PARTISIPASI PETANI MILLENIAL DALAM
BUDIDAYA SAWI PUTIH (Brassica rapa subsp. pekinensis.) DI KECAMATAN CIPANAS KABUPATEN CIANJUR
PROVINSI JAWA BARAT
LAPORAN TUGAS AKHIR
RIFKI MEIDY PRATAMA NIRM : 02.01.18.044
PROGRAM STUDI
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN BOGOR PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN
BERKELANJUTAN
2022
PARTISIPASI PETANI MILLENIAL DALAM
BUDIDAYA SAWI PUTIH (Brassica rapa subsp. pekinensis.) DI KECAMATAN CIPANAS KABUPATEN CIANJUR
PROVINSI JAWA BARAT
LAPORAN TUGAS AKHIR
RIFKI MEIDY PRATAMA 02.01.18.044
Sebagai salah satu syarat memperoleh sebutan profesional Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P) pada Program Studi Penyuluhan
Pertanian Berkelanjutan
PROGRAM STUDI
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN BOGOR PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN
BERKELANJUTAN
2022
LEMBAR PERSEMBAHAN
Assalamualaikum Wr.Wb, Alhamdulillahirobbil’alamiin, Ya Allah dengan segala rahmat dan karunia Mu penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang telah dilaksanakan dan berjalan dengan baik.Mencapai titik ini tidaklah mudah, banyak yang harus dikorbankan dan di tinggalkan semua adalah langkah yang harus dihadapi untuk menjadi seseorang yang lebih baik.
Laporan ini saya persembahkan untuk ibu dan ayah saya tercinta dan adek ku. Terimakasih untuk ibu telah melahirkan, merawat, mendidik, mendukung dan mendo’akan dalam setiap sujud untuk mencapai semua cita-cita anaknya selalu berharap atas kebahagiaanku. Untuk ayah terima kasih sudah banyak berkorban untuk pendidikan ku selama ini yang sudah memfaslitasi saya selama ini.
Mendidik saya untuk menjadi seorang yang keras, bertanggumg jawab dan bisa di percaya.
Terimakasih kepada Bapak Dedy Kusnadi, SP., M.Si dan Bapak Dr.
Yoyon Haryanto, S.ST, M.P. selaku dosen pembimbing tugas akhir yang telah sabar dalam membimbing, mengarahkan dan membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir. Terimakasih juga kepada keluarga besar BPP Kecamatan Cipanas yang senantiasa melayani kami. Membimbing dan selalau ada untuk saya saat suka dan duka berada di lapangan. Terima kasih kepada Bapak Dodi Permana Adjie selaku pembimbing eksternal saya terima kasih telah membimbing penuh perjuangan selama kegiatan penugasan akhir di Kecamatan Cipanas. Kepada rekan-rekan seperjuangan TA Cipanas, semoga kita semua menjadi orang yang sukses di kemudian hari jangan pernah lupakaan semua kenangan kita dan perjuangan kita selama kita bersama..
Terimakasih untuk grub Si Paling SPSS yang tak bisa di sebutkan satu-satu yang selalu memotivasi selalu mendorong menyelesaikan TA. dan terimakasih buat diriku sendiri telah mencapai pada titik saat ini suatu kebanggan tersendiri bias menyelesaikan pendidikan di POLBANGTAN BOGOR
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya haturkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan partisipasi petani millenial dalam budidaya sawi putih (Brassica rapa subsp. Pekinens) di kecamatan cipanas kabupaten cianjur provinsi jawa barat
Dengan terselesaikannya laporan ini, penulis juga ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penyelesaian tugas ini yaitu kepada:
1. BapakDedy Kusnadi, SP., M.Si selaku Pembimbing 1.
2. Bapak Dr. Yoyon Haryanto, S.ST, MP selaku Pembimbing 2.
3. Dr. Detia Tri Yunandar,SP.,M.Si. Selaku Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor.
4. Dr. Wahyu Trisnasari,S.ST.,M.Si Selaku ketua jurusan pertanian Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor.
5. Ait Maryani, SP., M.Pd. selaku ketua prodi penyuluhan pertanian berkelanjutan Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor.
6. Kedua orang tua yang telah mensuport dan mendo’akan yang terbaik terhadap anaknya dan semua pihak yang telah membantu memberi motivasi dan dukungan terhadap laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar kedepannya dapat lebih baik lagi. Penulis berharap, semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi yang membutuhkan.
Bogor, Juli 2021
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bangkinang, pada tanggal 31 Mei 2000. Dari ayah Edi lubis dan ibu Erniati, sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) ditempuh di SD Negeri 011 Kundur Utara Pada tahun 2012. , Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP) di SMP Negeri 1 Kundur Utara lulus pada tahun 2015, Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA) di SMA Negeri 1 Kundur lulus pada tahun 2018. Pada tahun 2018 penulis mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan Program Dimploma IV melalui jalur umum di Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor pada Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan. Penulis menjadi Komandan Resimen Mahasiswa (2021-2022), Bass drum tim Drum band Canka Lembayung Muda.
ABSTRAK
Rifki meidy pratama. Partisipasi Petani Millenial Dalam Budidaya sawi putih (Brassica rapa subsp. Pekinensis) Di Kecamatan Cipanas Kabupaten
Cianjur Provinsi Jawa Barat. Dibimbing ole Dedy Kusnadi dan Yoyon Haryanto
Menurut Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura (2016) konsumsi sawi per kapita terus mengalami peningkatan, dari data tahun 2014 hingga 2015 mengalami peningkatan sekitar 46,89 % dan konsumsi nasional tahun 2016 meningkat sebanyak 1,4 %, yang diperkirakan akan terus meningkat tiap tahunnya. Sementara, produksi sawi dari tahun 2013, 2014, 2015, 2016 berturut-turut mengalami penurunan yaitu: 635.728, 602.478, 600.200 juta ton.
Mengingat nilai ekonomi dan manfaatnya bagi kesehatan, maka upaya untuk meningkatkan produksi sawi harus dilakukan (Siahan, 2012).
Pengembangan budidaya sawi mempunyai prospek baik untuk mendukung upaya peningkatan pendapatan petani, peningkatan gizi masyarakat, perluasan kesempatan kerja, pengembangan agribisnis, peningkatan pendapatan negara melalui pengurangan impor dan memacu laju pertumbuhan ekspor
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat partipasi petani, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi petani.
Dilihat dari programa BPP Kecamatan cipanas(2022), kemauan petani dalam Budidaya Sawi Putih Di Kecamatan Cipanas baru mencapai setengah dari yang ditargetkan. Salah satu faktor penyebab hal ini terjadi, karena kurangnya informasi teknologi terbaru budidaya sawi putih. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat partisipasi petani, faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi petani dan merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan partisipasi petani dalam budidaya sawi putih .
Penelitian telah dilaksanakan di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur pada bulan Maret hingga Juli 2022. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling yaitu 61 petani yang pernah melakukan budidaya Sawi Putih.
Variabel penelitian terdiri atas karakteristik petani, faktor eksternal, dan partisipasi petani. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistika deskriptif dan analisis inferensial berupa regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berada dikategori tinggi dalam pengaruh petani. Nilai R square 0,231 memiliki makna bahwa variabel karateristik (X1) faktor eksternal (X2) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap variabel partisipasi (Y) sebesar 23,1% sedangkan 76,9% di pengaruhi dari variabel lain yang tidak di teliti. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi petani yaitu lama usaha tani (0,037), peran penyuluh (0,009), untuk yang tidak berpengaruh antaralain: umur, pendidikan, luas lahan, kegiatan penyuluh. Strategi dalam upaya peningkatan partisipasi petani millenial dalam budidaya sawi putih di kecamatan Cipanas adalah dengan meningkatkan kegiatan penyuluhan dan membuat petak percontohan.
