PENERAPAN METODE
COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)
DENGAN MEDIA KARTU PELENGKAP DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA TEKS CERITA ANAK
(Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)
SKRIPSI
diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
oleh
Ratih Kurniasari
1101976
DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2015
(Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)
oleh
Ratih Kurniasari
sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada bidang studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
©Ratih Kurniasari 2015
Universitas Pendidikan Indonesia
Juli 2015
Hak Cipta dilindungi undang-undang
skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruh atau sebagian,
(Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)
Ratih Kurniasari 1101976
ABSTRAK
Penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan Media Kartu Pelengkap dalam Pembelajaran Membaca Teks
Cerita Anak (Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung
ABSTRACT
The study, entitled "Method of Application of Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) to the Supplementary Card Media in Learning Reading Kids Stories Text (Quasi Experimental Research in Class VII SMP Negeri 10 Bandung Academic Year 2014/2015)" backed by student difficulties in finding reality which is reflected in the child's life stories, and retell the story is read into written form. The three objectives of this research, which describe: (1) profile of children learning to read text stories seventh grade students of SMP Negeri 10 Bandung; (2) the process of learning to read text stories of children using supplementary card CIRC with the media; and (3) the level of significant difference between the experimental class students' abilities and capabilities graders. The sample in this study each class numbered 30 students in the experimental and control classes are taken by purposive sampling. The method used in this study is a quasi experimental method with nonequivalent control group design. The results showed that the method CIRC with supplementary card effective media in teaching children to read the story text. An increase in the average value of the experimental class is higher than the control class. The average value of the initial test experimental class is 63 and the final test is 78.73. The average value of the initial test in the control class was 58.87 and the final test is 64.2. Hypothesis testing
shows the data acquisition with a value ≥ t_hitung t_tabel, namely 4.49 ≥ 2.002. Based on
Lembar Pengesahan
Lembar Pernyataan ... i
Ucapan Terimakasih ... ii
Abstrak... ...iv
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... vi
Daftar Tabel ... ix
Daftar Lampiran ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian ... 1
B. Identifikasi Masalah Penelitian ... 5
C. Rumusan Masalah Penelitian ... 5
D. Tujuan Penelitian ... 6
E. Manfaat Penelitian ... 6
F. Struktur Organisasi Skripsi... 7
BAB II METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC), MEDIA KARTU PELENGKAP, DAN MEMBACA PEMAHAMAN TEKS CERITA ANAK A. Metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ... 9
1. Pengertian Metode CIRC ... 9
2. Langkah-langkah Metode CIRC ... 11
3. Keunggulan dan Kelemahan Metode CIRC ... 13
B. Media Kartu Pelengkap ... 13
C. Membaca ... 16
1. Pengertian Membaca ... 16
2. Tujuan Membaca ... 17
3. Aspek-aspek Membaca ... 18
4. Membaca Pemahaman ... 19
D. Cerita Fiksi Anak ... 21
E. Hipotesis ... 26
F. Kerangka Pemikiran ... 26
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 29
B. Sumber Data Penelitian ... 30
1. Populasi Penelitian ... 30
2. Sampel Penelitian ... 31
C. Definisi Operasional ... 32
D. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ... 33
1. Tes ... 33
2. Observasi ... 33
3. Wawancara ... 33
E. Intrumen Penelitian ... 34
1. Instrumen Pembelajaran ... 34
2. Instrumen Tes ... 44
3. Lembar Observasi ... 49
F. Teknik Pengolahan Data ... 52
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Penelitian ... 56
1. Data Tes ... 56
a. Data Tes Kelas Eskperimen ... 57
1) Analisis Data Tes Awal Kelas Eksperimen ... 58
2) Analisis Data Tes Akhir Kelas Eksperimen ... 69
b. Data Tes Kela Kontrol ... 80
1) Analisis Data Tes Awal Kelas Kontrol ... 81
2) Analisis Data Tes Akhir Kelas Kontrol ... 92
2. Data Nontes ... 103
a. Profil Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung ... 103
b. Proses Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak Menggunakan Metode CIRC dengan Media Kartu Pelengkap ... 104
B. Analisis Data ... 112
1. Uji Reliabilitas Antarpenimbang ... 112
a. Uji Reliabilitas Tes Awal Kelas Eksperimen ... 112
b. Uji Reliabilitas Tes Akhir Kelas Eksperimen ... 116
c. Indeks Gain Kelas Eksperimen ... 119
d. Uji Reliabilitas Tes Awal Kelas Kontrol ... 122
Kontrol ... 129
a. Uji Normalitas Data Tes Awal Kelas Eksperimen ... 130
b. Uji Normalitas Data Tes Akhir Kelas Eksperimen ... 134
c. UjiNormalitas Data Tes Awal Kelas Kontrol ... 138
d. Uji Normalitas Data Tes Akhir Kelas Kontrol ... 142
3. Uji Homogenitas Data Tes Awal dan Tes Akhir Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 146
a. Uji Homogenitas Data Tes Awal dan Tes Akhir Kelas Eksperimen ... 146
b. Uji Homogenitas Data Tes Awal dan Tes Akhir Kelas Kontrol ... 147
4. Uji Hipotesis ... 149
C. Pembahasan Hasil Penelitian... 152
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Simpulan ... 157
B. Implikasi dan Rekomendasi ... 158
DAFTAR PUSTAKA ... 159 DAFTAR RIWAYAT HIDUP
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Penelitian
Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang penting untuk
dikuasai. Keterampilan membaca merupakan proses reseptif yang diperlukan
sebelum melakukan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Kemampuan
membaca memiliki keterkaitan dengan kemampuan berbahasa lainnya, salah
satunya adalah keterkaitan dengan kemampuan menulis. Pada era modern ini
kemampuan membaca dan menulis sangatlah penting untuk dikuasai. Menurut
Mawardi (2009, hlm. 15) menulis dan membaca merupakan dua keahlian standar
yang harus dimiliki setiap manusia modern. Pendapat tersebut menunjukkan
bahwa kemampuan membaca dan menulis dapat menunjang kehidupan di masa
modern seperti saat ini.
Berbeda dengan menulis, membaca merupakan keterampilan berbahasa
yang bersifat reseptif. Membaca merupakan keterampilan yang kompleks.
Menurut Nurhadi (dalam Somadayo, 2011, hlm. 5) membaca adalah suatu proses
yang kompleks dan rumit. Kompleks berarti dalam proses membaca terlibat
berbagai faktor internal dan faktor eksternal pembaca. Faktor internal berupa
faktor intelegensi, minat, sikap bakat, motivasi, dan tujuan membaca. Faktor
eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca, teks bacaan, faktor lingkungan atau
faktor latar belakang sosial ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca.
Salah satu jenis dalam keterampilan membaca adalah membaca
pemahaman. Menurut Rubin (dalam Somadayo, 2011, hlm.7) membaca
pemahaman adalah proses intelektual yang kompleks yang mencakup dua
kemampuan utama, yaitu penguasaan makna kata dan kemampuan berpikir
tentang konsep verbal. Pendapat tersebut memandang bahwa dalam membaca
pemahaman terjadi konsentrasi dua arah. Pembaca secara aktif merespons dan
mengungkapkan bunyi tulisan dan bahasa yang digunakan oleh penulis kemudian
tersebut. Sementara Tarigan (2013, hlm.56) menyatakan bahwa membaca
pemahaman merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami
standar-standar atau norma-norma kesastraan (literal standar-standars), resensi kritis (critical
review), drama tulis (printed drama) serta pola-pola fiksi (apttrens of fiction).
