adalah merupakan suatu cara atau jalan yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Adapun manfaat dari penggunaan metode dalam proses belajar mengajar adalah sebagai alat untuk mempermudah seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Hal ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam menyerap materi yang disampaikan oleh guru selain itu juga dapat berfungsi sebagai suatu alat evaluasi pembelajaran.

Pada dasarnya istilah metode telah tercakup dalam pengertian metodologi yaitu sebagai bagian dari kumpulan dari metode-metode di dalam pengajaran.

Sebagai mana yang kita ketahui, bahwa metode mengajar merupakan sasaran interaksi antara guru dengan siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.

3 Sudjana, Nana. 2005. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar.

Jakarta: Rineka Cipta Menurut Nana Sudjana. hal. 76.

4 Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.

Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta. hal. 88.

(5)

Dengan demikian yang perlu diperhatikan adalah ketepatan sebuah metode mengajar yang dipilih dengan tujuan, jenis dan juga sifat materi pengajaran, serta kemampuan guru dalam memahami dan melaksanakan metode tersebut. Guru hendaknya cermat dalam memilih dan menggunakan metode mengajar terutama yang banyak melibatkan siswa secara aktif.

Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

1. Konsep Pembelajaran Cooperative Learning

Cooperative adalah mengerjakan sesuatu bersama-sama dengan saling membantu satu sama lain sebagai satu tim. Sedangkan Cooperative Learning artinya belajar bersama-sama, saling membantu antara satu sama lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya5.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Cooperative Learning adalah menyangkut teknik mengelompokkan yang didalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama pada kelompok kecil yang umumnya tediri dari kelompok kecil empat atau lima orang yang tingkat kemampuannya berbeda. Pembelajaran cooperative merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran

5 Kanda, Hasan, http://massofa.wordpress.com/2008/02/27/pendekatan-konsep- ilmu-teknologi-dan-masyarakatdalam-pembelajaran-ips-di-sd/. Diakses tanggal 22 Maret 2016.

(6)

cooperative, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Ada lima unsur dasar yang membedakan Cooperative Learning dengan kerja kelompok, ciri Cooperative Learning yaitu akuntabilitas individual, interaksi tatap muka, keterampilan seusia, proses kelompok dan saling ketergantungan yang positif. Kondisi seperti ini memungkinkan setiap siswa merasa adanya ketergantungan secara positif pada anggota kelompok lainnya dalam mempelajari dan menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya, yang mendorong setiap anggota kelompok untuk bekerja sama.

Penyerapan model Cooperative Learning dalam pembelajaran dimaksudkan untuk memperkuat pelajaran akademik setiap anggota kelompok dengan tujuan agar para siswa lebih berhasil dalam belajar dari pada belajar sendiri. Oleh karena itu, unsur terpenting yang harus dipahami oleh para guru adalah apabila tugas dibagi dalam kelompok jangan sampai hanya diperiksa/dievaluasi atau tidaknya tugas itu dikerjakan secara kelompok, melainkan harus terjadi interdepensi tugas antara kelompok karena tujuan Cooperative Learning bukan terselesaikannya tugas-tugas kelompok, tetapi para siswa belajar dalam kehidupan kelompok yang mampu saling membelajarkan antar anggota kelompoknya.

Interaksi tatap muka selain memberikan motivasi yang penting bagi performans seorang siswa juga akan meningkatkan saling mengetahui keberhasilan akademik setiap siswa dan personal masing-masing. Unsur-unsur dasar dalam Cooperative Learning adalah sebagai berikut6.

a. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama.”

6 Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom.

GLENCOE : Macmillan/ McGraw-Hill.