Keywords: Partisipasi, Petani Milenial, Budidaya Sawi Putih
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN i
HALAMAN PENGESAHAN ii
LEMBAR PERSEMBAHAN iii
SURAT PERNYATAAN iv
KATA PENGANTAR v
RIWAYAT HIDUP vi
ABSTRAK vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR TABEL x
DAFTAR LAMPIRAN xi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan 2
Manfaat 3
TINJAUAN PUSTAKA 4
Partisipasi 4
Petani millenial 7
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Sawi putih 10
Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Putih (Brassica rapa L. ssp. pekinensis) 11
Karakteristik Petani 19
Penyuluhan Pertanian 24
Akses Informasi dan Teknologi 29
Kerangka Pemikiran 31
METODE PELAKSANAAN 32
Waktu dan Tempat 32
Populasi dan Sampel 32
Defenisi Operasional 34
Instrumen Penelitian 35
Variabel, Indikator, Parameter dan Pengukuran 36
Uji Validitas 37
Uji Reliabilitas 38
Pengumpulan dan Analisis Data 39
HASIL DAN PEMBAHASAN 41
Keadaan Umum Wilayah 41
Geografi dan Topografi 41
Keadaan Penduduk dan Mata Pencahariannya 42
Karakteristik Petani Responden 43
Faktor Eksternal 47
Tingkat Partisipasi Petani (Y) 50
Faktor- Faktor yang Pengaruhi partisipasi Petani 52
Pengaruh Variabel X terhadap Variabel Y 60
Strategi Meningkatkan Partisipasi Petani dalam Budidaya Sawi Putih 61
RANCANGAN DAN PELAKSANAAN PENYULUHAN 63
Rancangan Kegiatan Penyuluhan 63
Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan 65
Petak Percontohan 67
KESIMPULAN DAN SARAN 71
Kesimpulan 71
Saran 72
DAFTAR PUSTAKA 73
LAMPIRAN 78
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Sawi Putih 10
Gambar 2. Kerangka Berfikir 31
Gambar 3 Hasil Uji Normalitas 52
Gambar 4 Scatterplot 53
Gambar 5 Strategi meningkatkan Partisipasi petani sawi 61
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Populasi Petani 32
Tabel 2. Proporsi Sampel 34
Tabel 3. Variabel karakteristik petani 36
Tabel 4. Komposisi Penduduk Delapan Desa Kecamatan Cipanas pada 2017 42 Tabel 5. Produktivitas Komoditas Kecamatan Cipanas Tahun 2017 43
Tabel 6. Karakteristik Usia Petani Sawi Putih 44
Tabel 7. Karakteristik Tingkat Pendidikan Petani Sawi Putih 45 Tabel 8. Karakteristik Lama Usahatani Petani Sawi Putih 46 Tabel 9. Karakteristik Luas Lahan Petani Sawi Putih 46
Tabel 10. Analisis Deskriptif Penyuluhan 48
Tabel 11. Rerata Analisis Deskriptif Peran Penyuluh 48 Tabel 12. Rerata Analisis Deskriptif Akses Informasi 49 Tabel 13. Rerata Analisis Deskriptif Partisipasi 50 Tabel 14. Rerata Analisis Deskriptif Partisipasi Kemampuan 51 Tabel 15. Rerata Analisis Deskriptif Partisipasi Kesempatan 51
Tabel 16. Analysis of Varience (ANOVA) 53
Tabel 17. Model summary 53
Tabel 18. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda 54
Tabel 19. Tabel simultan 60
Tabel 20. Rancangan Kegiatan Penyuluhan 63
Tabel 21. Topik materi penyuluhan 64
Tabel 22. Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan 65
Tabel 23. Tabel parsial 69
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1Uji Validitas 79
Lampiran 2 Uji Reabilitas 80
Lampiran 3 Kuesioner penelitian 82
Lampiran 4 Sinopsis penyuluhan 88
Lampiran 6 Jadwal Palang Kegiatan 96
Lampiran 7 Dokumentasi kegiatan 97
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sawi putih (Brassica juncea L.) merupakan tanaman yang berasal dari China. sawi putih berasal dari persilangan antara beberapa jenis Pak choi yang terjadi secara alami. Terdapat beberapa varietas sawi putih yang berbeda ditemukan sejak 600 tahun yang lalu di China. Siemonsma and Piluek (1994) menyatakan bahwa sawi putih banyak ditemukan tumbuh hampir diseluruh dunia dan merupakan tanaman sayuran dengan iklim sub-tropis, namun mampu beradaptasi dengan baik pada iklim tropis. Saat ini, kebutuhan akan sawi putih semakin lama semakin meningkat seiring dengan peningkatan populasi manusia dan manfaat mengkonsumsi bagi kesehatan.
Menurut Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura (2016) konsumsi sawi per kapita terus mengalami peningkatan, dari data tahun 2014 hingga 2015 mengalami peningkatan sekitar 46,89 % dan konsumsi nasional tahun 2016 meningkat sebanyak 1,4 %, yang diperkirakan akan terus meningkat tiap tahunnya. Sementara, produksi sawi dari tahun 2013, 2014, 2015, 2016 berturut-turut mengalami penurunan yaitu: 635.728, 602.478, 600.200 juta ton.
Mengingat nilai ekonomi dan manfaatnya bagi kesehatan, maka upaya untuk meningkatkan produksi sawi harus dilakukan (Siahan, 2012).
Pengembangan budidaya sawi mempunyai prospek baik untuk mendukung upaya peningkatan pendapatan petani, peningkatan gizi masyarakat, perluasan kesempatan kerja, pengembangan agribisnis, peningkatan pendapatan negara melalui pengurangan impor dan memacu laju pertumbuhan ekspor. Disamping itu umur panen sawi relatif pendek dan hasilnya memberikan keuntungan yang memadai. tetapi tanaman yang dihasilkan umumnya masih menggunakan pupuk anorganik sehingga belum berorientasi pada produk organik yang harganya cukup mahal (Saranga, 2000).
Partisipasi petani dalam budidaya sayuran merupakan suatu kemauan dalam diri petani untuk tertarik membudidayakan satu atau beberapa jenis komoditas sayuran terutama sawi putih yang menjadi kebutuhan pangan keluarga.
Kecamatan Cipanas memiliki sumberdaya alam yang melimpah ketersediaan jenis pangan dan rempah yang beraneka ragam, berbagai jenis tanaman pangan seperti
padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan sayuran, namun pada kenyataannya realisasi konsumsi masyarakat masih dibawah anjuran pemenuhan gizi. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi penulis untuk mengkaji lebih jauh mengenai partisipasi petani khususnya petani milenial dalam budidaya Sawi Putih di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, rumusan masalah yang dapat diuraikan adalah sebagai berikut :
1.
Sejauh mana partisipasi petani dalam budidaya sawi putih. (Brassica rapa subsp. Pekinens) di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.2.
Faktor-faktor yang berpengaruh dengan partisipasi petani dalam budidaya sawi putih (Brassica rapa subsp. Pekinens) di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.3.
Bagaimana strategi untuk meningkatkan partisipasi petani millenial dalam budidaya sawi putih (Brassica rapa subsp. Pekinens) di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :
1.
Mendeskripsikan partisipasi petani dalam budidaya sawi putih (Brassica rapa subsp. Pekinens) di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.2.
Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam budidaya sawi putih (Brassica rapa subsp. Pekinens) di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.3. Menyusun strategi untuk meningkatkan partisipasi petani milenial dalam budidaya sawi putih (Brassica rapa subsp. Pekinens) Di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.
Manfaat
Selanjutnya manfaat yang dapat diperoleh setelah kegiatan penelitian Tugas Akhir ini dilaksanakan yaitu sebagai berikut :
1. Bagi Mahasiswa : Menambah wawasan dan kemampuan berpikir mengenai penerapan teori yang telah didapat dari mata kuliah yang telah diterima kedalam pengkajian yang sebenarnya.
2. Bagi Petani : Memperoleh informasi tentang teknologi pertanian spesifik lokasi dan sebagai sarana untuk mengetahui sejauh mana teknologi telah diterapkan dikalangan petani
3. Bagi Instansi Terkait : Sebagai bahan untuk rancangan program bagi stakeholder atau instansi terkait
TINJAUAN PUSTAKA
Partisipasi
Menurut Andriani (2018) Partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, Partisipasi berarti ikut serta dalam mengikuti dan menyertai suatu kegiatan. Selain itu, partisipasi juga merupakan keikut sertaan masyarakat dalam mengambil bagian dari kegiatan masyarakat di luar pekerjaan atau profesinya sendir
Menurut Theresia et al. (2015) Tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat, memberikan indikasi adanya pengakuan dari pemerintah bahwa masyarakat bukanlah sekedar obyek atau penikmat hasil pembangunan, melainkan subyek atau pelaku pembangunan yang 14 memiliki kemampuan dan kemauan yang dapat diandalkan sejak perencanaan, pelaksanaanm pengawasan, dan pemanfaatan hasil-hasil pembangunan
Prinsip dalam partisipasi adalah melibatkan atau peran serta masyarakat secara langsung, dan hanya mungkin dicapai jika masyarakat sendiri ikut ambil bagian, sejak dari awal, proses dan perumusan hasil. Keterlibatan masyarakat akan menjadi penjamin bagi suatu proses yang baik dan benar. Dengan demikian, Abe (2005) mengasumsikan bahwa hal ini menyebabkan masyarakat telah terlatih secara baik. Tanpa adanya pra kondisi, dalam arti mengembangkan pendidikan politik maka keterlibatan masyarakat secara langsung tidak akan memberikan banyak arti. Lebih lanjut Abe (2005) mengemukakan, melibatkan masyarakat secara langsung akan membawa dampak penting, yaitu :
1. Terhindar dari peluang terjadinya manipulasi. Keterlibatan masyarakat akan memperjelas apa yang sebenarnya dikehendaki oleh masyarakat;
2. Memberikan nilai tambah pada legitimasi rumusan perencanaan karena semakin banyak jumlah mereka yang terlibat akan semakin baik; dan 3. Meningkatkan kesadaran dan keterampilan politik masyarakat.
