PEMBELAJARAN
&
PENILAIAN LITERASI GERAK
BERBASIS WEB
UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta
Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap:
i. Penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual;
ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan;
iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar;
dan
iv. Penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
PEMBELAJARAN
&
PENILAIAN LITERASI GERAK BERBASIS WEB
Dr. Dinny Devi Triana, S.Sn., M.Pd.
Dr. Sri Santosa Sabarini, S.Pd., M.Or.
Rivo Panji Yud h a, S.Pd., M.Pd.
PEMBELAJARAN & PENILAIAN LITERASI GERAK BERBASIS WEB Dinny Devi Triana
Sri Santosa Sabarini Rivo Panji Yudha
Desain Cover : Dudi Mahdi
Editor : Asep Supriyana
Tata Letak : Pitriyani Kontributor Materi :
Widiastuti Dwi Kusumawardani
Ukuran :
viii, 231 hlm, Uk: 17.5x25 cm ISBN Elektronis : 978-623-02-1703-6
Cetakan Pertama : Oktober 2020
Hak Cipta 2020, Pada Penulis Isi diluar tanggung jawab percetakan Copyright © 2020 by Deepublish Publisher
All Right Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.
PENERBIT DEEPUBLISH (Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA)
Anggota IKAPI (076/DIY/2012)
Jl.Rajawali, G. Elang 6, No 3, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman Jl.Kaliurang Km.9,3 – Yogyakarta 55581
Telp/Faks: (0274) 4533427 Website: www.deepublish.co.id
www.penerbitdeepublish.com E-mail: [email protected]
v
KATA PENGANTAR
Buku ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan atas support dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam bentuk hibah penelitian DRPM dan Pusat Kurikulum & Perbukuan. Materi yang dipaparkan dalam buku ini dapat dipelajari dalam bentuk daring e- learning (www.literasigerak.id) dan e-assessment (www.e-assessment.id), sehingga akan memudahkan pengguna buku untuk mempelajari di mana saja, tak terbatas ruang dan waktu.
Buku ini mempelajari notasi gerak yang telah disederhanakan berdasarkan Notasi Laban, serta disesuaikan dengan materi pada kurikulum mata pelajaran Seni Budaya di kelas 7, khususnya Seni Tari.
Tujuannya agar siswa SMP memiliki keseimbangan antara kemampuan berpikir dan bergerak dengan melakukan kegiatan membaca, menuliskan, dan meninterpreasikan simbol ke dalam gerak atau sebaliknya gerak ke dalam simbol.
Agar memiliki kemampuan yang utuh dalam kecerdasan kinestetik, diharapkan siswa menggunakan buku berikutnya yaitu Alat Ukur Kecerdasan Kinestetik dalam Tari, sehingga dapat diketahui peningkatan kemampuan berpikir dan bergeraknya. Pada web akan banyak pengembangan materi yang dapat memperkaya kemampuan siswa. Untuk itu, pengguna web terlebih dahulu harus login atau mendaftar agar dapat dikonfimasi sebelum dapat terlibat aktif dalam kegatan belajar selanjutnya.
vi
Terima kasih kepada seluruh tim peneliti dan tim teknisi IT yang telah membantu, hingga buku dan web yang dikembangkan dapat digunakan siswa dan guru di sekolah.
Selamat belajar melalui web e-learning dan e-assessment ….
Jakarta, Maret 2020 Penulis
vii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
BAB I LITERASI ABAD KE-21 ... 1
BAB II TEORI GERAK DAN KINESTETIK ... 5
A. Konsep dan Teori Gerak ... 5
B. Kinestesis ... 12
C. Tujuan Belajar Gerak ... 13
D. Faktor-Fakor yang Mempengaruhi Belajar Gerak ... 14
E. Kondisi dalam Belajar Gerak ... 16
BAB III SIMBOL LITERASI GERAK ... 21
A. Makna Literasi dalam Gerak ... 21
B. Koordinasi Gerak dalam Tari ... 23
C. Penulisan Simbol dalam Literasi Gerak ... 24
BAB IV PENGGUNAAN E-LEARNING LITERASI GERAK ... 37
A. Pemanfaatan E-learning untuk Pembelajaran ... 40
B. Penggunaan E-learning Literasi Gerak ... 45
C. Pedoman Penggunaan E-learning ... 46
BAB V MATERI E-LEARNING LITERASI GERAK ... 63
BAB VI PENILAIAN TARI ... 159
A. Makna Penilaian ... 159
B. Prinsip Penilaian ... 164
C. Jenis Penilaian dalam Tari ... 167
D. Objektivitas Penilaian ... 189
BAB VII PENILAIAN LITERASI GRAK ... 195
A. Definisi Konseptual ... 197
B. Definisi Operasional ... 197
C. Kisi-Kisi Instrumen Literasi Gerak ... 198
viii
BAB VIII LEMBAR PENGAMATAN LITERASI GERAK
BERBASIS WEB ... 201
A. Tugas 1 (Indikator A: Melakukan Gerak) ... 201
B. Tugas 2 (Indikator B: Mendeskripsikan/Menuliskan Uraian Gerak) ... 206
C. Tugas 3 (Indikator C: Menginterpretasikan Gerak ke dalam Bentuk Simbol/Notasi) ... 212
DAFTAR PUSTAKA ... 219
KUNCI JAWABAN TES FORMATIF ... 223
PROFIL PENULIS ... 227
1
BAB I
LITERASI ABAD KE-21
Literasi memiliki makna yang dapat digunakan pada berbagai bidang ilmu, baik sosial, sain, maupun teknologi. Literasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, karena melekat pada implementasi berdasarkan wawasan, pengalaman, dan pengamatan. Pada kehidupan sehari-hari, literasi memiliki arti kata
‘melek’; artinya, tidak hanya sekadar mengetahui, tetapi juga memahami, sehingga dapat mengimplementasikan atau mempraktikkannya.
Literasi di abad ke-21 melingkupi banyak hal, bahkan hampir semua kehidupan terkait dengan literasi, seperti adanya literasi keuangan, literasi digital, literasi humanitis, literasi industry, dan literasi lingkungan. Literasi adalah sebuah kemampuan yang melekat dan tidak dapat berdiri sendiri, bahkan dalam perkembangannya, seringkali menjadi suatu keterampilan atau kompetensi sesoerang dalam pemahaman bidang tertentu.
Keterampilan di abad ke-21 meliputi: (1) keterampilan sosial dan C4 (communication, collaboration, critical thinking, creative thinking dan HOTS (high other thinking skills) ; (2) Kompetensi berinteraksi dengan berbagai budaya; (3) Literasi baru (big data, teknologi/coding, humanities, cyber security; dan (4) belajar sepanjang hayat (sumber: Fadel & Echols, Preparing your Workforce for Tomorrow Challenges, Bellevue University &
2
Cisco webinar, 2017). Perlunya literasi baru tersebut dipaparkan Kemristekdikti dalam kebijakan tentang Peningkatan Kapasitas IPTEK, Riset Inovasi, dan Daya Saing Perguruan Tinggi yang digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Paparan Kebijakan Menteri Ristekdikti
Berdasarkan paparan kebijakan di atas, untuk menghadapi revolusi industri 4.0 atau era disrupsi diperlukan “literasi baru” selain literasi lama. Literasi lama yang ada saat ini digunakan sebagai modal untuk berkiprah di kehidupan masyarakat. Literasi lama mencakup kompetensi calistung. Sementara literasi baru mencakup (1) literasi data, (2) literasi teknologi, dan (3) literasi manusia. Literasi data terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis, dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yang diperoleh. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin.
Aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hasil maksimal. Literasi manusia terkait dengan
3 kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif (Rozak, 2018).
1. Literasi Dasar
Literasi dasar adalah kemampuan dasar dalam membaca, menulis, mendengarkan, dan berhitung. Literasi dasar bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, berkomunikasi, dan berhitung.