Berkenaan dengan pendapat Tarigan tersebut, salah satu dari tujuan membaca
pemahaman adalah untuk memahami standar-standar atau norma-norma
kesastraan (literal standars) dan resensi kritis (critical review), maka salah satu
teks yang dapat dijadikan bahan bacaan dalam membaca pemahaman adalah teks
cerita anak.
Cerita anak merupakan karya sastra bergenre prosa. Cerita anak pada
umumnya memiliki karakteristik yang sama dengan cerita pendek, hanya saja
dalam cerita anak pembacanya dikhususkan bagi anak-anak. Perbedaan yang
terlihat dari cerita anak dan cerita umum lainnya selain dari segi pembaca juga
terdapatnya nilai moral yang terkandung dalam cerita anak tersebut. Kompetensi
dasar yang ditujukan untuk kelas tujuh menyebutkan bahwa siswa dituntut untuk
dapat menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam cerita anak.
Realitas kehidupan tersebut tentu bekenaan dengan pesan moral. Untuk
menemukan realitas kehidupan yang terefleksi dalam cerita, tentu siswa harus
membaca teks cerita anak tersebut dengan penuh pemahaman.
Kegiatan membaca perlu dibiasakan sejak usia dini, yakni setelah anak
mengenal huruf. Kebiasaan tersebut akan mendorong anak mempunyai minat baca
yang tinggi. Dengan adanya minat baca tentu kemampuan membaca pemahaman
pun akan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki
minat baca. Di sekolah, kurangnya antusias siswa dalam kegiatan membaca,
menyebabkan rendahnya kemampuan membaca pemahaman yang dimiliki.
Permasalahan mengenai rendahnya kemampuan membaca pemahaman tersebut,
tidak dapat dikatakan sebagai kelalaian dari guru. Namun hal tersebut terjadi
karena faktor kebiasaan membaca dan minat baca siswa.
Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama, kemampuan membaca
pemahaman sudah seharusnya menjadi keterampilan yang dimiliki oleh siswa.
3
soal-soal Ujian Akhir Nasional (UAN) sebagian besar menuntut pemahaman
siswa dalam mencari dan menentukan ide pokok, gagasan utama, membaca
grafik/tabel, menentukan tema dan amanat dalam teks sastra, dan lain sebagainya.
Tanpa adanya kemampuan membaca pemahaman yang tinggi sangat sulit siswa
untuk menjawab soal-soal tersebut. Sehingga tidak aneh jika sangat sedikit siswa
yang mendapatkan nilai sempurna dalam Ujian Akhir Sekolah ataupun Ujian
Akhir Nasional. Melihat keadaan yang demikian, di sinilah peran membaca
pemahaman sangat diperlukan. Sejauh ini, siswa menilai saat pembelajaran
membaca menjadi pembelajaran yang membosankan. Siswa sering sekali terlihat
bosan ketika dihadapkan dengan teks bacaan yang begitu panjang, tidak adanya
interaksi antara guru dan siswa lainnya pada saat pembelajaran membaca
membuat antusias siswa berkurang.
Adanya permasalahan seperti yang telah dikemukakan tersebut,
mengindikasikan bahwa pembelajaran membaca pemahaman memerlukan
perhatian dari guru sebagai fasilitator atau penyampai materi dalam pembelajaran.
Tercapai tidaknya tujuan pembelajaran bergantung kepada guru. Untuk itu
keberhasilan guru dalam mengelola kelas pada saat proses pembelajaran sangatlah
penting dalam menunjang keberhasilan siswa dalam belajar. Metode pembelajaran
yang digunakan oleh guru harus mampu meningkatkan minat dan dapat
memotivasi siswa dalam belajar. Guru harus mampu merangsang siswa untuk
aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Selain itu penggunaan media
pun sangat penting, sehingga siswa tidak lagi merasa bosan pada saat
pembelajaran terutama saat pembelajaran membaca pemahaman.
Kurangnya antusias siswa menjadikan konsentrasi yang dibutuhkan dalam
membaca pun semakin berkurang. Keadaan seperti inilah yang harus diubah,
sehingga paradigma siswa mengenai pembelajaran membaca dapat berubah.
Padahal dengan membaca siswa akan mengetahui dunia. Maka tidak salah jika
membaca dikatakan sebagai jendela dunia. Jika dalam pembelajaran guru
menggunakan metode dan media yang inovatif bukan tidak mungkin jika
pembelajaran membaca menjadi pembelajaran yang menyenangkan sehingga
Salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran
membaca pemahaman adalah cooperative integrated reading and composition
(CIRC) dengan media kartu pelengkap. Penerapan metode CIRC dengan media
kartu pelengkap dalam pembelajaran membaca teks cerita anak, siswa dituntut
untuk bekerja sama dalam kelompok untuk memahami cerita anak,
mengidentifikasi unsur intrinsik, menganalisis struktur cerita anak, kemudian
memperkirakan akhir cerita, dan menceritakan kembali teks yang dibaca ke dalam
bentuk tulisan dengan bantuan kartu pelengkap berdasarkan pemahaman yang
diperoleh dari membaca (meringkas cerita). Metode ini dapat dijadikan sebagai
salah satu referensi untuk mengatasi permasalahan yang dialami pada saat
pembelajaran membaca. Metode ini sebelumnya sudah pernah diujicobakan dalam
penelitian tindakan kelas yang kemudian disusun menjadi skripsi oleh Wahyudin
(2014) dengan judul Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Anekdot
Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC) Berbantuan Media Komik Strip (Penelitian Tindakan Kelas
di SMA Pasundan 3 Bandung Tahun Ajar 2013-2014). Penelitian tersebut
membuktikan adanya peningkatan nilai praktik menulis teks anekdot dengan
menggunakan metode CIRC berbantuan media komik strip. Pada siklus 1 nilai
rata-rata siswa yakni 67,68, sedangkan pada siklus 2 rata-rata nilai siswa yakni
85,58.
Penggunaan metode yang sama pun sebelumnya sudah pernah diujicobakan
oleh Rosmiati (2014) dalam tesisnya yang berjudul Meningkatkan Kemampuan
Membaca Pemahaman Melalui Cerita Anak Dengan Strategi CIRC pada Siswa
Kelas IV SD (Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Percobaan Cileunyi
Kabupaten Bandung). Media kartu pelengkap sendiri sudah pernah diujicobakan
oleh Arifuddin (2010) dalam tesisnya yang berjudul Penggunaan Media Kartu
Pelengkap dalam Pembelajaran Keterampilan Membaca di Madrasah
Tsanawiyah Yaspuri Malang - Jawa Timur. Tesis. Program Pascasarjana
5
Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang sudah ada adalah
kali ini peneliti akan mengujicobakan metode CIRC dengan media kartu
pelengkap dalam pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak. Penelitian
menggunakan media kartu pelengkap sebagai salah satu stimulus bagi siswa
dalam pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak. Penelitian-penelitian
terdahulu yang menerapkan metode CIRC dalam pembelajaran membaca teks
cerita anak tidak terlihat adanya penggunaan media. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menyelenggarakan penelitian dengan judul “Penerapan Metode
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan Media Kartu
Pelengkap dalam Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak” (Penelitian
Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran
2014/2015).
B. Identifikasi Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti dapat mengidentifikasikan
masalah sebagai berikut.
1. Siswa kurang berantusias dalam pembelajaran membaca.
2. Rendahnya minat baca memengaruhi kemampuan membaca pemahaman.
3. Penggunaan metode pembelajaran yang kurang menekankan interaksi antara
sesama siswa.
4. Penggunaan media pembelajaran yang kurang variatif.
C. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti merumuskan
pertanyaan penelitian dalam rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana profil pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak siswa
2. Bagaimana proses pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak
menggunakan metode CIRC dengan media kartu pelengkap pada siswa kelas
VII di SMPN 10 Bandung?