(7)

b. Para siswa harus memiliki tanggungjawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.

c. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.

d. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggungjawab di antara para anggota kelompok.

e. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

2. Kelebihan dan Kekurangan Cooperative Learning Kelebihan cooperative learning yaitu:

a. Meningkatkan harga diri tiap individu

b. Penerimaan terhadap perbedaan individu yang lebih besar.

c. Konflik antar pribadi berkurang d. Sikap apatis berkurang

e. Pemahaman yang lebih mendalam f. Retensi atau penyimpanan lebih lama

g. Meningkatkan kebaikan budi,kepekaan dan toleransi.

h. Cooperative learning dapat mencegah keagresivan dalam sistem kompetisi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.

i. Meningkatkan kemajuan belajar(pencapaian akademik) j. Meningkatkan kehadiran siswa dan sikap yang lebih positif k. Menambah motivasi dan percaya diri

l. Menambah rasa senang berada di sekolah serta menyenangi teman- teman sekelasnya

m. Mudah diterapkan dan tidak mahal

(8)

Kelemahan cooperative learning yaitu:

1) Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan guru mengkondisikan kelas atau pembelajaran dilakukan di luar kelas seperti di aula, laboratorium atau di tempat yang terbuka.

2) Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain. Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam grup mereka, sedangkan siswa yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam satu grup dengan siswa yang lebih pandai.

Siswa yang tekun merasa temannya yang kurang mampu hanya menumpang pada hasil jerih payahnya. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan sebab dalam cooperative learning bukan kognitifnya saja yang dinilai tetapi dari segi afektif dan psikomotoriknya juga dinilai seperti kerjasama diantara anggota kelompok, keaktifan dalam kelompok serta sumbangan nilai yang diberikan kepada kelompok.

3) Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok. Karakteristik pribadi tidak luntur hanya karena bekerjasama dengan orang lain, justru keunikan itu semakin kuat bila disandingkan dengan orang lain.

Banyak siswa takut bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau secara adil, bahwa satu orang harus mengerjakan seluruh pekerjaan tersebut. Dalam cooperative learning pembagian tugas rata, setiap anggota kelompok harus dapat mempresentasikan apa yang telah didapatnya dalam kelompok sehingga ada pertanggungjawaban secara individu.

3. Penerapan Cooperative Learning dalam Pembelajaran PKn

Pendapat dari Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok dapat dianggap cooperative leaming. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan. Saling

(9)

ketergantungan Positif, Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Diibaratkan, wartawan mencari dan menulis berita, redaksi mengedit, dan tukang ketik mengetik tulisan tersebut. Rantai kerja sama ini berlanjut terus sampai dengan mereka yang di bagian percetakan dan loper surat kabar. Semua orang ini bekerja demi tercapainya satu tujuan yang sama, yaitu terbitnya sebuah surat kabar dan sampainya surat kabar tersebut di tangan pembaca.

Tanggung Jawab Perseorangan, Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning maka setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kriteria kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.Tatap Muka, Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala saja.

Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Setiap anggota kelompok mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga, dan sosial-ekonomi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompok. Sinergi tidak bisa didapatkan begitu saja dalam sekejap, tapi merupakan proses kelompok yang cukup panjang. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu Sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi.

4. Hasil Penelitian

a. Tahap-Tahap Penelitian

Penelitian ini diawali dengan observasi awal dan wawancara singkat dengan guru. Dari hasil observasi awal dan wawancara singkat tersebut diketahui bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan

(10)

dalam materi demokrasi karena siswa malu untuk bertanya kepada guru tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal demokrasi masih rendah. Oleh karena itu diputuskan untuk menerapkan pendekatan cooperative learning dalam mengajarkan PKn pokok bahasan demokrasi pada kelas VI SD Negeri Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

Selanjutnya diadakan tes awal pada masing-masing siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa terhadap materi demokrasi. Nilai tersebut dijadikan sebagai bahan acuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa kelas kelas VI SD Negeri Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie dalam menyelesaikan soal-soal.

b. Tahapan Persiapan Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 1) RPP meliputi:

Pada tahap perencanaan tindakan RPP , peneliti menerapkan metode cooperative learning. Hal-hal yang harus di persiapkan menggunakan metode cooperative learning dalam pembelajaran RPP;

a) Menyiapkan Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); b) Membagi kelompok; c) Membuat instrumen penelitian.