Slamet dalam Turinda (2009) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh tiga unsur pokok yaitu :
1. Adanya kemauan yang diberikan kepada masyarakat, untuk berpartisipasi.
2. Adanya kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi.
3. Adanya kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.
Lebih rinci Slamet dalam Turinda (2009) menjelaskan tiga persyaratan yang menyangkut kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk berpartisipasi yaitu : Kemauan
Menurut Sumanto Konatif (kemauan) adalah aktifitas psikis yang mengandung usaha aktif dan berhubungan dengan pelaksanaan tujuan yang menjadi titik akhir dari gerakan yang menuju pada suatu arah.dalam istilah sehari-hari kemauan dapat disamakan dengan kehendak atau hasrat yang merupakan fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu.Menurut Kartini Kartono kemauan adalah dorongan kehendak yang terarah pada satu tujuantujuan tertentu, dan dikendalikan oleh pertimbangan akal budi
Secara psikologis kemauan berpartisipasi muncul oleh adanya motif dari dalam sendiri maupun rangsangan, dorongan, atau tekanan dari luar. Tumbuh dan berkembangnya kemauan berpartisipasi diperlukan sikap-sikap, sebagai berikut :
1. Sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan.
2. Sikap untuk selalu ingin memperbaiki mutu hidup dan tidak cepat puas sendiri.
3. Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah dan tercapainya tujuan pembangunan.
4. Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya.
Kemampuan
Kemampuan seseorang terbentuk dari pengetahuan dan ketrampilan sangat baik, pegawai memiliki kemampuan sangat baik dalam melaksankan tugasnya.
Dengan kata lain seorang pegawai memiliki kemampuan tinggi dalam melaksankan pekerjaan akan mengasilkan mutu pekerjaan sangat baik atau prestasi kerja yang tinggi. Kemampuan adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu
untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya (Wijono, 2012.). Kemampuan adalah sifat yang di bawa sejak lahir yang memungkinkan seseorang menyelesaikan tugasnya (Gibson, 2006).
Beberapa kemampuan yang dituntut untuk dapat berpartisipasi dengan baik antara lain :
1. Kemampuan untuk mengidentifikasi.
2. Kemampuan untuk memahami kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia.
3. Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta sumberdaya lain yang dimiliki.
Kesempatan
Berbagai kesempatan untuk berpartisipasi sangat dipengaruhi oleh :
1. Kemauan dari penguasa atau pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan.
2. Kesempatan untuk memperoleh informasi.
3. Kesempatan untuk mengembangkan kemimpinan yang mampu menumbuhkan, menggerakan dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Karakteristik dari proses partisipasi ini adalah, semakin mantapnya jaringan sosial (sosial network) yang “baru” yang membentuk jaringan sosial bagi terwujudnya suatu kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Karena itu, partisipasi sebagai proses akan menciptakan 6 jaringan sosial baru yang masing – masing berusaha untuk melaksanakan tahapan- tahapan kegiatan demi tercapainya tujuan akhir yang diinginkan masyarakat atas struktur sosial yang bersangkutan.
Wilcox (1988) mengemukakan adanya 5 (lima) tingkatan atau tahapan partisipasi, yaitu:
1. Memberikan informasi (information)
2. Konsultasi (consultation), yaitu: menawarkan pendapat, sebagai pendengar yang baik untuk memberikan umpan – balik, tetapi tidak terlibat dalam implemetasi ide dan gagasan tersebut
3. Pengambilan keputusan bersama (Deciding together), dalam arti memberikan dukungan terhadap ide, gagasan, pilihan- pilihan, serta pengembangan peluang yang diperlukan guna pengambilan keputusan
4. Bertindak bersama (acting together), dalam arti tidak sekedar ikut dalam pengambilan keputusan, tetapi juga terlibat dan menjalin kemitraan dalam pelaksanaan kegiatannya.
5. Memberikan dukungan (supporting independent community interest) dimana kelompok – kelompok lokal menawarkan pendanaan, nasihat, dan dukungan lain untuk mengembangkan agenda kegiatan.
Hamijoyo, 2007: 21, Pasaribu dan Simanjuntak, 2005:11, 7 menyatakan bentuk dan tipe partisipasi :
1. Partisipasi Kehadiran Bentuk partisipasi yang dimana untuk mendatangkan diri dalam setiap acara kegiatan atau perkumpulan dalam kelompok untuk mendengar arahan dan pendapat dalam perencanaan kedepan yang akan dicapai.
2. Partisipasi Biaya (Harta Benda) partisipasi menyumbangkan uang atau berupa alat yang akan digunakan selama proses kegiatan yang berlangsung.
3. Partisipasi Ide (Buah Pikiran) Berupa sumbangan pendapat yang diberikan untuk menyusun program maupun memperlancar pelaksanaan program dan juga untuk terwujudnya dengan memberikan pendalaman dan pengetahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikuti.
4. Partisipasi Tenaga Merupakan partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga yang dikeluarkan untuk pelaksanaan usaha yang dapat menujuang keberhasilan suatu program.
Petani millenial
Definisi yang diberikan oleh para peneliti terhadap kaum milenial cukup beragam, namun dari waktu lahir selalu menjadi variabel utama dalam memberikan definisi. Kemen PPPA dan BPS (2018) menyimpulkan pendapat para ahli di mana generasi milenial yang disebut juga sebagai generasi Y adalah penduduk yang lahir pada rentang waktu 1980-2000. Pendapat lain juga menyatakan hal yang serupa, yaitu generasi milenial lahir pada periode waktu
1980‒2001 (Berkup 2014), 1980‒1995 (Andrea et al. 2016), dan peneliti Indonesia pun menyatakan hal serupa, yaitu 1981‒2000 (Ali dan Purwandi 2017).
Meskipun waktu lahir menjadi variabel utama, kesamaan situasi sosial merupakan variabel yang mendasari pembagian waktu tersebut. Situasi sosial pada generasi baby boom (lahir 1946‒1960) dan generasi X (lahir 1961‒1980) ditentukan olah perubahan tingkat kelahiran, sementara pada generasi milenial dan pascamilenial ditentukan oleh perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi. Generasi milenial tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi. Pada saat generasi milenial berada pada usia remaja, teknologi informasi berkembang sangat pesat. Dengan latar situasi teknologi seperti itu, generasi milenial memiliki ciri kreatif, inovatif, memiliki passion, dan produktif (Kemen PPPA dan BPS 2018). Generasi ini melibatkan teknologi dalam segala aspek kehidupan (Papp dan Matulich 2011). Dengan demikian, generasi milenial sangat dinamis dan ingin serba cepat dalam merealisasikan sesuatu. Di sisi lain, generasi ini juga terbuka terhadap pemikiran baru (open minded), kritis, dan berani (Kemen PPPA dan BPS 2018). Oleh karena itu, generasi milenial dapat menciptakan peluang baru seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir.
Karakteristik generasi milenial yang tumbuh bersamaan dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, ternyata berbeda dengan karakteristik generasi sebelumnya. Gallup (2016) menyimpulkan karakteristik generasi milenial pada aspek pekerjaan seperti berikut:
1. para milenial bekerja bukan hanya sekedar untuk menerima gaji, tetapi juga untuk mengejar tujuan (sesuatu yang sudah dicita-citakan sebelumnya);
2. milenial tidak terlalu mengejar kepuasan kerja, namun yang lebih diinginkan kaum milenial adalah kemungkinan berkembangnya diri mereka di dalam pekerjaan tersebut (mempelajari hal baru, skill baru, sudut padang baru, mengenal lebih banyak orang, mengambil kesempatan untuk berkembang, dan sebagainya);
3. milenial tidak menginginkan atasan yang suka memerintah dan mengontrol;
4. milenial tidak menginginkan review tahunan, milenial menginginkan on going conversation;
5. milenial tidak terpikir untuk memperbaiki kekuranganya, milenial lebih berpikir untuk mengembangkan kelebihannya;
6. bagi milenial, pekerjaan bukan hanya sekedar bekerja, namun bekerja adalah bagian dari hidup mereka. Karakteristik-karakteristik ini dominan di Indonesia mengingat jumlah generasi milenial mendominasi struktur penduduk Indonesia.
