• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) DENGAN MEDIA KARTU PELENGKAP DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA TEKS CERITA ANAK: penelitian eksperimen kuasi pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENERAPAN METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) DENGAN MEDIA KARTU PELENGKAP DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA TEKS CERITA ANAK: penelitian eksperimen kuasi pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015."

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN METODE

COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)

DENGAN MEDIA KARTU PELENGKAP DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA TEKS CERITA ANAK

(Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)

SKRIPSI

diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

oleh

Ratih Kurniasari

1101976

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2015

(2)

(Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)

oleh

Ratih Kurniasari

sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan pada bidang studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

©Ratih Kurniasari 2015

Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2015

Hak Cipta dilindungi undang-undang

skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruh atau sebagian,

(3)
(4)

(Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)

Ratih Kurniasari 1101976

ABSTRAK

Penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan Media Kartu Pelengkap dalam Pembelajaran Membaca Teks

Cerita Anak (Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung

(5)

ABSTRACT

The study, entitled "Method of Application of Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) to the Supplementary Card Media in Learning Reading Kids Stories Text (Quasi Experimental Research in Class VII SMP Negeri 10 Bandung Academic Year 2014/2015)" backed by student difficulties in finding reality which is reflected in the child's life stories, and retell the story is read into written form. The three objectives of this research, which describe: (1) profile of children learning to read text stories seventh grade students of SMP Negeri 10 Bandung; (2) the process of learning to read text stories of children using supplementary card CIRC with the media; and (3) the level of significant difference between the experimental class students' abilities and capabilities graders. The sample in this study each class numbered 30 students in the experimental and control classes are taken by purposive sampling. The method used in this study is a quasi experimental method with nonequivalent control group design. The results showed that the method CIRC with supplementary card effective media in teaching children to read the story text. An increase in the average value of the experimental class is higher than the control class. The average value of the initial test experimental class is 63 and the final test is 78.73. The average value of the initial test in the control class was 58.87 and the final test is 64.2. Hypothesis testing

shows the data acquisition with a value ≥ t_hitung t_tabel, namely 4.49 ≥ 2.002. Based on

(6)

Lembar Pengesahan

Lembar Pernyataan ... i

Ucapan Terimakasih ... ii

Abstrak... ...iv

Kata Pengantar ... v

Daftar Isi ... vi

Daftar Tabel ... ix

Daftar Lampiran ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian ... 1

B. Identifikasi Masalah Penelitian ... 5

C. Rumusan Masalah Penelitian ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 6

F. Struktur Organisasi Skripsi... 7

BAB II METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC), MEDIA KARTU PELENGKAP, DAN MEMBACA PEMAHAMAN TEKS CERITA ANAK A. Metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ... 9

1. Pengertian Metode CIRC ... 9

2. Langkah-langkah Metode CIRC ... 11

3. Keunggulan dan Kelemahan Metode CIRC ... 13

B. Media Kartu Pelengkap ... 13

C. Membaca ... 16

1. Pengertian Membaca ... 16

2. Tujuan Membaca ... 17

3. Aspek-aspek Membaca ... 18

4. Membaca Pemahaman ... 19

D. Cerita Fiksi Anak ... 21

(7)

E. Hipotesis ... 26

F. Kerangka Pemikiran ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 29

B. Sumber Data Penelitian ... 30

1. Populasi Penelitian ... 30

2. Sampel Penelitian ... 31

C. Definisi Operasional ... 32

D. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ... 33

1. Tes ... 33

2. Observasi ... 33

3. Wawancara ... 33

E. Intrumen Penelitian ... 34

1. Instrumen Pembelajaran ... 34

2. Instrumen Tes ... 44

3. Lembar Observasi ... 49

F. Teknik Pengolahan Data ... 52

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Penelitian ... 56

1. Data Tes ... 56

a. Data Tes Kelas Eskperimen ... 57

1) Analisis Data Tes Awal Kelas Eksperimen ... 58

2) Analisis Data Tes Akhir Kelas Eksperimen ... 69

b. Data Tes Kela Kontrol ... 80

1) Analisis Data Tes Awal Kelas Kontrol ... 81

2) Analisis Data Tes Akhir Kelas Kontrol ... 92

2. Data Nontes ... 103

a. Profil Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung ... 103

b. Proses Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak Menggunakan Metode CIRC dengan Media Kartu Pelengkap ... 104

B. Analisis Data ... 112

1. Uji Reliabilitas Antarpenimbang ... 112

a. Uji Reliabilitas Tes Awal Kelas Eksperimen ... 112

b. Uji Reliabilitas Tes Akhir Kelas Eksperimen ... 116

c. Indeks Gain Kelas Eksperimen ... 119

d. Uji Reliabilitas Tes Awal Kelas Kontrol ... 122

(8)

Kontrol ... 129

a. Uji Normalitas Data Tes Awal Kelas Eksperimen ... 130

b. Uji Normalitas Data Tes Akhir Kelas Eksperimen ... 134

c. UjiNormalitas Data Tes Awal Kelas Kontrol ... 138

d. Uji Normalitas Data Tes Akhir Kelas Kontrol ... 142

3. Uji Homogenitas Data Tes Awal dan Tes Akhir Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 146

a. Uji Homogenitas Data Tes Awal dan Tes Akhir Kelas Eksperimen ... 146

b. Uji Homogenitas Data Tes Awal dan Tes Akhir Kelas Kontrol ... 147

4. Uji Hipotesis ... 149

C. Pembahasan Hasil Penelitian... 152

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Simpulan ... 157

B. Implikasi dan Rekomendasi ... 158

DAFTAR PUSTAKA ... 159 DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(9)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian

Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang penting untuk

dikuasai. Keterampilan membaca merupakan proses reseptif yang diperlukan

sebelum melakukan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Kemampuan

membaca memiliki keterkaitan dengan kemampuan berbahasa lainnya, salah

satunya adalah keterkaitan dengan kemampuan menulis. Pada era modern ini

kemampuan membaca dan menulis sangatlah penting untuk dikuasai. Menurut

Mawardi (2009, hlm. 15) menulis dan membaca merupakan dua keahlian standar

yang harus dimiliki setiap manusia modern. Pendapat tersebut menunjukkan

bahwa kemampuan membaca dan menulis dapat menunjang kehidupan di masa

modern seperti saat ini.

Berbeda dengan menulis, membaca merupakan keterampilan berbahasa

yang bersifat reseptif. Membaca merupakan keterampilan yang kompleks.

Menurut Nurhadi (dalam Somadayo, 2011, hlm. 5) membaca adalah suatu proses

yang kompleks dan rumit. Kompleks berarti dalam proses membaca terlibat

berbagai faktor internal dan faktor eksternal pembaca. Faktor internal berupa

faktor intelegensi, minat, sikap bakat, motivasi, dan tujuan membaca. Faktor

eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca, teks bacaan, faktor lingkungan atau

faktor latar belakang sosial ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca.

Salah satu jenis dalam keterampilan membaca adalah membaca

pemahaman. Menurut Rubin (dalam Somadayo, 2011, hlm.7) membaca

pemahaman adalah proses intelektual yang kompleks yang mencakup dua

kemampuan utama, yaitu penguasaan makna kata dan kemampuan berpikir

tentang konsep verbal. Pendapat tersebut memandang bahwa dalam membaca

pemahaman terjadi konsentrasi dua arah. Pembaca secara aktif merespons dan

mengungkapkan bunyi tulisan dan bahasa yang digunakan oleh penulis kemudian

(10)

tersebut. Sementara Tarigan (2013, hlm.56) menyatakan bahwa membaca

pemahaman merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami

standar-standar atau norma-norma kesastraan (literal standar-standars), resensi kritis (critical

review), drama tulis (printed drama) serta pola-pola fiksi (apttrens of fiction).

Berkenaan dengan pendapat Tarigan tersebut, salah satu dari tujuan membaca

pemahaman adalah untuk memahami standar-standar atau norma-norma

kesastraan (literal standars) dan resensi kritis (critical review), maka salah satu

teks yang dapat dijadikan bahan bacaan dalam membaca pemahaman adalah teks

cerita anak.