3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan membaca
pemahaman teks cerita anak siswa di kelas eksperimen yang menggunakan
metode CIRC bermedia kartu pelengkap dengan siswa kelas kontrol yang
menggunakan metode terlangsung?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. mendeskripsikan profil pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak
siswa kelas VII di SMPN 10 Bandung;
2. mendeskripsikan proses pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak
menggunakan metode CIRC dengan media kartu pelengkap pada siswa kelas
VII di SMPN 10 Bandung;
3. mendeskripsikan perbedaan yang signifikan antara kemampuan membaca
pemahaman teks cerita anak siswa di kelas eksperimen yang menggunakan
metode CIRC bermedia kartu pelengkap dengan siswa kelas kontrol yang
menggunakan metode terlangsung.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini meliputi manfaat teoretis dan
manfaat praktis.
1. Manfaat teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat bukti keefektifan metode CIRC
dengan media kartu pelengkap dalam pembelajaran membaca pemahaman
teks cerita anak.
7
a. Manfaat bagi guru yakni dapat menambah referensi metode pembelajaran
dengan menerapkan metode CIRC dengan media kartu pelengkap dalam
pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak.
b. Manfaat bagi siswa yakni dapat mempermudah dalam memahami bacaan
karena siswa saling bertukar pikiran dan informasi sesama anggota
kelompok mengenai teks yang dibacanya.
c. Manfaat bagi peneliti yakni dapat mengetahui keefektifan metode CIRC
dengan media kartu pelengkap dalam pembelajaran membaca pemahaman
teks cerita anak.
F. Struktur Organisasi Skripsi
Penelitian ini akan dituangkan dalam lima bab yang berisikan segala hal
yang berkaitan dengan penelitian ini. Lebih jelasnya pemaparan kelima bab
tersebut adalah sebagai berikut.
1. Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi tentang hal-hal yang mendasari dilakukannya penelitian. Pada
dasarnya bab satu ini berisi informasi mengenai keseluruhan penelitian yang
dilakukan. Bab pendahuluan ini berisi latar belakang masalah, identifikasi
masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian yang menjadi
dasar dilakukannya penelitian ini.
2. Bab II Metode CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition),
Media Kartu Pelengkap, dan Membaca Pemahaman Teks Cerita Anak
Bab ini berisi landasan teoretis dan kajian pustaka yang mendukung
penelitian. Bab dua membahas tentang variabel-variabel yang menjadi subjek
penelitian yang dipandang dari sudut teoristik. Bab dua landasan teoretis
berisi ihwal metode Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC), ihwal media kartu pelengkap, dan ihwal membaca pemahaman teks
3. Bab III Metode Penelitian
Bab tiga ini berisi bagaimana cara pengumpulan data. Pada bab tiga ini
dibahas mengenai desain atau rancangan yang digunakan dalam penelitian,
bagaimana penetapan populasi dan sampel, teknik penelitian,
instrumen-instrumen yang dibutuhkan dalam penyajian data, dan cara pengolahan data.
4. Bab IV Temuan dan Pembahasan
Bab empat ini berisi mengenai hasil temuan dan pembahasan dari penelitian
yang diambil berdasarkan hasil analisis data. Temuan-temuan tersebut berupa
data tes awal dan tes akhir kelas eksperimen maupun kelas kontrol, hasil
wawancara dengan salah satu guru bahasa Indonesia, lembar aktivitas guru,
dan lembar aktivitas siswa. Selanjutnya, temuan-temuan tersebut dianalisis.
Bagian selanjutnya, yaitu pembahasan data penelitian. Temuan-temuan
tersebut dianalisis dan data-data yang berbentuk angka diolah dengan rumus
statistik. Setelah itu, peneliti melakukan pembahasan terhadap data-data
penelitian.
5. Bab V Simpulan, Implikasi, dan Rekomendasi
Bab lima berisi simpulan penelitian secara menyeluruh. Simpulan disini
diartikan sebagai hasil akhir dari penelitian yang telah dilakukan. Dengan
kata lain, simpulan disini adalah jawaban dari rumusan masalah. Implikasi
dan rekomendasi berisi hal-hal yang penting yang dapat dimanfaatkan dalam
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan desain eksperimen kuasi dengan
tipe nonequivalent control group design. Desain ini hampir sama dengan
pretest-postest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen
maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random (Sugiyono, 2013, hlm.89).
Alasan memilih rancangan penelitian Nonequivalent Control Group Design
adalah karena dalam penelitian ini terdapat dua kelompok yaitu kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Penentuan kelompok tersebut dipilih
berdasarkan kelompok yang akan dijadikan kelompok eksperimen dan kelompok
yang akan dijadikan kelompok kontrol, tidak dipilih secara acak. Rancangan
penelitian Nonequivalent Control Group Design adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Rancangan nonequivalent control group design
E O1 X O2
K O3 Y O4
(Sugiyono, 2013, hlm.89)
Keterangan :
E : Kelompok kelas eksperimen
K : Kelompok kelas kontrol
O1 : Tes awal kelas eksperimen
O2 : Tes akhir kelas eksperimen
O3 : Tes awal kelas kontrol
X : Perlakuan berupa pembelajaran membaca teks cerita anak dengan
menggunakan metode CIRC dengan media kartu pelengkap.
Y : Perlakuan berupa pembelajaran membaca teks cerita anak dengan
menggunakan metode terlangsung
Pada desain ini, sampel diberikan dua kali tes yaitu sebelum diberikan
perlakuan (prates) dan setelah diberikan perlakuan (postest). Tes awal (prates)
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman
teks cerita anak sebelum diterapkannya metode cooperative integrated reading
and composition (CIRC) dengan media kartu pelengkap. Tes awal dilakukan di
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Selain melakukan tes awal, pada desain
penelitian ini dilakukan juga tes akhir (postest). Tes akhir dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman teks cerita anak
setelah di berikan perlakuan dengan metode CIRC dengan media kartu pelengkap,
namun perlakuan tersebut hanya diberikan terhadap kelas eksperimen saja, kelas
kontrol hanya melakukan tes awal dan tes akhir tanpa mendapatkan perlakuan
dengan menggunakan metode CIRC dengan media kartu pelengkap. Perbedaan
pencapaian antara kelas eksperimen dan kelas kontrol akan dibandingkan untuk
mengukur keberhasilan atau keefektifan pembelajaran dengan metode CIRC
dengan media kartu pelengkap.
B.Sumber Data Penelitian 1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 10
Bandung. Populasi tersebar dari kelas VII A hingga kelas VII J. Alasan memilih
sumber data tersebut karena memenuhi kriteria untuk dijadikan sumber data, yaitu
siswa yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama yang dalam
pelajaran Bahasa Indonesia terdapat teks cerita anak sebagai materi pembelajaran.
31
10 Bandung dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian. Berikut ini adalah
data sebaran kelas VII SMP Negeri 10 Bandung tahun ajaran 2014/2015.