Pembangunan pertanian menghadapi tantangan berupa proses suksesi sistem pengelolaan usaha pertanian. Sumaryanto et al. (2015) mengungkapkan bahwa sebagian besar pemuda yang juga merupakan anak dari petani, tidak mau meneruskan usaha pertanian orang tuanya dan memilih untuk bekerja di luar sektor pertanian. Situasi ini disebabkan pandangan bahwa sektor pertanian tidak dapat memberikan jaminan pendapatan dan kepastian masa depan. Pandangan tersebut berasal baik dari generasi muda maupun dari orang tua mereka yang saat ini berprofesi sebagai petani. Setiyanto (2015) memprediksi tren pertumbuhan keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian ke depan akan melambat sehingga semakin memperparah fenomena aging farmer.
Menurunnya komposisi generasi milenial pada sektor pertanian dapat disebabkan karena faktor internal maupun faktor eksternal. Secara internal, generasi milenial menganggap bahwa usaha pertanian tidak bergengsi dan tidak dapat memberikan jaminan masa depan. Oleh sebab itu, generasi milenial perdesaan banyak yang melakukan migrasi ke perkotaan untuk mendapatkan pekerjaan di luar sektor pertanian. Faktor eksternal yang turut mempercepat laju penurunan keterlibatan generasi milenial adalah fragmentasi lahan pertanian akibat sistem pewarisan. Saptana et al (2018) mengungkapkan bahwa lahan yang terfragmentasi menjadikan skala pengusahaan menjadi tidak ekonomis dan selanjutnya lahan dijual serta terkonversi ke penggunaan nonpertanian.
Kurang aksesnya generasi milenial terhadap lahan menjadikan mereka keluar dari sektor pertanian (White 2012). Menurunnya minat generasi milenial untuk bekerja pada sektor pertanian juga diperparah dengan fakta rendahnya tingkat pendidikan petani. Hasil sensus pertanian tahun 2013 (BPS 2013)
menunjukkan bahwa mayoritas petani Indonesia memiliki tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan tidak sekolah/belum tamat SD (73%). Hal ini menggambarkan kondisi petani Indonesia yang umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Di sisi lain, Kemen PPPA dan BPS (2018) mengungkapkan bahwa mayoritas generasi milenial memiliki tingkat pendidikan lulus SLTA (36%). Kontradiksi data ini memungkinkan terjadinya perbedaan tingkat pendidikan antara petani dengan anak dari petani. Sebagaimana diungkapkan Rani dan Roy (2017), bahwa di banyak negara, anak dari petani memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada orang tuanya ini menjadi salah satu penyebab rendahnya minat generasi milenial untuk terlibat pada sektor pertanian.
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Sawi putih
Gambar 1 Sawi Putih
Sawi putih diklasifikasikan dalam famili Cruciferae (Brassicaceae), genus Brassica, dan spesies Brassica rapa L. ssp. pekinensis (UPOV, 2003). Tanaman sawi putih merupakan salah satu sayuran penting di Asia, atau khususnya di China. Daun sawi putih bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau keputihan, dan mengkilat, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun, berwarna putih atau hijau muda. Sawi putih (sawi jabung), memiliki daun berwarna hijau keputihan dan lebar, batang berwarna hijau dan pendek serta tegap, dan bersayap (Haryanto, 2007)
Tanaman sawi putih memiliki akar tunggang (radix primaria) dan cabang akar yang bentuknya bulat panjang menyebar ke semua akar pada kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain untuk menyerap air dan zat
makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman (Yulia, Murniati, dan Fatimah, 2011).
Struktur bunga sawi putih tersusun dalam tangkai bunga (Inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga terdiri atas empat helai kelopak daun, empat helai daun 4 mahkota, bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari, dan satu buah putik yang berongga dua (Haryanto, 2007). Buah sawi putih termasuk tipe buah polong, yaitu bentuknya memanjang dan berongga. Tiap buah (polong) berisi 2-8 butir biji. Biji sawi putih berbentuk bulat kecil berwarna coklat atau coklat kehitam-hitaman, dengan permukaannya licin mengkilat, dan agak keras (Haryanto, 2007).
Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Putih (Brassica rapa L. ssp. pekinensis) Tanaman sawi putih dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik ketika tanaman berada pada syarat tumbuh yang seharusnya. Adapun syarat tumbuh tanaman sawi putih sebagai berikut.
1. Iklim Pada stadia pembibitan diperlukan intensitas cahaya lemah sehingga memerlukan naungan, untuk mencegah cahaya matahari langsung yang dapat membahayakan pertumbuhan bibit. Pada stadia pertumbuhan diperlukan intensitas cahaya kuat, sehingga tidak membutuhkan naungan. Secara umum sawi putih memerlukan penyinaran 10-13 jam/hari. Suhu udara yang untuk budidaya sawi putih adalah 15-20 0C (Kalb et al.2005) dan toleran terhadap suhu 32-350C (Telaumbanua, Bambang, Lilik, dan Mohammad 2016).
2. Media tanam Syarat yang paling penting adalah tanahnya subur, gembur, kaya bahan organik dan tidak mudah becek seperti pada tanah lempung berpasir tetapi dapat hidup dengan baik pada tanah jenis Latosol. Keasaman yang cocok adalah pH 5,5–7,5. Tetapi pada kisaran pH 5,9-8,2 sawi putih 3. masih dapat tumbuh dengan baik. Kandungan air tanah yang baik adalah
pada kandungan air tersedia, yaitu pF antara 2,5–4. Dengan demikian lahan tanaman sawi putih memerlukan pengairan yang cukup baik (irigasi maupun drainase). Sawi putih tidak dapat hidup dengan baik pada tanah yang berlebihan air atau tergenang (Kalb et al., 2005).
4. Kemiringan lahan Sawi putih dapat hidup pada tanah-tanah dengan kemiringan 0-20%, pada tanah dengan kemiringan lebih 20%, lahan harus
dibuat dalam bentuk terasering. Penanaman sawi putih juga harus memperhatikan kemiringan lahan. Semakin curam lahan tempat tumbuh sawi putih maka semakin rawan sawi putih tersebut 5 roboh karena perakaran sawi putih yang tidak terlalu dalam antara 20 – 30 cm (Kalb et al. 2005) .
5. Ketinggian tempat Umumnya sawi putih tumbuh baik di daerah dataran tinggi pada ketinggian 500 – 2000 m dpl. Sawi putih dapat pula ditanam di daerah dataran rendah (Haryanto, 2007). Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah. Meskipun begitu, tanaman sawi akan lebih baik jika ditanam di dataran tinggi. Sebagian besar daerah-daerah di Indonesia memenuhi syarat ketinggian tersebut (Yulia et al.2011)
Budidaya Tanaman Sawi Putih Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah pertama dilakukan dengan membersihkan lahan dari gulma dan sisa tanaman musim tanaman sebelumnya. Setelah didapatkan pH yang netral kemudian melakukan pencangkulan atau bajak tanah untuk membalik dan mencegah agregat tanah. Setelah itu buat bedengan sederhana terlebih dahulu dengan lebar 90 cm dan tinggi 17-20 cm. Sementara itu lebar selokan 40-50 cm.
Memberikan pupuk kandang Pemberian pupuk kandang sapi dengan dosis 10 dan 15 ton/ha berturut-turut menghasilkan bobot segar sawi sebesar 21,75 g dan 23,75 g. Semakin tinggi dosis pupuk kandang sapi yang diberikan semakin tinggi atau semakin berat bobot segar yang 10 dihasilkan (Sompotan, 2013). Peningkatan produksi tanaman sawi putih dengan menambah pupuk kandang untuk pertanian berkelanjutan. Dosis pemberian pupuk kandang untuk tanaman sawi putih berkisar 10-20 ton/ha dengan menggunakan pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing dan pupuk kandang ayam (Kusuma, 2012).Setelah pembuatan bedengan selesai dilakukan pemasangan mulsa plastik hitam perak yang telah diberi pupuk, baik pupuk kandang maupun pupuk kimia. Cara pemasangan mulsa plastik hitam perak adalah sebagai berikut :
a. Bedengan diairi terlebih dahulu hingga cukup basah.
b. Permukaan bedengan dirapikan dan dibuat semulus mungkin agar plastik dapat menempel pada bedengan secara sempurna.
c. Bedengan ditutup mulsa plastik hitam perak dengan posisi permukaan plastik yang berwarna hitam menghadap ke bawah (menghadap tanah) dan permukaan plastik berwarna perak menghadap ke atas.
d. Mulsa plastik yang sudah terpasang, lalu dipancang atau dijepit dengan belahan bambu tipis yang panjangnya sekitar 20-25 cm pada bagian sisi kanan kiri bedengan. Pemasangan mulsa plastik hitam perak sebaiknya dilakukan pada siang hari antara jam 09.00-14.00 WIB. Sehingga dengan demikian plastik dapat terpasang lebih kencang dan rapat ( Bambang, 2003).