Cerita anak merupakan karya sastra bergenre prosa. Cerita anak pada

umumnya memiliki karakteristik yang sama dengan cerita pendek, hanya saja

dalam cerita anak pembacanya dikhususkan bagi anak-anak. Perbedaan yang

terlihat dari cerita anak dan cerita umum lainnya selain dari segi pembaca juga

terdapatnya nilai moral yang terkandung dalam cerita anak tersebut. Kompetensi

dasar yang ditujukan untuk kelas tujuh menyebutkan bahwa siswa dituntut untuk

dapat menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam cerita anak.

Realitas kehidupan tersebut tentu bekenaan dengan pesan moral. Untuk

menemukan realitas kehidupan yang terefleksi dalam cerita, tentu siswa harus

membaca teks cerita anak tersebut dengan penuh pemahaman.

Kegiatan membaca perlu dibiasakan sejak usia dini, yakni setelah anak

mengenal huruf. Kebiasaan tersebut akan mendorong anak mempunyai minat baca

yang tinggi. Dengan adanya minat baca tentu kemampuan membaca pemahaman

pun akan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki

minat baca. Di sekolah, kurangnya antusias siswa dalam kegiatan membaca,

menyebabkan rendahnya kemampuan membaca pemahaman yang dimiliki.

Permasalahan mengenai rendahnya kemampuan membaca pemahaman tersebut,

tidak dapat dikatakan sebagai kelalaian dari guru. Namun hal tersebut terjadi

karena faktor kebiasaan membaca dan minat baca siswa.

Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama, kemampuan membaca

pemahaman sudah seharusnya menjadi keterampilan yang dimiliki oleh siswa.

(11)

3

soal-soal Ujian Akhir Nasional (UAN) sebagian besar menuntut pemahaman

siswa dalam mencari dan menentukan ide pokok, gagasan utama, membaca

grafik/tabel, menentukan tema dan amanat dalam teks sastra, dan lain sebagainya.

Tanpa adanya kemampuan membaca pemahaman yang tinggi sangat sulit siswa

untuk menjawab soal-soal tersebut. Sehingga tidak aneh jika sangat sedikit siswa

yang mendapatkan nilai sempurna dalam Ujian Akhir Sekolah ataupun Ujian

Akhir Nasional. Melihat keadaan yang demikian, di sinilah peran membaca

pemahaman sangat diperlukan. Sejauh ini, siswa menilai saat pembelajaran

membaca menjadi pembelajaran yang membosankan. Siswa sering sekali terlihat

bosan ketika dihadapkan dengan teks bacaan yang begitu panjang, tidak adanya

interaksi antara guru dan siswa lainnya pada saat pembelajaran membaca

membuat antusias siswa berkurang.

Adanya permasalahan seperti yang telah dikemukakan tersebut,

mengindikasikan bahwa pembelajaran membaca pemahaman memerlukan

perhatian dari guru sebagai fasilitator atau penyampai materi dalam pembelajaran.

Tercapai tidaknya tujuan pembelajaran bergantung kepada guru. Untuk itu

keberhasilan guru dalam mengelola kelas pada saat proses pembelajaran sangatlah

penting dalam menunjang keberhasilan siswa dalam belajar. Metode pembelajaran

yang digunakan oleh guru harus mampu meningkatkan minat dan dapat

memotivasi siswa dalam belajar. Guru harus mampu merangsang siswa untuk

aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Selain itu penggunaan media

pun sangat penting, sehingga siswa tidak lagi merasa bosan pada saat

pembelajaran terutama saat pembelajaran membaca pemahaman.

Kurangnya antusias siswa menjadikan konsentrasi yang dibutuhkan dalam

membaca pun semakin berkurang. Keadaan seperti inilah yang harus diubah,

sehingga paradigma siswa mengenai pembelajaran membaca dapat berubah.

Padahal dengan membaca siswa akan mengetahui dunia. Maka tidak salah jika

membaca dikatakan sebagai jendela dunia. Jika dalam pembelajaran guru

menggunakan metode dan media yang inovatif bukan tidak mungkin jika

pembelajaran membaca menjadi pembelajaran yang menyenangkan sehingga

(12)

Salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran

membaca pemahaman adalah cooperative integrated reading and composition

(CIRC) dengan media kartu pelengkap. Penerapan metode CIRC dengan media

kartu pelengkap dalam pembelajaran membaca teks cerita anak, siswa dituntut

untuk bekerja sama dalam kelompok untuk memahami cerita anak,

mengidentifikasi unsur intrinsik, menganalisis struktur cerita anak, kemudian

memperkirakan akhir cerita, dan menceritakan kembali teks yang dibaca ke dalam

bentuk tulisan dengan bantuan kartu pelengkap berdasarkan pemahaman yang

diperoleh dari membaca (meringkas cerita). Metode ini dapat dijadikan sebagai

salah satu referensi untuk mengatasi permasalahan yang dialami pada saat

pembelajaran membaca. Metode ini sebelumnya sudah pernah diujicobakan dalam

penelitian tindakan kelas yang kemudian disusun menjadi skripsi oleh Wahyudin

(2014) dengan judul Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Anekdot

Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Cooperative Integrated Reading and

Composition (CIRC) Berbantuan Media Komik Strip (Penelitian Tindakan Kelas

di SMA Pasundan 3 Bandung Tahun Ajar 2013-2014). Penelitian tersebut

membuktikan adanya peningkatan nilai praktik menulis teks anekdot dengan

menggunakan metode CIRC berbantuan media komik strip. Pada siklus 1 nilai

rata-rata siswa yakni 67,68, sedangkan pada siklus 2 rata-rata nilai siswa yakni

85,58.

Penggunaan metode yang sama pun sebelumnya sudah pernah diujicobakan

oleh Rosmiati (2014) dalam tesisnya yang berjudul Meningkatkan Kemampuan

Membaca Pemahaman Melalui Cerita Anak Dengan Strategi CIRC pada Siswa

Kelas IV SD (Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Percobaan Cileunyi

Kabupaten Bandung). Media kartu pelengkap sendiri sudah pernah diujicobakan

oleh Arifuddin (2010) dalam tesisnya yang berjudul Penggunaan Media Kartu

Pelengkap dalam Pembelajaran Keterampilan Membaca di Madrasah

Tsanawiyah Yaspuri Malang - Jawa Timur. Tesis. Program Pascasarjana

(13)

5

Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang sudah ada adalah

kali ini peneliti akan mengujicobakan metode CIRC dengan media kartu

pelengkap dalam pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak. Penelitian

menggunakan media kartu pelengkap sebagai salah satu stimulus bagi siswa

dalam pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak. Penelitian-penelitian

terdahulu yang menerapkan metode CIRC dalam pembelajaran membaca teks

cerita anak tidak terlihat adanya penggunaan media. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menyelenggarakan penelitian dengan judul “Penerapan Metode

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan Media Kartu

Pelengkap dalam Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak” (Penelitian

Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Bandung Tahun Ajaran

2014/2015).

B. Identifikasi Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti dapat mengidentifikasikan

masalah sebagai berikut.

1. Siswa kurang berantusias dalam pembelajaran membaca.

2. Rendahnya minat baca memengaruhi kemampuan membaca pemahaman.

3. Penggunaan metode pembelajaran yang kurang menekankan interaksi antara

sesama siswa.

4. Penggunaan media pembelajaran yang kurang variatif.

C. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti merumuskan

pertanyaan penelitian dalam rumusan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana profil pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak siswa

(14)

2. Bagaimana proses pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak

menggunakan metode CIRC dengan media kartu pelengkap pada siswa kelas

VII di SMPN 10 Bandung?