2) Pelaksanana tindakan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada hari selanjutnya Kelas VI dengan menggunakan metode cooperative learning dengan jumlah siswa 28 siswa. Adapun dalam pelaksanaan tindakan yaitu :

Pada pelaksanaan RPP di bagi tiga tahap, yaitu apersepsi, kegiatan inti, penutup berupa evaluasi.

a) kegiatan Apersepsi ( 10 menit )

Memberi salam, membaca doa, mengabsensi siswa, mengelola kelas. Memotivasi siswa dengan tanya jawab tentang

(11)

pengertian demokrasi. Membuat kaitan dengan tanya jawab tentang penjumlahan bilangan cacah. Memberi acuan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran tentang demokrasi. Membagi siswa kedalam kelompok yang masing-masing beranggotakan 4-5 orang.

b) Kegiatan Inti ( 50 menit )

- Konfirmasi: menjelaskan tentang demokrasi - Konfirmasi: memberikan contoh demokrasi

- Eksplorasi: meminta untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya hingga semua anggota kelompoknya dalam memahami modul.

- Elaborasi: memberi LKS kepada setiap kelompok

- Elaborasi: mendiskusikan LKS bersama dengan anggota kelompoknya. Mengontrol setiap kelompok dalam pengerjaan LKS dengan memberi bantuan jika dibutuhkan Konfirmasi mempresentasikan hasil kerja kelompok - Elaborasi: Penguatan hasil diskusi tentang hasil presentasi

setiap kelompok dengan cara bertanya kepada kelompok lain.

- Konfirmasi: feedback/ umpan balik dengan cara guru menanyakan kembali tentang yang belum dimengerti siswa.

c) Kegiatan penutup ( 15 menit ).

- Elaborasi: menyimpulkan materi pelajaran bersama siswa - Elaborasi: pemanjangan hasil diskusi kelompok

- Elaborasi: memberikan PR Memberi pesan moral / belajar d) Observasi

Dalam pelaksanaan penerapan pembelajaran ini, mengamati peningkatan prestasi.

(12)

e) Refleksi

Hasil penelitian tindakan di ketahui adanya peningkatan hasil belajar di kelas VI. Adapun faktor-faktor kendala dari hasil observasi adalah:

- Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran

- Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung

- Siswa belum terbiasa dengan motode cooperative learning.

c. Siklus I

1) Tahap Perencanaan

pada tahap perencanaan, guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan analisis materi pelajaran tentang demokrasi. Guru juga menyiapkan alat dan bahan serta perangkat pembelajaran lainnya yang dibutuhkan pada RPP I dengan materi demokrasi. Bentuk tes adalah soal isian singkat. Tes ini bertujuan untuk menilai peningkatan hasil belajar siswa setelah pembelajaran.

Langkah-langkah pembelajaran pada siklus I 2) Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan-tindakan atau interview kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan dipahami sebagai aktifitas yang dirancang dengan sistematis untuk menghasilkan peningkatan atau perbaikan proses pembelajaran. Peningkatkan pembelajaran mencakup sejumlah aspek seperti proses pembelajaran menjadi lebih menarik, siswa menjadi lebih aktif, sumber belajar lebih termanfaatkan, lebih mudah dimengerti dan dipahami siswa dan hasil belajar lebih meningkat.