2. Literasi Perpustakaan
Literasi perpustakaan adalah kemampuan dalam memahami dan membedakan karya tulis berbentuk fiksi dan nonfiksi, memahami cara menggunakan katalog dan indeks, serta kemampuan memahami informasi ketika membuat suatu karya tulis dan penelitian.
3. Literasi Media
Literasi media adalah kemampuan dalam mengetahui dan memahami berbagai bentuk media (media elektronik, media cetak, dan lain-lain), dan memahami cara penggunaan setiap media tersebut.
4. Literasi Visual
Literasi visual adalah pemahaman yang lebih kemampuan dalam menginterpretasi dan memberi makna dari suatu informasi yang berbentuk gambar atau visual. Literasi visual hadir dari pemikiran bahwa suatu gambar bisa ‘dibaca’ dan artinya bisa dikomunikasikan dari proses membaca.
4
5
BAB II
TEORI GERAK DAN KINESTETIK
A. Konsep dan Teori Gerak
Salah satu ciri dari makhluk hidup adalah bergerak. Secara umum gerak dapat diartikan berpindah tempat atau perubahan posisi sebagian atau seluruh bagian dari tubuh makhluk hidup. Makhluk hidup akan bergerak bila ada impuls atau rangsangan yang mengenai sebagian atau seluruh bagian tubuhnya. Perilaku gerak (motor behavior) merupakan subdisiplin yang lebih menekankan pada investigasi mengenai prinsip- prinsip perilaku gerak manusia. Pengertian gerak pada manusia adalah suatu proses yang melibatkan sebagian atau seluruh bagian tubuh dalam satu kesatuan yang menghasilkan suatu gerak statis (di tempat) dan dinamis (berpindah tempat). Proses terjadinya gerakan pada manusia dimulai dari adanya stimulus yang diterima oleh reseptor yang terdiri atas pancaindera, dibawa oleh saraf sensorik menuju ke otak.
Sensori adalah stimulus atau rangsangan yang datang dari dalam maupun luar tubuh. Stimulus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui organ sensori (pancaindera). Stimulus yang sempurna memungkinkan seseorang untuk belajar berfungsi secara sehat dan berkembang dengan normal. Secara fisiologis, sistem saraf secara terus menerus menerima ribuan informasi dari organ saraf sensori, menyalurkan informasi melalui saluran yang sesuai, dan mengintegrasikan informasi menjadi respon
6
yang bermakna stimulus tersebut diolah di otak, kemudian otak memberikan balikan melalui saraf motorik ke alat-alat gerak seperti otot, tulang dan sendi. sehingga manusia dapat bergerak.
Proses sensorik diawali dengan penerimaan input (registration), yaitu individu menyadari akan adanya input. Proses selanjutnya adalah orientation, yaitu tahap di mana individu memperhatikan input yang masuk. Tahap berikutnya, kita mulai mengartikan input tersebut (interpretation). Selanjutnya adalah tahap organization, yaitu tahap di mana otak memutuskan untuk memperhatikan atau mengabaikan input ini. Tahap terakhir adalah execution, yaitu tindakan nyata yang dilakukan terhadap input sensorik tadi (Williamson dan Anzalone, 1996). Perilaku gerak dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu (1) belajar gerak (motor learning) dan (2) teori gerak (motor kontrol).
1. Teori Gerak (Motor Kontrol)
Teori Gerak adalah studi mengenai faktor-faktor fungsi saraf yang mempengaruhi gerak manusia. Fungsi saraf berhubungan erat dengan sistem saraf. Sistem saraf merupakan bagian penting dalam memproduksi gerak manusia sebab sel-sel saraf merangsang otot untuk memproduksi gerak manusia yang diinginkan atau disadari. Istilah gerak diambil dari istilah gerak manusia (human movement). Istilah yang dipakai untuk mempelajari gerak manusia adalah ilmu gerak, kinesiologi, human performance. Gerak (Motorik) sudah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, untuk dapat meningkatkan keterampilan individu, diperlukan perilaku gerak manusia (human behavior).
7 Ada dua macam gerak manusia, yaitu gerak yang disadari dan gerakan yang tidak disadari atau gerak refleks. Gerak yang disadari prosesnya melalui otak, sedangkan gerak yang tidak disadari prosesnya tidak melalui otak tetapi hanya melalui sumsum tulang belakang. Di mana gerakan dimulai dari adanya stimulus, diterima oleh reseptor, diteruskan ke sumsum tulang belakang, menuju ke reseptor terjadilah gerakan yang tidak disadari (gerak refleks). Adapun prinsip gerak pada manusia, yaitu dimulai dari bagian yang lebih dekat dengan batang tubuh atau pangkal anggota tubuh (proksimal) ke bagian yang lebih jauh dari batang tubuh atau ujung anggota tubuh (distal) dimulai dari sikap menekuk sendi (fleksi) menuju sikap meluruskan sendi (ekstensi).
Gerak dasar tubuh dimulai dari gerakan telentang, miring, tengkurap, berguling, merayap, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, dan berlari. jenis-jenis gerakan menurut pergerakan sendi meliputi gerakan:
fleksi, ekstensi, adduksi, abduksi, rotasi, sirkumduksi, pronasi, supinasi, infersi, efersi, plantar fleksi, dan dorsi fleksi. Adapun jenis gerakan menurut jumlah otot yang bergerak terdiri atas dua, yaitu:
1) gerakan kasar (gross motor), yaitu gerakan yang dilakukan oleh banyak otot, misalnya gerakan berjalan, berlari, melompat, dan meloncat-loncat; dan
2) gerakan halus (fine motor), yaitu gerakan yang dilakukan oleh sedikit otot, misalnya gerakan menulis dan menggambar.
8
2. Belajar Gerak (Motor Learning)
Belajar gerak (motor learning) didefinisikan sebagai serangkaian proses internal yang terkait dengan praktik atau pengalaman gerak yang mengarah pada perubahan yang relatif permanen dalam kemampuan untuk menghasilkan keterampilan gerak. Dengan kata lain, pembelajaran motorik adalah proses yang terjadi ketika otak merespon terhadap praktik atau pengalaman dari keterampilan gerak tertentu yang mengakibatkan perubahan dalam sistem saraf pusat yang memungkinkan untuk memproduksi keterampilan gerak baru.
Dalam mempelajari keterampilan motorik menurut Fitts & Possner (1967) menyatakan bahwa proses belajar ada tiga fase/tahapan pembelajaran, yaitu tahap kognitif (cognitive phase), tahap asosiatif (associative phase), dan tahap otomatisasi (autonomous phase). Tahapan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2. Fase belajar gerak menurut Fitts dan Posner (1967)
a. Tahap Kognitif
Ini adalah tahap awal pembelajaran motorik, tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman keterampilan secara keseluruhan.
Pembelajar harus menentukan apa tujuan dari keterampilan yang dilakukan dan kapan mulai memproses faktor-faktor lingkungan yang
9 akan memengaruhi kemampuan mereka untuk menghasilkan keterampilan yang dipelajari. Guru harus melakukan yang terbaik untuk menyediakan lingkungan belajar yang optimal, yang dapat berarti menghilangkan pengacau besar. Selama tahap ini, pelajar sebagian besar bergantung pada input visual dan coba-coba untuk memandu pembelajaran.
b. Tahap Asosiatif
Selama tahap ini, pelajar mulai menunjukkan gerakan yang lebih halus melalui latihan. Setelah melakukan beberapa latihan dan telah mengidentifikasi berbagai rangsangan yang mungkin terjadi, pelajar dapat fokus pada "bagaimana melakukan" bergerak dari "apa yang harus dilakukan" pada tahap pertama. Di sini, isyarat visual menjadi kurang penting dan isyarat proprioseptif menjadi sangat penting. Proprioseptif merupakan sensasi yang berasal dari dalam tubuh manusia, yaitu terdapat pada sendi, otot, ligamen dan reseptor yang berhubungan dengan tulang.