3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan membaca

pemahaman teks cerita anak siswa di kelas eksperimen yang menggunakan

metode CIRC bermedia kartu pelengkap dengan siswa kelas kontrol yang

menggunakan metode terlangsung?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. mendeskripsikan profil pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak

siswa kelas VII di SMPN 10 Bandung;

2. mendeskripsikan proses pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak

menggunakan metode CIRC dengan media kartu pelengkap pada siswa kelas

VII di SMPN 10 Bandung;

3. mendeskripsikan perbedaan yang signifikan antara kemampuan membaca

pemahaman teks cerita anak siswa di kelas eksperimen yang menggunakan

metode CIRC bermedia kartu pelengkap dengan siswa kelas kontrol yang

menggunakan metode terlangsung.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini meliputi manfaat teoretis dan

manfaat praktis.

1. Manfaat teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat bukti keefektifan metode CIRC

dengan media kartu pelengkap dalam pembelajaran membaca pemahaman

teks cerita anak.

(15)

7

a. Manfaat bagi guru yakni dapat menambah referensi metode pembelajaran

dengan menerapkan metode CIRC dengan media kartu pelengkap dalam

pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak.

b. Manfaat bagi siswa yakni dapat mempermudah dalam memahami bacaan

karena siswa saling bertukar pikiran dan informasi sesama anggota

kelompok mengenai teks yang dibacanya.

c. Manfaat bagi peneliti yakni dapat mengetahui keefektifan metode CIRC

dengan media kartu pelengkap dalam pembelajaran membaca pemahaman

teks cerita anak.

F. Struktur Organisasi Skripsi

Penelitian ini akan dituangkan dalam lima bab yang berisikan segala hal

yang berkaitan dengan penelitian ini. Lebih jelasnya pemaparan kelima bab

tersebut adalah sebagai berikut.

1. Bab I Pendahuluan

Bab ini berisi tentang hal-hal yang mendasari dilakukannya penelitian. Pada

dasarnya bab satu ini berisi informasi mengenai keseluruhan penelitian yang

dilakukan. Bab pendahuluan ini berisi latar belakang masalah, identifikasi

masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian yang menjadi

dasar dilakukannya penelitian ini.

2. Bab II Metode CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition),

Media Kartu Pelengkap, dan Membaca Pemahaman Teks Cerita Anak

Bab ini berisi landasan teoretis dan kajian pustaka yang mendukung

penelitian. Bab dua membahas tentang variabel-variabel yang menjadi subjek

penelitian yang dipandang dari sudut teoristik. Bab dua landasan teoretis

berisi ihwal metode Cooperative Integrated Reading and Composition

(CIRC), ihwal media kartu pelengkap, dan ihwal membaca pemahaman teks

(16)

3. Bab III Metode Penelitian

Bab tiga ini berisi bagaimana cara pengumpulan data. Pada bab tiga ini

dibahas mengenai desain atau rancangan yang digunakan dalam penelitian,

bagaimana penetapan populasi dan sampel, teknik penelitian,

instrumen-instrumen yang dibutuhkan dalam penyajian data, dan cara pengolahan data.

4. Bab IV Temuan dan Pembahasan

Bab empat ini berisi mengenai hasil temuan dan pembahasan dari penelitian

yang diambil berdasarkan hasil analisis data. Temuan-temuan tersebut berupa

data tes awal dan tes akhir kelas eksperimen maupun kelas kontrol, hasil

wawancara dengan salah satu guru bahasa Indonesia, lembar aktivitas guru,

dan lembar aktivitas siswa. Selanjutnya, temuan-temuan tersebut dianalisis.

Bagian selanjutnya, yaitu pembahasan data penelitian. Temuan-temuan

tersebut dianalisis dan data-data yang berbentuk angka diolah dengan rumus

statistik. Setelah itu, peneliti melakukan pembahasan terhadap data-data

penelitian.

5. Bab V Simpulan, Implikasi, dan Rekomendasi

Bab lima berisi simpulan penelitian secara menyeluruh. Simpulan disini

diartikan sebagai hasil akhir dari penelitian yang telah dilakukan. Dengan

kata lain, simpulan disini adalah jawaban dari rumusan masalah. Implikasi

dan rekomendasi berisi hal-hal yang penting yang dapat dimanfaatkan dalam

(17)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan desain eksperimen kuasi dengan

tipe nonequivalent control group design. Desain ini hampir sama dengan

pretest-postest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen

maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random (Sugiyono, 2013, hlm.89).

Alasan memilih rancangan penelitian Nonequivalent Control Group Design

adalah karena dalam penelitian ini terdapat dua kelompok yaitu kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol. Penentuan kelompok tersebut dipilih

berdasarkan kelompok yang akan dijadikan kelompok eksperimen dan kelompok

yang akan dijadikan kelompok kontrol, tidak dipilih secara acak. Rancangan

penelitian Nonequivalent Control Group Design adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Rancangan nonequivalent control group design

E O1 X O2

K O3 Y O4

(Sugiyono, 2013, hlm.89)

Keterangan :

E : Kelompok kelas eksperimen

K : Kelompok kelas kontrol

O1 : Tes awal kelas eksperimen

O2 : Tes akhir kelas eksperimen

O3 : Tes awal kelas kontrol

(18)

X : Perlakuan berupa pembelajaran membaca teks cerita anak dengan

menggunakan metode CIRC dengan media kartu pelengkap.

Y : Perlakuan berupa pembelajaran membaca teks cerita anak dengan

menggunakan metode terlangsung

Pada desain ini, sampel diberikan dua kali tes yaitu sebelum diberikan

perlakuan (prates) dan setelah diberikan perlakuan (postest). Tes awal (prates)

dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman

teks cerita anak sebelum diterapkannya metode cooperative integrated reading

and composition (CIRC) dengan media kartu pelengkap. Tes awal dilakukan di

kelas eksperimen dan kelas kontrol. Selain melakukan tes awal, pada desain

penelitian ini dilakukan juga tes akhir (postest). Tes akhir dilakukan dengan

tujuan untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman teks cerita anak

setelah di berikan perlakuan dengan metode CIRC dengan media kartu pelengkap,

namun perlakuan tersebut hanya diberikan terhadap kelas eksperimen saja, kelas

kontrol hanya melakukan tes awal dan tes akhir tanpa mendapatkan perlakuan

dengan menggunakan metode CIRC dengan media kartu pelengkap. Perbedaan

pencapaian antara kelas eksperimen dan kelas kontrol akan dibandingkan untuk

mengukur keberhasilan atau keefektifan pembelajaran dengan metode CIRC

dengan media kartu pelengkap.

B.Sumber Data Penelitian 1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 10

Bandung. Populasi tersebar dari kelas VII A hingga kelas VII J. Alasan memilih

sumber data tersebut karena memenuhi kriteria untuk dijadikan sumber data, yaitu

siswa yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama yang dalam

pelajaran Bahasa Indonesia terdapat teks cerita anak sebagai materi pembelajaran.

(19)

31

10 Bandung dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian. Berikut ini adalah

data sebaran kelas VII SMP Negeri 10 Bandung tahun ajaran 2014/2015.

Tabel 3.2 Populasi Penelitian

Populasi Jumlah

Keseluruhan

Siswa Kelas VII A 34

Siswa Kelas VII B 36

Siswa Kelas VII C 32

Siswa Kelas VII D 34

Siswa Kelas VII E 35

Siswa Kelas VII F 37

Siswa Kelas VII G 34

Siswa Kelas VII H 34

Siswa Kelas VII I 35

Siswa Kelas VII J 35

Jumlah Keseluruhan 346

2. Sampel Penelitian

Pada penelitian ini mengambil sumber data dengan cara sampel. Sampel

adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut

(Sugiyono, 2013, hlm.118). Pada penelitian ini peneliti akan mengambil sampel

purposif, menurut Subana dan Sudrajat (2011, hlm.126) pada sampel purposif

penarikan sampel secara purposif menekankan pada pertimbangan karakteristik

tertentu dari subjek penelitiannya. Sampel purposif ini bersifat nonrandom, hingga

peneliti dapat menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Dengan teknik sampel purposif, didapatkan dua kelas sampel yaitu kelas VII

G sebagai kelas eksperimen dan kelas VII C sebagai kelas kontrol. Pertimbangan

(20)

kegiatan pembelajaran dan ditambahkan dengan saran dari guru Bahasa Indonesia

kelas VII. Kelas VII G dijadikan sebagai kelas eksperimen karena nilai rata-rata

Ulangan Tengah Semester (UTS) lebih kecil jika dibandingkan dengan kelas VII

C. Berikut ini sebaran data siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Tabel 3.3 Sampel Penelitian

Sampel Jumlah Jumlah

keseluruhan Laki-laki Perempuan

Kelas VII C 13 19 32

Kelas VII G 14 20 34

Jumlah Keseluruhan 28 39 66

C. Definisi Operasional

Penelitian ini, ada dua variabel yang dilibatkan. Variabel pertama yaitu

metode CIRC dengan media kartu pelengkap sebagai variabel bebas. Sedangkan,

variabel kedua yaitu kemampuan membaca pemahaman teks cerita anak sebagai

variabel terikat. Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran terhadap judul, maka

peneliti perlu menjelaskan definisi operasional variabel sebagai berikut.