Pengadaan Benih
Pengadaan benih dapat dilakukan dengan membuat sendiri atau membeli benih yang siap tanam. Tetapi pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa berjerih payah. Sedangkan pengadaan benih ddengan membuat sendiri lebih rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik. Dalam pengadaan benih hendaknya membeli benih pada toko pertanian yang menyediakan benih yang bermutu baik. Benih yang dibeli harus bersertifikat, yaitu dengan melihat nomor seri yang menunjukkan keaslian benih yang dapat dilihat disebelah belakang kemasan, kemasan benih tidak sobek atau berlubang, kemasan terbuat dari alumunium foil. (Bambang, 2003)
Pengolahan Media Semai
Sebelum melakukan persemaian tanah yang digunakan untuk media semai pada kotak persemaian harus disterilisasi, digemburkan, dan di beri pupuk. Sebelum media semai digunakan, sebaiknya diuji coba terlebih dahulu dengan menyemaikan beberapa biji. Apabila biji dapat berkecambah dan tumbuh dengan baik, maka media semai dapat digunakan untuk persemaian. Media semai terdiri atas campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 atau 1 : 1, kemudian ditambahkan pupuk NPK dengan dosis 0,5 g untuk setiap 1 kg media semai (campuran tanah dan pupuk kandang). Media semai yang telah jadi kemudian dimasukkan ke dalam kotak-kotak, lalu media semai digemburkan.
Persemaian benih sawi putih dapat juga dilakukan pada kantong-kantong plastik (polybag) ukuran 8 cm x 10 cm. Untuk cara ini, media semai yang dimasukkan ke dalam kantong polybag hingga 90% penuh (Bambang, 2003).
Penyemaian Benih Media
semai juga perlu dipersiapkan untuk persemaian. Persemaian yang menggunakan kotak atau kantong polybag, diletakkan ditempat terbuka, lalu diberi naungan.
Untuk persemaian yang menggunakan kotak atau kantung polybag, maka dasar kotak atau dasar kantong polybag harus dilubangi untuk keperluan drainase, yaitu untuk mengeluarkan air yang berlebihan saat penyiraman. Sebelum biji disemai, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yaitu seleksi benih. Benih yang sudah dibeli, sebaiknya diperiksa dan diseleksi kembali. Seleksi benih dilakukan menurut kriteria-kriteria sebagai berikut :
1) Pilih biji yang utuh (tidak cacat/luka) karena biji yang cacat akan sulit tumbuh, kalaupun tumbuh mutunya jelek.
2) Biji sehat, yaitu tidak menunjukkan adanya serangan hama dan penyakit.
3) Biji bersih, yaitu tidak tercampur dengan biji lain.
4) Biji tidak keriput. Setelah itu dilakukan perendaman benih dalam air dingin
selama 1 hari (12 jam), sampai kelihatan biji pecah. Untuk mencegah biji terserang mikroorganisme penyebab penyakit, biji didesinfektan dengan merendamnya ke dalam larutan fungisida. Dengan demikian biji-biji yang akan disemai benar-benar sehat sehingga dapat memberikan pertumbuhan yang baik (Bambang, 2003). Media semai atau tempat persemaian sebelum ditanami benih perlu disiram air terlebih dahulu agar tanah basah dan lembab. Penyiraman air dilakukan sehari sebelum biji ditabur. Setelah dipersiapkan dengan baik, biji atau benih dapat disemaikan ke tempat persmaian. Ada beberapa cara menyemaikan benih, yaitu disebar merata dipermukaan tanah media semai (dengan membuat bedengan kecil pada media semai, lalu benih disebarkan pada bedengan kecil) membuat lubang-lubang tanam, tergantung pada tempat persemaian yang digunakan (Eko eat al. 2003).
Pemeliharaan persemaian
Pada saat benih sudah berkecambah nauangan pengatur cahaya matahari masuk dibuka dan benih disiram secara rutin untuk menjaga kelembapan media persemaian. Saat persemaian berumur 15 hari, siramkan larutan Agrobost dengan dosis 1 ml/liter air. Jika ditemukan serangan penyakit dumping off (bercak basah di pangkal atang yang menyebabkan bibit rebah), semprotkan fungisida Benlate dengan dosis 1 g/liter air atau Orthocide dengan dosis 3 g/liter air. Kemudian tanam bibit di lahan (transplanting) setelah berdaun sejati 2 lembar (umur 18–20 hari) (Bambang, 2003).
Penanaman Bibit
Bibit-bibit yang telah siap dipindah tanam ke kebun diseleksi dengan mengambil atau memilih bibit yang pertumbuhannya baik, penampakannya segar, daun-daunnya tidak rusak, berwarna hijau segar, mengkilat, kuat atau tegak pertumbuhannya dan bibit tidak terserang hama dan penyakit. Cara penanam bibit hasil persemaian yaitu sehari sebelum bibit ditanam, tanah tempat penanaman bibit diberi air pengairan. Selanjutnya dibuat lubang tanam dengan melubangi mulsa plastik hitam perak dengan menggunakan alat pelubang yang diberi bara api di dalamnya. Diameter lubang sekitar 8 cm dan di dalam lubang sekitar 10 cm pada titik-titik yang telah ditentukan menurut jarak tanamnya (Bambang, 2003).
Untuk mencegah serangan semut atau serangga lain setiap lubang diberi furadan 0,5 – 1 gram. Demikian pula pada bibit yang akan ditanam, sebaiknya didesinfektan dengan fungisida dan bakterisida agar terhindar dari serangan penyakit akibat cendawan atau bakteri. Bibit derendam dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 – 10 menit. Perendaman dilakukan bersamaan dengan media tanahnya yang terbawa bibit. Fungisida yang digunakan adalah Benlate, sedangkan bakterisida yang digunakan Agrimysin. Dosis yang digunakan adalah 0,5 g/liter air (Rony, 1996).
Bibit ditanam sedalam leher akar. Bibit yang diambil dengan sistem cabutan, akarnya ditata secara menyebar. Untuk bibit yang berasal dari kantong polybag dapat langsung dimasukkan ke dalam lubang tanam beserta tanah yang terbawa dari persemaian dan tidak perlu mengatur akarnya lagi. Setelah itu, lubang tanam di sekitar pangkal batang ditimbun tanah sambil ditekan-tekan agar tanaman dapat
berdiri tegak dan kuat. Selasai penanaman, segera lakukan penyiraman (memberikan air pengairan). Dalam kegiatan penanaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari (Eko, 1995).
Penyulaman Tanaman
Pada penanaman sawi putih dengan menggunakan metode persemaian selalu ada beberapa tanaman yang mati, baik karena gagal beradaptasi setelah tanam di lahan maupu akibat serangan hama, terutama hama tanah Agrotis sp. Pada umur 7 HST, periksa seluruh tanaman dan jika menemukan yang mati segera ganti bibit yang baru (Wahyudi, 2010)
Pemupukan Susulan
Pupuk susulan diberi saat pemupukan dasar telah diberikan. Pupuk yang digunakan untuk pemupukan susulan adalah jenis pupuk anorganik (pupuk kimia buatan pabrik.penelitian Erawan (2013) menyatakan bahwa mengingat pupuk urea mengandung 46% N, sehingga baik untuk proses pertumbuhan tanaman sayuran khususnya yang dipanen daunnya. Pemberian pupuk urea sebanyak 125 kg/ha dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sawi lebih tinggi dengan produksi mencapai 10 ton/ha. Penelitian lain oleh Silvester et al. (2013) pemberian pupuk urea sebanyak 7,5 g/ha berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. penelitian Yanti et al. (2014) bahwa pupuk urea mengandung nitrogen yang berperan pada masa vegetatif tanaman, dengan 13 pemberian urea dengan dosis 200 ppm dapat meningkatkan produksi tanaman sawi yaitu pada penambahan bobot kering tanaman disebabkan tanaman mampu meningkatkan laju fotosintesis.
Pupk Urea = 130 kg/hektar Pengairan
Pada budidaya sawi putih dengan menggunakan sistem mulsa plastik hitam perak, pemberian air tidak perlu sering dilakukan. Hal ini disebabkan karena mulsa plastik hitam perak dapat menahan penguapan air tanah (evaporasi) (Wahyudi, 2010). Pemberian air pada tanaman sawi putih yang berlebihan dapat menghambat pertumbuhan tanaman sehingga produksinya akan rendah. Demikian pula apabila pemberian air sangat kurang, tanaman juga akan terhambat pertumbuhannya, daun cepat tua, ranaman menderita klorosis dan antosianensis,
kelayuan. Kekurangan air selaman periode pembangunan dapat menyebabkan kerusakan bunga (Bambang, 2010).