(13)

3) RencanaPelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan menggunakan metode cooperative learning. Penggunaan ini menuntut siswa untuk belajar aktif.

a) Obsevasi Terhadap Aktifitas Siswa dalam Pembelajaran Hasil pengamatan aktivitas siswa pada saat mengikuti pembelajaran dengan metode pembelajaran cooperative learning pada siklus 1

Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas dapat dilihat aktifitas siswa dengan rata-ratanya, dengan menggunakan rumus berikut:

X = 𝑓𝑖

𝑛

X = 2+2+2+2+3+2+3+2+2+2+3 11

= 25

11

= 2,27

Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer untuk penerapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan cooperative learning masih lemah untuk semua poin kegiatan yang dilakukan oleh peneliti. Walaupun ada beberapa poin yang sudah mencapai kriteria yang cukup baik, dan ada kriteria baik, tetapi untuk Siklus 1 dapat dikatakan untuk semua poin aktivitas siswa dengan menggunakan metode cooperative learning masih belum berhasil.

(14)

b) Hasil Tes Belajar

Penilaian hasil tes belajar pada Siklus 1 dilakukan melalui tes hasil belajar secara tertulis, dan dilaksanakan setelah pembelajaran. Hasil tes ini juga merupakan hasil tes Siklus 1.

Rata-rata = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢 ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢 ℎ𝑛𝑦𝑎

= 1915

28 = 68,39

Berdasarkan data hasil tes belajar di atas, maka dapat diketahui bahwa:

1) Banyak siswa yang tuntas secara individu adalah 19 orang 2) Ketuntasan siswa secara pada RPP 1 adalah:

Persentase = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢 ℎ𝑛𝑦𝑎 x 100%

= 19

28 𝑥 100 % = 65,51 %

Berdasarkan data yang diperoleh di atas dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar secara klasikal pada Siklus 1 belum tuntas.

c) Refleksi

Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar siswa pada siklus 1 di peroleh bahwa sebanyak 19 siswa (65,51 %) dari 28 siswa dapat menuntaskan belajarnya. Jumlah ketuntasan klasikal ini masih kecil, hai ini menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan cooperative learning pada materi demokrasi, untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu dilakukan kembali untuk siklus berikutnya. Untuk hasil pengamatan aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran dengan menggunkan pendekatan cooperative

(15)

learning pada siklus1 dominan masih mencapai kriteria cukup baik, bahkan masih ada poin-poin yang masih kurang baik, hal ini dapat disebabkan belum biasanya peneliti menggunakan pendekatan tersebut dalam pengelolaan pembelajaran. Dengan demikian, peneliti dan observer sepakat untuk lanjut pada siklus II.

d. Siklus II

1) Tahap Perencanaan

Seperti halnya pada siklus I, pada siklus II, guru juga menyusun rencana pembelajaran II (RPP II) sesuai dengan sub pokok demokrasi.

Pada siklus ini setelah menjelaskan materi, guru langsung memberikan soal kepada siswa guru juga mempersiapkan alat dan bahan untuk proses pembelajaran. Persiapan lainnya adalah tes akhir pembelajaran pada siklus II. Bentuk tes adalah soal isian. Tes ini bertujuan untuk melihat hasil belajar siswa setelah pembelajaran pada siklus II.

2) Tahap Pelaksanaan

a) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) II

Pertemuan pada siklus II, siswa masih mempelajari tentang demokrasi. Siswa pada siklus II ini diharapkan berperan aktif dalam menemukan konsep cooperative learning. Guru hanya membimbing dan mengarahkan siswa dalam pembelajaran.

Selanjutnya guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan tentang materi tersebut. Untuk evaluasi, siswa mengerjakan tes yang di berikan oleh guru. Tes tersebut juga menjadi tes akhir siklus II.

3) Observasi

Kegiatan belajar mengajar pada siklus II ini berlangsung tertib.