1) Metode CIRC dengan media kartu pelengkap yang dimaksud dalam

penelitian adalah metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran

membaca pemahaman teks cerita anak dengan melibatkan kerja sama siswa

dalam memahami, menganalisis, dan memperkirakan akhir cerita dari teks

cerita anak dengan bantuan media kartu pelengkap yang di dalamnya berisi

kata kunci dan skema aktan (mata rantai) yang dapat dijadikan ide atau

gagasan dalam menentukan alur dan menghubungkannya dengan realitas

kehidupan anak, serta dapat pula dijadikan ide atau gagasan dalam

menceritakan kembali atau menulis sinopsis.

2) Kemampuan membaca pemahaman teks cerita anak yang dimaksud dalam

(21)

33

memahami jalan cerita, mengidentifikasi berbagai unsur intrinsik,

menganalisis struktur cerita anak melalui kegiatan membaca intensif, menulis

sinopsis, dan menghubungkan isi cerita anak dengan realitas kehidupan anak.

D. Teknik Pengumpulan Data Penelitian

Data yang peneliti kumpulkan dalam penelitian ini adalah data yang peneliti

peroleh dengan menggunakan teknik tes, observasi, dan wawancara.

1. Tes

Tes digunakan untuk mengukur dan membandingkan kemampuan siswa

secara objektif. Tes dilakukan dua kali yaitu tes awal dan tes akhir. Tes awal

(prates) dilakukan sebelum siswa diberikan perlakuan, tujuannya adalah untuk

mengukur kemampuan awal siswa. Tes akhir (postest) dilakukan setelah siswa

diberikan perlakuan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan

yang signifikan pada kemampuan membaca pemahaman teks cerita anak sebelum

dan sesudah diberikan perlakuan.

2. Observasi

Teknik nontes dalam pengumpulan data ini dilakukan dengan kegiatan

observasi menggunakan lembar observasi. Observasi pada penelitian ini

digunakan unruk melihat aktivitas siswa dan kinerja guru pada saat pembelajaran

membaca teks cerita anak. Lembar observasi yang diisi oleh observer digunakan

untuk mengamati aktivitas siswa selama pembelajaran membaca pemahaman teks

cerita anak. Data hasil observasi mengenai proses pembelajaran diolah dengan

cara mendeskripsikan hasil penilaian dari setiap kategori yang diberikan observer.

3. Wawancara

Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara tanya jawab untuk mengetahui suatu informasi. Yang dijadikan

narasumber dalam wawancara ini adalah guru Bahasa Indonesia kelas VII.

Wawancara dilaksanakan dengan tujuan untuk mencari informasi mengenai profil

pembelajaran membaca teks cerita anak. Peneliti mengajukan beberapa

(22)

anak. Setelah data terkumpul, kemudian hasil wawancara tersebut dideskripsikan

untuk mengetahui profil pembelajaran membaca teks cerita anak.

E. Instrumen Penelitian

Salah satu langkah dalam penelitian adalah menyusun instrumen penelitian.

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk pengumpulan data.

Pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini menggunakan

teknik tes dan nontes. Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam

penelitian ini antara lain sebagai berikut.

1) Instrumen pembelajaran berupa Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

dengan materi pokok membaca teks cerita anak dengan menggunakan metode

CIRC dengan media kartu pelengkap

2) Lembar tes;

3) Lembar observasi; dan

4) Lembar wawancara.

1. Instrumen Pembelajaran

Sebelum melakukan pembelajaran, peneliti membuat perencanaan

pembelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP

perlu disusun agar dapat dijadikan acuan ketika proses pembelajaran berlangsung.

RPP yang peneliti susun ditujukan untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di

kelas VII G di SMPN 10 Bandung sebagai kelas eksperimen dan kelas VII C

sebagai kelas kontrol. RPP membaca pemahaman teks cerita anak yang telah

dirumuskan adalah sebagai berikut.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Sekolah : SMPN 10 Bandung

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

(23)

35

Alokasi Waktu : 6 x 40 menit

A. Standar Kompetensi

15. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan buku

cerita anak.

B. Kompetensi Dasar

15.2 Menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam buku cerita

anak baik asli maupun terjemahan.

C. Indikator

1. Memahami unsur intrinsik teks cerita anak.

2. Mendeskripsikan realitas kehidupan anak yang terdapat dalam cerita

anak.

3. Membuat sinopsis cerita anak yang telah dibaca.

D. Tujuan Pembelajaran

1. Siswa memahami unsur intrinsik teks cerita anak.

2. Siswa mampu mendeskripsikan realitas kehidupan anak yang terdapat

dalam cerita.

3. Siswa mampu menceritakan kembali cerita anak yang telah dibaca.

E. Materi Pembelajaran

Cerpen Anak

Cerita anak merupakan salah satu jenis sastra anak. Seperti yang telah

diketahui tadi, sastra anak memiliki kriterianya sendiri. Kriteria tersebut pun

menentukan cerita mana yang termasuk ke dalam cerita dewasa dan cerita

anak.

Somantri (dalam Kurniawan, 2009, hlm.36) menjelaskan bahwa anak

yang dimaksud dalam cerita anak adalah orang berusia dua sampai 12 tahun,

(24)

pernyataan Piaget (dalam Nurgiyantoro, 2009, hlm.11) yang menyatakan

bahwa seseorang dikategorikan sebagai anak-anak bila berusia dua sampai 12

tahun. Berdasarkan dua pernyataan tersebut, sudah jelas siapa objek anak

pada cerita anak dalam pembahasan kali ini.

Cerita sudah dikenal banyak orang, bahkan dari mereka kecil. Banyak

cerita yang telah diperoleh oleh anak dari kecil dan saat dewasa cerita yang

mereka peroleh pun mereka ceritakan kembali. Oleh karena itu, cerita terus

mengalir dari zaman ke zaman.

Sebenarnya, hakikat cerita anak tidak jauh berbeda dengan hakikat sastra

secara umum. Namun, tetap ada fokus yang berbeda bila dibandingkan

dengan cerita yang ditujukan pada orang dewasa. Cerita yang dibuat memiliki

fokus pembaca seorang anak. Huck (dalam Nurgiyantoro, 2005, hlm.219)

mengatakan bahwa dalam cerita anak, tokoh bisa siapa saja tetapi mesti ada

anak-anaknya. Tokoh anak tersebut tidak hanya dijadikan pusat perhatian saja

melainkan menjadi pusat pengisahaan (Nurgiyantoro, 2005, hlm.219).

Cerita anak memiliki unsur-unsur intrinsik yang tidak berbeda jauh

dengan cerita-cerita pada umumnya. Namun, unsur-unsur tersebut tetap saja

harus diperhatikan. Hardjana (2006, hlm.17) menjelaskan bahwa pentingnya

unsur intrinsik dalam sebuah cerita seperti pondasi dalam sebuah bangunan

rumah. Dari pernyataan tersebut, diketahui pentingnya memahami setiap

unsur intrinsik, terutama bagi seseorang yang ingin menulis sebuah cerita.