Input proprioseptif ini menyampaikan informasi ke otak tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi (contracting) atau meregang (stretching), serta bagaimana sendi dibengkokkan (bending), diperpanjang (extending), ditarik (being pull) atau ditekan (compressed).
Melalui informasi ini, individu dapat mengetahui dan mengenal bagian tubuhnya dan bagaimana bagian tubuh tersebut bergerak. Isyarat proprioseptif mengacu pada pelajar yang lebih berfokus pada bagaimana tubuh mereka bergerak di ruang dan feetback apa yang dirasakan dari sendi dan otot mereka. Semakin banyak praktik, semakin banyak input proprioseptif yang diterima pelajar untuk belajar.
10
c. Tahap Otonom
Tahap otonom merupakan fase akhir dalam pembelajaran keterampilan gerak. Pada fase ini pelajar mencapai tingkat penguasaan gerakan yang paling tertinggi. Pelajar bisa melakukan rangkaian gerakan keterampilan secara otonom dan secara otomatis. Gerakan bisa dilakukan secara otonom. Artinya, pelajar mampu melakukan gerakan keterampilan tertentu walaupun pada saat yang bersamaan ia harus melakukan aktivitas lain.
Gerakan yang otomatis adalah gerakan yang bisa dilakukan secara otomatis. Gerakan bisa dilanjtkan seperti yang dikehendaki walaupun ia tidak memikirkan unsur-unsur/bentuk-bentuk gerakan yang ingin dilakukan. Berikut ini adalah matrik belajar gerak menurut Fitts dan Posner (1967) :
Tahapan
Belajar Kegiatan Keterangan
Fase Kognitif Gerakannya lambat, tidak konsisten, dan tidak efisien.
Diperlukan aktivitas kognitif yang cukup
Perhatian untuk memahami apa yang harus bergerak untuk menghasilkan hasil yang spesifik. Sebagian besar gerakan dikendalikan secara sadar. Sesi latihan lebih fokus pada kinerja, lebih sedikit variabel &
menggabungkan citra mental yang jelas (teknis/visual)
11 Tahapan
Belajar Kegiatan Keterangan
Fase Assosiatif Gerakan lebih cair, dapat diandalkan, dan efisien.
Dibutuhkan lebih sedikit aktivitas kognitif
Beberapa bagian dari gerakan dikendalikansecara sadar, beberapa secara otomatis. Sesi latihan
menghubungkan kinerja dan hasil, kondisinya dapat bervariasi.
Fase Otonom Gerakannya akurat, konsisten, dan efisien. Diperlukan sedikit atau tidak ada aktivitas kognitif
Gerakan sebagian besar dikendalikan secara otomatis.
Perhatian dapat difokuskan pada pilihan taktis. Sesi latihan lebih berorientasi pada hasil. Fokus adalah pada rentang gerak, kecepatan, akselerasi & penggunaan keterampilan yang lebih besar dalam situasi baru
Istilah psikomotor yang berarti gerak (motor) merupakan istilah umum untuk berbagai bentuk perilaku gerak manusia. Sementara psikomotor khusus digunakan pada domain mengenai perkembangan manusia yang mencakup gerak manusia. Jadi, ruang lingkup gerak (motor) lebih luas dari pada psikomotorik, meskipun secara sinonim digunakan dengan istilah motor (gerak). Sebenarnya psikomotor mengacu pada gerakan-gerakan yang dinamakan alih getaran elektirik dari pusat otot besar.
12
B. Kinestesis
Kinestesis seringkali dinyatakan sebagai perasaan otot atau perasaan motorik, bahkan cukup popular juga dengan sebutan indera keenam (the sixth sense), karena merupakan indera tambahan dari lima indera yang dikenal saat ini. Meskipun kemampuan ini kerapkali diabaikan sebagai salah satu indera dasar manusia, kinestesis penting sebagai umpan balik dan selalu memberikan informasi sensori kepada sistem saraf pusat megenai hal–hal yang terkait dengan karakteristik gerakan, seperti arah, posisi dalam ruang, kecepatan, dan aktivasi otot (Magill, 2001:75).
Indera kinestetik berbeda dengan kelima indera yang telah disebut terlebih dahulu, perasaan kinestetik tergantung pada stimulus internal.
Ujung saraf yang disebut gelondong (spindles) atau proprioseptor yang terletak di dalam otot, tendon dan ligament, tampaknya merupakan alat pengoordinasi gerakan tubuh. Adapun reseptor labyrinthine yang terletak di dalam telinga adalah pengukur keseimbangan tubuh. Kemampuan koordinasi dan keseimbangan, keduanya merupakan elemen penting indera knestetis. Dijelaskan oleh Sugiyanto bahwa masing– masing reseptor memiliki fungsi sendiri–sendiri dalam hubungannya dengan posisi dan gerakan tubuh. Aktivitas kumparan otot berfungsi utama untuk membantu reflex– reflex postural dan memelihara tegangan otot.
Reseptor persendian penting untuk presepsi posisi dan gerakan persendian, dan alat–alat vestibular berguna untuk memelihara keseimbangan dan menginterprestasi gerakan lateral, horizontal, dan vertikal (Sugiyanto, 1984:122).
13 C. Tujuan Belajar Gerak
Setiap tujuan pembelajaran gerak pada umumnya memiliki harapan dengan munculnya hasil tertentu, hasil tersebut biasanya adalah berupa penguasaan keterampilan. Keterampilan seseorang yang tergambarkan dalam kemampuannya menyelesaikan tugas gerak tertentu akan terlihat mutunya dari seberapa jauh orang tersebut mampu menampilkan tugas yang diberikan dengan tingkat keberhasilan tertentu.
Semakin tinggi tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas gerak tersebut, semakin baik keterampilan orang tersebut. Dengan demikian, keterampilan menunjuk pada kualitas tertentu dari suatu tugas gerak.
Di dalam keterampilan tersebut terdapat unsur efektivitas dan efesiensi. Seorang yang memiliki keterampilan yang tinggi sudah barang tentu memiliki kedua unsur tersebut. Gerak keterampilan tersebut dapat dikategorikan sebagai penampilan yang terampil (skilled performance).
Suatu keterampilan itu baru dapat dikuasai atau diperoleh, apabila dipelajari atau dialihkan yang dilakukan secara terus menerus dalam periode waktu tertentu. Penampilan yang terampil merupakan tujuan akhir dari pembelajaran gerak.
Keterampilan adalah derajat keberhasilan yang konsisten dalam mencapai suatu tujuan dengan efisien dan efektif. Penggolongan keterampilan dapat dilakukan dengan cara mempertimbangkan (1) stabilitas lingkungan; jelas tidaknya titik awal serta akhir dari gerakan;
dan ketepatan gerakan yang dimaksud. Keterampilan juga dapat dibedakan dengan mempertimbangakan dominan tidaknya unsur yang mengarah ke keterampilan gerak dan ke keterampilan kognitif. Faktor- faktor yang menentukan keterampilan secara umum dibedakan menjadi tiga hal utama, yaitu (1) faktor proses belajar mengajar; (2) faktor
14
pribadi; dan (3) faktor situasional (lingkungan). Banyak pendekatan yang telah dikembangkan untuk menggolongkan keterampilan gerak.
Setiap sistem penggolongan didasarkan pada hakikat umum dari keterampilan gerak dikaitkan dengan aspek-aspek spesifik dari keterampilan tersebut. Keterampilan gerak dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu keterampilan gerak terbuka dan keterampilan gerak tertutup. Hal ini berkaitan dengan kondisi lingkungan (environment) pada saat keterampilan yang bersangkutan dilakukan.