Siswa terlihat aktif dalam mengikuti setiap aspek pembelajaran. Namun

(16)

ada sebahagian siswa yang masih melakukan kegiatan di luar rencana pelaksanaan pembelajaran.

a) Observasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran

Hasil pengamatan aktivitas siswa pada Siklus II, dapat cari rata- ratanya:

X = 𝑓𝑖

𝑛

X = 3+3+4+3+3+3+3+3+3+3+3 11

= 34

11

= 3,09

Berdasarkan tabel di atas, semua hasil pengamatan observasi nilai pada siklus II untuk peneliti dalam mengikuti pembelajaran sudah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan hasil pada siklus I.

pada siklus II ini untuk beberapa poin sudah mengalami peningkatan yaitu sudah mendapatkan angka 3 dengan kriteria baik, untuk kriteria cukup baik juga cukup merata untuk setiap poin penilaian. Berdasarkan hasil analisis data di atas menunjukkan bahwa aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan pendekatan cooperative learning pada siklus II sudah mulai berhasil.

b) Hasil Belajar

Seperti pada tindakan Siklus I, maka untuk Siklus II penelitian hasil belajar dilakukan juga melalui tes hasil belajar secara tertulis, dan dilaksanakan setelah terselesainya pembelajaran tindakan Siklus II.

Adapun nilai hasil belajar siswa pada Siklus II adalah

(17)

Rata-rata =71,25

Berdasarkan data hasil tes belajar di atas, maka dapat diketahui bahwa:

a. Banyak siswa yang tuntas secara individu adalah 23 orang

b. Ketuntasan siswa secara klasikal pada Siklus II dengan persentase 82,14%

Berdasarkan data yang diperoleh di atas dapat di simpulkan bahwa ketuntasan belajar secara klasikal pada Siklus II adalah belum tuntas.

4) Refleksi

Refleksi dilakukan untuk mengetahui apakah tindakan siklus II harus diulang atau sudah berhasil. Berdasarkan hasil pengamatan selama pembelajaran berlangsung, hampir semua siswa dapat menemukan dan memahami konsep pembelajaran cooperative learning serta menyelesaikan soal-soal yang berikan oleh guru. Bahkan siswa yang lebih dulu memahami materi dapat membantu kawan kelompoknya yang lebih lama memahami materi tersebut. Jadi, kriteria keberhasilan tindakan siklus II yaitu siswa dapat menemukan dan memahami materi demokrasi sudah mencapai 75%. Aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran juga mengalami kemajuan dibandingkan pada siklus I. Guru dan siswa terlihat sangat antusias selama pembelajaran berlangsung. Terlihat dari segi hasil belajar siswa yang diperoleh siswa selama pembelajaran berlangsung.

Tetapi untuk hasil belajar pada siklus II secara klasikal baru mencapai keberhasilannya sebesar 82,14%. Dengan demikian penelitian dan observasi memutuskan untuk melakukan tindakan untuk siklus III.

e. SIKLUS III

1) Tahap Perencanaan

Pada siklus III dari penelitian ini, guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran III (RPP III) sesuai dengan analisis materi tentang demokrasi. Guru juga mempersiapkan alat dan bahan untuk

(18)

mengajar materi demokrasi, pada RPP ke III ini, guru langsung menjelas materi secara abstrak. Persiapan lainnya yang di butuhkan untuk pembelajaran adalah tes akhir pembelajaran RPP III. Bentuk tes adalah soal isian sederhana. Tes ini bertujuan untuk melihat hasil belajar siswa setelah pembelajaran. Pada siklus III ini peneliti memperbaiki segala kelemahan pada RPP I dan RPP II, baik dari segi proses maupun untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dalam penelitian ini.

2) Tahap Pelaksanaan

Pertemuan pada siklus III, siswa masih mempelajari tentang demokrasi. Metode pembelajaran yang dilakukan adalah cooperative learning. Siswa pada siklus III ini diharapkan dapat berperan aktif dalam menemukan konsep tentang demokrasi dengan melakukan cooperative learning bersama kelompoknya yang berpedoman pada LKS. Guru hanya membimbing dan mengarahkan siswa dalam pembelajaran. Selanjutnya guru dan siswa sama-sama membuat kesimpulan. Untuk evaluasi, siswa mengerjakan soal tes yang diberikan. Tes tersebut juga menjadi tes akhir pada siklus III. Langkah-langkah pembelajaran pada siklus III.

