• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 FUNGSI KOTA LEMBANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 FUNGSI KOTA LEMBANG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

FUNGSI KOTA LEMBANG

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai fungsi Kota Lembang berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Sebelum penjelasan mengenai fungsi Kota Lembang, terlebih dahulu akan dipaparkan mengenai kondisi fisik Kota Lembang yang menjadi dasar pertimbangan dalam penetapan fungsi tersebut. Pada subbab 3.1 terlebih dahulu akan dipaparkan mengenai kondisi fisik Kota Lembang yang menjadi bahan pertimbangan dalam penetapan fungsi Kota Lembang, selanjutnya pada subbab 3.2 akan dibahas mengenai peraturan perundangan yang mengatur fungsi Kota Lembang.

3.1 Kondisi fisik

Kondisi fisik Kota Lembang yang menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arahan fungsi kota adalah topografi dan kemiringan lahan, hidrogeologi, kondisi tanah dan klimatologi.

3.1.1 Topografi dan Kemiringan Lahan

Kecamatan Lembang berada pada ketinggian antara 1250 meter hingga 1750 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya berupa perbukitan dengan kemiringan dari 0% hingga di atas 45%. Kemiringan lahan merupakan variabel yang memberikan pengaruh besar terhadap jumlah air yang melimpas di suatu wilayah. Pada penelitian ini, dalam menghitung jumlah air limpasan, variabel kemiringan lahan diasumsikan sudah tercakup dalam pengklasifikasian jenis tanah di Kota Lembang. Data persebaran jenis tanah yang di dalamnya mencakup kemiringan lahan tersebut kemudian digunakan untuk menentukan hydrologic soil group di Kota Lembang.

(2)

25

Tabel 3.1

Kemiringan Lereng di Kecamatan Lembang

Kemiringan Luas (ha) Proporsi

0 – 3 % 1.488,52 14,00 3 – 8 % 289,55 2,70 8 – 15 % 116,94 10,40 15 – 25 % 2.125,95 20,00 25 – 45 % 2.875,74 27,10 > 45 % 2.733,30 25,80 Total 10.620,00 100,00

Sumber : Laporan Fakta dan Analisis RD TR Kota Lembang Tahun 2002

Gambar 3.1

Morfologi Cekungan Bandung

Sumber : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Gambar 3.2

Penampang Tatar Bandung di DAS Citarum hulu (Citarum-Cikapundung)

(3)

3.1.2 Hidrogeologi

Kecamatan Lembang memiliki fungsi hidrologis terhadap kawasan di bawahnya (Kompas, 19 Juni 2004). Kawasan yang berfungsi lindung di Wilayah Bandung Utara berdasarkan kriteria Keppres No. 32 Tahun 1990 meliputi areal seluas 28.452,5 ha atau 73,81% dari luas keseluruhan Wilayah Bandung Utara (Dinas Permukiman Tata Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2002). Kecamatan Lembang menjaga keseimbangan lingkungan agar tidak terjadi banjir dan longsor di musim hujan dan menjaga ketersediaan air di musim kemarau. Kecamatan Lembang merupakan daerah resapan air (recharge zone) dimana air yang berada di permukaan tanah baik air hujan ataupun air permukaan mengalami proses penyusupan (infiltrasi) secara gravitasi melalui lubang pori tanah/batuan atau celah/rekahan pada tanah/batuan.

3.1.3 Kondisi Tanah

Tekstur tanah menyatakan kasar halusnya tanah atau yang menunjukkan perbandingan fraksi-fraksi lempung, debu dan pasir. Struktur tanah yaitu cara terikat butir yang satu dengan yang lainnya sehingga berupa gumpalan kecil dari butir-butir tanah (Aribowo, 2007 ; 16). Untuk menghitung nilai air limpasan berdasar metode perhitungan Soil Conservation Service Curve Number, diperlukan data hydrologic soil group14 pada wilayah studi. Data yang diperlukan tersebut berupa kelas tekstur tanah dan kecepatan infiltrasinya. Namun karena pada penelitian ini tidak dilakukan survey primer, maka digunakan asumsi15 pada data sekunder yaitu bahwa jenis tanah pada tabel 3.1 ditentukan hydrologic soil group-nya berdasar pada berbagai variabel yang mempengaruhi pengklasifikasian tanah seperti tekstur tanah, struktur tanah, porositas, permeabilitas dan berbagai sifat lain yang telah disebutkan oleh sumber data sekunder. Pada pengklasifikiasian hydrologic soil group juga diasumsikan pula