Tabel 3.2 Populasi Penelitian
Populasi Jumlah
Keseluruhan
Siswa Kelas VII A 34
Siswa Kelas VII B 36
Siswa Kelas VII C 32
Siswa Kelas VII D 34
Siswa Kelas VII E 35
Siswa Kelas VII F 37
Siswa Kelas VII G 34
Siswa Kelas VII H 34
Siswa Kelas VII I 35
Siswa Kelas VII J 35
Jumlah Keseluruhan 346
2. Sampel Penelitian
Pada penelitian ini mengambil sumber data dengan cara sampel. Sampel
adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut
(Sugiyono, 2013, hlm.118). Pada penelitian ini peneliti akan mengambil sampel
purposif, menurut Subana dan Sudrajat (2011, hlm.126) pada sampel purposif
penarikan sampel secara purposif menekankan pada pertimbangan karakteristik
tertentu dari subjek penelitiannya. Sampel purposif ini bersifat nonrandom, hingga
peneliti dapat menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Dengan teknik sampel purposif, didapatkan dua kelas sampel yaitu kelas VII
G sebagai kelas eksperimen dan kelas VII C sebagai kelas kontrol. Pertimbangan
kegiatan pembelajaran dan ditambahkan dengan saran dari guru Bahasa Indonesia
kelas VII. Kelas VII G dijadikan sebagai kelas eksperimen karena nilai rata-rata
Ulangan Tengah Semester (UTS) lebih kecil jika dibandingkan dengan kelas VII
C. Berikut ini sebaran data siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Tabel 3.3 Sampel Penelitian
Sampel Jumlah Jumlah
keseluruhan Laki-laki Perempuan
Kelas VII C 13 19 32
Kelas VII G 14 20 34
Jumlah Keseluruhan 28 39 66
C. Definisi Operasional
Penelitian ini, ada dua variabel yang dilibatkan. Variabel pertama yaitu
metode CIRC dengan media kartu pelengkap sebagai variabel bebas. Sedangkan,
variabel kedua yaitu kemampuan membaca pemahaman teks cerita anak sebagai
variabel terikat. Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran terhadap judul, maka
peneliti perlu menjelaskan definisi operasional variabel sebagai berikut.
1) Metode CIRC dengan media kartu pelengkap yang dimaksud dalam
penelitian adalah metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran
membaca pemahaman teks cerita anak dengan melibatkan kerja sama siswa
dalam memahami, menganalisis, dan memperkirakan akhir cerita dari teks
cerita anak dengan bantuan media kartu pelengkap yang di dalamnya berisi
kata kunci dan skema aktan (mata rantai) yang dapat dijadikan ide atau
gagasan dalam menentukan alur dan menghubungkannya dengan realitas
kehidupan anak, serta dapat pula dijadikan ide atau gagasan dalam
menceritakan kembali atau menulis sinopsis.
2) Kemampuan membaca pemahaman teks cerita anak yang dimaksud dalam
33
memahami jalan cerita, mengidentifikasi berbagai unsur intrinsik,
menganalisis struktur cerita anak melalui kegiatan membaca intensif, menulis
sinopsis, dan menghubungkan isi cerita anak dengan realitas kehidupan anak.
D. Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Data yang peneliti kumpulkan dalam penelitian ini adalah data yang peneliti
peroleh dengan menggunakan teknik tes, observasi, dan wawancara.
1. Tes
Tes digunakan untuk mengukur dan membandingkan kemampuan siswa
secara objektif. Tes dilakukan dua kali yaitu tes awal dan tes akhir. Tes awal
(prates) dilakukan sebelum siswa diberikan perlakuan, tujuannya adalah untuk
mengukur kemampuan awal siswa. Tes akhir (postest) dilakukan setelah siswa
diberikan perlakuan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan
yang signifikan pada kemampuan membaca pemahaman teks cerita anak sebelum
dan sesudah diberikan perlakuan.
2. Observasi
Teknik nontes dalam pengumpulan data ini dilakukan dengan kegiatan
observasi menggunakan lembar observasi. Observasi pada penelitian ini
digunakan unruk melihat aktivitas siswa dan kinerja guru pada saat pembelajaran
membaca teks cerita anak. Lembar observasi yang diisi oleh observer digunakan
untuk mengamati aktivitas siswa selama pembelajaran membaca pemahaman teks
cerita anak. Data hasil observasi mengenai proses pembelajaran diolah dengan
cara mendeskripsikan hasil penilaian dari setiap kategori yang diberikan observer.
3. Wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara tanya jawab untuk mengetahui suatu informasi. Yang dijadikan
narasumber dalam wawancara ini adalah guru Bahasa Indonesia kelas VII.
Wawancara dilaksanakan dengan tujuan untuk mencari informasi mengenai profil
pembelajaran membaca teks cerita anak. Peneliti mengajukan beberapa
anak. Setelah data terkumpul, kemudian hasil wawancara tersebut dideskripsikan
untuk mengetahui profil pembelajaran membaca teks cerita anak.
E. Instrumen Penelitian
Salah satu langkah dalam penelitian adalah menyusun instrumen penelitian.
Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk pengumpulan data.
Pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini menggunakan
teknik tes dan nontes. Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini antara lain sebagai berikut.
1) Instrumen pembelajaran berupa Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
dengan materi pokok membaca teks cerita anak dengan menggunakan metode
CIRC dengan media kartu pelengkap
2) Lembar tes;
3) Lembar observasi; dan
4) Lembar wawancara.
1. Instrumen Pembelajaran
Sebelum melakukan pembelajaran, peneliti membuat perencanaan
pembelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP
perlu disusun agar dapat dijadikan acuan ketika proses pembelajaran berlangsung.
RPP yang peneliti susun ditujukan untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di
kelas VII G di SMPN 10 Bandung sebagai kelas eksperimen dan kelas VII C
sebagai kelas kontrol. RPP membaca pemahaman teks cerita anak yang telah
dirumuskan adalah sebagai berikut.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Sekolah : SMPN 10 Bandung
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
35
Alokasi Waktu : 6 x 40 menit
A. Standar Kompetensi
15. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan buku
cerita anak.
B. Kompetensi Dasar
15.2 Menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam buku cerita
anak baik asli maupun terjemahan.
C. Indikator
1. Memahami unsur intrinsik teks cerita anak.
2. Mendeskripsikan realitas kehidupan anak yang terdapat dalam cerita
anak.
3. Membuat sinopsis cerita anak yang telah dibaca.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa memahami unsur intrinsik teks cerita anak.
2. Siswa mampu mendeskripsikan realitas kehidupan anak yang terdapat
dalam cerita.
3. Siswa mampu menceritakan kembali cerita anak yang telah dibaca.
E. Materi Pembelajaran
Cerpen Anak
Cerita anak merupakan salah satu jenis sastra anak. Seperti yang telah
diketahui tadi, sastra anak memiliki kriterianya sendiri. Kriteria tersebut pun
menentukan cerita mana yang termasuk ke dalam cerita dewasa dan cerita
anak.
Somantri (dalam Kurniawan, 2009, hlm.36) menjelaskan bahwa anak
yang dimaksud dalam cerita anak adalah orang berusia dua sampai 12 tahun,
pernyataan Piaget (dalam Nurgiyantoro, 2009, hlm.11) yang menyatakan
bahwa seseorang dikategorikan sebagai anak-anak bila berusia dua sampai 12
tahun. Berdasarkan dua pernyataan tersebut, sudah jelas siapa objek anak
pada cerita anak dalam pembahasan kali ini.
Cerita sudah dikenal banyak orang, bahkan dari mereka kecil. Banyak
cerita yang telah diperoleh oleh anak dari kecil dan saat dewasa cerita yang
mereka peroleh pun mereka ceritakan kembali. Oleh karena itu, cerita terus
mengalir dari zaman ke zaman.
Sebenarnya, hakikat cerita anak tidak jauh berbeda dengan hakikat sastra
secara umum. Namun, tetap ada fokus yang berbeda bila dibandingkan
dengan cerita yang ditujukan pada orang dewasa. Cerita yang dibuat memiliki
fokus pembaca seorang anak. Huck (dalam Nurgiyantoro, 2005, hlm.219)
mengatakan bahwa dalam cerita anak, tokoh bisa siapa saja tetapi mesti ada
anak-anaknya. Tokoh anak tersebut tidak hanya dijadikan pusat perhatian saja
melainkan menjadi pusat pengisahaan (Nurgiyantoro, 2005, hlm.219).