Penyiangan dan Pendangiran Penyiangan harus dilakukan dengan baik, sebab rumput-rumput atau tumbuhan lainnya yang telah tumbuh sangat membahayakan tanaman sawi putih yang sedang dibudidayakan, yakni dapat menjadi pesaing dalam mendapatkan zat makanan di dalam tanah, dalam penggunaan air dan unsur-unsur lainnya, seperti cahaya matahari O2 dan CO2 sehingga bila rumput- rumput tidak dibersihkan maka kebutuhan zat makanan (hara) yang diberikan pada tanaman sawi putih menjadi tidak mencukupi sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman sawi putih terhambat. Penyiangan rumput atau gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu sebagai berikut :
1) Secara manual, yakni gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dicabuti dengan tangan. Sedangkan gulma yang tumbuh di selokan dilakukan mengguanakan cangkul.
2) Secara mekanik, pencabutan dilakukan dengna menggunakan peralatan mesin yang sederhana sampai yang modern.
3) Secara kimiawi, pemberantasan dilakukan dengan menggunakan obat- obatan herbisida yaitu Actril DS, Ferninine 720 AS, Fusilade 25 EC dan sebagainya.
Selain penyiangan dilakukan pula pendangiran, yaitu pengolahan tanah secara ringan di sekitar tanaman. Tujuannya untuk menggemburkan kembali tanah yang memadat agar sirkulasi udara dalam tanah dapat berjalan dengan normal ( Bambang, 2003).
Pengendalian Hama dan Penyakit Ulat Tanah (Agrotis sp)
Ulat berwarna coklat sampai coklat kehitaman ini menyerang tanaman kecil setelah ditanam di lahan. Serangan ini menyerang pangkal batang yang masih sekulen digerek hingga putus sehingga menyebabkan tanaman mati karena tidak memiliki titik tumbuh. Pengendalian ulat tanah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Serangan ulat tanah biasanya berlangsung tidak serentak alias sedikit demi sedikit.
2) Jika ditemukan gejala awal serangan, segera berantas dengan insektisida granul. Taburkan sedikit insektisida tersebut di samping pokok tanaman.
Dosisnya 0,3-0,4 per tanaman atau 6 kg insektisida granul per hektare.
3) Insektisida granul yang dapat diaplikasikan di antaranya Furadan 3G dan Curater 3G
Ulat Grayak ( Spodoptera litura dan Spodoptera exigua )
Ulat grayak ini memakan daun hingga menyebabkan daun berlubang-lubang, terutama menyerang daun muda. Pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Lakukan sanitasi lahan dengan baik
2) Pasang perangkap kupu-kupu. Perangkap ini dapat dibuat dari botol-botol bekas air mineral yang diolesi dengan produk semacam lem.
3) Jika ditemukan serangan hama ini, segera semprot dengan insektisida yang tepat. Insektisida yang digunakan Matador 25 EC, Curacron 500 EC dan Buldok 25 EC.
Ulat Perusak daun ( Plutella xylostela )
Ulat kecil ini berwarna hijau, panjang tubuh 7-10 mm. Bergerombol saat menyerang. Ulat ini menyerang pucuk tanaman, akibatnya daun muda dan pucuk tanaman berlubang sehingga menyebabkan proses pembentukan krop akan sangat terganggu. Pengendalian ulat perusak daun dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Lakukan sanitasi lahan dengan baik
2) Jika serangan hama ini sudah tampak, segera semprotkan insektisida yang tepat. Insektisida yg dipakai adalah March 50 EC, Proclaim 5 SG, Descis 2,5 EC dan Buldok 25 EC. (Wahyudi, 2010).
Karakteristik Petani Umur
Umur adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun, dikatakan masa awal dewasa adalah usia 18 – 40 tahun, dewasa madya adalah 41 – 60 tahun, dewasa lanjut > 60 tahun (Ilfa, 2010 : 1).
Umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan.
Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Jenis perhitungan umur / usia terdiri atas :
a. Usia Kronologis yaitu perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia.
b. Usia Mental yaitu perhitungan usia yang didapatkan dari taraf kemampuan mental seseorang (Hardiwinoto, 2011 : 1).
Misalkan seorang anak secara kronologis berusia empat tahun akan tetapi masih merangkak dan belum dapat berbicara dengan kalimat lengkap dan menunjukkan kemampuan yang setara dengan anak berusia satu tahun maka, dinyatakan bahwa usia mental anak tersebut adalah satu tahun. Usia Biologis adalah perhitungan usia berdasarkan kematangan biologis yang dimiliki oleh seseorang.
Pendidikan
Dalam pengertian luas, pendidikan disamakan dengan kehidupan.
Pendidikan adalah pengalaman belajar. Pendidikan didefinisikan sebagai keseluruhan pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya (Redja Mudyahardjo: 2001). Pendidikan dalam definisi diatas tidak ada batas waktu, berlangsung sepanjang hayat, mulai dari usia dini, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Demikian pula, sebagai pengalaman belajar, pendidikan tidak hanya terjadi dalam lingkungan tertentu seperti lingkungan sekolah, tapi semua lingkungan, baik lingkungan hasil rekayasa manusia seperti sekolah, maupun lingkungan alamiah. Sebagai pengalaman belajar, pendidikan terjadi pada semua peristiwa yang dialami baik secara individu maupun kelompok, baik peristiwa sosial budaya, maupun peristiwa alam, baik yang menggembirakan maupun yang memilukan, itu semua merupakan pengalaman belajar yang akan membentuk
tumbuh kembangnya individu dan kelompok menjadi lingkungan hidup manusia.
Selain tidak ada batas waktu, dan tempat, pendidikan dalam pengertian di
atas tidak ada bentuk kegiatan tertentu. Sebagai pengalaman belajar, pendidikan terjadi dalam suasana, bentuk, pola yang beragam tanpa ada batasan.
Pendidikan bisa tejadi pada suasana sedang sendirian yang terjadi secara tiba- tiba, maupun dalam suasana ketika sedang bersama dengan teman, mapun ketika bertemu dengan orang yang dianggap lawan, bahkan bisa terjadi pada peristiwa yang mesterius, ketika terjadi musibah yang sulit difahami sebab-sebabnya, sampai pada bentuk bentuk kegiatan yang sudah ada sentuhan rekayasa manusia seperti pembelajaran yang terprogram, ada jenjang, jalur dan jenisnya seperti yang kita kenal sebagai sekolah. Dalam pengertian yang begitu luas, pendidikan sebagai pengalaman belajar tidak terbatas dalam waktu, tempat dan bentuk.
Namun pendidikan terjadi kapanpun sepanjang hayat, dimanapun dalam lingkungan kehidupan, serta dilakukan oleh siapapun sebagai umat manusia.
Semua orang jadi pelajar dan semua orang bisa jadi pengajar, dalam lingkungan hidup sebagai tempat terjadinya proses pembelajaran. Tidak ada ijazah, tidak ada diploma tidak ada wisuda dan tidak ada gelar yang ada manusia yang terus bertumbuh dalam suasana harmoni dengan alam dan hidup dalam lingkungan kehidupan sesuai dengan watak aslinya, dan sesuai bakat dan kecenderungannya masing-masing. Para pendukung pengertian pendidikan luas seperti diatas adalah kaum Humanis Romantis (seperti: John Holt, William Glasser, Jonathan Kozol, Charles E. Silberman, Herbert Kohl, Neil Postman, Charles Wiengartner, George Leonard, Carl Roger, Ivan Illich dsb) dan kaum Pragmatik (seperti: John Dewey, William Heard Kilpatrick, dan sebagainya) lihat dalam Mudyahardjo: 2001.
Pendidikan harus menjadi milik masyarakat, tanpa batas-batas kelas, ras, agama, maupun bentuk fisik (cacat atau tidak). Intinya, memperbaiki pendidikan dimulai dengan membuka komunitas pendidikan bagi realitas sejati masyarakat agar 128 pendidikan mampu melihat apa yang terjadi. Lalu memberi jawaban bagi permasalahan-permasalahan yang ada. Soyomukti (2010)
pendidikan adalah usaha sadar dari keluarga, Masyarakat, dan Pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan yang berlansung seumur hidup baik disekolah mapun diluar sekolah untuk mempersiapkan peserta
didik menjadi manusia seutuhnya yang dapat memainkan peranan yang tepat dan konstruktif dalam berbagai lingkungan hidupnya dimasa yang akan datang.