14 Bab 2 Halaman 20, hydrologic soil group (klasifikasi jenis tanah : A, B, C, D).

15 Asumsi dilakukan untuk memasukkan data sekunder pada klasifikasi jenis tanah (hydrologic soil

(4)

27

bahwa kemiringan lahan sudah secara implisit tercakup di dalam pengelompokan jenis tanah16.

Tabel 3.2

Penyebaran Jenis Tanah di Kawasan Perkotaan Lembang

Desa Jenis Tanah (ha)

Regosol Kelabu dan Andosol

Andosol Coklat Asosiasi Glei Humus & Aluvial Kelabu

Lembang 0.00 247.75 52.25 Cibogo 0.00 214.28 0.00 Cikahuripan 448.92 263.78 0.00 Gudangkahuripan 0.00 11.25 260.41 Langensari 0.00 241.40 0.00 Jayagiri 526.93 754.70 0.00 Kayuambon 0.00 416.44 0.00 Jumlah (Ha) 975.85 2149.60 312.66 Persentase (%) 28.38 62.52 9.10

Sumber : Data Pokok Kabupaten Bandung Tahun 1992 dalam Tugas Akhir Jossi Erwindy

¾ Kompleks regosol kelabu dan andosol

Tanah ini mempunyai sifat-sifat regosol dan litosol yang pada umumnya mempunyai zat organik rendah, permeabilitas kecil-besar, daya absorpsi rendah-sedang dan kepekaan terhadap erosi besar. Jenis tanah regosol sendiri tergolong masih muda, belum mengalami deferensiasi horison, tekstur pasir, struktur berbutir tunggal dengan konsistensi lepas-lepas, kesuburan sedang. Terbentuk dari bahan induk abu vulkan, mergel, pasir dengan topografi berombak bergelombang dan gunung landai. Dengan karakteristik di atas17, maka tanah ini diasumsikan termasuk dalam kategori Group A Soils.

16 Asumsi yang digunakan adalah bahwa run off merupakan fungsi dari jenis tanah dan kelerengan.

Kedua variabel tersebut digunakan untuk menentukan hydrologic soil group. Kelerengan tanah sendiri

diasumsikan sudah tercakup dalam pengelompokan jenis tanah.

(5)

¾ Andosol Coklat

Merupakan perkembangan dari tanah regosol. Sifat-sifat dari tanah ini adalah berwarna coklat sampai hitam kelam. Bertekstur sedang, struktur remah sampai gumpal, sangat porus memiliki lubang pasir besar sehingga mudah meloloskan air, sangat gembur, mengandung bahan organic dan lempung tipe amorf. Tanah jenis ini banyak dijumpai di daerah volkan pada daerah yang tinggi dengan curah hujan tinggi. Dengan sifat yang telah disebutkan18, jenis tanah ini diasumsikan masuk dalam Group A Soil.

¾ Asosiasi Glei Humus dan aluvial Kelabu

Tanah ini mempunyai daya absorpsi tinggi, permeabilitas rendah, dan kepekaan terhadap erosi rendah. Jenis tanah yang cukup bervariasi tersebut di satu sisi merupakan potensi bagi pengembangan budi daya terutama pertanian, namun di sisi lain juga merupakan suatu kendala karena jenis tanah tertentu memiliki sifat peka terhadap erosi seperti tanah litosol. Tanah ini diasumsikan19 masuk dalam Group C Soil.