Cerita anak memiliki unsur-unsur intrinsik yang tidak berbeda jauh
dengan cerita-cerita pada umumnya. Namun, unsur-unsur tersebut tetap saja
harus diperhatikan. Hardjana (2006, hlm.17) menjelaskan bahwa pentingnya
unsur intrinsik dalam sebuah cerita seperti pondasi dalam sebuah bangunan
rumah. Dari pernyataan tersebut, diketahui pentingnya memahami setiap
unsur intrinsik, terutama bagi seseorang yang ingin menulis sebuah cerita.
Unsur intrinsik sebuah cerita anak pada dasarnya serupa dengan unsur
intrinsik cerita biasa. Namun, dalam teknis penulisannya tentu ditemukan
perbedaan. Perbedaannya akan terlihat jelas bila kita memahami setiap unsur
intrinsik cerita anak tersebut. Nurgiyantoro (2005, hlm.222) menjelaskan
unsur intrinsik cerita anak sebagai berikut.
1. Tokoh
Dalam cerita anak, tokoh tidak selalu harus berwujud manusia. Tokoh
dalam cerita anak bisa saja berwujud hewan, tumbuhan, atau benda lainnya.
37
harus dapat ditafsirkan oleh pembaca sebagai sosok yang memiliki moral dan
kecendrungan tertentu yang ditunjukan melalui tingkah laku dalam kata-kata.
Moral yang ditampilkan dalam tokoh harus bernuansa pendidikan karena
melihat cerita anak harus memberikan nilai-nilai pendidikan.
2. Alur Cerita
Alur merupakan unsur yang sangat mendukung tercapainya sebuah
pemahaman dalm cerita. Alur diibaratkan sebagai tulang punggung sebuah
cerita. Alur akan menjelaskan dan mengembangkan tokoh dan latar yang
terdapat dalam sebuah cerita. Kurniawan (2009, hlm.71) menjelaskan bahwa
alur merupakan keseluruhan bagian peristiwa-peristiwa yang terbentuk
karena proses sebab–akibat dari peristiwa lainnya.
Dalam cerita anak, alur tentunnya perlu diperhatikan secara teliti. Pada
usianya, anak sudah dapat bersikap kritis dan cerita adalah salah satu sarana
yang dapat mengembangkan pemikiran kritis anak. Oleh karena itu, bila tidak
diperhatikan dengan baik, pemikiran kritis seorang anak terganggu dengan
sebuah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan cerita.
Dalam penentuannya, alur cerita harus memperhatikan hubungan
sebab-akibat yang logis. Kelogisan tersebut dapat ditemukan dalam sebuah kisah
anak yang biasanya mempertemukan tokoh protagonis dan antagonis. Hal
logis akan diperoleh oleh anak bila penulis cerita menyatakan bahwa pada
akhirnya tokoh protagonis yang menang. Sedangkan, tokoh antagonis akan
memperoleh hukuman. Secara logis alur tersebut dapat diterima oleh pikiran
anak dan makna ceritanya pun tersampaikan dengan baik.
3. Latar
Latar merupakan unsur yang akan memberikan penjelasan “di mana/kapan konflik terjadi” dalam sebuah cerita. Keberadaan latar akan membuat sebuah cerita menjadi lebih realistik. Oleh karena itu, kejelasan
Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2005, hlm.248) mengatakan bahwa latar
dalam cerita fiksi dewasa dapat terjadi di mana saja, bahkan di dalam benak
tokoh. Namun, tidak demikian dalam cerita anak. Cerita anak membutuhkan
kejelasan terutama dalam penempatan latar. Apabila latar yang diceritakan
lebih mendetail, pembaca anak pun akan lebih mudah mencerna jalan
ceritanya.
Latar pada hakikatnya memiliki tiga unsur, yaitu latar tempat, latar
waktu, dan latar sosial budaya. Latar tempat akan menggambarkan di mana
konflik dalam cerita terjadi. Penggambarannya dapat melalui benda-benda
yang biasanya terdapat dalam latar yang akan disajikan. Dalam cerita anak,
latar tempat yang akan digambarkan harus memperhatikan jangkauan tempat
yang ada dalam imajinasi anak. Latar waktu akan menjelaskan kapan konflik
dalam cerita terjadi. Latar sosial-budaya akan menggambarkan keadaan
kehidupan sosial-budaya suatu daerah yang diangkat ke dalam cerita.
4. Tema
Tema adalah pokok pikiran, gagasan, ide pokok yang mendasari sebuah
cerita (Hardjana, 2006, hlm.18). Nurgiyantoro (2005, hlm.260) menjelaskan
bahwa tema itu berkaitan dengan berbagai aspek masalah kemanusiaan,
seperti hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan diri sendiri,
manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan alam. Kurniawan
(2009, hlm.72) menjelaskan bahwa tema merupakan dasar cerita yang
menjadi falsafah hidup dalam sebuah cerita.
Tema dalam cerita fiksi anak memiliki hal yang harus disampaikan.
Tema dalam cerita fiksi anak harus menyampaikan kebenaran. Kebenaran ini
haruslah berupa ideologi yang bersifat positif karena akan disebarluaskan
melalui cerita. Kebenarana yang bersifat positif akan disalurkan melalui
ekspresi dalam sebuah bahasa yang mengesankan (Lukens dalam
39
5. Moral
Setiap cerita tentunya memiliki pesan yang ingin disampaikan. Pesan
tersebut dapat disampaikan secara tersirat atau tersurat. Pesan atau sesuatu
yang ingin disampaikan dalam sebuah cerita dapat dipahami sebagai moral
atau amanat.
Cerita anak merupakan sebuah sarana yang baik untuk mengajarkan anak
mengenai sesuatu. Pengajaran tersebut dapat disalurkan melalui moral. Moral
pada hakikatnya berkaitan dengan masalah baik dan buruk, tapi istilah moral
selalu dikonotasikan dengan hal-hal yang baik. Oleh karena itu, cerita anak
sangat baik untuk menyalurkan moral yang baik.
Moral yang diajarkan dalam cerita anak dapat berupa penyampaian sikap
positif. Misalnya, rasa percaya diri, tidak mudah menyerah, berani
menghadapi masalah. Sikap tersebut dapat dikemas sedemikian rupa dalam
sebuah tokoh. Tokoh akan memainkan perannya dengan baik sesuai dengan
alur cerita. Sehingga anak pun dengan mudah menerima pesan moral yang
disampaikan.
F. Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC) dengan media kartu
pelengkap.
3. Diskusi
G. Langkah-langkah Pembelajaran
RPP Kelas Eksperimen
No Kegiatan Alokasi
Waktu
1. Kegiatan Awal
a. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan
salam.
b. Guru mengondisikan dan mengecek kesiapan siswa.
c. Guru mengecek kehadiran siswa.
d. Guru memotivasi siswa sebagai kegiatan apersepsi.
e. Guru menjelaskan kompetensi dan indikator
pembelajaran yang akan dicapai
2 Kegiatan Inti
a. Guru menggali pengetahuan awal siswa mengenai
cerita anak.
b. Siswa diberi kesempatan untuk menceritakan
pengalaman yang sesuai dengan teks cerita anak
yang pernah dibaca.
c. Siswa dibagi kedalam delapan kelompok baca.
d. Siswa diberi teks cerita anak.
e. Siswa membaca teks cerita anak yang telah
dibagikan.
f. Setelah membaca sebagian isi cerita, siswa diminta
untuk menebak akhir cerita dari teks cerita anak yang
dibaca.
g. Siswa bersama kelompok berdiskusi untuk
memperkirakan akhir dari cerita anak yang dibaca.
h. Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok.
i. Siswa kembali membaca teks cerita anak untuk
mengetahui akhir dari cerita.
j. Setelah selesai membaca, siswa diminta untuk
menemukan makna kata dari daftar kata-kata sulit
yang terdapat di kartu pelengkap.
k. Siswa dirangsang untuk bertanya jawab mengenai
unsur intrinsik dari teks cerita anak.
l. Siswa menerima informasi mengenai unsur intrinsik
(tokoh,watak, alur, amanat) yang membangun teks
cerita anak.