Klasifikasi keretampilan gerak menurut Schmidt (1991) dibedakan menjadi keterampilan gerak terbuka dan tertutup. Keterampilan terbuka (open skill) adalah keterampilan yang ketika dilakukan pada lingkungan yang berkaitan dengannya bervariasi dan tidak dapat diduga. Ini hampir sama seperti yang dilakukan oleh Magil (1985) yang menyebutkan bahwa keterampilan terbuka adalah keterampilan-keterampilan yang melibatkan lingkungan yang selalu berubah dan tidak bisa diperkirakan, keterampilan itu ada karena pengaruh lingkungan seperti keterampilan gerak pada pertandingan silat. Sementara keterampilan gerak tertutup (closed skill) adalah keterampilan yang relatif stabil dan dapat diduga, yaitu keterampilan yang akan dilakukan oleh penari tanpa harus dibatasi oleh lingkungan sekitar. Keterampilan gerak ini yang sering digunakan dalam seni tari.
D. Faktor-Fakor yang Mempengaruhi Belajar Gerak
Belajar gerak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Magil (1984), belajar dipengaruhi oleh (1) memahami apa yang dipelajari; (2) kesempatan untuk merespon; (3) adanya umpan balik; dan (4) reinforcement.
15 1. Memahami Apa yang Dipelajari
Kejelasan mengenai tujuan pembelajaran yang harus dikuasai keadaan yang harus diketahui oleh pelajar untuk membantu efektivitas pembelajaran. Dalam situasi pembelajaran seperti ini sering disebut dengan “memberikan stimulus”. Meski terkesan sederhana, pemberian stimulus merupakan langkah dasar dan sangat efektif dalam pembelajaran.
Suatu intruksi yang tidak jelas akan memberikan kesusahan dalam pencapaian pengertian makna dari pembelajaran, siswa akan menjadi sulit mengerti maksud dari tujuan belajar. Beberapa jenis stimulus dapat dalam bentuk verbal, demonstrasi dan alat bantu belajar mengajar yang dapat digunakan sebagai instrumen untuk memperjelas yang ingin dicapai.
2. Kesempatan untuk Merespon
Banyak kesempatan untuk merespon merupakan faktor dominan yang mempengaruhi penguasaan saat pembelajaran berlangsung, hal ini merupakan suatu hasil dari beberapa penelitian yang dilakukan di sekolah. Pelajar harus termotivasi untuk mencapai tujuan belajar dan mendapatkan umpan balik mengenai usahanya tersebut. Hal ini dapat dirujuk dari respon yang berkualitas dari pelajar, dan semakin banyaknya respon yang muncul dari pelajar menunjukkan adanya pembelajaran yang berkualitas.
16
3. Adanya Umpan Balik
Umpan balik dalam pembelajaran merupakan suatu yang sangat diperlukan, tanpa adanya umpan balik proses belajar tidak akan terjadi.
Sebagai contoh adalah jika siswa diminta untuk melakukan gerak ayunan lengan dan tangan tanpa kemudian diukur kebenarannya dengan tanpa diukur dengan besar sudut dari gerakan ayunan itu, kebenaran pembelajaran hanyalah sebuah perkiraan semata tanpa mengetahui kebenaran sesungguhnya.
4. Reinforcement
Secara teoritik sulit untuk membedakan antara antara umpan balik dan penguatan, penguatan biasanya digambarkan sebagai rangkaian penguatan yang mengikuti suatu perilaku tertentu dan meningkatkan kesempatan bahwa perilaku tersebut akan terulang. Sementara umpan balik mengikuti respon yang tampak.
E. Kondisi dalam Belajar Gerak
Kondisi belajar adalah suatu keadaan yang diperlukan agar proses belajar bisa berlangsung sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Keadaan yang diperlukan agar proses belajar terjadi mencakup keadaan yang ada pada diri pelajar dan perlakuan yang dikenakan kepada pelajar.
1. Kondisi Internal dalam Belajar Gerak
Kondisi internal adalah keadaan yang seharusnya ada pada diri si pelajar. Kondisi internal dalam belajar gerak meliputi dua macam, yaitu:
17 a. Pelajar harus mengingat bagian-bagian gerakan keterampilan.
b. Pelajar harus mengingat urut-urutan rangkaian gerakan.
Kedua macam kondisi internal tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut:
a. Mengingat bagian gerakan
Untuk mempelajari gerakan keterampilan baru, hanya dimungkinkan apabila pelajar memiliki modal berupa kemampuan melakukan gerakan-gerakan yang merupakan dasar terbentuknya gerakan yang baru.
b. Mengingat urutan rangkaian gerakan
Gerakan keterampilan pada dasarnya merupakan rangkaian dari gerakan-gerakan. Apabila pelajar tidak bisa mengingat urutan rangkaian dari gerakan-gerakan, ia tidak akan mampu melakukan gerakan keterampilan dengan baik.
2. Kondisi Eksternal dalam Belajar Gerak
Kondisi eksternal dalam belajar gerak adalah stimulus dari luar diri pelajar atau perlakuan yang dikenakan pada diri pelajar agar proses belajar bisa terjadi. Kondisi eksternal meliputi empat macam, yaitu (1) sajian instruksi verbal; (2) sajian instruksi visual; (3) kegiatan praktik;
dan (4) penyampaian umpan balik.
a. Sajian Instruksi Verbal
Instruksi verbal bisa diterjemahkan menjadi pengajaran menggunakan kata-kata. Instruksi verbal dalam belajar gerak adalah berupa penjelasan mengenai gerakan yang dipelajari. Di sini pelajar
18
memperoleh penjelasan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana sebaiknya melakukannya. Penjelasan sebaiknya diberikan secara singkat, jelas, dan menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana.
Penyampaian instruksi verbal ini hendaknya tidak terlalu lama dan tidak berbelit-belit, karena justru bisa membingungkan pelajar dan bisa membosankan. Akibatnya akan menghambat pencapaian hasil belajar.
b. Sajian Instruksi Visual
Instruksi visual adalah pengajaran di mana materi pelajaran disajikan dalam bentuk sesuatu yang bisa dilihat. Di dalam belajar gerak, instruksi visual diberikan dalam bentuk sajian model gerakan atau contoh gerakan. Sajian model gerakan bisa diberikan dalam bentuk peragaan gerakan oleh seseorang atau dalam bentuk gambar bentuk gerakan.
Peragaan gerakan oleh seseorang, yang mungkin dilakukan oleh guru atau orang lain. yang bisa melakukan, bisa disebut model hidup. Sementara yang berupa gambar disebut model gambar. Model gambar bisa berupa gambar diam atau berupa gambar bergerak. Gambar diam bisa diambil dari buku-buku atau lembar peraga yang memang dibuat untuk tujuan tersebut. Sementara gambar berupa rekaman gambar gerakan-gerakan yang dipelajari. Rekaman tersebut bisa berbentuk rekaman video kaset atau rekaman film.
c. Kegiatan Praktik
Salah satu kondisi eksternal dalam belajar gerak yang berbentuk melakukan-melakukan gerakan dipelajari. Gerakan yang dipelajari dilakukan berulang-ulang. Dengan dilakukan berulang-ulang pengguasaan gerakan keterampilan bisa meningkat. Ada beberapa prinsip yang perlu
19 diperhatikan di dalam pengaturan kondisi praktik yang antara lain sebagai berikut:
1) Prinsip pengaturan giliranpraktik
Mempraktikkan gerakan keterampilan bisa dilakukan secara terus menerus tanpa istirahat. Cara ini disebut massed conditions. Dengan cara ini pelajar melakukan gerakan berulang-ulang terus menerus selama'waktu latihan, tanpa ada pengaturan kapan harus melakukan gerakan dan kapan harus beristirahat. Pokoknya pelajar terus melakukan gerakan sampai lelah, kemudian latihan diakhiri. Cara yang kedua adalah mempraktikkan gerakan dengan diselang-seling antara melakukan gerakan dan waktu istirahat. Cara ini disebut distributed conditions. Dengan cara ini ada pengaturan giliran melakukan gerakan beberapa kali, kemudian diseling istirahat dan setelah itu melakukan gerakan lagi.