18 Tekstur sedang, struktur remah sampai gumpal dan sangat porus dan memiliki lubang pasir besar.

19 Permeabilitas rendah namun berpotensi untuk pertanian yang berarti memiliki pori yang cukup

(6)

29

Gambar 3.3

Peta Jenis Tanah di Kawasan Perkotaan Lembang

Sumber : Data Pokok Kabupaten Bandung tahun 1992 dalam TA Jossy Erwindy

3.1.4 Klimatologi

Wilayah studi memiliki iklim tropis dengan suhu udara terendah 16ºC dan suhu tertinggi 28ºC. Curah hujan yang turun di Kecamatan Lembang berkisar antara 1500-3000 mm dan termasuk ke dalam curah hujan yang tinggi (Fakta dan Analisis Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Lembang 2002). Curah hujan merupakan banyaknya hujan yang tercurah di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Perhitungan curah hujan (presipitasi) pada penelitian ini menggunakan beberapa asumsi. Asumsi pertama adalah bahwa intensitas (keadaan tingkatan atau ukuran intensnya) termasuk kecepatan, durasi, dan volume hujan dianggap sama pada kedua tahun yang diperbandingkan. Dasar pemikiran penyamaan adalah karena penelitian ini ingin melihat perbandingan

(7)

keoptimalan fungsi resapan air (infiltrasi), sehingga diperlukan pembanding yang konstan baik pada tahun acuan maupun pada tahun aktual. Nilai curah hujan (presipitasi) akan dicari berdasarkan rata-rata curah hujan yang terjadi sejak tahun 1996 hingga tahun 2006. Data curah hujan rata-rata diperoleh dengan menganalisis data curah hujan bulanan sejak tahun 1996 – 2006.

Asumsi kedua adalah bahwa distribusi presipitasi dalam bentuk air hujan tercurah dan tersebar merata di setiap bagian wilayah di Kawasan Perkotaan Lembang. Jadi setiap wilayah dengan luasan wilayah tertentu akan mendapatkan volume dan intensitas presipitasi yang sama dengan wilayah lain di Kawasan Perkotaan Lembang dengan luas yang sama. Sebagai contoh, lahan seluas lima hektar di Desa Cibogo akan mendapatkan curahan hujan dengan intensitas dan volume yang sama yang turun di lahan seluas lima hektar di Desa Cikahuripan.

Pada penelitian ini, perhitungan curah hujan rata-rata di Kawasan Perkotaan Lembang dilakukan dengan satuan waktu per bulan. Adapun metode aritmatik yang digunakan adalah :

= = bulan total hujan curah N xi) _ _ ( Pr = 132 4 . 19942 = 1812.945 mm

(8)

Tabel 3.3

Data Klimatologi Curah Hujan (mm) Kecamatan Lembang

No Bulan 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 1 Januari 357.3 520.9 136.2 218.1 279.5 347.7 386.3 100.4 192.6 198 290.6 2 Februari 225.1 104.6 393.8 122.0 116.3 176.4 123.5 319 269.9 450 218.8 3 Maret 254.6 106.4 377.7 181.9 192.9 161.4 235.6 179.7 193.7 314.9 41.6 4 April 170.1 216.3 295.9 140.6 278.5 159.7 167.2 167.2 203.1 171.9 142.9 5 Mei 29.0 94.5 236.4 143.6 117.3 26.2 26.2 26.2 228.6 154.6 131.1 6 Juni 29.6 165.1 30.8 67.8 77.7 28.6 28.6 36.4 106.2 18.5 7 Juli 92.4 114.8 31.6 28.8 28.8 28.6 154.6 52.7 41.6 4.8 8 Agustus 32.6 52.2 22.5 54.5 61.8 25.4 24.5 34.9 9 September 79.6 2.7 142.6 2.8 1.5 41.8 14.0 108.5 10 Oktober 424.2 9.6 276.8 328.6 152.6 350.0 27.3 27.3 13.0 159.4 20.2 11 November 412.4 74.1 265.2 467.7 417.8 192.1 192.1 148.1 197.5 60.9 12 Desember 258.2 286.0 153.4 282.8 87.2 22.3 323.0 323.0 315.3 244.5 445.4 Sumber: BMG Provinsi Jawa Barat dalam analisis studio Perencanaan Kota Lembang Tahun 2007

(9)