41
m. Guru meminta setiap kelompok untuk menuliskan
unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerita
n. Siswa dirangsang untuk mengemukakan
pengetahuannya mengenai realitas kehidupan anak
yang terefleksi dalam cerita anak yang telah dibaca.
o. Siswa menerima informasi mengenai pengertian dari
realitas kehidupan.
p. Siswa diminta untuk menemukan realitas kehidupan
anak yang sesuai dengan kejadian yang terdapat
dalam cerita.
q. Setelah mengetahui isi cerita, unsur intrinsik, dan
realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam cerita
tersebut, guru meminta siswa menceritakan kembali
cerita yang telah dibaca sesuai dengan pemahaman
(menulis sinopsis).
r. Siswa diberi kartu pelengkap untuk membantu dalam
membuat sinopsis (kartu pelengkap berisi skema
aktan atau mata rantai).
s. Siswa menerima informasi mengenai kegunaan atau
cara kerja dari kartu pelengkap.
t. Siswa dibimbing untuk menulis sinopsis teks cerita
anak.
u. Guru memantau siswa dalam mengerjakan tugas.
v. Guru memeriksa hasil kerja siswa.
w. Guru memberikan penilaian proses.
3 Kegiatan Akhir
a. Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan
melakukan refleksi, yaitu menanyakan kembali apa
yang telah dipelajari dan menanyakan kesulitan yang
dihadapi siswa selama proses pembelajaran.
b. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya.
RPP Kelas Kontrol
No Kegiatan Alokasi
Waktu
1. Kegiatan Awal
a. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan
salam.
b. Guru mengondisikan dan mengecek kesiapan siswa.
c. Guru mengecek kehadiran siswa.
d. Guru memotivasi siswa sebagai kegiatan apersepsi.
e. Guru menjelaskan kompetensi dan indikator
pembelajaran yang akan dicapai
43
2 Kegiatan Inti
a. Guru menggali pengetahuan awal siswa mengenai
cerita anak.
b. Guru membagikan teks cerita anak kepada siswa,
c. Guru meminta siswa untuk membaca teks cerita
anak.
d. Guru meminta siswa untuk menuliskan
kesulitan-kesulitan dalam memahami bacaan dan menuliskan
interpretasi wacana yang telah dibacanya.
e. Guru meminta siswa untuk mengomunikasikan
kesulitan yang dihadapi dalam memahami bacaan.
f. Guru membagi siswa kedalam delapan kelompok
g. Guru meminta siswa untuk berdiskusi mengenai isi
cerita yang telah dibacakan sesuai dengan hasil
interpretasi yang telah dituliskan.
h. Guru meminta setiap kelompok untuk menuliskan
unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerita
i. Guru meminta siswa untuk menemukan realitas
kehidupan sosial.
j. Setelah mengetahui isi cerita, unsur intrinsik, dan
realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam cerita
tersebut, guru meminta siswa menceritakan kembali
cerita yang telah dibaca sesuai dengan pemahaman.
k. Guru memantau siswa dalam mengerjakan tugas.
l. Guru meminta siswa untuk membacakan hasil kerja
kelompok.
x. Guru memeriksa hasil kerja siswa.
y. Guru memberikan penilaian proses.
60 menit
3 Kegiatan Akhir
a. Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan
melakukan refleksi, yaitu menanyakan kembali apa
yang telah dipelajari dan menanyakan kesulitan yang
dihadapi siswa selama proses pembelajaran.
b. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya.
H. Sumber dan Alat Pembelajaran
1. Buku ajar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII
2. Teks Cerita Anak
3. Kartu pelengkap
4. Lembar kerja
I. Evaluasi
1. Jenis tagihan : tugas individu
2. Bentuk instrumen : uraian bebas, format observasi
2. Instrumen tes
Tes digunakan untuk mengukur kemampuan membaca pemahaman siswa.
Tes ini dilakukan sebanyak dua kali, yaitu tes awal dan tes akhir. Tes awal
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Tes awal
dilakukan sebelum diberikan perlakuan (treatment) kepada siswa. Tes akhir
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah diberikan
perlakuan. Perlakuan yaitu berupa penerapan metode CIRC dengan media kartu
pelengkap.
Adapun kriteria penilaian kemampuan membaca pemahaman teks cerita
45
Tabel 3.4
Kisi-kisi Instrumen Tes Kemampuan Membaca Teks Cerita Anak
Standar
Kompetensi
Kompetensi
Dasar
Materi Soal
No
Ke-
Aspek Tes Jenis
Soal Bobot Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca
ouisi dan
buku cerita
anak.
Menemukan
realitas
kehidupan
anak yang
terefleksi
dalam buku
cerita anak
baik asli
maupun terjemahan. Memahami cerita pendek yang dibaca
di tingkat
informasi
1 Tokoh dan
watak tokoh
uraian 1
Memahami
cerita
pendek
yang dibaca
di tingkat
informasi
2 Latar, waktu,
tempat, dan
suasana
uraian 1
Memahami
isi cerita
pendek
yang dibaca
di tingkat
perspektif
3 amanat uraian 2
Memahami
isi cerita
pendek
yang dibaca
di tingkat
konsep
4 Menceritakan
kembali
berdasarkan
alur cerita.
Uraian 3
isi cerita
pendek
yang dibaca
di tingkat
[image:34.595.109.522.260.750.2]perspektif kehidupan anak Tabel 3.5 Pedoman Penilaian No.
Aspek yang Dinilai Keterangan Skor
1. Mampu
mengklasifikasikan
karakter/watak tokoh
yang terdapat dalam
cerita yang dibaca
Mampu menyebutkan seluruh tokoh
yang terdapat dalam cerita,
mengklasifikasikan tokoh tersebut ke
dalam tokoh protagonis atau
antagonis, serta menjelaskan watak
tokoh.
3
Mampu menyebutkan seluruh tokoh
yang terdapat dalam cerita serta
mengklasifikasikan ke dalam tokoh
protagonis atau antagonis tetapi tidak
menjelaskan watak tokoh dengan
lengkap.
2
Menyebutkan beberapa tokoh tapi
tidak menjelaskan klasifikasi tokoh
protagonis atau antagonis dan tidak
menjelaskan wataknya
1
2. Mampu menyebutkan
latar waktu, tempat,
dan suasana yang
terdapat dalam cerita
Mampu menyebutkan latar waktu,
tempat, dan suasana dengan lengkap. 3
Menyebutkan latar tempat, waktu,
47
Menyebutkan salah satu latar saja
(misal latar tempat)
1
3. Mampu
menginterpretasikan
nilai-nilai yang
terkandung di dalam
cerita
Mampu menjelaskan beberapa
amanat yang tersirat di dalam cerita
secara terperinci.
3
Mampu menyebutkan beberapa
amanat yang tersirat di dalam cerita
tetapi tidak terperinci.
2
Mampu menyebutkan satu amanat
yang tersirat di dalam cerita.
1
4. Mampu menjelaskan
urutan cerita (alur)
Mampu menentukan dan menjelaskan
urutan kejadian dimulai dengan
perkenalan, konflik awal, klimaks,
dan penyelesaian dengan tepat.