Redja Mudyahardjo :2001 Lama Usahatani
Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari cara-cara menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga produksi pertanian menghasilkan pendapatan petani yang lebih besar. Ilmu usahatani juga didefinisikan sebagai ilmu mengenai cara petani mendapatkan kesejahteraan (keuntungan), menurut pengertian yang dimilikinya tentang kesejahteraan. Jadi ilmu usahatani mempelajari cara-cara petani menyelenggarakan pertanian (Tohir, 1991).
Usahatani adalah kegiatan mengorganisasikan atau mengelola aset dan cara dalam pertanian. Usahatani juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengorganisasi sarana produksi pertanian dan teknologi dalam suatu usaha yang menyangkut bidang pertanian (Moehar, 2001).
Dari beberapa definisi dtersebut dapat disarikan bahwa yang dimaksud dengan usahatani adalah usaha yang dilakukan patani dalam memperoleh pendapatan dengan jalan memanfaatkan sumber daya alam, tenaga kerja dan modal yang mana sebagian dari pendapatan yang diterima digunakan untuk membiayai pengeluaran yang berhubungan dengan usahatani
Lama pembukaan usaha dapat mempengaruhi tingkat pendapatan, lainnya seorang pelaku usaha atau bisnis menekuni bidang usahanya akan mempengaruhi produktifitasnya (kemampuan/keahliannya), sehingga dapat menambah efisiensi dan mampu menekan biaya produksi lebih kecil dari pada hasil penjalan.
Semakin lama menekuni bidang usaha perdagangan akan semakin meningkatkan pengetahuan tentang selera ataupun prilaku konsumen. Keterampilan berdagang makin bertambah dan semakin banyak pula relasi bisnis maupun pelanggan yang berhasil dijaring. Keahlian kausahawaan merupakan kemampuan yang dimiliki seorang untuk mengorganisasikan dan menggunakan faktor-faktor lain dalam kegiatan memproduksi barang dan jasa yang diperlukan masyarakat. (Akhbar Nursenta Priyandika) 2015
Untuk meningkatkan pendapatan seseorang pedagang tidak hanya
memerlukan modal untuk menjalani usahanya, masih ada beberapa faktor lain yang diperlukan. Faktor lain yang penting dalam menjalani usaha adalah lama usaha. Lama usaha adalah lama waktu yang sudah dijalani pedagang dalam menjalankan usahanya, dalam penelitian ini adalah pedagang di Pasar Bambu Kuning. Semakin lama pedagang menjalani usahanya, maka semakin banyak pengalaman yang didapatkannya. Sebelum relokasi sebagian besar pedagang di Pasar Bambu Kuning telah berdagang selama belasan tahun, ada juga yang baru mulai berdagang beberapa tahun. Namun belum tentu pedagang yang memiliki pengalaman lebih singkat pendapatannya lebih sedikit dari pada pedagang yang memiliki pengalaman lebih lama. (Setyaningsih dan Edi Wibowo)
Luas Lahan
Lahan merupakan sumber daya alam yang potensial bagi pembangunan.
Selain sebagai tempat hidup dan tempat mencari nafkah, lahan juga diperlukan dalam hampir semua sektor pembangunan seperti sektor pertanian, industri, pertambangan, dan lain-lain. 20 20 Menurut Ritohardoyo, Su (2013) dalam Fitriani (2016), pengertian lahan dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Lahan adalah bagian dari bentang permukaan bumi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, baik lahan yang sudah dikelola maupun lahan yang belum dikelola.
2. Lahan berkaitan dengan permukaan bumi dengan segala faktor yang dapat mempengaruhinya, seperti letak, lereng, kesuburan, dan lain-lain.
3. Lahan bervariasi dengan faktor topografi, iklim, geologi, tanah dan vegetasi penutup.
4. Lahan merupakan bagian dari permukaan bumi yang terbentuk secara kompleks oleh faktor-faktor fisik maupun non-fisik yang berada diatasnya, dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Utomo (1992) dalam Setyoko (2013) lahan mempunyai dua fungsi yang mendasar, yaitu :
1. Sebagai kegiatan kebudayaan, yakni areal lahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai penggunaan seperti pemukiman penduduk kota atau desa, perkebunan, hutan produksi dan lain-lain.
2. Fungsi lindung, yakni fungsi utama dari penggunaan lahan adalah untuk melindungi kelestarian hidup yang meliputi sumber daya alam 21 21 (SDA), sumber daya buatan, dan nilai-nilai kultural atau sejarah dan budaya bangsa yang dapat menunjang kelestarian budaya.
Pemanfaatan lahan diperlukan untuk membantu manusia dalam menggunakan dan mengolah lahannya secara lebih potensial untuk menunjang hidupnya. Arsyad (1997) memberikan pengertian penggunaan lahan sebagai bentuk intervensi manusia dengan lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara material atau spiritual.
Secara garis besar penggunaan lahan dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu lahan pertanian dan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian terdiri dari berbagai macam lahan yang diperuntukkan untuk sektor pertanian seperti sawah, tegalan, hutan produksi dan lain-lain. Sedangkan penggunaan lahan bukan pertanian terdiri penggunaan lahan untuk industri, pemukiman, dan lain-lain. Adapun definisi dari lahan pertanian adalah lahan yang diperuntukkan bagi aktivitas pertanian yang mencakup berbagai bidang seperti bercocok tanam, peternakan, kehutanan, dan pengelolaan hasil bumi.
Sedangkan lahan potensial yang digunakan pada sektor pertanian merupakan lahan yang sesuai atau cocok dan mampu mendukung perkembangan pertanian seperti pertumbuhan tanaman dan perkembangan ternak, dengan memperhatikan aspek topografi, sifat kimia, biologi maupun iklim. 22 22 Nasution Rusdiah (2008) menyatakan bahwa luas lahan pada sektor pertanian memiliki peranan yang penting dalam usaha pertanian dan proses produksi. Hal ini dikarenakan lahan mempunyai produktivitas dalam menghasilkan bahan nabati maupun hewani, sebagai bahan mentah pembuatan bermacam-macam barang, memiliki daya serap terhadap cairan, penyalur sebagian air hujan untuk mengisi air lahan, dan lain-lain. Semakin luas pemilikan lahan yang digunakan dalam usaha pertanian, akan berpengaruh pada tingginya tingkat efisiensi dan output yang dihasilkan.
Sebaliknya, jika penguasaan lahan relatif sempit akan menurunkan tingkat efisiensi dan output yang dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan dengan pemilikan lahan yang lebih luas, dengan asumsi bahwa usaha tani tidak dijalankan
dengan tertib atau masih bersifat tradisional. Saat ini luas kepemilikan lahan yang dimiliki oleh petani di Indonesia rata-rata relatif lebih sempit dikarenakan beberapa faktor antara lain :
1. harga tanah yang semakin mahal sedangkan kemampuan petani terbatas.
2. adanya alih fungsi lahan seperti pembangunan pabrik-pabrik atau gedung- gedung industri yang semakin bertambah, akibatnya wilayah yang digunakan untuk kegiatan pertanian juga akan semakin berkurang.
3. masih banyaknya lahan tidur atau lahan yang belum digarap di wilayah pedalaman padahal memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan sehingga terjadi ketimpangan yang cukup besar dengan lahan yang telah digarap
Penyuluhan Pertanian
Penyuluhan merupakan cara pendidikan non-formal bagi masyarakat, khususnya untuk para petani dan keluarganya di pedesaan dengan tujuan agar sasaran mampu, sanggup dan berswadaya memperbaiki usaha taninya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan peternak. Pendapat Mardikanto penyuluhan merupakan sistem belajar untuk menjadi mau, tahu, dan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi (Mardikanto, 1993).
Tujuan dari penyuluhan pertanian adalah menumbuhkan perubahan perilaku petani dan keluarganya, sehingga akan tumbuh minat untuk mengembangkan kemauan guna melaksanakan kegiatan usaha taninya agar tercapai produktivitas usaha yang tinggi. Perubahan perilaku yang ada diharapkan petani lebih terbuka dalam menerima petunjuk dan bimbingan serta lebih aktif dan dinamis dalam melaksanakan usaha taninya (Azwar,S. 2001).
Penyuluhan juga dapat diartikan sebagai perubahan perilaku (sikap, pengetahuan dan keterampilan) petani, sehingga fungsi penyuluhan dapat tercapai, yaitu sebagai penyebar inovasi, penghubung antara petani, penyuluh dan lembaga penelitian, melaksanakan proses pendidikan khusus, yaitu pendidikan praktis dalam bidang pertanian dan mengubah perilaku lebih menguntungkan 5 (Levis, 1996).