2) Prinsip beban belajar meningkat
Gerakan keterampilan pada dasarnya merupakan sekumpulan dari gerakan-gerakan menjadi unsurnya. Selain itu bahwa penguasaan gerakan keterampilan akan terjadi secara bertahap dalam peningkatannya. Mulai dari belum bisa, menjadi bisa, dan kemudian menjadi terampil melakukan suatu gerakan. Dengan kenyataan- kenyataan seperti itu hendaknya pengaturan materi belâjar yang dipraktikkan dimulai dari yang mudah ke yang lebih sukar, atau yang sederhana ke yang lebih kompleks.
3) Prinsip kondisi belajar bervariasi
Mempraktikkan gerakan merupakan kondisi belajar yang paling berat di dalam belajar gerak. Pelajar mengerahkan tenaganya untuk
20
melakukan gerakan berulang kali. Ia harus memerangi rasa lelah, dan kadang-kadang harus memerangi rasa bosan. Agar kelelahan tidak cepat terjadi atau kalau terjadi tidak begitu dirasakan, serta tidak cepat terjadi kebosanan pada diri pelajar, penciptaan kondisi praktik yang bervariasi sangat diperlukan. Di sini diperlukan kreativitas guru untuk menciptakan variasi.
d. Penyampaian Umpan Balik
Umpan balik adalah masukan yang diterima oleh pelajar sehubungan dengan apa yang telah dikerjakan. Dari umpan balik pelajar menjadi tahu apakah yang telah dilakukan adalah benar atau pelajar menjadi tahu benar atau salah berdasarkan informasi yang tersampaikan melalui umpan balik. Informasi yang tersimpan melalui umpan balik bisa berasal dari 2 macam sumber, yaitu sumber dari dalam diri pelajar sendiri dan bersumber dari luar diri pelajar. Umpan balik yang berasal dari dalam diri pelajar sendiri disebut umpan balik internal atau umpan balik, intrinsik; sedangkan umpan balik yang berasal dari luar diri pelajar disebut umpan balik eksternal atau umpan balik ekstrinsik.
21
BAB III
SIMBOL LITERASI GERAK
A. Makna Literasi dalam Gerak
Mempelajari gerak sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari- hari, karena dengan gerak, bahasa tubuh seseorang dapat diketahui makna yang terkandung di dalamnya. Bahasa tubuh diperlukan agar kita dipandang sebagai orang yang memiliki intelektual tinggi dan dapat berinteraksi dengan orang lain dengan bahasa tubuh yang tertata, beretika, dan tentu saja harus melihat pada sisi estetisnya. Proses seseorang dalam melakukan gerak dimulai dengan menangkap simbol melalui pancaindera yang kemudian diolah di otak sebagai bentuk asoiasi, dan kemudian diekspresikan atau diotonomkan.
Ketika gerak tersebut diotonomkan atau diekspresikan, ada yang disebut kontrol gerak. Pada pembelajaran tari, kontrol gerak sangat diperlukan agar sesuai dengan pakem atau aturan yang terdapat dalam setiap ragam gerak tari. Literasi gerak yang akan dipelajari merupakan cara membaca, menuliskan atau mendeskripsikan, dan menerjemahkan dari simbol ke dalam bentuk gerak atau sebaliknya dari gerak ke dalam bentuk simbol.
Literasi gerak dengan membaca, menuliskan atau mendeskripsikan, dan menerjemahkan simbol merupakan langkah dalam mempelajari notasi tari yang disebut dengan labanotation. Laban notasi
22
dciptakan oleh Rudolf Van Laban pada abad XIX (tepatnya tahun 1928) seorang koreografer sekaligus penari, keturunan Austro-Hungaria, Sistem pencatatan tersebut mampu bertahan cukup lama dan telah melalui proses uji coba terus menerus untuk diakui menjadi sistem notasi tari secara universal. Sistem pencatatan yang diciptakan oleh Rudolf Von Laban itu kemudian disebut dengan notasi laban (labanotation), sesuai dengan nama penciptanya.
Ahli-ahli tari dari Eropa dan Amerika sangat merespon adanya sistem notasi tari tersebut, mereka mengadakan percobaan (pertama) untuk mengkaji notasi laban (di Jerman) pada tahun 1936 dalam sebuah kongres tari. Percobaan dilakukan dengan cara mengirimkan catatan tari lengkap (dance score) dengan sistem notasi laban, pada seribu penari yang tersebar di 40 kota yang berjauhan berjauhan jaraknya.
Dari catatan itu, mereka mempelajari tari untuk dipentaskan pada saat penyelenggaraan konggres tari. Koreografi itu berhasil dipentaskan dengan hanya beberapa kali latihan dan hanya sekali diadakan gladi bersih. Hal tersebut menunjukan bahwa catatan tari melalui sistem notasi laban mudah dipahami sehingga sebuah karya tari dapat direkontruksikan kembali.
Keberhasilan selanjutnya dibuktikan oleh Zachary Solov (penanggung jawab Ballet Theatre) pada tahun 1949. Pada perkembangan selanjutnya pusat-pusat pengkajian mulai didirikan untuk mengadakan penelitian dan penyempurnaan/perbaikan sistem Labanotation, antara lain Dance Notation Bureau (pusat pencatatan tari yang didirikan pada tahun 1940) di NewYork, Ohio, Philadelphia, London, dan Israel merupakan lembaga yang paling gigih dalam usaha penyebarluasan dan penyempur-naan notasi laban, Kinematographische Institute di Jerman,
23 Laban Art of Movement Centre, Beecmont Movement study Centre danLanguage of Dance Centre di Inggris, dan sebagainya. Pada akhirnya dicapai sebuah kesepakatan dan penyegaran dalam penggunan notasi laban untuk seluruh negara di dunia.
Kesepakatan tersebut secara luas disampaikan pada penyelenggaraan The Internasional Council of Kinetography Laban (ICKL) pada tahun 1959. Pada perjalanan selanjutnya notasi laban terus mengalami penyempurnaan-penyempurnaan seperlunya oleh si pencetus maupun oleh ahli-ahlilain di antaranya; Ann Hutchnson pada tahun 1970, Peggy Huckney, et. all. Pada tahun 1978 diselenggarakan konferensi tari Internasional oleh American Dance Guild dan Comitee on Research Dance di University Hawaii.
B. Koordinasi Gerak dalam Tari
Menurut Suharno (Sridadi, 2009:3), koordinasi gerak adalah kemampuan seseorang untuk merangkai beberapa unsur gerak menjadi suatu gerakan yang selaras sesuai dengan tujuannya, atau kemampuan menampilkan tugas gerak dengan lentur dan akurat yang seringkali melibatkan perasaan dan serangkaian koordinasi otot yang mempengaruhi gerakan.
Lutan (2002:70) menyebutkan bahwa koordinasi gerak adalah kemampuan untuk memadukan pelaksanaan tugas gerak yang terpisah- pisah yang didukung oleh beberapa sumber penginderaan sehingga menjadi gerak yang efisien. Koordinasi gerak memerlukan suatu keharmonisan, irama, dan urutan gerak dari beberapa anggota tubuh.
Menurut Murgiyanto level atau tinggi rendah adalah ukuran tinggi-
24
rendah yang dihasilkan oleh seorang penari dalam melakukan gerak.
Ketinggian maksimal yang dapat dicapai oleh seorang penari adalah ketika meloncat ke udara, sehingga ketinggian minimal dicapai ketika rebah di lantai.
Pada notasi laban yaitu suatu sistem yang menganalisis dan merekam pergerakan manusia. Dipublikasikan pertama kali oleh Rudolf Van Laban pada tahun 1879-1958 dengan nama kinetographie. Beberapa orang melanjutkan untuk pengembangan notasi tersebut. Di Amerika oleh Ann hutchinson dikenal dengan notasi laban. Notasi laban dikembangkan di Jerman oleh Albrecht Knust dengan nama kinetographie laban.
(Schrott, 1991:200). Sementara level dalam gerak tari adalah level dalam gerak tari adalah tinggi rendahnya gerak tari yang dilakukan. Gerak tari berdasarkan level memiliki tiga elemen yaitu rendah, sedang, dan tinggi.