3.2 Peraturan Perundangan yang Mengatur Fungsi Kota Lembang

Pada prinsipnya penataan ruang diarahkan pada upaya-upaya alokasi dan pemanfaatan ruang-ruang secara optimal sehingga akan memberikan manfaat yang signifikan dalam arti terwujudnya pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pengertian optimal di sini mengandung makna bahwa perencanaan dilakukan dengan memperhatikan kondisi fisik dan berbagai potensi-kendala yang terdapat di Kota Lembang16. Oleh karena itu, pada penjabaran bab ini akan dibahas mengenai tinjauan kebijakan baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten yang mengatur mengenai pertumbuhan Kota Lembang. Kewenangan yang dimiliki provinsi adalah pada bidang pemerintahan lintas kabupaten dan kota, serta kewenangan pada bidang tertentu lainnya. Dalam penjelasan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, dinyatakan bahwa kewenangan yang bersifat lintas kabupaten dan kota adalah pekerjaan umum, perhubungan, kehutanan, perkebunan, serta kewenangan bidang tertentu lainnya. Adapun salah satu bidang yang termasuk dalam bidang tertentu lainnya adalah pengendalian lingkungan hidup.

Untuk mengantisipasi penurunan fungsi kawasan, mengembalikan fungsi hidrologis serta menjaga kestabilan tanah dari erosi, maka pemanfaatan ruang masa datang lebih diorientasikan pada kemampuan daya tampung wilayah sesuai dengan kemampuan daya dukung sumber daya alam yang tersedia. Oleh karena itu, salah satu kebijaksanaan yang disusun sesuai kewenangan yang dimiliki provinsi Jawa Barat adalah melakukan pengaturan pemanfaatan ruang khususnya mewujudkan fungsi kawasan lindung yang bertujuan mengurangi erosi dan menjaga ketersediaan air di Jawa Barat. Berdasarkan kajian terhadap kawasan lindung tersebut, maka 45% dari luas total Jawa Barat perlu ditetapkan sebagai kawasan lindung (Laporan Fakta dan Analisis Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Lembang tahun 2002). Pada skala provinsi, Kawasan Perkotaan Lembang yang secara administratif menjadi

(10)

33

bagian dari Kawasan Bandung Utara juga ditetapkan termasuk dalam kawasan lindung.

Dalam pengendalian lingkungan hidup, pembangunan antarlintas kabupaten/kota perlu untuk dikoordinasikan apabila pembangunan di suatu kabupaten/kota berdampak pada kabupaten/kota lainnya. Sebagai contoh adalah pemanfaatan hutan di suatu kabupaten/kota yang berdampak pada kabupaten/kota lainnya perlu dikoordinasikan oleh pemerintah provinsi. Kebijakan ini juga berlaku untuk Kawasan Perkotaan Lembang yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Lembang yang merupakan bagian dari Kawasan Bandung Utara. Dalam RTRW Provinsi Jawa Barat, salah satu fungsi Kawasan Bandung Utara adalah memberikan perlindungan bagi kawasan bawahannya dengan fungsi spesifik sebagai resapan air.

Dalam Perda Nomor 1 Tahun 2001 tentang RTRW Kabupaten Bandung Pasal 15 & 16 ditetapkan bahwa Kota Lembang memiliki peran sebagai Pusat Kegiatan Lokal Pertama (PKL-1). Definisi dari Pusat Kegiatan Lokal (PKL) sendiri adalah hierarki fungsional kota sebagai pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank, pusat pengelolaan/pengumpul barang, simpul transportasi, pusat perdagangan, kesehatan dan pemerintahan yang melayani satu kabupaten atau beberapa kecamatan. Adapun Kota Lembang sebagai PKL-1 berfungsi sebagai pusat kegiatan bagi bagian wilayah kabupaten, dengan kegiatan spesifik yang jangkauan pelayanannya luas, serta memberikan kontribusi yang cukup besar pada pembentukan struktur kegiatan di Kabupaten Bandung. Kriteria penentuan PKL-1 adalah fasilitas pendukung minimum, seperti: rumah sakit type C, terminal type B, perdagangan grosir dan hotel melati.