Unsur intrinsik sebuah cerita anak pada dasarnya serupa dengan unsur

intrinsik cerita biasa. Namun, dalam teknis penulisannya tentu ditemukan

perbedaan. Perbedaannya akan terlihat jelas bila kita memahami setiap unsur

intrinsik cerita anak tersebut. Nurgiyantoro (2005, hlm.222) menjelaskan

unsur intrinsik cerita anak sebagai berikut.

1. Tokoh

Dalam cerita anak, tokoh tidak selalu harus berwujud manusia. Tokoh

dalam cerita anak bisa saja berwujud hewan, tumbuhan, atau benda lainnya.

(25)

37

harus dapat ditafsirkan oleh pembaca sebagai sosok yang memiliki moral dan

kecendrungan tertentu yang ditunjukan melalui tingkah laku dalam kata-kata.

Moral yang ditampilkan dalam tokoh harus bernuansa pendidikan karena

melihat cerita anak harus memberikan nilai-nilai pendidikan.

2. Alur Cerita

Alur merupakan unsur yang sangat mendukung tercapainya sebuah

pemahaman dalm cerita. Alur diibaratkan sebagai tulang punggung sebuah

cerita. Alur akan menjelaskan dan mengembangkan tokoh dan latar yang

terdapat dalam sebuah cerita. Kurniawan (2009, hlm.71) menjelaskan bahwa

alur merupakan keseluruhan bagian peristiwa-peristiwa yang terbentuk

karena proses sebab–akibat dari peristiwa lainnya.

Dalam cerita anak, alur tentunnya perlu diperhatikan secara teliti. Pada

usianya, anak sudah dapat bersikap kritis dan cerita adalah salah satu sarana

yang dapat mengembangkan pemikiran kritis anak. Oleh karena itu, bila tidak

diperhatikan dengan baik, pemikiran kritis seorang anak terganggu dengan

sebuah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan cerita.

Dalam penentuannya, alur cerita harus memperhatikan hubungan

sebab-akibat yang logis. Kelogisan tersebut dapat ditemukan dalam sebuah kisah

anak yang biasanya mempertemukan tokoh protagonis dan antagonis. Hal

logis akan diperoleh oleh anak bila penulis cerita menyatakan bahwa pada

akhirnya tokoh protagonis yang menang. Sedangkan, tokoh antagonis akan

memperoleh hukuman. Secara logis alur tersebut dapat diterima oleh pikiran

anak dan makna ceritanya pun tersampaikan dengan baik.

3. Latar

Latar merupakan unsur yang akan memberikan penjelasan “di mana/kapan konflik terjadi” dalam sebuah cerita. Keberadaan latar akan membuat sebuah cerita menjadi lebih realistik. Oleh karena itu, kejelasan

(26)

Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2005, hlm.248) mengatakan bahwa latar

dalam cerita fiksi dewasa dapat terjadi di mana saja, bahkan di dalam benak

tokoh. Namun, tidak demikian dalam cerita anak. Cerita anak membutuhkan

kejelasan terutama dalam penempatan latar. Apabila latar yang diceritakan

lebih mendetail, pembaca anak pun akan lebih mudah mencerna jalan

ceritanya.

Latar pada hakikatnya memiliki tiga unsur, yaitu latar tempat, latar

waktu, dan latar sosial budaya. Latar tempat akan menggambarkan di mana

konflik dalam cerita terjadi. Penggambarannya dapat melalui benda-benda

yang biasanya terdapat dalam latar yang akan disajikan. Dalam cerita anak,

latar tempat yang akan digambarkan harus memperhatikan jangkauan tempat

yang ada dalam imajinasi anak. Latar waktu akan menjelaskan kapan konflik

dalam cerita terjadi. Latar sosial-budaya akan menggambarkan keadaan

kehidupan sosial-budaya suatu daerah yang diangkat ke dalam cerita.

4. Tema

Tema adalah pokok pikiran, gagasan, ide pokok yang mendasari sebuah

cerita (Hardjana, 2006, hlm.18). Nurgiyantoro (2005, hlm.260) menjelaskan

bahwa tema itu berkaitan dengan berbagai aspek masalah kemanusiaan,

seperti hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan diri sendiri,

manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan alam. Kurniawan

(2009, hlm.72) menjelaskan bahwa tema merupakan dasar cerita yang

menjadi falsafah hidup dalam sebuah cerita.

Tema dalam cerita fiksi anak memiliki hal yang harus disampaikan.

Tema dalam cerita fiksi anak harus menyampaikan kebenaran. Kebenaran ini

haruslah berupa ideologi yang bersifat positif karena akan disebarluaskan

melalui cerita. Kebenarana yang bersifat positif akan disalurkan melalui

ekspresi dalam sebuah bahasa yang mengesankan (Lukens dalam

(27)

39

5. Moral

Setiap cerita tentunya memiliki pesan yang ingin disampaikan. Pesan

tersebut dapat disampaikan secara tersirat atau tersurat. Pesan atau sesuatu

yang ingin disampaikan dalam sebuah cerita dapat dipahami sebagai moral

atau amanat.

Cerita anak merupakan sebuah sarana yang baik untuk mengajarkan anak

mengenai sesuatu. Pengajaran tersebut dapat disalurkan melalui moral. Moral

pada hakikatnya berkaitan dengan masalah baik dan buruk, tapi istilah moral

selalu dikonotasikan dengan hal-hal yang baik. Oleh karena itu, cerita anak

sangat baik untuk menyalurkan moral yang baik.

Moral yang diajarkan dalam cerita anak dapat berupa penyampaian sikap

positif. Misalnya, rasa percaya diri, tidak mudah menyerah, berani

menghadapi masalah. Sikap tersebut dapat dikemas sedemikian rupa dalam

sebuah tokoh. Tokoh akan memainkan perannya dengan baik sesuai dengan

alur cerita. Sehingga anak pun dengan mudah menerima pesan moral yang

disampaikan.

F. Metode Pembelajaran

1. Ceramah

2. Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC) dengan media kartu

pelengkap.

3. Diskusi

G. Langkah-langkah Pembelajaran

RPP Kelas Eksperimen

No Kegiatan Alokasi

Waktu

1. Kegiatan Awal

a. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan

salam.

b. Guru mengondisikan dan mengecek kesiapan siswa.

(28)

c. Guru mengecek kehadiran siswa.

d. Guru memotivasi siswa sebagai kegiatan apersepsi.

e. Guru menjelaskan kompetensi dan indikator

pembelajaran yang akan dicapai

2 Kegiatan Inti

a. Guru menggali pengetahuan awal siswa mengenai

cerita anak.

b. Siswa diberi kesempatan untuk menceritakan

pengalaman yang sesuai dengan teks cerita anak

yang pernah dibaca.

c. Siswa dibagi kedalam delapan kelompok baca.

d. Siswa diberi teks cerita anak.

e. Siswa membaca teks cerita anak yang telah

dibagikan.

f. Setelah membaca sebagian isi cerita, siswa diminta

untuk menebak akhir cerita dari teks cerita anak yang

dibaca.

g. Siswa bersama kelompok berdiskusi untuk

memperkirakan akhir dari cerita anak yang dibaca.

h. Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok.

i. Siswa kembali membaca teks cerita anak untuk

mengetahui akhir dari cerita.

j. Setelah selesai membaca, siswa diminta untuk

menemukan makna kata dari daftar kata-kata sulit

yang terdapat di kartu pelengkap.

k. Siswa dirangsang untuk bertanya jawab mengenai

unsur intrinsik dari teks cerita anak.

l. Siswa menerima informasi mengenai unsur intrinsik

(tokoh,watak, alur, amanat) yang membangun teks

cerita anak.