Ketiga level ini merupakan satu kesatuan utuh sehingga memberi kesan dinamis pada tari. Penggunaan level pada gerak berhubungan erat dengan ruang, waktu, dan tenaga. Gerak level rendah dilakukan menyentuh lantai.
Gerak level sedang dilakukan sejajar dengan tubuh, dan gerak level tinggi dilakukan sebatas kemampuan penari melakukan gerak secara vertikal
C. Penulisan Simbol dalam Literasi Gerak
Literasi gerak ini merupakan adopsi dan adaptasi dari notasi laban dengan penambahan warna coklat untuk level rendah, hijau untuk level sedang, dan biru untuk level tinggi. Pemilihan warna disesuaikan dengan alam lingkungan sekitar siswa yaitu coklat untuk warna tanah yang memberi level rendah, hijau warna daun yang memberi arti level sedang, sedangkan biru warna langit yang memberi simbol level tinggi.
25 Pemberian warna pada simbol agar siswa dapat lebih mudah memahami level gerak yang terdapat dalam notasi laban. Penulisan literasi gerak terbagi menjadi gerak bagian kiri dan bagian kanan, berikut gambar secara spesifik penyederhanaan dari simbol-simbol literasi gerak sebagai media pembelajaran.
Gambar 1. Spesifiasi Simbol Literasi Gerak diadopsi dari Labanotation
26
Secara terperinci marilah kita mulai mengenal simbol- simbol dari literasi gerak.
Gambar 2. Simbol Literasi Gerak diadopsi dari Labanotation
27 Gambar 3. Simbol Literasi Gerak diadopsi dari Labanotation
Belajar literasi gerak berbasis pada notasi laban bukan belajar notasi laban yang sesungguhnya, melainkan hanya pada penggunaan simbol arahnya, Hal ini terjadi karena pemahaman literasi gerak bukan pada belajar notasi labannya, melainkan notasi laban sebagai stimulus
Gambar 4. Simbol Literasi Gerak diadopsi dari Labanotation
28
untuk mengaktifkan dan menyeimbangkan kerja otak.
Ruang gerak pada notasi laban dapat ditunjukkan dengan simbol arah gerak, karena ketika tangan merentang ke samping akan memiliki makna yang berbeda ketika tangan membuka dengan arah serong kiri dan kanan. Begitu pula ketika tangan ke atas akan berbeda ruangnya jika tangan merentang ke samping.
Berikut tabel literasi gerak sebagai kuni dasar untuk memahami agar dapat melakukan gerak sesuai dengan notasi:
Tabel 1. Langkah dalam Literasi Gerak a. Posisi di tempat
b. Langkah maju kaki kanan/kiri
c. Langkah mundur kaki kanan/kiri
d. Langkah kanan/kiri serong depan kaki
e. Langkah kanan/kiri
ke samping kaki
f. Langkah mudur serong belakang kaki kanan/kiri
29 a. Posisi di tempat dengan kaki
jinjit
b. Langkah maju kaki kanan/kiri dengan kaki jinjit
c. Langkah mundur kaki kanan/kiri dengan kaki jinjit
d. Langkah serong kaki kanan kanan/kiri dengan kaki jinjit
e. Langkah ke samping kaki
kanan/kiri dengan kaki jinjit f. Langkah mundur serong kaki
kanan/kiri dengan kaki jinjit
30
1. Contoh Koodinasi Gerak Anggota Tubuh dengan Ruang Melalui Simbol dalam Literasi Gerak
31 Pengembangan gerak tari dapat dilakukan dengan sederhana salah satunya yaitu mengolah dengan mengubah pola hitungan. Pola hitungan itu antara lain tempo lambat, sedang dan cepat. Sebagai contoh kalian
32
membuat gerak dengan 8 hitungan kemudian dilakukan menjadi 4 hitungan dan 2x 8 hitungan.
Pengembangan teori literasi gerak dengan membaca, mendefiniskan dan menuliskan simbol gerak pada tingkat mahir dapat dilakukan dengan memahami koordinasi gerak berdasarkan ruang dan level serta adanya variasi hitungan untuk meningkatkan kelincahan motorik siswa.
Berikut merupakan contoh simbol gerak dalam literasi gerak variasi hitungan, cobalah kalian lakukan:
33 2. Contoh Koordinasi GerakTangan dan Kaki dengan Aksen dan
Variasi Hitungan
Berikut ini, latihan koordinasi gerak tangan dan kaki dengan aksen dan variasi hitungan.
34
:
Literasi gerak merupakan penyederhanaan notasi laban. Penulisan simbol literasi gerak terbagi dua menjadi kaki bagian kanan dan kaki bagian kiri. Namun demikian, agar kalian mudah memahaminya, kaki bagian atas dan bagian bawah langsung terbagi dari simbolnya dengan menggunakan 2 level.
35 Mendeskripsikan gerak berdasarkan penulisan notasi dari literasi gerak dapat dituliskan seperti pada contoh berikut ini:
Bersiap Kaki di tempat level sedang, tangan di tempat level rendah (posisi berdiri tegap)
Hitungan sa
Kaki kiri maju, kanan kanan terkunci
36
Hitungan satu
Tangan kiri maju serong kiri level sedang Tangan kanan kanan serong kanan ke belakang level sedang Hitungan
tu
Kaki kanan melangkah ke samping kanan level sedang, kaki kiri terkunci
Hitungan dua
Kaki di tempat jinjit level tinggi, ke dua tangan maju ke depan
Hitungan tiga
Kaki duduk bersimpuh di tempat, tangan kiri ke samping kiri, tangan kanan ke samping kanan
Hitungan empat
Kaki di tempat level sedang
Hitungan em
Tangan kiri ke samping kiri level tinggi, tangan kanan ke samping kanan level tinggi Hitungan
pat
Ke dua tangan ke depan level sedang
37
BAB IV
PENGGUNAAN E-LEARNING LITERASI GERAK
Pembelajaran berbasis web yang populer dengan sebutan web- Based Education (WBE) atau kadang disebut e-learning (electronic learning) dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semua pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya, maka kegiatan itu dapat disebut sebagai pembelajaran berbasis web.
Kemudian yang ditawarkan oleh teknologi ini adalah kecepatan dan tidak terbatasnya tempat dan waktu untuk mengakses informasi. Kegiatan belajar dapat dengan mudah dilakukan oleh peserta didik kapan dan di mana saja dirasakan aman oleh peserta didik tersebut. batas ruang, jarak, dan waktu tidak lagi menjadi masalah yang rumit untuk dipecahkan.
Bagaimana cara belajar melalui web? Ada persyaratan utama yang pelru dipenuhi, yaitu adanya akses dengan sumber informasi melalui internet. Selanjutnya, adanya informasi tentang letak sumber informasi yang ingin kita dapatkan. Ada beberapa sumber data yang dapat diakses dengan bebas dan gratis tanpa proses administrasi pengaksesan yang rumit. Ada beberapa sumber informasi yang memang telah diberi otorosiasi pemilik sumber informasi.
38
Teknologi internet memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk mendapatkan informasi apa saja dari mana saja dan kapan saja dengan mudah dan cepat. Informasi yang tersedia di berbagai pusat data di berbagai komputer di dunia. Selama komputer-komputer tersebut saling terhubung dalam jaringan internet, dapat kita akses dari mana saja. Ini merupakan salah satru keuntungan belajar melalui internet.
Mewujudkan pembelajaran berbasis web bukan sekedar meletakkan materi belajar pada web untuk kemudian diakses melelui komputer web.
Namun, ia juga digunakan hanya sebagai media alternatif pengganti kertas untuk menyimpan berbagai dokumentasi dan informasi. Web digunakan untuk mendapatkan sisi unggul yang tadi telah diungkap.
Keunggulan yang tidak dimiliki media keretas atau media lain.