Dalam SK Gubernur Jawa Barat Nomor 181.1/SK.1624-Bapp/1982 ditegaskan bahwa pada ketinggian 750 meter dpl ke atas tidak boleh didirikan bangunan. Namun, Perda Nomor 1 Tahun 2001 tentang RTRW Kabupaten Bandung hanya menjadikan sebagian wilayah Kawasan Bandung Utara sebagai kawasan lindung, sementara sebagian lagi menjadi daerah permukiman. Artinya masih terdapat kemungkinan bahwa lahan dengan kemiringan di atas 750 mdpl dapat dibangun

(11)

dengan persyaratan teknis lainnya17. Sementara itu, berdasarkan tinjauan terhadap kebijaksanaan Tata Ruang Wilayah Menurut Pola Dasar Pembangunan Kabupaten Bandung, serta Laporan Fakta dan Analisis Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Lembang tahun 2002, disebutkan bahwa Kecamatan Lembang termasuk ke dalam Wilayah Pembangunan Lembang yang meliputi Kecamatan Lembang dan Kecamatan Cisarua. Adapun fungsi utama dari wilayah pembangunan ini adalah : 1. Wilayah perkotaan berfungsi sebagai kawasan wisata, pertanian, perdagangan,

peternakan, perkebunan dan kawasan konservasi air.

2. Wilayah pinggir diarahkan sebagai kawasan perkebunan, peternakan dan pertanian.

Dalam sistem pengembangan metropolitan Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Bandung merupakan satu kesatuan. Kota Bandung sebagai wilayah inti dan wilayah Kabupaten Bandung sebagai daerah belakang. Sebagai daerah belakang, Kabupaten Bandung dibagi menjadi tiga wilayah pengembangan. Untuk wilayah pengembangan utara ditentukan Kota Lembang sebagai pusat pengembangannya. Ditambahkan dalam Laporan Fakta dan Analisis Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Lembang tahun 2002 bahwa dalam rangka mewujudkan keseimbangan pembangunan antara desa dan kota agar tidak terjadi perbedaan kemajuan dengan wilayah lainnya, Kecamatan Lembang pada tahun 1992 dibagi dalam dua wilayah pembangunan yaitu 1)pusat pembangunan wilayah kecil dan 2)pusat pengembangan wilayah terkecil. Adapun pusat wilayah pengembangan kecil di Kecamatan Lembang adalah Desa Lembang, sedangkan pusat-pusat pengembangan wilayah terkecil adalah sebagai berikut :

1. Desa Gudang Kahuripan, dengan desa hinterland-nya meliputi Desa Cikahuripan dan Wangunsari.

2. Desa Jayagiri, dengan desa hinterland-nya meliputi Desa Cibogo, Cikahuripan dan Sukajaya.

17 Pada sub-bab 3.1.1 mengenai topografi dan kemiringan lahan telah disebutkan bahwa Kecamatan

(12)

35

3. Desa Pagerwangi, dengan desa hinterland-nya meliputi Desa Mekarwangi dan Mangunsari.

4. Desa Langensari, dengan desa hinterland-nya meliputi Desa Cibodas, Suntenjaya, Mekarwangi, Wangunharja dan Cikidang.

5. Desa Cikole, dengan desa hinterland-nya meliputi Desa Cibogo, Cikidang dan Wangunharja.

Berkaitan dengan fungsinya sebagai kawasan lindung yang memberi perlindungan terhadap kawasan bawahannya, Kebijakan Pengelolaan Kawasan Bandung Utara dapat mengacu pada ketentuan pasal 9 Perda No. 1 Tahun 2001 tentang RTRW Kabupaten Bandung yang menyebutkan bahwa pengelolaan kawasan yang memberi perlindungan terhadap kawasan bawahannya (kawasan resapan air Bandung Utara) dilaksanakan melalui :

a. Mempertahankan dan memperluas hutan lindung yang telah ada serta memperluas areal hutan bagi daerah-daerah yang memenuhi kriteria lindung.

b. Daerah-daerah yang memenuhi kriteria sebagai hutan lindung, apabila kesulitan menjadi kawasan hutan lindung, dapat digunakan untuk kegiatan pemanfaatan ruang-ruang yang dapat mempertahankan fungsi hidroorologis sebagaimana hutan lindung.

c. Pengendalian kegiatan budidaya yang terlanjur ada, selama tidak mengganggu fungsi lindung.

d. Pengendalian terhadap pengembangan kegiatan budidaya yang dapat mengganggu fungsi lindung, mengubah bentang alam, penggunaan lahan serta merusak ekosistem alami yang ada.