Penyuluhan pertanian sebenarnya merupakan perubahan perilaku melalui pendidikan non-formal. Penyuluhan sebagai proses pendidikan memiliki ciri-ciri antara lain: 1). Penyuluhan adalah sistem pendidikan non-formal (di luar sekolah)
yang terencana, dapat dilakukan di mana saja, tidak terikat waktu, disesuaikan dengan kebutuhan sasaran dan pendidikan dapat berasal dari salah satu anggota peserta didik; 2). Penyuluhan merupakan pendidikan orang dewasa (Mardikanto, 1993).
Menurut Kartasapoetra (1994), tujuan penyuluhan pertanian dibedakan menjadi 2 yaitu;
1. Tujuan jangka pendek, yaitu menimbulkan dan merubah pengetahuan, kecakapan, sikap dan bentuk tidakan petani serta merubah sifat petani yang pasif dan statis menjadi aktif dan dinamis.
2. Tujuan jangka panjang, yaitu meningkatkan taraf hidup masyarakat tani atau agar kesejahteraan hidup petani lebih terjamin.
Menurut Mardikanto (1993), tujuan penyuluhan berdasarkan tingkatannya meliputi :
1. Tujuan dasar atau tujuan akhir yang seharusnya terjadi di dalam masyarakat, yaitu tercapainya kesejahteraan masyarakat;
2. Tujuan umum, seperti perubahan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan demi meningkatkan produksi dan pendapatan petani;
3. Tujuan pedoman, yaitu arah tujuan dari kegiatan penyuluhan itu sendiri.
Tujuan Penyuluhan
Tujuan utama penyuluhan pertanian adalah meningkatkan produksi pangan dalam jumlah yang sama dengan permintaan akan bahan pangan yang semakin meningkat dengan harga bersaing di pasar dunia. Pembangunan seperti ini harus berkelanjutan dan seringkali harus dilakukan dengan cara yang berbeda dari cara yang terdahulu. Oleh karena itu, organisasi penyuluhan pertanian yang efektif sangat penting di dalam situasi tersebut terutama di negara yang sedang berkembang (Ilham, 2010).
Menurut Mardikanto (2009) tujuan penyuluhan pertanian selalu merujuk pada upaya perbaikan, terutama perbaikan pada mutu hidup manusia, baik secara fisik, mental, ekonomi, maupun sosial budayanya. Terkait dengantujuannya penyuluhan pertanian diarahkan pada terwujudnya perbaikan teknis bertani (better farming), perbaikan usaha tani (better business), dan perbaikan kehidupan petani dan masyarakatnya (better living).
Penyuluhan pertanian mempunyai dua tujuan yang akan dicapai yaitu : tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka pendek adalah menumbuhkan perubahan-perubahan yang lebih terarah pada usaha tani yang meliputi: perubahan pengetahuan, kecakapan, sikap dan tindakan petani keluarganya melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan berubahnya perilaku petani dan keluarganya, diharapkan dapat mengelola usahataninya dengan produktif, efektif dan efisien (Zakaria, 2006).
Tujuan jangka panjang yaitu meningkatkan taraf hidup dan meningkatkan kesejahteraan petani yang diarahkan pada terwujudnya perbaikan teknis bertani (better farming), perbaikan usahatani (better business), dan perbaikan kehidupan petani dan masyarakatnya (better living). Dari pengalaman pembangunan pertanian yang telah dilaksanakan di Indonesia selama tiga-dasawarsa terakhir, menunjukkan bahwa, untuk mencapai ketiga bentuk perbaikan yang disebutkan di atas masih memerlukan perbaikan-perbaikan lain yang menyangkut (Deptan, 2002):
1. Perbaikan kelembagaan pertanian (better organization) demi terjalinnya kerjasama dan kemitraan antar stakeholders.
2. Perbaikan kehidupan masyarakat (better community), yang tercermin dalam perbaikan pendapatan, stabilitas keamanan dan politik, yang sangat diperlukan bagi terlaksananya pembangunan pertanian yang merupakan sub- sistem pembangunan masyarakat (community development)
3. Perbaikan usaha dan lingkungan hidup (better enviroment) demi kelangsungan usahataninya.Tentang hal ini, pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan dan tidak seimbang telah berpengaruh negatif terhadap produktivitas dan pendapatan petani, serta kerusakan lingkungan-hidup yang lain, yang dikhawatirkan akan mengancam keberlanjutan (sustainability) pembangunan pertanian itu sendiri.
Prinsip yang digunakan dalam merumuskan tujuan yaitu SMART (Anonim, 2009) :
1. Specific ( khusus), kegiatan penyuluhan pertanian harus dilakukan untuk memenui kebutuhan khusus.
2. Measurable ( dapat diukur), bahwa kegiatan penyuluhan harus mempunyai tujuan akhir yang dapat diukur
3. Actionary (dapat dikerjakan/dilakukan) yaitu tujuan kegiatan penyuluhan itu harus mampu untuk dicapai oleh para peserta/petani
4. Realistic ( realistis), bahwa tujuan yang ingin dicapai harus masuk akal, dan tidak berlebihan, sehingga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta/petani
5. Time frame (memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan), ini berarti bahwa dalam waktu yang telah ditetapkan, maka tujuan yang ingin dicapai dari penyelenggaraan penyuluhan ini harus dapat dipenuhi oleh setiap peserta/
petani.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah: ABCD:
Audience (khalayak sasaran); Behaviour (perubahan perilaku yang dikehendaki);
Condition (kondisi yang akan dicapai); dan Degree (derajat kondisi yang akan dicapai).
Peran Penyuluh
Ibrahim (2001) mengatakan bahwa peran adalah proses dinamis kedudukan (status). Istilah Peran sering dikaitkan dengan posisi atau kedudukan seseorang. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peranan. Konsep tentang peran menurut Komarudin (1994) pada buku “Ensiklopedia Manajemen” mengungkap sebagai berikut :
1. Bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh manajemen.
2. Pola perilaku yang diharapkan dapat meyertai suatu status.
3. Bagian suatu fungsi seseorang dalam kelompok atau pranata.
4. Fungsi yang diharapkan diri seseorang atau menjadi karakteristik ada padanya.
5. Fungsi setiap variabel dalam hubungan sebab akibat.
Menurut Ibrahim (2001), peranan penyuluh pertanian adalah sebagai pembimbing petani, organisator, dinamisator, pelatih, teknisi dan jembatan penghubung antara keluarga petani dan instansi penelitian di bidang pertanian.
Para penyuluh juga berperan sebagai agen pembaruan yang membantu petani
mengenal masalah-masalah yang mereka hadapi dan mencari jalan keluar yang diperlukan. Penyuluh bekerja untuk membangun harmoni masyarakat yang penting bagi pelaksanaan berbagai proyek pembangunan. Maka dari itu penyuluh adalah seorang manajer yang merencanakan dan mengorganisir pekerjaan mereka sendiri. Semua peranan penyuluh tersebut tidak dapat diisi oleh seseorang secara 11 bersamaan, tetapi diisi secara bertahap atau sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat tani.
Peraturan Menteri Pertanian (2006) tentang sitem penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan (SP3K) pasal 3 tujuan penyuluhan pertanian berupa :
1. Memperkuat pengembangan pertanian, perikanan, serta kehutanan yang maju dan modern dalam sistem pembangunan yang berkelanjutan.
2. Memberdayakan pelaku utama dan pelaku usaha dalam peningkatan kemampuan melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif, penumbuhan motivasi, mengembangan potensi, pemberian peluang, peningkatan kesadaranan pendampingan serta fasilitasi.
3. Memberikan kepastian hukum bagi terselenggaranya penyuluh yang produktif, efektif, efisien, terdesentralisasi, partisipatif, terbuka, berswadaya, bermitra sejajar, kesetaraan gender, berwawasan luas ke depan, berwawasan lingkungan, dan bertanggung jawab yang dapat menjamin terlaksananya pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan.
4. Memberikan perlindungan, keadilan, dan kepastian hukum bagi pelaku utama dan pelaku usaha untuk mendapatkan pelayanan penyuluh serta bagi penyuluh dalam melaksanakan penyuluh.
5. Mengembangkan sumber daya manusia, yang maju dan sejahtera, sebagai pelaku dan sasaran utama pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan.
Peraturan Menteri Pertanian (2006) tentang Sistem Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (SP3K) pasal 4 mengatakan bahwa fungsi penyuluh adalah sebagai berikut : 12
1. Memfasilitasi proses pembelajarn pelaku utama dan pelaku usaha
2. Mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber informasi, teknologi, dan sumber daya lainya agar mereka dapat mengembangkan usahanya