(29)

41

m. Guru meminta setiap kelompok untuk menuliskan

unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerita

n. Siswa dirangsang untuk mengemukakan

pengetahuannya mengenai realitas kehidupan anak

yang terefleksi dalam cerita anak yang telah dibaca.

o. Siswa menerima informasi mengenai pengertian dari

realitas kehidupan.

p. Siswa diminta untuk menemukan realitas kehidupan

anak yang sesuai dengan kejadian yang terdapat

dalam cerita.

q. Setelah mengetahui isi cerita, unsur intrinsik, dan

realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam cerita

tersebut, guru meminta siswa menceritakan kembali

cerita yang telah dibaca sesuai dengan pemahaman

(menulis sinopsis).

r. Siswa diberi kartu pelengkap untuk membantu dalam

membuat sinopsis (kartu pelengkap berisi skema

aktan atau mata rantai).

s. Siswa menerima informasi mengenai kegunaan atau

cara kerja dari kartu pelengkap.

t. Siswa dibimbing untuk menulis sinopsis teks cerita

anak.

u. Guru memantau siswa dalam mengerjakan tugas.

v. Guru memeriksa hasil kerja siswa.

w. Guru memberikan penilaian proses.

3 Kegiatan Akhir

a. Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan

melakukan refleksi, yaitu menanyakan kembali apa

yang telah dipelajari dan menanyakan kesulitan yang

dihadapi siswa selama proses pembelajaran.

b. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk

(30)

bertanya.

RPP Kelas Kontrol

No Kegiatan Alokasi

Waktu

1. Kegiatan Awal

a. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan

salam.

b. Guru mengondisikan dan mengecek kesiapan siswa.

c. Guru mengecek kehadiran siswa.

d. Guru memotivasi siswa sebagai kegiatan apersepsi.

e. Guru menjelaskan kompetensi dan indikator

pembelajaran yang akan dicapai

(31)

43

2 Kegiatan Inti

a. Guru menggali pengetahuan awal siswa mengenai

cerita anak.

b. Guru membagikan teks cerita anak kepada siswa,

c. Guru meminta siswa untuk membaca teks cerita

anak.

d. Guru meminta siswa untuk menuliskan

kesulitan-kesulitan dalam memahami bacaan dan menuliskan

interpretasi wacana yang telah dibacanya.

e. Guru meminta siswa untuk mengomunikasikan

kesulitan yang dihadapi dalam memahami bacaan.

f. Guru membagi siswa kedalam delapan kelompok

g. Guru meminta siswa untuk berdiskusi mengenai isi

cerita yang telah dibacakan sesuai dengan hasil

interpretasi yang telah dituliskan.

h. Guru meminta setiap kelompok untuk menuliskan

unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerita

i. Guru meminta siswa untuk menemukan realitas

kehidupan sosial.

j. Setelah mengetahui isi cerita, unsur intrinsik, dan

realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam cerita

tersebut, guru meminta siswa menceritakan kembali

cerita yang telah dibaca sesuai dengan pemahaman.

k. Guru memantau siswa dalam mengerjakan tugas.

l. Guru meminta siswa untuk membacakan hasil kerja

kelompok.

x. Guru memeriksa hasil kerja siswa.

y. Guru memberikan penilaian proses.

60 menit

3 Kegiatan Akhir

a. Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan

melakukan refleksi, yaitu menanyakan kembali apa

(32)

yang telah dipelajari dan menanyakan kesulitan yang

dihadapi siswa selama proses pembelajaran.

b. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk

bertanya.

H. Sumber dan Alat Pembelajaran

1. Buku ajar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII

2. Teks Cerita Anak

3. Kartu pelengkap

4. Lembar kerja

I. Evaluasi

1. Jenis tagihan : tugas individu

2. Bentuk instrumen : uraian bebas, format observasi

2. Instrumen tes

Tes digunakan untuk mengukur kemampuan membaca pemahaman siswa.

Tes ini dilakukan sebanyak dua kali, yaitu tes awal dan tes akhir. Tes awal

dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Tes awal

dilakukan sebelum diberikan perlakuan (treatment) kepada siswa. Tes akhir

dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah diberikan

perlakuan. Perlakuan yaitu berupa penerapan metode CIRC dengan media kartu

pelengkap.

Adapun kriteria penilaian kemampuan membaca pemahaman teks cerita

(33)
[image:33.595.132.554.154.729.2]

45

Tabel 3.4

Kisi-kisi Instrumen Tes Kemampuan Membaca Teks Cerita Anak

Standar

Kompetensi

Kompetensi

Dasar

Materi Soal

No

Ke-

Aspek Tes Jenis

Soal Bobot Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca

ouisi dan

buku cerita

anak.

Menemukan

realitas

kehidupan

anak yang

terefleksi

dalam buku

cerita anak

baik asli

maupun terjemahan. Memahami cerita pendek yang dibaca

di tingkat

informasi

1 Tokoh dan

watak tokoh

uraian 1

Memahami

cerita

pendek

yang dibaca

di tingkat

informasi

2 Latar, waktu,

tempat, dan

suasana

uraian 1

Memahami

isi cerita

pendek

yang dibaca

di tingkat

perspektif

3 amanat uraian 2

Memahami

isi cerita

pendek

yang dibaca

di tingkat

konsep

4 Menceritakan

kembali

berdasarkan

alur cerita.

Uraian 3

(34)

isi cerita

pendek

yang dibaca

di tingkat

[image:34.595.109.522.260.750.2]

perspektif kehidupan anak Tabel 3.5 Pedoman Penilaian No.

Aspek yang Dinilai Keterangan Skor

1. Mampu

mengklasifikasikan

karakter/watak tokoh

yang terdapat dalam

cerita yang dibaca

Mampu menyebutkan seluruh tokoh

yang terdapat dalam cerita,

mengklasifikasikan tokoh tersebut ke

dalam tokoh protagonis atau

antagonis, serta menjelaskan watak

tokoh.

3

Mampu menyebutkan seluruh tokoh

yang terdapat dalam cerita serta

mengklasifikasikan ke dalam tokoh

protagonis atau antagonis tetapi tidak

menjelaskan watak tokoh dengan

lengkap.

2

Menyebutkan beberapa tokoh tapi

tidak menjelaskan klasifikasi tokoh

protagonis atau antagonis dan tidak

menjelaskan wataknya

1

2. Mampu menyebutkan

latar waktu, tempat,

dan suasana yang

terdapat dalam cerita

Mampu menyebutkan latar waktu,

tempat, dan suasana dengan lengkap. 3

Menyebutkan latar tempat, waktu,

(35)

47

Menyebutkan salah satu latar saja

(misal latar tempat)

1

3. Mampu

menginterpretasikan

nilai-nilai yang

terkandung di dalam

cerita

Mampu menjelaskan beberapa

amanat yang tersirat di dalam cerita

secara terperinci.

3

Mampu menyebutkan beberapa

amanat yang tersirat di dalam cerita

tetapi tidak terperinci.

2

Mampu menyebutkan satu amanat

yang tersirat di dalam cerita.

1

4. Mampu menjelaskan

urutan cerita (alur)

Mampu menentukan dan menjelaskan

urutan kejadian dimulai dengan

perkenalan, konflik awal, klimaks,

dan penyelesaian dengan tepat.

3

Mampu menentukan dan menjelaskan

urutan kejadian, namun hanya

beberapa subaspek (misalnya hanya

menentukan perkenalan dan klimaks). 2

Menentukan dan menjelaskan satu

kejadian.

1

5. Mampu menganalisis

kejadian dalam cerita

Mampu mengaitkan relevansi setiap

kejadian dengan realitas kehidupan

anak dengan tepat.

3

Mampu mengaitkan relevansi

beberapa kejadian saja dengan

realitas kehidupan anak dengan tepat. 2

Kurang tepat dalam menjelaskan

relevansi setiap kejadian dalam cerita

dengan kehidupan anak.

(36)

Instrumen Tes Awal dan Tes Akhir

Soal Perlakuan

Kejadian dalam cerita Realitas Kehidupan Anak

Misal : Ketika tertimpa musibah, ia

hanya bisa bersabar.

Misal : banyak orang sukses hasil dari

kerja keras dan kesabaran

.