Menurut Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan, sedikitnya 60% dari sekitar 108 juta m³ air tanah dari dataran tinggi sekitar Bandung yang masuk ke cekungan Bandung berasal dari Wilayah Bandung Utara. Dengan demikian, tak dapat disangkal bahwa wilayah Bandung Utara berfungsi sebagai kawasan resapan air yang mempunyai peran sangat penting dalam penyediaan air tanah di cekungan Bandung (RUTR Kawasan Bandung Utara Tahun 1998). Fakta inilah yang menjadi salah satu

(13)

alasan penetapan Kawasan Bandung Utara sebagai kawasan lindung. Sebagaimana dinyatakan dalam UU Pengelolaan Kawasan Lindung, perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan.

Kawasan Perkotaan Lembang yang termasuk dalam Kecamatan Lembang sendiri masih menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara. Keberadaan Kawasan Bandung Utara dilindungi oleh Surat Keputusan (SK) Gubernur Jabar Nomor 181.1/SK.1624-Bapp/1982 tentang Peruntukan Lahan di Wilayah Inti Bandung Raya Bagian Utara. Dalam SK itu disebutkan, 25 persen Kawasan Bandung Utara diperuntukkan sebagai hutan lindung, 60 persen dijadikan lahan untuk tanaman keras, dan sisanya 15 persen untuk pertanian nontanaman keras yang dapat dikonversi untuk permukiman. Ditambahkan bahwa lahan yang merupakan lereng dengan kemiringan antara 0% - 8% dan ketinggian kurang dari 1000 mdpl yang merupakan kawasan resapan air bisa dikembangkan sebagai kawasan aneka pertanian tanpa syarat. Sedangkan lahan sisanya diperuntukkan sebagai kawasan non-pertanian yang terbatas pada permukiman perkotaan dan lingkungan khusus dengan beberapa persyaratan. Pada intinya, SK tersebut memosisikan Kawasan Bandung Utara sebagai kawasan resapan air dan kawasan hijau lestari.

Pada intinya dalam Raperda Kawasan Bandung Utara yang mengacu pada RUTR Lembang (perda No. 49/1995) menetapkan bahwa Kota Lembang sebagai sub pusat pelayanan wilayah metropolitan sekaligus sebagai pusat pertumbuhan wilayah Kabupaten Bandung Bagian Utara, dan juga sebagai daerah tujuan wisata serta kawasan konservasi air tanah.

(14)

37

Gambar 3.4

Peta Koefisien Wilayah Terbangun Maksimum Kawasan Bandung Utara

Lebakgede

Sindangjaya

KEC. MANDALAJATI

KEC. CIBEUNYING KIDUL KEC. UJUNGBERUNG KEC. CIBEUNYING KALER

KEC. SUKAJADI KEC. SUKASARI KEC. COBLONG KEC. CIBIRU KEC. CIDADAP KEC. CILEUNYI KEC. CIMENYAN KEC. CILENGKRANG KEC. LEMBANG