3
Mampu menentukan dan menjelaskan
urutan kejadian, namun hanya
beberapa subaspek (misalnya hanya
menentukan perkenalan dan klimaks). 2
Menentukan dan menjelaskan satu
kejadian.
1
5. Mampu menganalisis
kejadian dalam cerita
Mampu mengaitkan relevansi setiap
kejadian dengan realitas kehidupan
anak dengan tepat.
3
Mampu mengaitkan relevansi
beberapa kejadian saja dengan
realitas kehidupan anak dengan tepat. 2
Kurang tepat dalam menjelaskan
relevansi setiap kejadian dalam cerita
dengan kehidupan anak.
Instrumen Tes Awal dan Tes Akhir
Soal Perlakuan
Kejadian dalam cerita Realitas Kehidupan Anak
Misal : Ketika tertimpa musibah, ia
hanya bisa bersabar.
Misal : banyak orang sukses hasil dari
kerja keras dan kesabaran
.
3. Lembar observasi
Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas satu
lembar observasi guru dan satu lembar observasi siswa. Lembar observasi guru
digunakan untuk mengetahui kinerja guru praktikan pada saat pembelajaran Petunjuk Umum
1. Tulislah nama lengkap dan kelas kamu di bagian kiri atas pada kertas yang
sudah dibagikan!
2. Tulisan harus rapi, bersih, dan terbaca.
Petunjuk Khusus
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jelas.
1. Siapa saja tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut? Jelaskan tokoh sesuai
dengan wataknya!
2. Tuliskan latar waktu, tempat, dan suasana yang terdapat dalam cerita
tersebut!
3. Amanat apa yang kamu dapat setelah membaca cerita tersebut?
4. Ceritakan kembali isi cerita tersebut sesuai urutan kejadian dalam cerita
tersebut!
5. Jelaskan realitas kehidupan sosial yang terkandung dalam cerita yang telah
49
membaca teks cerita anak dengan menggunakan metode CIRC dengan media
kartu pelengkap. Sementara itu, lembar observasi siswa digunakan untuk
mengetahui aktivitas membaca siswa dan respons siswa terhadap pembelajaran
membaca teks cerita anak dengan menggunakan metode CIRC dengan media
kartu pelengkap. Adapun lembar observasi yang dimaksud adalah sebagai berikut.
LEMBAR OBERVASI AKTIVITAS SISWA
Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak Menggunakan Metode CIRC dengan Media Kartu Pelengkap
Tempat : SMP Negeri 10 Bandung
Hari/Tanggal : Senin, 27 April 2015
Perlakuan : Kesatu (1)
Petunjuk Pengisian : Berilah tanda ( ) pada kolom yang sesuai.
Aspek yang Dinilai Terlaksana
Terlaksana dengan Hambatan
Tidak Terlaksana
Menceritakan pengalaman yang disesuaikan dengan cerita anak yang pernah dibaca.
Memerhatikan materi yang disampaikan guru.
Membaca cerita anak secara individu
Berbagi pengalaman membaca dalam menemukan pokok-pokok kejadian dalam cerita, dan
memperkirakan akhir cerita secara berkelompok.
Menemukan makna kata, dan menuliskan sinopsis dengan bantuan kartu pelengkap Aktivitas siswa dalam menyelesaikan tugas.
... ... ... ...
Bandung, April 2015
Observer,
...
LEMBAR OBSERVASI
Pelaksanaan pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak Menggunakan Metode CIRC dengan Media Kartu Pelengkap
Tempat : SMP Negeri 10 Bandung
Hari/Tanggal : Senin, 27 April 2015
Perlakuan : Kesatu (1)
Petunjuk Pengisian : Berilah tanda ( ) pada kolom yang sesuai.
No Tahap
Belajar Langkah Pembelajaran Terlaksana
Terlaksana dengan Hambatan
Tidak Terlaksana
1 Pembukaan Menetapkan isi pembelajaran.
Menjelaskan tujuan pembelajaran.
Membangkitkan motivasi belajar siswa.
51
2 Inti Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menceritakan pengalaman yang disesuaikan dengan cerita anak yang pernah dibaca.
Mengevaluasi tingkat pemahaman siswa dengan memberikan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa.
Membagi siswa kedalam beberapa kelompok
Membagikan teks cerita anak untuk dibaca.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertukar pikiran mengenai cerita anak yang dibaca dan berdiskusi untuk
memperkirakan akhir cerita.
Membantu siswa dalam menemukan makna kata dan menuliskan sinopsis dengan bantuan kartu pelengkap.
Memberikan umpan balik (yang bersifat korektif) atas kesalahan siswa dan
mendorongnya untuk menjawab dengan benar setiap tugas yang diberikan.
3 Penutup Melakukan refleksi pembelajaran dengan menyimpulkan dan
memberikan kesan terhadap proses pembelajaran yang telah dilalui.
Menyampaikan pokok kegiatan untuk pertemuan selanjutnya.
Menutup pembelajaran.
Catatan :
... ... ...
Bandung, April 2015
Observer,
F. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan setelah semua data terkumpul dan selanjutnya,
data akan diolah menggunakan rumus statistik. Data yang dimaksud adalah data
tes awal dan tes akhir kemampuan siswa dalam pembelajaran membaca
pemahaman teks cerita anak. Langkah-langkah dalam pengolahan data penelitian
antara lain sebagai berikut.
1) Menilai dan menganalisis hasil tes awal dan tes akhir kemampuan siswa dalam
pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak. yaitu sebagai berikut.
a) Menganalisis hasil tes siswa
b) Menentukan skor tes awal dan tes akhir, kemudian menentukan nilai dengan
rumus:
Nilai skor =
53
c) Mendeskripsikan hasil tes awal dan tes akhir.
2) Uji realiabilitas antarpenimbang yang dilakukan oleh tiga orang penimbang.
Uji realiabilitas dilakukan untuk menghindari penilaian secara subjektif,
dengan rumus: ∑dt2
= Sigma determinan
SSt∑dt2
= jumlah kuadrat Peserta didik
SSp∑d2
p = jumlah kuadrat penguji/penimbang
SStot∑p2
t = jumlah kuadrat total
SSkk∑d2
kk = jumlah kuadrat kekeliruan
Langkah selanjutnya, yaitu memasukkan asil data-data ke dalam format
Tabel 3.6
Tingkat Korelasi Guilford
Interval Koefisien Tingkat Korelasi
˂ 0,20 tidak ada korelasi
0,20 – 0,40 korelasi rendah
0,40 – 0,60 korelasi sedang
0,60 – 0,80 korelasi tinggi
0,80 – 0,90 korelasi tinggi sekali
1,00 korelasi sempurna
(Subana dkk., 2005, hlm. 104)
3) Mengukur indeks gain. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar pengaruh yang diberikan dari perlakuan pembelajaran di kelas ekperimen
dan kelas kontrol. Indeks gain dihitung dengan rumus.
Indeks Gain =
Tabel 3.7
Kriteria Indeks Gain
Indeks Gain Kriteria
Indeks gain ˂ 0,30 Rendah
0, 30 ≤ Indeks gain ≤ 0,70 Sedang
Indeks gain ≥ 0,70 Tinggi
4) Melakukan uji normalitas nilai tes awal dan tes akhir menulis teks prosedur
kompleks peserta didik. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal
atau tidaknya distribusi nilai tes awal dan tes akhir. Uji normalitas dicari
menggunakan rumus Chi kuadrat (x2) dengan kriteria distribusi nilai normal
apabila x2 hitung < x2tabel.. Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah uji
normalitas menggunakan rumus Chi kuadrat (Sugiyono, 2013, hlm. 241).