3) Observasi

Kegiatan belajar mengajar pada tahpan ini berlangsung tertib.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama pembelajaran nampak bahwa siswa sangat senang selama proses pembelajaran berlangsung.

Siswa sangat aktif bekerja dan aktif dalam melakukan diskusi.

Hasil pengamatan aktifitas siswa pada saat megikuti pembelajaran rata-ratanya adalah 93,73. Berdasarkan hasil analisis hasil pengamatan di atas menunjukkan bahwa aktfitas siswa saat mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative learning pada tahapan ini adalah sangat baik dan sudah berhasil.

(19)

4) Hasil Belajar

Seperti pada tindakan siklus I dan siklus II, penilaian hasil belajar juga dilakukan untuk siklus III melalui tes hasil belajar siswa secar tertulis, dan dilaksanakan setelah terselesainya pembelajaran tindakan siklus III. Nilai hasil belajar rata-rata adalah 85,71

Berdasarkan data hasil tes belajar di atas, maka dapat diketahui bahwa:

a) Banyak siswa yang tuntas secara individu adalah 27 orang b) Ketuntasan siswa secara klasikal pada siklus III adalah:

Persentase = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢 ℎ𝑛𝑦𝑎 x 100%

= 27

29 𝑥 100 % = 93,10 %

Maka berdasarkan data yang diperoleh di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus III adalah tuntas.

Berdasaran hasil pengolahan data yang telah dilakukan untuk ketiga siklus diperoleh hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie pada materi demokrasi mengalami peningkatan dan mencapai ketuntasan secara klasikal. Dari hasil tes siklus I diperoleh persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 65,51%, tes siklus II diperoleh persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 82,14%, dan tes siklus III diperoleh 93.14%.Dari jumlah siswa telah mencapai nilai ≥ 65, maka terlihat jelas bahwa nilai siswa telah mencapai standar kentuntasan secara klasikal yaitu 85 % dari jumlah siswa mencapai nilai KKM yang tetapkan dalam pembelajaran PKn yaitu (≥ 65). Jadi hal ini sesuai dengan prinsip belajar tuntas, yang seorang peserta didik dipandang tuntas belajar

(20)

jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65% dari seluruh pembelajaran yang ditetapkan. Sedangkan keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau sekurang-kurangnya dari 85% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut.Berdasarkan data-data yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar secara klasikal pada materi demokrasi sudah tuntas.

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan terhadap 28 siswa, semua siswa mengalami peningkatan hasil belajar siswa secara individu dan klasikal. Hal ini disebabkan adanya peningkatan interaksi yang terjadi sehingga mengakibatkan efek yang positif terhadap pemahaman siswa dalam mempelajari materi demokrasi. Berbagai hasil pembelajaran yang diperoleh siswa dari kerja kelompok, diskusi, dan kesimpulan akhir pada setiap pertemuan tersimpan dengan baik dalam pikiran siswa sehingga dalam menjawab soal-soal tes hasil belajar, siswa mampu menjawab dan tidak mengalami kesulitan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pendekatan cooperative learning pada materi demokrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pembelajaran dengan pendekatan cooperative learning menempatkan guru pada fungsi sebagai informasi sekaligus sebagai pembimbing bagi siswa. Sehingga dapat memberi pemahaman yang lebih mendalam bagi siswa dan pada akhirnya dapat menuntaskan belajar siswa.

Data yang diperolah dari hasil pengamatan aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa dalam setiap aspek selama tiga siklus adalah berkisar antara dari 2, 3,dan 4. Nilai ini mencapai katagori aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran yang sangat baik dan mengalami peningkatan untuk setiap siklus berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Berdasarkan data-data yang diperoleh, menunjukkan bahwa aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan pendekatan cooperative learning adalah sangat baik.