Banyak pihak mencoba mengggunakan teknologi web untuk pembelajaran dengan meletakkan materi belajar secara online, lalu menugaskan peserta didik untuk mendapatkan (downloading) materi belajar itu sebagai tugas baca. Setelaha itu mereka diminta untuk mengumpulkan laporan, tugas, dan sebagainya, kembali ke guru juga melalui internet. Jika ini dilakukan, tentunya tidak akan menimbulkan proses belajar yang optimal.
Kita dapat membayangkan suasana di ruang kelas ketika sebuah proses belajar sedang berlangsung. Berapa banyak di antara peserta didik aktif terlibat dalam diskusi dan sesi tanya jawab? Apa yang mereka dilakukan di kelas? Tentunya masih banyak lagi pertanyaan lain yang sebenarnya kita sudah mengetahui jawabanya.
Satu hal yang perlu di ingat adalah bagaimana teknologi web ini dapat membantu proses belajar. Untuk kepentingan ini, materi belajar perlu di kemas berbeda dengan penyampain yang berbeda pula.
39 Adanya teknologi informasi atau internet membuka sumber informasi yang tadinya susah di akses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan merupakn salah satu sumber informasi yang mahal. Adanya jaringan internet memungkinkan seseorang di indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat. Tanpa adanya internet banyak tugas akhir, tesis, dan disertasi yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.
Kerja sama antarahli dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu seseorang harus berkelana atau berjalan jauh untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusiakn sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan e-mail.
Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan tukar menukar data melalui internet, email, atau dengan mengggunakan mekanisme file sharing. Jadi, di sini masalah geografis bukan menjadi masalah membatasi lagi.
Bagi Indonesia, manfaat-manfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadi alasan yang kuat untuk menjadikan internet sebagai infrastruktur bidang pendidikan. Dalam kegiatan pembelajaran dengan munculnya berbagai software yang dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran, saat ini para guru dapat merancang pembelajaran berbasis komputer, dengan menggunakan salah satu bahasa pemograman seperti delphi, pascal, makromedia flash, swiss MX dan lainya. Hal ini dapat memberikan variasi dalam mengajar. Seorang guru tidak harus menjejali siswa dengan informasi yang membosankan. Dengan menggunakan teknologi informasi seorang guru dapat memanfaatkan komputer sebagai
40
total teaching, di mana guru hanya sebagai fasilitator dan sisiwa dapat belajar dengan berbasis komputer baik melalui model pembelajaran driils, tutorial, simulasi, maupun instrucsioanl games.
A. Pemanfaatan E-Learning untuk Pembelajaran
Menurut Jaya Kumar C. Koran (2002), e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sementara Dong mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhanya.
Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan seraingkain solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Campbell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakikat e-learning
Konsep belajar mengajar masih memiliki makna sebagai sebuah interaksi antara dosen dengan mahasiswa melalui sebuah pertemuan yang terjadi di dalam kelas. Dosen atau pengajar berperan sangat dominan di dalam ruang kuliah. Padahal, pembelajaran yang efektif seharusnya terfokus pada karakteristik yang tergambar dari (proses) pembelajarannya. Adanya perkembangan proses belajar melalui teknologi informasi dan komunikasi yang mengenalkan penggunaan media elektronik seperti komputer dalam menyebarkan informasi.
41 Di dalam bidang pendidikan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini memicu berkembangnya e-learning. E-learning adalah sebuah konsep dalam proses pembelajaran dengan menggunakan TIK, khususnya menggunakan media yang berbasis internet. Istilah e- learning sendiri memiliki kesamaan makna dengan beberapa istilah lain seperti on-line learning, virtual classroom, dan virtual learning.
Istilah e-learning sangat popular beberapa tahun belakangan ini, mekipun konsepnya sudah cukup lama dimunculkan sebelumnya. Istilah ini sendiri memiliki definisi yang sangat luas. Terminologi e-learning cukup banyak dikemukakan dalam berbagai sudut pandang, namun pada dasarnya mengarah pada pengertian yang sama. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan media atau jasa bantuan perangkat elektronika. Dalam pelaksanaannya, e-learning menggunakan jasa audio, video, perangkat komputer, atau kombinasi dari ketiganya.
E-learning merupakan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan menggunakan jaringan internet. Dengan e-learning dapat memungkinkan tersampaikannya suatu informasi dalam bentuk kegiatan atau aplikasi seperti website menggunakan media TIK yang berupa jaringan internet atau komputer. Menggunakan e-learning pembelajaran yang berupa suatu kegiatan lewat media bisa dilakukan kapan dan di mana saja. E-learning memiliki ciri khas yang menjadi unggulan, yakni tidak tergantung pada ruang (tempat) dan waktu.
Pada pembelajaran lewat media ini tidak menyita waktu yang begitu lama untuk mahir di dalamnya, atau sekedar untuk bisa melakukan pembelajaran e-learning sendiri. E-learning tidak membutuhkan ruangan (tempat) yang besar atau luas layaknya pembelajaran dalam kelas, e- learning yang merupakan sebuah teknologi media internet telah
42
memperpendek jarak.
Perkembangan TIK yang menghasilkan internet dengan pembelajaran berbasis web merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media situs web (website) yang bisa diakses melalui jaringan internet. Pembelajaran berbasis web merupakan salah satu jenis penerapan dari pembelajaran elektronik (e-learning ). Akan tetapi, di sini sebenarnya untuk kegunaan e-learning kadang-kadang masih jarang yang tahu. Apalagi untuk ranah mahasiswa, pemahaman mereka tentang apa itu e-learning masih kurang.
Di sisi lain, untuk kegunaan e-learning sendiri banyak sekali. Di samping itu, banyak situs e-learning seperti yang terbaik saat ini di Indonesia menurut Vebma. com dalam tulisannya #ilmukomputer.com,
#Goesmart. com, #Geschool. net, #Fisikanet. lipi. go. id, #pesonaedu. com.
Tidak sampai di situ saja. Sebenarnya pembelajaran e-learning melalu internet juga banyak, hanya saja jika kita sebagai mahasiswa tidak ingin tahu, bisa jadi kita yang malas untuk membuka wawasan kita atau mencari tahu pembelajaran yang terbaik saat ini. Yang terpenting, kita sebagai pelaku harus pandai-pandai mencari referensi yang baik pada zaman yang semakin maju. Jadi, kita tidak berhenti hanya di situ. Kita bisa melihat yang di luar sana untuk pembelajaran e-learning sendiri.
Apabila menemukan pembelajaran yang pas, tidak hanya merasakan kesenangan secara pribadi, tetapi kita akan terus menerus membuka e- learning tersebut dan selalu ingin tahu lebih jauh mengenai e-learnin, sehingga kita sekaligus belajar melalui pembelajaran e-learning sendiri.
Walaupun sekarang sudah ada situs e-learning terbaik diindonesia, kita tidak bisa mengacu pada satu pandangan saja untuk saat ini karena banyak yang lebih baik asal kita mau berusaha dan mencari-cari.
43 Dengan berbasis website, e-learning dapat berkembang dari pembelajaran menggunakan internet kemudian memiliki sebuah isi dari video, teks, dan sebagainnya yang disebut dengan website. Munculnya website tersebut yang telah berkembang sangat cepat disebabkan oleh faktor utama, yaitu penyebaran informasi melalui website begitu cepat dan mencakup area yaag luas (mendunia), sehingga tidak ada batasan waktu dan jarak. Selain itu juga, sampai sekarang ini lagi tren pembuatan website pribadi atau blog. Misalnya, apabila ingin kuliah, kita tinggal mendaftar pada website-website yang telah menyediakan e-learning, sehingga proses perkulihannya dapat dilakukan secara online walaupun dibatasi oleh jarak jauh.
Pembelajaran berbasis web adalah suatu kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan media situs (website) yang dapat diakses melalui jaringan internet yang terkoneksi atau terhubung secara simultan, sehingga memungkinkan untuk bertukar data dan informasi antar komputer. Hal itu dikenal dengan sebutan web based learning (WBL) atau web based education (WBE) merupakan salah satu jenis penerapan dari pembelajaran elektronik (e-learning). Dengan demikian dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan.