[image:42.595.145.487.424.579.2]55
b) Menentukan jumlah kelas interval;
c) Menentukan panjang kelas interval (p), dengan rumus (data terbesar – data
terkecil) dibagi dengan jumlah kelas interval;
d) Menyusun ke dalam distribusi tabel frekuensi, sekaligus merupakan tabel
penolong untuk menghitung harga Chi kuadrat;
e) Menghitung frekuensi yang diharapkan (fh), dengan cara mengalikan
presentase luas tiap bidang kurva normal dengan jumlah anggota sampel.
f) Memasukkan harga-harga fh ke dalam tabel kolom fh, sekaligus menghitung
harga-harga (fo - fh) dan kemudian menjumlahkannya. Harga
adalah harga Chi Kuadrat (x 2
).
Keterangan:
fo = Frekuensi observasi atau pengamatan
fh = Frekuensi ekspektasi (yang diharapkan)
5) Melakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui
homogenitas variasi populasi sampel. Dapat dicari dengan rumus:
F =
Keterangan:
Fhitung = nilai yang dicari
Vb = varian terbesar
Vk = varian terkecil
Jika Fhitung < Ftabel, maka dapat dikatakan variasi homogen, namun apabila
Fhitung > Ftabel, maka variasi tidak homogen.
(Subana dkk., 2005, hlm. 171-172).
6) Melakukan uji hipotesis. Apabila skor tes awal dan skor tes akhir
berdistribusi normal dan homogen, digunakan statistik parametrik dengan
uji-t. Akan tetapi, jika data yang berdistribusi normal dan tidak homogen, maka
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A.Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan bab IV, peneliti dapat
mengemukakan simpulan sebagai berikut.
1. Profil pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak sebelum diberi
perlakuan dengan metode CIRC (Cooperative Integrated Reading and
Composition) bermedia kartu pelengkap terbilang kurang. Penggunaan metode
dan media pembelajaran yang kurang inovatif berpengaruh kepada minat baca
dan minat belajar siswa. Pada kegiatan pembelajaran membaca teks cerita
anak, siswa masih mengalami kesulitan untuk menceritakan kembali cerita
anak (membuat sinopsis), dan menemukan realitas kehidupan anak yang
tercermin dalam cerita. Hal tersebut dapat dilihat dari dekripsi hasil wawancara
dengan guru bahasa Indonesia kelas VII. Selain itu, hasil tes awal
menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa masih belum memenuhi KKM
sehingga siswa dinyatakan tidak lulus.
2. Proses pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak dengan
menggunakan metode CIRC bermedia kartu di kelas eksperimen terdiri dari
dua perlakuan. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh tiga orang observer
mengenai aktivitas guru maupun siswa, menunjukkan bahwa siswa merasa
antusias dan lebih memahami teks cerita anak saat mengikuti pembelajaran
membaca pemahaman teks cerita anak dengan menggunakan metode CIRC
bermedia kartu pelengkap. Proses pembelajaran membaca pemahaman teks
cerita anak di kelas kontrol tidak menggunakan metode CIRC bermedia kartu
pelengkap seperti di kelas eksperimen.
3. Hasil pengolahan dan penghitungan data penelitian, menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman
teks cerita anak di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pembelajaran membaca
pemahaman teks cerita anak di kelas eksperimen dengan menggunakan metode
158
pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak di kelas kontrol dengan
menggunakan metode terlangsung terjadi pengingkatan sebesar 5,2%. Hasil
penghitungan uji t menunjukkan t hitung (4,490) > t tabel (2,002) maka
hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak. Dari hasil pengolahan data ditemukan
bahwa terdapat perbedaan perolehan nilai yang signifikan antara kelas
eksperimen dengan kelas kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa metode
CIRC bermedia kartu pelengkap efektif digunakan dalam pembelajaran
membaca pemahaman teks cerita anak.
B.Implikasi dan Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang perlu diperhatikan terkait
dengan penerapan metode CIRC bermedia kartu pelengkap adalah sebagai
berikut.
1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode CIRC bermedia kartu
pelengkap efektif digunakan dalam pembelajaran membaca pemahaman teks
cerita anak. Peneliti selanjutnya, diharapkan bisa lebih mengoptimalkan
metode ini dalam kemampuan membaca teks lainnya atau metode ini
diharapkan dapat diujikan untuk kemampuan berbahasa lainnya..
2. Peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan media
gambar atau kartu pelengkap dalam pembelajaran khususnya pembelajaran
membaca agar pembelajaran lebih menyenangkan dan inovatif.
3. Peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengujicobakan
media kartu pelengkap dengan metode pembelajaran lainnya.
Arifuddin, N. (2010). Penggunaan media kartu pelengkap dalam pembelajaran keterampilan
membaca di Madrasah Tsanawiyah Yaspuri Malang - Jawa Timur. (Tesis). Universitas
Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang.
Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya.
Arsyad, A. (2007). Media pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Asyhar, R. (2011). Kreatif mengembangkan media pembelajaran. Jakarta: Referensi.
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia edisi keempat.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Eneste, P. (2005). Buku pintar penyuntingan naskah edisi kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Hardjana. (2006). Cara mudah mengarang cerita anak-anak. Jakarta: Grasindo.
Kertopati, L, Irdayanti, M. (2014). Ini manfaat membaca fiksi. [Online].
Tersedia://http://life.viva.co.id/news/read/471670-ini-manfaat-positif-membaca-fiksi
[Diakses 5 Maret 2015]
Kurniawan, H. (2009). Sastra anak (dalam kajian strukturalime, sosiologi, semiotika, hingga
penulisan kreatif). Yogyakarta: Graha Ilmu.
Kurniawan, K. (2012). Belajar dan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Bandung:
Bangkit Citra Persada.
Kustadi dan Sucipto. (2011). Media pembelajaran normal dan digital. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Mawardi, D. (2009) Cara mudah menulis buku. Depok: Raih Asa Depok.
Mardapi, D. (2012). Pengukuran penilaian & evaluasi pendidikan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Miftahul, H. (2011). Cooperative learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
160
Nurgiyantoro, B. (2013). Penilaian pembelajaran bahasa berbasis kompetensi. Yogyakarta:
BPFE-Yogyakarta.
Putranto, E.P. (2010). “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Berbantuan
Modul untuk Meningkatkan Keaktivan Siswa dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII A
MTS N 1 Gemolong Tahun Ajaran 2009/2010”. (Skripsi). Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.
Rosmiati. (2014). “Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Melalui Cerita Anak
dengan Strategi CIRC pada Siswa Kelas IV SD (PTK di SD Negeri Percobaan Cileunyi
Kabupaten Bandung)”. (Tesis). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Safitri, L.M. (2011). “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition) Terhadap Kemampuan Membaca Karangan
Narasi Siswa Kelas V SDN Pesanggrahan 3 Pagi Jakarta Selatan”. (Skripsi).
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta.
Slavin, R.E. (2009) Cooperative learning teori, riset, dan praktik. Bandung: Nusa Media.
Somadayo, S. (2011) Strategi dan teknik pembelajaran membaca. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Subana dan Sudrajat. (2011) Dasar-dasar penelitian ilmiah. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Subana dkk. (2005). Statistik pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Sudjana, N, dan Rifai, A, (2011). Media pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sugiyono. (2013) Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Syamsuddin dan Vismaia S. D. (2011) Metode penelitian pendidikan bahasa. Bandung:
Rosda.
Tarigan, H.G. (2013). Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tyas, G.T.E. (2014). “Keefektifan Model Skrip Kooperatif dalam Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak”. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Wahyudin, R.N. (2014). “Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Anekdot Melalui
Pembelajaran Kooperatif Tipe Cooperative Integrated Reading and Composition