3. Lembar observasi

Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas satu

lembar observasi guru dan satu lembar observasi siswa. Lembar observasi guru

digunakan untuk mengetahui kinerja guru praktikan pada saat pembelajaran Petunjuk Umum

1. Tulislah nama lengkap dan kelas kamu di bagian kiri atas pada kertas yang

sudah dibagikan!

2. Tulisan harus rapi, bersih, dan terbaca.

Petunjuk Khusus

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jelas.

1. Siapa saja tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut? Jelaskan tokoh sesuai

dengan wataknya!

2. Tuliskan latar waktu, tempat, dan suasana yang terdapat dalam cerita

tersebut!

3. Amanat apa yang kamu dapat setelah membaca cerita tersebut?

4. Ceritakan kembali isi cerita tersebut sesuai urutan kejadian dalam cerita

tersebut!

5. Jelaskan realitas kehidupan sosial yang terkandung dalam cerita yang telah

(37)

49

membaca teks cerita anak dengan menggunakan metode CIRC dengan media

kartu pelengkap. Sementara itu, lembar observasi siswa digunakan untuk

mengetahui aktivitas membaca siswa dan respons siswa terhadap pembelajaran

membaca teks cerita anak dengan menggunakan metode CIRC dengan media

kartu pelengkap. Adapun lembar observasi yang dimaksud adalah sebagai berikut.

LEMBAR OBERVASI AKTIVITAS SISWA

Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak Menggunakan Metode CIRC dengan Media Kartu Pelengkap

Tempat : SMP Negeri 10 Bandung

Hari/Tanggal : Senin, 27 April 2015

Perlakuan : Kesatu (1)

Petunjuk Pengisian : Berilah tanda ( ) pada kolom yang sesuai.

Aspek yang Dinilai Terlaksana

Terlaksana dengan Hambatan

Tidak Terlaksana

Menceritakan pengalaman yang disesuaikan dengan cerita anak yang pernah dibaca.

Memerhatikan materi yang disampaikan guru.

Membaca cerita anak secara individu

Berbagi pengalaman membaca dalam menemukan pokok-pokok kejadian dalam cerita, dan

memperkirakan akhir cerita secara berkelompok.

Menemukan makna kata, dan menuliskan sinopsis dengan bantuan kartu pelengkap Aktivitas siswa dalam menyelesaikan tugas.

(38)

... ... ... ...

Bandung, April 2015

Observer,

...

LEMBAR OBSERVASI

Pelaksanaan pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak Menggunakan Metode CIRC dengan Media Kartu Pelengkap

Tempat : SMP Negeri 10 Bandung

Hari/Tanggal : Senin, 27 April 2015

Perlakuan : Kesatu (1)

Petunjuk Pengisian : Berilah tanda ( ) pada kolom yang sesuai.

No Tahap

Belajar Langkah Pembelajaran Terlaksana

Terlaksana dengan Hambatan

Tidak Terlaksana

1 Pembukaan Menetapkan isi pembelajaran.

Menjelaskan tujuan pembelajaran.

Membangkitkan motivasi belajar siswa.

(39)

51

2 Inti Memberikan kesempatan

kepada siswa untuk menceritakan pengalaman yang disesuaikan dengan cerita anak yang pernah dibaca.

Mengevaluasi tingkat pemahaman siswa dengan memberikan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa.

Membagi siswa kedalam beberapa kelompok

Membagikan teks cerita anak untuk dibaca.

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertukar pikiran mengenai cerita anak yang dibaca dan berdiskusi untuk

memperkirakan akhir cerita.

Membantu siswa dalam menemukan makna kata dan menuliskan sinopsis dengan bantuan kartu pelengkap.

Memberikan umpan balik (yang bersifat korektif) atas kesalahan siswa dan

mendorongnya untuk menjawab dengan benar setiap tugas yang diberikan.

(40)

3 Penutup Melakukan refleksi pembelajaran dengan menyimpulkan dan

memberikan kesan terhadap proses pembelajaran yang telah dilalui.

Menyampaikan pokok kegiatan untuk pertemuan selanjutnya.

Menutup pembelajaran.

Catatan :

... ... ...

Bandung, April 2015

Observer,

F. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan setelah semua data terkumpul dan selanjutnya,

data akan diolah menggunakan rumus statistik. Data yang dimaksud adalah data

tes awal dan tes akhir kemampuan siswa dalam pembelajaran membaca

pemahaman teks cerita anak. Langkah-langkah dalam pengolahan data penelitian

antara lain sebagai berikut.

1) Menilai dan menganalisis hasil tes awal dan tes akhir kemampuan siswa dalam

pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak. yaitu sebagai berikut.

a) Menganalisis hasil tes siswa

b) Menentukan skor tes awal dan tes akhir, kemudian menentukan nilai dengan

rumus:

Nilai skor =

(41)

53

c) Mendeskripsikan hasil tes awal dan tes akhir.

2) Uji realiabilitas antarpenimbang yang dilakukan oleh tiga orang penimbang.

Uji realiabilitas dilakukan untuk menghindari penilaian secara subjektif,

dengan rumus: ∑dt2

= Sigma determinan

SSt∑dt2

= jumlah kuadrat Peserta didik

SSp∑d2

p = jumlah kuadrat penguji/penimbang

SStot∑p2

t = jumlah kuadrat total

SSkk∑d2

kk = jumlah kuadrat kekeliruan

Langkah selanjutnya, yaitu memasukkan asil data-data ke dalam format

(42)
[image:42.595.155.497.135.306.2]

Tabel 3.6

Tingkat Korelasi Guilford

Interval Koefisien Tingkat Korelasi

˂ 0,20 tidak ada korelasi

0,20 – 0,40 korelasi rendah

0,40 – 0,60 korelasi sedang

0,60 – 0,80 korelasi tinggi

0,80 – 0,90 korelasi tinggi sekali

1,00 korelasi sempurna

(Subana dkk., 2005, hlm. 104)

3) Mengukur indeks gain. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui seberapa

besar pengaruh yang diberikan dari perlakuan pembelajaran di kelas ekperimen

dan kelas kontrol. Indeks gain dihitung dengan rumus.

Indeks Gain =

Tabel 3.7

Kriteria Indeks Gain

Indeks Gain Kriteria

Indeks gain ˂ 0,30 Rendah

0, 30 ≤ Indeks gain ≤ 0,70 Sedang

Indeks gain ≥ 0,70 Tinggi

4) Melakukan uji normalitas nilai tes awal dan tes akhir menulis teks prosedur

kompleks peserta didik. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal

atau tidaknya distribusi nilai tes awal dan tes akhir. Uji normalitas dicari

menggunakan rumus Chi kuadrat (x2) dengan kriteria distribusi nilai normal

apabila x2 hitung < x2tabel.. Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah uji

normalitas menggunakan rumus Chi kuadrat (Sugiyono, 2013, hlm. 241).

[image:42.595.145.487.424.579.2]
(43)

55

b) Menentukan jumlah kelas interval;

c) Menentukan panjang kelas interval (p), dengan rumus (data terbesar – data

terkecil) dibagi dengan jumlah kelas interval;

d) Menyusun ke dalam distribusi tabel frekuensi, sekaligus merupakan tabel

penolong untuk menghitung harga Chi kuadrat;

e) Menghitung frekuensi yang diharapkan (fh), dengan cara mengalikan

presentase luas tiap bidang kurva normal dengan jumlah anggota sampel.

f) Memasukkan harga-harga fh ke dalam tabel kolom fh, sekaligus menghitung

harga-harga (fo - fh) dan kemudian menjumlahkannya. Harga

adalah harga Chi Kuadrat (x 2

).

Keterangan:

fo = Frekuensi observasi atau pengamatan

fh = Frekuensi ekspektasi (yang diharapkan)

5) Melakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui

homogenitas variasi populasi sampel. Dapat dicari dengan rumus:

F =

Keterangan:

Fhitung = nilai yang dicari

Vb = varian terbesar

Vk = varian terkecil

Jika Fhitung < Ftabel, maka dapat dikatakan variasi homogen, namun apabila

Fhitung > Ftabel, maka variasi tidak homogen.