Aspek yang membedakan pembelajaran tradisional dari e-learning adalah kelas tradisionalnya. Guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya.
Sementara di dalam pembelajaran e-learning fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandri pada waktu tertentu dan bertanggung jawab untuk pembelajaranya. Suasana pembelajaran e-learning akan memaksa pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajaranya. Pelajar
44
membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha dan inisiatif sendiri.
Sementara itu, ada beberapa karakteristik e-learning. Pertama, memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, antarsiswa, atau antarguru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah, tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler. Kedua, memanfaatkan keunggulan komputer. Ketiga, menggunakan bahan ajar bersifat mandiri disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukanya. Keempat, memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, dal hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
erbagai kelebihan dalam penerapan teknologi instruksional, seperti penggunaan web (e-learning ) dapat diasumsikan sebagai salah satu faktor pendorong berkembangnya proses pembelajaran pada institusi- institusi pendidikan nonformal. Dengan metode pembelajaran seperti itu, para siswa ditempatkan pada rangkaian belajar di mana mereka secara aktif mencari dan memperoleh informasi dan bahan belajar yang sangat luas dalam berbagai format media baik teks, gambar, video, maupun film dengan menggunakan web (e-learning) sebagai media. Dalam uses and gratification theory dijelaskan bahwa khalayak memiliki kekuatan (aktif) dalam menentukan pemanfaatan media massa termasuk media dalam internet sesuai dengan kebutuhan dan kepuasan mereka atas informasi yang dibutuhkan.
45 B. Penggunaan E-Learning Literasi Gerak
Para guru telah memanfaatkan fasilitas ini sabagai sarana mengakses web untuk mendapatkan informasi yang lebih luas tentang bahan belajar yang menarik bagi siswa, strategi pembelajaran yang efektif, dan berbagai tools akademik. Selain itu, melalui pengarahan dari para guru (teachers), para siswa (students) dapat mengakses web pada pusat multimedia secara langsung sebagai sumber informasi yang luas yang tersedia dalam berbagai macam format media (multimedia) ; teks, visial, audio, video, atau film yang menarik untuk belajar pendidikan seni tari.
Pada pembelajaran tari, diperlukan kecerdasan kinestetik yang baik, agar dapat menirukan gerak, mengembangkan gerak, mempersepsikan gerak, memanipulasi gerak, dan berimprovisasi gerak yang disebut dengan literasi gerak (movement literation). Sesuai dengan teori Harrow yang menyebutkan bahwa ranah psikomotor terdiri atas keterampilan manipulatif, motor, dan gerakan-gerakan yang memerlukan koordinasi neuromuskuler (Grow, 2011). Koordinasi neuromuskuler ini mengarahkan pada gerak yang dilakukan dengan menggunakan kognitif (persepsi gerak), sehingga dibutuhkan literasi gerak yang baik.
Body expression of emotion through body posture and gesture (Sue, Paquette, 2010) merupakan literacy movement atau literasi gerak yang lebih kepada pemahaman atau pemaknaan gerak. Untuk mendiagnostik kemampuan literasi gerak tersebut dapat dilakukan dengan e-learning dalam bentuk web dengan mengunggah hasil kreativitas geraknya, atau menerjemahkan apa yang diapresiasi dalam bentuk gerak tari.
Dengan teknologi, guru seni budaya, khususnya senitari dapat menyajikan pembelajaran yang lebih informatif, inovatif, detail dan imajinatif, siswa mampu diajak ke dunia pembelajaran yang lebih nyata
46
dan membangun karakter seni siswa itu sendiri. Hal ini mungkin sama halnya dengan mata pelajaran lain, yang ketika harus dijelaskan dan dicontohkan, kemudian guru akan kesulitan karena harus menyediakan objek penjelas dan contoh yang konkret. Oleh karena itu, dengan menggunakan media pembelajaran e-learning tentu diharapkan menjadi sebuah solusi yang akan membantu keberhasilan prosesbelajar mengajar, namun belum banyak guru yang menggunakan media e-learning tersebut.
Buku ini membahas tentang memahami Pengenalan Sistem e- learning literasi gerak, memahami akses ke sistem e-learning, serta mengaplikasikan proses pembelajaran menggunakan metode e-learning.
Dengan demikian diharapkan siswa SMP yang mengikuti ekstrakulikuler tari dapat mengikuti pembelajaran berbasis e-learning dan android ini dengan baik.
C. Pedoman Penggunaan E-Learning
Pedoman ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi siswa pembelajaran e-learning dalam memahami tata cara penggunaan metode pembelajaran e-learning bagi siswa SMP yang mengikuti ekstrakulikuler tari.
1. Kebutuhan Sistem
Adapun perangkat yang dibutuhkan untuk dapat menggunakan e- learning adalah sebagai berikut:
a) Seperangkat komputer/laptop dan gawai (gadget/handphone) dan sejenisnya, lebih disarankan menggunakan komputer/laptop karena beberapa fasilitas, seperti tes online tidak dapat muncul pada
47 perangkat lain (misalnya, pada telepon seluler) ;
b) Sistem operasi bebas, baik windows, linux, unix, android (untuk handphone) dan lain-lain yang mendukung GUI (graphical user interface) ;
c) Web browser seperti Internet explorer, opera, mozilla firefox, google chrome, safari dan lain-lain; menggunakan versi terbarukan lebih baik;
d) PDF Reader, lebih disarankan adobe reader, dapat juga menggunakan foxit reader, nitro PDF reader, dan lainnya;
e) Flash player versi terbaru, beberapa materi pembelajaran menggunakan flash. Apabila flash player tidak ter-install akan mengakibatkan materi pembelajaran tidak dapat muncul; dan
f) Multimedia player (mp3, flv, mpg, avi, mov, 3gp), beberapa materi pembelajaran tersedia dalam bentuk multimedia.
2. Membuka Laman E-Learning Literasi Gerak
Situs e-learning literasi gerak dapat diakses melalui jaringan internet. Untuk akses dari jaringan internet komputer/laptop Anda harus memiliki fasilitas hotspot (wifi). Apabila sudah mendapat sinyal tersebut bukalah web browser. Ketik pada address bar:http://literasigerak. id/.
3. Mengenal Lingkungan Laman E-Learning Berikut ini beberapa menu di halaman e-learning:
1) Banner berisi basic untuk mengakses cepat ke menu pembelajaran yang diikuti;
48
2) Indikator login/belum login (di pojok kanan atas) ;
3) Menu Navigasi, berisi home untuk mengakses cepat ke awal laman dan kalendar;
4) Menu Navigasi, berisi basic untuk mengakses cepat ke menu pembelajaran yang diikuti;
5) Menu course categories, berisi menu basic, intermediate, dan advance sebagai kelas pembelajaran yang dapat diikuti; dan
6) Menu Informasi, berisi menu untuk mengakses cepat informasi ke menu social media, about us, terms of use, faq support contact dan juga contact person;
Berikut ini menu tampilan sebelum login
49 Bab ini memperkenalkan kepada siswa mengenai sistem e-learning literasi gerak. Materi kebutuhan sistem ini memperkenalkan kepada siswa tentang perangkat-perangkat apa saja yang digunakan. Lebih lanjut Bab ini membahas mengenai praktik bagaimana situs e-learning sehingga dapat diakses melalui jaringan internet. Terakhir, Bab ini memberikan pengenalan lingkungan laman e-learning dan perangkatnya.
50
4. Membuat Account
1) Untuk membuat akun, masuk ke dalam menu login terlebih dahulu
2) Setelah masuk ke dalam menu login klik menu create new account
3) Setelah masuk ke dalam menu create account, lalu isi pada kolom username dan password dan username. Username diisi dengan nama lengkap siswa tanpa spasi. Untuk pengisian Password/kata sandi harus memiliki setidaknya 8 karakter, setidaknya 1 digit,