(21)

C. PENUTUP 1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan pada mata pelajaran PKn pada materi demokrasi dengan metode cooperative learning di kelas VI SD Negeri Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie

dapat diambil kesimpulan bahwa:

a. Hasil belajar siswa melalui metode cooperative learning pada materi demokrasi di kelas VI SD Negeri Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie mengalami peningkatan dan ketuntasan secara klasikal dari setiap RPP dapat tercapai, hal ini dapat lihat berdasarkan RPP pembelajaran yang diamati. Pada RPP pertama hasil belajar siswa adalah 65,51%.

Dan pada RPP ke II hasil belajar mengalami peningkatan yaitu 82,14%, dan pada siklus ke III hasil belajar siswa 93,14%.

b. Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative learning selama tiga kali RPP. Pada RPP pertama nilai rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 2,27, sedangkan pada RPP ke II yaitu 3,09, dan pada RPP ke III yaitu 3,73, dan ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan aktifitas belajar siswa dengan menggunakan metode cooperative learning pada materi demokrasi di kelas VI SD Negeri Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.

Cetakan II. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: Rajawali.

Asikin. 2002. Strategi Pembelajaran Matematika. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Djalil, Aria. 2007. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta: Depdikbud.

(22)

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zein. 2002. Strategi Belajar Mengajar.

Jakarta, Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.

Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Muntansir. S. 2005. Pengajaran Terprogram. Jakarta: CV. Rajawali.

Nasution. S, 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar Cetakan VI. Jakarta: Bumi Aksara.

Sagala, Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : CV Alfabeta Sawali. 2007. Diskusi Kelompok Terbimbing Metode Tutor Sebaya.

http://sawali.info/2007/12/29/diskusi-kelompok-terbimbing-tutor-sebaya/

(diakses 21 september 2012).

Semiawan. 2002. Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Siswa Belajar. Jakarta: Gramedia.

Sudjana, Nana. 2005. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta:

Rineka Cipta.

Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Cetakan Ulang III. Edisi VI. Bandung: Tarsito.

Sugiyono, Anas. 2005. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.

Suparno. P, 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika; Karakteristik dan Menyenangkan. Yogyakarta: Universitas Santa Darma.

Suryosubroto, B. 2001. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Cetakan II. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Suyitno. 2004. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Bahan Ajar S1 Pendidikan Matematika Konsentrasi Pendidikan Dasar. Semarang: UNNES.

Undang-Undang No.20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Zaini, Hisyam. 2002. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.

. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Cetakan XIV.

Edisi Revisi 2010. Jakarta: Rineka Cipta.

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dengan motivasi kerja yang tinggi akan meningkatkan kinerja, atau dengan kata lain bahwa Motivasi Kerja akan berpengaruh langsung terhadap peningkatan Kinerja

Pada penelitian akan dilakukan pembuatan zirkon tetraklorida dengan proses kering secara langsung dengan melihat pengaruh perbandingan umpan, kecepatan alir gas Cl2,

Berdasarkan pemaparan kedua subjek di atas (PDS 1 dan PDS 2), dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang memiliki intelligence quotient sedang telah mampu memahami

Di Kota Banjarmasin, dari 7 kelompok pengeluaran, lima kelompok mengalami kenaikan indeks harga yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar

Kali ini data yang akan dianalisis adalah kalimat tunggal transformasi bahasa Angkola (yang frasa verbanya bermorfem terikat {mar-} ‘ber-’) dengan tujuh jenis kalimat

Dengan strategi Peer Lessons peserta didik dapat belajar secara aktif, di dalam dan di luar kelas dan mereka mempunyai tanggung jawab untuk mendiskusikan dan

Untuk itu diperlukan suatu sistem keamanan untuk memblokir spam dan bot- bot spam ini, yaitu bagaimana cara agar spammer dan bot-bot ini tidak bisa melakukan posting

Wilayah pesisir Kota Makassar cukup pesat dengan aktifitas industri dan Kegiatan rumah tangga, serta adanya kegiatan di hulu sungai yang dapat memberikan