(Subana dkk., 2005, hlm. 171-172).

6) Melakukan uji hipotesis. Apabila skor tes awal dan skor tes akhir

berdistribusi normal dan homogen, digunakan statistik parametrik dengan

uji-t. Akan tetapi, jika data yang berdistribusi normal dan tidak homogen, maka

(44)

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A.Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan bab IV, peneliti dapat

mengemukakan simpulan sebagai berikut.

1. Profil pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak sebelum diberi

perlakuan dengan metode CIRC (Cooperative Integrated Reading and

Composition) bermedia kartu pelengkap terbilang kurang. Penggunaan metode

dan media pembelajaran yang kurang inovatif berpengaruh kepada minat baca

dan minat belajar siswa. Pada kegiatan pembelajaran membaca teks cerita

anak, siswa masih mengalami kesulitan untuk menceritakan kembali cerita

anak (membuat sinopsis), dan menemukan realitas kehidupan anak yang

tercermin dalam cerita. Hal tersebut dapat dilihat dari dekripsi hasil wawancara

dengan guru bahasa Indonesia kelas VII. Selain itu, hasil tes awal

menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa masih belum memenuhi KKM

sehingga siswa dinyatakan tidak lulus.

2. Proses pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak dengan

menggunakan metode CIRC bermedia kartu di kelas eksperimen terdiri dari

dua perlakuan. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh tiga orang observer

mengenai aktivitas guru maupun siswa, menunjukkan bahwa siswa merasa

antusias dan lebih memahami teks cerita anak saat mengikuti pembelajaran

membaca pemahaman teks cerita anak dengan menggunakan metode CIRC

bermedia kartu pelengkap. Proses pembelajaran membaca pemahaman teks

cerita anak di kelas kontrol tidak menggunakan metode CIRC bermedia kartu

pelengkap seperti di kelas eksperimen.

3. Hasil pengolahan dan penghitungan data penelitian, menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman

teks cerita anak di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pembelajaran membaca

pemahaman teks cerita anak di kelas eksperimen dengan menggunakan metode

(45)

158

pembelajaran membaca pemahaman teks cerita anak di kelas kontrol dengan

menggunakan metode terlangsung terjadi pengingkatan sebesar 5,2%. Hasil

penghitungan uji t menunjukkan t hitung (4,490) > t tabel (2,002) maka

hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak. Dari hasil pengolahan data ditemukan

bahwa terdapat perbedaan perolehan nilai yang signifikan antara kelas

eksperimen dengan kelas kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa metode

CIRC bermedia kartu pelengkap efektif digunakan dalam pembelajaran

membaca pemahaman teks cerita anak.

B.Implikasi dan Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang perlu diperhatikan terkait

dengan penerapan metode CIRC bermedia kartu pelengkap adalah sebagai

berikut.

1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode CIRC bermedia kartu

pelengkap efektif digunakan dalam pembelajaran membaca pemahaman teks

cerita anak. Peneliti selanjutnya, diharapkan bisa lebih mengoptimalkan

metode ini dalam kemampuan membaca teks lainnya atau metode ini

diharapkan dapat diujikan untuk kemampuan berbahasa lainnya..

2. Peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan media

gambar atau kartu pelengkap dalam pembelajaran khususnya pembelajaran

membaca agar pembelajaran lebih menyenangkan dan inovatif.

3. Peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengujicobakan

media kartu pelengkap dengan metode pembelajaran lainnya.

(46)

Arifuddin, N. (2010). Penggunaan media kartu pelengkap dalam pembelajaran keterampilan

membaca di Madrasah Tsanawiyah Yaspuri Malang - Jawa Timur. (Tesis). Universitas

Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang.

Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya.

Arsyad, A. (2007). Media pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Asyhar, R. (2011). Kreatif mengembangkan media pembelajaran. Jakarta: Referensi.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia edisi keempat.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Eneste, P. (2005). Buku pintar penyuntingan naskah edisi kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama.

Hardjana. (2006). Cara mudah mengarang cerita anak-anak. Jakarta: Grasindo.

Kertopati, L, Irdayanti, M. (2014). Ini manfaat membaca fiksi. [Online].

Tersedia://http://life.viva.co.id/news/read/471670-ini-manfaat-positif-membaca-fiksi

[Diakses 5 Maret 2015]

Kurniawan, H. (2009). Sastra anak (dalam kajian strukturalime, sosiologi, semiotika, hingga

penulisan kreatif). Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kurniawan, K. (2012). Belajar dan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Bandung:

Bangkit Citra Persada.

Kustadi dan Sucipto. (2011). Media pembelajaran normal dan digital. Bogor: Ghalia

Indonesia.

Mawardi, D. (2009) Cara mudah menulis buku. Depok: Raih Asa Depok.

Mardapi, D. (2012). Pengukuran penilaian & evaluasi pendidikan. Yogyakarta: Nuha

Medika.

Miftahul, H. (2011). Cooperative learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(47)

160

Nurgiyantoro, B. (2013). Penilaian pembelajaran bahasa berbasis kompetensi. Yogyakarta:

BPFE-Yogyakarta.

Putranto, E.P. (2010). “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Berbantuan

Modul untuk Meningkatkan Keaktivan Siswa dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII A

MTS N 1 Gemolong Tahun Ajaran 2009/2010”. (Skripsi). Universitas Sebelas Maret,

Surakarta.

Rosmiati. (2014). “Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Melalui Cerita Anak

dengan Strategi CIRC pada Siswa Kelas IV SD (PTK di SD Negeri Percobaan Cileunyi

Kabupaten Bandung)”. (Tesis). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Safitri, L.M. (2011). “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC (Cooperative

Integrated Reading and Composition) Terhadap Kemampuan Membaca Karangan

Narasi Siswa Kelas V SDN Pesanggrahan 3 Pagi Jakarta Selatan”. (Skripsi).

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta.

Slavin, R.E. (2009) Cooperative learning teori, riset, dan praktik. Bandung: Nusa Media.

Somadayo, S. (2011) Strategi dan teknik pembelajaran membaca. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Subana dan Sudrajat. (2011) Dasar-dasar penelitian ilmiah. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Subana dkk. (2005). Statistik pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Sudjana, N, dan Rifai, A, (2011). Media pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Sugiyono. (2013) Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Syamsuddin dan Vismaia S. D. (2011) Metode penelitian pendidikan bahasa. Bandung:

Rosda.

Tarigan, H.G. (2013). Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tyas, G.T.E. (2014). “Keefektifan Model Skrip Kooperatif dalam Pembelajaran Membaca Teks Cerita Anak”. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Wahyudin, R.N. (2014). “Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Anekdot Melalui

Pembelajaran Kooperatif Tipe Cooperative Integrated Reading and Composition

(48)

Gambar

Tabel 3.2
Tabel 3.3
Tabel 3.4
Tabel 3.5
+2

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan komunikasi dalam keluarga peserta didik dan merumuskan layanan bimbingan kelompok yang layak untuk meningkatkan

Pilih nama komponen yang akan dibuat SPL(Surat Pembelian Langsung), kemudian klik ’ Lanjut ’ maka akan muncul tampilan sebagai berikut :. Download template file format excel

As the primary foreign language, English has the following functions in Indonesia (Alwi.. &amp; Sugono,

Taking into account that the customs activity is also recognised as a key to effectively fulfilling the duties entrusted to other state bodies such as those in the area of

bahwa dipandang perlu untuk menambah keanggotaan Team Pertimbangan Hak Guna Usaha Perkebunan Besar dengan seorang pejabat dari Direktorat Landreform Direktorat Jenderal

[r]

Kemampuan mahasiswa PPL dalam perencanaan Pembelajaran menurut persepsi guru pamong pada kriteria baik untuk indikator merencanakan pengelolaan, indikator

Rangkaian Pulse Code Modulation pada Module ED Laboratory 2960 F terdiri dari clock generator, voltage follower, voltage comparator, counter, latch dan shift register..