Sukabungah Jatihandap Pasir Impun

Pasanggrahan Cipaganti Pasir Biru Pasir Jati Lebak Siliwangi Pasir Wangi Padasuka Jatiendah Sekeloa Palasari Cigadung Cileunyi Kulon Pasteur Cinunuk Cipedes Cisurupan Sukagalih Gegerkalong Sukarasa Mandalamekar Cimekar Sindanglaya Sarijadi Malatiwangi Kayuambon Hegar Manah Gudangkahuripan Ledeng Lembang Cibeunying Cibiru Wetan Ciwaruga Cigugur Girang Wangunsari Cilengkrang Cileunyi Wetan Langensari Ciumbuleuit Mekarwangi Mekarsaluyu Pagerwangi Isola Cikadut Cibogo Cihideung Dago Girimekar Wangunharja Cikahuripan Sukajaya Ciporeat Cibodas Cikidang Cimenyan Mekarmanik Ciburial Jayagiri Cikole Suntenjaya Karyawangi Cipanjalu KOTA BANDUNG KABUPATEN BANDUNG Pasirlayung Husen Sastranegara 786000 786000 788000 788000 790000 790000 792000 792000 794000 794000 796000 796000 798000 798000 800000 800000 802000 802000 804000 804000 806000 806000 808000 808000 92360 00 923 6000 92380 00 923 8000 92400 00 924 0000 92420 00 9242 000 92440 00 924 4000 924 60 00 924 60 00 92 4800 0 924 8000 92500 00 925 0000 92520 00 925 2000 92540 00 925 4000

Batas Kawasan Bandung Utara Batas Kabupaten/Kota Batas Kecamatan Batas Kelurahan/Desa Rendah (KWT Maks. = 40%) Sedang (KWT Maks. = 30%) Tinggi (KWT Maks. = 20%) Sangat Tinggi (KWT Maks. = 10%) PETA KOEFISIEN WILAYAH TERBANGUN MAKSIMUM KAWASAN BANDUNG UTARA

Skala 1 : 25000 0 1 2 3 km

DITETAPKAN DI BANDUNG PADA TANGGAL

GUBERNUR JAWA BARAT

DANNY SETIAWAN Legenda:

PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

KAWASAN BANDUNG UTARA

KABUPATEN BANDUNG KOTA CIMAHI KABUPATEN BANDUNG BARAT

KOTA BANDUNG KABUPATEN SUBANG KABUPATEN PURWAKARTA

#

Sumber : Perda Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Bandung Utara

Koefisien Wilayah Terbangun (KWT) adalah perbandingan antara luas wilayah terbangun dengan luas seluruh wilayah (Raperda KBU Tahun 2006). Dari Peta 3.2 di atas terlihat bahwa Kota Lembang18 terbagi menjadi beberapa wilayah dengan klasifikasi sangat tinggi (KWT Maks = 10%) dan klasifikasi tinggi (KWT Maks 20%). Artinya di beberapa wilayah dalam Kota Lembang masih diperbolehkan adanya bangunan selama luas bangunan tidak melebihi 10%. Begitu pula di wilayah lainnya di Kota Lembang masih diperbolehkan adanya bangunan selama luas bangunan tidak melebihi 20% dari luas lahan wilayah tersebut.

18 Beberapa desa di Kecamatan Lembang : Jayagiri, Gudangkahuripan, Cikahuripan, Cibogo, Lembang,

Referensi

Dokumen terkait

Peningkatan koefisien perpindahan kalor konveksi nanofluida seiring dengan laju aliran dan juga fraksi volume nano partikel sementara nilai koefisien perpindahan kalornya

Pada proyek pembangunan pabrik fiber cement board di Mojosari ini, dengan dimensi bangunan 162 m x 17,5 m dilakukan analisa data metode pelaksanaan, biaya dan waktu

Penurunan efisiensi kadar logam Cd paling tinggi terjadi pada kelompok perlakuan dengan lama waktu kontak 8 hari dan 8 rumpun tanaman kayu apu yaitu 64,09% (0,168

Penelitian kelima oleh Takarini dan Ekawati (2003) untuk Menguji analisis rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba pada perusahaan manufaktur dipasar modal

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Ca(OH) 2 , penambahan air, temperatur pemanasan, dan lama pemanasan terhadap susut lignin, serta mencari

Persembahan bukan bicara tentang nominal, persembahan berbicara soal hati kita kepada Allah. Saat ini kita sedang membangun gereja. Bukan suatu kebetulan jika kita berada di gereja

Di PT Telkom, program knowledge management disebut Knowledge Management Kampiun sedangkan di PT INTI program ini disebut Knowledge Tree. Pada bagian ini akan dijelaskan 1)